Anda di halaman 1dari 29

PENGANTAR PERJALANAN DIRI-1

Allah Swt telah mengisyaratkan akan keesaan-NYA di dalam Al-Qur'an yaitu pada surat
Al-Ikhlas ayat 1-4. Disana disebutkan bahwa:

Katakanlah: Dia-lah Allah yang Maha Esa.


Allah adalah Tuhan yang segala sesuatunya bergantung kepada-Nya.
Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkkan.
Dan tiada satu apapun jua yang setara dengan Dia.
Ayat tersebut, jelas dan tegas menerangkan tentang ke Esa-an diri-Nya. Namun bagi kita
umat manusia, yang menjadi titik permasalahannya adalah sampai berapa jauhkah
penelitian, pembelajaran dan penelaahan kita tentang ke Esa-an Allah itu?
Sesuatu yang kita jadikan keyakinan harus melalui pembuktian. Karena dengan
pembuktian itu suatu keyakinan akan menjadi kokoh dan tidak akan pernah pudar
ataupun bergeser.
Jika kita ditanya agamamu apa? Secepat kilat kita menjawab bahwa agama kita Islam.
Siapa Tuhanmu? Dengan cekatan kita menjawab Allah Tuhanku.
Siapa Nabimu? Tanpa ragu kita menjawab Muhammad Saw adalah nabiku.
Tapi hanya sebatas itukah pengetahuan kita tentang hal tersebut diatas? Tidakkah terpikir
oleh kita untuk menanyakan kembali tentang kebenaran jawaban kita itu pada diri kita
masing-masing?
Betulkah Islam itu agama kita?
Apa arti Islam itu yang sebenarnya bagi kita?
sudahkah kita merasakan buah daripada Islam itu pada amaliah kehidupan kita sehariharinya?
Begitu pula dengan Allah,
Betulkah Allah itu Esa? Apa bukti yang dapat membenarkan tentang ke Esa-an-Nya itu?
Betulkah Allah itu Tuhan kita?
Sedangkan yang kita tahu kalau Allah itu suatu Nama, nama dari Asma'ul Husna.
Tuhan itu sendiri adalah pangkat atau gelar derajat kebesaran-Nya.
Mana ujud-Nya? Sebab didalam sifat-Nya yang 13, Wujud adalah sifat-Nya yang awal.
Ada Nama ada Pangkat-Nya tentu ada Ujud-Nya. Mustahil Nama dan Pangkat akan
berpisah dari yang empunya Nama dan Pangkat.
Begitu pula dengan Muhammad yang kita akui sebagai nabi terakhir atau penutup dari
segala nabi dan rasul yang diturunkan sebagai rahmat semesta alam.
1

Siapa Muhammad itu sebenarnya bagi kita?


Apa rahasianya bagi Allah dan bagi kita sendiri?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas adalah suatu cambuk bagi kita untuk terus
menggali dan mencari tahu tentang kebenaran atas apa yang kita yakini selama ini. Hal
ini akan menjadi senang jika kita hanya menyemaknya sambil lalu, akan tetapi akan
menjadi hal yang amat dahsyat dan mendasar apabila kita mau memikirkan dan
merenungkannya dengan sungguh-singguh.
Betapa rugi dan sia-sianya hidup ini jika selama ini apa yang kita yakini itu ternyata
salah dan keliru. Menganggap Tuhan yang sebenarnya bukan Tuhan, menganggap nabi
dari yang sebenarnya bukan Nabi. begitu pula dengan Rasul, Malaikat, Kitab, Qiyamat,
dan Akhirat.
Betapa bodoh dan hinanya diri kita ini jika sedangkal itu kita menyikapi masalahmasalah dasar yang menjadi landasan dan asas awal kita memeluk dan meyakini Islam
sebagai agama yang kita sandang. Tidakkah semua itu pernah terlintas dalam benak kita
semua? Sementara kita sendiri diciptakan dalam bentuk yang paling sempurna dibanding
makhluk- makhluk ciptaan-Nya karena Allah Swt telah meletakkan akal dan fikir sebagai
pembeda antara kita manusia dengan makhluk ciptaan-Nya.
"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya
mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. "
(Al Qur'an Surat Al-Ashr ayat 1-3)
Demikian pengenalan dasar ini kami sampaikan, dan kami sangat terbuka apabila anda
berkenan untuk berdiskusi dan bertukar pikiran dalam rangka amar ma'ruf nahi mungkar
untuk mencari diri yang sebenarnya diri.
Pada pembahasan Bab selanjutnya, kami akan menguraikan bab Pengenalan Diri yang
lain.
Wallahu a'lamu Bis sawab.

PENGANTAR PERJALANAN DIRI-II


Pada bagian pertama, banyak mengemukakan dan mengetengahkan pertanyaanpertanyaan dasar yang sifatnya himbauan, ajakan dan seruan yang ditujukan kepada kita
semua tanpa kecuali!
Himbauan, ajakan dan seruan itu semata-mata hanya sekedar mengingatkan pada diri
kita untuk mencoba menghitung mundur, melihat dan menerawang kembali ke belakang,
merenungkan kembali apa sesunggguhnya yang telah diletakkan dan dipertaruhkan oleh
Allah SWt kepada diri kita.
Apa sesungguhnya tugas utama kita selaku seorang anak manusia yang dengan qodrat
dan iradatnya kita semua terlahirkan dari rahim seorang ibu. Untuk selanjutnya
menapakkan kaki berjalan dan melangkah pasti dimuka bumi ini. Hingga pada suatu
masa kelak sesuai dengan yang telah ditentukannya, kita semua akan kembali kepadanya.
Coba kita renungkan, adanya kita ini diawali dengan ketiadaan, kemudian diadakan,
pada akhirnya nanti kita semua kembali ke ketiadaan. Kemana kiranya kita nanti?
Pada bagian kedua ini dan pada bagian yang akan datang, kita akan mencoba mengurai
lebih lanjut menegenai ke-Esa-an Allah secara bertahap dan berkesinambungan.
Sehingga pokok bahasan yang kita kupas benar-benar jelas dan tidak hanya sebatas
angan belaka.
Sebagai langkah awal untuk menjawab pertanyaan "Betulkah Allah itu Esa?" ada
baiknya kita mulai dengan sedikit mengungkap "Rahasia Allah Swt dibalik
penciptaannya atas diri seorang anak manusia".
Allah Swt dalam mencipta diri seorang anak manusia bukannya tanpa maksud dan
tujuan, akan tetapi ada maksud-maksud dan tujuan-tujuan tertentu yang menjadi rahasia
dibalik penciptaannya.Yang mana kesemuanya itu kelak pada akhirnya akan bermuara
pada satu titik kebenaran yang nyata, yang dapat membuahkan dan menghantarkan diri
kita untuk masuk dan tenggelam dalam samudra keyakinan dan pembuktian atas ke-Esaan dirinya. Hingga yang kita harapkan kita semua dapat melihat dengan jelas tanpa
sangka dan angan-angan mengenai ke-Esa-annya.
Kelak pada akhirnya dengan keyaqinan yang kokoh atas dasar pembuktian akal dan pikir
kita dapat berkata "Benar Allah Swt itu Esa".
Esa dalam Zatnya
Esa dalam Asmanya.
Esa pada Sifatnya.
Esa pada Af'alnya.
Tiada sifat menyifat atas dirinya, tiada hakikat menghakikatkan atas dirinya. Dan pada
dirinyalah berhimpun segala Rahmat dan Nikmat.Dan pada dirinyalah yang terahasia
dari yang rahasia namun rahasia itu sendiri tidak akan pernah ada pada dirinya. Itulah
Tauhid.
Jangan dicari lagi karena ia sudah laitsa pada dirimu. Namun ia sendiri tidak bertempat,
Ia tidak dibulu.
Ia tidak dikulit.
Ia tidak didaging.
3

Ia tidak diurat.
Ia tidak didarah.
Ia tidak ditulang.
Ia tidak juga diotak dan tidak di sumsum.
Namun ia ada di inti bathin dari bathin seorang hamba,
Tidak bersuara.
Tidak berkalimah.
Tidak berbekas.
Dia hanya ada didalam keheningan dan kehampaan dirinya sendiri.
Dalam Islam adalah suci atau fitrah.
Wallahu a'lamu bi sawab.

PENGANTAR PERJALANAN DIRI-III


"Sesungguhnya agama yang sah pada pandangan Allah ialah Islam".
(Q.S. Ali Imran 19)
"Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan
diterima (agama itu) daripadanya dan di akhirat termasuk orang-orang yang rugi."
(Q.S. Ali Imran 85)
Menyikapi dua dari sekian banyak firman Allah Swt yang senada dengan yang tersebut
diatas, tentu saja akan timbul tanda tanya besar dalam hati kita. Apa sesungguhnya
hikmah yang tersirat dibalik ayat-ayat tersebut?
Kenapa begitu tegasnya Allah Swt menyatakan bahwa: Satu-satunya agama yang sah dan
sempurna, penyempurna dari semua agama Allah yang ada ialah Islam.
Apa sesungguhnya Islam itu bagi kita dan bagi kehidupan umat manusia didunia ini?
Jujur kita katakan bahwa sebagian dari kita memeluk Islam itu hanya karena ikut-ikutan
saja, misalnya kakek-nenek Islam, paman-bibi Islam, ayah-ibu Islam, maka dengan
spontan kita menyatakan bahwa agama kita Islam juga. Atau bisa juga ketika membuat
kad pengenalan untuk mengisi format agama, tanpa ragu kita menyatakan agama Islam.
Demikian diantaranya contoh-contoh Islam yang hanya sekedar ucapan dan prasyarat
suatu identitas tanpa mau merenungkan mengapa kita memilih Islam sebagai agama yang
kita ikuti dan kita anut. Jika memang demikian keadaannya, maka sudah sepantasnyalah
keislaman yang kita banggakan dan melekat sebagai identitas diri itu perlu kita ragukan
dan kita pertanyakan keabsyahannya.
Sudah benarkah Islam kita?
Apakah sudah dianggap Islam diri kita dengan hanya sekedar mengucapkan dua kalimah
syahadat saja?
Jika memang masih ada keraguan, alangkah baiknya kita mencari kyai atau ulama untuk
dapat mengislamkan kembali diri kita dalam artian minta bimbingan dan petunjuk
tentang Islam yang sebenarnya.
Allah Swt telah berfirman dalam hadits qudsi:
"Awalludin ma'rifatullah"
Awal agama adalah mengenal Allah. Selagi kita belum dapat mengenal Allah dengan
sebenar-benarnya pengenalan, maka tetap kita dipandang orang yang tidak beragama/
belum beragama. Dengan demikian seluruh ibadah yang telah lakukan dan yang akan
kita lakukan tetap dipandang tidak syah.
Bagaimana caranya kita dapat mengenal Allah itu?
Allah Swt memberikan jawaban:
"Kenalilah, carilah, Sir atau rahasia diriku didalam dirimu. Karena Sir atau rahasiaku
sudah ada dalam dirimu. Hanya kamu tidak mengetahuinya."
Bukankah Allah itu dekat bahkan teramat dekat dari pada urat lehermu sendiri, begitu
dekatnya aku denganmu. Maka kamu tidak akan dapat melihat urat lehermu sendiri.
Itulah mantik yang harus engkau renungkan wahai saudaraku.
5

