Anda di halaman 1dari 59

GENDER

Pembakuan Peran dalam Kebijakan-kebijakan di Indonesia<center></center>

Pengantar:

Berangkat dari prinsip yang menantang gagasan konvensional bahwa hukum itu netral,
objektif dan bebas nilai, LBH APIK Jakarta telah melakukan penelitian tentang
‘Pembakuan Peran Gender dalam Kebijakan-kebijakan di Indonesia’. Dengan
menggunakan pendekatan hukum kritis,pandangan feminis terhadap hukum, gender dan
negara dalam konteks Indonesia, ditemukan bahwa terdapat kebijakan-kebijakan yang
tidak berkeadilan gender. Ideologi patriarki (dominasi laki-laki) faktanya telah mewujud
dalam sistem hukum di Indonesia (baik dari peraturan dan kebijakan yang ada, stuktur
dan budaya hukumnya), sehingga senantiasa mengekalkan ketidakadilan terhadap
perempuan.

Bagaimana pembakuan peran laki-laki dan perempuan dikukuhkan oleh Negara ?

Konsep pembakuan peran gender yang mengkotak-kotakkan peran laki-laki/ suami dan
perempuan/ istri ini hanya memungkinkan perempuan berperan di wilayah domestik
(domestikasi), yakni sebagai pengurus rumah tangga sementara laki-laki di wilayah
publik sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah utama. Peran gender yang memilah-
milah peran perempuan dan laki-laki pada kenyataannya telah dibakukan oleh negara
dalam berbagai kebijakan yang dilahirkan oleh Pemerintah Orde Baru. Kebijakan-
kebijakan tersebut pada akhirnya hanya menyisakan ketidakadilan pada perempuan.
Dengan demikian, melalui hukum, negara melakukan peran gender. Hukum, dengan
demikian, dipandang sebagai agen yang menguatkan nilai-nilai jender yang dianut oleh
masyarakat. Hal ini berkaitan dengan kebutuhan negara untuk menjaga dan menjamin
kepentingannya.

Apakah dampak dari pembakuan peran?

Upaya domestikasi perempuan secara sistematis oleh negara berdasarkan ideology gender
dalam kebijakan-kebijakan negara berdampak lebih jauh pada peminggiran terhadap
perempuan, baik secara ekonomis, politik, sosial dan budaya, juga menimbulkan
subordinasi, eksploitasi dan privatisasi kekerasan terhadap perempuan.

Kebijakan-kebijakan apa sajakah yang membakukan peran jender?

Ruang lingkup kebijakan yang dikritisi dalam penelitian adalah kebijakan-kebijakan yang
lahir pada era Orde Baru. Dari kebijakan-kebijakan negara seperti :
- pada masa Revolusi Hijau, yaitu pada Repelita I thn 1969-1974 dimana
muncul Kebijakan yang memarginalkan kaum perempuan pedesaan yang awalnya
memiliki peran penting sebagai petani kemudian digeser dengan munculnya alat-
alat pertanian modern yang diasosiasikan dengan keahlian jenis kelamin laki-laki.
- Kemudian, kebijakan lain yang juga mempunyai efek pembakuan peran adalah
praktek-praktek koersi terhadap perempuan yang diterapkan berkaitan dengan
kebijakan pemerintah tentang kependudukan => Kebijakan KB yang
dicanangkan sejak thn 1969 hanya diperuntukkan bagi kelompok perempuan
- Menunjukkan adanya asumsi patriarkal negara mengenai peran laki-laki dan
perempuan yang menganggap bahwa urusan domestik adalah tanggung jawab
perempuan. Nampak bahwa negara Orde Baru membatasi ruang lingkup
kehidupan perempuan (secara sosial, ekonomi, politik) dan melegitimasi
pembakuan peran gender.

Lebih rinci, teks-teks kebijakan yang dianalisa :


Ø GBHN; Sebagai landasan bagi kebijakan-kebijakan lainnya dan pembangunan
secara umum. Sepanjang GBHN 1978 –1998, kata ‘kodrat’ tetap hadir dalam
teks. Dengan konsep peran ganda yang dianut negara, dapat disimpulkan bahwa
‘kodrat ‘ dimakni tidak hanya sebatas kemampuan biologis perempuan tetapi juga
peran-peran reproduksi sosial. Jadi, dapat dideteksi adanya gagasan-gagasan
mengenai pembakuan peran gender dalam GBHN.

Ø Kebijakan tentang Buruh Migran Perempuan


a. Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. Kep. 213/Men/89 tentang biaya Pembinaan
Tenaga Kerja Indonesia dalam Rangka Pengembangan Program Antar Kerja
Antar Negara ke Timur Tengah ;
Dalam kebijakan ini diatur perbedaan biaya yang dikeluarkan untuk pengiriman
buruh migran perempuan dengan laki-laki dengan asumsi gender bahwa buruh
migran perempuan dianggap membutuhkan pembinaan.
b. Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. Kep. 196/Men/1991 tentang Petunjuk
Teknis Pengerahan Tenaga Kerja ke Arab Saudi
Peraturan ini memuat adanya pembedaan usia antara laki-laki dan perempuan
untuk menjadi buruh migran di sector informal.
Ø Kebijakan tentang Pembantu Rumah Tangga (Perda No. 6 thn 1993)
tentang Pembinaan Kesejahteraan Pramuwisma di DKI Jakarta dan SK
Gubernur DKI Jakarta No. 1099 thn 1994)
Asumsi pemerintah terhadap istilah pramuwisma yang cenderung ditujukan terhadap
perempuan menyumbang pada pembakuan peran gender dalam pasal-pasal Perda.
Misalnya, pasal tentang perlunya ijin bekerja dari suami bagi perempuan yang sudah
bersuami.
Ø Kebijakan tentang Perkawinan/ Perceraian
UUP
Integrasi konsep pembakuan peran dalam kebijakan tentang perkawinan yaitu
melalui UU No. 1 thn 1974 tentang Perkawinan (UUP), terutama nampak dalam
khususnya pasal 31, yang menyatakan bahwa “suami adalah kepala keluarga dan
istri adalah ibu rumah tangga.” Selain itu, UUP menganut asas monogamy
terbuka, maksudnya bahwa pada asasnya suatu perkawinan seorang laki-laki
hanya boleh mempunyai seorang isteri dan seorang perempuan hanya boleh
mempunyai seorang suami. Namun, terdapat klausula yang menyatakan bahwa
Pengadilan dapat memberi ijin kepada seorang suami untuk beristri lebih dari
seorang karenanya terbuka kemungkinan bagi laki-laki untuk melakukan
poligami. Pengaturan mengenai poligami ini tidak hanya menunjukkan bahwa
dalam institusi perkawinan posisi tawar perempuan lebih rendah disbanding laki-
laki tetapi juga menunjukkan bahwa negara jelas-jelas telah melegitimasi nilai-
nilai jender perempuan yang hidup dalam masyarakat.

Dalam Pasal 31 : Kedudukan suami isteri adalah sama, akan tetapi dalam ayat lain
ditegaskan bahwa suami adalah kepala keluarga dan isteri adalah ibu rumah
tangga. Penegasan ini merupakan pengetatan fungsi-fungsi isteri dan fungsi-
fungsi suami secara tegas. Artinya, pasal ini melegitimasi secara eksplisit
pembagian peran berdasarkan jenis kelamin. Juga, semakin dipertegas dalam
pasal 34 yang menyatakan bahwa suami wajib melindungi isteri dan isteri wajib
mengatur rumah tangga sebaik-baiknya. Pasal tersebut merupakan
pengejawantahan dari pola pikir masyarakat yang menganggap bahwa peran laki-
laki dan perempuan sudah mutlak terbagi.
PP No. 45/ 1990 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah No. 10 thn
1983 tentang ijin Perkawinan dan Perceraian Pegawai Negeri Sipil.
(Peraturan Pemerintah ini merupakan peraturan pelaksana dari UU Perkawinan
yang khusus diberlakukan kepada Pegawai Negeri Sipil dan merupakan
penyempurnaan dari PP 10 thn 1983). PP ini lebih menegaskan asas monogamy
terbuka. Akan tetapi, secara tidak konsisten PP melarang perempuan PNS menjadi
isteri kedua, ketiga atau keempat dengan asumsi akan merusak citranya sebagai
PNS dan perempuan.

Ø Kebijakan tentang Kekerasan terhadap Perempuan


- KUHP berkaitan dengan Penganiayaan terhadap isteri
KUHP tidak mengenal konsep kekerasan berbasis gender, atau tindakan-
tindakan kejahatan yang dilakukan karena jenis kelamin perempuan.
- KUHP berkaitan dengan Perkosaan
Perkosaan terhadap isteri dalam perkawinan (marital rape) tidak dikenal
dalam KUHP berarti KUHP mengadopsi pandangan masyarakat bahwa
fungsi isteri adalah melayani suami.
- UU No. 62 Tahun 1958 tentang Kewarganegaraan
UU ini mengadopsi ideology patriarki yang tercermin dalam ketentuan
tentang status kewarganegaraan anak yang lahir dari perkawinan
campuran , yaitu megikuti kewarganegaraan ayahnya.
Ø Kebijakan Ketenagakerjaan

UU No. 25 thn 1997 tentang Ketenagakerjaan : Memuat ketentuan yang


mendiskriminasikan perempuan dengan memuat ketentuan larangan bekerja
bagi perempuan pada waktu malam hari.

Ø Peraturan tentang Perpajakan :Keputusan Direktur Jendral Pajak No. 78/ PJ.41/
1990 tentang Pemberian Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) kepada isteri wajib pajak
yang melakukan kegiatan usaha dan atau pekerjaan bebas

Ø Peraturan tentang Perpajakan: Keputusan Direktur Jendral Pajak No. 78/


PJ. 41/ 1990 tentang Pemberian Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) kepada
isteri Wajib Pajak yang melakukan kegiatan Usaha dan atau Pekerjaan
Bebas

Dalam ketentuan perpajakan, isteri yang bekerja atau usaha yang wajib kena pajak
bukanlah wajib pajak secara pribadi melainkan sebagai ‘isteri wajib pajak.’ Dampaknya,
ada hambatan bagi perempuan menikah yang hendak mengembangkan usahanya karena
nomor wajib pajaknya tergantung pada suami sehingga otomatis pengembangan
usahanya tergantung pada ijin suami.

Penutup

Ø Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh negara disamping bias gender juga


bias kelas menengah serta bertentangan dengan kenyataan sosialnya. Dalam
kenyataannya, kaum perempuan tidak lagi hanya sebagai pencari nafkah tetapi
juga banyak yang menjadi kepala keluarga. Akibatnya timbul ketegangan antara
nilai-nilai dan peraturan yang diterapkan dengan kenyataan sosial yang terus
berlangsung.
Ø Melalui hukum, negara melakukan pembakuan peran gender. Beberapa
kebijakan mengacu pada peran perempuan dan laki-laki sebagaimana
didefinisikan dalam UUP No. 1 thn 1974. Dengan demikian, UUP merupakan
kebijakan yang mempunyai signifikansi dalam proses pembakuan peran yang
dilakukan negara.
Ø Perlu dilakukan reformasi terhadap kebijakan-kebijakan dengan mengamati
dinamika proses negosiasi antara kelompok-kelompok kepentingan yang terjadi
ditingkat negara untuk menentukan sasaran intervensi yang dapat dilakukan baik
di tingkat struktur formal (hukum dan negara) dan di tingkat masyarakat untuk
mengubah nilai-nilai gender yang dominan.

Sumber: http://www.lbh-apik.or.id/peneliltian-pembakuan_peran.htm
Perempuan Bekerja, Dilema Tak Berujung ? <center></center>

Fenomena perempuan bekerja sebenarnya bukanlah barang baru di tengah masyarakat


kita. Sejak zaman purba ketika manusia masih mencari penghidupan dengan cara berburu
dan meramu, seorang isteri sesungguhnya sudah bekerja. Sementara suaminya pergi
berburu, di rumah ia bekerja menyiapkan makanan dan mengelola hasil buruan untuk
ditukarkan dengan bahan lain yang dapat dikonsumsi keluarga. Karena sistem
perekonomian yang berlaku pada masyarakat purba adalah sistem barter, maka pekerjaan
perempuan meski sepertinya masih berkutat di sektor domestik namun sebenarnya
mengandung nilai ekonomi yang sangat tinggi.
Kemudian, ketika masyarakat berkembang menjadi masyarakat agraris hingga kemudian
industri, keterlibatan perempuan pun sangat besar. Bahkan dalam masyarakat berladang
berbagai suku di dunia, yang banyak menjaga ternak dan mengelola ladang dengan baik
itu adalah perempuan bukan laki-laki. Hal ini jelas menunjukkan bahwa keterlibatan
perempuan memang bukan baru-baru saja tetapi sudah sejak zaman dulu.

Dalam konteks Indonesia sebagai negara berkembang, sebenarnya tidak ada perempuan
yang benar-benar menganggur. Biasanya para perempuan memiliki pekerjaan untuk juga
memenuhi kebutuhan rumah tangganya entah itu mengelola sawah, membuka warung di
rumah, mengkreditkan pakaian dan lain-lain. Mungkin sebagian besar masyarakat
Indonesia masih beranggapan bahwa perempuan dengan pekerjaan-pekerja di atas bukan
termasuk kategori perempuan bekerja. Hal ini karena perempuan bekerja identik dengan
wanita karir atau wanita kantoran (yang bekerja di kantor). Pada hal, dimanapun dan
kapanpun perempuan itu bekerja, seharusnya tetap dihargai pekerjaannya. Jadi tidak
semata dengan ukuran gaji atau waktu bekerja saja.

Annggapan ini bisa jadi juga erkait dengan arti bekerja yang berbeda antara Indonesia
dengan negara-negara di Barat yang tergolong sebagai negara maju. Konsep bekerja
menurut masyarakat di negara-negara Barat (negara maju) biasanya sudah terpengaruh
dengan ideologi kapitalisme yang menganggap seseorang bekerja jika memenuhi kriteria
tertentu misalnya; adanya penghasilan tetap dan jumlah jam kerja yang pasti. Sedangkan
kebanyakan perempuan di Indonesia yang disebutkan tadi, pekerjaan mereka belum
menghasilkan penghasilan tetap dan tidak terbatas waktu, bahkan baru dapat dilakukan
hanya sebatas kapasitas mereka.

Meski bukan fenomena baru, namun masalah perempuan bekerja nampaknya masih terus
menjadi perdebatan sampai sekarang. Bagaimanapun, masyarakat masih memandang
keluarga yang ideal adalah suami bekerja di luar rumah dan isteri di rumah dengan
mengerjakan berbagai pekerjaan rumah. Anggapan negatif (stereotype) yang kuat di
masyarakat masih menganggap idealnya suami berperan sebagai yang pencari nafkah,
dan pemimpin yang penuh kasih; sedangkan istri menjalankan fungsi pengasuhan anak.
Hanya, seiring dengan perkembangan zaman, tentu saja peran-peran tersebut tidak
semestinya dibakukan, terlebih kondisi ekonomi yang membuat kita tidak bisa menutup
mata bahwa kadang-kadang istripun dituntut untuk harus mampu juga berperan sebagai
pencari nafkah. Walaupun seringkali jika seorang laki-laki atau suami ditanya maka akan
muncul jawaban “Seandainya gaji saya cukup, saya lebih suka isteri saya di rumah
merawat anak-anak”.

Terlepas dari pembahasan di atas, perdebatan mungkin muncul lebih karena anggapan
akan stereotype dari masyarakat bahwa akan ada akibat yang timbul jika suami-isteri
bekerja di luar rumah yaitu “mengganggu” keharmonisan yang telah berlangsung selama
ini. Bagaimanapun, tentu saja memang akan ada dampak yang timbul jika suami-isteri
bekerja di luar rumah. Namun solusi yang diambil tidak semestinya membebankan istri
dengan dua peran sekaligus yaitu peran mengasuh anak (nursery) dan mencari nafkah di
luar rumah (provider), yang akan lebih membawa perempuan kepada beban ganda, akan
tetapi adanya dukungan sistem yang tidak terus membawa perempuan pada posisi yang
dilematis.

Kerja produktif dan reproduktif

Untuk dapat melihat definisi dan makna kerja dengan lebih jernih lagi maka mungkin
perlu dijelaskan juga tentang kerja dengan membaginya menjadi dua bentuk kerja yaitu
kerja produksi dan kerja reproduksi. Baik kerja produksi maupun kerja reproduksi,
keduanya berperan penting dalam proses kehidupan manusia. Kerja produktif berfungsi
memenuhi kebutuhan dasar manusia seperti sandang, pangan, papan. Kerja reproduktif
adalah kerja “memproduksi manusia”, bukan hanya sebatas masalah reproduksi biologis
perempuan, hamil, melahirkan, menyusui, namun mencakup pula pengasuhan, perawatan
sehari-hari manusia baik fisik dan mental, kesemuanya berperan penting dalam
melahirkan dan memampukan seseorang untuk “berfungsi” sebagaimana mestinya dalam
struktur sosial masyarakat. Kerja reproduktif juga kerja yang pada prosesnya menjaga
kelangsungan proses produksi, misalnya pekerjaan rumah tangga. Tanpa ada yang
melakukan pekerjaan rumah tangga seperti memasak, atau mencuci maka tidak mungkin
akan didapatkan makanan, kenyamanan bagi anggota rumah tangga yang lain. Sehingga
dengan makanan dankenyamanan tersebut proses yang lain tidak terganggu.Tetapi tentu
saja pengertian pekerjaan reproduksi seperti ini tidak dianggap sebagai pekerjaan oleh
masyarakat dan juga pemerintah padahal secara fisik ini jelas sebagai sebuah kerja.

Dalam sistem kapitalisme yang berlaku dewasa ini, seperti yang sudah panjang lebar
diutarakan di atas, terdapat kecenderungan kuat untuk memisahkan kerja produksi dan
reproduksi, di mana kedua pekerjaan tersebut dilakukan dan siapa yang melakukan
pekerjaan tersebut. Kerja produksi dianggap tanggung jawab laki-laki, biasanya
dikerjakan di luar rumah. Kerja reproduksi dianggap tanggung jawab perempuan dan
biasanya dikerjakan di dalam rumah.

Seperti yang pernah diungkapkan, nampaknya hampir semua kalangan masyarakat


menyetujui bahwa perempuan mendapat kemulian dengan pekerjaannya sebagai ibu
rumah tangga hingga ibu rumah tangga mendapat gelar “ratu rumah tangga”. Namun
yang menjadi pertanyaan kemudian adalah mengapa pekerjaan reproduksi tersebut selalu
diberi sebutan sebagai “pekerjaan mulia”. Dan mengapa “pekerjaan mulia” tersebut
sebagian besar dibebankan hanya kepada perempuan, seolah ia adalah bagian kewajiban
dari Tuhan dengan imbalan kebahagiaan di akhirat nanti. Demikian pula sebutan “ratu”
yang seharusnya berimplikasi pada peran perempuan yang lebih besar dalam
pengambilan keputusan di tingkat keluarga, pada kenyataannya, bukan perempuan yang
lebih berperan dalam pengambilan keputusan penting, melainkan laki-laki.

Norma yang berlaku dewasa ini kerja reproduksi adalah tanggung jawab perempuan. Atas
nama tradisi dan kodrat, perempuan dipandang sewajarnya bertanggung jawab dalam
arena domestik. Institusi pendidikan, agama, media massa, mendukung pula pandangan
ini. Jarang yang mempertanyakan secara terbuka “kodrat” tersebut. Lebih jarang lagi
yang memperhitungkan nilai ekonomi pekerjaan rumah tangga.

Sayangnya, keterlibatan perempuan dalam kerja produksi tidak mengurangi beban


tanggung jawabnya di sektor reproduksi. Dengan kata lain, tidak mengundang laki-laki
untuk berkontribusi lebih besar dalam kerja reproduksi. Kerja perempuan terutama di
sektor reproduksi tidak pernah diperhitungkan dalam data perekonomian dan statistik.
Jika kerja tersebut diperhitungkan, niscaya akan mematahkan mitos “laki-laki adalah
pencari nafkah utama”.

Sebenarnya di banyak tempat, terjadi “perendahan” terhadap kerja reproduksi biologis


perempuan, meskipun perempuan telah mencurahkan begitu banyak waktu dan energi.
Contohnya pernyataan “buat apa anak perempuan sekolah tinggi-tinggi, nanti juga ke
dapur” atau “si X (perempuan) mah paling juga kawin terus ngurus anak”.

Di sektor publik sering kali sistem yang ada “tidak mendukung” perempuan (dan laki-
laki) bekerja untuk dapat pula melakukan kerja reproduksi secara optimal sekaligus. Jam
kerja panjang, ketiadaan sarana penitipan anak di tempat kerja, dan kesulitan perempuan
bekerja untuk menyusui anaknya, adalah beberapa contoh nyata. Meskipun cuti
melahirkan telah diberlakukan secara luas, masih ada yang merasa rugi memberi cuti
melahirkan kepada karyawan perempuan. Diskriminasi terselubung dilakukan guna
menghindari pemberian cuti tersebut antara lain dengan preferensi tidak tertulis
mengutamakan merekrut karyawan laki-laki atau karyawan perempuan lajang.

Situasi di sektor publik sering pula tidak ramah keluarga, baik terhadap karyawan
perempuan maupun laki-laki. Memberikan cuti melahirkan bagi karyawan perempuan
dianggap pemborosan dan inefiesiensi. Berkomitmen tinggi terhadap anak dan keluarga
dipandang tidak kompatibel dengan dunia kerja.

Ternyata, kerja reproduksi yang sebagian besar dilakukan perempuan berperan sangat
penting guna keberlanjutan suatu bangsa dan umat manusia pada umumnya. Perlu
perbaikan sistem sosial secara menyeluruh agar jangan sampai suatu bangsa atau lebih
parah lagi umat manusia punah, hanya karena berkeluarga dan memiliki anak menjadi
semakin tidak menarik. Sangat penting pula demokratisasi institusi keluarga, termasuk di
dalamnya peningkatan peran serta laki-laki dalam kerja reproduksi dalam rumah tangga.

