Anda di halaman 1dari 46

Kasus Asuransi Prudential

December 14, 2012 by irfanisprayudhi


2
Bab IV. Permasalahan
CONTOH KASUS PADA PT. PRUDENTIAL LIFE ASSURANCE
Perusahaan besar harus siap dengan ujian besar pula. Di tengah pergeseran tren masyarakat yang
mulai menunjukkan minat terhadap sistem asuransi, perusahaan asuransi pun harus menunjukkan
bahwa ia betul-betul dapat menjadi andalan dan harapan masyarakat yang membutuhkan
perlindungannya. Sedikit memantau. Setelah dahulu pernah bermasalah (digugat pailit) oleh
salah satu agen penjualnya, PT.Prudential Life Assurance harus berjibaku kembali, kali ini
dengan pihak nasabahnya. Pokok perkaranya adalah klaim asuransi yang tidak dibayarkan.
Sebagai pengingat, PT. Prudential, yang secara umum layak diakui prestasinya.Terutama dalam
menjaring nasabah. Digugat oleh Victor Joe Sinaga, suami dari almarhumah Eva Pasaribu yang
merupakan nasabah perusahaan asuransi jiwa tersebut. Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan
melanjutkan sidang kasus ini kemarin (18/10) setelah sebelumnya proses mediasi menemui jalan
buntu. Pada sidang hari itu acara yang dilaksanakan adalah Jawaban dari Prudential atas Gugatan
Victor. Inti jawaban Prudential adalah membantah seluruh tuduhan Victor yang menyatakan
Prudential telah melanggar perjanjian Polis Asuransi dengan Eva. Justru sebaliknya Prudential
menuduh Eva telah berbohong karena ketika mengajukan asuransi pokok dan tambahan, ia tidak
mengaku kalau mengidap penyakit jantung. Itu lah yang menjadi dasar bagi penolakan klaim
Victor ketika istrinya meninggal dunia. Itu lah intinya.
Oke. Detail perkara dan proses persidangan itu biarlah berjalan. Adu dalil atau bantahan biarlah
menjadi jatah para kuasa hukum (pengacara) mereka. Yang hendak penulis garis bawahi adalah
preseden apa dari kasus ini ditinjau dari sisi pengaruhnya terhadap masyarakat. Memang jika
dilihat dari argumen-argumen kedua pihak yang berperkara ini sama-sama punya alasan. Yang
satunya menggugat wanprestasi dan menuntut klaimnya dibayar, sedangkan lawannya menolak
karena merasa nasabah menyembunyikan penyakitnya.
Ini memang debatable. Sepengetahuan penulis, selama ini memang calon nasabah yang hendak
mengikuti program asuransi dilarang menyembunyikan riwayat penyakitnya. Yang menjadi
masalah di sini adalah sangat jarang, bahkan mungkin belum pernah ditemui adanya syarat
formal sebuah medical check up kesehatan calon nasabah. Hal ini akan menjadi masalah besar
jika ternyata nasabah sendiri tidak mengetahui bahwa ia mengidap suatu penyakit. Ada
sebuah lubang besar persengketaan disini. Yang bisa menjadi penghambat kepastian berasuransi
itu. Di sadari atau tidak ini akan sangat menakut kan nasabah. Bisa terjadi kekhawatiran yang
beralasan bagi nasabah lain. Tentu saja mengenai kepastian pembayaran klaim itu.

Terhadap kasus ini. Mengingat mediasi yang diharapkan menjadi penyelesaian terbaik ternyata
gagal. Yang akan sangat berperan nantinya adalah bukti. Sebuah pembuktian bahwa :
1. Apakah benar Almarhumah Eva menyembunyikan riwayat penyakit jantungnya?
2. Apakah benar Prudential telah wanprestasi (ingkar janji) terhadap perjanjian yang telah
tercantum di polis asuransi?
Untuk bukti yang pertama jelas adalah kewajiban Prudential untuk membuktikannya. Jika ia bisa
membuktikan secara tertulis, diantaranya hasil medical check up nasabah sebelum perjanjian
polis yang jelas menyatakan bahwa Almarhumah Eva mengidap penyakit jantung. Dan riwayat
ini tidak diserahkan oleh calon nasabah. Maka jelas penolakan klaim oleh prudential itu layak
diterima secara hukum. Namun jika tidak ada, atau bukti yang diajukan adalah hasil pemeriksaan
setelah yang bersangkutan meninggal. Maka bukti itu akan sangat lemah. Apalagi jika dalam
syarat penandatanganan polis asuransi tidak di perjanjikan adanya medical check up. Terkecuali
pihak Prudential menganggap memiliki bukti lain yang cukup untuk itu.
Untuk bukti yang kedua tentu saja masih sangat terkait dengan bukti pertama. Yakni polis
asuransi itu sendiri. Bukti ini menjadi penguat saat kebohongan/penyembunyian riwayat
penyakit nasabah ini terbukti atau tidak terbukti.
Di luar itu semua. Penulis sangat menyayangkan kegagalan proses mediasi itu. Karena jika
Prudential berpikir panjang dengan menimbang masih adanya lubang-lubang persengketaan
itu. Yang tentu saja nantinya harus diperbaiki secara profesional. Maka langkah yang paling bijak
sesungguhnya adalah membayar saja klaim itu. Almarhumah Eva menurut riwayatnya telah
menjadi nasabah perusahaan asuransi ini sejak tahun 2007 dan meninggal pada tahun 2009.
Dapatlah dianggap cukup loyal. Apalagi diketahui bahwa kubu Victor ternyata dalam proses
mediasi bersedia menurunkan tuntutan klaim asuransi menjadi sebesar Rp.80 juta saja. Suatu
jumlah yang kecil untuk perusahaan asuransi semapan Prudential. Belum lagi jika Prudential
mau mempertimbangkan efek positif terhadap pembayaran klaim itu. Yaitu kepercayaan
masyarakat yang semakin meningkat dalam hal sadar berasuransi. Dengan memandang kepastian
dalam asuransi itu.
Wacana ini tentu saja bukan untuk Prudential saja. Tapi secara umum untuk perusahaan lain para
pelaku bisnis asuransi. Harap diingat, tren menanjakknya jumlah nasabah bukan semata karena
tawaran perlindungannya namun cenderung adalah karena bumbu pemikat investasinya yaitu
unit link misalnya. Maka kepercayaan dan kepastian perlindungan itu haruslah diperhatikan
kembali dengan seksama. Saya berkeyakinan jika produk tambahan seperti unit link ini tidak
ditawarkan. Jumlah peminat asuransi (jiwa) akan jalan di tempat.
Kesimpulan :
Mudah-mudahan sengketa ini dapat diselesaikan dengan baik. Perdamaian tetap dapat
dilaksanakan meskipun proses beracara itu tetap berjalan. Yang jelas komitmen untuk
menjadikan masyarakat sadar dan yakin berasuransi haruslah tetap dikedepankan. Tak terlalu
penting sebuah kemenangan atau pun kekalahan jika telah berproses secara mati-matian di

pengadilan. Tidak terlalu nyata/ada untungnya. Menang jadi arang kalah jadi abu. Berdamailah.
Carilah jalan terbaik untuk semua.

permasalahan dan solusi kasus asuransi

Permasalahan dan solusi kasus asuransi

Contoh kasus 1:
JAKARTA. Kabar kurang sedap menimpa Asuransi Jiwa Bumi Asih Jaya (BAJ Life). Ada
dugaan, perusahaan asuransi jiwa lokal ini bermasalah dengan keuangan. Akibatnya, banyak
nasabah yang khawatir dengan polis mereka, sehingga memilih mencairkan sebelum jatuh
tempo.
Pengakuan seorang nasabah BAJ Life, terpaksa menarik kembali polisnya karena mendapat
info dari mantan kepala cabang asuransi itu bahwa perusahaan sedang bermasalah.
Kabarnya, manajemen wajib menyetor dana Rp 600 miliar ke kementerian keuangan untuk
penyehatan.
Makanya "Daripada uang hangus semua, polis harus ditarik secepatnya," kata nasabah
menirukan saran mantan kepala cabang itu. Nasabah ini memiliki polis asuransi jiwa di BAJ
Life sejak enam tahun lalu melalui kantor cabang Depok. Ia membayar polis Rp 3 juta per
tahun.
Hitung punya hitung, pencairan polis hanya menghasilkan dana kembalian Rp 6 juta.
"Mereka sanggup mengembalikan, tapi membutuhkan waktu sekitar tiga bulan," tambahnya.
Usut punya usut, masalah di BAJ Life sudah ramai sejak lama. Surat kabar di Surabaya
pernah memberitakan kesulitan nasabah di Sidoarjo, JawaTimur pada Juni 2011. Kemudian,
Wahyu, warga Ponorogo, Jawa Timur juga kesulitan mencairkan klaim asuransi jiwa milik
almarhum ibunya yang meninggal pada September 2011.
"Nilai klaim Rp 10 juta, tapi sampai saat ini belum turun juga," kata Wahyu. Ia dan keluarga
pun memilih mengikhlaskan klaim tersebut karena berlarut-larut.
Terkena pembatasan
Boyke Panahiatan, Direktur Keuangan BAJ Life, mengaku perusahaannya sedang terlilit
masalah. Sejak tahun 2009, mereka terkena Pembatasan Kegiatan Usaha (PKU) oleh Badan

Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK). Namun, ia enggan merinci
penyebab PKU itu.
Sesuai regulasi, penyebab PKU karena perusahaan asuransi tidak bisa memenuhi modal
minimal. PKU menjadikan perusahaan tidak boleh mencari nasabah baru.
Namun, perusahaan harus tetap melayani nasabah yang ingin mencairkan klaim atau
menarik polisnya. "Masalah penarikan ada, tapi kalau ada yang kesulitan, informasikan saja
namanya, akan kami bantu agar cepat selesai," kata Boyke.
Menurut Boyke, manajemen sangat terbuka dengan kondisi perusahaan. Ia juga siap
membantu menyelesaikan permasalahan nasabah. "Kami tidak ingin masalah ini semakin
runyam, karena malah bisa dimanfaatkan pihak lain atau merugikan industri asuransi,"
terang Boyke.
Isa Rachmatarwata, Kepala Biro Perasuransian Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga
Keuangan (Bapepam-LK) membantah info pencabutan izin itu. Sayang, Isa juga enggan
berbicara banyak. Ia juga menolak mengomentari soal setoran dana Rp 600 miliar.
Dari situsnya, BAJ Life berdiri sejak 10 Juni 1967. Perusahaan ini memiliki jaringan
pemasaran di 12 kantor cabang, 142 kantor distrik dan 131 kantor sektor. Per akhir 2007,
total aset mencapai Rp 717,4 miliar dan pendapatan premi Rp 432,49 miliar.

contoh kasus 5:
Klaim Asuransi Tidak Dibayar
Belum lama ini di Indonesia ada kasus seorang artis yang anaknya mengalami
kecelakaan lalu lintas. Anak tersebut kemudian dirawat di rumah sakit. Sang Artis
sekaligus sebagai Bapak mencoba mengurus klaim asuransi atas biaya rumah sakit
anaknya. Perusahaan asuransi di awalnya menyatakan klaim asuransi tidak dibayarkan,
karena si anak telah melanggar peraturan lalu lintas.
Coba Kita lihat kasus di atas dalam dua sisi yang berbeda. Melihat dari sisi Bapak kasus
di atas adalah kasus yang sangat menyebalkan. Sudah harus mengurus anak yang
masuk rumah sakit, Bapak tersebut juga harus mengeluarkan effort untuk mengurus
asuransi. Padahal di awalnya, motivasi sang artis mengasuransikan anaknya adalah
untuk membiayai perawatan medis apabila terjadi sesuatu dengan kesehatan anaknya.
Disisi lain perusahaan asuransi memiliki alasan perusahaan asuransi telah mengikat
perjanjian dengan bapak dan anak tersebut dalam sebuah kontrak asuransi. Dalam
kontrak tersebut terdapat klausul pengecualian pembayaran, salah satunya adalah
pelanggaran terhadap hukum. Nah klausul ini yang digunakan perusahaan asuransi
untuk menyatakan tidak mau bayar.
Saat artikel ini di buat, masalah klaim dari artis ternama yang anaknya mengalami
kecelakaan yang menewaskan 7 orang di jalan tol masih berlanjut. Pihak Prudential
menolak membayar klaim yang di ajukan sebesar 500 juta. Bagi sebagian orang atau
mungkin Anda sendiri menjadi ragu akan kesungguhan perusahaan dalam membayar
klaim. Karena klaim adalah tujuan nomer satu ketika mengikuti atau memutuskan ikut
dalam suatu perusahaan Asuransi, dalam hal ini Prudential.
Penulis netral dalam hal ini. Seperti yang kita ketahui dari berita yang berkembang
bahwa Keluarga sang artis telah bertanggung jawab, terlepas realisasinya seperti apa
bukan konteks kita pada saat ini. Para korban akan disekolahkan, akan ditanggung
sampai lulus kuliah, biaya hidupnya akan diganti dan lain sebagainya. Sekedar

