Anda di halaman 1dari 5

KERANGKA EKONOMI MAKRO DAN POKOK-POKOK

KEBIJAKAN FISKAL 2008


Penyusunan Asumsi Makro - 18/06/2007 9:43:46
Pada tanggal 23 Mei 2007, secara resmi pemerintah, dalam hal ini Menteri Keuangan menyampaikan Kerangka
Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal tahun 2008 kepada DPR, yang kemudian akan dibahas
bersama antara pemerintah Pusat dan DPR dalam pembicaraan pendahuluan rancangan APBN tahun 2008
(RAPBN 2008). Pokok- Pokok Kebijakan Fiskal tahun anggaran berikutnya disampaikan kepada DPR
selambat-lambatnya pertengahan bulan Mei tahun berjalan, hal ini sesuai dengan UU No.17 Tahun 2003 tentang
Keuangan Negara.
Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal 2008 merupakan penjelasan pemerintah
mengenai perkembangan ekonomi Indonesia dan hasil-hasil program kerja pemerintah tahun 2006-2007, serta
arah kebijakan fiskal dan sasaran pembangunan ekonomi di tahun 2008. Kerangka Ekonomi Makro dan PokokPokok Kebijakan fiskal 2008 akan menjadi acuan bagi pemerintah dan DPR sebagai institusi yang memiliki hak
budget untuk merumuskan kebijakan umum dan prioritas APBN 2008 dalam rangka pencapaian sasaran
pembangunan yang ditetapkan di dalam Rencana Kerja Pemerintah 2008.
Sebagaimana yang telah digariskan dalam Rencana kerja Pemerintah 2008 (RKP 2008) melalui Perpres Nomor
18 tahun 2007, sasaran pembangunan ekonomi tahun 2008 diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi
dalam rangka memperluas lapangan pekerjaan dan mengurangi tingkat kemiskinan. Sasaran pertumbuhan
ekonomi yang diharapkan adalah pertumbuhan yang berkualitas yaitu pertumbuhan yang dapat
mendistribusikan pendapatan dan lapangan pekerjaan. Sedangkan percepatan perluasan lapangan pekerjaan
diarahkan kepada peningkatan pertumbuhan sektor yang banyak menyerap tenaga kerja. Mengenai
penanggulangan kemiskinan, fokus sasaran adalah bagaimana meningkatakan pendapatan secara merata dan
memberikan akses yang lebih luas bagi rakyat untuk mendapatkan pendidikan, kesehatan, air bersih dan
kebutuhan dasar lainnya.
Dalam upaya mencapai sasaran pembangunan ekonomi di tahun 2008, penetapan Kerangka Ekonomi Makro
dan Pokok- Pokok Kebijakan Fiskal 2008 dipengaruhi oleh berbagai variabel antara lain yaitu kondisi
perekonomian baik itu domestik, regional maupun ekonomi global di tahun 2006 dan kondisi di tahun 2007.
Antisipasi terhadap kemungkinan potensi-potensi tantangan yang akan dihadapi perekonomian Indonesia di
tahun 2008 juga menjadi variabel penting dalam menentukan langkah apa yang akan ditempuh pemerintah.
Sebagai modal bagi perekonomian 2008 untuk melangkah menuju sasarannya, dalam review perekonomian
2006 dan proyeksi tahun 2007, indikator perekonomian 2006-2007 memperlihatkan trend peningkatan yang
ditandai antara lain yaitu
Pertumbuhan PDB kuartal I 2007 yang mencapai 6,0% yaitu lebih tinggi dari pertumbuhan
kuartal I tahun 2006. Peningkatan tersebut didukung oleh meningkatnya konsumsi masyarakat,
investasi, dan ekspor,
Realisasi investasi meningkat sejak kuartal 3 tahun 2006 dan tumbuh 60,24% untuk PMDN serta
tumbuh 14, 96% untuk PMA,
Inflasi terkendali dimana sampai dengan kuartal I mencapai 1,91 persen sementara itu di bulan
April mencapai 1,76 persen. Penurunan ini terkait dengan harga beras yang mulai menurun,
Nilai tukar rupiah stabil dan menguat dikisaran Rp9.000/USD,
BI rate turun menjadi 8,75% pada bulan Mei dan cadangan devisa RI mencapai angka tertinggi
sebesar USD 50,3 miliar.
1

