Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN KASUS

MENINGKATNYA KEJADIAN GIZI BURUK


DI PUSKESMAS PANDANARAN
PERIODE BULAN JANUARI DESEMBER 2014
Diajukan Guna Memenuhi Salah Satu Syarat
Untuk Program Pendidikan Profesi Dokter Pada Bagian
Ilmu Kesehatan Masyarakat

..

Disusun oleh:
1.

Dedy Yulianto

(012095858)

2.

Linda Megasari Sumanto (012095939)

3.

Lusi Pratiwi

4.

Mudhita Kurnia Syarifa

(012095941)
(012095957)

KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


PUSKESMAS PANDANARAN
PERIODE 10 FEBRUARI 22 FEBRUARI 2014

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG

2014
HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Kegiatan Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Masyarakat


Puskesmas Pandanaran 10 Februari 22 Februari 2014

Telah Disahkan

Semarang,

Februari 2014

Mengetahui

Kepala Puskesmas Pandanaran

dr. Antonia Sadniningtyas

Kepala Departemen IKM

dr. Ophi Indria Desanti

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan YME, yang telah memberikan rahmat
karunia dan hidayah, sehingga kami dapat menyelesaikan laporan kasus yang berjudul
Meningkatnya Kejadian Gizi Buruk di Puskesmas Pandanaran.
Laporan kasus ini disusun untuk memenuhi tugas Kepaniteraan Klinik Ilmu
Kesehatan Masyarakat.Laporan ini memuat data tentang kasus Gizi Buruk di Puskesmas
Pandanaran, Kota Semarang.
Laporan ini dapat terselesaikan berkat kerjasama tim dan bantuan dari berbagai pihak.
Untuk ini kami mengucapkan terima kasih sebesar - besarnya kepada yang terhormat :
1
2
3
4
5
6

dr. Ophi Indria Desanti, kepala departemen IKM FK Unissula Semarang


dr. Ophi Indria Desanti, Koordinator Pendidikan IKM FK Unissula Semarang
dr. Antonia Sadniningtyas, Kepala Puskesmas Pandanaran Semarang
dr. Djoko Sulistiono selaku pebimbing di Puskesmas Pandanaran Kota Semarang.
Seluruh Staf Puskesmas Pandanaran Semarang
Semua pihak yang telah membantu kami dalam penyusunan laporan kasus ini.
Kami menyadari bahwa hasil penulisan Laporan kasus ini masih jauh dari kata

sempurna karena keterbatasan waktu dan kemampuan.Oleh karena itu kritik dan saran yang
membangun guna kesempurnaan dan perbaikan laporan kasus ini agar lebih baik.
Akhir kata kami berharap semoga laporan kasus Meningkatnya Kejadian Gizi Buruk
di Puskesmas Pandanaran Kota Semarang ini bermanfaat bagi semua pihak.

Semarang,

Februari 2014

Penyusun

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL....................................................................................

HALAMAN PENGESAHAN......................................................................

ii

KATA PENGANTAR...................................................................................

iii

DAFTAR ISI ..............................................................................................

iv

BAB I

BAB II

BAB III

PENDAHULUAN .................................................................

1.1. Latar Belakang ................................................................

1.2. Tujuan .............................................................................

TINJAUAN PUSTAKA .........................................................

2.1. Gizi Buruk.......................................................................

2.1.1. Definisi .............................................................

2.1.2. Penyebab...........................................................

2.1.3. Manifestasi klinik.............................................


2.1.4. Penatalaksanaan ...............................................

6
7

STATUS PRESENT................................................................

A. Data Pasien........................................................................

1. Identitas ..................................................................

2. Anamnesis .............................................................

B. Data Perkesmas..................................................................

1. Identitas Keluarga....................................................

2.Data Lingkungan......................................................

3. Data perilaku...........................................................

10

4. Data akses pelayanan terdekat 10


BAB IV

ANALISA/PEMBAHASAN..................................................

11

BAB V

MASALAH

14

........................................................................

BAB VI

SARAN

......................................................................

16

BAB VII

IMPLEMENTASI DAN EVALUASI.....................................

18

BAB VIII

SIMPULAN

......................................................................

20

BAB IX

PENUTUP

......................................................................

