Anda di halaman 1dari 23

1

BAB I
PENDAHULUAN

Nyeri pinggang bawah dapat dipengaruhi beberapa faktor risiko antara lain umur, jenis
kelamin, indeks masa tubuh, jenis pekerjaan yang biasanya berkaitan dengan sikap tubuh tertentu
(duduk, berdiri, mengangkat, mendorong, membengkokkan badan) dan masa kerja. Kebiasaan
sehari-hari juga menjadi factor risiko terjadinya LBP, antara lain kebiasaan olahraga dan aktivitas
rumah tangga sehari-hari. Factor repetitive, fibrasi, paritas, dan stress psikososial turut berperan
terjadinya LBP (Wheeler & Heels, 2011).
Low back pain (LBP) merupakan permasalahan yang sering muncul dalam suatu asuhan
keperawatan dengan gejala umum yang terasa pada bagian lumbo-sacral, otot gluteal, paha dan
sering kali pada ekstremitas bawah. Ketika karakteristik gejala low back pain muncul maka
diperlukan pengangkatan suatu diagnosa dan bagaimana penanganannya yang tepat. Hampir dari
90 % penduduk pernah mengalami LBP dalam siklus kehidupannya dan LBP merupakan keluhan
nomor dua yang sering muncul setelah keluhan pada gangguan system pernafasan (Borenstein,
1997).
National Health Interview Survey (2008) melaporka bahwa pada pekerja pertanian
terpapar tiap hari dengan bahaya potensial kelainan musculoskeletal. Reanalysis dari data ini
menunjukkan bahwa rasio prevalensi laporan periode tahunan nyeri punggung antara pekerja
pertanian 1-1,5 kali rata-rata lebih besar dari seluruh industry (Geo; dkk, 2009).
Prevalensi nyeri pinggang pada pekerja di Indonesia, sampai saat ini belum pernah
dilaporkan secara keseluruhan. Dari data mengenai pasien yang berobat ke klinik Neurologi
Rumah Sakit Pondok Indah Jakarta menunjukkan bahwa jumlah pasien lebih atau sama dengan
usia 40 tahunyang dating dengan Low Back Pain ternyata jumlahnya cukup banyak. Prevalensi
nyeri pinggang penduduk laki-laki adalah 18,2% dan pada perempuan 13,6% (Levangi, 1999).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.

Definisi
Dalam bahasa kedokteran Inggris, nyeri pinggang dikenal sebagai low back

pain. Nyeri Punggung Bawah atau Nyeri Pinggang (Low Back Pain) adalah nyeri di daerah
lumbosakral dan sakroiliaka.
Low Back Pain adalah sindroma klinik yang ditandai dengan gejala utama nyeri
atau perasaan lain yang tidak enak dan tidaknyaman di daerah punggung bagian bawah. Dalam
masyarakat LBP tidak mengenal perbedaan umur, jenis kelamin, pekerjaan , statussosial, tingkat
pendidikan, semua bisa terkena LBP. Lebih dari 80%umat manusia dalam hidupnya pernah
mengalami LBP.
B.

Anatomi
Bagian tulang belakang (spinal) yang berupa tulang secara anatomis dapat dibagi

menjadi dua bagian. Bagian anterior terdiri atas serangkaian corpus vertebra berbentuk silinder
yang salingdihubungkan lewat diskus intervertebralis dan disatukan dengan kuatoleh ligamentum
longitudinalis. Bagian posterior terdiri atas unsuryang lebih halus yang membentang dari corpus
vertebra sebagaipedikulus dan melebar ke arah posterior untuk memebentuk laminayang bersama
struktur ligamentum membentuk canalis vertebra. Unsur posterior dihubungkan dengan vertebra
di dekatnyalewat dua buah sendi sinovial bentuk faset kecil sehinggamemungkinkan gerakan
dalam derajat yang paling kecil di antarasetiap dua buah segmen tetapi secara kesatuan akan
menghasilkankisaran gerakan yang agak luas (gambar 1). Processus spinosus dantransversus
yang kokoh menonjol ke arah lateral serta posterior danberfungsi sebagai tempat perlekatan otot
yang menggerakkan, menunjang serta melindungi columna vertebra. Stabilitas tulang belakang
bergantung pada dua tipe tunjangan, yaitu tipe tunjangan yang dihasilkan oleh articulatio tulang
(terutama oleh persendian diskus serta articulatio sinoval unsur unsur posterior) dan tipe kedua
yang dihasilkan oleh struktur penunjang ligamentum (pasif) serta muskuler (aktif). Struktur

ligamentum cukup kuat, tetapi karena struktur ini maupun corpus vertebra, yaitu compleks
diskus, tidak memiliki kekuatan integral yang memadai untuk bertahan terhadap gaya luar biasa
yang bekerja pada columna bahkan pada saat melakukan gerakan yang sederhana.