mengingatkan bahwa korban ada 7 orang. Bayangkan biaya yang harus ditanggung
keluarga sang artis akibat peristiwa ini, tentu besar bukan?
Upaya sang artis tersebut luar biasa, memang selayaknya sebagai seorang orang tua
membela Anak yang sedang terkena masalah. Itulah orang tua. Beban yang ditanggung
orang tua sangatlah besar, dari sisi hukum harus dipertanggung jawabkan, dari sisi
moral harus menghadapi tudingan masyarakat se Indonesia, dari segi biaya rumah sakit
besar, dari segi biaya pertanggung jawaban terhadap keluarga korban juga tidak kalah
besarnya, belum lagi potensi kerugian akibat sang Artis tidak dapat bekerja dikarenakan
mengurus masalah sang Buah hati. Menjadi wajar ketika Prudential menolak membayar
klaim rumah sakit sebesar 500 juta menjadi tambahan masalah atau beban bagi orang
tua tersebut.
Sudah jatuh tertimpa tangga. Hal yang sewajarnya terjadi pada diri kita sendiri, pada
dasarnya kita sebagai manusia tidak menyukai atau cenderung menghindari masalah.
Jika Tuhan mengijinkan jangan ada masalah di dunia ini, kata hati penulis. Tapi
kenyataannya tidak demikian, maka reaksi kita sebagai manusia adalah berusaha
meminimalisir atau mengurangi masalah. Dalam konteks ini biaya rumah sakit sang
anak sebesar 500 juta, dimana sang artis berusaha mengupayakan agar terbayar oleh
Prudential.
Jika penulis mengalami hal yang sama maka penulis pun mungkin akan melakukan hal
demikian. Namun sudah jelas bahkan sebelum menandatangani Surat Pengajuan
Asuransi Jiwa (SPAJ) bahwa ada hak dan kewajiban yang harus terpenuhi. Aturan
sudah jelas bahwa pelanggaran hukum tidak dibenarkan. Dari sisi penulis melihat
bahwa mengemudikan kendaraan bermotor diwajibkan memiliki SIM. Untuk memiliki
SIM ada kecukupan usia, pada kasus kecelakaan maut pengemudi tidak memiliki SIM
mengingat masih dibawah umur, terjadi pada jam 3 dini hari. Anda yang menilai
apakah benar demikian atau tidak.
Upaya sang artis yang mengalami kecelakaan patut diacungi jempol, meskipun kaya,
tenar, punya banyak uang namun tetap menggunakan asuransi. Di pihak lain Prudential
adalah perusahaan ternama yang taat pada hukum di negara kita. Perihal pembayaran
klaim telah ditulis dengan jelas di polis, bahkan sebelum jadi polis atau sebelum seorang

menjadi nasabah dari Prudential. Pada ilustrasi manfaat dengan jelas telah ditulis
bahwa jika ada hubungannya dengan tindakan pelanggaran hukum, tidak dibayar. Dan
memang demikian, jika tidak maka pelanggar hukum akan menganggap asuransi
sebagai cara membenarkan tindakan pelanggaran hukum.
Jika artis ternama Tanah Air, kaya raya menggunakan asuransi bagaimana dengan
Anda? Anda ke toko lampu mencari lampu yang bergaransi apakah diri Anda sendiri
tidak Anda Garansi ?
Pelajari dengan seksama sebelum menyetujui klausal yang ada, tanyakan kepada Agent
Anda. Anda berhak tahu. Pilihlah Agent yang berkualitas dan berintegritas. Agent yang
baik akan membela Anda dan membela Perusahaan dimana dia bekerja.
http://jakartamagazine.com/ojk-angkat-bicara-soal-kasus-dul-vs-prudential/
http://jakartamagazine.com/ylki-sepakat-dengan-prudential-soal-asuransi-dul/
Komentar : dalam kasus ini seharusnya pihak asuransi lebih cermat dalam memandang
dari sudut mana kasusu ini terjadi, apakah kecelakaan murni atau unsur kesengajaan
walaupun dalam kasus ini terdapat pelanggaran hukum. Dan kedua belah pihak harus
saring mengerti keadaan yang terjadi menimpa pijhak tertanggung.

kasus asruransi alianz


asuransi Allianz Mengecewakan - Kepedulian orang terhadap kesehatan memang berbeda-beda,
ada seseorang yang memiliki polish kesehatan dari asuransi tertentu, namun ada juga yang tidak
memiliki polish. Banyak alasan yang membuat mereka tidak menjadi nasabah asuransi jiwa
seperti Allianz dan sebagainya. Misalnya banyak yang bilang asuransi Allianz mengecewakan,
ada juga yang mengatakan asuransi Manulife, Prudential dan sebagainya mengecewakan. Hal itu
mereka nyatakan karena pernah mengalami kejadian atau musibah, dimana polish asuransi yang
diklaim tidak cair sehingga menyulut kekecewaan para nasabahnya. Padahal mereka memilih
asuransi karena ingin menjamin kesehatannya ketika terjadi musibah, namun justru menambah
berat musibah. asuransi allianz penipu,asuransi allianz vs prudential,asuransi prudential
mengecewakan,asuransi kesehatan allianz,asuransi prudential,jiwa,karir,premi asuransi allianz,
Asuransi Allianz Padahal kasus-kasus seperti itu bisa saja terjadi karena adanya masalah tertentu,
seperti pada contoh kasus nasabah yang mengatakan asuransi Allianz mengecewakan karena
adanya tunggakan premi yang belum dibayarkan. Sehingga nasabah dari Allianz asuransi ini
memiliki beban tunggakan yang harus dibayarkan, di saat itulah nasabah asuransi menerima
musibah sakit. Kemudian pasien sakit tersebut mengajukan klaim asuransi kepada penjamin
namun tidak bisa dicairkan. Tentu hal yang terjadi tersebut sangat menyulut kekecewaan.
Padahal mereka merasa selalu rutin membayar premi setiap bulannya. Hal seperti ini bisa saja
terjadi karena beberapa faktor antara lain sebagai berikut: 1. Terjadi kesalahan pembayaran Cara
pembayaran premi asuransi bisa dengan beberapa cara, namun secara umum pembayaran
tersebut melalui bank yang telah ditunjuk dari pihak asuransi. Misalnya asuransi Allianz telah
bekerjasama dengan bank-bank yang menjadi mitra, kemudian pembayarannya melalui bank
tersebut setelah itu melakukan konfirmasi ke pihak asuransi. Namun kadang dalam proses
pembayaran ini bisa terjadi kesalahan ketika menggunakan cara auto debet sedangkan saldo yang
ada tidak mencukupi, itulah yang membuat pembayaran premi gagal sehingga menunggak.
Mungkin itulah salah satu kasus dari mereka yang menilai asuransi Allianz mengecewakan. 2.
Klaim asuransi melebihi kapasitas Ketika seseorang menjadi nasabah asuransi jiwa kadang dari
pihak penyelenggara asuransi member tawaran besaran asuransi yang menjadi tanggungan.
Besaran tanggungan tersebut biasanya juga memiliki batasan jenis perlindungan asuransi bagi

nasabahnya, sehingga ada jenis polish yang tidak mampu melindungi nasabahnya sesuai dengan
perjanjian awal. Faktor ini juga bisa menjadi penyebab mereka yang menjadi nasabah Allianz
menyatakan asuransi Allianz mengecewakan. Padahal mereka sudah merasa tidak pernah
menggunakan polish sebelumnya. Setelah dikonsultasikan kepada pihak asuransi ternyata
kejadian yang dialami nasabah tersebut tidak termasuk dalam polish asuransi Allianz. Serta
masih banyak kasus lain yang mengakibatkan nasabah asuransi tidak mendapat jaminan
asuransinya, misalnya ada kecurangan dari agen atau karena salah satu agen tersebut sudah tidak
aktif tetapi tidak mengkonfirmasi kepada nasabah. Maka sebaiknya sebelum Anda mendaftarkan
sebagai nasabah konsultasikan secara detail supaya kejadian seperti itu tidak terjadi, sekarang
apakah sepenuhnya penyataan asuransi Allianz mengecewakan sumbernya dari pihak Allianz
atau penyelenggara lainnya hanya Anda yang tahu. Share ke: Facebook Google+ Twitter Artikel
Terkait Beberapa Kasus Pada Asuransi Allianz Mengecewakan : Contoh Polis Asuransi
Kesehatan Terbaik Contoh Polis Asuransi Kesehatan - Hidup semakin tidak pasti, terutama di
zaman modern. Segala hal biasa terjadi sewaktu-waktu, s ... Asuransi Prudential Berpengalaman
Sejak 165 Tahun Lalu Asuransi Prudential Indonesia dibentuk tahun 1995 dengan nama PT.
Prudential Life Assurance yang termasuk perusahaan asuransi ... Beberapa Kasus Pada Asuransi
Allianz Mengecewakan Asuransi Allianz Mengecewakan - Kepedulian orang terhadap kesehatan
memang berbeda-beda, ada seseorang yang memiliki polish kese ... Perbandingan: Asuransi
Manulife Vs Prudential Asuransi Manulife Vs Prudential - Meskipun bukan kejadian yang
diinginkan, sakit atau kecelakaan adalah sesuatu yang tidak dapat ... Apakah Asuransi Manulife
Bagus Tidak? Anda bingung hendak menentukan asuransi yang terbaik untuk Anda melakukan
investasi masa depan Anda. Baik untuk investasi pendid ... Newer Post Older Post Home Entri
Populer Gabung Bersama Asuransi Pendidikan Bank BRI Untuk Masa Depan Buah Hati
Beberapa Kasus Pada Asuransi Allianz Mengecewakan Melihat Tabel Premi Asuransi Kesehatan
Prudential Sebagai Referensi Kabar Mengagetkan: Prudential Indonesia Bangkrut Bingung
dengan Pilihan Asuransi Pendidikan Bumiputera Vs Prudential? Asuransi Prudential VS
Manulife, Mana Yang Lebih Baik? Asuransi Pendidikan Bank Mandiri Bukan Tabungan
Pendidikan Bank Mandiri Asuransi Pendidikan Anak BNI Solusi Pintar Masa Depan Anak
Perbandingan Asuransi Allianz VS Prudential Asuransi Jiwa Asuransi AXA Mandiri Sejahtera
Mapan Dengan Manfaat Tambahan Yang Direkomendasikan DMCA.com Protection Status Free
blog counter top sites top sites Personal Blogs blog search engine Visit suyonomarno at Ping.sg

1. Terjadi kesalahan pembayaran Cara pembayaran premi asuransi bisa dengan beberapa cara,
namun secara umum pembayaran tersebut melalui bank yang telah ditunjuk dari pihak asuransi.
Misalnya asuransi Allianz telah bekerjasama dengan bank-bank yang menjadi mitra, kemudian
pembayarannya melalui bank tersebut setelah itu melakukan konfirmasi ke pihak asuransi.
Namun kadang dalam proses pembayaran ini bisa terjadi kesalahan ketika menggunakan cara
auto debet sedangkan saldo yang ada tidak mencukupi, itulah yang membuat pembayaran premi
gagal sehingga menunggak. Mungkin itulah salah satu kasus dari mereka yang menilai asuransi
Allianz mengecewakan. 2. Klaim asuransi melebihi kapasitas Ketika seseorang menjadi nasabah
asuransi jiwa kadang dari pihak penyelenggara asuransi member tawaran besaran asuransi yang
menjadi tanggungan. Besaran tanggungan tersebut biasanya juga memiliki batasan jenis
perlindungan asuransi bagi nasabahnya, sehingga ada jenis polish yang tidak mampu melindungi
nasabahnya sesuai dengan perjanjian awal. Faktor ini juga bisa menjadi penyebab mereka yang
menjadi nasabah Allianz menyatakan asuransi Allianz mengecewakan. Padahal mereka sudah
merasa tidak pernah menggunakan polish sebelumnya. Setelah dikonsultasikan kepada pihak
asuransi ternyata kejadian yang dialami nasabah tersebut tidak termasuk dalam polish asuransi
Allianz. Serta masih banyak kasus lain yang mengakibatkan nasabah asuransi tidak mendapat
jaminan asuransinya, misalnya ada kecurangan dari agen atau karena salah satu agen tersebut
sudah tidak aktif tetapi tidak mengkonfirmasi kepada nasabah. Maka sebaiknya sebelum Anda
mendaftarkan sebagai nasabah konsultasikan secara detail supaya kejadian seperti itu tidak
terjadi, sekarang apakah sepenuhnya penyataan asuransi Allianz mengecewakan sumbernya dari
pihak Allianz atau penyelenggara lainnya hanya Anda yang tahu. Share ke: Facebook Google+
Twitter Artikel Terkait Beberapa Kasus Pada Asuransi Allianz Mengecewakan : Contoh Polis
Asuransi Kesehatan Terbaik Contoh Polis Asuransi Kesehatan - Hidup semakin tidak pasti,
terutama di zaman modern. Segala hal biasa terjadi sewaktu-waktu, s ... Asuransi Prudential
Berpengalaman Sejak 165 Tahun Lalu Asuransi Prudential Indonesia dibentuk tahun 1995
dengan nama PT. Prudential Life Assurance yang termasuk perusahaan asuransi ... Beberapa
Kasus Pada Asuransi Allianz Mengecewakan Asuransi Allianz Mengecewakan - Kepedulian
orang terhadap kesehatan memang berbeda-beda, ada seseorang yang memiliki polish kese ...
Perbandingan: Asuransi Manulife Vs Prudential Asuransi Manulife Vs Prudential - Meskipun
bukan kejadian yang diinginkan, sakit atau kecelakaan adalah sesuatu yang tidak dapat ...
Apakah Asuransi Manulife Bagus Tidak? Anda bingung hendak menentukan asuransi yang

terbaik untuk Anda melakukan investasi masa depan Anda. Baik untuk investasi pendid ... Newer
Post Older Post Home Entri Populer Gabung Bersama Asuransi Pendidikan Bank BRI Untuk
Masa Depan Buah Hati Beberapa Kasus Pada Asuransi Allianz Mengecewakan Melihat Tabel
Premi Asuransi Kesehatan Prudential Sebagai Referensi Kabar Mengagetkan: Prudential
Indonesia Bangkrut Bingung dengan Pilihan Asuransi Pendidikan Bumiputera Vs Prudential?
Asuransi Prudential VS Manulife, Mana Yang Lebih Baik? Asuransi Pendidikan Bank Mandiri
Bukan Tabungan Pendidikan Bank Mandiri Asuransi Pendidikan Anak BNI Solusi Pintar Masa
Depan Anak Perbandingan Asuransi Allianz VS Prudential Asuransi Jiwa Asuransi AXA Mandiri
Sejahtera Mapan Dengan Manfaat Tambahan Yang Direkomendasikan DMCA.com Protection
Status Free blog counter top sites top sites Personal Blogs blog search engine Visit suyonomarno
at