21

DAFTAR PUSTAKA...................................................................................

22

LAMPIRAN................................................................................................

23

BAB I
PENDAHULUAN
1

Latar Belakang
Peningkatan derajat kesehatan masyarakat sangat diperlukan dalam mengisi
pembangunan yang dilaksanakan oleh bangsa

Indonesia. Salah satu upaya

peningkatan derajat kesehatan adalah perbaikan gizi masyarakat jika gizi tidak
seimbang menimbulkan masalah yang sangat sulit sekali ditanggulangi oleh
Indonesia, masalah gizi yang tidak seimbang itu adalah Kurang Energi Protein (KEP),
Kurang Vitamin A (KVA), Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) dan
Anemia Gizi Besi. Khusus untuk masalah Kurang Energi Protein (KEP) atau biasa

dikenal dengan gizi kurang atau yang sering ditemukan secara mendadak adalah gizi
buruk (Depkes RI, 2004 ).
Masalah gizi adalah masalah kesehatan masyarakat yang penaggulangannya
tidak dapat dilakukan dengan pendekatan medis dan pelayanan saja, dan disamping
merupakan sindroma kemiskinan yang erat kaitannya dengan masalah ketahanan
pangan di tingkat rumah tangga juga menyangkut aspek pengetahuan dan perilaku
yang kurang mendukung pola hidup sehat (Depkes RI, 2004).
Keadaan gizi masyarakat akan mempengaruhi tingkat kesehatan dan umur
harapan hidup yang merupakan salah satu unsur utama dalam penentuan keberhasilan
pembangunan negara yang dikenal dengan istilah Human Development Index ( HDI ).
Secara umum di Indonesia terdapat dua masalah gizi utama yaitu kurang gizi makro
dan kurang gizi mikro. Kurang gizi makro adalah makanan yang disediakan
mencukupi namun keseimbangan kebutuhan dalam tubuh tidak seimbang. Masalah
gizi makro adalah masalah gizi yang utamanya disebabkan oleh ketidakseimbangan
antara kebutuhan dan asupan energi dan protein. Kurang gizi mikro adalah
ketidakseimbangan dalam menyediakan asupan yang dibutuhkan oleh tubuh
(Dinkespurworejo, 2012).
Data Susenas menunjukkan bahwa prevalensi gizi kurang menurun dari 37,5
% ( 1989 ) menjadi 24,6 % ( 2000 ) dan 14 % (2007). Namun kondisi tersebut tidak
diikuti dengan penurunan prevalensi gizi buruk bahkan prevalensi gizi buruk
cenderung meningkat dari 5,8% (2005) menjadi 6,36% (2007). Di Puskesmas
Pandanaran tahun 2011 terdapat 2 balita dengan gizi buruk yang ditemukan.
Sedangkan pada tahun 2012 terdapat 8 balita dengan gizi buruk. Hal ini
memperlihatkan adanya peningkatan angka gizi buruk dari tahun ke tahun. Kurang

gizi menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan fisik maupun mental,


mengurangi tingkat kecerdasan, kreatifitas dan produktifitas penduduk. Timbulnya
krisis ekonomi yang berkepanjangan telah menyebabkan

penurunan kegiatan

produksi yang drastis akibatnya lapangan kerja berkurang dan pendapatan perkapita
turun. Hal ini jelas berdampak terhadap status gizi dan kesehatan masyarakat karena
tidak terpenuhinya kecukupan konsumsi makanan dan timbulnya berbagai penyakit
menular akibat lingkungan hidup yang tidak sehat (Dinkespurworejo, 2012).
Mulai tahun 1998 upaya penanggulangan balita gizi buruk mulai ditingkatkan
dengan penjaringan kasus, rujukan dan perawatan gratis di Puskesmas maupun
Rumah Sakit, Pemberian Makanan Tambahan ( PMT ) serta upaya-upaya lain yang
bersifat Rescue. Bantuan pangan ( beras Gakin dll ) juga diberikan kepada keluarga
miskin oleh sektor lain untuk menghindarkan masyarakat dari ancaman kelaparan.
Namun semua upaya tersebut nampaknya belum juga dapat mengatasi masalah dan
meningkatkan kembali status gizi masyarakat, khususnya pada balita. Balita gizi
buruk dan gizi kurang yang mendapat bantuan dapat disembuhkan, tetapi kasus-kasus
baru muncul yang terkadang malah lebih banyak sehingga terkesan penanggulangan
yang dilakukan tidak banyak artinya, sebab angka balita gizi buruk belum dapat
ditekan secara bermakna (Dinkespurworejo, 2012).
Berdasarkan uraian diatas perlu pengkajian untuk mengetahui faktor faktor
yang mempengaruhi terjadinya Gizi Buruk di Wilayah Kerja Puskesmas Pandanaran
Kota Semarang pada tahun 2014 dilihat dengan H.L.Blum.
1.2. Tujuan
1