Sementara itu, perekonomian Indonesia di tahun 2008 diprediksi akan menemui beberapa tantangan baik dari
kondisi global/regional maupun kondisi dalam negeri sendiri. Tantangan tersebut antara lain yaitu perlambatan
ekonomi regional maupun global, ketidakpastian harga minyak dan komoditi internasional serta ketidakstabilan
pasar uang global. Dari dalam negeri, Indonesia menghadapi tantangan untuk dapat mengimplementasikan
pembangunan infrastruktur dan memperbaiki iklim investasi untuk menarik modal ke dalam negeri.

Dengan berbagai kondisi di atas, sasaran pembangunan ekonomi 2008 akan diejawantahkan pemerintah ke
dalam tolak ukur pencapaian yaitu sasaran sasaran makro ekonomi dan sasaran sektoral pemerintah 2008
(seperti terlihat pada gambar di atas). Indikator makro 2008 yang akan diupayakan yaitu antara lain
pertumbuhan ekonomi tahun 2008 diproyeksikan berkisar pada angka 6,6% s/d 7,0% dan indikator ekonomi
lainnya diharapkan dalam keadaan stabil, sedangkan sasaran sektoral antar lain yaitu pengangguran pada tahun
2008 diperkirakan dapat ditekan menjadi 8,0%-9,0% dan jumlah tingkat kemiskinan turun menjadi sekitar 15%16,8%. Secara lengkap indikator dan sasaran ekonomi makro 2008 dapat dilihat pada tabel berikut :

INDIKATOR

2008 (%)

Pertumbuhan PDB (%)

6,6 - 7,0

Inflasi (%, y-o-y)

6,0 - 6,5

Nilai tukar Rupiah (Rp/USD)

9.100 - 9.400

SBI 3 bulan (%)

7,5 - 8,0

Harga Minyak internasional

57 - 60

Lifting minyak Indonesia


1,034 - 1,040
Untuk mendukung upaya pencapaian sasaran indikator makro, dibutuhkan kebijakan, baik fiskal oleh
2

pemerintah maupun moneter oleh BI. Kedua kebijakan tersebut harus dikoordinasikan dan diharmonisasikan
secara maksimal. Hal ini sangat penting dalam menjaga stabilitas ekonomi makro terutama dalam menjaga
indikator ekonomi inflasi, suku bunga dan nilai tukar rupiah. Sementara itu, kebijakan desentralisasi fiskal juga
merupakan hal vital dalam mendukung pertumbuhan. Keserasian peraturan pusat dan daerah serta peningkatan
pengelolaan APBD akan merangsang investasi untuk masuk ke daerah yang pada saatnya akan mendukung
pertumbuhan secara agregat.
Kebijakan Fiskal dan RAPBN 2008
Berdasarkan sasaran asumsi dasar ekonomi makro dalam kerangka ekonomi makro, maka orientasi kebijakan
fiskal diarahkan dari fase konsolidasi menuju kepada fase stimulus fiskal. Hal ini terlihat dari perkembangan
defisit APBN yang menuju trend kenaikan, namun defisit tetap dikonsolidasikan dalam batas-batas aman sesuai
amanat Undang-undang yaitu tidak melebihi angka 3 persen. Hal terpenting dari fase stimulus yaitu kualitas
dalam membelanjakan uang (quality of spending) sehingga tepat guna. Defisit pada akhir tahun 2007 dan 2008
diperkirakan akan mencapai lebih dari 1,5 persen dari PDB. Defisit APBN dipengaruhi dari kebijakan
penerimaan dan kebijakan belanja negara. Besarnya defisit sampai dengan tahun 2007 dapat dilihat pada grafik
di bawah ini.

