Anda di halaman 1dari 21

Nomor ISSN 1907-5995

PROSIDING SEMINAR NASIONAL


REKAYASA TEKNOLOGI INDUSTRI dan INFORMASI
Ke-10 2015

Sekolah Tinggi Teknologi Nasional Yogyakarta

PROPOSAL

Manajemen Energi untuk Pembangunan


Berkelanjutan Di Indonesia

Yogyakarta, 19 Desember 2015

Yayasan Pendidikan Teknologi Nasional


Sekolah Tinggi Teknologi Nasional (STTNAS) Yogyakarta
Jl. Babarsari, Catur Tunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta 55281
Telp. (0274) 485390, 486986 | Fax. (0274) 487249
www.sttnas.ac.id | email: info@sttnas.ac.id

Seminar Nasional ReTII Ke-10 2015


Manajemen Energi Untuk Mendukung Pembangunan Berkelanjutan
Di Indonesia

Sekolah Tinggi Teknologi Nasional Yogyakarta


Jl. Babarsari, Catur Tunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta
Telp. (0274) 485390, Fax. (0247) 487249
Email: seminar@sttnas.ac.id

Sanksi Pelanggaran Pasal 72


Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002
Tentang Hak Cipta
1. Barang siapa dengan sengaja melanggar dan tanpa hak melakukan
perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 Ayat 1 atau Pasal
9 Ayat 1 dan Ayat 2 dipidana dengan pidana penjara masingmasing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit
Rp. 1.000.000,00 (Satu Juta Rupiah), atau pidana penjara paling
lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp.
5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah).
2. Barang siapa dengan saja menyiarkan, memamerkan,
mengedarkan, atau barang hasil pelanggaran hak cipta atau hak
terkait sebagai dimaksud pada Ayat 1 dipidana dengan pidana
penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau dengan paling banyak
Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah)

PENYUNTING

Reviewer
Dr. Hill. Gendoet Hartono, ST., MT
Dr. Ratna Kartikasari, ST., MT
Tugino, ST., MT
Drs. H. Triwuryanto, MT
Drs. Achmad Wismoro, ST., MT
Ir. Ag. Isjudarto, MT

Editor
M. Sri Prasetyo Budi, ST., MT
A.A Inung Arie Adnyano, ST., MT
Shilvyanora Aprilia Rande, ST., MT
Novandri Kusuma Wardana, ST., S.Si

Sekolah Tinggi Teknologi Nasional Yogyakarta


Jl. Babarsari, Catur Tunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta
Telp. (0274) 485390, Fax. (0247) 487249
Email: seminar@sttnas.ac.id
ii

SUSUNAN PANITIA

Penanggung Jawab
Pengarah

: Ketua STTNAS Yogyakarta


(Ir. H. Ircham, MT)
: Pembantu Ketua I STTNAS Yogyakarta
(Sutrisna, ST., MT)
: Pembantu Ketua II STTNAS Yogyakarta
(Ir. Sukartono, MT)
: Pembantu Ketua I STTNAS Yogyakarta
(Ir. Amara Nugrahini, MT)

Ketua Pelaksana

: M. Sri Prasetyo Budi, ST., MT

Sekretaris Pelaksana

: 1. A.A Inung Arie Adnyano, ST., MT


2. Novandri Kusuma Wardana, ST., S.Si
: 1. Marsudi
2. Th. Sri Harjanti

Staf Sekretaris

Bendahara

: Shilvyanora Aprilia Rande, ST., MT

Reviwer
a. Teknik Geologi
b. Teknik Mesin
c. Teknik Elektro
d. Teknik Sipil
e. Teknik PWK
f. Teknik Pertambangan

:
: Dr. Hill. Gendoet Hartono, ST., MT
: Dr. Ratna Kartikasari, ST., MT
: Tugino, ST., MT
: Drs. H. Triwuryanto, MT
: Drs. Achmad Wismoro, ST., MT
: Ir. Ag. Isjudarto, MT

Seksi Makalah & Prosiding

:1. Ir. Sudirman, MT


2. Joko Purwanto, ST
3. Sunah

Seksi Acara

: 1. Ir. St. Soebantijo, M.Si


2. Agung Dwi Sutrisna, ST., MT

Seksi Publikasi, Dokumentasi


Dan Perlengkapan

Seksi Sponsorship

: 1. Erry Sumarjono, ST
2. Ign. Purwanto
3. Budiran
4. G. Hermawan Yudi Kristianto, ST
:1. R. Andy Erwin Wijaya, ST., MT
2. Ir. Partama Misdiyanta, MT

iii

Sambutan Ketua Pelaksana


Alhamdulillah, berkat rahmat Allah SWT, kita dapat berkumpul di Kampus Sekolah
Tinggi Teknologi Nasional (STTNAS) Yogyakarta untuk mengikuti Seminar Nasional
Rekayasa Teknologi Industri dan Informasi (ReTII) pada tanggal 19 Desember 2015. Tema
yang diangkat dalam Seminar ini Manajemen Energi : Manajemen Energi untuk
Pembangunan Berkelanjutan Di Indonesia.
Seminar Nasional ReTII ini merupakan kegiatan tahunan STTNAS Yogyakarta yang
pada tahun ini merupakan tahun yang ke-10. Tujuan diselenggarakannya seminar ini adalah
sebagai sarana untuk mempublikasikan artikel ilmiah, sebagai forum diskusi dan interaksi
ilmiah antara akademisi, peneliti, praktisi dan pemerhati ilmu pengetahuan dan teknologi
mengenai hasil-hasil penelitian maupun pengalaman teknis lainnya yang telah dicapai. Judul
makalah yang akan dipresentasikan dalam seminar ini sejumlah 156 makalah.
Panitia ucapkan terima kasih kepada yang terhormat Bapak Dr. Ir. Irwandi Arif.
M.Sc., Ph. D yang berkenan menjadi keynote-speech, para pemakalah yang berkenan
mengirim makalahnya dan berkenan hadir serta peserta seminar dan semua pihak yang turut
serta berpartisipasi aktif dalam penyelenggaraan seminar ini.
Panitia telah berusaha maksimal untuk menyelenggarakan seminar sebaik mungkin,
namun kami menyadari masih ada kekurangan dan kami mohon maaf atas kekurangan yang
ada. Akhir kata kami ucapkan Selamat Berseminar.

Yogyakarta, 19 Desember 2015


Ketua Pelaksana Semnas ReTII Ke-10
ttd
M. Sri Prasetyo Budi, ST., MT

iv

Dalam Rangka
Pembukaan Seminar Nasional
Rekayasa Teknologi dan Informasi (ReTII) ke-10
Yogyakarta, 19 Desember 2015

Assalamualaikum wr.wb
Salam sejahtera bagi kita semua
Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT karena hanya dengan
ridhoNya kita dapat berkumpul di sini dalam rangka Seminar ReTII ke-10 dalam keadaan
sehat walafiat. Mudah-mudahan Allah SWT juga memberi kemudahan kepada panitia dalam
menyelenggarakan seminar ini. Demikian juga kepada para peserta dalam mengikuti acara
seminar ini.
Seminar ReTII kali ini merupakan yang ke-10 dan merupakan agenda tahunan STTNAS yang
dimaksudkan agar dapat menjadi ajang temu para pakar untuk saling tukar pengalaman,
informasi, berdiskusi, memperluas wawasan dan untuk merespon perkembangan teknologi
yang demikian pesat. Selain itu diharapkan adanya kerja sama dari para pakar yang hadir
sehingga menghasilkan penelitian bersama yang lebih berkualitas dan bersama-sama pula
ikut memecahkan persoalan-persoalan teknologi untuk kemandirian bangsa.
Semoga seminar ini dapat terselenggara dengan baik dan memenuhi harapan kita semua.
Akhirnya saya ucapkan terima kasih kepada panitia dan semua pihak yang membantu
sehingga acara Seminar ReTII ke-10 ini dapat terselenggara dengan baik. Jika ada yang
kurang dalam penyelenggaraan seminar ini, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Wassalamualaikum wr.wb.

Yogyakarta, 19 Desember 2015


Ketua STTNAS
ttd
Ir. H. Ircham, M.T.

