Anda di halaman 1dari 15

Laporan Pendahuluan Post Laparatomi Peritonitis

A. Konsep Dasar
1. Definisi
Peritonitis adalah inflamasi peritoneum, lapisan membran serosa rongga abdomen
dan meliputi visera (Brunner & Suddarth, 2002).
Peritonitis adalah peradangan peritoneum, suatu membran yang melapisi rongga
abdomen (Corwin, 2009).
Peritonitis adalah peradangan / inflamasi membran peritoneal, yaitu kantong dua
lapis semi permeabel yang berisi kira-kira 1500 ml cairan yang menutupi organ di dalam
rongga abdomen (Monica Ester, 2002).
Salah satu tindakan yang dilakukan pada peritonitis ialah dengan pembedahan yaitu
laparatomy. Laparatomy yaitu pembedahan perut, membuka selaput perut dengan
operasi (Ramali Ahmad, 2000).
Laparotomi adalah pembedahan yang dilakukan pada usus akibat terjadinya
perlekatan usus dan biasanya terjadi pada usus halus, yang mana tujuan prosedur
tindakan pembedahan dengan membuka cavum abdomen adalah untuk eksplorasi (Arif
Mansjoer, 2000).
Ada 4 cara pembedahan laparatomy yaitu;
a. Midline incision
b. Paramedian, yaitu 2,5 cm), panjang (12,5 cm).; sedikit ke tepi dari garis tengah
c. Transverse upper abdomen incision, yaitu ; insisi di bagian atas, misalnya
pembedahan colesistotomy dan splenektomy.
d. Transverse lower 4 cm diabdomen incision, yaitu; insisi melintang di bagian bawah
atas anterior spinal iliaka, misalnya; pada operasi appendictomy.
2. Etiologi
Etiologi sehingga di lakukan laparatomy adalah karena di sebabkan oleh beberapa
hal (Smeltzer, 2001) yaitu;
a. Trauma abdomen (tumpul atau tajam)
Trauma abdomen didefinisikan sebagai kerusakan terhadap struktur yang terletak
diantara diafragma dan pelvis yang diakibatkan oleh luka tumpul atau yang menusuk
(Ignativicus & Workman, 2006). Dibedakan atas 2 jenis yaitu :
Trauma tembus (trauma perut dengan penetrasi kedalam rongga peritonium) yang

disebabkan oleh : luka tusuk, luka tembak.


Trauma tumpul (trauma perut tanpa penetrasi kedalam rongga peritoneum) yang
dapat disebabkan oleh pukulan, benturan, ledakan, deselerasi, kompresi atau sabuk
pengaman (sit-belt).

b. Peritonitis
Peritonitis adalah inflamasi peritoneum lapisan membrane serosa rongga abdomen,
yang diklasifikasikan atas primer, sekunder dan tersier. Peritonitis primer dapat
disebabkan oleh spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hepar kronis.
Peritonitis sekunder disebabkan oleh perforasi appendicitis, perforasi gaster dan
penyakit ulkus duodenale, perforasi kolon (paling sering kolon sigmoid), sementara
proses pembedahan merupakan penyebab peritonitis tersier.
c. Sumbatan pada usus halus dan besar (Obstruksi)
Obstruksi usus dapat didefinisikan sebagai gangguan (apapun penyebabnya) aliran
normal isi usus sepanjang saluran usus. Obstruksi usus biasanya mengenai kolon
sebagai akibat karsinoma dan perkembangannya lambat. Sebagian dasar dari obstruksi
justru mengenai usus halus.
Obstruksi total usus halus merupakan keadaan gawat yang memerlukan diagnosis
dini dan tindakan pembedahan darurat bila penderita ingin tetap hidup. Penyebabnya
dapat berupa perlengketan (lengkung usus menjadi melekat pada area yang sembuh
secara lambat atau pada jaringan parut setelah pembedahan abdomen), Intusepsi
(salah satu bagian dari usus menyusup kedalam bagian lain yang ada dibawahnya
akibat penyempitan lumen usus), Volvulus (usus besar yang mempunyai mesocolon
dapat

