Anda di halaman 1dari 47

Policy Brief Penyakit Menular dan Kesehatan Lingkungan Berbasis Konteks Budaya Lokal

2015 Health Advocacy


Penulis
Lestari Handayani
Wahyu Dwi Astuti
Gurendro Putro
Setia Pranata
Lulut Kusumawati
Lusi Kristiana
Santi Dwiningsih
M. Gullit Agung
Septa Agung Kurniawan
Editor
Agung Dwi Laksono

Buku ini diterbitkan atas kerjasama:


HEALTH ADVOCACY
Yayasan Pemberdayaan Kesehatan Masyarakat
Jl. Bibis Karah I/41 Surabaya 60232
Email: healthadvocacy@information4u.com
dengan
PUSAT HUMANIORA, KEBIJAKAN KESEHATAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
Badan Penelitan dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Jl. Indrapura 17 Surabaya
Telp. 031-3528748, Fax. 031-3528749

Cetakan 1, Desember 2015


Desain Cover : ADL
Penata Letak : ADL
ISBN 978-602-17626-9-1

Hak cipta dilindungi undang-undang.


Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara apa pun, termasuk
fotokopi, tanpa izin tertulis dari penerbit.

ii

KATA PENGANTAR

Riset Etnografi Kesehatan telah selesai dilaksanakan sebanyak tiga periode oleh
Pusat Humaniora, Kebijakan Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat.
Setidaknya ada 62 etnik yang telah dipelajari dan dituliskan dalam bentuk buku
etnografi kesehatan, yaitu pada tahun 2012 sebanyak 12 etnik, tahun 2014
sebanyak 20 etnik, dan tahun 2015 sebanyak 30 etnik.
Pada riset tersebut ditemukan berbagai unsur budaya yang unik pada setiap
etnik. Keunikan spesifik lokal pada tiap etnik dan wilayah ini dengan sendirinya
mempunyai value atau nilai yang mempengaruhi kehidupan, termasuk di
dalamnya aneka praktek kesehatan dalam keseharian.
Permasalahan kesehatan seringkali berkaitan erat dengan adat budaya
setempat yang bersifat spesifik lokal. Hal ini merupakan konteks lokal yang
seringkali terabaikan dalam perumusan sebuah kebijakan, yang acapkali
diberlakukan secara generik sama untuk seluruh wilayah Indonesia. Konteks
yang spesifik lokal ini menjadi penting apabila kita ingin mewujudkan kebijakan
kesehatan yang benar-benar membumi, yang diharapkan dapat dengan mudah
untuk dimengerti dan diimplementasi para pelaksana kebijakan di daerah.
Policy brief yang disusun dengan basis konteks budaya lokal ini secara khusus
ditujukan kepada policy maker di tingkat kabupaten. Meski demikian policy brief
ini juga akan disampaikan kepada unit utama di Kementerian Kesehatan, baik
ibu Menteri Kesehatan, Dirjen Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak, Dirjen
Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit, maupun Dirjen Bina Upaya
Kesehatan. Hal ini penting untuk disampaikan agar rekomendasi yang
disarankan dapat dijadikan sebagai bahan rujukan untuk berbagai daerah lain
dengan etnik yang serupa.
Surabaya, Desember 2015
Kepala Pusat
Humaniora, Kebijakan Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat
Badan Litbang Kementerian Kesehatan RI.

drg. Agus Suprapto, M.Kes

iii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI

v
vii

1.

BELENGGU APUNG (TUBERKULOSIS)


Rekomendasi ditujukan kepada Dinas Kesehatan
Kabupaten Sumba Timur
Lestari Handayani, Santi Dwiningsih

2.

MEMBANGUN KEMITRAAN SIKEREI DAN TENAGA KESEHATAN


Rekomendasi ditujukan kepada
Dinas Kesehatan Kabupaten Mentawai
Wahyu Dwi Astuti dan M. Gullit Agung

3.

ATURAN ADAT SASI PEMAKAIAN KONDOM


Rekomendasi ditujukan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten
Kepulauan Aru
Lestari Handayani dan Santi Dwiningsih

4.

SWAMEDIKASI AMAN
Rekomendasi ditujukan kepada Dinas Kesehatan
Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan
Lulut Kusumawati

5.

PENGATURAN PENAMBANG EMAS DI ALIRAN SUNGAI MUROI DAN


PERILAKU MASYARAKAT DAYAK DALAM MEMANFAATKAN AIR
SUNGAI UNTUK MINUM
Rekomendasi ditujukan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Kapuas
Gurendro Putro dan Septa Agung Kurniawan

13

19

24

LESSONS LEARNED
6.

MENEMUKAN SISI POSITIF DI BALIK BUDAYA EWUH PAKEWUH


Rekomendasi ditujukan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul
Lusi Kristiana

7.

KESATUAN GEOGRAFIS, SOSIAL DAN RELIGI UNTUK KESEHATAN


GIANYAR
Rekomendasi ditujukan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Gianyar
Setia Pranata dan Septa Agung Kurniawan

iv

30

36

PELUANG KEMITRAAN
TENAGA KESEHATAN DAN DUKUN MARAPU
DALAM MEMBERANTAS TB
Upaya Pengendalian TB di Desa Watu Hadang Kabupaten Sumba
Timur
(Berdasar Riset Etnografi Kesehatan Tahun 2014)

Rekomendasi ditujukan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Sumba Timur


Disusun oleh: Lestari Handayani dan Santi Dwiningsih

RINGKASAN EKSEKUTIF
Suku Sumba di desa Watu Hadang percaya bahwa penyakit yang mereka
derita, apung, bersumber dari Ngilu atau angin yang terjadi akibat campur
tangan Marapu leluhur mereka. Apung dikenal sebagaI penyakit dengan
ciri gejala atau keluhan yang sama dengan Tuberkulosis (TB paru). Kasus
TB banyak dijumpai dan keberadaan penyakit TB sukar diberantas karena
kepercayaan Marapu menyatakan bahwa Apung tidak dapat disembuhkan
dengan cara medis dan hanya sembuh dengan ritual Marapu. Berdasar hal
tersebut direkomendasikan agar Dukun Marapu dijadikan sebagai mitra
dalam pengobatan Apung atau TB. Pengobatan TB secara medis
disandingkan dengan pengobatan oleh dukun dengan melakukan ritual.
Upaya ini diharapkan mampu melancarkan strategi Directly Observed
Treatment, Short-course (DOTS) sebagai upaya Kementerian Kesehatan
mengendalikan tuberkulosis.

PENGANTAR
Tuberkulosis atau TB merupakan penyakit rakyat yang menyebabkan banyak
kematian diantara penyakit infeksi lainnya. Tahun 2013, diperkirakan 9,0 juta
orang menderita TB dan 1,5 juta meninggal akibat TB dan diantaranya 360 000
menderita HIV-positive (WHO, 2014). Prevalensi TB paru menurut Riset Kesehatan
Dasar (Riskesdas) 2013 sebesar 0,4% tidak jauh berbeda dengan kondisi tahun

2007. Menurut WHO pada tahun 2013 prevalensi TB di Indonesia 680, dengan 64
kematian dan 3,9 kematian akibat TB dengan HIV-positip (WHO, 2014). Ranking
Indonesia turun dari peringkat 3 menjadi
peringkat kelima negara dengan beban TB
tertinggi di dunia (WHO, 2010)
Strategi DOTS ada lima
TB dapat disembuhkan dengan pengobatan
komponen dan salah
jangka pendek melalui strategi Directly
satunya terkait adalah
Observed Treatment, Short-course DOTS
cara pengobatan
yaitu
pengawasan
secara
langsung
pengobatan jangka pendek (Permatasari A.,
standard selama 6 8
2005). Strategi DOTS ada lima komponen
bulan untuk semua
dan salah satunya terkait adalah cara
kasus tuberkulosis
pengobatan standard selama 6 8 bulan
untuk semua kasus tuberkulosis dengan
dengan pemeriksaan
pemeriksaan sputum positif, dengan
sputum positif, dengan
pengawasan pengobatan secara langsung,
pengawasan
untuk sekurang-kurangnya dua bulan
pertama (Kementerian Kesehatan RI., 2011).
pengobatan secara
Program pengendalian TBC Indonesia
langsung, untuk
melaporkan pencapaian target yaitu 228
sekurang-kurangnya
pada tahun 2009 Telah terjadi penurunan
kasus dari 343 kejadian tuberkulosis (seluruh
dua bulan pertama
kasus/100.000 penduduk/tahun) pada tahun
1990 menjadi 228 pada tahun 2009.
(Kementerian Kesehatan, 2011). WHO menyatakan bahwa pada tahu 2013, ratarata 86% pengobatan TB sukses untuk semua jenis kasus (WHO, 2014).
Kenyataan tersebut tampaknya tidak dapat diberlakukan secara merata di seluruh
tempat di Indonesia. Penyebaran penduduk Indonesai yang sangat luas denga
lebih 1000 etnis telah memberikan variasi dalam upaya penerapan program
termasuk program TB. Kegagalan penyembuhan secara total menyebabkan
sumber penularan terus ada di lingkungan keluarga dan masyarakat sekitarnya.
Kegagalan pengobatan TB terkendala karena berbagai faktor, diantaranya adalah
kepercayaan terhadap penyebab penyakit seperti yang terjadi di suku Sumba yang
tinggal di di desa Watu Hadang - Kecamatan Umalulu - Kabupaten Sumba Timur.
Kunjungan rawat jalan di puskesmas Umalulu menunjukan bahwa kasus TBC pada
tahun 2012 menduduki peringkat 4 (empat) terbanyak dengan jumlah kasus 27.
Dijumpai banyak keluhan ngilu apung di masyarakat yang ditengarai adalah TB
paru karena memiliki gejala yang mirip. Masyarakat percaya hanya Dukun Marapu
yang mampu menyembuhkan apung, sehingga mereka tidak mau berobat ke
tenaga medis.

Bagaimana masyarakat suku Sumba memaknai ngilu apung? Bagaimana cara


mensukseskan pengobatan DOTS dengan memberdayakan kearifan lokal??
Pendekatan etnografi diharapkan membantu memahami nilai dan kepercayaan
dibalik suatu praktek pengobatan di Suku Sumba. Melalui pendekatan ini
diharapkan mampu memahami perilaku budaya yang terjadi dan nilai-nilai yang
berkembang di masyarakat sehingga dapat disusun suatu intervensi dengan
mempertimbangkan kearifan lokal.

METODE
Penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi dilakukan untuk memahami
kepercayaan dan nilai-nilai budaya yang ada di suku Sumba terkait pencarian
pengobatan khususnya untuk pengobatan Apung. Lokasi penelitian di desa Watu
Hadang Kecamatan Umalulu - Kabupaten Sumba Timur dengan pertimbangan
Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) rendah. Dua orang peneliti
dengan latar belakang kesehatan dan antropologi dibantu peneliti dari penduduk
lokal, diterjunkan ke desa Watu Hadang selama 59 hari bulan pada sekitar JuniAgustus 2014. Mereka tinggal dan berbaur dengan penduduk untuk belajar dari
masyarakat tentang kesehatan dari sudut pandang masyarakat (emik). Mereka
mengamati dan menggali informasi yang dibutuhkan agar dapat menangkap akar
masalah terkait sosial budaya dan nilai yang berkembang di masyarakat. Peneliti
sebagai instrumen penelitian menjadi kekuatan sekaligus kelemahan dari studi ini
mengingat mereka bukan warga setempat dengan waktu yang terbatas harus
mempelajari fenomena yang dipelajari.

