Anda di halaman 1dari 35

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Pergerakan lempeng pada kerak bumi akan membentuk berbagai macam
morfologi pada permukaan kerak bumi. Pergerakan lempeng dipengaruhi oleh
arus konveksi dibawah kerak bumi, ini menyebabkan terbentuknya berbagai
macam tatanan tektonik antara lain berupa konvergen, divergen, dan transform.
Tatanan tektonik transform membentuk patahan kerak bumi berupa strike
slip fault atau sesar mendatar. Pergerakan sesar mendatar ini dapat membentuk
morfologi berupa cekungan akibat gaya tarikan atau tension berupa pull-apart
basin. Pada morfologi cekungan tersebut akan membentuk tebing-tebing curam
pada tepi danau serta dapat memiliki kedalaman hingga ratusan meter.
Danau Singkarak merupakan contoh cekungan danau yang terbentuk
akibat pergerakan sesar mendatar. Danau ini memiliki kedalaman maksimal
mencapai 268 meter dengan panjang 21 km dan lebar 7 km, memiliki dinding tepi
danau yang curam (Aydan, 2007). Tebing curam danau tersebut rawan terjadi
gerakan tanah. Kemudian akibat pergerakan patahan akan menimbulkan bencana
gempa bumi yang memiliki daya rusak yang tinggi disebabkan oleh sumber
gempa atau hypocentrum yang dangkal. Kerusakan akibat gempa sangat
ditentukan oleh kedalaman sumber gempa, semakin dangkal maka akan semakin
kuat (Sukandarrumidi, 2014). Sehingga daerah cekungan tersebut memang rawan
terkena bencana geologi. Segi potensi geologi, proses sedimentasi endapan
cekungan tarik terpisah atau pull-apart basin ini menghasilkan tipe endapan yang
1

sangat potensial sebagai source rock minyak dan gas bumi serta batubara karena
bersifat syn-rift sedimentation. Batuan sumber minyak dan gas bumi terbentuk
pada proses sedimentasi yang berlangsung terus menerus akibat dasar cekungan
yang terus tenggelam dan terus ditumpuki oleh batuan lain di atasnya, maka
batuan yang mengandug karbon ini akan terpanaskan karena semakin dalam suhu
akan semakin tinggi (Putrohari, 2008).
1.2 Maksud dan Tujuan
Maksud dari penyusunan seminar ini adalah untuk memenuhi persyaratan
akademik di Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknologi Mineral di Institut Sains
& Teknologi AKPRIND Yogyakarta. Sedangkan tujuan dari penulisan ini adalah
untuk menambah pengetahuan di kalangan akademisi, masyarakat umum, dan
juga untuk memberikan informasi lebih dalam tentang mekanisme pembentukan
pada cekungan Danau Singkarak akibat pergerakan sesar mendatar serta
mengetahui kontrol geologinya.
1.3 Batasan Masalah
Sesuai dengan judul seminar yang di angkat, maka dalam penyusunan
laporan akan dibahas secara spesifik tentang sesar mendatar dalam kaitannya
dengan pembentukan cekungan akibat dari pergerakan mendatar sesar utama.
Kemudian akan dibahas studi kasus pada pembentukan cekungan Danau
Singkarak beserta kontrol geologinya dan data yang diperoleh merupakan hasil
studi pustaka serta studi kasus dari data-data sekunder. Hal ini dilakukan agar
fokus masalah lebih tertuju pada judul yang akan dibahas nantinya.

1.4 Tinjauan Pustaka


Interaksi antar lempeng dapat saling mendekat (subduction), saling
menjauh dan saling berpapasan (strike slip fault). Batas transform adalah batas
antar lempeng yang saling berpapasan dan saling bergeser satu dan lainnya
menghasilkan suatu sesar mendatar jenis Strike Slip Fault (Noor, 2008).
Strike-slip fault terbentuk pada batas transform lempeng benua dan
samudera. Pada pengaturan antar lempeng terbentuk sebagai respon tabrakan
lempeng pada interior benua. Strike-slip fault dapat terjadi sebagai zona yang
menghubungkan sesar normal dalam sistem rekahan dan sesar naik dalam sistem
kompresi lipatan (Sylvester, 1988). Strike-slip fault juga umum dijumpai dalam
pengaturan konvergen berupa subduksi miring dimana regangan antar lempeng
dipartisi menjadi busur paralel strike-slip dalam zona depan busur, busur atau
wilayah belakang busur (Sieh & Natawidjaja, 2000).
Cekungan pada seting transform dapat dibagi menjadi transtensional,
transpresional, atau transrotasional tergantung pada keadaan apakah cekungan
tersebut dibentuk oleh mekanisme ekstensi, kompresi, atau rotasi dari blok krustal
di sepanjang sistem sesar strike-slip (Boggs, 2006). Tipe-tipe cekungan pada sesar
mendatar dapat dipengaruhi oleh hubungan antar segmen-segmen sesar mendatar,
apakah hubungannya berupa stepover yang tidak terhubung ataupun bend yang
terhubung. Jika tidak terhubung maka akan membentuk Stepover Basin,
sedangkan jika terhubung maka akan membentuk Fault-bend basin.