Seperti yang juga sudah disinggung di atas, berkaitan dengan masalah perempuan bekerja
produksi yaitu dengan bekerja di luar rumah untuk mencari nafkah, pun sesungguhnya
sudah lazim ditemui di berbagai kelompok masyarakat. Sejarah menunjukan bahwa
perempuan dan kerja publik sebenarnya bukan hal baru bagi perempuan Indonesia
terutama mereka yang berada pada strata menengah ke bawah. Di pedesaan, perempuan
pada strata ini mendominasi sektor pertanian, sementara di perkotaan sektor industri
tertentu didominasi oleh perempuan. Di luar konteks desa-kota, sektor perdagangan juga
banyak melibatkan perempuan. Data sensus penduduk tahun 1990 menunjukan bahwa
sektor pertanian adalah sektor yang terbesar dalam menyerap tenaga kerja perempuan
yaitu 49,2%, diikuti oleh sektor perdagangan 20,6%, dan sektor industri manufaktur
14,2%.

Diskriminasi kerja perempuan

Terlepas dari persoalan sektor yang digeluti perempuan, keterlibatan perempuan di sektor
manapun selalu nampak dicirikan oleh “skala bawah” dari pekerjaan perempuan.
Perempuan di sektor pertanian pedesaan, mayoritas berada di tingkat buruh tani.
Perempuan di sektor industri perkotaan terutama terlibat sebagai buruh di industri tekstil,
garmen, sepatu dan elektronik. Di sektor perdagangan, pada umumnya perempuan
terlibat dalam perdagangan usaha kecil seperti berdagang sayur mayur di pasar
tradisional, usaha warung, adalah jenis-jenis pekerjaan yang lazim ditekuni perempuan.

Masalah umum yang dihadapi perempuan di sektor publik adalah kecenderungan


perempuan terpinggirkan pada jenis-jenis pekerjaan yang berupah rendah, kondisi kerja
buruk dan tidak memiliki keamanan kerja. Hal ini berlaku khususnya bagi perempuan
berpendidikan menengah ke bawah. Untuk kasus kota, sebagai buruh pabrik, sementara
untuk kasus pedesaan sebagai buruh tani. Hal yang perlu digarisbawahi di sini adalah
bahwa kecenderungan perempuan terpinggirkan pada pekerjaan marginal tersebut tidak
semata-mata disebabkan faktor pendidikan. Dari kalangan pengusaha sendiri, terdapat
preferensi untuk mempekerjakan perempuan pada sektor tertentu dan jenis pekerjaan
tertentu karena upah perempuan lebih rendah daripada laki-laki.

Sebuah studi tentang buruh perempuan pada industri sepatu di Tangerang, menemukan
bahwa biaya tenaga kerja (upah) buruh laki-laki adalah 10-15% dari total biaya produksi.
Sementara bila mempekerjakan perempuan, biaya tenaga kerja dapat ditekan hingga 5-
8% dari total biaya produksi (Tjandraningsih, 1991:18). Dalam kasus tersebut, persentase
buruh perempuan adalah 90% dari total buruh. Kasus lain dengan substansi yang sama
ditemukan pula di sektor pertanian pedesaan. Sebuah penelitian tentang buruh perempuan
pada agro industri tembakau ekspor di Jember bahwa untuk pekerjaan di kebun
tembakau, buruh perempuan mendapat upah Rp 1.650,00 per hari sementara buruh laki-
laki mendapat upah Rp 1.850,00 per hari (Indraswari, 1994:52). Persentase buruh
perempuan pada kasus tembakau adalah 80%. Paling tidak di kedua kasus tersebut telah
terjadi penggunaan tenaga kerja perempuan untuk sektor-sektor produktif tertentu dan
pemisahan kegiatan-kegiatan tertentu atas dasar jenis kelamin. Dua hal ini dapat di lihat
juga melalui peningkatan atau penurunan rasio perempuan di setiap jabatan.

Jika perempuan pada strata menengah ke bawah, bekerja di sektor publik kebanyakan
atas dasar dorongan kebutuhan ekonomi. Sedangkan bagi perempuan di kelas menengah
ke atas, bekerja bagi mereka adalah bagian dari aktualisasi diri. Hal ini selain terkait
dengan semakin terbukanya peluang bagi perempuan untuk memasuki sektor-sektor yang
pada awalnya diperuntukkan hanya untuk laki-laki. Semakin banyaknya perempuan
berpendidikan yang berkeinginan untuk aktif di sektor publik merupakan konsekuensi
logis dari pembukaan peluang yang lebih besar bagi anak perempuan untuk bersekolah.

Bagi perempuan kelas menengah ke atas yang bekerja sebagai pegawai swasta maupun
sebagai pegawai negeri, diskriminasi upah seringkali lebih tersamar. Meskipun sistem
pengupahan (termasuk tunjangan) pegawai negeri tidak lagi membedakan pegawai
perempuan dan laki-laki, di sektor swasta diskriminasi masih terjadi. Meskipun besar
upah pokok antara pegawai laki-laki dan perempuan sama, namun komponen tunjangan
keluarga dan tunjangan kesehatan dibedakan antara pegawai perempuan dan laki-laki.
Seorang pegawai perempuan -apakah berstatus menikah atau lajang- tetap dianggap
lajang. Seorang pegawai perempuan yang berstatus menikah -karena dia perempuan-
tidak mendapatkan tunjangan suami atau anak. Demikian pula tunjangan kesehatan hanya
diberikan kepada dirinya sendiri -tidak untuk suami dan anak-. Dengan demikian -dengan
memperhitungkan komponen tunjangan- total penghasilan pegawai laki-laki dan
perempuan berbeda jumlahnya untuk pekerjaan yang sama.

Diskriminasi upah yang terjadi secara eksplisit maupun implisit, seringkali memanipulasi
ideologi gender sebagai pembenaran. Ideologi gender adalah segala aturan, nilai,
stereotip, yang mengatur hubungan antara perempuan dan laki-laki terlebih dahulu
melalui pembentukan identitas feminin dan maskulin (Ratna Saptari dalam Andria dan
Reichman, 1999: 9). Karena tugas utama perempuan adalah di sektor domestik, maka
pada saat ia masuk ke sektor publik “sah-sah” saja untuk memberikan upah lebih rendah
karena pekerjaan di sektor publik hanya sebagai “sampingan” untuk “membantu” suami.

Persoalannya, generalisasi bahwa “semua perempuan bekerja hanya untuk ‘membantu’


suami” atau “semua perempuan bekerja hanya sebagai kegiatan sampingan” banyak tidak
terbukti validitasnya. Bagi perempuan miskin, dalam situasi krisis ekonomi, banyak
perempuan menjadi pencari nafkah utama keluarga atau bersama-sama suami
memberikan kontribusi finansial hingga 50% dari total penghasilan keluarga, atau bahkan
lebih. Sebenarnya pihak yang diuntungkan dalam kasus diskiriminasi upah adalah
pemilik modal yang dapat menekan biaya produksi melalui pengurangan komponen biaya
tenaga kerja.

Selain persoalan upah, dalam perspektif perbandingan dengan laki-laki, perempuan di


sektor publik menghadapi kendala lebih besar untuk melakukan mobilitas vertikal
(kenaikan pangkat, posisi, jabatan) karena ideologi patriarkis yang dominan. Hal ini
diindikasikan dengan minimnya jumlah perempuan yang menduduki posisi pengambil
keputusan dan posisi strategis lainnya baik di sektor pemerintah maupun di sektor swasta.
Meskipun persentase perempuan lebih dari 50% dari total penduduk Indonesia, namun
perempuan yang menjadi anggota parlemen hanya 7-8% dari total anggota parlemen.
Demikian pula dapat dihitung dengan jari, jumlah perempuan yang menduduki jabatan
struktural, bupati, walikota, menteri, dll.

Dari gambaran persoalan diatas, dapat dilihat telah terjadi pula pelebaran ketimpangan
ekonomi antara laki-laki dan perempuan yang ditandai oleh perbedaan upah serta
ketidaksamaan akses keuntungan dan fasilitas kerja, termasuk akses terhadap program-
program pelatihan untuk pengembangan karir.

Dalam Islam tidak ada masalah

Sebagai agama yang diyakini untuk kasih sayang semua umat manusia, maka Islam
sesungguhnya tidak pernah menekan pihak perempuan dalam bidang pekerjaan. Baik
pekerjaan di rumah maupun luar rumah. Jika merujuk kepada hadits Nabi, dalam praktek
kehidupan zaman Nabi Saw sesungguhnya ada banyak riwayat menyebutkan tentang
sahabat perempuan yang bekerja di dalam dan di luar rumah, baik untuk kepentingan
sosial, maupun untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sebutlah misalnya, Asma bint Abu
Bakr, isteri sahabat Zubair bin Awwam, bekerja bercocok tanam, yang terkadang
melakukan perjalanan cukup jauh. Di dalam kitab hadits (Shahih Muslim, juz II, halaman
1211, nomor hadits 1483) disebutkan bahwa ketika Bibi Jabir bin Abdullah keluar rumah
untuk bekerja memetik kurma, dia dihardik oleh seseorang untuk tidak keluar rumah.
Kemudian dia melapor kepada Nabi Saw, yang dengan tegas mengatakan kepadanya:
“Petiklah kurma itu, selama untuk kebaikan dan kemaslahatan”.

Bahkan di dalam literatur fikih (jurisprudensi Islam) secara umum tidak ditemukan
larangan perempuan bekerja, selama ada jaminan keamanan dan keselamatan, karena
bekerja adalah hak setiap orang. Variasi pandangan ulama hanya muncul pada kasus
seorang isteri yang bekerja tanpa restu dari suaminya. Kalau lebih jauh menelusuri
lembaran-lembaran literatur fikih, dalam pandangan banyak ulama fikih, suami juga tidak
berhak sama sekali untuk melarang isteri bekerja mencari nafkah, apabila nyata-nyata dia
tidak bisa bekerja mencari nafkah, baik karena sakit, miskin atau karena yang lain (lihat
fatwa Ibn Hajar, juz IV, h. 205 dan al-Mughni li Ibn Qudamah, juz VII, h. 573). Lebih
tegas lagi dalam fikih Hambali, seorang lelaki yang pada awalnya sudah mengetahui dan
menerima calon isterinya sebagai pekerja (baca : perempuan karir) yang setelah
perkawinan juga akan terus bekerja di luar rumah, suami tidak boleh kemudian melarang
isterinya bekerja atas alasan apapun (lihat : al-fiqh al-Islami wa adillatuhu, juz VII, h.
795). Fikih membenarkan suami dan isteri, keduanya bekerja di luar rumah dengan
prasyarat-prasyarat tertentu. Yang berarti fikih tidak memandang bahwa kewajiban
seorang lelaki (misalnya suami) untuk mencari nafkah menjadi penghalang bagi
perempuan untuk bekerja di luar rumah juga untuk mencari nafkah.

Pekerjaan rumah tangga adalah pekerjaan yang sesungguhnya untuk perempuan dan laki-
laki. Jadi pendefinisian bahwa pekerjaan di luar rumah adalah tugas laki-laki dan
pekerjaan di dalam rumah adalah pekerjaan perempuan adalah hasil penafsiran terhadap
teks secara sempit. Bahkan dalam fikih, perempuan sesungguhnya diperbolehkan
meminta upah bila menyusui anaknya, kecuali air susu hari pertama yang merupakan
kewajiban perempuan memberikan kepada anaknya karena mengandung kolostrum yang
baik untuk meningkatkan imunitas bayi baru lahir. Memang tentu saja hal ini tidak secara
otomatis mengatakan bahwa Islam mengajarkan hubungan ibu dan bayinya dihitung
dengan uang, akan tetapi adalah menunjukkan penghargaan pada jerih payah ibu.
Akhirnya, berbagai jalan dapat ditempuh untuk tetap memberikan keadilan bagi
perempuan, tak terkecuali yang berkaitan dengan masalah perempuan bekerja. (dd) ]

Sumber Bacaan :
Dedi Haryadi, Indrasari Tjandraningsih, Indraswari, dan Juni Thamrin, Tinjauan
kebijakan pengupahan buruh di Indonesia, AKATIGA, April 1994 Indraswari dan Juni
Thamrin, Potret kerja buruh perempuan; Tinjauan pada Agroindustri Tembakau Ekspor
di Jember, AKATIGA, Juni 1994 Ratna Saptari, Perempuan bekerja dan perubahan
sosial, Kalyanamitra, 1995. Al-fiqh al-Islami wa adillatuhu, juz VII, h. 795. Shahih
Muslim, juz II, halaman 1211, nomor hadits 1483. Fatwa Ibn Hajar, juz IV, h. 205. Al-
Mughni li Ibn Qudamah, juz VII, h. 573

Oleh: Swara Rahima

Sumber: Kementrian Pemberdayaan Perempuan

Kesetaraan Dan Keadilan Gender<center></center>

I. Pendahuluan

Kesetaraan dan Keadilan Gender (KKG) sudah menjadi isu yang sangat penting dan
sudah menjadi komitmen bangsa-bangsa di dunia termasuk Indonesia sehingga seluruh
negara menjadi terikat dan harus melaksanakan komitmen tersebut.
Upaya mewujudkan Kesetaraan dan Keadilan Gender (KKG), di Indonesia dituangkan
dalam kebijakan nasional sebagaimana ditetapkan dalam Garis-Garis Besar Haluan
Negara (GBHN) 1999, UU No. 25 th. 2000 tentang Program Pembangunan Nasional-
PROPENAS 2000-2004, dan dipertegas dalam Instruksi Presiden No. 9 tahun 2000
tentang Pengarusutamaan Gender (PUG) dalam Pembangunan nasional, sebagai salah
satu strategi untuk mewujudkan keadilan dan kesetaraan gender.

Disamping itu pengarusutamaan gender juga merupakan salah satu dari empat key cross
cutting issues dalam Propenas. Pelaksanaan PUG diisntruksikan kepada seluruh
departemen maupun lembaga pemerintah dan non departemen di pemerintah nasional,
propinsi maupun di kabupaten/kota, untuk melakukan penyusunan program dalam
perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi dengan mempertimbangkan
permasalahan kebutuhan, aspirasi perempuan pada pembangunan dalam kebijakan,
program/proyek dan kegiatan.
Disadari bahwa keberhasilan pembangunan nasional di Indonesia baik yang dilaksanakan
oleh pemerintah, swasta maupun masyarakat sangat tergantung dari peran serta laki-laki
dan perempuan sebagai pelaku dan pemanfaat hasil pembangunan. Pada pelaksanaannya
sampai saat ini peran serta kaum perempuan belum dioptimalkan. Oleh karena itu
program pemberdayaan perempuan telah menjadi agenda bangsa dan memerlukan
dukungan semua pihak.

Penduduk wanita yang jumlahnya 49.9% (102.847.415) dari total (206.264.595)


penduduk Indonesia (Sensus Penduduk 2000) merupakan sumberdaya pembangunan
yang cukup besar. Partisipasi aktif wanita dalam setiap proses pembangunan akan
mempercepat tercapainya tujuan pembangunan. Kurang berperannya kaum perempuan,
akan memperlambat proses pembangunan atau bahkan perempuan dapat menjadi beban
pembangunan itu sendiri.

Kenyataannya dalam beberapa aspek pembangunan, perempuan kurang dapat berperan


aktif. Hal ini disebabkan karena kondisi dan posisi yang kurang menguntungkan
dibanding laki-laki. Seperti peluang dan kesempatan yang terbatas dalam mengakses dan
mengontrol sumberdaya pembangunan, sistem upah yang merugikan, tingkat kesehatan
dan pendidikan yang rendah, sehingga manfaat pembangunan kurang diterima kaum
perempuan.

Berbagai upaya pembangunan nasional yang selama ini diarahkan untuk meningkatkan
kualitas sumber daya manusia, baik perempuan maupun laki-laki, ternyata belum dapat
memberikan manfaat yang setara bagi perempuan dan laki-laki. Bahkan belum cukup
efektif memperkecil kesenjangan yang ada. Hal ini menunjukkan bahwa hak-hak
perempuan memperoleh manfaat secara optimal belum terpenuhi sehingga pembangunan
nasional belum mencapai hasil yang optimal, karena masih belum memanfaatkan
kapasitas sumber daya manusia secara penuh.
Faktor penyebab kesenjangan gender yaitu Tata nilai sosial budaya masyarakat,
umumnya lebih mengutamakan laki-laki daripada perempuan (ideology patriarki);
Peraturan perundang-undangan masih berpihak pada salah satu jenis kelamin dengan kata
lain belum mencerminkan kesetaraan gender; Penafsiran ajaran agama yang kurang
komprehensif atau cenderung tekstual kurang kontekstual, cenderung dipahami parsial
kurang kholistik; Kemampuan, kemauan dan kesiapan perempuan sendiri untuk merubah
keadaan secara konsisten dan konsekwen; Rendahnya pemahaman para pengambil
keputusan di eksekutif, yudikatif, legislatif terhadap arti, tujuan, dan arah pembangunan
yang responsif gender.
Adanya kesenjangan pada kondisi dan posisi laki-laki dan perempuan menyebabkan
perempuan belum dapat menjadi mitra kerja aktif laki-laki dalam mengatasi masalah-
masalah sosial, ekonomi dan politik yang diarahkan pada pemerataan pembangunan.
Selain itu rendahnya kualitas perempuan turut mempengaruhi kualitas generasi
penerusnya, mengingat mereka mempunyai peran reproduksi yang sangat berperan dalam
mengembangkan sumber daya manusia masa depan.

II. Kondisi perempuan Indonesia

Secara keseluruhan indeks kualitas hidup manusia digambarkan melalui Indeks


Pembangunan Manusia/Human Development Index (HDI) yang berada pada peringkat
ke-96 pada tahun 1995 yang kemudian menurun ke peringkat 109 pada tahun 1998 dari
174 negara. Tahun 1999 berada pada peringkat 102 dari 162 negara dan tahun 2002, 110
dari 173 negara. Berdasarkan Human Development Report 2003, HDI Indonesia
menempati urutan ke-112 dari 175 negara, dibandingkan Negara-negara ASEAN lainnya
seperti HDI Malaysia, Thailand, Philippina yang menempati urutan 59, 70 dan 77.
Sedangkan Gender related Development Index (GDI) berada pada peringkat ke-88 pada
tahun 1995, kemudian menurun ke peringkat 90 (1998) dan peringkat 92 (1999 dari 146
negara). Kemudian pada tahun 2002 pada peringkat 91 dari 144 negara GDI inipun masih
tertinggal dibandingkan dengan-negara di ASEAN seperti Malaysia, Thailand, Philippina
yang masing-masing berada pada peringkat 54, 60, 63.
Berdasarkan hasil Survey Penduduk 2000 (BPS) diketahui jumlah penduduk Indonesia
sebesar 206.264.595 orang. Jumlah laki-laki sedikit lebih banyak dibandingkan
perempuan, (50,1% diantaranya laki-laki dan 49,9% perempuan).
Indeks pembangunan manusia skala internasional dan nasional dilihat dri tiga aspek yaitu
pendidikan, kesehatan dan ekonomi. Kondisi dan posisi perempuan meliputi 3 (tiga)
aspek tersebut di atas sebagai berikut:

1. Pendidikan
Di bidang pendidikan, kaum perempuan masih tertinggal dibandingkan laki-laki. Kondisi
ini antara lain disebabkan adanya pandangan dalam masyarakat yang mengutamakan dan
mendahulukan laki-laki untuk mendapatkan pendidikan daripada perempuan.
Ketertinggalan perempuan dalam bidang pendidikan tercermin dari presentase perempuan
buta huruf (14,54% tahun 2001) lebih besar dibandingkan laki-laki (6,87%), dengan
kecenderungan meningkat selama tahun 1999-2000. Tetapi pada tahun 2002 terjadi
penurunan angka buta huruf yang cukup signifikan. Namun angka buta huruf perempuan
tetap lebih besar dari laki-laki, khususnya perempuan kepala rumah tangga. Angka buta
huruf perempuan pada kelompok 10 tahun ke atas secara nasional (2002) sebesar 9,29%
dengan komposisi laki-laki 5,85% dan perempuan 12,69% (Sumber: BPS, Statistik
Kesejahteraan Rakyat 1999-2002). Menurut Satatistik Kesejahteraan Rakyat 2003. Angka
buta huruf perempuan 12,28% sedangkan laki-laki 5,84%.

2. Kesehatan
Menurut Gender Statistics and indicators 2000 (BPS), kemajuan di bidang kesehatan
ditunjukkan dengan menurunnya angka kematian bayi (dari 49 bayi per 1000 kelahiran
pada tahun 1998 menjadi 36 tahun 2000, (Sumber: BPS, Statistik Kesejahteraan Rakyat
1999-2001). Menurunnya angka kematian anak serta meningkatnya angka harapan hidup
dari 64,8 tahun (1998) menjadi 67,9 tahun (2000), Berdasarkan estimasi parameter
demografi 1998 yang dikeluarkan BPS, angka harapan hidup (eo) pada periode 1998-
2000 cenderung meningkat. Usia harapan hidup (life expectancy rate) perempuan lebih
tinggi dibandingkan laki-laki, yaitu 69,7 tahun berbanding 65,9 tahun. (Sumber: BPS,
Estimasi Parameter Demografi, 1998).
Dibidang kesehatan, selama periode 1998-2000 ada penurunan angka kematian bayi,
Infant Mortality Rate (IMR). Namun angka kematian bayi laki-laki lebih tinggi
dibandingkan angka kematian bayi perempuan. Laki-laki 41, perempuan 31, (Sumber:
BPS, Statistik Kesejahteraan Rakyat 1999-2001).
Sejalan dengan semakin meningkatnya kondisi kesehatan masyarakat, angka kematian
anak, Child Mortality Rate (CMR) periode ini juga menunjukkan penurunan, namun
demikian angka kematian anak laki-laki lebih tinggi dibandingkan kematian anak
perempuan laki-laki 9,8 sedangkan perempuan 7,9. (Sumber: BPS, Statistik
Kesejahteraan Rakyat 1999-2001).
Dibidang kesehatan dan status gizi perempuan masih merupakan masalah utama, yang
ditunjukkan dengan masih tingginya angka kematian ibu (AKI) 390/100.000 (SDKI
1994), 337/100.000 (SDKI 1997), dan menurun 307/100.000 (SDKI 2002).

