Anda di halaman 1dari 45

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Sejarah dan Perkembangan PT. Air Liquid


Usaha untuk menyempurnakan proses pencairan udara untuk memisahkan
oksigen dan nitrogen melalui proses distilasi dengan tujuan utama menghasilkan
oksigen murni skala industri yang dilakukan oleh George Claude seorang lulusan
Ecole Superiere de Physique et Chimie Industrielle di Paris Perancis. Dalam
melaksanakan proses percobaan tersebut George Claude dibantu oleh sahabatnya
yaitu Paul Delorme yang membantu dalam bantuan dana dan dukungan selama dua
tahun percobaan.
Hasil dari percobaan yang dilakukan dengan serangkaian trial and error
tersebut membuahkan hasil yang positif. Semenjak keberhasilan percobaan tersebut
seluruh perusahaan kimia dapat dengan mudah membeli oksigen dengan kemurnian
tinggi dan harga yang murah.
Saat ini Air Liquide yang didirikan oleh George Claude pada tahun 1902
menjadi pionir dalam industri gas. Air Liquide telah tersebar ke kurang lebih 80
negara dengan jumlah tenaga kerja lebih dari 40.000 dan 39.000 pemegang saham
individu. Salah satu cabang yang berada di Indonesia yaitu PT. Air Liquide Indonesia
yang berada di Cilegon.
1.1.1 PT. Air Liquid Indonesia (PT. ALINDO)
Pada tahun 1993 PT. Alindo dibangun di kawasan industri Krakatau Industrial
Estate Cilegon (KIEC) dengan jumlah karyawan sampai saat ini kurang lebih 80
orang. Cabang ini dibangun sebagai salah satu strategi dari ekspansi Air Liquide
Grup di kawasan Asia.Wilayah ini dipilih sebagai strategi bisnis untuk memenuhi
kebutuhan industri berat pabrik-pabrik di wilayah Cilegon.
Pembangunan yang telah dilakukan oleh PT. ALINDO yaitu Air Separation
Unit(ASU) plant, hydrogen plant, Advance Product Supply Alteranate (APSA) plant,

Jurusan Teknik Kimia


Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

dan jaringan pipa bawah tanah yang bertujuan untuk menyalurkan produk-produk
langsung ke konsumen.PT. Alindo membangun ASU plant dengan nama Krakatau I
(KK-I) dengan kapastasitas produksi 220 ton/hari O2. Selanjutnya dibangun
Hidrogen Purification Plant dengan membeli bahan baku dari PT. Asahimas
Chemical. Seiring perkembagan permintaan akan jumlah produk, kemudian dibangun
ASU plant unit Krakatau II(KK-II) dengan kapasitas produksi mencapai 600 ton/hari
O2, dan menyusul ASU plantKrakatau III (KK-III) dengan kapasitas produksi 770
ton/ hari O2 yang akan beroperasi tahun 2015. Dalam pengembangan usahanya, PT.
Alindo membangun unit kerja kedua di daerah Bekasi Fajar Industrial Estate guna
memenuhi kebutuhan gas di kawasan-kawasan industri sekitarnya seperti MM2100,
EJIP, Jababeka, BFIE, dan lain-lain.
Sistem pendistribusian produk dilakukan dengan menggunakan pipa jaringan
bawah tanah untuk industri di wilayah Anyer, Merak dan Cilegon, dan menggunakan
mobil tangki dengan produk bentuk cair untuk industri di luar wilayah Cilegon.
Sementara untuk produk dalam bentuk gas digunakan kemasan silinder atau tabung
silinder yang terdapat di filling station Alindo di Cilegon dan Cibitung.
1.1.2 Visi dan Misi PT. Alindo
Dalam perkembangannya, PT. Alindo memiliki visi menjadi pemasok gas yang
terdepan di Indonesia dengan memberikan kepercayaan, nilai yang efektif dan solusi
yang inovatif kepada para konsumen melalui kekuatan pemberdayaan.Untuk
memenuhi harapan tersebut, karyawannya dituntut memiliki dedikasi untuk mengerti
dan memahami harapan konsumen dan memiliki komitmen. Harapan tersebut dapat
dicapai dengan:

Fokus terhadap produk dan pelayanan untuk meyakinkan konsumen terhadap


standar mutu tertinggi yang dapat mereka terima.

Mengacu pada ISO 9000 Quality Management System untuk membuktikan


kualitas sistem manajemen perusahaan.

-Bertujuan untuk meningkatkan kualitas dalam setiap aktivitas perusahaan.


Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

1.2 Kerja Praktek


Kerja praktek dilaksanakan di ASU (Air Separation Unit) Plant PT. Air
Liquide Indonesia. Waktu pelaksanaan dimulai 01 September 2015 dan berakhir 30
September 2015 yang berlokasi di jalan Australia II Kav-M1 Kawasan Industrial
Estate Cilegon (KIEC), Banten, Indonesia.
1.2.1 Tujuan
Tujuan umum pelaksanaan program kerja praktek yaitu untuk memenuhi
persyaratan mata kuliah kerja praktek. Sedangkan tujuan khusus diantaranya sebagai
berikut :
1. Mengetahui penerapan ilmu teknik kimia dalam dunia industri dan
mendapatkan gambaran nyata dunia perindustrian.
2. Mempelajari

dunia

kerja,struktur

organisasi,

peraturan

dan

peran

masingmasing bidang dalam industri.


3. Mendapatkan gambaran mengenai proses produksi di PT. Alindo terutama
dalam proses treatment bahan baku, pencairan udara (system cryogenic) dan
pemisahan udara cair menjadi nitrogen, oksigen dan argon.
4. Mengetahui safety dan sistem utilitas PT. Alindo.
5. Mendapat gambaran peralatan pendukung proses, meliputi alat analisa produk
dan alat pengendali proses.
6. Mempelajari alat-alat yang digunakan dalam sistem liquidifikasi.
1.2.2 Ruang Lingkup
Ruang lingkup dari kerja praktek di PT. Alindo meliputi pemahaman proses
produksi secara umum. Proses tersebut meliputi treatment bahan baku, liquefier,
distilasi, dan juga sarana pendukung di ASU plant KK-II. Selain itu, pemahaman
tugas khusus mengenai perhitungan temperatur keluaran pada cooler.

Jurusan Teknik Kimia


Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

1.3 Tata Letak Pabrik


PT. Alindo terletak di jalan Australia II Kav- M1 Krakatau Industrial Estate
Cilegon (KIEC), Kota Cilegon, Provinsi Banten, Indonesia. Adapun batasbatas
wilayahnya sebagai berikut:
Utara

: PT. Argamas Bajatama

Timur

: PT. Daekyung Indah Heavy Industry

Selatan

: PT. Krakatau Steel

Barat

: PT. Krakatau Steel.

Adapun unit di PT. Alindo antara lain yaitu:


1. ASUplantKK-I dengan produk nitrogen, oksigen, dan argon.
2. ASU plantKK-II dengan produk nitrogen, oksigen, dan argon.
3. ASU plantKK III dengan produk nitrogen, oksigen dan argon.
4. Hidrogen plant dengan produk hidrogen.
5. Unit liquifier untuk mencairkan gas nitrogen.
6. Substation area untuk penyediaan listrik dengan kapasitas 150 kV.
7. Warehouse area sebagai gudang penyimpana alat-alat.
8. Workshop area sebagai tempat perbaikan peralatan yang rusak.
9.

Open area untuk truck filling

10. Parking area


1.4 Struktur Organisasi
Dalam menjalankan sistem keorganisasiannya PT. Alindo membagi dalam
beberapa departement yang masing-masing memiliki peranan dan tugas yang
berbeda.Secara keseluruhan terdapat 10 departemen, adapun tugas dan fungsi masingmasing departemen terdapat dalam table berikut.

Jurusan Teknik Kimia


Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Tabel 1.1 Fungsi setiap Departemen PT. Air Liquide Indonesia


Nama Departemen

Fungsi
Menjalankan dan mengawasi proses produksi baik

Production Department

di control room ataupun lapangan dalam memenuhi


kebutuhan konsumen setiap bulannya.
Bertanggung jawab untuk memeriksa,menjaga dan

Maintenance Department

memastikan fungsi dan kondisi seluruh peralatan

(Mechanical and Electrical

berjalan normal dan dapat beroperasi secara

Instrument)

optimal, termasuk melakukan penggantian dan


perbaikan apabila diperlukan

Information and Technology

Menangani bidang informatika dan teknologi

Department

Computer

Menangani pengembangan sumber daya manusia


Humanand Resources

dalam

perusahaan,

termasuk

usaha

peningkatan

Development

kesejahteraan karyawan di dalam perusahaan, seperti


pembayaran upah dan pelatihan, penerimaan karyawan
baru juga penerimaan program Praktek Kerja Lapangan
(PKL)
Bertanggung jawab dalam bidang safety procedure,
termasuk safety induction terhadap tamu, proses

Health, Safety, and


Sales
and Marketing
Environment
Department
Department

pembuangan dan pengolahan limbah dan peningkatan


kualitas kesehatan karyawan.
Bertugas memasarkan dan menjual produk kepada
konsumen.

