Anda di halaman 1dari 35

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penyakit demam berdarah dengue (DBD) merupakan salah satu
penyakit infeksi yang ditularkan melalui gigitan nyamuk yang banyak
ditemukan di daerah tropis dan subtropis di seluruh dunia. Dalam beberapa
tahun terakhir terjadi peningkatan terhadap penyebaran kasus DBD di
daearah urban dan semi urban, sehingga hal tersebut menjadi perhatian
utama kesehatan masyarakat internasional.1
Angka terjadinya kasus DBD mengalami peningkatan secara drastic
di seluruh dunia dalam beberapa tahun terakhir. Lebih dari 2,5 milyar
penduduk di dunia, lebih dari 70%-nya berisiko mengalami DBD terutama
di wilayah Asia Pasifik. Saat ini, diperkirakan 50-100 juta orang di seluruh
dunia terinfeksi demam berdarah dengue setiap tahunnya.1
Indonesia sebagai salah satu negara tropis di dunia dengan
kelembaban udara yang cukup tinggi menjadi pemicu berkembang biaknya
nyamuk seperti Aedes aegypti yang merupakan salah satu vector DBD,
sehingga DBD mudah ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Hal
tersebut menyebabkan masalah kesehatan karena terdapat banyak daerah
endemic sehingga jumlah penderita semakin meningkat dan penyebaran pun
semakin meluas ke wilayah lain dengan meningkatnya mobilitas dan
kepadatan penduduk. 2
Dampak peningkatan serta meluasnya penyebaran DBD dapat
berpengaruh terhadap perekonomian, dikarenakan kehilangan waktu kerja,
waktu pendidikan maupun biaya selama perawatan penderita DBD selama
sakit, selain itu jika tidak ditangani secara serius maka akan berdampak
terhadap tingginya angka kesakitan dan meningkatkan risiko terjadinya
kematian penderita DBD jika tidak ditangani secara cepat dan tepat.3

Departemen Kesehatan RI menyatakan seiring dengan meluasnya


daerah endemic DBD, angka terjadinya kasus demam berdarah di Indonesia
meningkat yaitu terhitung dari Januari Oktober 2009, Demam Berdarah
Dengue (DBD) telah menealn 1.012 korban jiwa dari total penderita
sebanyak 121.423 orang (CFR: 0,83). Jumlah ini meningkat dibandingkan
periode tahun 2008 yaitu 953 orang meninggal dari 117.830 kasus (CFR:
0,81). Dari kasus yang dilaporkan selama tahun 2009, tercatat 10 provinsi
yang menunjukkan kasus terbanyak, yaitu Jawa Barat (29.334 kasus, 244
meninggal), DKI Jakarta (26.326 kasus, 33 meninggal, Jawa Timur (15.362
kasus, 244 meninggal), Jawa Tengah (15.328 kasus, 202 meninggal)
Kalimantan Barat (5.619 kasus, 114 meninggal), Bali (5.334 kasus, 8
meninggal), Banten (3.527 kasus, 50 meninggal), Kalimantan Timur (2.758
kasus, 34 meninggal), Sumatera Utara (2.299 kasus, 31 meninggal), dan
Sulawesi Selatan (2.296 kasus, 20 meninggal). Dan terdapat beberapa
provinsi yang mengalami peningkatan kasus dibandingkan tahun 2008
adalah Jambi, Bangka Belitung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa
Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Barat dan Papua.3
Dari

data

RISKESDAS

2013

menyatakan

bahwa

dari

26

Kota/Kabupaten di Jawa Barat, seluruhnya terjangkit DBD termasuk Kota


Bekasi. Kejadian wabah demam berdarah pada tahun 2013 ini di Kota Bekasi
mengalami kenaikan karena pada tahun sebelumnya jumlah penderita yang
mengalami penyakit demam berdarah ini tidak sebanyak pada tahun 2012. 4
Tercatat pada tahun 2012, kasus penyakit DB sebanyak 856 kasus. Jumlah
penderita penyakit demam berdarah di Kota Bekasi tahun 2013 mencapai
1415 orang dengan 17 korban meninggal. Persebaran penderita penyakit
demam berdarah ini tersebar secara merata di 12 Kecamatan di Kota Bekasi,
akan tetapi pada Kecamatan Bekasi Barat ditemukan paling banyak penderita
dengan jumlah 259 kasus.5
Perilaku sangat dipengaruhi oleh karakteristik manusia itu sendiri.
Notoatmodjo (2003) dalam Santhi (2005) mengemukakan beberapa faktor
individu yang terkait dengan kesehatannya antara lain umur, jenis kelamin,
status sosial, status pekerjaan, penghasilan, dan lain-lain. Penelitian oleh

Santhi (2005) didapatkan faktor pendidikan berpengaruh terhadap perilaku


PSN, sedangkan faktor individu seperti umur, pekerjaan, dan penghasilan
tidak didapatkan pengaruh terhadap perilaku PSN.6 Penelitian lain yang
dilakukan oleh Marni dan Lerik tahun 2008 tidak didapati adanya hubungan
antara pengetahuan dengan praktik ibu rumah tangga dalam PSN-DBD di
Kelurahan Oebufu Kota Kupang.7
Peran serta masyarakat dalam PSN-DBD lebih diutamakan peran ibu
rumah tangga karena umumnya yang bertanggung jawab mengurus rumah
tangga termasuk masalah kebersihan rumah adalah ibu rumah tangga.7
Kelurahan Kotabaru merupakan wilayah yang padat penduduk yang
sering terjadi banjir. Banyak tempat yang tergenang air apalagi ketika musim
hujan yang akan menyebabkan terjadinya penyakit DBD.
Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti bermaksud mencari
hubungan antara karakteristik dan pengetahuan ibu rumah tangga terhadap
perilaku pemberantasan sarang nyamuk DBD di Kelurahan Kotabaru Kota
Bekasi.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana gambaran karakteristik responden berdasarkan umur, tingkat
pendidikan, status pekerjaan, dan jumlah pendapatan keluarga?
2. Bagaimana pengetahuan responden tentang DBD dan cara mengatasi
pemberantasan sarang nyamuk?
3. Bagaimana perilaku pemberantasan sarang nyamuk oleh responden?
4. Bagaimana hubungan karakteristik dan tingkat pengetahuan responden
dengan perilaku pemberantasan sarang nyamuk DBD?

