Anda di halaman 1dari 3

DASAR TEORI

Glukosa merupakan monosakarida utama dalam darah yang berasal dari


makanan yang mengandung karbohidrat, dimana merupakan hasil dari proses
glukogenolisis dan glukoneogenesis. Glukosa dibentuk dari senyawa-senyawa
glukogenik yang mengalami glukoneogenesis. Glukosa juga diperlukan di dalam
jaringan adipose sebagai sumber gliserida-gliserol dan mungkin juga berperan dalam
mempertahankan kadar intermediate pada siklus asam sitrat di seluruh jaringan tubuh.
Glukosa adalah gula yang terpenting bagi metabolisme tubuh. Di dalam ilmu
kedokteran, gula darah merupakan istilah yang mengacu pada tingkat glukosa di
dalam darah. Kadar glukosa normal berkisar antara 50-150 mg/dL. Walaupun terdapat
jenis-jenis gula lainnya, seperti fruktosa dan galaktosa, hanya tingkatan glukosa yang
diatur melalui insulin dan leptin serta kadar normal glukosa harus dipertahankan dan
tidak boleh kurang dari normal karena sel saraf dan eritrosit hanya bisa menggunakan
glukosa sebagai sumber energi.
Hormon yang mengatur kadar glukosa darah adalah insulin. Insulin
merupakan suatu polipeptida yang mengandung dua rantai asam amino yang
dihubungkan oleh jembatan disulfida. Insulin dibentuk di ribosom sel beta pancreas
yang akan membentuk proinsulin. Jika kadar glukosa tetap tinggi disebut dengan
hiperglikemia, dimana jika kondisi ini dalam jangka panjang dapat menyebabkan
masalah kesehatan yang berkepanjangan pula seperti diabetes, termasuk kerusakan
mata, ginjal, dan saraf. Namun, jika kadar glukosa rendah maka akan terjadi suatu
kondisi fatal yang disebut dengan hipoglikemia.
Diabetes mellitus (DM) merupakan kelainan metabolic yang ditandai dengan
peningkatan kadar glukosa darah. penderita DM makin meningkat jumlahnya, dan
juga dapat menimbulkan komplikasi akut dan kronis. Diabetes adalah suatu penyakit
yang dapat dideteksi melalui urin. Urin seorang penderita diabetes akan mengandung
gula, dimana pada individu yang sehat tidak ditemukan. Kadar glukosa darah
merupakan indikator yang baik untuk memonitor terapi pada penderita DM, sehingga
pengukuran kadar glukosa darah perlu dilakukan secara rutin. Pengukuran kadar
glukosa darah dapat dilakukan dengan cara o-toluidin dan cara enzimatik
menggunakan enzim glukooksidase.

Prinsip pengukuran kadar glukosa darah dengan metode o-toluidin adalah


protein dalam darah dipresipitasi dengan menggunakan larutan asam trikloro asetat
untuk menghindari gangguan dalam pengukuran glukosa. Darah yang dipresipitasi
peoteinnya disentrifugasi untuk memisahkan proteinnya, supernatannya mengandung
glukosa. Metode ini merupakan metode yang mudah dilakukan dan merupakan
metode non enzimatis, dimana tidak menggunakan enzim melainkan dengan hanya
menambahkan larutan o-toluidin pada sample darah dan dengan menambahkan
larutan TCA (Tri Chloro Asetic Acid) 10% dan didiamkan 10 menit dengan tujuan
mengendapkan dan mendenaturasi protein yang terkandug di dalam darah secara
sempurna.
Penilaian kadar glukosa dalam urin juga dilakukan, dimana metode
pemeriksaan glukosa urin berdasarkan reaksi reduksi banyak macamnya, tetapi
metode benedict yang sampai saat ini masih banyak dipakai di laboratorium
sederhana untuk memeriksa glukosa urin.
Uji benedict merupakan uji kimia yang dilakukan untuk mengetahui
kandungan gula (karbohidrat) pereduksi, meliputi semua jenis monosakarida dan
beberapa disakarida seperti laktosa dan maltosa. Dalam suasana alkalis sakarida akan
membentuk enidid yang mudah teroksidasi. Semua monosakarida dan disakarida
kecuali sukrosa dan trekalosa akan bereaksi positif bila dilakukan uji benedict. Uji
benedict dapat dilakukan pada urin untuk mengetahui kandungan glukosa, dimana
urin yang mengandung glukosa dapat menjadi tanda penyakit diabetes.
Tujuan pemeriksaan glukosa urin sebenarnya tidak untuk memastikan
diagnosis DM, karena pemeriksaan ini tidak selalu dapat mencerminkan konsentrasi
glukosa dalam darah. Pemeriksaan urin ini yang paling sering diminta oleh pasien.
Terdapat batas ambang ginjal untuk glukosa yang merupakan batas konsentrasi
glukosa dalam darah yang masih dapat ditahan oleh glomerulus ginjal. Apabila
konsentrasi glukosa dalam darah > 180 mg/dL ( batas ambang ginjal untuk glukosa),
glukosa akan keluar ke urin dan pada pemeriksaan glukosa urin hasilnya akan positif.
Urin yang dikeluarkan tidak secara langsung berkorelasi dengan konsentrasi glukosa
dalam darah pada saat yang sama. Hal ini disebabkan urin yang dikeluarkan oleh
ginjal akan ditampung sementara di kandung kemih kemudian setelah penuh baru
dkeluarkan. Dengan demikian apabila ingin diperiksa glukosa urin puasa, maka

setelah pasien puasa semalam , pasien pada pagi hari harus mengosongkan kandung
kemih dan membuang urinnya dahulu, kemudian kencing yang berikutnya baru
diperiksa. Dengan keterbatasan tersebut pemeriksaan glukosa dalam urin masih
bermanfaat sebagai penyaring, bila hasilnya positif kemungkinan besar DM yang
kada glukosanya tinggi melebihi nilai ambang ginjal dan sebagai pemantau
pengendalian DM.

Referensi :
Murray, Graner, et al. 1993. Biokimia Harper. Ed. 24. Jakarta: EGC