Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
1. 1 Latar Belakang
Paru-paru adalah organ yang terletak di bawah tulang rusuk di dalam dada
yang terdiri dari banyak kantung kecil berisi udara yang disebut alveoli. Fungsi utama
dari paru-paru adalah membawa oksigen masuk ke dalam darah dan karbon dioksida
keluar dari darah. Pertukaran oksigen dan karbon ini terjadi dalam alveoli. Tulang
rusuk membantu melindungi paru-paru ketika paru mengembang dan mengempis saat
bernafas.
Luka orthopedic dan kepala merupakan hal yang sering terjadi, terutama pada
kecelakaan lalu lintas ataupun kecelakaan kerja. Luka dapat secara umum dibagi atas
2, yaitu yang disebabkan oleh karena trauma tumpul atau trauma tembus. Trauma
toraks mencakup 10% kasus trauma dan dapat berhubungan dengan luka pada organorgan yang lain. Angka mortalitas pada trauma toraks mencapai 10%, sedangkan
kematian akibat trauma toraks merupakan 1/4 jumlah kematian total akibat kasuskasus trauma.
Hemotoraks adalah perdarahan ke dalam rongga dada antara paru dan dinding
dada internal (rongga pleura). Hemotoraks diklasifikasikan menurut jumlah darah
yang ada: minimal, sedang, atau besar. Hemotoraks dapat disebabkan oleh trauma
tumpul atau tembus pada dada. Pada cedera dada, tulang rusuk bisa mencabik
jaringan paru-paru atau arteri, menyebabkan darah mengumpul di rongga pleura.
Syok pada korban trauma sering terkait dengan hemotoraks besar. Hemotoraks juga
mungkin berhubungan dengan paru-paru kolaps (pneumotoraks). Pada pasien
hemotoraks dapat terjadi penurunan kesadaran yang disebabkan oleh terganggunya
fungsi pernapasan dan selanjutnya juga dapat disebabkan oleh disfungsi jantung.

BAB II
PEMBAHASAN
2. 1 Anatomi Toraks
Rongga thorax dibatasi oleh kosta, yang bersatu di bagian belakang pada
vertebra thoracalis dan di depan pada sternum. Kerangka rongga thorax, meruncing
pada bagian atas dan berbentuk kerucut terdiri dari sternum, 12 vertebra thoracalis, 10
pasang iga yang berakhir di anterior dalam segmen kartilago dan 2 pasang kosta yang
melayang. Kartilago dari 6 kosta memisahkan articulatio dari sternum, kartilago
ketujuh sampai sepuluh berfungsi membentuk tepi kostal sebelum menyambung pada
tepi bawah sternum. Perluasan rongga pleura di atas clavicula dan di atas organ dalam
abdomen penting untuk dievaluasi pada luka tusuk.

Gambar 2.1 (a) Anterior view dinding toraks.

(b). Posterior view dari dinding


toraks

Musculus pectoralis mayor dan minor merupakan muskulus utama dinding


anterior thorax. Musculus latissimus dorsi, trapezius, rhomboideus, dan musculus
gelang bahu lainnya membentuk lapisan musculus posterior dinding posterior thorax.
Tepi bawah musculus pectoralis mayor membentuk lipatan atau plica axillaris
posterior. Dada berisi organ vital yaitu paru dan jantung. Pernafasan berlangsung
dengan bantuan gerak dinding dada. Inspirasi terjadi karena kontraksi otot pernafasan
yaitu musculus interkostalis dan diafragma, yang menyebabkan rongga dada
membesar sehingga udara akan terhisap melalui trakea dan bronkus.

Pleura adalah membran aktif yang disertai dengan pembuluh darah dan
limfatik. Disana terdapat pergerakan cairan, fagositosis debris, menambal kebocoran
udara dan kapiler. Pleura visceralis menutupi paru dan sifatnya sensitif, pleura ini
berlanjut sampai ke hilus dan mediastinum bersama sama dengan pleura parietalis,
yang melapisi dinding dalam thorax dan diafragma. Pleura sedikit melebihi tepi paru
pada setiap arah dan sepenuhnya terisi dengan ekspansi paru paru normal, hanya
ruang potensial yang ada.
Diafragma bagian muskular perifer berasal dari bagian bawah iga keenam
kartilago kosta, dari vertebra lumbalis, dan dari lengkung lumbokostal, bagian
muskuler melengkung membentuk tendo sentral. Nervus frenikus mempersarafi
motorik dari interkostal bawah mempersarafi sensorik. Diafragma yang naik setinggi
putting susu, turut berperan dalam ventilasi paru paru selama respirasi biasa /
tenang sekitar 75%.

Gambar 2.2 Skematik anatomi dinding dada.