C. Tujuan Penelitian

C.1. Tujuan Umum


Mengetahui gambaran karakteristik, tingkat pengetahuan, dan perilaku
pemberantasan sarang nyamuk DBD oleh ibu rumah tangga untuk meningkatkan
keberhasilan pencegahan DBD.
C.2. Tujuan Khusus
1. Diketahuinya sebaran karakteristik responden berdasarkan umur, tingkat
pendidikan, status pekerjaan, dan jumlah pendapatan keluarga.
2. Diketahuinya tingkat pengetahuan responden tentang DBD dan cara
pemberantasan sarang nyamuk.
3. Diketahuinya tingkat perilaku pemberantasan sarang nyamuk oleh responden.
4. Diketahuinya hubungan antara karakteristik dan tingkat pengetahuan Ibu
Rumah Tangga dengan Perilaku pemberantasan sarang nyamuk DBD.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti
Penelitian dapat dijadikan sebagai pelatihan bagi peneliti agar memiliki
pengalaman penelitian langsung di bidang kedokteran komunitas.
2. Bagi Perguruan Tinggi
Realisasi tridarma perguruan tinggi dalam melaksanakan fungsinya sebagai
lembaga penyelenggara pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat
3. Bagi Masyarakat
Penelitian dapat digunakan sebagai bagian dari sosialisasi tentang DBD
terutama tentang pencegahan dan PSN DBD.
4. Bagi Pemerintah
Hasil penelitian dapat menjadi masukan dalam upaya program kesehatan
terutama pencegahan DBD.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. DEMAM BERDARAH DENGUE


A.1. Pengertian
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit infeksi
yang disebabkan oleh virus denguedan ditularkan oleh nyamuk Aedes
aegypti,dengan manifestasi klinis demam,nyeri otot dan atau nyeri sendi yang

disertai leukopenia, ruam, limfadenopati, trombositopenia dan diathesis


hemoragik.9
A.2. Epidemiologi
DBD tersebar di wilayah asia tenggara,pasifik barat dan karibia.
Indonesia merupakan wilayah endemis 6-15/100.000 penduduk (1989-1995),
meningkat tajam hingga 35/100.000 penduduk (1998),

menurun hingga

mencapai 2% pada tahun 1999. Kelompok tertinggi 5-14 tahun.Daerah yang


perlu diwaspadai adalah DKI Jakarta, Bali, NTB (DepKes RI 2004)/. David
Bylon (1779) melaporkan bahwa epidemiologi dengue di Batavia disebabkan
oleh 3 faktor utama, yaitu virus, manusia, dan nyamuk.9

A.3. Etiologi dan Penularan


Demam berdarah dengue di sebabkan oleh virus dengue dari
kelompok Arbovirus B, yaitu arthropod-bornevirus atau virus yang
disebarkan oleh artropoda. Virus ini termasuk genus flavivirus, famili
Flaviviridae dan terdiri dari 4 serotype virus yaitu : DEN-1,DEN-2,DEN-3
dan DEN-4. Keempat serotype tditemukan di Indonesia dengan DEN-3
merupakan serotype terbanyak.2,8
Vektor utama penyakit DBD adalah nyamuk Aedes aegypti (di daerah
perkotaan) dan Aedes albopictus (di daerah pedesaan). Ciri-ciri nyamuk DBD
adalah8,9:

Sayap dan badannya belang-belang atau bergaris-garis putih


Berkembang biak di air jernih yang tidak beralaskan tanah seperti
bak mandi, WC, tempayan, drum, dan barang-barang yang
menampung air seperti kaleng, ban bekas, pot tanaman air, tempat

minum burung, dan lain-lain.


Jarak terbang 100 m
Nyamuk betina bersifat multiple biters (menggigit beberapa orang
karena sebelum nyamuk tersebut kenyang sudah berpindah tempat)
Nyamuk yang menjadi vector penyakit DBD adalah nyamuk yang

menjadi terinfeksi saat menggigit manusia yang sedang sakit dan viremia

(terdapat virus dalam darahnya).Menurut laporan terakhir, virus dapat pula


ditularkan secara transovarial dari nyamuk ke telur-telurnya.8
Virus berkembang dalam tubuh nyamuk selama 8-10 hari terutama
dalam kelenjar air liur nyamuk. Dalam tubuh manusia, virus ini akan
berkembang selama 4-6 hari dan orang tersebut akan mengalami sakit demam
berdarah dengue. Virus dengue memperbanyak diri dalam tubuh manusiadan
berada dalam darah selama satu minggu.8
Orang yang di dalam tubuhnya terdapat virus dengue tidak semuanya
akan sakit demam berdarah dengue. Ada yang mengalami demam ringan dan
sembuh dengan sendirinya, atau bahkan ada yang sama sekali tanpa gejala
sakit. Tetapi semuanya merupakan pembawa virus dengue selama satu
minggu, sehingga dapat menularkan kepada orang lain di berbagai wilayah
yang ada nyamuk penularnya. Sekali terinfeksi, nyamuk menjadi infektif
seumur hidupnya.8

A.4. Patofisiologi8

Hari 1 3 Fase Demam Tinggi


Demam mendadak tinggidisertai sakit kepala hebat, sakit di belakang
mata, badan ngilu dan nyeri, serta mual/muntah, kadang disertai

bercak merah di kulit.


Hari 4 5 Fase kritis
Fase demam turun drastic dan sering mengecoh seolah terjadi
kesembuhan.
Namun inilah fase kritis kemungkinan terjadinya Dengue Shock

Syndrome
Hari 6 7 Fase Masa Penyembuhan
Fase demam kembali tinggi sebagai bagian dari reaksi tahap
penyembuhan.

A.5. Gambaran Klinis


Berdasarkan pedoman WHO 2009, gambaran klinis demam
dengue/demam berdarah dengue dibagi menjadi tiga fase.10

A.5.a. Fase Febris

Fase ini terjadi 2-7 hari dengan demam yang mendadak tinggi diikuti
dengan facial flushing, eritem, nyeri seluruh badan, myalgia, atralgia, dan
sakit kepala. Beberapa pasien juga mengalami sakit tenggorokan, injeksi
konjungtiva, anoreksia, nausea, dan vomiting. Timbul manifestasi perdarahan
ringan seperti petekie, perdarahan membran mukosa seperti hidung dan gusi,
hepatomegali setelah beberapa hari demam, dan penurunan progresif sel
darah putih.
A.5.b. Fase Kritis
Fase ini biasa terjadi pada hari ke 3-7 dimana suhu tubuh turun sampai
37,5 38 0C. Peningkatan permeabilitas kapiler sejalan dengan terjadinya
peningkatan hematokrit. Progres leukopenia diikuti dengan penurunan cepat
dari hitung trombosit, biasanya mendahului plasma leakage. Efusi pelura dan
ascites kadang terjadi. Syok terjadi ketika hilangnya volume plasma akibat
leakage yang diikuti hipoperfusi organ lalu terjadi kerusakan organ yang
progresif, asidosis metabolik, dan DIC.
A.5.c. Fase Recovery
Jika pasien bertahan pada fase kritis selama 24-48 jam, reabsorpsi
bertahap cairan kompartemen ekstravaskuler kembali dalam 48-72 jam.
Keadaan pasien akan membaik, nafsu makan kembali, gejala gastrointestinal
mereda, status hemodinamik stabil, dan diuresis kembali. Hematokrit stabil
atau mungkin lebih rendah dikarenakan efek dilusi dari reabsorpsi cairan.
Hitung sel darah putih biasanya mulai meningkat segera setelah suhu kembali
normal tetapi perbaikan jumlah platelet lebih lambat dari pada jumlah sel darah
putih. Selama fase kritis dan recovery, terapi cairan berlebihan berhubungan
dengan oedem pulmo atau gagal jantung kongestif.

