Anda di halaman 1dari 6

Indeks Performansi

Indeks Performansi merupakan kelompok dari sifat material dimana jika kita
memaksimalkan maka performansi suatu indeks akan maksimal. Sebagai contoh kekakuan jenis

dengan rumus

, dengan E adalah modulus elastisitas dan adalah massa jenis, merupakan

suatu indeks.
Suatu indeks performansi dapat diturunkan dengan persamaan sehingga diketahui
variabel yang berpengaruh. Metode penurunan indeks performansi adalah sebagai berikut:
1. Tahap pertama yaitu mengidentifikasi fungsi utama dari komponen. Misal sebuah batang
memiliki momen bending, sebuah tabung penukar kalor memindahkan panas, sebuar spring
menyimpan energi elastis, dll.
2. Menuliskan persamaan yang dituju. Persamaan ini merupakan hal utama yang harus
diperhatikan karena dapat memaksimalkan performansi.
3. Mengidentifikasi batasan batasan. Terdapat batasan batasan yang harus diperhatikan
antara lain, temperatur yang bekerja, beban aman yang diperlukan, dll.
4. Menghilangkan variabel bebas dari persamaan menggunakan batasan batasan.
Contoh dari metode diatas adalah:
Desain dari komponen mekanik terdiri dari tiga variabel yaitu gaya (F), gemonetri (G), dan
beberapa kombinasi M dari sifat p dari material itu terbuat. Performansi P dapat dijelaskan
dengan rumus
P = f ( F,G,p)
Dimana P adalah performansi dan f merupakan fungsi dari F, G, dan p. Untuk menaikkan P maka
harus dipilih material dan geometri yang dapat meningkatkan performansi. Kemudian tiga
parameter persamaan diatas dapat dijabarkan menjadi:
P = f1 (F) f2 (G) f3 (p)
Kemudian dapat disederhanakan dengan meneliminasi variabel bebas menggunakan batasan
batasan menjadi M = f3(p) dengan M adalah indeks performansi

Indeks performansi untuk Light, Strong Tie

Untuk mamaksimalkan performansi maka harus meminimalkan massa dari material agar gaya
(F) dapat sesuai dengan ketentuan.
m =Al
Terdapat variabel bebas yaitu luas permukaan (A) yang nantinya dapat dieliminasi. Massa dari
beam dapat dikurangi dengan mengurangi jari- jari, namun ada batasan yaitu A harus cukup
untuk menghasilkan tegangan tarik F.
F f

A Sf
Dimana

merupakan kekuatan maksimum sampai mengalami kegagalan dan

merupakan faktor keamanan. Dengan mengeliminasi A, didapat

Sf

m ( S f F ) ( l )

( )
f

Pada tanda kurung kedua merupakan persyaratan untuk mendapatkan nilai F yang aman, tanda
kurung kedua merupakan gemometri khusus, dan tanda kurung terkahir merupakan sifat
material. Sehingga indeks performansinya adalah sebagai berikut
M=

Dibawah ini adalah tabel maksud dari Light, Strong Tie


Fungsi
Tujuan
Batasan

Tie = membawa beban tarik


Light = meminimalkan massa
Strong = Menopang beban F tanpa
mengalami kegagalan

Grafik sifat material


Pemilihan ditentukan dengan membuat grafik sifat material dimana indeks performansi

terdapat untuk memberikan beberapa pilihan. Berikut ini merupakan skema E/ diagram dari
indeks performansi dan grafik batang yang menunjukkan indeks performansi.

Penggunaan Analisa Kegagalan dalam Pemilihan Material


Prosedur dasar untuk menjalankan analisa kegagalan melibatkan beberapa tahap, sebagai
berikut:
1. Mengumpulkan informasi dasar dari komponen dan penyebabnya
2. Makro dan mikrofraktografi (mencari awal mula patahan)
3. Memverifikasi material dan sifatnya (dibandingkan dengan spesifikasi)
4. Perhitungan tegangan dan umur komponen
5. Pengukuran khusus, misal tegangan sisa
6. Simulasi
7. Analisa data
8. Persiapan menyusun laporan
9. Ikut perkembangan yang ada

Metode untuk Analisa Kegagalan untuk Meningkatkan Pemilihan Material


Sangat penting menentukan sifat yang dibutuhkan dari suatu komponen. Data dari sifat

material didapat dari pengujian, missal uji Tarik, uji kekerasan, uji impak, dll. Dari pengujian
tersebut dapat diketahui letak kegagalannya.
Setelah kita mengetahui letak kegagalannya maka kita harus menentukan faktor yang
berpengaruh terhadap kegagalan suatu material tersebut. Kemudian membuat pertimbangan dari
segi material, proses pembuatan, dan perawatan agar masalah yang sama tidak muncul kembali.
Tahap terakhir yaitu mengimplementasikan pertimbangan yang telah dibuat lalu dianalisa
kembali apakah pertimbangan sudah sesuai dengan persyaratan atau belum.

Contoh Analisa Kegagalan


Salah satu contoh analisa kegagalan adalah penggunaan analisa kegagalan untuk

mengembangkan pipa baja. Patah getas terjadi dari jeleknya pemilihan material, lingkungan,
pembuatan, dan beban yang diberikan. Pipa mengalami retak awal ketika diuji tekanan sebesar
40% dari kekuatan luluh material pipa dan diuji pada temperature 13oC.

Kemudian ditemukan faktor yang menyebabkan patah getas dari pipa yaitu energy yang
diserap pada daerah atas dari kurva energy temperature Charpy telah mencapai titik kritis untuk

menimbulkan crack. Oleh karena itu, peneliti fokus untuk meningkatkan energi pada daerah atas
kurva. Sementara itu, kekuatannya juga ditingkatkan ketika menambahkan diameter pipa.

Kesimpulan
Ketika terjadi kegagalan pada suatu produk, penelitian harus dilakukan agar mendapatkan

informasi untuk menuntun proses pemilihan material. Suatu kegagalan tidak hanya terjadi karena
pemilihan materialnya, ada juga karena proses manufaktur dan lingkungannya, akan tetapi
persentase terbanyak yang dapat menyebabkan kegagalan terletak pada pemilihan material.
Dengan mengenali kebutuhan pada suatu produk, maka produk tersebut dapat terus berkembang.
Oleh karena itu, para engineer dibidang pemilihan material dituntut untuk terus melakukan
analisa guna mendapatkan spesifikasi produk yang diinginkan.

TUGAS
PEMILIHAN MATERIAL
DOSEN PENGAMPU : Sri Nugroho, Ph.D

NAMA

: Danang Ibnu Mubarok

NIM

: 21050112140042

TTD

Jurusan S-1 Teknik Mesin


Fakultas Teknik
Universitas Diponegoro
Semarang
2015