HASIL
Lokasi yang diteliti adalah pusat kerjaan
Melolo. Masyarakat di lokasi penelitian
masih memelihara adat dan budaya asli
masyarakat Sumba yaitu budaya Marapu.
Mereka mengenal garis ketururnan ayah
atau patrilineal. Hampir di seluruh Sumba
dikenal 3 stratifikasi sosial, Maramba
(bangsawan), Kabihu (orang merdeka) dan
terendah Ata (budak). Seringkali ditemui
dalam keluarga Maramba, mereka memilki
beberapa orang Ata tinggal bersama mereka
sebagai
asisten
keluarga.
Maramba

Masyarakat Desa Watu


Hadang percaya bahwa
penyakit kampung yang
mereka derita bersumber
dari angin atau Ngilu yang
terjadi akibat campur
tangan Marapu leluhur
mereka.

umumnya memiliki status sosial ekonomi lebih baik dan dalam pencarian
pengobatan umumnya pergi ke dokter meskipun beberapa masih tetap melakukan
ritual marapu.
Masyarakat Desa Watu Hadang percaya bahwa penyakit kampung yang mereka
derita bersumber dari angin atau ngilu yang terjadi akibat campur tangan Marapu
leluhur mereka. Tuhan menciptakan ngilu atau angin dan Marapu diberi kuasa
oleh Tuhan untuk menentukan siapa yang akan mendapat ngilu atau dilindungi
dari ngilu. Keberadaan dukun sangat penting karena selain sebagai penyembuh,
dukun sebagai orang yang dituakan juga sebagai penasehat spiritual, menentukan
apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Dukun marapu memiliki keistimewaan.
Mereka adalah perantara antara marapu atau leluhur, dan mampu membaca
pesan marapu kepada manusia yang disampaikan melalui tanda-tanda yang
dibaca dari tali perut (usus) atau hewan persembahan. Jasa dukun dibayar
dengan hewan, karena itu masyarakat banyak memelihara hewan sebagai investasi
adat. Hewan tsb jarang dikonsumsi tapi digunakan untuk membayar biaya adat.
Banyak ritual masih dilakukan dan hampir setiap aktivitas diiringi ritual.
Hamayangu merupakan ritual/doa agama Marapu, dilakukan bersama
persembahan berupa hewan kurban. Ada sangsi bila tidak melakukan ritual dan
marapu akan marah. Hamayangu berperan besar dalam pengobatan, karena itu
mereka umumnya melakukan melalui dukun. Selanjutnya pada saat sakit, mereka
mendatangi dukun untuk mendapat petunjuk dari marapu dengan perantara
dukun. Berdasar pesan marapu, dukun bisa menyarankan seseorang berobat ke
dukun atau ke medis. Malaria adalah salah satu penyakit diterima sebagai penyakit
yang dapat diobati secara medis sehingga dukun marapu akan menyarankan
penderita panas menggigil agar berobat ke medis. Mereka juga akan menyarankan
seseorang ke petugas kesehatan untuk keperluan promotif dan preventif seperti
imunisasi.
Ada satu jenis ngilu yang
dipercaya sebagai buah dari
keburukan hati yang penuh
dendam adalah ngilu apung.
Apung dikenal sebagaI penyakit
dengan ciri gejala atau keluhan
yang sama dengan Tuberkulosis
(TBC). Apung dipercaya tidak
dapat disembuhkan dengan cara
medis dan hanya sembuh
dengan ritual Marapu oleh
dukun Marapu. Kasus TBC banyak dijumpai di wilayah puskesmas Umalulu
berdasar diagnosa petugas kesehatan. Keberadaan penyakit TBC sukar diberantas
karena masyarakat tidak mau mengobatkan keluhannya ke tenaga medis meskipun

akses ke puskesmas cukup mudah. Ditinjau dari biaya pengobatan, TB memiliki


program khusus DOTS sehingga ketersediaan obat secara berkelanjutan dan gratis
disediakan seluruhnya oleh pemerintah.
Penderita apung banyak dari golongan ata. Mereka umumnya berpendidikan
rendah rata-rata lulus SD dan sosial ekonomi tergolong rendah. Akses informasi
kurang (televisi, smart phone), namun akses transportasi mudah. Puskesmas maju
di kota kecamatan sukup maju dengan akses mudah ke faskes dan ada puskesmas
pembantu di desa. Hasil wawancara menunjukkan bahwa petugas kesehatan yang
merupaka pendatang, banyak tidak tidak paham dengan budaya, kepercayaan dan
ritual masyarakat suku Sumba. Mereka juga menerima petugas kesehatan
melakukan kunjungan rumah untuk mengambil sampel dahak, namun tidak
memberi obat.

KESIMPULAN
Apung atau TB Paru cukup banyak dijumpai di masyarakat suku Sumba di desa
Watu Hadang dan dianggap sebagai penyakit yang disebabkan oleh ngilu atau
angin yang terjadi akibat campur tangan Marapu atau leluhur. Penyembuhan
penyakit ini dipercaya hanya bisa dilakukan oleh dukun Marapu melalui ritual
dengan persembahan hewan kurban. Mereka tidak menolak pengobatan medis
namun cara pengobatan yang menentukan adalah dukun Marapu. Tingkat sosial
ekonomi penderita apung umumnya rendah dan dari golongan strata ata (budak).
Akses ke puskesmas dan puskesmas pembantu cukup mudah, namun petugas yang
pendatang dari suku lain, kurang memahami budaya dan keyakinan masyarakat
setempat tentang ngilu apung atau TB paru.

IMPLIKASI DAN REKOMENDASI


TB paru dapat diobat dengan strategi DOTS bila dilakukan sesuai standar
pengobatan. Penyakit TB atau dikenal sebagai apung menjadi sulit diobati karena
masyarakat menganggap pengobatan medis tidak sesuai untuk pengobatan
keluhan apung. Kondisi ini dapat berakibat peningkatan kasus TB karena penularan
TB terus berlangsung dari penderita yang tidak diobati.
Tenaga kesehatan diharapkan lebih peduli dan mempelajari budaya yang
berlangsung di masyarakat agar mampu memahami makna dibalik perilaku
masyarakat. Dukun sebagai penentu pencarian pengobatan menjadi tokoh kunci
atau agen untuk melakukan perubahan perilaku. Peningkatan pengetahuan dukun
tentang penyakit TB dan pengobatannya menjadi salah satu cara agar dukun bisa

diajak kerjasama menganjurkan penderita apung berobat ke tenaga kesehatan


selain melakukan ritual dengan dukun.
Daftar Pustaka
Kementerian Kesehatan RI. 2011. Terobosan Menuju Akses Universal. Strategi Nasional
Pengendalian TB di Indonesia 2010-2014. Jakarta: Direktorat Jenderal Pengendalian
Penyakit dan Penyehatan Lingkungan.
Permatasari A. 2005. Pengobatan TB Paru dan Strategi Dots. e-USU Repository 2005 Universitas
Sumatera Utara.
WHO.2010. Global Tuberculosis Report 2010.
WHO.2014. Global Tuberculosis Report 2014.

Hasil riset secara menyeluruh bisa didapatkan pada buku

Belenggu Apung
Bisa diunduh pada tautan berikut:
https://www.scribd.com/doc/261679656/Belenggu-Apung-RisetEthnografi-Kesehatan-2014-Sumba-Timur

Info lebih lanjut bisa menghubungi


Lestari Handayani;
HP. 08165434259
Email lestarimail@yahoo.com.sg

MEMBANGUN KEMITRAAN
SIKEREI DAN TENAGA KESEHATAN
Upaya Pencegahan ISPA dan Deteksi Dini Penumonia
(Berdasar Riset Etnografi Kesehatan Tahun 2014)

Rekomendasi ditujukan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Mentawai


Disusun oleh: Wahyu Dwi Astuti dan M. Gullit Agung

RINGKASAN EKSEKUTIF
Policy Brief dengan pendekatan berbasis etnografi ini bertujuan untuk
mendapatkan gambaran Suku Mentawai secara holistik terhadap
kesehatan. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan manfaat dalam
membangun solusi penyelesaian masalah berbasis budaya dan kearifan
lokal.

PENGANTAR
Desa Mandobag adalah salah satu desa yang terletak di Kecamatan Siberut
Selatan, Kabupaten Mentawai. Mayoritas penduduknya adalah etnis Mentawai
yang erat dengan religi arat sabulungan dengan nilai-nilai tradisional masih
dipegang erat oleh etnis ini. Desa Madobag memiliki 3 dusun dan 4 Poskesdes
yang masing-masing memiliki 1 orang
bidan dan 1 orang perawat. Ironisnya.
Sikerei di desa Mandobag
Desa
Mandobag
merupakan
penyumbang terbesar kasus kematian
adalah anggota etnik yang
bayi, yaitu 4 kasus kematian bayi dari 8
mempunyai kelebihan
kasus kematian bayi di kecamatan
dalam mengobati
Siberut Selatan (data Puskesmas Siberut
Selatan, tahun 2013). Penyebab
penyakit. Selain itu
kematian 2 bayi adalah pneumonia,
dipercaya sebagai orang
sedangkan dua bayi lainnya tidak
yang dapat menjembatani
diketahui penyebabnya.

antara dunia roh-roh


dengan dunia nyata.

Desa Mendobag merupakan desa yang


dikelilingi oleh perbukitan berhutan
lebat, dengan ketinggian 500 meter di

atas permukaan laut. Jumlah penduduk menurut RPJM desa Mandobag tahun
2011-2015 adalah 2.447 jiwa, terbagi atas laki-laki 1246 jiwa dan perempuan 1201
jiwa. Tingkat pendidikan sebagian besar penduduk pada tingkat SD, dan sebagian
kecil mengeyam pendidikan SLTP, SLTA, dan perguruan tinggi. Umumnya
perkampungan penduduk terletak kearah pedalaman, sepanjang sungai pada area
yang relatif datar, tetapi tidak terjangkau oleh banjir.
Sikerei di desa Mandobag adalah anggota etnik yang mempunyai kelebihan dalam
mengobati penyakit. Selain itu dipercaya sebagai orang yang dapat menjembatani
antara dunia roh-roh dengan dunia nyata.

METODE
Penelitian ini merupakan penelitian etnografi yang dilakukan di Suku Mentawai
yang berada di Desa Madobag, Kecamatan siberut Selatan, Kabupaten Mentawai.
Dilakukan oleh tiga orang peneliti (2 antropolog dan 1 kesehatan) selama 60 hari
tinggal bersama masyarakat Suku Mentawai. Pendekatan etnografi bertujuan
untuk mendapatkan gambaran Suku Mentawai secara holistik terhadap kesehatan.

HASIL
Desa Madobag merupakan desa yang letaknya sekitar 35 km Kecamatan Siberut
Selatan. Dari Kecamatan Siberut Selatan
bisa ditempuh 5 hingga 6 jam menggunakan
ketinting bermesin 4 PK menelusuri sungai,
Sikerei adalah orang
selain itu juga bisa melalui jalan setapak
yang memegang erat
dengan waktu yang kurang lebih sama. Di
desa belum ada listrik begitu juga dengan
religi Arat Sabulungan
jaringan komunikasi. Penduduk Desa
dan merupakan
Madobag adalah Suku Mentawai yang
anggota suku yang
memiliki kepercayaan yang disebut arat
sabulungan. Kepercayaan arat sabulungan
dipercaya memiiliki
lebih tepat disebut sebagai kepercayaan
kemampuan
yang memberi sesuatu kepada kumpulan
menghubungkan dunia sesuatu yang harus diberi persembahan,
dunia roh-roh yang ada di alam semesta
nyata dengan dunia
seperti pohon, daun, batu dan lain
roh-roh.
sebagainya. Sikerei adalah orang yang
memegang erat religi Arat Sabulungan dan

merupakan anggota suku yang dipercaya


memiiliki kemampuan menghubungkan
dunia nyata dengan dunia roh-roh.
Selain itu, sikerei juga memiliki kemampuan
dalam penyembuhan penyakit, baik itu
penyakit medis atau penyakit magis dan
penghubung antara manusia dengan yang
gaib. Seorang Sikerei dalam sebuah suku
juga bisa menjadi kepala suku diantara
sikerei-sikerei lain yang ada di dalam sebuah
suku.

