Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam pertanian, tanam dan pola tanam sangat diperlukan. Tanam dan pola tanam yang
berbeda dapat menentukan tingkat produksi dalam kualitas maupun kuantitas. Ada banyak
jenis pola tanam dalam dunia pertanian. Ada yang menguntungkan kita namun merugikan
alam, ada juga yang menguntungkan alam namun bagi kita kurang menguntungkan dari segi
kualitas maupun kuantitas. Kita harus mengetahui berbagai macam tanam menanam serta
pola nya yang baik bagi kita namun tidak merusak lingkungan. Dalam makalah ini kami akan
mengupas tentang bagaimana menanam yang baik dan cara-cara pola tanam yang benar
khususnya pola tanam lorong.
1.2
1.
2.
3.

Tujuan
Untuk mengetahui pengertian pola tanam lorong
Untuk mengetahui manfaat dari pola tanam lorong
Untuk mengetahui cara menerapkan pola tanam khususnya pola tanam lorong

1.3 Manfaat
Agar mahasiswa dapat mengatahui jenis tanam dan pola tanam yang baik bagi
lingkungan dan bisa memberikan keuntungan dari segi kualitas maupun kuantitas.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Pola Tanam
Pola tanam atau (cropping patten) adalah suatu urutan pertanaman pada sebidang
tanah selama satu periode. Lahan yang dimaksut bisa berupa lahan kosong atau lahan yang
sudah terdapat tanaman yang mampu dilakukan tumpang sirih. (saiful anwar, 2011).
Pola tanam adalah usaha yang dilakukan dengan melaksanakan penanaman pada
sebidang lahan dengan mengatur susunan tata letak dari tanaman dan tata urutan tanaman
selama periode waktu tertentu, termasuk masa pengolahan tanah dan masa tidak ditanami
selama periode tertentu. (Musyafa, 2011).
Faktor yang mempengaruhi pola tanam :
Ketersediaan air dalam satu tahun.
Prasarana yang tersedia dalam lahan tersebut.
Jenis tanah setempat.
Kondisi umum daerah tersebut.
Kebiasaan dan kemampuan petani setempat.
Pola penanaman dapat dengan dua sistem yaitu sistem monokultur dan polikultur.
Monokultur adalah penanaman satu jenis tanaman pada lahan dan waktu penanaman yang
sama. Sedangkan polikultur adalah penanaman lebih dari satu jenis tanaman pada lahan dan
waktu yang sama. (Wirosoedarmo, 1985).
Dalam pola tanam polikultur terdapat beberapa macam istilah dari sistem ini, yang mana
pengertiannya sama yaitu menanam lebih dari satu jenis tanaman pada lahan yang sama tetapi
alasan dan tujuannya yang berbeda, yaitu :
Tumpang campuran yaitu menanam lebih dari satu jenis tanaman pada satu lahan dan
dalam waktu yang sama dan umumnya bertujuan mengurangi hama penyakit dari jenis
tanaman yang satu atau pendampingnya. Tumpang sari yaitu menanam lebih dari satu jenis
tanaman pada satu lahan dan dalam waktu yang sama dengan barisan-barisan teratur.
Tumpang gilir yaitu menanam lebih dari satu jenis tanaman pada satu lahan yang sama
selama satu tahun untuk memperoleh lebih dari satu hasil panen. Tanaman pendamping yaitu
penanaman dalam satu bedeng ditanam lebih dari satu tanaman sebagai pendamping jenis
tanaman lainnya yang bertujuan untuk saling melengkapi dalam kebutuhan fisik dan unsur
hara. Penanaman lorong yaitu menanam lebih dari satu jenis tanaman pada suatu lahan
dengan penanaman tanaman berumur pendek diantara larikan atau lorong tanaman berumur