Ping.sg

Top

blogs

http://asuransiterbaru.blogspot.co.id/2015/08/beberapa-kasus-pada-asuransi-allianz.html

5 Penyebab Uang Asuransi Tidak Dibayar


Safir Senduk Dikutip dari Tabloid Nova No. 744/XIII
1. Ketidakjujuran Nasabah
Bila saat awal pengisian data mengenai nasabah tidak jujur, ini akan

penyebab kasus asuransi terjadi


menjadi alasan untuk tidak memberikan uang asuransi kepada si nasabah.
2. Adanya pengecualian oleh PA (perusahaan Asuransi)
Kadang-kadang PA Jiwa tidak memberikan manfaat yang mereka janjikan bila ternyata
penyebab kematian Anda memang dikecualikan (dan pengecualian itu ditulis dalam polis).
Mengenai pengecualian ini, umumnya PA menetapkan jumlah pengecualian yang bervariasi.
Akan tetapi, umumnya adalah:
* 1. Kematian karena bunuh diri
* 2. Kematian karena orang yang bersangkutan melakukan tindak kriminal
* 3. Kematian karena AIDS
* 4. Kematian karena penyakit kritis, dimana kematian terjadi pada tahun pertama dia
mengikuti program asuransi dari PA bersangkutan
* 5. Kematian karena force majeure, atau hal-hal yang memang tidak bisa dihindari, seperti
perang, bencana alam, atau huru-hara
3 Nasabah terlalu lama mengajukan klaim
* Umumnya, PA menetapkan batasan waktu pengajuan klaim asuransi. Biasanya, batasan
waktu yang ditetapkan adalah tiga bulan. Repotnya, nasabah seringkali mengajukan klaim
di luar batas waktu tersebut, sehingga PA sulit memenuhinya.
4. Syarat-syarat saat pengajuan klaim kurang lengkap
Biasanya, persyaratan-persyaratan yang diminta oleh PA bila Anda ingin mengajukan klaim
kematian adalah:
* 1. Surat Keterangan Kematian dari RT/RW setempat
* 2. Surat Keterangan Kecelakaan dari Kepolisian (jika kematian terjadi karena kecelakaan)
* 3. Surat Keterangan dari RS (jika kematian terjadi di RS), dimana surat itu ditandatangani
oleh dokter bersangkutan

* 4. Mengisi Formulir Pengajuan Klaim yang diterbitkan oleh PA


* 5. Fotokopi Identitas Diri Ahli Waris
* Jadi, bila terjadi risiko kematian, jangan lupa memenuhi semua persyaratan yang diminta
oleh PA. Enggak sulit, kan?
5 Ketidakjujuran Agen Asuransi dalam mempresentasikan produk asuransinya
Bisa saja Agen Asuransi Anda tidak jujur dalam mempresentasikan produk Asuransi Jiwanya. Sebagai contoh, ketika bertemu, ia mengatakan bahwa PA akan membayar UP
Asuransi Jiwa bila kematian disebabkan penyakit kritis, termasuk apabila risiko tersebut
terjadi di tahun pertama. Padahal umumnya tidak demikian.

Contoh Kasus Asuransi

Kasus Alphard Hilang, Kala asuransi Menolak Ganti

JAKARTA - Setelah dua tahun hilang, Toyota Alphard tahun 2005 milik Yansen
Handoko Lim bisa ditemukan kembali baru-baru ini oleh petugas Polda Metro Jaya.
Namun yang jadi masalah bukan ditemukannya kembali mobil yang telah memiliki
peranti safety canggih itu. Melainkan ketika melaporkan kehilangan mobil pada 2
tahun lalu kepada pihak asuransi, dinyatakan tidak bisa mengganti karena tidak ada
alasan kuat mobil itu hilang karena dicuri.
Di Pinjam Teman
Ketika terjaring sebuah razia, Alphard itu sudah berubah tampilan, termasuk nomor
polisi yang semula B 33 QT berganti H 8864 AZ. Mobil tersebut kini masih berada di
Polda Metro Jaya, dan tinggal proses untuk bisa diambil kembali pemiliknya setelah
melengkapi dokumen kendaraan seperti STNK dan BPKB.
"Sebuah keberuntungan saja kalau Alphard yang hilang itu bisa ditemukan kembali
oleh polisi. Namun mestinya pihak asuransi, dalam hal ini Allianz, mengganti mobil
yang hilang karena saya mengambil asuransi dengan pertanggungan all risk
(komprehensif) dengan premi Rp 30 juta selama dua tahun," ujar Yansen, pemilik
bengkel di bilangan Karet Pedurenan, Jakpus.
Bahkan Yansen sudah melaporkan kehilangan itu kepada polisi. Alphard yang masih
dalam pertanggungan leasing itu dipinjam temannya ketika kemudian hilang di
halaman rumah temannya itu yang jaraknya tak jauh dari bengkel Autowork di
bilangan Kuningan, Jaksel. Temannya itu juga menandatangani surat pernyataan di
bawah meterai siap diproses hukum jika terbukti melakukan rekayasa hilangnya
mobil.

Namun pihak PT Asuransi Allianz Utama Indoneesia (AZUI) menyatakan bahwa


dengan berat hati tidak bisa mengganti kehilangan itu. Sebab kejadian hilangnya
Alphard ini dianggap kategori pengecualian, seperti yang tercantum dalam polis
standar asuransi kendaraan bermotor Indonesia (PSAKBI) bab II pasal 3 ayat 4.
Di situ disebutkan bahwa pertanggungan asuransi tidak menjamin kerugian atas
kendaraan bermotor yang disebabkan oleh penggelapan, penipuan, hipnotis dan
sejenisnya, kendaraan tidak digunakan sesuai kesepakatan dalam polis awal
asuransi. Termasuk tindak kejahatan yang dilakukan oleh nasabah sendiri,
suami/istri, anak, orang tua, saudara sekandung dan teman tertanggung dengan
sepengetahuan atau seizin tertanggung.

"Meminjamkan kunci mobil kepada teman itu termasuk dalam klausul tadi. Selain
itu, kami juga telah melakukan investigasi, tidak ada bukti yang menguatkan mobil
itu hilang karena dicuri. Apalagi dengan teknologi immobilizer, dimungkinkan mobil
itu tidak bisa dicuri pihak lain karena Alphard hanya bisa dioperasikan dengan kunci
mobil yang sama," ujar Agung Priambadha, Head of Corporate Communications
AZUI.
Kemudian juga dikuatkan oleh Toyota-Astra Motor bahwa Alphard sudah dilengkapi
fitur immobilizer, yang tidak memungkinkan dibobol maling tanpa menggunakan
kunci mobil asli.
"Tapi keputusan untuk tidak mengganti kerugian pihak nasabah, atas kehilangan
mobilnya, juga harus didasarkan pada hasil investigasi polisi melalui surat laporan
kepolisian setempat. Tidak bisa hanya berpatokan pada klaim ATPM, yang
menyatakan kalau mobil itu tidak mungkin dicuri maling," ungkap Laurentius Iwan
Pranoto Sutanto, Head Marketing Communication &PR PT Asuransi Astra Buana
(Garda Oto).
"Memang kecil kemungkinannya kalau mobil yang sudah dilengkapi teknologi
immobilizer seperti smart key atau keyless entry bisa dengan mudah dijebol maling.
Kalaupun bisa, pasti ada yang menduplikasi master kuncinya," beber Adhi Prasojo,
Warranty Head PT Chrysler Indonesia.
Yansen sendiri menyatakan ketika ditemukan pihak kepolisian baru-baru ini, sudah
menggunakan kunci mobil yang berbeda, lebih bulat dan tanpa alarm. Sedang kunci
aslinya sendiri masih dipegang temannya yang meminjam Alphard itu.
Berangkat dari kondisi tadi, ada kemungkinan terjadi permainan kotor yang bisa
saja dilakukan oknum tertentu. Pasalnya menurut Adhi, untuk bisa membuat

duplikat kunci immobilizer harus membawa serta master atau kunci asli, dan wajib
menyertakan fotokopi STNK dan BPKB dengan menunjukkan dokumen yang asli.
"Duplikasi ini pun hanya bisa dilakukan pada dealer authorized mobil tersebut,"
tandas pria ramah ini.

ASURANSI KERUGIAN
1. Pengertian Asuransi Kerugian
Beberapa Pengertian Asuransi Kerugian diantaranya :
Pada prinsipnya, asuransi kerugian adalah mekanisme proteksi atau perlindungan dari resiko

kerugian keuangan dengan cara mengalihkan risiko kepada pihak lain.


Asuransi kerugian adalah suatu perjanjian asuransi yang berisikan ketentuan bahwa penanggung

mengikatkan dirinya untuk melakukan prestasi berupa memberikan ganti kerugian.


Asuransi kerugian adalah asuransi yang memberikan ganti rugi kepada tertanggung yang
menderita kerugian barang atau benda miliknya, kerugian mana terjadi karena bencana

ataubahaya terhadap mana pertanggungan ini diadakan, baik kerugian itu berupa:
Kehilangan nilai pakai
Kekurangan nilainya
Kehilangan keuntungan yang diharapkan oleh tertanggung

2. Manfaat Asuransi Kerugian


Manfaat Asuransi Kerugian atau istilahnya general insurance yaitu asuransi yang akan
mengganti kemungkinan kerugian yang terjadi pada harta benda dan juga seluruh asset.
Sebagai gambaran adalah asuransi mobil, kebakaran rumah atau took, asuransi mesin,
pabrik dan sebagainya.
Pada dasarnya asuransi memberikan manfaat bagi pihak tertanggung, antara lain:
a. Rasa aman dan perlindungan
Polis asuransi yang dimiliki oleh tertanggung akan memberikan rasa aman dari risiko atau
kerugian yang mungkin timbul. Kalau risiko atau kerugian tersebut bener-benar terjadi, pihak
tertanggung (insured) berhak atas nilai kerugian sebesar nilai polis atau ditentukan berdasarkan
perjanjian antara tertanggung dan penanggung.
b. Pendistribusian biaya dan manfaat yang lebih adil
Prinsip keadilan diperhitungkan dengan matang untuk menentukan nilai pertanggungan dan
premi yang harus di tanggung oleh pemegang polis secara periodic dengan memperhatikan
secara cermat factor-faktor yang berpengaruh besar dalam asuransi tersebut.
c. Polis asuransi dapat dijadikan sebagai jaminan untuk memperoleh kredit
d. Berfungsi sebagai tabungan dan sumber pendapatan
Premi yang dibayarkan setiap periode memiliki substansi yang sama dengan tabungan.
e. Alat penyebar risiko
Risiko yang seharusnya ditanggung oleh tertanggung ikut dibebankan juga pada penanggung
f.

dengan imbalan sejumlah premi tertentu yang didasarkan atas nilai pertanggungan.
Membantu meningkatakan kegiatan usaha

Investasi yang dilakukan oleh para investor dibebani dengan risiko kerugian yang bias
diakibatkan oleh berbagai macam sebab (pencurian,kebakaran,kecelakaan,dan lain-lain).
3. Macam-macam Asuransi Kerugian
Asuransi Kebakaran
Asuransi kebakaran bertujuan untuk menggantikan kerugian yang disebabkan oleh kebakaran.
Bentuk pertanggungan ini menjamin risiko yang terjadi karena kebakaran, oleh karena itu perlu
diadakan suatu kontrak (perjanjian) antara si pembeli asuransi(insured) dengan perusahaan

asuransi(insurer).
Asuransi Pengangkutan
Pada umumnya asuransi laut lebih dikenal dalam dunia asuransi sebagai asuransi laut yang
fungsinya mengangkut barang-barang dagangan serta komoditi lainnya. Dengan alat angkut yaitu

kapal, perahu motor, dan perahu layar.