Adapun jalan untuk untuk mengadakan pengenalan kepadanya, ada tiga jalan yang
harus dilalui setahap demi setahap karena tanpa menempuh tiga jalan itu kamu tidak
akan pernah sampai kepadanya. Jalan itu adalah:
Ketahuilah olehmu asal muasal kejadian dirimu. Bukankah tadinya kamu itu tidak
ada lalu dengan Qudrat dan Iradatnya kamu diadakan, dan dengan Qudrat dan Iradatnya
pula pada masa yang telah ditentukan, kamu akan dikembalikan kepada ketiadaan.
Ketahuilah olehmu siapa dan bagaimana dirimu itu sebenarnya(Mengenal Diri).
Mematikan Diri. Mati dalam artian maknawiyah, karena hanya dengan kematian
maknawiyah seseorang akan mencapai derajat insanul kamil mukamil(sempurna diatas
sempurna).
Allah berfirman dalam hadits qudsi:
"Carilah aku olehmu, bila kau temukan aku maka akan aku bunuh engkau, setelah aku
bunuh maka matilah engkau, dan setelah engkau mati maka aku gantikan engkau akan
diriku."
"Barang siapa mengenal dirinya maka niscaya akan dikenal Tuhannya. Dikenal
Tuhannya, binasalah dirinya."
Nabi Muhammad juga bersabda:
" Bermula Adam itu dosa yang lebih besar, maka tiap-tiap diri(tubuh) yang berdosa
tidaklah sempurna untuk mengenal Allah, walaupun bagaimana berbaktinya tetap tidak
sempurna karena berbakti itu adalah umpama diri(tubuh) dengan ruh, maka dari itu
ketahuilah sir (rahasia) Allah yang sebenar-benarnya didalam rahasianya yang ada".
Itulah Islam, Islam itu artinya suci atau fitrah. Maka seluruh aktifitas atau amaliah hidup
ini akan bermuara pada kesucian.
Karena suci atau fitrah itu tiada lain dan tiada bukan adalah dirinya sendiri. Dan dirinya
itulah diri yang sebenar-benarnya diri yang hidup , tiada akan pernah mati.
"Kamu peroleh ilmu dari yang mati maka ilmumu mati. Namun jika kamu peroleh ilmu
itu dari yang hidup, maka ilmumu akan hidup dan tiada akan pernah mati."
Waulahu a'lam bissawab.

Mutiara Ilmu untuk Renungan


Wahai hambaku, engkau tiada memiliki sesuatupun, kecuali yang aku kehendaki untuk
menjadi milikmu. Tiada juga memiliki dirimu, karena akulah maha penciptanya. Tiada
pula engkau memiliki jasadmu, akulah yang membentuknya. Hanya dengan
pertolonganku engkau dapat berdiri dan dengan kalimatku engkau datang kedunia ini.
Wahai hambaku, katakanlah tiada tuhan melainkan aku, kemudian tegaklah berdiri
dijalan yang benar, maka tiada tuhan lain melainkan aku, tiada pula wujud yang
sebenarnya kecuali untukku, dan segala yang lain selain dari padaku adalah dari buatan
tanganku dan dari tiupan ruhku.
Wahai hambaku, segala sesuatu itu adalah kepunyaanku, bagiku dan untukku, jangan
sekali-kali engkau merebut apa yang apa yang menjadi kepunyaanku. Kembalikan segala
sesuatunya itu kepadaku, niscaya akan aku buahkan pengembalianmu dengan tanganku,
dan kutambahkan padanya dengan kemurahanku. Serahkanlah segala sesuatu itu
kepadaku, niscaya kuselamatkan engkau dari dari segala sesuatu .
Ketahuilah wahai hambaku, sesungguhnya engkau mengenal siapa yang telah engkau
lihat dan kepadakulah engkau akan kembali. Kemudian aku ciptakan segala sesuatu
untukmu dan aku labuhkan tirai (hijab) atasmu. Lalu engkaupun tertutup dengan tirai
dirimu sendiri. Kemudian aku menghijab engkau dengan diri-diri yang lain, yang mana
diri-diri yang lain itu menyeru pada dirinya dan menjadi penghijab daripadaku.
Maka telitilah dirimu, setelah engkau mempercayaiku, sudahkah engkau mengembalikan
segala sesuatu itu kepadaku. Dan sudahkah engkau memenuhi perjanjian yang telah
engkau buat denganku.
Wahai hambaku, kuciptakan segala sesuatu itu untukmu, maka bagaimana aku akan rela
kalau engkau peruntukkan dirimu bagi sesuatu itu. Sesungguhnya aku melarang engkau
untuk menggantungkan dirimu pada sesuatu selain aku.
Wahai hambaku, aku tidak rela engkau peruntukkan dirimu bagi sesuatu, walau
harapanmu akan syurga sekalipun, karena sesungguhnya aku ciptakan engkau hanya
untukku, supaya engkau berada disisiku.
Wahai hambaku, kuciptakan engkau atas pola gambarku seorang diri, tunggal,
mendengar, melihat, dan berkemauan untuk menyatakan nama-namaku dan tempat untuk
pemeliharaanku.
Wahai hambaku sekalian, engkau adalah sasaran pandanganku, tiada dinding penghalang
yang memisahkan antaraku dan antaramu. Engkau teman duduk semajelis denganku
maka tiada pembatas antaraku dan antaramu. Aku lebih dekat kepadamu daripada ucapan
lisanmu, maka pandanglah kepadaku karena aku senang memandang kepadamu.
Salam untuk seluruh rekan yang mengunjungi Air Setitik. Salam Rahmat dan Nikmat
yang kita jalin bersama menjadi keNyamanan dalam mengarungi samudera dunia....

PENGANTAR PERJALANAN DIRI-IV


Bermula agama itu ialah dengan mengenal akan Allah, Tuhan seru sekalian alam. Tempat
seluruh umat manusia(baik yang beriman maupun yang tidak) bergantung dari segala
harapan dan pengharapan.
Dan tidaklah dipandang dan dianggap seseorang itu beragama sebelum ia mampu dan
dapat mengenal Allah sebaik-baik dan sebenar-benarnya pengenalan. Jika demikian
dapat dipastikan bahwa seluruh ibadah dan peribadatan yang dulu kita lakukan hingga
sekarang dan sampai pada masa yang akan datang dianggap tidak syah karena arah yang
tidak pasti ibadah dan peribadatan itu akan ditujukan kemana.
Sementara yang kita tahu, yang kita yakini selama ini hanya sebatas dan sekedar nama
saja tanpa tahu sebenarnya yang punya nama dan ujudnya. Dengan demikian sia-sialah
apapun yang kita lakukan.
"Allah" adalah himpunan huruf-huruf hijaiyah yang berangkai dalam satu kesatuan kata
yang kita imani dan yakini sebagai nama dari Tuhan yang teramat sakral, dan diatas dari
segala yang Ada.
Coba kita tingkatkan pemahaman kita tentang Allah itu setingkat dari pemahaman kita
yang ada.
Apakah dan siapakah Allah itu?
Demi Zat yang menguasai setiap sesuatu. "Allah" itu hanyalah sekedar nama saja, nama
dari sekian nama Tuhan yang umum disebut Asmaul Husna (Nama-nama yang terpuji).
Sedangkan "Tuhan" adalah suatu gelar kebesaran atau pangkat saja.
JIka memang demikian, bagaimanakah ibadah dan peribadatan kita itu? Apakah hanya
ditujukan pada nama dan pangkat saja? Tidakkkah terlintas didalam lubuk hati ini untuk
dapat tahu dan kenal dengan yang bernama "Allah", yang berpangkat "Tuhan"?
Maksudnya adalah, mana ujudnya, yang bernama Allah dan berpangkat Tuhan?
Demi zat yang menguasai setiap sesuatu. Sudah menjadi hukum hidup dan kekal adanya,
jika ada nama ada gelar dan pangkatnya. Sudah barang tentu ada ujudnya. Dan sangat
mustahil jika ada nama, ada gelar dan pangkatnya tapi ujudnya tidak ada. Begitupun
sebaliknya, mustahil ada ujud namun tidak ada nama, gelar atau pangkatnya karena nama
dan empunya merupakan satu kesatuan mata rantai yang tidak bisa dipisah-pisahkan
walaupun dengan alasan apapun juga. Apalagi sempat terlintas pengakuan kita didalam
hati bahwa Allah itu ghaib adanya...na uju billlahi min jalik...
Ini merupakan persepsi yang keliru karena sesunggguhnya Allah itu nyata adanya. Justru
manusialah yang sesungguhnya ghaib. Dan yang ghaib itu sendiri akan nyata dengan
adanya yang nyata. Oleh sebab itulah maka wajib bagi kita beriman, untuk mengetahui,
dan mengenal Allah. Bukan hanya sebatas dan sekedar kenal nama dan pangkatnya
saja...akan tetapi samar dan kabur ujudnya. Jika demikian, betapa rugi, bodoh dan
celakanya kita.
Hakekat kita mengenal dan tahu akan nama dan si empunya nama , adalah agar kita bisa
dan dapat beroleh ma'rifat kepadanya. Sehingga seluruh aktifitas ibadah dan peribadatan
yang kita lakukan siang-malam sebatas usia kita tersebut jangan sampai ada yang sia-sia
8