A.5.d. Dengue Berat


Dengue berat perlu dipertimbangkan bila pasien berasal dari daerah yang
berisiko dengue dengan demam 2-7 hari ditambah satu dari gejala berikut:

1. Terdapat bukti adanya kebocoran plasma, seperti:


a. peningkatan hematokrit yang tinggi
b. efusi pleura atau asites
c. kompensasi sirkulasi atau syok (takikardi, ekstremitas dingin,
capilary refill lebih dari tiga detik, nadi lemah atau tidak teraba,
tekanan nadi sempit, atau pada syok akhir, tekanan darah tidak
dapat dinilai).
2. Terdapat perdarahan yang signifikan.
3. Terdapat perubahan tingkat kesadaran (letargi atau gelisah, koma,
kejang).
4. Terdapat gangguan gastrointestinal yang berat (muntah persisten, nyeri
abdomen yang menetap atau meningkat, jaundice).
Terdapat kerusakan berat organ (gagal hepar akut, gagal ginjal akut,
ensefalopati atau ensefalitis, kardiomyopati, atau manifestasi lain yang tidak
biasa terjadi..8
A.6. Diagnosis
Klasifikasi kasus dengue berdasarkan pedoman WHO 2009 adalah10,11
:
1. Dengue tanpa tanda bahaya (dengue without warning signs),
2. Dengue dengan tanda bahaya (dengue with warning signs), dan
3. Dengue berat (severe dengue)
Kriteria dengue tanpa/dengan tanda bahaya :
Dengue probable :
1. Bertempat tinggal di/bepergian ke daerah endemik dengue
2. Demam disertai 2 dari hal berikut :
a. Mual, muntah
b. Ruam
c. Sakit dan nyeri
d. Uji torniket positif
e. Lekopenia
f. Adanya tanda bahaya
Tanda bahaya adalah :
1)
Nyeri perut
2)
Muntah berkepanjangan
3)
Terdapat akumulasi cairan
4)
Perdarahan mukosa
5)
Letargi, lemah
6)
Pembesaran hati > 2 cm

10

7)

Kenaikan

hematokrit

seiring

dengan

penurunan

jumlah

trombosit yang cepat


3. Dengue dengan konfirmasi laboratorium (penting bila bukti
kebocoran plasma tidak jelas)
Kriteria dengue berat :
1. Kebocoran plasma berat, yang dapat menyebabkan syok (DSS),
akumulasi cairan dengan distress pernafasan.
2. Perdarahan hebat, sesuai pertimbangan klinisi
3. Gangguan organ berat, hepar (AST atau ALT 1000, gangguan
kesadaran, gangguan jantung dan organ lain)
Untuk mengetahui adanya kecenderungan perdarahan dapat dilakukan
uji tourniquet, walaupun banyak faktor yang mempengaruhi uji ini tetapi
sangat membantu diagnosis, sensitivitas uji ini sebesar 30 % sedangkan
spesifisitasnya mencapai 82%.11
A.7. Penatalaksanaan
Berdasarkan pedoman WHO 2009, prinsip penanganan pasien dengan
DBD dibagi menjadi tiga grup yang tergantung dari manifestasi klinis dan
kondisi lain pasien yaitu10 :
A.7.a. Grup A
Pasien dapat dirawat di rumah, mampu mentoleransi keadekuatan
volume cairan oral dan keluaran urine minimal tiap 6 jam, dan tidak memiliki
warning signs terutama saat demam turun. Pasien dengan hematokrit stabil
dapat diperbolehkan pulang setelah bersedia memenuhi rencana tindakan
sebagai berikut:
1. Mematuhi masukan rehidrasi oral yang mengandung elektrolit dan
gula untuk mengembalikan kehilangan cairan akibat demam dan
muntah.
2. Beri paracetamol untuk demam yang tinggi jika pasien tidak
merasa nyaman. Jangan memberikan obat anti inflasami non
steroid (NSAIDS).
3. Pesankan kepada orang yang merawat pasien agar pasien dibawa
ke rumah sakit segera jika ada tanda-tanda: tidak ada perbaikan
klinis, mundurnya waktu penurunan suhu tubuh, nyeri abdomen

11

yang berat, muntah persisten, ekstremitas dingin dan lembab,


letargi atau gelisah, atau perdarahan (misalnya: berak hitam atau
muntahan seperti kopi), tidak kencing lebih dari 4-6 jam.
A.7.b. Grup B
Pasien perlu dirawat untuk observasi lebih dekat terutama saat
mendekati fase kritis, termasuk pasien dengan warning signs, pasien dengan
kondisi yang dapat membuat DBD atau penanganannya menjadi lebih
komplek, dan keadaan sosial tertentu.
Rencana tindakan yang harus dilakukan adalah:
1. Cek hematokrit sebelum dilakukan terapi cairan. Beri isotonik
mulai dengan 5-7 cc/kg/jam selama 1-2 jam, kemudian kurangi
hingga 2-3 mL/kgBB/jam atau kurang, sesuai dengan respon klinis
pasien.
2. Nilai kembali status klinis pasien dan cek ulang hematokrit. Jika
hematokrit tetap sama atau hanya mengalami sedikit kenaikan
lanjutkan dengan terapi yang sama (2-3ml/kg/jam) sampai 2-4
jam. Jika tanda-tanda vital memburuk dan hematokrit meningkat
dengan cepat naikkan cairan kira-kira 5-10 ml/kg/jam selama 1-2
jam. Nilai ulang status klinis pasien.
3. Beri volume cairan intravena untuk mempertahankan perfusi dan
keluaran urine sekitar 0.5 ml/kg/jam. Cairan intravena bisanya
dibutuhkan hanya 24-48 jam. Kurangi cairan intravena secara
bertahap jika perdarahan plasma menurun menjelang akhir fase
kritis.
4. Pasien dengan warning signs diobservasi sampai periode berisiko
berakhir. Keseimbangan cairan harus dijaga. Parameter yang harus
dimonitor meliputi tanda-tanda vital dan perfusi jaringan (1-4 jam
sampai pasien keluar dari fase kritis), keluaran urine (4-6 jam),
hematokrit (sebelum dan sesudah penggantian cairan sekitar 6-12
jam), glukosa darah, dan fungsi organ lain (misalnya: kondisi
ginjal, hati, koagulasi darah)

