Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN KASUS (DEMAM BERDARAH DENGUE GRADE II) ILMU KESEHATAN ANAK

LAPORAN KASUS (DEMAM BERDARAH DENGUE GRADE II) ILMU KESEHATAN ANAK Disusun oleh : Nur Dewi Ariesta

Disusun oleh :

Nur Dewi Ariesta (01.204.4851)

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG

2010

LAPORAN KASUS

  • A. IDENTITAS PENDERITA

Nama

: An. E

Umur

:10 tahun

Jenis Kelamin

: Perempuan

Pendidikan

: Sekolah Dasar

Agama

: Islam

Suku

: Jawa

Alamat

: Jl. Griya Mulya Loka Blok B4 No. 6

Nama Ayah

: Tn.

Umur

: 25 tahun

Pekerjaan

: Pedagang

Nama Ibu

: Ny. NG

Umur

: 24 tahun

Pekerjaan

: Ibu rumah tangga

Bangsal

: Parikesit

Masuk RS

: 20 November 2009

Keluar RS

: 2 November 2009

  • B. DATA DASAR

  • 1. Anamnesis ( Alloanamnesis ) Alloanamnesis dengan Ibu penderita dilakukan pada tanggal 20 November 2009 pukul 16.00 WIB di ruang Parikesit dan didukung dengan catatan medis. Keluhan utama : Panas Riwayat Penyakit Sekarang :

Sebelum masuk rumah sakit :

4 hari panas tinggi mendadak, panas dirasakan terus menerus tinggi, tidak kejang, tidak menggigil, tidak mengigau, tidak mimisan, gusi tidak berdarah, tidak sesak nafas, tidak ada bintik-bintik merah di kulit, tidak pegal-pegal, tidak nyeri sendi, ada nyeri perut, makan dan minum kurang dari biasanya, ada mual dan muntah, tidak nyeri telan, tidak sering mimisan tanpa sebab, tidak pernah mengalami luka yang lama hilang setelah terbentur, berak normal, tidak mencret, warna kuning, tidak ada

lendir, tidak ada darah, bau khas, dan frekuensi dan banyaknya kencing normal, tidak merasa sakit saat kencing. 2 hari anak tidak mau makan, lemas, pusing, kemudian dibawa orang tua

ke puskesmas diberi obat penurun panas. Setelah minum obat penurun panas, panas turun tapi beberapa jam kemudian suhu kembali tinggi. 1 hari badan semakin lemas dan gelisah, anak lebih suka miring kekanan, keluar bintik-bintik merah pada kulit, muntah darah warna merah segar (1x)1/3 gelas belimbing, telapak tangan dingin tetapi kaki tidak dingin. Kemudian dibawa orang tuanya ke IGD RSUD Kota Semarang, oleh dokter disarankan untuk rawat inap.

Setelah masuk rumah sakit :

1 hari setelah dirawat di rumah sakit panas mulai turun, tidak mau makan dan minum sedikit-sedikit, mengeluh nyeri perut, sering miring kekanan. Tidak ada orang serumah yang menderita sakit demam berdarah. Tetangga dekat rumah tidak ada yang sakit seperti ini dan sampai mondok di rumah sakit. Teman satu sekolah tidak ada yang sakit seperti ini.

Riwayat Penyakit Dahulu :

Anak belum pernah sakit demam berdarah sebelumnya

Riwayat pernah sakit panas, batuk, pilek tapi tidak sampai mondok di rumah sakit.

Riwayat penyakit keluarga

Tidak ada anggota keluarga yang pernah sakit demam berdarah sebelumnya.

Riwayat Persalinan dan Kehamilan :

Anak perempuan lahir dari ibu G1 P1 A0 hamil 38 minggu, lahir secara spontan ditolong oleh bidan, anak lahir langsung menangis, berat badan lahir 3000 gram , panjang badan ibu lupa, lingkar kepala saat lahir ibu lupa dan lingkar dada saat lahir ibu lupa.

