Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tumor pada esofagus secara garis besar dibedakan menjadi Karsinoma sel
skuamus (squamous cell carcinoma), adenokarsinoma, neoplasma malignan
lainnya, tumor jinak, dan lesi menyerupai tumor.2 Karsinoma sel skuamus
merupakan tumor esofagus yang sering dijumpai, yaitu sekitar 60% dari
keseluruhan karsinoma esofagus, dan biasanya bersifat fatal dalam kurang dari
5 tahun. Secara patologis, gambaran karsinoma esofagus secara garis besar
dibedakan menjadi polipoid, ulseratif, dan in! ltratif. Tapi penampakannya
sering tumpang tindih dimana tumor polipoid dapat menjadi ulseratif.
Klasifikasi karsinoma esofagus sangat beragam, tetapi secara umum menurut
lokasinya dibedakan menjadi 3, yaitu proksimal, tengah, dan distal. Kanker
esofagus merupakan jenis kanker yang sering ditemukan di daerah yang
dikenal dengan julukan Asian Esophageal Cancer Belt yang terbentang dari
tepi selatan laut Kaspia di sebelah barat sampai ke utara Cina meliputi Iran,
Asia Tengah, Afganistan, Siberia, dan Mongolia.1,2
Kanker esofagus merupakan peringkat ke enam penyebab kematian yang
disebabkan oleh kanker. Sekitar 80 persen kematian terjadi di negara
berkembang seperti Afrika Selatan dan Cina. Insidens karsinoma esofagus
sangat bervariasi diberbagai negara, banyak ditemukan di China, Jepang,
Rusia, Hongkong, Skandinavia, dan Iran. Di negara-negara barat seperti
Amerika dan Inggris jarang ditemukan karsinoma esofagus. Dilaporkan di
China insiden karsinoma esofagus 19,6/100.000 pada laki-laki dan 9,8/100.000
pada wanita, bahkan pada propinsi Hunan, Shanxi dan Hebey insiden mencapai
100/100.000 penduduk. Sedang Di Amerika dilaporkan insiden 6/100.000 pada
laki-laki dan 1.6/100.000 pada wanita.1,3

BAB II
LAPORAN KASUS
2.1 Identifikasi
Nama

: Tn. A

Umur

: 52 tahun

Jenis Kelamin

: laki-laki

Status

: Sudah Menikah

Agama

: Islam

Bangsa

: Indonesia

MRS

: 23-09-2014

No. RM

: 679902

2.2 Autoanamnesis
Keluhan Utama:
Tidak bisa menelan
Riwayat Perjalanan Penyakit:
Pasien mengeluh sulit menelan dialami 3 bulan terakhir. Sulit menelan ini
dirasakan semakin lama semakin memberat, dimana awalnya pasien masih
dapat menelan nasi yang lunak, setelah itu hanya dapat menelan bubur.
Keluhan sulit menelan ini disertai dengan rasa tidak enak di dada tengah, nafsu
makan berkurang dan berat badan menurun yang dirasakan penderita
bersamaan dengan munculnya rasa sulit menelan ini. Muntah dirasakan
kadang-kadang bila makanan yang dimakan sulit untuk ditelan. Muntah darah
dan berak hitam tidak ada. Pasien pernah berobat di RS bau-bau dan
didiagnosa tumor esophagus.

2.3 Pemeriksaan Fisik (Tanggal 23 September 2014)


Status Generalis
Keadaan Umum

: Sakit sedang

Kesadaran

: Compos mentis

Pernafasan

: 20x/menit

Nadi

: 84x/menit

Tekanan Darah

: 120/80 mmHg

Suhu

: 36,8 C

Keadaan Gizi

: Baik

Status lokalis :
Kepala

: conjunctiva anemis (+) ikterus (-)

Thorax

:I:

Abdomen

2.4 Diagnosis Sementara


-

Tumor esophagus 1/3 distal


2.5 Saran Pemeriksaan
- Pemeriksaan Laboratorium
-

Foto thorax

USG abdomen

FNA

2.6 Hasil Pemeriksaan


a. Pemeriksaan Laboratorium (Tanggal 23 September 2014)
Darah Rutin:
Hemoglobin

: 11,0 g/dl

( 14 18 gr/dl )

Hematokrit

: 31,0 vol%

( 40 50 vol%)

Leukosit

: 2900/mm3

( 4000 10000/mm3)

Trombosit

: 383.000/mm3 ( 450.000 650.000/mm3 )

Kimia Klinik:
CT

: 8.00

BT

: 4.00

PT/APTT

: 11.5/27.1

Ureum

: 29 mg/dl

( 18 39 mg/dl )

Creatinin

: 0.8 mg/dl

( 0,6 10 mg/dl )

GOT

:19 U/L (<38)

GPT

: 16 U/L (<41)

Na+

: 145 mmol/l ( 135 155 mmol/l )

K+

: 4.1 mmol/l

Cl-

: 107 mmol/l (97-111 mmol/l)

( 3,5 5,5 mmol/l )

b. Hasil FNA tanggal 19/9/2014 :


Kesan : Adenocarcinoma mammae dextra
c.. Foto thorax PA tanggal 18 September 2014
Kesan : Tidak tampak tanda-tanda metastase pada foto thorax ini
d. USG abdomen tanggal 18 September 2014
Kesan : Tidak tampak tanda-tanda metastase pada USG abdomen ini
2.7 Diagnosis Kerja
-

Tumor esofagus
2.8 Penatalaksanaan

Laparatomi eksplorasi
Biopsy insisi
Gastrostomi feeding
Post operasi
Antibiotik
Anti inflamasi

2.9 Prognosis
Quo ad vitam

: dubia

Quo ad functionam: dubia

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
3.1

Anatomi Esofagus

Esofagus

merupakan

sebuah

saluran

berupa

tabung

berotot

yang

menghubungkan dan menyalurkan makanan dari rongga mulut ke lambung. Dari


perjalanannya dari faring menuju gaster, esofagus melalui tiga kompartemen dan
dibagi berdasarkan kompartemen tersebut, yaitu leher (pars servikalis), sepanjang
5 cm dan berjalan di antara trakea dan kolumna vertebralis. Dada (pars
thorakalis), setinggi manubrium sterni berada di mediastinum posterior mulai di
belakang lengkung aorta dan bronkus cabang utama kiri, lalu membelok ke kanan
bawah di samping kanan depan aorta thorakalis bawah. Abdomen (pars
abdominalis), masuk ke rongga perut melalui hiatus esofagus dari diafragma dan
berakhir di kardia lambung, panjang berkisar 2-4 cm.4
1.

