Anda di halaman 1dari 2

Pengelolaan Pusat Penyelamatan Satwa Cikananga Sukabumi

Kegiatan pengelolaan di Pusat Penyelamatan Satwa Cikananga (PPSC) dilakukan


dengan prinsip mengedepankan aspek kesejahteraan dan konservasi terhadap satwaliar.
Prinsip ini kemudian dijadikan sebagai pedoman dalam kegiatan yang dilakukan oleh PPS.
Penyelamatan terhadap jenis satwa yang dilindungi merupakan prioritas PPSC. Program
Pusat Penyelamatan Satwaliar ini berusaha untuk memadukan konservasi ke dalam
kegiatan-kegiatan nasional melalui penguatan kapasitas, promosi pembangunan yang
berkelanjutan, pengembangan sumberdaya manusia, pengembangan inovasi serta
keterlibatan dari berbagai pihak dalam pengembangan PPSC.
PPS Cikananga merupakan organisasi non pemerintah (NGO) dan mendapatkan
dana dari sumbangan swasta atau melalui kerjasama dengan berbagai lembaga dan
perusahaan terutama lembaga swadaya masyarakat /LSM. Pada awalnya, PPSC didanai
sepenuhnya oleh organisasi Java Gibbon namun saat ini PPSC harus mencari dana sendiri
untuk menjalankan pengelolaannya. Berbagai upaya terlah dilakukan salah satunya dengan
meminta kepada pemerintah untuk memberikan kucuran dana agar pengelolaan dapat
dilakukan secara maksimal. Namun hingga saat ini belum ada tanggapan dari pemerintah
terkait kebutuhan yang semakin besar dari PPSC ini. Dengan semakin buruk kondisi alam di
Indonesia tentunya akan semakin banyak satwaliar yang perlu untuk diselamatkan.
PPSC biasanya juga menjalin hubungan kemitraan dengan berbagai LSM,
diantaranya : YPAL, PKBI, KSM Cikananga, LIPI, PKA, IPB, Kanwil Kehutanan, KSDA,
Pemda Sukabumi (Bupati, Camat, Lurah), TRAFFIC, BOS, Primate Center, EAZA, NVD, dan
lembaga konservasi ex-situ. Saat ini PPSC cikananga memperoleh banyak bantuan dana
dari beberapa LSM yang bergerak di bidang satwaliar di Indonesia seperti yayasan Gibbon.
Saat ini permasalahan utama dari PPSC ini yakni belum adanya dana yang mencukupi.
Dana pengelolaan yang saat ini digunakan lebih mengandalkan dana dari LSM. Beberapa
LSM dan Kebun Binatang yang saat ini bekerja sama saat ini dengan PPSC antara lain :
Orang Utan Outreach, ZGAP, LA Zoo, Wraclaw Zoo,Zoo Heidelberg, PragueZoo Praha,
Vereinigung fr Artenschutz, Oregon Zoo,Waddes Don,Waza, Kolner Zoo, Plzen Zoo, Zoo
Lyon,IOSF, Humane Society International Australia, Disney Worldwide Conservation Fund,
Singapore Zoo, The Mohamed bin Zayed Species Conservation Fund, ISIS International
Species Information System, The Rufford Foundation dan hanya satu kebun binantang di
Indonesia yang termasuk dalam daftar ini yakni Jatim, Park. Terdapat tiga LSM utama selain
melakukan pendanaan juga ikut membantu dalam pengelolaan PPSC yakni Wanicare,ZGAP
dan Chester Zoo.
Keterlibatan asing dalam pengelolaan PPSC sudah dinilai sangat
mengkhawatirkan. Hampir 90 persen lebih bentuk kerja sama dikuasai oleh asing. Hal ini
semakin diperparah dengan kurangnya perhatian masyarakat luas dan pemerintah terhadap
PPSC. Tentu dana menjadi suatu hambatan pengelolaan , tanpa adanya dana pengelolaan
tidak dapat dilakukan. Berdasarkan kondisi tersebut dengan tetap mempertahankan
pengelolaan yang suda ada , PPSC terpaksa menarik LSM dan kebun binatang dari luar
Indonesia untuk diajak bekerja sama.
Pertanyaan terbesar yang menjadi permasalahan adalah apakah pusat
penyelamatan satwaliar yang ada di Indonesia saat ini yang berjumlah 9 masih layak disebut
sebagai salah satu bagian dari lembaga eks-situ satwaliar. Hal terjadi dengan melihat prinsip
dasar yang menjadi acuan dalam pengelolaan PPSC yakni mengedepankan aspek
konservasi semata bahwa konservasi terhadap satwaliar berarti menlindungi dan
memastikan bahwa satwaliar harus hidup di alam dan tidak boleh dimanfaatkan. Hal ini tentu
menjadi suatu tanda tanya besar mengenai apakah selama ini makna kata konservasi
satwaliar di lembaga eks-situ khususnya piusat penyelamatan satwaliar diartikan sebagai
suatu upaya perlindungan dan pelestarian semata tanpa adanya upaya pemanfaatan. Tentu
hal ini berbanding terbalik bila melihat lembaga konservasi eks-situ lainnya misalnya pada
kasus penangkaran. Pengelolaan penangkaran satwaliar jelas memperlihatkan adanya
upaya pemanfaatan satwaliar dalam konteks yang bertanggung jawab. Kebun binantang
merupakan contoh yang lebih jelas lagi menggambarkan bentuk pemanfaatan terhadap
satwaliar sebagai display untuk kegiatan wisata maupun sarana edukasi/pendidikan. Jelas