DAFTAR ISI
SUSUNAN PANITIA .................................................................................................

iii

SAMBUTAN KETUA PELAKSANA SEMNAS RETII KE-10 ............................

iv

SAMBUTAN KETUA STTNAS ...............................................................................

DAFTAR ISI ...............................................................................................................

vi

BUKU III
TEKNOLOGI MESIN DAN TEKNOLOGI INDUSTRI .......................................
1.

Pengaruh Katalis Asam Dan Basa Terhadap Biodisel Yang Dihasilkan Pada Proses
Trans(Esterifikasi) In Situ Biji Karet (Havea Brasiliensis)
Abdul Malik Espad Nur Rahim1, Indah Prihatiningtyas2 .................................................

718

Pengembangan Mesin Penggiling Jagung Jenis Buhr Mill Sistem Hantaran Screw
Dengan Penggiling Plat Bergerigi Dan Evaluasi Teknis
Adriansyah1, Junaidi2, Mulyadi3 ......................................................................................

723

Pengaruh Variasi Kecepatan Potong Pahat Hss Pengeboran Baja S45c/Aisi 1045
Terhadap Media Pendingin Pada Uji Kekerasan Dan Stuktur Mikro
Agus Duniawani1 ..............................................................................................................

729

Analisis Kinerja Rantai Pasok Menggunakan Metode Supply Chain Operation


Reference (Scor) Di Industri Tekstil Dan Produk Tekstil Sektor Industri Hilir (Studi
Kasus Pada Perusahaan Garmen Pt Alas Indah Remaja Bogor)
Agus Purnomo1 .................................................................................................................

739

Pengaruh Methanol Kadar Tinggi Terhadap Performa dan Penurunan Emisi Gas
Buang Mesin Bensin dengan Sistem Hot EGR
Ahmad Syarifuddin1 ..........................................................................................................

747

Pemanfaatan Hasil Alam (Daun Randu Dan Daun Jambu Biji) Sebagai Antidiare
Ani Purwanti.1, Abdul Azizt2, Abdullah Dedi R.3, Fitri Riyadi4 ........................................

753

Pengunaan Reaktor Microwave Efektif Pada Penghapusan Tar Dengan Perlakuan


Panas Dan Penambahan Air
Aris Warsita1 ....................................................................................................................

759

Pengunaan Katalis Dan Penambahan Air Effektif Pada Penghapusan Tar Model
Biomassa Gasifikasi Dengan Reaktor Microwave
Aris Warsita1 ....................................................................................................................

769

Peningkatan Kwalitas Produksi Gas Gasifikasi Berbahan Baku Kayu Pellet


Efektif Pada Perlakuan Panas-Katalis Dengan Penambahan Air
Aris Warsita1 ....................................................................................................................

780

10. Studi Kinetik Perlakuan Panas-Katalis Pada Senyawa Tar Model Biomassa Dan
Penambahan Air Dengan Reaktor Microwave
Aris Warsita1 ....................................................................................................................

790

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

vi

11. Pengaruh Variasi Penekanan Terhadap Sifat Mekanik Komposit Serat Kelapa Yang
Dibuat Melalui Metode Squeeze Casting
Aspiyansyah1, Dwi Handoko2 ...........................................................................................

800

12. Analisis Potensi Energi Arus Laut Di Pantai Ampenan, Kota Mataram, Provinsi NTB
Baiq Liana Widiyanti1 ......................................................................................................

805

13. Karakterisasi Turbin Angin Poros Horizontal Dengan Variasi Bingkai Sudu Flat Untuk
Pembangkit Listrik Tenaga Angin
Bono1, Gatot Suwoto2, Margana3, Sunarwo4 ....................................................................

812

14. Simulasi Kincir Angin Savonius Dengan Variasi Pengarah


Budi Sugiharto1, Sudjito Soeparman2, Denny Widhiyanuriyawani3, Slamet Wahyudi4 ...

821

15. Pengaruh Kondisi Operasional Terhadap Efisiensi Proses Vacuum Pada Liquid Jet
Gas Pump Sebagai Vacuum Pump
Dandung Rudy Hartana1, Rendy Lewanusa2 ....................................................................

827

16. Pengaruh Sekat pada Suction Chamber Liquid-Gas Ejector Terhadap Debit Suction
Flow
Daru Sugati1, Dandung Rudy Hartana2 ...........................................................................

830

17. Rancang Bangun Konveyor Pneumatik Mesin Pengering Tipe Hybrid


Dhimas Satria1, Mohammad Fawaid2, Mochammad Glenn Nierwan3.............................

835

18. Analisis Sistem Antrian Pelayanan Teller Bank Pada Aktivitas Nasabah Dengan
Menggunakan Simulasi (Studi Kasus Bank Xyz)
Dippo Susetyo N.1, Dutho Suh Utomo2, Willy Tambunan3 ...............................................

842

19. Analisa Pengaruh Jenis Pengelasan Smaw Dan Fcaw Terhadap Sifat Mekanis Baja
Astm A36 Pada Konstruksi Landside Upper Leg
Dony Perdana1, Ahmad Bazy Syarif2................................................................................

847

20. Pemberdayaan Masyarakat Dengan Penerapan Teknologi Pemurnian Minyak Nilam


Sebagai Peningkatan Kesejahteraan Pengrajin Di Kecamatan Belik Kabupaten
Pemalang
Emas Agus Prastyo wibowo1 ............................................................................................

855

21. Multiple Droplets Studi Eksperimental Tentang Pengaruh Konduktivitas Material


Terhadap Fenomena Multiple Droplets Yang Menumbuk Permukaan Padat Yang
Dipanaskan Pada Rejim Nucleat Boiling Dan Temperatur Critical Heat Flux
Farid Subarkah1, Windy Hermawan Mitrakusuma2, Deendarlianto3 ..............................

860

22. Pemanfaatan Limbah Biji Nangka Sebagai Bahan Alternatif Dalam Pembuatan Tempe
Ganjar Andaka1, Putu Oka Nareswary2, Firmansyah Budilaksana3, Dian Erawisti
Trishadi4 ...........................................................................................................................

866

23. Studi Pengaruh Bahan Pewarna Hitam Dan Cara Pewarnaan Kolektor Pemanas
Terhadap Temperatur Kolektor Pada Pemanas Air Energi Matahari
Harianto1 ..........................................................................................................................

871

24. Perawatan Alat (Heavy Equipment) Dengan Penjadwalan Menggunakan Metode


Preventive Maintenance Di PT Purna Baja Harsco
Heru Winarno1..................................................................................................................

876

vii

25. Pengaruh Arus Dan Waktu Spot Welding Terhadap Ketahanan Korosi Sambungan
Dissimilar Aisi 1003 Dengan Aisi 1025
Joko Pitoyo1, Ratna Kartikasari2, Feri Frandika3 ............................................................

880

26. Pengaruh Jenis Serat Tandan Kosong Sawit (TKS) Hasil Defiberasi Secara Mekanis
Dan Kadar Perekat Gambir Terhadap Kualitas Papan Komposit
Junaidi1, Anwar Kasim2, Dadi Budiman3 .........................................................................

889

27. Pengaruh Desain Burner Cup Terhadap Performa Hasil Pembakaran Kompor Biogas
Menuju Desa Mandiri Energi Di Yogyakarta
Kris Hariyanto1, Benedictus Marwianta2 .........................................................................

896

28. Perancangan Dental Chair Portable Untuk Menunjang Aktivitas Dokter Gigi
Dilapangan Yang Berbasis Ergonomis
La Ode Abriaman1, Intan Kumala Sari2, Devi Dwipriastuti3, Nuzulia Khoiriyah4 ..........

902

29. Kontrol Pidlongitudinaldisplacement Autopilotmissiledengan Simulink


M. Amirullah Akbar1, Munadi2 .........................................................................................

908

30. Pengujian Efisiensi Energi Motor BLDC 72 Volt 7kW untuk Aplikasi Model Electric
Urban Car
M. Beny Dwifa1, Munadi2 ................................................................................................

914

31. Studi Metode Static Termal Tensioning (Stt) Untuk Meminimalkan Distorsi Las Mig
Aluminium Aa5083 Dan Pengaruhnya Terhadap Sifat Mekanis
M. Leon Habibi1, M.N. Ilman2 ..........................................................................................