12

Jika pasien DBD tanpa warning signs, rencana tindakan yang harus
dilakukan sebagai berikut :
1. Dorong masukan oral. Jika pasien tidak mampu, awali dengan
terapi cairan intravena dengan NaCl 0,9% Saline atau RL dengan
atau tanpa dextrose di tingkat maintenance. Untuk pasien obesitas
dan kelebihan berat badan gunakan berat badan ideal untuk
mengatur cairan infus.
2. Pasien harus dimonitor oleh penyedia pelayanan kesehatan untuk
mengobservasi suhu, volume intake dan output cairan, keluaran
urine (volume dan frekuensi), tanda peringatan, trombosit, sel
darah putih dan hematokrit, dan tes laboratorium lain (misalnya:
tes fungsi hati dan ginjal) dapat dilakukan tergantung klinis
pasien.
A.7.c. Grup C
Pasien yang harus memerlukan penanganan gawat darurat dan harus
segera dirujuk saat mereka berada pada fase kritis atau dengue berat.
Plasma yang rendah harus segera diganti dan segera dengan larutan
kristaloid atau jika dalam kasus syok hipotensi, penanganannya dengan
koloid. Jika mungkin, pantau hematokrit sebelum dan setelah resusuitasi
cairan.
Cross match harus dilakukan untuk semua pasien dengan syok.
Transfusi darah harus diberikan hanya untuk kasus dengan suspek perdarahan
berat.
Tujuan dari resusitasi cairan termasuk meningkatkan sirkulasi pusat
dan perifer, meningkatkan berakhirnya kerusakan organ dengan adanya
kesadaran yang stabil (lebih dari waspada atau tidak gelisah), urine output
0,5 ml/kg/jam, dan menurunkan kemungkinan terjadinya asidosis metabolik.
Rencana terapi pasien dengan syok terkompensasi adalah sebagai
berikut:
1. Mulai dengan resusitasi cairan intravena dengan kristaloid isotonik
5-10 ml/kg/jam selama lebih dari satu jam. Kemudian observasi

13

kondisi pasien (tanda-tanda vital, waktu pengisian kapiler,


hematokrit, dan keluaran urin).
2. Jika kondisi pasien membaik, cairan intravena harus diturunkan
bertahap 5-7 cc/kg/jam selama 1-2 jam, kemudian 3-5 ml/kg/jam
selama 2-4 jam, kemudian 2-3 ml/kg/jam dan kemudian tergantung
pada status hemodinamik dimana dapat dipertahankan selama 2448 jam
3. Jika tanda-tanda vital masih tidak stabil (syok persisten), setelah
bolus pertama dilakukan pengecekan hematokrit. Jika hematorit
naik atau masih tinggi (>50%) ulang bolus kedua dari larutan
kristaloid 10-20 ml/ kg/jam selama 1-2 jam. Setelah bolus kedua,
jika ada perbaikan turunkan bolus cairan menjadi 7-10 ml/kg/jam
selama 1-2 jam dan kemudian diturunkan secara bertahap.
Indikator adanya perdarahan, cross match dan transfusi darah
segera mungkin jika hematokrit menurun dibanding dengan
hematokrit awal (<40% untuk anak dan wanita dewasa, <45%
untuk laki-laki dewasa)
Bolus cairan lebih lanjut mungkin diberikan selama 24-48 jam
berikutnya.

B. PENGENDALIAN VEKTOR DEMAM BERDARAH DENGUE


Vaksin untuk pencegahan terhadap infeksi virus dan obat untuk
penyakit DB/DBD belum ada dan masih dalam proses penelitian, sehingga
pengendaliannya terutama ditujukan untuk memutus rantai penularan,
yaitu dengan pengendalian vektornya.12
B.1. Pemberantasan Sarang Nyamuk
Pemberantasan Sarang Nyamuk demam berdarah dengue (PSN-DBD)
adalah kegiatan memberantas telur, jentik, dan kepompong nyamuk penular
DBD (Aedes aegypti) di tempat-tempat perkembangbiakannya. Tujuannya
adalah mengendalikan populasi nyamuk, sehingga penularan DBD dapat

14

dicegah dan dikurangi. Keberhasilan PSN DBD diukur dengan Angka Bebas
Jentik (ABJ). Apabila ABJ lebih atau sama dengan 95% diharapkan penularan
DBD dapat dicegah atau dikurangi.13
B.1.a. Tiga M Plus
Cara PSN DBD dilakukan dengan 3M plus, yaitu (1) menguras dan
menyikat tempat-tempat penampungan air minimal seminggu sekali atau
menaburinya dengan bubuk abate untuk membunuh jentik nyamuk Aedes
aegypti, (2) menutup rapat-rapat tempat penampungan air agar nyamuk Aedes
aegypti tidak bisa bertelur di tempat itu, dan (3) mengubur/membuang pada
tempatnya barang-barang bekas seperti ban bekas, kaleng bekas yang dapat
menampung air hujan.13
Pemberian abate untuk membunuh jentik nyamuk yang terdapat di
dalam air bak kamar mandi atau tandon air bersih lainnya cukup efektif
mencegah nyamuk Aedes aegypti berkembang biak. Menutup rapat tempat
penyimpanan air bersih dan mengurasnya sesering mungkin akan bermanfaat
mengurangi kesempatan nyamuk untuk bertelur dan berkembang biak. Dari
jentik nyamuk yang hidup di dalam air (tandon air), termasuk kaleng-kaleng
berisi air atau bak mandi, dalam waktu beberapa hari akan tumbuh nyamuk
dewasa. Karena itu, sebelum larva berubah jadi nyamuk dewasa, sarang
nyamuk harus segera dimusnahkan (Bappenas, 2006).
B.1.b. Penggunaan Predator Larva
Di Indonesia ada beberapa ikan yang berkembang biak secara alami
dan bisa digunakan adalah ikan kepala timah dan ikan cetul. Namun ikan
pemakan jentik yang terbukti efektif dan telah digunakan di kota Palembang
untuk pengendalian larva DBD adalah ikan cupang. Meskipun terbukti efektif
untuk pengendalian larva Aedes aegypti, namun sampai sekarang belum
digunakan oleh masyarakat secara luas dan berkesinambungan.12
B.1.c. Fogging
Dengan melakukan fogging di sekitar tempat tinggal penderita,
nyamuk dewasa yang beterbangan atau yang hinggap di tempat

15

persembunyiannya di lingkungan rumah penderita akan mati. Dengan


demikian, penularan virus oleh nyamuk dapat dihentikan segera. Karena itu,
pada waktu ada laporan kasus DBD di satu rumah, segera dilakukan
fogging.13

