Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH BAHASA INDONESIA

BAHASA INDONESIA SEBAGAI ALAT PEMERSATU


BANGSA

Disusun Oleh :
ARMANDHO ATMA P

L2L 006 005

DINI ANDRIANI

L2L 006 010

DITTA GRIFTHIANA R

L2L 006 011

HADI SYUHARA

L2L 006 020

HIDAYAT SYAH PUTRA

L2L 006 024

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2007

BAB I
LATAR BELAKANG MASALAH

Indonesia adalah kepulauan terbesar di dunia yang terdiri atas


13.667 pulau. Penduduknya memiliki bahasa dan dialek lisan dan tertulis
sekitar 250 jenis. Sebelum Indonesia merdeka bahasa Indonesia perperan
sebagai bahasa pemersatu antar etnis di Nusantara, dan secara historis
bahasa Indonesia merupakan bagian dari bahasa Austronesia. Keluarga
bahasa Austronesia, terdiri atas: (1) Bahasa Indonesia, (2) Bahasa
Melanesia, (3) Bahasa Polinesia, dan (4) Bahasa Mikronesia. Bahasa
Indonesia dipakai di segenap Wilayah Nusantara, termasuk daerahdaerah di luarnya seperti Philipina, Campa, Kamboja, Madagasakan, dan
Fiji (Asmito, 1988: 48).
Terdapat suatu mata rantai aktivitas masyarakat Nusantara yang
mengantarkannya untuk mengadopsi bahasa Indonesia sebagai bahasa
pengantar di dunia bisnis, pendidikan, politik, dan agama. Perkembangan
bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia diawali dengan bahasa
perdagangan

di

daerah-daerah

pelabuhan

Nusantara,

kemudian

dipergunakan pula dalam penyebaran agama Islam. Pertentanganpertentangan setempat yang timbul sehubungan dengan kedatangan
kaum kolonialis Eropa dan berakhir dengan perjanjian dagang maupun
politik juga menggunakan bahasa Melayu di samping bahasa Belanda
(Poesponegoro, 1984: 279). Di bidang pendidikan, setelah didirikannya
sekolah bumiputra oleh Pemerintah Hindi Belanda pada mulanya
menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar, tetapi sejak
abad XX, untuk kepentingan daerah jajahan yang memerlukan tenaga
rendahan yang mengerti bahasa Belanda, akhirnya mengeser bahasa
Melayu. Meskipun terjadi persaingan dalam merebut pengaruh, tetapi
karena sesuai dengan jiwa dan semangat nasionalisme dan patriotisme,

justru bahasa Indonesia berfungsi sebagai alat perjuangan, artinya


pemanfaatan bahasa Indonesia menunjukkan suatu perjuangan untuk
melawan kaum penjajah yang memaksakan kehendaknya melalui
penyebaran bahasa Belanda. Dalam persaingan tersebut, bahasa
Indonesia

berhasil

menarik

simpati

masyarakat

Indonesia,

dan

menempatkannya sebagai alat pemersatu untuk berjuang secara politik,


ideologi, dan budaya.
Bahasa Indonesia yang semula terbatas pada Etnis Melayu,
kemudian berkembang menjadi bahasa golongan masyarakat yang silih
berganti muncul dan berkembang sepanjang sejarah Indonesia. Dari
bahasa pergaulan kemudian menjadi bahasa perdagangan, bahasa untuk
menyebarkan agama, bahasa perjanjian dagang dan politik, bahasa pers,
sastra dan politik. Selanjutnya atas dorongan pemuda dan elit Indonesia
baru menjadi bahasa persatuan nasional Indonesia. Pernyataan bahasa
Indonesia sebagai bahasa persatuan atau bahasa nasional itu telah
menempatkan bahasa Indonesia pada posisi yang amat strategis pada
kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Dalam kedudukannya itu
bahasa Indonesia berfungsi, antara lain, sebagai lambang kebanggaan
dan identitas nasional serta sebagai alat pemersatu berbagai kelompok
etnik yang berbeda latar belakang sosial budaya dan bahasa ke dalam
satu kesatuan bangsa.
Namun,