Cervikal, dimulai dari bagian bawah kartilago cricoid (settinggi C6)


sampai suprasternal notch

2.

Upper Thoracis, dari suprasternal notch sampai carina (setinggi T4-T5)

3.

Mid Thoracis, dari bifurcatio trakea sampai esofagus punction

4.

Lower Thoracis, 8 cm panjangnya, meliputi abdominal esofagus.

Otot esofagus 1/3 atas adalah otot serat lintang yang berhubungan erat dengan
otot-otot faring, sedangkan 2/3 bawah adalah otot polos (otot sirkular dan otot
longitudinal). Esofagus menyempit pada tiga tempat :
1.

Bersifat sfingter (sfingter faringoesofageal), setinggi tulang rawan krikoid pada


batas antara faring dan esofagus (peralihan otot serat lintang -otot polos)

2.

Di rongga dada bagian tengah akibat tertekan langsung aort,a dan bronkus
utama kiri, tidak bersifat sfingter

3.

Di hiatus esofagus diafragma yaitu tempat hiatus esofagus berakhir di kardia


lambung, murni bersifat sfingter (sfingter gastroesofageal).
Pada orang dewasa, panjang esofagus apabila diukur dari incivus superior ke
otot krikofaringeus sekitar 15-20 cm, ke arkus aorta 20-25 cm, ke v. pulmonalis
inferior, 30-35 cm, dan ke kardioesofagus joint kurang lebih 40-45 cm. Bagian
atas esofagus yang berada di leher dan rongga dada mendapat darah dari a.
thiroidea inferior beberapa cabang dari arteri bronkialis dan beberapa arteri kecil
dari aorta. Esofagus di hiatus esofagus dan rongga perut mendapat darah dari a.
phrenica inferior sinistra dan cabang a. gastrika sinistra.3,4

Pembuluh vena dimulai sebagai pleksus di submukosal esofagus. Di esofagus


bagian atas dan tengah, aliran vena dari plexus esofagus berjalan melalui vena
esofagus ke v. azigos dan v. hemiazigos untuk kemudian masuk ke vena kava
superior. Di esofagus bagian bawah, semua pembuluh vena masuk ke dalam vena
koronaria, yaitu cabang vena porta sehingga terjadi hubungan langsung antara
sirkulasi vena porta dan sirkulasi vena esofagus bagian bawah melalui vena
lambung tersebut.
Pembuluh limfe esofagus membentuk pleksus di dalam mukosa,
submukosa, lapisan otot dan tunika adventitia. Di bagian sepertiga kranial,
pembuluh ini berjalan seara longitudinal bersama dengan pembuluh limfe dari
faring ke kelenjar di leher sedangkan dari bagian dua per tiga kaudal dialirkan ke
kelenjar seliakus, seperti pembuluh limfe dari lambung. Duktus thorakikus
berjalan di depan tulang belakang.
Esofagus dipersarafi oleh saraf simpatis dan parasimpatis. N. vagus
bersifat saraf parasimpatis bagi esofagus, meskipun di bawah leher n. vagus
membawa gabungan saraf simpatis dan parasimpatis. Esofagus pars servikalis
dipersarafi oleh n. laringeus rekuren yang berasal dari n. vagus. Cabang n.vagus
dan n. laringeus rekurens kiri mempersarafi esofagus thorakalis atas. N. vagus kiri
dan kanan berjalinan dengan serabut simpatis membentuk pleksus esofagus.

Persarafan simpatis berasal dari ganglion servikal superior rantai simpatis, n.


splanikus mayor, pleksus aortik thorasikus dan ganglion seliakus.3,4
Secara histologis dinding esofagus terdiri atas 4 lapis, yaitu:
Dinding esofagus terdiri dari 4 lapisan, yaitu :
1. Mukosa
Terbentuk dari epitel berlapis gepeng bertingkat yang berlanjut ke faring bagian
atas, dalam keadaan normal bersifat alkali dan tidak tahan terhadap isi lambung
yang sangat asam
2. Sub Mukosa
Mengandung

sel-sel

sekretoris

yang

menghasilkan

mukus

yang

dapat

mempermudah jalannya makanan sewaktu menelan dan melindungi mukosa dari


cedera akibat zat kimia.
3. Muskularis
Otot bagian esofagus, merupakan otot rangka. Sedangkan otot pada separuh
bagian bawah merupakan otot polos, bagian yang diantaranya terdiri dari
campuran antara otot rangka dan otot polos.
4. Lapisan bagian luar (Serosa)
Terdiri dari jaringan ikat yang jarang menghubungkan esofagus dengan strukturstruktur yang berdekatan, tidak adanya serosa mengakibatkan penyebaran sel-sel
tumor lebih cepat (bila ada kanker esofagus) dan kemungkinan bocor setelah
operasi lebih besar.
III.2. Fisiologi
Fungsi dasar esofagus adalah membawa material yang ditelan dari faring ke
lambung. Refluks gastrik ke esofagus dicegah oleh sfingter bawah esofagus dan
masuknya udara ke esofagus pada saat inspirasi dicegah oleh sfingter atas
esofagus, sfingter atas normalnya selalu tertutup akibat kontraksi tonik otot
krikofaringeus.
Ketika makanan mencapai esofagus, makanan akan didorong ke lambung oleh
gerakan peristaltik. Kekuatan kontraksi peristaltik tergantung kepada besarnya