panjang atau tanaman tahunan. Pergiliran atau Rotasi tanaman yaitu menanam lebih dari satu
jenis tanaman yang tidak sefamili secara bergilir pada satu lahan yang bertujuan untuk
memutuskan siklus hidup hama penyakit tanaman. (Wirosoedarmo, 1985).
Penggolongan sistem pola tanam tumpangsari antara lain :
1. Mixed Cropping
Merupakan penanaman jenis tanaman campuran yang ditanam dilahan yang sama,
pada waktu yang sama atau dengan jarak/interval waktu tanam yang singkat, dengan
pengaturan jarak tanam yang sudah ditetapkan dan populasi didalamnya sudah tersusun rapi.
Kegunaan sistem ini dalam substansi pertanian adalah untuk mengatur lingkungan yang tidak
stabil dan lahan yang sangat variable, dengan penerapan sistem ini maka dapat
melawan/menekan terhadap kegagalan panen total. Pada lingkungan yang lebih stabil dan
baik total hasil yang diperoleh lebih tinggi pada lahan tersebut, sebab sumber daya yang
tersedia seperti cahaya, unsur hara, nutrisi tanah dan air lebih efektif dalam penggunaannya.
2. Relay Cropping
Merupakan sistem pola tanam dengan penanaman dua atau lebih tanaman tahunan.
Dimana tanaman yang mempunyai umur berbuah lebih panjang ditanam pada penanaman
pertama, sedang tanaman yang ke-2 ditanam setelah tanaman yang pertama telah berkembang
atau mendekati panen. Kegunaan dari sistem ini yaitu pada tanaman yang ke dua dapat
melindungi lahan yang mudah longsor dari hujan sampai selesai panen pada tahun itu.
3. Strip Cropping/Inter Cropping
Adalah sistem format pola tanam dengan penanaman secara pola baris sejajar rapi dan
konservasi tanah dimana pengaturan jarak tanamnya sudah ditetapkan dan pada format satu
baris terdiri dari satu jenis tanaman dari berbagai jenis tanaman. Kegunaan sistem ini yaitu
biasanya digunakan pada tanaman yang mempunyai umur berbuah lebih pendek, sehingga
dalam penggolahan tanah tidak sampai membongkar lapisan tanah yang paling
bawah/bedrock, sehingga dapat menekan penggunaan waktu tanam.
4. Multiple Cropping
Merupakan sistem pola tanam yang mengarahkan pada peningkatan produktivitas lahan
dan melindungi lahan dari erosi. Teknik ini melibatkan tanaman percontohan, dimana dalam
satu lahan tumbuh dua atau lebih tanaman budidaya yang mempunyai umur sama serta
pertumbuhan dari tanaman tersebut berada pada lahan dan waktu tanam yang sama, dalam
satu baris tanaman terdapat dua atau lebih jenis tanaman.

5. Tanaman Lorong ( Alley Cropping )


Sistem pertanaman lorong (alley croping) adalah suatu sistem di mana tanaman pangan
ditanam pada lorong (alley) di antara barisan tanaman pagar. (Romulo A. del Castillo, 1994).
2.2 Budidaya Lorong (Alley Cropping)
Budidaya lorong (alley cropping) merupakan salah satu teknik konservasi tanah dan
air yang telah lama diperkenalkan untuk pengembangan sistem pertanian berkelanjutan pada
lahan kering atau berlereng, namun belum diterapkan secara meluas oleh petani. Lahan
kering atau lahan berlereng merupakan sumber daya alam yang mempunyai peluang besar
untuk dimanfaatkan secara optimal.

Gambar.1 Budiaya Lorong


Alley cropping merupakan salah satu sistem agroforestry yang menanam tanaman
semusim atau tanaman pangan diantara lorong-lorong yang dibentuk oleh pagar tanaman
pohonan atau semak. Tanaman pagar dipangkas secara periodik selama pertanaman untuk
menghindari

naungan

dan

mengurangi

kompetisi

hara

dengan

tanaman

pangan/semusim. Penanaman Lorong (alley cropping) di lakukan dengan menanam tanaman


yang berumur pendek, misalnya jagung diantara larikan tanaman yang dapat tumbuh tinggi
serta berumur tahunan, misalnya sengon. Pangkasan dari tanaman pagar (sengon) dapat
digunakan sebagai mulsa yang diharapkan dapat menyumbangkan hara terutama nitrogen
kepada tanaman lorong (Anonymous, 2011).

Gambar.2 Alley Cropping Jagung dan Sengon


2.3 Syarat Tumbuh Tanaman
2.3.1 Sengon
Klasifikasi tanaman sengon
Kingdom

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Kelas

: Dicotyledonae

Ordo

: Fabales

Famili

: Fabaceae

Genus

: Paraserianthes

Spesies

: Paraserianthes falcataria

1. Tanah
Tanaman Sengon dapat tumbuh baik pada tanah regosol, aluvial, dan latosol yang
bertekstur lempung berpasir atau lempung berdebu dengan kemasaman tanah sekitar pH 6-7.
2. Iklim
Ketinggian tempat yang optimal untuk tanaman sengon antara 0 800 m dpl.
Walapun demikian tanaman sengon ini masih dapat tumbuh sampai ketinggian 1500 m di atas
permukaan laut. Sengon termasuk jenis tanaman tropis, sehingga untuk tumbuhnya
memerlukan suhu sekitar 18 27 C.