3. Ekonomi
Di bidang ekonomi, secara umum partisipasi perempuan masih rendah, kemampuan
perempuan memperoleh peluang kerja dan berusaha masih rendah, demikian juga dengan
akses terhadap sumber daya ekonomi. Hal ini ditunjukkan dengan Tingkat Partisipasi
Angkatan Kerja (TPAK) yang masih jauh lebih rendah dibandingkan laki-laki, yaitu 45%
(2002) sedangkan laki-laki 75,34%, (Sumber: BPS, Statistik Kesejahteraan Rakyat 1999-
2002). Sedangkan ditahun 2003 TPAK laki-laki lebih besar dibanding TPAK perempuan
yakni 76,12% berbanding 44,81%. (BPS, Statistik Kesejahteraan Rakya, 2003).

III. Faktor Kesenjangan dibidang hukum dan politik

Faktor penyebab kesenjangan kondisi dan posisi perempuan dan laki-laki dipengaruhi
oleh peraturan perundang-undangan yang bias gender karena dalam bidang hukum masih
banyak dijumpai substansi, struktur, dan budaya hukum yang diskriminatif gender.
Jumlah peraturan perundang-undangan yang diskrimintaif terhadap perempuan berjumlah
kurang lebih 32 buah.

Faktor penyebab kesenjangan gender pada aspek lain misalnya politik sebagai berikut:
hasil Pemilu tahun 1999 yang menyertakan 57% pemilih perempuan hanya terwakili
8,8% dari seluruh anggota DPR, lebih rendah dari hasil pemilu 1997 yang berjumlah
11,2% dari jumlah pemilih 51%, (Sumber: Statistik dan Indikator Gender Indonesia
2002). Pemilu 2004 perempuan hanya terwakili 11%.

Jumlah perempuan yang menjabat sebagai Hakim Agung dan Hakim Yustisial Non
Struktural di Mahkamah Agung juga menunjukkan penurunan dari 36 pada tahun 1998
menjadi 34 pada tahun 1999, dan 28 pada tahun 2002, (Sumber: Statistik dan Indikator
Gender Indonesia 2002-Bab7).
Pada tahun 1999 jumlah PNS perempuan adalah 36,9%, laki-laki sebesar 63,1% dari
jumlah seluruh PNS (4.005.861), dan dari jumlah tersebut hanya 15,2% PNS perempuan
yang menduduki jabatan struktural, sedangkan PNS laki-laki sebesar 84,8%. Sedangkan
tahun 2000 terjadi sedikit perubahan dimana jumlah PNS perempuan adalah 37,6%, laki-
laki sebesar 62,4% dari jumlah seluruh PNS (3.927.146), dan dari jumlah tersebut hanya
15,7% yang menduduki jabatan struktural, sedangkan PNS laki-laki sebesar 84,3%.
(Statitik dan Indikator Gender, BPS, 2000).

Masalah HAM bagi perempuan termasuk isu gender yang menuntut perhatian khusus
adalah masalah penindasan dan eksploitasi, kekerasan, dan persamaan hak dalam
keluarga, masyarakat, dan negara. Masalah yang sering muncul adalah perdagangan
perempuan, dan pelacuran paksa, yang umumnya timbul dari berbagai faktor yang saling
terkait, antara lain dampak negatif dari proses urbanisasi, relatif tingginya angka
kemiskinan dan pengangguran, serta rendahnya tingkat pendidikan.

IV. Pengertian Kesetaraan dan Keadilan gender


Kesetaraan gender berarti kesamaan kondisi bagi laki-laki dan perempuan untuk
memperoleh kesempatan serta hak-haknya sebagai manusia, agar mampu berperan dan
berpartisipasi dalam kegiatan politik, hukum, ekonomi, sosial budaya, pendidikan dan
pertahanan dan keamanan nasional (hankamnas), serta kesamaan dalam menikmati hasil
pembangunan tersebut. Kesetaraan gender juga meliputi penghapusan diskriminasi dan
ketidak adilan struktural, baik terhadap laki-laki maupun perempuan.

Keadilan gender adalah suatu proses dan perlakuan adil terhadap perempuan dan laki-
laki. Dengan keadilan gender berarti tidak ada pembakuan peran, beban ganda,
subordinasi, marginalisasi dan kekerasan terhadap perempuan maupun laki-laki.

Terwujudnya kesetaran dan keadilan gender ditandai dengan tidak adanya diskriminasi
antara perempuan dan laki-laki, dan dengan demikian mereka memiliki akses,
kesempatan berpartisipasi, dan kontrol atas pembangunan serta memperoleh manfaat
yang setara dan adil dari pembangunan.
Memiliki akses dan partisipasi berarti memiliki peluang atau kesempatan untuk
menggunakan sumber daya dan memiliki wewenang untuk mengambil keputusan
terhadap cara penggunaan dan hasil sumber daya tersebut. Memiliki kontrol berarti
memiliki kewenangan penuh untuk mengambil keputusan atas penggunaan dan hasil
sumber daya. Sehingga memperoleh manfaat yang sama dari pembangunan.

V. Pengertian gender dan seks

Gender adalah perbedaan dan fungsi peran sosial yang dikonstruksikan oleh masyarakat,
serta tanggung jawab laki-laki dan perempuan Sehingga gender belum tentu sama di
tempat yang berbeda, dan dapat berubah dari waktu ke waktu.
Seks/kodrat adalah jenis kelamin yang terdiri dari perempuan dan laki-laki yang telah
ditentukan oleh Tuhan. Oleh karena itu tidak dapat ditukar atau diubah. Ketentuan ini
berlaku sejak dahulu kala, sekarang dan berlaku selamanya.

Gender bukanlah kodrat ataupun ketentuan Tuhan. Oleh karena itu gender berkaitan
dengan proses keyakinan bagaimana seharusnya laki-laki dan perempuan berperan dan
bertindak sesuai dengan tata nilai yang terstruktur, ketentuan sosial dan budaya ditempat
mereka berada. Dengan demikian gender dapat dikatakan pembedaan peran, fungsi,
tanggung jawab antara perempuan dan laki-laki yang dibentuk/dikonstruksi oleh sosial
budaya dan dapat berubah sesuai perkembangan zaman.
Dengan demikian perbedaan gender dan jenis kelamin (seks) adalah Gender: dapat
berubah, dapat dipertukarkan, tergantung waktu, budaya setempat, bukan merupakan
kodrat Tuhan, melainkan buatan manusia.
Lain halnya dengan seks, seks tidak dapat berubah, tidak dapat dipertukarkan, berlaku
sepanjang masa, berlaku dimana saja, di belahan dunia manapun, dan merupakan kodrat
atau ciptaan Tuhan.

VI. Permasalah Ketidakadilan Gender

Ketertinggalan perempuan mencerminkan masih adanya ketidakadilan dan ketidak


setaraan antara laki-laki dan perempuan di Indonesia, hal ini dapat terlihat dari gambaran
kondisi perempuan di Indonesia. Sesungguhnya perbedaan gender dengan pemilahan
sifat, peran, dan posisi tidak menjadi masalah sepanjang tidak melahirkan ketidakadilan.
Namun pada kenyataannya perbedaan gender telah melahirkan berbagai ketidak adilan,
bukan saja bagi kaum perempuan, tetapi juga bagi kaum laki-laki.

Berbagai pembedaan peran, fungsi, tugas dan tanggung jawab serta kedudukan antara
laki-laki dan perempuan baik secara langsung maupun tidak langsung, dan dampak suatu
peraturan perundang-undangan maupun kebijakan telah menimbulkan berbagai
ketidakadilan karena telah berakar dalam adat, norma ataupun struktur masyarakat.
Gender masih diartikan oleh masyarakat sebagai perbedaan jenis kelamin. Masyarakat
belum memahami bahwa gender adalah suatu konstruksi budaya tentang peran fungsi dan
tanggung jawab sosial antara laki-laki dan perempuan. Kondisi demikian mengakibatkan
kesenjangan peran sosial dan tanggung jawab sehingga terjadi diskriminasi, terhadap
laki-laki dan perempuan. Hanya saja bila dibandingkan, diskriminasi terhadap perempuan
kurang menguntungkan dibandingkan laki-laki.

Faqih dalam Achmad M. menyatakan, ketidak adilan gender adalah suatu sistem dan
struktur yang menempatkan laki-laki maupun perempuan sebagai korban dari sistem
(Faqih, 1998a; 1997). Selanjutnya Achmad M. menyatakan, ketidak adilan gender
termanifestasikan dalam berbagai bentuk ketidakadilan, terutama pada perempuan;
misalnya marginalisasi, subordinasi, stereotipe/pelabelan negatif sekaligus perlakuan
diskriminatif (Bhasin, 1996; Mosse, 1996), kekerasan terhadap perempuan (Prasetyo dan
Marzuki, 1997), beban kerja lebih banyak dan panjang (Ihromi, 1990). Manisfestasi
ketidakadilan gender tersebut masing-masing tidak bisa dipisah-pisahkan, saling terkait
dan berpengaruh secara dialektis (Achmad M. hal. 33, 2001).

VII. Bentuk-bentuk ketidakadilan akibat diskriminasi gender


1. Marginalisasi perempuan sebagai salah satu bentuk ketidakadilan gender
Proses marginalisasi (peminggiran/pemiskinan) yang mengakibatkan kemiskinan, banyak
terjadi dalam masyarakat terjadi dalam masyarakat di Negara berkembang seperti
penggusuran dari kampong halaman, eksploitasi. Namun pemiskinan atas perempuan
maupun laki yang disebabkan jenis kelamin merupakan salah satu bentuk ketidakadilan
yang disebabkan gender. Sebagai contoh, banyak pekerja perempuan tersingkir dan
menjadi miskin akibat dari program pembangunan seperti internsifikasi pertanian yang
hanya memfokuskan petani laki-laki. Perempuan dipinggirkan dari berbagai jenis
kegiatan pertanian dan industri yang lebih memerlukan keterampilan yang biasanya lebih
banyak dimiliki laki-laki.
Selain itu perkembangan teknologi telah menyebabkan apa yang semula dikerjakan
secara manual oleh perempuan diambil alih oleh mesin yang ummunya dikerjakan oleh
tenaga laki-laki.

Beberapa studi dilakukan untuk membahas bagaimana program pembangunan telah


meminggirkan sekaligus memiskinkan perempuan (Shiva, 1997; Mosse, 1996). Seperti
Program revolusi hijau yang memiskinkan perempuan dari pekerjaan di sawah yang
menggunakan ani-ani. Di Jawa misalnya revolusi hijau memperkenalkan jenis padi
unggul yang panennya menggunakan sabit.

Contoh-contoh marginalisasi:
Pemupukan dan ♣pengendalian hama dengan teknologi baru yang dikerjakan laki-laki;
♣Pemotongan padi dengan peralatan sabit, mesin yang diasumsikan hanya membutuhkan
tenaga dan keterampilan laki-laki, menggantikan tangan perempuan dengan alat panen
ani-ani;
♣Usaha konveksi lebih suka menyerap tenaga perempuan;
♣Peluang menjadi pembantu rumah tangga lebih banyak perempuan;
♣Banyak pekerjaan yang dianggap sebagai pekerjaan perempuan seperti “guru taman
kanak-kanak” atau “sekretaris” dan “perawat”.

2. Subordinasi
Subordinasi pada dasarnya adalah keyakinan bahwa salah satu jenis kelamin dianggap
lebih penting atau lebih utama dibanding jenis kelamin lainnya. Sudah sejak dahulu ada
pandangan yang menempatkan kedudukan dan peran perempuan lebih rendah dari laki-
laki. Banyak kasus dalam tradisi, tafsiran ajaran agama maupun dalam aturan birokrasi
yang meletakan kaum perempuan sebagai subordinasi dari kaum laki-laki. Kenyataan
memperlihatkan bahwa masih ada nilai-nilai masyarakat yang membatasi ruang gerak
terutama perempuan dalam kehidupan. Sebagai contoh apabila seorang isteri yang
hendak mengikuti tugas belajar, atau hendak berpergian ke luar negeri harus mendapat
izin suami, tatapi kalau suami yang akan pergi tidak perlu izin dari isteri.

3. Pandangan stereotipe
Setereotipe dimaksud adalah citra baku tentang individu atau kelompok yang tidak sesuai
dengan kenyataan empiris yang ada. Pelabelan negatif secara umum selalu melahirkan
ketidakadilan. Salah satu stereotipe yang berkembang berdasarkan pengertian gender,
yakni terjadi terhadap salah satu jenis kelamin, (perempuan),
Hal ini mengakibatkan terjadinya diskriminasi dan berbagai ketidakadilan yang
merugikan kaum perempuan. Misalnya pandangan terhadap perempuan yang tugas dan
fungsinya hanya melaksanakan pekerjaan yang berkaitan dengan pekerjaan domistik atau
kerumahtanggaan. Hal ini tidak hanya terjadi dalam lingkup rumah tangga tetapi juga
terjadi di tempat kerja dan masyaraklat, bahkan di tingkat pemerintah dan negara.
Apabila seorang laki-laki marah, ia dianggap tegas, tetapi bila perempuan marah atau
tersinggung dianggap emosional dan tidak dapat menahan diri. Standar nilai terhadap
perilaku perempuan dan laki-laki berbeda, namun standar nilai tersebut banyak
menghakimi dan merugikan perempuan.
Label kaum perempuan sebagai “ibu rumah tangga” merugikan, jika hendak aktif dalam
“kegiatan laki-laki” seperti berpolitik, bisnis atau birokrat. Sementara label laki-laki
sebagai pencari nakah utama, (breadwinner) mengakibatkan apa saja yang dihasilkan
oleh perempuan dianggap sebagai sambilan atau tambahan dan cenderung tidak
diperhitungkan.

4. Kekerasan
Berbagai bentuk tidak kekerasan terhadap perempuan sebagai akibat perbedaan, muncul
dalam bebagai bentuk. Kata kekerasan merupakan terjemahkan dari violence, artinya
suatu serangan terhadap fisik maupun integritas mental psikologis seseorang. Oleh karena
itu kekerasan tidak hanya menyangkut serangan fisik saja seperti perkosaan, pemukulan
dan penyiksaan, tetapi juga yang bersifat non fisik, seperpti pelecehan seksual sehingga
secara emosional terusik.
Pelaku kekerasan bermacam-macam, ada yang bersifat individu, baik di dalam rumah
tangga sendiri maupun di tempat umum, ada juga di dalam masyarakat itu sendiri. Pelaku
bisa saja suami/ayah, keponakan, sepupu, paman, mertua, anak laki-laki, tetangga,
majikan.

5. Beban Ganda
Bentuk lain dari diskriminasi dan ketidak adilan gender adalah beban ganda yang harus
dilakukan oleh salah satu jenis kalamin tertentu secara berlebihan. Dalam suatu rumah
tangga pada umumnya beberapa jenis kegiatan dilakukan laki-laki, dan beberapa
dilakukan oleh perempuan. Berbagai observasi, menunjukkan perempuan mengerjakan
hampir 90% dari pekerjaan dalam rumah tangga. Sehingga bagi mereka yang bekerja,
selain bekerja di tempat kerja juga masih harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
Dalam proses pembangunan, kenyataannya perempuan sebagai sumber daya insani masih
mendapat pembedan perlakuan, terutama bila bergerak dalam bidang publik. Dirasakan
banyak ketimpangan, meskipun ada juga ketimpangan yang dialami kaum laki-laki di
satu sisi.

VIII. Peran perempuan di domestik dan publik

Women have a vital role to play in the promotion of peace in all sphares of life, in the
family, the community, the nation, and the world. Women must participate equally with
men in the decision making process which help to promote peace at all the levels
(Deklarasi Konferensi Mexico, 1975)
Kelebihan/potensi perempuan:
• Rasa sosial, toleransi, ikatan kelompok
• Jiwa interpreneur (keseimbangan pendapatan-pengeluaran)
• Perhatian terhadap pemenuhan kebutuhan dasar keluarga, terutama bagi anak-anaknya
• Perajut persatuan dan kesatuan hidup masyarakat, bangsa, dan negara
• Pendidik pertama dan utama bagi generasi penerus keluarga, bangsa, dan negara
Perjuangan Kesetaraan laki-laki dan perempuan (internasional)
• Deklarasi HAM, PBB (1948) memberi aspirasi bagi gerakan feminis untuk
memperjuangkan hak-hak perempuan (all human beings are born free and equal in
dignity and rights), 1952 hak politik dan ekonomi perempuan diadopsi PBB.
• 1963, gerakan global emasipasi masuk dalam agenda PBB (ECOSOC) untuk
diakomodasi Negara anggota, Commission on the Status of Women (1967) memberi
aspirasi pada lahirnya PKK.
• Konferensi di Mexico, 1975 menyetujui program WID (Women in Development)
sebagai strategi meningkatkan peran wanita.
• Konferensi di Nairobi, 1985 setujui pembentukan UNIFEM lembaga PBB untuk
perempuan dengan program WAD (Women and Development) 1979 CEDAW-PBB,
melalui UU No. 7 tahun 1984, Indonesia meratifikasi CEDAW.
• Pertemuan di Vienna, 1990 menyetujui program GAD (Gender and Development)
dengan strategi Pengarustuaamaan Gender, melalui Keputusan Presiden No. 36 tahun
1990, Indonesia meratifikasi CRC (Convention Rights of Children).
• Konferensi ICPD, Cairo 1994 mengagendakan perlindungan terhadap hak reproduksi
perempuan dalam pembangunan yang berkelanjutan.
• Konferensi di Beijing, 1995 merinci 12 keprihatinan terhadap perempuan yang dikenal
dengan 12 critical issues.
Secara Nasional antara lain:
Adanya ♣UUD 1945 yang sudah empat kali diamandemen
tentang♣UU No. 25 tahun 2000 Propenas
♣UU No. 12 tahun 2000 tentang Pemilu
Presiden No. 9♣IInstruksi tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender dalam
Pembangunan Nasional.
Prinsip dasar membangun kesetaran gender di Indonesia
• Menghargai pluralistik
• Pendekatan sosio-kultural
• Peningaktan ekonomi dan kesejahteraan rakyat
• Penegakan HAM dan supremasi hukum
• Penghapusan kekerasan dan diskriminasi
• Penyadaran pilar pembangunan
• Pemerintah: sosialisasi dan advokasi
• Masyarkat: sensitisasi dan advokasi
• Dunia usaha, penyadaran dan advokasi
• Penyatuan persepsi, pemahman, dan penyadaran kepada semua pihak untuk
mewujudkan kesetaran gender dan perlindungan anak dalam kehidupan keluarga dan
masyarakat.

IX. Upaya-upaya dan usaha yang dilakukan pemerintah dalam rangka KKG

Upaya mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender sebagai visi Kementerian


Pemberdayaan Perempuan RI sebenarnya merupakan bentuk pembaruan pembangunan
pemberdayaan perempuan yang selama tiga dasa warsa telah memberikan manfaat yang
cukup besar. Berbagai peningkatan pemberdayaan perempuan bisa dilihat dengan
meningkatnya kualitas hidup perempuan dari berbagai aspek , meskipun masih belum
optimal.

Untuk meningkatkan status dan kualitas perempuan juga telah diupayakan namun
hasilnya masih belum memadai, ini terlihat dari kesempatan kerja perempuan belum
membaik, beban kerja masih berat, kedudukan masih rendah. Di lain pihak, pada saat ini
masih banyak kebijakan, program dan kegiatan pembangunan yang belum peka gender,
yang mana belum mempertimbangkan perbedaan pengalaman, aspirasi dan kepentingan
antara perempuan dan laki-laki serta belum menetapkan kesetaran dan keadilan gender
sebagai sasaran akhir pembangunan.

Penyebabnya antara lain belum adanya kesadaran gender terutama di kalangan para
perencana dan pembuat keputusan; ketidak lengkapan data dan informasi gender yang
dipisahkan menurut jenis kelamin (terpilah); juga masih belum mapannya hubungan
kemitraan antara pemerintah dengan masyarakat maupun lembaga-lembaga yang
memiliki visi pemberdayaan perempuan yaitu dalam tahap-tahap perencanaan,
pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi kebijakan dan program pembangunan

Bergesernya proporsi pekerjaan utama perempuan dari pertanian ke ranah industri,


meningkatnya mobilitas perempuan baik migrasi domestik maupun internasional serta
semakin membaiknya peran perempuan di lingkup keluarga, masyarakat dan berbangsa
serta bernegara merupakan indikator keberhasilan pemberdayaan perempuan khususnya
upaya kesetaraan dan keadilan gender mulai dapat dirasakan. Meskipun kemajuan
perempuan ini hanya bisa dinikmati pada tataran masyarakat yang sosial ekonominya
mapan (menengah ke atas).

Sebaliknya pada tingkat sosial ekonomi menengah ke bawah, masih sering dijumpai
ketimpangan antara laki-laki dan perempuan baik dalam memperoleh peluang,
kesempatan dan akses serta kontrol dalam pembangunan, serta perolehan manfaat atas
hasil pembangunan.
Hal ini tidak lain karena masalah struktural utamanya. Selain nilai-nilai budaya patriarkhi
yang dilegitimasi dengan (atas nama) agama dan sistem sosial yang menempatkan
perempuan dan laki-laki dalam kedudukan dan peran yang berbeda dan dibeda-bedakan.
(Zaitunah Subhan, hal. 17-18, 2001)

Dalam GBHN 1999-2004 menetapkan dua arah kebijakan pemberdayaan perempuan


yakni pertama meningkatkan kedudukan dan peranan perempuan dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara melalui kebijakan nasional yang diemban oleh lembaga yang
mampu memperjuangkan terwujudnya kesetaraan dan keadilan gender. Kedua
meningkatkan kualitas peran dan kemandirian organisasi perempuan dengan tetap
mempertahankan nilai persatuan dan kesatuan serta nilai historis perjuangan perempuan
dalam rangka melanjutkan usaha pemberdayaan perempuan serta kesejahteraan keluarga
dan masyarakat.

Dengan demikian pemberdayaan perempuan dalam rangka mewujudkan KKG


merupakan komitmen bangsa Indonesia yang pelaksanaannya menjadi tanggung jawab
seluruh pihak eksekutif, legislatif, yudikatif, tokoh-tokoh agama dan masyarakat secara
keseluruhan.
Sesuai dengan dua arahan kebijakan itu, pemerintah bertanggung jawab untuk
merumuskan kebijakan-kebijakan pemberdayaan perempuan di tingkat nasional maupun
daerah, yang pelaksanaannya dapat memberikan hasil terwujudnya kesetaraan dan
keadilan gender di segala bidang kehidupan dan pembangunan.
Berdasarkan arah kebijakan yang dimandatkan oleh GBHN 1999-2004 untuk butir
pemberdayaan perempuan, Propenas 2000-2004 telah melakukan mainstreaming
kebijakan dan program pembangunan pemberdayaan perempuan. Selanjutnya Propenas
telah dirumusakan secara lebih rinci setiap tahunnya ke dalam Rencana Pembangunan
tahunan (Repeta), untuk tahun 2001 (Repeta 2001).

