Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
Periode neonatal merupakan masa transisis dari suatu lingkungan
intrauterine yang relative hipoksik menuju ke keadaan fisiologis. Agar transisi ini
dapat efektif, terjadi modifikasi beberapa sistem organ, termasuk sistem
hematopoetik pada fetus dan neonates merupakan suatu keadaan yang terus
menerus berubah dan berevolusi seiring dengan adaptasi neonates pada
lingkungan yang baru.[1]
Anemia adalah keadaan penurunan massa eritrosit atau konsentrasi
hemoglobin sehingga menyebabkan turunnya kapasitas darah untuk mengangkut
oksigen. Anemia neonates terjadi selama masa neonates (0 28 hari). Disebut
anemia jika konsentrasi hemoglobin 2 standar deviasi (2SD) di bawah rerata
konsentrasi hemoglobin sesuai usia anak. Konsentrasi hemoglobin normal
berbeda-beda sesuai usia anak.[2]
Diagnosis anemia pada neonates harus ditegakkan berdasarkan berat badan
lahir, usia postnatal, tempat, waktu, dan metode pengambilan sampel. Tanpa
memperhatikan faktor-faktor tersebut dapat menyebabkan kesalahan diagnosis.
Pada saat lahir hingga usia 2 3 bulan, bayi preterm shat memiliki kadar
hemoglobin yang lebih rendah dibandingkan bayi aterm. [3]

BAB II
LAPORAN KASUS
1. Identitas Pasien
Nama
Tanggal lahir
Tanggal masuk
Ruangan

: By.Ny.R
: 24-11-2015
: 29-11-2015
: Peristi

2. Anamnesis
Bayi laki-laki berusia 5 hari masuk rumah sakit dengan kondisi kuning
seluruh tubuh, kuning dialami sejak tadi pagi sebelum masuk rumah sakit,
orang tua bayi juga mengatakan bahwa anaknya malas minum, lemas dan
demam (-), bayi lahir spontan di Poskesdes dibantu oleh bidan, bayi lahir
langsung menangis, air ketuban biasa, dengan berat lahir : 2400 gram dan
banjang badan lahir: 47 cm.
3. Pemeriksaan Fisik
Denyut jantunng : 134 x/mennit
Respirasi
: 48 x/menit
Temperatur
: 37 oC
Berat Badan
: 2600 gram
Panjang badan
: 47 cm
Lingkar Kepala : 32 cm
1) Sistem pernapasan
- Sianosis :- Merintih : - Apnea
:- Retraksi dinding dada : - Pergerakan dinding dada: simetris bilateral
- Cuping hidung : - Stridor : - Bunyi napas: bronkovesikuler +/+
- Bunyi tambahan : Rh -/-, Wh -/Skor DOWN
- Frekuensi napas : 0
- Retraksi : 0
- Sianosis : 0
- Udara masuk : 0
- Merintih : 0

Total skor: 0
Kesimpulan : tidak ada gawat napas
2) Sistem Kardiovaskuler
Bunyi jantung : BJ I/II murni reguler
Murmur : 3) Sistem Hematologi
- Pucat : +
- Ikterik : +
4) Sisrem gastrointestinal
- Kelainan dinding abdomen
- Muntah
- Diare
- Residu lambung
- Organomegali
- Bising usus
- Umbilikus
Keluaran : Warna kemerahan : Edema : 5) Sistem Saraf
- Aktivitas : kurang aktif
- Kesadaran : komposmentis
- Fontanella : datar
- Sutura
: belum menutup
- Refleks terhadap cahaya : +/+
- Kejang
:- Tonus otot : normal

:::::: Peristaltik (+), kesan normal

6) Sistem Genitalia
- Anus imperforata : - Laki-laki
Hipospadia : Hidrokel
: Hernia
: Testis
:7) Pemeriksaan lain
- Ekstremitas
- Turgor
- Kelainan kongenital
- Trauma lahir