Selain itu, Sikerei juga


memiliki kemampuan
dalam penyembuhan
penyakit, baik itu
penyakit medis atau
penyakit magis dan
penghubung antara
manusia dengan yang
gaib

Suku Mentawai di Desa Madobag terbagi


lagi kedalam sub suku yang dalam istilah
lokal disebut dengan suku. Suku-suku yang
ada di Desa Madobag antara lain adalah Suku Sabbagalet, Sabeulelu, Sagorojou,
Samaupopo, Sakaleu, Tasiritoited, Sakukuret, Sapojai, Samalangguak,
Samapoupou, Sakakaddut, Samalaingin, Sapoiloat, Sambannuat, Saluplup,
Soumanuk, Sanambaleu, Saruruk, Sapumaijat, Sabetliake, Sapojai, Sajijilat, Sapola,
Salalatek, Tasirikeru, Sabirarak, Samoandoat, Samoanoat, Samoan Tinunggulu,
Sakakaddut, Samalaibibi, Mendropa, Sakekle, Sakoikoi, Samanggeak, Sakulo,
Salakoba, Sailulune, Saguruejue, Saibuklo, Sautdenu, Samalelet, Siriguruak,
Sarotdog, Samaggea, Sapojai, Sabailakkek dan Saroromanggea. Seorang Sikerei
kepala suku tinggal di sebuah Uma, yaitu rumah adat yang dimiliki oleh setiap suku
yang berfungsi untuk melakukan acara yang berkaitan dengan adat Suku Mentawai
seperti berkumpulnya anggota suku ketika ada suatu musyawarah, ibadah dan
juga punen atau pesta.
Di Desa Madobag terdapat 4 Poskesdes yang di masing-masing Poskesdes terdapat
2 tenaga kesehatan (1 bidan, 1 perawat). Ironisnya, di desa ini masih terjadi 4
kematian bayi pada tahun 2013. Berdasarkan data yang diperoleh dari Puskesmas
Siberut Selatan 2 dari kematian bayi tersebut disebabkan karena Pneumoni.

KESIMPULAN
Suku Mentawai yang mendiami Desa Madobag terbagi menjadi banyak suku,
dimana setiap suku tersebut dipimpin oleh kepala suku yang mendiami sebuah
Uma. Kepala suku biasanya juga seorang Sikerei atau dukun pengobat yang
mempunyai pengaruh besar bagi kehidupan masyarakat Suku Mentawai.
Berdasarkan temuan data di Desa Madobag terdapat 4 kasus kematian bayi
dimana kedua dari kematian itu disebabkan karena pneumoni. Hal tersebut sangat

disayangkan karena di Madobag terdapat 4 fasilitas kesehatan berupa Poskesdes,


yang masing-masing terdapat 2 tenaga kesehatan yang terdiri dari 1 bidan dan 1
perawat. Sikerei sebagai dukun pengobat dan sebagai kepala suku merupakan
orang yang berpengaruh di kehidupan Suku Mentawai, hal tersebut bisa dijadikan
mitra bagi petugas kesehatan setempat untuk melakukan deteksi dini terkait
penyakit tersebut dan melakukan tindakan preventif.

IMPLIKASI DAN REKOMENDASI


Terdapat 4 kasus kematian bayi di Suku Mentawai, Desa Madobag yang
disebabkan karena pneumonia. Kondisi ini ironis jika dibandingkan dengan 4
Poskesdes yang ada di desa dengan 2 tenaga kesehatan di masing-masing
Poskesdes tersebut. Oleh karena itu perlu dibentuk kebijakan baru yang berbasis
budaya lokal oleh dinas kesehatan.
Religi Arat Sabulungan adalah religi asli Suku Mentawai dan berkaitan erat dengan
seorang Sikerei. Sikerei adalah orang yang dukun pengobat, orang yang memiliki
pengaruh di dalam kehidupan Suku
Mentawai. Pengaruh yang dimiliki oleh
seorang kepala suku dan sikerei diharapkan
Pengaruh yang dimiliki
bisa dimanfaatkan oleh petugas kesehatan
oleh seorang kepala
untuk menjalin hubungan kemitraan guna
melakukan deteksi dini penyakit ISPA dan
suku dan sikerei
Pneumonia di masing-masing suku dan
diharapkan bisa
menurunkan penyakit ISPA dan Pneumonia,
dimanfaatkan oleh
sehingga bisa menekan jumlah kematian
bayi di Desa Madobag.
petugas kesehatan
Bentuk kemitraan ini dengan melibatkan
untuk menjalin
sikerei sebagai seorang tokoh masyarakat
hubungan kemitraan
agar bisa menjalin hubungan baik dengan
guna melakukan deteksi
petugas kesehatan terlebih dahulu yang
nantinya tugas dan kewajibannya akan
dini penyakit
dijelaskan dan dibuat kesepakatan antara
sikerei dan petugas kesehatan. Program
kemitraan bisa dibagi menjadi dua, yaitu jangka pendek dan juga jangka panjang.
Program kemitraan jangka pendeknya diadakan pembagian ranah pengobatan
antara sikerei dan tenaga kesehatan, dimana sikerei mengobati jenis penyakit
magis sedang petugas kesehatan menangani penyakit medis. Kepala suku dan
sikerei bertugas menjembatani antara tenaga kesehatan dengan anggota suku
dalam deteksi dini ISPA dan Pneumonia. Kepala suku dan sikerei membuat
peraturan untuk anggota suku agar melaporkan jika ada yang sakit kepada kepala

10

suku dan kepala suku meneruskan informasi tersebut ke petugas kesehatan.


Program jangka panjangnya adalah membuat peraturan tertulis disertai denda.
Selain itu juga membuat rumah sehat berbasis budaya lokal.
Teknis pemberian pengarahan kepada Sikerei dalam program kemitraan ini
menggunakan media visual berupa film atau foto mengingat kebanyakan sikerei
yang ada di Desa Madobag pendidikan formalnya bisa dibilang masih rendah.
Kemudian setelah itu sikerei dan tenaga kesehatan membuat kesepakatan
hubungan kemitraan yang disaksikan oleh pihak dinas, puskesmas, Camat, jajaran
kepolisian dan kodim yang bertugas di Kecamatan Siberut Selatan agar legalitasnya
diakui.

NOTA KESEPAKATAN

CAMAT, POLISI,
KODIM

PUSKESMAS

KESEPAKATAN

NAKES POSKESDES

KEPALA
SUKU/SIKEREI
KEMITRAAN

PERUBAHAN
PERILAKU

Daftar Pustaka
Badan Pusat Statistik, 2013. Kecamatan Siberut Selatan Dalam Angka Tahun 2013
Dinas Kesehatan kabupaten Mentawai. 2013. Profil Kesehatan Kabupaten Kepulauan Mentawai.
Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Mentawai.
Gullit. M. Agung W., Eni Purwaningsih,Lucky Zamzami,Sugeng Rahanto, 2014. Turuk Sikerei.
Lembaga Penerbit Balitbangkes
P2PL Dinas Kesehatan Kabu
Puskesmas Muara Siberut, 2013. Laporan Tahunan Puskesmas Muara Siberut Tahun 2013

11

Hasil riset secara menyeluruh bisa didapatkan pada buku

Turuk Sikerei
Bisa diunduh pada tautan berikut:
https://www.scribd.com/doc/261679656/Belenggu-Apung-RisetEthnografi-Kesehatan-2014-Sumba-Timur

Info lebih lanjut bisa menghubungi


Wahyu Dwi Astuti;
HP. 0811378684
Email drwahyu@yahoo.com

12

ATURAN ADAT SASI PEMAKAIAN KONDOM


Upaya Memutus Penularan Penyakit Infeksi Menular Seksual di
Benjina
(Berdasar Riset Etnografi Kesehatan Tahun 2015)

Rekomendasi ditujukan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Aru


Disusun oleh: Lestari Handayani dan Santi Dwiningsih

RINGKASAN EKSEKUTIF
Bisnis prostitusi di Benjina memberi hasil yang menguntungkan, dan
menghidupi masyarakat sekitar. Para ABK kapal asing dan para pekerja
laki-laki di perusahaan pengelolaan ikan menjadi konsumen tetap para
Wanita Pekerja Seks (WPS) penghuni rumah karaoke di pulau terpencil
tersebut. Penduduk multi etnis mendominasi suku asli Aru, bersikap
permisif terhadap keadaan ini. Perilaku berisiko berupa hubungan seks
dengan WPS meningkatkan kasus IMS dan HIV/AIDs hingga meluas tidak
hanya pada penghuni dan pelanggan di lokasi prostitusi tetapi juga ke
warga sekitar termasuk para perempuan/isteri dan anak. Kearifan lokal
sasi dengan sangsi denda merupakan adat yang masih dilaksanakan,
dapat direkomendasikan untuk digunakan sebagai media agar pelanggan
WPS dan laki-laki setempat mau menggunakan kondom. Penggunaan
kondom sebagai upaya pencegahan sangat penting dilakukan mengingat
dampak IMS serta HIV/AIDs sangat merugikan.

PENGANTAR
Manusia adalah makhluk sosial dan dalam kehidupan membutuhkan pasangan
lawan jenis untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Pernikahan merupakan
wadah untuk melegalkan hubungan seksual antara pasangan (Collin, R.1985).
Hubungan seksual ternyata tidak selalu dilakukan hanya dengan pasangan resmi.
Beberapa lelaki melakukan hubungan seksual dengan perempuan bukan
pasangannya dengan berbagai alasan antara lain dengan Wanita Pekerja Seks
(WPS). Hal ini menimbulkan resiko kesehatan berupa penyakit Infeksi Menular
Seksual (IMS) (Kementerian Kesehatan RI. 2011).

13

Perilaku seks yang dilakukan di dunia


prostitusi sangat beresiko terhadap
Selain dampak langsung
penularan penyakit penyakit infeksi
Menular Seksual (IMS). Resiko itu sebagian
kepada pelaku baik
sudah diketahui dan disadari WPS sebagai
WPS maupun
resiko pekerjaan. Berbagai upaya dilakukan
pelanggan, penularan
Kementerian Kesehatan dalam pencegahan
IMS karena dampaknya sangat luas. Selain
IMS kepada wanita
dampak langsung kepada pelaku baik WPS
hamil juga dapat
maupun pelanggan, penularan IMS kepada
berdampak kepada
wanita hamil juga dapat berdampak kepada
janin yang dikandung dan bayi yang
janin yang dikandung
dilahirkan. Sifilis pada wanita hamil yang
dan bayi yang
tidak diobati, 25% menyebabkan bayi lahir
dilahirkan
mati (25%) dan 14% kematian neonatal.
Infeksi gonokokal dapat menyebabkan
aborsi spontan dan kelahiran prematur, dan
kematian perinatal serta infeksi mata serius. HIV/AIDS diketahui menyebabkan
kesakitan dan kematian yang tinggi (Kementerian Kesehatan RI. 2011)
Nama Benjina yang terletak di satu pulau di kepulauan Aru, sangat terkenal karena
produksi ikan dan kehidupan prostitusinya. Seks sudah menjadi industri di Benjina.
Masyarakat Benjina bersikap permisif terhadap keberadaan rumah karaoke alias
lokasi prostitusi. Padahal, hubungan seksual tidak aman dengan penjaja seks
menimbulkan resiko penularan IMS. Kondisi masyarakat dengan dampak penyakit
IMS tinggi: apakah dibiarkan saja?

METODE
Penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi dilakukan untuk menguak
pemahaman masyarakat baik pelaku (WPS dan pelanggan), pengelola rumah
karaoke maupun masyarakat sekitar lokasi prostitusi dan masyarakat umum
lainnya. Lokasi penelitian di desa Benjina - Kecamatan Aru Tengah - Kabupaten
Kepulauan Aru. Dua orang peneliti dengan latar belakang kesehatan dan
antropologi dibantu peneliti dari penduduk lokal, diterjunkan ke desa Benjina
selama 32 hari pada bulan Mei-Juni 2015. Mereka tinggal dan berbaur dengan
penduduk yang mereka amati dan menggali informasi yang dibutuhkan agar dapat
menangkap akar masalah terkait sosial budaya dan nilai yang berkembang di
masyarakat Benjina. Peneliti sebagai instrumen penelitian menjadi kekuatan
sekaligus kelemahan dari studi ini mengingat mereka bukan warga setempat.