Gambar 2.1.
Kiri: pandangan superior vertebra lumbal yang sudah
dikupas. Kanan : pandangan lateral dua buah vertebra lumbal yang berhubungan
lewat sendi (artikulasio). B = corpus vertebra; SC = canalis spinalis; IVF =
foramen intervertebralis; IF = fasies artikularis inferior; SF = fasies artikularis
superior; P = pedikulus; TP = prosesus transversus; SP = prosesus spinosus; L =
lamina (diadapasi dari DB Levine, dalam DJ McCarty (ed): Arthritis and allied
conditions: A Textbook of rheumatology, 10th ed., Philadelphia, Lea & Febiger,
11585)

Sekalipun, maka kontraksi volunter dan reflektoris otot sakrospinal, abdominal, gluteal,
psoas serta hamstring mampu mempertahankan sebagian besar stabilitas tulang belakang.
Struktur vertebra dan paravertebra diinervasi oleh cabang cabang dari saraf spinalis segmental
yang keluar dari foramen neuralis pada tiap batas tulang belakang. Saraf sinovertebralis, yang
dianggap saraf sensoris utama yang mensuplai struktur tulang belakang lumbal, muncul dari
saraf spinalis sebeleum percabangannya menjadi suatu ramus anterior dan posterior. Saraf
sinovertebralis untuk memberi persarafan sensoris kepada ligamentum longitudinal posterior,
bagian luar anulus fibrosus posterior, dura anterior, dura selubungakar saraf dan vena vena
epidural, semua di dalam canalis spinalis. Saraf utama lain yang mensuplai struktur spinalis
danparaspinalis muncul dari ramus primer posterior. Ramus primerposterior saraf spinalis lebih
jauh terbagi menjadi cabang medial danlateral. Bersama saraf ini mensuplai bagian posterior
tulangbelakang, termasuk sendi faset, seperti juga otot dan fasia paraspinalis. Sebagai tambahan,
tiga saraf spinalis lumbal memberisensasi kutaneus kepada kulit dari pinggang.
Bagian belakang tubuh yang memiliki kebebasan bergerak terbesar dan dengan demikian
yang paling sering terkena cedera, adalah daerah servikal dan lumbal. Selain pergerakan sadar

yang diperlukan untuk membungkuk, berputar dan pergerakan lainnya, banyak aksi tulang
belakang yang bersifat refleks dan merupakan dasar postur.

Gambar 2.2. Anatomi Vertebra

Gambar 2.3. Lumbal 3 Sakral 1

C.

Etiologi
Penyebab nyeri punggung bawah ada barbagai macam,dibedakan dalam
kelompok dibawah ini:
1) Nyeri punggung bawah mekanis, yaitu timbul tanpa kelainan struktur anatomis seperti
otot atau ligamen, atau timbul akibattrauma, deformitas, atau perubahan degeratif pada
suatu strukturmisalnya diskus intervertebralis.
2) Penyakit sistemik seperti spondilitis inflamasi, infeksi, keganasan tulang, dan penyakit
paget pada tulang bias menyebabkan nyeri di area lumbosakral
3) Skiatika (sciatica) adalah nyeri yang menjalar dari bokong ke tungkai kemudian ke
kaki, sering disertai parastesia dengan distribusi yang sama ke kaki. Gejala ini timbul
akibat penekanan nervus iskiadikus, biasanya akibat penonjolan diskus intervertebralis ke
lateral. Pembagian penyebab dari LBP ini berdasarkan oleh frekuensi kejadian adalah:
a) Penyebab luar biasa : langsung (20%)
1.

Berasal

dari

spinal

termasuk

kondisi

seperti

infeksi,

tumor,tuberkulosis, tractus spondilosis


2. Berasal bukan dari spinal : termasuk masalah dilain system seperti
saluran urogenital, saluran gastroinstetinal, prolapse uterus, keputihan
kronik pada wanita, dan lain-lain.
b) Penyebab biasa : tidak langsung (80%)
Kejadian ini berkisar sekitar 8 dari 10 kasus. Kasus yang bias bervariasi mulai
dari ketengangan otot, keseleo. Penyebab dari berbagai penyakit ini adalah:
1. Kebiasaan postur tubuh yang kurang baik
2. Cara mengangkat beban berat yang salah
3. Depresi
4. Aktivitas yang tidak biasa dan berat
5. Kebiasaan kerja dan kinerja yang salah
D.