Selanjutnya dalam Rencana Strategi Kementerian Pemberdayaan Perempuan 2001-2004,


program yang disusun terdiri dari program dalam rangka pembangunan pemberdayaan
perempuan, peningkatan kesejahteraan dan perlindungan anak dan upaya peningkatan
kemampuan. Mencakup Program Pengembangan dan Keserasian Kebijakan
Pemberdayaan Perempuan; Program Peningkatan Kualitas Hidup Perempuan; Program
Peningkatan Peran Masyarakat Pemampuan Kelembagaan Pengarusutamaan Gender;
Program Peningkatan Kesejahteraan dan Perlindungan Anak; Program Sumber Daya,
Sarana dan Prasarana. Mengingat produk tersebut merupakan undang-undang, maka
untuk mewujudkan kesetaran dan keadilan gender harus menjadi komitmen bersama.

Dalam rangka mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender melaui program yang peka
akan permasalahan gender, Kementerian Pemberdayaan Perempuan telah bekerjasama
dengan UNFPA dalam melaksanakan serangkaian kegiatan Mainstreaming Gender Issues
in Reproductive Health and Population Policies and Programmes.

Tujuan utama program ini adalah tercapainya perbaikan status kesehatan reproduksi
kaum perempuan dan laki-laki melalui kebijakan program kesehatan reproduksi dan
kependudukan yang sensitif gender. Hal ini akan dicapai melalui penguatan kapasitas
nasional untuk melakukan pengarusutamaan gender, serta melalui aplikasi konsep gender
dalam formulasi dan pelaksanaan kebijakan dan program untuk kesehatan reproduksi dan
kependudukan.

Upaya mengaktualisasikan dan memanifestasikan dan mengakselerasi-kan PUG di sektor


strategis, propinsi dan kabupaten/kota, Kementerian Pemberdayaan Perempuan juga telah
melaksanakan program dan langkah konkrit antara lain:
• Program Pengembangan dan keserasian kebijakan pemberdayaan perempuan, serta
serangkaian koordinasi telah dilakukan dalam upaya perbaikan undang-undang yang
masih bias gender seperti UU No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan dan UU No. 62
tahun 1958 tentang Kewarganegaraan.
• Program Peningkatan Peranserta masyarakat dan penguatan kelembagaan PUG
dilakukan dengan melalui: sosialisasi, advokasi, dan pelatihan analisis gender baik di
tingkat pusat, propinsi, dan kabupaten/kota;
• Pengembangan modul sosialisasi/advokasi gender;
• Pengembangan alat untuk analisis gender yang digunakan dalam perencanaan program
dan dikenal dengan Gender Analysis Pathway (GAP); dan Problem Base Analysis
(PROBA).
• Pengembanagan Homepage untuk penyediaan data dan informasi program
pembangunan pemberdayaan perempuan, konsep kesetaraan dan keadilan gender dan
jaringan informasi dengan website;
• Penyusunan Profil Gender untuk 26 propinsi;
• Fasilitasi bantuan teknis kepada daerah propinsi, kabupaten dan kota;
• Tersedianya data dan informasi yang terpilah menurut jenis kelamin secara berkala dan
berkesinambungan dari propinsi dan kabupaten/kota mengenai pengarusutamaan gender
dalam pembangunan daerah.

X. Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas menunjukkan bahwa diskriminasi gender telah melahirkan


ketimpangan dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara,
selain itu ketimpangan lebih banyak dialami perempuan dari pada laki-laki.

Akibat diskriminasi gender yang telah berlaku sejak lama, kondisi perempuan di bidang
ekonomi, sosial, dan budaya, politik, hankam dan HAM berada pada posisi yang tidak
menguntungkan. Kondisi yang tidak menguntungkan ini apabila tidak diatasi, maka
ketimpangan atau kesenjangan pada kondisi dan posisi perempuan tetap saja akan terjadi.

Bahwa status perempuan dalam kehidupan sosial dalam banyak hal masih mengalami
diskriminasi haruslah diakui. Kondisi ini terkait erat dengan masih kuatnya nilai-nilai
tradisional terutama di pedesaan, dimana perempuan kurang memperoleh akses terhadap
pendidikan, pekerjaan, pengambilan keputusan dan aspek lainnya. Keadaan ini
menciptakan permasalahan tersendiri dalam upaya pemberdayaan perempuan, dimana
diharapkan perempuan memiliki peranan yang lebih kuat dalam proses pembangunan.
Kurangnya keikutsertaan perempuan dalam memberikan konstribusi terhadap program
pembangunan menyebabkan kesenjangan yang ada terus saja terjadi.

XI. Saran dan pesan:

Pada kesempatan ini dihimbau kepada para kandidat puteri Indonesia yang dibanggakan
untuk berperan aktif dalam memajukan posisi dan kondisi perempuan Indonesia dalam
segala aspek/bidang pembangunan, misalnya melalui aktifitas peningkatan pengetahuan
dan penyebarluasan seluruh informasi sebagaimana telah dipaparkan tersebut di atas, baik
pada kalangan sendiri, dalam keluarga, serta lingkungan masyarakat luas. Mudah-
mudahan apa yang telah disampaikan dapat memberi manfaat yang sebesar-besar bagi
diri sendiri, masyarakat bangsa dan Negara.

Pesan khusus untuk semua kandidat adalah menjaga jatidiri puteri Indonesia yang
bermoral karena kita mempunyai macam-macam agama yang diakui dan ragam budaya
yang dapat dijalankan dan dijaga kelestariannya. Sekaligus saya tekankan semoga semua
kandidat puteri Indonesia dapat menjunjung tinggi agamanya dan jatidirinya sebagai
Bangsa Indonesia yang aman dan damai.

Jakarta, 3 Agustus 2004

Daftar Pustaka:

Achmad Muthali’in, Bias Gender dalam Pendidikan, Surakarta, Muhammadiyah


University Press, 2001.
BPS, United Nations Developmen Fund for Women. Gender Statistics and Indicators
2000.
BPS, Kementerian Pemberdayaan Perempuan, JICA dan UNFPA, Buku Referensi
Pelatihan: Fakta dan Indikator Gender, Tingkat Nasional, 4 Propinsi dan 16
Kabupaten/Kota Terpilih, 2003.
BPS, Statistik Kesejahteraan Rakyat, 2003.
Dr. H. Nasaruddin Umar, MA, et all, Dr. H. Abdul Djamil, MA. (Pengantar), Dra. Hj. Sri
Suhandjati Sukri (Editor), Bias Jender dalam Pemahaman Islam, Jilid I Penerbit IAIN
Walisongo dengan Gama Media, 2002.
Julia Cleves Mosse, Gender dan Pembangunan, Diterbitkan atas kerjasama RIFKA
ANNISA Women’s Crisis Centre dengan Pustaka Pelajar, 1996.
Kantor Menteri Negara Peranan Wanita, 1998, Profil Wanita Indonesia.
Kantor Menteri Negara Peranan Wanita, Pedoman Teknis Perencanaan Pembangunan
Berperspektif Gender.
Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, Deputi Bidang Kesetaraan Gender
bekerjasama dengan Bangun Mitra Sejati, 2001, Modul Pelatihan, Keadilan dan
Kesetaraan Gender untuk BUMN/BUMD dan Perusahaan Swasata.
Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI, 2002, Panduan Gender dalam
Perencanaan Partisipatif.
Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI, 2002, Buku 1, Bahan Informasi
Pengarusutamaan Gender, Edisi ke-2, Apa Itu Gender.
Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI, 2002, Buku 2, Bahan Informasi
Pengarusutamaan Gender, Edisi ke-2, Bagaimana Mengatasi Kesenjangan Gender.
Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI, 2002, Buku 3, Bahan Informasi
Pengarusutamaan Gender, Ediisi ke-2, Perencanaan erperspektif Gender.
Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan RI, 2002, Buku 4, Bahan Informasi
Pengarusutamaan Gender, Edidisi ke-2, Pemantauan dan Penilaian.
Kementerian Pemberdayaan Perempuan, Bahan Informasi Gender, Modul 1: Apa itu
Gender?
UNIFEM and NCRFW, 1994, Gender and Development Making the Bureaucracy
gender-responsive, a sourcebook for advocates, planners, and implementors, (developed
by dr. amaryllis t. tores and professor rosario s. del rosario with the assistance of
professor rosalinda pineda-ofreneo for Unifem and NCRFW).
UNFPA, Kementerian Pemberdayaan Perempuan, BKKBN, 2003, Bunga Rampai
“Bahan Pembelajaran Pelatihan Pengarusutamaan Gender dan Program Pembangunan
Nasional”.

Zaitunah Subhan, Peningkatan Kesetaraan dan Keadilan Jender, dalam membangun Good
Governance.

Sumber:

Hari Pembebasan Kaum Perempuan<center></center>

KALAU kita menyimak catatan sejarah perjalanan Hari Ibu yang setiap tahunnya
diperingati pada tanggal 22 Desember, muncul kesan bahwa semangat perjuangan kaum
perempuan tempo dulu ternyata tidak sedangkal semangat yang sering ditampilkan pada
peringatan Hari Ibu saat ini seremonial dan bahkan konsumerisme. Dulu, mereka tidak
hanya gigih dalam menyuarakan hak-haknya, tetapi juga berani memikul senjata turun ke
medan perang untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini.

Adalah sejarah yang mencatat bahwa dua bulan setelah Sumpah Pemuda dideklarasikan,
persisnya pada tanggal 22 Desember 1928, maka berkumpul sekira 30 organisasi
perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatra untuk menyelenggarakan kongres
pertamanya dengan mengambil lokasi di Yogyakarta. Salah satu agenda pokoknya adala
menggabungkan organisasi-organisasi perempuan Indonesia dalam sebuah federasi tanpa
sama sekali membedakan latar belakang politik, suku, status sosial dan bahkan agama.

Hadirnya organisasi seperti Aisyiah, Wanita Katolik, Putri Indonesia, Jong Java bagian
Perempuan, Jong Islamieten Bond bagian Wanita dan Organisasi Wanita Utomo, adalah
bukti sejarah bahwa semangat pluralisme (keberbedaan) yang merupakan modal utama
untuk membangun persatuan, sesungguhnya telah tumbuh subur di kalangan tokoh
wanita sejak dua pertiga abad yang lalu. Tidak keliru kalau momentum yang kini
diperingati sebagai Hari Ibu itu hadir sebagai puncak kebangkitan kesadaran kaum
perempuan Indonesia dalam rangka menghimpun kekuatan bersama untuk bisa keluar
dari berbagai ketertinggalannya.

Jangan lupa, adalah sejarah pula yang mencatat bahwa dari kongres perempuan Indonesia
yang pertama itu berhasil dirumuskan beberapa rekomendasi penting dalam rangka
memperjuangkan hak-haknya. Tuntutan kaum perempuan kepada pemerintah tentang
pemberian beasiswa untuk anak perempuan dan sekolah-sekolah perempuan, penolakan
tradisi perkawinan anak perempuan di bawah umur termasuk kawin paksa, sampai
tuntutan pemberlakuan syarat-syarat pelaksanaan perceraian yang tidak merugikan hidup
kaum perempuan, adalah beberapa rekomendasi penting yang lahir dari kongres
perempuan pertama 75 tahun yang lalu.

Yang tidak kalah pentingnya, dari kongresnya yang pertama itu pula lahir kesepakatan
untuk mendirikan badan musyawarah bernama Perikatan Perkumpulan Perempuan
Indonesia (PPPI) dengan misi pokoknya untuk menjalin hubungan di antara semua
perhimpunan perempuan, termasuk di dalamnya kesepakatan penyelenggaraan kongres
perempuan tahunan dalam rangka mengisi dan memelihara kelangsungan perjuangannya.
Melalui kongres perempuan pertama itu pulalah berhasil dirumuskan beberapa
rekomendasi yang berisi tuntutan penerbitan surat kabar sebagai media untuk
meyuarakan hak-hak kaum perempuan sampai kepada tuntutan pemberian bantuan
khusus bagi perempuan janda dan anak yatim.

Itu semua menunjukkan bahwa jauh sebelum ada lembaga yang sekarang banyak
menyuarakan arti pentingnya kesetaraan dan keadilan gender, bahkan jauh sebelum
kemedekaan Indonesia diproklamasikan, kaum perempuan Indonesia ternyata telah
memiliki kesadaran mengenai arti pentingnya pendidikan dan kesehatan sebagai modal
utama untuk bisa keluar dari berbagai ketertinggalannya. Semua itu juga memberi isyarat
kepada kita bahwa gerakan kaum perempuan pada saat itu sesungguhnya tidak kalah
majunya dibanding dengan perjuangan kaum perempuan saat ini.

Bahkan jika kita menyimak catatan penting yang dihasilkan oleh kongres perempuan
tahun-tahun berikutnya seperti tertuang dalam buku ”Peringatan 30 tahun Kesatuan
Pergerakan Perempuan Indonesia 1928-1958”, kita pun akan segera mengetahui bahwa
banyak dari isu sentral yang diangkat gerakan perempuan saat ini, sesungguhnya
merupakan isu yang pernah diagendakan dalam perjuangan kaum perempuan tempo dulu.

Sebagai gambaran, jika saat ini kita, bahkan komunitas dunia banyak bicara mengenai
masalah perdagangan anak dan kaum perempuan, maka jauh sebelumnya kaum
perempuan Indonesia pernah mengungkapkannya pada Kongres PPPI tahun 1930 yang
ditandai dengan lahirnya kesepakatan untuk membentuk Perkumpulan Pemberantasan
Perdagangan Perempuan dan Anak-anak (P4A).
Bukan hanya itu, Kongres PPPI tahun 1930 itu juga telah melahirkan rumusan kerja lebih
konkret lagi yang antara lain ditandai dengan lahirnya rekomendasi yang meniscayakan
arti pentingnya penyelidikan kondisi kesehatan kaum perempuan dan sebab-sebab
terjadinya kematian bayi di pedesaan, rekomendasi megenai arti pentingnya kampanye
berkait dengan segala akibat buruk yang ditimbulkan dari banyak kasus perkawinan usia
dini sampai kepada upaya mempelajari hak pilih bagi kaum perempuan yang sekaligus
merupakan wujud kesadaran kaum perempuan waktu itu akan arti pentingnya upaya bisa
mengakses kekuasaan sebagai media untuk mewujudkan perjuangannya.

Kalau dirinci, sesungguhnya masih begitu banyak kiprah sekaligus sumbangan pemikiran
berarti yang telah diberikan kaum perempuan pada saat itu. Simak cuplikan pidato
Soekarno di hadapan peserta kongres pertama kaum perempuan tanggal 22 Desember
tahun 1928 waktu itu yang mengisyaratkan besarnya perhatian sekaligus pengakuan
tokoh politik terhadap potensi yang dimiliki gerakan kaum perempuan pada saat itu
sebagai berikut:

”Berbahagialah kongres kaum ibu; diadakan pada suatu waktu, di mana masih ada
sahadja kaum bapak Indonesia jang mengira, bahwa perdjoangan mengedjar
keselamatan nasional bisa djuga lekas berhasil zonder sokongannja kaum ibu; oleh
karena dari pada kaum bapak masih banyak jang kurang pengetahuan akan harganja
sokongan kaum ibu itu; kita tidak sahadja gembira hati akan kongres itu oleh karena
kaum bapak belum insyaf akan keharusan kenaikan deradjat kaum ibu,- kita gembira
ialah teristimewa djuga oleh karena di kalangan kaum ibu sendiri belum banjak jang
mengetahui atau mendjadikan kewajibannja ikut menjeburkan diri di dalam perdjoangan
bangsa, dan belum banjak jang berkehendak akan kenaikan deradjat itu.” (Soekarno,
Kongres Kaum Ibu, 1928).

Tersirat dalam cuplikan pidato itu adalah sikapnya yang sangat mendorong kebangkitan
kaum perempuan dalam rangka memperjuangkan hak-haknya. Bahkan seperti pernah
ditulis Gadis Arivia dalam artiakelnya yang berjudul ”Soekarno dan Gerakan Perempuan
(2001), Bung Karno punya obsesi yang lebih karena ingin menjadikan gerakan
perempuan waktu itu sebagai bagian dari gerakan memperjuangkan kemerdekaan. Itulah
pula awal sejarah yang kemudian mengilhami banyak organisasi perempuan setelah itu
terlibat secara langsung dalam perjuangan kemerdekaan.

Pada tahun 1930, misalnya, Istri Sedar yang didirikan di Bandung muncul menyatakan
diri ingin meningkatkan status perempuan Indonesia melalui perjuangan kemerdekaan.
Gagasan dasarnya, tidak bakal ada persamaan hak antara laki-laki dan perempuan bila
tidak ada kemerdekaan. Setelah Jepang menyerah, kaum perempuan dari kalangan parpol
dan ormas berbasis agama Aisyiah dan Wanita Katolik menjadikan perjuangan
kemerdekaan sebagai agenda utamanya. Hal yang sama juga dilakukan pula oleh Wanita
Muslimat dari Masyumi.
Lima belas tahun berikutnya, tahun 1945, di Bandung lahir organisasi bernama Lasjkar
Wanita Indonesia (Lasjwi) yang dibidani oleh Aruji Kartawinata. Mereka yang tergabung
dalam organisasi ini, sebagiannya berani mengangkat senjata, sebagian yang lainnya
bertugas membantu prajurit yang luka kalau bukan menyiapkan makanan bagi para
prajurit yang sedang bertempur dalam rangka memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini.

Begitu luhur dan mulia, bahkan berani, itulah kesan yang muncul kalau kita menyimak
sejarah perjuangan kaum perempuan yang awalnya diilhami oleh penyelenggaraan
kongres perempuan pertama pada tanggal 22 Desember tiga perempuan abad yang lalu.
Itu pula sebabnya, tidak berlebihan jika Hari Ibu yang setiap tahun diperingati bangsa ini,
sepatutnya kita selenggarakan tidak hanya dalam bentuk seremoni yang hampa makna,
apalagi penuh hura-hura. Sebaliknya, kita jadikan momentum Hari Ibu itu sesuai dengan
akar historisnya sebagai hari pembebasan kaum perempuan dari berbagai belenggu yang
menindasnya.

Kian maraknya kasus perdagangan anak dan perempuan, masih tinginya angka kematian
ibu akibat kehamilan atau melahirkan, masih banyaknya korban kaum perempuan akibat
tindakan kekerasan dalam rumah tangga, adalah beberapa saja dari sekian banyak
masalah yang harus dijadikan agenda utama perjuangan kaum perempuan Indonesia saat
ini dan ke depan. Wilujeng Hari Ibu!***

Penulis, peminat masalah gender, mahasiswi jurusan biologi, Fak. MIPA Universitas
Padjadjaran Bandung.

Sumber:Pikiran Rakyat

Tren Perjuangan Perempuan dalam Sastra Merangkul Tabu, Meretas Kekerasan


Tersamar<center></center>

Hari perempuan sedunia yang jatuh tanggal 8 Maret lalu diperingati dengan cukup
provokatif. Sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat perempuan di Jakarta menuntut
pemerintah dan DPR untuk memprioritaskan hak dan kesejahteraan perempuan (SH, 9
Maret 2002). Bulan ini, perempuan Indonesia pun merayakan Hari Kartini yang jatuh
pada tanggal 21 April setiap tahun. Esensi kedua hari penting bagi perempuan adalah
sama: memperjuangkan hak-hak perempuan di segala bidang.

Lalu bagaimana perjuangan perempuan di bidang sastra? Ternyata telah muncul


fenomena pemberontakan perempuan dalam sastra yang bisa kita sebut spektakuler.
Selama ini, jumlah buku sastra Indonesia boleh dibilang sangat sedikit, apalagi bila
dibandingkan dengan negara-negara lain. Lebih parahnya lagi, karya fiksi yang sedikit ini
tak banyak yang mempunyai kekuatan untuk menarik perhatian publik. Hingga akhirnya
muncul Ayu Utami dengan Saman dan Larung-nya serta Dewi Lestari dengan Supernova.

Membakar Kebekuan
Fiksi sastra yang ditulis kedua pengarang perempuan ini mampu membakar kebekuan
gerilya sastra sekaligus meruntuhkan tembok pembatas antara sastra pop dan sastra
serius. Keduanya mampu menjadi trend dan dibaca oleh kalangan yang kompleks, mulai
dari mereka yang gemar berburu buku-buku porno stensilan hingga doktor-doktor ilmu
sastra yang mejanya penuh dengan naskah-naskah seminar. Lalu apa resep mereka dalam
mendobrak kebekuan sastra selama ini?
Yang jelas, salah satu kesamaan menonjol dari sisi feminisme kedua novelis perempuan
ini adalah keberanian mereka dalam mengemas cinta dan seks dalam bungkus yang
benar-benar berbeda. Mereka berani melawan tabu yang selama ini menjadi magma
terpendam pada masyarakat yang sarat dengan konvensi-konvensi budaya. Seks menarik
justru karena melanggar kenormalan dalam masyarakat tradisional. Melalui perlawanan
terhadap tabu ini, mereka meretas fenomena kekerasan tersamar terhadap perempuan,
terutama dalam hal seks.
Kehadiran buku-buku ini bagai oase bagi masyarakat yang ”kepanasan” oleh etika timur
yang kuat tetapi tak berani melawannya secara frontal. Mengalir deras di tengah
masyarakat yang dilanda proses diseminasi sosial yang semakin cepat. Beradaptasi
dengan terjadinya proses pelipatgandaan dan penyebaran secara sosial tanda, citra,
informasi, dan benda-benda komoditas, khususnya yang bermuatan erotis.
Tanpa disengaja mereka menolak tegas kultur yang menekan eksistensi seks perempuan
timur sekaligus mengejek terma dalam masyarakat komoditas, di mana tubuh (body),
tanda-tanda tubuh (body signs) serta potensi libido di balik tubuh (libidinal value)
menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya komoditas, yang membentuk semacam
sistem libidonomics yaitu sebuah sistem ekonomi yang mengeksploitasi setiap potensi
libido, semata untuk memperoleh keuntungan ekonomi. Mereka mampu
merepresentasikan seks sebagai eksistensi keperempuanannya, bukan sebagai komoditas
masyarakat kapitalis semata.