B.2. Peran Masyarakat dalam Penanggulangan DBD


Masyarakat berperan dalam upaya pemberantasan penyakit DBD.
Sebagai contoh: peran masyarakat dalam kegiatan surveilans penyakit, yaitu
masyarakat dapat mengenali secara dini tanda-tanda penyakit DBD yang
menimpa salah satu anggota keluarga maupun tetangga mereka dan segera
merujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.
Masyarakat juga berperan dalam upaya pemberantasan vektor yang
merupakan upaya paling penting untuk memutuskan rantai penularan dalam
rangka mencegah dan memberantas penyakit DBD muncul di masa yang
akan datang. Dalam upaya pemberantasan vektor tersebut antara lain
masyarakat berperan secara aktif dalam pemantauan jentik berkala dan
melakukan gerakan serentak Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan
3M Plus.13
Masyarakat juga melakukan upaya mencegah gigitan nyamuk dengan
menggunakan obat gosok antinyamuk, tidur dengan kelambu, dan
menyemprot rumah dengan obat nyamuk yang tersedia luas di pasaran. Hal
sederhana lainnya yang dilakukan oleh masyarakat adalah menata gantungan
baju dengan baik agar tidak menjadi tempat hinggap dan istirahat nyamuk
Aedes aegypti. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dalam upaya
pencegahan dan pemberantasan penyakit DBD oleh masyarakat sangat besar,
boleh dikatakan lebih dari 90% dari keseluruhan upaya pemberantasan
penyakit DBD. Dan upaya tersebut sangat berkaitan dengan faktor perilaku
dan faktor lingkungan.13

C. PERAN IBU RUMAH TANGGA

16

Menurut kamus besar bahasa indonesia, ibu rumah tangga didefinisikan


sebagai wanita yg mengatur penyelenggaraan berbagai macam pekerjaan
rumah tangga. Ibu memiliki tanggung jawab yang besar dalam menjaga
anggota keluarga agar tetap sehat. Salah satu peran tersebut adalah dalam
menjaga kesehatan lingkungan sekitar dan kebutuhan-kebutuhan keluarga.
Ibu memiliki peran utama dalam meninjau keperluan rumah tangga dalam
bidang kesehatan termasuk makanan dan gizi, olahraga, waktu tidur,
kebersihan lingkungan, kesehatan gigi, kebersihan pribadi, dan kebersihan
rumah tangga. Pemantauan anggota keluarga dipandang sebagai pekerjaan
sehari-hari dan terus-menerus melekat dalam praktik ibu. Pemantauan ini
bertujuan agar gaya hidup sehat tetap dipertahankan, barang-barang
kesehatan dibeli dan diganti sesuai kebutuhan, dan penyakit yang berpotensi
dapat dicegah.14
D. KARAKTERISTIK INDIVIDU
Manusia adalah individu dengan jati diri yang khas yang memiliki
karakteristik tersendiri. Karakteristik adalah sifat individu yang relatif tidak
berubah, atau yang dipengaruhi oleh lingkungan seperti umur, jenis kelamin,
suku bangsa, kebangsaan, pendidikan, dan lain-lain.6

Menurut Notoatmodjo (2003)6, beberapa faktor individu yang terkait


kesehatan antara lain:
1. Umur
Umur adalah variabel yang selalu diperhatikan dalam penyelidikanpenyelidikan epidemiologi. Angka-angka kesakitan maupun kematian di
dalam hampir semua keadaan menunjukkan hubungan dengan umur.
2. Jenis kelamin
Penelitian di luar negeri menunjukkan bahwa angka kesakitan lebih tinggi di
kalangan wanita, sedangkan angka kematian lebih tinggi di kalanga pria.
3. Kelas sosial

17

Kelas sosial adalah variabel yang sering dilihat hubungannya dengan angka
kesakitan atau kematian, variabel ini menggambarkan tingkat kehidupan
seseorang. Kelas sosial ini ditentukan oleh unsur-unsur seperti pendidikan,
pekerjaan, penghasilan, tempat tinggal. Hal-hal ini dapat mempengaruhi
berbagai aspek kehidupan termasuk pemeliharaan kesehatan.
4. Jenis pekerjaan
Status pekerjaan merupakan variabel yang kompleks dan pengukurannya
bergantung terhadap perspektif berbagai aspek dari pekerjaan.15 Jenis
pekerjaan berperan dalam timbulnya penyakit melalui beberapa jalan:
a. Adanya faktor-faktor lingkungan yang dapat menimbulkan kesakitan,
kecelakaan, dan sebagainya seperti bahan kimia, gas beracun, radiasi,
dan lain-lain.
b. Situasi pekerjaan yang penuh dengan stress
c. Ada tidaknya aktivitas fisik di dalam pekerjaan
d. Karena berkumpul dalam satu tempat yang sempit, dapat memudahkan
penularan penyakit.
5. Penghasilan
Merupakan variabel yang dinilai hubungannya dengan pemanfaatan
pelayanan kesehatan maupun pencegahan penyakit. Penghasilan yang tinggi
dapat menjangkau nutrisi, perumahan, sekolah, dan rekreasi yang lebih
baik.15
6. Golongan etnik
Berbagai golongan etnik dapat berbeda di dalam kebiasaan makan, susunan
genetika, gaya hidup, dan sebagainya yang dapat mengakibatkan perbedaanperbedaan di dalam angka kesakitan atau kematian.
7. Status perkawinan
Penelitian-penelitian menunjukkan kecenderungan kematian lebih tinggi
pada status tidak kawin dibandingkan dengan yang kawin. Kecenderungan
ini disebabkan adanya perbedaan-perbedaan dalam gaya hidup yang
dihubungkan dengan penyakit tertentu.
8. Pendidikan
Notoatmodjo yang dikutip Nasution (2005)16 menyatakan bahwa orang
dengan pendidikan formal lebih tinggi akan mempunyai pengetahuan yang
lebih tinggi dibanding orang dengan tingkat pendidikan formal yang lebih
rendah, karena akan lebih mampu dan mudah memahami arti dan pentingnya
kesehatan serta pemanfaatan pelayanan kesehatan. Pendidikan merupakan
faktor penting dalam kesehatan karena dapat menyediakan pengetahuan dan

18

keterampilan sehari-sehari yang membuat orang dengan pendidikan baik


mendapatkan akses informasi dan sumber promosi kesehatan yang baik
pula.15

E. PENGETAHUAN
Pengetahuan adalah hasil tahu dan terjadi setelah orang mengadakan
penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan atau kognitif
merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang.
Dari pengalaman dan penelitian ternyata perilaku yang didasari oleh pengetahuan
akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan.17

19

Pengetahuan mempunyai 6 tingkat yaitu:


1. Tahu
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya. Tahu merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah.
2.

Memahami
Comprehension atau memahami diartikan sebagai suatu kemampuan
untuk menjelaskan secara benar objek yang diketahui, dan dapat
menginterpretasikan materi tersebut secara benar.

3. Aplikasi
Aplikasi yaitu kemampuan untuk menggunakan materi yang telah
dipelajari pada situasi dan kondisi yang sebenarnya. Aplikasi dapat
diartikan sebagai penggunaan hukum-hukum,

rumus-rumus,

metode,

prinsip, dan sebagainya dalam kontek atau situasi yang lain.