14

Keterbatas waktu penelitian mempengaruhi


fenomena yang diamati.

pemahaman peneliti tentang

HASIL
Masyarakat Benjina terdiri dari multi etnis. Penduduk lokal adalah suku Aru yang
jumlahnya tergolong minoritas bila dibandingkan dengan keseluruhan etnis yang
ada di Benjina. Sebagian besar warga adalah pendatang baik dari suku bangsa
Maluku (Ternate, Tanimbar, Tepa, Kei, Ambon dll) juga pendatang dari suku Jawa,
Bugis, Makasar, Buton, Madura, Batak, Tionghoa, dll. Desa Benjina berada di satu
pulau dan terbagi menjadi dua dusun dikelilingi laut yang kaya akan hasil ikan dan
produk laut lainnya. Sebagian besar penduduk bermata pencarian sebagai nelayan.
Sebagian lain bekerja sebagai karyawan di perusahaan pengelolaan hasil
tangkapan laut.

Benjina memiliki pelabuhan kecil, tempat mangkal perahu dan kapal motor kecil
(speed boat) yang hilir mudik mengambil hasil laut. Pelabuhan tersebut juga ramai
oleh ABK asing dan pekerja perusahaan yang datang dan pergi naik kapal klotok
atau speed boat ke lokasi prostitusi di rumah karaoke sepanjang pantai Benjina.
Tidak jauh dari Pelabuhan Benjina, berdiri pabrik pengolahan hasil laut milik
sebuah perusahaan dalam negeri yang mempekerjakan ribuan orang. Pekerja yang
umumnya laki-laki tinggal dan bekerja dan sebagian tidak disertai keluarga (isteri
dan anak).
Terdapat pelabuhan besar milik perusahaan tempat bersandar kapal-kapal besar
memuat hasil laut dan olahan pabrik untuk dibawa keluar Benjina. Kapal-kapal
asing datang dan pergi dengan Anak Buah Kapal (ABK) termasuk kapal dari

15

Thailand (terbanyak), Myanmar, Kamboja. Mereka hidup di sana sementara sambil


menunggu selesai bongkar muat barang. Ratusan ABK tinggal di lokasi perusahaan
atau di kapal. Kehidupan mereka yang
jarang pulang ke keluarga, mewarnai
perilaku dalam pemenuhan kebutuhan
Kehidupan di sekitar
seksual mereka.

Benjina diwarnai

Kehidupan di sekitar Benjina diwarnai


dengan kehidupan
dengan kehidupan prostitusi dengan
keberadaan rumah karaoke sebagai
prostitusi dengan
tempat kegiatan transaksi seks dan
keberadaan rumah
pelaksanaannya. WPS tinggal di rumah
karaoke sebagai
karaoke dan sebagian kecil berbaur tinggal
dengan masyarakat umum. Mereka yang
tempat kegiatan
tinggal di rumah karaoke memiliki tanda
transaksi seks dan
pengenal berupa kartu kuning yang
pelaksanaannya.
diterbitkan oleh polsek setempat setelah
didata oleh mucikari pengelola rumah
karaoke tempat mereka bekerja. Kebutuhan
biologis ABK dan para pekerja sebagian disalurkan melalui para WPS sehingga
kemudian terjadi penularan IMS di antara mereka. Suasana rumah karaoke berisi
gelak tawa WPS dan lelaki pelanggan, sesekali diwarnai dengan keberadaan anakanak kecil yang tampaknya - tidak canggung - bermain dan menghabiskan waktu
senggangnya di rumah karaoke.
Masyarakat sudah terbiasa dengan kondisi ini bahkan sebagian mereka hidup dari
hasil perdagangan atau menjual jasa di daerah ini. Bisnis seks di rumah karaoke
(lokalisasi) menjadi tumpuan penghasilan warga sekitar. Rumah karaoke yang
dikelola mujikari, WPS, dan pelanggan menjadi sumber perputaran ekonomi
masyarakat lokal sehingga mereka tidak terstigmatisasi secara negatif. Adat dan
agama dianggap bisa menerima keberadaan WPS dan perilaku seksual bebas
terbukti beberapa pemilik rumah karaoke ternyata berstatus sebagai tokoh agama
dan tokoh masyarakat.
Masalah kesehatan akibat prostitusi terlihat dari kasus yang dijumpai. Ditemukan 6
orang WPS pengidap/positip HIV/AIDs pada tahun 2014. Pada saat peneliti datang,
hanya tersisa 1 WPS kasus lama HIV/AIDs, diketahui 2 orang meninggal dan 3
orang tidak diketahui posisiny saat ini. Penggunaan kondom diakui WPS sangat
jarang. Pelanggan umumnya menolak menggunakan kondom pada saat melakukan
hubungan seksual. Meskipun WPS setuju penggunaan kondom, tetapi khusus
dengan pacar yang orang asing mereka tidak menggunakan kondom saat
bermain seks. Pelanggan mereka tidak hanya pekerja pabrik atau ABK asing,
sebagian penduduk setempat juga menjadi pelanggan mereka. Perilaku ini semakin

16

meningkatkan resiko penularan IMS diantara mereka dan dapat ditularkan ke isteri
yang ada di rumah.
Pemahaman tentang pentingnya penggunaan kondom sebagai upaya pencegahan
penularan IMS sudah mereka ketahui melalui penyuluhan dari Dinkes dan
Puskesmas. Kegiatan Dinkes cukup aktif berupa penyediaan kondom, pengambilan
sampel darah (terakhir dilakukan pada bulan Mei 2015) dan setiap tgl 25 dilakukan
pap smear oleh bidan Puskesmas yang diwajibkan bagi WPS dengan biaya sebesar
50 ribu 100 ribu. Kegiatan ini dilanjutkan dengan konseling dan pengobatan bila
dibutuhkan. Pencarian kasus juga dilakukan sebagai upaya deteksi dini kasus IMS.
Suku Aru sebagai suku asli
di
Benjina
memiliki
kearifan lokal berupa
sasi yaitu upaya untuk
melindungi sumberdaya
alam dan manusia melalui
ritual adat berupa tabu
atau sangsi adat/sosial
atau denda berupa uang
(dahulu berupa hewan
atau benda pusaka yang
dianggap berharga). Sasi
berpotensi untuk ditaati
karena adanya
denda.
Pelaku sasi tidak hanya suku Aru, tapi juga suku pendatang seperti Jawa. Ada
kepercayaan bila melanggar sasi akan mengalami kutukan, ada orang yang
menyatakan bahwa menerapkan sasi menyebabkan usaha lebih berhasil. Kearifan
lokal sasi berpotensi untuk dijadikan sarana intervensi untuk mengharuskan
pelanggan rumah karaoke memakai kondom saat melakukan hubungan seksual.
Penggunaan kondom oleh lelaki secara umum juga dapat dilakukan melalui
pendekatan dengan tokoh adat/masyarakat dan toko agama.

KESIMPULAN
Kehidupan prostitusi diterima masyarakat lokal dan menjadi sumber kehidupan
sebagian masyarakat di Benjina. Perilaku berisiko tersebut dapat berdampak
kepada peningkatan penularan dan kasus IMS termasuk HIV/AIDs pada masyarakat
Benjina khususnya yang berada di sekitar lokalisasi prostitusi (rumah karaoke).
Dampak penularan IMS berupa gejala akut, infeksi kronis dan konsekuensi serius
seperti infertilitas, kehamilan ektopik, kanker leher rahim dan kematian mendadak
bayi dan orang dewasa, masih belum disadari. Penggunaan kondom sebagai upaya

17

pencegahan penyakit IMS belum dilakukan. Terdapat kearifan lokal sasi yang
masih ditaati karena adanya denda adat.

IMPLIKASI DAN REKOMENDASI


Keberadaan rumah karaoke sebagai tempat berlangsungnya bisnis seks di Benjina
berisiko menyebabkan terjadinya penularan IMS di antara WPS dan pelanggan
serta kemungkinan meluas ke warga lokal dan ke rumah tangga. Dampak jangka
pendek dan jangka panjang kurang disadari oleh masyarakat berupa kejadian sakit
dan kematian serta kecacatan janin ataupun aborsi.
Adanya kearifan lokal berupa sasi yang sebenarnya ditujukan untuk
perlindungan sumber daya alam dan manusia dapat dijadikan media untuk
membujuk penggunaan kondom. Memanfaatkan sasi menggunakan kondom
diterapkan di rumah karaoke dengan melibatkan WPS sebagai penyampai
informasi dan pelanggan sebagai sasaran denda adat sasi. Penggunaan kondom
di masyarakat umum dapat dilakukan melalui agen perubahan tokoh adat atau
tokoh agama. Puskesmas merupakan leading sector yang menggerakkan
keterlibatan WPS dan tokoh masyarakat/adat dan agama sebagai agen perubahan.
Tenaga kesehatan meningkatkan pengetahuan dan kemampuan agen perubahan
tentang menyampaikan pesan pemakaian kondom kepada pelanggan dan para
lelaki.
Daftar Pustaka
Collin, R. (1985). Sociology of Marriage & The Family. Gender, Lover and Property. Chicago.
Kementerian Kesehatan RI. 2011. Pedoman Penanganan Infeksi Menular Seksual. Jakarta:
Direktorat Jenderal Pengendalian nyehatan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan

Info lebih lanjut bisa menghubungi


Lestari Handayani;
HP. 08165434259
Email lestarimail@yahoo.com.sg

18

SWAMEDIKASI AMAN
Modifikasi Perilaku Pencarian Pengobatan Suku Daya
(Berdasar Riset Etnografi Kesehatan Tahun 2015)

Rekomendasi ditujukan kepada


Dinas Kesehatan Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan
Disusun oleh: Lulut Kusumawati

RINGKASAN EKSEKUTIF
Riset berbasis budaya ini bertujuan untuk mengidentifikasi perilaku suku
Daya dalam mencari pengobatan selain ke pelayanan kesehatan formal.
Kebiasaan mengkonsumsi obat bebas tanpa aturan yang benar membawa
implikasi timbulnya penyakit baru yang serius serta bertambahnya
ketidakpercayaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan formal.
Adanya kelompok sakai sebagai wujud semangat gotong royong
masyarakat, kepatuhan masyarakat setempat pada Raden dan warisan
pengobatan tradisional yang minim risiko merupakan peluang yang bisa
dimanfaatkan untuk memodifikasi perilaku tersebut.

PENGANTAR
Pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan di daerah terpencil masih menjadi
masalah yang perlu disoroti dalam Indeks Pembanguan Kesehatan Masyarakat
(IPKM) 2013. Kecukupan jumlah dokter, bidan dan posyandu perjumlah penduduk
kecamatan menjadi salah satu indikator pelayanan kesehatan dalam IPKM 2013.
Berdasarkan IPKM 2013, Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan (OKUS) Sumatera
Selatan mempunyai indeks pelayanan kesehatan 0.1814, jauh lebih rendah dari
indeks nasional 0.4496, dan menempati peringkat 439 dari 497 kabupaten di
Indonesia. Hal ini mengindikasikan bahwa pelayanan kesehatan di Kabupaten
OKUS masih belum memenuhi standar pelayanan kesehatan secara nasional
(Balitbang Kemenkes RI, 2013).
Hasil Riskesdas 2013 menyebutkan bahwa sekitar 35,2% rumah tangga di
Indonesia menyimpan obat untuk pengobatan sendiri (swamedikasi). Jenis obat
yang tersering disimpan adalah obat keras dan antibiotik. Terdapat 81,9% rumah
tangga menyimpan obat keras dan antibiotik tanpa resep (Balitbang Kemenkes RI.,

19

2013). Hal ini menunjukkan pola penggunaan obat yang tidak rasional karena
sebaiknya obat tersebut harus diperoleh dengan resep dokter.
Perilaku masyarakat dalam mencari pelayanan kesehatan untuk mengobati
penyakit dengan tindakan mengobati sendiri, ke pengobatan tradisional atau
membeli obat-obat sendiri masih cukup tinggi. Pola pencarian kesehatan
masyarakat dipengaruhi oleh beberapa hal, di antaranya adalah persepsi
masyarakat terhadap kualitas pelayanan kesehatan (Wilkinson, 2001).
Bagaimanakah pola pencarian kesehatan masyarakat Kabupaten OKUS dengan
indeks pelayanan kesehatan yang belum memenuhi standar pelayanan kesehatan
nasional berdasarkan IPKM 2013?