: akral hangat
: kembali cepat
::-

Skor BALLARD
Tidak dilakukan dikarenakan bayi sudah berusia 5 hari (>72 jam)
4. Diagnosis : Anemia pada neonatus + BBLR
5. Pemeriksaan Penunjang : Darah Rutin
Pemeriksaan
Hasil Pemeriksaan
WBC
11.6 103/mm3
6. RBC
0.93 x 106/mm3
HGB
3.5 g/dl
HCT
10.6 %
MCH
38.2 pg
MCV
115 fL
RDW
16.3 %
PLT
46x 103/mm3
- - IVFD K EN IB 12 tpm
- Injeksi ampisilin 4 x 75 mg
- Gentamisin 2 x 5 mg/ iv
- Dexamethasone 3 x 0.5/ iv
- Transfusi PRC 75 cc
FOLLOW UP
30/11/2015
S: O:
Keadaan umum : kurang aktif, lemah
Demam (-)
Refleks isap (+)
Pucat (-)
Ikterus (+)
Sesak napas (-)
Muntah (-)
BAB (+)
BAK (+)
Tanda-tanda vital
- Denyut jantung : 132 x/menit
- Respirasi : 47 x/menit
- Suhu : 36,5oC
Hasil Pemeriksaan Darah rutin

Nilai Rujukan
4.0 10.0 103/mm3
3.80 6.50 106/mm3
11.5 17 g/dl
37.0 54.0 %
27 32 pg
80 100 fL
11.5 14.5%
150 500 103/mm3

Terapi

Pemeriksaan
WBC
RBC
HGB
HCT
MCH
MCV
RDW
PLT

Hasil
15.71 103/mm3

Nilai Rujukan
4.0

10.0

5.72 x 106/mm3

103/mm3
3.80

20.1 g/dl
53.5 %
35.1 pg
93.5 Fl
14.3 %
187x 103/mm3

106/mm3
11.5 17 g/dl
37.0 54.0 %
27 32 pg
80 100 fL
11.5 14.5%
150

500
103/mm3

pemeriksaan bilirubin
- Bilirubin total : 5.8 mg/dl (nilai normal 0.1 1.2)
- Bilirubin direk: 0.3 mg/dl (nilai normal 0.1 0.3)
- Bilirubin indirrek: 5.5 (nilai normal 0.1 1.0)
A : Anemia pada Neonatus + BBLR
P:
- IVFD K EN IB 12 tpm
- Injeksi ampisilin 4 x 75 mg
- Gentamisin 2 x 5 mg/ iv
- Dexamethasone 3 x 0.5/ iv
01/12/2015
S:
O:
Keadaan umum : kurang aktif, lemah
Demam (-)
Refleks isap (+)
Ikterus (+)
Pucat (-)
Sesak napas (-)
Muntah (-)
BAB (+)
BAK (+)
Tanda-tanda vital
- Denyut jantung : 130 x/menit
- Respirasi : 45 x/menit
- Suhu : 37.4oC
A : Anemia pada Neonatus + BBLR
P:
- IVFD K EN IB 12 tpm
- Injeksi ampisilin 4 x 75 mg
- Gentamisin 2 x 5 mg/ iv
- Dexamethasone 3 x 0.5/ iv

6.50

Hasil

02/12/2015
S:
O:
Keadaan umum : kurang aktif, lemah
Demam (-)
Refleks isap (+)
Ikterus (-)
Pucat (-)
Sesak napas (-)
Muntah (-)
BAB (+)
BAK (+)
Tanda-tanda vital
- Denyut jantung : 139 x/menit
- Respirasi : 35 x/menit
- Suhu : 36.4oC
A : Anemia pada Neonatus + BBLR
P:
- IVFD DEx 5% 8 tpm
- Gentamisin 2 x 5 mg/ iv
- Dexamethasone 3 x 0.5/ iv
03/12/2015
S:
O:
Keadaan umum : kurang aktif
Demam (+)
Refleks isap (+)
Ikterus (-)
Pucat (-)
Sesak napas (-)
Muntah (-)
BAB (+)
BAK (+)
Tanda-tanda vital
- Denyut jantung : 120 x/menit
- Respirasi : 40 x/menit
- Suhu : 37.9oC
A : Anemia pada Neonatus + BBLR
P:
- IVFD DEx 5% 8 tpm
- Gentamisin 2 x 5 mg/ iv
- Dexamethasone 3 x 0.5/ iv
04/12/2015
S:
O:
Keadaan umum : kurang aktif
Demam (-)
Refleks isap (+)