3. Curah Hujan
Curah hujan mempunyai beberapa fungsi untuk tanaman, diantaranya sebagai pelarut
zat nutrisi, pembentuk gula dan pati, sarana transpor hara dalam tanaman, pertumbuhan sel
dan pembentukan enzim, dan menjaga stabilitas suhu. Tanaman sengon membutuhkan batas
curah hujan minimum yang sesuai, yaitu 15 hari hujan dalam 4 bulan terkering, namun juga
tidak terlalu basah, dan memiliki curah hujan tahunan yang berkisar antara 2000 4000 mm.
Kelembaban juga mempengaruhi setiap tanaman. Reaksi setiap tanaman terhadap
kelembaban tergantung pada jenis tanaman itu sendiri. Tanaman sengon membutuhkan
kelembaban sekitar 50%-75%.
Keragaman Penggunaan dan Manfaat Kayu sengon. Pohon sengon merupakan pohon
yang serba guna. Dari mulai daun hingga perakarannya dapat dimanfaatkan untuk beragam
keperluan.
3. Daun
Daun Sengon, sebagaimana famili Mimosaceae lainnya merupakan pakan ternak yang
sangat baik dan mengandung protein tinggi. Jenis ternak seperti sapi, kerbau, dfan
kambingmenyukai daun sengon tersebut.
4. Perakaran
Sistem perakaran sengon banyak mengandung nodul akar sebagai hasil simbiosis
dengan bakteri Rhizobium. Hal ini menguntungkan bagi akar dan sekitarnya. Keberadaan
nodul akar dapat membantu porositas tanah dan openyediaan unsur nitrogen dalam tanah.
Dengan demikian pohon sengon dapat membuat tanah disekitarnya menjadi lebih subur.
Selanjutnya tanah ini dapat ditanami dengan tanaman palawija sehingga mampu
meningkatkan pendapatan petani penggarapnya.
5. Kayu
Bagian yang memberikan manfaat yang paling besar dari pohon sengon adalah batang
kayunya. Dengan harga yang cukup menggiurkan saat ini sengon banyak diusahakan untuk
berbagai keperluan dalam bentuk kayu olahan berupa papan papan dengan ukuran tertentu
sebagai bahan baku pembuat peti, papan penyekat, pengecoran semen dalam kontruksi,
industri korek api, pensil, papan partikel, bahan baku industri pulp kertas dll.
2.3.2 Mahoni
Klasifikasi tanaman mahoni
Kingdom

: Plantae (tumbuhan)

Divisi

: Magnoliophyta (tumbuhan berbunga)

Kelas

: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)

Ordo

: Sapindales

Famili

: Meliaceae

Genus

: Swietenia

Spesies

: Swietenia mahagoni (L.) Jacq.


Mahoni termasuk pohon besar dengan tinggi pohon mencapai 35-40 m dan diameter

mencapai 125 cm. Batang lurus berbentuk silindris dan tidak berbanir. Kulit luar berwarna
cokelat kehitaman, beralur dangkal seperti sisik, sedangkan kulit batang berwarna abu-abu
dan halus ketika masih muda, berubah menjadi cokelat tua, beralur dan mengelupas setelah
tua. Mahoni baru berbunga setelah berumur 7 tahun, mahkota bunganya silindris, kuning
kecoklatan, benang sari melekat pada mahkota, kepala sariputih, kuning kecoklatan. Buahnya
buah kotak, bulat telur, berlekuk lima, warnanya cokelat. Biji pipih, warnanya hitam atau
cokelat. Mahoni dapat ditemukan tumbuh liar dihutan jati dan tempat-ternpat lain yang dekat
dengan pantai, atau ditanam di tepi jalan sebagai pohon pelindung.
Mahoni berdaun besar dapat tumbuh baik pada lahan dengan ketinggian bervariasi antara 01.000 meter di atas permukaan laut dengan curah hujan 1.600-4.000 mm per tahun dan tipe
iklim A sampai D. Pada umumnya mahoni senang pada tanah yang bersolum dalam. Jenis ini
juga masih bisa bertahan pada tanah yang sewaktu-waktu tergenang air. Syarat Tumbuh
Mahoni (Swietenia mahagoni (L.) Jacq.)
Menurut Nair, 2000 Tanaman mahoni ini merupakan tanaman tropis dan banyak
ditemukan tumbuh liar di hutan jati dan tempat-tempat lain yang dekat dengan pantai.
Tanaman ini dapat tumbuh dengan subur di pasir payau dekat dengan pantai. Tanaman ini
menyukai tempat yang cukup sinar matahari langsung (tidak ternaungi).
2.3.3 Jagung
Kerajaan

: Plantae

Divisio

: Angiospermae

Kelas

: Monocotyledoneae

Ordo

: Poales

Familia

: Poaceae

Genus

: Zea

Spesies

: Zea mays L.