bolus makanan yang masuk ke esofagus. Gerakan peristaltik esofagus terdiri dari
gerakan peristaltik primer dan gerakan peristaltik sekunder. Gerak peristaltik
primer adalah gerak peristaltik yang merupakan lanjutan dari gerakan peristaltik
pada faring yang menyebar ke esofagus. Gerakan ini berlangsung dengan
kecepatan 3-4 cm/ detik, dan membutuhkan waktu 8-9 detik untuk mendorong
makanan ke lambung. Gerakan peristaltik sekunder terjadi oleh adanya makanan
dalam esofagus. Sesudah gerakan peristaltik primer dan masih ada makanan pada
esofagus yang merangsang reseptor regang pada esofagus, maka akan terjadi
gelombang peristaltik sekunder. Gelombang peristaltik sekunder berakhir setelah
semua makanan meninggalkan esofagus. Esofagus dipisahkan dari rongga mulut
oleh sfingter esofagus proksimal atau sfingter atas esofagus (upper esopaheal
spinchter/ UES), dan dipisahkan dengan lambung oleh sfingter esofagus distal
atau sfingter bawah esofagus (lower esophageal spinchter/ LES). Sfingter
esofagus proksimal terdiri dari otot rangka dan diatur oleh n. vagus. Tonus dari
otot ini dipertahankan oleh impuls yang berasal dari neuron post ganglion n.
vagus yang menghasilkan asetilkolin.3,4
Sfingter esofagus distal yang terletal 2-5 cm di atas hubungan antara esofagus
dan lambung merupakan otot polos. Secara anatomis, strukturnya tidak berbeda
dengan esofagus tetapi secara fisiologis berbeda oleh karena dalam keadaan
normal sfingter selalu konstriksi.
Proses menelan dapat di bagi menjadi 3 tahap yaitu :
1.

Faseoral, yang mencetuskan proses menelan: Fase oral terjadi secara sadar.
Makanan yang telah dikunyah dan bercampur dengan liur akan membentuk bolus
makananmelalui dorsum lidah ke orofaring akibat kontraksi otot intrinsik lidah.
Kontraksi m. levator veli palatini mengakibatkan rongga pada tekukan dorsum
lidah diperluas, palatum mole dan bagian atas dinding posterior faring
(Passavants ridge) terangkat penutupan nasofaring akibat kontraksi m. levator
veli palatine kontraksi m. Palatoglosusismus fausium tertutupkontraksi m.
palatofaring, sehingga bolus makanan tidak akan berbalik ke rongga mulut.

2.

Fase faringeal, terjadi secara refleks pada akhir fase oral, membantu
jalannya makanan dari faring kedalam esophagus. Faring dan taring bergerak ke
atas oleh kontraksi m.stilofaring, m. salfingofaring, m.tirohioid dan m.
palatofaring. Aditus laring tertutup oleh epiglotis, sedangkan ketiga sfingter
laring, yaitu plika ariepiglotika, plika ventrikularis dan plika vokalis tertutup
karena kontraksi m. ariepiglotika dan m. aritenoid obligespenghentian aliran
udara ke laring karena refleks yang menghambat pernapasan (bolus tidak akan
masuk ke sal.nafasmeluncur ke arah esofagus.

3.

Fase esofageal, fase involunter lain yang mempermudah jalannya makanan


dari

esofagus

ke

lambung.

Rangsangan

makanan

pada

akhir

fase

faringealrelaksasi m. krikofaring introitus esofagus terbuka dan bolus makanan


masuk kedalam esofagus. sfingter berkontraksi > tonus introitus esofagus saat
istirahat,refluks dapat dihindari. Akhir fase esofageal sfingter ini akan terbuka
secara refleks ketika dimulainya peristaltik esofagus servikal untuk mendorong
bolus makanan ke distal. Selanjutnya setelah bolus makanan lewat, maka sfingter
ini akan menutup kembali.

II.3 Definisi
Tumor esofagus terdiri dari tumor yang bersifat jinak dan tumor yang bersifat
ganas (kanker). Berbagai jenis tumor yang bermassa jinak dapat tumbuh dan
berkembang dari lapisan dinding yang berbeda yang ada di esofagus. Tumor jenis
ini biasanya tanpa gejala dan tumbuh secara lambat, bahkan tumor jinak ini
sering tercatat hanya sebagai temuan insidentil selama radiografi rutin atau
endoskopi. Tumor jinak yang paling sering terdapat pada esofagus adalah tumor
yang berasal dari lapisan otot, yang disebut dengan leiomioma. Karena tumor
berasal dari propria muskularis, tumor tersebut ditutupi oleh submukosa yang utuh
dan mukosa, sehingga sulit untuk dilakukan biopsi secara endoskopi. Sedangkan
tumor yang bersifat ganas sering dikenal dengan kanker esofagus.1,5
Kanker esofagus adalah karsinoma yang berasal dari epitel berlapis
gepeng yang melapisi lumen esofagus. Kanker esofagus dimulai dari lapisan
10

dalam (mukosa) dan tumbuh hingga ke submukosa dan lapisan otot. Dari kedua
tumor tersebut hampir 95% tumor yang ada di esofagus adalah tumor yang
bersifat ganas.5
Tubuh manusia mengandung ratusan juta sel hidup. Sel-sel tersebut normalnya
tumbuh, memperbanyak diri, dan mati sesuai dengan siklusnya. Esofagus, seperti
jaringan tubuh lainnya, juga terdiri dari se-sel hidup. Pada awal kehidupan, sel sel
esofagus membelah lebih cepat sebagai suatu bagian dalam proses pertumbuhan.
Setelah seseorang menginjak fase dewasa, sebagian besar sel hanya akan
membelah diri untuk menggantikan sel-sel yang telah rusak atau mati.2
Kanker dimulai saat sel yang menjadi bagian dalam tubuh tumbuh dan
berkembang di luar kendali. Ada banyak jenis kanker, tetapi semua kanker
awalnya terjadi karena adanya pertumbuhan abnormal dari sel-sel tubuh.
Pertumbuhan sel kanker berbeda dengan pertumbuhan sel normal lainnya. Sebagai
pengganti sel yang sebelumnya telah rusak atau mati, sel kanker tumbuh dan terus
tumbuh bahkan membentuk sel baru yang abnormal. Sel kanker juga dapat
menyerang jaringan lain, sesuatu hal dimana sel normal tidak dapat
melakukannya. Saat sel membelah, sel tersebut dikontrol oleh suatu gen yang
terdapat di masing-masing sel, inilah yang dikenal dengan nama DNA. Di sel
yang normal, ketika DNA mengalami kerusakan maka sel akan memperbaiki
kerusakan tersebut. akan tetapi pada sel kanker, kerusakan DNA tidak diperbaiki
oleh sel, dan sel tersebut bahkan tidak mati. Sebagai gantinya sel akan terus
tumbuh menghasilkan jutaan, dan bahkan milyaran sel yang sama seperti
dirinya.1,2
Tidak semua tumor adalah kanker. Tumor yang bukan kanker disebut tumor
jinak. Tumor jinak dapat menjadi masalah jika tumor tersebut tumbuh semakin
besar dan menekan organ atau jaringan tubuh yang sehat. Akan tetapi tumor jinak
tidak dapat tumbuh dan menginvasi jaringan lain. Karena tumor jinak tidak dapat
berinvasi, maka tumor tersebut tidak dapat menyebar ke bagian tubuh lain. Tumor
jenis ini tidak mengancam kehidupan.
II.4 Klasifikasi Tumor

