Anda di halaman 1dari 24

PEMBAHASAN

A.

Pengertian Pancasila
Secara arti kata pancasila mengandung arti, panca yang berarti lima lima dan sila yang

berarti dasar. Dengan demikian pancasila artinya lima dasar.Tetapi di sini pengertian pancasila
berdasarkan sejarah pancasila itu sendiri.
Apabila kita ingin benar-benar melaksanakan Undang-Undang Dasar 1945 secara murni
dan konsekuan, maka kita tidak saja harus melaksanakan ketentuan-ketentuan dalam pasal-pasal
dari Batang Tubuh (the body of the konstitutin) atau lebih dkenal isi dari UUD 1945 itu, tetapti
juga ketentuan-ketentuan pokok yang termaktub dalam pembukaan UUD 1945. Oleh karena
pembukaan UUD 1945 (walaupun tidak tercantum dalam satu dokumen dengan Batang Tubuh
UUD 1945, seperti konstitusi (RIS) atau UUDS 1950 misalnya), adalah bagian mutlak yang
tidak dipisahkan dari Konstitusi Republuk Indonesia Tahun 1945; pembukaan dan Batang Tubuh
kedua-duanya telah ditetapkan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 18
Agustua 1945.
Apabila kita berbicara tentang UUD 1945. maka yang dimaksud ialah Konstitusi (UUD)
yang disahkan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia tersebut pada tanggal 18 Agustus
1945 yang diumumkan dalam Berita Republik Indonesia Tahun 1946 No. 7 halaman 45-48, yang
terdiri atas :
1. Pembukaan (Preambule) yang meliputi 4 alinea ;
2. Batang Tubuh atau isi UUd 1945, yang meliputi;
3. Penjelasan
Adapun Pembukaan UUD 1945 yang terdiri atas emapt bagian itu yang amat penting
ialah bagian/alinea ke 4 yang berbunyi sebagai berikut:
Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu pemerintahan negara Indonesia yang
melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk
memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan
ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan social, maka
dususunlah Kemerdekaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia,

yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat
dengan berdasar kepada: Ketuhanan yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab,
Persatuan

Indonesia,

Kerakyatan

yang

dipimpin

oleh

hikmat

kebijaksanaan

dalam

permusyawaratan/perwakilan dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dalam penjelasan resmi ari pembukaan UUD 1945 disebutkan bahwa dalam Pembukaan
UUD 1945 terkandung emapt pokok-pokok pikiran sebagai berikut : Makalah PKn Pancasila
1. Negara melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah

Indonesia

berdasar atas Persatuan;


2. Negara hendak mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia;
3. Negara Indonesia adalah Negara yang berkedaulatan rakyat dan berdasar atas kerakyatan
dan permusyawaratan/perwakilan;
4. Negara Indonesia berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa menurut dasar kemanusiaan
yang adil dan beradab.
Khusus bagian/alinea ke -4 dari pembukaan UUD 1945 adalah merupakan asas pokok
Pemebentukan pemerintah Negara Indonesia. Isi bagian ke 4 dari Pembukaan UUD 1945 itu
dibagi ke dalam 4 hal:
1. Tentang hal tujuan Negara iondonesia, tercantum dalam kalimat Kemudian daripada itu
dan seluruh tumpah darah indinesia, yang;
1. Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia;
2. Memajukan kesejahteraan rakyat;
3. Mencerdaskan kehidupan bangsa;
4. Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian
abadi dan keadilan sosial.

1. Tentang hal ketentuan diadakanya Undang-Undang Dasar tarcantum dalam kalimat yang
berbunyi:
2. maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia;
3. Tentang hal bentuk Negara dalam kalimat: yang terbentuk dalam suatu susunan Negara
Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat;
4. Tentang hal Dasar Falsafah Negara Pancasila. Adapun Pembukaan Undang-Undang
Dasar 1945 yang telah disahkan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI)
pada tanggal 18 Agustus 1945 itu sebagian besar bahan-bahanya berasal dari Naskah
Rancangan Pembukaan UUD yang disusun oleh Panitia Perumus (panitia kecil) yang
beranggotakan 9 orang yang diketua oleh Ir. Soekarno pada tanggal 22 Juni 1945 di
Jakarta.

Sehari setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, naskah politik yang bersejarah itu
dijadikan

Rancangan

Pembukaan

UUD

sebagai

bahan

pokok

dan

utama

bagi

penyusunan/penetapan Pembukaan (Preambule) UUD yang akan ditetakan itu. Naskah politik
yang bersejarah yang disusun pada tanggal 22 Agustus 1945 itu, di kemudian hari oleh Mr.
Muhamad Yamin dalam pidatonya di depan siding Badan Penyelidik Persiapan Kemerdekaan
(BPPK) pada tanggal 11 Juni 1945
dinamakan Piagam Jakarta dan baru beberapa tahun kemudian dimuat dalam bukunya yang
berjudul Prokalmasi dan Konstitusi pada tahun 1951. Dalam naskah politik yang di sebut dengan
Piagam Jakarta 22 Juni 1945 inilah untuk pertama kali dasar falsafah Negara pancasila ini
dicantumkan secara tertulis, setelah diusulkan oleh Ir. Soekarno dalam pidatonya pada tanggal 1
Juni 1945. Adapun panitia perumus yang beranggotakan 9 orang yang telah menyusun Piagam
Jakarta itu adalah salah satu panitia kecil dari Badan Penyelidik Persiapan Kemerdekaan (BPPK)
yang dibentuk pada tanggal 29 April 1945. Di atas telah dijelaskan tentang pentingnya
Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Adapun besar arti pentingnya Pembukaan UndangUndang Daar itu ialah karena pada aline ke 4 itu tercantum ketentuan pokok yang bersifat

fundamental, yaitu dasar falsafah Negara Republik Indonesia yang dirumuskan dalam kata-kata
berikut: .
maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar
Indonesia yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan
rakyat dengan berdasar kepada:
1. Ketuhanan Mang Maha Esa,
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab,
3. Persatuan Indonesia,
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan,
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kelima dasar ini tercakup dalam satu nama/istilah yang amat penting bagi kita bangsa Indonesia
yaitu pancasila. Istilah atau perkataan pancasila ini memang tidak tercantum dalam Pembukaan
maupun dalam Batang Tubuh UUD 1945. Di alinea ke 4 dari Pembukaan UUD 1945 hanyalah
disebutkan bahwa, Negara Republik Indonesia berdasarkan kepada lima prinsip atau asas yang
tersebut di atas, tanpa menyebutkan pancasila. Bahwa kelima prinsip atau dasar tersebut adalah
pancasila,