METODE
Penelitian ini memakai metode pendekatan kualitatif berbasis etnografi untuk
mengidentifikasi permasalahan kesehatan yang ada dengan melakukan
pengamatan secara langsung terhadap masyarakat dan lingkungan di lokasi
penelitian. Dua peneliti (kesehatan dan antropolog) tinggal selama 35 hari (AprilMei 2015) bersama Suku Daya di Desa Padang Bindu Kecamatan Buay Runjung
Kabupaten OKUS Sumatera Selatan untuk memahami sudut pandang penduduk
asli yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat tersebut.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyusun kebijakan baru di bidang
kesehatan ibu pada tingkat kabupaten. Kebijakan baru yang dibuat berdasarkan
konteks budaya lokal dan nilai-nilai yang ada di masyarakat setempat.

HASIL
Desa Padang Bindu berupa perbukitan dan
gunung, berjarak 8 km dari di ibukota
kecamatan dan 30 km dari ibukota
kabupaten. Akses transportasi mudah
dengan desa serta 2 bidan praktek swasta.
Jumlah penduduk Desa padang Bindu adalah
1.712 orang, sehingga ratio jumlah bidan
perjumlah penduduk desa sudah terpenuhi
(1 bidan per 1.000 penduduk).
Peringkat pertama dari 10 penyakit
terbanyak menurut Puskesmas Buay
Runjung
adalah
rematik.
Hal
ini

20

Pengobatan sendiri (self


medication) menjadi
salah satu pilihan
favorit masyarakat
dengan cara membeli
obat anti rematik di
kalangan (pasar) ...

berhubungan dengan aktivitas masyarakat yang setiap hari harus berjalan kaki
selama 4 jam pulang pergi ke kebun kopi lewat jalan terjal dan curam. Pengobatan
sendiri (self medication) menjadi salah satu pilihan favorit masyarakat dengan cara
membeli obat anti rematik di kalangan (pasar) tanpa informasi pemakaian dan
dosis yang benar. Hal ini berisiko menimbulkan penyakit lain seperti nyeri lambung
dsb. Hal ini selaras dengan laporan Puskesmas Buay Runjung bahwa penyakit
nomor 2 terbanyak adalah gastritis.
Daftar 10 Penyakit Terbanyak di Puskesmas Buay Runjung Tahun 2014
Nama Penyakit

Jumlah

Rematoid

250

Gastritis

145

Hipertensi

140

Febris

105

ISPA

100

Penyakit Kulit

98

Penyakit Telinga

75

Diare

70

Suspek Malaria

38

Suspek Tifoid

30

Sumber :Profil Puskesmas Buay Runjung Tahun 2014

Masyarakat juga menggunakan pengobat tradisional jika dipercaya bahwa suatu


penyakit disebabkan oleh mahluk atau apabila telah melakukan pencarian
pengobatan medis namun penyakit tidak kunjung sembuh. Ketersediaan
pelayanan kesehatan yang sudah memadai tidak serta merta membuat masyarakat
memilih berobat ke tenaga kesehatan. Kurangnya kesadaran masyarakat untuk
memanfaatkan pelayanan kesehatan formal
karena dari segi kepraktisan untuk
mengobati diri sendiri, kepercayaan kalau
Ketersediaan pelayanan
penyebab sakit adalah hal gaib dan persepsi
kesehatan yang sudah
masyarakat yang kurang percaya terhadap
memadai tidak serta
tenaga kesehatan.
Masyarakat Suku Daya adalah masyarakat
yang senang gotong royong, ditandai
dengan adanya kelompok sakai untuk
mengerjakan pekerjaan kebun bersamasama. Mereka juga sangat menghormati
dan patuh pada Raden (Kepala Kampung).

21

merta membuat
masyarakat memilih
berobat ke tenaga
kesehatan.

Beberapa anggota masyarakat juga memiliki warisan ilmu pengobatan secara


turun temurun untuk mengobati penyakit, seperti urut, lungsog dan lain-lain.

KESIMPULAN
Ketersediaan pelayanan kesehatan dan tenaga kesehatan di desa tidak serta merta
membuat masyarakat mencari pengobatan ke Polindes atau Pustu. Masyarakat
memandang dari segi kepraktisan dan rasa kurang percaya pada kemampuan
tenaga kesehatan. Adanya kelompok sakai yang berasas gotong royong dan
kepatuhan masyarakat pada Raden bisa menjadi akses intervensi untuk masalah
tersebut.

IMPLIKASI DAN REKOMENDASI


Bila perilaku pencarian kesehatan Suku
Daya yang suka membeli obat sendiri untuk
sakit rematik masih berlanjut tanpa
intervensi, maka dikhawatirkan penyakit
akibat pemakaian obat anti rematik akan
makin banyak, seperti maag dan
perdarahan lambung. Badan POM RI juga
mengeluarkan
safety
alert
tentang
peningkatan risiko kardiovaskular pada
penggunaan jangka panjang obat anti
rematik (POM, 2015). Dampak lain jika
perilaku ini dibiarkan adalah makin
menurunnya kepercayaan masyarakat
terhadap pelayanan kesehatan formal.
Kebijakan dan hal baru perlu dilakukan oleh
Dinas
Kesehatan
untuk
mencegah
berlanjutnya hal ini. Beberapa rekomendasi
yang bisa diusulkan untuk Dinas Kesehatan
Kabupaten OKUS adalah:

Bila perilaku pencarian


kesehatan Suku Daya
yang suka membeli
obat sendiri untuk sakit
rematik masih berlanjut
tanpa intervensi, maka
dikhawatirkan penyakit
akibat pemakaian obat
anti rematik akan
makin banyak, seperti
maag dan perdarahan
lambung.

1. Pemanfaatan kelompok sakai untuk mentransfer pengetahuan kesehatan


khususnya pada ibu-ibu. Diharapkan ibu-ibu dapat menularkan
pengetahuannya kepada anggota keluarga yang lain.
2. Pendekatan kepada tokoh masyarakat (Raden dan Mbay).

22

3. Memodifikasi pengobatan tradisional yang tidak memberikan efek samping


yang serius.
a. Lungsog : terapi pemanasan dengan uap air pada bagian tubuh yang
terkena rematik. Harus dijelaskan sejauh mana pengobatan
tradisional ini masih bisa dipakai untuk mengobati.
b. Pijat atau urut.
Daftar Pustaka
Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan RI, 2013. Indeks Pembangunan
Kesehatan Masyarakat Tahun 2013. Jakarta; Balitang Kemenkes RI.
Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan RI, 2013. Riset Kesehatan Dasar
Tahun 2013. Jakarta; Balitbang Kemenkes RI.
Wilkinson D, 2001. Promotion of appropriate health service utilization in Cambodia. Briefing paper
untuk The MOH and WHO helath sector reform phase III project. Phnom Penh: WHO
Pengawas Obat dan Minuman, 2015. Safety Alert : Informasi untuk dokter, pembatasan dosis dan
kontra indikasi produk diklofenak terkait risiko kardiovaskular.

Info lebih lanjut bisa menghubungi


Lulut Kusumawati
HP. 081230203965
Email lulutkus@yahoo.com

23

PENGATURAN PENAMBANG EMAS DI ALIRAN


SUNGAI MUROI DAN PERILAKU MASYARAKAT
DAYAK DALAM MEMANFAATKAN AIR SUNGAI
UNTUK MINUM
(Berdasar Riset Etnografi Kesehatan Tahun 2014)

Rekomendasi ditujukan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Kapuas


Disusun oleh: Gurendro Putro dan Septa Agung Kurniawan

RINGKASAN EKSEKUTIF
Riset berbasis etnografi ini ditujukan untuk menyikapi mayoritas Suku
Dayak Ngaju di Desa Muroi Raya masih menggunakan air sungai yang tidak
direbus untuk air minum karena nilai bahwa air itu hidup. Merebus air
sama dengan membunuhnya, sehingga saran petugas kesehatan untuk
menyuruh merebus air selalu gagal. Mayoritas warga menggantungkan
penghasilan ekonomi mereka pada penambangan emas yang masih
menggunakan air raksa di aliran sungai yang dampak ke depannya bisa
mengakibatkan penyakit minamata pada sebagian besar warga karena air
tercemar mercuri. Menata kembali aliran air sungai sesuai fungsi dasarnya
diharapkan bisa mengurangi angka kematian dan meningkatkan status
kesehatan.

PENGANTAR
Angka kematian ibu dan bayi di Kabupaten Kapuas masih tergolong tinggi, data
Laporan Kematian Maternal dan Neonatal Kabupaten Kapuas pada tahun 2013
menunjukkan ada 10 kasus kematian ibu dan ada 49 kasus bayi lahir mati. Survei
Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) pernah melakukan penelitian antara
tahun 2007 sampai 2010. Hasil dari penelitian ini menyebutkan bahwa angka
Kematian Ibu (AKI) ada peningkatan dari 228 menjadi 359 per 100.000 kelahiran
hidup sedangkan Angka Kematian Bayi (AKB) mengalami penurunan dari 34
menjadi 32 per 1000 kelahiran hidup. Dari data ini menunjukkan ada peningkatan

24

pada Angka Kematian Ibu dan ada penurunan pada Angka Kematian Bayi.
Sementara Angka Kematian Ibu ( AKI) Indonesia tertinggi di ASEAN.
Kementerian kesehatan mempunyai harapan berdasar kesepakatan global MDGs
(Millenium Development Goals), diharapkan tahun 2015 AKI menjadi 102 per
100.000 kelahiran hidup dan AKB menjadi 23 per 1000 kelahiran hidup. Jika di
Kabupaten Kapuas terdapat 49 AKB per 6426 kelahiran hidup, angka ini terlihat
capaian MDGs bisa tercapai. Namun ketika peneliti mengambil satu desa sebagai
sampel wilayah penelitian di Desa Muroi Raya di data maternal dan neonatal
kabupaten hanya terdapat 1 kasus bayi meninggal dan 1 kasus ibu meninggal,
namun ketika peneliti bertanya dan wawancara dengan warga selama tahun 2013
ada 7 kasus kematian ibu dan bayi di Muroi. Dari satu desa saja, masih ada selisih
pencatatan yang berbeda sehingga ada kemungkinan jumlah kematian ibu dan
bayi sebenarnya lebih dari jumlah yang tercatat di Dinas Kesehatan Kabupaten.
Terlepas dari angka tersebut, mengapa kasus kematian ibu dan anak tinggi di
wilayah ini?

METODE
Melihat kelemahan data kuantitatif yang berupa angka-angka tersebut maka
penelitian ini menggunakan metode etnografi yang diharapkan bisa
menggambarkan faktor penyebab secara lebih detil dan mendalam. Penelitian
kuantitatif memang bisa menggambarkan data secara global tapi tidak bisa
melihat di kedalaman akar masalah yang ingin dibidik, sehingga menggunakan
metode etnografi dimana peneliti tinggal di lokasi penelitian selama 60 hari,
berbaur dengan masyarakat, mengamati dan sesekali melakukan wawancara
mendalam adalah metode yang dirasa tepat untuk mengungkap akar
permasalahan yang ada. Peneliti utama ada 2 orang (1 dari disiplin antropologi dan
1 dari disiplin kesehatan masyarakat) ditambah 1 peneliti daerah yang berasal dari
Kabupaten setempat yang memahami bahasa dan kultur setempat. Penelitian ini
dilaksanakan pada Bulan Mei-Juli 2014.
Analisis etnografis merupakan penyelidikan berbagai bagian itu sebagaimana yang
dikonseptualisasikan oleh informan. Sering kali di luar kesadaran mereka,
etnografer harus mempunyai cara untuk menemukan pengetahuan yang masih
terpendam ini. Untuk mengalisis tentang masalah kesehatan menggunakan
modifikasi teorinya H.L. Blum (1974) dan Koentjaraningrat (1979). Derajat
Kesehatan Masyarakat tidak saja ditentukan oleh adanya atau baiknya Pelayanan

25

Kesehatan saja tapi juga faktor lingkungan dan budaya masyarakat sangat
mempengaruhi termasuk teknologi dan 6 unsur budaya (mata pencaharian, religi,
bahasa, pengetahuan, organisasi sosial dan kesenian).
Posisi peneliti ada pada agen pemerintah untuk membantu mengurai
permasalahan yang ada dan mencari solusi dari permasalahan tersebut. Policy
brief ini ditujukan untuk Dinas Kesehatan Kabupaten Kapuas.

