Anda di halaman 1dari 19

UJI PENETRAN

BAB III PENETRANT

3.1 Pendahuluan
3.1.1 Latar belakang
Inspeksi cacat perlu dilakukan terhadap konstruksi maupun komponen
mesin secara terus menerus. Dengan mengetahui terjadinya cacat sejak dini
selain akan mengurangi resiko terjadinya kecelakaan kerja juga akan
memudahkan perawatan yang imbasnya pada penekanan nilai ekonomi
akibat kerusakan alat. Dengan mengetahui kerusakan suatu komponen sejak
awal akan mengurangi dampak yang merusak terhadap komponen lain.
Untuk keperluan inspeksi cacat tersebut diperlukan suatu pengujian yang
mampu mendeteksi keberadaan suatu cacat.
3.1.1 Tujuan
Kompetensi yang akan dimiliki Mahasiswa setelah memahami isi laporan
ini adalah sebagai berikut:
1) Mahasiswa mampu menjelaskan syarat-syarat suatu komponen dapat
diuji dengan Liquid Penetrant.
2) Mahasiswa mampu menjelaskan jenis-jenis cacat yang mampu
dideteksidengan Liquid Penetrant.
3.2 Dasar Teori
Uji liquid penetrant merupakan salah satu jenis NDT (Non Destructive
Test) yang relatif mudah dan cepat pelaksanaannya serta murah biayanya
dibandingkan dengan uji NDT yang lain. Pengujian ini adalah cara yang
paling peka untuk menentukan adanya cacat halus pada permukaan seperti
retak, lubang halus atau kebocoran. Pada dasarnya pengujian ini adalah
pemakaian cairan penembus (liquid penetrant) berwarna yang mampu
menembus cacat. Setelah cairan yang ada di permukaan dibersihkan maka
cacat akan kelihatan jelas karena cairan yang berada di dalam cacat ditarik

oleh cairan pengembang (developer) yang warna kontras dengan warna liquid
penetrant sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 3.1

Gambar 3.1 Dasar Pengujian dengan Liquid Penetrant


(SUMBER : MODUL UJI BAHAN)
Cacat yang mampu dideteksi dengan uji ini adalah keretakan yang bersifat
mikro. Yaitu keretakan yang tidak dapat diamati dengan mata telanjang.
Deteksi keretakan dengan cara ini tidak tergantung pada ukuran, bentuk, arah
keretakan, struktur bahan maupun komposisinya. Liquid penetrant dapat
meresap ke dalam celah retakan yang sangat kecil bahkan ke dalam keretakan
yang hanya sedalam 4 mikron (4x10-6 m). Penyerapan liquid penetrant ke
dalam celah retakan terjadi karena daya kapiler. Proses ini banyak digunakan
untuk menyelidiki keretakan permukaan (surface cracks), kekeroposan
(porosity), lapisan-lapisan bahan, dll. Sedangkan seberapa dalam keretakan
tersebut tidak mampu dideteksi dengan uji ini. Penggunaan uji liquid
penetrant tidak terbatas pada logam ferrous dan non ferrous saja, tetapi juga
pada keramik, plastik, gelas, dan benda-benda hasil powder metallurgy.

3.2.1 Lingkup pemakaian uji liquid penetrant


Penggunaan uji liquid penetrant ini sangat terbatas yakni :
1)

Keretakan atau kekeroposan yang diselidiki dapat dideteksi apabila


keretakan tersebut terjadi ke permukaan benda. Keretakan di bawah
permukaan (subsurface cracks) tidak dapat dideteksi dengan cara ini.

2)

Permukaan

yang

terlalu

kasar

atau

berpori-pori

juga

dapat

mengakibatkan indikasi yang palsu.


3)

Tidak dianjurkan menyelidiki benda-benda hasil powder metallurgy


karena kurang padat (berpori-pori).