11

Berdasarkan histopatologinya, kanker esofagus dibagi menjadi 4 jenis, yaitu:


1. Tumor epitel: Merupakan jenis tumor yang berasal dari lapisan epitel esofagus.
Tumor jenis ini merupakan tumor uang paling sering didapatkan pada esofagus.
Tumor epitel dibagi menjadi squamous cell carcinoma dan adenokarsinoma.5
2. Tumor metastase
3. Limfoma: Jenis tumor yang berasal dari sel kekebalan tubuh yang ada di esofagus
4. Sarcoma: Merupakan jenis tumor yang berasal dari dinding muscular esofagus.
Berdasarkan jenis sel yang melapisi esofagus, maka kanker esofagus dibagi
menjadi epitel berlapis gepeng (squamous cell carcinoma) dan adenokarsinoma.
Squamous cell carcinoma dapat terjadi disepanjang esofagus. Jenis kanker ini
meliputi 95% kejadian kanker esofagus di Amerika Serikat. Kanker yang terjadi di
sel kelenjar disebut adenokarsinoma. Jenis sel ini bukanlah sel yang biasanya ada
dan menjadi bagian di lapisan dalam esofagus. Sebelum menjadi adenokarsinoma,
sel glandular menggantikan posisi sel squamous, dan inilah yang sering disebut
dengan Barretts esophagus. Kanker tipe ini sering terjadi di bagian yang lebih
bawah

dari

esofagus,

yang

merupakan

tempat

terbanyak

kejadian

adenokarsinoma.5
II.5 Epidemiologi
Kanker esofagus merupakan peringkat ke enam penyebab kematian
karena kanker. Sekitar 80 persen kematian terjadi di negara berkembang seperti
Afrika Selatan dan Cina. Di amerika pada tahun 2000, angka kejadian kasus baru
mencapai angka 12.300 sedangkan angka kematian mencapai 12.100. dalam 25
tahun terakhir ini, terjadi peningkatan kejadian adenokarsinoma esofagus distal
yang cukup signifikan.1,3, 6
Kanker esofagus merupakan jenis kanker yang sering ditemukan di daerah
yang dikenal dengan julukan Asian Esophageal Cancer Belt yang terbentang dari
tepi selatan laut Kaspia di sebelah barat sampai ke utara Cina meliputi Iran, Asia
Tengah, Afganistan, Siberia, dan Mongolia. Selain itu kanker esofagus banyak
terdapat di Finlandia, Islandia, Afrika Tenggara, dan Perancis Barat Laut. Di
Amerika Utara dan Eropa Barat, Kanker esofagus lebih sering terjadi pada orang

12

kulit hitam dibandingkan dengan orang kulit putih. Squamous Cell carcinoma
adalah jenis kanker yang sering terjadi pada orang kulit hitam, sedangkan
adenokarsinoma sering terjadi pada orang kulit putih. Berdasarkan jenis kelamin,
laki-laki beresiko terkena kanker esophagus 3 hingga 4 kali lebih besar
dibandingkan dengan wanita. Hal ini terutama dikaitkan dengan tingginya
konsumsi alkohol dan rokok pada pria. Berdasarkan tingkatan usia, usia lebih dari
65 tahun memiliki resiko paling tinggi untuk menderita kanker esofagus. Sekitar
15% penderita didiagnosa menderita kenker esofagus pada usia kurang dari 55
tahun.1,2,5
II.6 Faktor Resiko
Penyebab kanker esofagus belum diketahui dengan pasti akan tetapi para
peneliti percaya bahwa beberapa faktor resiko seperti merokok dan alkohol, dapat
menyebabkan kanker esofagus dengan cara merusak DNA sel yang melapisi
bagian dalam esofagus, akibatnya DNA sel tersebut menjadi abnormal. Iritasi
yang berlangsung lama pada dinding esofagus, seperti yang terjadi pada GERD,
Barretts esophagus dan akhalasia dapat memicu terjadinya kanker. Beberapa
faktor resiko yang dapat mempertinggi kejadian kanker esofagus diantaranya
adalah :
1.

Merokok dan konsumsi alkohol

Konsumsi alkohol dan merokok berkaitan dengan kejadian kanker esofagus.