Klasifikasi
Karakteristik LBP dibagi dalam beberapa kelompok:
1) LBP viserogenik

Disebabkan oleh adanya proses patologik di ginjal atauvisera didaerah pelvis,


serta tumor retroperitoneal. Nyeriyang dirasakan tidak bertambah berat dengan
aktivitastubuh, juga tidak berkurang dengan istirahat. Penderita LBPviserogenik
yang mengalami nyeri hebat akan selalumenggeliat untuk mengurangi nyeri,
sedang penderita LBPspondilogenik akan lebih memilih berbaring diam
dalamposisi tertentu untuk menghilangkan nyerinya.
2) LBP vaskulogenik
Aneurisma atau penyakit vaskuler perifer dapatmenimbulkan nyeri punggung atau
nyeri menyerupai iskialgia. Insufisiensi arteria glutealis superior dapat
menimbulkan nyeri di daerah bokong, yang makin memberat saat jalan dan
mereda saat berdiri. Nyeri dapat menjalar ke bawah sehingga sangat mirip dengan
iskialgia, tetapi rasa nyeri ini tidak terpengaruh oleh presipitasi tertentu misalnya:
membungkuk, mengangkat benda berat yang mana dapat menimbulkan tekanan
sepanjang columna vertebralis. Klaudikatio intermitten nyerinya menyerupai
iskialgia yang disebabkan oleh iritasi radiks.
3) LBP neurogenik, keadaan neurogenik pada saraf yang dapat menyebabkan
nyeri punggung bawah pada:
a) Neoplasma: Rasa nyeri timbul lebih awal dibanding gangguan motorik,
sensibilitas dan vegetatif. Rasa nyeri sering timbul pada waktu sedang
tidur sehingga membangunkan penderita. Rasa nyeri berkurang bila
penderita berjalan.
b) Araknoiditis:
Pada keadaan ini terjadi perlengketan perlengketan. Nyeri timbul bila
terjadi penjepitan terhadap radiks oleh perlengketan tersebut
c) Stenosis canalis spinalis:
Penyempitan canalis spinalis disebabkan oleh prosesdegenerasi discus
intervertebralis dan biasanyadisertai ligamentum flavum. Gejala klinis
timbulnya gejala claudicatio intermitten disertai rasa kesemutan dan nyeri
tetap ada walaupun penderita istirahat.

4) LBP spondilogenik,yaitu:
Nyeri yang disebabkan oleh berbagai proses patologik dicolumna vertebralis yang
terdiri dari osteogenik, diskogenik, miogenik dan proses patologik di artikulatio
sacro iliaka.
a) LBP osteogenik, sering disebabkan Radang atau infeksi misalnya
osteomyelitis

vertebral

dapatmengakibatkan

danspondilitis

fraktur

maupun

tuberculosa.

Trauma

yang

spondilolistesis.Keganasan,

kongenital misalnya scoliosis lumbal, nyeriyang timbul disebabkan oleh


iritasi dan peradanganselaput artikulasi posterior satu sisi. Metabolik
misalnyaosteoporosis, osteofibrosis, alkaptonuria, hipofosfatemiafamilial.
b) LBP diskogenik, disebabkan oleh: Spondilosis, disebabkan oleh proses
degenerasi yang progresif pada discus intervertebralis, sehingga jarang
antar vertebra menyempit, menyebabkan timbulnya osteofit, penyempitan
canalis spinalis dan foramen intervertebrale dan iritasi persendian
posterior. Rasa nyeri disebabkan oleh terjadinya osteoarthritis dan
tertekannya radiks oleh kantong duramater yang mengakibatkan iskemi
dan radang. Gejala neurologic timbul karena gangguan pada radiks yaitu:
gangguan sensibilitas dan motorik (paresis, fasikulasi dan atrofi otot).
Nyeri akan bertambah apabila tekanan LCS dinaikkan dengan cara
penderita disuruh mengejan (percobaan valsava) atau dengan menekan
kedua vena jugularis (percobaan Naffziger).
5) LBP psikogenik:
Biasanya disebabkan oleh ketegangan jiwa atau kecemasandan depresi atau
campuran keduanya. Pada anamnesis akanterungkap bahwa penderita mudah
tersinggung, sulit tidur atau mudah terbangun di malam hari tetapi akan sulit
untuk tidur kembali, kurang tenang atau mudah terburu buru tanpa alasan yang
jelas, mudah terkejut dengan suara yang cukup lirih, selalu merasa cemas atau
khawatir, dan sebagainya. Untuk dapat melakukan anamnesis ke arah psikogenik
ini, di perlukan kesebaran dan ketekunan, serta sikap serius diseling sedikit
bercanda, dengan tujuan agar penderita secara tidak disadari akan mau
mengungkapkan segala permasalahan yang sedang dihadapi.

6) LBP miogenik dikarenakan oleh:


a) Ketegangan otot:
Sikap tegang yang berulang ulang pada posisi yangcsama akan memendekkan
otot yang akhirnya akan menimbulkan rasa nyeri. Rasa nyeri timbul karena
iskemia ringan pada jaringan otot, regangan yang berlebihan pada perlekatan
miofasial terhadap tulang, serta regangan pada kapsula.
b) Spasme otot atau kejang otot: Disebabkan oleh gerakan yang tiba tiba
dimanajaringan otot sebelumnya dalam kondisi yang tegang atau kaku atau
kurang pemanasan. Gejalanya yaitu adanya kontraksi otot yang disertai dengan
nyeri yang hebat. Setiap gerakan akan memperberat rasa nyeri sekaligus
menambah kontraksi.
c) Defisiensi otot, yang dapat disebabkan oleh kurang latihan sebagai akibat dari
mekanisasi yang berlebihan, tirah baring yang terlalu lama maupun karena
imobilisasi.
d) Otot yang hipersensitif dapat menciptakan suatu daerahyang apabila
dirangsang akan menimbulkan rasa nyeri dan menjalar ke daerah tertentu.
E.

