Anda di halaman 1dari 36

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kesehatan merupakan hal yang sangat penting di dalam kehidupan
seseorang yang merasa sakit
kesehatannya

akan melakukan upaya demi memperoleh

kembali. Pilihan untuk mengupayakan kesembuhan dari suatu

penyakit, antara lain adalah dengan berobat ke dokter atau mengobati diri sendiri
(Atmoko & kurniawati, 2009)
Pengobatan sendiri, atau yang disebut dengan swamedikasi, merupakan
upaya yang paling banyak dilakukan masyarakat untuk mengatasi gejala penyakit
sebelum mencari pertolongan dari tenaga kesehatan (Departemen Kesehatan
Republik Indonesia 2008 ).
Umumnya, swamedikasi dilakukan untuk mengatasi penyakit ringan,
seperti influenza. Influenza adalah infeksi virus yang menyerang hidung dan
tenggorokan, dengan gejala atau keluhan demam, nyeri kepala, nyeri otot, pilek
hidung tersumbat atau berair, batuk, tenggorokan sakit dan seluruh badan terasa
tidak enak, biasanya di sertai panas.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan masyarakat tentang
swamedikasi masih terbatas (Supardi & Notosiswono, 2006; supardi, 2001).
Terlebih lagi, kesadaran untuk membaca label pada kemasan obat pun masih
rendah (Supardi & Notosiswono 2005). Keterbatasan pengetahuan masyarakat
tentang obat dan penggunaannya merupakan penyebab utama terjadinya kesalahan

pengobatan dalam swamedikasi (Departemen kesehatan Republik Indonesia


2006). Hal ini juga ditandai dengan banyaknya penelitian tentang tingkat
pengetahuan masyarakat terkait swamedikasi. Seperti penelitian yang dilakukan
oleh Dian Hermawati 2012 di Depok Kecematan Cimanggis dengan hasil bahwa
berdasarkan hasil pre-test 12,37% tingkat pengetahuan tergolong baik, 51,55%
tingkat pengetahuan tergolong sedang, 36,08% tingkat pengetahuan tergolong
buruk. Sedangkan hasil post-test 74,23% tingkat pengetahuan tergolong baik,
27,77% tingkat pengetahuan tergolng sedamg.
Penelitian ini belum pernah dilakukan sebelumnya di kota Makassar.
Kecamatan Sudiang khususnya BTN Tirasa Asrama Haji di pilih karena
masyarakat didaerah ini cenderung melakukan swamedikasi saat terserang
penyakit influenza atau yang lebih mereka kenal dengan sebutan flu.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penelitian ini dilakukan dengan
tujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan masyarakat tentang swamedikasi
penyakit influenza. Penelitian ini di lakukan di daerah BTN Tirasa Asrama Haji
Sudiang. Dengan cara membagikan kuesioner kepada masyarakat yang berumur
> 17 tahun.

B. Rumusan Masalah
Bagaimana tingkat pengetahuan masyarakat tentang swamedikasi penyakit
influenza di BTN Tirasa Asrama Haji Sudiang ?
C. Tujuan Masalah
Untuk mengetahui tingkat pengetahuan masyarakat tentang swamedikasi
penyakit influenza di BTN Tirasa Asrama Haji Sudiang.
D. Manfaat Penelitian
1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan
masyarakat tentang swamedikasi yang benar khususnya di daerah
Sudiang.
2. Untuk menambah wawasan dan pengetahuan bagi peneliti.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. PENGERTIAN PENGETAHUAN
Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah
orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu yang mana
penginderaan ini terjadi melalui panca indera manusia yakni indera
penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba yang sebagian besar

pengetahuan

manusia

diperoleh

melalui

mata

dan

telinga

(Notoatmodjo,2003)
a. Pembagian Pengetahuan
Notoatmodjo (2003), membagi 6 tingkat pengetahuan yang dicapai
dalam domain kognitif yaitu :
1. Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat
kembali terhadap suatu objek spesifik dari seluruh bahan yang telah
dipelajari atau rangsangan yang telah dierima.Oleh sebab itu, tahu ini
adalah tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk
mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain:
menyebutkan, menguraikan, mendefenisikan menyatakan dan sebagainya.
2. Memahami (Comprehention)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar
tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan masalah
tersebut secara benar. Orang telah paham terhadap objek atau meteri harus
dapat menjelashan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan dan
sebagainya terhadap objek yang dipelajari.
3. Aplikasi (Aplication)

Aplikasi diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menggunakan meteri


atau suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam
suatu struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain.
Misalnya menggunakan statistik dalam perhitungan-perhitungan hasil
penelitian.
4. Analisa (Analisys)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu
objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih dalam suatu struktur
organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan
analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata-kata kerja: dapat
menggambarkan

(membuat

bagan),

membedakan,

memisahkan,

mengelompokkan dan sebagainya.


5. Sintesa (Syntesis)
Sintesis

menunjuk

pada

kemampuan

untuk

meletakkan

atau

menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang


baru. Dengan kata lain sintesis itu suatu kemampuan untuk menyusun
formulasi baru dari formula-formula yang ada

6. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi
atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu
didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan
criteria-kriteria yang telah ada.
b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang, yaitu :
1. Pendidikan.
Pendidikan adalah suatu usaha untuk mengembangkan kepribadian
dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan berlangsung seumur
hidup. Pendidikan mempengaruhi proses belajar, makin tinggi pendidikan
seseorang makin mudah orang tersebut untuk menerima informasi.
Dengan pendidikan tinggi maka seseorang akan cenderung untuk
mendapatkan informasi, baik dari orang lain maupun dari media massa.
Semakin banyak informasi yang masuk semakin banyak pula pengetahuan
yang didapat tentang kesehatan. Namun perlu ditekankan bahwa seorang
yang berpendidikan rendah tidak berarti mutlak berpengetahuan rendah
pula.
2. Media massa / informasi.
Informasi yang diperoleh baik dari pendidikan formal maupun non
formal dapat memberikan pengaruh jangka pendek (immediate impact)
sehingga menghasilkan perubahan atau peningkatan pengetahuan.