Riwayat Pemeliharaan Prenatal :

Ibu biasa memeriksakan kandungannya secara teratur ke bidan terdekat.

pemeriksaan dilakukan 1 bulan sekali

Selama hamil ibu mengaku mendapat

.. imunisasi dari bidan lewat suntikan 2x kali. Tidak pernah menderita penyakit selama kehamilan. Riwayat perdarahan saat hamil disangkal. Riwayat trauma saat hamil disangkal. Riwayat minum obat tanpa resep dokter ataupun minum jamu disangkal. Obat – obat yang diminum selama kehamilan adalah vitamin dan tablet tambah darah.

Riwayat Pemeliharaan Postnatal :

Pemeliharaan postnatal dilakukan di bidan dan anak dalam keadaan sehat

Riwayat Perkembangan dan Pertumbuhan Anak Pertumbuhan :

Berat badan lahir 3000 gram , panjang badan lahir lupa, berat badan sekarang 12

kg, panjang badan sekarang 103 cm.

Perkembangan :

Senyum

: ibu lupa

Miring

: ibu lupa

Tengkurap

: ibu lupa

Duduk

: 6 bulan

Gigi keluar

: ibu lupa

Jalan

: 11 bulan

Bicara

: 14 bulan

Saat ini anak belum sekolah Bisa makan sendiri anak bermain dengan teman sebayanya Kesan : Pertumbuhan dan perkembangan anak sesuai dengan umur.

Riwayat Makan dan Minum Anak :

Ibu mengaku anak diberi ASI sampai usia 2 tahun. Anak hanya mendapat ASI saja sampai umur 6 bulan. Ibu memberi ASI, bubur susu, bubur ulek, dan nasi tim umur 6 – 12 bulan. Anak sudah diberikan nasi biasa dan lauk pauk seperti makan keluarga saat umur lebih dari 1 tahun. Kesan : Kualitas dan kuantitas makanan dan minum cukup

Riwayat Imunisasi :

Hepatitis B

: ibu lupa waktu pemberian tetapi ibu mengaku sesuai jadwal yang

BCG

tertera pada KMS : ibu lupa waktu pemberian tetapi ibu mengaku sesuai jadwal yang

DPT

tertera pada KMS, scar (+) di lengan atas kanan : ibu lupa waktu pemberian tetapi ibu mengaku sesuai jadwal yang

Polio

tertera pada KMS : ibu lupa waktu pemberian tetapi ibu mengaku sesuai jadwal

Campak

yang tertera pada KMS. : 1x, umur ibu lupa

Kesan : imunisasi dasar lengkap menurut keterangan ibu.

Riwayat Keluarga Berencana :

Belum pernah menjadi peserta KB

Data Keluarga

 

AYAH/WALI

IBU/WALI

Perkawinan ke

I

I

Umur

25 tahun

24 tahun

Konsanguinitas

-

-

Keadaan kesehatan/ penyakit bila ada

Sehat

Sehat

Data Perumahan

Kepemilikan rumah : rumah sendiri Keadaan rumah : dinding rumah tembok, 2 kamar tidur, kamar mandi didalam rumah, limbah buangan ke septic tank dan selokan yang ada keadaan lingkungan : jarak antar rumah berdekatan dan cukup padat.

  • 2. Pemeriksaan Fisik Tanggal 20 November 2009, pukul 16.00 WIB Anak perempuan usia 4 tahun, berat badan 12 kg, panjang badan 104 cm

Kesan umum : compos mentis, kurang aktif, anak tampak kurus, tampak gelisah, petekie (+), ditemukan perdarahan spontan, tidak ditemukan tanda-tanda syok

Tanda vital

 

-

Tekanan darah

: 100/70 mmHg

-

Nadi

: 76 x/ menit, isi dan tegangan kuat

-

Laju nafas

:

28 x/ menit

-

Suhu

: 38° C ( axilla )

Status Internus

 

Kepala Rambut dan kulit kepala

: mesocephale : hitam, tumbuh merata, tidak mudah dicabut dan tidak mudah patah, kulit kepala tidak ada kelainan. facial

Kulit

flush (-) : sawo matang, petekie ( + ), sianosis ( - ) turgor kembali cepat

Mata

: oedem palpebra ( -/- )

konjungtiva anemis ( -/- ),

 

kornea jernih, pupil bulat 3 mm,isokor, reflek cahaya

Hidung

pupil (+) : epistaksis ( -/- ), nafas cuping hidung (

-/-

),

Telinga

sekret ( -/- ) : discharge ( -/- )