Aasuransi Angkatan Udara
Asuransi atas muatan pertanggungan dalam asuransi pengangkutan udara adalah pedawat udara
dan muatannya (barang dan penumpang) terhadap bahaya yang menimpa, yang terjadi di Bandar
udara atau penerbangan.
Contoh Kasus Asuransi Kerugian
Kasus asuransi yang menimpa Ahmad Dhani menjadi berita banyak di media Indonesia.
Hal ini berkaitan klaim asuransi atas putra bungsu nya dari musisi tersebut sebesar 500 juta tidak
cair. Anak Ahmad Dhani yang dipanggil akrab dengan DUL terluka parah dan juga menewaskan
7orang meninggal dunia.
Hal yang mengejutkan terjadi karena klaim tersebut ditolak oleh Prudential karena
melanggar hokum. Menurut mereka setiap produk asuransi memiliki perjanjian yang di tanda
tangani oleh kedua belah pihak. Jika syarat telah dipenuhi maka seluruh klaim akan dibayar,
begitu pernyataan nini suhandoyo yang merupakan Corporate Marketing & Communication
Director PT.Prudential Life Insurance. Ini merupakan studi kasus asuraansi kecelakaan. Ahmad
Dhani menganggap tidak sepantasnya pihak Prudential langsung menuduh kasus melanggar
hukum. Benar tidak nya melanggar hukum pengadilan yang memutuskan, bukan pihak asuransi.
Contoh kasus asuransi bermasalah ini terus bergulir dan belum tampak penyelesaian
kasus asuransi tersenut, dan menimbulkan banyak pro dan kontra terutama di media dan jejaring
social. Ahmad dhani akan melanjutkan persoalan ini melalui jalur hukum. Kredibilitas Prudential
benar-benar dipertaruhkan. Bahkan pihak OJK (Otoritas Jasa Keuangan) akan memanggil pihak

manajemen PT.Prudential untuk menjelaskan lebih detail alas an pihak Prudential tidak
membayar Klaim Ahmad Dhani tersebut. Lalu persoalan tidak hanya sampai disitu,
bagaimanapula dengan klaim asuransi mobil yang dikendarai si dul tersebut? Apakah tidak
dibayar juga??
Persoalan ini bias mencuat kepermukaan berhubung Ahmad Dhani seorang artis kondang
dan juga menewaskan 7 orang tersebut. Hal ini menjadi studi kasus asuransi yang ditunggu
penyelesaiannya.

Tentu

masih

banyak

kasus

asuransi

lain

seperti

kasus

asuransi

kerugian,kesehatan,kendaraan bermotor,kebakaran,dll. Hanya saja persoalan itu tidak mencuat


kepermukaan. Nasabah selalu beranggapan asuransi selalu berkelit bila terjadi klaim. Dengan
adanya kasus sengketa asuransi seperti ini membuat asuransi juga beresiko, artinya resiko klaim
tidak dibayar. Nasabah sering tidak membaca secara detail setiap perjanjian dan pihak agen
asuransi juga tidak menjelaskan secara terperinci ketika nasabah akan memasuki asuransi
tersebut, apalagi kebanyakan agen tersebut selalu melebih lebihkan produk yang mereka jual.
Suatu hal kita acungkan jempol buat Ahmad Dhani masih sadar melindung anak-anaknya dengan
asuransi.
http://gheaghaishani.blogspot.co.id/2014/10/asuransi-kerugian-dan-contohkasus.html

ASURANSI JIWA
I.

Pengertian Asuransi Jiwa

Asuransi jiwa adalah asuransi yang bertujuan menanggung orang terhadap kerugian
financial tak terduga yang disebabkan karena meninggalnya terlalu cepat atau hidupnya terlalu
lama. Disini terlukis bahwa dalam asuransi jiwa risiko yang dihadapi ialah:
a. Risiko kematian
b. Hidup seseorang terlalu lama

1.
a.
b.
c.

d.

2.

a.
b.

Hal ini sudah barang tentu akan membawa banyak aspek, apabila risiko yang terdapat
pada diri seseorang tidak diasuransikan kepada perusahaan asuransi jiwa.
Umpamanya jaminan untuk keturunan, seorang bapak kalau dia meninggal dunia
sebelum waktunya atau dengan tiba-tiba,si anak tidak akan terlantar dalam hidupnya.
Bisa juga terhadap seseorang yang telah mencapai umur ketuaannya dan tidak mampu
untuk mencari nafkah atau membiayai anak-anaknya,maka memberi asuransi jiwa, risiko yang
mungkin diderita dalam arti kehilangan kesempatan untuk mendapat penghasilan akan
ditanggung oleh perusahaan asuransi.
Ternyata disini, bahwa lembaga asuransi jiwa ada faedahnya dengan tujuan utama ialah
untuk menanggung atau menjamin seseorang terhadap kerugian-kerugian finansial. Dibawah ini
dapat kita lihat berapa pentingnya peranan serta tujuan asuransi jiwa tersebut.
Dari segi masyarakat umumnya (social)
Asuransi jiwa bias memberikan keuntungan-keuntungan tertentu terhadap individu atau
masyarakat, yaitu sebagai berikut:
Menentramkan kepala keluarga (suami/bapak), dalam arti memberi jaminan penghasilan,
pendidikan, apabila kepala keluarga tersebut meninggal dunia.
Dengan membeli polis asuransi jiwa dapat digunakan sebagai alat untuk menabung. Pada
umumnya pendapatan per kapita dari masyarakat masih sangat rendah, oleh karena itu dalam
praktik terlihat bahwa keinginan masyarakat untuk membeli asuransi jiwa sedikit sekali.
Sebagai sumber pengasilan. Ini dapat kita lihat pada Negara-negara yang sudah maju, seseorang
yang merupakan kunci dalam perusahaan akan diasuransikan oleh perusahaan dimana ia
bekerja. Misalnya, seorang ahli atom/nuclear akan dipertanggungkan jiwanya, bilamana ia
meninggal dunia atau sakit, perusahaan wajib membayar ganti kerugian.
Tujuan lain asuransi jiwa ialah, untuk menjamin pengobatan dan menjamin kepada keturunan
andaikata yang mengasuransikan tidak mampu untuk mendidik anak-anaknya
(beasiswa/pendidikan). Yang banyak kita temui dalam praktik ialah, pertanggungan untuk risiko
kematian, sedangkan pertanggungan selebihnya belum begitu maju pesat.
Dari segi pemerintah/public
Perusahaan asuransi jiwa dinegara kita yang besar operasinya,umumnya kepunyaan
pemerintah. Disini kita hubungkan dengan peraturan pemerintah, yaitu UU No. 19/1960
mengenai pembagian kegiatan antara perusahaan-perusahaan Negara. Pembagian kegiatan
seperti tercantum di dalam sector-sektor sebagai berikut:
Sektor produksi (perusahaan industry Negara, perusahaan perkebunan Negara, dan perusahaan
pertambangan Negara).
Sektor marketing (perusahaan niaga)

c.

Sector pemberian fasilitas (perusahaan-perusahaan asuransi Negara, bank pemerintah, dan


perusahaan pelayanan milik Negara lainnya).
Dapat disimpulkan disini bahwa perusahaan asuransi merupakan satu lembaga keuangan
yang memberikan fasilitas untuk pembiayaan yang dapat dipergunakan dalam tahap
pembangunan ekonomi Indonesia. Berdasarkan pada UU No. 19/1960, ternyata bahwa
sumbangan lembaga asuransi terhadap pembangunan ekonomi ialah :
1) Sebagai alat pembentukan modal
2) Lembaga penabungan
Jadi dapat di katakana bahwa tujuan perusahaan asuransi ialah untuk turut membangun
ekonomi nasional dibidang perasuransian jiwa sesuai dengan repelita, dengan mengutamakan
kebutuhan rakyat dan ketentraman serta kesenangan bekerja dalam perusahaan menuju
masyarakat adil dan makmur materil dan spiritual.
II.
Fungsi Asuransi Jiwa
1) Tujuan pertanggungan jiwa ialah mengadakan jaminan bagi masyarakat, yaitu mengambil alih
semua beban risiko dari tiap-tiap individu. Bilamana ditanggung sendiri akan terlalu berat, maka
lebih baik dipindahkan kepada perusahaan asuransi jiwa.
2) Perusahaan asuransi mempunyai tugas lain bila dilihat dari sudut pembangunan, yaitu sebagai
lembaga yang mengumpulkan dana dan dana tersebut dapat diinvestasikan dalam lapangan
pembangunan ekonomi seperti industry-industri,perkebunan, dan lain-lain.
3) Dari sudut pekerjaan, perusahaan asuransi memberi bantuan kepada public, yaitu memberi
kesempatan bekerja pada buruh-buruh/pegawai-pegawai untuk memperoleh income guna
kelangsungan hidup mereka sehari-hari.
Contoh kasus dalam Asuransi Jiwa
Ustad Jefri al buchori semasa hidupnya adalah orang yang sangat baik, bijaksana, rendah
hati, serta merupakan contoh seorang ustad kepada umat nya bagaimana menghadapi kehidupan
ini dengan KASIH. Seorang ustad Jefri Al Buchori tidak punya rencana dan mengira akan
meninggal dakan kecelakaan maut. Namun beliau semasa hidupnya adalah orang yang bijaksana,
maka beliau sudah siap dengan segala resiko yang mungkin terjadi dalam kehidupan ini. Beliau
memiliki Asuransu Jiwa Prudential, dengan menabung 2jt/bln beliau di cover jiwa dengan total
nilai mencapai 1,7 miliar. Sehingga sewaktu kejadian naas itu menimpa beliau, maka asuransi
jiwaprudential membayar pihak keluarga ustad uje sebesar 1,7 miliar. Memang angka itu tidak
sebanding dengan nyawa sang Ustad, namun setidaknya bias meringankan beban keluarga yang
ditinggalkan.
Contoh Perusahaan Life Insurance
PT BNI life Insurance (BNI Life) merupakan perusahaan asuransi yang menediakan
berbagai produk asuransi seperti asuransi kehidupan (Jiwa), kesehatan, pendidikan,
investasi,pension, dan syariah. Dalam menyelenggarakan kegiatan usahanya, BNI Life telah
memperoleh izin usaha di bidang Asuransi jiwa berdasarkan surat dari Menteri Keuangan Nomor
305/KMK.017/1997 tanggal 7 juli 1997. Pendirian BNI Life, sejalan dengan kebutuhan
perusahaan induknya, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI, untuk menyediakan
layanan dan jasa keuangan terpadu bagi semua nasabahnya.

Saat ini BNI Life telah hadir melalui 4 saluran distribusi yaitu Agency, Bancassurance,
Employee Benefits dan Syariah. Agency dipasarkan melalui agen-agen yang memasarkan produk
individu, sedangkan Banncassurance dipasarkan melalui jaringan BNI di seluruh Indonesia.
Employe Benefits dikhususkan bagi produk-produk asuransi kumpulan ke perusahaanperusahaan, sedangkan syariah memasarkan produk asuransi baik individu, ataupun kumpulankumpulan dengan prinsip syariah.

Modus baru kasus suap melalui polis asuransi


Jakarta (ANTARA News) - Badan Reserse Kriminal Mabes Polri mengungkap modus baru
pemberian suap atau gratifikasi melalui polis asuransi.
Modus pemberian suap dilakukan oleh Kasubdit Penindakan dan Penyidikan Kantor
Pelayanan Utama Bea dan Cukai Tipe A Tanjung Priok, yakni Heru Sulastiyono (HS) dan
Komisaris PT Tanjung Utama Jati Yusron Arif (YA).
"Ini merupakan modus operandi baru dalam mengaburkan atau mengalihkan pidana
pencucian uang," kata Kasubdit Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) Direktorat Tindak
Ekonomi Khusus Bareskrim Polri Kombes Agung Setya saat konferensi di Mabes Polri, Jakarta,
Selasa.
Agung menjelaskan Yusron berusaha mengaburkan uang gratifikasi melalui polis asuransi
yang bisa diklaim kapan saja oleh Heru. Dia menyebutkan polis asuransi tersebut berjumlah 11
dengan atas nama 11 perusahaan yang dimiliki Yusron dan diduga satu polis asuransi bernilai
Rp400 juta-Rp500 juta.
"Tapi, polis asuransi ini sudah dicarikan sebelum jatuh tempo oleh HS, sehingga terkena
potongan penalti," katanya. Meski terkena penalti senilai Rp1,2 miliar, Agung mengatakan, Heru
tidak mengalami kerugian karena ia diduga telah mencairkan Rp5 miliar. Selain itu, dia
mengatakan Heru diduga menerima sejumlah uang dan barang bukan atas namanya, tetapi `office
boy`, tukang kebun dan orang-orang kepercayaan Yusron.
Dia menyebutkan ada sejumlah barang bukti yang disita saat penangkapan, yakni polis
asuransi, buku tabungan, dokumen transaksi, dokumen perusahaan, satu unit "air soft gun", enam
unit telepon genggam dan dua unit mobil, yakni Ford Everest dan Nissan Terano.
Dia menjelaskan pemberian gratifikasi tersebut karena Heru telah berperan dalam
memberikan usulan untuk membuat 10 perusahaan yang ditutup operasinya sebelum satu tahun
agar tidak terkena audit Ditjen Bea dan Cukai.
Diketahui, Yusron hanya memiliki satu perusahaan yang terdaftar dalam Kementerian
Hukum dan Hak Asasi Manusia, yakni PT Tanjung Utama Jati. Agung mengatakan 10
perusahaan itu bergerak di bidang mainan, aksesoris, spare part mesin, bijih plastik dan lainnya
yang seharusnya dilakukan audit.
"Akan tetapi, dia tutup perusahaan lama dan buat perusahaan baru agar tidak ditemukan,"
katanya. Dia mengatakan pengungkapan modus tersebut merupakan hasil dari penyelidikan
selama satu bulan yang didukung Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK)
setelah menduga ada informasi tersebut satu tahun lalu.
Agung mengatakan akan menelusuri sejauh mana tindak kejahatan tersebut menghasilkan
satu kekayaan, termasuk rumah baru Heru di kawasan Serpong, Tangerang. Heru ditangkap di
rumahnya, di Perum Sutera Renata Alba Utama Nomor 3, Alam Sutera, Serpong, Tangerang
Banten pada Selasa (29/10), sekitar pukul 02.00 WIB.