Majunya teknologi akan tersedia bermacam-macam media massa yang


dapat mempengaruhi pengetahuan masyarakat tentang inovasi baru.
Sebagai sarana komunikasi, berbagai bentuk media massa seperti televisi,
radio, surat kabar, majalah, dan lain-lain mempunyai pengaruh besar
terhadap pembentukan opini dan kepercayan orang.
3. Sosial budaya dan ekonomi.
Kebiasaan dan tradisi yang dilakukan orang-orang tanpa melalui
penalaran apakah yang dilakukan baik atau buruk. Dengan demikian
seseorang akan bertambah pengetahuannya walaupun tidak melakukan.
Status ekonomi seseorang juga akan menentukan tersedianya suatu
fasilitas yang diperlukan untuk kegiatan tertentu, sehingga status sosial
ekonomi ini akan mempengaruhi pengetahuan seseorang.
4. Lingkungan.
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar individu,
baik lingkungan fisik, biologis, maupun sosial. Lingkungan berpengaruh
terhadap proses masuknya pengetahuan ke dalam individu yang berada
dalam lingkungan tersebut. Hal ini terjadi karena adanya interaksi timbal
balik ataupun tidak yang akan direspon sebagai pengetahuan oleh setiap
individu.
5. Pengalaman.
Pengalaman sebagai sumber pengetahuan adalah suatu cara untuk
memperoleh kebenaran pengetahuan dengan cara mengulang kembali
pengetahuan yang diperoleh dalam memecahkan masalah yang dihadapi

masa lalu. Dalam hal pengobatan, pengalaman ini sangat mempengaruhi


masyarakat untuk ,menggunakan suatu obat. Misalnya, setelah mereka
menggunakan obat tertentu dan ia merasakan suatu efek yang baik dan
mereka inginkan mereka akan terus menggunakan obat tersebut walaupun
penggunaannya tidak benar.
6. Usia.
Usia mempengaruhi terhadap daya tangkap dan pola pikir
seseorang. Semakin bertambah usia akan semakin berkembang pula daya
tangkap dan pola pikirnya, sehingga pengetahuan yang diperolehnya
semakin membaik. Pada usia madya, individu akan lebih berperan aktif
dalam masyarakat dan kehidupan sosial serta lebih banyak melakukan
persiapan demi suksesnya upaya menyesuaikan diri menuju usia tua, selain
itu orang usia madya akan lebih banyak menggunakan banyak waktu
untuk membaca. Kemampuan intelektual, pemecahan masalah, dan
kemampuan verbal dilaporkan hampir tidak ada penurunan pada usia ini.
Dua

sikap

tradisional

mengenai

jalannya

perkembangan

selama

hidup(Anonim., 2009).

B. PENGERTIAN SWAMEDIKASI
Swamedikasi merupakan bagian dari upaya masyarakat menjaga
kesehatannya sendiri. Dari data World Health Organization , di banyak
negara sampai 80% orang yang sakit mencoba untuk melakukan
pengobatan sendiri oleh penderita. Sedangkan data di Indonesia

menunjukkan bahwa sekitar 60% masyarakat melakukan swamedikasi


dengan obat modern sebagai tindakan pertama bila sakit.
Swamedikasi berarti mengobati segala keluhan pada diri sendiri
dengan obat-obat yang dibeli bebas di apotek atau toko obat atas inisiatif
sendiri tanpa nasehat dokter. Salah satu keuntungan swamedikasi yang
dapat disebut adalah, bahwa seringkali obat-obat untuk itu memang sudah
tersedia dilemari obat dari banyak rumah tangga. Lagi pula bagi orang
yang tinggal didesa terpencil, dimana belum ada praktek dokter,
swamedikasi akan menghemat banyak waktu yang diperlukan untuk pergi
ke kota mengunjungi seorang dokter. (Soesilo, 1993)
Dilain pihak perlu diingat bahwa penyakit-penyakit yang lebih
serius tidak boleh dicoba untuk diobati sendiri. Antara lain gangguangangguan jantung dan pembuluh, kencing manis, penyakit-penyakit
infeksi, gangguan-gangguan jiwa dan kanker. Untuk penyakit-penyakit
tersebut adalah penting sekali untuk mencari pertolongan dokter sedini
mungkin.
Dibawah ini disebutkan sejumlah gejala berbahaya, yang tidak
boleh diobati sendiri karena menunjukkan pada suatu penyakit serius :
1. Kebanyakan keluhan pada mata
2. Batuk dan serak yang bertahan lebih lama 1-2 minggu dan tidak mau
3.
4.
5.
6.

sembuh, juga batuk darah


Terjadinya setiap perubahan pada tahi lalat atau kulit
Rasa nyeri atau sulit menelan yang tidak mau sembuh
Borok yang tidak mau sembuh
Buang air besar/kecil dengan darah, atau adanya perubahan menetap dari
pola pembuangan air atau konsistensi tinja (diare atau sembelit)