Mulut

: bibir kering ( - ), bibir sianosis ( - ), gusi

Leher

berdarah ( - ), hematemesis (-), lidah tidak kotor, tonsil T1-T1 tenang, faring tidak hiperemis. : simetris, pembesaran kelenjar limfe ( - )

Tenggorok

: faring hiperemis ( - ), pembesaran tonsil ( - )

Dinding thorax

 

:

Paru

I

: retraksi

:

( - )

 

Statis

: hemithorax dextra dan sinistra simetris

 

Dinamis

: hemithorax dextra dan sinistra simetris

Pa : stem fremitus bagian basal paru kanan melemah, kiri normal Pe : redup pada basal paru kanan, sonor pada paru kiri Aus: suara dasar : suara vesikuler pada paru ikiri, melemah pada paru kanan

Suara tambahan : ronchi ( -/- )

Jantung

I

:

ictus cordis tidak tampak

Pa Pe Aus Abdomen I Aus Pe Pa

: ictus cordis tidak teraba : sulit dinilai

: BJ

I-II

regular, bising ( - )

: datar : peristaltik ( + ) normal : timpani( + ), pekak alih( - ), pekak sisi( - )

: supel, nyeri tekan epigastrium ( + ), defance muskular ( - )

 

Hepar

: teraba BH 1/3-1/3

Lien

: tidak teraba

Alat kelamin

: Perempuan, dalam batas normal

Anorektal

: Dalam batas normal

Ekstremitas

:

Superior

Inferior

Akral dingin

+/+-

-/-

Akral sianosis

-/-

-/-

Oedem

-/-

-/-

Capillary refill

< 2”

< 2”

Pemeriksaan neurologis : Refleks fisiologis (+) Normal Refleks patologis (-)

  • 3. Pemeriksaan Penunjang

Darah

Tanggal 20 November 2009 pukul 17.30 WIB

Hb

: 13,0 gr/ dl

Leukosit

: 5.000/ mm 5

Trombosit : 15.000/mm 5

Hematokrit

: 39,5 %

Kesan : Lekositopeni Trombositopeni Peningkatan hematokrit X foto Thorax RLD Tanggal 20 November 2009 pukul 09.20 WIB (hari 1 perawatan) Didapatkan Efusi pleura dengan PEI ± 20%

  • 4. Pemeriksaan Khusus

Data Antropometri :

Anak perempuan, usia 4 tahun

Berat badan

:

12 kg

Panjang badan

: 106 cm

Pemeriksaan status gizi ( Z score ) :

WAZ = BB – median = 12 -16,0 = -2,35(Gizi kurang)

SD

1,7

HAZ = TB – median = 104 – 101,6 = 0,58 (N)

SD

4,1

WHZ = BB – median = 12 – 16,5 = -2,9 (kurus)

SD Kesan : gizi kurang, kurus.

1,5

  • C. DIAGNOSIS BANDING

    • I. Demam Chikunguya Demam Dengue Tersangka terinfeksi Virus Dengue Demam Berdarah Dengue grade I Demam Berdarah Dengue grade II

II.

Status Gizi kurang

  • D. DIAGNOSIS SEMENTARA

    • I. Demam Berdarah Dengue Grade II

II.

Status Gizi kurang

  • E. TERAPI ( MEDIKAMENTOSA dan DIETETIK )

Tx/

: Infus RL 5-7cc/kgBB/jam 15 tpm selama 6 jam (amati gejala klinis

dan laboratoris)

PO

: Paracetamol syr 3 x 1 cth

Diet

: ditunda sementara

rencana diet: 3 x makanan lunak cairan : 3 x 200 cc susu Kalori : 1.200 kkal/ hari Protein 24 g/ hari

  • F. PROGNOSA

Quo ad vitam

: bonam

Quo ad sanam

: bonam

Quo ad fungsional

: bonam

  • G. USULAN

Laboratorium darah ulang ( Hb, Ht, Trombo) tiap 6- 12 jam

Serologi dengue blot test (Ig M, Ig G) Gambaran darah tepi Benzidin test

  • H. NASEHAT

Di rumah :

  • 1. Jika panas, minum obat penurun panas, jika panas tidak turun, segera bawa ke pelayanan kesehatan terdekat

  • 2. proteksi diri dengan tidur menggunakan kelambu

  • 3. Melakukan 3 M (menguras, menutup, mengubur)

  • 4. Abatisasi.