Tujuan Umum
Mengetahui dan menganalisa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap Gizi
Buruk pada penderita Bagas berdasarkan pendekatan H.L. Blum.

Tujuan Khusus
1
Untuk mengetahui pengaruh lingkungan rumah dengan kejadian Gizi
2

buruk pada penderita Bagas.


Untuk mengetahui pengaruh perilaku dengan kejadian Gizi buruk pada

penderita Bagas.
Untuk mengetahui pengaruh pelayanan kesehatan dengan kejadian

Gizi buruk pada penderita Bagas.


Untuk mengetahui pengaruh genetik dengan kejadian Gizi buruk pada
penderita Bagas.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Gizi Buruk
2.1.1
Definisi
Balita Gizi Buruk adalah anak yang berusia 0-5 tahun yang BB/TB nya - 3 SD dan
atau mempunyai tanda-tanda klinis ( marasmus, kwashiorkor, dan marasmikkwashiorkor ). Z score untuk status gizi kurus yaitu -3 SD s/d < -2 SD sedangkan untuk
status gizi sangat kurus < -3 SD. Atau lingkar lengan atas 11,5 cm (WHO, 2000).
2.1.2
Penyebab
Marasmus ialah suatu bentuk kurang kalori-protein yang berat. Keadaan ini
merupakan hasil akhir dari interaksi antara kekurangan makanan dan penyakit infeksi.
Selain faktor lingungan, ada beberapa faktor lain pada diri anak sendiri yang dibawa sejak
lahir, diduga berpengaruh terhadap terjadinya marasmus. Secara garis besar sebab-sebab
marasmus ialah sebagai berikut (Dinkes, 2005):
1) Masukan makanan yang kurang
Marasmus terjadi akibat masukan kalori yang sedikit, pemberian makanan
yang tidak sesuai dengan yang dianjurkan.
2) Infeksi
Infeksi yang berat dan lama menyebabkan marasmus, terutama infeksi enteral
misalnya infantil gastroenteritis, bronkhopneumonia, pielonephritis dan sifilis
kongenital.
3) Kelainan struktur bawaan
Misalnya: penyakit jantung bawaan, penyakit Hirschprung, deformitas
palatum, palatoschizis, micrognathia, stenosis pilorus, hiatus hernia, hidrosefalus,
cystic fibrosis pancreas.

4) Prematuritas dan penyakit pada masa neonatus


Pada keadaan-keadaan tersebut pemberian ASI kurang kibat reflek mengisap
yang kurang kuat.
5) Gangguan metabolik
Misalnya: renal asidosis, idiopathic hypercalcemia, galactosemia, lactose
tolerance.
6) Tumor hypothalamus
Jarang dijumpai dan baru ditegakkan bila penyebab marasmus yang lain telah
disingkirkan.
7) Penyapihan
Penyapihan yang terlalu dini disertai dengan pemberian makanan yang kurang
akan menimbulkan marasmus.
8) Urbanisasi
Urbanisasi mempengaruhi dan merupakan predisposisi untuk timbulnya
marasmus; meningkatnya arus urbanisasi diikuti pula perubahan kebiasaan
penyapihan dini dan kemudian diikuti dengan pemberian susu manis dan susu yang
terlalu encer akibat dari tidak mampu membeli susu; dan bila disertai dengan infeksi
berulang, terutama gastro enteritis akan menyebabkan anak jatuh dalam marasmus.

2.1.3

Manifestasi Klinis
Tanda-tanda Marasmus :
1

Anak tampak sangat kurus, tinggal tulang terbungkus kulit.