Ikterus (-)
Pucat (-)
Sesak napas (-)
Muntah (-)
BAB (+)
BAK (+)
Tanda-tanda vital
- Denyut jantung : 128 x/menit
- Respirasi : 49 x/menit
- Suhu : 37.2 oC
A : Anemia pada Neonatus + BBLR
P:
- IVFD DEx 5% 8 tpm
- Gentamisin 2 x 5 mg/ iv
- Dexamethasone 3 x 0.5/ iv
05/12/2015
S:
O:
Keadaan umum : kurang aktif
Demam (-)
Refleks isap (+)
Ikterus (-)
Pucat (-)
Sesak napas (-)
Muntah (-)
BAB (+)
BAK (+)
Tanda-tanda vital
- Denyut jantung : 135 x/menit
- Respirasi : 45 x/menit
- Suhu : 37.3oC
A : Anemia pada Neonatus + BBLR
P:
- IVFD Dex 5% 8 tpm
- Gentamisin 2 x 5 mg/ iv
- Dexamethasone 3 x 0.5/ iv
06/12/2015
S:
O:
Keadaan umum : kurang aktif,
Demam (-)
Refleks isap (+)
Ikterus (-)
Pucat (-)
Sesak napas (-)
Muntah (-)

BAB (+)
BAK (+)
Tanda-tanda vital
- Denyut jantung : 150 x/menit
- Respirasi : 46 x/menit
- Suhu : 37oC
A : Anemia pada Neonatus + BBLR
P:
- IVFD Dex 5% 8 tpm
- Gentamisin 2 x 5 mg/ iv
- Dexamethasone 3 x 0.5/ iv
07/12/2015
S:
O:
Keadaan umum : kurang aktif, lemah
Demam (-)
Refleks isap (+)
Ikterus (-)
Pucat (-)
Sesak napas (-)
Muntah (-)
BAB (+)
BAK (+)
Tanda-tanda vital
- Denyut jantung : 152 x/menit
- Respirasi : 39 x/menit
- Suhu : 37.3oC
A : Anemia pada Neonatus + BBLR
P:
- IVFD DEx 5% 8 tpm
- Gentamisin 2 x 5 mg/ iv
- Dexamethasone 3 x 0.5/ iv

BAB III
DISKUSI
1. Anemia pada Neonatus
Anemia pada neonates dapat dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu
fisiologis dan non-fisiologis. Pada bayi aterm sehat, kadar hemoglobin
menetap samapi usia 3 minggu, kemudia turun mencapai kadar terendah
hingga 11 g/dL pada usia 8 -12 minggu. Tetap stabil selama bebeeraap
minggu dan kemudian meningkat secara progresif. Keadaan ini dikenal
dengan anemia fisiologis pada bayi. Anemia fisiologis ini biasanya tanpa
gejala dan tidak memerlukan transfuse darah. Pada bayi premature anemia
terjadi lebih awal yaitu usia 4 12 minggu. Penurunan kadar hemoglobin
lebih besar dan mencapai kadar terendah 7 9 g/dL pada usia 4 8 minggu.[2]
Anemia fisiologis pada bayi prematur maupun aterm ini, berhubungan
dengan berbagai faktor antara lain, penurunan masa eritrosit saat lahir,
iatrogenic karena sampling laboratoris, masa hidup eritrosit pendek, produksi
eritropetin yang kurang adekuat, dan pertumbuhan badan yang cepat. Selain
itu, bayi premature memiliki waktu lebih singkat untukmensintesis
hemoglobin saat intrauterine, sehingga saat lahir konsentrasi hemogobinnya
lebih rendah. Jika tidak ada komplikasi klinis yang berhubugan dengan
prematuritas, maka bayi akan tetap asimptomatik.[2]
Anemia pada neonates adalah anemia yang terjadi pada saat lahir atau
dalam minggu pertama setelah lahir. Secara umum dapat dibagi menjadi 3
yaitu:[4]
1) Anemia karena perdarahan
2) Anemia karena proses hemolitik
3) Anemia karena kegagalan produksi eritrosit