HASIL
Muroi Raya adalah sebuah desa di Kecamatan Mantangai Kabupaten Kapuas.
Desa Muroi Raya terletak di tepi Sungai Murui anak Sungai Kapuas. Desa ini terbagi
dalam 4 dusun yaitu: Dusun Pantar Kabali, Bukit Keramat, Tanjung Jaya, dan
Tapian Krahau. Mayoritas penduduk Pantar Kabali, Bukit Keramat, dan Tanjung
Jaya beragama Islam sedangkan Krahau penduduknya ada yang beragama
Kaharingan dan Kristen. Fokus penelitian ini ada di dua dusun yaitu Desa Pantar
Kabali yang mayoritas penduduknya beragama Islam dan Dusun Tapian Karahau
yang penduduknya mayoritas beragama Kaharingan dan Kristen.
Jarak yang jauh dengan Puskesmas Danau Rawah serta Puskesmas Pembantu yang
jarang ada petugas kesehatannya membuat
masyarakat miskin informasi tentang makna
kesehatan. Upaya pencarian kesehatan bagi
Upaya pencarian
mereka hanya didapat dari iklan-iklan tv
kesehatan bagi mereka yang tersalur melalui antene parabola.
hanya didapat dari
Sehingga obat-obatan warung menjadi
iklan-iklan tv yang
andalan mereka. Untuk ibu-ibu yang akan
tersalur melalui antene melahirkan juga masih banyak yang
memanfaatkan jasa Bidan Kampung (Orang
parabola. Sehingga
kampung yang terbiasa menolong ibu-ibu
obat-obatan warung
yang akan melahirkan). Baru jika mereka
menjadi andalan
merasakan sakit mereka tak kunjung
mereka.
sembuh dan mulai parah mereka baru
memeriksakan diri ke rumah sakit di
Palangkaraya atau Kapuas.
Ada satu petugas Puskesmas Keliling seorang perawat dari Puskesmas Danau
Rawah yang tiap 2 minggu sekali masuk ke desa ini untuk pemeriksaan dan
pengobatan. Jarangnya petugas berkunjung ke desa ini membuat pemberian obat

26

tidak bisa segera diberikan, dan jauhnya jarak Puskesmas sejauh 37 km dengan
jalur sungai membuat warga enggan berobat dan memilih berobat ke Sangiang
(Badewa) atau hanya membeli obat di warung. Ongkos perahu juga mahal
sehingga warga semakin enggan untuk berobat ke Puskesmas, hanya
mengandalkan Petugas Puskesmas keliling
yang tiap 2 minggu masuk ke dusun mereka.
Hal ini juga membuat pencatatan kasus
masih ada metode
sakit dan kematian kadang tidak terlapor ke
pengobatan danum
Puskesmas karena mereka tidak berobat ke
tawar air di dalam
Puskesmas.

gelas didoakan,

Warga Dayak Ngaju yang tinggal di Desa


sehingga diyakini
Muroi Raya mempunyai kepercayaan bahwa
mempunyai kekuatan
penyakit yang mereka derita lebih banyak
roh baik dan mampu
disebabkan karena gangguan roh jahat. Roh
jahat ini bisa diusir dengan mendatangkan
mengusir roh-roh jahat.
roh baik. Sangiang adalah ritual pengobatan
yang mendatangkan roh baik untuk
mengusir roh-roh jahat yang ada di tubuh pasien. Selain Sangiang, masih ada
metode pengobatan danum tawar (danum = air, tawar = penawar), air di dalam
gelas didoakan, sehingga diyakini mempunyai kekuatan roh baik dan mampu
mengusir roh-roh jahat. Air yang digunakan adalah air sungai dan kebanyakan
warga Dayak Ngaju di desa ini tidak merebus air sungai yang mereka minum
karena mereka percaya bahwa air itu hidup sehingga dengan merebus air sama
dengan membunuh air. Kepercayaan ini yang membuat sulit petugas kesehatan
untuk menyarankan agar mereka merebus air dulu sebelum diminum.
Air-air yang tidak direbus ini yang mengindikasikan menjadi penyebab beberapa
penyakit bagi balita dan ibu-ibu. Selain itu persaingan memperebutkan sumber
penghasilan berupa sumber daya alam yang terbatas seperti emas dan puya
mengakibatkan konflik di wilayah tersebut. Salah satu cara untuk
mempertahankan sumber daya alam yang ada yaitu dengan menciptakan benteng
pertahanan melalui media racun pulih dan hanya orang-orang tertentu yang
memiliki penawarnya. Sementara warga sendiri percaya bahwa pulih itu adalah
pekerjaan roh jahat dan hanya bisa diatasi dengan karya roh baik salah satunya
dengan Sangiang dan Danum Tawar. Pengobatan tradisional dengan mengundang
roh leluhur (Sangiang) oleh warga Karahau tetap dipertahankan sebagai
pengobatan penyakit akibat pengaruh roh-roh jahat. Racun pulih ini sangat
berbahaya khususnya bagi anak-anak, sebab kadang racun pulih yang kebanyakan

27

berupa minyak ini dioleskan pada makanan di warung yang jika termakan anakanak atau ibu bisa mengakibatkan kematian. Warga Pantar Kabali
menanggulanginya dengan Metode DanumTawar sedangkan warga Tapian
Karahau dengan metode pengobatan Sangiang.
Penambangan emas yang sebagian besar dilakukan warga sebagai mata
pencaharian di tepi sungai menggunakan air raksa untuk menangkap butiran emas
yang ada di tanah. Pada jangka panjang pemakaian air raksa ini tentu saja akan
menimbulkan dampak pada penggunaan air sungai. Selama ini aliran arus sungai
masih digunakan untuk sarana transportasi, sementara aliran anak sungai
digunakan warga untuk minum,mandi,dan mencuci. Air sungai yang tercemar
mercuri ini akan termakan ikan, ikan akan termakanan manusia, secara tak
langsung mercuri ini juga mengalir ke anak-anak sungai yang ada di hilir. Dampak
ke depan jika mercuri ini masuk tubuh bisa menyebabkan penyakit minamata yang
mengakibatkan penderita bisa mengalami kelumpuhan, penurunan fungsi organ,
bayi cacat dan kemandulan.

KESIMPULAN
Mayoritas warga Desa Muroi Raya masih menggunakan air sungai yang tidak
direbus untuk air minum karena nilai bahwa air itu hidup. Merebus air sama
dengan membunuhnya, sehingga saran petugas kesehatan untuk menyuruh
merebus air selalu gagal. Mayoritas warga menggantungkan penghasilan ekonomi
mereka pada penambangan emas yang masih menggunakan air raksa di aliran
sungai yang dampak ke depannya bisa mengakibatkan penyakit minamata pada
sebagian besar warga karena air tercemar mercuri.

IMPLIKASI DAN REKOMENDASI


Pembiaran terhadap minum air sungai dengan tidak direbus bisa mengakibatkan
diare ditambah air yang tercemar dampak ke depannya bisa mengakibatkan
gangguan penyakit yang parah dan tentu saja akan menambah angka kematian.
Upaya penyadaran akan pentingnya air bersih yang layak diminum harus segera
dilakukan dan mengantisipasi pencemaran air minum dari mercuri akibat
penambangan emas.
Percaya bahwa air itu hidup merupakan suatu nilai yang sulit diubah bagi warga
Dayak Ngaju sehingga agar air minum tidak mengandung bakteri dan virus bukan

28

dengan menganjurkan untuk merebus air sungai, tapi dengan metode lain yang
dengan memperhatikan nilai warga ini. Membuat perda tentang penertiban
penambang emas di aliran sungai khususnya di hulu Sungai Muroi agar dampak
mercuri hasil tambang emas ini tidak mencemari aliran sungai khususnya yang
digunakan untuk air minum.
Daftar Pustaka
Ahimsa Putra, Heddy Shri. Etnosains dan Etnometodologi: Sebuah Perbandingan. Jurnal
Masyarakat Indonesia. Universitas Gadjah Mada
Badan Pusat Statistik Kabupaten Kapuas. Kapuas Dalam Angka 2013
Dinas Kesehatan Kabupaten Kapuas. Profil Kesehatan Kabupaten Kapuas 2012
Florus, Paulus, dkk. (ed). 1994. Kebudayaan Dayak. Aktualisasi dan Transformasi. Jakarta: P3SInstitute of Dayakology Research and Development dengan Penerbit PT. Gramedia
Widiasarana Indonesia.
Koentjaraningrat.1990. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Laksono,P.M.dkk. 2006. Pergulatan Identitas Dayak dan Indonesia Belajar Dari Tjilik Riwut
Yogyakarta: Pusat Studi Asia Pasifik bekerjasama dengan Galang Press.
Nuraini, Syarifah., dkk. 2012. Buku Seri Etnografi Kesehatan Ibu dan Anak. Etnik Dayak Siang
Murung, Desa Dirung Bakung, Kecamatan Tanah Siang, Kabupaten Murung Raya, Provinsi
Kalimantan Tengah. Pusat Humaniora, Kebijakan Kesehatan dan Pemberdayaan
Masyarakat. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Kementrian Kesehatan
Republik Indonesia.
Ratnawati, Atik Tri.,dkk.2005. Masalah Kesehatan dalam Kajian Ilmu Sosial-Budaya. Yogyakarta:
Kepel Press.
Spradley, James P.,1997. Metode Etnografi.Yogyakarta: PT Tiara Wacana.

Hasil riset secara menyeluruh bisa didapatkan pada buku

Tetesan Danum Tawar di Dusun Seribu Akar


Bisa diunduh pada tautan berikut:
https://www.scribd.com/doc/261676756/Tetesan-DanumTawar-di-Dusun-Seribu-Akar-Riset-Ethnografi-Kesehatan-2014KAPUAS

Info lebih lanjut bisa menghubungi


Gurendro PutRo
HP. 081553219846
Email putro_01@yahoo.com

29

NILAI EWUH PAKEWUH


DALAM PENYELESAIAN MASALAH KESEHATAN
(Berdasar Riset Etnografi Kesehatan Tahun 2012)

Rekomendasi ditujukan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul


Disusun oleh: Lusi Kristiana

RINGKASAN EKSEKUTIF
Riset etnografi ini sebagai salah satu wahana pembelajaran bagaimana
program kesehatan dapat berhasil dengan memanfaatkan nilai-nilai yang
ada dalam suatu masyarakat. Budaya Masyarakat Jawa yang kental dengan
rasa ewuh pakewuh dan ketaatan pada tokoh masyarakat dapat menjadi
pintu masuk untuk melakukan promosi kesehatan dengan cara dan bahasa
lokal. Hal ini perlu dimanfaatkan bagi masyarakat lain yang memiliki
keserupaan budaya dengan masyarakat Jawa.