10

7. Rasa nyeri atau sulit buang air kecil


8. Keluarnya lendir/darah yang luar biasa dari vagina
9. Timbulnya benjolan kecil pada buah dada atau ditempat lain dari tubuh
10. Demam diatas 40o yang bertahan lebih lama dari 2-3 hari, yang disertai
gejala-gejala lain, seperti nyeri tenggorok (dengan bintik-bintik putih),
ruam kulit yang hebat atau lepuh
11. Diare atau muntah-muntah yang hebat. (Soesilo, 1993).
C. PENGERTIAN INFLUENZA
Influenza atau yang biasa disebut flu adalah gangguan pada saluran
pernafasan yang disebabkan oleh infeksi virus. Influenza bersifat menular
dari satu orang ke orang lain, bahkan dapat juga menyerang hewan, sperti
unggas atau babi. Akan tetapi, flu yang biasa dijumpai adalah penyakit
yang biasa terjadi pada masa pergantian musim, ketika daya tahan tubuh
seseoang menurun, virus influenza yang banyak berada di sekitar mudah
menyerang. (Djunarko Ipang & Y. Dian Hendrawati, 2011)
Flu merupakan penyakit yang ditandai dengan beberapa gejala,
antara lain demam (temperatur umumnya tinggi, di atas 38C ), batuk,
pilek dan hidung tersumbat, sakit kepala, dan nyeri sendi.
Flu adalah penyakit yang bersifat self-limitting disease , atau
penyakit yang dapat sembuh sendiri dengan meningkatnya daya tahan
tubuh. Namun, sering kali gejala yang muncul saat flu menyebabkan
penderitanya sulit beraktivitas dan beistiahat, maka dibutuhkan obat flu
untuk mengatasi gejala-gejala tersebut. (Djunarko Ipang & Y. Dian
Hendrawati, 2011)
Flu disebabkan oleh virus influenza yang sangat banyak berada di
sekitar kita. Tubuh orang normal yang sehat sebenarnya akan mampu
bertahan dari serangan virus ini, tetapi terkadang ada situasi daya tahan

11

tubuh menjadi turun, misalnya saat cuaca tidak stabil, kelelahan, dan stres.
Saat itulah tubuh akan mudah terserang virus ini dan menjadi sakit.
Obat flu hanya dapat meringankan keluhan dan gejala saja, tetapi
tidak dapat menyembuhkan. Obat flu yang dapat didapatkan tanpa resep
dokter umumnya menggunakan kombinasi dari beberapa zat berkhaziat,
yaitu (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1997; Departemen
Kesehatan Republik Indonesia, 2006 (dalam skripsi dian hermawati)
a. Antipiretik-analgetik, untuk menghilangkan rasa sakit dan menurunkan
demam. Contoh obatnya adalah Paracetamol
b. Antihistamin, untuk mengurangi rasa gatal di tenggorokan atau reaksi
alergi lain yang menyertai flu. Bekerja dengan menghambat efek
histamin yang menyebabkan alergi. Contoh obatnya klorfenilamin
maleat ( CTM ) dan difenhidramin HCL.
c. Dekongestan, untuk meredakan hidung tersumbat. Contoh obat antara
lain : fenilpropanolamin, fenilefrin, pseudoefedrin dan efedrin,
d. Antitusif, ekspektoran, atau mukolitik untuk meredakan batuk yang
disertai flu.
Obat flu dengan berbagai merek dengan dapat mengandung dengan
kombinasi yang sama, sehingga tidak dianjurkan menggunakan
berbagai merek flu pada saat bersamaan.
Hal-hal berikut ini jika dilakukan, akan meningkatkan daya tahan
a. Istirahat cukup dan berolahraga rutin saat sehat untuk mencegah
b.
c.
d.
e.

flu.
Menghentikan aktivitas berat untuk sementara waktu
Banyak minum air putih, terutama yang hangat.
Makan makanan sehat, terutama buah dan sayur.
Tutup dengan tisu atau saputangan apabila bersin atau batuk

(Djunarko Ipang & Y. Dian Hendrawati, 2011)


D. PENGERTIAN OBAT

12

Obat merupakan suatu zat kimia selain makanan yang mempunyai


pengaruh terhadap atau dapat menimbulkan efek pada organisme hidup
menurut UU No. 36 Tahun 2009, obat adalah bahan atau paduan bahan,
termasuk produk biologi yang digunakan untuk mempengaruhi atau
menyelidiki system fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan
diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan
kontrasepsi, untuk manusia. (Nugroho, 2012)
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, eksplorasi suatu obat
berkembang sangat pesat. Eksplorasi obat dapat dilakukan dari beberapa
sumber sebagai berikut:
1. Tumbuhan. contohnya, kurkumin, digitalis, kuinin, atropine, reserpin,
nikotin dan kafein.
2. Hewan. Contohnya, insulin, serbuk tiroid, heparin, vaksin.
3. Mineral. Contohnya, kaolin dan karbon aktif yang digunakan pada
pengobatan diare.
4. Mikroorganisme. Contohnya, obat antibiotika (misalnya penisilin,
kloramfenikol, eritromisin).
5. Sintesis (parasetamol,aspirin)
6. Bioteknologi. Contohnya, adalah interferon, hormon.
Obat sebenarnya adalah racun. Hanya pada kisaran dosis tertentu
saja obat biasa digunakan. Apabila dosisnya dinaikkan (over dosis) maka
obat berpotensi toksik, sedangkan jika dosisnya terlalu kecil akan tidak
berefek. Meskipun obat sudah digunakan pada dosis terapi, namun juga bisa
berpotensi menimbulkan keracunan, yakni berupa efek samping pada
system atau organ lain dalam tubuh. Sebagai contoh adalah penggunaan obat

13

anti inflamasi non steroid (NSAID). Misalnya diklofenak sebagai analgesik


untuk pengobatan nyeri rematik. Dalam penggunaan jangka panjang
diklofenak bisa menimbulkan iritasi pada lambung yang serius. Contoh lain
adalah penggunaan penisilin sebagai antibiotika yang bisa berpotensi
menghasilkan efek samping hipersensitivitas alergi pada beberapa individu.
(Agung, 2012)
Apa sebenarnya tujuan pengobatan ? penggunaan obat mempunyai
beberapa tujuan sebagai berikut.
1. Preventif, ini merupakan suatu pengobatan guna mencegah timbulnya
penyakit. Tujuan pengobatan ini adalah untuk menghindari terjangkitnya
suatu penyakit pada individu yang sehat, menghindari perkembangan
penyakit menjadi lebih parah dan menghindari komplikasi penyakit
lainnya.
2. Penetapan diagnosis, dalam hal ini, pemberian obat ditujukan untuk
mengidentifikasi atau mengenali suatu penyakit. Contohnya adalah
penggunaan edroponium secara intravena untuk diagnosis penyakit
myasthenia gravis. Obat ini mempunyai aksi yang sangat cepat. Bila
penderita diberikan edroponium maka dengan cepat kakuatan otot
skeletalnya akan meningkat.
3. Kuratif, ini merupakan suatu pengobatan untuk upaya penyembuhan suatu
penyakit. Pengobatan bersifat kuratif lebih ditujukan pada penyebab
penyakit tersebut. Dalam hal ini, terhadap individu yang sakit dilakukan
pengobatan sehingga ia menjadi sehat, atau level penyakitnya bisa menjadi
lebih ringan.