Faktor Risiko
1) Usia
Biasanya nyeri ini mulai dirasakan pada mereka yang berumur dekade kedua dan
insiden tertinggi dijumpai pada dekade kelima. Bahkan keluhan nyeri pinggang
ini semakin lama
semakin meningkat hingga umur sekitar 55 tahun.
2) Jenis Kelamin
Laki-laki dan perempuan memiliki resiko yang sama terhadap keluhan nyeri
pinggang sampai umur 60 tahun, namunpada kenyataannya jenis kelamin
seseorang dapat mempengaruhitimbulnya keluhan nyeri pinggang, karena pada
wanita keluhanini lebih sering terjadi misalnya pada saat mengalami
siklusmenstruasi, selain itu proses menopause juga dapat menyebabkankepadatan
tulang berkurang akibat penurunan hormon estrogensehingga memungkinkan
terjadinya nyeri pinggang.
3) Status Antropometri

Pada orang yang memiliki berat badan yang berlebih resiko timbulnya nyeri
pinggang lebih besar, karena beban pada sendipenumpu berat badan akan
meningkat, sehingga dapatmemungkinkan terjadinya nyeri pinggang.
4) Pekerjaan
Faktor resiko di tempat kerja yang banyak menyebabkan gangguan otot rangka
terutama adalah kerja fisik berat,penanganan dan cara pengangkatan barang,
gerakan berulang,
posisi atau sikap tubuh selama bekerja, getaran, dan kerja statis.
5) Aktivitas / olahraga
Kebiasaan seseorang, seperti duduk, berdiri, tidur, mengangkat beban pada posisi
yang salah dapat menimbulkannyeri pinggang, misalnya, pada pekerja kantoran
yang terbiasa
duduk dengan posisi punggung yang tidak tertopang pada kursi, atau seorang
mahasiswa yang seringkali membungkukkan punggungnya pada waktu menulis.
Posisi berdiri yang salah yaitu berdiri dengan membungkuk atau menekuk ke
muka. Posisi tidur yang salah seperti tidur pada kasur yang tidak menopang tulang
belakang. Kasur yang diletakkan di atas lantai lebih baik daripada tempat tidur
yang bagian tengahnya lentur. Posisi mengangkat beban dari posisi berdiri
langsung membungkuk mengambil beban merupakan posisi yang salah,
seharusnya beban tersebut diangkat setelah jongkok terlebih dahulu. Selain sikap
tubuh yang salah yang seringkali menjadi kebiasaan, beberapa aktivitas berat
seperti melakukan aktivitas dengan posisi berdiri lebih dari 1 jam dalam sehari,
melakukan aktivitas dengan posisi duduk yang monoton lebih dari 2 jam
dalam sehari, naik turun anak tangga lebih dari 10 anak tangga dalam sehari,
berjalan lebih dari 3,2 km dalam sehari dapat pula meningkatkan resiko timbulnya
nyeri pinggang.
6) Kebiasaan merokok
Kebiasaan merokok, diduga karena perokok memilikikecenderungan untuk
mengalami gangguan pada peredarandarahnya, termasuk ke tulang belakang.
7) Abnormalitas struktur

10

Ketidaknormalan struktur tulang belakang seperti pada skoliosis, lordosis,


maupun kifosis, merupakan faktor resikountuk terjadinya LBP.
F.

Gejala Klinis
Gejala klinis berkisar antara 2 minggu sampai dengan 4 tahun. Gejala dengan
onset yang lebih cepat dihubungkan dengan riwayat trauma. Intensitas nyeri dengan NPS
(Numeric Pain Scale) >7tercatat pada 70% kasus saat kunjungan pertama. Gejala
yangmenyertai LBP meliputi iskialgia (95%), rasa baal (hipostesia)(77,5%), dan
kelemahan tungkai (7,5%). Riwayat trauma yangsignifikan dijumpai pada 82,5% kasus.
Rasa baal sesuai dermatompada 77,5%. Tanda Lasegue positif pada 95% kasus.
Dalam LBP bisa di manifestasikan dengan rasa nyeri yang bermacam penyebab
dan variasi rasanya. Dimana tipe tipe tersebut dibedakan menjadi empat tipe ras nyeri :
nyeri lokal, nyeri alih, nyeri radikuler dan yang timbul dari spasme muskuler. Nyeri lokal
disebabkan oleh sembarang proses patologis yang menekan atau merangsang ujung
ujung saraf sensorik. Keterlibatan struktur struktur yang tidak mengandung ujung
ujung saraf sensoris adalah tidak nyeri. Sebagai contoh, bagian sentral, medulla korpus
vertebra dapat dihancurkan oleh tumor tanpa menimbulkan rasa nyeri, sedangkan fraktur
atau ruptur korteks dan distorsi periosteum, membran sinoval, otot, anulus fibrosus serta
ligamentum sering memberikan nyeri yang luar biasa. Struktur struktur yang terakhir
diinervasi oleh serabut serabut aferen rami primer posterior dan saraf sinuvertebralis.
Meskipun keadaan nyeri sering disertai dengan pembengkakan jaringan yang terkena, hal
ini bias tidak tampak jika suatu struktur yang dalam dari tubuh bagian belakang
merupakan lokasi dari penyakitnya. Nyeri lokal sering dikemukakan sebagai rasa nyeri
yang stabil tetapi bisa intermiten dengan variasi yang cukup besar menurut posisi atau
aktivitas pasien. Nyeri dapat bersifat tajam atau tumpul dan sekalipun sering difus, rasa
nyeri ini selalu terasa pas atau di dekat tulang belakang yang sakit. Gerakan berlawanan
arah secara refleks dari segmensegmen tulang belakang oleh otot otot paravertebralis
sering tercatat dan dapat menyebabkan seformitas atau abnormalitas postur. Gerakan atau
sikap tertentu yang mengubah posisi jaringan yang cedera memperberat nyeri. Tekanan
yang kuat atau perkusi pada struktur superfisial regio yang terkena biasanya