kita

harus

menafsirkan

sejarah

(maupun

penafsiran

sistematika)

yakni

menghubungkanya dengan sejarah lahirnya pencasila itu sendiri pada tanggal 1 Juni 1945,
seperti yang telah diuraikan sebelumnya. Berkenaan dengan perkataan pancasila, menurut Prof.
Mr. Muhamad Yamin (Pembahasan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia)
pada halaman 437 antara lain sebagai berikut perkataan Pancasila yang kini telah menjadi
istilah hukum, mula-mula ditempa dan dipakai oleh Ir. Soekarno dalam pidatonya pada tanggal 1
Juni 1945 untuk menamai paduan sila yang lima. Perkataan itu diambil dari peradaban Indonesia
lama sebelum abad XIV. Kata kembar itu keduanya berasal dari bahasa Sanskerta yaitu panca
dansila
yang memiliki arti yang berbeda. Pancasila dengan huruf i biasanya memiliki arti berbatu sendi
yang lima (consisting of 5 rocks; aus fund Felsen bestehend). Pancasila dengan huruf i yang
panjang bermakna 5 peraturan tingkah laku yang penting.

Kata sila juga hidup dalam kata kesusilaan dan kadang-kadang juga berarti etika. Dalam bahasa
Indonesia kedua pengertian di atas dirasakan sudah menjadi satu paduan antara sendi yang lima
dengan lima tingkah laku yang senonoh. Dari uraian di atas dapatlah kiranya kita menarik
kesimpulan bahwa pancasila sebagai istilah perkataan Sanskerta yang sudah dikenal di tanah air
kita sejak abad XIV. Sedangkan pancasila dalam bentuk formalnya sebagai dasar Falsafah
Negara Republik Indonesia baru diusulkan pada tanggal 1 Juni 1945.
B.

Pancasila Sebagai Pandangan Hidup Bangsa Indonesia

1. Arti Pandangan Hidup Suatu Bangsa.


Apa arti pandangan hidup suatu bangsa?. Pertanyaan ini sukar untuk dijawab
tanpa mengetahui bahwa bangsa itu mengenal berbagai kelompok masyarakat manusia yang
membentuk bangsa. Kita mengenal bangsa Amerika yang terdiri atas berbagai asal ras dan asal
kebudayaan. Ada yang beasal dari Eropa, Inggris, Jerman, Timur Tebgah, Jepang dan masih
banyak lagi. Tetapi mereka menyebut diri sebagai bangsa Amerika.
Semua mengaku sebagai bangsa Amerika yang siap membela Negara Amerika. Indonesia pun
sama seperti bangsa Amerika yang terdiri atas berbagai kelompok masyarakat yang masingmasing berbeda latar belakang budayanya, agama, dan bahkan darahnya.
Tetapi sejak tanggal 28 Oktober 1928 kita telah menjadi satu bangsa Artinya satu kesatuan dari
berbagai ragam latar belakang sosial budaya, agama dan keturunan yang bertekad untuk
membangun satu tatanan hidup berbangsa dan bernegara.

Setiap bangsa mempunyasi cita-cita untuk masa depan dan menghadapi masalah bersama dalam
mencapai cita-cita bersama. Cita-cita kita sebagai bangsa Indonesia tercantum dalam Pembukaan
UUD 1945, yakni mewujudkan suatu tatanan masyarakat yang adil dan makmur materil dan
spirituan berdasarkan Pancasila. Seperti halnya keluarga, sutau bangsa yang bertekad mencapai
cita-cita bersama memerlukan suatu pandangan hidup. Tanpa pandangn hidup, suatu bangsa
akan terombang ambing. Dengan pandangan hidup suatu bangsa dapat secara jelas mengetahui
arah yang dicapai. Dengan pandangan hidup, suatu bangsa :
a. Akan dengan mudah memandang persoalan-pesoalan yang dihadapi;
b. Akan dengan mudah mencari pemecahan masalah-masalah yang dihadapi;

c. Akan memiliki pedoman dan pegangan;


d. Akan membangun dirinya.
Dengan uraian di atas jelaslah betapa pentingnya pandangan hidup suatu
bangsa. Pertanyaan berikut yang secara wajar muncul pada diri kita sendiri apakah pandangan
hidup itu sesungguhnya?.
Seorang dewasa yang memiliki pandangan hidup adalah seseorang yang :
1. Yang secara sadar mengetahui cita-citanya;
2. Yang secara sadar memilih bentuk kehidupan yang ditempuhnya;
3. Yang mengetahui nilai-nilai yang dijunjung tinggi;
4.Yang mengetahui mana yang benar dan mana yang salah serta melaksanakanya secara jujur.

Dengan demikian, pandangan hidup suatu bangsa adalah :


a.Cita-cita bangsa;
b.Pikiran-pikiran yang mendalam;

c.Gagasan mengenai wujud kehidupan yang lebih baik.

Jadi pandangan hidup suatu bangsa adalah inti sari (kristalisasi) dari nilai-nilai yang dimiliki
bangsa itu dan diyakini kebenaranya, yang berdasarkan pengalaman sejarah dan yang telah
menimbulkan tekad pada bangsa itu untuk mewujudkanya dalam kehidupan sehari-hari.

2. Pandangan Hidup Bangsa Indonesia


Setiap bangsa yang ingin berdiri kokoh dan mengetahui dengan jelas ke arah mana tujuan yang
ingin dicapai sangat memerlukan pandangan hidup. Dengan pandangan hidup inilah sesuatu

bangsa akan memandang persoalan-persoalan yang dihadapi dan menetukan arah serta
bagaimana cara bangsa itu memecahkan persoalan-persoalan tadi.

Tanpa memiliki pandangan hidup maka sesuatu bangsa akan merasa terus terombang-ambing
dalam menghadapi persoalan-persoalan besar yang timbul, baik persoalan-persoalan di
masyarakat sendiri maupun persoalan-persoalan besar umat manusia dalam pergaulan
masyarakat bangsa-bangsa di dunia ini. Dengan pandangan hidup yang jelas sesuatu bangsa akan
memiliki pedoman dan pegangan bagaimana ia memecahkan masalah-masalah politik, ekonomi,
sosial budaya yang timbul dalam gerak masyarakat yang makin maju. Dengan berpedoman pada
pandangan hidup itu pula sesuatu bangsa akan membangun dirinya.