1. Iklim
Iklim yang dikehendaki oleh sebagian besar tanaman jagung adalah daerah-daerah
beriklim sedang hingga daerah beriklim sub-tropis/tropis yang basah. Jagung dapat tumbuh di
daerah yang terletak antara 0-50 derajat LU hingga 0-40 derajat LS.
Pada lahan yang tidak beririgasi, pertumbuhan tanaman ini memerlukan curah
hujan ideal sekitar 85-200 mm/bulan dan harus merata. Pada fase pembungaan dan pengisian
biji tanaman jagung perlu mendapatkan cukup air. Sebaiknya jagung ditanam diawal musim
hujan, dan menjelang musim kemarau.
Pertumbuhan tanaman jagung sangat membutuhkan sinar matahari. Tanaman jagung yang
ternaungi, pertumbuhannya akan terhambat/ merana, dan memberikan hasil biji yang kurang
baik bahkan tidak dapat membentuk buah.
Suhu yang dikehendaki tanaman jagung antara 21-34 derajat C, akan tetapi bagi
pertumbuhan tanaman yang ideal memerlukan suhu optimum antara 23-27 derajat C. Pada
proses perkecambahan benih jagung memerlukan suhu yang cocok sekitar 30 derajat C.
Saat panen jagung yang jatuh pada musim kemarau akan lebih baik dari pada musim
hujan, karena berpengaruh terhadap waktu pemasakan biji dan pengeringan hasil.
2. Media Tanam
Jagung tidak memerlukan persyaratan tanah yang khusus. Agar supaya dapat tumbuh
optimal tanah harus gembur, subur dan kaya humus. Keasaman tanah erat hubungannya
dengan ketersediaan unsur-unsur hara tanaman. Keasaman tanah yang baik bagi pertumbuhan
tanaman jagung adalah pH antara 5,6 - 7,5. Tanaman jagung membutuhkan tanah dengan
aerasi dan ketersediaan air dalam kondisi baik.
3. Ketinggian Tempat
Jagung dapat ditanam di Indonesia mulai dari dataran rendah sampai di daerah
pegunungan yang memiliki ketinggian antara 1000-1800 m dpl. Daerah dengan ketinggian
optimum antara 0-600 m dpl merupakan ketinggian yang baik bagi pertumbuhan tanaman
jagung.
2.3.4 Kedelai
Klasifikasi Tanaman Kacang Kedelai
Kingdom

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Sub Divisi

: Angiospermae

Kelas

: Dicotyledonae

Ordo

: Fabales

Famili

: Fabaceae

Genus

: Glycine

Species

: Glycine max

1.Tanah
Tanaman kedelai sebenarnya dapat tumbuh di semua jenis tanah, namun demikian,
untuk mencapai tingkat pertumbuhan dan produktivitas yang optimal, kedelai harus ditanam
pada jenis tanah berstruktur lempung berpasir atau liat berpasir. Hal ini tidak hanya terkait
dengan ketersediaan air untuk mendukung pertumbuhan, tetapi juga terkait dengan faktor
lingkungan tumbuh yang lain.
Upaya program pengembangan kedelai bisa dilakukan dengan penanaman di lahan
kering masam dengan pH tanah 4,5 5,5 yang sebenarnya termasuk kondisi lahan kategori
kurang sesuai. Untuk mengatasi berbagai kendala, khususnya kekurangan unsur hara di tanah
tersebut, tentunya akan menaikkan biaya produksi sehingga harus dikompensasi dengan
pencapaian produktivitas yang tinggi (> 2,0 ton/ha).
2. Iklim
Untuk mencapai pertumbuhan tanaman yang optimal, tanaman kedelai memerlukan
kondisi lingkungan tumbuh yang optimal pula. Tanaman kedelai sangat peka terhadap
perubahan faktor lingkungan tumbuh, khususnya tanah dan iklim. Kebutuhan air sangat
tergantung pada pola curah hujan yang turun selama pertumbuhan, pengelolaan tanaman,
serta umur varietas yang ditanam.
a. Panjang hari (photoperiode)
Tanaman kedelai sangat peka terhadap perubahan panjang hari atau lama penyinaran
sinar matahari karena kedelai termasuk tanaman hari pendek. Artinya, tanaman kedelai
tidak akan berbunga bila panjang hari melebihi batas kritis, yaitu 15 jam perhari. Oleh karena
itu, bila varietas yang berproduksi tinggi dari daerah subtropik dengan panjang hari 14 16
jam ditanam di daerah tropik dengan rata-rata panjang hari 12 jam maka varietas tersebut
akan mengalami penurunan produksi karena masa bunganya menjadi pendek, yaitu dari umur
50 60 hari menjadi 35 40 hari setelah tanam. Selain itu, batang tanaman pun menjadi
lebih pendek dengan ukuran buku subur juga lebih pendek. Perbedaan di atas tidak hanya
terjadi pada pertanaman kedelai yang ditanam di daerah tropik dan subtropik, tetapi juga
terjadi pada tanaman kedelai yang ditanam di dataran rendah (<20 m dpl) dan dataran tinggi
(>1000 m dpl). Umur berbunga pada tanaman kedelai yang ditanam di daerah dataran tinggi