11

menimbulkan nyeri tekan yang merupakan gejala untuk membantu mengenali lokasi
abnormalitas.
Nyeri alih terdiri atas dua tipe yang diproyeksikan dari tulang belakang ke regio
yang terletak di dalam daerah dematom lumbal serta sakral bagian atas, dan
diproyeksikan dari visera pelvik dan abdomen ke tulang belakang. Nyeri akibat penyakit
penyakit di bagian atas vertebra lumbal biasanya dialihkan ke permukaan anterior paha
dan tungkai; nyeri yang berasal dari segmen lumbal bawah dan sakral akan dialihkan ke
regio gluteus paha posterior, betis serta kadang kadang kaki. Nyeri jenis ini, meskipun
berkualitas dalam, sakit dan agak difus, cenderung pada beberapa saat untuk di proyeksi
ke superfisial. Pada umumnya, nyeri alih memiliki intensitas yang sejajar dengan nyeri
lokal pada punggung. Dengan kata lain, pergerakan yang mengubah nyeri local
mempunyai efek serupa pada nyeri rujukan, meskipun tidak dengan ketepatan dan
kecepatan seperti pada nyeri radikuler. Suatu perkecualian yang penting dari hal ini
adalah nyeri yang disebabkan oleh aneurisma aorta. Anuresmia aorta yang membesar
dengan perlahanlahan dapat menimbulkan erosi pada vertebra bagian anterolateral dan
menimbulkan perasaan mengganggu yang berubah mengikuti gerakan atau posisi
berbaring.
Nyeri radikuler memiliki beberapa ciri khas nyeri alih tetapi berbeda dalam hal
intensitasnya yang lebih besar, distal, keterbatasan pada daerah radiks saraf dan faktor
faktor yang mencetuskannya. Mekanisme terjadinya terutama berupa distorsi, regangan,
iritasi dan kompresi radiks spinal, yang paling sering terjadi di bagian sentral terhadap
foramen intervertebralis. Sebagai tambahan, telah diduga bahwa pada pasien dengan
stenosis spinalis pola klaudikasio lumbal dapat disebabkan oleh iskemia relative yang
berhubungan dengan kompresi. Meskipun nyerinya sendiri sering tumpul atau sakit terus
berbagai pergerakan yang meningkatkan iritasi radiks atau meregangkannya bisa sangat
memperhebat nyeri, menimbulkan suatu kualitas menusuk nusuk.
Penjalaran nyeri hampir selalu berasal dari posisi sentral didekat tulang belakang
hingga bagian tertentu pada ekstermitas bawah. Batuk, bersin dan mengejan merupakan
manuver pencetus yang khas, tetapi juga karena meregangkan atau menggerakkan tulang
belakang, semua kejadian tersebut dapat pula meningkatkan intensitas nyeri lokal.
Gerakan membungkuk ke depan dengan lutut diekstensikan atau gerakan mengangkat

12

lutut dalam keadaan lurus akan mencetuskan nyeri radikuler pada penyakit bagian
bawah vertebra lumbal yang terjadi atas dasar regangan, kompresi vena jugularis yang
menaikkan tekanan intraspinal dan dapat menyebabkan suatu pergeseran pada posisi dari
atau tekanan pada radiks, dapat menimbulkan efek serupa. Iritasi radiks saraf
lumbalkeempat serta kelima dan sakral pertama yang membentuk nervusiskiadikus, akan
menimbulkan rasa nyeri yang terutama meluas ke bawah hingga mengenai permukaan
posterior paha dan permukaan posterior serta lateral tungkai. Secara khas, penjalaran rasa
nyeri ini yang disebut dengan istilah sciatica berhenti di daerah pergelangan kaki dan
disertai dengan perasaan kesemutan atau rasa baal (parastesia) yang menjalar ke bagian
yang lebih distal hingga mengenai kaki. Rasa kesemutan, parastesia, dan rasa baal atau
kelaianan sensoris pada kulit, perih pada kulit, dan nyeri sepanjang saraf tersebut juga
dapat menyertai nyeri skiatika klasik. Dan pada pemeriksaan fisik, hilangnya refleks,
kelemahan, atrofi, tremor fasikuler, dan kadang kadang edema statis dapat terjadi jika
serabut = serabut motoris radiks anterior terkena.
Nyeri akibat spasme otot biasanya ditemukan dalamhubungannya dengan nyeri
lokal, namun dasar anatomik ataui fisiologiknya lebih tidak jelas. Spasme otot yang
berkaitan dengan berbagai kelainan tulang belakang dapat menimbulkan distorsi yang
berarti pada sikap tubuh yang normal. Akibatkanya, tegangan kronik pada otot bisa
mengakibatkan rasa pegal atau sakit yang tumpul dan kadang perasaan kram. Pada
keadaan ini, penderita dapat mengalami rasa kencang pada otot otot skarospinalis serta
gluteus dan lewat palpasi memperlihatkan bahwa lokasi nyeri terletak dalam struktur ini.
Nyeri lainnya yang sering tidak ditemukan asalnya kadangdigambarkan oleh
pasien sebagai penyakit kronis punggung bagian bawah. keluhan - keluhan unilateral
perasaan tertarik, kram (tanpa spasme otot tidak sadar). Nyeri robek, berdenyut denyut,
atau memukul mukul, atau perasaan terbakar atau dingin sulit diinterpretasikan namun.
Seperti parastesia dan rasa baal, seharusnya selalu memberi dugaan kemungkinan
penyakit saraf atau radiks.