PENGANTAR
Jumlah keluarga pra-sejahtera di Kabupaten Bantul relatif cukup tinggi
(http://bantulkab.go.id, 2012). Secara nasional Kabupaten Bantul merupakan
daerah atau masyarakat tergolong miskin. Namun Kabupaten Bantul termasuk
dalam 10 besar IPKM terbaik di Indonesia (0,91480). Pencapaian Angka Kematian
Ibu (AKI) sebesar 82,1 per 100.000 kelahiran hidup, sedang Angka Kematian Balita
(AKB) 9,8 per 100.000 kelahiran hidup. AK Balita (Dinkes Kab Bantul, 2012). Angka
tersebut relatif rendah bila dibandingkan angka nasional AKI 228 per 100.000
kelahiran hidup dan AKB 34 per 100.000 kelahiran hidup (SDKI, 2007).
Masyarakat di Kabupaten Bantul didominasi oleh masyarakat Jawa yang secara
umum merupakan masyarakat yang tetap memegang teguh norma dan nilai
budaya yang diwarisi dari leluhur. Kegiatan ritual saat kehamilan, melahirkan,
perawatan anak dan ritual lain yang berkaitan dengan lingkaran hidup seseorang
dijalankan dengan patuh. Dalam kegiatan tersebut selalu memuat tradisi gotong
royong. Patuh kepada sesepuh, misalnya orang yang dituakan atau dukun bayi
merupakan hal penting karena mereka dianggap pribadi yang banyak
mengetahui hal-hal seputar kehidupan. Sarana dan prasarana pelayanan
kesehatan yang memadai menjadikan warga tidak menemui hambatan untuk
mendapatkan akses saat memerlukan. Mungkinkah hal-hal ini yang membuat

30

Kabupaten Bantul memiliki capaian IPKM yang baik sekalipun merupakan daerah
miskin?

METODE
Penelitian ini dilakukan di Desa Gadingsari Kabupaten Bantul, merupakan
penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi. Tiga orang peneliti sosial dan 1
orang penelitian kesehatan yang juga merupakan instrumen penelitian tinggal dan
berbaur di di desa penelitian selama 50 hari.
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran menyeluruh mengenai
potensi budaya masyarakat Jawa terkait kesehatan ibu dan anak sehingga
sekalipun merupakan daerah miskin namun memiliki AKI dan AKB relatif rendah.

HASIL
Masyarakat Desa Gadingsari dapat dikatakan sebagai representatif masyarakat
Jawa yang masih kental dengan suasana kerajaan. Rasa ewuh pakewuh masih
sangat terasa dalam kehidupan keseharian masyarakatnya. Ewuh pakewuh adalah
timbulnya perasaan tidak nyaman dan
merasa bersalah pada seseorang yang tidak
ikut membantu apabila ada tetangga atau
Ewuh pakewuh adalah
kerabat yang sedang melakukan ritual
timbulnya perasaan
tertentu. Ewuh pakewuh pada dasarnya
tidak nyaman dan
adalah dorongan untuk saling tenggang rasa
merasa bersalah pada
(toleransi) dan setia kawan (solider)
terhadap sesama warga masyarakat.
seseorang yang tidak
Pada peristiwa-peristiwa khusus seperti
ikut membantu apabila
pernikahan, kelahiran, kematian, mitoni,
ada tetangga atau
brokohan,
aqiqah
dan
selapanan,
kerabat yang sedang
merupakan ritual budaya positif dalam
menunjang KIA. Berbagai ritual tersebut
melakukan ritual
tidak sulit ditemukan dalam keseharian
tertentu
masyarakat desa. Hidangan pangan sebagai
ciri utama berbagai ritual di atas setelah
didoakan, selanjutnya dibagikan ke tetangga atau kerabat dekat. Di kala sebuah
keluarga melakukan ritual tertentu, persiapan tempat maupun penyediaan
makanan biasanya dilakukan secara gotong royong oleh tetangga sekitar dan
kerabat tanpa diundang. Ada rasa ewuh bila tidak memberikan bantuan.

31

Selanjutnya tetangga dan kerabat dekat akan mendapatkan hantaran yang dapat
menjadi asupan gizi yang belum tentu
dapat ditemukan dalam menu sehari-hari.
...jika ada warga
Karena ritual tersebut cukup sering
dilakukan maka asas pemerataan otomatis
masyarakat yang sakit
berjalan dalam kehidupan masyarakat.
parah atau ibu yang
Tersedianya pangan yang cukup serta
akan melahirkan dan
adanya
pemerataan pangan dalam
masyarakat dapat menjadi salah satu faktor
perlu dirujuk
yang menunjang kesehatan masyarakat.

memerlukan mobil,
maka warga yang
memiliki kendaraan
dengan tulus akan
memberi pinjaman.

Di sisi lain jika ada warga masyarakat yang


sakit parah atau ibu yang akan melahirkan
dan perlu dirujuk memerlukan mobil, maka
warga yang memiliki kendaraan dengan
tulus akan memberi pinjaman. Keluarga
yang sakit cukup mengganti uang bensin
pada pemilik kendaran yang besarnya pun
sukarela sesuai kemampuan. Nampak bahwa budaya ewuh pakewuh dalam
kehidupan masyarakat dilandasi rasa setia kawan dan tenggang rasa antar warga
yang merupakan potensi untuk menunjang upaya kesehatan ibu dan anak (KIA).
Keberadaan dukun bayi di antara masyarakat desa ternyata memiliki peran yang
kompleks. Mereka tidak hanya memijat dan membantu merawat ibu dan bayinya
setelah melahirkan, tetapi juga berperan sebagai agen pewarisan tradisi. Dukun
bayi adalah seorang generalis yang pada umumnya tidak dikembangkan menurut
jalur formal, melainkan melalui proses pewarisan dari orang tua kepada anak.
Namun adakalanya kemampuan tersebut muncul begitu saja. Mode of transfer
yang terakhir ini masih dikenal dan merupakan bagian budaya hidup masyarakat
desa.
Dukun bayi tidak hanya berperan memijat bayi dan ibu pasca melahirkan,
melainkan juga mempunyai peran ganda. Seorang dukun bayi selain dipercaya
mampu mengobati penyakit, juga ahli dalam membuat perhitungan hari yang baik
untuk melaksanakan ritual tertentu. Salah satu ritual menarik yang harinya harus
ditentukan oleh seorang dukun adalah ruwatan. Ruwatan dalam pandangan
modern lebih nampak sebagai suatu usaha untuk membebaskan seseorang dari
kontrak-kontrak negatif, atau suatu usaha simbolik yang sifatnya preventif agar
seorang bebas dari bencana (sambi kala, candik ala atau Bhatara Kala). Dukun bayi
seringkali dianggap sebagai representasi tetua yang mengetahui banyak hal terkait
dengan tradisi. Mereka dituakan karena pengetahuannya tersebut. Tidak heran
dukun bayi seringkali juga menjadi konsultan keluarga dalam banyak hal, misalnya
saja dari prosesi pasca kelahiran sampai prosesi yang terkait dengan perawatan ibu
dan anak. Dukun bayi juga berperan dalam memberikan nasehat tentang apa yang

32

baik dan benar. Salah satu contoh adalah adanya tradisi melarang membawa anak
ke tempat orang meninggal (sripahan), karena bukan hal yang baik. Hal ini masuk
akal karena anak yang dibawa ke tempat orang meninggal, selain kurang etis
karena anak-anak sering menimbulkan kegaduhan dalam suasana duka, juga
adanya potensi untuk tertular penyakit menjadi besar karena banyaknya orang.
Selain mendapat pelayanan dari dukun bayi yang merupakan suatu keharusan, ibu
hamil dan ibu yang akan melahirkan pun memanfaatkan fasilitas pelayanan
kesehatan modern seperti Puskesmas, bidan praktek swasta, klinik bersalin,
bahkan rumah sakit pemerintah maupun
swasta yang aksesnya terjangkau. Masih
Dari sisi ini dapat
kentalnya kepercaayaan terhadap dukun
bayi sekaligus memanfaatkan fasilitas
dimengerti bahwa
pelayanan kesehatan modern dapat
informasi yang
menjadi hal yang positip selama kedua
disampaikan oleh
sistem pelayanan kesehatan tersebut dapat
dipadukan melalui kemitraan. Hubungan
seorang dukun bayi
antara dukun dan masyarakat layaknya
seringkali lebih
hubungan antar anggota dalam masyarakat
dipercaya daripada
tradisional yang penuh kehangatan, rasa
solidaritas dan sentimentalitas, ibarat
informasi dari tenaga
masing-masing individu dalam sebuah
kesehatan, meskipun
keluarga besar. Dari sisi ini dapat
informasi tersebut
dimengerti
bahwa
informasi
yang
disampaikan oleh seorang dukun bayi
merupakan informasi
seringkali
lebih
dipercaya
daripada
tentang kesehatan.
informasi dari tenaga kesehatan, meskipun
informasi tersebut merupakan informasi
tentang kesehatan. Beruntung sekali dukun di desa ini telah terjangkau kemitraan
dengan tenaga kesehatan sehingga mereka secara umum mengetahui informasi
seputar kesehatan ibu dan anak dan tahu batas-batas tindakan yang patut
dilakukan dalam praktek pelayanan ke masyarakat.
Informasi yang disebarkan oleh dukun bayi seringkali menggunakan bahasa yang
setara dengan bahasa yang sehari-hari dugunakan oleh masyarakat desa, bahasa
yang mudah dimengerti dan diterima oleh logika warga desa. Mereka tidak takut
atau malu untuk bertanya jika tidak mengerti. Informasi yang disampaiak oleh
dukun bayi selain berupa nilai budaya berupa etika atau norma yang berlaku
turun temurun, secara tidak sengaja seringkali juga berupa pengetahuan untuk
melakukan upaya preventif akan penularan suatu penyakit dengan berbagai
konsep sehat dan sakit yang dimengerti masyarakat desa.

33

KESIMPULAN
Budaya ewuh pekewuh, tradisi yang dilandasi rasa setia kawan dan tenggang rasa,
pada hakekatnya adalah gotong royong sebagai cerminan kehidupan sosial
masyarakat Jawa, merupakan potensi penunjang upaya kesehatan ibu dan anak.
Selain dalam hal perawatan ibu dan bayi, peran dukun bayi juga menyentuh aspek
psikologi. Begitu besarnya peran ini sehingga apapun yang dinasehatkan sang
dukun pasti akan dilaksanakan. Pada tahap ini, kemitraan yang telah berjalan
antara dukun dan tenaga kesehatan menjadi sangat menguntungkan. Tidak
ditemuinya hambatan warga desa memperoleh pelayanan kesehatan serta
dukungan sarana dan prasarana yang memadai turut menunjang program KIA.

IMPLIKASI DAN REKOMENDASI


Dalam masyarakat dengan budaya Jawa
yang kental, pengaruh positif budaya ewuh
pakewuh, konsep-konsep, etika dan norma
Dalam masyarakat
sosial, serta kepercayaan lainnya yang ada di
dengan budaya Jawa
lingkungan masyarakat desa perlu dipelihara
yang kental, pengaruh
bahkan digali guna menunjang programprogram kesehatan. Keberadaan tokoh
positif budaya ewuh
masyarakat seperti sesepuh atau dukun bayi
pakewuh, konsepyang begitu dipercaya perlu dirangkul dan
konsep, etika dan
diberi tambahan pengetahuan terkait
norma sosial, serta
kesehatan ibu dan bayi. Kemitraan tokoh
masyarakat baik sesepuh maupun dukun
kepercayaan lainnya
bayi
dengan
petugas
kesehatan
yang ada di lingkungan dipertahankan guna makin menyukseskan
masyarakat desa perlu
program-program kesehatan. Dipilihnya
dipelihara bahkan digali tokoh masyarakat ini karena mereka
memiliki posisi yang penting di masyarakat.
guna menunjang
Merekalah yang didaulat sebagai panutan
program...
bagi masyarakat di samping orang tua.
Dengan seringnya warga berkonsultasi ke
tokoh masyarakat akan menjadi salah satu
pintu masuk untuk menyebarkan informasi kesehatan ke masyarakat.
Langkah praktis yang perlu dilakukan Dinas Kesehatan adalah melakukan
pengkinian pengetahuan tokoh masyarakat tentang kesehatan ibu dan anak
sehingga apa yang disampaiakan selalu sesuai dengan informasi kesehatan terbaru

34

dan tidak ketinggalan jaman. Mereka dapat diberdayakan sebagai pelaku transfer
of knowledge dengan cara dan bahasa yang dapat diterima masyarakat.
Daftar Pustaka
http://bantulkab.go.id/pemerintahan/sekilas_kabupaten_bantul.html. Sitasi 29 Mei 2012.
Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul, 2012. Profil Kesehatan Kabupaten Bantul tahun 2012.
Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat, 2010. Badan Penelitian dan Pengembangan
Kementerian Kesehatan RI.
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), 2010. Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian
Kesehatan RI.

