Anda di halaman 1dari 6

MEKANISME SPENDING REVIEW SEBAGAI BAGIAN DARI

MONITORING DAN EVALUASI ANGGARAN BELANJA NEGARA


Ahmad Yusuf
Mahasiswa Program D-IV Akuntansi Khusus Sekolah Tinggi Akuntansi Negara
Email : fusuy.damha@gmail.com
ABSTRAK
The size of spending and revenue in the state budget (APBN) Indonesia continues to increase
every year. In 2014 spending in the state budget reached Rp1.842 trillion. Spending is up
6.74% from the previous year. spending growth is accompanied by the growth of Gross
Domestic Product (GDP) of Indonesia. However, GDP growth is not directly proportional to the
growth of the human development index. To overcome this problem the Ministry of Finance of
Indonesia from 2013 doing spending review to evaluate the budget in order to achieve the
desired outcome.This paper aims to analyze the implementation of the spending review in
Indonesia so as to know the obstacles that occur in the field.
Keywords : Pengeluaran negara, Spending Review, APBN, PDB

I. Pendahuluan
Anggaran pendapatan dan belanja melakukan spending review terhadap
negara (APBN) Indonesia kian meningkat anggaran belanja Indonesia untuk menilai
setiap tahun. Pertumbuhan belanja negara ketepatan alokasi anggaran di tiap-tiap
tersebut akan menjadi multiplier efect untuk kementerian atau lembaga yang menjadi
perkembangan ekonomi makro Indonesia. obyek spending review.
Hal ini disebabkan pemerintah ikut andil
dalam mengatur perekonomian melaluiII. Rumusan Masalah
Pelaksanaan
spending
review
kebijakan fiskal seperti memperbesar
belanja untuk menggenjot penawaran merupakan hal baru di Indonesia. Masalah
ingin
penulis
jadikan
fokus
barang dan jasa sehingga perekonomian yang
akan selalu tumbuh seperti yang diinginkan. pembahasan adalah pelaksanaannya di
Pertumbuhan tersebut dilihat dari ukuran lapangan serta kendala-kendala yang
dihadapi.
Produk Domestik Bruto (PDB).
Pertumbuhan
belanja
tersebut
seharusnya juga mendukung pertumbuhanIII. Metodologi
Tulisan
ini
akan
menggunakan
indeks pembangunan manusia di Indonesia
metodologi studi pustaka dan pengolahan
seperti sektor pendidikan dan kesehatan.
data empiris
Sektor pendidikan bahkan mendapatkan
alokasi khusus di Undang-undang DasarIV.Tujuan Penulisan
1945 sebesar 20% dari nilai APBN. Hal ini
Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui
seharusnya
dapat
memacu
indeks pelaksanaan spending review serta kendalapertumbuhan manusia dari segi pendidikan. kendala yang ditemui di lapangan.
Akan tetapi faktanya indeks pertumbuhan
manusia
tidak
meningkat
signifikanV. Pembahasan
Belanja pemerintah selalu meningkat.
(Direktorat
Perbendaharaan).
Hal
ini
ini
bertujuan
untuk
mencapai
mendasari Kementerian Keuangan untuk Hal

pertumbuhan ekonomi dalam ukuran PDB.


Mekanismenya adalah belanja pemerintah
akan meningkatkan permintaan agregat
sehingga
secara
hukum
ekonomi
penawaran agregat juga akan meningkat
untuk mengimbangi permintaan. Hal ini akan
berpengaruh terhadap jumlah nilai barang
dan jasa yang diproduksi (PDB).
Diagram 1
Pertumbuhan PDB Indonesia

Sumber : http://www.tradingeconomics.com

Jika kita membandingkan pertumbuhan


PDB Indonesia pada diagram 1 dan jumlah
belanja negara pada diagram 2 nampaknya
tren
pertumbuhan
keduanya
hampir
proporsional.
Diagram 2
Belanja Negara vs HDI

Sumber

: bahan tayang Ditjen Perbendaharaan

Diagram
3
menggambarkan
perbandingan pertumbuhan belanja sektor
pendidikan dibandingkan dengan HDI sektor
pendidikan. Dapat kita lihat bahwa tren HDI
tumbuh
tidak
proporsional
dengan
pertumbuhan belanja sektor pendidikan.
Diagram 3
Perbandingan Tren Belanja Pendidikan dan Tren
HDI Pendidikan.

