Anda di halaman 1dari 10

ANALISIS RISIKO KESEHATAN PAPARAN PANAS TERHADAP

KRISTALISASI URIN DAN DEHIDRASI


(STUDI KASUS : PT. Pindad (Persero))
HEALTH RISK ANALYSIS OF HEAT EXPOSURE TO URINE
CRYSTALIZATION AND DEHYDRATION
(CASE STUDY : PT. Pindad (Persero))
Yuli Wicahyo1 dan Katharina Oginawati2
Program Magister Teknik Lingkungan
Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung
Jalan Ganesha 10 Bandung 40132
Email: 1yuli.wicahyo@gmail.com dan 2 katharina.oginawati@gmail.com
Abstrak: Suhu yang tinggi di lingkungan kerja pada bagian pengecoran logam selain mengganggu kenyamanan, juga
mempengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh pekerja. Kondisi yang tidak menguntungkan ini jika tidak
diimbangi dengan asupan cairan dan elektrolit yang cukup akan menyebabkan dehidrasi yang berpengaruh
terhadap turunnya kinerja tubuh dan pada akhirnya dapat berpengaruh terhadap fungsi mental, visuomotor dan
aritmatika. Akibat lain yang ditimbulkan adalah turunnya jumlah produksi urin, sehingga kepekatan urin akan
meningkat (hipersaturasi urin). Keadaan ini bila berlangsung cukup lama dapat mendorong terbentuknya kristalisasi
urin yang merupakan faktor risiko terjadinya batu di saluran kemih. Pada penelitian ini indeks panas di lingkungan
kerja diukur dengan menggunakan tiga metode yaitu indeks suhu bola basah (ISBB), belding hatch indeks dan indeks
kelembaban (humidex). Berdasarkan pengukuran indeks panas diperoleh hasil bahwa paparan panas di bengkel Cor 1
dan Cor 2 sudah melebihi baku mutu. Pengendalian terhadap paparan panas yang tinggi perlu dilakukan untuk
melindungi pekerja dari terjadinya gangguan terhadap kesehatan dan keselamatan pekerja. Prevalensi terjadinya
kristalisasi urin dan dehidrasi pada pekerja yang terpapar panas sebesar 48,39% dan 29,03% dengan nilai odd ratio
2,14 dan 9. Tiga variabel yang berpengaruh terhadap kristalisasi urin dan dehidrasi berdasarkan uji regresi linear
berganda menggunakan software SPSS 22 adalah umur, masa kerja dan paparan panas. Pengaruh tiga variabel tersebut
kemudian interpretasi menggunakan regresi linear berganda untuk mengetahui persamaan terjadinya kristalisasi urin
dan dehidrasi.
Kata kunci : dehidrasi, kristalisasi urin, paparan panas
Abstract: High temperature in work environment at the foundry does not only disrupting comfort but also affecting
balance of fluids and electrolytes of the workers body. This unfortunate condition will getting worse if there is
insufficient intake of fluids and electrolytes. Afterward, it also leads to dehydration that will influence a drop in the
performance of the body, so in the end this situation can impact to a mental function, visuomotor and arithmetic. The
other effect is a decline in the production of urine that will cause an increase of urine saturation (hipersaturated urine).
If this state lasts long enough, it will push the formation of urine crystallization which is one of the risk factor for
urinary tract stone. Heat index in the work environment was measured using three methods: wet bulb temperature
index (WBGT), belding hatch index and humidity index (humidex). Heat exposure controls must be conducted to ensure
the health and safety of the worker. Based on the heat index measurement, heat exposure at Cor 1 and Cor 2 workshop
has exceeded the quality standard. The prevalence of urine crystallization and dehydration in workers exposed to heat
equal to 48.39% and 28.03% with value of odds ratio 2,14 and 9. The three variables that affect urine crystallization
and dehydration are age, serving time and heat exposure based multiple linear regression analysis using SPSS 22
software. The effect of this three variables was interpreted using multiple linear regression to determine occurrence
equation of urine crystallization and dehydration.
Keywords: dehydration, urine crystallization, heat exposure