Wajah seperti orangtua

Cengeng, rewel

Perut cekung.

Kulit keriput, jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada.

Sering disertai diare kronik atau konstipasi / susah buang air, serta penyakit
kronik.

Tekanan darah, detak jantung dan pernafasan berkurang (Dinkes. 2005).


Tanda-tanda Kwashiorkor :

Edema umumnya di seluruh tubuh terutama pada kaki ( dorsum pedis )

Wajah membulat dan sembab

Otot-otot mengecil, lebih nyata apabila diperiksa pada posisi berdiri dan duduk,
anak berbaring terus menerus.

Perubahan status mental : cengeng, rewel kadang apatis.

Anak sering menolak segala jenis makanan ( anoreksia ).

Pembesaran hati

Sering disertai infeksi, anemia dan diare / mencret.

Rambut berwarna kusam dan mudah dicabut.

Gangguan kulit berupa bercak merah yang meluas dan berubah menjadi hitam
terkelupas ( crazy pavement dermatosis ).

10

Pandangan mata anak nampak sayu (Dinkes. 2005).

Penatalaksanaan

(Dinkes. 2005)

BAB III
STATUS PRESENT
1

Data Pasien
Data diperoleh dari observasi langsung (home visit), wawancara dengan pasien
dan catatan medis selama pasien berobat.

Identitas Pasien
Nama
Jenis kelamin
Umur
Berat badan
Tinggi badan
Agama
Alamat

: An. Bagas Saputra


: laki laki
: 2 tahun 6 bulan
: 8,5 kg
: 82,9 cm
: Islam
: Kertanegara selatan rt 8/02 peleburan, Semarang

Anamnesis
1
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien mulai mendapatkan perawatan dan pemeriksaan rutin oleh
Dinas Kesehatan Kota Semarang sejak bulan September 2011. Setelah
dilakukan edukasi pemberian susu formula, beberapa vitamin dan PMT
2

(Pemberian Makanan Tambahan) berat badan pasien mulai naik.


Riwayat kehamilan dan persalinan
Kehamilan ke 1 dengan ANC : 9 kali (2 kali pada trimester pertama, 4
kali pada trimester kedua, dan 3 kali menjelang kelahiran) di
Puskesmas Pandanaran.
Persalinan normal dibantu oleh bidan dengan usia kandungan 9 bulan

dengan berat lahir 2600 gram.


Riwayat imunisasi
Imunisasi lengkap
- Riwayat keluarga
Tidak ada keluarga pasien yang menderita gizi buruk.
Riwayat Sosial Ekonomi
Ayah pasien sebagai buruh bangunan dan tukang las (serabutan), ibu
pasien bekerja sebagai buruh pabrik. Pasien tinggal bersama kedua

orangtua , kakek dan nenek, dan 2 keluarga lainnya. Kesan ekonomi:


kurang dengan pendapatan yang tidak menentu (rata-rata Rp. 700 .000
per bulan).
-

Pemenuhan kebutuhan dasar


Pasien minum susu formula dari usia 6 bulan sampai sekarang.

Keadaan saat ini:


BB pasien tidak sesuai dengan umur pasien, karena pasien sebelumnya
mempunyai riwayat gizi buruk. Pada usia 29 bulan seharusnya balita
mempunyai BB antara 10,5-16,9 kg untuk anak laki-laki menurut
WHO. Sedangkan berat badan hanya 8,5 kg.

1
2

Data Perkesmas

Identitas keluarga
Nama KK
: Amat Supriyadi
Data Lingkungan
1
Data Individu :
Pasien anak ke-1 dari 1 bersaudara, pasien tinggal serumah dengan kedua orang
tuanya , Nenek dan kakek beserta 2 keluarga lainnya.

Ekonomi
Pasien belum sekolah. Ayah pasien bekerja sebagai tukang las dan buruh bangunan
dengan pendapatan yang tidak menentu (rata-rata Rp. 7.000 per hari). Ibu pasien
bekerja sebagai buruh pabrik dengan penghasilan 150.000 per minggu. Pasien berobat
dengan Jamkesmas. Status rumah pasien adalah tinggal dengan keluarga besar.