Bentuk

Cekungan pada sesar mendatar sebagian besar terbagi menjadi tiga tipe yaitu:

Stepover basin, Fault-bend basin, dan Transrotasional basin. (Nilsen dan


Sylvester, 1995)
Danau Singkarak, Sumatera Barat di sebelah utara Padang, menempati
depresi diapit oleh tebing curam yang naik 400 m di atas permukaan danau.
Tebing curam menandai singkapan dari dua oblique sesar normal, membentuk
struktur graben tarik-terpisah (pull-apart basin) dalam Sesar Sistem Sumatera
(Barber, 2005). Sedimen yang dijumpai pada cekungan ini cenderung cukup tebal,
karena tingkat sedimentasinya yang tinggi yang dihasilkan oleh proses
pengerosian dari tinggian di sekitar cekungan ini, dan ditandai dengan adanya
beberapa perbedaan fasies local (Bogs, 2006).

BAB II
METODE PENGUMPULAN DATA

2.1 Teknik Pengumpulan Data


Teknik pengumpulan data dalam penyusunan seminar ini dilakukan
dengan mencari pustaka-pustaka yang mendukung dan terkait dengan teori
pembentukan cekungan akibat dari proses pergerakan sesar mendatar. Sumber
data dalam penyusunan makalah berasal dari beberapa sumber literatur, baik
textbook, Jurnal-jurnal Ilmiah, buletin, surat kabar, maupun dari internet dan juga
dari penelitian penelitian terdahulu. Penyusunan makalah ini lebih bersifat sebagai
studi pustaka, dengan studi kasus berdasarkan penelitian-penelitian terdahulu dari
jurnal-jurnal ilmiah dan berita-berita dari surat kabar atau majalah ilmiah.
2.2 Teknik Pengolahan Data
Teknik pengolahan data dilakukan dengan mencari teori-teori terkait
dengan pembentukan cekungan pada Danau Singkarak, Sumatra Barat. Kemudian
dilanjutkan dengan mengumpulkan data-data atau pustaka terkait dengan
pembentukan danau akibat pergerakan sesar mendatar. Berdasarkan data-data dan
pustaka-pustaka tersebut dapat di susun teori-teori pembentukan cekungan pada
zona sesar mendatar. Untuk pembuktian teori teori tersebut, maka di susun studi
kasus pada pembentukan danau singkarak dari penelitian-penelitian terdahulu.
Sehingga dapat disimpulkan proses dan mekanisme pembentukan Danau
Singkarak serta kontrol geologi yang membentuk Danau Singkarak.

BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Tatanan Tektonik Batas Transform


Tatanan tektonik terbentuk karena sifat kerak bumi yang dinamis akibat
dari gaya endogen yang berasal dari dalam bumi, sehingga lempeng atau kerak
bumi bergerak. Pergerakan lempeng tersebut akan menyebabkan terjadinya saling
interaksi antar lempeng. Berdasarkan interaksi antar batas-batas lempeng tersebut
membentuk suatu tatanan yang berbeda-beda, ada yang saling bertumbukan
disebut konvergen, saling menjauh disebut divergen, dan saling berpapasan
disebut transform (Noor, 2008).
Tatanan tektonik pada batas transform membentuk patahan kerak bumi
berupa strike slip fault atau sesar mendatar. Terbentuknya patahan ini akaibat
adanya tegasan utama yang bersifat miring pada konvergen berupa subduksi
miring (Sieh & Natawidjaja, 2000). Contohnya Sesar mendatar yang terjadi di
Pulau Sumatra yaitu Sesar Sumatera yang terbentuk akibat dari tegasan utama
dengan arah relatif utara dan selatan akibat dari tumbukan antara lempeng Eurasia
dan India-Australia dengan busur kepulauan relatif barat laut tenggara (Mann,
2007). Selain berdampingan dengan batas konvergen, batas transform dapat
terbentuk berdampingan dengan tatana divergen seperti pada Gambar 3.1.
Dijelaskan bahwa tatanan tektonik divergen tersebut mengalami pemekaran dan
melepaskan gaya ekstensi. Gaya yang terlepas ini akan terus berjalan sampai pada
tatanan divergen ataupun transform yang akan membentuk sesar mendatar akibat
dari adanya gaya yang bersifat miring.

Gambar 3.1. Seting tektonik pembentukan sesar mendatar pada skala besar
(Cunningham & Mann, 2007)

Menurut Tapponnier (1982), berdasarkan konsep tektonik extrusi benua


Asia yang dikemukakannya, berpendapat bahwa perkembangan tektonik tersier
dari wilayah Asia Tenggara (termasuk Indonesia bagian barat) sangat dipengaruhi
oleh gerak-gerak Fragmen Benua Asia (Cina Timur dan Indo-cina) yang melejit
ke timur dan tenggara sebagai akibat dari tumbukan kerak benua India dengan
Asia (dalam Asikin, 1992).

3.2 Sesar Mendatar


3.2.1 Pengertian Sesar Mendatar
Sesar mendatar adalah patahan yang pergerakan relatifnya berarah
horisontal mengikuti arah patahan. Patahan jenis ini berasal dari tegasan geser
yang bekerja di dalam kerak bumi disebut juga Strike Slip Fault (Noor, 2008).
Identifikasi pergeseran sesar mendatar ini dapat dilakukan dengan mencari
struktur-struktur penyerta seperti pada zona gerus atau shear zone. Zona gerus ini

dapat dilihat dari pola-pola struktur penyerta yang terbentuk. Struktur penyerta
pada zona ini terbentuk karena adanya tegasan utama orde kedua akibat
pergerakan sesar mendatar utama.
3.2.2 Zona Gerus
Zona gerus atau disebut juga pure shear menjelaskan tentang orientasi
sudut tegasan terhadap sesar pada medium yang homogen. Simple shear
merupakan pola struktur yang terbentuk karena sifat gaya yang berupa rotasi dan
simple shear merupakan variasi dari perkembangan dalam pure shear (Sylvester
1988). Shear zone merupakan zona yang terbentuk akibat gaya utama yang
berputar. Zona gerus pada sistem sesar mendatar dapat bersifat dekstral ataupun
bersifat sinistral, tergantung pada arah gaya yang bekerja serta kelurusan zona
yang terbentuk. Struktur-struktur penyerta pada zona gerus akan mencirikan arah
tegasan utama dan pergerakan zona tersebut. Zona gerus ini akan membentuk pola
simple shear yang merupakan perkembangan dari Pure Shear, seperti pada
gambar 3.2.