3.2.2 Klasifikasi liquid penetrant sesuai cara pembersihannya


Ada tiga macam sistem liquid penetrant yang dapat digunakan, ketiganya
memiliki perbedaan yang mencolok. Pemilihan salah satu sistem bergantung
pada faktor-faktor, yaitu :
1)

Kondisi permukaan benda kerja yang diselidiki.

2)

Karakteristik umum keretakan logam.

3)

Waktu dan tempat penyelidikan.

4)

Ukuran benda kerja.


Ketiga sistem liquid penetrant yang dapat digunakan adalah :
a) The Water Washable Penetrant System
Penetrant jenis ini sangat mudah sekali pembersihannya karena dapat
dibersihkan dengan menggunakan air. Sistem ini dapat berupa fluorecent
atau visibledye. Prosesnya cepat dan efisien. Dalam penggunaanya saat
pembasuhan harus dilakukan secara hati-hati, karena liquid penetrant
dapat terhapus habis dari permukaan yang retak. Derajat dan kecepatan
pembasuh untuk proses ini tergantung pada karakteristik dari spray
nozzle, tekanan, temperatur air selama pembasuhan, kondisi permukaan
benda kerja, dan karakteristik liquid penetrant sendiri.
b) The Post Emulsifisible System
Untuk menyelidiki keretakan yang sangat kecil, digunakan penetrant
yang tidak dapat dibasuh dengan air (not water washable). Hal ini
penting agar tidak ada kemungkinan penetrant terbasuh oleh air.

Penetrant jenis ini dilarutkan dalam oli dan membutuhkan langkah


tambahan pada saat penyelidikan yaitu pembubuhan emulsifier dibiarkan
pada permukaan benda kerja, harus dibatasi waktunya agar penetrant
yang berada di dalam keretakan tidak ikut terbasuh(menjadi water
washable).
c) The Solvent Removable System
Kadang-kadang dibutuhkan penyelidikan pada daerah yang sempit pada
permukaan benda kerja yang penyelidikannya dilakukan di lapangan.
Biasanya benda kerjanya besar atau ongkos pemindahan benda kerja ini
dari lapangan ke tempat penyelidikan relatif mahal. Untuk situasi
seperti ini solvent removable system digunakan pada saat pembersihan
pendahuluan (precleaning) dan pembasuhan penetrant. Proses seperti
ini sesuai dan sangat luas digunakan untuk inspeksi lapangan.
Pembersihan pelarut secara optimum dapat dicapai dengan cara
mengelap permukaan benda kerja dari penetrant dengan lap yang
dibasuhi solvent. Tahap akhir dari pengelapan dilakukan dengan kain
kering. Penetrant dapat pula dibasuh dengan cara membanjiri
permukaan benda kerja dengan solvent. Cara ini diterapkan pada benda
kerja yang besar. Tetapi pelaksanaannya harus berada dalam keretakan
tidak ikut tebasuh. Proses seperti ini biasanya dilakukan untuk aplikasi
yang khusus, karena prosesnya memakan tenaga yang relatif banyak
dan tidak praktis untuk diterapkan sebagai inspeksi pada hasil produksi.
Proses ini merupakan proses liquid penetrantinspection yang paling
sensitive bila dilakukan dengan cara yang baik.
3.2.3 Klasifikasi liquid penetrant berdasarkan pengamatannya
Berdasarkan cara pengamatannya ada tiga jenis liquid penetrant, yaitu :
1) Visible Penetrant
Pada umumnya visible penetrant berwarna merah. Hal ini ditunjukkan
pada penampilannya yang kontras terhadap latar belakang warna
developernya. Proses ini tidak membutuhkan cahaya ultraviolet, tetapi
membutuhkan cahaya putih yang cukup untuk pengamatan. Walaupun

sensitivitas penetrant jenis ini tidak setinggi jenis fluorecent, tetapi


cukup memadai untuk berbagai kegunaan.
2) Fluorecent Penetrant
Liquid penetrant jenis ini adalah liquid penetrant yang dapat berkilau
bila disensitivitas. Fluorecent penetrant bergantung pada kemampuannya
untuk menampilkan diri terhadap cahaya ultraviolet yang lemah pada
ruangan gelap. Ada tiga tingkatan sensitivitas, yaitu :
a)

Sensitivitas normal (cahaya normal).

b)

Sensitivitas tinggi (cahaya gelap).

c)

Sensitivitas ultra tinggi (infra merah).