Eksistensi Seks
Dalam Larung, Ayu menunjukkan keberanian dalam bercerita tentang eksistensi seks
perempuan, lewat diary tokoh Cok, tahun 1996: ”Cerita ini berawal dari selangkangan
teman-temanku sendiri: Yasmin dan Saman, Laila dan Sihar” (hal.77).
Cerita tentang perselingkuhan Yasmin dan Saman serta kecintaan Laila pada Sihar
membawa tokoh-tokohnya bertualang di negeri Paman Sam. Sebuah negeri yang bisa jadi
dianggap sebagai media pelarian ketertekanan seksual sang tokoh pada kultur yang
membesarkannya. Mungkin karena Amerika–lah yang dianggap negeri yang mampu
mewakili representasi eksistensi seksual perempuan. Di mana industri seks-nya
melimpah, bahkan ada jenis komoditi yang menjanjikan seks-seks ilegal, bahkan
abnormal semisal bondage sadomasochis (seks sadis), voyeurism (ngintip), amateur,
mature dan older (orang bangkotan), sampai surveillance sex (dokumentasi seks orang-
orang biasa)
Problema-problema seks perempuan, yang selama ini menjadi endapan dalam masyarakat
Indonesia yang patriarkal, pecah dalam tingkah laku tokoh-tokoh novel ini. Tokoh
Yasmin—yang sempurna, cantik, cerdas, kaya, beragama, berpendidikan, bermoral
pancasila, setia pada suami—kembali menemukan kebebasan seksualnya bersama
Saman, sang bekas frater.

Itu karena suaminya, Lukas, tak pernah mengolah kekejaman pada dirinya meskipun
hanya sebatas imajinasi. Lukas lebih tertarik pada eksplorasi posisi fisik daripada
eksplorasi relasi psikis seperti yang dikhayalkan Yasmin. Padahal Yasmin merasa
berbeda dengan para perempuan yang mengukuhkan patriarki. Melokalisasinya pada
fantasi seksual. ”Mereka menerima dominasi pria sebagai suatu ide yang total dan murni,
suatu ideal. Aku menerimanya dan melakukan seksualitas terhadapnya. Mereka
menerimanya sebagai nilai moral, aku sebagai nilai estetis.” (hal. 160)
Kerinduan Yasmin kepada Saman lebih karena perasaan superioritasnya terhadap laki-
laki ini. ”…Kamu biarkan aku mengikatmu pada ranjang seperti kelinci percobaan. Kamu
biarkan jari-jariku bermain-main dengan tubuhmu seperti liliput mengeksplorasi manusia
yang terdampar. Kamu biarkan aku menyakitimu seperti polisi rahasia mengintrogasi
mata-mata yang tertangkap. Kamu tak punya pilihan selain membiarkan aku menunda
orgasmemu atau membiarkan kamu tersiksa tak memperolehnya. Membuatmu menderita
oleh coitus interuptus yang harfiah.” (hal. 157)
Eksistensi seksualitas perempuan Indonesia yang selama ini terkungkung budaya
patriarki dilibas habis oleh Ayu Utami. Hanya saja, seks yang digambarkan Ayu
bukanlah teknik persetubuhan melainkan pemaparan problema yang bisa jadi dialami
banyak wanita.
Misalnya cerita tentang bagaimana Cok melepas keperawanannya. Bagaimana mitos
kesucian keperawanan membuat Cok membiarkan sang lelaki bermasturbasi dengan
payudaranya. ”… tapi membiarkan lelaki masturbasi dengan payudara kita bukanlah
pengalaman yang menyenangkan kalau terus-terusan. …Lalu kupikir-pikir, kenapa aku
harus menderita untuk menjaga selaput daraku sementara pacarku mendapat kenikmatan?
…Aku pun melakukannya, senggama.”

Ejekan atas keperawanan yang menjadi momok pengaturan laki-laki terhadap perempuan
dilakukan Ayu melalui tokoh Laila meskipun sosok ini mampu melawan gender
keperempuanannya. Semasa sekolah dia paling banyak berlatih fisik. Naik gunung,
berkemah, turun tebing, cross country, dan lain-lain jenis olahraga kelompok yang
kebanyakan anggotanya lelaki. Juga, tidur bersisian dengan kawan lelaki dalam tenda dan
perjalanan. Tapi dialah yang paling terlambat mengenal pria secara seksual. Pada masa
itu ada rasa bangga bahwa dia memasuki dunia lelaki yang dinamis.
”…tidak semua anak perempuan bisa melakukan itu, menyangkal hal-hal yang lembek,
dan ia merasa ada supremasi pada dirinya.” (hal. 118)
Ternyata supremasi itu tidak dapat dibawa tokoh Laila sampai dewasa. Ia tak bisa masuk
ke dalam dunia pria dewasa. Tapi keperawanan Laila yang terjaga —seperti layaknya
yang diagungkan budaya Indonesia—justru menjadi problema. Ekspresi libido seks Laila
terhambat. Lelaki takut padanya. Keperawanan dinilai sebagai tanggung jawab. Itu
sebabnya ia tak bebas ketika telah sama-sama telanjang dengan Sihar. Tak pernah terjadi
persetubuhan yang sebenarnya.
Peran tokoh Shakuntala (Tala) yang androgini dimunculkan Ayu secara estetis sebagai
representasi kebebasan untuk memilih. Kerinduan Laila pada Sihar membuatnya mampu
melihat faktor lelaki pada diri Tala. Gabungan sosok Saman dan Sihar, dua lelaki yang
dicintai Laila muncul pada diri Tala. Hingga akhirnya Laila melupakan Tala sebagai
perempuan. Ketertarikan Laila ditanggapi Tala sehingga dalam Larung ini muncul sebuah
relasi seksual di mana lelaki benar-benar diabaikan.
Dalam hal ini Ayu masih mencoba membela kaumnya. Tala bukanlah seorang androgini
yang maniak. Ia hanya ingin menyelamatkan Laila. ”…Kamu berbaring di sisiku dan
kulihat air mengalir dari matamu ke arah rambut. …Kupeluk kamu. Aku mengelus di
punggung dan mencium di kening. Dan aku tak pergi. Aku tahu kamu belum pernah
mengalami orgasme. Juga ketika bercumbu dengannya. Kini tak kubiarkan kamu
menemani lelaki itu sebelum kamu mengetahuinya. Sebelum kamu mengenali tubuhmu
sendiri.” (hal. 153)
Penggambaran tentang dunia lesbian, yang benar-benar belum bisa diterima kultur
Indonesia dilakukan Ayu dengan metafora yang sangat indah.

Jebakan Politik Tubuh


Memang keberanian Ayu Utami dalam Saman dan Larung, juga Dewi Lestari dalam
Supernova-nya, bisa menjerumuskan mereka dalam jebakan politik tubuh (body politics),
yang terurai dalam tiga terma.
Pertama, ”ekonomi politik tubuh” (political economy of the body) yaitu bagaimana tubuh
digunakan dalam berbagai kerangka relasi sosial dan ekonomi, berdasarkan konstruksi
sosial atau ”ideologi” tertentu. Persoalan politik tubuh berkait dengan eksistensi tubuh
dalam kegiatan ekonomi-politik, dilihat dalam berbagai relasi sosial.

Kedua, ”ekonomi politik tanda (tubuh)” (political economy of signs) yaitu bagaimana
tubuh diproduksi sebagai tanda-tanda di dalam sebuah sistem ekonomi pertandaan (sign
system) masyarakat informasi yang membentuk citra, makna, dan identitas tubuh di
dalamnya. Politik tanda berkaitan dengan eksistensi tubuh (pria atau wanita) yang
dieksploitasi sebagai tanda atau komoditas tanda (sign comodity) dalam berbagai media.
Ketiga, ”ekonomi politik hasrat” (political economy of desire) yaitu bagaimana sistem
ekonomi menjadi sebuah ruang berlangsungnya pelepasan hasrat dari berbagai
kungkungan, dan penyalurannya lewat berbagai kegiatan ekonomi (produksi, distribusi,
konsumsi). Dalam ekonomi-politik hasrat, sifat-sifat rasionalitas ekonomi dikendalikan
sifat-sifat irasionalitas hasrat.
Ketika kreativitas ekonomi dikuasai dorongan hasrat dan sensualitas, yang tercipta adalah
sebuah ”budaya ekonomi”, yang dipenuhi berbagai strategi penciptaan ilusi sensualitas,
sebagai cara untuk mendominasi selera (taste), aspirasi, dan keinginan masyarakat
dieksploitasinya. Sensualitas dijadikan kendaraan ekonomi dalam rangka menciptakan
keterpesonaan dan histeria massa (mass hysteria) sebagai cara mempertahankan
kedinamisan ekonomi.

Akibatnya, apa yang beroperasi di balik aktivitas ekonomi adalah semacam ”teknokrasi
sensualitas” (technocracy of sensuality)—di dalamnya nilai-nilai budaya ekonomi
ditopengi tanda-tanda sensualitas, yang menciptakan semacam ”erotisasi kebudayaan”.
Berbagai bentuk khayalan lewat voyeurisme diciptakan, yang mengondisikan orang
memuja ”citra tubuh”.
Bisa jadi ekspresi kebebasan dua perempuan pengarang ini dijadikan media penumpahan
keliaran libido laki-laki. Ekspresi perlawanan terhadap kekerasan tersamar dalam ranah
seks perempuan, justru menjadi perangsang laki-laki untuk membacanya. Bukan untuk
menyelami ketertekanan perempuan tapi sebagai media eskapisme erotisme otak
mereka.Namun, memang tak gampang meretas kultur yang telah tertanam kuat. Yang
jelas, setidaknya mereka berdua telah memulainya dan berhasil menarik perhatian publik.
Setapak langkah perbaikan telah dimulai dari dunia sastra.

Oleh: R. Sugiarti, Relawan pada UNICEF Indonesia, Pengamat Perempuan & Budaya.

Sumber: Sinar Harapan

Transseksual, Minoritas yang Terlupakan<center></center>

BENARKAH Mbak Dorce Gamalama melawan kodrat? Pertanyaan ini mungkin timbul
dalam hati saat membaca wawancara Kompas dengan artis Dorce (Kompas, 27/7/2003).
Pada tanggal yang sama, Suara Pembaruan Minggu mengetengahkan kisah Liz Riley,
seorang ayah yang berubah menjadi ibu.

ADA orang yang terlahir lelaki namun sejak kecil merasa dirinya perempuan sehingga
mereka hidup layaknya perempuan. Contohnya, dalam wawancara dengan Kompas,
Mbak Dorce mengungkapkan bahwa ia sejak kecil merasa dirinya perempuan. Liz Riley
terlahir lelaki, bahkan ia sempat kawin dan memiliki anak, namun ia selalu merasa
dirinya perempuan, sehingga akhirnya memutuskan untuk hidup sebagai ibu.

Sebaliknya, ada juga orang yang terlahir perempuan tetapi merasa dirinya lelaki sehingga
mereka hidup sebagai laki-laki. Contohnya Brandon Teena, yang hidupnya dikisahkan
dalam film pemenang Oscar, Boys Don’t Cry. Contoh lainnya Billy Tipton, musisi jazz
Amerika, yang dikenal sebagai lelaki ramah, suami dari empat istri, dan ayah bagi
sejumlah anak. Namun, ketika ia meninggal, petugas jenazah mendapati ia memiliki alat
genital wanita.

Mereka merupakan contoh kaum transseksual. Ada yang disebut male-to-female


transsexual (MFT), yaitu transseksual dari lelaki ke perempuan. Sebaliknya, Brandon
Teena dan Billy Tipton disebut female-to-male transsexual (FMT), yaitu transseksual dari
perempuan ke lelaki.

Hakikat transseksual

Selama ini alat kelamin fisik, berupa alat reproduksi, sering dianggap satu-satunya
penentu perilaku jenis seseorang. Padahal, masih ada variabel lain, yaitu identitas jenis
kelamin (sex identity) atau identitas jender, yang ditemukan pada tahun 1972 oleh Money
dan Erhardt setelah meneliti ratusan individu. Menurut Kessler dan McKeena, dalam
Gender: An Ethnomethodological Approach (1978), identitas jenis kelamin adalah
perasaan mendalam atau keyakinan dalam batin seseorang yang membuatnya merasa
sebagai lelaki atau perempuan. Dengan kata lain, identitas jenis kelamin adalah
keyakinan mendalam pada seseorang tentang apakah dia itu pria atau wanita.

Sex identity, yang dapat disebut jenis kelamin jiwa, semata-mata tergantung dari
perasaan orang bersangkutan dan tidak selalu sejalan dengan penilaian orang, pakar
sekalipun. Jenis kelamin jiwa merupakan variabel mandiri terhadap seks fisik, artinya
dapat sejalan atau bertolak belakang dengan kelamin fisik. Jenis kelamin jiwa mulai
tertanam pada usia dua tahun, namun biasanya mulai disadari dengan kuat menjelang
remaja.

Mayoritas warga memiliki sex identity sesuai dengan jenis kelamin fisiknya. Namun,
transseksual memiliki sex identity berbeda dari seks fisiknya. Jadi, MFT bertubuh lelaki
tetapi merasa dirinya perempuan. Sebaliknya, FMT bertubuh perempuan namun merasa
dirinya lelaki (bukan sekadar tomboi, karena seseorang yang tomboi, sekalipun
berperilaku kelaki-lakian, masih tetap merasa perempuan). Karena itulah, MFT
berperilaku sebagai perempuan. Masalahnya, masyarakat sering menyalahkan, mengapa
orang yang terlahir laki-laki sampai merasa dan berperilaku sebagai perempuan dan
sebaliknya pada FMT.

Sebelum sex identity ditemukan, para pakar menganggap transseksual merupakan orang
abnormal yang perlu disembuhkan dengan aneka terapi, termasuk kejutan listrik. Namun,
kini disadari bahwa sex identity lebih kuat daripada kelamin fisik. Karena itu, jika
seorang transseksual diminta menyelaraskan perilaku dengan bentuk fisiknya, yang lebih
banyak terjadi bukan perubahan perilaku, melainkan perubahan fisik.

Penyebab transseksual belum dapat ditentukan secara pasti. Sebagian menduga pengaruh
hormon dalam kandungan. Misalnya, kekurangan testosteron pada janin dengan kelamin
fisik lelaki dapat menyebabkannya memiliki kelamin jiwa perempuan. Sebaliknya,
kelebihan testosteron pada janin dengan kelamin fisik perempuan dapat menyebabkannya
memiliki seks jiwa lelaki. Namun, sebab sebenarnya masih merupakan misteri.

Variabel yang juga menentukan perilaku adalah orientasi seks, kecenderungan mencari
pasangan. Umumnya, transseksual tertarik terhadap lawan jenis sehingga mirip warga
masyarakat umumnya. Namun, ada juga transseksual yang tertarik kepada kaum sejenis.
Contohnya Julie Peters, politisi Australia, yang terlahir sebagai lelaki tetapi memiliki sex
identity perempuan. Setelah usia 40 tahun Julie memutuskan menjalani operasi dan
menjadi perempuan. Namun, Julie mengaku tetap tertarik kepada perempuan.

Lorong kegelapan?

Seorang bijak pernah mengatakan, "Apakah gunanya seseorang mendapatkan seluruh


dunia tetapi kehilangan dirinya sendiri?" Banyak orang mengamini sabda tersebut, tetapi
tidak mau menerima bahwa bagi transseksual, diri sendiri itu adalah jati dirinya sesuai
dengan sex identity yang dimiliki. Dengan demikian, transseksual yang terpaksa
menutupi atau mengingkari jati dirinya bisa saja kelihatan sukses, tetapi dari hari ke hari
ia hidup dalam kehampaan, karena mendapatkan dunia tetapi kehilangan dirinya sendiri.

Sungguh beruntung jika seorang transseksual diterima lingkungannya, baik keluarga,


sekolah, pekerjaan, maupun masyarakat. Namun, sebagian besar transseksual masih
belum diterima lingkungannya, bahkan oleh keluarganya sendiri. Para transseksual ini
terpaksa memilih satu di antara dua pilihan yang sama pahitnya, yaitu terbuang dari
lingkungannya atau berpura-pura menutupi jati dirinya.

Pada pilihan kedua, seorang MFT, yang memiliki jati diri perempuan, akan berpura-pura
menjadi "lelaki biasa", agar diterima lingkungannya. Namun, ia akan hidup dalam
tekanan batin yang luar biasa dan tiada hentinya. Selagi mayoritas warga bangsanya
mensyukuri nikmatnya hidup di alam kemerdekaan, banyak transseksual belum dapat
merasakan apa makna kemerdekaan itu sesungguhnya. Jutaan transseksual hidup dalam
lorong kegelapan, menunggu kapan sinar terang akan muncul pada akhir lorong tersebut.

Masyarakat demokratis mensyaratkan asas pluralisme dan egalitarianisme. Setiap orang,


sekalipun berbeda, mendapat perlakuan sederajat, sejauh yang bersangkutan tidak
melakukan hal-hal yang merugikan orang lain. Kaum transseksual hanyalah orang yang
berbeda, yaitu pada identitas seksualnya. Seyogianya, perbedaan ini tidak dijadikan dasar
untuk meminggirkan atau mendiskriminasikan mereka, sebagaimana masyarakat juga
tidak boleh mendiskriminasi orang yang berbeda warna kulit, keyakinan, atau status
sosialnya.

Di lain pihak, kaum transseksual perlu menghindari perilaku yang menimbulkan citra
negatif, seperti berdandan terlalu mencolok, memperlihatkan obsesi berlebihan terhadap
lelaki, dan menjadi pekerja seks komersial. Penting sekali agar para transseksual dapat
membangun citra yang positif, di antaranya lewat prestasi, seperti telah diperlihatkan
Mbak Dorce dan mendiang Billy Tipton.

Semoga seiring dengan meningkatnya pemahaman, masyarakat dapat menerima dengan


wajar kaum transseksual, baik yang telah operasi maupun belum, sesuai jati diri yang
mereka miliki, agar mereka dapat berdarma bakti secara optimal. Negeri ini sedang
dilanda krisis multidimensi dan untuk mengatasinya diperlukan kerja sama seluruh
komponen bangsa. Lebih dari itu, Prof Vern Bullough dari California State University,
dalam "Transgenderism and the Concept of Gender" (International Journal of
Transgenderism, Special Issue, tahun 2000), menyatakan pemahaman terhadap kaum
transseksual akan bermanfaat besar untuk memahami konsep jender secara lebih
komprehensif, hal yang sangat diperlukan guna membangun masyarakat dunia yang lebih
manusiawi.

Bambang Suwarno Aktivis Perempuan dan Relasi Jender, Tinggal di Bengkulu

Sumber Kompas Cyber Media

Perempuan dan Media Massa (1) <center></center>

Catatan kecil ini ingin ikut serta merayakan Hari Ibu 22 Desember 2003. Di tengah
perdebatan apakah nama Hari Ibu bisa mewakili kepentingan semua perempuan,
termasuk juga bagi perempuan yang secara biologis belum menyandang predikat ibu,
tulisan ini justru ingin memperbincangkan konstruksi makna ibu dalam media massa kita,
dengan mengambil kasus lama yang terjadi di tahun 1997. Hari Ibu 1997 telah “dicemari”
dengan ditemukannya banyak mayat calon bayi akibat aborsi ilegal. Sebagai akibatnya,
hujatan panjang di media massa pun diarahkan kepada perempuan. Artikel mengenai
buruknya perilaku perempuan yang adalah calon ibu marak di koran-koran baik nasional
maupun lokal. Dan biasanya, ketika perempuan yang dihujat, maka laki-lakilah yang
menjadi penghujatnya, sehingga dari lima artikel yang disoroti dalam tulisan ini, hanya
satu yang ditulis oleh perempuan.

Media massa yang mengeksploitasi peristiwa tersebut rasanya telah memojokkan


perempuan. Dengan menarik perhatian publik untuk lebih memperhatikan cerita-cerita
yang dibangun media yang lebih mengutamakan cerita kehidupan perempuan pelaku
aborsi, klinik-klinik aborsi ilegal, dan bahkan yang tidak relevan sama sekali seperti
cerita tentang siapa yang menemukan mayat bayi-bayi malang tersebut, dan bukannya
mempertanyakan siapa laki-laki yang bertanggung jawab atas keberadaan calon bayi
tersebut, media telah dengan sewena-wena membela kepentingan laki-laki. Karena kita
hidup dalam budaya yang tidak memungkinkan kita untuk “bergender netral” seperti
yang dikatakan oleh feminist Perancis Susan Bordo dalam artikelnya “Feminism,
Postmodernism, and Gender Skepticism” (1990), mana ada media yang juga tidak
bergender?(2).

Salah satu dari artikel yang menjadi sorotan dalam catatan ini, misalnya mempertanyakan
penolakan perempuan untuk menjadi ibu sementara predikat tersebut masih dianggap
sakral,
“Kendati bukan perilaku baru, kabar menghebohkan dari Jakarta soal keberanian
sejumlah wanita yang menolak menjadi ibu manusia melalui cara-cara yang
menyinggung perasaan sosial … apakah sebutan “ibu” tidak lagi sesakral dan
seterhormat yang kita ketahui sehingga mesti ditolak?”(3)

Membaca kalimat tersebut, bagaimana perempuan seharusnya bereaksi? Bagi mereka


yang memilih untuk tidak menjadi ibu dengan cara tersebut mungkin akan merasa malu
karena perbuatannya sudah dipublikasi. Apakah sebagian yang lain yang menilai sucinya
posisi ibu akan tersentuh dengan kenyataan bahwa secara biologis sebenarnya mereka
mampu menghadirkan sebuah kehidupan baru tetapi lebih memilih untuk tidak
melakukannya? Apakah yang lain akan merasa diobjektifikasi, dituduh, maupun
dikorbankan? Tentu saja ada banyak alasan bagi perempuan untuk melakukan aborsi,
sebagian mungkin merasa bebas untuk memilih melakukannya sedangkan yang lain
mungkin tidak punya pilihan lain. Yang pasti, memilih untuk menjadi atau menolak
menjadi ibu tidak hanya berurusan dengan fungsi biologis perempuan saja, tetapi juga
kewajiban perempuan untuk menjaga nilai-nilai moral yang dianut lingkungan sosialnya.