920

32. Pengaruh Berat Bagass Dan Waktu Reaksi Terhadap Hasil Glukosa Pada Hidrolisis
Bagass Untuk Pembuatan Bioetanol
M. Sri Prasetyo Budi1 .......................................................................................................

925

33. Pemakaian Alat Bantu Prototype Model Aplikasi Jarimatika Sederhana Dan Menarik
Pada Pembelajaran Berhitung Anak Usia Dini
Maria Atik Sunarti Ekowati1, Darsini2 .............................................................................

929

33. Pemilihan Supplier Yang Tepat Di Ukm Kerajinan Bambu Dengan Menggunakan
Metode Analytical Hierarchy Process
Marni Astuti1, Riani Nurdin2 ............................................................................................

953

34. Penentuan Kapasitas Produksi Dengan Pendekatan Fuzzy Linear Programming Pada
CV. X
Muchtamar1, Fathkul Hani Rumawan2.............................................................................

959

35. Studi Tentang Sistem Refrigerasi Dengan Air Sebagai Refrigeran Dan Ejektor Sebagai
Pengganti Kompresor
Muhammad abdulkadir1, Harianto2 .................................................................................

963

36. Pengaruh Arus Dan Waktu Spot Welding Terhadap Sifat Mekanik Sambungan
Dissimilar Aisi 1003 Dengan Aisi 1025
Mustakim1, Ratna Kartikasari2, Bima Wedar Permana3 ..................................................

968

37. Studi Eksperimen Konversi Biomassa Menjadi Syngas Pada Reaktor Bubbling
Fluidized Bed Gasifier
Nur Aklis1, M. Akbar Riyadi2, Ganet Rosyadi3, Wahyu Tri Cahyanto4 ............................

973

viii

38. Rancang Bangun Sistem Monitoring Perparkiran Kendaraan Berbasis Mikrokontroller


Nurhayati Djabir1, Atikah Tri Budi Utami2, Siti Wetenriajeng3 .......................................

979

39. Karakterisasi Parameter Akustik Pada Suara yang Diproduksi Oleh Pita Suara Buatan
Orienta Sebayang1, Suwandi2, Hertiana Bethaningtyas D.K.3 .........................................

983

40. Rancang Bangun Wheelchair Disibilitas And Elderly (Whecha Disel) Untuk
Meningkatkan Mobilitas Pengguna Saat Kondisi Banjir
Rahmad Hendri Pramudita1, Siti Abidatul Ulfa2, Sinta Fergy Farihah3 ..........................

990

41. Multiple Droplets Studi Eksperimental Tentang Visualisai Pengaruh Frekuensi


Terhadap Fenomena Multiple Droplets Yang Menumbuk Permukaan Padat
Rakryan Permadi S.K1, Windy Hermawan Mitrakusuma2, Samsul Kamal3 .....................

997

42. Studi Perbandingan Perbedaan Sudut Evacuated Glass Tube Pada Sistem Evacuated
Solar Water Heater Terhadap Panas Dan Gaya Pembebanan Sebagai Pemanas Air
Untuk Kolam Terapi Penderita Stroke
Rudy Setiawan1, Munadi2, Ahmad Hidayat3 .....................................................................

1005

43. Aplikasi Jebakan Model Rangka Besi Berselimut Jaring Untuk Menangkap Rajungan
Dan Ikan
Sarwako1, Seno Darmanto2 ..............................................................................................

1011

44. Aplikasi Mesin Pengelasan Dan Pengerolan Untuk Industri Ukir Tembaga Dan
Kuningan
Seno Darmanto1, Adi Nugroho2, Yusuf Umardhani3, Eko Julianto Sasono4 ....................

1015

45. Analisis Kepuasan Penumpang Pemegang Kartu Garuda Frequent Flyer (Gff)
Platinum (Di Bandar Udara Internasioal Adisutjipto Yogyakarta)
Sri Mulyani1, Dwi Hartini2 ...............................................................................................

1020

46. Distilasi Crude Etanol Untuk Memperoleh Bioetanol Fuel Grade


Sri Rahayu Gusmarwani1 .................................................................................................

1026

47. Simulasi Aliran Internal Pada Pemipaan Persegi Inlet Engine Tiga Dimensi
Subagyo1 ...........................................................................................................................

1035

48. Pengaruh Putaran Tools Terhadap Struktur Mikro Dan Sifat Mekanis Sambungan
Friction Stir Welding Pada Aluminium Paduan 6061
Wartono1, Hasta Kuntara2 ...............................................................................................

1039

49. Single Droplet Studi Eksperimental Pengaruh Bilangan Weber Terhadap Dinamika
Tumbukan Single Droplet Pada Permukaan Aluminium
Wilson Susantoi1, Windy Hermawan Mitrakusuma2, Suhanan3, Deendarlianto4,
Samsul Kamal5..................................................................................................................

1045

50. Permodelan Sanitary Landfill Dengan Resirkulasi Leachate Untuk Produksi Gas
Metana Dan Karbon Dioksida
Winny Laura Christina Hutagalungi1, Gabriel Andari Kristanto2, Irma Gusniani3 ........

1051

51. Analisa Pengaruh Tegangan Dan Suhu Elektrolit Pada Kualitas Pewarnaan Komposit
Al 6061 Abu Batubara
Zainun Achmad1 ...............................................................................................................

1057

ix

52. Screening Bakteri Lactobacillus Plantarum Dalam Penyiapan Starter Powder Untuk
Fermentasi Hancuran Kasava
Zulafa Noor1 .....................................................................................................................

1065

53. Sistem Otomasi Pemberian Nutrisi Berdasar Suhu Dan Kelembaban Green House
Paprika Berenergi Tenaga Surya
Ekojono1, Andriani Parastiwi2..........................................................................................

1074

DISTILASI CRUDE ETANOL


UNTUK MEMPEROLEH BIOETANOL FUEL GRADE
Sri Rahayu Gusmarwani,
Jurusan Teknik Kimia
Institut Sains & Teknologi AKPRIND
Jl. Kalisahak 28 Kompleks Balapan Yogyakarta
gusmarwani@gmail.com

Abstrak
Bioetanol fuel grade adalah alkohol murni yang bebas air (anhydrous alcohol) dan berkadar lebih
dari 96 %. Salah satu metode yang dapat digunakan dalam proses pemurnian bioetanol fuel grade
adalah distilasi ekstraktif. Metode distilasi ekstraktif merupakan salah satu metode distilasi yang
menggunakan pelarut untuk memperbesar volatilitas relatif. Pelarut yang digunakan bersifat
nonvolatile, memiliki titik didih tinggi dan dapat bercampur dengan larutan, namun tidak
merupakan campuran azeotrop.
Pelarut yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendingin radiator yang berbahan aktif dietilen
glikol. Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh bioetanol fuel grade dengan cara distilasi
ekstraktif dalam satu kolom distilasi berpacking yang dilengkapi dengan pengatur refluk. Umpan
yang berupa campuran crude etanol dan pendingin radiator dimasukkan dalam labu distilasi.
Variasi campuran crude ethanol-solvent (ml:ml) dilakukan dengan perbandingan sebesar 390:10,
375:25, 350:50, 300:100, 250:150, dan 200:200. Selanjutnya campuran ini didistilasi dan uap
ditampung dalam erlenmeyer yang dilengkapi dengan pendingin es hingga tidak ada lagi cairan
yang menetes.
Distilat yang diperoleh dianalisis kadar etanolnya menggunakan piknometer. Pengamatan yang
dilakukan menunjukkan hasil kadar etanol tertinggi sebesar 99,29% dengan berat jenis sebesar
0,79151 gr/ml diperoleh saat penambahan pelarut sebanyak sebanyak 50 ml atau perbandingan
crude etanol-solven sebesar 350-50.
Kata kunci : bioetanol fuel grade, azeotrop, distilasi ekstraktif, dietilen glikol

1. Pendahuluan
Ketersediaan energi adalah syarat mutlak
khususnya dalam pelaksanaan pembangunan nasional
baik pada saat ini maupun pada masa yang akan
datang, guna menjamin pemenuhan pasokan energi
yang merupakan tantangan utama bagi bangsa
Indonesia. Cadangan energi fosil tidak akan kekal
karena persediaan energi fosil akan habis jika di
eksploitasi secara berlebihan. Oleh karena itu, harus
dilakukan antisipasi dengan berbagai upaya untuk
mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil
tersebut. Energi fosil saat ini harus segera digantikan
dengan energi pengganti yang bersifat terbarukan,
ramah lingkungan dan berkelanjutan, mengingat
cadangan sumber energi fosil tersebut semakin
menipis.
Fakta menunjukkan konsumsi energi terus
meningkat seiring dengan kenaikan mobilitas
manusia dan barang. Sehingga, cepat atau lambat
energi fosil tidak akan mampu memenuhi kenaikan
permintaan (Soerawidjaya, 2009).