Pemilihan penggunaan sensitivitas penetrant bergantung pada kekritisan


inspeksi, kondisipermukaan yang diselidiki, jenis proses (system), dan
tingkat sensitivitas yang diinginkan.
3) Dual Sensitivity Penetrant
Ini adalah gabungan dari visible penetrant dan fluorecent penetrant,
maksudnya adalah benda kerja mengalami dua kali pengujian
yaitu:visible penetrant dan fluorecent penetrant, sehingga dengan dual
sensitivity dapat diperoleh hasil yang lebih teliti dan akurat.
3.2.4 Dwell time penetration & developing.
Dwell time merupakan waktu tunggu yang diperlukan agar cairan penetran
dan developer dapat meresap kedalam celah dengan baik, jika waktu dwell
time kurang maka penyerapan kurang maksimal dan indikasi yang
terbentuk kurang terlihat. Dalam menentukan dwell time uji penetran dapat
melihat dari table 3.1 dibawah ini :

Table 3.1 Recomended Minimum Dwell Times berdasarkan ASME


SECTION V 2001

3.2.5 Evaluasi indikasi berdasarkan standar ASME (American

Society of

Mechanical Engineering) Section VIII Division 1 edisi 2010.


1) Evaluasi indikasi menurut standar ASME (American Society of
Mechanical Engineers) Section VIII Division 1 edisi 2010. Sebuah
indikasi adalah bukti suatu ketidak sempurnaan mekanik.Hanya
indikasi yang mempunyai ukuran (dimensi) lebih besar dari 1/16 inchi
(1,5 mm) yang akan dipertimbangkan.
Evaluasi Indikasi menurut standar ASME Section VIII Division 1 edisi
2010 :
a) Indikasi linear jika kerusakan memiliki panjang lebih besar dari tiga
kali lebarnya.
b) Indikasi rounded jika bentuk keretakan melingkar atau menyerupai
elips dan memiliki panjang kurang dari atau sama dengan tiga kali
lebarnya.
c) Indikasi-indikasi lain yang masih diragukan/dipertanyakan akan
diuji kembali untuk menentukan apakah diterima atau tidak.
2) Kriteria penerimaan pengujian menurut standart ASME Section VIII
Division 1 edisi 2010:
Penerimaan standar ini akan berlaku jika tidak ada standar lain yang lebih
spesifik lagi dalam hal penerimaan material yang spesifik. Pada proses
pengujian, permukaan material harus terbebas dari hal-hal berikut:
a) Indikasi linear yang relevan.

b) Indikasi rounded yang relevan dengan panjang lebih besar dari 3/16
inchi (5 mm).
c) Memiliki empat atau lebih indikasi rounded yang relevan dalam satu
baris dengan jarak 1/16 inchi (1,5 mm) atau kurang (dari tepi ke tepi).
3.3 Metodologi
3.3.1

Peralatan
Berikut ini merupakan peralatan yang digunakan dalam melakukan uji
penetran :
1) Kain
2) Tissue
3) Lampu 28 watt
4) Light meter
5) Stopwatch
6) Digital camera
7) Sikat Baja
8) Penggaris

3.3.2

Bahan
Berikut ini merupakan bahan-bahan yang digunakan dalam melakukan uji
penetran :
1) Cleaner (Magnaflux SKC-S) berwarna bening
2) Penetrant (Magnaflux SKL-SP1) berwarna merah
3) Developer (Magnaflux SKD-S2) berwarna putih
4) Weld Part SA 36/B2

