Anda di halaman 1dari 10

PROPOSAL

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK (TAK) PADA PASIEN DENGAN


HALUSINASI
A. LATAR BELAKANG
Kesehatan jiwa merupakan bagian yang integral dari kesehatan.
Kesehatan jiwa bukan sekedar terbebas dari gangguan jiwa, akan tetapi
merupakan suatu hal yang di butuhkan oleh semua orang. Kesehatan jiwa
adalah perasaan sehat dan bahagia serta mampu mengatasi tantangan hidup,
dapat menerima orang lain sebagai mana adanya. Serta mempunyai sikap
positif terhadap diri sendiri dan orang lain.
Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi serta perbedaan
yang terjadi setiap daerah, banyak menyebabkan perubahan dalam segi
kehidupan manusia baik fisik, mental dan sosial yang dapat membuat
kemampuan manusia mengalami keterbatasan diri dalam

mencapai

kepuasan dan kesejahteraan hidup, sehingga sering menimbulkan tekanan


atau kesulitan dalam menghadapi masalah kehidupan. Hal ini sering
menimbulkan tekanan dan akan mengarah pada dampak negatif seperti
timbulnya stress atau kecemasan, bila kecemasan tidak segera diatasi atau
ditangani akan menyebabkan menurunnya kemampuan individu untuk
berkonsentrasi dan berorientasi pada realita.
Gangguan orientasi realita adalah ketidakmampuan klien menilai dan
berespon pada realita. Klien tidak dapat membedakan rangsang internal dan
eksternal, tidak memberi respon secara akurat, sehingga tampak perilaku
yang sukar dimengerti dan mungkin menakutkan. Gangguan pada fungsi
kognitif dan persepsi mengakibatkan kemampuan menilai dan menilik
terganggu. Gangguan fungsi emosi, motorik dan sosial mengakibatkan
kemampuan berespon terganggu yang tampak dari perilaku non verbal
(ekspresi muka, gerakan tubuh dan perilaku verbal) penampilan hubungan
sosial karena gangguan atau respon yang timbul disebut pula respon
neurobiologik.
Setiap saat dapat terjadi 450 juta orang di seluruh dunia terkena dampak
permasalahan jiwa, syaraf maupun perilaku dan jumlahnya terus meningkat.
Pada studi terbaru WHO di 14 negara menunjukkan bahwa pada negaraTAK Kelompok A

Page 1

negara berkembang, sekitar 76-85% kasus gangguan jiwa tergolong parah


dan tidak dapat pengobatan apapun. Dari 150 juta populasi orang dewasa
Indonesia, berdasarkan data Departemen Kesehatan (Depkes), ada 1,74 juta
orang mengalami gangguan mental emosional. Sedangkan 4 % dari jumlah
tersebut terlambat berobat dan tidak tertangani akibat kurangnya layanan
untuk penyakit kejiwaan ini. Krisis ekonomi dunia yang semakin berat
mendorong jumlah penderita gangguan jiwa di dunia, dan Indonesia
khususnya kian meningkat, diperkirakan sekitar 50 juta atau 25% dari juta
penduduk Indonesia mengalami gangguan jiwa.
Gangguan kejiwaan merupakan masalah klinis dan sosial yang harus
diatasi karena sangat meresahkan masyarakat baik dalam bentuk dampak
penyimpangan perilaku maupun semakin tingginya jumlah penderita
gangguan jiwa. Penyakit mental ini menimbulkan stress dan penderitaan bagi
penderita dan keluarganya. Semakin tingginya persaingan dan tuntutan
dalam memenuhi kebutuhan dapat menyebabkan seseorang mengalami stress
atau merasa tertekan. Jika seseorang mengalami stress maka ia akan
cenderung mengalami atau menunjukkan gejala gangguan kejiwaan sehingga
ia menjadi maladaptif terhadap lingkungan.
Gangguan atau masalah kesehatan jiwa yang berupa proses pikir maupun
gangguan sensori persepsi yang sering adalah halusinasi. Halusinasi
merupakan persepsi tanpa adanya rangsangan apapun pada panca indera
seseorang yang terjadi pada keadaan sadar. Halusinasi merupakan satu
gejala skizofrenia. Skizofrenia merupakan kekacauan jiwa yang serius
ditandai dengan kehilangan kontak pada kenyataan (psikosis). Data
keterangan yang didapat di Rumah Sakit Duren Sawit Jakarta khususnya di
Ruang Berry dari 12 Desember sampai 16 Mei 2013 terdapat 238 kasus,
terbagi: gangguan sensori persepsi: halusinasi berjumlah 222 kasus atau
93,2%, isolasi sosial: menarik diri sebanyak 171 kasus atau 71,8%, defisit
perawatan diri berjumlah 186 kasus atau 78,1%, perilaku kekerasan
berjumlah 118 kasus atau 49.57%, gangguan konsep diri: harga diri rendah
30 kasus atau 12,60%
Berdasarkan data di atas gangguan sensori persepsi: halusinasi berada
pada urutan pertama yaitu berjumlah 222 kasus (93,2%), apabila tidak segera
TAK Kelompok A

