Anda di halaman 1dari 14

FUNGSI CHEMORESEPTOR PADA LOBSTER

Oleh :
Nama
NIM
Rombongan
Kelompok
Asisten

:
:
:
:
:

Moch Iqbal Sufyan A


B1J013025
IV
2
Venthyana Lestary

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN II

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2015

I. PENDAHULUAN
I.1

Latar Belakang
Vertebrata memiliki sistem indera yang lebih berkembang daripada
invertebrata. Indera yang umum dikenal pada organisme ada lima yaitu indera
penglihatan, pendengaran, peraba, penciuman dan perasa. Secara luas,
kemampuan indera-indera tersebut dibagi menjadi lima kategori yaitu
mechanoreseptor, reseptor rasa sakit, thermoreseptor, chemoreseptor dan reseptor
elektromagnetik (Campbell, 2004).
Chemoreseptor merupakan alat indera yang bereaksi terhadap zat-zat
kimia, antara lain pakan. Chemoreseptor digunakan untuk mengenali stimulus
yang berasal dari sumber yang jauh dari tubuh, alat itu berupa rambut-rambut
pada antenulla dengan nilai ambang yang sangat rendah. Chemoreseptor berfungsi
untuk mendeteksi dan mengetahui adanya makanan, dan tempat hidupnya,
mengenal satu sama lain dengan menunjukkan tingkah laku masak kelamin
(mating), dan mendeteksi adanya musuh. Terdapat dua macam chemoreseptor,
yaitu untuk mengenali stimulus yang berasal dari sumber yang jauh dari tubuh,
berupa rambut pada antena dengan nilai ambang yang sangat rendah, stimulus
berupa gas berkonsentrasi rendah. Kedua untuk mengenali stimulus yang berasal
dari sumber yang dekat, berupa palpus maksilaris dan sering pada torsi dengan
nilai ambang yang tinggi, sehingga untuk mengetahui letak stimulus berdasarkan
konsentrasi stimulus dalam bentuk gas tersebut, untuk dapat mengetahui jauh
dekatnya rangsangan (Ville et al.,1988).
Individu lobster (Cherax quadricarinatus) dapat dikenal didasarkan pada
deteksi urin feromon melalui chemoreseptor yakni antennula flagela lateral.
Sensor spesifik diperoleh melalui tahap mediasi yang belum diketahui
penyebabnya. Kebanyakan sel chemoreseptor memiliki flagela yang banyak
ditemukan pada sensilla aestetas unimodal dan kerja spefikasi glomeruli lobus
olfaktori di bagian otak. Sel chemoreseptor tambahan terletak disekitar sel
mechanoreseptor pada sensilla bimodal, termasuk rambut penjaga yang semua
lobus olfaktorinya tidak bekerja (Johnson, 2005).

I.2

Tujuan

Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui fungsi-fungsi chemoreseptor


pada lobster.

II.
2. 1

Materi

MATERI DAN CARA KERJA

Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah lobster (Cherax


quadricarinatus) sebanyak 4 ekor dan pakan berupa pellet.
Alat yang digunakan adalah akuarium, stopwatch dan gunting kecil.
2. 2

Cara Kerja
1. Akuarium diisi dengan air tawar bersih
2. Lobster 1 diberi perlakuan ablasi atau perusakan pada antennula,
lobster 2 diberi perlakuan ablasi pada mata, lobster 3 dilakukan ablasi
total atau ablasi pada mata dan antenullanya.
3. Lobster 4 dibiarkan utuh sebagai kontrol
4. Pakan disajikan ditengah akuarium, bersamaan dengan pakan tersebut
disentuh lobster, tombol pada stopwatch ditekan
5. Gerakan lobster-lobster didalam akuarium diamati (flicking, withdraw,
wipping, rotation) dan dicatat waktu yang diperlukan bagi lobster 1, 2,
3 ,dan 4 sejak pakan disajikan sampai pakan tersebut dimakan.
6. Pengamatan dilakukan 2 x 10 menit.
7. Dibuat tabel hasil pengamatan.

III.
III.1

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Tabel 1. Pengamatan Gerakan Antenulla Lobster sebagai Respon terhadap


Pakan Pelet
Perlakua
n
Ablasi

Waktu

Flicking

Withdraw Wiping

Rotasi

10 I

Mendekat
i pakan
-

Antenula

10 II

10 I

32
1
133
158
28
423
429
446
546
629
856

15
8
913
958

734

816

59
145
222
417
427
618
75
828

42
121
229
255
437
548
640
87
932
950

144
37
353
717
826
92

10
56
524

221
656
733
915
959

557
829

154
204
214
221
234
253
259
311
330
412
418
433
457
547
709
805
839

Normal

10 II

10I

Ablasi
Mata

Ablasi
Total

10II

10I

503
510
853
918
1000

500
504
940

10II

Tabel 2. Pengamatan Gerakan Antenulla Lobster sebagai Respon terhadap


Pakan Tubifex sp.
Perlakua
n

Waktu

10I

Normal
10II

Flicking Withdraw
033
704
810

054

130
112
120
124
131
136
206
208
211
247
250
310
320
325
338
354
430
436
452
537
543
551
615
645
649
704
713
821
843
900
910