mundur sekitar 2-3 hari dibandingkan tanaman kedelai yang ditanam di datarn rendah.
Kedelai yang ditanam di bawah naungan tanaman tahunan, seperti kelapa, jati, dan mangga,
akan mendapatkan sinar matahari yang lebih sedikit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
naungan yang tidak melebihi 30% tidak banyak berpengaruh negatif terhadap penerimaan
sinar matahari oleh tanaman kedelai.
b. Distribusi curah hujan
Hal yang terpenting pada aspek distribusi curah hujan yaitu jumlahnya merata
sehingga kebutuhan air pada tanaman kedelai dapat terpenuhi. Jumlah air yang digunakan
oleh tanaman kedelai tergantung pada kondisi iklim, sistem pengelolaan tanaman, dan lama
periode tumbuh. Namun demikian, pada umumnya kebutuhan air pada tanaman kedelai
berkisar 350 450 mm selama masa pertumbuhan kedelai. Pada saat perkecambahan, faktor
air menjadi sangat penting karena akan berpengaruh pada proses pertumbuhan. Kebutuhan air
semakin bertambah seiring dengan bertambahnya umur tanaman. Kebutuhan air paling tinggi
terjadi pada saat masa berbunga dan pengisian polong. Kondisi kekeringan menjadi sangat
kritis pada saat tanaman kedelai berada pada stadia perkecambahan dan pembentukan polong.
Untuk mencegah terjadinya kekeringan pada tanaman kedelai, khususnya pada stadia
berbunga dan pembentukan polong, dilakukan dengan waktu tanam yang tepat, yaitu saat
kelembaban tanah sudah memadai untuk perkecambahan. Selain itu, juga harus didasarkan
pada pola distribusi curah hujan yang terjadi di daerah tersebut. Tanaman kedelai sebenarnya
cukup toleran terhadap cekaman kekeringan karena dapat bertahan dan berproduksi bila
kondisi cekaman kekeringan maksimal 50% dari kapasitas lapang atau kondisi tanah yang
optimal.

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Teknik Budidaya Lorong
Sistem pertanaman lorong (alley croping) adalah suatu sistem di mana tanaman
pangan ditanam pada lorong (alley) di antara barisan tanaman pagar (Sariyata, Ketut., 2007).
Sistem tersebut biasanya diterapkan pada lahan yang tergolong kering, penanaman tanaman
tahunan seperti lamtoro, sengon, mahoni, dan lain sebagainya sebagai pagar, tanaman pagar
biasanya dimanfaatkan sebagai kayu untuk kebutuhan furniture, perlengkapan rumah, mupun
dapat dimanfaatkan sebagai kayu bakar.
Tanaman pagar secara ekologis difungsikan untuk menampung air, menyuburkan
tanah, meminimalisir potensi erosi dan longsor dan memicu peningkatan aktivitas
mikroorganisme sehingga cocok untuk ditanami tanaman semusim yang toleran. Tanaman
semusim yang toleran terhadap kekeringan misalnya jagung, kedelai, sorgum, singkong dan
lain sebagainya untuk ditanam diantara tanaman pagar. Tujuannya adalah untuk menunggu
masa panen tanaman pagar sehingga dari kegiatan tersebut tetap ada pemasukan.
Konservasi lahan kering penting untuk dilakukan karena tanah tersebut cukup luas
dan belum dapat dimanfaatkan secara optimal guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Untuk mendapatkan hasil yang optimal perlu dilakukan kombinasi teknik lain, terutama
untuk menampung air guna memenuhi kebutuhan air tanaman semusim saat terjadi musim
kekeringan yang parah seperti membuat embung, dan rorak.
3.2 Persyaratan Tanaman Pagar:
1. Tahan pemangkasan dan dapat bertunas kembali secara cepat sesudah pemangkasan, dan
menghasilkan banyak hijauan
2. Tingkat persaingannya dengan tanaman lorong tidak begitu tinggi.
3. Sebaiknya mempunyai manfaat ganda seperti untuk pakan ternak, kayu bakar dan
penghasil buah supaya mudah diadobsi petani.
3.3 Penerapan Allley croping Tanaman Sengon, Mahoni, Kedelai, dan Jagung Pada
Lahan Kering
Tanaman pagar yang dipilih adalah sengon dan mahoni, pertimbangannya tanaman ini
bernilai cukup tinggi (kayu) dengan masa panen 5 6 tahun, ranting dan batang dapat
dimanfaatkan untuk kayu bakar, daunnya dapat dimanfaatkan sebagai mulsa ataupun kompos