Sumber : bahan tayang Ditjen Perbendaharaan

Spending Review
Pengertian Spending review atau juga
dikenal sebagai Public Expenditure Review
(PER) menurut World Bank adalah tools for
analyzing public expenditures in the human
development sectors and are part of a larger
process to improve the treatment of human
development
issues.
Mengacu
pada
pengertian tersebut, spending review erat
kaitannya dengan Human Development
Indeks (HDI) sebagai alasan utama
dilakukannya spending review. Di Indonesia
HDI juga menjadi alasan utama spending
review dilakukan.
Tujuan spending review di Indonesia
berbeda dengan spending review di negara
lain seperti di USA. Jika di kebanyakan
negara maju spending review ditujukan
terutama untuk memotong anggaran dalam
rangka mengurangi defisit anggaran,
konteks yang lebih relevan untuk Indonesia
adalah peningkatan efisiensi, efektivitas dan
value for money dari pengeluaran publik
(Ditjen Perbendaharaan).
Spending review dilakukan agar hasil
dari monitoring dan evaluasi dapat
memberikan
masukan
bagi
proses
penganggaran berikutnya. Spending review
merupakan bagian dari bentuk pengawasan
terhadap pertanggungjawaban anggaran
untuk dijadikan bahan materi rencana
pengganggaran tahun berikutnya antara
Kementerian
Keuangan,
Kementerian
Lembaga dan Bappenas. Letak peran
spending review dalam siklus anggaran
digambarkan dalam gambar 1.

Gambar 1.
Siklus Anggaran dengan Tata Kelola Ideal

pelaksanaan
dan
baseline
belum
dilaksanakan.
Tiga metodologi dalam spending review
adalah sebagai berikut:

Sumber: Modul Monev Ditjen Perbendaharaan

1. Reviu Alokasi Anggaran, yaitu reviu dan


analisis terhadap alokasi anggaran
dalam RKA-KL dengan fokus utama
untuk
mengidentifikasi
inefisiensi
alokasi, duplikasi dan einmalig.
2. Reviu Pelaksanaan Anggaran, yaitu
reviu dan analisis terhadap pelaksanaan
anggaran dengan fokus utama pada
realisasi anggaran, tingkat penyerapan
anggaran, capaian output.
3. Reviu Baseline, yaitu memberikan
masukan untuk prinsip-prinsip reviu
terhadap baseline items yang dapat
dipertimbangkan oleh K/L pada saat
perencanaan.

Sebelum dilaksanakan oleh pemerintah


sendiri melalui Ditjen Perbendaharaan
spending review dilakukan pihak lain seperti
Jika dilihat dari urgensi, ada beberapa
BPK (Modul Monev dan Spending Review)
sebab yang melatarbelakangi perlunya
sehingga spending review sudah dilakukan
dilaksanakan spending review di Indonesia
di Indonesia tetapi oleh pihak eksternal
sekarang (Ditjen Perbendaharaan: modul
pemerintah.
Beberapa
wake-up
call
Spending review di Kementerian monev).
pelaksanaan
anggaran
Keuangan mulai bergulir sejak adanya permasalahan
reorganisasi di tubuh Ditjen Perbendaharaan antara lain :
sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan 1. Naiknya volume APBN dari tahun ke
Nomor
:
169/PMK.01/2012
tentang
tahun, tanpa diiringi dengan peningkatan
Organisasi dan Tata Kerja Instansi Vertikal
kualitas hidup (direpresentasikan oleh
Direktorat Jenderal Perbendaharaan bahwa
Indeks Pembangunan Manusia) yang
fungsi Bidang PA salah satunya adalah
signifikan,
memberikan
indikasi
mengenai penyusunan Spending Review.
rendahnya tingkat efektivitas belanja
Sehingga dari sisi pihak yang melaksanakan
negara.
sudah ada yaitu Ditjen Perbendaharaan, dari 2. Terbatasnya ruang fiskal yang hanya
sisi regulasi yang melegitimasi pelaksanaan
sebesar 5-6% (5,1% pada 2011) dari
spending review sudah ada PMK tersebut.
Pendapatan
Domestik
Bruto
Akan tetapi belum ada peraturan
mengakibatkan fleksibilitas anggaran
petunjuk pelaksanaan yang mengatur lebih
terbatas,
contohnya
untuk alokasi
lanjut tentang spending review. Kalaupun
infrastruktur yang berpengaruh signifikan
ada baru sebatas Surat Edaran Ditjen
terhadap pertumbuhan ekonomi rendah.
Perbendaharaan yaitu SE 37/PB/2012 dan 3. Tingginya alokasi maupun realisasi
SE 3/PB/2013. Di SE tersebut spending
belanja
yang
bersifat
mengikat
review baru dilakukan untuk metode alokasi
(mandatory spending) dan sebaliknya
yaitu dengan mengukur inefisiensi, duplikasi
rendahnya alokasi maupun realisasi
dan einmalig. Sedangkan untuk metode
belanja yang bersifat tidak mengikat
(discretionary spending) mengindikasikan