Jurusan Teknik Kimia


Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Bertanggung jawab untuk menjaga kualitas produk


Quality Assurance Department yang akan dipasarkan kepada konsumen.

Finance and Accounting


Department

Mengelola dan mengaudit keuangan PT. Alindo.

Customer Installation

Bertanggung jawab untuk instalasi, perbaikan, dan

Department

perawatan alat yang terpasang di konsumen

Purchasing Department

Bertanggung jawab terhadap pembelian segala


keperluan operasional (mesin dan fasilitas yang lain)
dan safetyperusahaan termasuk akuisisi perusahaanlain.

PT. Alindo memiliki sekitar 80 karyawan dan sebagian besar ditempatkan di


bagian Production Department dan Maintenance Department. Sebagian yang lain
ditempatkan di bagian keamanan dan distribusi. Walau dengan karyawan yang sedikit
PT Alindo bisa melakukan efisiensi dan efektifitas kerja yang baik dengan sistem
pembagian kerja yang jelas, tepat dan sesuai dengan kemampuan tiap-tiap individu.
Sistem jam kerja di PT Alindo dibedakan menjadi dua macam yaitu sistem
shiftdan non shift. Sistem kerja Shift dilakukan untuk menjaga keberlangsungan
proses produksi.
Sistem Shift terdiri atas tigashift secara bergantian dengan masing-masing
shift bekerja selama delapan jam yang terdiri dari empat orang karyawan,tiga di
bagian ASU plant dan satu di bagian Hydrogenplant. Sistem pembagian shift sebagai
berikut:
-

Shift pagi : 07.00-15.00

Shift sore : 15.00-23.00

Sihft malam : 23.00-07.00


Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Untuk tiap jadwal shift dilaksanakan oleh kelompok yang sama selama dua hari
berturut- turut selama 6 hari dan akan memperoleh libur sebanyak dua hari.
Sedangkan karyawan non shift diberlakukan lima hari kerja dalam satu minggu
dengan jam kerja berikut:
-

Senin- Kamis :08.00-17.00

Jumat :07.30-17.00

Jurusan Teknik Kimia


Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

BAB II
DESKRIPSI PROSES

PT Air Liquid Indonesia dalam proses produksinya menggunakan bahan


baku udara bebas yang terdapat di sekitar pabrik dan hydrogen yang berasal dari PT.
Asahimas dan PT. Krakatau Steel. Produk utama yang dihasilkan antara lain
Nitrogen, Oksigen, dan Hidrogen.
2.1 Sifat Fisik dan Kimia Bahan Baku
Bahan bakuuntuk menjalankan 100% produksi dibutuhkan 84.000 Nm3/h
udara bebas. Komponen yang ada di udara adalah nitrogen, oksigen, argon, debu
dan partikulat lain serta komponen-komponen lain dalam jumlah yang kecil.
Berikut adalah tabel komposisi masing-masing komponen dalam udara.
Tabel 2.1 komposisi komponen penyusun udara
( PT Air Liquide Indonesia)
Komponen Udara

% Volume

% Berat

Nitrogen (N2)

78.11

75.47

Oksigen (O2)

20.96

23.20

Argon (Ar)

0.93

1.28

Karbondioksida (CO2)

0.030

0.046

Helium (He)

0.00046

0.00006

Neon (Ne)

0.0018

0.0011

Krypton (Kr)

0.00011

0.00032

Xenon (Xe)

0.000008

0.00004

Tabel 2.2 sifat fisik udara


( Material Safety Data Sheet : Air)
Berat Molekul
28,6
Berat Jenis Gas, (0C, 1 atm)

1,2928 Kg/m3

Jurusan Teknik Kimia


Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Tabel 2.2 sifat fisik udara


( Material Safety Data Sheet : Air)
Berat Molekul
28,6
Volume Spesifik, (0C, 1 atm)

1,2928 Kg/m3
0,773 m3/Kg

Titik Didih (1 atm)

-193 C

Temperatur Kritis

-140,7 C

Tekanan Kritis

37,2 atm

Densitas Kritis
Kalor Penguapan

0,31 Kg/m3
(-193 C) 49 Kcal/Kg

Kalor Spesifik

(15 C) 0,24 Kcal/Kg C

Berat Jenis Gas, (0C, 1 atm)

2.2

Sifat Fisik dan Kimia Produk


Pada ASU plant, produk utama yang dihasilkan adalah nitrogen,

oksigen dan argon.Nitrogen yang diproduksi berbentuk cair dan gas, untuk
oksigen yang diproduksi juga berbentuk cair dan gas sementara untuk argon
hanya diproduksi berbentuk cair.Berikut adalah penjelasan mengenai sifat
fisika dan kimia dari masing- masing produk.
2.2.1 Argon
Argon merupakan gas yang tidak berasa dan tidak berbau pada
tekanan atmosfer. Kandungan Argon dalam udara yaitu sekitar 0,9% volume.
Sifat-sifat fisik Argon dapat dilihat pada tabel berikut.

Jurusan Teknik Kimia


Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

10

Tabel 2.3 Sifat Fisik Argon (Ar)


(Material Safety Data Sheet : Argon)
Berat Molekul
39,948
Densitas Gas

1,7828

Volume Spesifik (0 0C, 1 atm)


Titik Didih (1 atm)

0,56 m3/kg
-185,90C

Temperatur Kritis (1 atm)

-122,40C
48 atm

Tekanan Kritis
Densitas (00C, 1 atm)
Kalor Penguapan

0,531 Kg/m3
(-185,9 0C) 37,6 Kcal/Kg

Kalor Spesifik

(150C) 0,125 Kcal/Kg 0C


0,78 Kg/L

Densitas spesifik liquid


2.2. 2 Nitrogen

Nitrogen adalah komponen penyusun udara yang paling besar


sejumlah 78%.Sifat kimia nitrogen adalah tidak berbau,tidak berwarna dan
tidak beracun, bersifat inert, tidak mudah terbakar.Jika terlalu banyak dihirup
nitrogen dapat menyebabkan

sesak

nafas.Tabel

berikut

berisikan

informasi sifat fisika dari nitrogen.


Tabel 2.4 Sifat Fisik Gas Nitrogen (N2)
(Material Safety Data Sheet : Nitrogen)
Berat Molekul
28,06
Densitas Gas
1,2505
0
Volume Spesifik (0 C, 1 atm)
0,799 m3/kg
Titik Didih (1 atm)
Temperatur Kritis (1 atm)
Tekanan Kritis
Densitas (00C, 1 atm)
Kalor Penguapan
Kalor Spesifik
Densitas spesifik liquid

-195,810C
-147,1 0C
33,5 atm
0,311 Kg/m3
(-195,8 0C) 47,6 Kcal/Kg
(50C) 0,2477 Kcal/Kg 0C
0,645 Kg/L

Jurusan Teknik Kimia


Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

11

2.2.3 Oksigen
Oksigen adalah komponen penyusun udara komposisi oksigen di
udara mencapai 20% Volume udara. Dalam kondisi ruang dan tekanan 1
atmosfer oksigen akan berbentuk gas dengan tidak berwarna dan tidak
berbau juga tidak memiliki rasa. Tabel berikut menampilkan data sifat fisik
dari gas oksigen.
Tabel 2.5 Sifat Fisik Oksigen (O2)
( Material Safety Data Sheet : Oxygen)
Berat Molekul

32

Densitas Gas

1,4292

Volume Spesifik (0 0C, 1 atm)


Titik Didih (1 atm)

0,7m3/kg
-182,970C

Temperatur Kritis (1 atm)

-118,8 0C

Tekanan Kritis

49,7 atm

Densitas (00C, 1 atm)

0,43 Kg/m3

Kalor Penguapan

(-1830C)50,7

Kalor Spesifik

0
(0
C)0,2177
Kcal/Kg

Densitas spesifik liquid

0,8
Kg/L0C
Kcal/Kg

2.3 Sistem Kriogenik


Teknik kriogenik adalah pengaplikasian ilmu proses teknik kimia
pada suhu rendah. National Beureau of Standard di Boulder, Colorado,
Amerika Serikat menyebutkan batas terendah dari skala kriogenik yaitu nol
absolut K (-273C) sedangkan batas tertingginya adalah 123 K ( -150C).
Ilmu kriogenik juga mempelajari tentang sistem yang beroperasi pada
temperatur yang sangat dingin, bagaimana cara memproduksinya dan
bagaimana perilaku material pada keadaan tersebut.
Ilmu kriogenik dapat dimanfaatkan bagi kehidupan manusia. Salah
satunya adalah pemanfaatannya dalam proses pemisahan dan pencairan udara

Jurusan Teknik Kimia


Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

12

atau gas menjadi cair. Beberapa gas yang dapat digunakan dalam sistem
kriogenik antara lain helium, hidrogen, neon, nitrogen, oksigen, argon dan
metana.
2.4 Cara-cara Pendinginan
2.4.1 Efek Joule Thompson
Menurut Joule-Thompson untuk menurunkan suhu suatu gas dapat
dilakukan dengan cara menurunkan tekanan gas tersebut secara tiba-tiba dari
tekanan tinggi ke tekanan yang rendah melalui suatu valve. Jika hukum
termodinamika pertama digunakan pada aliran tunak yang melewati suatu
valve ekspansi maka tidak ada perpindahan panas dan perpindahan energi
kinetik dan potensial sehingga entalpi yang terlibat tidak mengalami
perubahan atau isentalpi.Pada proses pencairan udara diharapkan valve
ekspansi menghasilkan penurunan suhu. Pengaruh perubahan temperatur
untuk perubahan tekanan secara isentalpi dilambangkan dengan koefisien
Joule-Thompson (JT) yang merupakan fungsi perubahan temperatur
terhadap perubahan tekanan pada entalpi tetap.