Di Indonesia, kebutuhan energi alternatif untuk


transportasi juga didorong oleh kenyataan bahwa
produksi dan impor BBM menunjukkan kenaikan.
Sebagai contoh pada tahun 2001, produksi bensin
mencapai 14,60 miliar liter dan impor mencapai
12,18 miliar liter, yang berarti kenaikan produksi
sebesar 13,72 miliar liter dan impor 11,73 miliar liter
dibandingkan tahun sebelumnya. Perkembangan
energi alternatif untuk sektor transportasi jangka
panjang merupakan tugas paling penting dari
masyarakat di tahun-tahun mendatang. Salah satu
energi alternatif yang perlu dikembangkan adalah
bahan bakar bioetanol yang diproses dari sumber
yang dapat diperbaharui. Bioetanol menarik untuk
dikembangkan karena sesuai untuk dicampur dengan
bensin pada perbandingan berapapun dan dengan
modifikasi mesin. Karena bioetanol diproduksi dari
sumber yang dapat diperbaharui, maka proses yang
berkelanjutan akan dapat dilakukan (Sediawan, dkk,
2007).
Bioetanol mempunyai peranan yang sangat
penting, karena merupakan bahan bakar cair untuk

1026

kendaraan bermotor yang dapat diperbaharui


(Demirbas, 2005).
Adanya kerugian dikarenakan pemakaian energi
fosil, perhatian pada efek rumah kaca yang
disebabkan pemakaian bahan bakar minyak yang
terus menerus, membuat bioetanol lebih menarik.
Menurut para ilmuwan, adanya pemanasan global
disebabkan oleh emisi CO2 yang berlebihan yang
berasal dari pembakaran bahan bakar fosil dapat
menyebabkan
banyak
dampak
serius
bagi
masyarakat. Hal ini merupakan alasan mengapa
pengukuran emisi gas CO2 harus dilakukan, karena
CO2 merupakan gas yang paling berperan dalam efek
gas rumah kaca. Selain itu protokol Kyoto yang
ditandatangani oleh beberapa negara industri
memutuskan emisi CO2 pada tahun 2008-2012 harus
turun hingga 5,2% dari emisi pada tahun 1990-an
(Sediawan, dkk., 2007).
Tidak seperti bensin, bioetanol merupakan bahan
bakar oksigenat yang mengandung 35% oksigen yang
dapat mereduksi partikulat dan emisi NOx dari hasil
pembakaran (Demirbas, 2005).
Bioetanol merupakan salah satu energi alternatif
yang lebih ekonomis daripada bensin (tanpa subsidi).
Nilai ekonomis dari produksi bioetanol ini
disebabkan proses produksinya relatif murah dan
sederhana melalui fermentasi dengan bantuan
mikroorganisme. Selain itu sumber bahan baku dapat
diproduksi secara terus menerus dan dapat
diperbaharui melalui pembudidayaan tanaman yang
menghasilkan pati (Chalim, dkk., 2005).
Greer (2005) menyatakan bahwa bioetanol dapat
digunakan sebagai substitusi sebagian ataupun
keseluruhan bahan bakar bensin. Pencampuran
bioetanol dengan bensin dapat menaikkan angka
oktan pada bahan bakar itu. Bensin memiliki angka
oktan kurang dari 90. Penambahan etanol ke dalam
bensin sebanyak 10% akan menaikkan angka oktan
pada kisaran angka 110. Sedangkan etanol murni
memiliki angka oktan 112 (Wheals dkk., 1999). Efek
samping penggunaan bioetanol sebagai bahan bakar
akan menimbulkan gas berbahaya hasil pembakaran
yang relatif lebih rendah daripada penggunaan bensin
sebagai bahan bakar.
Meskipun bioetanol dapat dibuat dari biomassa
berbasis pati, tetapi pati umumnya dimanfaatkan
sebagai
makanan
atau
pakan,
sehingga
pemanfaatannya sebagai bahan baku bioetanol dapat
mengganggu penyediaan makanan atau pakan
(Sediawan, dkk., 2009). Taherzadeh dkk. (1997)
mengidentifikasi dan mendapatkan komposisi
kandungan selulosa dan hemiselulosa pada pohonpohon Alder, Aspen, Birch, Pine, Spruce, dan Willow.

Senyawa selulosa tersebut memiliki potensi untuk


diproses menjadi etanol. Jeewon (1997) membuat
etanol dari lignoselulosa yang terdapat pada kayu
keras, kayu lunak, rumput-rumputan, dan limbah
pertanian. Sedangkan Gusmarwani dkk., (2009) telah
melakukan uji selulosa terhadap bonggol pisang
dengan hasil kadar hemiselulosa dan selulosa dalam
bonggol pisang masing-masing adalah 43,49% dan
15,4% yang mengindikasikan bahwa bonggol pisang
berpotensi untuk diolah menjadi bioetanol.
Bioetanol dapat dibuat dari biomassa berbasis
pati atau berbasis lignoselulosa. Lignoselulosa
merupakan senyawa polisakarida yang terdiri atas
selulosa, hemiselulosa dan lignin. Selulosa
merupakan senyawa polimer dari glukosa yang
memiliki gugus ikatan C yang berbeda dengan pati.
Ikatan polimer selulosa terjadi pada gugus C-beta,
sedangkan pati memiliki ikatan polimer pada gugus
C-alfa (Wertheim dan Jeskey, 1956). Hemiselulosa
merupakan
ikatan
polimer
heterogen
dari
polisakarida, monomernya dapat berupa glukosa,
manosa, galaktose, xilosa, dan arabinosa. Manosa dan
glukosa merupakan komposisi dari hemiselulosa yang
paling banyak ditemukan pada kayu lunak, sedangkan
xilosa ditemukan sangat banyak pada kayu keras.
Susunan ikatan pada hemiselulosa lebih mudah
dipecah pada proses hidrolisis daripada susunan
ikatan pada selulosa (Palmqvist dan Hahn-Hagerdal,
2000).
Menurut Badger (2002) terdapat dua jenis
proses hidrolisis yang dapat dijalankan, yaitu
hidrolisis enzim dan hidrolisis kimiawi. Proses
hidrolisis kimiawi memiliki banyak keuntungan, yaitu
biaya yang dibutuhkan relatif murah, karena harga
bahan kimia yang dipakai lebih murah dibandingkan
harga enzim. Selain itu, proses hidrolisis enzim
membutuhkan
waktu
berhari-hari
sedangkan
hidrolisis kimiawi hanya memerlukan waktu yang
relatif lebih cepat (Taherzadeh dkk., 1997, Palmqvist
dan Hahn-Hagerdal, 2000).
Bahan kimia yang dapat dipakai untuk
memecah rantai polimer pada selulosa dan
hemiselulosa adalah larutan asam, baik itu larutan
asam pekat ataupun larutan asam encer. Larutan asam
yang dapat digunakan ialah asam sulfat dan asam
klorida. Larutan asam pekat sudah lama dipakai untuk
proses hidrolisis ini, hasil monomer gula yang didapat
sangat tinggi sehingga etanol yang dihasilkan juga
banyak, tetapi penggunaan asam pekat pada proses ini
menyebabkan terjadinya korosi tingkat tinggi pada
bahan material yang dipakai. Disain peralatan untuk
penggunaan asam pekat menjadi spesial dan mahal,