Berikut ini merupakan tabel etiologi dari anemia pada neonates

A.

B.

Peningkatan destruksi eritrosit atau anemia hemolitik


Anemia hemolitik imun
- Inkompatibilitas Rh, ABO, atau grup minor
- Anemia hemolitik infantil autoimun, termasuk anemia yang berhubungan
penyakit kolagen vaskular maternal
- Induksi obat, misalnya, penicillin, cephalothin, alpha-methyldopa, asam valpro
Non imun
- Infeksi
Sepsis viral atau bacterial
Kongenital, misalnya, rubella, herpes, sifi lis, sitomegalovirus, toxopla
malaria, HIV
- Defisiensi vitamin E, terutama jika didapatkan oksidan, misalnya zat besi
- Kelainan membran eritrosit
Sferositosis herediter
Elliptositosis herediter
Kelainan herediter lain yang jarang, misalnya stomatositosis, piropoikilos
- Didapat, misalnya koagulasi intravaskular disseminate
- Defisiensi enzim eritrosit
Defisiensi glukosa 6-fosfat dehidrogenase (G6PD)
Defisiensipiruvat kinase
JarangDefisiensi enzim pada jalur glikolisis, heksosa monofosf
metabolisme nukleotida eritrosit
- Thalassemia
Thalassemia-
Thalassemia-
- Hemoglobinopati yang tidak stabil (anemia hemolitik badan Heinz kon
misalnya HbE
- Kelainan metabolik yang diturunkan
Osteopetrosis
Galaktosemia
- Anemia diseritropoietik kongenital
- Choriohemangioma plasenta
Penurunan produksi eritrosit atau anemia hipoplastik
Sindroma kegagalan sumsum tulang

Hanya kelompok sel eritroid, misalnya aplasia eritrosit kongenital (Anemia D


Blackfan), eritropenia transient pada anak, anemia diseritropoietik kongenital
Pansitopenia, misalnya disgenesis retikular, sindrom sideroblastosis refrakter (
Syndrome), anemia Fanconi

Infeksi
Sepsis viral atau bacterial
Infeksi virus kongenital, eg. rubella, parvovirus

Defisiensi zat gizi, misalnya protein, zat besi, folat, B12

Defisiensi transkobalamin II

Leukemia kongenital
C.
Kehilangan darah atau anemia hemoragik

Iatrogenik

Komplikasi obstetrik, misalnya perdarahan traumatik tali pusat, plasenta, atau


amnion karena kordosentesis atau amniosentesis; ruptur tali pusat; insisi bedah pada
saat seksio cesarea; tight nucal cord; posisi bayi di atas plasenta tapi sebelum klem tali pu

Malformasi plasenta atau tali pusat, misalnya insersi velamentosa tali pusat, ruptu
previa.

Perdarahan tersembunyi saat lahir atau selama persalinan


Fetomaternal
Fetoplacental
Twin-to-twin (hanya pada kembar monozigotik, monokorionik).

Perdarahan internal (termasuk trauma maupun kelainan pembekuan darah), m


intracranial, intrahepatik, cephalohematoma, perdarahan subgaleal.