3.3.3

Prosedur keselamatan
Sebelum praktikum pengujian bahan dilaksanakan, mahasiswa harus
meyakinkan dahulu telah melengkapi diri dengan APD (Alat Pelindung
Diri) sebagai berikut :

1) Pakaian dan celana bengkel


2) Safety shoes
3.3.4 Langkah Kerja
Langkah kerja untuk melakukan uji penetran adalah sebagai berikut :

1)

Penentuan metode dan type penetrant.


a) Menggunakan Type Penetrant

visible

penetrant

karena

pengamatan yang diamati cukup dengan mata telanjang dengan


membutuhkan

cahaya

lampu

yang

cukup

untuk

proses

pengamatannya.
b) Menggunakan Metode solvent removable system karena digunakan
pada

saat

pembersihan

pendahuluan

(Pre-cleaning)

dan

pembasuhan penetrant yaitu cleaner.


c) Menentukan dwell time penetration & developing berdasarkan
tabel 3.1
a) Material yang digunakan adalah steel dan formnya welds maka
Dwell times penetrant minimum yang digunakan adalah 5
menit.
b) Developing harus dilakukan dalam waktu 10 menit.
c) Interprestasi menggunakan intensitas cahaya minimal 100 fc
(1000 lux) diperlukan untuk memastikan sensitivitas yang
memadai selama pemeriksaan dan evaluasi indikasi.
2)

Menyiapkan Permukaan
a) membersihkan permukaan benda kerja dari kotoran yang berupa
karat, lemak, cat, dll dengan menggunakan sikat baja.
b) Meletakkan benda uji pada bidang yang datar, lalu berikan
pencahayaan dengan lampu. Ukur pencahayaan dengan light
meter. Pencahayaan pada saat pengujian tersebut adalah 168 fc
(sesuai dengan standar minimal 100 fc).
c) Benda uji disemprot dengan cleaner untuk membersihkan
kotoran-kotoran

yang

masih

tersisa

pada

pembersihan

sebelumnya dan ditunggu selama 5 menit.


d)

Ambil foto benda kerja sebelum pengujian dengan kamera,


seperti ditunjukkan pada Gambar 3.2
Gambar 3.2 Pembersihan Permukaan Benda Kerja

a. Pembersihan benda uji b. Penyemprotan benda uji


menggunakan sikat

menggunakan cleaner

c. Pembersihan benda uji


menggunakan kain

3)

Aplikasi Penetrant
a) Semprotkan liquid penetrant pada daerah yang akan diselidiki
b) membiarkannya selama 5 menit untuk memberikan kesempatan
liquid penetrant memasuki celah-celah retakan,seperti ditunjukkan
pada Gambar 3.3

Gambar 3.3 Penyemprotan Liquid Penetrant


4)

Pembersihan
a) membersihkan liquid penetrant dari permukaan benda kerja dengan
kain atau tisu.
b) Berhati-hatilah dan jagalah jangan sampai liquid penetrant yang
telah masuk ke dalam celah retakan ikut hilang, sebagaimana
ditunjukkan pada Gambar 3.4

Gambar 3.4

Pembersihan Liquid
Penetrant dengan kain bercampur cleaner

5)

Pengembangan
a) Semprotkan developer pada permukaan benda kerja dan
b) membiarkannya selama 10 menit agar liquid penetrant yang
sudah berada di dalam celah-celah retakan keluar sehingga tampak
retakan sesuai dengan pola warna merah liquid penetrant yang
timbul pada developer yang berwarna putih. Seperti ditunjukan
pada Gambar 3.5

a. Penyemprotan developr
pada permukaan benda
kerja
Gamba
6)