1027

seperti keramik atau material dilapisi dengan karbon


(Taherzadeh, 1999).
Menurut Philipp (1984) mekanisme reaksi
hidrolisis didahului oleh ion H+ yang berasal dari
katalisator menyerang selulosa. Dengan masuknya
ion H+ tersebut maka struktur selulosa menjadi tidak
stabil sehingga akan memudahkan selulosa bereaksi
dengan air (H2O). Proses hidrolisis lignoselulosa
dengan asam encer pernah dicobakan pada proses
Scholler dalam reaktor tangki berpengaduk dengan
kondisi operasi; konsentrasi asam sulfat 0,5 %,
tekanan 11-12 bar dan selama 45 menit. Hemiselulosa
sebanyak 80 % w/w dapat terhidrolisis pada suhu di
bawah 2000C tetapi konversi maksimal dicapai pada
suhu di atas 2200C (Taherzadeh, dkk., 2003). Proses
hidrolisis pada suhu di atas 2200C juga
mengakibatkan terbentuknya senyawa racun bagi
pertumbuhan mikroorganisme di dalam proses
fermentasi. Senyawa-senyawa kimia yang bersifat
racun tersebut ialah jenis senyawa asam karboksilat,
senyawa furan dan senyawa fenol.
Senyawa asam karbosilat yang dihasilkan
terdiri dari asam asetat, asam format dan asam
levulinat. Asam levulinat dan asam asetat dibentuk
sebagai akibat degradasi lanjut dari 5-hidroksi
metilfurfural (HMF), sedangkan asam format
dibentuk dari degradasi grup metil pada hemiselulosa.
Batas konsentrasi dari ketiga jenis asam di atas adalah
1 g/L. Furfural dan HMF merupakan senyawa furan
yang banyak ditemukan sebagai hasil samping dari
reaksi hidrolisis lignoselulosa dengan asam encer
(Taherzadeh, 2003). Kedua senyawa tersebut
merupakan hasil dekomposisi pentosa dan hexosa.
Furfural memiliki sifat racun yang lebih kuat daripada
senyawa lainnya, karena secara nyata keberadaan
furfural (> 0,2 %) dapat menghambat pertumbuhan
ragi, menurukan evolusi CO2 dan pelipatgandaan sel
pada tahap permulaan proses fermentasi berlangsung.
HMF menghambat pertumbuhan ragi lebih lama
tetapi tidak sekuat furfural pada batas konsentrasi 1
g/L. Senyawa fenol memiliki daya racun sekuat
furfural; dengan konsentrasi fenol 1 g/L dapat
menurunkan kecepatan proses fermentasi mencapai
73 %. Terdapat juga senyawa vanili yang dapat
meracuni proses fermentasi pada konsentrasi di atas 5
g/L (Taherzadeh, 2003).
Lignin merupakan senyawa yang sangat
kompleks dari phenilpropana. Ikatan polimer yang
berbeda antara lignoselulosa dan pati inilah yang
menyebabkan perlakuan bagaimana mengubah kedua
polisakarida di atas menjadi bioetanol juga berbeda.
Pati dapat langsung difermentasi oleh Saccharomyces
cerevisiae menjadi etanol, tetapi belum ditemukan

mikroorganisme tunggal yang dapat mengubah


lignoselulosa menjadi etanol.
Gusmarwani dan Budi, (2011), melaporkan
mengenai penggunaan basa untuk proses detoksifikasi
yang dilakukan sebelum proses fermentasi hidrolisat
bonggol pisang, memberikan hasil dari 0,2689% jika
fermentasi dilakukan tanpa detoksifikasi, menjadi
2.3107% jika detoksifikasi dilakukan dengan NaOH
dan 7.3847% jika detoksifikasi dilakukan dengan
Ca(OH)2.
Distilasi ekstraktif didefinisikan sebagai
distilasi dengan penambahan bahan lain yang
mempunyai titik didih lebih tinggi, komponen yang
relatif non-volatile, suatu pelarut yang tidak
membentuk azeotrop dengan komponen lain dalam
campuran. Metode ini digunakan untuk campuran
memiliki dengan nilai volatilitas mendekati
kesatuan. Campuran tersebut tidak dapat dipisahkan
dengan penyulingan sederhana, karena volatilitas dari
dua komponen dalam campuran hampir sama,
membuat mereka menguap pada suhu yang sama
pada tingkat yang sama, sehingga distilasi normal
tidak praktis untuk dilakukan (Anonim, 2008).
Metode penyulingan ekstraktif menggunakan
penambahan pelarut, yang umumnya nonvolatile,
memiliki titik didih tinggi dan miscible dengan
campuran, namun tidak merupakan campuran
azeotrop. Interaksi pelarut yang berbeda dengan
komponen
lain
dalam
campuran
sehingga
menyebabkan volatilitas relatif mereka juga
berubah. Hal ini memungkinkan campuran tiga
bagian baru yang dapat dipisahkan oleh distilasi
normal. Komponen asli dengan volatilitas terbesar
akan keluar sebagai produk atas. Produk bawah
terdiri dari campuran pelarut dan komponen lainnya,
yang dapat dipisahkan dengan mudah karena pelarut
tidak membentuk sebuah azeotrop dengan komponen
lainnya (Atmojo, 2011).
Zhou dan Zhanting, (1998), mengkaji
produksi alcohol anhydrous dengan metode distilasi
ekstraksi menggunakan solven dan garam yang
dibandingkan dengan kondisi reflux yang sangat
besar (total reflux). Semakin besar reflux biaya
operasinya semakin tinggi.
Bioetanol digunakan sebagai bahan bakar
murni atau dicampur dengan premium dalam
konsentrasi yang bervariasi. Bioetanol digunakan
sebagai bahan bakar karena sifatnya yang dapat
menggantikan premium dan keunggulan lain dari
bioetanol
dibandingkan
dengan
premium.
Keunggulan tersebut antara lain adalah ramah
lingkungan, dapat diperbaharui, dan dapat

1028

berkelanjutan baik sumbernya maupun prosesnya


(www.petrojam.com).
Bioethanol dengan kadar etanol antara 95%
sampai 99,8% berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai
bahan bakar kendaraan bermotor. Kemurnian 99,5%
adalah syarat mutlak penggunaan bioetanol sebagai
bahan bakar, karena kadar etanol kurang dari 90%,
akan menyebabkan mesin tidak dapat menyala
disebabkan kandungan air yang terlalu tinggi.
Sebetulnya bioetanol dengan kemurnian 95% masih
layak dimanfaatkan sebagai bahan bakar motor tetapi
kadar kemurnian itu perlu penambahan zat antikorosif
pada tangki bahan bakar agar tidak menimbulkan
karat. Sayangnya, saat ini banyak produsen yang
menghasilkan bioetanol dengan kemurnian di bawah
95%.
Manfaat pemakaian biofuel di Indonesia yaitu
memperbesar basis sumber daya bahan bakar cair,
mengurangi impor bahan bakar minyak, menguatkan
security of supply bahan bakar, meningkatkan
kesempatan
kerja,
berpotensi
mengurangi
ketimpangan pendapatan individu dan antardaerah,
meningkatkan kemampuan nasional dalam teknologi
pertanian dan industri, mengurangi kecenderungan
pemanasan global dan pencemaran udara (bahan
bakar ramah lingkungan) serta berpotensi mendorong
ekspor komoditi baru (Martono dan Sasongko, 2007).
Bioetanol fuel grade adalah alkohol murni
yang bebas air (anhydrous alcohol) dan berkadar
lebih dari 99%. Penggunaan bioetanol sebagai bahan
bakar kendaraan bermotor bervariasi antara blend
hingga bioetanol murni. Bioetanol sering disebut
dengan notasi Ex, dimana x adalah persentase
kandungan bioetanol dalam bahan bakar. Beberapa
contoh penggunaan notasi Ex antara lain:
E 100, bioetanol 100% atau tanpa campuran; E85,
campuran 85% bioetanol dan bensin 15%; E5,
campuran 5% bioetanol dan bensin 95%
Bioetanol dengan kandungan 100% memiliki
nilai oktan (octane) RON 116-129, yang relatif lebih
tinggi dibandingkan bahan bakar premium dengan
nilai oktan RON 88. Karena nilai oktan yang tinggi,
bioetanol dapat digunakan sebagai pendongkrak
oktan (octane booster) untuk bahan bakar beroktan
rendah. Nilai oktan yang lebih tinggi pada bioetanol
juga berpengaruh positif terhadap efisiensi dan daya
mesin.
Menurut Gusmarwani dkk., (2011), kadar
etanol yang dihasilkan dari proses fermentasi
hidrolisat bonggol pisang sebanyak 7,3847% dengan
kondisi pH fermentasi adalah 10 dan Ca(OH)2 untuk
proses penetralan pH.