Koagulasi intravaskular disseminata dengan perdarahan eksternal atau internal


2. Penegakan Diagnosis Anemia pada Neonatus
A. Anamnesis
Anamnesis yang baik sangat berguna untuk menegakkan diagnosis.
Perlu ditanyakan secara teliti riwayat maternal, riwayat kehamilan, riwayat
persalinan, dan pada periode neonatal. Ditanyakan secara lengkap riwayat
kesehatan ibu, misalnya adanya kelainan pembekuan darah, kelainan
enzim ataupun membran eritrosit, obat yang digunakan selama masa
kehamilan. Riwayat trauma atau perdarahan pervaginam,atau kelainan lain
yang mungkin didapatkan pada pemeriksaan USG atau amniosentesis.[1,2]
Pada kasus ini :

Riwayat maternal : GIIPIA0, HPHT : 20 Maret 2015, Perkiraan partus: 27


Desember 2015 Estimasi Usia Kehamilan : 33 34 minggu. Anak pertama
lahir melalui proses section sesaria 4 tahun yang lalu.
Riwayat Kehamilan: Ibu rutin melakukan pemeriksaan kehamilan ke
bidan, ibu juga rutin mengonsumsi tablet besi selama kehamilan, dan ibu
juga nafsu makannya pada saat hamil baik, rajin konsusmsi sayur-sayuran
dan buah-buahan sesekali, tidak ada perdarahan selama kehamilan, tidak
ada demam selama hamil, tidak ada riwayat anemia selama kehamilan, ibu
juga tidak mengonsumsi obat-obatan selama hamil.
Riwayat Persalinan : bayi lahir spontan, langsung menangis, ketuban
jernih, setelah lahir bayi tidak pucat maupun kuning, kuning dan pucat
baru muncul ada hari ke 5.
B. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan tanda-tanda vital: Adanya takikardia dan hipotensi
bahkan syok dapat ditemukan pada kasus kehilangan darah akut; tetapi
gejala ini baru akan timbul jika terjadi kehilangan darah mencapai 15-20%
total volume darah. Jika kehilangan darah terjadi secara kronis, mungkin
tidak didapatkan perubahan tanda-tanda vital. Kulit akan terlihat pucat
pada anemia apapun penyebabnya. Ikterus yang didapatkan bersamaan
dengan anemia menunjukkan adanya proses hemolisis. Proses hemolisis
juga dapat menyebabkan hepatosplenomegali karena sistem retikuloendo
thelial dan sistem hematopoietik ekstramedular bekerja lebih aktif. [1,2]
Pada kasus ini tampak ikterus pada seluruh tubuh bayi, sehingga
dapat disimpulkan bahawa pada kasus ini terjadi proses hemolisis dari
eritrosit yang meyebabkan ikterus pada bayi, adapun proses hemolisis
eritrosit tersebut adalah sebagai berikut:[5]

sbu
e ir l l i r Sistem
u Retikuloendotelial
b
i n
s
t e
dbuo
aeb
rbi n a a
s
re k r o
h(ti l te i e r rk i k Hati
a
t
kb Ururobilinogen
o i l i dalam ginjal teroksidasi kemudian di rubah menjadi uro
mon
lno e e j hur a
b
i
hag
i n
gl i lae b s u i m
y)n
a
n
g Kerja bakteri
n
Oksidasi
r a
p
u
h
Bila sel darah merah sudah habis masa hidupnya dan menjadi
terlalu rapuh untuk bertahan dalam sistem sirkulasi, membrane selnya
pecah dan hemoglobin yang lepas difagositosis oleh makrofag (sistem
retikuloendotelial) di seluruh tubuh. Hemoglobin pertama kali dipecah
menjadi globin dan heme, dan cicncin heme dibuka untuk memberikan
besi bebas yang ditransport ke dalam darah oleh transferin, rantai lurus
dari empat inti pirol yiatu substrat yang nantinya akan dibentuk menjadi
pigmen empedu. Pigmen pertama yang dibentuk adalah biliverdin, tetapi
pigmen ini cepat direduksi menjadi bilirubin bebas, yang secara bertahap
dilepaskan oleh makrofag ke dalam plasma. Bilirubin bebas dengan segera
bergabung dnegan sangat kuat denga albumin plasma. Kemudian dibawa
ke hati untuk dirubah menjadi biirubin direk yang kemudian disimpan di
dalam empedu, dan bersamaan dengan masuknya makanan, akan
dikeluarkan ke dalam sistem pencernaan yang oleh kerja bakteri di usus
d=diubah menjadi urobilinogen sterkobilinogen yang akhirnya
dioksidasi menjadi sterkobilin yang memberikan warna pada tinja.
Urobilinogen juga diubah di dalan ginjal menjadi urobilin yang akan
memberikan warna pada urin.[5]