Masyarakat

Pasien tinggal di daerah padat penduduk dimana tingkat kebersihan lingkungan


cukup baik dengan kesadaran kebersihan dan kesehatan penduduknya cukup
baik.
2
1

Lingkungan rumah
Berdasarkan data hasil laporan kasus didapatkan luas tanah rumah pasien 9m
x 10 m = 90m2 yang dan dihuni oleh 11 orang sehingga didapatkan kepadatan

rumah 8,1m2/orang.
Ventilasi rumah pasien berupa lubang angin di atas sebanyak 6 buah @15cm x
15cm, 6 jendela, dan 6 pintu terdiri dari 1 pintu di depan rumah, 4 pintu kamar

3
4
3

dan 1 pintu dibelakang sehingga udara dalam ruangan terasa pengap.


Terdapat 2 MCK
Lantai rumah : lantai rumah kering terbuat dari keramik tempo dulu.
Data Perilaku
Keluarga pasien kurang mengetahui pentingnya penataan rumah yang baik. Hal ini
terlihat dengan penataan barang- barang yang kurang baik di dalam rumah sehingga
rumah terasa pengap. Pasien minum susu formula 4 kali sehari, 50 cc. Pasien diberi
susu formula dengan menggunakan botol susu sejak 6 bulan dan berlanjut sampai
sekarang tanpa di sapih. Saat ini pasien bisa berjalan dan berbicara beberapa kata.
Pasientidak pernah sakit. Ibu membawa pasien ke Posyandu rutin.

Data Akses Pelayanan yang Terdekat


Akses pelayanan terdekat adalah Puskesmas Pandanaran dan Posyandu yang
diadakan sebulan sekali. Petugas kader kesehatan dan Puskesmas aktif dalam
memberikan penyuluhan kesehatan atau pelayanan kesehatan di daerah tersebut.

Data Genetika
Suami

Istri

Anak I

BAB IV
ANALISA/PEMBAHASAN
Berdasarkan pemeriksaan pada bulan februari 2014 didapatkan pasien dengan
usia 29 bulan dengan keluhan berupa Berat badan sudah naik tapi belum sesuai umur,
mempunyai BB/TB : 8,5 kg / 82,9 cm. dan Z-score menurut menurut BB/U : -3 SD <-2 SD, TB/U : < -3 SD, BB/TB : -2 SD -2 SD (normal), IMT/U : -2 SD -2 SD
(normal). Dimana balita dengan gizi kurang adalah anak yang berusia 0 60 bulan
yang BB/U : -3 SD - <-2 SD dan balita dengan kriteria sangat pendek adalah yang
memiliki TB/U : < -3 SD. Sedangkan diagnosis pasien sebelum mendapat penanganan
termasuk gizi buruk dengan BB/U : < -3SD.
Faktor faktor H.L Blum:
1

Lingkungan

Terdapat beberapa faktor yang mempermudah terjadinya gizi buruk pada kasus ini:
1

Kepadatan rumah
Secara umum penilaian kepadatan penghuni dengan menggunakan
ketentuan standar minimum, yaitu kepadatan penghuni yang memenuhi syarat
kesehatan diperoleh dari hasil bagi antara luas lantai dengan jumlah penghuni 10
m2/ orang.

Berdasarkan data hasil laporan kasus didapatkan luas tanah 9m x 10 m =


90m2 yang dan dihuni oleh 11 orang sehingga didapatkan kepadatan rumah
8,1m2/orang. Hal ini menunjukkan kepadatan rumah dalam kasus ini tidak
memenuhi syarat yang seharusnya.
Kepadatan penghuni dalam 1 rumah tinggal akan memberikan pengaruh
bagi penghuninya. Luas rumah yang tidak sebanding dengan jumlah penghuninya
akan menyebabkan perjubelan (over crowded). Hal ini tidak sehat karena
disamping menyebabkan kurangnya konsumsi oksigen, juga bila salah satu
anggota keluarga terkena penyakit akan mudah menular kepada anggota keluarga
yang lain.