= ()

(2.1)

Nilai JT dapat bernilai (+), (-) dan nol.


Nilai (+) pada koefisien Joule-Thompson menandakan bahwa proses
ekspansi dengan ekspansi valve akan menurunkan temperatur gas sehingga gas
dapat dicairkan . Nilai (-) menandakan bahwa proses ekspansi dengan JT-valve
dapat meningkatkan temperatur gas. Koefisien Joule-Thompson akan bernilai 0
untuk gas ideal.
2.4.2 Ekspansi Adiabatis
Metode ekspansi adiabatik melalui peralatan yang dapat menghasilkan
kerja dapat diterapkan untuk pencapaian temperatur rendah. Pada metode ini,
gas diekspansikan dari tekanan tinggi ke tekanan rendah dengan menggunakan
mesin ekspander. Pada kondisi ideal, ekspansi berjalan secara reversibel dan

Jurusan Teknik Kimia


Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

13

adiabatis, sehingga bersifat isentropis. Fungsi perubahan temperatur terhadap


perubahan tekanan pada entropi tetap dilambangkan oleh suatu koefisien
ekspansi isentropik .
T

S = (P)S

(2.2)

Pada ekspansi adiabatis selalu dihasilkan temperatur rendah sehingga


selalu bernilai positif (+).
2.4.3 Sistem Cascade
Sistem Cascade merupakan sistem pertama yang digunakan dalam
sistem pencairan udara yang dikemukakan oleh Keesan. Gambar berikut
merupakan
diagram sistem cascade.

Gambar 2.1 Sistem Cascade (Thomas M Flynn)


2.4.4 Sistem Linde Hampson Sederhana
Sistem ini digunakan untuk mencairakan etilena pada tekanan 19 atm
menggunakan amonia, etilena yang telah dicairkan kemudian digunakan
untuk mencairkan metana pada tekanan 25 atm, dan metana digunakana untuk
mendinginkan nitrogen pada tekanan 18,6 atm. Secara termodinamika sistem
ini mendekati kondisi ideal untuk mencairkan udara tapi pengoperasiannya

Jurusan Teknik Kimia


Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

14

memerlukan penanganan secara serius karena tiap loop mudah mengalami


kebocoran sehingga fluida dapat mengalir pada tempat yang salah.
Pada sistem ini diasumsikan berjalan pada kondisi yang ideal.Maksud
dari kondisi ideal adalah tidak adanya ireversibel pressure drop, tidak adanya
kebocoran panas dari lingkungan dan perpindahan panas terjadi tanpa ada
panas yang hilang.
Tahap pertama adalah dilakukannya kompresi udara secera reversible
dan isotermal. Namun pada kenyataannya proses yang dilakukan bersifat
adiabatic reversible atau disebutjuga kompresi politropik yang diikuti dengan
penurunan suhu pada tiap tahapannya supaya temperatur gas kembali
sama dengan temperatur lingkungan.
Selanjutnya udara masuk dalam heat exchanger supaya terjadi
perpindahan panas dan terjadi penurunan suhu udara.Udara yang masuk
dalam heat exchanger dikontakkan dengan gas bertekanan rendah yang
menuju ke siklus berikutnya, pada heat exchanger pula tidak terjadi
perubahan tekanan pada udara hanya terjadi penurunan suhu.
Tahap selanjutnya gas mengalami ekspansi melalui valve ekspansi
hingga tekanannya sama seperti tekanan awal. Pada tahap ini udara yang
awalnya berbentuk gas akan berubah cair dan udara yang telah cair dijaga
pada kondisi saturated-liquide. Selanjutnya gas dingin ini dipanaskan sampai
temperatur awal dengan menyerap energi panas pada tekanan tetap.
Sistem Linde-Hampson sederhana tidak dapat digunakan untuk gas
neon, hidrogen, dan helium. Hal ini dikarenakan temperatur maksimum
inverse

gas berada di bawah temperatur gas ambien, yaitu gas yang

melewati valve ekspansi berada pada kondisi uap.


2.4.5 Sistem Claude
Sistem yang digunakan di PT. Alindo adalah sistem Claude.Sistem ini
digunakan untuk menghasilkan nitrogen cair, oksigen cair dan argon
cair.Sistem Calude merupakan gabungan dari sistem ekspansi adiabatik dan
Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

15

ekaspansi valve yang tujuannya adalah untuk memperoleh gas cair.


Pada sistem ini energi untuk menggerakkan mesin ekspansi berasal
dari energi gas. Alat ekspander akan bersifat adiabatic reversible, dan proses
ekspansi akan bersifat isentropik. Proses isentropik ini akan menghasilkan
lebih banyak penurunan temperatur dibandingkan proses isentalpi. Pada
sistem Claude tahap awal yang terjadi adalah kompresi gas hingga
tekanannya 4Mpa atau setara dengan 40 atm, kemudian gas dilewatkan
menuju heat exchanger pertama. Setelah itu aliran udara dibagi menjadi
dua aliran, aliran pertama dengan persentase sekitar 60%-80% udara
masuk ke alat ekspander dan aliran keluaran dari ekspander akan disatukan
lagi dengan aliran yang akan masuk ke heat exchanger kedua.
Selanjutnya

aliran

udara

yang

akan

dicairkan

berlanjut

ke

heatexchanger kedua dan ketiga. Valve ekspansi akan mengekspansi aliran


udara yang menuju ke liquid receiver. Udara yang telah dingin yang berasal
dari penampungan liquideakan dikembalikan lagi ke heat exchanger untuk
mendinginkan udara yang masuk. Sistem Claude ini energi keluaran dari
alat ekspander akan digunakan untuk mengkompresi udara yang akan
dicairkan.

Gambar 2.2 Sistem Claude (Thomas M Flynn)

Jurusan Teknik Kimia


Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

16

2.5 Deskripsi Proses Produksi


Proses produksi yang berjalan di PT. Air Liquide Indonesia CilegonBanten terdiri dari empat satuan operasi yang dijelaskan sebagai berikut.
2.5.1 Kompresi Udara Bebas
Bahan baku udara pada 32oC dan 0,981 bar diambil dari sekitar
wilayah pabrik yang sebelum masuk ke proses awal dilakukan proses filtrasi
dengan filter udara. Filter udara yang bagian selubungnya terbuat dari baja dan
bagian dalam dari polyester. Kerja dari filter ini berdasarkan perbedaan
tekanan. Apabila perbedaan tekanan mencapai set point tertentu, maka filter
akan secara otomatis membersihkan kotoran yang ada dalam udara tujuan
supaya proses kompresi bersih dari debu yang akan merusak kompresor.
Setelah

melewati

filter

udara,

udara umpan

akan

melewati

kompresor. Kompresor yang ada merupakan rangkaian kompresor multistage,


terdapat tiga rangkaian kompresor yaitu C-01 A, C-01 B, dan C-01 C, ketiga
rangkaian tersebut berjalan

secara

bergantian. Satu rangkaian kompresor

terdiri atas lima tahap kompresi dan antar tahap kompresi terdapat intercooler
yang berguna untuk menurunkan suhu udara umpan setelah dikompresi pada
tiap tahap kompresor. Hal ini dikarenakan tiap kenaikan tekanan yang terjadi
pada udara umpan akan menaikkan suhu dari umpan udara. Tekanan udara
yang lebih tinggi dari kondisi luar dibutuhkan untuk proses purifikasi pada
Molecular sieve tower.
Tabel 2.6 Tahapan kompresi
( PT Air Liquide Indonesia)
Pout (bar g) Tin (oC)

Tout (oC)

Tahap

Pin (bar g)