15-141

PENDAHULUAN
Suhu lingkungan kerja dapat lebih tinggi atau lebih rendah dari suhu lingkungan
sekitar. Suhu lingkungan yang terlalu panas/dingin dapat menimbulkan gangguan penyakit
pada karyawan seperti heat cramps, heat exhaustion, heat stroke dan heat rash pada suhu
panas. Chilblain, thrench foot dan frostbite pada suhu yang dingin. Pada ruangan yang diberikan
pendingin (Air Conditioner) akan meningkatkan efisiensi kerja, tetapi suhu yang terlalu dingin
juga akan mengurangi efisiensi kerja.
Manusia menjaga kestabilan suhu tubuhnya (36 - 37C ) meskipun terjadi variasi suhu di
lingkungan. Suhu lingkungan mungkin berpengaruh terhadap panas yang didapat atau dilepaskan
oleh tubuh ketika terjadi metabolisme yang meningkatkan beban panas tubuh (Payne dan Mitra,
2008). Panas dapat menyebabkan perubahan fisiologis dan dehidrasi dapat berpengaruh terhadap
kenyamanan, konsentrasi, kekuatan, ketahanan dan juga dapat berpengaruh terhadap terjadinya
unsafe act (Jackson dan Rosenberg, 2010).
Sesuai Undang-undang nomor 1 tahun 1970 tentang ditetapkannya persyaratan keselamatan
dan kesehatan kerja, salah satu sumber bahaya yang ditemukan di tempat kerja adalah bahaya
kondisi fisik berupa iklim kerja panas, hal ini diperjelas dengan keluarnya Kepmenaker No 51
tahun 1999 tentang nilai ambang batas (NAB) faktor fisika di tempat kerja. NAB adalah standar
faktor tempat kerja yang dapat diterima tenaga kerja tanpa mengakibatkan penyakit atau gangguan
kesehatan dalam pekerjaan sehari-hari untuk waktu tidak melebihi 8 jam sehari atau 40 jam
seminggu. Biasanya ahli hygiene industry menggunakan parameter yang disebut Wet Bulb Globe
Temperature (WBGT) atau Indeks Suhu Bola Basah (ISBB), yaitu penggabungan parameter suhu
udara kering, basah, bola atau radiasi.
Hasil penelitian Soemarko (2002) menyebutkan bahwa salah satu faktor yang memengaruhi
kenyamanan lingkungan kerja adalah suhu lingkungan kerja. Jika suhu terlalu tinggi, yang
disebut dengan lingkungan kerja panas, selain mengganggu kenyamanan, juga memengaruhi
keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh. Jika tubuh kekurangan jumlah cairan dan elektrolit,
produksi urin akan menurun dan kepekatan urin meningkat (hipersaturasi/supersaturasi). Keadaan
ini bila berlangsung cukup lama dapat mendorong terbentuknya kristal di saluran kemih
dengan prevalensi sebesar 45,2%. Pada penelitian lain yang dilakukan oleh Atan (2005), juga
terbukti bahwa orang yang bekerja di tempat kerja yang panas lebih berisiko mengalami kristalisasi
urin.
Paparan panas yang berlebih akan menyebabkan gangguan kesehatan yang signifikan.
Paparan panas dalam jangka panjang dapat menyebabkan kelainan akibat panas seperti dehidrasi,
ruam, kelelahan, kram, pingsan dan heatstroke. Gejala kelelahan dan penyakit klinis khususnya
kristalisasi urin juga dapat terjadi sebagai akibat dari paparan panas yang berlebihan (Fakheri dan
Goldfarb, 2011 dalam Luo, 2014). Jenis kristal yang terjadi akan berbeda-beda untuk setiap orang.
Hal ini dipengaruhi oleh faktor makanan, minuman dan kondisi lingkungan. Kristal urin terjadi
karena adanya pemekatan urin sehingga urin menjadi jenuh dan membentuk sedimen urin. Sedimen
yang banyak dan menetap yang terjadi pada urin akan mengakibatkan agregasi (penggumpalan)
kristal dan kemudian menjadi batu pada urin. Menurut penelitian yang dilakukan oleh
Kambadakone (2011), secara garis besar jenis kandungan kristal yang terdapat pada urin
ditunjukkan pada Tabel 1. Faktor-faktor lain yang berperan dalam pembentukan kristal urin adalah
usia, lama bekerja, masa kerja kebiasaan konsumsi makanan dan minuman, penggunaan obatobatan, riwayat penyakit ginjal dan kebiasaan buang air kecil selama bekerja.
Prevalensi terjadinya kristalisasi meningkat untuk setiap grup umur. Berdasarkan estimasi
yang dilakukan, diperoleh hasil sekitar 12% pria dan 6% wanita akan mengalami kristalisasi urin
15-142

selama hidup. Pada anak-anak dibawah 10 tahun, kasus kristalisasi urin jarang ditemui dan untuk
usia yang paling banyak terjadi kasus adalah antara 20 50 tahun (Graham, 2011). Kristalisasi urin
dapat terjadi pada suasana asam maupun basa. Jenis kristal yang terbentuk juga akan berbeda-beda.
Pembentukan Kristal ini akan mengarah pada terjadinya batu ginjal dan akan menjadi penyakit
ginjal kronis. Obesitas juga meningkatkan risiko terjadinya batu ginjal (Marzuk et al, 2014).
Tabel 1. Komposisi kristal urin (Kambadakone, 2010)
No