Sosial ekonomi
Keadaan sosial ekonomi sangat erat dengan keadaan rumah, lingkungan
perumahan, kepadatan hunian, lingkungan dan sanitasi tempat tinggal yang
buruk. Hal tersebut dapat dikaitkan dengan pendapatan keluarga sangat erat juga
dengan kejadian gizi buruk karena pendapatan yang kurang membuat orang tidak
dapat hidup layak terutama hubungannya dengan asupan makanan yang
memenuhi syarat-syarat kesehatan.
Berdasarkan dari data yang di dapat pasien tinggal di rumah nenek yang
berada di seita rumah kontrakan, pekerjaan orangtua seorang buruh dengan
pendapatan Rp 23.000 per hari.

Masyarakat
Pasien tinggal di daerah padat penduduk dimana tingkat kebersihan
lingkungan cukup baik dengan kesadaran kebersihan dan kesehatan penduduknya
cukup baik.

Perilaku
1

Pasien hanya diberi susu formula 4 kali sehari. Disamping itu ibu pasien kurang
mengetahui asupan makanan yang baik untuk anaknya. Pasien diberi ASI eksklusif
sampai umur 6 bulan dan dilanjutkan MP-ASI pada usia lebih dari 6 bulan.

Ibu pasien memberikan susu formula menggunakan botol susu mulai umur 6 bulan
samapi sekarang.

3
3

Pasien makan 3 kali sehari @4 sendok makan


Manajemen Penanganan Gizi Buruk

Puskesmas Pandanaran menangani pasien gizi buruk ini dengan memberikan


1
2
3
4
5
1
2
3
4

Vit A (biru), Zink


F-100 (susu, gula, minyak, mineral Mixs) diberikan 12 kali sehari
Asam folat, sanbe kompleks
Pemberian MP ASI ( SUN )
Pemeriksaan rutin Gizi buruk dari DKK:
2 bulan pertama 1x/minggu
Selanjutnya sekarang ; 1x/2 minggu
Konseling gizi
Konseling laktasi
Fisioterapi
Pembinaan tumbuh kembang.

BAB V
MASALAH

Masalah Individu

5.1.1 Dari penilaian status gizi

Pasien dengan usia 29 bulan mempunyai BB/TB : 8,5 kg / 82,9 cm dan


Z-score menurut BB/U : -3 SD - <-2 SD, TB/U : < -3 SD. Dimana balita
dengan gizi kurang adalah anak yang berusia 0 60 bulan yang BB/U : -3 SD
- <-2 SD dan balita dengan kriteria sangat pendek adalah yang memiliki
TB/U : < -3 SD.

Masalah Lingkungan

5.2.1 Keadaan lingkungan rumah :


1
2
3

Rumah pasien terlalu sempit


Ruangan gelap dan pengap karena kurang ventilasi.
Kebersihan dan penataan rumah buruk.

5.2.2 Sosial ekonomi :


Pasien kadang tidak memakan makanan bergizi karena kekurangan ekonomi

Masalah Perilaku
5.3.1 Ibu
Ibu kurang memperhatikan asupan makanan pada anaknya .

5.3.2 Balita
Tidak makan banyak karena jenis makanan yang tidak menarik.

Masalah Manajemen Penanganan Gizi Buruk

Tidak terpantaunya pemberian asupan oleh DKK dimana penderita harusnya


diberikan asupan makanan lebih dan formula F 100.

BAB VI
SARAN

1 Untuk keluarga
1

Memotivasi keluarga agar makan makanan dengan gizi seimbang secara teratur.

Memotivasi keluarga untuk memperbaiki kondisi lingkungan rumah sehingga tercipta


rumah sehat. Yaitu dengan cara memperbaiki tatanan rumah agar lebih rapi.

Memotivasi keluarga untuk memperbaiki pola asuh dan pola makan pasien.

2 Untuk Puskesmas

3 Melakukan pencegahan meluasnya kasus dengan lebih meningkatkan koordinasi lintas program dan
lintas sektor. Memberikan bantuan pangan, memberikan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI),
pengobatan penyakit, penyediaan air bersih, memberikan penyuluhan gizi dan kesehatan
4 Dinas Kesehatan dan Pemerintah
1

Pemberdayaan keluarga di bidang ekonomi, pendidikan dan bidang ketahanan pangan


untuk meningkatkan pengetahuan dan daya beli keluarga.

Advokasi dan Pendampingan untuk meningkatkan komitmen ekskutif dan legislatif,


tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuka adat dan media massa agar peduli dan
bertindak nyata di lingkungannya untuk memperbaiki status gizi anak.