Dalam pandangan hidup ini terkandung konsep dasar mengenai kehidupan yang dicita-citakan
oleh sesuatu bangsa, terkandung pikiran yang dianggap baik. Pada akhirnya pandangn hidup
suatu bangsa adalah suatu kristalisasi nilai-nilai yang dimiliki oleh bangsa itu sendiri, yang
diyakini kebenaranya dan menimbulkan tekad pada bangsa itu untuk mewujudkanya. Karena
itulah dalam melaksanakan pembangunan misalnya, kita tidak dapat begitu saja mencontoh atau
meniru model yang dilakukan oleh bangsa lain tanpa menyesuaikan dengan pandangn hidup, dan
kebutuhan-kebutuhan yang baik dan memuaskan bagi suatu bangsa, belum tentu baik dan
memuaskan bagi bangsa lain.
Oleh karena itu pandangan hidup suatu bangsa merupakan masalah yang sangat asasi bagi
kekohan dan kelestarian suatu bangsa. Negara Republik Indonesia memang tergolong muda
dalam barisan Negara-negara lain di dunia. Tetapi bangsa Indonesia lahir dari ssejarah dan
kebudayaan yang tua, melalui gemilangnya Kerajaan Sriwijaya, Majapahit dan Mataram.
Kemudian mengalami penderitaan penjajahan sepanjang tiga setengah abad, sampai akhirnya
bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaanya pada tanggal 17 Agustus 1945. Sejarah
perjuangan bangsa Indonesia untuk merebut kembali kemerdekaan nasionalnya sama tuanya
dengan sejarah penjajahan itu sendiri.
Berbagai babak sejarah telah dilalui dan berbagai jalan ditempuh dengan cara yang berbedabeda, mulai dari cara yang lunak sampai dengan cara yang kasar, mulai dari gerakan kaum
cendikiawan yang terbatas smapai pada gerakan yang menghimpun kekuatan rakyat banyak,

mulai dari bidang pendidkan, kesenian daerah, perdagangan sampai pada gerakan-gerakan
politik.

Bangsa Indonesia lahir menurut cara dan jalan yang ditempuhnya sendiri yang merupakan hasil
antara proses sejarah di masa lampau, tantangan perjuangan dan cita-cita hidup di masa yang
akan datang, yang secara keseluruhan membentuk kepribadianya sendiri. Oleh karena itu bangsa
Indonesia lahir dengan kepribadianya sendiri, yang bersamaan dengan lahirnya bangsa dan
Negara itu, kepribadian itu ditekankan sebagai pandangan hidup dan dasar Negara Pancasila.
Bangsa Indonesia lahir dengan kekuatan sendiri, maka percaya pada diri sendiri juga merupakan
salah satu cirri kepribadian bangsa Indonesia. Karena itulah, Pancasila bukan lahir secara
mendadak pada tahun 1945, melainkan telah melalui proses yang panjang, dimatangkan oleh
sejarah perjungan bangsa kita sendiri, dengan melihat pengalaman bangsa-bangsa lain, dengan
diilhami oleh bangsa kita dan gagasan-gagasan besar bangsa kita sendiri.
Karena pancasila sudah merupakan pandangan hidup yang berakar dalam kepribadian bangsa,
maka ia diterima sebagai Dasar Negara yang mengatur hidup ketatanegaraan. Hal ini tampak
dalam sejarah bahwa meskipun dituangkan dalam rumusan yang agak berbeda, namun dalam
tiga buah UUD yang pernah kita miliki yaitu dalam pembukaan UUD 1945, Mukadimah
Konstitusi Republik Indonesia Serikat dan UUD sementara Republik Indonesia tahun 1950
pancasila itu tetap tercantum di dalamnya.
Pancasila yang selalu dikukuhkan dalam kehidupan konstitusional kita, Pancasila selalu menjadi
pegangan bersama pada saat terjadi krisis nasional dan ancaman terhadap eksistensi bangsa kita,
merupakan bukti sejarah bahwa Pancasila memang selalu dikehendaki oleh bangsa Indonesia
sebagai dasar kerohanian bangsa, dikehendaki sebagai Dasar Negara.

3.Pancasila Sebagai Pandangan Hidup Bangsa


Manusia yang diciptakan oleh Tuhan yang Maha Kuasa, dikodratkan hidup secara berkelompok.
Kelompok manusia itu akan selalu mengalami perubahan dan perkembangan. Perkembangan
manusia dari yang mengelompok itu sampai pada suatu keadaan dimana mereka itu terjalin
ikatan hubungan yang kuat dan serasi.

Ini adalah pertanda adanya kelompok manusia itu dengan cirri-ciri kelompok tertentu, yang
membedakan mereka dengan kelompok-kelompk manusia lainya. Kelopmok ini membesar dan
menjadi suku-suku bangsa. Tiap suku bangsa dibedakan oleh perbedaan nilai-nilai dan moral
yang mereka patuhi bersama. Berdasarkan hal ini kita dapat menyebutkan adanya kelompok
suku bangsa Minangkabau, Batak, Jawa, Flores, Sunda, Madura, dan lain sebagainya.
Semua suku itu adalah modal dasar terbentuknya kesadaran berbangsa dan adanya bangsa
Indonesia yang kita miliki adalah bagian dari bangsa itu sekarang ini.
Kelompok-kelompok manusia tersebut dikatakan suku bangsa, karena mempunyai tujuan hidup.
Tujuan hidup kelompok ini akan membedakan mereka dengan kelompok suku bangsa lain di
Nusantara ini. Jadi kita kenal dengan pandangan hidup suku Jawa, Sunda, Batak, Flores, Madura,
dan lain-lain sebagainya.
Pandangan hidup merupakan wawasan atau cara pandang mereka untuk memenuhi kehidupan di
dunia dan bekal di hari akhir.
Bangsa Indonesia yang terdiri dari suku bangsa tersebut, meyakini adanya kehidupan di dunia
dan hari akhir. Berdasarkan hal tersebut kita menemukan persamaan pandangan hidup di antara
suku-suku bangsa di tanah air ini, ialah keyakinan mereka adanya dua dunia kehidupan.

Inilah yang menyatukan pandangan hidup bangsa Indonesia, walaupun mereka terdiri atas
berbagai suku yang berbeda. Bangsa Indonesia yang terikat oleh keyakinan Kepada Tuhan yang
Maha Kuasa dan kuatnya tradisi sebagai norma dan nilai kehidupan dalam masyarakat adalah tali
persamaan pandangan hidup antara berbagai suku bangsa di Nusantara ini. Pandangan hidup kita
berbangsa dan bernegara tersimpul dalam falsafah kita Pancasila.
Pancasila memeberikan pancaran dan arah untuk setiap orang Indonesia tentang masa depan
yang ditempuhnya. Inilah pandangan hidup bangsa Indonesia sebagaimana tertuang dalam
kelima Sila Pancasila.