biaya penyelenggaraan negara yang


tinggi
dibandingkan
dengan
biaya
pelayanan publiknya.
4. Penyerapan belanja negara, khususnya
belanja
barang
dan
modal
Kementerian/Lembaga tidak optimal dan
cenderung menumpuk pada akhir tahun
anggaran akibatnya peran stimulus fiskal
dari kontribusi belanja negara tidak
tercapai, begitu pula hal ini menyulitkan
pengelolaan kas negara.
5. Kualitas belanja operasional birokrasi
lebih besar dari pada belanja modal atau
belanja pelayanan langsung kepada
publik, akibatnya terjadi pemborosan,
inefisiensi dan tidak terukurnya pengaruh
belanja pemerintah terhadap kualitas
layanan publik.
Spending review merupakan alat untuk
mengevaluasi
kinerja
kementerian/Lembaga,
yang
hasilnya
dijadikan rekomendasi untuk pengalokasian
anggaran pemerintah tahun berikutnya agar
lebih efektif dan efisien (value for money).
Hasil spending review akan dijadikan
rekomendasi untuk pelaksanaan anggaran
pemerintah tahun berikutnya agar lebih
efektif dan efisien (value for money).
Sebagai langkah awal spending review
di 2013, Kementerian Keuangan melakukan
spending review terhadap 20 Kementerian
Negara/Lembaga yang memiliki pagu dana
terbesar tahun 2012. Proporsi pagu dana 20
Kementerian Negara/Lembaga tersebut
terhadap pagu total K/L dalam APBN 2012
adalah sebesar 76, 26 % (Balitbang
Kehutanan).
Spending review dilakukan
dengan
pendekatan
review
alokasi
anggaran, review pelaksanaan anggaran
dan
review
baseline
pada
saat
perencanaan. Agus Marto mengatakan
bahwa dengan adanya spending review
dapat dihemat 71 triliun dari anggaran
(Okezone). Pemerintah menggunakan hasil
spending review untuk trilateral meeting dan
mengungkapkan ini pada 20 K/L termasuk
K/L lain saat trilateral meeting antara

menkeu, Bappenas, dan K/L. Tujuan dari


reviu ini adalah setidaknya ada 2 (Ditjen
Perbendaharaan : Modul Monev), yaitu :
(1) Mengukur potensi ruang fiskal untuk TA.
2014
(2) Mengukur

efisiensi

operasional

pelaksanaan belanja pemerintah TA


2012
Tabel 1
Hasil Spending Review Tahun Anggaran 2012

Sumber : Modul Monev Ditjen Perbendaharaan

Hasil dari spending review hasil


trilateral meeting tersebut berpengaruh
terhadap besaran RAPBN 2014 yang lebih
kecil daripada nilai belanja dalam anggran
KPJM karena dapat mengeliminasi alokasi
anggaran yang duplikasi maupun einmalig.
Tabel 2
Rekonsilisi Belanja Negara (triliun)

Sumber : Nota keuangan 2014

Hasil
spending review tersebut
menggambarkan bahwa level spending
review di Indonesia masih dalam level 1
pada gambar 2 dimana spending reviu
masih pada tataran input saja. Dengan kata
lain jika hal ini dihubungkan dengan HDI

sebagai suatu outcome (level 3) maka VI.


Simpulan
pelaksanaan spending review di Indonesia
Pelaksanaan spending review di
belum sampai menyentuh tataran outcome.
Indonesia bertujuan untuk mencapai
efisiensi dan efektifitas penggunaan
Gambar 2
anggaran sehingga belanja pemerintah
Level Spending Review
tidak hanya berdampak positif terhadap
pertumbuhan
ekonomi
tetapi
juga
meningkatkan HDI Indonesia seiring
dengan pertumbuhan belanja pemerintah.
Spending review bermanfaat sebagai
bahan
masukan
untuk
pembuatan
anggaran tahun 2014 pada saat trilateral
meeting.
Pada
pelaksanaannya
spending
review tersebut belum dapat menyentuh
level outcome, masih pada level 1 yaitu
berhubungan dengan alokasi anggaran
atau input sehingga kedepan perlu perlu
Sumber : Bahan tayang ditjen Perbendaharaan
kajian lebih lanjut apakah alokasi yang
sudah diperbaiki dengan mekanisme
spending review tersebut juga akan
menghasilkan pada perubahan HDI
Indonesia.

VII.

Daftar Pustaka

VIII. Direktorat Perbendaharaan. Modul Monev Pelaksanaan Anggaran dan Spending


Review.
IX. Direktorat Perbendaharaan. Bahan tayang Monev dan Spending Review. 2013.
X. Rezy, Fakhri. RAPBN 2014 Harus Berpatokan Pada Review Keuangan.
http://economy.okezone.com/read/2013/04/09/20/788938/rapbn-2014-harusberpatokan-pada-review-keuangan diakses pada 12 Pebruari 2014
XI. Badan Pelatihan dan Pengembangan Kehutanan. Wokshop Peningkatan Kapasitas
SDM Perencana Program, Anggaran dan Evaluasi. http://www.fordamof.org/index.php/berita/post/1442 diakses 12 Pebruari 2014
XII. World Bank. Tools for Analyzing Public Expenditures in Human Development.
http://web.worldbank.org/WBSITE/EXTERNAL/EXTABOUTUS/ORGANIZATION/EXTH
DNETWORK/EXTHDOFFICE/0,,contentMDK:22285532~menuPK:6375885~pagePK:6
4168445~piPK:64168309~theSitePK:5485727,00.html diakses 9 Pebruari 2014.
XIII.
XIV.
XV.
XVI.

XVII.