Anda di halaman 1dari 8

FISIOLOGI TIDUR

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Kebutuhan Istirahat dan Tidur
Dosen Pembimbing:
Oleh:
Pramudya Yopalika

22020111120013

Diana Rahmawati

22020111120021

Ayu Dwi Lestari

220201111

Fida Husain

220201111

Fransisca Ayu Mentari

220201111

Nunung Hidayati

22020111130086

Nurul Imaroh

220201111

Rahma Nur Hasanah

22020111130054

Yudhanoorshanti Elmonita

22020111130060

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO
2012

FISIOLOGI TIDUR
Aktivitas tidur di atur dan dikontrol oleh 2 sistem pada batang otak, yaitu
Reticular Activating System (RAS) dan Bulbar Synchronizing Region (BSR).
RAS di bagian atas batang otak diyakini memiliki sel-sel khusus yang dapat
mempertahankan kewaspadaan dan kesadaran; memberi stimulus visual,
pendengaran, nyeri, dan sensori raba; serta emosi dan proses berpikir. Pada saat
sadar, RAS melepaskan katekolamin, sedangkan pada saat tidur terjadi pelepasan
serum serotonin dari BSR (Tarwoto, Wartonah, 2003).
Tidur adalah proses fisiologis yang bersiklus yang bergantian dengan
periode yang lebih lama dari keterjagaan. Siklus tidur terjaga mempengaruhi dan
mengatur fungsi fisiologis dan respon perilaku. (Potter, Perry, 2006).
Fisiologi tidur merupakan pengaturan kegiatan tidur yang melibatkan
hubungan mekanisme serebral secara bergantian agar mengaktifkan dan menekan
pusat otak untuk dapat tidur dan bangu. Salah satu aktifitas tidur ini diatur oleh
sistem pengaktifasi retikularis. System tersebut mengatur seluruh tingkatan
kegiatan susunan saraf pusat, termasuk pengaturan kewaspadaan dan tidur. Pusa
pengaturan aktifitas kewaspadaan dan tidur terletak dalam mesensefalon dan
bagian atas pons. Dalam keadaan sadar, neuron dalam reticular activating system
(RAS) akan melepaskan katekolamin seperti norepinefrin. Selain itu RAS yang
dapat memberikan rangsangan visual, pendengarang, nyeri, dan perabaan, juga
dapat menerima stimulasi dari korteks serebri termasuk rangsangan emosi dan
proses piker. Pada saat tidur, terdapat pelepasan serum serotonin dari sel khusus
yang berada di pons dan batang otak tengah, yaitu bulbar synchronizing regional
(BSR). Sedangkan saat bangun tergantung dari keseimbangan impuls yang
diterima dipusat otak dan system limbik. Dengan demikian, system pada batang
otak yang mengatur siklus atau perubahan dalam tidur adalah RAS dan BSR.
Fisiologi Tidur meliputi:
1. Pengaturan Tidur
Tidur melibatkan

suatu

urutan

keadaan

fisiologis

yang

dipertahankan oleh integrasi tinggi aktivitas sistem saraf pusat yang


berhubungan dengan perubahan dalam sistem saraf periferal, endokrin,
kardiovaskular, pernapasan, dan muskular (Robinson, 1993). Tiap

rangkaian diidentifikasi dengan respon fisik tertentu dan pola aktivitas


otak.
Peralatan seperti elektroensefalogram (EEG), yang mengukur
aktivitas listrik dalam korteks serebral, elektromiogram (EMG) yang
mengukur tonus otot dan elektrookulogram (EOG) yang mengukur
gerakan mata, memberikan informasi struktur aspek fisiologis tidur.
Kontrol dan pengaturan tidur tergantung pada hubungan antara dua
mekanisme serebral yang mengaktivasi secara intermiten dan menekan
pusat otak tertinggi untuk mengontrol tidur dan terjaga. Sebuah
mekanisme menyebabkan terjaga, dan yang lain menyebabkan tertidur.
Sistem aktivasi retikular (SAR) berlokasi pada batang otak teratas.
SAR