C. Pancasila Sebagai Dasar Negara Republik Indonesia


1. Apakah Dasar Negara Republik Indonesia?

Pancasila yang dikemukakan dalan sidang I BPPK pada tanggal 1 Juni 1945 adalah dikandung
maksud untuk dijadikan dasar dari Negara Indonesia Merdeka. Adapun dasar itu haruslah
merupakan suatu falsafah yang menyimpulkan kehidupan dan cita-cita bangsa dan Negara
Indonesia yang merdeka. Di atas dasar itulah akan didirikan gedung Republik Indonesia sebagai
perwujudan kemerdekaan politik yang menuju kepada kemerdekaan ekonomi, sosial dan
kebudayaan.
Landasan atau atau dasar itu haruslah kuat dan kokoh agar gedung yang berdiri di atasnya akan
tetap tegak sentosa untuk selama-lamanya. Landasan itu harus pula tahan uji terhadap seranganserangan baik dari dalam maupun dari luar.

Sidang Badan Penyelidik Persiapan Kemerdekaan (BPPK) telah menerima secara bulat pancasila
itu sebagai dasar Negara Indonesia merdeka. Dalam keputusan sidang PPKI kemudian pada
tanggal 18 Agustus Pancasila tercantum secara resmi dalam pembukaan UUD RI. UUD yang
menjadi sumber ketatanegaraan harus mengandung unsur-unsur pokok yang kuat yang menjadi
landasan hidup bagi seluruh bangsa dan Negara, agar peraturan dasar itu tahan uji sepanjang
masa.
Peraturan-peraturan selanjutnya yang disusun untuk mengatasi dan menyalurkan persoalanpersoalan yang timbul berhubung dengan penyelenggaraan dan perkembangan Negara harus
didasarkan atas dan berpedoman pada UUD. Peraturan-peraturan yang bersumber pada UUD itu
disebut peraturan-peraturan organik, yang menjadi pelaksana dari UUD.
Oleh karena pancasila tercantum dalam UUD 1945 dan bahkan menjiwai seluruh isi peraturan
dasar tersebut yang berfungsi sebagai dasar Negara sebagaimana tercantum jelas dalam alinea ke
IV pembukaan UUD 1945 tersebut, maka semua peraturan perundang-undangan di Republik
Indonesia yang dikeluarkan oleh Negara dan pemerintah RI haruslah pula sejiwa denga
pancasila. Isi dan tujuan dari peraturan perundang-undangan RI tidak boleh menyimpang dari
jiwa pancasila.

2. Pancasila Sebagai Dasar Negara


Keputusan dalam sidang PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945 menetapkan Undang-Undang
Dasar bagi Negara Republik Indeonesia yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945.

Undang-Undang Dasar tersebut ialah UUD 1945. Dalam pembukaan UDD tersebut kita temukan
dasar Negara Pancasila. Oleh karena itu, secara yuridis pancasila sah menjadi Dasar Negara
Republik Indonesia. Akibat hukum dari disahkanya pancasila sebagai dasar Negara, maka
seluruh kehidupan bernegara dan bermasyarakat haruslah didasari oleh Pancasila. Landasan
hukum Pancasila sebagai dasar Negara dapat memebri akibat hukum dan filosofis; yakni
kehidupan bernegara bangsa ini haruslah berpedoman pada pancasila.

D. Pancasila Sebagai Ideologi Negara


1. Pengertian Ideologi
Ideologi berasal dari kata yunani yaitu iden yang berarti melihat, atau idea
yang berarti raut muka, perawakan, gagasan buah pikiran dan kata logi yang berarti ajaran.
Dengan demikian ideologi adalah ajaran atau ilmu tentang gagasan dan buah pikiran atau science
des ideas (AL-Marsudi, 2001:57).
Puspowardoyo (1992 menyebutkan bahwa ideologi dapat dirumuskan sebagai komplek
pengetahuan dan nilai secara keseluruhan menjadi landasan seseorang atau masyarakat untuk
memahami jagat raya dan bumi seisinya serta menentukan sikap dasar untuk mengolahnya.
Berdasarkan pemahaman yang dihayatinya seseorang dapat menangkap apa yang dilihat benar
dan tidak benar, serta apa yang dinilai baik dan tidak baik.

Menurut pendapat Harol H. Titus. Definisi dari ideologi adalah:


Aterm used for any group of ideas concerning various political and aconomic issues and social
philosophies often applied to a systematic scheme of ideas held by groups or classes, artinya
suatu istilah yang digunakan untuk sekelompok cita-cita mengenai bebagai macam masalah
politik ekonomi filsafat sosial yang sering dilaksanakan bagi suatu rencana yang sistematis
tentang suatu cita-cita yang dijalankan oleh kelompok atau lapisan masyarakat. Bila kita
terapkan rumusan ini pada Pancasila dengan definisi-definisi filsafat dapat kita simpulkan, maka
Pancasila itu ialah usaha pemikiran manusia Indonesia untuk mencari kebenaran, kemudian

sampai mendekati atau menanggap sebagai suatu kesanggupan yang digenggamnya seirama
dengan ruang dan waktu.
Hasil pemikiran manusia yang sungguh-sungguh secara sistematis radikal itu kemuduian
dituangkan dalam suatu rumusan rangkaian kalimat yang mengandung suatu pemikiran yang
bermakna bulat dan utuh untuk dijadikan dasar, asas, pedoman atau norma hidup dan kehidupan
bersama dalam rangka perumusan satu negara Indonesia merdeka, yang diberi nama Pancasila.
Kemudian isi rumusan filsafat yang dinami Pancasila itu kemudian diberi status atau kedudukan
yang tegas dan jelas serta sistematis dan memenuhi persyaratan sebagai suatu sistem filsafat.
Termaktub dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea ke empat maka filsafat
Pancasila itu berfungsi sebagai Dasar Negara Republik Indonesia yang diterima dan didukung
oleh seluruh bangsa atau warga Negara Indonesia.