14

4. Simtomatik, pegobatan yang merupakan penggunaan obat yang ditujukan


pada gejala-gejala pada suatu penyakit. Contohnya adalah pengobatan
analgesik seperti parasetamol atau aspirin. Dalam hal ini, sakit kepala
sebenarnya merupakan salah satu gejala dari penyakit hipertensi.
5. Rehabilitatif, pengobatan ini ditujukan untuk pemulihan pasien yang sakit
atau luka agar dapat mandiri dalam aktivitas normal. Dalam arti lain,
pengobatan rehabilitatif bertujuan untuk meningkatkan dan mengembalikan
kemampuan fungsional dan kualitas hidup pasien.
6. Promotif, pengobatan promotif bertujuan meningkatkan tingkat kesehatan
atau menjaga kesehatan seseorang. Contohnya adalah penggunaan vitamin
maupun suplemen untuk meningkatkan kesehatan individu.
7. Kontrasepsi, ini merupakan suatu pemberian obat yang ditujukan untuk
menghambat proses ovulasi dan mencegah terjadinya kehamilan.
Contohnya adalah penggunaan progesteron dan estradiol yang masingmasing menghambat proses ovulasi dan folikel sehingga dapat digunakan
untuk kontrasepsi. (Agung, 2012)
Berkaitan dengan pengobatan sendiri, telah dikeluarkan berbagai
peraturan perundangan. Pengobatan sendiri hanya boleh menggunakan obat
yang termasuk golongan obat bebas dan obat bebas terbatas (SK Menkes
No.2380/1983). Obat bebas adalah obat yang bebas dijual di pasaran dan
dapat dibeli tanpa resep dokter. Tanda khusus untuk obat bebas adalah berupa
lingkaran berwarna hijau dengan garis tepi berwarna hitam. Sedangkan obat
bebas terbatas adalah obat yang dijual bebas dan dapat dibeli tanpa dengan
resep dokter, tetapi disertai dengan tanda peringatan. Tanda khusus untuk obat
ini adalah lingkaran berwarna biru dengan garis tepi hitam. Semua obat yang

15

termasuk golongan obat bebas dan obat bebas terbatas wajib mencantumkan
keterangan pada setiap kemasannya tentang kandungan zat berkhasiat,
kegunaan, aturan pakai, dan pernyataan lain yang diperlukan (SK Menkes
No.917/1993). Semua kemasan obat bebas terbatas wajib mencatumkan tanda
peringatan apabila sakit berlanjut segera hubungi dokter (SK Menkes
No.386 /1994). (Supardi, 1999)
Obat bebas dan obat bebas terbatas pada dasarnya merupakan bahan
dengan takaran tertentu dan penggunaan yang tepat dapat dimanfaatkan untuk
mendiagnosis,

mencegah

penyakit,

menyembuhkan

atau

memelihara

kesehatan. Sebelum menggunakan obat bebas dan obat bebas terbatas harus
diketahui sifat dan cara pemakaian obat bebas dan obat bebas terbatas agar
penggunaanya tepat dan aman. (Azis, dkk : 2004)
Informasi obat bebas dan obat bebas terbatas dapat diperoleh dari
etiket atau brosur yang menyertai obat bebas dan obat bebas terbatas tersebut.
Hal yang harus diperhatikan :
1. Pengalaman alergi atau reaksi yang tidak diinginkan terhadap obat bebas
dan obat bebas terbatas tertentu.
2. Salah guna obat bebas dan obat bebas terbatas dapat menimbulkan efek
samping reaksi alergi seperti gatal-gatal, ruam, mengantuk, dan lain-lain.
3. Keadaan kontraindikasi untuk obat bebas dan obat bebas terbatas tertentu
seperti diet rendah kalori, kehamilan, sedang menyusui, penggunaan obat
lain secara bersamaan, dan sebagainya.
4. Bacalah tanda peringatan dan etiket sebelum menggunakan obat bebas dan
obat bebas terbatas.
5. Jauhkan dari jangkaun anak-anak. (Azis, dkk : 2004)

16

Informasi pada kemasan, etiket atau brosur obat bebas dan obat bebas
terbatas. Pada setiap obat bebas dan obat bebas terbatas selalu dicantumkan
nama obat bebas dan obat bebas terbatas, komposisi, informasi cara kerja
obat, indikasi, aturan pakai, peringatan, perhatian, nama produsen dan nomor
batch/lot serta nomor registrasi.
Bila digunakan secara benar, obat bebas dan obat bebas terbatas
seharusnya bisa sangat membantu masyarakat dalam pengobatan sendiri
secara aman dan efektif. Namun sayangnya, seringkali dijumpai bahwa
pengobatan sendiri menjadi sangat boros karena mengkonsumsi obat-obat
yang sebenarnya tidak dibutuhkan, atau malah bisa berbahaya misalnya
karena penggunaan yang tidak sesuai dengan aturan pakai. Bagaimanapun,
obat bebas dan bebas terbatas bukan berarti bebas efek samping sehingga
pemakaiannya pun harus sesuai dengan indikasi, lama pemakaian yang benar,
disertai dengan pengetahuan pengguna tentang resiko efek samping dan
kontraindikasinya.
Penggunaan obat bebas dan obat bebas terbatas yang sesuai dengan
aturan dan kondisi penderita akan mendukung upaya penggunaan obat yang
rasional. Kerasionalan penggunaan obat menurut Cipolle dkk. Terdiri dari
beberapa aspek, di antaranya: ketepatan indikasi, kesesuaian dosis, ada
tidaknya efek samping dan interaksi dengan obat dan makanan, serta ada
tidaknya polifarmasi (penggunaan lebih dari dua obat untuk indikasi penyakit
yang sama). (Susi,2008)