Alkohol dan rokok dapat menyebabkan iritasi kronik pada mukosa esofagus.
Orang yang merokok 1 bungkus perhari memiliki resiko 2 kali lebih tinggi untuk
menderita adenokarsinoma esofagus dibandingkan dengan yang tidak merokok
2. Obesitas
Orang yang kelebihan berat badan atau obesitas memiliki resiko tinggi untuk
menderita adenokarsinoma esofagus. Hal ini berkaitan dengan peningkatan
tekanan intra abdomen dan refluk esofagus.
3. Gastro esophageal reflux disease (GERD)
Orang yang menderita GERD, beresiko 2 hingga 16 kali lebih tinggi untuk
menderita adenokarsinoma esofagus dibandingkan dengan orang normal. Resiko

13

bergantung pada seberapa panjang refluk dan gejala yang terjadi. Sekitar 30 %
kejadian kanker esofagus dikaitkan dengan kejadian GERD.
2. Barretts esophagus
Jika refluk di bagian lower esophagus berlangsung terus menerus dan dalam
jangka waktu yang lama, maka refluk ini akan menyebabkan kerusakan pada
dinding esofagus. Hal ini dapat mengakibatkan sel skuamous yang melapisi
esofagus menjadi nhilang dan digantikan oleh sel glandular. Sel glandular ini
biasanya terlihat seperti sel yang melapisi dinding lambung dan usus halus, dan
lebih resisten terhadap asam lambung. Kondisi ini dinamakan Barretts esophagus.
Sekitar 10 % orang dengan gejala GERD menderita Barretts esophagus. Semakin
lama seseorang mngalami GERD , maka semakin beresiko untuk menderita
Barretts esophagus. Kebanyakan orang yang menderita Barretts esophagus
memiliki gejala dada terasa terbakar. Penyakit ini memiliki resiko 30 hingga 125
kali lebih besar untuk menyebabkan terjadinya kanker esofagus dibandingkan
dengan orang normal. Hal ini dikarenakan sel glandular pada Barretts esophagus
menjadi abnormal hingga menjadi displasia, kondisi prekanker.7
4. Diet
Makan makanan yang banyak mengandung buah-buahan dan sayur-sayura,
berkaitan dengan berkurangnya angka kejadian kanker esofagus. Buah-buahan
dan sayur-sayuran mengandung banyak vitamin dan mineral yang membantu
dalam mencegah terjadinya kanker. Sekitar 15 5 kanker esofagus dikaitkan dengan
rendahnya asupan buah-buahan dan sayuran. Makan makanan yang sedikit
mengandung buah-buahan dan sayur-sayuran dapat meningkatkan kejadian kanker
esofagus.
5. Akhalasia
Pada penyakit ini, otot pada bagian bawah esofagus tidak berfungsi dengan baik.
Makanan dan cairan yang yang masu ke dalam lambung menjadi tertahan dan
cenderung berkumpul di esofagus. Akibatnya esofagus mengkompensasi dengan
melakukan dilatasi. Orang dengan akhalasia memiliki resiko untuk mengalami
kanker esofagus 15 kali lebih besar dibandingkan dengan orang normal. Sekitar
6% (1 dari 20 orang) dari semua kasus akhalasia berkembang menjadi kanker

14

squamous cell carcinoma. Pada umumnya, kanker terjadi sekitar 17 tahun setelah
pasien didiagnosa akhalasia.
6. Bakteri lambung
Bakteri lambung, helicobacter pylori dapat menyebabkan masalah lambung,
termasuk ulserasi dan beberapa jenis kanker lambung. Infeksi karena nakteri ini
dapat diobati dengan antibiotic dan tambahan obat yang mengurangi asam
lambung. Orang yang mendapat terapi H.Pylori beresiko untuk mengalami kanker
esofagus dibandingkan dengan orang yang tidak mendapatkan terapi. Hal ini
dikarenakan infeksi H.Pylori, menyebabkan lambung memproduksi sedikit asam
lambung. rendahnya kadar asam lambung berdampak apad rendahnya refluks ke
esofagus. Jadi infeksi dapat menyebabkan banyak masalah di lambung, tetapi di
lain pihak hal ini infeksi tersebut membantu melindungi esofagus.
II.7 Manifestasi Klinis
Keterlambatan antara awitan gejala-gejala dini serta waktu ketika pasien
mencari bantuan medis seringkali antara 12-18 bulan, biasanya ditandai dengan
lesi ulseratif esofagus tahap lanjut.
1.

Disfagia
Gejala utama dari kanker esofagus adalah masalah menelan, sering dirasakan

oleh penderita seperti ada makanan yang tersangkut di tenggorokan atau dada.
Ketika menelan menjadi sulit, maka penderita biasanya mengganti makanan dan
kebiasan makannya secara tidak sadar. Penderita makan dengann jumlah gigitan
yang lebih sedikit dan mengunyah makanan dengan lebih pelan dan hati-hati.
seiring dengan pertumbuhann kaknker yang semakin besar, penderita mulai
makan makanan yang lebih lembut dengan harapan makanan dapat dengan lebih
mudah

masuk

melewati

esofagus,

hingga

akhirnya

penderita

berhenti

mengkonsumsi makanan padat dan mulai mengkonsumsi makanan cair. Akan


tetapi, jika kanker tetap terus tumbuh, bahkan makanan cair pun tidak bisa
melewati esophagus. Untuk membantu makanan melewati esophagus biasanya
tubuh mengkompensasi dengan menghasilkan saliva luarkan Hal ini juga yang

15

menyebabkan orang yang menderita kanker esofagus sering mengeluh mengeluh


banyak mengeluarkan mukus atau saliva.1,5,8
2.
3.

Merasakan benjolan pada tenggorokan dan rasa nyeri saat menelan.

Nyeri pada dada,regurgitasi makanan yang tak tercerna dengan bau nafas dan
akhirnya cegukan. Nyeri dada sering dideskripsikan dengan perasaan tertekan atau
terbahkar di dada. gejala ini sering sekali diartikan dengan gejala yang berkaitan
dengan organ lain, seperti jantung, sehingga sering kali orang tidak menyadari
kalau gejala tersebut adalah salah satu gejala yang sering dikeluhkan pada
penderita kanker esofagus.

4.

Hemoragi, kehilangan berat badan dan kekuatan secara progresif akibat kelaparan.
Sekitar sebagian dari pasien yang menderita kanker esofagus mengalami
penurunan berat badan. Hal ini terjadi karena masalah menelan sehingga penderita
mendapat masukan makanan yang kurang untuk tubuhnya. Penyebab lain
dikarenakan berkurangnya nafsu makan dan meningkatnya proses metabolisme
kanker yang diderita oleh pasien.1 Pendarahan juga bisa terjadi pada pasien kanker
esofagus. Sel tumor mampu tumbuh keluar aliran darah, menyebabkan terjadinya
nekrosis dan ulserasi pada mukosa dan menghasilkan pendarahan di daerah
gastrontestinal. Jika pendarahan terjadi dalam jumlah yang banyak, maka feses
juga bisa berubah menjadi warna hitam tapi hal ini bukan berarti tanda bahwa
kanker esofagus pasti ada.