Kompresi 1

0.981

1.067

32

30.1

Kompresi 2

1.067

3.4

30.1

34

Kompresi 3

3.4

7.2

34

36

Kompresi 4

7.2

13.8

36

38.5

Kompresi 5

13.8

27.5

38.5

40

Jurusan Teknik Kimia


Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

17

Setelah tekanan yang dibutuhkan pada Molecular sieve tower


terpenuhi pada proses kompresi udara umpan dialirkan ke alat aftercooler E07. Pada aftercooler E-07 udara umpan dikontakkan dengan air yang
sebelumnya sudah di kontak terlebih dahulu dengan waste gas product supaya
suhu air lebih turun dan mampu menurunkan umpan udara hingga 27O C.
Karena adanya penambahan liquefier pada sistem proses yang baru jumlah
waste gas product yang ada sekarang

sudah

menurun

sehingga

ditambahkan chiller sebagai pendingin air untuk kontak dengan udara di E07.
2.5.2 .Adsorpsi Purifikasi Udara Umpan
Udara terkompresi didinginkan menggunakan after cooler E-07 hingga
temperatur udara mendekati 20oC untuk selanjutnya dipurifikasi. Pemurnian
udara pada proses liquidifikasi ini dilakukan untuk menghilangkan senyawa
impurities tertentu sebelum udara memasuki cold box. Adapun senyawa
impurities yang dapat mengganggu proses likuidifikasi adalah :
1. Air dan Karbondioksida
Titik beku kedua senyawa ini lebih rendah dibandingkan Nitrogen,
Oksigen, dan Argon, apabila tidak dihilangkan kedua komponen ini dapat
membeku dan menyumbat pipa dalam pabrik.
2. Hidrokarbon berat dan asetilen.
Kedua senyawa ini dapat menimbulkan ledakan apabila tercampur dengan
oksigen murni pada tekanan tertentu.
3. Senyawa diena dan NxOy
Senyawa tak stabil ini dapat berpolimerisasi dengan senyawa lain.
4. Belerang
Menyebabkan karat pada permukaan material.
Unit adsorber yang digunakan pada pemurnian udara adalah
molecular sieves tower yang terdiri dari dua tower, dengan alumina gel pada
bagian bawah dan molecular sieve jenis zeolit berdiameter 4 pada bagian atas

Jurusan Teknik Kimia


Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

18

setiap tower. Kedua tower ini bekerja bergantian dimana tower yang satu akan
melakukan tahap service / purifikasi (adsorpsi) selama yang lain mengalami
tahap regenerasi (desorpsi).
Udara

yang telah

didinginkan

pada

aftercooler

selanjutnya

masuk ke dalam Unit adsorber, Unit yang digunakan pada pemurnian udara
adalah molecular sieves tower yang terdiri dari dua tower, dengan alumina gel
pada bagian bawah dan molecular sieve jenis zeolit berdiameter 4 pada
bagian atas setiap tower. Kedua tower ini bekerja bergantian dimana tower
yang satu akan melakukan tahap service / purifikasi (adsorpsi) selama yang
lain mengalami tahap regenerasi (desorpsi). Proses yang terjadi pada molecular
sieve tower adalah proses adsorpsi kandungan CO2 dan H2O yang terkandung
dalam udara umpan. Pada Molecular sieve tower alumina dan zeolit. Alumina
digunakan untuk menyerap H2O sedangkan zeolit untuk menyerap CO2.Posisi
alumina berada di bagian bawah tower sedangkan zeolit di bagian atas.Hal ini
dimaksudkan agar alumina dapat terlebih dahulu menyerap air dan zeolit
hanya menyerap CO2. Jika alumina dan zeolit ditukar posisinya maka CO2
dapat lolos masuk ke dalam proses pertukaran panas dan menjadi dry ice,
selain itu pada saat regenerasi di tahap heatingakan memerlukan waktu yang
lama untuk mengeringkan zeolit dari uap air.
Molecular sieve tower yang ada di PT.Alindo berjumlah dua
buah.Hal ini dimaksudkan agar tower bisa digunakan secara bergantian. Ketika
tower R-01 dalam kondisi service, maka tower R-02 akan diregenerasi untuk
menghilangkan pengotor

yang ada. Tahapan dari regenerasi

yang ada

dalam Molecular sieve tower adalah seperti berikut:


1.

Purifikasi pada proses ini Molecular sieves tower mengadsorpsi H2O,


CO2, CxHy, dan impurities yang lain

2.

Isolated High Pressure, pada tahap ini tower yang akan melalui
proses regenerasi akan diisolasi pada tekanan 28,03 bar abs. Hal ini

Jurusan Teknik Kimia


Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

19

dilakukan dengan cara menutup valve inlet dan oulet udara, ini bertujuan
agar udara yang ada dalam tower tidak masuk ke proses selanjutnya.
3.

Depressurization, molecular sieve tower yang telah diisolasi selanjutnya


diturunkan tekanannya dari 28,03 bar abs menjadi 0,2 bar abs. Hal ini
dilakukan dengan membuka valve kecil dengan bukaan valve yang
kecil ke atmosfer sehingga udara dalam tower keluar.

4.

Blow Off, pada tahapan blow off

sisa udara yang masih tersisa di

keluarkan melalui valve besar sehingga udara keluar ke atmosfer. Tekanan


akhir yang ingin dicapai adalah 0,02 bar abs.
5.

Heating, setelah semua udara di lepas ke atmosfer, adsorben dalam


Molecular sieve tower

dipanaskan menggunakan waste gas nitrogen.

Waste gas nitrogen yang digunakan bersuhu 150O C. Hal ini dilakukan
untuk menghilangkan kandungan air yang terdapat dalam adsorbent.
Tahapan ini dilakukan sekitar 70 menit.
6.

Cooling, yaitu tahapan pendinginan adsorbent hingga suhu normal yaitu


29OC. Pada tahapan ini menggunakan waste gas nitrogen untuk
mendinginkan adsorbent.

7.

Isolated Low Pressure, pada tahap ini Molecular sieve tower diisolasi dari
aliran udara yang akan masuk maupun yang keluar dari tower dengan cara
menutup semua valve outlet ke atmosfer.

8.

Pressurizing, Setelah diisolasi valve inlet yang menuju Molecular sieve


tower dibuka tetapi valve outlet tetap ditutup. Tujuan supaya tekanan
dalam tower menaik menjadi 28.03 bar abs.

9.

Paralell, Saat kondisi Molecular sieve tower sesuai dengan kondisi


sebelum regenerasi maka valve outlet dari tower dibuka agar aliran
udara uman menuju cold box dan tower berada pada kondisi service.

10. Regenerasi, Molecular sieve tower yang telah selesai service diisolasi
untuk persiapan proses regenerasi yaitu proses pengaktifan kembali gel

Jurusan Teknik Kimia


Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

20

alumina dan molecular sieves yang telah jenuh, sedangkan molecular


sieve tower yang telah regenerasi akan melakukan service.
Tabel berikut merupakan komposisi kandungan udara umpan yang
dapat ditolerir sebelum masuk dalam cold box.
Tabel 2.7 Komposisi kandungan udara umpan cold box
( PT Air Liquide Indonesia)
Air
Max Acceptable (solubility in liq.
Max
Composition Average
O2 & deposit in HE)
N
78,11%
2
O
20,96%
2A
0,93%
r
350-450
CO
Pp
600 ppm
0,003
2
m
ppm
H2
a few % Saturation
0,070
O
ppm
C2H2
0,1 ppm
0,5 ppm
0,030
ppm
N
18 ppm
e
H
5,2 ppm
e
CH
1-6 ppm
No danger for distillation
4
1,139
process
K
ppm
r
H2
0,5 ppm
O
0,086
X
ppm
e
2.5.3 Pencairan Udara Umpan
Udara dari molecular sieve adsorber pada temperatur 30oC
dan 27.18 bar gauge dialirkan ke booster untuk dikompresi hingga
tekanan meningkat menjadi 35.02 bar gauge dengan temperatur
58.2oC. Keluaran udara ini didinginkan pada air cooler D-01CE
dengan menggunakan air pendingin yang berasal dari Nytrogen Water
Tower E-60.Temperatur keluaran udara berada pada kondisi 40oC
akibat pertukaran panas dengan air pendingin yang masuk dengan
temperatur 20.5oC.

Jurusan Teknik Kimia


Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

21

Aliran udara ini selanjutnya dialirkan ke Main Heat Exchanger


E-01 dan terjadi pertukaran panas antara aliran udara dengan aliran
pendingin hingga mengakibatkan temperatur udara menjadi -124oC
pada 34.59 bar.