17

Pemakaian obat yang tidak rasional merupakan masalah serius dalam


pelayanan kesehatan oleh karena kemungkinan dampak negatif yang terjadi.
Di banyak negara, pada berbagai tingkat pelayanan kesehatan, berbagai studi
dan temuan telah menunjukkan bahwa pemakaian obat jauh dari keadaan
optimal dan rasional.
Tujuan pengobatan secara umum adalah untuk mengobati tanpa
meninggalkan efek samping atau dengan efek samping seminimal mungkin,
juga dengan harga obat yang terjangkau dan mudah didapat masyarakat.
Dalam praktik sehari-hari yang dipengaruhi oleh banyak faktor, tujuan
pengobatan tersebut sering tidak tercapai. Faktor-faktor yang berpengaruh
dalam pemberian obat kurang rasional antara lain, kurangnya pengetahuan
dari tenaga kesehatan dalam ilmu obat-obatan, adanya kebiasaan dokter
meresepkan jenis atau merk obat tertentu, kepercayaan masyarakat terhadap
jenis atau merk obat tertentu, keinginan pasien yang cenderung ingin
menggunakan obat tertentu, dengan sugesti menjadi lebih cepat sembuh,
adanya sponsor dari industri farmasi tertentu, pemberian obat berdasarkan
adanya hubungan baik perorangan dengan pihak dari industri farmasi, adanya
keharusan dari atasan dalam suatu instansi atau lembaga kesehatan untuk
meresepkan jenis obat tertentu, informasi yang tidak tepat atau bias, sehingga
pemakaian obat menjadi tidak tepat; beban pekerjaan yang terlalu berat
sehingga tenaga kesehatan menjadi tidak sempat untuk berpikir mengenai
rasionalitas pemakaian obat, dan adanya keterbatasan penyediaan jenis obat
di suatu instansi atau lembaga kesehatan tertentu, sehingga jenis obat yang

18

diperlukan untuk suatu penyakit justru tidak tersedia, sehingga memakai obat
yang lain. (Hermansyah, 2012)
Adanya berbagai efek dari tiap jenis obat dapat menimbulkan efek
interaksi obat di dalam tubuh yang dapat merugikan ataupun membahayakan
apabila pemakaian obat diberikan dalam jumlah jenis yang melebihi batas.
Adanya berbagai media informasi (media cetak, televisi, radio,
internet, dst) juga memberikan efek kurang baik yang menyebabkan
masyarakat menggampangkan memakai obat seperti obat pengurang nyeri
atau penurun panas yang tidak tepat indikasi pemakaiannya. Seperti karena
adanya beban pekerjaan, maka seseorang dengan gampang menggunakan
obat pengurang nyeri karena merasa sedikit nyeri kepala. Begitupun bagi para
ibu rumah tangga yang cepat merasa khawatir apabila ada anaknya yang
demam, maka dengan cepat mereka diberikan obat penurun panas.
Banyak dokter praktik swasta sekarang yang merangkap menjadi
pemasar dari perusahaan farmasi tertentu atau mengikuti keanggotaan Multi
Level Marketing (MLM) kesehatan. Umumnya, produk yang dijual adalah
suplemen makanan (food supplement) atau multivitamin. Pemakaian
suplemen makanan ataupun multivitamin ini menjadi tidak rasional ketika
pemberian tidak berdasarkan indikasi, atau karena harga yang dikenakan
cukup mahal, kadangkala malah jauh lebih mahal dari pada obat yang justru
penting diberikan untuk penyakitnya.
Pada beberapa kasus, perusahaan farmasi yang menjadi sponsor
penyelenggaraan kegiatan ilmiah, kadang dianggap berhubungan dengan

19

kebijakan pelayanan kesehatan yang menjadi terikat pada hubungan tenaga


kesehatan dengan perusahaan farmasi tersebut. Kerengganan menuliskan resep
obat generik oleh kebanyakan dokter karena intervensi perusahaan farmasi
seperti inilah yang membuat masyarakat kelas menengah ke bawah menjadi
kadang harus membayar lebih mahal untuk obat yang seharus dapat dibeli
dengan murah. (Hermansyah, 2012)

BAB III
METODE PENELITIAN

20

A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif dengan
menggunakan metode survei.
B. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di BTN Tirasa Asrama Haji Sudiang dan
pengumpulan data dari responden dilaksanakan pada bulan Juni 2015.
C. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat dewasa di
BTN Tirasa Asrama Haji Sudiang yang pernah melakukan swamedikasi
penyakit influenza
2. Sampel
Penarikan sampel diambil dengan menggunakan Sampling Kuota
yaitu teknik penentuan sampel dari populasi yang mempunyai ciri-ciri
tertentu sampai jumlah (kuota) yang diinginkan, dalam hal ini jumlah
sampel yang ditentukan adalah 30 dengan ciri-ciri antara lain :
a. Pernah mlakukan swamedikasi penyakit influenza
b. Usia >17 tahun
c. Bisa berkomunikasi
d. Bersedia diwawancarai

D. Instrumen Penelitian
Adapun instrumen dari penelitian ini adalah berupa kuesioner.
E. Jenis dan sumber Data
Data penelitian ini berupa data primer. Data primer merupakan data
yang sumber datanya dikumpulkan dengan membagikan kuesioner kepada
responden .