Page 2

mendapatkan perawatan dapat menyebabkan terjadi perilaku kekerasan yang


diakibatkan dari sensori persepsi tanpa adanya stimulus dari luar. Oleh
karena itu, perawat sangat berperan dalam proses penyembuhan penderita
gangguan jiwa melalui promosi kesehatan tentang pendidikan kesehatan jiwa
dengan memberikan penyuluhan kepada masyarakat cara meningkatkan
kesehatan jiwa, preventif tentang bagaimana cara mencegah terjadinya
gangguan jiwa, seperti dengan mengajarkan sikap asertif, kuratif tentang
pengobatan pada klien gangguan jiwa yang dilakukan perawat berkolaborasi
dengan dokter dan rehabilitatif meliputi dukungan keluarga serta lingkungan
pada klien dengan gangguan jiwa agar kembali bisa berinteraksi dengan
orang lain.
Halusinasi adalah gangguan pencerapan (persepsi) panca indera tanpa
adanya rangsangan dari luar yang dapat meliputi semua sistem penginderaan
dimana terjadi pada saat kesadaran individu itu penuh/baik. Halusinasi
adalah hilangnya kemampuan manusia dalam membedakan rangsangan
internal (pikiran) dan rangsangan eksternal (dunia luar). Klien memberi
persepsi atau pendapat tentang lingkungan tanpa ada objek atau rangsangan
yang nyata. Sebagai contoh klien mengatakan mendengar suara padahal
tidak ada orang berbicara.
Kelompok adalah suatu sistem sosial yang khas yang dapat didefinisikan
dan dipelajari. Sebuah kelompok terdiri dari individu yang saling
berinteraksi, inteleransi, interdependensi dan saling membagikan norma
sosial yang sama. Kelompok adalah kumpulan individu yang memiliki
hubungan satu dengan yang lain, saling bergantung dan mempunyai norma
yang sama. Terapi aktivitas kelompok adalah aktivitas membantu
anggotanya untuk identitas hubungan yang kurang efektif dan mengubah
tingkah laku yang maladaptive.
Pada pasien gangguan jiwa dengan kasus Schizoprenia selalu diikuti
dengan gangguan persepsi sensori; halusinasi. Terjadinya halusinasi dapat
menyebabkan klien menjadi menarik diri terhadap lingkungan sosialnya,
hanyut dengan kesendirian dan halusinasinya sehingga semakin jauh dari
sosialisasi dengan lingkungan disekitarnya.
TAK Kelompok A

Page 3

Atas dasar tersebut, maka kami menganggap dengan Therapy Aktivitas


Kelompok (TAK) klien dengan gangguan persepsi sensori dapat tertolong
dalam hal sosialisasi dengan lingkungan sekitarnya, tentu saja klien yang
mengikuti therapy ini adalah klien yang sudah mampu mengontrol dirinya
dari halusinasi sehingga pada saat TAK klien dapat bekerjasama dan tidak
mengganggu anggota kelompok yang lain.
B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Pasien mampu melakukan terapi aktivitas kelompok (TAK) Halusinasi.
2.