dipercayai

terdiri

dari

sel

khusus

yang

mempertahankan

kewaspadaan dan terjaga. SAR menerima stimulus sensori visual, auditori,


nyeri dan taktil. Aktivitas korteks serebral (mis. Proses emosi atau pikiran)
juga menstimulasi SAR. Saat terbangun merupakan hasil dari neuron
dalam SAR yang mengeluarkan katekolamin seperti neropinefrin (Sleep
Research Society, 1993).
Tidur dapat dihasilkan dari pengeluaran serotonin dari sel tertentu
dalam sistem tidur raphe pada pons dan otak depan bagian tengah. Daerah
otak juga disebut daerah sinkronisasi bulbar (bulbar synchronizing region,
BSR). Apakah seseorang tetap terjaga atau tertidur tergantung pada
keseimbangan impuls yang diterima dari pusat yang lebih tinggi (mis.
pikiran), reseptor sensori perifer (mis. Stimulus bunyi atau cahaya) dan
sistem limbik (emosi).
Ketika orang mencoba tertidur, mereka akan menutup mata dan
berada dalam posisi relaks. Stimulus ke SAR menurun. Jika ruangan gelap
dan tenang, maka aktivasi SAR selanjutnya menurun. Pada beberapa
bagian, BSR mengambil alih, yang menyebabkan tidur.
2. Ritme Sirkadian
Setiap makhluk hidup memiliki bioritme (jam biologis) yang
berbeda. Pada manusia, bioritme ini dikontrol oleh tubuh dan disesuaikan
dengan factor lingkungan (mis., cahaya, kegelapan, gravitasi, dan stimulus
elektromagnetik). Bentuk bioritme yang paling umum adalah ritme
sirkadian yang melengkapi siklus selama 24 jam. Dalam hal ini, fluktuasi

denyut jantung, tekanan darah, temperature tubuh, sekresi hormone,


metabolisme, dan penampilan serta perasaan individu bergantung pada
ritme sirkadiannya. Tidur adalah salah satu irama biologis tubuh yang
sangat kompleks. Sinkronisasi sirkadian terjadi jika individu memiliki pola
tidur-bangun yang mengikuti jam biologisnya : individu akan bangun pada
saat ritme fisiologis dan psikologis paling tinggi atau paling aktif dan akan
tidur pada saat ritme tersebut paling rendah (Lilis, Taylor, Lemone, 1989).
3. Tahapan Tidur
Berdasarkan penelitian yang dilakukan dengan bantuan alat
elektroensefalogram

(EEG),

elektrookulogram

(EOG),

dan

elektromiogram (EMG), diketahui ada 2 tahapan tidur, yaitu non rapid eye
movement (NREM) dan rapid eye movement (REM).
1.1.
Tidur NREM
Tidur NREM disebut juga sebagai tidur gelombang pendek
karena gelombang otak yang ditunjukkan oleh orang yang tidur
lebih pendek daripada gelombang alfa dan beta yang ditunjukkan
orang yang sadar. Pada tidur NREM terjadi penurunan sejumlah
fungsi fisiologis tubuh. Disamping itu, semua proses metabolik
termasuk tanda-tanda vital, metabolisme dan kerja otot melambat.
Tidur NREM sendiri terbagi atas 4 tahap (I-IV). Tahap I-II disebut
sebagai tidur ringan (light sleep) dan tahap III-IV disebut sebagai
tidur dalam (deep sleep atau delta sleep).
Tidur REM
Tidur REM biasanya terjadi setiap 90 menit dan

1.2.

berlangsung selama 5-30 menit. Tidur REM tidak senyenyak tidur


NREM, dan sebagian besar mimpi terjadi pada tahap ini. Selama
tidur REM, otak cenderung aktif dan metabolisme meningkat
hingga 20 %. Pada tahap ini individu menjadi sulit untuk
dibangunkan atau justru dapat bangun dengan tiba-tiba, tonus otot
terdepresi, sekresi lambung meningkat, dan frekuensi jantung dan
pernapasan sering kali tidak teratur.
Tahapan siklus tidur (Potter, Perry, 2006)
Tahapan 1: NREM

Tahap meliputi tingkat paling dangkal dari tidur.

Tahap berakhir beberapa menit.


Pengurangan aktivitas fisiologis dimulai dengan
penurunan secara bertahap tanda-tanda vital dan

Tahapan 2: NREM

Tahapan 3: NREM

Tahapan 4 : NREM

metabolisme.
Seseorang dengan mudah terbangun oleh stimulus

sensori seperti suara.


Ketika terbangun, seseorang merasa seperti telah

melamun.
Merupakan 5 % dari total tidur.
Tahap 2 merupakan periode tidur bersuara.
Kemajuan relaksasi
Untuk terbangun masih relativ mudah.
Tahap berakhir 10 hingga 20 menit.
Kelanjutan fungsi tubuh menjadi lambat.
Merupakan 50 % - 55 % dari total tidur.
Tahap 3 meliputi tahap awal dari tidur yang

dalam.
Orang yang tidur sulit dibangunkan dan jarang

bergerak.
Otot-otot dalam keadaan santai penuh.
Tanda-tanda vital menurun tetapi tetap teratur.
Tahap berakhir 15 hingga 30 menit.
Merupakan 10% dari total tidur.
Tahap 4 merupakan tahap tidur terdalam.
Sangat sulit untuk membangunkan orang yang

tidur.
Jika terjadi kurang tidur, maka orang yang tidur
akan menghabiskan porsi malam yang seimbang

Tidur REM

pada tahap ini.