Kristal

Persentase (%)

Kalsium oksalat

40 - 60

Kalsium pospat

20 - 60

Asam urat

2-4

Brusit

5 - 10

Struvit

5 - 15

Sistin

1 - 2,5

Dehidrasi dan kristalisasi urin apabila dibiarkan tanpa dilakukan penanganan dikhawatirkan
akan menyebabkan terjadinya penurunan kualitas kesehatan pekerja. Kedua keadaan ini erat
kaitannya dengan jumlah cairan yang ada di dalam tubuh manusia. Pada kondisi kerja yang panas
maka tubuh manusia akan mengeluarkan keringat sebagai respon terhadap panas dan diperlukan
cairan pengganti untuk mengimbanginya. Apabila cairan tidak diganti maka akan terjadi penurunan
kapasitas kerja, kelelahan dan perubahan secara psikologis (SIA, 2012).
Penelitian ini dilaksanakan di PT. Pindad (Persero) pada pekerja yang mendapatkan paparan
panas yang tinggi dan pekerja yang mendapatkan paparan suhu ruang sebagai kontrol. PT. Pindad
(Persero) adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak dalam bidang produk militer
dan produk komersial di Indonesia.

METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini bersifat observasional analitik yaitu penelitian yang bertujuan untuk
memperoleh penjelasan dari suatu keadaan atau situasi (Soemirat, 2013). Desain penelitian ini
berupa model kasus kendali dimana akan dibandingan antara dua sampel yaitu sampel yang diteliti
dengan sampel kontrol yang sepadan/komparabel.
Populasi dan Sampel
Pekerja yang menjadi subjek dalam penelitian ini terdiri dari dua kelompok yaitu pekerja
bagian peleburan dan cetak sebagai kelompok uji dan pekerja bagian kantor sebagai kelompok
kontrol. Sampel yang diambil berdasarkan kriteria sebagai berikut:
1. Laki-laki
2. Masih aktif bekerja setiap hari pada saat dilaksanakan penelitian.
3. Jenis pekerjaan (bagian peleburan dan cetak serta kantor).
4. Lama bekerja minimal 5 tahun.
5. Tidak menderita/ pernah menderita penyakit batu kemih, asam urat, kencing manis
(diabetes) atau sedang aktif mengkonsumsi obat penurun tekanan darah dan obat maag.
Jumlah sampel uji adalah semua populasi yaitu 29 orang yang masuk kriteria inklusi.

15-143

Jenis Data
Penelitian ini menggunakan data primer sebagai berikut :
1. Parameter fisik lingkungan kerja meliputi temperatur bola basah, temperatur bola kering,
temperature radiasi, kelembaban dan kecepatan angin.
2. Beban kerja pekerja bagian peleburan dan cetak serta kantor.
3. Data informasi pekerja seperti usia, masa kerja, jumlah konsumsi air minum, berat badan,
tinggi badan, riwayat penyakit dan konsumsi obat-obatan.
4. Parameter kesehatan pekerja meliputi berat jenis urin dan sedimen urin.
Selain data primer, data sekunder juga dibutuhkan dalam penelitian ini antara lain denah
lokasi kerja dan data pekerja yang diperoleh dari menejemen perusahaan serta literature yang
berhubungan dengan penelitian.
Lokasi Pengukuran
Lokasi pengukuran parameter lingkungan kerja mengacu pada SNI-16-7061-2004 tentang
Pengukuran iklim kerja (panas) dengan parameter indeks suhu basah dan bola. Letak titik
pengukuran ditentukan pada lokasi tempat tenaga kerja melakukan pekerjaan dimana jumlah titik
pengukuran disesuaikan dengan kebutuhan dan tujuan dari kegiatan yang dilakukan. Pengukuran
panas dilakukan 3 kali pada awal, pertegahan dan akhir shift.
Pengukuran Iklim Kerja
Parameter iklim kerja yang diukur meliputi temperatur bola basah, temperatur bola kering,
temperature radiasi, kelembaban dan kecepatan angin. Alat 3MTMQUESTempTM 32 Heat Stress
Monitor Kit.
Pengukuran Beban Kerja
Beban kerja dihitung dengan menggunakan bantuan rumus empiris berdasarkan penelitian
yang dilakukan oleh Astuti (1985) dan Sarfa R. (2004) dalam Soleman (2011) dengan
menggunakan parameter denyut nadi ketika bekerja. Persamaannya adalah sebagai berikut:
Y = 1,80411 0,0229038 X + 4,71733.10-4 X2