Apakah catatan ini sudah demikian prejudis mencurigai adanya konspirasi antara laki-laki
dan media massa? Jika dilihat dari perilaku media, rasanya tidak berlebihan untuk
meragukan sifat pembebasan media yang selama ini didengung-dengungkan, bahkan
dikatakan sebagai senjata kelompok marginal untuk mendapatkan posisinya. Apakah ini
karena media massa masih belum kuat betul atau cukup dewasa untuk membebaskan
dirinya dari pelukan “diskriminasi gender” yang tiada akhir?(4) Atau memang karena
mereka sendiri pada dasarnya bersifat diskriminatif terhadap perempuan?

Jika kita menilik figur angka pelaku media massa, ada suatu pembagian yang sangat tidak
seimbang antara perempuan dan laki-laki.(5) Ketimpangan jumlah antara jurnalis
perempuan dan laki-laki tentu tidak dengan sendirinya menjawab pertanyaan kenapa
media kita begitu seksis. Belum tentu jurnalis perempuan sudah memiliki perspektif
gender dalam menurunkan tulisan dan menilai permasalah sosial yang dihadapinya.

Ironisnya, jika media massa di satu sisi mempromosikan nilai-nilai “kesejajaran” antara
laki-laki dan perempuan, di sisi lain masih juga menjalankan praktek-praktek obsolit. Di
satu sisi, sebagai agen dari propaganda adil gender, media massa memberikan aplaus
pada slogan “peran ganda perempuan modern”, di sisi lain mereka menuntut perempuan,
sebagai “lawan jenisnya”, untuk tetap tinggal “terdomestikasi” dengan meragukan
kemampuan mereka untuk berkarya di dunia publik, tentu saja dengan menggunakan
perspektif media massa yang maskulin.

“… kesempatan pun tidak banyak buat wanita untuk berperan di luar rumah. Lalu
kembali lagi peran rumah tangga ditekankan.” (6)

Secara arogan, media massa, mengaku memiliki hak untuk menentukan apa yang harus
dilakukan atau tidak seharusnya dilakukan oleh perempuan. Dalam hal ini, media massa
telah menjadi tidak lebih sekedar perpanjangan penindasan laki-laki terhadap perempuan.
Secara sinis (atau karena cemburu?) dan dihantui oleh kontra-hegemoni kultural dan
material yang dimiliki perempuan, media menganggap bahwa keberhasilan perempuan di
ranah publik tidak lebih sekedar cerita sukses negara untuk mengeksploitasi mereka
dalam mendorong pembangunan nasional. Seringkali media massa menulis bahwa
partisipasi perempuan di dunia publik hanyalah bukti kejahatan kapitalisme yang
mendehumanisasi mereka, bahkan membanting nilai kemanusiaan mereka di bawah nilai-
nilai produksi dan pasar.(7) Namun, bukankah diskriminasi gender sudah ada bahkan
sebelum era modernisme? Model produksi kapitalisme bukankah “hanya” memanfaatkan
ketimpangan gender itu yang kemudian, karena reproduksi pola yang terus menerus,
semakin mempertajam segregasi ranah publik-domestik.(8) Hal ini tentu bukan hanya
hasil patrimoni dari imperialisme dan kolonialisme, tetapi lebih merupakan transformasi
yang muncul karena keterlibatan semua faktor ini yang terus direproduksi karena telah
terbukti menguntungkan sebagian pihak yang kebetulan semakin berkuasa. (9)

Pada saat media massa menghujat peran perempuan bekerja, mereka memuja-muja peran
ibu sebagai faktor penentu dari masa depan bangsa dengan mempersiapkan keturunan
mereka dalam menghadapi era tinggal landas. Gagasan bahwa rumah tangga adalah
urusan perempuan, walaupun kedengaran tidak sesuai dengan slogan kesejajaran, tentu
saja didukung oleh institusi yang bernama negara, karena pembagian posisi peran laki-
laki dan perempuan yang jelas dan tertib bisa mendukung suksesnya program-program
pemerintah. Tarik ulur antara meraih dunia publik dan mempertahankan dunia domestik,
betapapun dikotomi publik-domestik masih bisa diperdebatkan, bisa jadi
membingungkan perempuan dalam menentukan posisi mereka. Apakah mereka harus
kehilangan hak-hak istimewa (privilege) yang sudah terlegitimasi hanya untuk satu posisi
yang tidak jelas jika mereka harus memasuki dunia asing yang dinamakan ranah publik?

“Peradaban milenium ketiga hanya bisa berharap agar kaum wanita memilih untuk
tidak gagal menjadi ibu anak-anak zaman."(10)

Karakterisitik media massa yang manipulatif seringkali juga merugikan perempuan jika
kasus-kasus yang diangkat melibatkan perempuan. Dalam mengenangkan kasus
Marsinah, tahun 1993, masyarakat, terutama “kaum perempuan” dan “kaum buruh”
(workers and women)(11), berterimakasih kepada media massa karena mereka telah
secara terus menerus melaporkan kasus tersebut dan menarik perhatian internasional
terhadap stigma tersebut. Mereka telah membawa nama Marsinah ke posisi terpopuler
dan paling banyak dibicarakan hanya setelah kematiannya. Namun penulis berpikir, apa
yang terjadi jika Marsinah tidak terbunuh? Atau pertanyaan yang lebih seksis, bagaimana
jika Marsinah bukan seorang perempuan melainkan laki-laki? Bukan Marsinah tetapi
Marsono? Apa yang sebetulnya menarik perhatian media massa tentang skandal ini?
Apakah pembunuhannya, apakah isu gendernya, konflik kelas, atau karena kecurigaan
adanya praktek-praktek kekuatan politik di belakang pembunuhan ini?

Media massa telah mengeksploitasi seluruh kehidupan masa lampau Marsinah,


mencampuri kehidupan keluarganya, teman-teman, pacar, tetangga, dan meramu serta
menyajikan semua ini dengan terminologi-terminologi politik yang susah dipahami. Kita
mungkin tidak pernah tahu apakah sikap kritis Marsinah adalah perwujudan dari
kesadaran politisnya atau hanyalah pertahanan dirinya menghadapi kesulitan hidup
sehari-hari. Media massa menggunakan “kematiannya” dan bukannya kehidupannya
yang singkat sebagai bahan berita, karena siapa dia sebelum kematiannya bukanlah
“berita yang pantas dipublikasikan”. Reproduksi berita-berita dan spekulasi media massa
yang ditampilkan secara berulang-ulang telah menghasilkan versi-versi yang semakin
fantastis. Alhasil media massa telah menciptakan skenario mereka sendiri tentang perang
gender yang tidak pernah berakhir.

Tidak terelakkan juga analisa politik bahwa pembunuhan Marsinah ini adalah panggung
cerita konflik antara laki-laki yang direpresentasikan oleh orang-orang yang berkuasa
sebagai “pembunuh” dan perempuan diwakilkan oleh Marsinah sebagai “terbunuh”.
Siapakah yang memenangkan kontes ini? Nampaknya justru media massa, peserta kontes
yang tidak terdaftar, atau juri, yang mempunyai kekuasaan untuk membentuk bagaimana
cerita harus berakhir. Akhir cerita berubah menjadi kabur dan hanya media massa yang
sadar akan substitusi antara apakah yang sesungguhnya (real) dan reproduksi dari yang
sesungguhnya (hyper-real). Ketika cerita-cerita tentang buruh perempuan menampilkan
nama-nama lain, media massa-lah yang melahirkan “reproduksi” dari sosok Marsinah.
Dalam ketimpangan relasi gender inilah, perempuan ditantang untuk menentukan
posisinya, apakah mau secara naive terbawa arus dan mempertahankan “hegemoni
kultural” yang terus-menerus dan mendapatkan penghormatan sebagai “ratu rumah
tangga”, atau sebaliknya bersikap radikal manghadapi ketidakadilan ini dan dengan sadar
menerima label “pemberontak”. Sayangnya, perempuan seringkali menjadi kikuk dan
rapuh menghadapi semua tantangan ini. Dengan malu-malu mereka mempertontonkan
pencapaian mereka dan menentukan sendiri standar keberhasilannya, meminta-minta
pengakuan dari laki-laki, dan pada akhirnya meminta penghargaan dalam bentuk fasilitas
untuk menstimulasi keberhasilan yang lebih baik lagi.(12) Secara tidak sadar hal ini
mempertahankan “ketergantungan terwariskan” pada perempuan terhadap laki-laki.
“Memperingati hari yang sering disebut hari permuliaan kaum ibu ini, adalah saat yang
paling baik untuk berterima kasih atas jasa-jasa ibu dalam melaksanakan tugas
kodraatinya, yakni hamil, melahirkan, menyusui. Perwujudan dari rasa terima kasih itu
bisa berupa pemberian kesempatan untuk berkarya cipta seperti kaum pria.” (13)

Bukanlah pernghargaan maupun pengakuan yang seharusnya diminta perempuan,


melainkan “ruang” yang dapat membantu perempuan menjadi tumbuh, dewasa dan
berpikir lebih rasional dengan kesadaran mereka sendiri. “Ruang” dimana mereka bisa
belajar memahami pengalaman mereka, tidak hanya pengalaman yang sama melainkan
juga yang berbeda-beda dan personal. Namun demikian, justru pembagian “ruang” inilah
satu-satunya gagasan yang masih susah untuk diserahkan oleh laki-laki, tidak tanpa
dominasi. Sama susahnya untuk merelakan 30% posisi calon legislatif pada perempuan.
Hanya melalui kesadaran inilah, apapun yang mereka lakukan, perempuan mampu untuk
membebaskan diri mereka dari “alienasi” terhadap tubuh dan kehidupannya sendiri.(14)

Media massa, sebagai penerus aspirasi masyarakat, jika tidak diskriminatif gender
sebetulnya adalah alat yang bisa diandalkan bagi perempuan untuk menyuarakan
kepentingan mereka. Apalagi di era reformasi sekarang ini, dimana media massa
mempunyai akses bebas terhadap sumber-sumber berita dan kebebasan mengemukakan
gagasannya. Harapannya adalah, jika isu yang sama muncul kembali, semoga saja ada
lebih banyak suara yang mendukung, atau setidaknya empati terhadap perempuan. Sebab,
kasus aborsi tidak bisa dipisahkan juga dari perilaku laki-laki.

Namun, dengan melihat begitu banyaknya kejadian yang menimpa perempuan sepanjang
tahun ini saja, enam tahun sejak kasus aborsi masal tersebut meledak, mulai dari kasus
TKW sampai dengan pornografi, dan kecenderungan media massa untuk
menampilkannya dalam berita dengan bahasa-bahasa dan analisa yang melecehkan dan
tidak berpihak pada perempuan, semoga tulisan ini tidak terlalu skeptis dan pesimis
dengan menanyakan satu pertanyaan akhir yang belum juga terjawab, yaitu jika
“medianya” saja sudah tidak sensitif gender, apakah mungkin “pesannya” menjadi lebih
adil terhadap perempuan? Dan satu lagi, bukankah Hari Ibu intinya memperingati semua
perempuan, dan bukan hanya yang telah dan bersedia menjadi ibu saja?

Wiwik Sushartami adalah Pemerhati masalah gender dan media, sedang menyelesaikan
studi di Universitas Leiden, Belanda

Catatan Belakang

(1)Dua koran lokal yang dibahas dalam tulisan ini mengacu pada isu-isu nasional
sehingga bisa menggambarkan juga suasana nasional.

(2) Susan Bordo, “Feminism, Postmodernism, and Gender Skepticism”, dalam


Feminism/Postmodernism, Linda J. Nicholson (Ed.), (London: Routledge, Chapman &
Hall, Inc.,1990)

(3)Mutrafin, “Otak dan Watak Terdidik Ibu Manusia”, Bernas, 22 December 1997, hal 4

(4)Omi Intan Naomi menuliskan bahkan jurnalisme Amerika, yang sudah seratus tahun
lebih usianya saja sampai tahun 1990an masih menganut sistem gender yang timpang.
Jadi masuk akal juga jika jurnalisme Pancasila yang kita punyai juga masih kental dengan
bias gender. Dalam “Wartawati Herstory”, Sangkan Paran Gender, Irwan Abdullah (Ed),
Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset, 1997), hal 105.

(5) Secara keseluruhan hanya ada 8,6% jurnalis perempuan di Indonesia pada tahun 1994
menurut Serikat Jurnalis Indonesia, (ibid.: 104)

(6) P. Bonnie Kertaredja, “Kembalikan Peran Wanita Sebagai Ibu Rumah Tangga”,
Kedaulatan Rakyat, 23 December 1997, hal. 4

(7) Achmad Zaini Abar, “Perempuan Dalam Strategi Pengembangan Sumber Daya
Manusia”, Kedaulatan Rakyat, 19 December 1997, hal. 4

(8) Michael Barrett dalam Josephine Donovan, Feminist Theory: The Intellectual
Traditions of American Feminism, (New York: the Continuum Publishing Company,
1997), hal.76.

(9) Maila Stivens dalam G.G.Weix, Concealing Politics, Revealing Women: Gendered
Icons of Labor in Indonesia, paper yang disampaikan dalam International Conference on
Women in the Asia-Pacific Region: Person, Power, and Politics, NUS, 11-13 Agustus
1997

(10) Abdul Munir Mulkham, “Anak Tekhnologi Mencari Ibu”, Kedaulatan Rakyat, 23
December 1997, hal. 4

(11) Marsinah berumur 23 tahun ketika dibunuh. Dia bekerja di pabrik komponen jam
tangan di Jawa Timur dan dibunuh setelah keterlibatannya dalam protes menuntut
pembayaran tambahan. Lihat Weix.

(12) Katharina Graham mencatat beberapa kesalahan tipikal yang dibuat oleh perempuan,
yaitu meminta perlakukan khusus untuk perempuan, menentukan sendiri standar
kesuksesan mereka yang lebih sering tidak sesuai dengan standar laki-laki, dan tidak
mencoba memaknai ulang nilai-nilai femininitasnya sesuai dengan nilai-nilai
maskulinitas. Lihat Naomi, hal. 125.

(13) Widyastuti Purbani, Melihat Kembali Gereget Peringatan Hari Ibu, Bernas,22
December 1997,hal. 4

(14) “Alienasi” dan “gagasan tentang praksis” adalah dua dari lima fokus utama dalam
feminisme sosialis kontemporer. Tiga yang lainnya adalah relasi langsung antara
perempuan dan akses produksi, hubungan antara perempuan dan kelas, dan peran
keluarga dalam sosialisasi ideologi. Lihat, Donovan, hal. 76.

Sumber: Jurnal Perempuan Online

Membangun Resistensi, Membongkar Stereotipe<center></center>

Publik kini bebas memilih dan menikmati tayangan ataupun bacaan di berbagai media.
Kebebasan ini bagaikan sebuah representasi hak otonom publik untuk memilih bentuk
sajian media yang mereka sukai. Namun dibalik itu, kita lupa dengan terjadinya
“penyeragaman” dalam tayangan ataupun bacaan itu sendiri yang berakibat pada
memaksa penonton untuk mengikuti apa yang si pembuat media inginkan. Contoh
sederhana adalah tayangan iklan. Iklan yang ditayangkan terus menerus berpotensi
menggiring penonton untuk “harus” mengikuti standar-standar nilai yang disematkan.
Menyaksikan iklan shampo; rambut lurus hitam adalah nilai yang disampaikan penonton
bahwa rambut seperti demikian yang ideal bagi perempuan.

Semua ini tentu tidak lepas dari motif-motif politik-ideologis tertentu dibalik penyajian
tersebut. Sebagai contoh yang paling mudah, adalah iklan kosmetik dan minyak goreng.
Iklan kosmetik mengiklankan tentang kulit putih mulus dan tubuh langsing ideal
perempuan. Iklan tentang minyak goreng adalah contoh lain tentang nilai-nilai
domestifikasi perempuan sebagai pihak yang harus bertanggungjawab atas segala
kesehatan suaminya. Bagaimana menganalisa masalah ini? Sebagaimana Sara Mills, titik
perhatian utama saya adalah pada wacana feminisme. Alasannya, seperti halnya pendapat
Eriyanto (2001) banyak tayangan ataupun bacaan di media yang melibatkan perempuan
dan yang terbanyak tentu saja adalah tayangan iklan.

Produksi Kekuasaan

Michel Foucault, adalah salah satu filsuf postmodernis yang menawarkan analisis tentang
motif-motif tertentu pada suatu media atau teks. Foucault mengatakannya sebagai
“produksi kekuasaan”. Bahwa kekuasaan tidak bertumpu pada satu titik sentral termasuk
tidak hanya pada pihak-pihak yang dominan, melainkan tersebar di seluruh masyarakat
(tidak ada seorang pun yang memilikinya) (John Lechte, 2001). Kuasa bukanlah milik
raja, boss, presiden, atau pejabat, tetapi dalam bentuk strategi. Kekuasaan tidak bekerja
melalui penindasan atau represi, melainkan melalui normalisasi yang positif dan
produktif, yaitu melalui wacana. Iklan, adalah salah satu tayangan media yang
menyebarkan kuasa (strategi) tentang normalisasi tubuh perempuan. Produksi kekuasaan
yang terjadi kemudian adalah munculnya strategi untuk menghembuskan wacana
“langsing”, “kulit putih”, “rambut lurus hitam panjang”, yang mencuat terus menerus
sehingga secara tidak sadar masyarakat menganggap tubuh perempuan yang ideal dan
normal adalah; langsing, berkulit putih, dan berambut lurus. Disini tengah berlangsung
bergulirnya strategi kuasa yang diproduksi terus menerus.

Wacana yang dihembuskan ini secara perlahan-lahan menciptakan kategorisasi, seperti


perilaku baik atau buruk yang sebenarnya mengendalikan perilaku masyarakat yang pada
akhirnya dianggap kebenaran yang telah ditetapkan. Atas hal ini, bukan tubuh fisik lagi
yang disentuh kuasa, melainkan jiwa, pikiran, kesadaran dan kehendak individu. Iklan
bukan lagi menjadi pelayanan terhadap konsumen, melainkan menormalkan individu agar
perilakunya sesuai dengan yang diinginkan si pembuat iklan. Foucault menegaskan
persoalan ini sebagai kekuasaan atas kehidupan modern atau kapitalisme, salah satunya
yaitu untuk mencapai target penjualan produk (Eriyanto,2001).

Sebagai contoh, iklan Pond’s yang pernah ditayangkan di media televisi jelas
menunjukkan bahwa kulit putih lebih baik daripada berkulit gelap. Dalam iklan tersebut
ditampilkan seorang fotografer mengambil ancang-ancang membidik dua gadis kembar,
yang satu berkulit gelap, yang lain berkulit putih. Fotografer si lelaki tampan itu memilih
membidik kameranya kepada si gadis yang berkulit putih. Mengetahui hal itu, gadis
berkulit lebih gelap berwajah murung, kemudian berusaha memutihkan kulitnya dengan
harapan lelaki itu memperhatikannya.

Iklan yang membenarkan “kulit putih lebih cantik daripada kulit hitam” tidak dibentuk
dengan reproduksi kekuasaan represif, melainkan melalui reproduksi kreatif. Melalui
iklan, individu didefinisikan, dibentuk, diciptakan, yaitu perempuan cantik adalah yang
berkulit putih dan lelaki normal adalah yang menyukai perempuan berkulit putih.

Atau iklan tentang tubuh ideal perempuan langsing dan tinggi. Perempuan kemudian
diatur, digiring untuk menjadi ramping, bahwa tubuh ideal perempuan seperti pada
perempuan yang menjadi model iklan Tropicana Slim, atau iklan The Cambridge Diet
yang menuliskan kata-kata,”Lost the weight, not the fun …” dengan lingkaran merah
besar yang menutupi sebagaian tubuh ramping kurus perempuan bule yang sedang
melompat, bertuliskan “Yes! Turunkan berat badan anda hingga 5 kg perminggu!” Kata-
kata itu menunjukkan bahwa menjadi kurus adalah kegembiraan dan kepuasan.

Atau pada iklan minyak goreng, terdapat kata-kata,”jangan-jangan kolesterol suamiku


tinggi karena aku salah pilih minyak goreng”. Jelas sekali adanya domestifikasi
perempuan bahwa istrilah yang harus bertanggungjawab bila suaminya terkena penyakit
tertentu. Istri ideal adalah yang terus merasa bersalah bila terjadi sesuatu pada suami
mereka. Masyarakat kemudian menginternalisasi “istri ideal” adalah seperti itu. Iklan itu
menunjukkan adanya bias dalam menampilkan perempuan dimana istri cenderung
ditampilkan sebagai pihak yang salah.

Langsing putih dan berambut lurus menjadi wacana dominan perempuan ideal di
masyarakat kita. Wacana dominan ini menggeser atau memarginalkan wacana lain yaitu
bagi perempuan-perempuan yang tidak berkulit putih dan tidak bertubuh langsing.
Akibatnya adalah perempuan yang tidak bertubuh langsing dan tidak berkulit putih
kehilangan kepercayaan atas tubuhnyadan kehilangan identitas karakter tubuhnya sendiri.
Wacana tubuh perempuan yang tidak dominan ini diabaikan (left out).

Berbagai upaya mengimbangi wacana dominan ini seperti yang dilakukan Dewi Huges
atau Anita Roddick yang peduli terhadap masyarakat pedalaman dengan melihat
kecantikan perempuan Afrika pada akhirnya tidak mampu mengalahkan wacana dominan
tadi. Roddick sampai bersusah payah membuat maskot “The Body Shop” serupa boneka
Barbie tetapi bertubuh besar, berambut ikal dengan kulitnya yang berwarna. Ia
menyebutnya sebagai suatu pencerahan terhadap kapitalisme (Adriana Venny,2000).

Resistensi Perempuan Melalui Media Seni

Sangat memprihatinkan bila perempuan-perempuan yang tidak bisa mencapai wacana


dominan tentang tubuh ideal tadi membuat mereka terobsesi dan memaksakan diri
dengan berbagai upaya yang bahkan bisa membahayakan mereka. Bagaimana mungkin
kulit hitam bisa menjadi putih hanya dengan kosmetik? Lagipula wacana dominan ini
mengandung pelecehan terhadap ras yang berkulit hitam. Masihkah kita perlu
membanggakan diri atau bersedih hati karena kulit kita?