serta tanaman ini relatif tahan dalam kondisi kering. Adapun syarat yang harus diperhatikan
dalam pemilihan tanaman pagar, yaitu sebagai berikut :
1. Tahan pemangkasan dan dapat bertunas kembali secara cepat sesudah pemangkasan, dan
menghasilkan banyak hijauan
2. Tingkat persaingannya dengan tanaman lorong tidak begitu tinggi.
3. Sebaiknya mempunyai manfaat ganda seperti untuk pakan ternak, kayu bakar dan
penghasil buah supaya mudah diadobsi petani
4. Merupakan tanaman yang mampu mengembalikan unsure hara ke dalam tanah, misalnya
yang dapat menambat nitrogen (N2) dari udara.
5. Tidak bersifat alelopati (mengeluarkan zat beracun) bagi tanaman utama.
Efektivitas budidaya lorong pada lahan pertanian jagung dan kedelai dalam
pengendalian aliran permukaan dan erosi ditentukan oleh perkembangan tanaman pagar serta
jarak antar barisan tanaman pagar. Pada awal penerapan budidaya lorong jagung, kedelai
aliran permukaan dan erosi dapat menerobos tanaman pagar yang belum tumbuh merapat,
meskipun ditanam lebih dari satu baris tanaman. Pada kondisi demikian, tanaman pagar
kurang efektif dalam menghambat aliran permukaan dan menjaring sedimen yang terangkut,
sehingga dapat menghanyutkan pupuk dan bahan organik yang di butuhkan oleh jagung dan
kedelai. Setelah tanaman pagar berkembang, persaingan penyerapan air, unsur hara dan sinar
matahari antara tanaman pagar dengan tanaman jagung dapat mengurangi produksi tanaman
jagung yang dibudidayakan.
Pada lahan yang cukup luas dapat di tanami beberapa baris tanaman sengon, mahoni,
kedelai dan tanaman jagung, akan tetapi harus sesuai dengan jarak yang di perlukan agar
tanaman pagar dapat tetap melindungi dan menunjang pertumbuhan jagung, kedelai dan
supaya tidak terlalu terjadi persaingan dalam perebutan unsur hara tanah anatara jagung,
kedelai dengan sengon dan mahoni. Perlu diingat bahwa apabila jarak antar baris tanaman
pagar terlalu dekat, maka kompetisi tanaman pagar terhadap tanaman utama akan lebih
kentara dan jika terlalu jarang, keampuhan tanaman pagar menahan erosi akan berkurang.
Persaingan sinar matahari oleh tajuk tanaman sengon dan mahoni dapat diatasi dengan
memangkas tajuk tanaman sengon dan mahoni secara teratur selama musim pertanaman
komoditas tanaman jagung dan kedelai di lorongnya, tetapi persaingan penyerapan air dan
unsur hara oleh akar tanaman pagar sulit dihindari karena terus berkembang menyebar di
dalam tanah pada areal tanaman budidaya. Sisa tanaman hasil pangkasan tanaman pagar
disarankan untuk dikembalikan sebagai mulsa yang disebarkan di antara barisan tanaman
budidya, sering dianggap sulit untuk dilakukan karena pangkasan cabang/ranting tanaman

sengon dan mahoni relatif lebih sulit mengatur penyebarannya. (Rachman, Abdurachman,
dan Haryono. 1995)
Pemupukan
Pemupukan pada Jagung dan kedelai pada umumnya dilakukan dengan cara membuat
lubang pupuk dengan tugal di sebelah kiri dan kanan lubang benih dengan jarak 7 cm dengan
kedalaman lubang 10 cm. setelah di masukkan pupuk, selanjutnya lubang di tutup kembali
dengan tanah. Pemupukan kedua dan ketiga dilakukan dengan cara yang sama, namun jarak
dari lubang benih adalah 15 cm.
Pemupukan SP-36, KCL, dan ZA di berikan sekaligus pada waktu tanam, sedangkan
Urea diberikan 2 kali atau 3 kali. Pemupukan urea kedua pada umur 6 minggu setelah tanam.
Pemberian 3 kali disarankan untuk tanah-tanah miskin hara dan tanah bertekstur pasir.
( Anonymousa.2012). Akan tetapi dalam pola tanam alley cropping, pemupukan dapat
dikurangi atau di ganti dengan sisa-sisa tanaman sengon dan mahoni yang sudah di pangkas
yang di gunakan sebagai pupuk atau mulsa vertikal.
Mulsa vertikal dapat dikembangkan sebagai alternatif untuk memudahkan pemanfaatan
sisa tanaman sengon dan mahoni di lahan pertanian. Tenik mulsa vertikal dapat di lakukan
dengan menambahkan sisa tanaman, seresah, pangkasan tanaman sengon dan mahoni ke
dalam saluran teras, rorak, atau ke dalam lubang-lubang peresapan air. Pemanfaatan sisa
tanaman sengon dan mahoni sebagai mulsa konvensional ini belum banyak diterapkan,
karena beberapa kesulitan yang di alami oleh petani dalam membersihkan sisa tanaman
sebelum melakukan pengolahan tanah dan menyebarkannya kembali di antara barisan
tanaman. Dengan sistem mulsa ini juga dapat di lakukan pengomposan sisa tanaman, seresah
gulma, dan lain sebagainya secara insitu (Brata,1995).
Pemangkasan
Tanaman Sengon dan mahoni harus sudah dipangkas setelah mencapai umur satu
tahun atau tingginya sudah mencapai 1,5 m sampai 2 m. Pada saat ini perakarannya sudah
cukup berkembang dan kuat. Pemangkasan bisa diulangi jika tanaman jagung dan kedelai
memerlukan lebih banyak cahaya atau apabila tanaman sengon dan tanaman mahoni sudah
mulai bersaing dalam hal tumpukan pangkasan batang air dan unsur hara. Pemangkasan
cabang akan menyebabkan matinya sebagian akar, sehingga pemangkasan mengurangi
persaingan akan cahaya dan perakaran sekaligus.
Sebaiknya tanaman sengon dan tanaman mahoni dipangkas sebelum tanaman semusim
mengalami tekanan. Pada tanaman jagung dan tanaman kedelai, sebaiknya tanaman sengon