dan tiada hasil. Terlebih lagi karena kurangnya ilmu tentang pengenalan kepadanya,
tanpa sadar kita telah masuk dan hanyut serta tenggelam didalam samudra kesyirikan.
Merasa setiap ibadah dan peribadatan yang telah kita lakukan sudah sampai pada puncak
kebenaran yang hakiki. Namun sesungguhnya dinding tebal telah menjadi tirai dari
kebenaran yang hakiki itu. Tanpa sadar kesyirikan menjadi kawan akrab disetiap
langkah. Baik itu syirik jalli, sirik khafi, dan syirik khafi wal khafi.
Syirik jalli adalah syirik pada perbuatan.
Syirik khafi adalah syirik atau kesyirikan yang terlintas dalam hati.
Syirik khafi wal khafi adalah syirik pada akuan/ perasaan kita.
Jika ada salah satu saja atau bahkan ketiga kesyirikan itu melekat pada diri kita, maka hal
ini merupakan suatu perbuatan yang sangat buruk dan terkutuk. Dan tiada obat ataupun
ampunannya kecuali dengan jalan meleburkan akan diri ke akuannya.
Coba kita perhatikan dan renungkan baik-baik, dengan tanpa membawa ego atau
kenafsuan diri, kita tilik dengan seksama uraian berikut. Katakan benar jika memang
kebenaran itu nampak dan nyata adanya. Namun jika kebenaran itu tidak nyata dan jelas
maka jangan engkau pikirkan dan buang jauh-jauh supaya jangan menjadi fitnah yang
besar.
Diawal sudah kita sampaikan bahwa "Allah" itu adalah sebuah nama atau identitas dari
suatu diri. Tugas kita selanjutnya adalah dengan mencari ujudnya. Demi zat yang
menguasai segala sesuatu. Bahwa bunyi "Allah" itu seandainya kita tidak berucap dan
menyatakan, maka bunyi "Allah" tidak akan pernah ada. Tetapi karena kita berucap dan
menyatakan "Allah" maka bunyi "Allah" itu ada.
Adakah bunyi "Allah" jika kita tidak berucap atau menyatakan, tentu tidak pernah ada,
bukan?
Allah Swt berfirman:
"Aku disisi sangka hambaku dengan dia aku"
Maksudnya:
Kalau si hamba itu tidak menyangka aku, berarti aku tidak pernah ada, akan tetapi oleh
karena hamba itu berkata itu Allah (Allah itu ada) maka nyatalah aku ada.
Intisarinya adalah sebagai berikut:
Jika Allah itu ada, maka hamba itu tidak pernah ada.
Jika hamba ada, maka Allah tidak akan ada.
Karena jika kita hamba, mana Allah?
Maka sebaliknya jika aku Allah, mana hamba?
Silahkan renungkan dan kaji lebih dalam dan apabila tidak jelas, minta dan tanyalah
kepada ahli yang memang menguasai hal tersebut diatas.
Namun yang paling jelas, jawaban yang paling benar hanya ada pada diri anda saja!
Itulah ma'rifat.
9

Adapun referensi yang dapat dijadikan bahan acuan untuk berjalan kesana adalah sebagai
berikut:
Bunyi "Allah" itu terdiri dari huruf Alif, Lam awal, Lam akhir, dan Haa yang berhimpun
dan perhimpunannya itu bermula pada waktu KUN awal yang mana disana
menyebabkan adanya syahadat dan taubat. Yang juga menyebabkan turun dan jahirnya
empat huruf utama yaitu Alif, Nun, Mim, dan Tha yang menyebabkan adanya maqommaqom didalam perjalanan 99(Sembilan Puluh Sembilan) yang maqom tertingginya ada
di maqom kedelapan (8) yaitu maqom khas atau maqom ilmu tentang Allah ta'ala. Atau
bisa juga disebut maqom perjalanan Baginda Rasulullah Saw.
Adapun tajallinya huruf Alif, Lam awal, Lam akhir, dan Haa itu berlangsung pada saat
Allah itu sendiri tajalli pada Gaibul Hawiyah, sebab begitu Allah Swt itu tajalli di Goibul
Hawiyah, Allah membawa huruf Alif, Lam awal, Lam akhir dan Haa.
Sedang tajallinya Allah apada Gaibul Mutallaq, disini Allah Swt membawa Zat, Sifat,
Asma dan Af'al. Disini juga Allah Swt mengadakan sifat Nur dan mengadakan dua nama
yaitu Kun Sa dan Kun Zat.
Kun Sa adalah titik dari Nur Muhammad yang diatas Arasy yang meliputi tujuh petala
langit dan mengadakan satu nama yaitu nama awal-awal Nur Muhammad.
Sedangkan Kun Zat adalah titik dari Nur Muhammad yang ada dibawah Arasy yang
meliputi tujuh petala bumi dan mengadakan nama yaitu nama awal-awal ummat.
Adapun arasy itu sendiri bukan berada di langit maupun dibumi, tetapi arasy itu ada
dalam diri kita.
Proses selanjutnya:
Zat maujud kepada huruf Alif.
Sifat maujud kepada huruf Lam awal.
Asma maujud kepada huruf Lam akhir.
Af'al maujud kepada huruf Haa.
Huruf-huruf itulah yang menjadi bunyi "Allah", yaitu:
Alif itu Zat bagi Allah yang menjadikan Rahasia bagi Muhammad dan menjadikan
Cahaya kepada kita.
Lam awal itu Sifat bagi Allah menjadikan Tubuh kepada Muhammad dan menjadikan
Ruh kepada kita.
Lam akhir itu Asma bagi Allah menjadikan Ilmu bagi Muhammad dan menjadikan Hati
bagi kita.
Haa itu Af'al bagi Allah menjadikan Kelakuan pada Muhammad dan menjadikan Jasad
pada kita.
Dari sekelumit penjelasan ini, jika dikembalikan kepada Tauhid, maka itulah kenyataan
dirinya. Esa tiada yang lain. Esa pada Zatnya, Esa pada Sifatnya, Esa pada Asmanya, dan
Esa pada Af'alnya.

10

Karena:
Zat itu tiada lain adalah Dirinya.
Sifat itu tiada lain adalah Rupanya.
Asma itu tiada lain adalah Namanya.
Af'al itu tiada lain adalah Kelakuannya.
Jadi bunyi "Allah" itu tiada lain hanya sekedar nama, yaitu nama kita semenjak didalam
rahim ibu. Pada saat usia kandungan 3 bulan 10 hari. Sedangkan Ta'ala itu tiada lain
adalah nama kita juga saat usia kandungan mencapai 8 bulan 10 hari.
Wallahu a'lam bissawab

RENUNGAN
Sahabat...
Jadikanlah ma'rifat sebagai modal yang tiada akan pernah rugi.
Dan akal pikiran sebagai tempat berpijak untuk mengayunkan langkah.
Sedangkan keridhoan adalah tujuan akhirnya.
Sahabat...
Cinta itu nafas kehidupan.
Sedangkan rindu adalah alat untuk datang kepadanya.
Sahabat...
Jadikanlah duka sebagai kawan setiamu.
Sedangkan keteguhan adalah perbendaharaan yang tiada akan pernah susut.
Serta kefakiran patut menjadi kebanggaan.
Sahabat...
Jadikanlah perjuangan untuk membela kebenaran sebagai perangaimu sehari-hari.
Sedangkan ilmu adalah senjata yang ampuh untuk meraih kemenangan.
Sesungguhnya pakaian kebesaran yang mulia dalam pandangannya adalah ketabahan.
Sedangkan hidangan yang lezat dan abadi adalah keyakinan.
Sahabat...
Pekerjaan yang paling menguntungkan adalah menahan diri.
Sedangkan wakil atau perantaranya adalah kejujuran.
Ketaatan adalah ukuran yang pasti.
Sedang percakapan yang mengasyikkan serta hiburan yang menggairahkan ada di
dalam sholatmu.
Sahabat...
Jika seruan ini kau pahami, niscaya terang sudah jalanmu, labuhkan bidukmu, karam dan
tenggelamlah engkau didalam keabadian Ujudnya...

11

PENGANTAR PERJALANAN DIRI-V


Bermula untuk mengadakan pengenalan kepada allah swt itu hanya ada tiga jalan. Yang
mana ketiga jalan itu harus dilalui satu per satu dengan baik dan istiqomah. Karena
hanya dengan ketiga jalan itulah yang dapat menghantarkan seseorang hamba untuk
sampai kepada hakekat pengenalan yang sebenarnya. Sedangkan kendaraannya adalah
diri kita.
Ketiga jalan itu adalah sebagai berikut:
1. Mengenal asal muasal kejadian diri. Dari tiada, menjadi ada, dan pada akhirnya
kelak kembali kepada ketiadaan.
Allah swt berfirman di dalam al qur'an:
"Hendaknya kamu(manusia) memikirkan asal muasal dirimu".
2. Mengenal jati diri sejati, siapa sebenarnya diri kita ini (mengenal diri).
Allah swt berfirman dalam hadits qudsy:
"Barang siapa mengenal akan dirinya, niscaya ia akan mengenal tuhannya. Dan barang
siapa mengenal akan tuhannya maka binasalah ujud dirinya dan tuhan akan ada
didalamnya".
3. Mematikan diri. Mati disini bukan mati secara jenazah, akan tetapi mati disini
Adalah mati dalam artian ma'nawiyah.
Allah swt telah berfirman didalam hadits qudsy:
"Rasakanlah mati sebelum engkau mati".
"Barang siapa yang tidak mematikan dirinya, maka tidak akan dia dapat beroleh
pengenalan kepadaku".
Demikianlah langkah-langkah yang harus dilalui seorang hamba untuk dapat sampai
kepada allah dan karam bersamanya.
"Aku adalah gudang yang tersembunyi, maka aku suka jika aku dikenal. Lalu aku
ciptakan makhluk (manusia) supaya mengenal aku". (hadits qudsy)
Jalan Pertama
Mengenal asal muasal kejadian diri( dari tiada, menjadi ada, dan pada akhirnya kelak
kembali kepada ketiadaan).
Sebelum kita mengupas tentang asal muasal kejadian diri itu, satu hal hendaknya yang
harus kita ketahui yaitu kita harus memilih antara asal muasal hamba dengan asal muasal
insan (manusia). Sebab dari kedua hal tersebut diatas pengupasannya sedikit berbeda.
Kalau hamba itu isinya tanah, air, angin, api..karena keempat anasir itu adalah sifat
hamba. Sedangkan insan (manusia) itu isinya waddu, waddi, mani dan manikam..karena
keempat anasir itu adalah sifat insan(manusia).