Gambar 3.2. Pure Shear dan Simple Shear ( Sylvester 1988 ).

Pergerakan sesar mendatar dalam skala kecil akan membentuk kekar-kekar


gerus sebagai rekaman data pergerakan sesar mendatar. Kekar gerus tersebut akan
membentuk pola-pola yang searah dengan pergerakan sesar yang disebut Riedel
Shear. Kekar gerus yang relatif searah dengan sesar utama disebut R Shear dan P
Shear. R Shear merupakan kekar gerus sintetik primer yang paling dominan
muncul, sedangkan P Shear merupakan kekar gerus sintetik sekunder yang
terbentuk setelah R Shear (Christie-Blick & Biddle, 1985). Gambar 3.3
merupakan penggambaran bentuk simple shear terbentuk pada kondisi ideal dan
merupakan hasil dari percobaan pada material lempung yang diberikan gaya
lateral.

Gambar 3.3. Terminologi Readel Shear (Christie-Blick & Biddle, 1985)

Pergerakan sesar mendatar akan membentuk tegasan kedua pada batuan


yang terkena sesar, hal tersebut menyebabkan terbentuknya struktur penyerta pada
sistem sesar mendatar sesuai dengan model simple shear menurut Harding (1973)
pada gambar 3.4. Pergerakan sesar dalam skala besar dapat menyebabakan

10

terbentuknya struktur penyerta seperti lipatan ataupun sesar-sesar minor. Struktur


penyerta tersebut akan membentuk pola-pola pada simple shear dengan
berdasarkan sudut yang dibentuk dari struktur penyerta tersebut terhadap
kelurusan dari sesar utama atau gaya utama.

Gambar 3.4. Model Simple Shear ( Harding, 1973 dalam Allen & Allen, 2005).

3.3 Zona Sesar Mendatar


Zona sesar mendatar merupakan zona deformasi yang tebentuk akibat
pergerakan sesar mendatar. Pergerakan sesar mendatar akan membentuk jenis
gaya menekan yang disebut transpresi dan gaya tarikan yang disebut transtensi.
Zona sesar mendatar yang memiliki jalur yang melengkung akan membentuk
Restraining bend dan Releasing bend.
Pada jalur-jalur sesar mendatar akan terbentuk deformasi-deformasi batuan
yang berbeda sesuai arah belokan penghubung antar segmen-segmen sesar serta

11

jenis litologi. Pergerakan sesar mendatar ini dapat membentuk cekungan atau
zona depresi yang terbentuk karena gaya tarikan atau ekstensi dengan struktur
berupa sesar-sesar turun ataupun bentukan-bentukan graben, dari cekungan inilah
akan berlangsung proses sedimentasi (Christie-Blick & Biddle, 1985). Selain itu
dapat juga terbentuk pengangkatan dengan struktur sesar-sesar naik atau lipatan
ketika gaya yang bekerja adalah tekanan atau kompresi seperti pada bentukan
restraining bends digambarkan pada 3.5.

Gambar 3.5. Struktur penyerta pada zona sesar mendatar (Christie-Blick & Biddle, 1985)

Perkembangan pergerakan sesar mendatar akan membentuk Flower


Structure baik yang positif ataupun negatif sebagai bentukan deformasi dan
struktur penyerta. Jika gaya yang bekerja adalah gaya kompresi maka akan
membentuk Positive Flower Structure yang berdampingan dengan restraining

12

bends, sedangkan jika gaya yang bekerja adalah gaya ekstensi maka akan
membentuk Negative Flower Structure yang berdampingan dengan releasing
bends sesuai bentukan deformasi (Cunningham & Mann, 2007). Contoh pada
gambar 3.6 merupakan bentukan-bentukan deformasi struktur penyerta dari
pergerakan sesar mendatar. Pada dasarnya bentukan tersebut dipengaruhi oleh
gaya yang bekerja dan sifat serta hubungan dari sesar mendatar.

Gambar 3.6. Bentukan deformasi pada jalur-jalur sesar mendatar


( Cunningham & Mann, 2007)

3.3.1 Transpresi dan Transtensi


Deformasi pada transform memiliki mekanisme yang kompleks dan
menghasilkan dua variasi gaya yang berbeda yaitu transpresi dan transtensi. Jika
variasi gaya memiliki arah pergerakan gabungan antara transform dengan tekanan
atau kompresi maka akan membentuk deformasi transpresi. Sedangkan Jika antara
transform dengan tarikan atau ekstensi akan membentuk deformasi transtensi

13

(Fossen, Tikoff & Teyssier, 1994), seperti yang di jelaskan pada gambar 3.7.
Transpresi dan transtensi terbentuk pada zona sesar yang mengalami pembelokan
atau fault bend. Pada gaya regangan atau tarikan dapat membentuk cekungan
berupa pull apart basin.