terpuntir

sendiri

dengan

demikian

menimbulkan

penyumbatan

dengan

menutupnya gelungan usus yang terjadi amat distensi), hernia (protrusi usus melalui
area yang lemah dalam usus atau dinding dan otot abdomen), dan tumor (tumor yang
ada dalam dinding usus meluas kelumen usus atau tumor diluar usus menyebabkan
tekanan pada dinding usus).
d. Apendisitis mengacu pada radang apendiks
Suatu tambahan seperti kantong yang tak berfungsi terletak pada bagian inferior
dari sekum. Penyebab yang paling umum dari apendisitis adalah obstruksi lumen oleh
fases yang akhirnya merusak suplai aliran darah dan mengikis mukosa menyebabkan
inflamasi.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.

Tumor abdomen
Pancreatitis (inflammation of the pancreas)
Abscesses (a localized area of infection)
Adhesions (bands of scar tissue that form after trauma or surgery)
Diverticulitis (inflammation of sac-like structures in the walls of the intestines)
Intestinal perforation
Ectopic pregnancy (pregnancy occurring outside of the uterus)

3. Manifestasi Klinik
Manifestasi yang biasa timbul pada pasien post laparatomy diantaranya :
Nyeri tekan pada area sekitar insisi pembedahan

Dapat terjadi peningkatan respirasi, tekanan darah, dan nadi.


Kelemahan
Mual, muntah, anoreksia
Konstipasi

4. Komplikasi
a. Syok
Digambarkan sebagai tidak memadainya oksigenasi selular yang disertai dengan
ketidakmampuan untuk mengekspresikan produk metabolisme.
Manifestasi Klinis :
- Pucat
- Kulit dingin dan terasa basah
- Pernafasan cepat
- Sianosis pada bibir, gusi dan lidah
- Nadi cepat, lemah dan bergetar
- Penurunan tekanan nadi
- Tekanan darah rendah dan urine pekat.
b. Hemorrhagi
- Hemoragi primer : terjadi pada waktu pembedahan
- Hemoragi intermediari : beberapa jam setelah pembedahan ketika kenaikan tekanan
darah ke tingkat normalnya melepaskan bekuan yang tersangkut dengan tidak aman
dari pembuluh darah yang tidak terikat
- Hemoragi sekunder : beberapa waktu setelah pembedahan bila ligatur slip karena
pembuluh darah tidak terikat dengan baik atau menjadi terinfeksi atau mengalami
erosi oleh selang drainage.
Manifestasi Klinis Hemorrhagi :
-

Gelisah

Terus bergerak

Merasa haus

Kulit dingin-basah-pucat

Nadi meningkat

Suhu turun

Pernafasan cepat dan dalam

Bibir dan konjungtiva pucat

Pasien melemah

5. Pemeriksaan Diagnostik
Praktik standar pada pembedahan mengharuskan agar beberapa tes laboratorium
(jumlah darah lengkap, analisa air kemih, serologi, analisa darah), elektrokardiogram,
dan penyinaran sinar X pada dada dilakukan pada semua penderita dewasa sebelum
pembedahan dilakukan :
a) Penyinaran dengan sinar X
Penyinaran dengan sinar X pada dada hanya dilakukan kalau pada anamnesa
dan gambaran klinik yang ditemukan mencurigakan.
b) Pemeriksaan lainnya
Elektrokardiogram (EKG), tidak dibutuhkan secara rutin pada orang muda yang
harus menjalani prosedur pembedahan yang tidak berat.
6. Penatalaksanaan Keperawatan
Perawatan pasca pembedahan
a. Tindakan keperawatan post operasi
o

Monitor kesadaran, tanda-tanda vital, CVP, intake dan output

Observasi dan catat sifat darai drain (warna, jumlah) drainage.