12

Begitu pula dengan:


Sifat hayat, isinya: bulu, kulit, daging, urat, tulang, otak, dan sumsum.
Sifat ilmu, isinya: pengrasa, hawa, nafsu, akal, pikir, ilmu pengetahuan dan rahasia.
Sifat tuhan, isinya: zat, sifat, asma, dan af'al.
Sifat Allah, isinya: iman, islam, tauhid, dan ma'rifat.
Sifat ta'ala, isinya: tauhidu zat, tauhidu sifat, tauhidu asma, tauhidu af'al.
Sifat muhammad, isinya: hidup, tahu, berkehendak, dan bergerak.
Pada kesempatan ini, kami hanya mengkhususkan tentang pengupasan asal muasal insan(
manusia) saja. Adapun asal kejadian insan/ anak adam (manusia) itu sebagaimana yang
sudah sama-sama kita ketahui, bahwa kejadiannya dikarenakan berprosesnya kedua
orang tua (ibu-bapak kita) didalam melakukan hubungan badan (bersenggama/
bersetubuh).
Saat persetubuhan itu berlangsung, keempat anasir yang merupakan sifat insan (manusia)
itupun berproses juga. Dari keempat anasir itu hanya manikamlah yang merupakan cikalbakal insan. Dan manikam itu sendiri hanya dimiliki oleh laki-laki, perempuan tidak.
Adapun istana manikam itu pada otak laki-laki.
Di dalam otak itu ada lemak, di dalam lemak itu ada minyak, di dalam minyak itu ada
nur, di dalam nur itu ada nur aqli(akal), dan di dalam nur aqli itu ada hijabun nur. Dan di
dalam hijabun nur itulah manikam.
Masa manikam itu 40 hari, yaitu:
7 hari pertama manikam itu berada di istananya
7 hari kemudian manikam itu turun pada tulang belakang dan bertahan pada punggung
kita.
7 hari kemudian berada pada tulang dada.
7 hari berikutnya berada pada pusat.
7 hari kemudian turun pada sulbi.
5 hari kemudian berpindah pada zakar/ kalam (kemaluan laki-laki).
Untuk kemudian jatuh pada rahim seorang perempuan bernama "taraib". Untuk
selanjutnya dikandung selama 9 bulan 9 hari. Ini juga mengisyaratkan tentang 99 nama
Allah (Asmaul Husna) dan juga mengisyaratkan tentang perjalanan 99 yang ada.
Dikatakan manikam apabila ia jatuh rahim perempuan, jika tidak jatuh pada rahim
perempuan, maka tidak bisa dikata manikam. Karena manikam inilah yang bernama nur
muhammad, atau ruh Idhofi atau syahadat dalam pengertian ilmu.
Adapun rangkaian prosesnya adalah sbb:
Rangkaian tanah asal.
Air mani laki-laki.
Pencampuran sperma.
Segumpal darah.
Tulang belulang.
Daging pembungkus.
Ruh.
Tujuh rangkaian tersebut diatas juga mengisyaratkan tentang:
7 sifat pada manusia.
7 anggota dalam sembahyang.
7 hari dalam seminggu.
7 bintang yang besar.
13

7 lautan yang besar.


7 lapis langit.
7 lapis bumi.
7 neraka.
7 syurga.
Dan banyak lagi yang menyatakan jumlah ataupun hitungan 7 itu.
Tatkala manikam itu sampai 4o hari lamanya di dalam tara'ib perempuan, maka
berhentilah darah haid yang biasa dialami oleh seorang perempuan. Hal ini dikarenakan
sebab tertutupnya peranakan oleh manikam tadi.
Baru setelah 4 bulan manikam itu berada didalam rahim, ia bernyawa(bergerak). Darah
haid yang berhenti karena tertutup oleh manikam, pada bulan kelima menjadi tembuni
(ari-ari). Peristiwa ini seluruhnya berlangsung didalam rahim. Dan tatkala sampai pada
masanya lahir, maka darah haid yang berhenti pada 40 hari sebelum manikam itu
bernyawa(bergerak) itulah yang akan menjadi darah nifas. Manikam yang dikandung
oleh perempuan pada masa:
1 hari 1 malam : pujinya Hu
3 hari 3 malam: pujinya Allah
7 hari 7 malam: pujinya Innallah
40 hari 40 malam: pujinya Turobbunnur
4 bulan 4 hari: pujinya Subhanallah
6 bulan 6 hari: pujinya Alhamdulillah
8 bulan 8 hari: pujinya Allahu Akbar
9 bulan 9 hari: pujinya Inna ana amanna
Inna: Sessungguhnya
Ina: Saya (Aku)
Amanna: (aman(Iman)
Inilah asal kejadian "air zatullahu akbar".
Beberapa dasar yang melandasi tentang asal muasal kejadian diri:
Abdullah Ibnu Abbas Ra dari Nabi Saw: "Bahwa sesungguhnya Allah ta'ala menjadikan
dahulu daripada segala sesuatu yaitu Nur nabimu".
Syech Abdul wahab As -Syarani Ra berkata: "Sesungguhnya Allah ta'ala menjadikan
Ruh Nabi Muhammad itu daripada zatnya dan dijadikannya ruh sekalian alam dari pada
nur Muhammad saw".
Nabi Muhammad Saw bersabda: "Aku bapak dari sekalian ruh dan adam itu bapak dari
sekalian batang tubuh". Adapun lembaga Adam itu dijadikan oleh Allah Swt daripada
tanah.
Allah ta'ala berfirman didalam Al Qur'an: " Aku jadikan insan Adam itu dari pada tanah,
dan tanah itu dari pada air, dan air itu dari pada angin, dan angin itu dari pada api dan api
itu dari pada nur Muhammad". "Sesungguhnya telah datang kepadamu dari Allah ta'ala
yaitu: nur".
14

Dan kepada Nur itulah perhentian perjalanan segala aulia dan ambiya yang mursalin
mengenal Allah ta'ala. Akan tetapi bila sudah sampai kepada nur, maka fanakanlah nur
itu pada zat yang wajibul wujud, supaya jangan sampai hamba itu semata-mata bertuhan
kepada nur. Akan tetapi hendaklah tetap bertuhankan kepada allah zat wajibul wujud.
Dengan begitu maka nyata nur itu hanya wasilah kita untuk dapat sampai kepada Allah
ta'ala.
"Hai orang yang beriman, takutlah kepada Allah dan carilah wasilah (perantara) yang
bisa menyampaikan kamu kepadanya dan hendaklah kamu bersungguh-sungguh
dijalnnya, supaya kamu dapat kejayaan". (Al Qur'an)
Hal lain yang tak kalah pentingnya didalam pengenalan asal-muasal kejadian diri adalah
anasir-anasir yang ada pada dirimu. Baik anasir dari Muhammad, dari bapak, dari ibu,
sebagai berikut:
Anasir tuhan pada muhammad meliputi: sir, budi, cinta dan rasa atau penglihatan,
pendengaran, penciuman, dan pengrasa.
Anasir tuhan pada bapak meliputi: urat, tulang, otak dan sumsum.
Anasir tuhan pada ibu meliputi: rambut(bulu), kulit, darah, dan daging. Satu anasir dari
tuhan yaitu hayat(nyawa)
Tulisan mendatang adalah Jalan Kedua yaitu mengenal diri sejati, siapa sebenarnya diri
kita ini (mengenal diri).
Wallahu A'lamu Bissawab.
"Benarkah Allah Swt itu Esa?"
Kami yakin apa yang saudaraku pertanyakan, saudara sudah mengetahuinya. Akan tetapi
tidak mengapa, rasanya ada baiknya jika kita kaji ulang guna menyamakan persepsi saja.
Jika didalam kajian nanti ada kesamaan, mari kita jaga sebaik-baiknya. Namun jika ada
perbedaan-perbedaan hendaknya jangan menjadikan pertentangan bagi kita.
Pada komentar dan pertanyaan anda mengatakan:
"Dalam usia yang baliq hakiki....Allah seharusnya bukan merupakan imaginasi. Dia juga
bukan sesuatu yang maya. Dia juga bukan sesuatu yang fana. Sesuai dengan ilmu Kalam,
Dia adalah sejelas-jelasnya ujud. Manusia yang maya, manusia yang di dalam fantasy,
manusia tidak ada kalau Allah tidak ada. Ini merupakan pertanyaan yang menyangkut
keberadaan. Untuk lebih jelas mari kita amati perumpamaan baju sutra yang terbuat dari
kain sutra. Sutra diolah menjadi benang kemudian menjadi kain, sebelum akhirnya
manjadi baju. Baju ada karena nama, tapi sutra ada karena Dzat. Apakah boleh
disamakan kewujudan pada nama dan kewujudan pada Dzat?"
Bismillahirrohmanirrohim. Alhamdulillah. Wasyukurillah. Walla khaula walaku wata illa
billah...amma ba'du.
Marhabban yaa Ramadhan. Marhabban yaa ahlan wa Syahlan.
Terima kasih sebelumnya kami ucapkan kepada saudaraku yang ada di Malaysia. Juga
salam Rahmat dan Nikmat dalam kehampaan bagi saudara-saudaraku di mana saja
berada. Ulasan dan komentar saudaraku sangat menarik dan sungguh ini adalah sesuatu
15