Gambar 3.7. Transpresi dan Transtensi ( Fossen, Tikoff & Teyssier, 1994)

3.3.2 Restraining bend dan Releasing bend


Strike-slip restraining dan releasing bend masing-masing adalah situs
transpresional lokal dan deformasi transtensional. Maka lengkungan (bends)
ditandai oleh deformasi miring yang diakibatkan oleh gerakan lempeng berskala
besar pada sepanjang batas sesar yang relatif lurus (Cunningham & Mann, 2007).
Restraining dan Releasing bend merupakan gaya yang terjadi karena arah
jalur sesar mendatar yang berbelok. Belokan-belokan tersebut dapat membentuk
berbagai macam deformasi. Restraining bends merupakan jalur belokan sesar
yang mengalami pengankatan akibat gaya yang tertahan, sehingga membentuk
deformasi berupa sesar-sesar naik ataupun lipatan karena daerah tersebut telah

14

mengalami pengangkatan. sedangkan Releasing bends merupakan jalur belokan


sesar yang membentuk area depresi atau cekungan karena pelepasan gaya
membentuk deformasi berupa sesar-sesar turun yang bersifat oblique membentuk
cekungan seperti Pull-apart Basin (Burg, 2014). Pada sesar mendatar kanan jika
belokan bergerak ke kanan atau right-stepping dari arah kelurusan sesar utama,
maka akan membentuk extensional bend atau releasing bend. Kemudian jika
belokan tersebut bergerak ke kiri atau left-stepping dari arah kelurusan sesar
utama, maka akan membentuk Contractional bend atau Restraining bend
dijelaskan pada gambar 3.8.

Gambar 3.8. Releasing dan Restraining bend pada sesar mendatar kanan ( Burg, 2014 )

Sesar mendatar dengan loncatan ke kanan atau right-stepping ini akan


membentuk cekungan-cekungan yang disebut sebagai Pull apart basin, sedangkan
tinggian atau Horst berkembang pada sesar mendatar dengan loncatan ke kiri atau
left-stepping (Asikin, 1992). Pergerakan diatas sesuai dengan pola orientasi

15

struktur elips Simple Shear menurut Harding (1973). Gambar 3.9 dapat di lihat
bahwa pola sesar turun sama dengan pola Extensional bend yang membentuk
cekungan, kemudian pola sesar naik dan lipatan sesuai dengan pola constructional
bend.

Gambar 3.9. Pola simple shear dengan structure bend. ( Burg, 2014 )

3.3.3 Flower Structure


Flower structure merupakan jenis deformasi yang terbentuk pada zonazona sesar yang memiliki unsur mendatar. Flower structure ini akan membentuk
dua jenis deformasi yaitu : positive flower structure dan negative flower structure.
Jika komponen vertikalnya berupa sesar-sesar turun maka akan membentuk area
depresi. Kemudian jika komponen vertikalnya berupa sesar-sesar naik atau lipatan
maka akan membentuk area yang mengalami pengangkatan (Burg, 2014).
Pembentukan jenis deformasi ini disebabkan karena adanya fault bend atau
belokan sesar yang berdampingan dengan gaya ekstensi atau berdampingan
dengan gaya kompresi.

16

Belokan sesar sangat mempengaruhi terbentuknya flower structure. Akan


membentuk negative flower structure jika belokan sesar berupa releasing bend.
Sedangkan positive flower structure akan terbentuk jika belokan sesar berupa
restraining bend (Burg, 2014). Jika gaya yang terbentuk adalah gaya ekstensi,
maka akan membentuk sesar-sesar turun oblique akibat dari pelepasan gaya pada
belokan sesar. Kemudian jika gaya yang terbentuk adalah gaya kompresi, maka
akan membentuk sesar-sesar naik atau lipatan akibat dari gaya tekan pada belokan
sesar, dijelaskan pada gambar 3.10.

Gambar 3.10. Hubungan antara Flower Structure dengan belokan


sesar mendatar kanan. (Burg, 2014)

3.4 Cekungan pada Zona Sesar Mendatar


3.4.1 Pembentukan Cekungan pada Sesar Mendatar
Pada umumnya pembentukan cekungan pada sesar mendatar disebabkan
oleh gaya tarikan atau regangan karena gaya yang berjalan pada sesar mendatar

17

tertahan pada restraining bend sehingga pada realising bend terjadi pelepasan
gaya membentuk cekungan yang disebut dengan cekungan tarik terpisah atau pull
apart basin. Sedangkan pada restraining bend akan terjadi pengangkatan dan
terbentuk sesar-sesar naik atau lipatan, sehingga pada tepian zona pengangkatan
tersebut akan terbentuk cekungan (Cunningham & Mann, 2007). Pembentukan
cekungan pada sesar mendatar juga dapat terjadi pada sesar-sesar mendatar yang
tidak saling terhubung atau disebut juga stepover basin. Stepover ini terjadi ketika
terdapat dua segmen sesar mendatar yang berdekatan dengan arah pergerakan
yang sama tetapi tidak terhubung hanya bertampalan. Ketika pergerakan sesar
terus berjalan, maka dapat juga kedua sesar ini akan terhubung dengan jalur
belokan sesar yang dapat membentuk belokan sesar (bend).

3.4.2 Tipe Cekungan pada Sesar Mendatar


Tipe-tipe cekungan pada sesar mendatar dapat dipengaruhi oleh hubungan
antar segmen-segmen sesar mendatar, apakah hubungannya berupa stepover yang
tidak terhubung ataupun bend yang terhubung. Jika tidak terhubung maka akan
membentuk Stepover Basin, sedangkan jika terhubung maka akan membentuk
Fault-bend basin. Bentuk Cekungan pada sesar mendatar sebagian besar terbagi
menjadi tiga tipe (Nilsen dan Sylvester, 1995) yaitu: Stepover basin, Fault-bend
basin, dan Transrotasional basin. Stepover Basin merupakan cekungan yang
terbentuk karena segmen-segmen sesar yang tidak saling terhubung dapat
membentuk cekungan tarik terpisah atau pull apart basin. Pull apart basin
merupakan bentuk dari Releasing stepover diantara segmen-segmen sesar

18

mendatar seperti pada gambar 3.11. Pada gambar merupakan contoh dari stepover
basin yang terbentuk di Laut Mati, Mesir.