Ikterus adalah pewarnaan jaringan tubuh menjadi kekuningkuningan. Penyebab umum ikterus adalah adanya sejumlah besar bilirubin
dalam cairan ekstrasel, baik bilirubin tekonjugasi maupun bilirubin tak
terkonugasi. Ikterus hemolitik disebabkan oleh hemolisis sel darah merah.
Pada ikterus hemolitik, fungsi eksresi hati tidak tergaggu, tetapi sel darah
merahh dihemolisis begitu cepat sehingga sel hati tidak dapat
mengeksresikan bilirubin secepat pembentukannya. Oleh karena itu
konsentrasi bilirubin bebas plasma meningkat.[5]
3. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium yang paling utama dalah untuk menegakkan adanya
anemia adalah sebagai berikut: [1,2]

Retikulosit merupakan sel darah merah imatur. Jika terjadi anemia,


sumsum tulang berusaha mengkompensasi dengan meningkatkan aktivitas
eritropoiesis, yang tercermin pada peningkatan hitung retikulosit. Jika
produksi sumsum tulang terganggu maka hitung retikulosit akan tetap
rendah.

Tes antiglobulin direct atau tes Coombs dapat mendeteksi adanya antibodi
dan atau komplemen yang ada di permukaan eritrosit. Tes ini positif pada
proses hemolisis yang dimediasi imun (misalnya inkompatibilitas ABO,
Rh, atau kelompok golongan darah minor), termasuk hemolisis yang
diinduksi obat.

Mean Corpuscular Volume (MCV) mencerminkan ukuran eritrosit, yang


nilainya juga berubah-ubah selama periode neonatal. Pada kasus jarang,
nilainya dapat turun (<2SD di bawah rerata nilai sesuai usia postnatal),
misalnya pada thalassemia- dan kehilangan darah kronis intrauterin.
Thalassemia- banyak terjadi di populasi Asia Tenggara dan dapat
didiagnosis dengan pemeriksaan elektroforesis hemoglobin. Anemia
mikrositik akibat kehilangan darah kronis berhubungan dengan defi siensi
zat besi dan bisa didiagnosis dengan memeriksa kadar zat besi serum dan
ferritin. Kadar ferritin serum rendah pada kasus defi siensi zat besi, dan

sebaliknya meningkat pada anemia yang penyebabnya selain defi siensi


zat besi.

Gambaran darah tepi dapat memberikan informasi berkaitan dengan


morfologi eritrosit (misalnya sferositosis, elliptositosis), adanya inklusi
(badan Heinz), ukuran eritrosit, dan bukti adanya hemolisis (sel
fragmentosit dan sel Burr)

Bone Marrow Aspirate and Biopsy merupakan standar emas untuk


mengevaluasi proses eritropoiesis.

