Anda di halaman 1dari 6

KESETIMBANGAN BATAS (LIMIT EQUILIBRIUM METHOD)

SEBAGAI METODE ANALISIS KESTABILAN LERENG


Nashir Idzharul Huda
21100113130090
Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro
Jalan Prof. Soedarto S.H, Tembalang, Semarang
Sari
Longsor merupakan pergerakan massa batuan atau tanah menuruni lereng karena pengaruh
secara langsung dari gaya gravitasi (West, 2010). Longsor terbagi menjadi 4 macam menurut
(Hoek dan Bray, 1981) antara lain longsoran bidang, longsoran baji, longsoran busur dan
longsoran guling. Dalam analisis kestabilan lereng terdapat beberapa metode untuk
mengetahui nilai kestabilan lereng tersebut, salah satunya adalah metode kesetimbangan
batas. Metode ini adalah metode yang membandingkan gaya penggerak dengan gaya penahan
sepanjang bidang gelincir longsoran. Dari hasil perhitungan nilai Fs didapatkan nilai 1,07 dan
dari nilai tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa lereng tersebut termasuk ke dalam kondisi
kritis atau tidak stabil.
Kata kunci : Pergerakan tanah, metode kesetimbangan batas, lereng kritis
PENDAHULUAN
Longsor merupakan pergerakan massa batuan
atau tanah menuruni lereng karena pengaruh secara
langsung dari gaya gravitasi (West, 2010). Lereng
stabil jika gaya penahan lebih besar dari gaya
penggerak longsor. Tipe longsoran berdasarkan
bidang gelincirnya dapat dibedakan menjadi empat
(Hoek dan Bray, 1981), yaitu longsoran bidang,
longsoran baji, longsoran busur, dan longsoran
guling. Longsoran bidang adalah longsoran yang
terjadi jika massa batuan bergerak menuruni lereng
sejajar dengan bidang gelincir. Longsoran baji
adalah longsoran yang terjadi karena perpotongan
dua bidang diskontinuitas sehingga menghasilkan
bentuk membaji. Longsoran busur adalah longsoran
yang terbentuk karena intensitas pelapukan yang
tinggi dan kerapatan bidang diskontinuitas yang
rapat. Longsoran guling adalah longsoran yang
terbentuk akibat arah dari bidang diskontinuitas
yang acak atau tidak teratur.
Terdapat beberapa metode dalam analisis
kestabilan lereng antara lain: analisis kinematika,
analisis balik, dan analisis kesetimbangan batas.
Analisis kinematika merupakan salah satu metode
yang menggunakan parameter orientasi struktur
geologi, orientasi lereng dan sudut geser dalam
batuan.
Analisis
ini
dilakukan
dengan
memproyeksikan parameter-parameter tersebut ke
dalam stereonet ataupun software Dips. Analisis
balik adalah analisis yang dilakukan untuk
mengetahui parameter batuan penyusun lereng,
yaitu c dan , saat lereng dalam keadaan setimbang
atau sesaat sebelum longsor (Hoek dan Bray, 1981).
Metode yang terakhir adalah metode analisis

kesetimbangan batas. Metode ini merupakan


metode analisis kesetimbangan dari massa yang
berpotensi bergerak menuruni lereng dengan
membandingkan gaya penggerak dan gaya penahan
sepanjang bidang gelincir longsoran.
METODOLOGI
Dalam penyusunan paper ini metode yang
digunakan adalah dengan studi pustaka yang
diambil dari internet. Pustaka yang digunakan
berupa paper-paper resmi yang membahas tentang
analisis-analisis pada kestabilan lereng. Selain dari
pustaka tersebut sumber soal diambil dari soal synpraktikum di mana pada soal tersebut ditanyakan
apakah lereng daerah x ini stabil atau tidak. Dari
sumber-sumber tersebut dapat diambil beberapa
permasalahan dan dibahas dalam penyusunan paper
ini.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada analisis kestabilan lereng dengan metode
kesetimbangan
batas,
gaya
penggerak
dibandingkan dengan gaya penahan sepanjang
bidang gelincir longsoran. Perbandingan kedua
gaya tersebut akan menghasilkan Fs. Dari nilai Fs
tersebut terdapat dua kriteria yang ditetapkan
sebagai berikut: jika nilai Fs 1 maka lereng dalam
kondisi tidak stabil, sedangkan Fs > 1 menunjukkan
lereng dalam kondisi stabil (Hoek dan Bray, 1981).
Ketetapan yang kedua, nilai 1 < Fs < 1,2
menunjukkan lereng dalam kondisi kritis dan nilai
Fs 1,2 menunjukkan lereng dalam kondisi aman
(Priest dan Brown,1983). Nilai Fs sendiri
didapatkan dari perhitungan kohesi, panjang bidang
gelincir, sudut geser dalam, dan luas tiap bidang.