Gambar 3.11. Stepover basin. (Nilsen dan Sylvester, 1995)

Fault bend basin merupakan cekungan yang terbentuk pada belokanbelokan sesar yang saling terhubung. Fault bend basin memiliki dua jenis
cekungan, yaitu cekungan pada Restraining bend dan Releasing bend. Cekungan
pada Restraining bend terbentuk di tengah-tengah atau pada pusat jalur sesar
karena terjadi depresi. Cekungan ini dapat bertambah dalam dan bentuknya akan
semakin panjang seiring dengan pergeseran sesar. Sedangkan cekungan pada
Releasing bend akan terbentuk disekitar area yang mengalami pengangkatan atau
pada lembah sayap area yang mengalami pengangkatan seperti yang dijelaskan
pada gambar 3.12.
Transrotasional basin merupakan tipe cekungan yang terbentuk pada zona
sesar. Cekungan ini terbentuk karena adanya sesar-sesar rotasi akibat dari
pergerakan dua segmen sesar yang berpapasan dengan arah yang sama. Kedua

19

segmen sesar ini membentuk zona deformasi pada zona sesarnya sehingga
membentuk cekungan seperti pada contoh gambar 3.13.

Gambar 3.12. Fault-bend basin.(A) Releasing-bend basin,


(B) Restraining-bend basin. (Nilsen dan Sylvester, 1995)

Gambar 3.13. Transrotasional basin. (Nilsen dan


Sylvester, 1995)

20

3.4.3 Proses Sedimentasi pada Cekungan Sesar Mendatar


Proses sedimentasi cekungan pada sesar mendatar secara umum sangat
berkaitan dengan proses regangan atau ekstensi sepanjang sesar mendatar. Proses
regangan terbentuk barkaitan dengan fase tektonik apakah fase tektonik aktif atau
pasif. Proses peregangan ini disebut juga dengan proses rifting. Proses rifting ini
terjadi karena adanya variasi gaya pada sesar mendatar yaitu ekstensi atau disebut
juga transtensi yang terbentuk karena pergeseran sesar. Mekanisme sedimentasi
pada cekungan ini memiliki beberapa periode regangan yang berkaitan dengan
mekanisme penurunan permukaan atau subsidence, periode regangan tersebut
yaitu : Pre-rift, Syn-rift dan Post-rift. Periode regangan yang terjadi akan
menghasilkan tipe pengendapan yang berbeda satu sama lain.
Periode pre-rift terjadi ketika litosfer belum mengalami subsidence
sehingga endapan yang terbentuk merupakan endapan erosional dari batuan dasar.
Periode syn-rift merupakan periode sedimentasi yang terbentuk bersamaan dengan
proses subsidence akan menghasilkan pola stratigrafi yang menebal kearah tengah
atau pusat cekungan dan akan menipis kearah tepi cekungan. Periode syn-rift
berlangsung pada saat fase tektonik aktif sehingga menyebabkan hubungan antara
batuan tidak selaras karena adanya proses penurunan cekungan yang berlangsung
secara terus menerus. Periode post-rift merupakan periode sedimentasi yang
berlangsung ketika fase tektonik sudah mulai stabil dan tenang. Periode ini
menghasilkan tipe sedimentasi yang relatif horizontal dan merata dari tepi
ketengah cekungan, secara umum dapat dicirikan dengan endapan fluvial dan
delta.

21

3.5 Studi Kasus Cekungan Singkarak


Danau Singkarak adalah danau terluas kedua di Sumatra setelah Toba.
Danau ini berada di Kabupaten Tanah Datas dan Kabupaten Solok, Sumatra
Barat. Panjang maksimum danau ini 21 km dan lebar maksimum 7 km (Aydan,
2007). Danau ini berjarak 85 km dari Solok dan 90 km dari Kota Padang Panjang.
Danau Singkarak terbentuk akibat proses tektonik yang dipengaruhi oleh Sesar
Sumatra. Danau ini merupakan bagian dari Cekungan Singkarak-Solok yang
merupakan segmen dari Sesar Sumatra.
Cekungan ini adalah sebuah amblesan yang terbentuk karena pergerakan
Sesar Sumatra. Cekungan besar ini terbendung oleh material vulkanik dari letusan
gunungapi sekitarnya. Akibat pembendungan material vulkanik ini terbentuklah
Danau maninjau di satu bagian Cekungan Singkarak-Solok. Berbeda dengan
Danau Maninjau yang terbentuk akibat letusan gunungapi, danau Singkarak
terbentuk utamanya karena proses tektonik. Lembah panjang Singkarak- Solok
merupakan graben ini bagian dari sesar Sumatera. Danau Singkarak sendiri
terbentuk akibat pembendungan di kedua ujung lembah oleh material letusan
gunung api. Lembah panjang itu terbentuk sebelum proses vulkanik begitu aktif
memuntahkan materialnya (Zen, 1970).