(Persamaan 1)

dimana :
Y = energi (Kkal/menit)
X = kecepatan denyut jantung/menit
Pendataan Faktor Pekerja
Pendataan faktor pekerja dilakukan untuk melihat pengaruhnya terhadap terjadinya
kristalisasi urin. Adapun faktor pekerjaan yang dimaksud adalah :
Masa kerja : waktu sejak seseorang mulai bekerja pada tempat yang sama diukur dalam
satuan tahun.
Jenis pekerjaan : unit kerja masing-masing pekerja.
Umur : waktu yang dihitung sejak lahir sampai wawancara dilakukan dalam satuan tahun.
Pada usia 40 tahun ketahanan tubuh untuk beradaptasi dengan lingkungan panas sudah
mulai melambat (Suma'mur, 1991).

15-144

Ukuran tubuh : diukur melalui indeks massa tubuh (IMT) dan body surface area (BSA)
(Verbraecken, 2006) berdasarkan nilai berat badan (kg) dan tinggi badan (m) seseorang
dengan rumus :
Berat Badan (kg)
IMT = Tinggi Badan (m)
(Persamaan 2)
BSA (m2) = 0,016667 x (tinggi badan (cm))0,5 x (berat badan (kg))0,5 (Persamaan 3)
IMT ideal laki-laki = 20 25. Diperoleh hasil perhitungan IMT dengan kategori kurus,
normal, dan gemuk.
Kebiasaan minum air putih : volume air minum yang dikonsumsi pekerja selama sehari
semalam dalam ukuran liter.
Kebiasaan minum teh, kopi dan merokok: berapa banyak konsumsi teh atau kopi dalam
sehari semalam dalam ukuran gelas. Teh dan kopi merupakan sumber oksalat yang dapat
menimbulkan kristal dalam urin (Gasinska dan Gajewska, 2007).

Perhitungan Efek Fisiologis


Dalam penelitian ini, pengukuran prevalensi kristalisasi urin dilakukan di laboratorium
yang telah terakreditasi, dengan pemeriksaan urin sewaktu yang diambil pada saat bekerja
sebanyak 24 ml (DCMFH, 2010). Pemeriksaan yang dilakukan adalah sedimen urin dan berat jenis
urin. Perhitungan efek fisiologis pada pekerja dilakukan dengan cara mengukur urine specific
gravity (berat jenis urin) dan sedimen urin menggunakan metode flow cytometry dengan alat BD
FACSCalibur Flow Cytometer .
Berat jenis urin : Berat jenis (BJ) atau specific gravity (SG) dipengaruhi oleh tingkat
keenceran air seni. Semakin pekat urin berarti berat jenis urin akan semakin besar. Hal ini
dapat digunakan sebagai tolak ukur terjadinya dehidrasi (Casa et al, 2000).
Kristalisasi urin : komponen kristal yang ditemui pada urin sewaktu dalam pemeriksaan
di laboratorium dengan proses sedimentasi. Juga ditetapkan jenis kristalisasi urin yang
terjadi, seperti kristalisasi kalsium oksalat, asam urat, kalsium phospat, dan amorf
phospat.
Analisis Data
Berikut ini adalah analisis statistik yang dilakukan :
Data dari kusioner dikelompokkan berdasarkan skala yang sudah ditentukan dan akan
digunakan untuk analisis statistika selanjutnya.
Pengolahan hasil kuisioner dengan statistik deskriptif dan pengujian hipotesa komparatif
dengan menggunakan independent t-test dengan bantuan software SPSS 22. Jika kelompok
uji dan kontrol tidak berbeda secara signifikan maka artinya kedua kelompok tersebut
setara.
Uji beda pengukuran suhu tubuh, tekanan sistolik, diastolik dan denyut nadi sebelum
bekerja dan setelah bekerja menggunakan metode paired t-test dengan bantuan software
SPSS 22 untuk melihat apakah terdapat perbedaaan yang signifikan.
Uji korelasi bivariat dan multivariat profil pekerja dengan terjadinya kristalisasi urin dan
dehidrasi menggunakan metode pearson dan regresi dengan bantuan software SPSS 22
untuk melihat hubungan antar variabel.
Penentuan prevalensi dan Odd Ratio (OR) kristalisasi urin dan dehidrasi.
Kemudian berdasarkan hasil analisis, dilakukan penarikan kesimpulan dan saran mengenai
terjadinya kristalisasi urin dan dehidrasi pada pekerja yang bekerja pada lingkungan yang panas.
15-145