Pada kasus ini pemeriksaan laboratorium yang dilakukan adalah pemeriksaan


darah rutin yang menunjukkan hasil seperti berikut:
Pemeriksaan
WBC
RBC
HGB
HCT
MCH
MCV
RDW
PLT

Hasil
11.6 103/mm3
0.93 x 106/mm3

Nilai Rujukan
Interpretasi
3
3
4.0 10.0 10 /mm Meningkat
3.80

6.50 Menurun

106/mm3
3.5 g/dl
11.5 17 g/dl
Menurun
10.6 %
37.0 54.0 %
Menurun
38.2 pg
27 32 pg
i Meningkat
115 fL
80 100 fL
Meningkat
16.3 %
11.5 14.5%
Meningkat
46x 103/mm3
150 500 103/mm3 Menurun
Dari hasil tersebut terlihat bahwa sel darah merah, hemoglobin
mengalami penuran sednagkan nilai MCH MCV meningkat, dan RDW
juga meningkat,menurut teori yang ada anemia dengan MCH meningkat
dan RDW juga meningkat dapat merupakan anemia makrositik heterogen :
Anemia defisiesnsi asam folat, defisiensi vitamin B 12, anemia hemolitik
imun. Sehingga yag lebih menjurus pada kasus ini adalah anemia
hemolitik imun. Tetapi belum dpat dipastikan karena alur diagnostic
anemia pada neonates adalah sebagai berikut: [1,2,6]

Pada kasus ini alur diagnostic hanya dilakuka samapai pemeriksaan


kadar hemoglobin dan selanjutny tidak dilakukan, tetapi adanya ikterus
mendukung kepada diagnosis anemia hemolitik.
4. Tatalaksana
Tatalaksana anemia pada neonatus dapat berbeda-beda sesuai dengan
penyakit yang mendasarinya; meliputi transfusi darah, transfusi tukar,
suplementasi zat gizi misalnya zat besi, maupun terapi terhadap penyakit yang
mendasari. Ada beberapa terapi spesifik untuk penyebab anemia. Misalnya,
kelainan produksi eritrosit mungkin memerlukan terapi steroid atau
transplantasi sumsum tulang. Selain itu, transfusi darah mungkin diperlukan
pada kasus kehilangan darah. Sedangkan anemia hemolitik mungkin
memerlukan terapi transfusi tukar. [7,8]
1) Transfusi darah
Transfusi eritrosit dengan packed red cells (PRC) yang sudah diuji
crossmatch merupakan terapi paling umum untuk anemia berat pada
neonatus. Mengingat risikonya, baik infeksi maupun non-infeksi, perlunya
transfusi darah sering diperdebatkan. [7,8]
Kriteria Transfusi pada neonates: [7,8]
a. Jika ada distres pernafasan, transfuse dilakukan pada keadaan sebagai
berikut:

Hematokrit <3540%

adanya bukti klinis hipovolemia: pucat, takipnea, hipotensi, perfusi


yang tidak adekuat

b. Jika tidak ada distres pernafasan, transfusi darah dilakukan pada


keadaan berikut:

Hematokrit <30% pada yang minggu pertama postnatal atau pada


bayi yang perlu menjalani pembedahan

Takikardia, takipnea, apnea, atau kardiomegali pada foto radiologis

Tidak ada kenaikan berat badan dengan hematokrit <30%

Pada kasus ini tatalaksana yang sudah dilakuakn adalah transfuse darah
sebanyak 75 cc, pada kasus ini dilakukan transfuse berdasarkan kriteri
diatas adalah oada kondisi tidak ada disstres pernapasan dengan kadar
hematokrit < 30 % (10.6 %). Transfusi yang diberikan adalah PRC yaitu
komponen yang terdiri dari eritrosit yang dipekatkan dengan memisahkan
komponen-komponen yang lain. Pemberian transfusi bertujuan untuk
memperbaiki oksigenasi jaringan dan organ-organ tubuh, biasanya tercapai
apabila kadar Hb sudah di atas 8 g%. Pada kasus ini Hemoglobin = 3.5 g%
sehingga perlu ditingkatkan menjadi >8 g% melalui transfuse, dan
berdasarkan perhitungan dosis maka diperoleh: [9]
Kebtuhuan darah (ml) = 6 X BB X Kenaikan Hb yang diinginkan
= 6 X 2.6 kg X 4.7
= 73.32 ml (dibulatkan menjadi 75 ml)
Sehingga pemberian PRC pada kasus ini sudah sesuai dengan teori
yang ada. Setelah dilakukan tranfusi dialkukan kembali pengecekan darah
rutin dan hasilnya adalah sebagai berikut:
Pemeriksaan
WBC
RBC
HGB
HCT
MCH
MCV
RDW
PLT