perjuangan-perjuangan

yang

menjadikan

bahasa

Indonesia sebagai alat pemersatu bangsa, nampaknya mulai memudar


keberadaannya. Hal ini dapat dilihat dengan banyaknya penggunaan
bahasa asing di Indonesia, contohnya dapat dilihat pada sekolah-sekolah
di Indonesia yang bertaraf Internasional yang menggunakan bahasa asing
sebagai bahasa pengantar dalam pembelajarannya. Selain itu, sebagai
alat pengungkap rasa dan ilmu yang tumbuh dan terus berkembang,
bahasa Indonesia tentu saja tidak terhindar dari sentuhan dan pengaruh
masyarakat yang memahaminya, baik berupa perubahan nilai dan struktur
maupun berupa tingkah laku sosial lainnya. Sehingga hal ini dapat

menyebabkan persentuhan yang menimbulkan keanekaragaman. Tanpa


pembinaan yang hati-hati dan saksama, tidak mustahil sebagian ragamragam itu menyimpang terlalu jauh dari poros inti bahasa kita. Selaras
dengan ragam yang menyimpang itu, terdapatlah cukup banyak pemakai
bahasa Indonesia yang belum dapat mempergunakan bahasa itu dengan
baik dan benar. Termasuk di antara mereka adalah para mahasiswa dan
pengajar di perguruan tinggi, para cendekiawan, dan para pemimpin yang
menduduki jabatan yang penting.

BAB II
PERMASALAHAN

2.1

Demam Beringgris
Kurang cintanya bangsa Indonesia dengan bahasa sendiri,
tercermin dari kata-kata seperti bus way, three in one, in, out, dan
stop, yang terpajang dimana-mana. Demam beringgris-inggris ria,
yang dengan tepat disebut nginggris oleh Remy Silado dalam
bukunya Bahasa Menunjukkan Bangsa, memang sudah telanjur
dianggap tren.
Sebuah sanksi, biasanya dapat mempan membuat orang
jera. Bagi media yang tetap bersikeras tidak menggunakan bahasa
Indonesia yang baik dan benar, sanksinya bisa berupa penyulitan
mendapatkan surat izin terbit atau surat izin tayang. Bahasa dalam
novel, buku, majalah, film, atau acara TV produk lokal yang
menggunakan bahasa Inggris atau bahasa lain selain bahasa
Indonesia akan diganti dengan bahasa Indonesia.
Jadi, tayangan Metro Sport baru bisa ditayangkan bila
diganti Olahraga Metro, dan judul film yang kita temukan tidak lagi
Jakarta Under Cover, Beauty Case, Me Vs High Heels atau Eiffel,
Im in Love.
Selain para pembuat film, novel, buku, dan acara TV yang
kebagian tugas mencari alternatif untuk judul produk mereka, tugas
serupa juga diemban oleh pemilik bangunan untuk menghapus
nama depan The pada The Plaza Semanggi.

2.2

Bangsa Indonesia Tidak Pernah Berbangga dan Mencintai


Bahasanya Sendiri
Bangsa Indonesia, sebagai pemakai bahasa Indonesia, seharusnya
bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi.
Dengan bahasa Indonesia, mereka bisa menyampaikan perasaan
dan pikirannya dengan sempurna dan lengkap kepada orang lain.
Mereka semestinya bangga memiliki bahasa yang demikian itu.
Namun, berbagai kenyataan yang terjadi, tidaklah demikian. Rasa
bangga berbahasa Indonesia belum lagi tertanam pada setiap orang
Indonesia. Rasa menghargai bahasa asing (dahulu bahasa Belanda,
sekarang bahasa Inggris) masih terus menampak pada sebagian
besar bangsa Indonesia. Mereka menganggap bahwa bahasa asing
lebih tinggi derajatnya daripada bahasa Indonesia. Bahkan, mereka
seolah tidak mau tahu perkembangan bahasa Indonesia.