HASIL DAN PEMBAHASAN


Identifikasi Bahaya
Paparan panas yang diterima oleh kelompok uji berasal dari tungku peleburan yang berguna
untuk melelehkan campuran logam (besi, alumunium, baja, dll) yang dimasukkan berdasarkan
kriteria teknis dari pesanan. Suhu cairan logam tersebut sekitar 1520 C untuk menjaga agar
kualitas barang yang dihasilkan baik. Oleh sebab itu sebelum cairan logam diangkat dilakukan
pengecekan suhu dan pengecekan kadar masing-masing logam untuk memastikan logam tersebut
sesuai dengan kriteria teknis.
Profil Pekerja
Pekerja yang menjadi responden dalam penelitian ini berjumlah 58 orang dengan rincian 29
orang pekerja peleburan dan pencetakan dan 29 orang pekerja kantor. Pekerjaan peleburan dan
pencetakan terdari dari dua shift yaitu shift 1 yang bekerja dari jam 06.00 sampai jam 14.00 dan
shift 2 yang bekerja dari jam 14.00 sampai jam 22.00. Pekerja kantor bekerja dari jam 07.30 sampai
jam 16.30. Seluruh responden adalah pria.
Dalam penelitian ini diketahui bahwa pekerja yang terpapar panas adalah pekerja yang
bekerja pada bagian peleburan dan pengecoran unit Cor 1 dan Cor 2. Sedangkan kelompok kontrol
yaitu pekerja yang tidak terpapar panas yang akan dibandingkan. Agar dapat dibandingkan, kedua
kelompok tersebut harus setara atau comparable. Oleh karena itu dilakukan analisis varian antara
kelompok uji dan kelompok kontrol dengan parameter-parameter yang mempengaruhi paparan
panas dan terjadinya dehidrasi dan kristalisasi urin seperti umur, masa kerja, indeks massa tubuh
(IMT), body surface area (BSA), konsumsi air putih, konsumsi teh dan kopi serta kebiasaan
merokok. Data tersebut diperoleh dengan wawancara dan kuisioner. Uji beda independent t-test
dilakukan antara pekerja kelompok uji dan kontrol untuk mengetahui kesetaraan karakteristik
umum responden pada dua kelompok tersebut.
Paparan Panas Dan Beban Kerja
Perhitungan paparan panas dan beban kerja digunakan untuk melihat apakah paparan panas
yang diterima melebihi baku mutu berdasarkan beban kerja baik dari kelompok uji maupun dari
kelompok kontrol. Pengukuran paparan panas yang diterima pekerja menggunakan tiga metode
yaitu pengukuran Indeks Suhu Bola Basah (ISBB), Belding Hatch Index dan Humidex.
Pengukuran beban kerja menggunakan rumus empiris berdasarkan denyut nadi pekerja ketika
bekerja untuk menghitung jumlah kebutuhan kalori perjam. Data hasil rekapitulasi perhitungan
indeks panas dan beban kerja berdasarkan dapat dilihat pada Tabel 2.
Berdasarkan hasil pegukuran di lapangan dan hasil perhitungan nilai ISBB di lokasi peleburan
dan pencetakan bengkel Cor 1 dan Cor 2 adalah sebesar 30,83 0,74; 28 0,27; 32,85 0,5 dan
27,81 0,27. Apabila dibandingkan dengan peraturan pemerintah dalam Keputusan Menteri
Tenaga Kerja KEP.51/MEN/1999 maka nilai ISBB di lokasi-lokasi tersebut telah melebihi ambang
batas yang ditetapkan oleh pemerintah untuk beban kerja sedang dengan waktu kerja 8 jam per hari
yaitu 26,7C. Untuk ISBB di kantor adalah sebesar 24,5 0,28 masih di bawah ambang batas yang
di tetapkan pemerintah yaitu 30,6C.