21

F. Metode Pengumpulan dan Pengolahan Data


1. Pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan angket (kuesioner).
2. Data yang diperoleh ditabulasi dalam bentuk nilai skor, dihitung total
skor untuk pertanyaan dari setiap variabel lalu dipersentasekan.
Skoring untuk setiap jawaban dari kuesioner menggunakan Skala
Guttman.
Pengukuran Skor : Untuk jawaban Positif
: Untuk jawaban Negatif

:1
:0

Jumlah skor rata-rata


Persentase Skor

x 100 %
Skor ideal

Nilai responden
Jumlah butir soal

Skor rata-rata

Skor ideal

= Jumlah responden x 1

Data yang diperoleh dengan memberikan penilaian terhadap


setiap jawaban responden pada kuesioner kemudian dibagi dalam 2
kategori yaitu:
a). 50 % = pengetahuan rendah
b). > 50 % = Pengetahuan tinggi
G. Definisi Operasional
1. Tingkat pengetahuan masyarakat, yang dimaksud disini adalah tinggirendahnya pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat yang
melakukan swamedikasi untuk pengobatan influenza.
2. Obat influenza yang dimaksud di sini adalah obat influenza yang di
jual secara bebas di apotek yang pada umunya mengandung berbagai
macam komposisi yakni analgesik dan antipiretik, dan antihistamin.

22

3. Swamedikasi yang dimaksud disini adalah pengobatan yang dilakukan


pada diri sendiri maupun orang lain (keluarga) ktika sakit, tanpa pergi
keasilitas kesehatan atau bukan atas petunjuk petugas kesehatan.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
Dari hasil penelitian yang dilakukan pada bulan Juni 2015 di BTN
Tirasa Asrama Haji Sudiang terhadap 30 orang responden yang dipilih
berdasarkan sampling kuota, diperoleh data mengenai tingkat pengetahuan
masyarakat BTN Tirasa Asrama Haji tentang swamedikasi obat influenza.
Karekteristik Responden

23

Dari 30 orang responden terdiri dari beberapa karakteristik,


diantaranya: jenis kelamin, dan umur responden. Adapun karakteristik
tersebut dapat diuraikan pada tabel-tabel berikut:
Tabel I:Jenis Kelamin Responden
No.

Jenis Kelamin

1.
2.
Sumber:

Laki-laki
Perempuan
Jumlah
Data primer 2015

Jumlah
(Responden)
10
20
30

Persen
(%)
33,33%
66,67%
100%

Berdasarkan tabel I di atas menunujukkan bahwa jumlah responden


perempuan sebanyak 20 orang (66,67%) dimana lebih besar dari jumlah
responden laki-laki yaitu 10 orang (33,33%).

Tabel II: Umur Responden


No.

Umur

1.
2.
3
4

17-25
26-35
36-48
49

Jumlah
Sumber: Data primer 2015

Jumlah
(Responden)
10
8
5
7
30

Persen
(%)
33,33%
26,66%
16,66%
23,33%
100%

Berdasarkan tabel I di atas menunujukkan bahwa

jumlah

responden berumur 17-25 sebanyak 10 orang (33,33%) umur 26-35


sebanyak 8 orang (26,66%) umur 36-48 sebanyak 5 orang (16,66%) dan

24

umur diatas 49 tahun sebanyak 7 orang (23,33 %) dimana responden yang


paling banyak adalah yang berumur 17-25 tahun (33,33 %)

Hasil Jawaban Responden


Bedasarkan penelitian yang telah dilakukan, diperoleh jawaban
responden mengenai tingkat pengetahuan masyarakat BTN Tirasa tentang
swamedikasi obat influenza yang akan diuraikan pada table berikut :
Tabel III : Distribusi Jawaban Responden mengenai Tingkat
Pengetahuan Masyarakat tentang Swamedikasi Di BTN Tirasa
Asrama Haji Sudiang tahun 2015
No
.

B
utir

Positif
jawaban Skor

Negatif
Jawaban Skor

Jumlah
Jawaban Skor

25

Soal
1
30
30
2.
2
25
25
3.
3
24
24
4.
4
20
20
5.
5
25
25
6.
6
27
27
7.
7
21
21
8.
8
18
18
9.
9
27
27
10.
10
25
25
11.
11
22
22
12.
12
30
30
13.
13
20
20
14.
14
22
22
15.
15
27
27
Jumlah
363
363
Jumlah
24,2
24,2
Rata-rata
Persentase
80,67%
Skor
Sumber : data pimer 2015
1.

0
5
6
10
5
3
9
12
3
5
8
0
10
8
3
87

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
30
450

30
25
24
20
25
27
21
18
27
25
22
30
20
22
17
363

5,8

30

24,2

0%

80,67%

Dari tabel tersebut dapat dilihat jawaban responden mengenai


Tingkat Pengetahuan Masyarakat Di BTN Tirasa Asrama Haji Sudiang
Tentang Swamedikasi Obat Influenza. Tabel diatas menunjukkan bahwa
sebagian besar responden dinyatakan mem iliki pengetahuan tinggi tentang
swamedikasi (80,67 %)
B. Pembahasan
Dari hasil penelitian, diperoleh data bahwa tingkat pengetahuan
masyarakat BTN Tirasa Asrama Haji Sudiang tergolong tinggi.
Berdasakan jawaban responden pada kelima belas pertanyaan yang
diajukan, dimana pada soal nomor ke-1 seluruh responden menjawab
positif yang menunjukkan responden pernah melakukan swamedikasi, baik