Penurunan temperatur yang besar ini diakibatkan

karena aliran pendingin yang digunakan adalah produk buangan


bertemperatur sangat rendah :
Tabel 2.8 Media pendingin
( PT Air Liquide Indonesia)
Media Pendingin
T (oC)
Liquid Nytrogen (LIN)
Liquid Oxygen(LOX)
Low Pressure Gas Nytrogen(LPGAN)
Waste Gas Nytrogen
Liquid Argon(LAR)

-175.9
-177
-177
-177
-177

Asal
K-01
E-02
E-03
E-03
HP storage

Udara keluaran Main Heat Exchanger E-01 tersebut dibagi


menjadi dua aliran. Sekitar 75% udara dialirkan ke Turbines D-01 A/B
sedangkan 25% sisanya dialirkan ke expansion valve. Pembagian aliran
ini bertujuan untuk mencairkan fasa udara.
Sistem yang digunakan pada proses ini adalah Sistem Claude
yang merupakan gabungan dari sistem ekspansi adiabatik menggunakan
mesin

ekspander

dan

sistem

Joule

Thompson

menggunakan

ekspansionvalve untuk memperoleh udara dalam fasa cair. Pada siklus


ini udara yang terkompresi diumpankan ke Heat Exhanger, 60-80%
dari jumlah udara dialirkan ke ekspander dan sisanya ke expansion
valve. Aliran udara yang keluar dari ekspander dan ekspansion valve
akan berubah menjadi fasa cair karena terjadi penurunan tekanan yang
sangat besar hingga menyebabkan turunnya temperatur udara.
Dua puluh lima persen aliran udara yang dialirkan melalui
ekspansion valve

akan menuju separator B-04 untuk dipisahkan

menjadi 2 fasa, gaseous- airdan liquid-air. Fasa gas akan masuk

Jurusan Teknik Kimia


Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

22

bagian tengah kolom K-01, sedangkan udara dalam fasa cair masuk ke
bagian bawah kolom K-01.
75% aliran udara sisa yang keluar dari Main Heat Exchanger E01 akan dialirkan ke Turbines D-01 A/B untuk diekspansi secara
adiabatik reversibel dari 34.59 bar gauge menjadi 5.315 bar gauge
dengan penurunan temperatur dari -124.6oC menjadi -174.1oC.
Keluaran turbin D-01A/B akan dialirkan ke bagian bawah kolom K01 sebagai umpan proses distilasi.
2.5.4 Distilasi Pemisahan Produk
Proses

pemisahan

Nitrogen,

Oksigen,

dan

Argon

berlangsung melalui empat jenis kolom distilasi utama tipe tray, yaitu :
Tabel 2.9 Kolom distilasi
( PT Air Liquide Indonesia)
Jeni

Fung

Nomor

Medium Pressure
Column K-01
s

Produksi LIN dan


Rich Liquid
si

Low Pressure Column

K-02/03

Crude Argon Column

K-10A/B

Produksi
Oxygen GAN, Crude Argon, LOX
Pemurnian Argon

Pure Argon Column

K-11

Pemurnian Argon

a) Medium Pressure Column (K-01)


Proses distilasi bermula pada kolom K-01 dengan dua aliran
udara umpan yang masuk sebagai umpan, yaitu aliran udara dari
Main Heat Exchanger E-01 dan aliran udara separator B-04. Udara
fasa gas sebanyak 530Nm3/h yang berasal dari separator B-04 masuk
ke bagian tengah kolom K-01 dengan kondisi 176.2oC` pada 5.308 bar gauge, sedangkan udara fasa cairnya
sebanyak 24.000
Nm3/h masuk ke bagian bawah kolom K-01 pada kondisi -176.4oC
pada 5.307 bar. Kolom K-01 beroperasi pada tekanan 5.4 bar abs dan -

Jurusan Teknik Kimia


Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

23

179oC, sehingga pada kondisi tersebut nitrogen akan menguap ke


bagian atas kolom dan oksigen akan mencair turun ke bagian bawah
kolom.
Nitrogen yang menguap sebagai produk atas akan masuk ke
main evaporizer E-02 dengan kondisi -178.8oC pada 5.25 bar abs dan
dikondensasikan dengan oksigen cair bertemperatur -179.3oC dengan
tekanan 1.462 bar abs yang berasal dari bagian bawah kolom K-02
sehingga terjadi perpindahan panas dari gas nitrogen ke oksigen cair.
Oksigen cair akan berubah menjadi gas dan diumpankan menuju
kolom K-02 sedangkan gas nitrogen akan berubah menjadi cair dan
dialirkan ke subcooler E-03 dan ke Main Heat Exchanger E-01.

Gambar 2.3 Distilasi Medium Pressure Column


Pada Main Heat Exchanger E-01 nitrogen cair akan menguap
menjadi NGHP dan dialirkan ke sistem perpipaan sebagai produk.
Sedangkan aliran nitrogen cair dari subcooler E-03 akan masuk ke

Jurusan Teknik Kimia


Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

24

separator B-01 untuk kemudian sebagian dialirkan menuju kolom K-03


sebagai refluks dan sebagian lagi dialirkan ke storage sebagai produk
berupa

LIN dengan kemurnian

yang sangat tinggi (mencapai

99.99%).
b) Low Pressure Column (K-02 dan K-03)
Proses distilasi bermula pada kolom K-02 yang beroperasi
pada -193oC dan 1.461 bar abs. Pada kolom ini terjadi pemisahan
antara nitrogen murni, oksigen murni, dan crudeargon (gas dengan
kandungan argon yang cukup tinggi 7-8 %).
Rich liquide Oxygen (cairan yang mengandung hingga 42%
oksigen) masuk ke kolom K-02 setelah melalui separator B-02 dan
subcooler E-03 untuk ditukarkan sedikit panasnya. Fasa cair dari
separator B-02 akan turun ke bagian bawah kolom dan berkontak
dengan gas yang menguap dari bagian bawah kolom K-02
kandungan

Oksigen

pada

produk

bawah

semakin

sehingga
tinggi

kemurniannya (mencapai 99.85%). Oksigen cair ini dikeluarkan


dengan pompa P-01A/B dan pompa P-04 A/B.
Aliran pompa P-01A/B dibagi menjadi dua aliran, pertama
menuju ke E-02 dan kedua menuju subcooler E-03 untuk dialirkan ke
storage tank sebagai produk LOX. Pompa P-04 A/B mengalirkan
oksigen cair ke Main Heat Exchanger E-01 sehingga diperoleh
produk berupa Oxygen Gas High Pressure (OGHP)dengan kondisi
46oC pada 27 bar abs untuk dialirkan ke sistem perpipaan. Kandungan
nitrogen dan argon yang terkandung dalam Rich Liquide Oxygen
akan menguap ke atas kolom K-03 yang beroperasi pada -193oC dan
0.3 bar abs. Pada kondisi ini akan diperoleh gas nitrogen dengan
kemurnian yang berbeda.
Gas nitrogen dengan kandungan oksigen kurang dari 1 ppm

Jurusan Teknik Kimia


Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

25

dialirkan ke Main Heat Exchanger E-01 melalui subcooler E-03 untuk


mengalami pertukaran panas dan menjadi produk NGLP dengan
kondisi 46oC dan 0.199 bar abs. Sedangkan gas nitrogen dengan
kandungan oksigen lebih dari 1.1 ppm disebut nytrogen waste gas.
Aliran ini digabungkan dengan aliran nytrogen waste gas lain untuk
dialirkan menuju Main Heat Exchanger E-01 melalui subcooler E-03
dan kemudian dialirkan lagi ke Heater E-08 untuk digunakan pada
proses regenerasi adsorber dan ke Nytrogen Tower E-60 untuk
mendinginkan air yang berasal dari cooling tower.
c) Crude Argon Column (K-10A dan K-10B)
Pada bagian tengah antara kolom K-02 dan K-03 terdapat gas
Crude Argon yang dialirkan ke kolom distilasi K-10A untuk
mengalami proses enriching (peningkatan kemurnian Argon). Proses
enriching pada K-10A menggunakan reflukslean liquidargon yang
berasal dari bawah kolom K-10B. Argon yang keluar dari atas kolom
K-10A mengandung 50% oksigen dan 3 ppm nitrogen. Cairan yang
turun ke bawah kolom K-10A mengandung oksigen hingga 88% dan
akan dialirkan balik ke bagian tengah kolom K-02.
Produk atas kolom K-10A masih mengandung nitrogen,
oksigen, dan argon. Oleh karena itu, untuk memisahkan oksigen dari
crude argon perlu dilakukan distilasi di kolom K-10B yang beroperasi
pada kondisi 183.8oC dan 1.433 bar abs. Distilasi ini akan
menghasilkan lean liquid argon di bagian bawah kolom dan rich gas
argon di bagian atas kolom.

Jurusan Teknik Kimia


Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

26

Gambar 2.4 Crude Argon Column


Crude argon yang masuk ke bagian atas kolom K-10B akan
dikondensasi dalam E-10 dengan menggunakan rich liquid okygen
dari kolom K-01. Pada proses ini, oksigen yang masih terkandung
dalam crude argon akan menguap dan kembali ke kolom K-02.
Setelah mengalami proses kondensasi,argon cair masih
mengandung kurang dari 1 ppm oksigen dan 3 ppm nitrogen.
Kandungan nitrogen yang masih cukup tinggi mengakibatkan argon
perlu dimurnikan lagi di kolom K-11.
Argon yang keluar dari kolom K-10B dialirkan ke kolom K-11
setelah dilewatkan E-33 agar terjadi pertukaran panas antara argon
dan

lean

temperatur

liquid oxygen.
-188oC

karena

Kondisi

argon

harus

dijaga

pada

argon memiliki titik beku -189oC.