15-146

Tabel 2. Rekapitulasi perhitungan indeks panas dan beban kerja


Lokasi
Peleburan
COR I
Pencetakan
COR I
Peleburan
COR II
Pencetakan
COR II
Minpers
yanteks
Engineering
Penjualan

Rata-rata
ISBB (C)

Rata-rata
Humidex

HSI

AET (menit)

30,83 0,74 41,7 2,03

255

10,31

38,46 2,02

237

11,77

32,85 3,12 41,68 1,08

227

11,96

27,81 3,12 37,84 0,8

206

12,13

24,5 0,28 34,66 0,78

37

32,24

28 0,27

Kebutuhan
kalori
Beban Kerja
(kkal/jam)

215,3 37,6

Sedang

156 20,7

Ringan

Nilai HSI untuk lokasi peleburan dan pencetakan baik di bengkel Cor 1 dan Cor 2 lebih besar
dari 100 oleh karena itu sebaiknya dilakukan pembatasan waktu kerja seiring dengan meningkatnya
suhu inti tubuh ketika bekerja berdasarkan nilai AET (Allowable Exposure Time). Sedangkan untuk
lokasi kantor termasuk ke dalam tekanan panas ringan yang akan mempengaruhi kecakapan dalam
bekerja dengan nilai HSI sebesar 37 (Olishifski, 1971).
Hasil perhitungan humidex pada lokasi kerja kelompok uji (peleburan Cor 1, pencetakan Cor
1, peleburan Cor 2 dan pencetakan Cor 1) adalah sebesar 41,7 2,03 , 38,46 2,02 , 41,68 1,08
dan 37,84 0,8 sedangkan untuk kantor adalah sebesar 34,66 0,78.
Evaluasi Paparan
Berdasarkan pengukuran dan perhitungan, paparan panas ekstrim yang diterima oleh
kelompok uji terbukti melebihi nilai ambang batas yang ditentukan. Hal ini berarti risiko terhadap
kesehatan maupun keselamatan pekerja mungkin dapat terjadi apabila tidak dilakukan
pengendalian lanjutan.
Paparan panas terbukti berpengaruh secara signifikan terhadap perubahan suhu tubuh,
tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik dan denyut nadi pekerja yang mendapatkan paparan
panas. Hal ini dibuktikan melalui hasil uji statistik paired t-test dengan nilai Sig. (2-tailed) sebesar
0,000 untuk suhu tubuh, tekanan sistolik dan tekanan diastolik sedangkan untuk denyut nadi
sebesar 0,043 (Sig. (2-tailed) < 0,05) yang berarti nilai rerata suhu tubuh, tekanan darah sistolik,
tekanan darah diastolik dan denyut nadi pada kelompok uji sebelum dan sesudah bekerja berbeda
secara nyata. Hasil rekapitulasi perhitungannya dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Rekapitulasi perhitungan evaluasi paparan
Rata-rata Rata-rata
Sig. (2-tailed)
sebelum sesudah
36,37
36,54
Suhu Tubuh
0,000
110
114
Tekanan sistolik
0,000
70
75
Tekanan diastolik
0,000
76
77
Denyut nadi
0,043
Parameter

Kristalisasi Urin dan Dehidrasi


Kristalisasi urin dan dehidrasi pada kelompok uji dan kelompok kontrol diketahui
berdasarkan hasil analisis kristal dan berat jenis urin. Analisis sampel urin pekerja di lakukan di
15-147

laboratorium klinis. Perhitungan prevalensi kristalisasi urin dan dehidrasi didapatkan berdasarkan
Persamaan 4 dan Persamaan 5 berikut ini:
=

Jumlah kasus penyakit yang ada



a/(a+b)

(OR) = /(+)

(Persamaan 4)
(Persamaan 5)

dimana:
a = jumlah pekerja pada kelompok uji yang sakit
b = jumlah pekerja pada kelompok uji yang tidak sakit
c = jumlah pekerja pada kelompok kontrol yang sakit
d = jumlah pekerja pada kelompok kontrol yang tidak sakit

Hasil rekapitulasi perhitungan prevalensi dan Odd Ratio (OR) untuk baik untuk kristalisasi urin
dan dehidrasi adapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Rekapitulasi perhitungan prevalensi dan odd ratio
Parameter
Kristalisasi urin
Dehidrasi