yang baik sekali dalam rangka pencerahan khususnya bagi jiwa-jiwa yang gersang,
tandus, dan haus akan siraman hikmah...didalam perjalanan bathin.
Tidak semua orang dapat mengadakan perjalanan bathin. Terkecuali mereka yang
beroleh hidayah dari Allah Swt.
Konsep awal tentang keesaan Allah Swt sudah teramat sering kami ketengahkan. Bahwa:
"Setiap benda pasti ada namanya. Mustahil benda ada tapi namanya tidak ada. Begitu
pula sebaliknya. Ada nama sudah pasti ada bendanya. Mustahil ada nama tapi bendanya
tidak ada. Jika itu terjadi tentu sangat bersalahan. Bukankah Allah Swt di dalam
mencipta selalu saling berpasangan. Ini isyarat bagi yang mau berpikir. Mengambil
iktibar di balik seluruh penciptaanya."
Di awal sudah dikatakan bahwa: Yang sejatinya itu sebenarnya sutra atau baju? Baju ada
karena nama tapi sutra ada karena Dzat. apakah boleh disamakan kewujudan pada nama
dan kewujudan pada dzat? Sekilas kita melihatnya tentu berbeda, tetapi jika lebih jauh
melihatnya...betulkah keduanya berbeda?
Untuk mengulasnya hendaknya kita harus lebih arif, bijak dan ekstra hati-hati. Karena
salah menarik kesimpulan dalam memahaminya, maka syirik khafi, syirik jalli, dan
syirik khafi al khafi siap menyambutnya.
Baju ada karena nama, yaitu sutra. Makanya disebut baju sutra. Sedangkan sutra itu
sendiri ada karena dzatnya. Coba kita ambil lagi perumpamaan lain yang lebih nyata dan
jelas. Manusia melihat dengan mata, tanpa mata dunia akan gelap gulita. Kita mendengar
dengan telinga, tanpa telinga dunia akan sunyi dan hening adanya. Coba kita renungkan.
Apakah yang melihat itu mata? Apakah yang mendengar itu telinga?
Jika benar yang melihat itu mata dan yang mendengar itu telinga, maka bagaimana
dengan jenazah (orang mati)? Dia punya mata lengkap tapi melihatkah ia? Ia juga punya
telinga lengkap tapi mendengarkah ia? Jawabannya kami serahkah kepada anda lebih
jauh dari itu.
Coba kita lihat dalam diri kita. Sebelum kita dijahirkan, apakah bisa dikatakan kita ada?
Begitu pula setelah kita mati, bisakah kita dikatakan ada? Silahkan cerna dan renungkan.
Sebab kalau kita membicarakan tentang dzat, maka dzat murni atau dzat mutlak Allah
Swt tersebut adalah yang tersembunyi dari yang tersembunyi (yang diupamakan dengan
dzat sutra), tapi kalau yang sembunyi dari yang tersembunyi itulah yang diupamakan
baju sutra. Sedangkan pengetahuan tentang dzat itu sendiri adalah suatu keajaiban dari
keberadaannya.
Karena ia luluh di dalam dirinya sendiri atau musnah dan lenyap didalamnya. Jika dipilih
berdasarkan tingkatannya maka tingkat ini adalah tingkat penyerapan diri sendiri yaitu
suatu tingkatan di mana diri sendiri akan terserap ke dalam dzat.
"Janganlah kamu memikirkan Dzatnya tetapi pikirkanlah faedahnya" (Al-Hadits).
Demi jiwa yang ada didalam genggamannya, jujur kami katakan bahwa kewujudan pada
nama dengan kewujudan pada dzat itu pada hakekatnya sama saja, karena sama-sama
diwujudkan. Justru menurut kami yang teristimewa itu adalah siapa yang mewujudkan
asma atau nama dan dzat itu sendiri.
16

Karena dzat itu adalah dzatnya, nama itu juga namanya. Itu sebab benda dan nama itu
adalah satu kesatuan yang tiada terpisahkan. Dan penyebab adanya nama dan dzat itulah
yang kami maksud tersembunyi dari yang tersembunyi, bukan yang sembunyi dari yang
tersembunyi. Begitu pula kita menyikapi akan diri kita.
Manakah diri yang sebenar-benarnya diri. Apakah yang nyata yang terlihat oleh mata
jahir ataukah yang ghaib yang yang tersembunyi tidak nampak.
Bila nyata adanya maka dimana kenyataannya dan bila ghaib dimana keghaibannya.
Karena sesungguhnya manusia itu sendiri pada hakekatnya satu saja. Bila banyak
bersuku-suku, berkaum-kaum, dan berbangsa-bangsa maka itu tidak lain adalah karena
sifat menyifatnya saja. Sama saja kita mengupas bawang, kita kupas dan kupas pada
akhirnya bawangnya itu sendiri tidak ada, yang ada kulitnya saja...Begitu pula dengan
Allah.
Allah itu adalah nama dan Tuhan itu adalah pangkat atau gelar kebesarannya. Mana
orangnya? Silahkan anda jawab sendiri. Kami hanya dapat mengantarkan anda sampai
disini saja. Selebihnya terserah anda.
Allah dalam menciptakan seluruh alam ini cukup satu kali saja, sampai kiamat ia tidak
menciptakan apa-apa lagi. Membuat manusia cukup dengan manusia saja, membuat
hewan cukup dengan hewan saja, menciptakan air cukup satu kali saja, seumur hidup
dunia tidak akan ada habis-habisnya.
Coba lihat ruh-ruh manusia hanya satu kali saja, tidak bertambah dan tidak berkurang.
Segalanya satu kali saja tiada berbilang. Orang ahlul akhirat satu kali saja cukup. Satu
kali mensyuhud cukup. Satu kali mati cukup. Satu kali tahu cukup. Semua serba satu
bukan serba dua lagi.
Semua kerja baik ibadat maupun yang lainnya tiada jahat,
tiada neraka,
tiada itu dan tiada ini...
semua tiada apa-apa,
semua langgeng,
semua rahmat,
semua nikmat,
semuanya Allah,
semuanya Tuhan,
semuanaya Nur,
semuanya Dzat,
dan semuanya!
aku dan aku!
aku dan aku!
akhirnya sunyi tiada huruf,
tiada suara,
semua kembali ke asal...
Inilah maqam penelanjangan Tuhan.
Asal Tuhan itu tiada berhuruf,
tiada bersuara,
bukan cahaya,
17

bukan benda,
dan bukan materi,
bukan dzat,

bukan sifat,
bukan asma,
dan bukan af'al.
Bukan Allah,
bukan Muhammad,
bukan Adam,
dan bukan semua-semuanya.
Pada penghujung perjalanan, semua itu hanya sebutan dan akuan saja adanya. Jika
demikian, siapa yang ada?
(Tanyakan ahlinya yang boleh menjawab)
Wallahu a'lam Bissawab.
Ramadhan 1429H

18

JALAN KEDUA
Mengenal diri yang sebenar-benarnya diri. ( Bagian pertama Pengantar Ilmu
Tasawuf )
Berbicara mengenai pengenalan diri yang sebenar-benarnya diri tentunya tidak akan
lepas kita dengan Dua Ilmu Allah, yaitu :

Ilmu Tasawuf

Ilmu Sifat 20

Bagi orang yang awam, kedua Ilmu Allah itu sangat ditakuti, sebab katanya salah-salah
kita
mengkajinya
maka
kita
akan
menjadi
gila.
Sesungguhnya pandangan seperti itu sangatlah keliru besar.!, seandainya itu memang
terjadi pada setiap santri yang mengkaji kedua Ilmu Allah itu, maka dapat dipastikan
bahwa apa yang dikajinya itu sangatlah keliru dan menyimpang dari kaidah yang
sebenarnya. Justru Agama kita sangat menganjurkan kepada kita untuk masuk dan
mempelajari kedua ilmu Allah itu dengan baik dan benar, karena kedua ilmu itu yang
akan dapat menghantarkan diri kita untuk sampai kepada pengenalan akan diri dan tuhan
yangsebenarnya.
Dibawah ini adalah beberapa dasar yang menerangkan tentang perlunya kita untuk
mengenal diri, yaitu Sbb :
"Sesungguhnya diri anak Adam itu adalah dosa yang besar, terkecuali ia
mengetahuinya".
(Hadits Rosulullah Saw)
"Barang siapa mengenal akan dirinya, niscaya ia akan mengenal akan tuhannya
mengenal akan tuhannya niscaya binasalah dirinya".
(Hadits Qudsy)
"Barang siapa menuntut jalan kepada Allah dengan lain dari pada mengenal akan diri
dengan sebenar-benarnya pengenalan, sesungguhnya sesat yang amat jauhlah ia dengan
tuhannya".
( Ijma ulama )
"Aku adalah gudang yang tersembunyi, aku suka jika aku dikenal, lalu aku ciptakan
makhluk supaya ia mengenal akan aku".
(Hadits Qudsy)
Bermula mengenal diri yang sebenar-benarnya diri itu, adalah ketahui dahulu olehmu
akan sifat-sifat wajib bagi Allah yang 13 dan 7 sifat Allah yang ada pada dirimu.
Sedangkan jalannya adalah Tasawuf. Apa sesungguhnya Tasawuf itu..????.
Baik kita mulai dari Sifat-sifat wajib bagi Allah yang 13 dan 7 sifat Allah yang ada pada
diri kita, Sbb :
Sifat Nafsiyah.
Sifat Nafsiyah artinya Sifat yang wajib bagi Zat, yaitu:

Wujud.

Jika ada sifat Nafsiyah, tentunya juga akan ada Diri Nafsiyah, bagaimana menurut anda?
Sifat Salbiyah.
Sifat Salbiyah artinya Sifat menolak yang tiada layak bagi Zat , yaitu :
19

Qidam

Baqa

Mukhalafatuhu taala lil khawadits

Qiyamuhu taala binafsih

Wahdaniyat.

Jika ada Sifat Salbiyah tentu akan ada pula Diri Salbiyah, bagaimana menurut anda?.
Sifat Maani.
Sifat Maani artinya berdiri ia kepada yang mawujud, yaitu :

QudratKuasa

Iradat Berkehendak

Ilmu...Tahu

Hayat.Hidup

Sama..Mendengar

Basyhar..Melihat

Kalam.Berkata-kata.