Hasil
15.71 103/mm3

Nilai Rujukan
Interpretasi
4.0

10.0 Meningkat

5.72 x 106/mm3

103/mm3
3.80

20.1 g/dl
53.5 %
35.1 pg
93.5 fL
14.3 %
187x 103/mm3

106/mm3
11.5 17 g/dl
37.0 54.0 %
27 32 pg
80 100 fL
11.5 14.5%
150

500

6.50 Normal
Meningkat
Normal
Meningkat
Normal
Normal
Normal

103/mm3
Dari hasil tersebut terlihat bahwa nilai RBC, HB, dan HCT
kembali menjadi normal setelah transfusi, dan bayi sudah tampak
kemerahan dan ikterusnya berkurang.
Pada kasus ini lebih kearah Anemia hemolitik imun, dikarenakana
adanya ikterus dan juga berdsarkan MCV dan RDW yang meningkat. Ciri

khas kelompok penyakiit ini adalah uji Coombs direk positif, yang
menunjukkan

immunoglobulin

atau

komponen

komplemen

yang

menyelubungi permukaan ertirosit. Kelainan hemolitik yang terpenting


dalam praktek pediatric adalah penyakit hemolitik bayi baru lahir
(eritoblastosis fetalis), yang disebabkan oleh transfer transplasenta
antibody ibu yang aktif terhadap eritrosit janin, yaitu anemia hemolitik
isoimun. Satu varian anemia hemolitik imun yang lain adalah autoimun
dan mungkin ideopatik atau terkait dengan infeksi (virus ibstein bar, jarang
HIV, CMV dan mikoplasma), peyakit imunologik (SLE, arthritis
rheumatoid), penyakit imunodefisiensi, neoplasma (limfoma, leukemia,
dan penyakit Hodgkin), atau obat (metildopa). Ada obat lain yang
menyebabkan hemolisis imun namun bukan autoimun yaitu penisilin
sefalosporin.[6]

DAFTAR PUSTAKA
1. Bizzaro M,J, Calson E, Ehrenkranz RA. 2004. Differential Diagnosis and

Manageent of Anemia in The Newborn. Pediaric Clin N, pp: 1087-1107.


Diakses 03 Desember 2015. Dari <http://facm.unjbg.edu>.

2. Myrtha S. 2014. Diagnosis Banding dan Penatalksanaan Anemia

Neonatus. Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskuler, Universitas


Sebeles Meret, Vol 4 No. 10. Diakses 03 Desember 2015. Dari
<http://www.kalbemed.com>.
3. Blackman

S,C

Gonzales

del

Rey

J,A.

2005.

Haematologic

Emergencies:Acute Anemia. Clin Ped Emerg Med ,No. 6. Diakses 03


Desember 2015. Dari <http://www.tulsapedsresidency.net> .
4. Permono, H,B dkk. 2012. Buku Ajar Hematologi Onkologi Anak. Badan

Penerbit IDAI. Jakarta.


5. Guyton & Hall. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11. EGC.

Jakarta.
6. Sectish, Theodore C, and Charles G, Prober Dalam Behrman R.E., et.al
(editor). 2000. Ilmu Kesehatan Anak Nelsons vol 2 edisi.15. Jakarta: EGC.
7. United Blood Services. 2007. Transfusing the Neonate.Unidue Issues and

Guidelines.

Diakses

03

Desember

2015.

Dari

<http://hospitals.unitedbloodservices.org> .
8. Luban Naomi L,C.

Early

Human

2008. Management of Anemia in The Newborn.

Development.

Diakses

03

Desember

2015.

Dari

<http://www.sepeapt.org > .
9. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FK UI. 2007. Buku Kuliah 1 : Ilmu

Kesehatan Anak. Percetakan Infomedika. Jakarta.