Waktu

Hari ke- 0 perawatan

Hari ke-1 perawatan

Tanggal

20 November 2009

21 November 2009

Keluhan

Panas (+), pilek (-), sesak napas (-), batuk (-), mual (+), muntah (-), makan (-) , minum(+), berak (+), kencing (+) warna kuning jernih

Panas (+), pilek (-), sesak napas (-), batuk (-), mual (-), muntah (-), makan (<<) , minum(+), berak (+), kencing (+) warna kuning jernih

Keadaan Umum

Compos mentis, kurang aktif, tampak kurus, petekie (+),tidak ada tanda-tanda syok

Compos mentis, kurang aktif, tampak kurus, petekie (+), tidak ada tanda-tanda syok

Tanda vital:

   

Tensi

100/70 mmHg

 

110/80 mmHg

 

Nadi

76

x/ menit

84

x/ menit

Isi dan Tegangan

cukup

 

cukup

 

RR

28

x/ menit

26

x/ menit

Suhu

38°C ( axilla )

 

37,6°C ( axilla )

Laboratorium Darah

17.30

WIB

 

07.45

WIB

 

Hb

: 13 gr/dl

Hb

: 11,7 gr/dl

Ht

: 39,5 %

Ht

: 35 %

Leukosit

: 5.000/mm 5

Leukosit

: 4.700/mm 5

Trombosit : 15.000/mm5

Trombosit : 13.000/mm5

Foto RLD : Efusi Pleura ± 20%

18.22

WIB

 

23.45

WIB

 

Hb

: 11,2 gr/dl

Hb

: 11,2 gr/dl

Ht

: 33,8 %

Ht

: 33,4 %

Leukosit

: 4.300/mm 5

Leukosit

: 3.300/mm 5

Trombosit : 17.000/mm5

Trombosit : 18.000/mm5

Assesment

DHF grade II

 

DHF grade 1

 

Terapi

Infus RL 250 ml 40 tpm Infus RL 15 tpm Inj Ranitidine 3 x 1/2 amp Inj Dexamethasone 3x½ amp

Infus RL 16 tpm Inj Dexamethasone 3x½ amp

Inj Ranitidine 3x25 mg iv Inj Vit C 1 x 100 mg iv Po : Paracetamol syr 3 x 1 cth Diit : 3x lunak

Po : Paracetamol syr 3 x 1 cth Diit : 3x lunak

 

Kalori

: 1200 kkal/ hari

 

Kalori

: 1200 kkal/ hari

Protein : 24 gr/ hari

Protein : 24 gr/ hari Jam 20.30 Inf HES 120 cc dalam 1 jam Lanjut infs RL 15 tpm

Jam 18.00 Inf HES 120 cc dalam 1 jam Lanjut infs RL 15 tpm

Program

Evaluasi KU dan TTV

Evaluasi KU dan TTV

 

Periksa Ht Hb Trombosit

Ulang Ht Hb Trombosit

 
 

Waktu

Hari ke- 2 perawatan

Hari ke-3 perawatan

 

Tanggal

22 November 2009

23 November 2009

 

Keluhan

Panas (-), pilek (-), sesak napas (-),

Panas

(-),

pilek (-), sesak napas

batuk (-), mual (-), muntah (-),

(-), batuk (-), mual (-), muntah (-),

makan (+) sedikit , minum(+)

makan

 

(+)

sedikit,

sedikit, berak (+), kencing (+)

minum(+)sedikit,

berak

(+),

kencing (+) warna kuning jernih

Keadaan Umum

Compos mentis, kurang aktif, tampak sakit, tampak kurus ,tidak ada odem palpebra

Compos mentis, kurang aktif, tampak sakit, tampak kurus, tidak odem palpebra

Tanda vital:

   

Tensi

100/80 mmHg

 

100/70 mmHg

 

Nadi

72

x/ menit

76

x/ menit

Isi dan Tegangan

cukup

 

cukup

 

RR

28

x/ menit

24

x/ menit

 

Suhu

36,3°C ( axilla )

 

36,0°C ( axilla )

Laboratorium Darah

07.51 WIB

 

08

08

WIB

Hb

: 11,6 gr/dl

Hb

: 11,9 gr/dl

 

Ht

: 38,2 %

Ht

: 35 %

Leukosit

: 5.300/mm 5

Leukosit

: 6.800/mm 5

Trombosit : 22.000/mm

Trombosit : 38.000/mm

Assesment

DHF grade II

 

DHF grade II

 

Terapi

Infus RL 15 tpm Inj Ranitidine 3 x 1/2 amp Inj Dexamethasone 3x½ amp

Infus RL 15 tpm Inj Ranitidine 3 x 1/2 amp Inj Dexamethasone 3x½ amp

Po : Paracetamol syr 3 x 1 cth Diit : 3x lunak

Po : Paracetamol syr 3 x 1 cth Diit : 3x lunak

 

Kalori

: 1200 kkal/ hari

 

Kalori

: 1200 kkal/ hari

Protein : 24 gr/ hari

Protein : 24 gr/ hari

 

Program

Evaluasi KU dan TTV

Evaluasi KU dan TTV

 

Ulang Hb Ht Trombo

Ulang Hb Ht Trombo

 

Dengue Hemoragic Fever/ Demam Berdarah Dengue

Infeksi Virus Dengue pada manusia mengakibatkan spektrum manifestasi klinis yang luas mulai dari demam dengue, demam hemoragic fever, dengue shock syndrome. Demam Dengue dan Demam Berdarah Dengue disebabkan virus Dengue yang termasuk kelompok B Artropod Virus dan mempunyai empat jenis serotipe yakni Den 1, Den 2, Den 3 dan Den 4.

Cara Penularan

Terdapat tiga faktor yang memegang peranan pada penularan infeksi virus dengue yakni manusia, virus, dan vektor perantara. Virus dengue ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegepty. Nyamuk ini dapat mengundang virus dengue pada saat menggigit manusia yang sedang mengalami viremia. Kemudian virus yang berada di kelenjar air liur dapat berkembang biak selama 8-10 hari sebelum dapat ditularkan kembali pada manusia pada saat gigitan berikutnya. Di tubuh manusia virus memerlukan waktu masa tunas 4-7 hari sebelum menimbulkan penyakit. Penularan dari manusia ke nyamuk hanya dapat terjadi pada saat manusia mengalami viremia yakni 2 hari sebelum demam terjadi dan 5 hari setelah demam timbul.

Patogenesis

Patogenesis DBD dan DSS masih merupakan masalah kontroversial. Dua teori yang banyak dianut pada DBD dan DSS adalah hipotesis infeksi sekunder atau hipotesis immune enhacement. Hipotesis ini menyatakan secara langsung bahwa pasien yang mengalami infeksi yang kedua kalinya dengan serotipe virus dengue yang heterolog mempunyai resiko yang berat yang lebih besar untuk menderita DBD. Antibodi heterolog yang telah ada sebelumnya akan mengenai virus lain yang akan menginfeksi dan kemudian membentuk komplek antigen antibodi yang kemudian akan berikatan dengan Fc reseptor dari membran sel leukosit terutama makrofag. Sebagai tanggapan terhadap infeksi tersebut terjadi sekresi mediator vasoaktif yang kemudian menyebabkan peningkatan permeabilitas pembuluh darah sehingga mengakibatkan hipovolemia dan syok.

Definisi DHF

Klinis

Gejala klinis berikut harus ada yaitu :

Demam tinggi mendadak tanpa sebab yang jelas, berlangsung terus menerus selama 2-7 hari. Terdapat manifestasi perdarahan yang ditandai dengan :

Uji torniquet positif Ptekie, ekimosis, purpura Perdarahan mukosa, epistaksis, perdarahan gusi Hematemesis dan melena

Pembesaran hati

Syok ditandai dengan nadi cepat, lemah serta penurunan tekanan nadi, hipotensi, kaki dan tangan dingin, kulit lembab dan pasien tampak gelisah.