26

itu di apotek ataupun di toko obat. Begitupun pada soal pada nomor ke-2
sebagian besar responden memberikan jawaban positif dimana 25 orang
memberikan jawaban positif, berarti responden tersebut sudah mengetahui
obat apa yang akan diminum dan 5 responden lagi mengatakan tidak
mengetatui obat apa yang akan diminum untuk mengobati pe nyakit
influenza. Sedangkan untuk informasi mengenai obat yang merupakan
pertanyaan dari soal nomor ke-3, terdapat 24 respon menjawab posit if
dan 6 menjawab negatif yang menunjukkan bahwa sebagian besar
masyarakat bertanya kepada petugas apotek ataupun toko obat tentang
obat influenza.
Sedangkan untuk pertanyaan soal nomor ke-4 sebagian responden
tetap memberi jawaban yang positif, sebanyak 20 orang. Namun 10 orang
lainnya memberi jawaban negatif yang menunjukkan bahwa responden
tidak membaca brosur cara penggunaan obatnya terlebih dahulu sebelum
mengkonsumsi obat tersebut. Meskipun 10 orang menjawab negative pada
soal nomor ke-4 tetapi responden tetap mengetahui bahwa obat influenza
tetap harus digunakan secara berhati-hati, ini ditunjukkan dari soal nomor
ke-5 yang menunjukkan sebagian besar responden memberi jawaban
positif sebanyak 25 reponden, hanya 5 responden yang memberi jawaban
negatif. Ini membuktikan bahwa tetap berhati-hati menggunakan obat
influenza meskipun dapat dibeli bebas, mereka mendapat info dari petugas
apotek, toko obat ataupun dari mulut ke mulut.
Adapun aturan pakai dari obat influenza yang merupakan soal
nomor ke-6 hanya 3 responden yang memberi jawaban negatif dan 27

27

responden memberikan jawaban positif. Begitupun pada soal nomor ke-7


terdapat 9 responden yang memberi jawaban negatif dan 21 responden
menjawab positif ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden
mengetahui aturan pakai dari obat influenza. Sedangkan pada soal nomor
ke-8 terdapat 18 responden memberi jawaban positif, dan 12 responden
memberi jawaban negative ini mnunjukkan tidak sedikit responden yang
mengetahui dosis obat dari apoteker/asisten apoteker. Namun tidak sedikit
juga responden yang tidak mengetahui dosis obat dari apoteker/asisten
apoteker.
Sementara untuk tingkat pengetahuan masyarakat mengenai efek
samping dari obat influenza cukup tinggi, ini ditunjukkan pada soal nomor
ke-9 dan soal nomor ke-10 pada soal ke-9 mengenai rasa mengantuk yang
dirasakan setelah mengkonsumsi obat influenza 27 menjawab positif dan 3
menjawab negatif itu berarti lebih banyak responden yang mengetahui
efek samping dari obat influenza. Sedangkan untuk soal pada nomor ke-10
mengenai larangan mengendarai kendaraan setelah mengkonsumsi obat
influenza 25 responden menjawab positif dan 5 menjawab negative
menunjukkan bahwa sebagian besar responden mengetahui efek samping
dari obat flu yaitu mengantuk jadi sebaiknnya masyarakat tidak
mengendarai kendaraan. Untuk soal nomor ke- 11 ada 8 responden yang
jenjawab negative dan 22 responden yang menjawab positif berarti
masyarakat mengerti bahwa dengan mengkonsumsi minuman dan
makanan sehat akan lebih mempercepat penyembuhan influenza. Dan pada
soal nomor ke-12 hasilnya sama dengan soal nomor 1 seluruh responden

28

menjawab positif yang berarti masyarakat akan berhenti mengkonsumsi


obat apabila sudah sembuh dari penyakit influenza. Sedangkan pada soal
nomor ke-13 terdapat responden yang menjawab positif sebanyak 20 dan
yang menjawab negative ada 10 yang menunjukkan bahwa sebagian
responden akan meminta pertolongan dari dokter atau tenaga medis
lainnya jika setelah minum obat selama 3 hari namun tidak mendapatkan
hasil dari obat tersebut da nada juga yang memilih untuk tidak meminta
pertolongan dokter atau tenaga medis lainnya. Soal nomor ke-14 mengenai
penggunaan obat influenza bagi penderita hipertensi harus lbih behati-hati
ada 22 responden yang menjawab positif dan 8 orang lagi menjawab
negatif berarti ini menunjukkan sebagian besar responden mengetahui
mengenai hal tersebut, selain itu peringatan tersebut sebenarnya sud ah ada
pada brosur obat tersebut. Untuk soal terakhir yaitu nomor ke-15 tentang
apakah obat bisa digunakan secara terus-menerus dalam jangka waktu
yang lama terdapat 27 responden yang memberi jawaban positif dan 3
responden yang menjawab negatif.
Dengan demikian diperoleh persentase jawaban responden sebesar
80,67% yang menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan masyarakat di
BTN Tirasa Asrama Haji Sudiang tergolong tinggi.

29

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasaan yang telah
dilakukan maka ditarik kesimpulan bahwa tingkat pengetahuan
masyarakat tentang swamedikasi obat influenza di BTN Tirasa Asrama
Haji Sudiang tergolong dalam tingkat pengetahuan tinggi yaitu sebesar
80,67%.
B. Saran
1. Disarankan untuk melakukan penelitian lanjutan dengan jumlah
responden yang lebih banyak, dari lokasi yang lebih luas, dan
jangka waktu yang lebih lama.
2. Diharapkan kepeda seluruh tenaga kesehatan pada umumnya,
khususnya farmasi agar lebih banyak lagi memberikan informasi
yang jelas kepada masyarakat mengenai penggunaan obat-obatan.

