Anda di halaman 1dari 2

Kriteria Penetapan Prioritas Masalah Kesehatan

Menetapkan prioritas masalah kesehatan dapat dilakukan dengan mengajukan beberapa


pertanyaan kritis sebagai berikut:
1. Apakah masalah tersebut menimpa sebagian besar penduduk?
2. Apakah masalah tersebut potensial sebagai penyebab tingginya kematian bayi?
3. Apakah masalah tersebut mempengaruhi kesehatan dan kematian anak balita?
4. Apakah masalah tersebut mengganggu kesehatan dan mengakibatkan kematian ibu hamil?
5. Apakah masalah kesehatan tersebut bersifat kronis (endemik di suatu wilayah tertentu), dan
dapat mengganggu produktivitas kerja kelompok masyarakat tertentu di suatu wilayah?
6. Apakah masalah tersebut menyebabkan kepanikan masyarakat luas?
Jika jawaban ya, skor keenam butir pertanyaan tersebut tinggi. Untuk menetapkan prioritas
suatu masalah kesehatan, anggota tim perencana di puskesmas sebaiknya membuat kesepakatan
bersama. Anggota tim perencana terdiri dari staf yang mengetahui secara jelas perkembangan
masalah kesehatan masyarakat di lapangan. Mereka diminta menyediakan data penunjang untuk
menjawab keenam pertanyaan tersebut. Sesuai dengan data yang tersedia dan pemahaman
anggota tim tentang berbagai masalah yang sedang dibahas, keenam pertanyaan tersebut
diberikan skor 1 sampai dengan 10, atau 1 - 5. Tinggi rendahnya skor yang diberikan tergantung
dari pemahaman anggota tim tentang masalah yang sedang dibahas. Dengan kata lain prioritas
masalah akan ditetapkan berdasarkan tinggi rendahnya angka kejadian penyakit tertentu di
masyarakat dan kemudahan masalah tersebut dipecahkan. Masalah yang mendapat skor tertinggi
dipilih diprioritaskan untuk segera ditanggulangi. Setiap anggota tim harus memberikan skor
sesuai dengan pengamatannya.
Pertimbangan lain yang perlu diperhatikan pada saat menetapkan prioritas masalah
kesehatan adalah aspek fisibilitasnya (potensi dan kendala) di lapngan.
1. Sejauh mana daerah itu mudah dicapai dengan kendaraan roda empat atau sepeda motor?
2. Bagaimana partisipasi masyarakat dapat dikembangkan untuk ikut mendukung pelaksanaan
program tersebut?
3. Berapa cakupan kegiatan program yang sudah tercapai?
4. Apakah masalah kesehatan tersebut merupakan prioritas masalah di tingkat nasional atau
regional?

5. Apakah masalah tersebut dapat dipecahkan menggunakan potensi yang tersedia di masyarakat
dan yang juga tersedia pada organisasi kesehatan setempat (Puskesmas, Dinas Kabupaten/ Kota
yang meliputi dana, SDM, teknologi, dan prasarana pendukungnya?
Setiap kriteria diatas juga diberi skor 1 - 10 atau 1 - 5. Semakin mudah (fisibel) masalah
tersebut diintervensi, semakin relevan dengan kebijakan nasional atau akan semakin tinggi skor
masalah kesehatan tersebut. Ini berarti semakin tinggi prioritasnya untuk dipecahkan.
Dengan menggunakan kedua jenis kriteria tersebut, maslah kesehatan masyarakat yang
potensial berkembang disuatu wilayah dan fisibel untuk ditangani dapat dijadikan prioritas
masalah.
Kriteria

pertama

menggunakan

pendekatan

kebutuhan

masyarakat

(aspek

epidemiologis) dan kriteria kedua menggunakan pendekatan sumber daya organisasi. Untuk
KLB suatu penyakit, apalagi yang menimbulkan kepanikan masyarakat, kriteria yang pertama
lebih banyak dimanfaatkan untuk menetapkan prioritas masalah.

Anda mungkin juga menyukai