b. Developer diberi waktu 10


menit agar masuk ke dalam
celah retakan
r 3.5 Penyemprotan Developer

Inspeksi
a) Mengamati permukaan benda kerja yang telah disemprot dengan
developer tersebut apakah timbul bercak-bercak merah yang
berupa garis-garis merah, atau bentuk yang lain.
b) Bila tidak ada berarti pada benda kerja tidak terdapat retak yang
timbul sampai permukaan. Bila terdapat garis merah atau bentuk

yang lain maka berarti terdapat indikasi cacat sebagaimana bentuk


yang tampak
c) Menggambar dan memfoto benda kerja tersebut.
d) Mengukur indikasi yang muncul menggunakan penggaris dan
catat hasil pengamatan yang telah diperoleh pada lembar kerja
sesuai dengan ukuran dimensi dan letak kerusakan yang terjadi
pada benda kerja, seperti ditunjukkan pada Gambar 3.6

Gambar 3.6 Inspeksi Benda Kerja


7)

Pembersihan Akhir
a) Membersihkan kembali benda kerja yang telah duji dengan
menyemprotkan cleaner ke seluruh permukaan benda kerja untuk
menghilangkan developer dan sisa-sisa liquid penetrant.
b) Setelah bersih, keringkan dengan kain dan letakkan kembali pada
tempat semula. Seperti yang ditunjukan pada Gambar 3.7

Gambar 3.7 Pembersihan Developer Pada Permukaan Benda Kerja

3.4 Hasil Pengujian dan Pembahasan


3.4.1 Hasil Pengujian

Berikut ini adalah sketsa indikasi hasil pengujian penetran pada benda A1
dan A2, yang di tunjukan Gambar 3.8 dan Gambar 3.9
Gambar 3.8 Sketsa Indikasi
Gambar
yang3.9 Sketsa Indikasi
timbul pada specimen
yangA1
timbul pada specimen A2

Keterangan :
Uji penetran dilakukan menggunakan Lampu Philips 18 watt, 220 240
volt, dengan nilai Light intensity 168 fc dan jarak antara spesimen dengan
lampu adalah 22 cm.
Berikut ini adalah hasil pengujian yang ditunjukan pada Tabel 3.2
Tabel 3.2 Hasil Pengujian uji penetran
Type of
Defect

No

Part/Item

1
2
3
4

Benda A1
Crack 1
Crack 2
Crack 3
Crack 4

Linier
Rounded
Linier
Rounded

1
2
3

Benda A2
Crack 1
Crack 2
Crack 3

Linier
Linier
Linier

3.4.2

Pembahasan

Size (mm)
W

Result
Accepte

Rejected

d
1
2,5
1
3

80
3
36
4

1
1
1

81
22
38

Dari data hasil Liquid Penetrant Test pada Tabel 3.2 terdapat 7 indikasi
yang didapatkan, 2 berupa Rounded Indication dan 5 Linear Indication
yang di dapat dari pengujian 2 spesimen.
a) Pada spesimen A1 crack 1 merupakan indikasi Linier menurut standard ASME
Section VIII Division 1edisi 2010 ditolak (Rejected) karena indikasi memiliki
panjang lebih dari tiga kali lebarnya yaitu dengan ukuran 80 mm. Sebab