Tanda-tanda vital menurun secara bermakna

disbanding selama 15 hingga 30 menit.


Tidur sambil berjalan dan enuresis dapat terjadi.
Merupakan 10 % dari total tidur.
Mimpi yang penuh warna dan tampak hidup dapat
terjadi pada REM. Mimpi yang kurang hidup

dapat terjadi pada tahap yang lain.


Tahap ini biasanya dimulai sekitar 90 menit

setelah mulai tidur.


Hal ini dicirikan dengan respon otonom dari
pergerakan mata yang cepat, fluktuasi jantung dan

kecepatan respirasi dan peningkatan atau fluktuasi


-

tekanan darah.
Terjadi tonus otot skelet penurunan.
Peningkatan sekresi lambung.
Sangat sulit sekali membangunkan orang yang

tidur.
Durasi dari tidur REM meningkat pada tiap siklus
dan rata-rata 20 menit.

Fisiologi tidur, pada:


1. Neonatus
Pada minggu pertama, bayi tidur dengan konstan. Kira-kira 50% dari tidur
ini adalah tidur REM, yang menstimulasi pusat otak tertinggi.
2. Bayi
Bayi mengalami pola tidur malam hari pada usia 3 bulan. 30% dari waktu
tidur bayi dihabiskan dalam siklus REM.
3. Todler
Persentase tidur REM pada todler menurun, hal ini berhubungan dengan
kebutuhan untuk otonomi dan takut perpisahan.
4. Prasekolah
Anak usia prasekolah biasanya mengalami kesulitan untuk relaks atau
diam setelah hari-hari yang aktif. Mereka juga mempunyai masalah
dengan ketakutan waktu tidur dan 20% dari waktu tidur mereka adalah
tidur REM.
5. Anak usia sekolah
Jumlah tidur yang diperlukan pada usia sekolah bersifat individual
dikarenakan status aktivitas dan tingkat kesehatan yang bervariasi.
6. Remaja
Tuntutan sekolah, kegiatan sosial dan berbagai aktivitas membuat remaja
tidur lebih larut dan bangun lebih cepat. Karena tuntutan gaya hidup yang
memperpendek waktu yang tersedia untuk tidur dan kemungkinan
kebutuhan fisiologis, maka remaja seringkali mengalami mengantuk yang
sering atau disebut dengan EDS (Excessive Daily Sleepiness).
7. Dewasa Muda
Dewasa muda yang sehat membutuhkan cukup tidur untuk menjalankan
kesibukan dan aktivitas mereka. Kurang lebih 20% waktu tidur yang
dihabiskan yaitu tidur REM.

8. Dewasa Tengah
Total waktu yang digunakan tidur pada masa dewasa tengah mulai
menurun. Jumlah tidur NREM tahap 4 yang merupakan tidur yang dalam
mulai menurun dan terus berlanjut dengan bertambahnya usia.
9. Lansia
Jumlah tidur total tidak berubah sesuai pertumbuhan usia. Akan tetapi
kualitas tidur kelihatan menjadi berubah pada kebanyakan lansia (Bliwise,
1993). Episode tidur REM cenderung memendek. Terdapat penurunan
yang progresif pada tahap tidur NREM 3 dan 4, dan beberapa lansia
hampir tidak memiliki tahap 4. Akan tetapi pada lansia yang berhasil
beradaptasi terhadap perubahan fisiologis dan psikologis dalam penuaan
lebih mudah memelihara tidur REM dan keberlangsungan tidur yang mirip
dengan dewasa muda (Reynolds dkk, 1993).

DAFTAR PUSTAKA
Mubarak, Wahit Iqbal & Nurul Chayatin. 2007. Buku Ajar Kebutuhan Dasar
Manusia: Teori & Aplikasi Dalam Praktik. Jakarta: EGC
Uliyah, Musrifatyul & Aziz Alimul Hidayat. 2008. Keterampilan Dasar Praktik
Klinik Untuk Kebidanan, Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika
Potter & Perry. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses,
Dan Praktik, Edisi 4, Vol.2. Jakarta: EGC
Potter & Perry. 2009. Fundamental of Nursing. Edisi 7. Jakarta: Salemba Medika