Dalam mengatur dan menggerakan posisi pasien harus hati-hati, jangan sampai
drain tercabut.

Perawatan luka operasi secara steril.

b. Makanan
Pada pasien pasca pembedahan biasanya tidak diperkenankan menelan
makanan sesudah pembedahan. makanan yang dianjurkan pada pasien post operasi
adalah makanan tinggi protein dan vitamin C. Protein sangat diperlukan pada proses
penyembuhan luka, sedangkan vitamin C yang mengandung antioksidan membantu
meningkatkan daya tahan tubuh untuk pencegahan infeksi. pembatasan diit yang
dilakukan adalah NPO (nothing peroral).
Biasanya makanan baru diberikan jika:
- Perut tidak kembung
- Peristaltik usus normal
- Flatus positif
- Bowel movement positif
c. Mobilisasi
Biasanya pasien diposisikan untuk berbaring ditempat tidur agar keadaanya
stabil. Biasanya posisi awal adalah terlentang, tapi juga harus tetap dilakukan

perubahan posisi agar tidak terjadi dekubitus. Pasien yang menjalani pembedahan
abdomen dianjurkan untuk melakukan ambulasi dini.
d. Pemenuhan kebutuhan eliminasi
Sistem Perkemihan.
- Kontrol volunter fungsi perkemihan kembali setelah 6 8 jam post anesthesia
inhalasi, IV, spinal.
- retensio urine. Anesthesia, infus IV, manipulasi operasi abdomen bawah (distensi
buli-buli).
- Pencegahan : Inspeksi, Palpasi, Perkusi kaji warna, jumlah urine, out put urineDower catheter < komplikasi ginjal 30 ml / jam
Sistem Gastrointestinal.
- 40 % klien dengan GA selama 24 jam pertama dapatMual muntah menyebabkan
stress dan iritasi luka GI dan dapat meningkatkan TIK pada bedah kepala dan
leher serta TIO meningkat.
- Kaji fungsi gastro intestinal dengan auskultasi suara usus, suara usus (-), distensi
abdomen, tidak flatus.
- Kaji paralitic ileus
- jumlah, warna, konsistensi isi lambung tiap 6 8 jam.
- Insersi NG tube intra operatif mencegah komplikasi post operatif dengan
decompresi dan drainase lambung.
Meningkatkan istirahat.
Memberi kesempatan penyembuhan pada GI trac bawah.
Memonitor perdarahan.
Mencegah obstruksi usus.
Irigasi atau pemberian obat
B. Proses Keperawatan
1. Pengkajian
Pengkajian keperawatan pada klien post laparatomy meliputi :
a) Biodata
Identitas Klien,meliputi : nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan,
alamat, nomor register, tanggal masuk rumah sakit, tanggal pengkajian, diagnosa
medis, tindakan medis.

Identitas Penanggungjawab meliputi : nama, umur, jenis kelamin, agama,


pendidikan, pekerjaan, alamat, hubungan dengan klien, sumber biaya.
b) Lingkup Masalah Keperawatan
Keluhan utama : klien dengan post laparatomy ditemukan adanya keluhan nyeri pada
luka post operasi, mual, muntah, distensi abdomen, badan terasa lemas.
c) Riwayat Kesehatan
1) Riwayat Kesehatan Sekarang. Riwayat kesehatan sekarang ditemukan pada saat
pengkajian yang dijabarkan dari keluhan utama dengan menggunakan teknik PQRST,
yaitu :
- P (Provokatif atau Paliatif), hal-hal yang dapat mengurangi atau memperberat.
Biasanya klien mengeluh nyeri pada daerah luka post operasi. Nyeri bertambah
bila klien bergerak atau batuk dan nyeri berkurang bila klien tidak banyak
bergerak atau beristirahat dan setelah diberi obat.
- Q (Quality dan Quantity), yaitu bagaimana gejala dirasakan nampak atau
terdengar, dan sejauh mana klien merasakan keluhan utamanya. Nyeri dirasakan
seperti ditusuk-tusuk dengan skala 5 (0-10) dan biasanya membuat klien
kesulitan untuk beraktivitas.
- R (Regional/area radiasi), yaitu dimana terasa gejala, apakah menyebar? Nyeri
dirasakan di area luka post operasi, dapat menjalar ke seluruh daerah abdomen.
- S (Severity), yaitu identitas dari keluhan utama apakah sampai mengganggu
aktivitas atau tidak. Biasanya aktivitas klien terganggu karena kelemahan dan
keterbatasan gerak akibat nyeri luka post operasi.
- T (Timing), yaitu kapan mulai munculnya serangan nyeri dan berapa lama nyeri
itu

