Anda di halaman 1dari 3

Bawang putih (Allium sativum) adalah herba semusim berumpun yang

mempunyai ketinggian sekitar 60 cm. Tanaman ini banyak ditanam di ladangladang di daerah pegunungan yang cukup mendapat sinar matahari.
Batangnya batang semu dan berwarna hijau. Bagian bawahnya bersiungsiung, bergabung menjadi umbi besar berwarna putih. Tiap siung terbungkus
kulit tipis dan kalau diiris baunya sangat tajam. Daunnya berbentuk pita
(pipih memanjang), tepi rata, ujung runcing, beralur, panjang 60 cm dan
lebar 1,5 cm. berakar serabut. bunganya berwarna putih, bertangkai panjang
dan bentuknya payung. B.
Komponen utama bawang putih tidak berbau, disebut komplek sativumin,
yang diabsorbsi oleh glukosa dalam bentuk aslinya untuk mencegah proses
dekomposisi. Dekomposisi kompleks sativumin ini menghasilkan bau khas
yang tidak sedap dari allyl sulfide, allyl disulfate, allyl mercaptane, alun
allicin dan alliin. Komponen kimia ini mengandung sulfur. Sulfur merupakan
komponen penting yang terkandung dalam bawang putih. Adapun komponen
aktif bawang putih sativumin adalah allicin, scordinine glycoside, scormine,
thiocornim, scordinine A dan B, creatinine, methionine, homocystein, vitamin
B, vitamin C, niacin, s-ade nocyl methionine, S-S bond (benzoyl thiamine
disulfide), dan organic germanium yang masing-masing mempunyai
kegunaan berbeda. Baik allin maupun allinase, keduanya cukup stabil ketika
kering sehingga bawang putih kering masih dapat berpotensi untuk
menghasilkan allicin ketika dilembabkan. Akan tetapi, allicin sendiri juga tidak
stabil dalam panas ataupun pelarut organik yang akan terurai menjadi
beberapa komponen, yaitu diallyl sulfides.

Bawang putih mengandung senyawa yang diantaranya adalah alisin yang bersifat larvasida.
Kandungan dari bawang putih lain yang diduga berperan adalah garlic oil, flavonoid serta
saponin. Kandungan alisin dan flavonoid dalam bawang akan mengganggu aktivitas juvenile
hormone, sedangkan kandungan saponin dalam bawang putih akan menghasilkan efek
ecdycson blocker, dimana pada serangga ecdyson hormone digunakan untuk pertumbuhan
larva. (Bloomquist, 2004). Informasi bawang putih sebagai insektisida masih terbatas,
sehingga perlu dilakukan penelitian tentang ekstrak bawang putih sebagai jenis insektisida
lainnya, seperti ovisida yang menghambat penetasan telur sehingga efektif dalam menekan
perkembangbiakan vektor nyamuk Aedes aegypti. Selain itu, bawang putih merupakan bahan
yang mudah didapatkan.
Ekstrak bawang putih ditemukan mempunyai sifat antibakteri dan antijamur.
Komponen antimikroba aktif mayor bawang putih adalah thiosulfinate
terutama allicin. Komponen allicin dibentuk ketika sebutir bawang mentah
dipotong, dihancurkan dan dikunyah. Pada saat itu enzim allinase dilepaskan
dan mengkatalise pembentukan asam sulfenik dari cysteine sulfoxide. Asam
sulfenik ini secara spontan saling bereaksi dan membentuk senyawa yang
tidak stabil yaitu thiosulfinate yang dikenal sebagai allicin

Gambar 2. Rumus Bangun Allicin dan Komponen Lainnya

Feldberg et al (1988) menyatakan bahwa allicin menunjukkan aktivitas


antimikroba dengan menghambat sistesis RNA dengan cepat dan
menyeluruh. Disamping itu, sintesa DNA dan protein juga dihambat secara
partial. Hal ini menunjukkan RNA adalah target utama dari aksi allicin.
Perbedaan struktur bakteri juga berperan dalam kerentanan bakteri terhadap
unsur bawang putih. Contohnya membrane sel Eschericha coli terdiri atas
20% lipid, dimana Staphylococcus aureus hanya terdiri atas 2% lipid.
Kandungan lipid pada membran dapat mempengaruhi permeabilitas allicin
dan unsur bawang putih yang lain.
Banyak bakteri tidak resisten terhadap bawang putih karena cara kerja
antibakterinya berbeda dengan antibiotik yang lain. Pembentukan resisten
terhadap antibiotik -laktam 1000 kali lebih mudah bila dibandingkan allicin
dari bawang putih, sehingga menjadi pilihan utama dalam penggunaan
terapeutik
Berbagai bentuk sediaan bawang putih menunjukkan aktivitas antibakteri
spektrum luas terhadap bakteri gram negatif dan gram positif termasuk
spesies Escherichia sp, salmonella sp, staphylococcus sp, streptococcus sp,
bacillus sp, , clostridium sp, klebsiella, proteusaerobacter, aeromonas,
citrella, citrobacter, dan enterobacter. Aktivitas antimikroba bawang putih
akan berkurang jika dididihkan karena komponen utama allicin berubah pada
temperatur yang tinggi

Proses pengolahan minyak atsiri dengan metode penyulingan uap dan air meliputi
tahapan persiapan bahan dan tahap penyulingan. Tahap penyulingan yang dilakukan adalah
sebagai berikut:

a. Bahan coba (bawang putih yang telah diblender) dimasukkan dalam ketel suling sesuai dengan
kapasitas suling.
b. Bahan dalam ketel suling dipanasi dengan uap yang basah sehingga memanasi sel atau kantung
kelenjar yang berisi minyak.
c. Uap yang telah memasuki seluruh bahan akan keluar melalui leher ketel suling menuju
kondensor atau pendingin.
d. Uap yang terdiri air dan minyak akan didinginkan di dalam kondensor menjadi fase
cair/destilat.
e. Destilat akan tertampung dalam wadah pemisah air dan minyak. Perbedaan berat jenis
menyebabkan minyak dan air terpisah. Proses pemisahan minyak dan air terdapat 2
kemungkinan, yaitu lapisan minyak diatas lapisan air atau sebaliknya. Jika berat jenis minyak
lebih besar dari 1 (lebih besar dari berat jenis air) maka minyak berada dibawah lapisan air.
f. Proses penyulingan selesai ketika destilat yang ditampung tidak menghasilkan minyak lagi.