4. Analisis
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan suatu materi atau
objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih didalam suatu struktur
organisasi tersebut dan masih berkaitan satu sama lainnya, misalnya
penggunaan kata kerja.
5.

Sintesis
Sintesis yaitu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan
bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan
kata lain, sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun suatu
formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada, misalnya dapat
menyusun,

merencanakan, meringkaskan, menyesuaikan, dsb, terhadap

suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada.


6.

Evaluasi
Evaluasi yaitu kemampuan untuk justifikasi atau penilaian terhadap
materi atau objek. penialaian-penilaian ini berdasarkan suatu criteria yang
ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada

20

F. PERILAKU
F.1. Pengertian Perilaku
Dari segi biologis, perilaku adalah kegiatan atau aktivitas organisme
(makhluk hidup) yang bersangkutan. Sehingga yang dimaksud dengan perilaku
manusia pada hakekatnya adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri
yang mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain: berjalan, berbicara,
menangis, tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca, dan sebagainya. Dari
uraian ini dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud perilaku manusia adalah
semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang diamati langsung, maupun
yang tidak dapat diamati oleh pihak luar.18
Notoatmodjo (2010a)18 yang mengutip pendapat Skiner seorang ahli
psikologi, merumuskan bahwa perilaku merupakan respons atau reaksi seseorang
terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Oleh karena itu perilaku ini terjadi
melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme
tersebut merespons, maka teori Skiner ini disebut teori S-O-R atau StimulusOrganisme-Respons.
F.2. Perilaku Kesehatan
Berdasarkan batasan perilaku Skiner, maka perilaku kesehatan (health
behavior) adalah suatu respons seseorang terhadap stimulus atau objek yang
berkaitan dengan sehat-sakit, penyakit, dan faktor-faktor yang mempengaruhinya
seperti sistem pelayanan kesehatan, makanan, minuman, serta lingkungan.
Dari batasan ini, perilaku kesehatan dapat diklasifikasikan menjadi dua
kelompok:
1. Perilaku orang sehat agar tetap sehat dan meningkat.
Perilaku ini disebut perilaku sehat (healthy behavior), yang mencakup
perilaku (overt dan covert behavior) dalam mencegah atau menghindari
penyakit dan penyebab masalah kesehatan (perilaku preventif) dan perilaku
dalam

mengupayakan

meningkatnya

kesehatan

(perilaku

promotif).

Contohnya adalah makan dengan gizi seimbang, olahraga teratur, tidak


merokok dan minum minuman keras, menghindari gigitan nyamuk,
menggosok gigi setelah makan, dan sebagainya.18

21

2. Perilaku orang sakit atau terkena masalah kesehatan untuk memperoleh


penyembuhan dan pemecahan masalah kesehatannya.
Perilaku ini disebut perilaku pencarian pelayanan kesehatan (health seeking
behavior). Perilaku ini mencakup tindakan-tindakan yang diambil seseorang
bila sakit atau terkena masalah kesehatan untuk memperoleh kesembuhan
atau terlepasnya dari masalah kesehatan tersebut. Tempat pencarian
kesembuhan ini adalah tempat atau fasilitas pelayanan kesehatan, baik
fasilitas tradisional (dukun, sinshe, paranormal) maupun modern atau
profesional (rumah sakit, puskesmas, poliklinik).18
Meskipun perilaku adalah bentuk respons atau reaksi terhadap stimulus atau
rangsangan dari luar organisme (orang) namun dalam memberikan respons
sangat tergantung pada karakteristik atau faktor-faktor lain dari orang yang
bersangkutan. Hal ini berarti bahwa meskipun stimulusnya sama bagi
beberapa orang namun respons tiap-tiap orang berbeda. Faktor-faktor yang
membedakan respons terhadap stimulus yang berbeda disebabkan determinan
perilaku.19 Determinan perilaku ini dapat dibedakan menjadi dua, yakni:
1. Determinan atau faktor internal, yakni karakteristik dari orang yang
bersangkutan yang bersifat bawaan (given), seperti: ras, sifat fisik,
sifat kepribadian, (pemalu, pemarah, dan penakut), bakat bawaan,
tingkat kecerdasan, dan jenis kelamin.
2. Determinan atau faktor eksternal meliputi lingkungan fisik, sosial,
budaya, ekonomi, dan politik. Faktor lingkungan ini sering merupakan
faktor yang dominan yang mewarnai perilaku seseorang.19

G. KERANGKA TEORI

22

23

H. KERANGKA KONSEP
Variabel bebas

Variabel tergantung

Karakteristik Ibu
-

Umur
Pendidikan
Pekerjaan
Penghasilan

Pengetahuan Tentang DBD

Perilaku PSN-DBD

24

I. HIPOTESIS PENELITIAN
H1 :
perilaku
Bekasi.
H0 :
perilaku
Bekasi.

Terdapat hubungan antara karakteristik dan pengetahuan ibu dengan


Pemberantasan Sarang Nyamuk DBD di Kelurahan Kotabaru Kota
Tidak ada hubungan antara karakteristik dan pengetahuan ibu dengan
pemberantasan sarang nyamuk DBD di Kelurahan Kotabaru Kota

BAB III

25

METODOLOGI PENELITIAN

A. TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN


Penelitian ini dilaksanakan pada Agustus-Oktober 2014 di Kelurahan
Kotabaru Kota Bekasi.
B. DESAIN PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dan
rancangan penelitian yang digunakan yakni cross sectional. Peneliti mencari
hubungan antara variabel bebas (faktor resiko) dengan variabel tergantung
(efek) dengan melakukan pengukuran sesaat.20

C. VARIABEL PENELITIAN
C.1. Variabel Bebas
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah karakteristik dan tingkat
pengetahuan ibu di Kelurahan Kotabaru Kota Bekasi Tahun 2014.
C.2. Variabel Tergantung
Variabel

tergantung

dalam

penelitian

ini

adalah

perilaku

pemberantasan sarang nyamuk DBD oleh ibu di Kelurahan Kotabaru Kota


Bekasi.