Distilasi adalah suatu proses pemurnian yang


didahului dengan penguapan senyawa cair dengan
cara memanaskannya, kemudian mengembunkan uap
yang terbentuk. Prinsip dasar dari distilasi adalah
perbedaan titik dari zat-zat cair dalam campuran zat
cair tersebut sehingga zat (senyawa) yang memiliki
titik didih terendah akan menguap terlebih dahulu,
kemudian apabila didinginkan akan mengembun dan
menetes sebagai zat murni (distilat) (Anonim, 2008).
Menurut
Gunturgeni,
dkk.,
(2009),
berdasarkan kegunaan dan ketelitian dalam
pemisahan dua zat yang berbeda distilasi dibedakan
menjadi beberapa jenis sebagai berikut:
1.1. Distilasi sederhana
Biasanya distilasi sederhana digunakan
untuk memisahkan zat cair yang titik didihnya
rendah, atau memisahkan zat cair dengan zat padat
atau minyak. Proses ini dilakukan dengan
mengalirkan uap zat cair tersebut melalui kondensor
lalu hasilnya ditampung dalam suatu wadah, namun
hasilnya tidak benar-benar murni atau biasa dikatakan
tidak murni karena hanya bersifat memisahkan zat
cair yang titik didih rendah atau zat cair dengan zat
padat atau minyak.
1.2. Destilasi bertingkat (fraksionasi)
Proses ini digunakan untuk komponen yang
memiliki titik didih yang berdekatan. Pada dasarnya
sama dengan distilasi sederhana, hanya saja memiliki
kondensor yang lebih banyak sehingga mampu
memisahkan dua komponen yang memliki perbedaan
titik didih yang berdekatan. Pada proses ini akan
didapatkan senyawa kimia yang lebih murni, kerena
melewati kondensor yang banyak.
1.3. Destilasi vakum (distilasi tekanan rendah)
Distilasi vakum adalah distilasi yang tekanan
operasinya 0,4 atm (300 mmHg absolut). Distilasi
yang dilakukan dalam tekanan operasi ini biasanya
karena beberapa alasan yaitu:
Sifat penguapan relatif antarkomponen biasanya
meningkat seiring dengan menurunnya suhu didih.
Distilasi pada tekanan rendah dilakukan ketika
mengolah produk yang sensitif terhadap variabel
suhu.
Proses pemisahan dapat dilakukan terhadap
komponen dengan tekanan uap yang sangat rendah
atau komponen dengan ikatan yang dapat terputus
pada titik didihnya.
Reboiler dengan tekanan yang rendah yang
menggunakan sumber energi dengan harga yang lebih

1029

murah seperti steam dengan tekanan rendah atau air


panas.
1.4. Refluks
Refluks sering dilakukan dalam distilasi
walau pada prinsipnya agak berbeda. Refluks
dilakukan untuk meningkatkan konsentrasi distilat
dengan jalan pengembalian sebagian produk distilat
ke dalam kolom distilasi dan dipanaskan ulang tanpa
mengurangi jumlah zat yang ada.
1.5. Destilasi azeotrop
Digunakan dalam memisahkan campuran
azeotrop (campuran campuran dua atau lebih
komponen yang sulit di pisahkan), biasanya dalam
prosesnya digunakan senyawa lain yang dapat
memecah ikatan azeotrop tsb, atau dengan
menggunakan tekanan tinggi.
Banyak metode yang dapat digunakan untuk
menghilangkan titik azeotrop pada campuran
heterogen. Contoh campuran heterogen yang
mengandung titik azeotrop yang paling populer
adalah campuran ethanol-air, campuran ini dengan
metode distilasi biasa tidak dapat menghasilkan
ethanol berkadar lebih dari 96%. Hal ini terjadi
karena konsentrasi yang lebih tinggi harus melewati
terlebih dahulu titik azeotrop, dimana komposisi
kesetimbangan
cair-gas
ethanol-air
saling
bersilangan. Beberapa metode yang populer untuk
distilasi azeotrop antara lain :
Pressure Swing Distillation
Salah satu contoh penggunaan pressure
swing distillation adalah pemisahan campuran
propanol-ethyl acetate. Prinsip yang digunakan pada
metode ini yaitu menggunakan tekanan yang berbeda,
sehingga komposisi azeotrop suatu campuran akan
berbeda pula. Berdasarkan prinsip tersebut, distilasi
dilakukan bertahap menggunakan 2 kolom distilasi
yang beroperasi pada tekanan yang berbeda. Kolom
distilasi pertama memiliki tekanan operasi yang lebih
tinggi dari pada kolom distilasi kedua. Produk bawah
kolom pertama menghasilkan ethyl acetate murni
sedangkan produk atasnya ialah campuran propanolethyl acetate yang komposisinya mendekati
komposisi azeotropnya. Produk atas kolom pertama
tersebut kemudian didistilasi kembali pada kolom
yang bertekanan lebih rendah (kolom kedua). Produk
bawah kolom kedua menghasilkan propanol murni
sedangkan produk atasnya merupakan campuran
propanol-ethyl acetate yang komposisinya mendekati
komposisi azeotropnya.

Extractive Distillation
Distilasi ekstraktif didefinisikan sebagai
distilasi dalam kehadiran miscible, mendidih tinggi,
komponen yang relatif non-volatile, pelarut, dan tidak
membentuk azeotrop dengan komponen lain dalam
campuran. Metode yang digunakan untuk campuran
yang memiliki nilai volatilitas relatif rendah,
mendekati satu. Campuran tersebut tidak dapat
dipisahkan dengan penyulingan sederhana, karena
volatilitas dari dua komponen dalam campuran
hampir sama, sehingga campuran tersebut menguap
pada suhu yang sama pada tingkat yang sama,
membuat penyulingan normal tidak dapat digunakan.
Metode
penyulingan
ekstraktif
menggunakan pemisahan pelarut, yang umumnya
nonvolatile, memiliki titik didih tinggi dan miscible
dengan campuran, namun tidak merupakan campuran
azeotrop. Interaksi yang berbeda antara komponen
dalam campunran dengan pelarut akan menghasilkan
perubahan volatilitas relatif. Hal ini memungkinkan
terbentuknya campuran dari tiga bagian baru yang
dapat dipisahkan secara distilasi normal. Komponen
asli dengan volatilitas terbesar akan terpisahkan
sebagai produk atas. Produk bawah terdiri dari
campuran pelarut dan komponen lainnya, yang dapat
dipisahkan dengan mudah karena pelarut tidak
membentuk sebuah azeotrop dengan komponen
lainnya.
Zhou Ronqi dan Zhanting (1998),mengkaji
produksi alcohol anhydrous dengan metode distilasi
ekstraksi menggunakan solven dan garam untuk
dibandingkan dengan kondisi reflux yang sangat
besar (total reflux) dan pada reflux minimum akan
diperlukan modal dasar yang tinggi. Selain itu makin
besar reflux biaya operasinya juga makin tinggi.
Biaya total yang diperlukan adalah jumlah dari modal
dasar dan biaya operasinya.
Pertimbangan pemilihan solven antara lain:
harga murah, pemakaian tidak banyak, perbedaan
relative volatility tinggi, tidak berbahaya, dan mudah
dipisahkan dari air (limbah solven seminim
mungkin). Berdasarkan pertimbangan tersebut pada
penelitian ini digunakan pendingin radiator yang
berbahan aktif dietilen glikol yang dapat digunakan
sebagai solven.
Pada penelitian ini akan dilakukan proses
distilasi ekstraktif dengan pemanasan sampai titik
didih etanol. Komponen ketiga berupa solvent yang
ditambahkan yang akan mempengaruhi komposisi
fase liquid dan fase uap sehingga relative volatility
sistem akan berubah sehingga dapat diperoleh
bioetanol fuel grade.