2. 2 Fisiologi Sistem Pernafasan


Udara bergerak masuk dan keluar paru-paru karena adanya selisih tekanan
yang terdapat antara atmosfir dan alveolus akibat kerja mekanik otot-otot. Dinding
toraks berfungsi sebagai penembus. Selama inspirasi, volume toraks bertambah besar
karena diafragma turun dan kosta terangkat akibat kontraksi beberapa otot yaitu
sternokleidomastoideus mengangkat sternum ke atas dan otot seratus, skalenus dan
interkostalis eksternus mengangkat kosta-kosta.
Selama pernapasan tenang, ekspirasi merupakan gerakan pasif akibat
elastisitas dinding dada dan paru-paru. Pada waktu otot interkostalis eksternus
relaksasi, dinding dada turun dan lengkung diafragma naik ke atas ke dalam rongga
toraks, menyebabkan volume toraks berkurang. Pengurangan volume toraks ini
meningkatkan tekanan intrapleura maupun tekanan intrapulmonal. Selisih tekanan
antara saluran udara dan atmosfir menjadi terbalik, sehingga udara mengalir keluar
dari paru-paru sampai udara dan tekanan atmosfir menjadi sama kembali pada akhir
ekspirasi.
Tahap kedua dari proses pernapasan mencakup proses difusi gas-gas melintasi
membrane alveolus kapiler yang tipis (tebalnya kurang dari 0,5 m). Kekuatan
pendorong untuk pemindahan ini adalah selisih tekanan parsial antara darah dan fase
gas. Tekanan parsial oksigen dalam atmosfir pada permukaan laut besarnya sekitar
149 mmHg. Pada waktu oksigen diinspirasi dan sampai di alveolus maka tekanan
parsial ini akan mengalami penurunan sampai sekiktar 103 mmHg. Penurunan
tekanan parsial ini terjadi berdasarkan fakta bahwa udara inspirasi tercampur dengan
udara dalam ruangan sepi anatomik saluran udara dan dengan uap air. Perbedaan
tekanan karbondioksida antara darah dan alveolus yang jauh lebih rendah
menyebabkan karbondioksida berdifusi kedalam alveolus. Karbondioksida ini
kemudian dikeluarkan ke atmosfir.
Dalam keadaan beristirahat normal, difusi dan keseimbangan oksigen di
kapiler darah paru-paru dan alveolus berlangsung kira-kira 0,25 detik dari total waktu

kontak selama 0,75 detik. Hal ini menimbulkan kesan bahwa paru-paru normal
memiliki cukup cadangan waktu difusi. Pada beberapa penyakit misal; fibosis paru,
udara dapat menebal dan difusi melambat sehingga ekuilibrium mungkin tidak
lengkap, terutama sewaktu berolahraga dimana waktu kontak total berkurang. Jadi,
blok difusi dapat mendukung terjadinya hipoksemia, tetapi tidak diakui sebagai faktor
utama. Adapun fungsi dari pernapasan adalah :
1. Ventilasi: memasukkan atau mengeluarkan udara melalui jalan napas ke dalam
atau dari paru dengan cara inspirasi dan ekspirasi. Untuk melakukan fungsi
ventilasi, paru-paru mempunyai beberapa komponen penting, antara lain :
a. Dinding dada yang terdiri dari tulang, otot, saraf perifer.
b. Parenkim paru yang terdiri dari saluran napas, alveoli, dan pembuluh
darah.
c. Dua lapisan pleura, yakni pleura viseralis yang membungkus erat jaringan
parenkim paru, dan pleura parietalis yang menempel erat ke dinding toraks
bagian dalam. Di antara kedua lapisan pleura terdapat rongga tipis yang
normalnya tidak berisi apapun.
d. Beberapa reseptor yang berada di pembuluh darah arteri utama.
2. Distribusi: menyebarkan/mengalirkan udara tersebut merata ke seluruh sistem
jalan napas sampai alveoli.
3. Difusi: oksigen dan CO2 bertukar melaluimembran semipermeabel pada
dinding alveoli (pertukaran gas).
4. Perfusi: Darah arterial di kapiler-kapiler meratakan pembagian muatan
oksigennya dan darah venous cukup tersedia untuk digantikan isinya dengan
muatan oksigen yang cukup untuk menghidupi jaringan tubuh.
Volume paru-paru dibagi menjadi empat macam, yakni: (a). Volume tidal
merupakan volume udara yang diinspirasikan dan diekspirasikan pada setiap