Iklan-iklan yang memelihara nilai-nilai seperti itu sesungguhnya menumbuhkan stereotip


baru terhadap perempuan, yaitu konsep yang mencakup seks dan gender dimana seks
adalah indentifikasi untuk membedakan laki-laki dan perempuan dari segi anatomi
biologi (jenis kelamin) yang lebih digunakan untuk persoalan reproduksi dan aktivitas
seksual(Suzanne dan wendi,1997) sedangkan gender menjelaskan adanya pembedaan
laki-laki dan perempuan yang dilihat dari konstruksi sosial-budaya.(Elaine,1989)

Stereotipe tidak lepas kaitannya dengan seks dan gender, yaitu suatu konsep sosial yang
berhubungan dengan pembedaan (distinction) karakter psikologi dan fungsi sosial antara
perempuan dan laki-laki yang dikaitkan dengan anatomi jenis kelaminnya (sex).
Misalnya perempuan dijelaskan berkarakter baik bila ia sebagai ibu rumah tangga atau
istri yang baik (seperti pada iklan minyak goreng), sedangkan laki-laki berkarakter baik
bila ia sebagai individu di atas dunia yang lebih luas (Tierney). Mansour Fakih bahkan
lebih jelas mengatakan bahwa stereotipe adalah pelabelan negatif terhadap jenis kelamin
tertentu, yang akibatnya terjadi diskriminasi dan ketidakadilan(Fakih 1997).

Stereotipe: Wacana Dominan, Wacana Oposisi Biner

Stereotipe terhadap perempuan seperti lebih mudah dijelaskan dengan bertitik tolak pada
wacana oposisi biner yang menempatkan perempuan pada posisi yang negatif dan tak
berdaya. Dalam Sorties, Hélén Cixous menulis hirarki oposisi biner yang selalu
menempatkan dua hal dalam relasi yang superior-inferior seperti “Activity/passivity,
Culture/nature, Head/heart, Intelligible/palpable Man/woman” (Priyatna 2000)

Masyarakat manapun, termasuk Indonesia masih memegang stereotip bahwa laki-laki


berada di wilayah kiri (aktif, beradab, rasional, cerdas) sedangkan perempuan di wilayah
kanan (pasif, dekat dengan alam, emosional, kurang cerdas). Iklan-iklan yang membuat
standar tubuh perempuan ideal membuktikan bagaimana laki-laki (lebih banyak dibagian
produksi iklan) menciptakan perempuan untuk sesuai dengan fantasi mereka tentang
“perempuan sexy atau cantik”. Model-model perempuan adalah obyek yang dikreasi
untuk mencapai fantasi tersebut, sedangkan laki-laki adalah penciptanya.
Tidak hanya iklan, stereotip oposisi biner menempatkan perempuan pada posisi yang
dirugikan dimana ini terjadi pula dalam media seni. Dalam media ini perempuan adalah
obyek yang dikreasikan atau diciptakan oleh keinginan, hasrat dan daya pikir laki-laki,
perempuan adalah obyek yang pasif, yang bisa dibentuk sebagaimana yang diinginkan
laki-laki. Seperti Basuki Abdullah seorang pelukis terkenal pernah berkata,”Perempuan
itu lebih cocok untuk dilukis daripada sebagai pelukis.” Antiphanes seorang dramawan
komedi Yunani juga mengatakan,”Perempuan tak akan hidup lagi setelah kematian,
kecuali dibangkitkan lawan kesenian oleh pria.” Penyair metafisis Inggris pada sekitar
abad 17 bahkan menggambarkan perempuan itu cuma kata-kata (passivity, palpable),
sedang perbuatan adalah pria (activity, intelligible).(Swara Harian Kompas, 1999). Atas
hal ini, dapat disimpulkan bahwa tampaknya perempuan dalam media ditempatkan
sebagai yang abstrak, sedangkan pria itu konkrit. Perempuan yang “dikerjakan” dan
lelakilah yang mengerjakan.

Wacana dominan yang berwajah stereotipe ini memagari perempuan sehingga mereka
tidak mampu mengekspresikan dirinya. Seperti yang dialami pelukis Lucia Hartini dan
Kartika Affandi Koberl. Ketika menjadi pelukis, mereka dianggap “sinting” atau aneh
oleh masyarakat sekitarnya, karena ada stereotipe dimana ibu rumah tangga seharusnya
mengurus rumah tangga, bukannya melukis (Bianpoen,1996).

Kenyataan bahwa perempuan dalam media seni tidak diterima sebagai subyek sebetulnya
sudah dialami oleh Kartini dan adiknya, Roekmini. Dalam suratnya, sekitar tahun 1901
bahwa saudara perempuannya yang bernama Roekmini ingin menjadi pelukis di akademi
senirupa di Den Haag, tetapi tradisi tidak memberi tempat kepada anak perempuan diluar
lingkungan rumah. Adanya stereotipe bahwa perempuan tidak boleh di luar lingkungan
rumah mengakibatkan Roekmini tidak pernah mendapat kesempatan belajar seni rupa
seperti yang pernah dicita-citakannya (Bianpone,1996).

Begitupula di bidang sastra, Ayu Utami penulis novel Saman sebagai pemenang juara
pertama sayembara roman DKJ 1997-1998 sempat dicurigai bahwa itu bukan karyanya,
melainkan tulisannya Goenawan Muhammad. Ada faktor ketidakpercayaan masyarakat
dengan mempertanyakan bagaimana mungkin perempuan dapat mencapai kesuksesannya
di bidang sastra, dan masyarakat lebih percaya bila kesuksesan sebuah karya seni ada di
tangan laki-laki (stereotipe). Akibatnya, buah pikiran Ayu Utami dicurigai sebagai buah
pikiran laki-laki, yang dianggap lebih mungkin dan masuk akal.

Kecurigaan tersebut bisa kita lihat di beberapa media massa dan gunjingan di sekitar
kelompok-kelompok sastra. Seperti dalam surat kabar Suara Pembaharuan, dituliskan
judul yang sangat melecehkan,”’Saman”, Puas tapi Minta Tambah”, yang isinya
mengasumsikan bahwa fragmen dari novel itu benar-benar mengundang libido pembaca
(dalam hal ini berarti libido laki-laki) dengan menempatkan Ayu Utami sebagai obyek
berita yang sensual, bukan karya sastranya. (Suara Pembaharuan, 1998)

Membongkar Stereotip Melalui Media Seni

Stereotip memang sangat merugikan perempuan yang tidak hanya dalam iklan tetapi juga
masuk ke wilayah seni. Namun, dibandingkan dengan media iklan, media seni ternyata
dapat juga menjadi alat untuk mendobrak stereotipe itu sendiri. Dalam media seni kita
bisa menemukan semangat kebebasan dibandingkan dengan media iklan.

Hans Georg Gadamer pernah mengatakan bahwa tidak ada aturan-aturan seni yang
bersifat universal. Aturan-aturan itu diberikan oleh alam melalui para genius. Seperti apa
yang dikatakan Imanuel Kant bahwa “seni murni adalah seni para genius”. Itu berarti
bahwa seni tidak dapat diatur oleh adanya stereotipe ataupun konstruksi sosial yang
menempatkan perempuan pada posisi yang dirugikan. Tidak ada aturan seni yang
menempatkan perempuan harus sebagai obyek.

Di ranah seni rupa, Lucia Hartini dan Kartika Affandi Koberl akhirnya mengalami
kesuksesan terutama karya mereka yang sangat feminis. Dalam Srikandi (1993) Lucia
Hartini melukis perempuan yang diletakkan sebagai subyek. Perempuan dalam lukisan
itu berani dengan tinju terkepal, otot-otot lengan yang kencang dengan sebelah matanya
keluar cahaya tajam yang menembus mata-mata yang sedang mengintip. Dalam
lukisannya itu Lucia Hartini telah mendobrak adanya stereotipe dengan menempatkan
perempuan sebagai manusia berani dan aktif. Demikian pula Kartika Affandi Koberl
dalam karyanya Potret Diri yang lebih menggambarkan integritas perempuan gigih dan
kuat dalam menghadapi kesulitan hidup. Garis-garis kuasnya menaruh kontemplasi dan
ekspresi perasaan yang sangat kuat.
Di ranah sastra, Ayu Utami yang ditimpa gunjingan sana-sini juga tidak mengurangi
kesuksesannya. Di dalam novel-novelnya selalu ia tanamkan tentang karakter perempuan
mandiri, yaitu perempuan sebagai subyek yang memandang, dan laki-laki sebagai obyek
yang dipandang. Ia juga memberontak terhadap stereotipe keperawanan perempuan.
“Dengar kawan-kawan, kataku, jika agama dipakai untuk urusan ini, pada akhirnya yang
salah adalah Tuhan. Mendengar itu Yasmin marah sekali, sehingga kami kepingin
berkelahi. Laila melerai dengan usul menyisihkan dulu perkara itu, sebab menurut dia
musuh kita adalah laki-laki… Apa salah laki-laki? Jawab Laila: sebab mereka
mengkhianati wanita. Mereka cuma menginginkan keperawanan, dan akan pergi setelah
si wanita menyerahkan kesucian … Tiba-tiba aku ingin berteriak, tapi kukatup mulutku
rapat-rapat karena aku tak ingin kembali bertengkar. Sebab menurutku yang curang lagi-
lagi Tuhan: dia menciptakan selaput dara, tapi tidak membikin selaput penis”. (Utami,
1998)

Ayu Utami juga menggugat stereotipe masyarakat tentang hubungan lelaki dan
perempuan. “Hanya lelaki yang boleh menghampiri perempuan. Perempuan yang
mengejar-ngejar lelaki pastilah sundal. Perempuan akan memberikan tubuhnya pada
lelaki yang pantas, dan lelaki itu akan menghidupinya dengan hartanya. Itu dinamakan
perkawinan. Kelak, ketika dewasa, aku menganggapnya persundalan yang hipokrit.
(Utami, 1998)

Dalam ranah teater atau drama, Bisma Al Huseini dari Mesir melakukan
pemberontaknnya lewat media teater. Ia seorang aktris yang mencoba melakukan
perlawanan kepada cara pandang masyarakat terhadap perempuan yang selama ini sangat
stereotipe. Dialah perempuan yang memimpin teater dimana pada awalnya tidak
didukung oleh siapa pun. Tetapi ketika ke Beirut, dia menjadi orang besar yang dihargai
oleh orang lain sebagai perempuan perkasa yang memiliki cita-cita mulia. Sejak itu
posisinya menguatkan perempuan lain untuk ikut berteater sebagai usaha perlawanan
mereka.(Bimo Nugroho, 2001)

Penutup

Bahwa perempuan dalam media bisa menjadi obyek yang dieksploitasi, dibentuk dan
diciptakan tubuhnya oleh imajinasi keinginan pria, tetapi di lain hal perempuan dapat
menggunakan media itu sendiri sebagai sarana resistensi untuk membongkar stereotip
bila perempuan itu sendiri bisa menciptakan apa yang benar-benar ia inginkan atas tubuh,
jiwa dan pikirannya sendiri.

* Mariana Amiruddin. Koordinator Jurnal Perempuan dan Jurnalis Radio Jurnal


Perempuan di Yayasan Jurnal Perempuan.

Sumber: Jurnal Perempuan Online


Mengajarkan Kesetaraan Jender<center></center>

KOK, enggak ada nama ceweknya, ya, Pak?" Pertanyaan tersebut meluncur dari mulut
putri kecil saya yang masih duduk di kelas satu sekolah dasar (SD) ketika mengunjungi
Taman Makam Pahlawan Kusuma Bakti, Jurug, Solo. Bisa jadi putri saya tidak
bermaksud protes lewat pertanyaannya tersebut. Bahwa semua yang dimakamkan sebagai
pahlawan di sana tidak ada yang putri, bisa benar bisa tidak karena tidak sempat
menanyakan kepada kantor penjaga makam pahlawan tentang jumlah pahlawan laki-laki
dan perempuan di sana.

Apakah terjadi di makam pahlawan di kota-kota lain? Juga, sungguh mati, sama sekali
tidak terlintas dalam pikiran saya seumur-umur mengenai laki-laki atau perempuan,
mereka yang dimakamkan di taman pahlawan. Pun, putri kecil saya mungkin sekarang
sudah lupa dengan pertanyaannya, tetapi saya sebagai bapak akan mengingatnya sebagai
saat penting seorang anak menunjukkan "kekritisannya".

Kalau taman makam pahlawan yang ada hampir di setiap kota atau kabupaten dibangun
sebagai bagian tidak terpisahkan dari sejarah perjuangan bangsa ini, bisa ditafsirkan
adanya supremasi laki-laki sekaligus mengabaikan perempuan dalam perjuangan
memerangi penjajah. Kelak putri saya mungkin akan merumuskan pertanyaan lain
tentang apakah yang berjuang melawan penjajah hanya laki-laki, lantas siapa yang
memasok makanan atau mengobati yang terluka?

Untuk situasi masyarakat pada zaman kini, inilah awal tumbuhnya kesadaran akan
kesederajatan laki-laki dan perempuan. Kesadaran mesti dimulai dari keluarga dan
ditumbuhkembangkan di sekolah.

PENDIDIKAN yang memperhatikan kesetaraan jender di sekolah-sekolah masih jauh


dari yang diidealkan. Mary Astuti (2000) menunjuk para guru sebagai pendidik di
sekolah kurang mempunyai pengalaman dalam menanamkan nilai-nilai baru dalam
hubungan heteroseksual dalam pengasuhan anak di sekolah.

Mereka masih memiliki pola berpikir bahwa laki-laki akan menjadi pemimpin,
sedangkan anak perempuan akan menjadi ibu rumah tangga. Anak laki-laki akan
diberikan pelajaran silat atau bela diri supaya mempunyai rasa percaya yang lebih besar
karena dia akan menjadi kepala keluarga, menjadi pemimpin masyarakat. Anak
perempuan diberikan materi memasak atau menari sehingga mereka bisa menjadi ibu
rumah tangga yang baik atau bisa menjadi penghibur, di samping sekaligus pelestari
budaya bangsa.

Pembedaan perlakuan antara murid perempuan dan murid laki-laki juga terjadi pada
upacara-upacara yang digelar di sekolah. Anak laki-laki, karena suaranya keras, selalu
dipilih sebagai pemimpin upacara. Mereka tidak menyadari murid perempuan juga
mampu bersuara keras, bersuara lantang, dan pantas menjadi pemimpin upacara.
Pembedaan tersebut tidak pernah diprotes siswa perempuan karena semua perlakuan
tersebut mereka anggap wajar juga.

Buku-buku pelajaran pun masih menunjukkan adanya ketimpangan jender. Dalam buku
pelajaran bahasa Indonesia dari sekolah dasar hingga sekolah menengah umum, peran
perempuan dan laki-laki dibedakan menurut peran domestik, publik, dan sosial. Kegiatan
memasak selalu untuk perempuan, sedangkan berkebun, mengurus kendaraan,
kepemilikan tanah, atau barang-barang yang bernilai ekonomis tinggi selalu untuk laki-
laki. Profesi polisi, dokter, atau militer masih dilekatkan pada laki-laki, sementara juru
masak, penari, penyanyi, identik dengan perempuan. Padahal, sesungguhnya telah terjadi
banyak perubahan.

Semasa taman kanak-kanak, permainan untuk anak laki-laki adalah perang-perangan,


sementara anak perempuan main masak-masakan. Sejak dini, perempuan dan laki-laki
dibedakan dari bentuk permainan. Pembedaan yang dilakukan bukan menunjukkan
perbedaan yang esensial, tetapi pembedaan berdasarkan kebiasaan belaka. Perempuan
diposisikan sebagai makhluk lemah dan perlu dikasihani, sedangkan laki-laki identik
dengan dunia yang keras, kasar, dan mengandalkan ototnya.

Pemahaman kesetaraan jender, kesadaran, dan sensivitas jender, oleh para penyelenggara
pendidikan, para pengarang buku pelajaran, serta para guru, kiranya terus-menerus diasah
demi perubahan paradigma dan persepsi yang lebih adil jender. Dengan membarui
paradigma guru lewat pelatihan yang mendalami jender, guru akan dapat memperlakukan
siswa secara adil jender, dan tidak ada diskriminasi yang merugikan bagi siswa
perempuan ataupun laki-laki.

KEMBALI pada pertanyaan putri saya pada awal tulisan ini, tentunya taman makam
pahlawan tidak bisa diubah lagi soal perempuan atau laki-laki yang mesti ditempatkan
sebagai pahlawan. Cukuplah bila kelak putri saya akan mendapatkan jawaban kesetaraan
jender dengan melihat komposisi anggota parlemen negaranya. Betapa kecut hatinya
bahwa perlakuan laki-laki dan perempuan di makam pahlawan sama saja dengan
perlakuan di Gedung MPR/DPR. Padahal, Gedung MPR/DPR bukan makam pahlawan.

St Kartono Mengajar di SMU Kolese De Britto, Yogyakarta.

Sumber: Kompas Cyber Media


Kesetaraan Gender dalam Pendidikan<center></center>

BANYAK laki-laki mengatakan, sungguh tidak mudah menjadi laki-laki karena


masyarakat memiliki ekspektasi yang berlebihan terhadapnya. Mereka haruslah sosok
kuat, tidak cengeng, dan perkasa.

Ketika seorang anak laki-laki diejek, dipukul, dan dilecehkan oleh kawannya yang lebih
besar, ia biasanya tidak ingin menunjukkan bahwa ia sebenarnya sedih dan malu.
Sebaliknya, ia ingin tampak percaya diri, gagah, dan tidak memperlihatkan kekhawatiran
dan ketidakberdayaannya.

Ini menjadi beban yang sangat berat bagi anak laki-laki yang senantiasa bersembunyi di
balik topeng maskulinitasnya. Kenyataannya juga menunjukkan, menjadi perempuan pun
tidaklah mudah. Stereotip perempuan yang pasif, emosional, dan tidak mandiri telah
menjadi citra baku yang sulit diubah. Karenanya, jika seorang perempuan
mengekspresikan keinginan atau kebutuhannya maka ia akan dianggap egois, tidak
rasional dan agresif. Hal ini menjadi beban tersendiri pula bagi perempuan.

Bias Gender

Keadaan di atas menunjukkan adanya ketimpangan atau bias gender yang sesungguhnya
merugikan baik bagi laki-laki maupun perempuan. Membicarakan gender tidak berarti
membicarakan hal yang menyangkut perempuan saja. Gender dimaksudkan sebagai
pembagian sifat, peran, kedudukan, dan tugas laki-laki dan perempuan yang ditetapkan
oleh masyarakat berdasarkan norma, adat kebiasaan, dan kepercayaan masyarakat.

Bias gender ini tidak hanya berlangsung dan disosialisasikan melalui proses serta sistem
pembelajaran di sekolah, tetapi juga melalui pendidikan dalam lingkungan keluarga. Jika
ibu atau pembantu rumah tangga (perempuan) yang selalu mengerjakan tugas-tugas
domestik seperti memasak, mencuci, dan menyapu, maka akan tertanam di benak anak-
anak bahwa pekerjaan domestik memang menjadi pekerjaan perempuan.

Pendidikan di sekolah dengan komponen pembelajaran seperti media, metode, serta buku
ajar yang menjadi pegangan para siswa sebagaimana ditunjukkan oleh Muthalib dalam
Bias Gender dalam Pendidikan ternyata sarat dengan bias gender.

Dalam buku ajar misalnya, banyak ditemukan gambar maupun rumusan kalimat yang
tidak mencerminkan kesetaraan gender. Sebut saja gambar seorang pilot selalu laki-laki
karena pekerjaan sebagai pilot memerlukan kecakapan dan kekuatan yang "hanya"
dimiliki oleh laki-laki.

Sementara gambar guru yang sedang mengajar di kelas selalu perempuan karena guru
selalu diidentikkan dengan tugas mengasuh atau mendidik. Ironisnya siswa pun melihat
bahwa meski guru-gurunya lebih banyak berjenis kelamin perempuan, tetapi kepala
sekolahnya umumnya laki-laki.

Dalam rumusan kalimat pun demikian. Kalimat seperti "Ini ibu Budi" dan bukan "ini ibu
Suci", "Ayah membaca Koran dan ibu memasak di dapur" dan bukan sebaliknya "Ayah
memasak di dapur dan ibu membaca koran", masih sering ditemukan dalam banyak buku
ajar atau bahkan contoh rumusan kalimat yang disampaikan guru di dalam kelas.
Rumusan kalimat tersebut mencerminkan sifat feminim dan kerja domestik bagi
perempuan serta sifat maskulin dan kerja publik bagi laki-laki.

Demikian pula dalam perlakuan guru terhadap siswa, yang berlangsung di dalam atau di
luar kelas. Misalnya ketika seorang guru melihat murid laki-lakinya menangis, ia akan
mengatakan "Masak laki-laki menangis. Laki-laki nggak boleh cengeng". Sebaliknya
ketika melihat murid perempuannya naik ke atas meja misalnya, ia akan mengatakan
"anak perempuan kok tidak tahu sopan santun". Hal ini memberikan pemahaman kepada
siswa bahwa hanya perempuan yang boleh menangis dan hanya laki-laki yang boleh
kasar dan kurang sopan santunnya.

Dalam upacara bendera di sekolah selalu bisa dipastikan bahwa pembawa bendera adalah
siswa perempuan. Siswa perempuan itu dikawal oleh dua siswa laki-laki. Hal demikian
tidak hanya terjadi di tingkat sekolah, tetapi bahkan di tingkat nasional. Paskibraka yang
setiap tanggal 17 Agustus bertugas di istana negara, selalu menempatkan dua perempuan
sebagai pembawa bendera pusaka dan duplikatnya. Belum pernah terjadi dalam sejarah:
laki-laki yang membawa bendera pusaka itu.

Hal ini menanamkan pengertian kepada siswa dan masyarakat pada umumnya bahwa
tugas pelayanan seperti membawa bendera, lebih luas lagi, membawa baki atau pemukul
gong dalamupacara resmi sudah selayaknya menjadi tugas perempuan.