memenuhi syarat sebagai Linear Indication yang relevan. Hal tersebut


sesuai dengan kriteria penerimaan pengujian menurut standard ASME
Section VIII Division 1 edisi 2010.
b) Pada spesimen A1 crack 2 merupakan indikasi Rounded diterima
(Accepted) karena memiliki panjang kurang dari 5 mm yaitu dengan
ukuran 3 mm. Sebab tidak memenuhi syarat sebagai Rounded
Indication yang relevan. Hal tersebut sesuai dengan kriteria
penerimaan pengujian menurut standard ASME Section VIII Division
1 edisi 2010.
c) Pada spesimen A1 crack 3 merupakan indikasi Linier menurut
standard ASME Section VIII Division 1edisi 2010 ditolak (Rejected)
karena indikasi memiliki panjang lebih dari tiga kali lebarnya yaitu
dengan ukuran 36 mm. Sebab memenuhi syarat sebagai Linear
Indication yang relevan. Hal tersebut sesuai dengan kriteria
penerimaan pengujian VIII Division 1edisi 2010.
d) Pada spesimen A1 crack 4 merupakan indikasi Rounded diterima
(Accepted) karena memiliki panjang kurang dari 5 mm yaitu dengan
ukuran 4 mm. Sebab tidak memenuhi syarat sebagai Rounded
Indication yang relevan. Hal tersebut sesuai dengan kriteria
penerimaan pengujian menurut standard ASME Section VIII Division
1 edisi 2010.
e) Pada spesimen A2 crack 1 merupakan indikasi Linier menurut
standard ASME Section VIII Division 1edisi 2010 ditolak (Rejected)
karena indikasi memiliki panjang lebih dari tiga kali lebarnya yaitu
dengan ukuran 81 mm. Sebab memenuhi syarat sebagai Linear
Indication yang relevan. Hal tersebut sesuai dengan kriteria
penerimaan pengujian menurut standard ASME Section VIII Division
1 edisi 2010.
f) Pada spesimen A2 crack 2 merupakan indikasi Linier menurut
standard ASME Section VIII Division 1edisi 2010 ditolak (Rejected)
karena indikasi memiliki panjang lebih dari tiga kali lebarnya yaitu
dengan ukuran 22 mm. Sebab memenuhi syarat sebagai Linear

Indication yang relevan. Hal tersebut sesuai dengan kriteria


penerimaan pengujian menurut standard ASME Section VIII Division
1 edisi 2010.
g) Pada spesimen A2 crack 3 merupakan indikasi Linier menurut
standard ASME Section VIII Division 1edisi 2010 ditolak (Rejected)
karena indikasi memiliki panjang lebih dari tiga kali lebarnya yaitu
dengan ukuran 38 mm. Sebab memenuhi syarat sebagai Linear
Indication yang relevan. Hal tersebut sesuai dengan kriteria
penerimaan pengujian menurut standard ASME Section VIII Division
1 edisi 2010.

3.5 Penutup
3.5.1

Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan terhadap benda uji,
dapat disimpulkan bahwa:
1) Syarat-syarat suatu komponen dapat diuji dengan Liquid Penetrant
yaitu :
a) Keretakan atau kekeroposan terjadi di permukaan benda.
Keretakan di bawah permukaan (subsurface cracks) tidak dapat
dideteksi dengan cara ini.
b) Permukaan tidak terlalu kasar atau berpori-pori

agar tidak

mengakibatkan indikasi yang palsu.


c) Tidak

dianjurkan

menyelidiki

benda-benda

hasil

powder

metallurgy karena kurang padat (berpori-pori).


2) menurut kriteria penerimaan standart ASME Section VIII Division 1
Liquid Penetrant Examination edisi 2010 Indikasi yang terbentuk
adalah indikasi rounded dan linier.
3.5.2 Saran

Setelah dilakukannya pengujian menggunakan Liquid Penetrant Test


menurut kriteria penerimaan standart ASME Section VIII Division 1
Liquid Penetrant Examination edisi 2010. Saran dari kami adalah:
a) Tidak menggunakan material tersebut karena memiliki banyak cacat
b) Mengganti material tersebut dengan material lain yang lebih baik
kualitasnya.

Daftar Pustaka
-

ASME Section V Article 6. Liquid Penetrant Examination, 2001 Edition.

ASME Section VIII Division 1. Mandatory Appendix 8 Methods for Liquid


Penetrant Examination (PT), 2010 Edition.

Harsono & T.Okamura, [1991], Teknologi Pengelasan Logam, PT. Pradya


Paramita, Jakarta

M. Munir,Muh, [2000], Modul Praktek Uji Bahan, Vol 1, Jurusan Teknik


Bangunan Kapal, PPNS