D. DEFINISI OPERASIONAL
Tabel 3.1 Definisi operasional penelitian
No

Variabel

Definisi
Operasional

Alat Ukur

Kategori

Skala
Ukur

26

Umur

Lama waktu hidup


atau

ada

Kuesioner 1. 18 30 tahun

sejak

Nominal

(dewasa muda)
2. 31 - 55 tahun

dilahirkan

(dewasa tengah)
3. > 55 tahun
2

Tingkat

Ijazah

pendidikan

Pendidikan

formal

tertinggi

Kuesioner

(dewasa akhir)
1. Pendidikan rendah (tidak seko-

yang dicapai

lah, SD)
2. Pendidikan
nengah

No

Variabel

Definisi

Ordinal

Alat Ukur

me(SMP,

SMA)
Kategori

Operasional

Skala
Ukur

3. Pendidikan Tinggi
(Perguruan
Tinggi)
3

Status

Keterangan

Pekerjaan

pekerjaan

Kuesioner

1. Tidak bekerja
2. Bekerja

Nominal

Kuesioner

1. Di bawah UMP (<

Ordinal

yang

dilakukan
4

Pendapatan

responden
Jumlah keseluruhan

Keluarga

penghasilan

dari

Rp 1.060.000)
2. Di atas UMP (

pekerjaan
5

Pengetahuan Tingkat pemaham-

Kuesioner

Rp 1.060.000)
1. Kurang (jika skor

an responden ten-

total nilai kuesio-

tang DBD.

ner pengetahuan
<56%)
2. Cukup (jika skor
total nilai kuesioner pengetahuan
56% - 75%)
3. Baik (jika skor
total nilai kuesioner pengetahuan

Ordinal

27

76%)

28

No
6

Variabel

Definisi

Alat Ukur

Skala

Perilaku

Operasional
Kegiatan membe-

Kuesioner 1. Kurang (jika skor

Pemberanta-

rantas telur, jentik,

total nilai kuesio-

san Sarang

dan

ner

Nyamuk

nyamuk

penular

DBD

tempat-

kepompong
di

tempat

ner

Ada tidaknya jentik

Jentik

di

rumah

skor

total nilai kuesio-

perkem-

Keberadaan

Ukur
Ordinal

perilaku

<75%)
2. Baik (jika

bangbiakannya
7

Kategori

Observasi

dan

sekitarnya

perilaku

75%)
1. Tidak terdapat

Nominal

jentik
2. Terdapat jentik

E. SUBJEK PENELITIAN
E.1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah ibu yang merupakan warga di
Kelurahan Kotabaru Kota Bekasi. Populasi target pada penelitian ini yakni
ibu di Kecamatan Bekasi Utara. Populasi terjangkau pada penelitian ini yakni
ibu di Kelurahan Kotabaru Kota Bekasi yang memenuhi kriteria inklusi dan
kriteria ekslusi serta cara pengambilan sampel.
E.2. Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah ibu di Kelurahan Kotabaru Kota
Bekasi yang memenuhi kriteria inklusi dan kriteria ekslusi dan juga sesuai
dengan cara pengambilan sampel serta mengisi kuesioner secara lengkap.
E.2.a. Besar Sampel
Menurut Hidayat tahun 2010, rumus ukuran sampel untuk menaksir
proporsi sebuah populasi sebagai berikut :
n=

N . Z 21/2 . p . q
(N1) d2 + Z 21 /2 . p . q
Keterangan :

29

n = Besar sampel minimum


Z1-/2 = Nilai distribusi normal baku (table Z) pada tertentu
(misalnya Z = 1,96 untuk = 0,05)
P = Harga proporsi di populasi, jika tidak diketahui maka p=0,5,
d = Kesalahan (absolute) yang dapat ditolerir, pada penelitian ini dipakai d =
0,1
N = Jumlah populasi
Jumlah populasi dihitung berdasarkan jumlah kepala keluarga yang ada di
Kelurahan Harapan Jaya Kecamatan Bekasi Utara
Perhitungan sampel :
10.664 . (1,96 )2 .0,5 .0,5
n=
( 10.6641 ) . ( 0,1 )2 + ( 1,96 )2 .0,5.0,5
n=

10241,70
106.63+0,9604

n=

10241,70
1 07,6

n=95,183 96 orang

Berdasarkan hasil perhitungan di atas, didapatkan jumlah ibu rumah


tangga di Kelurahan Harapan Jaya Kecamatan Bekasi Utara yang menjadi
sampel sebanyak 96 orang.
E.2.b. Cara Pengambilan Sampel
Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan metode
probability sampling dengan menggunakan teknik pengambilan sampel
secara kelompok atau gugus (cluster sampling). Cluster sampling adalah
proses penarikan sampel secara acak pada kelompok individu dalam populasi
yang heterogen, sangat luas, dan terjadi secara alamiah, misalnya berdasarkan
wilayah (kodya, kecamatan, kelurahan, RT, RW, dst).

F. KRITERIA INKLUSI DAN EKSKLUSI


F.1. Kriteria Inklusi

30

1) Ibu yang bertempat tinggal di Kelurahan Kotabaru Kot Bekasi.


2) Ibu yang berada di rumah saat kuesioner diberikan.
F.2. Kriteria Eksklusi
1) Responden yang tidak bersedia mengisi kuesioner maupun yang
2) `

mengisi kuesioner secara tidak lengkap.


Responden yang tidak mampu berkomunikasi

G. ALUR PENELITIAN
1. Peneliti melakukan studi pendahuluan ke Dinas Kesehatan Kota Bekasi
untuk mencari tahu jumlah kejadian DBD setahun terakhir di Kota
Bekasi.
2. Peneliti datang ke Kantor Kelurahan Kotabaru mencari data jumlah
penduduk dan kepala keluarga per RT/RW. Peneliti meminta izin ke
kelurahan untuk melakukan penelitian yaitu pengumpulan data berupa
kuesioner dan wawancara kepada masyarakat tiap RT/RW yang ada di
kelurahan Kotabaru tersebut.
3. Setelah selesai dilakukan penelitian, peneliti merekap hasil kuesioner,
wawancara, dan observasi untuk selanjutnya dilakukan analisis data,
pembuatan laporan dan selanjutnya pelaporan penelitian.
H.
1.

PENGOLAHAN DATA

Pengolahan Data
Setelah data yang didapatkan melalui kuesioner terkumpul, selanjutnnya
dengan bantuan fasilitas komputer data tersebut diolah melalui tahapan-tahapan
sebagai berikut :

Editing
Mengecek kembali kuesioner yang telah dikumpulkan dengan meneliti
jawaban kuesioner yang diisi oleh responden, apakah data yang terkumpul
lengkap, jelas, konsisten dan keseragaman satuan data dapat dibaca. Jika
kuesioner yang terkumpul tidak memenuhi syarat seperti kelengkapan

31

pengisian atau kewajaran pengisian, maka kuesioner tersebut disisihkan dan


kemudian diklasifikasikan kembali ke lapangan.

b. Coding
Coding adalah kegiatan mengklasifikasikan data dan memberi kode untuk
masing-masing kelas secara mutually exclusive (pengukuran tidak tumpang
tindih) dan exhausive (pengukuran harus meliputi seluruh kemungkinan
ukuran) sesuai dengan tujuan dikumpulkan data.
c. Scoring
Scoring dilakukan dengan menetapkan skor (nilai) pada
setiap pertanyaan atas pertanyaan-pertanyaan pada kuesioner dan pada saat
pengkategorian setiap variabel.

d. Entry Data
Pada tahap ini setelah dilakukan pengkodean dan skoring maka data
yang telah dimasukkan ke dalam komputer dengan menggunakan program
komputer.
e.