DAFTAR PUSTAKA

30

Agung Endro Nugroho., 2012, Prinsip Aksi Dan Nasib Obat Dalam Tubuh,
pustaka pelajar, Yogyakarta
Anonim, 2009. Pengetahuan dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi.
http://forbetterhealth.wordpress.com. Diakses pada tanggal 25 januai 2014
Atmoko, W. & Kurniati, I. (2009). Swaedikasi: Sebuah respon realistik perilaku
konsumen di masa krisis. Bisnis dan Kewirausahaan. Vol. 2, 3, 233-247.
Azis Sriani, dkk., 2004, Kembali Sehat Dengan Obat (mengenal manfaat &
bahaya obat), edisi I, pustaka popular obor, Jakarta
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (1997), komponen obat bebas.
Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2008), meteri pelatihan peningkatan
pengetahuan dan keterampilan memilih obat bagi tenaga kesehatan.
Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonsia.
Djunarko Ipang & Y. Dian Hendrawati, 2011, Swamedikasi Yang Baik Dan
Benar, PT Citra Aji Parama, Yogyakarta 55221.
Hermawati Dian 2012, pengaruh edukasi terhadap tingkat pengetahuan dan
rasionalitas penggunaan obat swamedikasi pengunjung di dua apotek di
kecematan cimanggis, depok. Program studi farmasi universitas indonesia.
Hermansyah H. Ramadhy AS., 2012 Perawat dan Pemakaian Obat secara
Rasional,.http://www.stikku.ac.id/wpcontent/uploads/2011/02/perawatdan-pemakaian-obat-secara-rasional.pdf, diakses pada tanggal 26
September 2014
Notoatmodjo, 2003.Konsep Tingkat Pengetahuan,
http://id.shvoong.com/humanities/linguistics/2053284-konsep-tingkatpengetahuan/. Diakses 25 Januari 2014
Soesilo Slamet., 1993, Swamedikasi, departemen kesehatan republik Indonesia,
Jakarta
Supardi, S. & Notosiswoyo M. (2005, Maret). Pengobatan sendiri sakit kepala,
demam, batu, dan pilek pada masyarakat di Desa Ciwalen, Kecematan
Warungkondang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Majalah ilu kefarmasian.
134-144.

31

Susi AK. Yayi SP. Riswaka S., 2008, Perilaku Pengobatan Sendiri yang Rasional
pada Masyarakat Kecamatan Depok dan Cangkringan Kabupaten Sleman.
Majalah Farmasi Indonesia,
http://mfi.farmasi.ugm.ac.id/files/news/5._bu_susi.pdf,diakses
pada
tanggal 27 Mei 2014

32

Lampiran I
Skema Kerja

SURAT PENGANTAR DARI AKADEMI FARMASI SANDI KARSA MAKASSAR

KETUA RT BTN TIRASA ASRAMA HAJI SUDIANG MAKSSAR

MASYARAKAT

PENGAMBILAN DATA DENGAN MENGGUNAKAN KUESIONER

PENGUMPULAN DATA

PEMBAHASAN

KESIMPULAN

SARAN

33

Lampiran II
KUESIONER PENELITIAN
Saya mengucapkan banyak terima kasih atas keikhlasan dan waktu anda
untuk menjawab kuisioner ini sebagai data pembantu dalam menyelesaikan Karya
Tulis Ilmiah saya. Besar harapan saya, anda menjawab pertanyaan ini sesuai
dengan apa yang anda ketahui dan tanpa perasaan tertekan.
Identitas Responden:
Nama

Umur

Jenis kelamin

Petunjuk pengisisan:
Baca dan jawablah pertanyaan di bawah ini dengan memberi tanda silang (X)
pada salah satu jawaban yang tersedia.
1. Untuk mengobati flu anda membeli obat influenza secara bebas di
apotek/toko obat ?
a. Ya
b. Tidak
2. Sebelum membeli obat di apotek/toko obat. Apakah anda sudah tahu nama
obat yang akan anda beli?
a. Ya
b. Tidak
3. Untuk mengetahui tentang obat influenza, apakah anda menanyakan
kepada apoteker/asisten apoteker?
a. Ya
b. Tidak
4. Sebelum mengkonsumsi obat influenza apakah anda membaca brosur cara
penggunaan obatnya terlebih dahulu?
a. Ya
b. Tidak

34

5. Apakah anda mengetahui bahwa obat flu harus digunakan secara hati-hati,

6.
7.
8.
9.

meskipun dapat dibeli bebas ?


a. Ya
b. Tidak
Apakah anda mengkonsumsi obat flu sesudah makan?
a. Ya
b. Tidak
Apakah anda mengetahui jika obat flu umumnya diminum 3x1 sehari?
a. Ya
b. Tidak
Apakah anda mengetahui dosis obat dari apoteker/asisten apoteker/dokter?
a. Ya
b. Tidak
Apakah anda mengetahui bahwa rasa ngantuk merupakan salah satu efek

samping obat flu?


a. Ya
b. Tidak
10. Apakah anda mengetahui bahwa setelah mengkonsumsi obat flu,
sebaiknya anda tidak boleh menjalankan kendaraan?
a. Ya
b. Tidak
11. Selain mengkonsumsi obat flu, apakah untuk mempercepat penyembuhan
anda akan mengurangi aktivitas serta minum dan makan makanan sehat?
a.Ya
b. Tidak
12. Apakah anda berhenti mengkonsumsi obat flu jika flu anda sudah sembuh?
a. Ya
b. Tidak
13. Jika pengobatan flu yang anda lakukan tidak sembuh setelah 3 hari minum
obat, apakah anda akan meminta pertolongan dari dokter atau tenaga
medis lainnya?
a. Ya
b. Tidak
14. Apakah anda mengetahui jika penggunaan obat flu bagi penderita
hipertensi harus berhati-hati?
a. Ya
b. Tidak
15. Apakah anda mengetahui jika obat flu tidak boleh digunakan secara terus
menerus dalam jangka waktu yang lama?
a. Ya
b. Tidak

35

Lampiran III
Perhitungan Dan Hasil Analisis Data Kuesioner

Rata rata skor

Nilai responden
Jumlah butir soal
363
30

= 24,2
Jumlah Skor Rata rata
x 100%
Skor ideal

Persentase

24,2
x 100%
30

= 80,67 %

36

Lampiran IV : Surat Bukti Penelitian di BTN Tirasa Asrama Haji Sudiang kota
Makassar.