Prevalensi
Kelompok
Kelompok
Uji
Kontrol

48,39%
22,58%

29,03%
3,22%

Odd Ratio
(OR)
2,14
9

Hubungan Karakteristik Pekerja dan Paparan Panas di Lingkungan Kerja Terhadap


Dehidrasi dan Kristalisasi Urin
Hubungan karakteristik pekerja terhadap terjadinya dehidrasi dan kristalisasi urin diketahui
dari hasil uji korelasi bivariat Pearson. Karakteristik pekerja yang dianalisis meliputi umur pekerja,
masa kerja, indeks masa tubuh (IMT), body surface area (BSA), kebiasaan merokok, kebiasaan
minum kopi, teh dan air putih. Selain itu dianalisis pula paparan panas di lingkungan kerja
terhadap terjadinya dehidrasi dan kristalisasi urin.
Untuk variabel umur, terdapat hubungan nyata terhadap terjadinya kasus kristalisasi urin
dan dehidrasi. Berdasarkan hasil analisis didapatkan nilai sig. (2-tailed) korelasi masa kerja
terhadap MSDs tangan sebesar 0,001 (sig.(2-tailed) < 0,05). Hal ini menunjukkan adanya
korelasi yang signifikan dari kedua variabel. Hal ini juga terjadi untuk variabel umur dan paparan
panas yang menghasilkan nilai sig.(2-tailed) < 0,05.
Selain ketiga variabel diatas, antara lain indeks massa tubuh (IMT), body surface area (BSA),
kebiasaan minum air putih, teh, kopi dan merokok tidak menunjukkan adanya korelasi yang
signifikan karena sig.(2-tailed) > 0,05. Hasil rekapitulasi korelasi dapat dilihat pada Tabel 5.
Analisis statistik regresi berganda dilakukan pada variabel umur, masa kerja dan paparan panas
untuk mengetahui arah hubungan dengan variabel kristalisasi urin dan dehidrasi sebagai variabel
terikat. Persamaan regresi yang didapatkan adalah Persamaan 6 dan Persamaan 7 pada Tabel 6.

15-148

Tabel 5. Rekapitulasi korelasi

Tabel 6. Persamaan regresi


Persamaan
Keterangan
Yd = - 0,791 + 0,014 X1 + 0,035 X2 + 0,067 X3
Dehidrasi
(Persamaan 6)
Yk = -2,37 + 0,041 X1 + 0,001 X2 + 0,072 X3
Kristalisasi urin
(Persamaan 7)

Berdasarkan Persamaan 6, konstanta sebesar -0,791 berarti apabila umur, masa kerja, dan
paparan panas diasumsikan nol, maka skor dehidrasi akan turun sebanyak 0,791. Konstanta pada
variabel lain bernilai positif maka apabila variabel umur, masa kerja, dan paparan panas mengalami
peningkatan maka akan terjadi peningkatan pula pada dehidrasi yang dialami pekerja.
Untuk Persamaan 7, konstanta sebesar -2,37 berarti apabila umur, masa kerja dan paparan panas
diasumsikan nol, maka skor kristalisasi urin akan turun sebanyak 2,37. Konstanta pada variabel lain
bernilai positif maka apabila variabel umur, masa kerja, dan paparan panas mengalami peningkatan
maka akan terjadi peningkatan pula pada kristalisasi urin yang dialami pekerja.

KESIMPULAN
Nilai indeks tekanan panas yang diperoleh dengan menggunakan tiga metode, yaitu: Metode
ISBB: untuk lokasi peleburan dan pencetakan unit Cor 1 sebesar 30.5C dan 27,9C serta
peleburan dan pencetakan unit Cor 2 masing-masing sebesar 31,5C dan 27,5C . Nilai indeks
tekanan panas di lokasi tersebut telah melebihi nilai ambang batas yang ditetapkan pleh pemerintah
menurut Surat Keputusan Menteri Tenaga Kerja KEP-MEN/51/1999 yaitu sebesar 26,7C. Metode
Belding Hatch Index: Untuk lokasi kerja peleburan dan pencetakan di unit Cor 1 maupun Cor 2
memiliki nilai Heat Stress Index (HSI) lebih besar dari 100 (> 100) yang berarti perlu dilakukan
pembatasan waktu kerja dengan melihat kenaikan suhu inti tubuh pekerja. Metode Humidity Index
(Humidex): Nilai humidex pada lokasi kerja kelompok uji (peleburan Cor 1, pencetakan Cor 1,
peleburan Cor 2 dan pencetakan Cor 1) adalah sebesar 41,7; 38,46 ; 41,68 dan 37,84 sedangkan
untuk kantor adalah sebesar 34,66.
Prevalensi terjadinya kristalisasi urin pada pekerja yang terpapar panas sebesar 48,39%.
Risiko terjadinya kristalisasi urin pada pekerja yang terpapar panas lebih tinggi 2,14 kali dari
pekerja yang tidak terpapar. Prevalensi terjadinya dehidrasi pada pekerja yang terpapar panas
sebesar 27,59%. Risiko terjadinya dehidrasi pada pekerja yang terpapar panas lebih tinggi 9 kali
dari pekerja yang tidak terpapar.
Paparan panas berpengaruh terhadap perubahan suhu tubuh, tekanan sistolik, tekanan
diastolik dan denyut nadi pada pekerja peleburan dan pencetakan sebelum dan sesudah bekerja
secara signifikan berdasarkan hasil analisis statistik paired t-test.
15-149