Hasil riset secara menyeluruh bisa didapatkan pada buku


Buku Seri Etnografi Kesehatan Ibu dan Anak 2012, Etnik
Jawa
Desa Gading Sari, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul,
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
Bisa diunduh pada tautan berikut:
https://www.scribd.com/doc/142690361/Buku-Seri-EtnografiKesehatan-Ibu-dan-Anak-2012-Etnik-Jawa-Desa-Gading-SariKecamatan-Sanden-Kabupaten-Bantul-ProvinsiDaerahIstimewa-Yogyakarta

Info lebih lanjut bisa menghubungi


Lusi Kristiana
HP. 08803117569
Email lussup@yahoo.com

35

KESATUAN GEOGRAFIS, SOSIAL DAN RELIGI


UNTUK KESEHATAN GIANYAR
Pemanfaatan Nilai-nilai Tradisional untuk Menunjang Pembangunan Kesehatan
Masyarakat Bali
(Berdasar Riset Etnografi Kesehatan Tahun 2012)

Rekomendasi ditujukan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Gianyar


Disusun oleh: Setia Pranata dan Septa Agung Kurniawan

RINGKASAN EKSEKUTIF
Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) dibuat untuk
memberikan gambaran tentang kondisi kesehatan masyarakat disetiap
kabupaten di Indonesia. IPKM Kabupaten Gianyar yang relatif baik perlu
dijadikan sumber pembelajaran. Selain ketersediaan sarana dan prasarana
kesehatan serta status ekonomi masyarakatnya yang baik, Gianyar
mempunyai nilai-nilai tradisional berupa struktur masyarakat adat dan
religi yang menunjang upaya pembangunan kesehatan.

PENGANTAR
IPKM yang diolah berdasarkan hasil Riskesdas 2007, Susenas 2007 dan Podes 2008
telah memposisikan Gianyar sebagai Kabupaten dengan peringkat kedua terbaik
secara nasional. Apa yang menjadi potensi
Kabupaten
Gianyar
sehingga
status
kesehatan masyarakatnya menjadi yang
Posisi terbaik IPKM
terbaik di Provinsi Bali.
Mengacu kepada Indeks Pembangunan
Manusia
(IPM)
sebagai
ukuran
perkembangan pembangunan manusia,
posisi Kabupaten Gianyar masih berada di
bawah Denpasar, Badung dan Tabanan (BPS
Bali, 2014). Menjadi wajar bila kemudian
IPKM Gianyar tidak berbeda dengan IPM.
Posisi terbaik IPKM Gianyar pada kultur Bali
yang relatif homogen menunjukkan bahwa

36

Gianyar pada kultur Bali


yang relatif homogen
menunjukkan bahwa
ada yang berbeda
dengan masyarakat
Gianyar

ada yang berbeda dengan masyarakat Gianyar. Nampaknya ada potensi dan nilai
lokal masyarakat Gianyar perlu diungkap untuk pembelajaran kepada kabupaten
lain di Indonesia.

METODE
Penelitian kualitatif ini dilakukan pada tahun 2012 di Kabupaten Gianyar,Bali.
Kabupaten Gianyar diambil sebagai daerah penelitian karena pada IPKM 2007
menunjukkan daerah dengan kondisi kesehatan masyarakat yang baik, sehingga
diharapkan bisa menjadi contoh daerah lain.
Dengan pendekatan etnografi, peneliti selama 50 hari tinggal di Banjar Banda,
Kecamatan Blahbatuh dalam rangka memahami konteks kultur budaya Bali. Secara
khusus, peneliti juga berusaha menghubungkan fenomena budaya masyarakat
Gianyar dengan upaya kesehatan yang dilakukan.

HASIL
Kabupaten Gianyar merupakan salahsatu destinasi pariwisata di Bali. Wisata
kultural Gianyar dinilai lebih menarik karena terdapat ritual upacara lebih rumit
dibanding daerah lain. Banyaknya wisatawan yang berkunjung ke daerah ini
menjadi sumber pemasukan daaerah. Berdasarkan pemasukan ini, pemerintah
daerah melakukan pembangunan, termasuk
fasilitas kesehatan.
Disamping maraknya program pembangunan dan perubahan masyarakat menjadi
egaliter, tidak serta merta membuat
masyarakat Gianyar meninggalkan tradisi
dan ritual yang mereka jalani. Perilaku
masyarakat masih dipengaruhi dan dijiwai
oleh agama Hindu. Kepercayaan dan
keyakinan Panca Sraddha dalam agama
Hindu yang meliputi percaya kepada Sang
Hyang Whidi, Atman, Hukum Karma,
Penitisan dan Moksa merupakan dasar dari
hubungan manusia dengan Tuhannya,
dengan sesama manusia dan dengan alam.
Semua itu harus berjalan secara baik dan
benar.

37

Kepercayaan dan
keyakinan Panca
Sraddha dalam agama
Hindu yang meliputi
percaya kepada Sang
Hyang Whidi, Atman,
Hukum Karma,
Penitisan dan Moksa
merupakan dasar dari
hubungan manusia
dengan Tuhannya

Salah satu proyeksi Panca Sraddha dalam


kehidupan masyarakat secara personal dan
komunal adalah Yadnya, ritual pengorbanan
yang dilakukan secara tulus dan ikhlas.
Secara personal, ritual manusa-yatnya yang
berkaitan dengan life-cycle di seputar
kehidupan ibu dan anak semata-mata
dilakukan agar anak, ibu dan keluarga
menjadi sehat secara kejiwaan dan sosial.
Karena itu dalam setiap bangunan rumah
akan senantiasa ditemui adanya merajan
untuk berdoa dan balai dangin untuk
upacara.

Salah satu proyeksi


Panca Sraddha dalam
kehidupan masyarakat
secara personal dan
komunal adalah
Yadnya, ritual
pengorbanan yang
dilakukan secara tulus
dan ikhlas.

Dari struktur kemasyarakatan, masyarakat


di Banjar Banda merupakan satu kesatuan
wilayah secara geografis, sosial dan religi. Rasa kesatuan masyarakat terikat oleh
faktor alam, aturan awig-awig desa dan pura-pura desa yang terdiri dari Pura
Puseh, Pura Desa, dan Pura Dalem. Semua yang berhubungan dengan kewajiban
manusia terhadap Tuhannya, kewajiban terhadap sesama dan kewajiban terhadap
alam lingkungannya mempunyai aturan yang dikontrol secara ketat.
Dalam kehidupan sehari-hari, struktur masyarakat tradisional dalam bentuk banjar
merupakan wadah hubungan sosial antar anggota masyarakat. Biasanya, bentuk
solidaritas sebagai kesatuan masyarakat dapat ditemui pada semua kegiatan sosial
dilaksanakan di Balai Banjar, mulai dari pertemuan rutin, rapat, latihan dan
pertunjukan kesenian, sampai dengan kegiatan menyelesaikan konflik antar warga.
Terkait dengan upaya kesehatan masyarakat, kegiatan yang sifatnya UKMB seperti
posyandu juga senantiasa dilakukan di balai banjar. Warga banjar Banda juga
sangat menghormati keputusan
yang diputuskan di Balai Banjar.
Orang Bali sangat hormat dan Sehingga banjar menjadi ruang
publik yang dengan sendirinya
menghargai keputusan
apapun keputusan bersama yang
banjar, karena nilai orang
dilaksanakan di Balai Banjar akan
Bali bahwa setinggi apapun
diterima dan dihormarti warga
karena untuk kepentingan baik
jabatan dan gelar orang Bali
bersama.
akhirnya mereka akan

kembali dan dimakamkan di


wilayah banjar mereka

38

Orang Bali sangat hormat dan


menghargai
keputusan
banjar,
karena nilai orang Bali bahwa
setinggi apapun jabatan dan gelar

orang Bali akhirnya mereka akan kembali dan dimakamkan di wilayah banjar
mereka. Sehingga menjaga keselarasan banjar menjadi tugas utama orang Bali.

KESIMPULAN
Sebagai suku bangsa yang mayoritas masyarakatnya menganut agama Hindu,
merupakan suatu hal yang sudah semestinya bila kehidupan masyarakat Gianyar,
Bali sangat dipengaruhi dan dijiwai oleh agama Hindu.
Ritual dalam bentuk yatnya diseputar kehidupan ibu dan anak semata-mata
dilakukanagar anak, ibu dan keluarga menjadi sehat secara kejiwaan dan sosial.
Dari struktur kemasyarakatan, sistem masyarakat tradisional banjar merupakan
satu kesatuan wilayah secara geografis, sosial dan religi. Banjar mengatur semua
aktifitas manusian yang berhubungan dengan alam lingkungannya, sesamanya dan
hubungan dengan Tuhannya.

IMPLIKASI DAN REKOMENDASI


Masyarakat Kabupaten Gianyar, Bali, terbukti mampu menjadikan nilai-nilai
religius dan sosial kemasyarakatan sebagai nilai yang tidak hanya dikenal dan
diakui, tetapi sudah menjadi nilai yang dihargai, ditaati dan diaplikasikandalam
kehidupan sehari-hari.
Dalam kehidupan sehari-hari, nilai religius yang diwarnai oleh ajaran Hindu tidak
hanya bersifat normatif, tetapi sudah pada
tataran praktis. Semua ritual dan
nilai religius yang
persembahan dilakukan dalam rangka
memberikan efek sosio dan psiko
diwarnai oleh ajaran
enforcement.
Hindu tidak hanya
Terkait dengan nilai sosial kemasyarakatan,
keberadaan dan fungsi lembaga adat seperti
banjar sudah mengalami transformasi
sehingga lebih perduli kepada fenomena
pembangunan daerah dan dampaknya
secara sosial dan kesehatan. Pelaksanaan
posyandu untuk kesehatan ibu dan anak,
sarasehan untuk menanggulangi penyebaran HIV/AIDS sebagai dampak industri
pariwisata dunia dan pembahasan tentang
permasalahan pelayanan kesehatan sudah

39

bersifat normatif, tetapi


sudah pada tataran
praktis. Semua ritual
dan persembahan
dilakukan dalam rangka
memberikan efek sosio
dan psiko enforcement.

menjadi agenda rutin yang dilakukan oleh lembaga banjar. Pembahasan hal-hal
seperti ini mampu memperbaiki status kesehatan warga banjar.
Belajar dari kondisi sosial budaya masyarakat Gianyar Bali, setiap daerah
hendaknya :
1. mampu menggali nilai-nilai tradisional yang mempunyai potensi dalam
pembangunan kesehatan
2. menjadikan nilai-nilai tradisionaltersebut sebagai pusat orientasi
masyarakatnya
3. manfaatkan struktur masyarakat yang ada untuk menjalankan fungsi
manajemen
4. jadikan keperdulian kepada semua tahapan kehidupan warga
masyarakatnya sebagai gerakan dan tanggungjawab sosial dari struktur
masyarakatnya.
Daftar Pustaka
Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat, 2010. Badan Penelitian dan Pengembangan
Kementerian Kesehatan RI.
Riswati, Septa Agung Kurniawan, Wayan Gede Lamopia, Ni Wayan Emik Setyawati, A.A. Anom
Kumbara, Made Asri Budisuari, 2012. Buku Seri Etnografi Kesehatan Ibu dan Anak 2012,
Etnik Bali, Banjar Banda, Desa Saba, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Provinsi
Bali. Jakarta; Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Hasil riset secara menyeluruh bisa didapatkan pada buku


Buku Seri Etnografi Kesehatan Ibu dan Anak 2012, Etnik Bali,
Banjar Banda, Desa Saba, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten
Gianyar, Provinsi Bali
Bisa diunduh pada tautan berikut:
https://www.scribd.com/doc/142695628/Buku-Seri-EtnografiKesehatan-Ibu-dan-Anak-2012-Etnik-Bali-Banjar-Banda-Desa-SabaKecamatan-Blahbatuh-Kabupaten-Gianyar-Provinsi-Bali

Info lebih lanjut bisa menghubungi


Setia Pranata
HP. 081330410670
Email pranata11@yahoocom

40

Anda mungkin juga menyukai