2.3

Keanekaragaman yang Menimbulkan Penyimpangan


Tanpa pembinaan yang hati-hati dan saksama, tidak
mustahil sebagian ragam-ragam itu meny impang terlalu jauh dari
poros inti bahasa kita. Selaras dengan ragam yang menyimpang
itu, terdapatlah cukup banyak pemakai bahasa Indonesia yang
belum dapat mempergunakan bahasa itu dengan baik dan benar.
Termasuk di antara mereka adalah para mahasiswa dan pengajar
di perguruan tinggi, para cendekiawan, dan para pemimpin yang
menduduki jabatan yang berpenganih. Hal ini tampak, antara lain,
pada:
1. pemakaian kalimat, tanda baca, dan pengelompokan wacana
yang tidak mengungkapkan jalan pikiran yang jernih, logis, dan
sistematik;

2. pemakaian istilah asing untuk menggantikan kosa kata yang


telah ada, yang memiliki ciri-ciri semantik yang sama, dan yang
telah urnum dipakai;
3. pemakaian istilah teknis yang tidak seragam dalam ilmu
pengetahuan;
4. pengucapan kata yang meny impang dari kaidah yang dianggap
baku;
5. pengejaan kata atau frase yang tidak taat asas.

2.4

Bahasa Indonesia Tidak Lagi sebagai Alat Pemersatu Bangsa


Penilaian yang rendah terhadap bahasa Indonesia masih
kelihatan pada bangsa Indonesia. Kegemaran bangsa Indonesia
memakai istilah asing dan tidak mencoba menggali kosa kata
bahasa Indonesia merupakan indikasi ke arah ini. Bahkan, bahasa
Indonesia tidak lagi sebagai alat pemersatu, tetapi sebagai alat
pemecah belah bangsa. Kelompok penguasa menggunakan
bahasa sebagai alat untuk kepentingan kekuasaannya. Penguasa
memanfaatkan 'tenaga bahasa' secara besar-besaran untuk
mempengaruhi khalayak agar mendukung kekuasaannya.
Pendekatan kebahasaan dalam politik menjadi penting bagi
kelanggengan sebuah kekuasaan. Bahasa menjadi strategi dan
ekspresi kekuasaan untuk memberikan pemahaman kepada rakyat
bahwa mereka adalah penguasa yang terbaik. Pola pemikiran
masyarakat didikte melalui bahasa. Bahasa pun tidak lebih hanya
sebagai sebuah ruang bagi pergelaran kekuasaan.

BAB III
MANFAAT

Dalam

sejarah

perjuangan

kemerdekaan

bangsa,

bahasa

Indonesia telah terbukti menyatukan berbagai golongan dan etnis ke


dalam satu kesatuan bangsa Indonesia, sebagaimana tercetus dalam
pernyataan sikap politik pemuda Indonesia pada Sumpah Pemuda 28
Oktober 1928, 79 tahun yang lalu. Kata Indonesia menjadi identitas suatu
wilayah, bangsa, dan bahasa, yaitu
(1) tanah air Indonesia,
(2) bangsa Indonesia, dan
(3) bahasa Indonesia.
Pernyataan "menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia"
merupakan pengakuan terhadap banyak bahasa di Indonesia (746
bahasa). Pernyataan itu adalah :
(1) menempatkan keutamaan bahasa Indonesia di atas bahasabahasa lain dalam konteks kenasionalan,
(2) bahasa- syarakat pbahasa daerah tetap memiliki hak hidup di
tengah-tengah maendukungnya,
(3) masyarakat penutur bahasa-bahasa daerah itu merupakan
rakyat yang mendiami wilayah kepulauan dalam satu kesatuan
tanah air Indonesia.
Pernyataan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan atau
bahasa nasional itu telah menempatkan bahasa Indonesia pada posisi
yang amat strategis pada kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.
Dalam kedudukannya itu bahasa Indonesia berfungsi, antara lain, sebagai
lambang kebanggaan dan identitas nasional serta sebagai alat pemersatu
berbagai kelompok etnik yang berbeda latar belakang sosial budaya dan
bahasa ke dalam satu kesatuan bangsa. Bahasa Indonesia memiliki
potensi dalam mengatasi permasalahan kesiapan memasuki tatanan
kehidupan

global,

seperti

perdagangan

bebas

ataupun

teknologi

informasi. Perdagangan bebas ataupun teknologi informasi menggunakan

sarana komunikasi. Di situlah bahasa Indonesia dapat memainkan peran,


yaitu sebagai bahasa pengantar dalam perdagangan bebas di Indonesia,
bahkan di kawasan Asia Tenggara.
Untuk memenuhi peran itu, perlu dilakukan peningkatan mutu daya
ungkap dan pemantapan sistem tata bahasa ataupun sistem tulis (ejaan).
Peningkatan mutu daya ungkap dilakukan melalui pemekaran kosakata.
Baik kata maupun istilah harus dipacu pengembangannya sejalan dengan
perkembangan yang terjadi dalam dunia ilmu pengetahuan dan teknologi
serta perkembangan masyarakat penuturnya.
Sementara itu, sistem pembentukan kata ataupun kalimat perlu
dimantapkan agar tahan terhadap berbagai perubahan. Demikian juga
sistem tulis atau ejaan perlu dimantapkan demi menampung berbagai
perkembangan kosakata/istilah ataupun sistem tata bahasa.
Penggunaan
perdagangan