Sedangkan, Yusron ditangkap di rumahnya di Jalan H. Aselih RT 11/RW 01 Nomor 49,


Ciganjur, Kelurahan Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan pada Selasa (29/10 ) pukul 08.00 WIB.
Kedua tersangka terancam terjerat pasal 3, 5 UU 8/2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang
(TPPU) serta pasal 5 ayat 2 dan pasal 12 huruf (a) (b) UU 31/1999 tentang Tipikor sebagaimana
diubah dengan UU 20/2001 junto pasal 55 dan 56 KUHP.

MAKALAH TENTANG ASURANSI

BAB I
PENDAHULUAN

1. A.

LATAR BELAKANG

Resiko dimasa datang dapat terjadi terhadap kehidupan sesorang misalnya kematian, sakit atau
resiko dipecat dari pekerjaannya. Dalam dunia bisnis resiko yang dihadapi dapat berupa resiko
kerugian akibat kebakaran, kerusakan atau kehilangan atau resiko lainnya. Oleh karena itu setiap
resiko yang akan dihadapi harus ditanggulangi sehingga tidak menimbulkan kerugian yang lebih
besar lagi.
Untuk mengurasngi resiko yang tidak diinginkan dimasa yang akan datnag, seperti resiko
kehilangan, resiko kebakaran, resiko macetnya pinjaman kredit bank atau resiko laiinnya, maka
diprlukan perusahaan yang mau menanggung rediko tersebut. Adalah perusahaan asuransi yang
mau menanggung resiko yang bakal dihadapi nasabahnya baik perorangan maupun badan usaha.
Hal ini disebabkan perusahaan asuransi merupakan perusahaan yang melakukan usaha
pertanggung jawaban terhadap resiko yang akan dihadapi oleh nasabahnya.
1. RUMUSAN MASALAH
1. Pengertian dari Asuransi?
2. Tujuan dan jenis jenis dari asuransi?
3. Terjadinya dan Berakhirnya Asuransi?

BAB II
PEMBAHASAN
A.

Pengertian Asuransi

Didalam pasal 246 Kitab Undang-undang Hukum Dagang (KUHD) disebut bahwa, Asuransi
atau pertanggungan adalah suatu perjanjian dengan mana seorang penangung mengikatkan diri
kepada seorang tertanggung, dengan menerima suatu Premi, untuk memberikan penggantian
kepadanya karena suatu kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapakan,
yang mungkin akan diderita karena suatu peristiwa yang tak tertentu.

Menurut Wirdjono Prodjodikoro dalam bukunya Hukum Asuransi di Indonesia, asuransi adalah
suatu persetujuan dimana pihak yang menjamin berjanji kepada pihak yang dijamin, untuk
menerima sejumlah uang premi sebagai pengganti kerugian, yang mungkin akan diderita oleh
yang dijamin, karena akibat dari suatu peristiwa yang belum jelas.
D.S. Hansell dalam bukunya Elements of Insurance menayatakan bahwa asuransi selalu
berkaitan dengan resiko (Insurance is to do with risk).
Menurut Robert I. Mehr dan Emerson Cammack, dalam bukunya Principles of Insurance
menyatakan bahwa suatu pengalihan resiko (transfer of risk) disebut asuransi.
Berdasaarkan pengertian pasal 246 KUHD dapat disimpulkan ada tiga unsur dalam Asuransi,
yaitu:
1. Pihak tertanggung, yakni yang mempunyai kewajiban membayar uang premi
kepada pihak penanggung baik sekaligus atau berangsur-angsur
2. Pihak penanggung, mempunyai kewajiban untuk membayar sejumlah uang
kepada pihak tertanggung, sekaligus atau berangsur-angsur apabila unsur
ketiga berhasil
3. Suatu kejadian yang semula belum jelas akan terjadi

B.

Tujuan Dan Jenis-Jenis Asuransi

1.

Tujuan Asuransi

Menurut Prof. Ny. Emmy Pangaribuan Simanjuntak, S. H., asuransi itu mempunyai tujuan,
pertama-tama ialah: mengalihkan segala resiko yang ditimbulkan peristiwa-peristiwa yang tidak
diharapkan terjadi kepada orang lain yang mengambil resiko untuk mengganti kerugian. Pikiran
yang terselip dalam hal ini ialah, bahwa lebih ringan dan mudah apabila yang menanggung
resiko dari kekurangan nilai benda-benda itu beberapa orang daripada satu orang saja, dan akan
memberikan suatu kepastian mengenai kestabilan dari nilai harat bendanya itu jika ia akan
mengalihkan resiko itu kepada suatu perusahaan, dimana dia sendiri saja tidak berani
menanggungnya.
Sebaliknya seperti yang dikemukakan oleh Mr. Dr. A. F. A. Volman bahwa orang-orang lain
yang menerima resiko itu, yang disebut penanggung bukanlah semata-mata melakukan itu demi
prikemanusiaan saja dan bukanlah pula bahwa dengan tindakan itu kepentingan-kepentingan
mereka jadi korban untuk membayar sejumlah uang yang besar mengganti kerugian-kerugian
yang ditimbulkan oleh peristiwa-peristiwa itu.

Para penanggung itu adalah lebih dapat menilai resiko itu dalam perusahaan mereka, daripada
seseorang tertanggung yang berdiri sendiri, oleh karena itu biasanya didalam Praktek para
penanggung asuransi yang sedemikian banyaknya, mempunyai dan mempelajari pengalamanpengalaman mereka tentang penggantian kerugian yang bagaimana terhadap sesuatu resiko yang
dapat memberikan suatu kesempatan yang layak untuk adanya keuntungan.
1. 2.

Jenis-jenis Asuransi

Berdasarkan pasal 247 KUHD menyebutkan tentang lima macam asuransi ialah:
1. Asuransi terhadap kebakaran
2. Asuransi terhadap bahaya hasil-hasil pertanian
3. Asuransi terhadap kematian orang ( Asuransi jiwa )
4. Asuransi terhadap bahaya dilaut dan perbudakan
5. Asuransi terhadap bahaya dalam pengangkutan didarat dan disungai-sungai

Secara garis besar asuransi terdiri dari tiga kategori, yaitu:


1. Asuransi Kerugian

Terdiri dari asuransi untuk harta benda (property, kendaraan), kepentingan keungan (pecuniary),
tanggung jawab hokum (liability), dan asuransi diri (kecelakaan atau kesehatan)
1. Asuransi Jiwa

Pada hakikatnya merupakan suatu bentuk kerjasama antara orang-orang yang menghindarkan
atau minimal mengurangi resiko yang diakibatkan oleh resiko kematian (yang pasti terjadi tetapi
tidak pasti kapan terjadinya), resiko hari tua (yang pasti terjadi dan dapat diperkirakan kapan
terjadinya, tetapi tidak pasti berapa lama) dan resiko kecelakaan (yang tidak pasti terjadi, tetpi
tidak mustahil terjadi).
1. Asuransi Sosial

Adalah program asuransi wajib yang diselenggarakan oleh pemerintah berdasarkan undangundang. Maksud dan tujuan asuransi social adalah menyediakan jaminan dasar bagi masyrakat
dan tidak bertujuan untuk mendapat keuntungan komersial.
C.

Terjadinya dan Berakhirnya Asuransi

1.

Kapan Terjadinya Perjanjian Asuransi

perjanjian asuransi atau perjanjian pertanggungan secara umum oleh


KUH Perdata disebutkan sebagai salah satu bentuk perjanjian untung-untungan, sebenarnya
merupakan satu penerapan yang sama sekali tidak tepat. Peristiwa yang belum pasti terjadi itu
merupakan syarat baik dalam perjanjian untung-untungan maupun dalam perjanjian asuransi atau
pertanggungan. Perjanjian itu diadakan dengan maksud untuk memperoleh suatu kepastian atas
kembalinya keadaan atau ekonomi sesuai dengan semula sebelum terjadi peristiwa. Batasan
perjanjian asuransi secara formal terdapat dalam pasal 246 Kitab Undang-undang Hukum
Dagang.
Suatu premi mengikat dirinya terhadap tertanggung untuk membebaskan dari kerugian karena
kehilangan, kerugian atau ketiadaan keuntungan yang diharapkan yang akan dapat diderita
olehnya, karena suatu kejadian yang belum pasti. Perjanjian asuransi atau pertanggungan itu
mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:
1. Perjanjian asuransi merupakan suatu perjanjian penggantian kerugian
(shcadeverzekering atau indemniteits contract). Penanggung mengikatkan
diri untuk menggantikan kerugian karena pihak tertanggung menderita
kerugian dan yang diganti itu adalah seimbang dengan kerugian yang
sungguh-sungguh diderita (prinsip indemnitas).
2. Perjanjian asuransi atau pertanggungan adalah perjanjian bersyarat.
3. Perjanjian asuransi atau pertanggungan adalah perjanjian timbal balik.
4. Kerugian yang diderita adalah sebagai akibat dari peristiwa yang tidak
tertentu atas mana diadakan pertanggungan.

Perjanjian asuransi sebagai perjanjian yang bertujuan memberikan proteksi. Dapat dilihat dari
batasan pasal 246 KUHD, lebih lanjut ditelaah unsur-unsur sebagai berikut:
1. Pihak pertama ialah penanggung, yang dengan sadar menyediakan diri untuk
menerima dan mengambil alih risiko pihak lain.
2. Pihak kedua adalah tertanggung, yang dapat menduduki posisi tersebut
dalam perorangan, kelompok orang atau lembaga, badan hukum termasuk
perusahaan atau siapapun yang dapat menderita kerugian.

Untuk menyatakan kapan perjanjian asuransi yang dibuat oleh tertanggung dan penanggung itu
terjadi dan mengikat kedua pihak, dari sudut pandang ilmu hukum terdapat 2 (dua) teori
perjanjian tersebut:
1. Teori tawar-menawar (bargaining thoery). Menurut teori ini, setiap perjanjian
hanya akan terjadi antara kedua belah pihak apabila penawaran (offer) dari
pihak yang satu dihadapkan dengan penerimaan (acceptance) oleh pihak

yang lainnya dan sebaliknya. Keunggulan toeri tawar-menawar adalah


kepastian hukum yang diciptakan berdasarkan kesepakatan yang dicapai
oleh kedua pihak dalam asuransi antara tertanggung dan penanggung.
2. Teori penerimaan (acceptance theory). Dalam hukum Belanda, teori ini
disebut ontvangst theorie mengenai saat kapan perjanjian asuransi terjadi
dan mengikat tertanggung dan penanggung, tidak ada ketentuan umum
dalam undang-undang perasuransian, yang ada hanya persetujuan kehendak
antara pihak-pihak (pasal 1320 KUH Perdata). Menurut teori penerimaan,
perjanjian asuransi terjadi dan mengikat pihak-pihak pada saat penawaran
sungguh-sungguh diterima oleh tertanggung. Atas nota persetujuan ini
kemudian dibuatkan akta perjanjian asuransi oleh penanggung yang disebut
polis asuransi.

Perjanjian asuransi yang telah terjadi harus dibuat secara tertulis dalam bentuk akta yang disebut
polis (pasal 255 KUHD). Polis ini merupakan satu-satunya alat bukti tertulis untuk membuktikan
bahwa asuransi telah terjadi. Untuk mengatasi kesulitan jika terjadi sesuatu setelah perjanjian
namun belum sempat dibuatkan polisnya atau walaupun sudah dibuatkan atau belum
ditandatangi atau sudah di tandatangi tetapi belum diserahkan kepada tertanggung kemudian
terjadi evenemen yang menimbulkan kerugian tertanggung. Pada pasal 257 KUHD memberi
ketegasan, walaupun belum dibuatkan polis, asuransi sudah terjadi sejak tercapai kesepakatan
antara tertanggung dan penanggung. Sehingga hak dan kewajiban tertanggung dan penanggung
timbul sejak terjadi kesepakatan berdasarkan nota persetujuan. Bila bukti tertulis sudah ada
barulah dapat digunakan alat bukti biasa yang diatur dalam hukum acara perdata. Ketentuan ini
yang dimaksud oleh pasal 258 ayat (1) KUHD. Syarat-syarat khusus yang dimaksud dalam pasal
258 KUHD adalah mengenai esensi inti isi perjanjian yang telah dibuat itu, terutama mengenai
realisasi hak dan kewajiban tertanggung dan penanggung seperti: penyebab timbul kerugian
(evenemen); sifat kerugian yang menjadi beban penanggung; pembayaran premi oleh
tertanggung; dan klausula-klausula tertentu.
2.