Tujuan Khusus
a. SESI I
Pasien dapat mengenal halusinasi
Pasien dapat mengenal waktu terjadinya halusinasi
Pasien dapat mengenal situasi terjadinya halusinasi
Pasien dapat mengenal perasaannya pada saat terjadi halusinasi
b. SESI II
Pasien dapat menjelaskan cara yang selama ini dilakukan untuk
mengatasi halusinasi
Pasien dapat memahami cara menghardik halusinasi
Pasien dapat memperagakan cara menghardik halusinasi
c. SESI III
Pasien memahami pentingnya bercakap-cakap dengan orang lain

untuk mencegah muncunya halusinasi


Pasien dapat bercakap-cakap dengan orang lain untuk mencegah
halusinasi

d. SESI IV
Pasien dapat mengenal memahami pentingnya melakukan kegiatan

untuk mencegah munculnya halusinasi


Pasien dapat menyusun jadwal kegiatan untuk mencegah terjadinya

halusinasi
e. SESI V
Pasien dapat menyebutkan nama lengkap, nama panggilan dan mampu

menyebutkan 5 cara benar minum obat.


Pasien dapat menyebutkan keuntungan teratur minum obat.
pasien dapat menyebutkan kerugian tidak patuh minum obat.

C. ISI (HALUSINASI)
TAK Kelompok A

Page 4

1. Definisi
Halusinasi adalah ganggiuan persepsi panca indera tanpa adanya rangsangan
dari luar yang dapat meliputi semua sistem penginderaan dimana terjadi pada saat
kesadaran individu itu penuh/baik. Halusinasi adalah hilangnya kemampuan

manusia dalam membedakan rangsangan internal (pikiran) dan rangsangan


eksternal (dunia luar). Pasien memberi persepsi atau pendapat tentang
lingkungan akan adanya objek atau rangsangan yang nyata. Halusinasi adalah
persepsi panca indra tanpa ada rangsangan dari luar yang dapat mempengaruhi
semua sistem penginderaan dimana terjadi pada saat kesadaran individu itu
baik.
Halusinasi merupakan bentuk yang paling sering dari gangguan persepsi.
Bentuk halusinasi ini bisa berupa suara-suara yang bising atau mendengung,
tapi yang paling sering berupa kata-kata yang tersusun dalam bentuk kalimat
yang agak sempurna. Biasanya kalimat tadi membicarakan mengenai keadaan
pasien sedih atau yang dialamatkan pada pasien itu. Akibatnya pasien bisa
bertengkar atau bicara dengan suara halusinasi itu. Bisa pula pasien terlihat
seperti bersikap dalam mendengar atau bicara keras-keras seperti bila ia
menjawab pertanyaan seseorang atau bibirnya bergerak-gerak.

2.

Klasifikasi Halusinasi
a. Pendengaran
Mendengar suara atau kebisingan, paling sering suara orang. Suara
berbentuk kebisingan yang kurang jelas sampai kata-kata yang jelas
berbicara tentang klien, bahkan sampai pada percakapan lengkap antara
dua orang yang mengalami halusinasi. Pikiran yang terdengar dimana
klien mendengar perkataan bahwa klien disuruh untuk melakukan sesuatu
kadang dapat membahayakan.

3.

Penglihatan
Stimulus visual dalam bentuk kilatan cahaya, gambar geometris,gambar
kartun,bayangan yang rumit atau kompleks. Bayangan bias menyenangkan
atau menakutkan seperti melihat monster.
TAK Kelompok A

Page 5

4.

Penghidu
Membaui bau-bauan tertentu seperti bau darah, urin, dan feses umumnya
bau-bauan yang tidak menyenangkan. Halusinasi penghidu sering akibat
stroke, tumor, kejang, atau dimensia.

5.