Laboratoris Trombositopenia ( 100.000 /mm5 atau kurang)

Adanya kebocoran plasma karena peningkatan permeabilitas kapiler dengan manifestasi sebagai berikut :

Peningkatan hematokrit > 20 %

Penurunan hematokrit >20 % dari nilai standart, setelah dilakukannya penggantian volume plasma.

Dua kriteria klinis ditambah satu kriteria laboratoris cukup untuk menegakkan diagnosa sementara DBD. Dalam memonitor hematokrit harus diingat kemungkinan yang ada seperti telah adanya anemia, perdarahan berat atau telah dilakukannya penggantian volume plasma. Efusi pleura dan terjadinya hipoalbuminemi dapat memperkuat terjadinya kebocoran plasma.

Derajad Penyakit

Derajat penyakit DBD dapat diklasifikasikan dalam 4 derajad :

Derajad I : Demam disertai gejala tidak khas dan satu satunya manifestasi perdarahan ialah uji torniquet

Derajad II : Seperti derajad I disertai perdarahan spontan di kulit dan perdarahan lain.

Derajad III : Didapatkan kegagalan sirkulasi yaitu nadi cepat dan lambat, tekanan nadi menurun atau hipotensi, sianosis di sekitar mulut, kulit dingin dan lembab dan anak tampak gelisah.

Derajad IV : Syok berat ditandai dengan nadi tidak dapat diraba dan tekanan darah tidak dapat diukur.

Pada kasus ini penderita menderita DSS (dengue shock syndrome) ditandai dengan 2 kriteria klinis diantaranya :

  • - Demam tinggi terus menerus tanpa sebab yang jelas selama 4 hari

  • - Uji torniquet yang positif

Ditandai dengan 2 kriteria laboratoris yakni :

Trombositopenia 64.000/mm 5 Hemokonsentrasi 40 % Pada penderita juga didapatkan efusi pleura dengan PEI 29,4 % pada foto thorax RLD.

Diagnosis Banding

Pada awal perjalanan penyakit diagnosis banding mencakup infeksi bakteri, virus, atau infeksi parasit seperti demam tifoid, campak, influenza, hepatitis, demam chikungunya, leptospirosis dan malaria.

Idiopatic Trombositopenia Purpurae sulit dibedakan dengan DHF derajad II oleh karena ditemukan demam disertai dengan perdarahan dibawah kulit.

Komplikasi

Encepalopati Dengue

Kelainan ginjal berupa gagal ginjal akut apabila terjadi pada fase terminal sebagai akibat dari syok yang tidak teratasi dengan baik.

Udem paru

Dengue Shock Syndrome (DSS)

Syok merupakan keadaan kegawatan. Cairan pengganti adalah pengobatan yang utama, yang berguna untuk memperbaiki kekurangan volume plasma. Pasien anak akan cepat mengalami syok dan sembuh kembali segera dalam 28 jam. Pada penderita SSD dengan tensi tak terukur dan tekanan nadi <20 mmHg segera berikan cairan kristaloid sebanyak 20 ml/kg BB/jam selama 30 menit, bila syok teratasi turunkan menjadi 10 ml/kg BB.

Penggantian Volume Plasma Segera

Pengobatan awal cairan intravena larutan ringer laktat 20 ml/kg BB. Tetesan diberikan secepat mungkin maksimal 30 menit. Pada anak dengan berat badan lebih, diberi cairan sesuai BB ideal dan umur 10 mm/kg BB/jam, bila tidak ada perbaikan pemberian cairan kristaloid ditambah cairan koloid. Apabila syok belum teratasi setelah 60 menit beri cairan kristaloid dengan tetesan 10 ml/kg BB/jam bila tidak ada perbaikan stop pemberian kristaloid dan beri cairan koloid (dekstran 40 atau plasma) 10 ml/kg BB/jam. Pada umumnya pemberian koloid tidak melebihi 30 ml/kg BB. Maksimal pemberian koloid 1500 ml/hari, sebaiknya tidak diberikan pada saat perdarahan. Setelah pemberian cairan resusitasi kristaloid dan koloid syok masih menetap sedangkan kadar hematokrit turun, diduga sudah terjadi perdarahan; maka dianjurkan pemberian tranfusi darah segar. Apabila kadar hematokrit tetap > tinggi, maka berikan darah volume kecil (10 ml/kg BB/jam) dapat diulang sampai 30 ml/kg BB/24 jam. Setelah keadaan klinis membaik, tetesan infus dikurangi bertahap sesuai keadaan klinis dan kadar hematokrit.