014
145
449
721
928
941
943

Wiping

Rotasi
511

800

030
042
142
203
220
254
300
328
458
556
607
646
757
808
827
838
848
930

Mendekati
pakan
414
746
827
900
338
348
358
400
416
506
650
657
709
738
746
814
915
934

Ablasi
Mata

Ablasi
Total

10I
10II
10I
10II

312
558
750

313
559
751

648
757

612

213
605

341

531

10I

10II

Ablasi
Antenula

631
905
914

458
713
812
612
819
934

III.2 Pembahasan
Cherax quadricarinatus atau yang di daerah asalnya biasa disebut dengan
Red claw adalah salah satu jenis lobster air tawar yang mempunyai potensi
untuk dikembangkan sebagai organisme budidaya. Hewan ini berasal dari daerah
Queesland yaitu wilayah bagian utara Australia yang mempunyai iklim tropis
seperti Indonesia sehingga besar kemungkinan untuk membudidayakan lobster air
tawar ini di Indonesia. Beberapa keunggulan yang dimiliki oleh hewan ini
diantaranya adalah pertumbuhannya yang relatif cepat, mampu dibudidayakan
pada kepadatan yang tinggi, mampu menerima pakan buatan dengan kebutuhan
protein yang tidak begitu tinggi dan penampakannya mirip seperti lobster laut

yang banyak dikonsumsi dan digunakan sebagai bahan percobaan (Radiopoetro,


1978).
Berdasarkan hasil pengamatan menunjukkan hasil yang berbeda-beda.
Perlakuan pada lobster dengan pakan pelet yang diablasi antenulla menunjukkan
bahwa pada pengamatan 10 menit pertama dan pengamatan 10 menit kedua tidak
ada gerakan mendekati pakan. Perlakuan normal pada menit ke-10 pertama lebih
responsif dibanding menit ke-10 kedua. Perlakuan ablasi mata pada 10 menit
pertama tidak memberikan pergerakan apapun, sedangkan pada 10 menit kedua
lebih responsif dengan melakukan pergerakan flicking dan mendekati pakan.
Perlakuan ablasi total pada 10 menit pertama lobster melakukan pergerakan
mendekati pakan, sedangkan pada 10 menit kedua lobster tidak melakukan
pergerakan apapun. Perlakuan ablasi antenulla dan ablasi total, tidak terjadi
gerakan antennula karena antennula telah dipotong, pada ablasi total terjadi
gerakan mendekati pakan namun tidak sebanyak gerakan mendekati pakan pada
lobster normal yang tidak dilakukan ablasi pada mata maupun antennulanya. Hal
ini dapat terjadi karena antennula, organ yang berfungsi sebagai reseptor telah
hilang. Utuhnya antenulla pada lobster normal menyebabkan lobster dapat
menerima rangsangan dari lingkungannya sehingga ia memerlukan waktu singkat
untuk mendeteksi pakan (Roger, 1978). Lobster yang diablasi antenullanya sudah
tidak dapat melakukan flicking, wipping, withdraw, rotation dan mendekati pakan.
Hal ini membuktikan bahwa pentingnya antenulla dalam respon terhadap
aktifitasnya. Lobster dengan perlakuan ablasi mata masih bisa melakukan gerakan
seperti flipping, wipping, withdraw, rotation dan mendekati pakan. Sedangkan
lobster dengan ablasi total tidak dapat melakukan gerakan apapun kecuali
mendekati pakan. Gerakan flicking, wipping, dan withdraw pada lobster kontrol
mendominasi gerak antenulla. Menurut Radiopoetro (1978), pada perlakuan ablasi
total dan antenulla, tidak terjadi gerakan karena organ yang berfungsi sebagai
reseptor telah hilang. Berdasarkan pada pengataman yang dilakukan, diketahui
bahwa pakan sangat berpengaruh pada perlakuan lobster yang diamati. Lobster
yang diberi pakan Tubifex sp. lebih responsif dibandingkan dengan lobster yang
diberi pakan pelet.