bebas

bahasa

Indonesia

ataupun

sebagai

pengantar

bahasa

teknologi

pengantar

informasi

akan

menunjukkan lambang jati diri bangsa. Oleh karena itu, pemakaian


bahasa pengantar dalam media internet, misalnya, akan memperlihatkan
identitas kebangsaan Indonesia yang sekaligus menjadi kebanggaan
nasional. Untuk meningkatkan peran ke arah itu, perlu dilakukan upaya
peningkatan sikap positif masyarakat terhadap bahasa Indonesia melalui
peningkatan mutu penggunaannya.
Peningkatan mutu SDM generasi pelapis perlu disiapkan sebagai
pelaku dalam tatanan kehidupan global tahun 2020. Upaya itu dilakukan
lewat berbagai kegiatan bahasa dan sastra melalui jalur pendidikan dasar,
menengah, dan pendidikan tinggi. Jalur itu amat penting ditempuh demi
penanaman dan peningkatan sikap positif generasi pelapis terhadap
lambang jati diri bangsa.
Di sisi lain, peningkatan sikap positif masyarakat luas dilakukan
melalui pemasyarakatan penggunaan bahasa Indonesia. Upaya itu dapat
dilakukan melalui penyediaan berbagai buku panduan yang dapat
memberi petunjuk penggunaan bahasa Indonesia secara baik dan benar

serta melalui penyuluhan langsung kepada aparatur pemerintah, tokoh


masyarakat, tokoh agama, tokoh politik, penulis, penerjemah, insan pers,
guru, dan sebagainya.
Melalui berbagi upaya itu diharapkan masyarakat merasa ikut
memiliki lambang jati diri bangsa Indonesia. Rasa ikut memiliki itu akan
mengukuhkan rasa persatuan terhadap satu tanah air, satu negara
kesatuan, satu bangsa, satu bahasa persatuan, satu bendera, satu
lambang negara, dan satu lagu kebangsaan. Pada gilirannya rasa
persatuan itu akan menjauhkan perpecahan bangsa sekalipun berada
dalam era reformasi dan globalisasi.

BAB IV
PEMBAHASAN MASALAH

IV.1 Bahasa Inggriskah sebagai Bahasa Ibu Bangsa Indonesia?


Apakah gerangan yang menyebabkan kita tidak
bangga berbahasa Indonesia? Mengapa kita tidak seperti
Jepang dan Prancis, yang bangga dengan bahasa yang
merupakan ciri khas bangsa mereka? Di mana letak
kekurangan bahasa Indoensia yang telah kita sepakati akan
dijunjung? Padahal kosakata yang tersedia sudah banyak,
sehingga kita tidak perlu lagi menggunakan bahasa orang
lain. Itulah penyakit Bangsa Indonesia yang sangat sulit
melestarikan bahasanya sendiri. Berbagai tulisan dengan
Bahasa Inggris sering sekali kita jumpai di banyak tempat,
seharusnya pemerintah tidak hanya tinggal diam mengenai
masalah ini. Walaupun masalah ini dianggap tidak penting,
tetapi dapat mengakibatkan dampak yang besar bagi
bangsa Indonesia. Sudah saatnya kita menyadari akan
pentingnya bahasa

IV.2
Bahasa Indonesia yang sering dianggap remeh oleh siswa
atau mahasiswa di Indonesia, ternyata sudah diajarkan di 50
negara di dunia dengan jumlah tenaga pengajar asing yang
semakin bertambah banyak. Sudah saatnya bahasa Indonesia
dikelola secara seksama yang tentunya mengikuti perkembangan
ilmu dan teknologi, sehingga mampu menjembatani sistem nilai
yang mengalami pertumbuhan dalam pergaulan antar bangsa,
Bahasa merupakan alat komunikasi yang paling efektif antar
bangsa

karena

lewat

bahasa

dapat

ditumbuhkan

saling

pemahaman antar budaya dan adat istiadat, yang pada gilirannya

mampu menambah pengertian dan kerjasama antar bangsa.