Pemeriksaan Hematokrit untuk Memantau Penggantian Volume Plasma

Pemberian cairan harus tetap diberikan walaupun tanda vital telah membain dan kadar hematokrit turun. Tetesan cairan segera diturunkan menjadi 10 ml/kg BB/jam dan kemudian disesuaikan tergantung dari kehilangan plasma yang terjadi selama 24-28 jam. Pemasangan CVP yang ada kadangkala pada pasien SSD berat, saat ini tidak dianjurkan lagi.

Cairan intravena dapat dihentikan apabila hematokrit telah turun, dibandingkan nilai Ht sebelumnya. Jumlah urin/ml/kg BB/jam atau lebih merupakan indikasi bahwa keadaan sirkulasi membaik. Pada umumnya, cairan tidak perlu diberikan lagi setelah 48 jam syok teratasi. Apabila cairan tetap diberikan dengan jumlah yang berlebih pada saat terjadi reabsorbsi plasma dari ekatravaskuler (ditandai dengan penurunan kadar hematokrit setelah pemberian cairan rumatan), maka akan menyebabkan hipervolema dengan akibat edema paru dan gagal jantung. Penurunan hematokrit pada saat reabsorbsi plasma ini jangan dianggap sebagai tanda perdarahan, tetapi disebabkan oleh hemodilusi. Nadi yang kuat, tekanan darah normal, diuresis cukup, tanda vital baik, merupakan tanda terjadinya fase reabsorbsi.

Pemberian Oksigen

Terapi oksigen 2 lt/menit harus selalu diberikan pada semua pasien syok. Dianjurkan pemberian oksigen dnegan mempergunakan masker tetapi harus diingat pula pada anak seringkali menjadi semakin gelisah apabila dipasang masker oksigen.

Monitoring

Tanda vital kadar hematokrit harus dimonitor dan dievaluasi secara teratur untuk menilai hasil pengobatan. Hal-hal yang harus diperhatikan pada monitoring adalah :

  • - Nadi, tekanan darah, respirasi, dan temperatur harus dicatat setiap 15-30 menit atau lebih sering, sampai syok dapat teratasi.

  • - Kadar hematokrit harus diperiksa tiap 4-6 jam sekali sampai keadaan klinis pasien stabil.

  • - Jumlah dan frekuensi diuresis.

Kriteria memulangkan pasien

Tidak demam selama 24 jam tanpa antipiretik

Nafsu makan membaik

Tampak perbaikan secara klinis

Hematokrit stabil

Tiga hari setelah syok teratasi

Jumlah trombosit > 50.000/ml

Tidak dijumpai distres pernapasan (disebabkan oleh efusi pleura asidosis)

Prognosis

Apabila syok tidak segera diatasi dapat menyebabkan kematian. Bila tidak disertai dengan renjatan prognosa baik, biasanya dalam 24-36 jam cepat menjadi baik. Kalau lebih dari 36 jam belum ada tanda-tanda perbaikan maka kemungkinan sembuh kecil dan prognosa menjadi jelek ..

DAFTAR PUSTAKA

  • - Pusponegoro, H.D. dkk, Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak, Edisi I, 2004, IDAI, hal 99-108

  • - Hadinegoro, S. R. H. dkk, Tata Laksana Demam Berdarah Dengue di Indonesia, Depkes RI, 2006

  • - Soedarmo, S. S. dkk, Buku Ajar Infeksi dan Pediatri Tropis, Edisi 2, 2008, IDAI, hal 155-181