Apabila temperature argon mencapai titik bekunya, jalannya proses


akan terganggu. Kolom K-11 beroperasi pada kondisi 190oC dan 1.7
bar abs. Pada kondisi tersebut sebagian argon mengalir menuju bawah
kolom dan sebagian lagi ikut teruapkan bersama nitrogen.
Argon yang ikut teruapkan bersama nitrogen pada bagian

Jurusan Teknik Kimia


Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

27

atas kolom dikondensasi dengan kondensor E-16 sehingga nitrogen


terpisah dari nitrogen dan dibuang ke subcooler E-03. Nitrogen yang
dibuang ini akan bergabung dengan aliran waste gas nytrogen yang lain
dan dialirkan ke Main Heat Exchanger E-01.
Sedangkan argon yang mengalir ke bagian bawah kolom
dididihkan dengan reboiler E-15 menggunakan gaseous-air kolom K-01
agar nitrogen yang masih terbawa argon menguap ke atas kolom. Gaseous
air reboiler E-15 akan menjadi liquid air dan dikembalikan ke kolom K01. Argon yang telah dididihkan pada reboiler E-15 mengandung kurang
dari 1 ppm oksigen dan kurang dari 2 ppm nitrogen. Produk ini
dialirkan ke storage tank sebagai LAR pada kondisi -181.5oC dan 1.638
bar abs.
Argon merupakan produk yang sulit didapatkan karena
komposisinya yang sangat kecil dibandingkan oksigen dan nitrogen
sehingga gas dari tangki penyimpanan dikeluarkan dengan cara recycle
melalui kondensor E-30. Media pendingin yang digunakan adalah lean
liquide dan yang keluar dari separator B- 30 adalah lean liquide
vaporizer.
Pada tangki penyimpanan argon sering terjadi pembentukan uap
yang harus dikeluarkan karena produksi argon dilakukan secara kontinu.
Apabila tidak dikeluarkan maka akan terjadi peningkatan tekanan uap
yang sangat besar.

Jurusan Teknik Kimia


Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

28

BAB III
ALAT PROSES DAN INSTRUMENTASI
Dibawah ini ditampilkan Process Flow Diagram (PFD) unit KK-1 PT. Alindo.

Gambar 3.1 PFD ASU plant PT. Alindo

Jurusan Teknik Kimia


Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

29

Tabel 3.1 Kode dan Nama Alat


Kode Alat
CF-01A/B
C-01A/B
C-01EA/B
E-07
R-01/R-02
E-08
E-60
P-60A/B
F-02A/B-F03

Nama Alat
Air filter
Air compressor
Final coolers
Additional cooler
Air purificaton
vessel
Electrical heater
Nitrogen water
tower
Water pumps
Silencer

Kode Alat
E-02
B-04
P-02A/B
P-01A/B

Nama Alat
Main vaporizer
MP air separator
Liquid oxygen pumps
Liquid oxygen pumps

B-02

LP separator

B-03

LP air separator

F-04/F-05/F-06

Silencer

B-01

LIN flash drum

K-10A/K-10B

Crude argon column

D-01CA/B

Main heat
exchanger
Expansion
machine
Air booster

E-03

Subcooler

E-15

D-01CE

Cooler

E-16

K-01
K-02

MP column
LP column
Pure nitrogen
column

E-33
B-33

Pure argon
condenser
Mixture condenser
LIN separator

E-30

Argon recondenser

B-30

LIN separator

E-01
D-01A/B

K-03
P-04A/B

Liquid nitrogen
pumps

E-10
P-10A/B
K-11

Crude argon
condenser
Crude oxygene
pumps
Pure argon column
Boiler of pure argon
column

Jurusan Teknik Kimia


Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

30

3.1 Air Compressor C01A dan C01B


Tabel 3.2Spesifikasi alat air compressor C01A dan C01B
Fungsi

Menaikkan tekanan udara dari tekanan atmosferik menjadi 27,6 bar


absolut

3.2 Turbines Boosters D01A dan D01B


Tabel 3.3Spesifikasi alat Turbines Boosters D01A dan D01B
Fungsi

Booster untuk mengkompresikan udara dan tubine untuk menurunkan


tekanan udara sehingga diperoleh temperature rendah yang diperlukan
untuk mencairkan udara.

3.3 Molecular Sieve Unit


Tabel 3.4Spesifikasi Molecular Sieve Unit
Fungsi

menghilangkan kandungan uap air, karbon dioksida, dan hidrokarbon

Struktur

terdiri dari tangki vertikal R01 dan R02 secara paralel. Tiap adsorber
terdiri dari alumina bed (bawah) dan molecular sieve bed (atas).

Tipe

Vertical radial bed

3.4 Main Cold Box


Tabel 3.5Spesifikasi Main Cold Box
Fungsi

melindungi kolom distilasi temperatur rendah agar tidak terjadi kontak


dengan temperatur udara luar.

Sruktur

Konstruksi baja yang berisi peralatan-peralatan proses seperti main heat


exchanger, main evaporizer, subcooler, rectification column, dan
separator. Cold box ini diisolasi menggunakan perlite yang difluidisasi
menggunakan seal gas berupa wastenytrogen.

Jurusan Teknik Kimia


Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

31

3.4.1 Main Heat Exchanger E01


Tabel 3.6 Spesifikasi Main Heat Exchanger E01
Fungsi

mendinginkan udara yang berasal dari booster D01 dengan media


pendingin gas Nitrogen dari bagian atas kolom K01, Oksigen cair dari
E02, waste dan gas Nitrogen dari E03, serta Argon cair dari Argon
Storage.

Tipe

Plate and Fin

Bahan

Aluminium

3.4.2 Subcooler E-03


Tabel 3.7 Spesifikasi Subcooler E-03
Fungsi

Alat penukar panas tambahan yang memanfaatkan gas Nitrogen dari


bagian atas kolom K-03 dan Nitrogen cair dari condenser E-02 untuk
mendinginkan berbagai aliran gas yang masuk ke dalamnya.

Tipe

Plate and Fin

Bahan

Aluminium

3.4.3 Main Vaporizer E-02


Tabel 3.8 Spesifikasi Main Vaporizer E-02
Fungsi

sebagai kondensor bagi gas Nitrogen pada bagian atas kolom K-01
dengan menggunakan pendingin Oksigen cair.

Bahan

Aluminium

Jurusan Teknik Kimia


Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

32

3.4.4 Rectifaction Column K-01, K-02, dan K-03


Tabel 3.9Rectifaction Column K-01, K-02, dan K-03
K-01 sebagai kolom distilasi dengan umpan berupa udara untuk

Fungsi

menghasilkan Nitrogen cair sebagai produk atas dan rich liquid oksigen
sebagai produk bawah. K-02 dan K-03 sebagai kolom distilasi dengan
menggunakan umpan berupa rich liquid dan lean liquid untuk
menghasilkan gas Nitrogen sebagai produk atas, crude Argon dibagian
tengah kolom, dan liquid Oksigen sebagai produk bawah.
Bahan

Stainless Steel dan Aluminum

Tipe Tray

AL Aluminium Structure Packing (AST)

Buatan

Air Liquide

3.4.5 Separator Column B-01, B-02, B-03, dan B-04


Tabel 3.10 Separator Column B-01, B-02, B-03, dan B-04
Fungsi

B-01 sebagai pemisah fasa cair dan gas dari aliran Nitrogen cair yang
berasal dari kolom K-01. B-02 sebagai pemisah fasa cair dan gas dari
aliran rich liquid yang berasal dari kolom K-01. B-03 sebagai pemisah
fasa cair dan gas dari aliran lean liquid yang berasal dari kolom K-01.
B-04 sebagai pemisah fasa cair dan gas dari aliran udara sebagai umpan
K-01.

Bahan

Stainless Steel

Buatan

Air Liquide

Jurusan Teknik Kimia


Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

33

3.5 Argon Cold Box


Tabel 3.11Spesifikasi Argon Cold Box
Memisahkan dan memurnikan Argon dari kandungan Oksigen dan

Fungsi

Nitrogennya. Umpan yang masuk berasal dari kolom K-02 yaitu rich
liquid Oksigen.
Sruktur

Terdiri dari dua kolom destilasi, yaitu Crude Argon Column dan Pure
Argon Column. Peralatan yang terdapat pada Argon Cold Box yaitu
Crude Argon Column Condenser, Pure Argon Column Vaporizer, Pure
Argon Condenser, Argon Column, dan Lean Liquid Separator.

3.5.1 Crude Argon Column Condenser E10


Tabel 3.12 Spesifikasi Crude Argon Column Condenser E10
Fungsi

Mengkondensasi gas Oksigen yang terbawa gas crude Argon dalam


kolom K10B dengan menggunakan pendingin rich liquid dari K01.

Bahan

Aluminum

3.5.2 Crude Argon Column Vaporizer E15


Tabel 3.13 Spesifikasi Crude Argon Column Vaporizer E15
Fungsi

Menguapkan Nitrogen yang masih terkandung dalam Argon dengan


menggunakan pemanas gaseous-air dari kolom K-01.