Cleaning data
Dilakukan untuk memastikan bahwa semua data sudah entry dan tidak
ada kesalahan dalam memasukkan data tersebut siap untuk dianalisis.

I. ANALISIS DATA
Setelah data didapat dari hasil pengisian kuesioner oleh responden diolah
dengan

menggunakan

fasilitas

komputer

selanjutnya

dianalisis

menggunakan uji chi-square yang bertujuan untuk mempelajari hubungan

32

antara 2 variabel yaitu : variabel independen dengan variabel dependen. Uji


statistik yang digunakan adalah uji chi-square. Uji ini digunakan untuk
melihat adanya hubungan antara variabel independen dengan variabel
dependen.
Apabila p-value 0,05 artinya terdapat hubungan yang bermakna (Ho
ditolak). Sedangkan apabila p-value 0,05 berarti tidak terdapat hubungan
(Ho diterima) (Hastono, 2001).

J. ETIKA PENELITIAN
Sebelum pengambilan data dimulai, dilakukan informed consent
kepada subjek penelitian. Seluruh data pribadi subjek penelitian yang didapat
akan dijamin kerahasiaannya.

DAFTAR PUSTAKA

1. World Helath Organization (WHO), 2010, Dengue Strategic Plan, Tersedia di:
http://www.wpro.who.int/mvp/Dengue_Strategic_Plan.pdf?ua=1, (25 Agustus
2014).
2. Widoyono, 2008, Penyakit tropis: Epidemiologi, Penularan, Pencegahan, dan
Pemberantasannya, Safitri, A., Astikawati, R., (ed), Erlangga, Jakarta.

33

3. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, 2010, Demam Berdarah Dengue,


Buletin Jendela Epidemiologi, 2:2, Tersedia di: http://www.depkes.go.id/
downloads/publikasi/buletin/BULETIN%20DBD.pdf, (24 Agustus 2014).
4. Departemen Kesehatan (Depkes) RI, 2014, Data dan Informasi Profil
Kesehatan

Indonesia

Tahun

2013,

Diunduh

dari:

http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/profil-kesehatanindonesia/profil-kesehatan-indonesia-2013.pdf, (21 Agustus 2014)


5. Dinas Kesehatan Kota Bekasi, 2014, Profil Kesehatan Kota Bekasi.
6. Santhi, H., 2005, Pengaruh Karakterisktik Individu terhadap Perilaku Ibu
dalam Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di
Kelurahan Helvetia Tengah Kecamatan Medan Helvetia Tahun 2005,
Universitas Sumatera Utara, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Medan,
(Skripsi), Tersedia di: http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/31999
7. Marni, dan Lerik, MD., 2008, Hubungan Antara Pengetahuan dan Sikap
dengan Praktik Ibu Rumah Tangga dalam Pemberantasan Sarang Nyamuk
Demam Berdarah Dengue (PSN-DBD) di Kelurahan Oebufu Kecamatan
Oebobo Kota Kupang tahun 2008, Media Kesehatan Masyarakat, 03(01):3544,

Tersedia

di:

http://isjd.pdii.lipi.go.id/index.php/Search.html?

act=tampil&id= 65652&idc=45
8. Suhendro, Nainggolan, L., Chen, K., Pohan, HT., 2010, Demam Berdarah
Dengue. Di dalam: Sudoyo, A., Setiyohadi, B., Alwi, I., Simadibrata, M.,
Setiati, S., (ed), Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Ed ke-5, Balai Penerbit
FKUI, Jakarta
9. Departemen Kesehatan (Depkes) RI, 2004, Buletin Harian (Newsletter) Tim
Penanggulangan

DBD

Departemen

Kesehatan

RI,

Diunduh

dari:

http://www.depkes.go.id/downloads/Bulletin%20Harian%2010032004.pdf

34

10. World Health Organization (WHO), 2009, Dengue: Guidelines for Diagnosis,
Treatment, Prevention, and Control, Tersedia di: http://www.who.int/rpc/
guidelines/9789241547871/en/
11. Sudjana, P., 2010, Diagnosis Dini Penderita Demam Berdarah Dengue
Dewasa,

Buletin

Jendela

http://www.depkes.go.id/

Epidemiologi,

2:21-25.

Tersedia

di:

downloads/publikasi/buletin/BULETIN

%20DBD.pdf
12. Sukowati, S., 2010, Masalah Vektor Demam Berdarah Dengue dan
Pengendaliannya di Indonesia, Buletin Jendela Epidemiologi, 2:26-30.
Tersedia di: http://www.depkes.go.id/downloads/publikasi/buletin/ BULETIN
%20DBD.pdf
13. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), 2006, Kajian
Kebijakan Penanggulangan (Wabah) Penyakit Menular (Studi Kasus DBD),
Tersedia di: http://kgm.bappenas.go.id/document/makalah/18_makalah.pdf
14. McGuigan, K., 2012, The Role of Mothers in Family Health, Massey
University,

Albany

New

Zealand,

(Thesis),

Tersedia

di:

http://muir.massey.ac.nz/ handle/10179/3690
15. Adler, NE., dan Newman, K., 2002, Socioeconomic Disparities In Health:
Pathways And Policies, Health Affairs, vol. 21, no. 2, pp. 61-62, Tersedia di:
http://content.healthaffairs.org/content/21/2/60.full.pdf+html
16. Nasution, A., 2005, Pengaruh Karakteristik Individu terhadap Perilaku Ibu
dalam Kaitannya dengan Penyakit Pneumonia pada Balita di Wilayah Kerja
Puskesmas Sentosa Baru Kota Medan Tahun 2005, Universitas Sumatera
Utara, Medan, (Skripsi), Tersedia di: http://repository.usu.ac.id/handle/
123456789/31999
17. Wawan, A. dan Dewi, M., 2010, Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Manusia,
Nuha Medika, Yogyakarta.
18. Notoatmodjo, S., 2010a, Ilmu Perilaku Kesehatan, Rineka Cipta, Jakarta.
19. Maulana, H., 2009, Promosi Kesehatan, EGC, Jakarta.

35

20. Ghazali, MV., et al, 2010, Studi cross-sectional. Di dalam: Sastroasmoro, S.,
Ismael, S., Dasar - Dasar Metodologi Penelitian Klinis, Ed ke-3, Sagung Seto,
Jakarta.

Lampiran I

LEMBAR PERSETUJUAN

Disetujui untuk diajukan sebagai proposal skripsi pada Program Studi


Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah
Jakarta.
Hari
Tanggal

:
:

Selasa
02 Oktober 2014

Menyetujui,
Pembimbing Utama
dr. Pitut Aprilia Savitri, MKK