Berakhirnya Asuransi

Ada empat hal yang menyebabkan Perjanjian asuransi berakhir, antara lain sebagai
berikut:
:
1. Karena Terjadi Evenemen
2. Karena Jangka Waktu Berakhir
3. Karena Asuransi Gugur
4. Karena Asuransi Dibatalkan
1. Karena Terjadi Evenemen
Dalam asuransi jiwa, satu-satunya evenemen yang menjadi beban penanggung adalah
meninggalnya tertanggung. Terhadap evenemen inilah diadakan asuransi jiwa antara tertanggung
dan penanggung. Apabila dalam jangka waktu yang diperjanjikan terjadi peristiwa meninggalnya

tertanggung, maka penanggung berkewajiban membayar uang santunan kepada penikmat yang
ditunjuk oleh tertanggung atau kepada ahli warisnya. Sejak penanggung melunasi pembayaran
uang santunan tersebut, sejak itu pula asuransi jiwa berakhir.
Apa sebabnya asuransi jiwa berakhir sejak pelunasan uang santunan, bukan sejak meninggalnya
tertanggung (terjadi evenemen). Menurut hukum perjanjian, suatu perjanjian yang dibuat oleh
pihak-pihak berakhir apabila prestasi masing-masing pihak telah dipenuhi. Karena asuransi jiwa
adalah perjanjian, maka asuransi jiwa berakhir sejak penanggung melunasi uang santunan
sebagai akibat dan meninggalnya tertanggung. Dengan kata lain, asuransi jiwa berakhir sejak
terjadi evenemen yang diikuti dengan pelunasan klaim.
2. Karena Jangka Waktu Berakhir
Dalam asuransi jiwa tidak selalu evenemen yang menjadi beban penanggung itu terjadi bahkan
sampai berakhirnya jangka waktu asuransi. Apabila jangka waktu berlaku asuransi jiwa itu habis
tanpa terjadi evenemen, niaka beban risiko penanggung berakhir. Akan tetapi, dalam perjanjian
ditentukan bahwa penanggung akan mengembalikan sejumtah uang kepada tertanggung apabila
sampai jangka waktu asuransi habis tidak terjadi evenemen. Dengan kata lain, asuransi jiwa
berakhir sejak jangka waktu berlaku asuransi habis diikuti dengan pengembalan sejumlah uang
kepada tertanggung.
3. Karena Asuransi Gugur
4. Karena Asuransi Dibatalkan
Asuransi jiwa dapat berakhir karena pembatalan sebelum jangka waktu berakhir. Pembatalan
tersebut dapat terjadi karena tertanggung tidak melanjutkan pembayaran premi sesuai dengan
perjanjian atau karena permohonan tertanggung sendiri. Pembatalan asuransi jiwa dapat terjadi
sebelum premi mulai dibayar ataupun sesudah premi dibayar menurut jangka waktunya. Apabila
pembatalan sebelum premi dibayar, tidak ada masalah. Akan tetapi, apabila pembatalan setelah
premi dibayar sekali atau beberapa kali pembayaran (secara bulanan), Karena asuransi jiwa
didasarkan pada perjanjian, maka penyelesaiannya bergantung juga pada kesepakatan pihakpihak yang dicantumkan dalam polis.
BAB III
KESIMPULAN

Asuransi terdiri dari tiga kategori, yaitu:


1. Asuransi Kerugian
2. Asuransi Jiwa
3. Asuransi Sosial

Kapan terjadinya Perjanjian Asuransi


Perjanjian asuransi yang dibuat oleh tertanggung dan penanggung itu terjadi dan mengikat kedua
pihak, dari sudut pandang ilmu hukum terdapat 2 (dua) teori perjanjian tersebut:
1. Teori tawar-menawar (bargaining thoery). Menurut teori ini, setiap perjanjian
hanya akan terjadi antara kedua belah pihak apabila penawaran (offer) dari
pihak yang satu dihadapkan dengan penerimaan (acceptance) oleh pihak
yang lainnya dan sebaliknya. Keunggulan toeri tawar-menawar adalah
kepastian hukum yang diciptakan berdasarkan kesepakatan yang dicapai
oleh kedua pihak dalam asuransi antara tertanggung dan penanggung.
2. Teori penerimaan (acceptance theory). Dalam hukum Belanda, teori ini
disebut ontvangst theorie mengenai saat kapan perjanjian asuransi terjadi
dan mengikat tertanggung dan penanggung, tidak ada ketentuan umum
dalam undang-undang perasuransian, yang ada hanya persetujuan kehendak
antara pihak-pihak (pasal 1320 KUH Perdata). Menurut teori penerimaan,
perjanjian asuransi terjadi dan mengikat pihak-pihak pada saat penawaran
sungguh-sungguh diterima oleh tertanggung. Atas nota persetujuan ini
kemudian dibuatkan akta perjanjian asuransi oleh penanggung yang disebut
polis asuransi.
1. 3.

Berakhirnya Asuransi

Ada empat hal yang menyebabkan Perjanjian asuransi berakhir, antara lain sebagai
berikut:
:
1. Karena Terjadi Evenemen
2. Karena Jangka Waktu Berakhir
3. Karena Asuransi Gugur
4. Karena Asuransi Dibatalkan
Perjanjian asuransi yang telah terjadi harus dibuat secara tertulis dalam bentuk akta yang disebut
polis (pasal 255 KUHD). Polis ini merupakan satu-satunya alat bukti tertulis untuk membuktikan
bahwa asuransi telah terjadi.
https://jhohandewangga.wordpress.com/2012/02/27/makalahtentang-asuransi/

Makalah Asuransi Syariah


BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG PENULISAN
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini membuat manusia tampak mengalami
kemajuan dalam hidup dan kehidupan ekonomi yang serba canggih dan modern di dunia.
Namun, bila menelusuri lebih detail, sebenarnya bagian mana di belahan dunia ini yang dan
berubah dari suasana serba sederhana menjadi berkecukupan dan modern ? Tampaknya,
kemajuan yang selama ini di anggap maju ternyata masih mengalami kemunduran. Hal tersebut
ditandai dengan pertumbuhan ekonomi yang tidak merata dinikmati oleh setiap warga Negara.
Negara Eropa dan Amerika misalnya mendikte Negara Asia terutama Timur Tengah untuk
menerapkan ekonomi konvensional yang berbasis bunga. Hampir semua hukum keperdataan
diwarnai oleh system konvensional yang berbasis bunga termasuk penerapan asuransi
konensional yang telah menciptakan keresahan dan ketidakadilan kepada nasabahnya. Mudahmudahan visi dan misi asuransi syariah yang tidak berbasis pada bunga dan dapat mengubah
rintangan-rintangan yang selama ini membungkus umat manusia dalam hidup ketidakwajaran
dan kecurangan.
Pengkajian pada pokok bahasan ini, penulis akan memaparkan beberapa poin berkenaan asuransi
syariah dan asuransi konvensional sebagai suatu perbandingan, terutama yang berkaitan
keunggulan asuransi syariah bila dibandingkan dengan asuransi konvensional yang selama ini
menjadi acuan hidup dalam hukum perasuransian di Indonesia. Demikian pula penulis akan
mambahas konsep, sumber hukum, akad perjanjian, pengelolaan dana, dan keuntungan.
BAB II
PEMBAHASAN
1. PENGERTIAN
Kata asuransi banyak berasal dari bahasa-bahasa asing diantaranya adalah[1]:
Bahasa Belanda assurantie, yang berarti pertangungan,
Bahasa Italia insurensi, yang berarti jaminan
Bahasa Inggris assurance, yang berarti jaminan
Bahasa Arab At-tamin, yang berarti perlindungan, ketenangan, rasa aman dan bebas dari
rasa takut.
Dari segi bahasa menurut:

Wirjono berarti sebuah persetujuan pihak, yang menjamin berjanji kepada pihak yang
dijamin atas kerugian yang mungkin akan diderita oleh yang dijamin karena akibat dari
sebuah peristiwa yang belum jelas terjadi.[2]

Abbas Salim berarti suatu kemauan untuk menetapkan kerugian-kerugian kecil (sedikit)
yang sudah pasti sebagai (substitusi) kerugian-kerugian yang belum pasti.

Syeikh Musthafa az-Zarqa berarti cara dalam menghindari risiko yang akan dihadapinya.

Ensiklopedi Hukum Islam berarti transaksi perjanjian antara dua pihak; pihak pertama
berkewajiban untuk membayar iuran dan pihak lain berkewajiban memberikan jaminan
sepenuhnya kepada pembayar iuran.

UU No. 2 thn 1992 pasal 1 berarti perjanjian antara dua pihak atau lebih dimana pihak
penangung mengikatkan diri kepada tertanggung dengan menerima premi asuransi untuk
memberikan pergantian kepada tertanggung karena suatu kerugian, kerusakan dan lain
sebagainya.

Faturrahman Djamil berarti suatu persetujuan dimana pihak yang menanggung berjanji
terhadap pihak yang ditanggung untuk menerima sejumlah premi mengganti kerugian
yang mungkin akan diderita oleh pihak yang ditanggung, sebagai akibat dari suatu hal
yang mungkin akan terjadi.

Setelah memperhatikan beberapa definisi asuransi diatas, baik dari segi bahasa ataupun istilah,
dapat disimpulkan bahwa dalam suatu perjanjian asuransi minimal terlibat pihak pertama yang
sanggup menanggung atau menjamin bahwa pihak lain mendapatkan pergantian dari suatu
kerugian yang mungkin akan di derita sebagai akibat dari suatu peristiwa yang semula belum
tentu terjadi atau belum di tentukan saat akan terjadinya.
Adapun uang yang telah dibayarkan oleh pihak tertanggung akan tetap menjadi milik pihak yang
menaggung apabila peristiwa yang dimaksud tidak terjadi.
Dalam Asuransi paling tidak ada tiga unsure yang terlibat. Pertama,pihak tertanggung yang
berjanji membayarkan uang premi kepada pihak penangung secara sekaligus atau secara angsur.
Kedua, pihak pihak penanggung yang berjanji akan membayar sejumlah uang kepada pihak
tertanggung secara sekaligus atau secara angsur apabila ada unsure ketiga. Ketiga, suatu
peristiwa yang belum jelas terjadi.
2. SEJARAH BERDIRINYA ASURANSI SYARIAH
Munculnya asuransi syariah di dunia islam di dasarkan adanya anggapan yang menyatakan
bahwa asuransi yang ada selama ini, yaitu asuransi konvensional banyak mengandung unsur :
gharar, maisir, riba[3].
a. Gharar (ketidakjelasan)
Gharar itu terjadi pada asuransi konvensional, dikarenakan tidak adanya batas waktu pembayaran
premi yang didasarkan atas usia tertanggung. Jika baru sekali seorang tertanggung membayar

premi ditakirkan meninggal, perusahaan asuransi akan rugi sementara pihak tertanggung merasa
untung secara materi. Jika tertanggung dipanjangkan usianya, perusahaan asuransi akan untung
dan pihak tertaggung merasarugi secara financial[4].
b. Maisir (judi)
Unsur maisir dalam asuransi konvensional karena adanya unsur gharar, terutama dalamkasus
asuransi jiwa. Apabila pemegang polis asuransi jiwa meninggal dunia sebelum periode akhir
polis asuransinya dan telah membayar preminya sebagian, maka ahli waris akn menerima
sejumlah uang tertentu. Pemegang polis tidak mengetahui bagaimana dan darimana cara
perusahaan asuransi konvensional membayarkan uang pertanggungannya. Hal ini dipandang
karena keuntungan yang diperoleh berasal dari keberanian mengambil resiko oleh persahaan
yang bersangkutan. Yang disebut maisir disinijika perusahaan asuransi mengandalkan banyak
sedikitnya klaim yang dibayarkannya[5].
c. Riba
Dalam hal riba semua asuransi konvensional menginvestasikan semua dananya dengan bunga,
yang berarti selalu melibatkan diri dalam riba. Hal demikian juga dilakukan saat perhitungan
kepada peserta, dilakukan dengan menghitung keuntungan didepan.
Pernyataan yang serupa telah jauh-jauh di kumandangkan di Malaysia. Jawatan kuasa kecil
malaysia menyatakan dalam kertas kerjanya yang berjudul Ke arah Insurance secara Islami di
Malaysia. Bahwa asuransi masa kini mengikuti cara pengelolaan dari Barat dan sebagian
operasinya tidak sesuai dengan ajaran islam[6]. Atas landasan itulah kemudian dirumuskan
bentuk asuransi yang terhindar dari ktiga unsur yang diharamkan islam itu.
Selanjutnya, pada dekadetahun 70-an, di beberapa Negara islam atau di Negara-negara yang
mayoritas berpenduduk Muslim, mulai bermunculan asuransi yang prinsip opersionalnya
mengacu pada nilai-nilai islam dan terhindar dari unsur-unsur yang diharamkan.
Pada tahun 1979, Islamic Insurance Co. Ltd berdiri di Sudan, Islamic Insurance Co. Ltd di Arab
Saudi. Pada tahun 1983, berdiri Dar al-mal al-Islami di Genewa dan Takaful Islam di
Luxumburg, Takaful Islam Bahamas di Bahamas, dan at-Takaful al-Islami di Bahrian. Adapun di
Negara tetangga yang paling dekat dengan Indonesia, yakni Malaysia, telah berdiri Syarikat
Takaful Sendirian Berhad pada tahun 1984.
Sedangkan di Indonesia, asuransi Takaful baru muncul pada tahun 1994 seiring dengan
diresmikannya PT. Asuransi Takaful Keluarga dan PT. Asuransi Takaful umum pada tahun 1995.
Gagasan untuk mendirikan asuransi islam di Indonesia sebenarnya telah muncul sejak lama, dan
pemikiran tersebut lebih menguat pada saat diresmikannya Bank Muamalat Indonesia pada tahun
1991.
3. PANDANGAN ULAMA MENGENAI ASURANSI SYARIAH

Tujuan asuransi sangatlah mulia, karena bertujuan untuk tolong-menolong dalam kebaikan.
Namun persoalan yang dipertikaikan lebih lanjut oleh para Ulama adalah bagaimana instrumen
yang akan mewujudkan niat baik dari asuransi tersebut; baik itu bentuk akad yang melandasinya,
sistem pengelolaan dana, bentuk manajemen dan lain sebagainya
Dari permasalahan instrumen pendukung inilah para Ulama terbagi kepada 2 kelompok besar
[7]:
Kedua kelompok dimaksud, masing-masing mempunyai dasar hukum dan memberikan alasanalasan hukum sebagai penguat terhadap argument atau pendapat yang disampaikannya.
Disamping itu, ada yang berpendapat membolehkan asuransi yang bersifat social (ijtimai) dan
mengharamkan asuransi yang bersifat komersial (tijari) serta ada pula yang meragukannya
(syubhat).
Kelompok yang mengharamkan asuransi syariah :

Ibnu Abidin, Ulama madzhab Hanafi berpendapat bahwa asuransi adalah haram, karena
uang setoran peserta (premi) tersebut adalah iltizam ma lam yalzam (mewajibkan sesuatu
yang tidak lazim / wajib)

Muhammad Bakhit al-muthii (mufti Mesir) mengatakan bahwa akad asuransi yang
menjamin atas harta benda pada hakikatnya termasuk dalam kafalah atau taaddi / itlaf.