Kebijakan fiskal dari sisi penerimaan yang akan ditempuh dalam tahun 2008 adalah mengupayakan peningkatan
rasio perpajakan dari 13,4% di tahun 2007 menjadi 13,5% dari PDB di tahun 2008 sera mengoptimalkan
penerimaan negara dari PNBP. Upaya-upaya yang dilakukan untuk itu antara lain yaitu
Perbaikan admistrasi dan pelayanan perpajakan,
Penerapan pelaksanaan UU perpajakan yang baru,
Ekstensifikasi dan intensifikasi perpajakan.
Di sisi belanja negara, pada tahun 2008 arah kebijakan belanja pemerintah pusat difokuskan untuk
meningkatkan kualitas belanja negara meliputi :
3

Perencanaan yang tepat,


Eksekusi anggaran yang prudent,
Penggunaan pada kebutuhan yang prioritas dan emergency, dan
Pencatatan dan pelaporan yang rapi dan disiplin.

Sedangkan untuk belanja ke daerah, pemerintah akan melakukan konsolidasi defisit APBN dan APBD untuk
lebih memantapkan desentralisai fiskal. Hal ini ditujukan untuk :
Mengurangi kesenjangan fiskal antara pusat dan daerah, serta antar daerah;
Meningkatkan kapasitas daerah dalam menggali potensi pendapatan asli daerah,
Pengalihan secara bertahap dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan yang ditujukan untuk mendanai
kegiatan yang sudah menajadi urusan daerah ke DAK, dan
Menghapus hold harmless sehingga pada tahun 2008 tidak dialokasikan Dana Penyesuaian.
Untuk menutupi defisit APBN 2008 yang diperkirakan masih berada pada angka diatas 1 % dari PDB, maka
pemerintah tetap mengutamakan strategi pembiayaan yang murah dan rendah resiko. Dalam tahun 2008,
kebijakan pembiayaan masih diprioritaskan dari sumber-sumber dana dalam negeri yaitu
Rekening pemerintah,
Penerbitan SBN rupiah,
Obligasi Ritel Indonesia (ORI),
Surat Perbendaharaan Negara (SPN) jangka pendek,
Surat Berharga Negara (SBN) syariah.
Sedangkan sumber pembiayaan dari luar negeri akan berasal dari pinjaman program dan proyek dan penerbitan
SBN valas. Dari semua upaya pembiayaan yang ditempuh, pemerintah tetap berkomitmen untuk menurunkan
ratio utang Indonesia terhadap PDB menjadi sebesar 35,2% thd PDB pada tahun 2008, sebagaimana yang telah
diupayakan pemerintah sejauh ini.

Dalam pelaksanaan kebijakan fiskal, pemerintah akan dihadapkan pada risiko fiskal. Resiko tersebut antara lain
yaitu :
resiko perubahan asumsi,
risiko belanja negara akibat adanya tekanan terhadap belanja negara khususnya terhadap risiko bencana
alam,
risiko akibat dari dukungan pemeritah untuk pembangunan infrastruktur, dan
risiko utang.
Segala perhitungan dan angka-angka sasaran yang ditetapkan oleh pemerintah dalam uapaya mencapai sasaran
pembangunan ekonomi di tahun 2008 merupakan angka-angka yang disusun dengan semangat kebersamaan dan
optimisme, namun tetap dengan pertimbangan kondisi riil yang telah, sedang dan akan dihadapi. Kondisi krisis
ekonomi yang pernah terjadi cukup memberikan pelajaran berharga untuk mengelola perekonomian Indonesia
lebih baik lagi demi terwujudnya cita-cita nasional. Namun demikian, berbagai angka-angka maupun sasaran
tersebut akan sia-sia tanpa dukungan dan kontribusi dari seluruh komponan bangsa. Selamat berjuang!