3.5.1 Sesar Sumatera


Sumatera fault system atau Sesar Sumatera terjadi akibat adanya lempeng
India-Australia yang menabrak bagian barat pulau Sumatera secara miring,

22

sehingga menghasilkan tekanan dari pergeseran ini. Karena adanya tekanan ini,
maka terbentuklah sesar Sumatera yang membelah pulau Sumatera membentang
mulai dari Lampung sampai Banda Aceh, sesar ini menerus sampai ke Laut
Andaman hingga Burma di jelaskan pada gambar 3.14. Patahan ini merupakan
daerah rawan gempabumi dan tanah longsor. Sesar Sumatera merupakan sesar
strike slip berarah dekstral yang terdiri dari 20 segmen utama sepanjang tulang
punggung Sumatera (Sieh dan Natawidjaja, 2000).

Gambar 3.14. Sesar Sumatra (Barber, Crow & Milsom, 2005).

23

Jalur patahan Sumatera bisa dikenal dari kenampakan bentang alam di


sepanjang jalur, dan ditandai oleh kenampakkan bukitbukit
bukit bukit dan danau
danau-danau
yang terjadi karena pergeseran pada sesar tersebut. Barisan pegunungan
memanjang sepanjang system sesar mendatar kanan Sumatera dengan arah barat
laut tenggara. Pergerakan sesar ini menghubungkan segmen-segmen
segmen segmen dari laut
Andaman di utara sampai selat sunda di selatan dan memotong semua satuan
batuan di Sumatra termasuk satuan batuan vulkanik baru dan sedimen aluvial.
Sistem sesar mendatar kanan Sumatera sepanjang 1900 km sebagai zona sesar
sinusoidal dan tersegmentasi (Sieh & Natawidjaja,
Natawidjaja 2000). Lokasi disekitar danau
Singkarak secara regional
egional di pengaruhi oleh lengkungan jalur sesar atau Fault
bends.. Pergerakan sesar Sumatra yang bergerak tertahan pada Restraining bend
daerah Lubuk Sikaping sehingga terjadi pelepasan gaya pada Releasing bend
daerah danau Singkarak membentuk cekungan-cekungan
ungan pada sepanjang jalur
tersebut, diantara Cekungan Singkarak (Barber, Crow & Milsom, 2005)
2005).

Gambar 3.15.. Releasing bends dan Restraining bends pada mekanisme sesar
Sumatera. (Barber, Crow & Milsom, 2005)

24

3.5.2 Segmen Sesar di Sumatera Barat


Sesar Sumatra memiliki segmen-segmen
segmen segmen sesar yang terbentuk akibat gaya
tegasan utama yang bersifat oblique atau miring. Segmen-segmen
segmen ini bergerak
sehingga saling terhubung satu sama lain. Danau Singkarak Sumatra Barat
disebelah utara Padang, menempati wilayah
wilayah depresi yang diapit oleh tebing
tebing-tebing
curam yang memiliki ketinggian sampai 400 meter dari permukaan danau.
Singkapan pada kedua tebing danau

menandai bahwa dua tebing tersebut

mengalami sesar normal, yang membentuk graben Pull-apart basin


asin (Barber, Crow
& Milsom, 2005). Pada wilayah Sumatera Barat yang terbagi menjadi beberapa
segmen sesar, adapun di Provinsi Sumatera Barat terdapat 4 (empat) segmen
patahan aktif yaitu Segmen Sumpur, Sianok, Sumani, dan Suliti
Suliti dijelaskan pada
gambar 3.16. Cekungan danau Singkarak terbentuk karena dua segmen sesar yang
berhubungan yaitu segmen Sianok dan Sumani. Segmen Sianok mempunyai
panjang patahan sekitar 90 km dan Segmen Sumani memiliki panjang patahan
sekitar 60 km (Sieh & Natawidjaja,
Natawidjaja 2000).

Gambar 3.16.. Segmen-segmen


Se
segmen sesar yang mempengaruhi pembentukan dana
danau
Singkarak (Sieh & Natawidjaja, 2000).

25

3.5.3 Mekanisme Pembentukan Cekungan Singkarak


Mekanisme pembentukan cekungan Singkarak tidak lepas dari proses
tektonik lempeng yang bekerja. Terjadi tumbukan lempeng antara lempeng
Hindia-Australia dengan dataran Sumatera membentuk sesar mendatar dextral
Sumatera yang menimbulkan pola rekahan sepanjang sesar, sebagai respon
terhadap gerak gesernya. Kemungkinan pembentukan rekahan itu dimulai dari
Sumatera Selatan dan terus berkembang ke Utara.

Gambar 3.17. Mekanisme pembentukan Pull apart basin di Sumatra (Asikin, 1992)

Pola rekahan inilah yang akan merupakan awal dan menentukan pola dari
pembentukan cekungan-cekungan dibagian timur Sumatera. Gerak mendatar pada
pasangan sesar yang bertangga (Overstepping wrench) akan membentuk cekungan

26

cekungan lokal berbentuk stengah ceruk yang disebut Pull apart basin (Asikin,
1992) di jelaskan pada gambar 3.17.

Gambar 3.18. Peta lokasi penelitian dan mekanisme pada pembentukan cekungan
Singkarak (Sieh & Natawidjaja, 2000).

Singkarak-Solok yang merupakan salah satu segmen sesar besar Sumatera.


Cekungan besar yang memanjang itu kemudian terbendung material letusan
gunung api muda Merapi, Singgalang, dan Tandike di sisi barat laut. Di sisi
tenggara terbendung oleh endapan material letusan Gunung Talang. Danau
Singkarak bertambah lebar seiring pergeseran dua sesar yang mengapit danau.