Terdapat hubungan korelasi yang positif antara paparan panas, umur dan masa kerja terhadap
terjadinya kristalisasi urin dan dehidrasi berdasarkan hasil analisis statistik regresi linear berganda.
DAFTAR PUSTAKA
Atan, Luiz.,et al. 2005. High Kidney Stone Risk In Men Working In Steel Industry At Hot Temperatures. Elsevier
Badan Standardisasi Nasional . 2004. SNI-16-7061-2004 Pengukuran Iklim Kerja (Panas) Dengan Parameter Indeks
Suhu Basah Dan Bola. Jakarta
Badan Standardisasi Nasional. 2009. SNI-7269-2009 Penilaian Beban Kerja Berdasarkan Tingkat Kebutuhan Kalori
Menurut Pengeluaran Energi. Jakarta
Casa, Douglas J., et al. 2000. National Athletic Trainers AssociationPosition Statement:Fluid Replacement for
Athletes. Journal of Athletic Training
Denali Center Fairbank Memorial Hospital (DCMFH). 2010. Urine Specimen Requirements
Gasiska, Anna., dan Gajewska, Danuta. 2007. Tea And Coffee As The Main Sources Of Oxalate In Diets Of Patients
With Kidney Oxalate Stones. Warsaw Agricultural University
Graham, Autumn., et al. 2011. Urolithiasis in the Emergency Department. Department of Emergency Medicine
Jackson, Larry L., dan Rosenberg, Howard R. 2010. Preventing Heat-Related Illness Among Agricultural Workers.
Journal of Agromedicine
Kambadakone, Avinash R.,et al. 2010. New and Evolving Concepts in the Imaging and Management of Urolithiasis:
Urologists Perspective. Massachusetts
Luo, Haiming., et al. 2014. Exposure to ambient heat and urolithiasis among outdoor workers in Guangzhou, China.
Elsevier
Marzuk, Mohamed ., et al. 2014. Urine Examination For Determining The Types of Crystals A Comparative
Approach Related to pH. Journal of Pharmaceutical and Biomedical Sciences
Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia. 1999. Nilai Ambang Batas Faktor Fisika Di Tempat Kerja. Indonesia
Olishifski j, Frank E Mc. Elyor. 1971. Fundamental of Inddustrial Hygiene. Chicago : National Safety Council
Payne, T. dan Mitra, R. 2008. A review of heat issues in underground metalliferous mines. North American Mine
Ventilation Symposium
Presiden Republik Indonesia. 1970. Keselamatan Kerja
Safety Institute of Australia (SIA). 2012. Physical Hazards: Thermal Environment. Tullamarine : Safety Institute of
Australia Ltd
Soemarko, Dewi S. 2002. Pengaruh Lingkungan Kerja Panas terhadap Kristalisasi Asam Urat Urin pada Pekerja di
Binatu, Dapur Utama dan Restoran Hotel X, Jakarta. Jakarta : Cermin Dunia Kedokteran
Soemirat, Juli. 2013. Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press
Su, Shih-Bin., et al. 2006. Using Urine Specific Gravity to Evaluate the Hydration Status of Workers Working in an
Ultra-Low Humidity Environment. Journal of Occupational Health
Verbraecken, Johan., et al. 2006. Body surface area in normal-weight, overweight, and obese adults a comparison
study. Elsevier
World Health Organization (WHO). 2011. Technical Notes On Drinking Water, Sanitation And Hygiene Emergencies

15-150