dan tanaman mahoni dipangkas pada saat penanaman, kemudian pemangkasan kedua setelah
tanaman sengon dan tanaman mahoni mencapai ketinggian 1 m atau setelah 30 45 hari.
Pemangkasan ketiga mungkin tidak perludilakukan apabila tanaman jagung sudah cukup
tinggi.(Brata,2000).
Tanaman pagar dapat dipilih misalnya sengon dan mahoni, pertimbangannya tanaman
ini bernilai cukup tinggi (kayu) dengan masa panen 5 6 tahun, ranting dan batang dapat
dimanfaatkan untuk kayu bakar, daunnya dapat dimanfaatkan sebagai mulsa ataupun kompos
serta tanaman ini relatif tahan dalam kondisi kering. Jarak tanam sengon dan mahoni, yakni
(2 x 10) m untuk bagian lebar pagar ditanami tanaman musiman ditanami jagung dengan
jarak tanam (25 x 75) cm, kedelai (20 x 20) cm. Berikut pola tanam alley cropping dalam
lahan seluas 1 hektar :

Keterangan :
: Tanaman Pagar (sengon dan mahoni)
-------------------

: Tanaman Kedelai

-------------------

: Tanaman jagung

3.4 Kelebihan dan Kekurangan Budidaya Lorong


Kebutuhan air kedelai, jagung, dan sorgum memang reltif sedikit namun jika
kekeringan berlangsung lama maka pertumbuhannya kurang optimal. Air hasil penampungan
pada musim hujan tersebut dapat digunakan untuk menyiram tanaman diatas jika diperlukan.
Alley cropping merupakan kombinasi antara tanaman tahunan (pagar) dan tanaman semusim
yang dilakukan dengan sedemikian rupa sehingga dapat menguntungkan secara ekologi,
ekonomi, dan sosial.
3.4.1 Keuntungan sistem pertanaman lorong:

1. Ekologi dapat menyumbangkan bahan organik dan hara terutama nitrogen untuk tanaman
lorong. Mengurangi laju aliran permukaan dan erosi apabila tanaman pagar ditanam
secara rapat menurut garis kontur. Terpaan angin dapat diminimalisir sehingga tanaman
musiman tetap dalam kondisi yang baik. Meningkatkan keanegaragaman hayati dan
keseimbangan agroekosistem.
2. Ekonomi dapat menghemat biaya pengolahan lahan karena tidak perlu dilakukan
pembajakan untuk menggemburkan tanah. Mengurangi biaya pemupukan dengan
memanfaatkan daun tanaman pagar untuk dijadikan kompos atau mulsa. Ranting pohon
tahunan dapat dimanfaatkan sebagai kayu bakar.
3. Sosial dapat meningkatkan ketahanan pangan dan ekonomi serta penggangguran dapat
dikurangi.
3.4.2 Kelemahan penanaman lorong
1. Tanaman pagar mengambil sekitar 5 - 15% areal yang biasanya digunakan untuk
tanaman pangan /tanaman utama. Untuk itu, perlu diusahakan agar tanaman pagar dapat
memberikan hasil langsung. Hal ini dapat ditempuh misalnya dengan menggunakan
gliricidia sebagai tanaman pagar dan sekaligus sebagai tongkat panjatan bagi vanili atau
lada. Cara lain misalnya dengan menanam kacang gude sebagai tanaman pagar.
2. Sering terjadi persaingan antara tanaman pagar dengan tanaman utama untuk
mendapatkan hara, air, dan cahaya. Cara mengatasinya adalah dengan memangkas
tanaman pagar secara teratur supaya pertumbuhan akarnya juga terbatas.
3. Tenaga kerja yang diperlukan untuk penanaman dan pemeliharaan tanaman pagar cukup
tinggi.
3.5 Analisis Usaha Tani
1. Tanaman sengon dan mahoni
Banyaknya pohon = (Luas lahan : Jarak tanam) = (10000 : (10 x2)) = 500 pohon
Harga tiap m 3 kayu = Rp. 800.000, Kayu bakar = Rp. 50.000
a. Pohon tinggi menghasilkan 1,5 m
600.000.000
b. Pohon menghasilkan 0,2 m

x 800.000 = Rp. 1.200.000 x 500 pohon = Rp.