Demikian isi rumusan sila-sila dari Pancasila sebagai satu rangkaian kesatuan yang bulat dan
utuh merupakan dasar hukum, dasar moral, kaidah fundamental bagi peri kehidupan bernegara
dan masyarakat Indonesia dari pusat sampai ke daerah-daerah Pancasila sebagai dasar Negara,
maka mengamalkan dan mengamankan Pancasila sebagai dasar Negara mempunyai sifat
imperatif dan memaksa, artinya setiap warga Negara Indonesia harus tunduk dan taat kepadanya.
Siapa saja yang melangggar Pancasila sebagai dasar Negara, harus ditindak menurut hukum
yakni hukum yang berlaku di Indonesia.
Dengan kata lain pengamalan Pancasila sebagai dasar Negara disertai sanksi-sanksi hukum.
Sedangkan pengamalan Pancasila sebagai weltanschuung, yaitu pelaksanaan Pancasila dalam
hidup sehari-hari tidak disertai sanksi-sanksi hukum tetapi mempunyai sifat mengikat, artinya
setiap manusia Indonesia terikat dengan cita-cita yang terkandung di dalamnya untuk
mewujudkan dalam hidup dan kehidupanya, sepanjang tidak melanggar peraturan perundangundangan yang barlaku di Indonesia. Jadi, jelaslah bagi kita bahwa mengamalkan dan
mengamankan Pancasila sebagai dasar Negara Republik Indonesia mempunyai sifat imperatif
memaksa.
Sedangkan pengamalan atau pelaksanaan Pancasila sebagai pandangan hidup dalam hidup
sehari-hari tidak disertai sanksi-sanksi hukum tetapi mempunyai sifat mengikat. Pancasila
sebagai filsafat bangsa dan Negara dihubungkan fungsinya sebagai dasar Negara, yang

merupakan landasan idiil bangsa Indonesia dan Negara Republik Indonesia dapatlah disebut pula
sebagai ideologi nasional atau ideologi Negara.
Artinya pancasila merupakan satu ideologi yang dianut oleh Negara atau pemerintah dan rakyat
Indonesia secara keseluruhan, bukan milik atau monopoli seseorang ataupun sesuatu golongan
tertentu. Sebagai filsafat atau dasar kerohanian Negara, yang meruapakn cita-cita bangsa,
Pancasila

harus

dilaksanakan

atau

diamalkan,

yang

mewujudkan

kenyataan

dalam

penyelenggaraan hidup kenegaraan kebangsaan dan kemasyarakatan kita. Bila terjadi


kesenjangan dalam kehidupan kenegaraan dan kemasyarakatan, kita harus kembali kepada
filsafat Negara Republik Indonesia untuk mencari jalan keluarnya atau untuk meluruskan
kembali.

E. Pancasila Sebagai Sumber Moral bangsa


1. Moral Negara
Penetapan Pancasila sebagai dasar Negara mengamanatkan bahwa moral Pancasila juga sebagai
moral Negara, artinya Negara tunduk pada moral, Negara wajib mengamalkan moral Pancasila.
Seluruh tindakan kebijakan Negara harus sesuai dengan Pancasila. Seluruh perundang-undangan
harus mengacu pada pancasila. Nilai-nilai Pancasila menjadi pembimbing dalam pembuatan
policy. Sebagai moral Negara, Pancasila mengandung kewajiban-kewajiban moral bagi Negara
Indonesia, yaitu antara lain:

Sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Negara menjamin kemerdekaan tiap-tipa penduduk untuk
memeluk dan beribadat sesuai dengan iman dan agama masing-masing. Negara harus
memberantas praktek-pratek keagamaan yang tidak baik dan menggangggu kerukunan hidup
bermasyrakat. Negara wajib memberi peluang kepada tiap-tiap agama untuk berdakwah,
mendirikan tempat ibadah, ekonomi dan budaya.
Sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Negara memperlakukan setiap orang sebagai
manusia, menjamin dan menegakakan hak-hak dan kewajiban asasi; Negara menjamin semua
warga Negara secara adil dengan membuat undng-undang dengan tepat dan melaksanakanya
dengan baik, Negara harus ikut bekerja sama dengan bangsa dan Negara lain demi membangun
dunia ke arah yang lebih baik.

Sila Persatuan Indonesia. Negara harus tetap menjunjung tinggi asas Bhineka Tunggal Ika.
Menolak paham primodialisme, memperjuangkan kepentingan nasional. Bangga sebagai bangsa
Indonesia, menentang chauvinisme, kolonialisme, sebaliknya menjalin hubungan baik antar
bangsa.
Sila

Kerakyatan

Yang

Permusyawaratan/Perwakilan.

Dipimpin
Mengakui

OLeh
dan

Hikmat
menjunjung

Kebijaksanaanm

Dalam

tinggi

rakyat,

kedaulatan

meningkatkan partisipasinya dalam proses pembangunan, mendengarkan dan memeperjuangkan


aspirasi rakyat. Menghormati perbedaan pendapat, menjamin kebebasan berserikat dan
berkumpul

F. Penjabaran Nilai-Nilai Dari Pancasila.


1. Pengertian Nilai Pendidikan
Pancasila adalah pendidikan nilai-nilai yang bertujuan membentuk sikap positif manusia sesuai
dengan nilai-nila yang terkandung dalam Pancasila. Menilai berarti menimbang yaitu kegiatan
manusia menghubungkan sesuatu dengan sesuatu untuk selanjutnya mengambil keputusan.
Keputusan nilai dapat mengatakan berguna atau tidak berguna, benar atau tidak benar, baik
ataua tidak baik, religius atau tidak religius dan lain sebagainya. Sesuatu dikatakan mempunyai
nilai apabila sesuatu itu berguna, berharga (nilai kebenaran), indah (nilai estetis), baik (nilai
moral dan etis), religius (nilai agama). Notonegoro berpendapat membagi nilai menjadi 3 bagian
yaitu:
a. Nilai meteril yaitu segala sesuatu yang berguna bagi unsure manusia.
b. Nilai vital yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat mengadakan kegiatan
dan aktifitas.
c. Nilai kerohanian yaitu segala sesuatu yang berguna bagi rohani manusia

Nilai kerohanian dinagi lagi menjadi 4 macam yaitu:


a. Nilai kebenaran/kenyataan, yang bersumber pada akal manusia,
b. Nilai keindahan yang bersumber pada unsur rasa manusia

c. Nilai kebaikan ataua nilai moral, yang berumber pada unsur kehendak/kemauan manusia,
d. Nilai religius yang merupakan nilai ketuhanan, kerohanian tertinggi dan mutlak.