5.

Pada pemeriksaan fisik tampak pasien menjadi kurus karena gangguan menelan
dan anoreksia Jika telah lanjut, terdapat pembesaran kelenjar getah bening daerah
supraklavikula dan aksila, serta hepatomegali.
II. 8 Staging Kanker Esofagus
The American Joint Committee on Cancer Staging 1987 membagi stadium
tumor berdasarkan TNM sistem. T adalah tumor primer, N adalah pembesaran
kelenjar limfe regional dan M adalah metastasis jauh. TNM sistem dapat
ditegakkan dari hasil pemeriksaan klinis, esofagoskopi dan CT scan.9

TUMOR PRIMER (T)


16

TX

Tumor primer tidak dapat dinilai

T0

Tidak ada bukti ada tumor primer

Tis

Carcinoma in situ

T1

Invasi ke lamina propia atau submukosa

T2

Invasi ke tunika muskularis propia :

T3

Invasi ke tunika adventitia.

T4

Invasi ke struktur sekitar.

REGIONAL LYMPH NODES (N)


NX Kelenjar getah bening regional tak dapat dinilai
N0

Tidak ada metastasis jauh

N1

Ada metastasis ke KGB regional

METASTASE (M)
MX Metastasis tak dapat dinilai
M0 Tak ada metastasis jauh
M1 Ada metastasis jauh
KLASIFIKASI METASTASE
Tumor pada bgaian bawah esophagus
M1a Metastasis di limfa nodus celiac
M1b Metastasis jauh lainnya
Tumor pada bagian tengah esophagus
M1a Not applicable
M1b Nonregional lymph nodes and/or other distant metastasis
Tumor pada bagian atas esophagus
M1a Metastase ke nodus servikal
M1b Metastase ke tempat lain
STAGE GROUPING
Stage 0 Tis

N0

M0

Stage I

T1

N0

M0

Stage

T2

N0

M0

T3

N0

M0

T1

N1

M0

IIA
Stage
IIB
17

Stage

T2

N1

M0

T1

N2

M0

T3

N1

M0

T4

Any N

M0

Any T

Any N

M1

Any T

Any N

M1a

Any T

Any N

M1b

IIIA
Stage
IIIB
Stage
IV
Stage
IVA
Stage
IVB

II. 9 Penegakan Diagnostik


Evaluasi Diagnostik
Diagnosis kanker esofagus dapat ditegakkan dengan anamnesis dan
pemeriksaan penunjang termasuk didalamnya imaging studies dan endoskopi.
1.

Laboratorium

Pada pemeriksaan darah rutin didapatkan diantaranya LED meningkat,


terdapat gangguan faal hati dan ginjal, dilihat dari nilai SGOT, SGPT, ureum dan
creatinin yang mengalami peningkatan.
2. Imaging studies
a. Barium swallow
Pada uji ini, cairan yang disebut barium di telan. Barium akan melapisi dinding
esofagus. Ketika dilakukan penyinaran (sinar X), barium akan membentuk
esofagus dengan jelas. Tes ini dapat digunakan untuk melihat apakah ada kelainan
pada permukaan dinding esofagus.
Tes barium biasanya menjadi pilihan utama untuk melihat penyebab disfagia.
Bahkan sebagian kecil tumor, dapat terlihat dengan menggunakan tes ini. Tes

18

barium tidak dapat digunakan untuk menentukan seberapa jauh kanker telah
bermetastase.9,10

b.

CT Scan
CT Scan biasanya tidak digunakan untuk mendiagnosis kanker esofagus, tetapi

CT Scan dapat membantu dalam menentukan penyebaran dari kanker esofagus.


CT Scan dapat menunjukkan lokasi dimana kanker esofagus berada dan dapat
membantu dalam menentukan apakah pembedahan merupakan tatalaksana terbaik
untuk kanker esofagus. Sebelum gambar diambil, pasien diminta untuk minum
cairan kontras, sehingga esofagus dan bagian usus dapat terlihat jelas sehingga
tidak terjadi pembiasan pada daerah sekitarnya.
3. Endoskopi
a. Upper Endoscopy
Endoskopi merupakan uji diagnostic yang paling utama untuk mendiagnosis
kanker esofagus. Dengan bantuan endoskopi, dokter dapat melihat kanker melalui
selang dan melakukan biopsy terhadap jaringan kanker maupun jaringan lain yang
ada di sekitar kanker yang tampak tidak normal. Contoh jaringan yang telah
diambil kemudian dikirim ke laboratorium, dan dengan bantuan mikroskop dapat
ditentukan apakah jaringan tersebut merupakan jaringan yang bersifat ganas
(kanker). Jika kanker esophagus menutupi lumen esophagus, maka lumen tersebut
dengan bantuan alat dan endoskopi dapat dilebarkan sehingga makanan dan cairan
dapat melaluinya.9,10
b.

Endoscopic ultrasound
Merupakan jenis endoskopi yang menggunakan gelombang suara untuk

melihat gambar bagian dalam tubuh. Endoskopi jenis ini sangat berguna untuk
menentukan ukuran dari kanker esofagus dan seberapa jauh kanker tersebut telah
menyebar ke jaringan lain. Uji ini tidak memiliki dampak radiasi, sehingga aman
untuk digunakan.

19

4.

Bronkoskopi dan mediastinokopi


Bronkoskopi biasanya dilakukan, khususnya pada tumor pada sepertiga tengah

dan atas esofagus, untuk menentukan apakah trakea telah terkena dan untuk
membantu

dalam

menentukan

apakah

lesi

dapat

diangkat.