27

Singkarak diapit dua sesar pisah tarik yang merupakan bagian dari segmen Sianok
dan segmen Sumani yang terpisah sejauh 7,5 kilometer (Sieh & Natawidjaja,
2000). Pergerakan kedua segmen sesar tersebut yaitu segmen Sianok dan Sumani
memicu gaya ekstensi atau tarikan yang membentuk sesar-sesar turun berupa
membentuk graben cekungan Singkarak. Pergerakan turun dari graben tersebut
akan semakin luas. Pergerakan sesar tersebut menghasilkan bentuk danau
Singkarak yang semakin luas selama pergerakan segmen sesar masih aktif. Pola
struktur yang terbentuk pada cekungan Singkarak menunjukkan pola yang sama
dengan pola Simple Shear dengan extention fracture membentuk sesar turun
seperti yang dijelaskan pada gambar 3.18.
Setiap kali terjadi gempa, terjadi pergeseran sesar yang bervariasi
mengikuti kekuatan gempa. Total pergeseran Singkarak diperkirakan 23 kilometer
hingga terbentuk danau seperti yang ada sekarang ini. Evolusi luas Danau
Singkarak itu berawal dari pergeseran 3 km, kemudian berkembang menjadi 8
km, 13 km, dan sekarang ini 23 km (Sieh & Natawidjaja, 2000). Danau ini terus
tumbuh, menandai pergeseran yang terus terjadi di jelaskan pada gambar 3.19.
Proses tektonik yang membentuk Danau Singkarak ini juga terjadi dalam
pembentukan danau tektonik lain di Sumatera, seperti Danau Diatas dan Danau
Dibawah (Sumatera Barat) serta Danau Kerinci di Jambi.
Bentuk cekungan Singkarak setelah dilakukan rekonstruksi sayatan bawah
permukaan dihasilkan bentuk negative flower structure. Dimana terjadi penurunan
permukaan akibat gaya transtension yang bekerja karena terjadi pergeseran dua
segmen sesar Sianok dan Sumani. Pada gambar 3.19 juga dijelaskan bahwa

28

langkah pergeseran
ergeseran kedua segmen sesar bergerak ke kanan atau right-stepping
maka akan membentuk extensional bends berupa cekungan tarik
tarik-terpisah atau
Pull-apart basin.

Gambar 3.19. Model Evolusi yang menunjukkan pembukaan progresif cekungan


tarik terpisah Danau Singkarak dii sepanjang zona sesar Sumatera
(modifikasi dari Sieh & Natawidjaja, 2000).

3.5.4 Sedimentasi pada Cekungan Tarik Terpisah Singkarak.


Cekungan tarik terpisah umumnya dicirikan oleh : Prose
Proses pengendapan
yang tinggi, pola asimetri dari urut-urutan
urut urutan sedimen dan fasies, dan bentuk

29

cekungan yang menunjukkan batas dengan sesar pada bagian tepi cekungan
seperti endapan kipas-kipas alluvial, limpah banjir, lakustrin, dsb. Sifat-sifat
pengandapan seperti itu juga dijumpai pada cekungan Ombilin. Berdasarkan dari
data seismik dan pemboran serta perhitungan erosi yang berlangsung selama
tersier, maka diperkirakan cekungan Ombilin telah menerima tidak kurang dari
9.100 meter sedimen selama pengendapannya (Asikin, 1992) dijelaskan pada
gambar 3.20.

Gambar 3.20. Sedimentasi pada Pull apart basin (Asikin, 1992).

Pergerakan di sepanjang sesar strike-slip dapat menghasilkan beberapa


jenis cekungan tarik terpisah atau pull-apart basin yang dapat berupa sesar
transform yang terjadi pada batas lempeng dan mempenetrasi kerak yang terfokus

30

hanya pada seting intraplate dan hanya mempenetrasi bagian atas dari kerak
(Sylvester, 1988). Kebanyakan cekungan yang dibentuk oleh sesar mendatar
memiliki ukuran relatif kecil, beberapa puluh kilometer panjangnya, meskipun
beberapa dapat mencapai ukuran hingga 50 km (Nilsen dan Sylvester, 1995).
Cekungan ini dapat menunjukkan bukti adanya relif syn-depositional atau syn-rift
lokal yang signifikan. Karena cekungan pada sesar mendatar dapat hadir dalam
beberapa seting, mereka dapat diisi baik oleh sedimen marin maupun nonmarin,
tergantung pada seting yang ada. Sedimen yang dijumpai pada cekungan ini
cenderung cukup tebal, karena tingkat sedimentasinya yang tinggi yang dihasilkan
oleh proses pengerosian dari tinggian di sekitar cekungan ini, dan ditandai dengan
adanya beberapa perbedaan fasies local (Bogs, 2006).
Sebagai contohnya untuk menggambarkan proses sedimentasi cekungan
Singkarak, seperti yang di jelaskan pada gambar 3.21. Pergerakan strike-slip dari
sesar San Gabriel pada zaman Pliosen-Miosen mengakibatkan terbentuknya
cekungan danau dengan ukuran 15 km hingga 40 km, dimana sedimen dengan
ketebalan mencapai hingga lebih dari 9000 meter terakumulasi (Bogs, 2006). Pada
awalnya, cekungan danau ini terbuka dijelaskan pada gambar 3.21.A, mengijinkan
sedimen deltaik dan turbidit terbentuk. Sebagai hasil dari pergeseran sesar strikeslip selanjutnya, penyaluran sedimentasi dari luar menjadi terhambat pada bagian
selatan dan cekungan danau ini menjadi sistem tertutup. Pada fase penutupan,
kipas alluvial, fluvial, delta, dan sedimen barier terakumulasi di sepanjang batas
dari danau ini, sedangkan lumpur silisiklastik, lumpur zeolit, dolomit, dan
stromatolit terbentuk pada bagian pusat dari cekungan dijelaskan gambar 3.21.B.