2. Nilai-Nilai Pada Pancasila


a. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa
Dengan adanya dasar Ketuhana maka Indonesia mengakui dan percaya pada adanya Tuhan.
Tuhan Yang Maha Esa, yang menjadi sebab adanya manusia dan alam semesta serta segala hidup
dan kehidupan di dalamnya.
Dasar

ini

menjamin

kemerdekaan

tiap-tiap

penduduk

Indonesia

untuk

memeluk

agamanya/kepercayaanya, sebagaimana tercantum dalam pasal 29 UUD 1945. Hal ini berarti
bahwa, Negara Indonesia yang terdiri atas beribu-ribu pulau dengan lebih kurang 200 lebih juta
penduduk yang menganut beberapa agama, menghendaki semua itu hidup tentram, rukun dan
saling menghormati.Denga demikian semua agama diakui di Negara Republik Indinesia, dapat
bergerak dan berkembang secara leluasa.
Dengan Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, bangsa Indonesia menyatakan kepercayaan dan
ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan oleh karenanya bangsa Indonesia percaya dan
takwa terhadap Tuhan yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaanya masing-masing
menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
Pancasila dan UUD 1945 menjamin menjamin kemerdekaan tiap-tipa penduduk untuk memeluk
agamanya msing-masing dan beribadat menurut agama dan kepercayaanya itu. Kebebasan
beragama adalah salah satu hak yang paling asasi di antara hak-hak asasi manusia, karena
kebebasan beragama itu lansung bersumber pada martabat manusia sebagai makhluk ciptaan
Tuhan.

Hak kebebasan beragama bukan pemberian Negara atau pemberian sesutau golongan.
Sila pertama pancasila berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa
. Sila ini mengandung dua pengertian pokok yaitu pengertian tentang Ketuhanan dan tentang
Yang Maha Esa.

Ketuhanan

Ketuhanan berasal dari kata Tuhan yakni Allah, zat Yang Maha Esa, pencipta segala kejadian
termasuk pencipta semua makhluk. Oleh
karena itu Tuhan sering disebut juga sebab yang pertama yang tidak disebabkan lagi. Alam
beserta kekayaanya seperti sumber-sumber minyak bumi, batubara, air dan lain-lainya
merupakan ciptaanya. Demikian dengan makhluk hidup merupakan cipataan Tuhan juga.

Yang Maha Esa

Yang maha Esa berarti yang maha satu atau maha tunggal dan tidak ada yang mempersekutukanNya. Dia esa dalam zat-Nya, esa dalam sifat-Nya, esa dalam perbuatan-Nya. Oleh kaena adanya
kekhususanya itu, maka tidak ada yang menyamainya dan Dia maha sempurna. Sila Ketuhanan
Yang Maha Esa mengandung pengertian bahwa kita bangsa Indonesia percaya dan takwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, pencipta alam semesta beserta isinya, baik benda mati maupun makhluk
hidup.

Keparcayaan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa itu besifat aktif. Artinya kita harus
selalu berusaha menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya menurut
ajaran agama dan kepercayaan kita masing-masing.

b. Sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab


Internasionalisme ataupun peri kemanusiaan adalah penting sekali bagi kehidupan sesuatu
bangsa dalam Negara yang merdeka dalam hubunganya dengan bangsa-bangsa lain. Manusia
adalah makhluk Tuhan, dan Tuhan tidak mengadakan perbedaan antara sesama manusia.
Pandangan demikian menimbulkan pandangan yang luas, tidak terikat oleh batas-batas Negara
atau bangsa sendiri, melainkan Negara harus selalu membuka pintu bagi persahabatan dunia atas
dasar persamaan derajat.

Manusia mempunyai hak-hak yang sama, oleh karena itu tidaklah dibenarkan manusia yang satu
menguasai manusia yang lain, atau bangsa yang satu menguasai bangsa yang lain. Berhubung
dengan hal itu maka dasar itu tidak membenarkan adanya penjajahan di atas bumi, karena hal
yang demikian bertentangan dengan peri kemanusiaan serta hak setiap bangsa menentukan
nasibnya sendiri. Sesungguhnhya manusia itu dilahirkan mempunyai hak yang tidak dapat
dirampas dan dihilangkan. Hak-hak itu harus dihormati oleh siapapun. Golongan manusia yang
berkuasa tidaklah diperkenankan memaksakan kehendaknya yang bertentangan dengan hak
seseorang.

Sial Kemanusiaan Yang Adil Dan beradab mengandung beberapa pengertian pokok diantarnya:

Kemanusiaan

Kemanusiaan berasal dari kata amnesia, uang merupakan makhluk ciptaan tuhan Yang Maha
Esa. Oleh Tuhan manusia di karunia jasmani dan rohani, yang keduanya merupakan satu
kesatuan serasi, yang sering disebut pribadi manusia.

Adil

Adil mengandung arti obyektif atau sesuai dengan adanya, misalnya kita memberikan sesuatu
kepada orang lain, karena memang sesuatu itu merupakan haknya. Jadi, kita tidak subyektif,
tidak berat sebelah, tidak pilih kasih.

Beradab

Beradab berasal dari kata adab yang secara bebas berearti budaya. Dengan demikian beradab
berarti berbudaya. Manusia yang beradab berarti manusia yang tingkah lakunya selalu dijiwai
oleh nilai-nilai kebudayaan. Niali-niali budaya tidak lain ialah hal-hal yang luhur, yang dijunjung
tinggi oleh manusia, yang karena luhurnya itu dijadikan pedoman, ukuran, atau tuntunan untuk
diikuti. Kalau sesuai berarti baik, kalau tidak sesuai berarti tidak baik.

Kebudayaan meruapakan hasil yang luhur dari manusia selama berabad-abad. Oleh karena itu
wujudnya sering disebut peradaban manusia. Misalnya kesenian, candi, samapi kebiasaankebiasaan hidup merupakan wujud dari kebudayaan. Demikian pula yang mendasari sikap yang
luhur dan terpuji, seperti sikap berani karena benar, berani berkorban untuk Negara, itu semua
juga wujud dari kebudayaan atau peradaban.

C. Sila Persatuan Indonesia


Dengan dasar kebangsaan (nasionalisme) dimaksudkan bahwa bangsa Indonesia seluruhnya
harus memupuk persatuan yang erat antara sesama warga, tanpa membeda-bedakan suku atau
golongan serta berdasarkan satu tekad yang bulat dan satu cita-cita bersama. Prinsip kebangsaan
itu merupakan ikatan yang erat antara golongan dan suku bangsa.
Kebangsaan meliputi seluruh golongan dan daerah di Indonesia serta unsur-unsur kebudayaan
dan tata hidupnya.Dasar kebangsaan ini adalah penting sekali dan harus dibina tanpa melupakan
bahwa di dunia ada bangsa lain yang terdiri atas sesama manusia dan seluruhnya membentuk
satu keluarga umat manusia. Kebangsaan Indonesia bukanlah kebangsaan yang sempit, yang
hanya mengagungkan bangsa sendiri dan merendahkan bangsa lain.
Paham kebangsaan kita adalah satu dasar kebangsaan yang menuju kepada persaudaraan dunia,
yang menghendaki bangsa-bangsa itu saling hormat-menghormati dan harga-menghargai. Paham
kebangsaan yang dianut oleh bangsa Indonesia adalah:

a.Ke dalam, menggalang seluruh kepentingan rakyat dengan tidak membedakan suku atau
golongan.
b.Ke luar; tidak mengagungkan bangsa sendiri, namun dengan berdiri tegak atas dasar
kebangsaan sendiri juga menuju kea rah hidup berdampingan secara damai, berdasar atas
persamaan derajat antar bangsa serta berdaya upaya untuk melaksanakan terciptanya perdamaian
dunia yang kekal; dan abadi, serta membina kerja sama untuk kesejahteraan umat manusia. Sila
Persatuan Indonesia mengandung beberapa pengertian di antaranya:

1.Persatuan Persatuan berasal dari kata satu yang berarti utuh, tidak pecah belah, persatuan
mengandung pengertian disatukanya berbagai macam corak yang beraneka ragam menjadi satu
kebulatan. Dengan perkataan lain, hal-hal yang beraneka ragam itu setelah disatukan menjadi
sesuatu hal yang serasi, utuh dan tidak saling bertentangan antar yang satu dengan yang lain.
2.Indonesia Yang dimaksud dengan Indonesia ialah dalam pengertian geografis dan bangsa yang
mendiami wilayah Indonesia.

d.Sila

Kerakyatan

Yang

Dipimpin

Oleh

Hikmat

Kebijaksanaan

Dalam

Permusyawaratan/Perwakilan

Dasar mufakat, kerakyatan atau demokrasi menunjukan bahwa Negara Indonesia menganut
paham demokrasi. Paham demokrasi berarti bahwa kekuasaan tertinggi (kedaulatan) untuk
mengatur Negara dan rakyat terletak di tangan seluruh rakyat. Dalam UUD 1945 menyatakan
bahwa kedaulatan adalah di tangan rakyat dan dilakukan sepenuhnya oleh Majelis
Permusyawaratan Perwakilan. Kerakyatan yang dirumuskan dalam Pembukaan UUD 1945
adalah sebagai berikut: Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan. Demokrasi Indonesia seperti yang tercantum dalam Pembukaan
UUD 1945 adlah demokrasi yang tercantum dalam pancasila sebagai sila ke empat dan
dinamakan demokrasi pancasila. Asas demokrasi di Indonesia ialah demokrasi berdasarkan
pancasila yang meliputi bidang-bidang politik, sosial dan ekonomi, serta yang dalam
penyelesaian

masalah-masalah

nasional

berusaha

sejauh

mungkin

menmpuh

jalan

permusyawaratn untuk mencapai mufakat.

Hakikat dari musyawarah untuk mufakat dalam kemurnianya adalah suatu tata cara khas yang
bersumber pada inti paham kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksaan dalam
permusywaratan/ perwakilan untuk merumuskan dan atau memutuskan sesuatu hal berdasrkan
kehendak rakyat, dengan jalan mengemukakan hikmat kebijaksanaan yang tiada lain dari pada
pikiran (rasio) yang sehat yang mengungkapkan dan mempertimbangkan persatuan da kesatuan
bangsa, kepentingan rakyat sebagaimana yang menjadi tujuan pemebentukan pemerintah Negara
termaksud dalam alinea ke empat Pembukaan UUD 1945, pengaruh-pengaruh waktu. Oleh

semua wakil/utusan yang mencerminkan penjelmaan seluruh rakyat, untuk mencapai keputusan
berdasarkan kebulatan pendapat yang diitikadkan untuk dilaksanakan secara jujur dan
bertanggung jawab. Segala keputusan diusahakan dengan cara musyawarah untuk mufakat di
antar semua pihak. Apabila hal tersebut tidak dpat segera terlaksana, maka pemimpin rapat dapat
mengusahakan/berdaya upaya agar rapat dapat berhasil mencapai mufakat. Keputusan
berdasrakan mufakat adalah sah apabila diambil dalam rapat yang dihadiri oleh lebih dari
separuh anggota yang hadir Sila Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam
Permusyawaratn/Perwakilan mengandung beberapa pengertian diantaranya:
1. Kerakyatan Kerakyatan berasal dari kata rakyat yang berarti sekelompok manusia yang
mendiami suatu wilayah tertentu. Kerakyatan berarti suatu prinsip yang mengakui bahwa
kekuasaan tertinggi berada di tangan rakyat. Kerakyatan disebut juga kedaulatan rakyat, artinya
rakyat yang berdaulat, berkuasa. Hal ini disebut juga demokrasi yang berarti rakyat yang
memerintah.
2. Hikmat Kebijaksanaan Hikmat Kebijaksanaan berarti suatu sikap yang dilandasi dengan
penggunaan pikiran yang sehat dengan selalu mempertimbangkan persatuan dan kesataun
bangsa. Kepentingan rakyat akan dijamin dengan sadar, jujur dan bertanggung jawab serta
didorong oleh iktikad baik sesuai dengan hati nurani yang murni. Dengan demikian hasil
perbuatan atau kebijaksanaan akan baik dan benar karena dihadapi denga mempergunakan
seluruh daya manusia yang tinggi.
3. Permusyawaratan Permusyawaratan berarti suatu tata cara yang khas Indonesia untuk
merumuskan dan atau memutuskan sesuatu hal berdasarkan kehendak rakyat sehingga tercapai
keputusan berdasarkan mufakat. Pelaksanaan dari kebenaran ini memerlukan semangat
mengutamakan kepentingan nasional ketimbang kepentingan daerah, golongan dan pribadi. Hal
ini memerlukan pula iktikd yang baik dan ikhlas, dilandasi oleh pikiran yang sehat serta ditopang
oleh kesadaran bahwa kepentingan bangsa dan Negara mengalahkan kepentingan yang lain.

4. Perwakilan Perwakilan berarti suatu tata cara untuk mengusahakan ikut sertanya rakyat
mengambil bagian dalam urusan Negara. Bentuk keikutsertaan itu ialah badan-badan perwakilan,
baik di pusat seperti MPR dan DPR maupun di daerah yang berwujud DPRD. Keanggotaan
badan-badan perwakilan itu ditentukan melalui suatu pemilihan yang bersifat langsung, umum,
bebas dan rahasia.

e.Sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Dalam pidato 1 Juni 19945 ditegaskan bahwa prinsip kesejahteraan adalah prinsip tidak adanya
kemiskinan di alam Indonesia Merdeka. Keadilan sosial adalah sifat masyarakat adil dan
makmur, kebahagiaan buat semua orang, tidak ada penghisapan, tidak ada penindasan, dan
penghinaan, semuanya bahagia, cukup sandang dan pangan. Sila ini secara bulat berarti bahwa
setiap rakyat Indonesia mendapat perlakuan yang adil dalam bidan hukum, politik, ekonomi,
sosial budaya dan pertahanan keamanan. Sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945 pengertian
keadilan mencakup pula pengertian adil dan makmur Sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat
Indonesia mengandung beberapa pengertian diantaranya:
1.