Muhammad al-Ghazali mengatakan bahwa asuransi adalah haram karena mengandung


riba. Beliau melihat riba tersebut dalam pengelolaan dana asuransi dan pengembalian
premi yang disertai bunga ketika waktu perjanjian telah habis.

Menurut Warkum Sumitro pengharaman asuransi berdasarkan atas 5 alasan[8]:


1. Asuransi mengandung unsur perjudian yang dilarang dalam islam.
2. Asuransi mengandung unsur riba yang dilarang dalam islam.
3. Asuransi termasuk jual beli atau tukat-menukar mata uang tidak secara tunai.
4. Asuransi objek bisnisnya tergantung pada hidup dan matinya seseorang,yang berarti
mendahului takdir Allah SWT.
5. Asuransi mengandung eksploitasi yang bersifat menekan.
Menurut Mahdi Hasan pelarangan praktik asuransi berdasarkan atas 4 alasan[9]:
1. Asuransi tak lain adalah riba berdasarkan kenyataan bahwa tidak ada kesetaraan antara
kedua pihak yang terlibat, padahal kesetaraan demikian wajib adanya.
2. Asuransi juga merupakan perjudian, karena ada penggantungan kepemilikan pada
munculnya resiko.

3. Asuransi adalah pertolongan dalam dosa, karenaperusahaan asuransi meskipun milik


Negara, tetap merupakan institusi yang mengadakan transaksi dengan riba.
4. Dalam asuransi jiwa juga terdapat unsure risywah, karena kompensasi di dalamnya
adalah sesuatu yang tidak dapat dinilai.
Kelompok yang membolehkan asuransi syariah :
Antara lain dikemukakan oleh Ibnu Abidin, Wahab Khalaf, Mustafa Ahmad Zarqa (guru besar
Universitas Syirya), Syaikh Abdurrahman Isa (guru besar Universitas al-azhar Mesir), Prof. Dr.
Muhammad Yusuf Musa (guru besar Universitas Kairo), Syaikh Abdul Khalaf, dan Prof. Dr.
Muhammad al-Bahi,
Pada dasarnya, mereka mengakui bahwa asuransi merupakan suatu bentuk muamalat yang baru
dalam islam dan memiliki manfaat serta nilai positif bagi ummat selama di landasi oleh praktikpraktik yang sesuai dengan nilai-nilai islam.
Argumentasi yang mereka pakai dalam membolehkan asuransi menurut Faturrahman Djamil
adalah sebagai berikut[10]:
1. Tidak terdapat nash Alquran atau hadits yang melarang asuransi.
2. Dalam asuransi terdapat kesepakatan dan kerelaan antara kedua belah pihak.
3. Asuransi menguntungkan kedua belah pihak
4. Asuransi mengandung kepentingan umum, sebab premi-premi yang terkumpul dapat di
investasikan dalam kegiatan pembangunan.
5. Asuransi termasuk akad mudharabah antara pemegang polis dengan perusahaan asuransi.
6. Asuransi termasuk usaha bersama yang di dasarkan pada prinsip tolong-menolong.
Dalam Islam,asuransi haruslah bertujuan kepada konsep tolong menolong dalam kebaikan dan
ketakwaan.
4. MODEL DAN KARAKTERISTIK ASURANSI SYARIAH
Asuransi syariah memiliki landasan filosofi yang berbeda dengan asuransi konvensional, yaitu
mencari ridha Allah untuk kebaikan dunia dan akhirat. Asuransi syariah memiliki karakteristik
tertentu. Karakteristik itu pada gilirannya bisa membedakan dirinya dengan asuransi
konvensional.
Di antara karakteristik tersebut adalah sebagai berikut:
Pertama : akad yang dilakukan adalah akad at-Takafuli.
Kedua : selain tabungan, peserta juga dibuatkan tabungan derma.
Ketiga : merealisir prinsip bagi hasil.

Dalam asuransi konvensional hanya mempunyai tujuan yang semata-mata mencari keuntungan;
dan bukan di dasari oleh rasa tolong-menolong antarsesama. Pada asuransi konvensional, akad
perjanjian yang mendasarinya adalah akad jual-beli (tabaduli).
Karnaen A Perwaatmadja mengemukakan 4 ciri-ciri asuransi syariah[11] :
1. Dana asuransi diperoleh dari pemodal dan peserta asuransi didasarkan atas niat dan
persaudaraan untuk saling membantu pada waktu yang diperlukan.
2. Tata cara pengelolaan tidak terlibat dari unsur-unsur yang bertentangan dengan syariat islam.
3. Jenis asuransi Takaful terdiri dari Takaful Keluarga yang memberikan perlindungan kepada
peserta.
4. Terdapat dewan Pengawas Syariah (DPS) yang bertugas untuk mengawasi operasional
perusahaan agar tidak menyimpang dari tuntunan syariat islam.
Model asuransi syariah[12] :
1. Non-Profit Model biasanya dipakai oleh perusahaan sosial milik Negara atau organisasi yang
dikelola secara non-profit (nirlaba). Model inilah yang sesungguhnya paling mendekati konsep
dasar asuransi syariah karena selaras dengan kaidah-kaidah berikut : saling bertanggung jawab,
saling bekerja sama, dan saling melindungi
2. Al-Mudharabah model, secara teknis, al-Mudharabah adalah akad kerja sama usaha antara dua
pihak dimana pihak pertama menyediakan 100% modal sedangkan pihak lainnya menjadi
pengelola. Disini terjadi pembagian untung rugi diantara anggota (shahibul mal) dan pihak
pengelola / perusahaan asuransi (mudharib).
3. Wakalah, berbeda dengan akad mudharabah, dibawah akad wakalah, Takaful berfungsi sebagai
wakil peserta dimana dalam menjalankan fungsinya (sebagai wakil), Takaful berhak
mendapatkan biaya jasa (fee) dalam mengelola keuangan mereka.
Ciri-ciri asuransi syariah dalam opersionalnya antara lain :
Menghindari Riba
Menghindari unsur judi
Menghindari unsur penipuan (gharar)
Asuransi syariah, di samping memiliki karakeristik yang melekat pada konsepnya (built in
concept), juga lebih berorientasi untuk :
Tolong-menolong dan bekerja sama
Saling menjaga keselamatan dan keamanan
Saling bertanggung jawab
5. LANDASAN HUKUM ASURANSI SYARIAH

Secara structural, landasan operasional asuransi syariah di Indonesia masih menginduk pada
peraturan yang mengatur usaha perasuransian secara umum (konvensional). Baru ada peraturan
yang secara tegas menjelaskan asuransi syariah pada Surat Keputusan Direktur jendral Lembaga
Keuangan No. Kep. 4499/LK/2000 tentang Jenis, Penilaian dan Pembatasan Investasi
Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi dengan Sistem Syariah.
6. POLIS ASURANSI
Dalam setiap perjanjian, perlu dibuat bukti tertulis atau bermaterai tempel sebagaimana diatur
dalam aturan bea materai antara pihak-pihak yang mengadakan perjanjian. Bukti tertulis untuk
perjanjian asuransi tersebut disebut polis.
Di dalam polis memuat :
1. Nomor polis,
2. Nama dan alamat tertanggung,
3. Uraian risiko,
4. Jumlah pertanggungan,
5. Jangka waktu pertanggungan,
6. Besar premi dan bea materai,
7. Bahaya-bahaya yang dijaminkan,
8. Khusus untuk polis kendaraan bermotor ditambah dengan nomor polis, nomor rangka (chasis)
dan nomor mesin kendaraan.
Fungsi polis bagi tertanggung adalah sebagai berikut :
a. Sebagai bukti tertulis atas jaminan yang diberikan penanggung jika terjadi peristiwa yang
menyebabkan kerugian yang mungkin diderita tertanggung.
b. Sebagai bukti yang kuat (otentik) untuk menuntut penanggung.
Fungsi polis bagi penanggung, yaitu :
a. Merupakan bukti atau tanda terima premi asuransi dari tertanggung.
b. Merupakan bukti tertulis atas jaminan yang diberika oleh penangung kepada tertanggung jika
terjadi suatu peristiwa yang merugikan tertanggung.
c. Merupakan bukti yang kuat (otentik) untuk menolak klaim atau tuntutan bila terjadi suatu
peristiwa yang menyebabkan kerugian yang tidak memenuhi syarat-syarat yang tercantum di
dalam polis.
7. PENGELOLAAN PREMI ASURANSI

Premi asuransi adalah sejumlah dana yang disetor tertanggung kepada penanggung, di mana jika
premi belum dibayar (lunas), maka penanggung belum terikat dalam transaksi untuk membayar
ganti rugi jika timbul risiko.
Pengelolaan dana dalam asuransi syariah adalah seluruh premi yang dibayar peserta dimasukkan
ke dalam rekening derma, yaitu rekening yang digunakan untuk membayar klaim kepada
peserta.
Mekanisme pengelolaan dana peserta (premi) dalam asuransi syariah terbagi menjadi 2 sistem,
yaitu sistem yang mengandung unsur tabungan dan yang tidak mengandung unsur tabungan,
perbedaannya terletak pada alokasi dana peserta.
Pada sistem yang mengandung unsur tabungan, premi yang diterima setelah dikurangi biaya
pengelolaan sebagian akan dialokasikan ke rekening tabungan dan sebagian lagi akan masuk ke
rekening khusus / premi risiko.
Sementara itu, pada sistem yang tidak mengandung unsur tabungan, premi yang diterima dari
peserta dikurangi biaya pengelolaan seluruhnya dimasukkan ke dalam rekening khusus.
BAB III
PEMBAHASAN KHUSUS
A. Pengertian Asuransi Syariah
Pengertian asuransi syariah telah diungkapkan pada awal tulisan ini, namun tidak ada salahnya
untuk mengemukakan sepintas dalam hal membandingkan dengan asuransi komvensional.
Asuransi syariah, mempunyai 3 pengertian seperti yang telah dikemukakan, diantaranya attamin. Muammin adalah penangung dan mun-tamin diartikan tertanggung. Di dalam AlQuran dikatakan dalam Surat Quraisy ayat :4
Artinya:
Yang Telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan
mereka dari ketakutan.
Ada kata aman dari rasa takut, memberi rasa aman. Jadi istilah at-tamin, yaitu antara
mentaminkan sesuatu yang berarti seseorang membayar atau menyerahkan uang cicilan agar ia
atau ahli warisnya mendapatkan sejumlah uang sebagaimana yang telah disepakati, atau untuk
mendapatkan ganti terhadap hartanya yang hilang, sehingga dapat dikatakan bahwa seseorang
mempertanggungkan atau mengasuransikan hidupnya, rumahnya atau kendaraannya.
Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI) mengeluarkan fatwa tentang
pedoman umum asuransi syariah. Menurutnya, asuransi syariah adalah usaha saling melindungi
dan tolong-menolong diantara sejumlah orang atau pihak melalui investasi dalam bentuk asset

atau tabarru yang memberikan pengembalian untuk menghadapi risiko tertentu melalui akad
yang sesuai dengan syariah.
B. Pengertian Asuransi konvensional
Pengertian asuransi konvensional secara bahasa adalah pertanggungan. Istilah pertanggungan
di kalangan orang Belanda disebut verzekering. Hal dimaksud melahirkan istilah assuradeur ,
assurantie bagi penaggung dan geassureeder bagi tertanggung.
Selain itu, ada definisi yang mengungkapkan bahwa sebenarnya assuransi itu merupakan alat
atau institusi belaka yang bertujuan untuk mengurangi resiko dengan mengabungkan sejumlah
unit-unit yang beresiko agar kerugian individu secara olektif dapat diprediksi. Kerugian yang
dapat diprediksi terebut kemudian dibagi dan didistribusikan secara proporsional diantara semua
unit-unit dalam gabungan tersebut.
Di dalam UU RI Nomor 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian meupakan petanggungan
yang di dalamnya ada perjanjian antara 2 pihak atau lebih, yaiut pihak penanggung mengikatkan
diri kepada tettanggung, dengan menerima premi asuransi,untuk memberikan penggantian
kepada tertanggung karenakerugian, kerusakan, atau kehilangan keuntungan yang diharapkan.
2. Pebedaan Mengenai Sumber Hukum
A. Sumber Hukum Asuransi Syariah
Sumber hukum asuransi syariah adalah Al-Quran, sunnah, ijma, qiyas, dan fatwa DSN MUI.
Karena itu modus operandi asuransi syariah selalu sejalan dengan prinsip-prinsip syariah. Dalam
menetapkan prinsip-prinsip, praktik, dan operasional dari asuransi syariah,parameter yang
senantiasa menjadi rujukan adalah syariah islam yang bersumber dari Al-Quran, hadits, dan fiqh
islam. Karena itu, asuransi syariah mendasarkan diri pada prinsip kejelasan dan kepastian,
sehingga kejelasan yang meyakinkan kepada peserta asuransi dengan akad secara syariah antara
perusahaan dengan peserta asuransi , baik yang akadnya jual beli ataupun tolong-menolong.
B. Sumber Hukum Asuransi Konvensional
Asuransi konvensional mempunyai sumber hukum yang di dasari oleh pikiran manusia, falsafah,
dan kebudayaan, sementara modus operandinya didasarkan atas hukum positif . Karena itu tidak
memiliki sumber hukum yang jelas,maka cenderung membuat transaksi yang tidak memiliki
kepastian dan kejelasan kedepan. Seperti halnya dalam akadnya sesuatu yang di akadkan terjadi
cacat secara syariah karena tidak jelas berapa yang akan dibayar oleh peserta asuransi yang
meliputi berapa sesuatu yang akan diperoleh. Tidak diketahui berapa lama seseorang peserta
asuransi harus membayar premi.
3. Perbedaan Mengenai Dewan Pengawas Syariah