Sayangnya, bangsa kita tidak pernah berbangga dan mencintai
bahasa sendiri, malah bangsa internasional yang lebih banyak
memberikan apresiasi. Warga Indonesia sebagai bangsa sudah
saatnya secara jujur merenungkan mengapa setelah 61 tahun
merdeka tidak dapat maju, bahkan bangsa-bangsa lain yang
tadinya belajar dari Indonesia bisa lebih maju daripada Indonesia.
Kenyataan-kenyataan dan akibat-akibat tersebut kalau tidak
diperbaiki
terhambat.

akan

berakibat

Sebagai

warga

perkembangan
negara

bahasa

Indonesia

Indonesia

yang

baik,

sepantasnyalah bahasa Indonesia itu dicintai dan dijag. Bahasa


Indonesia harus dibina dan dikembangkan dengan baik karena
bahasa Indonesia itu meruoakan salah satu identitas atau jati diri
bangsa Indonesia. Setiap orang Indonesia patutlah bersikap positif
terhadap bahasa Indonesia, janganlah menganggap remeh dan
bersikap negatif. Setiap orang Indonesia mestilah berusaha agar
selalu cermat dan teratur menggunakan bahasa Indonesia.
Sebagai

warga

negara

Indonesia

yang

baik,

mestilah

dikembangkan budaya malu apabila meraka tidak memperguanakn


bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Anggapan bahwa
penggunaan bahasa Indonesia yang dipenuhi oleh kata, istilah, dan
ungkapan asing merupakan bahasa Indonesia yang canggih
adalah anggapan yang keliru. Begitu juga, penggunaan kalimat
yang

berpanjang-panjang

dan

berbelit-belit,

sudah

tentu

memperlihatkan kekacauan cara berpikir orang yang menggunakan


kalimat itu. Apabila seseorang menggunakan bahasa dengan
kacau-balau, sudah tentu hal itu menggambarkan jalan pikiran yang
kacau-balau pula. Sebaliknya, apabila seseorang menggunakan
bahasa dengan teratur, jelas, dan bersistem, cara berpikir orang itu
teratur dan jelas pula. Oleh sebab itu, sudah seharusnyalah setiap

orang Indonesia menggunakan bahasa Indonesia yang teratur,


jelas, bersistem, dan benar agar jalan pikiran orang Indonesia
(sebagai pemilik bahasa Indonesia) juga teratur dan mudah
dipahami orang lain.

IV.4 Sebagai sebuah strategi, bahasa yang digunakan penguasa untuk


mengekalkan kekuasaannya ada beberapa bentuk yaitu:
1. Kata Kunci, yaitu kata-kata yang digunakan oleh penguasa dalam
mengungkapkan

gagasannya.

Misalnya

kata

pembangunan,

Pancasila, persatuan dan kesatuan, G30S/PKI, stabilitas nasional,


kebudayaan nasional, pertumbuhan ekonomi, adil makmur dan
lain-lain untuk memberikan makna kunci bahwa mereka terbaik dan
yang lain tidak baik.
2. Kata Topeng, yaitu bahasa dengan penghalusan semantik secara
berlebihan

sehingga

semuanya

terasa

baik,

tetapi

makna

sesungguhnya tertutup. Misalnya kata 'pembinaan' yang artinya


peningkatan kualitas sesuatu selalu didengungkan sehingga opini
masyarakat terbentuk dengan kata itu. Dalam pengejawantahannya

pembinaan diartikan menghambat. Misalnya pembinaan terhadap


orsospol, ormas, atau parpol diaplikasikan dengan mengeluarkan
segala macam kebijaksanaan dan peraturan seperti kewajiban
asas tunggal. Kata 'melindungi' dalam kalimat melindungi industri
dalam negeri, bukan diartikan sebagai menjaga dari ancaman,
tetapi kebebasan konglomerat untuk monopoli mempergunakan
segala fasilitas negara sesuka hati.
3.