tiap tahun pada saat pemangkasan berarti selama 6 tahun

menghasilkan 1,2 m 3 x 50.000 = Rp. 60.000 x 500 pohon = Rp.30.000.000


Total = 600.000.000 + 30.000.000 = 630.000.000
c. Netto = total (pengeluaran + kerusakan + transport) = 60 % x 630.000.000 = Rp.
378.000.000
2. Tanaman kedelai dan jagung (8000 m 2) = 1 tahun 1 kali tanam 2 kali berat Kedelai
(60%) 960 x Rp.6000 = Rp.5.760.000

3. Jagung (40%) (Luas jagung / luas lahan) x hasil = 1600 x Rp. 2500 = Rp. 4.000.000
Total = 5.760.000 + 4.000.000 = 9.760.000 x 6 tahun x 60% = Rp. 35.136.000
Keseluruhan = 378.000.000 + 35.136.000 = Rp.413.136.000
Monokultur
1. Kedelai tiap hektar rata rata menghasilkan 2000 kg, harga 1 kg = Rp. 6000, maka
selama 6 tahun menghasilkan : 2000 x 6000 x 6 x 60% = Rp. 43.200.000
2. Jagung rata rata menghasilkan 5000 kg tiap hektar, harga 1 kg = Rp. 2.500, maka
selama 6 tahun menghasilkan = 5000 X 2500 x 6 x 60% = Rp. 45.000.0000

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1

Kesimpulan
Pola tanam alley cropping antara tanaman sengon, mahoni, kedelai dan jagung mampu

memproduksi hasil panen serta keuntungan lebih banyak daripada penanaman dengan pola
tanam monokultur (menanam komoditas jagung saja atau kedelai saja). Tidak hanya
menguntungkan secara ekonomi saja, pola tanam alley cropping juga menguntungkan secara
ekologi seperti dapat membantu memperbaiki kandungan bahan organik dan hara dalam
tanah, mengurangi laju aliran permukaan dan erosi, melindungi tanaman Muslimah dari
terpaan angin dan mampu meningkatkan keanekaragaman hayati dan keseimbangan
agroekosistem. Meskipun pola tanam alley cropping membutuhkan tenaga kerja yang cukup
tinggi untuk penanaman dan pemeliharaan tanaman pagar tak sebanding dengan manfaat
serta keuntungan yang diperoleh dari pola tanam tersebut mengingat tenaga kerja yang
diserap untuk pola tanam alley cropping cukup tinggi sehingga mampu meningkatkan
ekonomi masyarakat setempat dan angka penggangguran dapat dikurangi.
4.2

Saran

DAFTAR PUSTAKA
Anonymous,
2011.
Klasifikasi
dan
Morfologi
Jagung.
https://mukegile08.
wordpress.com/2011/06/06/morfologi-dan-klasifikasi-tanaman-jagung/
Anonymous, 2011. Pertanian di Lahan
2011/12/pertanian-di-lahan-kering.html

Kering.

http://

masarga.blogspot.com/

Aulia, 2012. Pola Tanam.


http://aulia-nm.blogspot.com/2010/02/pola-tata-tanam
pola-tanam-adalah.html. diakses pada tanggal 29 November 2015
Brata, K.R. 1995. Peningkatan efektivitas mulsa vertikal sebagai tindakan konservasi tanah
dan air pada pertanian lahan kering dengan pemanfaatan bantuan cacing tanah. J. Il.
Pert. Indon 5(2):69-75.
Harjadi, 1979. http://pdf.kq5.org/doc/. diakses pada tanggal 29 November 2015
Martawijaya. A, I. Kartasujana. 1977. Ciri Umum, Sifat dan Kegunaan Jenis-Jenis
Kayu Indonesia. Publikasi Khusus No. 41. LPHH, Bogor.
Musyafa. 2012. http://Musafa _Al ihyar.blogspot.com// diakses pada tanggal 29 November
2015
Romulo A. del Castillo, 1994. Terjemahan Budiono. Fisiologi Lingkungan Tanaman. Gajah
Mada University Press. Yogyakarta.
Saiful Anwar, 2011. http://lampung.litbang.deptan.go.id/i. Diakses pada tanggal
November 2015
Wirosoedarmo. 1985. Dasar-dasar Irigasi Pertanian. Universitas Brawijaya: malang.

29