upaya penyelamatan dilakukan untuk aspek kelestarian satwaliar, namun pada


kenyataannya satwa yang diselamatkan oleh PPSC tidak sepenuhnya dilepasliarkan.
Beberapa keterangan hasil wawancara menyebutkan bahwa terdapat beberapa tahapan
yang harus dilalui oleh satwa yang akan masuk ke PPSC. Satwa yang masuk ke PPSC
biasanya berasal dari satwa tangkapan pemerintah (sitaan). satwa bekas peliharaan serta
satwa hasil penyelamatan. Dominan satwa yang masuk ke PPSC adalah satwa hasil sitaan
pemerintah. Ketika satwa masuk, sebelumnya dilihat terlebih dahulu apakah satwa yang
bersangkutan merupakan satwa yang dilindungi atau tidak dilindungi. Berdasarkan hasil
wawancara PPSC hanya menerima dan menampung satwa yang dilindungi saja. Tentu hal
tersebut menimbulkan suatu pertanyaan apakah PPSC masih layak disebut sebagai pusat
penyelamatan satwaliar sedangkan satwaliar yang diselamatkan dan ditampung hanya
satwa yang dilindungi saja.
Tahap selanjutnya setelah satwa yang dilindungi masuk ke PPSC diperikasa
terlebih dahulu apakah satwa yang bersangkutan masih layak untuk dipertahankan bila
satwa sakit atau mengalami cacat PPSC akan mengembalikan satwa tersebut kepada
pemiliknya atau dengan kata lain PPSC tidak mau menerima satwa sakit atau satwa yang
sudah tidak berkualitas lagi. Tentu ini bertentangan dengan prinsip dasar PPSC yang
mengedepankan aspek konservasi terhadap satwaliar. Seharusnya tidak diperlukan suatu
diskriminasi untuk melakukan upaya penyelamatan terhadap satwa. Bila satwa berkualitas
kemudian satwa akan ditampung, diberi makan dan dibiarkan liar kembali sebelum
dilakukan upaya release. PPSC mengklaim bahwa satwaliar yang ditampung akan direlease
bila habitat alaminya memungkinkan atau sesuai bagi satwa yang bersangkutan.
Berdasarkan hasil wawancara pihak pengelola memiliki anggapan bahwa habitat alami
satwaliar yang ada di Indonesia sudah tidak memungkinkan lagi untuk melakukan release.
Ketika release tidak dapat dilakukan maka upaya selanjutnya adalah memindahkan satwa
tersebut ke lembaga atau kebun binatang yang bersedia menampung serta mampu
memastikan aspek kesejahteraan satwaliar terpenuhi. Hal ini jelas merupakan suatu
keanggalan dalam pengelolaan PPSC, alur pasti dari satwa yang tidak dilepasliarkan tidak
begitu dijelaskan saat wawancara. Bahkan daftar kebun binatang yang mendapatkan satwa
hasil penyelamatan oleh PPSC juga tidak disebutkan oleh pengelola. Diduga bila alurnya
seperti yang telah dijelaskan diketahui bahwa hamper dapat dipastikan bahwa satwa hasil
pelepasliaran akan mengalir ke kebun binatang. Hal tersebut didasarkan atas pernyataan
pengelola yang beranggapan bahwa habitat alami satwaliar di Indonesia sudah tidak
memungkinkan lagi. Berdasarkan fakta nyatanya tidak semua habitat alami satwaliar telah
rusak di Indonesia. Meskipun mengalami ancaman yang tinggi namun upaya pelepasliaran
perlu dilakukan sebagai langkah menambah stok di alam. Hal mendasar yang harus
dilakukan melihat kondisi habitat satwa yang memiliki ancaman yang tinggi serta telah rusak
adalah dengan melakukan pembinaan habitat sebelum melakukan pelepasliaran serta
memastikan aspek habitat satwa terpenuhi. Kegiatan monitoring terhadap satwa yang telah
direleas merupakan hal penting lainnya yang harus dilakukan