Pengecapan
Merasa mengecap rasa seperti rasa darah, urin atau feses.

6.

Perabaan
Mengalami nyeri atau ketidaknyamanan tanpa stimulus yang jelas. Rasa
tersetrum listrik yang datang dari tanah, benda mati atau orang lain.

7.

Cenesthetic
Merasakan fungsi tubuh seperti aliran darah di vena atau arteri, pencernaan
makan atau pembentukan urine

8.

Kinisthetic
Merasakan pergerakan sementara berdiri tanpa bergerak.
3.

Tahapan dan Tingkatan Halusinasi


Halusinasi berkembang melalui 4 fase, yaitu sebagai berikut:
a. Fase pertama
Disebut juga dengan fase comporting yaitu fase menyenangkan. Pada
tahap ini masuk dalam golongan nonpsikotik.
Karakteristik: pasien mengalami stress, cemas perasaan perpisahan,
rasa bersalah, kesepian, yang memuncak, dan tidak dapat diselesaikan.
Klien mulai melamun dan memikirkan hal-hal yang menyenangkan, cara ini
hanya menolong sementara.
Perilaku pasien: tersenyum atau tertawa yang tidak sesuai,
menggerakkan bibir tanpa suara, pergerakan mata cepat, respons verbal
yang lambat jika sedang asyik dengan halusinasinya, dan suka menyendiri.
b. Fase kedua
Disebut dengan fase condemming atau ansietas sedang yaitu halusinasi
menjadi menjijikkan, termasuk dalam psikotik ringan.
Karakteristik: pengalaman sensori menjijikkan dan menakutkan,
kecemasan meningkat, melamun, dan berpikir sendiri jadi dominan. Mulai

TAK Kelompok A

Page 6

dirasakan ada bisikan yang tidak jelas. Pasien tidak ingin orang lain tahu,
dan ia tetap dapat mengontrolnya.
Perilaku pasien: meningkatnya tanda-tanda system saraf otonom
seperti peningkatan denyut jantung dan tekanan darah. Pasien asyik dengan
halusinasinya dan tidak bisa membedakan realitas.
c. Fase ketiga
Yaitu fase controlling atau ansietas berat yaitu pengalaman sensori
menjadi berkuasa. Termasuk dalam gangguan psikotik.
Karakteristik: bisikan, suara, isi halusinasi semakin menonjol,
menguasai dan mengontrol Pasien. Pasien menjadi terbiasa dan tidak
berdaya terhadap halusinasinya.
Perilaku pasien: kemauan dikendalikan halusinasi, rentang perhatian
hanya beberapa menit atau detik. Tanda-tanda fisik berupa pasien
berkeringat, tremor, dan tidak mampu mematuhi perintah.
d. Fase keempat
Yaitu fase conquering atau panik yaitu pasien lebur dengan
halusinasinya. Termasuk dalam psikotik berat.
Karakteristik: halusinasinya berubah

menjadi

mengancam,

memerintah, dan memarahi pasien.Paslien menjadi takut, tidak berdaya,


hilang kontrol, dan tidak dapat berhubungan secara nyata dengan orang lain
di lingkungan.
Perilaku pasien: perilaku teror akibat panik, potensi bunuh diri,
perilaku kekerasan, agitasi, menarik diri atau kakatonik, tidak mampu
merespons terhadap perintah kompleks, dan tidak mampu berepons lebih
dari satu orang.
4.

Rentang Respon

TAK Kelompok A

Page 7

5.

Penyebab
a. Faktor predisposisi
1) Faktor perkembangan
Tugas perkembangan pasien yang terganggu misalnya rendahnya
kontrol dan kehangatan keluarga menyebabkan pasien tidak mampu
mandiri sejak kecil, mudah frustasi, hilang percaya diri, dan lebih rentan
terhadap stress.
2) Faktor sosiokultural
Seseorang yang merasa tidak diterima lingkungannya sejak bayi
(unwanted child) akan merasa disingkirkan, kesepian, dan tidak percaya
pada lingkungannya.