hilang selama periode akut. Nyeri dapat hilang timbul maupun menetap

sepanjang hari.
2) Riwayat Kesehatan Dahulu
Kaji apakah klien pernah menderita penyakit sebelumnya dan kapan terjadi.
Biasanya klien memiliki riwayat penyakit gastrointestinal.
3) Riwayat kesehatan Keluarga
Kaji apakah ada anggota keluarga yang memiliki penyakit serupa dengan klien,
penyakit turunan maupun penyakit kronis. Mungkin ada anggota keluarga yang
memiliki riwayat penyakit gastrointestinal.
d) Riwayat Psikologi

Biasanya klien mengalami perubahan emosi sebagai dampak dari tindakan


pembedahan seperti cemas.
e) Riwayat Sosial
Kaji hubungan klien dengan keluarga, klien lain, dan tenaga kesehatan. Biasanya
klien tetap dapat berhubungan baik dengan lingkungan sekitar.
f) Riwayat Spiritual
Pandangan klien terhadap penyakitnya, dorongan semangat dan keyakinan klien
akan kesembuhannya dan secara umum klien berdoa untuk kesembuhannya.
Biasanya aktivitas ibadah klien terganggu karena keterbatasan aktivitas akibat
kelemahan dan nyeri luka post operasi.
g) Kebiasaan Sehari-hari
Perbandingan kebiasaan di rumah dan di rumah sakit, apakah terjadi gangguan
atau tidak. Kebiasaan sehari-hari yang perlu dikaji meliputi : makan, minum, eliminasi
Buang Air Besar (BAB) dan Buang Air Kecil (BAK), istirahat tidur, personal hygiene,
dan ketergantungan. Biasanya klien kesulitan melakukan aktivitas, seperti makan dan
minum mengalami penurunan, istirahat tidur sering terganggu, BAB dan BAK
mengalami penurunan, personal hygiene kurang terpenuhi.

2. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan Umum
Kesadaran dapat compos mentis sampai koma tergantung beratnya kondisi
penyakit yang dialami, tanda-tanda vital biasanya normal kecuali bila ada komplikasi
lebih lanjut, badan tampak lemas.
b. Sistem Pernapasan
Terjadi perubahan pola dan frekuensi pernapasanmenjadi lebih cepat akibat nyeri,
penurunan ekspansi paru.
c. Sistem Kardiovaskuler
Mungkin ditemukan adanya perdarahan sampai syok, tanda-tanda kelemahan,
kelelahan yang ditandai dengan pucat, mukosa bibir kering dan pecah-pecah, tekanan
darah dan nadi meningkat.
d. Sistem Pencernaan
Mungkin ditemukan adanya mual, muntah, perut kembung, penurunan bising usus
karena puasa, penurunan berat badan, dan konstipasi.
e. Sistem Perkemihan
Jumlah output urin sedikit karena kehilangan cairan tubuh saat operasi atau karena
adanya muntah. Biasanya terpasang kateter.
f. Sistem Persarafan
Dikaji tingkat kesadaran dengan menggunakan GCS dan dikaji semua fungsi nervus
kranialis. Biasanya tidak ada kelainan pada sistem persarafan.
g. Sistem Penglihatan
Diperiksa kesimetrisan kedua mata, ada tidaknya sekret/lesi, reflek pupil terhadap
cahaya, visus (ketajaman penglihatan). Biasanya tidak ada tanda-tanda penurunan pada
sistem penglihatan.
h. Sistem Pendengaran
Amati keadaan telinga, kesimetrisan, ada tidaknya sekret/lesi, ada tidaknya nyeri
tekan, uji kemampuan pendengaran dengan tes Rinne, Webber, dan Schwabach.
Biasanya tidak ada keluhan pada sistem pendengaran.
i. Sistem Muskuloskeletal
Biasanya ditemukan kelemahan dan keterbatasan gerak akibat nyeri.
j. Sistem Integumen