Lobster yang paling responsif terhadap pakan adalah lobster dengan


perlakuan normal dan perlakuan ablasi mata. Hal tersebut sesuai dengan
pernyataan Storer (1975), yang menyatakan bahwa antenulla pada lobster
merupakan struktur sensor yang dapat bergerak untuk mencari perlindungan,
makan, dan mencari pasangan serta menghindari predator. Oleh karena itu lobster
yang tidak diberi perlakuan ablasi antenulla akan berespon terhadap pakan, karena
fungsi dari antenulla tersebut akan hilang jika dilakukan ablasi atau pemotongan
salah satu organ tertentu. Fungsi dari antenulla menangkap stimulus kimia berupa
feromon dari hewan lawan jenis juga untuk mengetahui posisi tubuh. Menurut
Erwinda (2008), Lobster yang akan diablasi dipersiapkan untuk memasuki puncak
reproduktif. Jika ablasi dilakukan saat tahap premolting maka akan menyebabkan
molting, ablasi segera setelah lobster molting dapat menyebabkan kematian, dan
ablasi selama intermolt menyebabkan perkembangan ovum. Cara ablasi salah satu
tangkai mata yang menyediakan hormon yang berfungsi sebagai stimulus untuk
reabsorbsi ovum. Beberapa peneliti telah menunjukkan bahwa ablasi juga dapat
meningkatkan pertumbuhan lobster.
Menurut Campbell et al., (2004), berdasarkan jenis energi yang dideteksi
(yang ditransduksikan), reseptor sensoris dibagi menjadi lima kategori yaitu
mechanoreseptor, reseptor rasa sakit, thermoreseptor, chemoreseptor dan reseptor
elektromagnetik. Mechanoreseptor merupakan reseptor yang mampu mendeteksi
perubahan berupa sel-sel didekat reseptor tersebut. Thermoreseptor adalah
reseptor yang mampu mendeteksi perubahan suhu, beberapa reseptor mendeteksi
hangat dan sebagiannya mendeteksi dingin. Nosireseptor merupakan reseptor
yang mampu mendeteksi rasa nyeri, umumnya rasa nyeri timbul karena kerusakan
fisik dan kimia. Chemoreseptor merupakan reseptor yang mampu mendeteksi
indera pengecapan didalam mulut, kadar oksigen didalam darah arteria, indera
penciuman, konsentrasi karbondioksida. Reseptor elektromagnetik merupakan
reseptor yang mampu mendeteksi cahaya pada retina mata.
Chemoreseptor merupakan alat indera yang bereaksi terhadap zat-zat
kimia, antara lain pakan. Chemoreseptor digunakan untuk mengenali stimulus
yang berasal dari sumber yang jauh dari tubuh, alat itu berupa rambut-rambut
pada antenulla dengan nilai ambang yang sangat rendah. Chemoreseptor menurut

Gordon (1982), berfungsi untuk mendeteksi dan mengetahui adanya makanan,


dan tempat hidupnya, mengenal satu sama lain dengan menunjukkan tingkah laku
masak kelamin (mating), dan mendeteksi adanya musuh. Hanya dengan stimulus
berupa gas berkonsentrasi rendah, chemoreseptor telah dapat mengenali (Ville et
al., 1988).
Chemoreseptor juga digunakan oleh lobster untuk mengetahui adanya
predator, lawan jenis, serta makanan. Lokasi makanan, tingkah laku penghindaran
terhadap predator pada lobster, serta pendekatan lawan jenis, diperantarai oleh
antenulla. Pada antennula terdapat sel-sel yang dapat membaui adanya rangsang
kimia dari lingkungan terutama peka terhadap asam-asam amino dan karbohidrat
dari pakan (Radiopoetro,1978).
Hasil percobaan yang dilakukan menyatakan bahwa lobster melakukan
beberapa gerakan flicking, wipping, withdraw, rotation, dan mendekati pakan.
1. Gerakan flicking, yaitu gerakan dimana lobster melakukan gerakan
pelucutan antenulla ke depan, dan gerakan tersebut berfungsi dalam
mencari atau mendekati pakan.
2. Gerakan wipping, yaitu gerakan pembersihan antenulla, dimana gerakan
tersebut berfungsi dalam pembersihan setelah mendapatkan makanan atau
setelah memakan pakan.
3. Gerakan withdraw, yaitu gerakan dimana lobster melakukan gerakan
pelucutan ke belakang, dimana gerakan tersebut berfungsi untuk melawan
atau menghindari musuh yang akan mendekatinya.
4. Gerakan rotation, yaitu gerakan pemutaran antenulla yang berfungsi untuk
mencari sensor kimia. Frekuensi flicking, dipengaruhi oleh keadaan
fisiologis lobster seperti parameter sensori berupa kimia, cahaya, osmotik,
dan rangsangan mekanik (Gordon et al., 1982).
Mekanisme stimulus yang sampai ke lobster dan diterima oleh organ
chemoreseptor adalah senyawa yang terkandung dalam pakan yang dimasukkan
ke dalam air akan berdifusi dalam air menjadi bentuk-bentuk ion-ion, sehingga
menimbulkan aroma yang khas bagi lobster. Rangsangan ini diterima oleh
chemoreseptor melalui antenulla dan ditransformasi ke otak oleh neuron efferent,
kemudian otak akan memprosesnya menjadi tanggapan yang kemudian akan
diteruskan ke organ melalui neuron afferent, selanjutnya organ reseptor