3) Faktor biokimia
Adanya stress yang berlebihan dialami seseorang maka di dalam
tubuh akan dihasilkan suatu zat yang dapat bersifat halusinogenik
neurokimia seperti Buffofenon dan dimetytranferase (DMP). Akibat
stress berkepanjangan menyebabkan teraktivasinya neurotransmitter
otak.
4) Faktor psikologis
Tipe kepribadian lemah dan tidak bertanggungjawab mudah
terjerumus pada penyalahgunaan zat adiktif. Hal ini berpengaruh pada
ketidakmampuan pasien dalam mengambil keputusan yang tepat demi
masa depannya. Pasien lebih memilih kesenangan sesaat dan lari dari
alam nyata menuju alam khayal.
5) Faktor genetik dan pola asuh
Penelitian menunjukkan bahwa anak sehat yang diasuh oleh
orangtua skizofrenia cenderung mengalami skizofrenia. Hasil studi
menunjukkan bahwa faktor keluarga menunjukkan hubungan yang sangat
berpengaruh pada penyakit ini.
TAK Kelompok A

Page 8

b. Faktor presipitasi
Respons pasien terhadap halusinasi dapat berupa curiga, ketakutan,
persaan tidak aman, gelisah, dan bingung, perilaku merusak diri, kurang
perhatian,

tidak

mampu

mengambil

keputusan

serta

tidak

dapat

membedakan keadaan nyata dan tidak nyata.


Secara umum pasien dengan gangguan halusinasi timbul gangguan
setelah adanya hubungan yang bermusuhan, tekanan, isolasi, perasaan tidak
berguna, putus asa dan tidak berdaya. Penilaian individu terhadap stressor
dan masalah koping dapat mengindikasikan kemungkinan kekambuhan
(Keliat, 2006).
Menurut Stuart (2007), faktor presipitasi terjadinya gangguan
halusinasi adalah:
1) Biologis
Gangguan dalam komunikasi dan putaran balik otak, yang
mengatur proses informasi serta abnormalitas pada mekanisme pintu
masuk dalam otak yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk secara
selektif

menanggapi

stimulus

yang

diterima

oleh

otak

untuk

diinterpretasikan.
2) Stress lingkungan
Ambang toleransi terhadap stress yang berinteraksi terhadap
stressor lingkungan untuk menentukan terjadinya gangguan perilaku.
3) Sumber koping
Sumber koping mempengaruhi respon individu dalam menanggapi
stressor.
6. Tanda dan Gejala
1.
2.
3.
4.
5.

Bicara, senyum, bicara sendiri


Menarik diri dan menghindari diri dari orang lain
Tidak dapat membedakan antara keadaan nyata dan tidak nyata
Tidak dapat menurunkan perhatian
Curiga, bermusuhan, merusak (diri sendiri, orang lain, dan lingkungan,

takut)
6. Ekspresi muka tegang, mudah tersinggung, jengkel dan marah
7. Menggerakan bibir tanpa suara, pergerakan mata yang cepat, respon
verbal yang lambat
TAK Kelompok A

Page 9

8. Tidak mampu mengikuti perintah dari perawat, tanpak tremor dan


berkeringat, perilaku panik, agitas dan ketakutan
9. Biasa terdapat disrientasi waktu
Data Mayor
a. Mengatakan mendengar suara
bisikan/bayangan
b. Berbicara sendiri
c. Tertawa sendiri
d. Marah tanpa sebab
7.

Data Minor
a. Menyatakan kesal
b. Menyatakan senang dengan suarasuara
c. Menyendiri
d. Melamun

Mekanisme Koping
a. Regresi, merupakan upaya klien untuk menanggulangi ansietas.
b. Proyeksi, sebagai upaya menjelaskan keracunan persepsi
c. Menarik diri
DAFTAR PUSTAKA

Keliat, Budi Anna. Keperawatan Jiwa: Terapi Aktivitas Kelompok. Jakarta: EGC.
2005.

TAK Kelompok A

Page 10