A. Dewan Pengawas Asuransi Syariah


Asuransi syariah mempunyai Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang merupakan bagian yang tak
terpisahkan dengan asuransi syariah. DPS mengawasi jalannya oprasional sehari-hari agar selalu
berjalan sesuai dengan prinsip syariah. Artinya, menghindari adanya penyimpangan secara
hukum islam yang dapat merugikan orang lain. Karena itu, DPS berfungsi untuk:
Melakukan pengawasan secara periodic pada Lembaga Keuangan Syariah yang berada
dibawah pengawasannya.
Berkewajiban mengajukan unsure-unsur pengembangan Lembaga Keuangan Syariah kepada
pemimpin lembaga yang bersangkutan dan dari Dewan Syariah Nasional.
Melaporkan Perkembangan produk dan operasional lembaga keuangan syariah yang
mengawasinya kepada DSN sekurang-kurangnya 2 kali dalam setahun anggaran.
Merumuskan permasalahan yang memerlukan pembahasan-pembahasan DSN.
B. Asuransi Konvensional
Asuransi konvensional tidak mempunyai dewan pengawaas dalam melaksanakan perencanaan,
proses, dan praktiknya. Asuransi konvensional tidak memiliki sebuah wadah control yang
independen yang tugasnya mengawasi perjalanan asuransi teersebut sehingga mudah timbul
penyimpangan-penyimpangan, baik penyimpangan administrasi maupun penyimpangan hukum
secara syari.
4. Perbedaan Mengenai Akad Perjanjian
A. Asuransi Syariah
Asuransi syariah mempunyai akad yang di dalamnya dikenal dengan istilah tabarruyang
bertujuan kebaikan untuk menolong diantara sesame manusia, bukan semata-mata untuk
komersial dan akad tijarah. Akad tijarah adalah akad atau transaksi yang bertujuan komersial,
misalnya akad mudharabah, wadiah,wakalah, dan sebagainya. Dalam bentuk akad tabarru
mutabari mewujudkan usaha untuk membantu seseorang dan hal ini di anjurkan oleh syariat
islam, penderma yang ikhlas akan mendapatkan ganjaran pahala yang besar.
Selain itu, akad transaksi asuransi syariah mengandung kepastian dan kejelasan sehingga peserta
asuransi menerima polis asuransi sesuai dengan apa yang dibayarkan (yang masuk ke rekening
peserta) ditambah dengan dana tabarru dari setiap peserta asuransi. Karena itu, setiap peserta
asuransi yang mendapat musibah atau kerugian akan menerima bantuan dalam bentuk ganti rugi
terhadap musibah yang dihadapinya. Bantuan dimaksud bersumber dari dana akad tabarru.
B. Asuransi Konvensional

Akad pada asuransi konvensional adalah pihak perusahaan asuransi dengan pihak peserta
asuransi melakukan akad mufawadhah, yaitu masing-masing dari kedua belah pihak yang
berakad di satu pihak sebagai penaggung dan di pihak lainnya sebagai tertanggung. Pihak
penaggung memperoleh premi-premi asuransi sebagai pengganti dari uang pertanggungan yang
telah dijanjikan pembayarannya. Sedangkan tertangung ,memperoleh uang pertanggungan jika
terjadi peristiwa atau bencana sebagai pengganti dari premi-premi yang dibayarkannya.
Sistem kontrak dimaksud, mengandung unsure untung-untungan, yaitu keuntunganyang
diperoleh tergantung bila terjadi musibah dan si penaggung mendapat keuntungan bila tidak
terjadi musibah da dipandang sebagai hasil dari mengambil resiko, bahkan sebagai hasil kerja
yang nihil.
5. Perbedaan Mengenai Kepemilikan dan Pengelolaan Dana
A. Asuransi syariah
Asuransi syariah menganut system kepemilikan bersama. Hal itu berarti dana yang terkumpul
dari setiap peserta asuransi dalam bentuk iuran atau kontribusi merupakan milik peserta
( Shohibul Mal). Pihak perusahaan asuransi syariah hanya sebagai penyangga aman dalam
pengelolaannya. Dana tersebut, kecuali tabarrudapat diambil kapan saja dan tanpa dibebani
bunga. Di sinilah letak pebedaan mendasar pada life insurance apabila seorang peserta
karenakebutuhan yang sangat mendesak boleh mengambil sebagian dari akumulasi dananya yang
ada. Selain itu, perlu diungkapkan bahwa pengelolaannaya untuk produk-produk yang
mengandung unsure saving (tabungan), dana yag dibayarkan oleh peserta langsung dibagi dalam
2 rekening, yaitu rekening peserta dan rekening tabarru.
B. Asuransi Konvensional
Kepemilikan harta dalam asuransi konvensional adalah milik perusahaan, bebas mengunakan
dan menginvestasikan pengelolaanya, bersifat tidak ada pemisahan dana peserta dengan dana
tabarru sehingga semua dana bercampur menjadi satu dan status hak kepemilikan dana
dimaksud adalah dana perusahaan, sehingga bebas mengelola dan menginvestasikan yanpa ada
pembatasan halal dan haram dalam melakukan pemindahan, bahkan ada kecendrungan yang
selalu di praktikkan dalam asuransi konvensional untuk menginvstasikan dananya ke system
bunga. Selain itu, dana yang terkumpul pada system asuransi konvensional dikelola oleh badan
pengelola dan keuntungannya hanya untuk kepentingan badan pengelola dan membayar polis
peserta, pengelola menganngap mempunyai pertambahan keuntungan sebagai usaha yang
dikelolanya.
6. Perbedaan Mengenai Premi dan Sumber Pembiayaan Klaim
A. Asuransi Syariah

Unsur-unsur premipada asuransi syariah terdiri dari unsure tabarru dan tabungan (untuk asuransi
jiwa). Selain itu, sumber pembayaran klaim diperoleh dari rekening tabarru, yaitu rekening dana
tolong-menolong bagi seluruh peserta, yang sejak awal sudah diakadkan dengan ikhlas oleh
setiap peserta untuk keperluan saudara-saudaranya yang meninggal dunia atau tertimpa musibah
materi seperti, kebakaran, gempa, banjir dan lain-lain. Selain itu, sumber pembiayaan kalim
dalam asuransi syariah adalah dari rekening perusahaan murni bisnis dan tertentu diperuntukkan
sebagai dana tolong-menolong.
B. Asuransi Konvensional
Dalam asuransi konvensional unsure-unsur preminya terdiri atas:
Mortality table yaitu daftar tabel kematian berguna untuk mengetahui besarnya klaim yang
kemungkinan timbul kerugian yang di karenakan kematian, serta meramalkan berapa lama batas
umur seseorang bisa hidup.
Penerimaan Bunga untuk menetapkan tarif, perhitungan bunga harus dikalkulasi di dalamnya.
Biaya-biaya asuransi terdiri dari biaya komisi, biaya luar dinas, biaya reklame, sale promotion,
biaya pembuatan polis, dan biaya pemeliharaan
7. Perbedaan Mengenai Investasi Dana dan Keuntungan
A. Asuransi Syariah
Asuransi dalam menginvestasikan dananyanhanya kepada bank syariah, BPRS (Bank
Perkreditan Rakyat Syariah), Obligasi syariah, dan kegiatan lainnya yang sesuai dengan prinsipprinsip syariah. Sementara profit (laba) untukasuransi kerugian yang di peroleh dari surplus
underwriting bukan menjadi milik perusahaan sebagaimana mekanisme dalam asuransi
konvensional.
Berinvestasi pada industry perusahaan asuransi syariah, memiliki keunggulan yang member
semangat pada pesertanya. Sebab, system dimaksud tidak mengenal system dana hangus. Peserta
yang baru masuk pun yang karena sesuatudan lan hal sehingga mengundurkan diri maka
dana/premi yang sebelumnya dimasukkan dapat diambil kembali kecuali sebagian kecil saja
dana yang sudah diniatkan untuk dana tabarru sehingga tidak dapat ditarik kembali. Begitu juga
dengan asuransi takaful umum (asuransi kerugian), jika habis masa kontrak dan tidak terjadi
klaim, maka takaful membagikan sebagian dana premi tersebut dengan pola bagi hasil 60:40 atau
70:30 sesuai kesepakatan ketika terjadi di akad.
B. Asuransi Konvensional.
Menurut peraturan pemerintah, investasi wajib dilakukan oleh asuransi konvensional pada jenis
investasi yang akan menguntungkan serta memiliki likuiditas yang sesuai dengan kewajiban

yang harus dipenuhi oleh perusahaan. Selain itu, harus memperhatikan ketentuan investasi yang
tertuang dalam keputusan Menteri Keuangan RI No. 424/KMK.6/2003. Sedangkan keuntungan
yang diperoleh dari surplus underwriting menjadi milik perusahaan yang telah terdahulu.
Didalam system asuransi konvensional memiliki system dana hangus, yaitu peserta asuransi yang
tidak dapat melanjutkan pembayaran premi dan ingin mengundurkan diri sebelum akhir periode,
maka dana peserta itu hangus. Begitu juga untuk asuransi non saving jika habis masa kontrak dan
tidak terjadi klaim, maka premi yang dibayar oleh pihak peserta asuransi kepada pihak
perusahaan akan hangus atau menjadi milik perusahaan asuransi.
2. PERKEMBANGAN ASURANSI SYARIAH
Menurut penulis asuransi syariah kini, banyak di buru masyrakat dan telah semakin di nikmati ,
ini bisa dilihat dari respons masyarakat yang berbondong-bondong menjadi nasabah asuransi
syariah. Kini nyaris semua perusahaan asuransi membentuk unit syariah. Bahkan asuransi asing
juga ikut membuka unit syariah. Ini dikarenakan asuransi syariah mempunyai keunggulan bila
dibandingkan dengan asuransi konvensional. Perbedaan dan keunggulannya terdapat pada
prosedur penyimpanan dana, operasional dana asuransi,dan akadnya. Asuransi syariah sudah
didirikan sejak 10 tahun yang lalu, dan hampir setiap tahunnya selalu mengalami peningkatan.
PT. Asuransi Syariah Takaful menunjukan perkembangan yang cukup pesat, termasuk di wilayah
Indonesia Timur, dari segi premi nasabah yang masuk di asuransi, menunjukan peningkatan 50%
di Makassar tahun 2006[15]. Bahkan tahun 2006 juga di targetkan harus meningkat menjadi dua
kali lipat.
Tidak semua dalam Makalah ini yang dicantumkan karena terlalu banyak, jika ingin
mendapatkan secara lengkap dapat Anda download dalam Format DOC di sini
KESIMPULAN
Asuransi syariah disebut juga dengan asuransi taawaun atau tolong-menolong. Oleh karena itu
dapat dikatakan bahwa asuransi taawun prinsip dasarnya adalah dasar syariat yang saling toleran
terhadap sesama manusia untuk menjalin kebersamaan dalam meringankan bencana yang di
alami oleh peserta. Asuransi syariah takaful ada sejak tahun1994, walaupun sekitar 16 tahun
yang lalu berdiri, tetapi perusahaan asuransi tidak kalah dengan asuransi konvensional yang telah
berdiri lebih dahulu. Bisa dilihat perkembangan asuransi syariah dari banyaknya perusahaan
asuransi konvensional yang membuka unit usaha syariah. Dan banyaknya dana premi yang
dihimpun akhir tahun 2007 mencapai10 miliyar. Kini masyarakat telah banyak yang beralih ke
asuransi syariah, bukan karena syariah saat ini sedang naik daun, tetapi karena mereka sudah
mengetahui bahwa yang berdasarkan prinsip syariahlah yang lebih baik. Mengapa syariah
dikatakan lebih baik?? Karena perasuransian yang ada selama ini mengandung unshur gharar,
maisir dan riba, yang mana ketiga unsure itu diharamkan oleh Islam. Keunggulan asuransi
syariah telihat dari segi konsep, sumber hokum, akad perjanjian, pengelolaan dana, dan
keuntungan, bila dibandingkan dengan asuransi konvensional.

DAFTAR PUSTAKA

Rodoni, Ahmad dan Abdul Hamid.2008. Lembaga Keuangan Syariah.Jakarta:Zikrul


Hakim.

Sudarsono,Heri,2008. Bank dan Lembaga Keuangan Syariah.Yogyakarta:Ekonisia

Zainuddin Ali,Prof.2008.Hukum Asuransi Syariah.Jakarta:Sinar Grafik