melakukan gerakan sesuai informasi dari otak. Berdasarkan mekanisme ini dapat
diketahui bahwa organ chemoreseptor lobster terletak pada antenulla yang
berfungsi untuk merespon kehadiran pakan yang beraroma khas sebagai stimulus
zat kimia (Roger, 1978).
Alam lingkungan akuatik bersifat dinamis dan didominasi oleh gerakan
aliran dan diatur oleh penglihatan, temperatur, gradien salinitas, arah angin, dan
rotasi bumi. Umumnya, hewan akuatik harus mampu untuk merasakan dan
merespon baik terhadap aliran dinamik skala besar (adveksi) maupun aliran
dinamik kecil (turbulensi) dan sinyal kimia yang sangat penting untuk bertahan
hidup dengan banyak pergerakan (Mellon, 2007).
Lobster dilengkapi dengan organ yang berfungsi untuk mencari makan.
Lobster mempunyai 3 organ reseptor yang utama, yaitu antenula bagian medial
dan lateral serta segmen dactylus propondus dari kaki jalan yang secara fisiologis
hampir sama. Organ tersebut berfungsi untuk merasa dan membau. Lobster
memiliki 2 pasang kaki jalan yang utama serta reseptor bagian antenulla lateral
yang tidak dilengkapi dengan bulu eathethaces mempunyai fungsi dalam orientasi
secara kimia. Bagian antenna dan antenulla disekitar mulut lobster biasanya
ditutupi oleh rambut-rambut halus yang berfungsi sebagai alat penciuman (Devine
dan Jelle, 1982).
Faktor-faktor yang mempengaruhi gerakan-gerakan antenulla lobster
(flicking, wipping, withdraw dan rotation) antara lain adalah penyalaan dan
pemadaman lampu ruangan, gerakan sorotan lampu senter dan merespon adanya
pakan. Gerakan merespon mendekati pakan dipengaruhi oleh faktor internal dan
faktor eksternal. Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari lobster itu
sendiri, meliputi keadaan fisiologis lobster dan stress tidaknya lobster. Faktor
eksternal merupakan faktor yang berasal dari lingkungan luar, antara lain jumlah
pakan, dimana semakin banyak pakan maka makin cepat respon lobster dalam
mendekati pakan tersebut, cahaya, suhu dan tingkat kejenuhan pada akuarium
karena senyawa kimia pakan. Kondisi antenulla, dimana antenulla berfungsi
dengan baik maka respon lobster akan lebih baik (Radiopoetro, 1978).

IV.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan, maka dapat diambil kesimpulan


bahwa :
1. Fungsi chemoreseptor pada lobster (Cherax quadricarinatus) adalah untuk
mendeteksi adanya pakan, mencarinya sampai menemukan pakan dan
memberikan respon terhadap pakan tersebut.
2. Lobster dengan ablasi mata masih dapat melakukan gerakan flicking, wipping,
withdraw dan rotation, sedangkan lobster dengan ablasi antenulla dan ablasi
total umumnya tidak dapat melakukan gerakan-gerakan tersebut karena organ

yang berfungsi sebagai reseptor telah hilang, tetapi masih dapat merespon
adanya pakan.

DAFTAR REFFERENSI
Campbell, N.A., Reece, J.B., Mitchell, L.G. 2004. Biologi 3. Erlangga, Jakarta.
Devine, D.V. and A. Jelle. 1982. Function of Chemoreceptor Organs in Spartial
Orientation of Lobster. Boston University Marine Program, Boston.
Erwinda, Yola Eka. 2008. Pembenihan Udang Putih (Penaeus vannamei) Secara
Intensif. Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati, ITB.
Gordon, M.S., G.A. Bartholomeno, A.D. Grinele, C. Barker and N.W. Fred.
1982. Animal Physiology. Mac Millan Publishing Co Ltd, New York.
Johnson, M.E. and J. Atema. 2005. The Olfactory Pathway for Individual
Recognition in the American Lobster Homarus americanus. The Journal of
Experimental Biology 208, 2865-2872.

Mellon, D. 2007. Combining Dissimilar Senses: Central Processing of


Hydrodynamic and Chemosensory Inputs in Aquatic Crustaceans. Biol.
Bull. 213: 111.
Radiopoetro. 1978. Zoologi. Erlangga, Jakarta.
Roger, W. 1978. Physiology of Animal. Prentice-Hall Inc, New Jersey.
Storer, T.I. 1975. General Zoology. Mc Graw Hill Book Company, New York.
Ville, C.A., W.F. Walker, dan R.D. Barners. 1988. Zoologi Umum. Erlangga,
Jakarta.