Jika ada sifat Maani tentu akan ada juga Diri Maani, bagaimana ini menurut anda?
Sifat Manawiyah.
Sifat Manawiyah artinya yang wajib bagi Zat, dikarenakan dengan sesuatu sebab, yaitu

Qodirun yang Kuasa

Muridun yang Berkehendak

Alimun yang Mengetahui

Hayyun yang Hidup

Samiun yang mendengar

Basyhirun .yang Melihat

Muttakallimun yang Berkata-kata.

Jika ada sifat Manawiyah tentu akan ada pula Diri Manawiyah, bagai mana ini menurut
anda?
Silahkan anda simak dan renungkan dengan baik, apa dan bagaimana maksudnya, kalau
ada sifat nafsiyah, sifat salbiyah, sifat maani dan sifat manawiyah tentu juga akan ada
yang disebut dengan diri nafsiyah, diri salbiyah, diri maani dan diri manawiyah.
Sedangkan Tasawuf itu sendiri adalah jalannya. Secara garis besar tasawuf itu bagi kami
tdak ubahnya seperti proses perjalanan 3 huruf hijaiyah Jim, kha, dan kho. ( , , ) .
Huruf
Jim.
(

)
huruf jim itu titiknya ada didalam huruf, maksudnya mengisyaratkan kepada kita bahwa
pada diri manusia itu penuh dengan dosa dan kesalahan, penuh dengan nafsu-nafsu
keakuan. Seakan-akan seluruh aktivitas kehidupan ini menjadi kuasa manusia semata.
Merasa manusia yang kuasa, manusia yang berkehendak, manusia yang mengetahui,
manusia yang hidup, manusia yang mendengar, manusia yang melihat dan manusia yang
berkata kata, perasaan-perasaan yang seperti ini akan timbul dikarenakan ketidak tahuan
20

kita

tentang

siapa

diri

kita

ini

yang

sebenarnya.

Allah Swt berfirman didalam Hadits Qudsy, menyerukan kepada seluruh manusia yang
beriman kepadanya untuk melihat kebelakang, melihat dan mempelajari tentang asal
muasal diri ini . (masuk pada jalan pertama untuk berawaluddin marifatullah).
Huruf
Hha.
(

)
Huruf Hha itu sama sekali tidak memiliki titik, baik itu didalam huruf maupun diluar
huruf. Maksudnya mengisyaratkan kepada kita semua tentang sebuah kebimbangan dan
keragu-raguan yang akan membawa diri kita pada suatu pertanyaan besar dan mendasar
yang
membutuhkan
jawaban
segera
dan
pasti.
Siapakah sebenarnya tuhan itu dan siapakah sebenarnya diri ini..?, sekiranya aku ini
tuhan dimanakah hamba itu.?, begitu pula sebaliknya sekiranya aku ini hamba
dimanakah
tuhan
itu.?.
Untuk menjadikan tolak ukur yang pasti dan menjadikan dasar pegangan dalam
kehidupan ini, Allah Swt telah berfirman didalam Hadits Qudsy yang berbunyi :
Kenalilah akan dirimu niscaya kamu akan kenal dengan-Ku.
(ini adalah janji Allah kepada kita, dan sangat mustahil jika Allah akan ingkar janji)
Allah Swt juga berseru:
Jangan kamu mencari Aku kerana Aku sudah laitsya pada dirimu dan pasti engkau tidak
akan Pernah menemukan Aku, tapi cari taulah engkau tentang siapa dirimu yang
sebenarnya (masuk pada jalan kedua untuk berawaluddin marifatullah).
Huruf
Kho
(

)
Huruf Kho itu titiknya berada diluar huruf, maksudnya mengisyaratkan kepada kita
bahwa, apabila rahasia Allah itu telah sampai padamu maka tidak akan pernah ada lagi
keragu-raguan lagi atas dirimu seluruhnya menjadi pasti.
Allah Swt berfirman didalam Al-Quran : "Setiap sesuatu yang bernyawa pasti akan
mengalami
kematian".
Didalam Hadits Qudsy, Allah Swt juga berfirman :
"Rasakanlah olehmu Mati sebelum kematian yang sebenarnya itu kamu rasakan (datang
padamu. Jika engkau akan datang kepada-Ku, maka matikanlah seluruh rasa yang ada
pada dirimu dan kembalikan semuanya kepada-Ku".
Sesungguhnya dirimu itu sebenarnya sudah mati sejak awal yaitu, ketika dirimu
terlahirkan kedunia yang fana /lenyap/hancur dan binasa ini namun oleh kerana pada
dirimu itu bersemayam rasa dan perasaan yang bermahkotakan nafsu, maka kamu
merasa hidup. (masuk pada jalan ketiga untuk berawaluddin marifatullah).
Selain dari keterangan diatas dapat juga diurai berdasarkan huruf-hurufnya yang ada
pada kata-kata TASAWUF, yaitu :
Ta( )
Shot...( )
Waw..( )
Fha( )
Adapun pengartiannya kurang lebihnya adalah Sbb :
Huruf Ta ( )
Huruf Tha itu adalah Tajrid, artinya Menghilangkan
Apa yang dihilangkan..?, yaitu :

Tajrid kepada Dunia


21

Tajrid kepada Manusia

Tajrid kepada Hawa Nafsu.

Huruf
Shot
Huruf
Shot
itu
Apa yang dibersihkan..?, yaitu :

(
adalah

artinya

Shafa,

Bersih dari keinginan Dunia

Bersih dari pada amarah dan senantiasa bersyukur, sabar dan tabah.

Bersih dari pada dawa sangka selain dari pada Allah Swt.

)
Bersih.

Huruf Waw ( )
Huruf waw itu adalah Wafa, artinya memelihara.
Apa yang dipelihara?, yaitu:

Memelihara Syareat

Memelihara, menuntut pahala

Memelihara dari pengenalan selain kepada Allah Swt.

Huruf
Fha
Huruf
Fha
itu
adalah
Apa yang difanakan?, yaitu :

Fana Ilmu

Fana Ain

Fana Haq

Fana Afal

Fana ASma

Fana Sifat

Fana Zat.

Fana,

(
artinya

Lenyap

atau

)
Hapus.

Demikian yang dapat kami sampaikan mengenai tasawuf berdasarkan huruf-huruf yang
dikandungnya.
Dengan kita mengetahui arti tasawuf, diri kita akan menjadi ( Men- Zat-di ) Faqir, yaitu:

Fha ( ) itu Fana /hapus

Qop ( ) itu Qonaah/ rutin

Ra ( ) itu Ridho/ikhlas.

Demikian dahulu kajian kita pada kesempatan ini, semoga Allah Swt senantiasa
melimpahkan Rahmat dan Nikmat-Nya sehingga kita didalam kesehariannya senantiasa
didalam
keadaan
Nyaman,
Nyaman
yang
senyaman-nyamannya.
Kepada teman-teman yang sudah terlalu lama menunggu dan menantikan episode ini
melalui Air Setitik, maka pada kesempatan yang berbahagia ini dan dengan segala
kekurangan serta kelemahan yang ada pada kami, kami mengaturkan ampun dan maaf
yang sebesar-besarnya, semoga saja kajian yang kami sampaikan ini akan bermanfaat
bagi kita semua terutama sekali bagi diri saya pribadi sebagai penulis sekaligus
penyampai.
Sebagai manusia tentunya kita tidak akan pernah luput dari khilaf dan salah, untuk itu
sekiranya ada penyampaian kami yang keliru dan keluar dari norma dan kaidah Agama,
22

maka dengan senang hati kami siap menerima pembetulannya, semoga kajian ini
menjadikan Ibadah.. amin ya robbal alamin.
(Air Setitik Team)
Kalimah

ALLAH

Apa

dan

bagaimana

itu

mari

kita

semak

bersama.

Bermula sebelum banyak hal yang tersampaikan, izinkanlah kami memohon ampun dan
maaf yang sebesar-besarnya, (lahir dan batin/dunia dan akhirat) sekiranya pada risalah
itu kita semua akan banyak dihadapkan dengan beberapa kata dan pernyataan yang
sangat musykil untuk didengar dan tidak patut rasanya untuk diutarakan.
Untuk itu kami dari Team Air Setitik memohon dengan sangat kepada kita semua agar
apa yang ada didalam risalah ini, benar-benar dapat dipahami dan dipelihara serta
disimpan sebaik-baiknya pada amaliyah kita sehari-hari.. Jangan kiranya kita
mempertentangkan perbedaan pendapat tentang kebenaran, akan tetapi mari kita
bersama-sama
mengambil
hikmah
yang
ada
dibaliknya.
Dengan berlindung kepada Allah Swt, Pencetusan Api Marifattullah dalam kalimah
ALLAH
saya
awali.
Syahdan, nama Allah itu tidak akan pernah dapat dihilangkan, sebab nama Allah itu akan
menjadikan Zikir bagi para Malaikat, Zikir para burung, Zikir para binatang melata, Zikir
tumbuh-tumbuhan dan Zikir dari Nasar yang 4 (tanah, air, angin dan api) serta zikir
segala makhluk yang ada pada 7 lapis langit dan 7 lapis bumi, juga zikir makhluk yang
berdiam diantara langit dan bumi. (buka..Al-Quran, Surah At-thalaq, ayat 1).
Adapun zikir para makhluk Allah yang kami sebutkan tadi tidaklah sama logatnya, dan
tidak sama pula bunyi dan bacaannya. Tidak sedikit para ahli Sufi dan para wali-wali
Allah yang telah mendengar akan bunyi zikir para makhluk itu, sungguh sangat beraneka
ragam
bunyinya.
Dalam Kitab Taurat, nama Zat yang maha Esa itu ada 300 banyaknya yang ditulis
menurut bahasa Taurat, dalam Kitab Zabur juga ada 300 banyaknya nama Zat yang
maha
esa
itu
yang
ditulis
dengan
bahasa
Zabur.
Dalam Kitab Injil juga ada 300 banyaknya nama Zat yang Esa itu yang ditulis dengan
bahasa Injil, dan dalam Kitab Al-Quran juga ada 99 nama Zat yang esa itu ditulis dalam
bahasa Arab. Jika kita berhitung maka dari keempat kitab itu yang ditulis berdasarkan
versinya, maka akan ada 999 nama bagi zat yang maha esa itu, dari jumlah tersebut maka
yang 998 nama itu, adalah nama dari Sifat Zat yang maha Esa, sedangkan nama dari
pada Zat yang maha esa itu hanya satu saja, yaitu ALLAH .
Diterangkan didalam Kitab Fathurrahman, berbahasa Arab, yaitu pada halaman 523.
disebutkan bahwa nama Allah itu tertulis didalam Al-Quran sebanyak 2696 tempat.
Apa kiranya hikmah yang dapat kita ambil mengapa begitu banyak nama Allah, Zat
yang
maha
Esa
itu
bagi
kita?
Allah, Zat yang maha esa, berpesan :
Wahai Hambaku janganlah kamu sekalian lupa kepada namaku
Maksudnya : Allah itu namaku dan Zatku, dan tidak akan pernah bercerai, Namaku dan
23

Zatku itu satu.