1030

2. Metode Penelitian
2.1. Bahan Penelitian
Bahan yang digunakan adalah Crude
Ethanol dan pendingin radiator yang berbahan aktif
di-ethylen glicol.
2.2. Alat Penelitian
Alat yang digunakan dalam penelitian ini
adalah serangkaian alat distilasi kolom berpacking
dan alat analisis kadar ethanol menggunakan
piknometer.
2.3. Prosedur Penelitian
Sampel yang digunakan adalah crude
ethanol yang diperoleh dari distilasi normal cairan
fermentation strain. Analisis bahan baku
yang
dilakukan memperlihatkan kadar etanol dalam crude
ethanol sebesar 66.71%. Sampel crude ethanol
dimasukkan ke dalam labu distilasi sebagai umpan.
Langkah pertama berupa persiapan umpan yang
berupa campuran crude ethanol dan solven dengan
perbandingan tertentu yaitu 390 ml : 10 ml, 375 ml :
25 ml, 350 ml : 50 ml, 300 ml : 100 ml, 250 ml : 150
ml, 200 ml : 200 ml. Kemudian umpan dimasukkan
ke dalam labu leher tiga, yang sebelumnya rangkaian
telah terpasang rapat (tidak bocor) dan telah
dibersihkan. Pemanas listrik dihidupkan dan air
pendingin dialirkan serta kran pengatur refluks
dibuka total. Suhu distilat diamati/dicatat dan suhu
residu serta waktu untuk mencapai suhu konstan juga
dicermati. Jika suhu distilat berubah, pemanas listrik
dimatikan dan dipindahkan dari tempatnya, sehingga
residu tidak mendidih lagi. Setelah itu distilat diambil
dari penampung distilat. Apabila tampak tetesan
distilatnya sudah mulai berkurang, pemanas
dimatikan. Kadar etanol pada distilat dianalisis
dengan metode piknometer.

2.4. Variabel Yang Diteliti


Dalam penelitian ini dilakukan variasi ratio
umpan bahan antara crude etanol dengan solven,
yaitu pada perbandingan crude etanol-solven 390:10;
375:25; 350:50, 300:100; 250:150; 200:200.

3. Hasil dan Pembahasan


Sampel yang digunakan adalah crude
ethanol yang diperoleh dari distilasi normal cairan
fermentation strain. Analisis bahan baku dilakukan
terhadap crude ethanol sehingga diperoleh kadar
ethanol pada crude ethanol sebesar 66.71 %.
Selanjutnya crude ethanol dicampur dengan solven
dengan perbandingan tertentu dan dimasukkan ke
dalam labu distilasi sebagai umpan. Dari pengamatan
yang dilakukan diperoleh hasil sebagai berikut:
3.1. Pengaruh Perbandingan Volume Pelarut
Terhadap Persentase Hasil
Pada prosedur penelitian, volume total dari
labu leher tiga adalah 400 ml untuk itu perbandingan
jumlah ethanol : pelarut dietilen glikol divariasikan
yaitu 390:10, 375:25, 350:50, 300:100, 250:150,
200:200. Perolehan persentase hasil kadar ethanol
ditunjukkan pada Tabel 1.
Tabel 1. Persentase Hasil pada Variasi Perbandingan
Jumlah Pelarut

No.

Etanol : Dietilen
Glikol (ml)

1
2
3
4
5
6

390 : 10
375 : 25
350 : 50
300 : 100
250 : 150
200 : 200

Distilat
(gr/ml)
0,79592
0,79535
0,79151
0,79310
0,79351
0,7964

Kadar
Etanol(%)
97.84
98.03
99.29
98.77
98.64
97.68

Untuk melihat pengaruh jumlah pelarut yang


ditambahkan terhadap persentase hasil (% ethanol)
dapat dijelaskan dengan grafik hubungan antara
jumlah penambahan pelarut terhadap persentase hasil
yang dapat dilihat pada gambar 2.

1031

3.2, Pengaruh Perbandingan Volume Pelarut


Terhadap Volume Distilat
Dari hasil pengamatan diperoleh data volume distilat
yang berbeda-beda. Perolehan persentase hasil
volume distilat ditunjukkan pada tabel 2.
Tabel 2. Hasil Volume Distilat pada Variasi Perbandingan
Jumlah Pelarut
Gambar 2. Grafik Hubungan Rasio Perbandingan Jumlah
Pelarut Terhadap Persentase Hasil

Berdasarkan tabel 1 dan gambar 2


didapatkan persentase hasil kadar ethanol tertinggi
pada rasio perbandingan 350:50 (crude ethanol :
solven) yakni sebesar 99,29%. Semakin banyak
solven yang ditambahkan maka hasil kemurnian
Etanol : Dietilen Distilat Volume
Glikol
(gr/ml)
(ml)
(ml)
1
390 : 10
0,79592
210
2
375 : 25
0,79535
260
3
350 : 50
0,79151
190
4
300 : 100
0,79310
155
5
250 : 150
0,79351
145
6
200 : 200
0,7964
98
ethanol yang diperoleh akan semakin tinggi, tetapi
pada titik tertentu kadar ethanol pada distilat
mengalami penurunan. Hal ini disebabkan terikutnya
sebagian fraksi berat ke dalam distilat sehingga
menyebabkan kadar etanol dalam distilat mengalami
penurunan.
Penambahan solvent yang digunakan
memiliki volatilitas yang rendah sehingga dapat
meningkatkan recovery solute dan menurunkan loses
pelarut. Selain itu solven yang digunakan juga
memiliki titik didih yang relative tinggi sehingga
mampu menggeser titik azeotrop campuran ethanolair dengan baik.
Pada penambahan solvent dietilen glikol
sebanyak 10 ml dan 25 ml mengalami kenaikan
dikarenakan pada kondisi tersebut volume dietilen
glikol masih sedikit dan titik didih ethanol dalam
campuran ethanol-air belum terlalu tinggi. Berbeda
dengan penambahan volume dietilen glikol 100, 150,
dan 200 ml kemurnian ethanol menurun. Hal ini
dikarenakan pada saat rasio penambahan dietilen
glikol mendekati volume ethanolnya maka titik didih
ethanol dalam campuran menjadi sangat tinggi,
sehingga campuran air-ethanol (fraksi berat) akan
ikut menguap.

Untuk melihat pengaruh jumlah penambahan


pelarut terhadap volume distilat yang diperoleh dapat
dijelaskan dengan grafik hubungan antara jumlah
peambahan pelarut solvent dietilen glikol terhadap
volume distilat yang diperoleh pada gambar 3.

No.

Gambar 3. Grafik Hubungan Rasio Perbandingan Jumlah


Pelarut Terhadap Volume Distilat

Berdasarkan tabel 2 dan gambar 3


didapatkan persentase hasil volume distilat tertampug
banyak pada rasio pebandingan 375 ml : 25 ml (
Ethanol : Dietilen Glikol) yaitu sebanyak 260 ml.
Semakin banyak dietilen glikol yang ditambahkan
maka volume distilat yang diperoleh akan semakin
banyak, tetapi pada titik tertentu volume distilat yang
diperoleh akan mengalami penurunan.
Hasil
analisa
menunjukkan
bahwa
penambahan solvent dietilen glikol sebanyak 50, 100,
150 dan 200 ml mengalamai penurunan volume
distilat yang diperoleh. Hal ini dikarenakan
banyaknya dietilen glikol yang ditambahkan dan
karena dietilen glikol bersifat mengikat air sehingga
kontak antara ethanol-air berkurang.
3.3. Pengaruh Perbandingan Volume Pelarut
Terhadap Suhu Residu
Dari hasil pengamatan diperoleh data suhu
residu yang berbeda-beda. Setelah mendapatkan hasil
suhu residu pengamatan kemudian mencari suhu
campuran residu teoritis berdasarkan masing-masing
titik didih komponen yaitu ethanol, dietilen glikol dan

1032

air. Data penambahan jumlah solvent dietilen glikol


terhadap suhu residu teoritis dan suhu data
pengamatan ditunjukkan pada tabel 3.
Tabel 3. Hasil Suhu Residu pada Variasi Perbandingan

Jumlah Pelarut
No

Etanol :
Suhu Residu
Suhu Residu
Dietilen
Teoritis
Data
Glikol (ml)
(oC)
Penelitian (oC)
1
390 : 10
90,6897
90
2
375 : 25
96,8465
92
3
350 : 50
106,0906
95
4
300 : 100
121,5164
98
5
250 : 150
133,8734
100
6
200 : 200
143,9955
103
Untuk melihat pengaruh jumlah penambahan
pelarut terhadap hasil suhu residu yang diperoleh
dapat dijelaskan dengan grafik hubungan antara
jumlah penambahan solvent dietilen glikol terhadap
suhu residu data pengamatan dan analisa suhu teoritis
dapat dilihat pada gambar 4.