Adanya luka operasi pada abdomen. Mungkin turgor kulit menurun akibat
kurangnya volume cairan.
k. Sistem Endokrin
Dikaji riwayat dan gejala-gejalayang berhubungan dengan penyakit endokrin,
periksa ada tidaknya pembesaran tiroid dan kelenjar getah bening. Biasanya tidak ada
keluhan pada sistem endokrin.
3. Data Penunjang
Pemeriksaan laboratorium :
- Elektrolit : dapat ditemukan adanya penurunan kadar elektrolit akibat kehilangan
cairan berlebihan
- Hemoglobin :dapat menurun akibat kehilangan darah
- Leukosit : dapat meningkat jika terjadi infeksi
4. Terapi
Biasanya klien post laparotomy mendapatkan terapi analgetik untuk mengurangi nyeri,
antibiotik sebagai anti mikroba, dan antiemetik untuk mengurangi rasa mual.
5. Diagnosa Keperawatan
1) Nyeri akut berhubungan dengan luka post operasi.
2) Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri dan ketidaknyamanan
3) Resiko infeksi berhubungan dengan luka post operasi

Diagnosa : Nyeri akut berhubungan dengan luka post operasi.


Pengertian:
Pengalaman emosional dan sensori tidak menyenangkan yang muncul dari
kerusakan jaringan secara actual atau potensial atau menunjukkan adanya kerusakan
(Association for the Study of Pain) : Serangan mendadak atau perlahan dari intensitas
ringan sampai berat yang dapat diantisipasi atau diprediksi durasi nyeri kurang dari 6 bulan.
Indikator:
Melaporkan kenyamanan fisik
Melaporkan kepuasan terhadap pengawasan nyeri\
Melaporkan kenyamanan psikologis
Melaporkan kepuasan terhadap tingkat kemandirian

Ekspresi puas terhadap pengawasan nyeri


Nursing Intervention Classification (NIC):
Melakukan pengkajian yang komprehensif dari nyeri termasuk local, karakteristik,
serangan/durasi, frekuensi, kualitas, intensitas, atau penyebab dan faktor-faktor
pencetus.
Mengobservasi

tanda-tanda

non

verbal

dari

ketidaknyamanan

terutama

pada

ketidakmampuan berkomunikasi secara efektif.


Memastikan klien mendapatkan perawatan analgesic.
Menggunakan tehnik komunikasi terapeutik dan mengetahui pengalaman nyeri dan
respon klien terhadap nyeri.
Menyediakan

informasi

tentang

nyeri

seperti

: Penyebab,

lamanya

dan

cara mengantisipasi ketidaknyamanan.


Mengontrol faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi respon ketidaknyamanan.
Mengurangi atau menghilangkan factor-faktor pencetus yang dapat meningkatkan nyeri .
Memantau kepuasan klien terhadap management nyeri.
Diagnosa

2: Kerusakan

mobilitas

fisik

berhubungan

dengan

nyeri

dan

ketidaknyaman.
Pengertian: Keterbatasan dalam pergerakan fisik pada bagian tubuh tertentu atau pada satu
atau lebih ekstremitas.
Clien outcomes :
Menunjukkan tingkat mobilitas, ditandai dengan indicator 1-5:
1) Ketergantungan/tidak berpartisipasi
2) Membutuhkan bantuan orang lain dan alat
3) Membutuhkan bantuan orang lain
4) Mandiri dengan pertolongan alat bantu
5) Mandiri penuh
Klien akan menunjukkan penggunaan alat bantu secara benar dengan pengawasan.
Klien akan meminta bantuan untuk aktivitas mobilisasi jika diperlukan.
Klien akan melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari secara mandiri dengan alat bantu
(Sebutkan aktivitas dan alat bantunya) ;
Klien akan menyangga berat badan.