Sedangkan

mediastinoskopi digunakan untuk menentukan apakah kanker telah menyebar ke


nodus dan struktur mediastinal lain.
II.10 Penatalaksanaan
Sebelum merencanakan dan memberikan terapi pada karsinoma esofagus,
perlu dilakukan penentuan stadium (staging) dan pengelompokan stadium tumor.
Penentuan tingkatan tumor ini dimulai dengan anamnesis dan pemeriksaan
jasmani yang teliti, dilengkapi dengan pemeriksaan laboratorium. Prosedur
dilanjutkan dengan esofagografi memakai suspensi barium, foto dada, CT Scan
dada dan abdomen. Pada kasus-kasus tertentu perlu dilakukan bronkoskopi,
mediastinoskopi, atau sidik tulang.11
Ada beberapa pilihan yang dapat digunakan untuk terapi kanker esofagus.
Pilihannya adalah pembedahan, terapi radiasi, kemoterapi, atau kombinasi dari
ketiga jenis pilihan. Sebagai contoh, terapi radiasi dan kemoterapi dapat diberikan
sebelum atau setelah operasi. Pilihan terapi bergantung pada beberpah hal,
diantaranya :

Lokasi kanker di dalam kerongkongan

Apakah kanker telah menyerang struktur disekitarnya

Apakah kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening atau organ tubuh lainnya

gejala dan kondisi kesehatan secara umum

a. Operasi
Ada beberapa jenis operasi untuk kanker kerongkongan.. jenis tergantung
terutama di mana kanker itu berada. Untuk pembedahan harus ditentukan apakah
dapat dioperasi atau tidak berdasarkan keadaan umum pasien secara klinis, tidak
adanya fiksasi tumor ke jaringan sekitar, atau tidak adanya metastasis ke organ

20

lain. Pembedahan dapat dikombuinasikan dengan terapi lain seperti kemoterapi


dan radioterapi. Pada stadium dini, di mana besar tumor kurang dari 2 cm,
dilakukan pembedahan enbloc esophagectomy. Penderita akan merasakan nyeri
pada masa awal setelah operasi. Namun obat-obatan akan membantu dalam
mengurangi rasa sakit tersebut. Efek samping yang ditimbulkan dari tindakan
pembedahan diantaranya adalah meningkatnya resiko infeksi termasuk pneumoni,
pandarahan setelah pembedahan dan gangguan pernafasan.1,3,11
b. Esofagektomi
Merupakan tindakan pembedahan untuk mengangkat semua bagian dari
esofagus, termasuk sebagaian kecil dari lambung. Saat esofagus diangkat maka
limfa nodus yang berada dekat dengan esophagus juga terangkat. Bagian atas
esofagus sering dihubungkan dengan bagian lambung yang tersisa, bagian
lambung tersebut ditarik ke arah dada atau leher menjadi bagian baru dari
esofagus. Banyaknya esofagus yang diangkat, bergantung pada staging tumor dan
lokasi tumor berada. Jika tumor terletak di bagian distal esofagus, maka bagian
esofagus yang diangkat bisa mencapai 8 hingga 10 cm dari normal esofagus.4,11
Beberapa metode esofagektomi:

McKeowns operation

Pendekatan 3 lapangan operasi, meliputi laparotomi, thorakotomi dan Insisi


servikal, dibuat anastomosis antara lambung keesofagus di servikal.

Ivor Lewis operation

Pendekatan 2 lapangan operasi, meliputi laparotomi dan thorakotomi,


dilakukan anastomosis antara lambung dengan oesophagus di thoraks.

Laparoscopy-assisted esophagectomy

Hampir sama dengan transhiatal approach tetapi menggunakan laparoscopic


instruments untuk mobilisasi esophagus intra thoracic.

Open esophagectomy

21

Esophagus dapat diangkat dengan melakukan insisi melalui abdomen dan


torak, yang dikenal dengan nama esofagektomi transtorakal. Jika insisi dilakukan
melalui abdomen dan leher disebut esofagektomi transhiatal.

Minimally invasive esophagectomy

Esophagus dapat diangkat melalui insisi yang kecil, tindakan ini disebut
dengan esofagektomi invasif minimal. Ahli bedah menggunakan sejenis teleskop
yang tipis melalui insisi. Alat ini akan mempermudah ahli bedah untuk melihat
esofagus selam operasi.
Efek samping tindakan pembedahan
Seperti operasi lainnya, tindakan pembedahan pada esofagus juga memiliki
beberapa resiko. Serangan jantung atau pembentukan bekuan darah di paru dan di
otak dapat terjadi selama proses pembedahan. Komplikasi paru-paru, seperti
pneumoni, kebocoran pada tempat penyambungan esofagus dan lambung, mual
dan muntah, meningkatnya resiko infeksi, striktur esofagus dapat terjadi sebagai
akibat dari tindakan pembedahan
b. Terapi Radiasi
Terapi radiasi (juga disebut radioterapi) menggunakan sinar berenergi tinggi
untuk membunuh sel-sel kanker. Sinar tersebut hanya mempengaruhi sel-sel
kanker, tidak untuk sel-sel disekitarnya. Terapi radiasi dapat digunakan sebelum
atau setelah operasi. Bahkan dapat digunakan sebagai terapi tunggal, pengganti
operasi. Terapi radiasi biasanya dikombinasi dengan kemoterapi untuk mengobati
kanker kerongkongan. Ada dua jenis terapi radiasi dalam pengobatan kanker
kerongkongan.1,3,11

Terapi radiasi eksternal: radiasi berasal dari sebuah mesin besar di luar tubuh. The
machine aims radiation at your cancer. Mesin ini bertujuan radiasi pada kanker
Anda. Perawatan biasanya 5 hari seminggu selama beberapa minggu.