Monopoli Semantik adalah penguasa menjadi penafsir tunggal


yang memaksakan kehendaknya terhadap suatu teks yang
sebetulnya memiliki banyak penafsiran. Misalnya Pasal 7 UUD
1945 tentang jabatan presiden dan wakil presiden ditafsirkan rezim
orde baru bahwa presiden dan wakil presiden boleh menjabat
sampai batas waktu yang tertentu.

4. Penghalusan (eufemisme), adalah proses penghalusan makna.


Seharusnya eufemisme digunakan dalam pembicaraan agar orang
tidak tersinggung, namun oleh penguasa eufemisme digunakan
untuk menutupi keburukannya dengan cara menyembunyikan
makna. Padahal sebenarnya penguasa itu kasar, brutal, bombastis
dan jelek. Karena eufemisme tidak ada kesan jelek di sana.
Misalnya kata korupsi dihaluskan dengan kata penyalahgunaan
wewenang. Masyarakat miskin dihaluskan dengan kata masyarakat
yang kurang beruntung. Kelaparan dihaluskan dengan kata rawan
pangan. Desa miskin dihaluskan dengan kata desa tertinggal.
Kenaikan harga dihaluskan dengan kata penyesuaian harga.
Pemerikasaan terhadap pejabat, dihaluskan dengan kata klarifikasi
terhadap pejabat dan lain-lain. Semua ini digunakan untuk
menghilangkan kesan bahwa penguasa ini pernah korupsi, di masa
ini masih ada masyarakat miskin, kelaparan, desa miskin, kenaikan
harga dan pejabat yang diperiksa karena satu kesalahan.

5. Pengasaran (puffery) adalah pengasaran dari suatu konsep.


Penguasa memberi makna yang berlebihan terhadap suatu
konsep. Misalnya dalam pidato Soekarno disebuttkan Indonesia
adalah bangsa yang besar yang dapat mengatasi masalah
kemiskinan. Dengan kalimat itu orang beranggapan bahwa
Indonesia ini tidak melarat. Padahal kalimat ini untuk menutupi
kegagalannya dalam membangun ekonomi. Soeharto pernah
melakukan hal yang sama dengan kalimat 'kita adalah bangsa kaya
dan paling maju'. Padahal kalimat itu dipergunakan untuk membuat
orang lupa bahwa sebenarnya Indonesia adalah bangsa yang
dilanda

kemiskinan

dan

terbelakang.

Dengan

kalimat

ini

masyarakat merasa tidak miskin dan tidak banyak menuntut.


6. Bahasa baru (newspeak) adalah manipulasi terhadap pengertian
yang

lazim atas satu

kata

atau

istilah. Caranya

dengan

menjungkirbalikkan pemahaman masyarakat yang lazim dengan


satu kata atau istilah, sihingga yang dipahami oleh mereka hanya
makna yang salah. Misalnya pemilihan umum digantikan pesta
demokrasi, sehingga orang pun menganggap bahwa pemilihan
umum hanya keramaian laksana pesta dan melupakan esensi
pemilihan umum. Pemilu 1955 yang dipandang banyak orang
sebagai pemilu paling demokrasi di Indonesia diartikan sebagai
pemilu

tidak

demokrasi.

Inilah

yang

dimaksud

dengan

penjungkirbalikkan pemahaman.
7. Pemilihan (kategorosasi), adalah penggolongan berbagai tindakan
atau keadaan ke dalam suatu konsep tertentu. Misalnya tindakan
unjuk rasa dan pemogokan digolongkan tidak konstitusional dan
tidak Pancasila. Seni yang mengeritik pemerintah digolongkan

menyalahi undang-undang. Jadi tindakan yang merugikan mereka


digolongkan ke dalam konsep yang salah.
8. Pemberian nama (labelling) adalah pemberian nama terhadap satu
tindakan dengan tujuan menyudutkannya, karena keberadaannya
mengancam pemerintah yang sedang berkuasa. Misalnya gerakan
politik umat Islam diberi label separtisme, terorisme, dan lain-lain.
Gerakan rakyat menuntut haknya diberi nama Gerakan Pengacau
Keamanan (GPK). Organisasi yang mengeritik pemerintah diberi
nama Organisasi Tanpa Bentuk (OTB) dan lain-lain. Hal ini
bertujuan membangun opini masyarakat untuk memusuhi gerakan
itu dan mendukung pemerintah.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.waspada.co.id