31

Gambar 3.21. Rekonstruksi paleogeografi cekungan California, (A) Fase pembukaan pada
Deep-water Lacustrine (B) Fase penutupan pada Shallow-water Lacustrine (Boggs, 2006)

Secara garis besar proses pengendapan pada cekungan Singkarak di


dominasi oleh proses syn-rift atau syn-depositional. Dimana proses pengendapan
berlangsung bersamaan dengan proses penurunan cekungan sehingga dapat
membentuk formasi batuan yang cukup tebal. Seiring dengan semakin lebar dan
luas cekungan singkarak akibat pergeseran sesar mendatar. Seperti yang di
jelaskan pada gambar 3.22.

32

Gambar 3.22.
3.22 Bentuk cekungan singkarak dan pengaruhnya terhadap
sedimentasi. (Modifikasi dari Sieh & Natawidjaja, 2000)

33

BAB IV
KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan tentang sesar mendatar dan pembentukan


cekungan pada zona sesar mendatar dapat disimpulkan bahwa pembentukan
cekungan atau basin pada zona ini dipengaruhi oleh jenis mekanisme yang
bekerja apakah bersifat Transpresional atau Transtensional. Pada mekanisme
transpresional membentuk cekungan pada tepian zona pengangkatan, sedangkan
pada mekanisme transtensional membentuk cekungan pada pusat amblesan.
Pembentukan cekungan juga dipengaruhi oleh fault bends atau belokan sesar.
Pada sistem sesar mendatar kanan jika arah belokan ke kanan akan membentuk
Releasing bend dan jika ke kiri maka akan membentuk Restraining bend.
Cekungan Singkarak merupakan cekungan yang bersifat tarik-terpisah atau
pull-apart basin karena terbentuk dari segmen-segmen sesar. Secara regional
cekungan ini dipengaruhi oleh Fault bend atau belokan sesar yang berupa
releasing bend. Pembentukan cekungan Singkarak dipengaruhi oleh mekanisme
transtension dengan gaya tarikan atau ekstension yang bekerja membentuk
cekungan sehingga cekungan ini mengalami amblesan dengan pusat cekungan
sebagai pusat pengendapan. Secara bentukan cekungan ini berupa negative flower
structure berupa graben sesar turun. Proses pengendapan yang berlangsung pada
cekungan Singkarak bersifat syn-depositional yaitu proses pengendapan yang
berlangsung bersamaan dengan proses penurunan cekungan.

33

34

DAFTAR PUSTAKA

Allen, P.A. & Allen, J.R. 2005. Basin Analysis Principle and Application.
Black Well Publishing. Victoria.
Asikin, S. 1992. Diktat Geologi Struktur Indonesia. Jurusan Teknik Geologi
Institut Teknologi Bandung.
Aydan, O. 2007. A Reconnaisanse Report on the Singkarak Lake Earthquake.
Department of Marine Civil Engineering Tokai University, Shizuoka.
Barber, A.J., Crow, M.J. & Milsom J.S. 2005. Sumatra: Geology, Resources and
Tectonic Evolution. The Geological Society London. London.
Boggs, S. 2006. Principles of Sedimentology and Stratigraphy 4th ed. Merril
Publishing Company. Columbus.
Burg, J.P. 2015. Structural Geology and Tectonics. Universitat Zurich Geologices
Institut Sonnegstasse. Zurich.
Christie-Blick, N. & Biddle, K.T. 1985. Deformation and Basin Formation Along
Strike-Slip

Faults.

The

Society

of

Economic

Paleontologists

and

Mineralogists. New York.


Cunningham, W.D. & Mann, P. 2007. Tectonics of Strike-Slip Restraining and
Releasing Bends. The Geological Society. London.
Fossen, H. Tikoff, B. & Teissier, C. 1994. Strain Modeling of Transpression and
Transtension Deformation. Norsk Geologisk Tidsskrift. Oslo.
Nilsen, T.H. & Sylvester, A.G. 1995. Strike-slip Basins. Tectonics of Sedimentary
Basins. Blackwell Science. Oxford.
Noor, D. 2008. Geologi untuk Perencanaan. Pakuan University Press. Bogor.

34

35

Putrohari,

R.D.

2008.

Proses

Pembentukan

Minyak

Bumi.

https://rovicky.wordpress.com/2008/02/21/proses-pembentukan-minyak-bumi
(diakses pada tanggal 9 November 2015).
Sieh, K. & Natawidjaja, D. 2000. Neotectonics of the Sumatra Fault,
Indonesia. Journal

of Geophysical Research. California Institute of

Technology. Pasadena.
Sukandarrumidi. 2014. Diktat Manajemen Bencana Geologi. Institut Sains &
Teknologi AKPRIND. Yogyakarta.
Sylvester, A.G. 1988. Stike-slip Fault. Geological Society of America Bulletin.
Department of Geological Sciences. California.
Zen, M.T. 1970. Origin of Lake Singkarak in the Padang Highlands. Departmen
of Geology & Geophysics ITB. Bandung.
http://basin.earth.ncu.edu.tw/download/courses/basin_analysis/6_strike_slip.pdf
http://smtp.antelecom.net/blogs/bsmacia/a_16_strike_slip_faults.pdf
http://www.igc.usp.br/pessoais/renatoalmeida/bibliografias/sylvester1988.pdf
http://www.files.ethz.ch/structuralgeology/jpb/files/english/5wrench.pdf
http://www.ldeo.columbia.edu/selected_articles_all_files/01_sepm_sp2037.1.pdf