Klien akan berjalan dengan menggunakan langkah-langkah yang benar sejauh


(sebutkan jaraknya).
Klien akan berpindah dari dan ke kursi/kursi roda.
Klien akan menggunakan kursi roda secara efektif.
Nursing Intervention Classification (NIC):
Terapi aktivitas, ambulasi:
Meningkatkan dan membantu berjalan untuk mempertahankan atau memperbaiki fungsi
tubuh volunteer dan autonom selama perawatan serta pemulihan dari sakit atau cedera.
Terapi aktivitas : Mobilitas sendi:
Penggunaan

pergerakan tubuh aktif

atau pasif

untuk mempertahankan atau

memperbaiki fungsi tubuh volunteer dan autonom selama perawatan serta pemulihan
dari sakit atau cidera
Perubahan posisi:
Memindahkan klien atau bagian tubuh untuk memberikan kenyamanan, menurunkan
resiko kerusakan kulit, mendukung integritas kulit, dan meningkatkan penyembuhan.
Diagnosa 3: Resiko infeksi berhubungan dengan luka post operasi.
Pengertian Peningkatan risiko untuk terinvasi oleh organisme pathogen.
Clien outcomes:
Fakor resiko infeksi akan hilang dengan dibuktikan oleh keadekuatan status imun klien,
pengetahuan yang penting : Pengendalian infeksi, dan secara konsisten menunjukkan
perilaku deteksi resiko dan pengendalian resiko.
Klien menunjukkan pengendalian resiko dengan indicator 1-5 (Tidak pernah, jarang,
kadang-kadang, sering, konsisten menunjukkan)
Terbebas dari tanda atau gejala infeksi.
Menunjukkan hygiene pribadi yang adekuat.
Mengindikasikan status gastrointestinal, pernapasan, genitourinaria dan imun dalam
batas normal.
Menggambarkan factor yang menunjang penularan infeksi.
Melaporkan tanda atau gejala infeksi serta mkengikuti prosedur pernapasan dan
pemantauan.
Nursing Intervention Classification (NIC)

Membatasi jumlah pengunjung


Mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan perawatan
Mengajarkan klien teknik mencuci tangan
Menggunakan sabun anti mikrobakteri bila mencuci tangan
Menggunakan sarung tangan steril
Menginstruksikan kepada pengunjung untuk mencuci tangan saat masuk dan keluar dari
ruangan klien
Mempertahankan teknik isolasi
Menyendirikan klien yang terinfeksi

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. (2002). Buku ajar keperawatan medikal bedah, Edisi 8., Jakarta: EGC.
Corwin, Elizabeth J. 2009.Buku Saku PATOFISIOLOGI.Jakarta : EGC
Ester, Monica. 2002. Keperawatan Medikal Bedah Pendekatan Sistem Gastrointestinal. EGC:
Jakarta.
Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga. FKUI. Jakarta
NANDA International. 2012. Nursing Diagnoses : Definitions & Classifications 2012-2014.
Jakarta : EGC
Ramali, Ahmad. 2000. Kamus Kedokteran : Arti & Keterangan Istilah. Jakarta: Agung Seto

LAPORAN PENDAHULUAN
POST LAPARATOMI PERITONITIS

OLEH:
FRANSISCUS QUIRINO PUTRA AFRYARTHA
135070209111003

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG

2015

Anda mungkin juga menyukai