Terapi radiasi internal (brachytherapy): radiasi jenis ini menggunakan semprotan


anestesi untuk daerah kerongkongan sehingga pasien merasa lebih nyaman
sepanjang terapi. Sebuah tabung/selang ditempatkan ke dalam kerongkongan. Zat
radiasi akan keluar melalui tabung tersebut. ketika tabung diangkat, zat radioaktif
22

juga akan hilang bersamaan dengan keluarnya tabung, sehingga tidak


meninggalkan sisa di dalam tubuh. Untuk jenis terapi radiasi ini, biasanya
pengobatan tidak dilakukan secara kombinasi dengan terapi lainnya.
Efek samping dari terapi radiasi bergantung pada dosis dan tipe radiasi. Terapi
radiasi eksternal yang dilakukan pada daerah dada dan abdomen dapat
menyebabkan radang tenggorokan, atau nyeri pada perut dan usus. Efek samping
lainnya yaitu mual dan muntah. Selain itu, kulit di daerah yang mendapat terapi
dapat menjadi merah, kering, dan nyeri.
Terapi radiasi dapat menyebabkan masalah dalam proses menelan. Misalnya,
kadang-kadang terapi radiasi dapat melukai esofagus dan menyebabkan kesulitan
dalam menelan. Atau, radiasi juga dapat menyebabkan esofagus menjadi sempit.
Oleh karena itu, Sebelum terapi biasanya sebuah tabung plastik dimasukkan ke
dalam esofagus untuk menjaga agar esofagus tetap terbuka.
c. Kemoterapi
Kebanyakan orang dengan kanker kerongkongan mendapatkan kemoterapi.
Kemoterapi menggunakan obat untuk menghancurkan sel-sel kanker. Obat-obat
untuk kanker kerongkongan biasanya diberikan melalui pembuluh darah
(intravena). Kemoterapi biasanya diberikan dalam beberapa siklus. Setiap siklus
memiliki masa perawatan diikuti oleh masa istirahat.11
Regimen yang sering digunakan untuk kemoterapi adalah

5-Fluorouracil

5-Fluorouracil + Cisplatin

ECF (Epirubicin + Cisplatin + 5-Fluorouracil)

IFL (Irinotecan + 5-Fluorouracil + Leucovorin)

TIC (Paclitaxel + Ifosphamide + Carboplatin)

Efek samping tergantung terutama pada obat yang diberikan dan berapa banyak
dosis yang digunakan. Kemoterapi dapat membunuh sel kanker dengan cepat,
akan tetapi obat tersebut juga dapat membahayakan sel-sel normal yang ada di
dalam tubuh yang membelah dengan cepat seperti :

23

Sel darah: saat kemoterapi menurunkan kadar sel darah yang sehat, maka

seseorang dapat lebih mudah untuk mendapatkan infeksi, mudah memar atau
berdarah, dan merasa sangat lemah dan lelah.

Sel-sel pada akar rambut: Kemoterapi dapat menyebabkan rambut rontok.

Sel yang melapisi saluran pencernaan: Kemoterapi dapat menyebabkan


kurang nafsu makan , mual dan muntah, diare, atau mulut dan bibir luka .
Efek samping lainnya yaitu ruam pada kulit, nyeri pada sendi, rasa baal

atau mati rasa pada tangan dan kaki, gangguan pendengaran dan pembengkakan
kaki.
d. Terapi paliatif
Pada stadium lanjut dilakukan tindakan paliatif agar pasien dapat menikmati
makanan peroral

Dilatasi mekanik

Dilatasi mekaniuk digunakan ketika tindakan pembedahan dan radioterapi bersifat


kontraindikasi. Teknik dilatasi ini menggunkan balon dilatators yang dimasukkan
ke esofagus dengan bantuan endoskopi. Karena resiko perforasi esofagus cukup
tinggi pada tindakan ini, maka dilatasi mekanik harus dilakukan secara perlahan
dan hati-hati.1,11

Terapi Yag Laser


Terapi ini cukup efektif untuk mengobati obstruksi yang disebabkan oleh tumor
esofagus. Massa tumor dapat dihancurkan dengan menggunakan laser sehingga
lumen bebas dari massa.
II. 11 Prognosis
Jika terdiagnosis secara dini, secara keseluruhan tumor esofagus memiliki
prognosis yang baik. Sebanyak 70% penderita mengalami metastase pada kelenjar
limfa nodus. Jika tidak ada keterlibatan limfa nodus, maka 50 % pasien dapat

24

bertahan hidup selama 5 tahun. Jika sudah terjadi metastase, maka hanya 1 dari 8
penderita yang mampu bertahan hingga 5 tahun.1,5,9

DAFTAR PUSTAKA

1. World Health Organization. Breast cancer : Prevention and Control .2009.


Available from :www.who.int.
2. Ramli, Muchlis. Kanker Payudara. Soelarto Reksoprodjo dkk (editor). Kumpulan
Kuliah Ilmu Bedah. Edisi Pertama. Binarupa Aksara. 1995. Hlm: 342-364.
3. Albar, Zafiral Azdi dkk (editor). Protokol PERABOI 2003. PERABOI. Jakarta.
Edisi Pertama. 2004. Hlm: 2-15.
4. Asrul. Hubungan antara Besar Tumor dan Tipe Histologi Kanker Payudara
dengan Adanya Metastase pada Kelenjar Getah Bening Aksila. Bagian Ilmu
Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. 2003. Available from:
http://www.usu.ac.id.
5. De Jong, Wim . Buku Ajar Ilmu Bedah . EGC. Jakarta. Edisi Pertama .2005 .Hlm :
387-402.
6. Manuaba, Tjakra W. Payudara. R. Sjamsuhidajat dan Wim de Jong (editor). Buku
Ajar Ilmu Bedah. Edisi Kedua. EGC. 2004. Hlm: 387-402.
7. Haskell, Charles M. and Dennis A. Casciato. Breast Cancer. Dennis A. Casciato
and Berry B. Lowitz (editors). Manual on Clinical Oncology. Lippincott Williams
and Wilkins. Philadelphia. 2000. Page: 11.
8. Souhami, Robert L. Et al (editors). Oxford Textbook of Oncology. 2nd Ed. Oxford
Press. Page: 110-116
9. American Cancer Society . Detailed Guide : Breast Cancer . 2009. Available
from :www.acs.org.

25

10. Makhoul,

Issam.

Breast

Cancer:

Overview.

2006

Available

from:

http://www.emedicine.com.
11. Toward Optimized Practice (TOP) Program. Guideline for the Early Detection of
Breast Cancer. Available from: http://www.albertadoctors.org.

26