Keadilan Sosial

Keadilan sosial berarti keadilan yang berlaku dalam masyarakat di segala bidang kehidupan baik
materil maupun spiritual.

Hal ini berarti keadilan itu tidak hanya berlaku bagi orang yang kaya saja, tetapi berlaku pula
bagi orang miskin, bukan hanya untuk para pejabat, tetapi untuk rakayta biasa pula.
2.

Seluruh Rakyat Indonesia

Seluruh rakyat Indonesia berarti bahwa setiap orang yang menjadi rakyat Indonesia baik yang
berdiam di wilayah kekuasaan Republik Indonesia maupun warga Negara Indonesia yang berada
di Negara lain.
G. Dasar Pemikiran Pendidikan Pancasila

Rakyat Indonesia melalui majelis perwakilanya menyatakan bahwa pendidikan nasional yang
beakar pada kebudayaan bangsa Indonesia diarahkn untuk meningkatkan kecerdasan bangsa,
harkat dan martabat bangsa, mewujudkan manusia serta masyrakat Indonesia yang beriman serta
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan mandiri,sehingga mampu membangun dirinya dan

masyarakat sekeklilingnya serta dapat memenuhi kebutuhan pembangunan nasional dan


bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.
Selanjutnya dinyatakan bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk meningkatkan kualitas
manusia indonesia, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berbudi pekerti, berkepribadian, mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif, terampil, disiplin,
beretos kerja, profesioan, bertanggunggung jawab, produktif serta sehat jasmani dan rohani.

Pendidikan nasional harus menumbuhkan jiwa patriotik, mempertebal rasa cinta tanah air,
meningkatkan semangat kebangsaan, kesetiakawanan sosial, kesadaran pada sejarah bangsa,
serta sikap mengahrgai jasa para pahlawan, dan berorientasi ke masa depan. Dari uraian di atas
mangandung amanat agar pendidikan nasioanal harus mampu meningkatkan, memperluas dan
memantapkan penghayatan dan pengamalan nilai-nilai pancasila sehingga menjadi budaya
perilaku kehidupan sehari-hari di semua bidang kehidupan.

H.Arah Pendidikan Pancasila


Pendidikan Pancasila adalah pendidikan nilai. Oleh sebab itu arah pendidikan Pancasila
ditekankan pada pendidkan moral yang diharapkan dapat diwujudkan dalam kehidupan seharihari berupa perilaku yang dilandasi oleh nilai-nilai Pancasila. Artinya nilai-nila Pancasila
dijadikan landasan moral dalam setiap kegiatan pribadi, kelompok, masyarakat dan juga bangsa
bahkan Negara.
I. Pacasila sebagai Paradigma Kehidupan Dalam Masyarakat Berbangsa dan Bernegara .
1. Pola Pelaksanaan Pancasila
Untuk melaksanakan Pancasila perlu usaha yang dilakukan secara berencana dan terarah
berdasarkan suatu pola. Tujuannya adalah agar Pancasila sungguh-sungguh dihayati dan
diamalkan oleh segenap warga Negara, baik dalam kehidupan orang seorang maupun dalam
kehidupan kemasyarakatan. Berdasarkan pola itu diharapkan lebih terarah usaha-usaha

Pembinaan manusia Indonesia agar menjadi insan pancasila

Pembangunan bangsa untuk mewujudkan masyarakat pancasila

Kedua hal tersebut di atas, tidaklah dapat dipisahkan satu sama lain, melainkan saling
mempengaruhi dan saling mendukung. Masalah pembinaan insan Pancasila lebih banyak
menyangkut bidang pendidikan. Lewat kegiatan pendidikan diharapkan peserta didik menyerap
nila-nilai moral Pancasila. Penyerapan nilai-nilai moral Pancasila diarahkan berjalan secara
manusiawi dan alamiah tidak saja lewat pengalaman secara pribadi. Nilai-nilai moral Pancasila
tidak untuk sekadar dipahami melainkan untuk dihayati, oleh karena itu penyerapan nilai-nilaimoral Pancasila bukan lewat proses indoktrinasi. Sasaran pelaksanaan Pancasila adalah
perorangan, keluarga dan masyarakat, baik di lingkunga tempat tinggal masing-masing maupun
di lingkungan tempat kerja. Langkah pertama adalah dengan perantaraan pegawai Republik
Indonesia, karena mereka adalah abdi Negara dan abdi masyarakat yang pertama-tama harus
menghayati dan mengamalkan Pancasila. Langkah selanjutnya ialah menyebarluaskanya kepada
seluruh lapisan masyarakat dengan menggunakan berbagai jalur dan penciptaan suasana yang
menunjang.

Adapun jalur yang digunaka adalah:


a.Jalur pendidkan.
Dalam melaksakan Pancasila, maka peranan pendidikan sangat penting, baik pendidikan di
sekolah (formal) maupun pendidikan di luar sekolah (non formal) yang terletak did lam keluarga,
dan lingkungan masyarakat.

b.Jalur media massa.


Walaupaun pola pelaksanaan Pancasila melalui jalur medua massa dapat pula digolongkan
sebagai salah satu aspek jalur pendidikan dalam arti luas, namun peranan media massa
sedemikian pentingnya sehingga perlu mendapat penonjolanya sebagai jalur tersendiri. Dalam
hubunganya dengan ini, ditekankan pula pentingnya media tradisional seperti pewayangan serta
bentuk-bnetuk seni rakyat lainya, di samping media modern seperti pers, radio dan televisi.

Dalam menggunakan komunikasi modern ini perlu dijaga agar terhindar dari siaran yang tidak
menguntungkan bagi pelaksanaan pancasila.

c.Jalur organisai sosial politik, organisasi sosial kemasyarakatan, dan prangkat sosial.
Sesuai dengan tekad untuk menjunjung tinggi demokrasi dan menegakan kehidupan
konstitusional, maka kiranya semua anggota maupun kader-kader politik, serta organisasi
kemasyarakatan, lembaga swadaya masyarakat, lembaga keagamaan, lembaga kebudayaan, dan
dunia usaha, hendaklah berusaha sekuat tenaga ikut serta dalam melaksanakna Pancasila,
sehingga Pancasila itu lestari di Republik indionesia.