Semuanya ini mengajarkan kepada siswa tentang apa yang layak dan tidak layak
dilakukan oleh laki-laki dan apa yang layak dan tidak layak dilakukan oleh perempuan.

Bias gender yang berlangsung di rumah maupun di sekolah tidak hanya berdampak
negatif bagi siswa atau anak perempuan tetapi juga bagi anak laki-laki. Anak perempuan
diarahkan untuk selalu tampil cantik, lembut, dan melayani. Sementara laki-laki
diarahkan untuk tampil gagah, kuat, dan berani. Ini akan sangat berpengaruh pada peran
sosial mereka di masa datang.

Singkatnya, ada aturan-aturan tertentu yang dituntut oleh masyarakat terhadap perempuan
dan laki-laki. Jika perempuan tidak dapat memenuhinya ia akan disebut tidak tahu adat
dan kasar. Demikian pula jika laki-laki tidak dapat memenuhinya ia akan disebut banci,
penakut ata bukan laki-laki sejati.
William Pollacek dalam Real Boys menunjukkan penemuannya, sebenarnya, bayi laki-
laki secara emosional lebih ekspresif dibandingkan bayi perempuan. Namun ketika
sampai pada usia sekolah dasar, ekspresi emosionalnya hilang. Laki-laki pada usia lima
atau enam tahun belajar mengontrol perasaan-perasaannya dan mulai malu
mengungkapkannya.

Penyebabnya adalah pertama, ada proses menjadi kuat bagi laki-laki yang selalu diajari
untuk tidak menangis, tidak lemah, dan tidak takut. Kedua, proses pemisahan dari ibunya,
yakni proses untuk tidak menyerupai ibunya yang dianggap masyarakat sebagai
perempuan lemah dan harus dilindungi. Meski berat bagi anak laki-laki untuk berpisah
dari sang ibu, namun ia harus melakukannya jika tidak ingin dijuluki sebagai "anak
mami".

Tidak mengherankan jika banyak guru mengatakan bahwa siswa laki-laki lebih banyak
masuk dalam daftar penerima hukuman, gagal studi, dan malas. Penyebabnya menurut
Sommers, karena anak laki-laki lebih banyak mempunyai persoalan hiperaktif yang
mengakibatkan kemunduran konsentrasi di kelas.

Sementara itu, menjelang dewasa, pada anak perempuan selalu ada tuntutan-tuntutan di
luar dirinya yang memaksa mereka tidak memiliki pilihan untuk bertahan. Satu-satunya
cara yang dianggap aman adalah dengan membunuh kepribadian mereka untuk kemudian
mengikuti keinginan masyarakat dengan menjadi suatu objek yang diinginkan oleh laki-
laki. Objek yang diinginkan ini selalu berkaitan dengan tubuhnya.

Jadilah mereka kemudian anak-anak perempuan yang mengikuti stereotip yang


diinginkan seperti tubuh langsing, wajah putih nan cantik, kulit halus dll. Tidak heran jika
semakin banyak anak perempuan mengusahakan penampilan sempurna bak peragawati
dengan cara-cara yang justru merusak tubuhnya.

Padahal, di sekolah, siswa perempuan umumnya memiliki prestasi akademik yang lebih
baik jika dibandingkan dengan laki-laki. Situasi dan kondisi memungkinkan mereka jauh
lebih tekun dan banyak membaca buku.

Keterlibatan Semua Pihak

Lalu apa yang dapat dilakukan terhadap fenomena bias gender dalam pendidikan ini?
Keterlibatan semua pihak sangat dibutuhkan bagi terwujudnya kehidupan yang lebih
egaliter.

Kesetaraan gender seharusnya mulai ditanamkan pada anak sejak dari lingkungan
keluarga. Ayah dan ibu yang saling melayani dan menghormati akan menjadi contoh
yang baik bagi anak-anaknya. Demikian pula dalam hal memutuskan berbagai persoalan
keluarga, tentu tidak lagi didasarkan atas "apa kata ayah". Jadi, orang tua yang
berwawasan gender diperlukan bagi pembentukan mentalitas anak baik laki-laki maupun
perempuan yang kuat dan percaya diri.

Memang tidak mudah bagi orang tua untuk melakukan pemberdayaan yang setara
terhadap anak perempuan dan laki-lakinya. Sebab di satu pihak, mereka dituntut oleh
masyarakat untuk membesarkan anak-anaknya sesuai dengan "aturan anak perempuan"
dan "aturan anak laki-laki". Di lain pihak, mereka mulai menyadari bahwa aturan-aturan
itu melahirkan ketidakadilan baik bagi anak perempuan maupun laki-laki.

Kesetaraan gender dalam proses pembelajaran memerlukan keterlibatan Depdiknas


sebagai pengambil kebijakan di bidang pendidikan, sekolah secara kelembagaan dan
terutama guru.

Dalam hal ini diperlukan standardisasi buku ajar yang salah satu kriterianya adalah
berwawasan gender. Selain itu, guru akan menjadi agen perubahan yang sangat
menentukan bagi terciptanya kesetaraan gender dalam pendidikan melalui proses
pembelajaran yang peka gender. (18)

Dra Sri Suciati, M.Hum, Dosen FPBS IKIP PGRI Semarang, wakil sekretaris PGRI Jawa
Tengah.

Sumber: Suara Merdeka

Refleksi Teologi Islam mengenai Kesetaraan Jender<center></center>

DALAM salah satu bukunya, Hassan Hanafi mengatakan bahwa teologi Islam sangat
memprihatinkan, hanya bicara tentang konsep Tuhan dan abai terhadap masalah sosial di
hadapannya (Hassan Hanafi, 2003). Celakanya lagi, teologi ini dianggap sudah final oleh
umat Islam, tidak boleh diperbarui.

Sejatinya, teologi seharusnya merupakan refleksi kritis agama terhadap permasalahan


yang dihadapi masyarakat. Perjuangan membangun keadilan dan kesetaraan jender,
misalnya, tidak bisa dilepaskan dari bangunan teologis. Seakan beban jender perempuan
adalah "kodrat" dari Tuhan. Perempuan masih diposisikan sebagai kelompok lemah yang
perlu diajari, dibimbing, dan "diamankan". Semua itu menjadi pembenaran bahwa
perempuan tidak bisa berperan di ruang publik, diharuskan tinggal di rumah demi
keamanannya, dan berkonsentrasi di wilayah domestik. Di sini peran teologi Islam diuji.

Teologi dan realitas sosial


Pada awalnya teologi Islam dibangun di atas kepentingan politik. Peristiwa
pemberontakan Mu’awiyah terhadap Khalifah Ali bin Abu Thalib dicatat Harun Nasution
sebagai awal munculnya perdebatan teologi (Harun Nasution, 1986). Perdebatan tersebut
bermuara pada kebutuhan untuk mencari legitimasi politik, terutama Mu’awiyah, setelah
ia memperoleh kursi kekhalifahan.

Maka, konsep "fatalisme" atau "predestination" lebih dimotivasi kepentingan status quo
ketimbang teologi itu sendiri. Dalam "fatalisme", pemberontakan Mu’awiyah diyakini
sebagai takdir. Meski agak berbeda dengan awal kemunculannya, Abu Hasan Al-Asy’ari
dipuji Nurcholish Madjid, sebab Asy’ari dianggap sukses menciptakan sebuah konsep
teologi yang membuktikan peran besar Tuhan dalam jagat raya (Nurcholish Madjid,
1992). Saat itu, Asy’ari di tengah "keputus-asaan teologis" umat Islam berhadapan
dengan Aristotelianisme yang menempatkan Tuhan pada posisi kurang signifikan.

Lantas tokoh-tokoh Mu’tazilah juga dianggap sukses dalam melapangkan pengembangan


filsafat dan ilmu pengetahuan yang menuntut banyak peran akal. Dalam konsep
teologinya mereka menerangkan bahwa akal manusia sejalan dengan wahyu. Bahkan,
menurut mereka, tanpa wahyu sekalipun manusia mampu mengetahui tentang Tuhan dan
kebaikan.

Turunnya wahyu mereka anggap sebagai afirmasi dan konfirmasi atas pengetahuan
tersebut. Pandangan serupa ini menjadi landasan teologis dalam mengembangkan filsafat
yang saat itu ditentang keras oleh ulama, terutama para ahli fikih (fuqoha)

Dengan demikian, raison d’etre teologi Islam adalah tuntutan "realitas sosial". Teks kitab
suci (Al Quran) didialogkan dengan persoalan manusia. Maka, pada masanya, teologi
Islam begitu modern dan relevan dengan kebutuhan manusia.

Dewasa ini, teologi Islam berhenti berdialog dengan "realitas sosial". Umat Islam
terjebak dengan pendekatan hermeneutika teoretis, yakni memahami teologi untuk
teologi itu sendiri. Walhasil, teologi menjadi jauh dari kebutuhan manusia. Wajar jika
Asghar Ali Engineer mengatakan bahwa teologi Islam terlalu berkutat pada persoalan
metafisik dan meninggalkan persoalan penting kemanusiaan (Asghar Ali Engineer,
1998).

Sudah saatnya umat Islam mengembangkan pendekatan hermeneutika filosofis, dengan


harapan dapat membebaskan teologi Islam dari kebangkrutannya. Dengan pendekatan ini,
teologi senantiasa didialogkan dengan realitas sosialnya. Apa yang dilakukan Hanafi
adalah salah satu contoh menarik. Hanafi mendialogkan teologi dengan kolonialisme dan
orientalisme, akhirnya terciptalah teologi pembebasan (kiri Islam).

Salah satu realitas sosial yang perlu disikapi adalah diskriminasi jender. Teologi yang
sejatinya memosisikan perempuan sebagai mitra laki-laki, justru disesaki kepentingan
laki-laki. Kata ganti Tuhan dalam Al Quran, misalnya, ialah Huwa, yang berarti Dia
(laki-laki).

Hal ini dibenarkan teolog feminis, Anne McGrew Bennet. Menurut dia teologi yang ada
selama ini disesaki kepentingan laki-laki. Bennet menyatakan bahwa "revolusi teologis"
adalah sebuah keniscayaan jika kita menginginkan pembebasan manusia (Anne McGrew
Bennet, 1989).

Jadi, dialog teologi dengan permasalahan-permasalahan perempuan adalah suatu


keniscayaan. Hasil dialog semacam ini dapat kita temukan dalam teologi feminis. Di
dalamnya, konsep ketuhanan yang metafisik diterjemahkan kepada persoalan
pembebasan dan pemberdayaan perempuan. Lebih tepatnya, teologi feminis adalah
teologi yang menggali aspek-aspek feminin Tuhan demi kesetaraan jender.

Dalam Al Quran, Tuhan digambarkan memiliki 99 sifat. Oleh Ibnu Arabi, sifat-sifat
tersebut dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu sifat yang melambangkan keperkasaan
(maskulin) dan keindahan (feminin). Sifat feminin inilah yang dieksplorasi oleh teologi
feminis.

Dalam pandangan Arabi, meski sifat maskulin dan feminin Tuhan dikatakan sejajar,
sebenarnya sifat feminin Tuhan jauh lebih berperan. Proses penciptaan alam semesta
secara evolusi, misalnya, merupakan cermin dari sifat feminin-Nya. Arabi
menggambarkan adanya reproduksi alam semesta, seperti halnya seorang ibu yang
melahirkan.

Kemudian, pemeliharaan alam juga merupakan representasi sifat kasih dan sayang-Nya.
Bahkan, sifat perkasa-Nya senantiasa didampingi oleh keluasan kasih sayang-Nya. Maha
Pemberi Hukuman diimbangi dengan Maha Pengampun, Maha Pemarah diimbangi
dengan Maha Penyayang, dan seterusnya. Dengan demikian aspek feminin-Nya jauh
lebih terasa ketimbang aspek maskulin.

Hal inilah yang ingin didekonstruksi dari paradigma pendukung patriarki bahwa
feminitas senantiasa merepresentasikan kelemahan, irasional, sensitif, dan tidak bisa
tegas sehingga menyebabkan kaum perempuan dianggap tidak layak berperan dalam
wilayah publik. Padahal, pandangan seperti itu tidak memiliki legitimasi teologis.
Perendahan terhadap kualitas feminin perempuan bernilai sama dengan pengabaian
kualitas feminin Tuhan.

Atas dasar itu, diskriminasi jender sesungguhnya merupakan pengingkaran terhadap


Tuhan secara utuh. Alasannya, relasi jender secara mengesankan telah direpresentasikan
oleh Tuhan sendiri. Oleh karena itu, paling tidak, ada tiga hal yang harus dilakukan
terhadap teologi Islam.
Pertama, membongkar mitos tentang teologi yang seolah-oleh terberi (taken for granted).
Hal ini diperlukan guna menyadarkan umat bahwa kemunculan teologi Islam tidak
berada di ruang hampa, melainkan penuh dengan kepentingan, baik kepentingan status
quo maupun pemberontakan. Dengan begitu diharapkan tidak ada fanatisme sempit yang
mencurigai dialog teologi dan persoalan perempuan sebagai pendangkalan akidah.

Kedua, mengeksplorasi aspek feminin Tuhan demi kesetaraan jender. Ini tidak
dimaksudkan untuk membenturkan sifat feminin Tuhan dengan sifat maskulin-Nya.
Eksplorasi lebih dimaksudkan sebagai pengungkapan bahwa sifat feminin tidak identik
dengan kelemahan sebagaimana dianggap oleh pendukung patriarki.

Ketiga, menjadikan teologi tidak sebatas keimanan, melainkan meneruskannya pada aksi.
Ukuran kesalehan dalam konteks gagasan ini tidak diukur dari kepatuhan menjalankan
ritual, tetapi pada kesalehan sosial, yakni membela hak-hak perempuan dan menegakkan
kesetaraan jender.

M Hilaly Basya, Dosen Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka) dan


anggota Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM)

Sumber: Kompas Cyber Media

Pemberitaan Sensitif Gender, Sumbangan Besar Mewujudkan


Demokrasi<center></center>

Revolusi teknologi ternyata tak banyak dimanfaatkan oleh pekerja media untuk
membantu perempuan memperbaiki posisinya. Pencitraan perempuan di berbagai media
massa di seluruh dunia masih lebih banyak bersifat stereotip sehingga tidak bisa
dikatakan mewakili sesuatu yang lebih benar mengenai perempuan. Sampai Konferensi
Dunia IV mengenai perempuan dan pembangunan di Beijing (1995), media dan jaringan
alternatif khusus untuk perempuan semakin berkembang dan dimanfaatkan secara efektif
oleh organisasi mahasiswa dan kelompok-kelompok perempuan guna memperbaiki
kesadaran sosial dan politik di antara perempuan dan anggota masyarakat Dengan
demikian, media seharusnya dapat digunakan untuk mentransformasi pencitraan
mengenai perempuan.

Perjuangan Perombakan Kultur

Upaya menghapuskan kekerasan dalam pemberitaan surat kabar, bukan hal yang mudah
karena menyangkut perombakan kultur dan kerangka pikir wartawan dan editor. Apalagi
bila bekerja pada wilayah mind set yang melahirkan suatu sikap tertentu, ideologi tertentu
yang dipelajari seorang manusia sejak ia bisa berpikir, ditambah oleh pola asuh yang bias
gender. Dengan demikian pemberitaan wacana sensitifitas gender saja tidak akan mampu
membuat wartawan segera mamiliki kesadaran yang cukup pada inequality yang dialami
perempuan. Kerja dalam tim seperti media cetak, membutuhkan toleransi dan
penghargaan pada proses. Kemarahan dan ketidaktoleran hanya akan menjadi conter
productive dan tidak akan membuat perubahan yang berarti.

Perjuangan untuk mencapai keadilan gender melalui pemberitaan dalam media massa
masih membutuhkan waktu teramat panjang. Kekerasan terhadap perempuan dalam
media massa tidak bisa dilepaskan dari posisi perempuan dalam masyarakat, karena
struktur dan pemberitaan media massa sebenarnya adalah cermin situasi masyarakat itu
sendiri. Dalam masyarakat terlanjur meyakini notion palsu yang mengatakan bahwa
secara kodrati perempuan kurang pandai dan secara fisik lebih lemah dibandingkan
dengan laki-laki. Karena itu, sebagai besar masyarakat masih percaya pada pembagian
kerja secara seksual yang mensubordinasikan perempuan, sektor "domestik" yang
dikatakan sebagai sektor statis clan consumtif sebagai milik perempuan. Sedangkan
sektor "publik" yang dicirikan sebagai sektor dinamis dan memiliki sumber kekuasaan
pada perbagai sektor kehidupan yang mengendalikan perubahan sosial sebagai milik laki-
laki.

Sejumlah stereotip lantas menempel pada perempuan dan laki-laki berdasarkan peran
jenis kelamin itu. Ini diperkuat oleh kekuasaan negara UU No.1 Tahun 1974 tentang
perkawinan yang secara eksplisit menetapkan peran-laki-laki dan perempuan, maka
dengan mudah ideologi yang diskriminatif ini tersosialisasikan, terinternalisasikan
melalui pendidikan di semua lini, keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat.
Wartawan dan struktur keredaksian juga menyerap nilai-nilai tersebut sehingga mudah
tergelincir untuk melakukan kekerasan berganda terhadap perempuan korban kekerasan
melalui bahasa dan konsep yang dipakai, atau sudut pandang berita yang dipilih,
pemilihan gagasan dan keseluruhan gaya pemberitaan.

Perspektif Perempuan dalam Media Massa

Seluruh persoalan ini di dalam media massa juga tidak terlepas dari struktur modal yang
kapitalistik. Industri media massa akan menempatkan berita-berita yang bersifat maskulin
itu sebagai sesuatu yang utama, karena dianggap "menjual". Ciri kapitalistik juga nampak
dari dikalahkannya pemuatan berita demi iklan, meski iklan dijadikan alasan utama suatu
media massa dapat bertahan.

Penulisan berita dan artikel atau tulisan apapun (juga gambar) yang berperspektif
perempuan bukan tidak mengandung kontradiksi. Bahkan mengandung resiko dituduh
mengekalkan mitos masochisme perempuan, rasisme, narcisis, memalukan, buruk,
efensif, dan menentang konsepsi tentang apa dan bagaimana seharusnya.
Suara perempuan adalah suara yang terbisukan. Sistem politik yang represif telah
mengawasi perempuan secara ketat, mengontrol secara dominan, tidak memungkinkan
cara berpikir lain daripada yang dikehendaki penguasa, menyudutkan dan menyempitkan
dan akhirnya menundukkan. Ini juga dilakukan melalui bahasa, karena membicarakan
media massa media yang diekspresikan melalui bahasa tulis dan lisan. Sebagai wacana
baru (newspeak), bahasa bukanlah sekedar alat komunikasi. Ia merupakan kegiatan
kegiatan sosial yang terstruktur dan terikat pada keadaan sosial tertentu.

Posisi Media Massa

Namun perubahan semacam ini tidak semudah membalikkan telapak tangan, ada
semacam cara pandang, budaya berpikir yang harus dirombak dalam struktur besar
keredaksian, serta pembongkaran sikap dan cara pandang personal di kalangan
wartawannya. Dalam sebuah diskusi Lembaga Pers Mahasiswa, pada umumnya pekerja
media memiliki kesadaran memadai mengenai masalah-masalah HAM. Namun masih
perlu perbaikan yang signifikan dalam kognisi, maupun afeksi. Jurnalis harus
memanfaatkan semaksimal mungkin informasi, komunikasi, dan pendidikan untuk
memajukan perdamaian, HAM, dan demokrasi.

Tetapi apa keterkaitan antar demokrasi dan perempuan? Sejarah bisa menjadi titik
tempuh untuk memaparkan pergerakan posisi perempuan mulai dari pemegang peranan
yang kuat dalam komunitas sampai terjadinya subordinnasi terhadap mereka. Sejarah
kemudian memang memperlihatkan bahwa sejarah perempuan lebih banyak dilekatkan
pada subordinasi. Padahal inti demokrasi adalah kesetaraan hak dan kewjiban, dan
keadilan yang didasarkan kesetaraan tadi.

Jadi, sehebat apapun posisi seorang pemimpin media berbicara soal demokrasi, tetapi ia
meragukan atau bahkan menisbikan persoalan kesetaraan dalam hubungan perempuan-
laki-laki, maka ia bukanlah demokrat sejati. Seorang pemimpin di dalam media yang
masih mengartikan feminisme sebagai pembalikan perempuan dan laki-laki atau bahkan
menuduh feminisme dan gerakan kesetaraan gender sebagai gerakan untuk menindas
laki-laki, maka secara tidak sadar dia telah memposisikan dirinya sebagai penindas.

Mengapa? Karena kesadaran ditindas hanya ada pada golongan penindas. Pada banyak
kasus, orang tertindas malah tidak merasa ditindas karena manipulasi berbagai nilai yang
dikukuhi dalam kehidupan masyarakat atau malah melakukan adjustment terhadap
penindasan itu dan kemudian mereplikasikannya kepada pihak lain yang lemah. Karena
itulah kesadaran perempuan tentang masalah penindasan ini harus dibongkar. Hanya
dengan itu maka seluruh gerakan kesetaraan bisa mencapai tujuannya. Dalam hal ini
media sebagai kekuatan keempat (the fourth estate) berperan sangat besar untuk
pergerakan permpuan, namun sebaliknya media bisa digunakan untuk menahan laju
pergerakan perempuan, atau bahkan memundurkan kembali. Inilah yang disebut split
personaliy dari media: ia bisa menjadi agen pembaharu, tetapi sekaligus menginginkan
kemapanan sehingga enggan membongkar situasi status-quo, karena merasa hal-hal itu
tidak populer, yang akhirnya mengganggu bisnis media.

Namun bagaimanapun harus diingat, media main steram berurusan dengan pemodal yang
lebih mempedulikan kenginan pasar ketimbang perbaikan posisi dan kesejahteraan
perempuan dan kelompok masyarakat yang dilemahkan lainnnya. Meski demikian,
ketidakpedulian media main stream ini bukan jalan buntu yang tidak bisa ditembus.
Selalu ada jalan dengan kecerdasan membungkus isu, sehingga akhirnya secara perlahan
tetapi pasti, isu-isu kesetaraan dan keadilan gender menjadi isu yang kian membesar dan
penting dan harus diterapkan dalam setiap persoalan.

Oleh: Akhmad Junaedi Azhar

Sumber: Siar Online