Bahan

Aluminum

3.5.3 Pure Argon Condenser E16


Tabel 3.14 Spesifikasi Pure Argon Condenser E16
Fungsi

Mengkondensasi gas Argon yang ikut terbawa waste Nitrogendalam


kolom K11 dengan menggunakan pendingin lean liquid dari E03.

Bahan

Aluminum

Jurusan Teknik Kimia


Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

34

3.5.4 Argon Column K10A, K10B & K11


Tabel 3.15 Argon Column K10A, K10B & K11
Fungsi

Memisahkan Argon dari kandungan Oksigen dan Nitrogen.

Bahan

stainless steel dan Aluminum

Buatan

Air Liquide

Tipe Tray

AL Aluminium Structure packing (AST)

3.5.5 Lean Liquid Separator B30 & B33


Tabel 3.16 Lean Liquid Separator B30 & B33
Fungsi

Memisahkan fasa cair dan gas dari lean liquid.

Bahan

stainless steel

Buatan

Air Liquide

Tipe Tray

AL Aluminium Structure packing (AST)

3.6 Sistem Instrumentasi


PT. Alindo menggunakan dua jenis control loop, yaitu open loop dan close
loop. Open loop hanya berlangsung dari satu arah, yaitu dari alat ukur ke Distribution
Control System(DCS). Sedangkan close loop berlangsung secara dua arah, alat ukur
menyampaikan sinyal hasil pengukuran ke DCS, kemudian operator yang ada di DCS
akan mengirimkan sinyal balik untuk mengendalikan control valve sebagai hasil
respon dari hasil pengukuran. Koreksi terhadap parameter pada close loopbertujuan
menjaga kemurnian oksigen dan nitrogen yang diperoleh, optimasi energi yang
digunakan, dan optimasi ekstraksi argon dari udara.
Beberapa besaran-besaran proses yang diukur meliputi :
1. laju alir
2. tekanan
3. temperature
4. ketinggian dalam tangki.
Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

35

Terdapat beberapa tipe alat ukur dengan prinsip kerja yang berbeda, sebagian
besar merupakan sistem yang berjalan secara otomatis. Dari hasil pengukuran yang
tampak di layar monitor DCS, operator akan menentukan set point yang diinginkan,
kemudian DCS akan memberikan sinyal elektrik ke control valve untuk mengubah
bukaannya sehingga dicapai set point.
3.7 Sistem Interlock
Sistem interlock adalah suatu cara untuk mengamankan jalannya proses serta
pengaman peralatan dari unit yang paling kecil sampai keseluruhan sistem. Alat
pengaman yang digunakan terkait menjadi satu kesatuan yang bekerja secara serentak
apabila kondisi proses atau alat mengalami gangguan. Sistem interlock juga
dilengkapi dengan sistem untuk menjaga kelancaran operasi dari suatu mesin. Sistem
interlock juga dilengkapi dengan sistem bypass yang berupa switch. Hal ini ditujukan
untuk menonaktifkan sistem interlock saat diperlukan suatu perbaikan atau terjadi
kerusakan. Ada dua tahapan sistem pengamanan yaitu:
1. Alarm
Alarm atau peringatan tanda bahaya dapat berupa lampu, bel, horn dan tandatanda lain yang menyatakan bahwa proses atau alat dalam keadaan bahaya di
karenakan ada gangguan
2. Shut Down ata Trip
Ini adalah suatu kondisi proses yang sudah mencapai batas bahaya yang
tertinggi atau adanya kerusakan pada suatu alat yang menyebabkan pabrik
mati sebagian atau keseluruhan.
3.8 Sistem Analisa Produk
Produk yang dihasilkan di PT. Alindo memiliki ketentuan tertentu dalam hal
komposisi dan kemurnian.Untuk menjaga kualitas produk yang dihasilkan perlu
dilakukan suatu analisa produk secara menyeluruh baik pada kolom distilasi maupun
pada storage tank.
Peralatan yang digunakan untuk analisa produk pada kolom distilasi meliputi :

Jurusan Teknik Kimia


Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

36

1. Analisa O2
Untuk menganalisis O2, digunakan trace oxygen analyzer dan percentage
oxygen, fungsinya yaitu:
-

Trace Oxygen Analyzer : mengukur kadar O2 sebagai pengotor dalam


gas

Percentage Oxygen : mengukur kemurnian Oksigen sebagai produk

2. Analisa N2
Untuk menganalisis N2, digunakan trace oxygen analyzer dan percentage
oxygen, fungsinya yaitu:
-

Trace Nitrogen Analyzer : mengukur kadar N2 sebagai pengotor dalam


gas

Percentage Nitrogen : mengukur kemurnian Nitrogen sebagai produk

3. Analisa CO2
Untuk menganalisis CO2, alat yang digunakan adalah:

- Trace CO2 Analyzer : mengukur kadar CO2 yang keluar dari absorber
Selain analisa langsung pada kolom distilasi, analisa gas pada storage tank
juga dilakukan dengan menggunakan Gas Chromatography. Hal ini bertujuan untuk
mengetahui kandungan hidrokarbon dan karbondioksida pada produk, khususnya
pada LOX, LIN, dan LAR.
Analisa Gas Chromatography menggunakan prinsip perbedaan waktu retensi
dengan gas hidrogen sebagai gas pembawa sampel ke dalam kolom yang berisi
adsorben. Setiap unsur akan melalui kolom dengan kecepatan berbeda sehingga
komposisi gas dapat diidentifikasi berdasarkan perbedaan waktu retensinya.
3.9 Storage tank
Produk dari PT. Alindo berbentuk gas dan cair. Untuk produk oksigen, nitrogen
dan argon yang berupa gas akan langsung dialirkan melalui pipeline sehingga tidak
ditampung terlebih dahulu. Sedangkan produk dalam bentuk liquid akan disimpan
pada penampung elipsoidal double wall tank, yang diberi warna putih. Bahan dasar

Jurusan Teknik Kimia


Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

37

untuk dinding pertama adalah stainless steel dan untuk dinding kedua digunakan
carbon steel. Diantara dinding pertama dan kedua digunakan perlit sebagai isolator.
3.9.1.1

Liquid Oxygen (LOX) Storage

Peralatan yang digunakan untuk menyimpan oksigen harus terbuat dari material
yang sesuai untuk bekerja pada temperatur rendah. Tembaga, kuningan, dan stainless
steel adalah metal yang biasa dipergunakan. Peralatan juga harus dihindarkan dari
minyak/pelumas untuk menghindari reaksi antara pelumas dengan oksigen yang
dapat menimbulkan ledakan. LOX disimpan dalam 4 buah tangki yang diletakkan
secara horizontal. Tekanan di dalam tangki berkisar antara 0.5-1 bar.
3.9.1.2

Liquid Nitrogen (LIN) Storage

Nitrogen tidak menyebabkan karat sehingga semua jenis metal dapat


dipergunakan sebagai bahan tempat penyimpanan, asalkan peralatan dirancang untuk
tahan terhadap tekanan dan temperatur rendah. LIN disimpan dalam tangki yang
dipasang secara vertikal. Tekanan di dalam tangki berkisar antara 50-55 mbar.
3.9.1.3

Liquid Argon (LAR) Storage

Argon tidak menyebabkan karat sehingga semua jenis metal dapat


dipergunakan sebagai bahan tempat penyimpanan, asalkan peralatan dirancang untuk
tahan terhadap tekanan tinggi dan temperatur rendah. LAR bertekanan tinggi (13-17
bar) disimpan dalam tangki penampung yang diletakkan secara vertikal. Sedangkan
LAR bertekanan rendah (0.5-1 bar) disimpan dalam tangki yang diletakkan secara
horizontal.