Allah Swt juga telah menurunkan 100 kitab kepada para nabi-nabinya, kemudian
ditambah 4 kitab lagi sehingga jumlah keseluruhan kitab yang telah diturunkan-Nya
berjumlah 104 buah kitab, dan yang 103 buah kitab itu rahasianya terhimpun didalam AlQurannul karim, dan rahasia Al-Qurannul karim itu pun rahasianya terletak pada
kalimah
ALLAH.
Begitu pula dengan kalimah La Ilaha Ilallah, jika ditulis dalam bahasa arab ada 12 huruf,
dan jika digugurkan 8 huruf pada awal kalimah La Ilaha Ilallah, maka akan tertinggal 4
huruf
saja,
yaitu
Allah.
Mana kalimah ALLAH itu adalah sebuah nama saja, sekalipun digugurkan satu persatu
nilainya tidak akan pernah berkurang, bahkan akan mengandung mana dan arti yang
mendalam, dan mengandung rahasia penting bagi kehidupan kita selaku umat manusia
yang telah diciptakan oleh Allah Swt dalam bentuk yang paling sempurna.
ALLAH jika diarabkan maka Ia akan berhuruf dasar Alif, Lam diawal, Lam diakhir dan
Ha. Seandai kata ingin kita melihat kesempurnaannya maka gugurkanlah satu persatu
atau
huruf
demi
hurufnya.
Gugurkan huruf pertamanya, yaitu huruf Alif () , maka akan tersisa 3 huruf saja dan
bunyinya tidak Allah lagi tetapi akan berbunyi Lillah, artinya bagi Allah, dari Allah,
kepada
Allahlah
kembalinya
segala
makhluk.
Gugurkan huruf keduanya, yaitu huruf Lam awal () , maka akan tersisa 2 huruf saja dan
bunyinya
tidak
lillah
lagi
tetapi
akan
berbunyi
Lahu.
Lahu Mafissamawati wal Ardi, artinya Bagi Allah segala apa saja yang ada pada tujuh
lapis
langit
dan
tujuh
lapis
bumi.
Gugurkan huruf ketiganya, yaitu huruf Lam akhir ( ), maka akan tersisa 1 huruf saja
dan bunyinya tidak lahu lagi tetapi Hu, Huwal haiyul qayum, artinya Zat Allah yang
hidup
dan
berdiri
sendirinya.
Kalimah HU ringkasnya dari kalimah Huwa, sebenarnya setiap kalimah Huwa, artinya
Zat,
misalnya
:
Qul Huwallahu Ahad., artinya Zat yang bersifat kesempurnaan yang dinamai Allah. Yang
dimaksud
kalimah
HU
itu
menjadi
berbunyi
AH,
artinya
Zat.
Bagi sufi, napas kita yang keluar masuk semasa kita masih hidup ini berisi amal bathin,
yaitu HU, kembali napas turun di isi dengan kalimah ALLAH, kebawah tiada berbatas
dan
keatas
tiada
terhingga.
Perhatikan
beberapa
pengguguran

pengguguran
dibawah
ini
:
Ketahui pula olehmu, jika pada kalimah ALLAH itu kita gugurkan Lam ( ) pertama dan
Lam ( ) keduanya, maka tinggallah dua huruf yang awal dan huruf yang akhir
(dipangkal dan diakhir), yaitu huruf Alif dan huruf Ha (dibaca AH).
Kalimah ini (AH) tidak dibaca lagi dengan nafas yang keluar masuk dan tidak dibaca
lagi dengan nafas keatas atau kebawah tetapi hanya dibaca dengan titik.
Kalimah AH, jika dituliskan dengan huruf Arab, terdiri 2 huruf, artinya dalam bahasa
disebutkan INTAHA (Kesudahan dan keakhiran), seandai saja kita berjalan mencari
Allah tentu akan ada permulaannya dan tentunya juga akan ada kesudahannya, akan
tetapi kalau sudah sampai lafald Zikir AH, maka sampailah perjalanan itu ketujuan yang
24

dimaksudkan.

(Silahkan

bertanya

kepada

ahlinya)

Selanjutnya gugurkan Huruf Awalnya, yaitu huruf ALIF dan gugurkan huruf akhirnya,
yaitu huruf HA, maka akan tersisa 2 buah huruf ditengahnya yaitu huruf LAM pertama
(Lam Alif) dan huruf LAM kedua ( La Nafiah). Qaidah para sufi menyatakan tujuannya
adalah Jika berkata LA (Tidak ada Tuhan), ILLA (Ada Tuhan), Nafi mengandung Isbat,
Isbat mengandung Nafi tiada bercerai atau terpisah Nafi dan Isbat itu.
Selanjutnya gugurkan huruf LAM kedua dan huruf HU, maka yang tertinggal juga dua
huruf, yaitu huruf Alif dan huruf Lam yang pertama, kedua huruf yang tertinggal itu
dinamai Alif Lam Latif dan kedua huruf itu menunjukkan Zat Allah, maksudnya
Marifat yang semarifatnya dalam artian yang mendalam, bahwa kalimah Allah bukan
NAKIRAH, kalimah Allah adalah Marifat, yakni Isyarat dari huruf Alif dan Lam yang
pertama
pada
awal
kalimah
ALLAH.
Gugurkan tiga huruf sekaligus, yaitu huruf LAM pertama, LAM kedua, dan HU
maka tinggallah huruf yang paling tunggal dari segala yang tunggal, yaitu huruf
Alif (Alif tunggal yang berdiri sendirinya).
Berilah tanda pada huruf Alif yang tunggal itu dengan tanda Atas, Bawah dan depan,
maka akan berbunyi : A.I.U dan setiap berbunyi A maka dipahamkan Ada Zat Allah,
begitu pula dengan bunyi I dan U, dipahamkan Ada Zat Allah dan jika semua bunyi itu
(A.I.U) dipahamkan Ada Zat Allah, berarti segala bunyi/suara didalam alam, baik itu
yang terbit atau datangnya dari alam Nasar yang empat (Tanah, Air, Angin dan Api)
maupun yang datangnya dan keluar dari mulut makhluk Ada Zat Allah.
Penegasannya bunyi atau suara yang datang dan terbit dari apa saja kesemuanya
itu berbunyi ALLAH, nama dari Zat yang maha Esa sedangkan huruf Alif itulah
dasar (asal) dari huruf Arab yang banyaknya ada 28 huruf.
Dengan demikian maka jika kita melihat huruf Alif maka seakan-akan kita telah melihat
28 huruf yang ada. Lihat dan perhatikan sebuah biji pada tumbuh-tumbuhan, dari biji
itulah asal usul segala urat, batang, daun, ranting, dahan dan buahnya.
Syuhudul Wahdah Fil Kasrah, Syuhudul Kasrah Fil Wahdah.
Pandang yang satu kepada yang banyak dan pandang yang banyak kepada yang satu
maka yang ada hanya satu saja yaitu satu Zat dan dari Zat itulah datangnya Alam beserta
isinya.
Al-Quran yang jumlah ayatnya 6666 ayat akan terhimpun kedalam Suratul Fatihah, dan
Suratul Fatihah itu akan terhimpun pada Basmallah, dan Basmallah itupun akan
terhimpun pada huruf BA, dan huruf BA akan terhimpun pada titiknya (Nuktah). Jika
kita tilik dengan jeli maka titik itulah yang akan menjadi segala huruf, terlihat banyak
padahal
ia
satu
dan
terlihat
satu
padahal
ia
banyak.
Selanjutnya Huruf-huruf lafaz Allah yang telah digugurkan maka tinggallah empat huruf
yang ada diatas lafaz Allah tadi, yaitu huruf TASYDID (bergigi tiga, terdiri dari tiga
huruf Alif) diatas Tasydid adalagi satu huruf Alif.
Keempat huruf Tasydid itu adalah isyarat bahwa Tuhan itu Ada, maka wajib bagi
kita untuk mentauhidkan Asma Allah, Afal Allah, Sifat Allah dan Zat Allah.
Langkah terakhir gugurkan keseluruhannya, maka yang akan tinggal adalah
kosong.
LA SAUTUN WALA HARFUN, artinya tidak ada huruf dan tiada suara, inilah
kalam Allah yang Qadim, tidak bercerai dan terpisah sifat dengan Zat.
25