13

G.

Diagnosis
1) Anamnesis
a. Letak atau lokasi nyeri, penderita diminta menunjukkan nyeri dengan setepat
tepatnya, atau keterangan yang rinci sehingga letaknya dapat diketahui dengan
tepat.
b. Penyebaran nyeri, untuk dibedakan apakah nyeri bersifat radikular atau nyeri
acuan.
c. Sifat nyeri, misalnya seperti ditusuk tusuk, disayat, mendeyut, terbakar,
kemeng yang terus menerus, dan sebagainya.
d. Pengaruh aktivitas terhadap nyeri, apa saja kegiatan oleh penderita yang dapat
menimbulkan rasa nyeri yang luar biasasehingga penderita mempunyai sikap
tertentu untuk meredakanrasa nyeri tersebut.
e. Pengaruh posisi tubuh atau anggota tubuh, erat kaitannya dengan aktivitas
tubuh, perlu ditanyakan posisi yang bagaimana dapat memperberat dan
meredakan rasa nyeri.
f. Riwayat Trauma, perlu dijelaskan trauma yang tak langsung kepada penderita
misalnya mendorong mobil mogok, memindahkan almari yang cukup berat,
mencabut singkong,
dan sebagainya.
g. Proses terjadinya nyeri dan perkembangannya, bersifat akut, perlahan,
menyelinap sehingga penderita tidak tahu pasti kapan rasa sakit mulai timbul,
hilang timbul, makin lama makin nyeri, dan sebagainya.
h. Obat obat analgetik yang diminum, menelusuri jenis analgetik apa saja yang
pernah diminum.
i. Kemungkinan adanya proses keganasan.
j. Riwayat menstruasi, beberapa wanita saat menstruasi akan mengalami LBP
yang cukup mengganggu pekerjaan sehari-hari. Hamil muda, dalam trimester
pertama, khususnya bagiwanita yang dapat mengalami LBP berat.
k. Kondisi mental/emosional, meskipun pada umumnya penderita akan menolak
bila kita langsung menanyakan tentang banyak pikiran atau pikiran sedang
ruwet dan sebagainya. Lebih bijaksana apabila kita menanyakan kemungkinan

14

adanya

ketidakseimbangan mental tadi secara tidak langsung, dengan

carapenderita secara tidak sadar mau berbicara mengenai faktor stress yang
menimpanya.
2) Pemeriksaan umum
a. Inspeksi
a.1. Observasi penderita saat berdiri, duduk, berbaring, bangundari
berbaring.
a.2. Observasi punggung, pelvis, tungkai selama bergerak.
a.3. Observasi kurvatura yang berlebihan, pendataran arkus lumbal,
adanya angulasi, pelvis yang asimetris dan posturtungkai yang abnormal.
b. Palpasi dan perkusi
a.1. Terlebih dulu dilakukan pada daerah sekitar yang ringanrasa nyerinya,
kemudian menuju daerah yang paling nyeri.
a.2. Raba columna vertebralis untuk menentukan kemungkinan adanya
deviasi
c. Tanda vital (vital sign)
3) Pemeriksaan neurologik
a. Motorik: menentukan kekuatan dan atrofi otot serta kontraksiinvolunter.
b. Sensorik: periksa rasa raba, nyeri, suhu, rasa dalam, getar.
c. Refleks; diperiksa refleks patella dan Achilles.
4) Pemeriksaan range of movement: Untuk memperkirakan derajat nyeri, function lesa,
untukmelihat ada tidaknya penjalaran nyeri.
5) Percobaan percobaan:
a) Tes Laseque
Mengangkat tungkai dalam keadaan ekstensi. Positif bila pasien tidak dapat
mengangkat tungkai kurang dari 60 dannyeri sepanjang nervus ischiadicus. Rasa
nyeri dan terbatasnyagerakan sering menyertai radikulopati, terutama pada
herniasidiscus lumbalis / lumbo-sacralis.

15

Gambar 1. Tes Laseque


b) Tes Patrick dan kontra-patrick
Fleksi-abduksi-eksternal rotation-ekstensi sendi panggul. Positif jika gerakan
diluar kemauan terbatas, sering disertaidengan rasa nyeri. Positif pada penyakit
sendi panggul,negative pada ischialgia.