Berikut

rumus

Fs:

Dari persamaan tersebut hal pertama yang


dicari adalah nilai luas tiap bidang sayatan. Dari
hasil perhitungan tersebut selanjutnya dilakukan
perkalian antar bidang sayatan dengan cosinus dan
sinus dari sudut bidang gelincir dan dimasukkan ke
dalam persamaan F tersebut.
Dari hasil perhitungan didapatkan nilai Fs
sebesar 1,07. Dari nilai Fs tersebut apabila
dimasukkan ke dalam ketetapan Priest dan Brown,
1983 maka lereng dengan nilai 1 < Fs < 1,2
menunjukkan lereng dalam kondisi kritis (Priest
dan Brown, 1983). Namun apabila nilai Fs tersebut
dimasukkan ke dalam ketetapan Hoek dan Bray

tahun 1981 maka nilai Fs 1,07 menunjukkan lereng


yang stabil. Dari kedua perbedaan tersebut karena
perhitungan geologi teknik haruslah berpikir
pesimis maka ketetapan yang dipakai adalah
ketetapan Priest dan Brown tahun 1983 yang
menetapkan nilai Fs sebesar 1,07 masuk ke dalam
kriteria lereng yang kritis terhadap longsoran.
KESIMPULAN
Jadi dari hasil analisis kestabilan lereng dengan
metode kesetimbangan batas didapatkan bahwa
lereng dengan nilai Fs sebesar 1,07 ini dinilai kritis
terhadap longsoran. Hal tersebut berdasarkan
ketetapan Priest dan Brown, 1983. Lain hal dengan
ketetapan Hoek dan Bray, 1981 menyatakan lereng
yang aman. Perbedaan yang terdapat pada kedua
ketetapan tersebut harus ditindak lanjuti agar dua
ketetapan tersebut dapat digunakan untuk saling
mendukung bukan saling bertolak belakang.

REFERENSI
Faridha Aprilia, I. G. (October 20th, 2014 ). Analisis tipe longsor dan kestabilan lereng berdasarkan orientasi
struktur geologi di dinding utara tambang batu hijau, sumbawa barat . Seminar Nasional Kebumian Ke7 dan Simposium Pendidikan Geologi Nasional. Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknik,, 1-15.

LAMPIRAN

Gambar 1. Tipe Longsoran (Hoek dan Bray, 1981)

Gambar 2. Latihan soal metode kesetimbangan batas

Tabel 1. Hasil perhitungan rumus Fs

No
.

L (m)

h (m)

x (m)

Sud
ut

radia
ns

sin

cos

2,40

2,20

2,40

0,00

0,00

0,00

2,00

3,90

1,90

3,00

0,05

0,05

1,0
0
1,0

Wt
(luas x
)
41,32

W sin

W cos

0,00

41,32

90,78

4,75

90,66

1,20

4,80

1,20

5,00

0,09

0,09

2,00

6,20

2,00

0,17

0,17

2,10

7,60

2,10

0,30

0,29

0,90

8,20

0,90

0,40

0,39

1,10

7,70

1,00

0,42

0,41

2,00

6,80

1,80

0,44

0,42

2,00

5,70

1,70

0,56

0,53

10

2,00

4,50

1,65

0,63

0,59

11

2,10

3,00

1,60

0,73

0,67

12

4,00

0,00

2,70

10,0
0
17,0
0
23,0
0
24,0
0
25,0
0
32,0
0
36,0
0
42,0
0
47,0
0

0,82

0,73

23,80
c =
15,2
=
10,5

=
15,85
2
tan
=0,1
82

Fs= 1,07

0
1,0
0
0,9
8
0,9
6
0,9
2
0,9
1
0,9
1
0,8
5
0,8
1
0,7
4
0,6
8

81,70

7,12

81,39

172,17

29,90

226,80

66,31

111,29

43,48

124,43

50,61

204,26

86,32

166,38

88,17

131,79

77,46

93,91

62,84

169,5
5
216,8
9
102,4
4
113,6
7
185,1
2
141,1
0
106,6
2
69,79

63,39

46,36

43,23

563,33

1361,
79