Tarku Mayiwallah (meninggalkan selain Allah) Zat Allah saja yang ada.
La Maujuda Illallah (tidak ada yang ada hanya Allah).
Sembilan kali sudah kita menggugurkan kalimah Allah, seandainya juga belum
dapat
dipahami
maka
tanyakanlah
kepada
akhlinya.
JALAN KETIGA
Mengenal Diri yang sebenar-benarnya Diri. Bagian ketiga (terakhir)
Barang siapa mengenal dirinya niscaya ia mengenal akan Tuhannya,
kenal akan Tuhannya, maka binasalah jasadnya
(Hadits Qudsy)
Salam Rahmat dan Nikmat, saudaraku semuanya.
Edisi ini adalah merupakan kelanjutan dari Edisi ke 7 (Minggu, 28 Desember 2008) jalan
ke 2, bagian ke 2, yaitu Pencetusan Api Marifatullah didalam kalimah ALLAH.
Kalimah Allah yang telah dicetuskan dalam Api Marifatullah itu akan berhimpun pada
Huruf yang tiga, yaitu huruf A, I, dan Huruf U. Ketiga huruf itulah yang menerangkan
tentang ke-Esaan-Nya, yaitu Alif tunggal yang menyifat ke atas sehingga berbunyi A,
Alif tunggal yang menyifat kebawah sehingga berbunyi I, Alif tunggal yang menyifat
kedepan sehingga berbunyi U, Selanjutnya bagaimana jika Alif tunggal itu tidak sifat
menyifat, apakah ada bunyinya, apakah ada suaranya dan apakah ada kalimahnya,
jawabnya kami serahkan kepada anda sekalian, bagaimana kiranya anda menyikapinya.
Ketahuilah olehmu, bahwasannya diri yang sebenar-benarnya diri itu adalah Hayat, dan
yang sebenar-benarnya Hayat itu ialah Ruh, Ruh itu ialah Nyawa, Nyawa itu ialah Sifat,
sifat itu ialah Nur Muhammad dan Nur Muhammad itulah Zat (Zat Hayat).
Ketahui pula olehmu, bahwasannya Yang sebenar-benarnya Zat itu adalah Diri-Nya
(Ujud-Nya) dan yang sebenar-benarnya Sifat itu adalah Rupa-Nya (Wajah-Nya) dan
yang sebenar-benarnya Asma itu adalah Nama-Nya (Hati-Nya) dan yang sebenarbenarnya Afal itu adalah Kelakuan-Nya (Fiil-Nya).
Dengan demikian maka yang bernama Allah itu sebenarnya adalah Zat, Sifat, Asma dan
Afal, sebab pada Lafadz Allah itu adalah sebagai berikut :
Huruf Alif Allah itu masuk pada Zat, Huruf Lam Awal Allah itu masuk pada Sifat, Huruf
Lam Akhir Allah itu masuk pada Asma dan Huruf Ha Allah itu masuk pada Afal, maka
itulah yang bernama ALLAH.
Jika memang diri itu Hayat (Ruh), hendaknya kita jangan berhenti pada Ruh saja, akan
tetapi teruskan dan tembuskan pandanganmu itu kepada Hal dan Sifat Allah Taala.

26

Sekiranya pandanganmu itu berhenti hanya kepada Nyawa saja, maka sesungguhnya kita
salah dalam memahami pernyataan bahwa Diri itu Ruh .
Sebab tatkala Ia Nasab bagi sekalian tubuh Nyawa namanya, tatkala Ia keluar masuk
Napas namanya, tatkala Ia berkehendak Hati namanya, tatkala Ia percaya akan sesuatu
Iman namanya, dan tatkala Ia dapat memperbuat sesuatu Akal namanya.
Pohon Akal itu adalah Ilmu, inilah jalannya dan inilah yang disebut sebenar-benarnya
diri. Jika demikian adanya maka dapat dikatakan bahwa sekarang ini kita hanya
bertubuhkan Ruh semata-mata.
Mengapa demikian....?
Kita disini sudah Fana lahir dan bathin kepada Ruh, disini jangan diartikan bahwa
kita yang memfanakan diri, akan tetapi Fana itu dari Allah jua adanya, sedangkan kata
Kita itu pun sudah lebur kedalam Fana itu sendiri.
Itu sebabnya jika ada orang yang mengatakan telah dapat dan mampu memfanakan diri
akan tetapi Ia sendiri tidak tau dan tidak kenal akan dirinya, maka sesungguhnya itu
omong kosong dan bohong besar saja, mengapa demikian...?
Sebab jika seseorang itu tidak tau atau kenal siapa dirinya yang sesungguhnya, maka
mau di-Fana-kan kemana dirinya itu......?
Nyawa itu adalah Nur Muhammad, Nur Muhammad itu adalah Sifat, dan sifat itulah
Hayat, akan tetapi ingat olehmu bahwasannya Ruh itu bukan Tuhan, tetapi tiada lain dari
pada Tuhan, asalkan saja diteruskan kepada Zat dan Sifat.
Jika ini dapat dipahami, maka jangan kamu cari lagi akan Ia, kerana bila dicari lagi
bukannya semakin dekat akan tetapi malah semakin jauh jadinya.
Siapa saja yang telah sampai pada Maqom ini, pastilah Ia tidak akan mau mengatakan
kata-kata Syareat, Tarekat, Hakekat, Makrifat, dan...
Ahli Syareat tidak bersyareat lagi, ahli Tarekat tidak bertarekat lagi, ahli Hakekat tidak
berhakekat lagi, ahli Makrifat...tidak bermakrifat lagi...silahkan direnungkan.
Seseorang yang sampai kepada Tuhan, Ia tidak tahu lagi akan dirinya, dan tidak tahu lagi
siapa Tuhannya. Emas, Pasir , Syurga, Neraka... sama saja.
Ia lebih senang Diam. Karena diam itu adalah kedudukan Tuhan yang maha Agung dan
maha Mulia serta maha Tinggi.
27

Sebagai tambahan agar kita benar-benar mengenal akan diri yang sebenar-benarnya diri,
maka ketahuilah olehmu :
Rosulullah Saw bersabda:
Aku Adalah Bapak dari segala Ruh sedangkan Adam itu adalah Bapak dari sekalian
Batang Tubuh .
Batang Tubuh manusia itu dijadikan oleh Allah Swt dari pada Tanah.
Aku jadikan Insan (Adam) itu dari pada Tanah .
( Al-Quran)
Tanah itu dari pada Air, Air itu dijadikan dari pada Nur Muhammad. Dengan demikian
maka nyatalah bahwasannya Batang Tubuh dan Ruh kita ini jadi dari pada Nur
Muhammad, maka Muhammad Jua Namanya, tiada yang lain.
Sesungguhnya tubuh kita yang kasar ini tidak akan pernah dan tidak akan dapat
mengadakan pengenalan kepada Allah melainkan dengan Nur Muhammad jua. Itulah
sebabnya maka dinamakan Pohon Bustah artinya yang hampir pada ujudnya.
Adapun ujud itu, adalah ujud Allah taala jua adanya, sekali-kali jangan ada ujud yang
lain dari pada ujud Allah taala, itulah yang sebenar-benarnya diri, begitu pula dengan
kelakuan, jangan ada yang lain, karena tidak ada kelakuan yang lain selain kelakuan
Allah taala.
Sebab kalimah Faqad Arafah itu tiada akan menerima salah satu, melainkan suci zahir
dan bathin adanya.
Zat artinya ujud Allah semata-mata, itulah yang sebenarnya, Melihat itu Basyar Allah,
berkata-kata itu Kalam Allah dan seterusnya. Seandainya ada yang lain dari diri-Nya
maka seluruh pengenalanmu itu akan menjadi Batal .
Allah Swt bersabda :
Sesungguhnya Aku berada didalam sangka-sangka Hamba-Ku
Adapun yang bernama Rahasia (Sirr) itu, ialah Rahasia (Sirr) Allah taala jua adanya.
Inilah kesudahan Ilmu, artinya tiada lagi yang akan disebut didalam kitab manapun jua.
Kita ini pun bertubuhkan Muhammad zahir dan bathin, artinya bertubuhkan Ruh
namanya, sehingga tiada akan kita kenang-kenang lagi hati dan tubuh kita, hanya
semata-mata bertubuhkan bathin saja, maksudnya Muhammad jualah yang menjadi
tubuh kita ini pada hakekatnya .
Allah Swt berdiri diatas Hukum dan Muhammad itulah yang menjalankan Hukum, untuk
itu maka berlakulah Hukum itu sebagaimana adanya.
Sebagian Ulama mengatakan :
Antara dirinya dan tuhannya sedang asyik pandang memandang dengan Nyawa dan tiada
28

berkesudahan, Nyawapun demikian juga dan tiada berkeputusan dan tiada berkedudukan
lagi, pandang dan pujinya sedikitpun tiada lupa dan putus Tuhan kepada Hambanya,
demikian sebaliknya Nyawa sedikitpun tidak akan lupa dan putus pandangannya kepada
Tuhan.
Apa saja yang dipandang oleh diri itu sejauh mata memandang hanya yang dilihat dan
didengarnya tiada lain, yang berlaku dikanan maupun dikiri, keatas dan kebawah, zahir
dan bathin yang dirasakannya hanya puji bagi puji kepada Allah seluruh alam semesta
ini, inilah yang pernah terlontar dan terucap oleh ulama yang muhaqqiqin, bahwa :
Seluruh apa yang berlaku pada pandanganmu itu adalah Tauladan, puji atau zikrullah
yang berlaku bagi seluruh semesta alam ini, karena sesungguhnya dirinya itu
mengandung kalimah atau ber-rahasia kepada Allah.
Inilah Ilmu yang dinamakan Laut Ujudullah yang amat luas dan dalam yang tidak dapat
dicapai oleh akal siapapun, dan tidak akan tersurat lagi oleh tulisan dan tiada akan pernah
terucap lagi dengan kalam.
Bila Harfin Wala Sautin
( Tiada huruf tiada suara )
Laya rifu naka Illallah
( Tiada yang mengenal Allah melainkan Allah jua adanya)
Jadi yang perlu kita camkan baik-baik adalah bahwa, Pengenalan diri itu yaitu yang tidak
dihakekatkan dan tidak pula dimarifatkan lagi, akan tetapi Ia hanya berlaku dengan
sendirinya.
Juga jangan kita berpandangan bahwa Kita (manusia atau jasad yang baharu ) ini yang
mengenal, akan tetapi, yang mengenal itu ialah yang hidup dan tiada akan pernah mati.
Aku kenal akan Tuhanku dengan pengenalan Tuhanku jua
Jika demikian adanya maka janganlah dicari lagi, kerana Allah itu sendiri sudah Laitsya
Kamitslihi Syaiun pada dirimu, sudah berbarengan siang dan malam..... !
Salam Rahmat dan Nikmat,
Wassalam
(Air Setitik Team.)

29