Gambar 2. Tes Patrick


c) Tes Bragard
Modifikasi yang lebih sensitive dari tes laseque. Caranya sama seperti tes laseque
dengan ditambah dorsofleksi kaki. Bila nyeri punggung dikarenakan iritasi pada
saraf ini maka nyeri akan dirasakan pada sepanjang perjalanan saraf ini, mulai
dari pantat sampai ujung kaki.

16

Gambar 3. Tes Bragard


d) Tes Valsava
Penderita disuruh mengejan kuat maka tekanan LCS akan meningkat, hasil positif
pada hernia nucleus pulposus.

Gambar 4. Tes Valsava

H.

Tatalaksana
1) Terapi konservatif
Rehat baring, penderita harus tetap berbaring di tempat tidur selama beberapa hari
dengan tempat tidur dari papan dan ditutup selembar busa tipis. Tirah baring ini
bermanfaat untuk nyeri punggung bawah mekanik akut, fraktur dan HNP.
2) Medikamentosa

17

Obat obat simptomatik yaitu: analgetika, kortikosteroid, AINS. Obat obat kausal: anti
tuberculosis, antibiotic,nukleolisis misalnya khimopapain, kolagenase (untuk HNP).
3) Fisioterapi
Biasanya dalam bentuk diatermi misalnya pada HNP, trauma mekanik akut, serta traksi
pelvis misalnya untukrelaksasi otot dan mengurangi lordosis.
4) Terapi operatif
Jika tindakan konservatif tidak memberikan hasil yang nyata atau terhadap kasus fraktur
yang langsung mengakibatkandefisit neurologik.
I.

Pencegahan
Latihan Punggung Setiap Hari
1. Berbaringlah terlentang pada lantai atau matras yang keras. Tekukan satu lutut dan
gerakkanlah menuju dada lalu tahan beberapa detik. Kemudian lakukan lagi pada kaki
yang lain. Lakukanlah beberapa kali.
2. Berbaringlah terlentang dengan kedua kaki ditekuk lalu luruskanlah ke lantai.
Kencangkanlah perut dan bokong lalu tekanlah punggung ke lantai, tahanlah beberapa
detik kemudian relaks. Ulangi beberapa kali.
3. Berbaring terlentang dengan kaki ditekuk dan telapak kaki berada flat di lantai. Lakukan
sit up parsial,dengan melipatkan tangan di tangan dan mengangkat bahu setinggi 6 -12
inci dari lantai. Lakukan beberapa kali.
Berhati-Hatilah Saat Mengangkat
1. Gerakanlah tubuh kepada barang yang akan diangkat sebelum mengangkatnya.
2. Tekukan lutut , bukan punggung, untuk mengangkat benda yang lebih rendah
3. Peganglah benda dekat perut dan dada
4. Tekukan lagi kaki saat menurunkan benda
5. Hindari memutarkan punggung saat mengangkat suatu benda
Lindungi Punggung Saat Duduk dan Berdiri
1. Hindari duduk di kursi yang empuk dalam waktu lama

18

2. Jika memerlukan waktu yang lama untuk duduk saat bekerja, pastikan bahwa lutut sejajar
dengan paha. Gunakan alat Bantu (seperti ganjalan/bantalan kaki) jika memang
diperlukan.
3. Jika memang harus berdiri terlalu lama,letakkanlah salah satu kaki pada bantalan kaki
secara bergantian. Berjalanlah sejenak dan mengubah posisi secara periodic.
4. Tegakkanlah kursi mobil sehingga lutut daapt tertekuk dengan baik tidak teregang.
5. Gunakanlah bantal di punggung bila tidak cukup menyangga pada saat duduk dikursi
Tetaplah Aktif dan Hidup Sehat
1. Berjalanlah setiap hari dengan menggunakan pakaian yang nyaman dan sepatu berhak
rendah
2. Makanlah makanan seimbang, diit rendah lemak dan banyak mengkonsumi sayur dan
buah untuk mencegah konstipasi.
3. Tidurlah di kasur yang nyaman.
4. Hubungilah petugas kesehatan bila nyeri memburuk atau terjadi trauma.

19

BAB II
LAPORAN KASUS

A.

B.

IDENTITAS
Nama

: Ny. ESS

Usia

: 58 th

Jenis kelamin

: Perempuan

Alamat

: Demakan 3/2, Jetis, Sukoharjo

Status

: Menikah

Agama

: Islam

Tanggal periksa

: 17 April 2015

No.CM

: 2736xx

ANAMNESA
1. Dilakukan pada hari Jumat tanggal 17 April 2015 jam 10.00 WIB di Poliklinik
Rehabilitasi Medik RSO. Prof.DR.R.Soeharso Surakarta.
2. Keluhan utama

: Nyeri pinggang.
3. Keluhan tambahan : Nyeri menjalar ke lutut kanan dan kiri.