Gambar 4. Grafik Hubungan Rasio Perbandingan Jumlah


Pelarut Terhadap Suhu Residu

Berdasarkan tabel 3 dan gambar 4


didapatkan data suhu residu dari hasil pengamatan
tidak jauh berbeda dengan suhu residu teoritis. Hal ini
dikarenakan solvent pada penelitian yang digunakan
adalah dietilen glikol teknis (pedingin radiator mobil).
Hasil analisa menunjukkan bahwa semakin
banyak jumlah solven yang ditambahkan maka suhu
di residu akan ikut naik, hal ini dikarenakan sifat dari
dietilen glikol yang memiliki titik didih relative tinggi
sehingga pada saat rasio penambahan dietilen glikol
semakin banyak maka titik didih ethanol dalam
campuran menjadi sangat tinggi.

Selain meningkatkan suhu residu didalam


campuran, penambahan solven yang semakin banyak
mempengaruhi volume distilat yang dihasilkan, yaitu
volume distilat yang diperoleh mengalamai
penurunan. Hal ini dikarenakan dietilen glikol bersifat
mengikat air sehingga kontak antara ethanol-air
berkurang. Kemudian kemurnian kadar ethanol yang
dihasilkan juga mengalami penurunan, titik didih
ethanol dalam campuran menjadi sangat tinggi,
sehingga campuran air-ethanol akan ikut menguap.
4. Kesimpulan dan Saran
4.1. Kesimpulan
Berdasarkan
hasil
penelitian
dapat
disimpulkan bahwa:
1.
Radiator coolant yang berbahan aktif dietilen
glikol dapat digunakan sebagai pelarut pada
proses pemurnian ethanol fuel grade.
2.
Jumlah penambahan solvent yang bervariasi
berpengaruh terhadap persentase hasil etanol
yang diperoleh
3.
Dengan menggunakan jumlah solvent sebanyak
50 ml diperoleh kondisi optimum persentase
hasil kadar ethanolnya sebesar 99,29%.
4.2. Saran
Untuk penelitian selanjutnya ada beberapa hal
yang perlu diperhatikan yakni:
1.
Analisa kadar etanol akan lebih akurat apabila
menggunakan alat uji yang lebih canggih,
seperti GCMS.
2.
Penelitian tentang pemurnian bioetanol fuel
grade dari crude ethanol dapat dilakukan atau
dikembangkan lagi dengan variabel lain untuk
optimasi pada penelitian berikutnya.
Daftar Pustaka
Anonim.
2008.
Destilasi.
http://hidupituindah.blogspot.com
Atmojo,
S.T.
2011.
Pengertian
Destilasi.
http://chemistry35.blogspot.com/2011/08/penge
rtian-destilasi.html.
Badger, P. C., 2002, Ethanol from Cellulose: A
General Review, Trends in New Crops and
New Uses, pp. 17-21, ASHS Press., Alexandria,
VA.
Chalim, Anto, dan Somad, 2005, Energi Alternatif
dari Tetes Tebu, Agrinfo (39), hlm.1-5
Demirbas, A, 2005, Bioetanol from Cellulosic
Material : A Renewable Motor Fuel from
Biomass, Energy Source (27), pp. 327 337
Gunturgeni, Suwarji. 2009. Teknik Pemurnian
Ethanol.

1033

http://ajigunturgeni.blogspot.com/2009/08/tekni
k-pemurnian-etanol.html
Gusmarwani, S.R. dan Budi, M.S.P., 2011, Effect of
Bases Detoxification on Fermentation of
Banana Rhizome Waste Hydrolyasates for
Ethanol Production,Seminar Internasional 19th
IUPAC International Conference on Chemical
Research
Applied
to
World
Needs
(CHEMRAWN XIX 2011, Kuala Lumpur,
Malaysia
Gusmarwani, S.R., Budi, M.S.P, Sediawan, W.B.,
Hidayat, M., 2009, Pengaruh Perbandingan
Berat Solid dan Waktu Reaksi terhadap Glukosa
terbentuk pada Hidrolisis Bonggol Pisang untuk
Pembuatan Bioetanol, Prosiding Seminar
Nasional Teknik Kimia Indonesia, Bandung
Greer, D., 2005, Creating Cellulosic Ethanol:
Spinning Straw into Fuel, Cellulosic
Ethanol.htm, eNews Bulletin, April 2005.
Jeewon, L., 1997, Biological Conversion of
Lignocellulosic Biomass to Ethanol, Journal of
Biotechnology, vol. 56, pp. 1-24, Elsevier
Lavarack, B.P., Griffin, G.J., and Rodman, D., 2002,
The Acid Hydrolysis of Sugarcane Bagasse
Hemicellulose to Produce Xylose, Arabinose,
Glucose and Other Products, Biomass and
Bioenergy, vol. 23, 367-380, Pergamon
Martono, B. dan Sasongko, 07 Februari 2007,
Prospek Pengembangan ubi Kayu sebagai
Bahan Baku Bioetanol di Propinsi Daerah
Istimewa Yogyakarta, Dinas Pertanian
Propinsi
DIY,
www.distan.pemdadiy.go.id/index2.php?option
=content&task=view&id=269&pop=1&page=0
Palmqvist. E. dan Hagerdal. B. H., 2000,
Fermentation of Lignocellulosic Hydrolysates.
II: Inhibition and Detoxification, Bioresource
Technology, Elsevier, vol. 74, pp. 25-33
Philipp, B., 1984, Degradation of Cellulose
Mechanisms and Applications, Pure and
Applied Chemistry, vol. 56, no. 3, pp. 391402

Sediawan, W.B., Megawati, Millati, R, dan


Syamsiah,
S,
2007,
Hydrolysis
of
Lignocellulosic Waste for Ethanol Production,
Prosiding Bali Internasional Seminar, Bali,
Indonesia
Sediawan, W.B., Hidayat, M., Syamsiah, S., Millati,
R., 2009, Produksi Bahan Bakar Etanol dari
Limbah Lignoselulosa, Research Week
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Soerawidjaya,T.H., 2009, Strategi Pengembangan
Teknologi untuk Penyediaan Bahan Bakar
Nabati secara Mandiri dan Berkelanjutan,
keynote speech pada Seminar Nasional Teknik
Kimia Indonesia, Bandung, Indonesia
Taherzadeh, M. J., 1999,
Ethanol from
Lignocellulose: Physiological Effects of
Inhibitors and Fermentation Strategies, PhD
Thesis Chalmers University of Technology,
Goteborg, Sweden.
Taherzadeh, M. J., and Niklasson, C., 2003, Ethanol
from Lignocellulosic Materials: Pretreatment,
Acid and Enzymatic Hydrolyses and
Fermentation, 3 ed., pp. 6-9, Prentice-Hall
International, Inc., New Jersey.
Taherzadeh, M. J., Eklund, R., Gustafsson, L.,
Niklasson, C., and Liden., G., 1997,
Characterization and Fermentation of DiluteAcid Hydrolyzates from Wood, Ind. Eng.
Chem.Res., vol. 36, 4659-4665, American
Chemical Society.
Wertheim, E., and Jeskey, H., 1956, Introductory
Organic Chemistry with Certain Chapters of
Biochemistry, McGraw-Hill Book Company,
New York
Wheals, A. E., Basso, L. C., Alves, D. M. G., and
Amorim, H. V., 1999, Fuel Ethanol after 25
Years, TibTech, Elsevier, vol. 17, pp. 482-487
Zhou Rongqi and Duan Zhanting, 1998, Extractive
Distillation with Salt in
Solvent,
DepCheEng, Tshinghua University, Beijing
http://www.Petrojam.com diakses pada tanggal
14 Oktober 2014 pada pukul 19.57 wib

1034