Jurusan Teknik Kimia


Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

BAB IV
UTILITAS DAN PENGOLAHAN LIMBAH

4.1

Utilitas
Unit utilitas yang terdapat di PT. Air Liquide Indonesia terdiri dari dua sub

unit, yaitu:
1. Sub unit air pendingin
2. Sub unit penyediaan energi listrik
Unit-unit ini diperlukan untuk mendukung jalannya proses industri keseharian PT.
Air Liquide Indonesia.
4.1.1 Sub Unit Air Pendingin
Pada PT. Air Liquide Indonesia, air memegang peranan yang sangat penting
sebagai pendingin untuk udara proses serta pendingin mesin. Secara khusus, air akan
berfungsi sebagai fluida pendingin dan penukar panas pada heat exchanger yang
disebut sebagai cooling water system. Air dipilih sebagai media pendingin karena
memiliki beberapa kelebihan, yaitu:
a)

Tersedia dalam jumlah banyak.

b)

Mudah diperoleh.

c)

Harganya murah.

d)

Mudah ditangani dan mudah dipompa.

e)

Tidak terdekomposisi.

f)

Dapat menyerap banyak panas.

g)

Ramah lingkungan
Sistem air pendingin dibagi menjadi dua jenis berdasarkan jenis alirannya,

yaitu:

Jurusan Teknik Kimia


Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

39

4.1.1.1

Once trough system

Sistem ini merupakan sistem air pendingin yang paling sederhana, terdiri dari
satu unit alat penukar panas dan satu unit pompa. Air dipompa dari sumber dan
melewati alat penukar panas untuk menyerap panas dari fluida lainnya. Air yang telah
menyerap panas kemudian dipompa ke tempat pembuangan.
Sistem ini biasanya digunakan oleh industri yang berlokasi di sekitar sumber
air kerena membutuhkan air dalam jumlah besar untuk mencapai kinerja yang
diinginkan. Keunggulan dari Once trough system ini adalah biaya yang dibutuhkan
rendah dan perubahan temperatur yang terjadi pada air sangat kecil. Sedangkan
kerugiannya yaitu membutuhkan air dalam jumlah besar serta memungkinkan
terjadinya polusi termal.
4.1.1.2

Recirculating system

Sistem ini menggunakan kembali air pedingin yang telah digunakan untuk
proses yang sama setelah melewati proses pendinginan, sistem ini terdiri dari dua
jenis, yaitu:
a. Open recirculating system
Pada sistem ini, air yang akan didinginkan dikontakkan dengan udara
bebas. Air didinginkan melalui transfer panas sensible, dan melalui transfer panas
laten akibat evaporasi yang terjadi. Sistem ini memungkinkan adanya
penambahan air karena ada sebagian air yang hilang pada proses penguapan dan
pembuangan.
Proses pendinginan dengan evaporasi dapat dipercepat dengan memasang
kipas sehingga aliran udara akan lebih cepat, cara lainnya yaitu dengan memecah
aliran air menjadi butiran-butiran kecil sehingga luas permukaan evaporasi
bertambah.
Contoh utilitas dari open recirculating system yaitu : spray ponds, cooling
tower, dan evaporative condenser. Karakteristik dari sistem ini adalah penguapan
Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

40

air yang terjadi tidak terlalu banyak dan perubahan temperatur yang terjadi sekitar
11,1-16,6C.
b. Closed recirculating system
Pada sistem ini, proses pemindahan panas menggunakan air pendingin
dengan volume tetap karena tidak ada kontak antara air pendingin dan udara
selama sirkulasi sehingga tidak terjadi kehilangan air karena evaporasi
(penguapan). Sisem ini menggunakan dua buah alat penukar panas dan satu buah
pompa.
Klasifikasi open recirculating system :
1. Natural Draft Tower
Udara mengalir secara alami dari bawah tower ke bagian atas, dan air yang
didinginkan dalam arah berlawanan. Hal ini dimungkinkan karena bentuk
tower yang hiperbolik.
2. Mechanical Draft Tower
Udara pendingin digerakkan dengan kipas. Pada forced draft tower, air
didorong melalui tower. Pada umumnya energi yang digunakan besar
sehingga jarang dipakai pada sistem yang kecil. Pada induced draft tower,
udara ditarik melalui tower, secara searah maupun berlawanan dengan arah
jatuhnya air.
3. Evaporative Condenser
Gabungan antara closed dan open recirculating system. Selain kontak dengan
udara langsung, ada air yang tidak kontak langsung dengan atmosfer, tetapi
mengalir dalam koil.
PT. Air Liquide Indonesia menggunakan sistem pendingin open
recirculating. Media yang digunakan untuk mendinginkan air yang berasal dari
pabrik adalah sebuah cooling tower dengan tipe Mechanical Draft Crossflow.

Jurusan Teknik Kimia


Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

41

Pada air, terdapat berbagai pengotor yang seperti padatan terlarut


(natrium, magnesium, dll), material terlarut (tanah liat, lumpur pasir), serta gas
terlarut. Pengotor tersebut dapat menyebabkan korosi dan penyumbatan pada
pipa. Untuk mengatasinya, air yang digunakan sebagai media pendingin harus
diolah dengan menambahkan beberapa senyawa kimia yang dapat mengurangi
kemungkinan timbulnya kerusakan pada proses. Senyawa kimia yang digunakan
didapat dari PT.Ondeo Nalco, seperti :
1. N-7342

: Biodispersant penambah klorin

2. N-7356XP

: Corrosion inhibitor

3. N-7359

: Corrosion inhibitor dengan zat aktif Zn-PO4

4. N-23102

: Dispersant dan scale inhibitor

5. ST-70/ST-40

: Oxidizing biocide dengan penstabil bromine

6. N-7358

: Corrosion inhibitor dan dispersant

7. N-3690

: Trasar scale inhibitor dan dispersant

8. N-4661

: Scale inhibitor dan dispersant dengan inhibitor


logam kuning.

9. N-7634

: Bicode dalam control mikroorganisme

10. N-7340L

: Sebagai pengontrol mikroorganisme

11. N-7336

: Algicide

4.1.2 Sub Unit Penyediaan Energi Listrik.


PT. Air Liquide Indonesia memerlukan energi listrik dalam jumlah besar untuk
menjalankan proses yang menggunakan turbin, kompresor, pompa, instrumentasi dan
alat-alat pendukung lainnya.
Penyediaan energi listrik untuk kebutuhan operasi pabrik sehari-hari
disediakan oleh PLN. PT. Air Liquide Indonesia juga memiliki dua buah generator
untuk mempertahankan keadaan apabila terjadi black out hingga terdapat aliran listrik
Jurusan Teknik Kimia
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

42

kembali. Adapun kebutuhan jumlah listrik perjam untuk unit Krakatau II mencapai
22600-22900 kW/h.
4.2

Pengolahan Limbah
Proses produksi PT. Air Liquide Indonesia dapat dikatakan hampir tidak

menghasilkan limbah. Limbah yang dihasilkan hanyalah waste nitrogen, dan debu
yang tidak berbahaya.
1. Debu
Filter yang digunakan untuk menyaring umpan udara bebas akan menangkap
pengotor berupa debu maupun partikel-partikel berukuran besar. Debu ini akan
dibuang ke udara bebas dengan cara hammering ketika mencapai ketebalan
tertentu. Pembuangan debu ini ke lingkungan tidak berbahaya karena jumlahnya
yang sangat sedikit.
2. Produk Sisa
Apabila terdapat kelebihan produksi, maka ada kemungkinan untuk membuang
gas hasil produk (oksigen, nitrogen, argon) ke udara. Pembuangan gas dilakukan
di tempat terbuka dengan ketinggian yang aman. Gas yang dibuang akan langsung
bercampur dengan udara bebas sehingga tidak membahayakan lingkungan.

Jurusan Teknik Kimia


Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Dari pembahasaan diatas, didapat beberapa kesimpulan dan saran sebagai berikut :
a. Besarnya flow umpan mempengaruhi besarnya power yang diperlukan pada
kompresor.
b. Untuk kompresor multistage, rasio kompresi untuk tiap stage harus sama agar power
yang diperlukan minimum.

c. Rasio kompresi pada tiap stage sebaiknya dijaga agar tetap konstan untuk power
yang minimum.
d. Jika flow umpan diperkecil, power supply baiknya disesuaikan untuk menghemat
energi.
e. Sistem pemisahan udara PT. Air Liquide Indonesia menggunakan sistem Claude
yang termodifikasi sehingga menghasilan kinerja yang efektif dan efisien.
f. Proses pemisahan udara menggunakan distilasi kriogenik mampu menghasilkan
oksigen, nitrogen, dan argon dengan tingkat kemurnian yang tinggi.
5.2 Saran
a. Penggunaan kompresor secara bergantian untuk mengurangi beban kerja
b. Udara umpan yang masuk disesuaikan dengan kebutuhan produksi untuk
mengurangi biaya produksi akibat penggunaan power yang besar pada
kompresor.
c. Diperlukan instalasi alat kedap suara pada kompresor untuk mengurangi
kebisingan dari kompresor.
d. Selalu memperhatikan filter udara supaya debu tidak masuk kompresor.
e. Perawatan yang teratur diperlukan untuk mencegah kerusakan pada kompresor.

Jurusan Teknik Kimia


Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

DAFTAR PUSTAKA

Barron, Randall. Cryogenic Systems. McGraw-Hill Companies, Inc. New York.


Cristie, Geancoplish. 1993. Transport Process and Unit Operation. McGraw-Hill
Companies, Inc. New York.
Flyne, Thomas M. 2005.Cryogenic Engineering Secon Edition Revised and
Expanded. Marcel Dekker, New York.
McCabe. 1993. Operasi Teknik Kimia. McGraw-Hill Companies, Inc. New York.
Perry, R.H and Green, D.W.1973. Perrys Chemical Handbook 6 th edition. Mc
Graw-Hill Book Companies, Inc. New York.
Smith,J.M,H.C Van Ness,H.M Abbot.2005. Introduction to Chemical Engineering
Thermodynamics Seventh Edition. New York,America, Mc Graw Hill

Jurusan Teknik Kimia


Universitas Sultan Ageng Tirtayasa