Pemantauan terus menerus situasi pangan dan gizi masyarakat, untuk melakukan
tindakan cepat dan tepat untuk mencegah timbulnya bahaya rawan pangan dan gizi
buruk.

BAB VII

IMPLEMENTASI DAN EVALUASI


1

Implementasi oleh keluarga

Tanggal

15 Februari 2014

Implementasi

Memotivasi
penderita
makanan

Tanggal

keluarga
agar

makan

dengan gizi

seimbang secara teratur

Evaluasi

Implementasi oleh Puskesmas

Tanggal

Implementasi

Tanggal

15 Februari 2014 Agar lebih meningkatkan kegiatan 17 Februari


kunjungan rumah yang dirasa efektif
untuk

meningkatkan

2014

pengetahuan

Evaluasi

Kegiatan kunjungan rumah


telah dilaksanakan oleh
dokter muda pada tanggal

dan kesadaran masyarakat mengenai

15 Februari

pencegahan dan pengobatan gizi

dan 17 Februari 2014

buruk serta faktor resikonya.

15 Februari 2014 Meningkatkan penyuluhan kepada


keluarga dan tetangga tentang resiko
dan bahaya penyakit gizi buruk

17 Februari

Penyuluhan dilakukan

2014

dengan cara pemberian


edukasi telah dilaksanakan
oleh dokter muda pada
tanggal 17 Februari 2014

BAB VIII
SIMPULAN

Dari kegiatan yang telah dilakukan selama kunjungan Perkesmas pada pasien An
Bagas Saputra dengan usia 29 bulan mempunyai BB/TB : 8,5 kg / 82,9 cm. dan Z-score
menurut menurut BB/U : -3 SD - <-2 SD, TB/U : < -3 SD. Sehingga termasuk dalam gizi
kurang dan balita dengan kriteria sangat pendek. Maka dapat diambil kesimpulan tentang
faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit tersebut adalah sebagai berikut:
1
2

Lingkungan
Sanitasi lingkungan rumah, penataan rumah dan sosial ekonomi kurang baik.
Perilaku
Ibu kurang telaten dalam memberi asupan pada pasien.
Pelayanan Kesehatan

Kurangnya pemantauan dalam memberikan bantuan asupan.

Genetika

Penyakit Gizi Buruk bukan merupakan penyakit yang diturunkan, maupun penyakit
yang ditularkan.

BAB IX
PENUTUP
Demikianlah laporan dan pembahasan mengenai hasil peninjauan kasus Gizi Buruk di
wilayah kerja Puskesmas Pandanaran. Kami menyadari bahwa kegiatan ini sangat penting
dan bermanfaat bagi para calon dokter, khususnya yang kelak akan terjun di masyarakat
sebagai Health Provider, Decision Maker, dan Communicator sebagai wujud peran serta
dalam pembangunan kesehatan.
Akhir kata kami berharap laporan ini bermanfaat sebagai bahan masukan dalam usaha
peningkatan derajat kesehatan masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Pandanaran.

DAFTAR PUSTAKA

Depkes, RI. 2004. Analisis Situasi Gizi dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta.
Dinkes. 2005. Modul Manajemen Gizi Buruk. Dinkes : Semarang
Dinkes. 2007. Pedoman Penyelenggaraan pelatihan tatalaksana anak gizi buruk bagi tenaga
kesehatan. Dinkes : Jakarta
Dinkes. 2006. Petunjuk Teknis Tatalaksana anak gizi buruk. Dinkes : Jakarta
Dinkespurworejo. 2012. Dinas Kabupaten Purworejo Media Informasi Kesehatan
Prima.http://www.dinkespurworejo.go.id/index.php?
option=com_content&task=view&id=4&Itemid=1&limit=1&limitstart=0. Dikutip tanggal 31 Juli
2013.
Menkes, RI. 2011. Standard Antropometri Penilaian Status Gizi Anak. Jakarta.

LAMPIRAN

Keterangan
6
5
8

gambar :

1
2
3
4
5
6
7
8
9

Lantai depan rumah


MCK
Dapur
Dapur
Meja makan
Kamar tidur
Kamar tidur
Meja kamar
Bagas saputra