4. Riwayat penyakit sekarang:


Pasien datang ke Poliklinik Rehabilitasi Medik RSO. Prof.DR.R.Soeharso Surakarta pada
tanggal 17 April 2015 jam 10.00 WIB dengan keluhan nyeri pinggang yang menjalar ke
lutut kanan dan kiri. Pasien merasa nyeri di bagian pinggang kanan terasa sampai
menjalar ke kedua lutut sejak setahun yang lalu. Pasien mempunyai riwayat sering
mengangkat beban berat, nyeri yang dirasakan seperti ditusuk-tusuk, dan untuk berjalan

20

jauh pasien tidak kuat, nyeri hilang ketika pasien istirahat. Pasien hanya mampu berjalan
kurang dari 100 meter dijeda dengan istirahat kemudian dilanjutkan berjalan. Pertama
kali pasien merasa sakit mendatangi dokter keluarga, setelah itu pasien disarankan untuk
memeriksakan ke RS Orthopedi Prof.DR.R.Soeharso Surakarta.
5. Riwayat penyakit dahulu:
Hipertensi (-), diabetes mellitus (-), asam urat (-), kolesterol (-)
6. Riwayat kebiasaan:
Pasien sehari-hari bekerja sebagai guru TK. Pasien datang ke TK dengan mengendarai
sepeda motor, jarak rumah ke TK 5km. Pasien selama mengajar selalu duduk lama dan
tidak pernah bergerak maupun olahraga.
7. Riwayat keluarga:
Hanya penderita yang sakit seperti ini.
8. Riwayat sosial ekonomi:
Pasien merupakan PNS mengajar di TK. Tinggal di rumah permanen, 1 lantai dengan
dinding beton, memiliki 4 kamar tidur, dihuni oleh 5 orang, WC/kamar mandi di dalam
rumah dengan WC jongkok. Penghasilan untuk kehidupan sehari-hari cukup.
C.

PEMERIKSAAN FISIK
Status generalis
Keadaan umum

: Cukup

Kesadaran

: Compos mentis

Tekanan darah

: 140/90 mmHg

Nadi

: 90 x/menit

Respirasi

: 21 x/menit

Suhu badan

: 36,7C

Kepala

: Konjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-)

Leher

: Pembesaran KGB (-)

Thoraks

: Bunyi jantung I dan II normal, bising (-), suara pernapasan


vesikuler, rhonki -/-, wheezing -/-

Abdomen

: Datar, lemas, bising usus (+) normal, hepar dan lien tidak

21

teraba
Ekstremitas

: Akral hangat, edema (-)

Tinggi badan

: 55 kg

Berat badan

: 165 cm

Indeks massa tubuh

: 20,2 (Normal)

Status lokalis
Pada regio lumbosakral:
Inspeksi

: rubor (-), edema (-), alignment vertebra baik

Palpasi

: spasme otot region lumbosacral (+) dan nyeri tekan (+) vertebra L5-S1

Visual Analog Scale (VAS)


0

:5

10

Status motorik
Segmen
L2
L3
L4
L5
S1

Kekuatan otot
Dextra
Sinistra
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5

Keterangan :
L2 :fleksor panggul (m.iliopsoas)
L3 :ekstensor lutut (m.quadriceps)
L4 :dorsofleksi pergelangan kaki (m.tibialis anterior)
L5 :ekstensor jari kaki II (ekstensor halucis longus)
S1 :fleksi pergelangan kaki (m.gatrocnemius, soleus)
Status sensorik
Segmen
L2
L3
L4
L5

Sensibilitas
Dekstra
Sinistra
2
2
2
2
2
2
2
2

22

S1

Pemeriksaan Lingkup Gerak Sendi (LGS)


LGSTrunkus

Hasil pemeriksaan

Normal

Fleksi
Ekstensi
Lateral banding D/S

0-80
0-45

0- 80
0- 45

0-45
0-60

0- 45
0-60

Rotasi D/S
LGS Hip

Dextra

Sinistra

Normal

Fleksi-Ekstensi
Abduksi-Adduksi
Internal-Eksternal Rotasi

120-0-30
45-0-35
45-0-45

120-0-30
45-0-35
45-0-45

120-0-30
45-0-35
45-0-45

Tes provokasi
Laseque test
Patrick test
Kontra Patrick test
Bragard test
Valsava test
DIAGNOSIS
Diagnosis klinis
Diagnosis fungsional
1. Impairment
2. Disability
3. Handicap

: -/: -/: -/: -/:: Low Back Pain + Osteoartritis genue bilateral
:
: nyeri pinggang, spasme otot regio L2-L5
: gangguan aktivitas sehari-hari (duduk lama, mengangkat beban berat)
: (-)

MASALAH REHABILITASI MEDIK


- Nyeri pinggang (VAS = 5)
- Spasme otot region L2-L5
- Keterbatasan dalam beraktifitas sehari-hari
PENATALAKSANAAN
1. Medikamentosa
Penggunaan analgetik oral Na diklofenak 2x1 pc
2. Non Medikamentosa (Rehabilitasi Medik)
Program Fisioterapi (1 minggu sekali)
- US pada regio genu dextra et sinistra
- TENS lumbosacral

23

GE

Prognosis
Quo ad vitam

: ad bonam

Quo ad fungtionam

: dubia ad bonam

Quo ad sanationam

: dubia ad bonam

BAB IV
PEMBAHASAN