pernapasan normal; (b). Volume cadangan merupakan volume tambahan udara yang
dapat diinspirasikan di atas volume tidal normal; (c). Volume cadangan ekspirasi
merupakan jumlah udara yang masih dapat dikeluarkan dengan ekspirasi kuat setelah
akhir suatu ekspirasi; (d).Volume residual adalah volume udara yang masih tersisa di
dalam paru- paru setelah melakukan ekspirasi kuat.
Dalam menguraikan peristiwa-peristiwa pada siklus paru-paru, juga
diperlukan kapasitas paru-paru yaitu: (1). Kapasitas inspirasi ; (2). Kapasitas residual
fungsional; (3). Kapasitas vital paksa; (4). Kapasitas total paru-paru.
Setiap kegagalan atau hambatan dari rantai mekanisme tersebut akan
menimbulkan gangguan pada fungsi pernapasan, berarti berakibat kurangnya
oksigenasi jaringan tubuh. Hal ini misalnya terdapat pada suatu trauma pada thoraks.
Selain itu maka kelainan-kelainan dari dinding thoraks menyebabkan terganggunya
mekanisme inspirasi atau ekspirasi, kelainan-kelainan dalam rongga thoraks, terutama
kelainan jaringan paru, selain menyebabkan berkurangnya elastisitas paru, juga dapat
menimbulkan gangguan pada salah satu atau semua fungsi-fungsi pernapasan
tersebut.
HEMOTORAKS
2. 3 Definisi
Hemothoraks adalah adanya darah yang masuk ke areal pleura (antara pleura
viseralis dan pleura parietalis). Biasanya disebabkan oleh trauma tumpul atau trauma
tajam pada dada, yang mengakibatkan robeknya membran serosa pada dinding dada
bagian dalam atau selaput pembungkus paru. Robekan ini akan mengaikibatkan darah
mengalir ke dalam rongga pleura, yang akan menyebabkan penekanan pada paru.
Sumber perdarahan umumnya berasal dari arteri interkostalis atau arteri
mamaria interna. Rongga hemitoraks dapat menampung 3 liter cairan, sehingga
pasien hematotoraks dapat syok berat (kegagalan sirkulasi) tanpa terlihat adanya

perdarahan yang nyata, oleh karena perdarahan masif yang terjadi terkumpul di dalam
rongga toraks.
2. 4 Epidemiologi
Mengukur frekuensi hemotoraks pada populasi umum sulit dilakukan.
Hemotoraks yang sangat sedikit dapat dikaitkan dengan fraktur kosta single dan dapat
tidak terdeteksi atau tidak membutuhkan pengobatan. Karena kebanyakan hemotoraks
berkaitan dengan trauma, perkiraan kasar kejadiannya dapat diukur dari statistic
trauma. Sekitar 150.000 kematian terjadi karena trauma tiap tahunnya. Sekitar
450.000 individu menjadi cacat permanen karena trauma, dan sebagian besar dari
grup ini adalah korban dari politrauma. Chest injury terjadi sekitar 60% dari
politrauma, karena itu perkiraan kasar dari kejadian hemothorax di Amerika Serikat
mendekati 300.000 kasus tiap tahunnya.
2. 5 Etiologi
Penyebab dari hemotoraks adalah laserasi paru atau laserasi dari pembuluh darah
intercostal atau arteri mammaria internal yang disebabkan oleh cedera tajam atau
cedera tumpul. Dislokasi fraktur dari vertebrata torakal juga dapat menyebabkan
hemotoraks. Biasanya perdarahan berhenti spontan dan tidak memerlukan intervensi
operasi. Hematothorax dapat juga terjadi pada pasien yang memiliki :
-

Trauma tumpul dada

Kematian jaringan paru-paru (paru-paru infark)

Kanker paru-paru atau pleura

Menusuk dada ( ketika senjata seperti pisau atau memotong peluru paru-paru )

Penempatan dari kateter vena sentral

Operasi jantung

Tuberkulosis

Selain itu terdapat pula hematoraks masif adalah terkumpulnya darah dengan
cepat lebih dari 1500 cc dalam rongga pleura. Pendarahan di dalam rongga pleura
dapat terjadi dengan hampir semua gangguan dari jaringan dada di dinding dan pleura
atau struktur intrathoracic. Respon fisiologis terhadap perkembangan hemothorax
diwujudkan dalam 2 area utama: hemodinamik dan pernafasan. Tingkat respon
hemodinamik ditentukan oleh jumlah dan kecepatan kehilangan darah.
2. 6 Klasifikasi
Hemotoraks dibagi berdasarkan klasifikasi sebagai berikut :
A. Hemotoraks Kecil : yang tampak sebagian bayangan kurang dari 15 % pada
foto rontgen, perkusi pekak sampai iga IX. Jumlah darah sampai 300 ml.
B. Hemotoraks Sedang : 15 35 % tertutup bayangan pada foto rontgen, perkusi
pekak sampai iga VI.jumlah darah sampai 800 ml
C. Hemotoraks Besar : lebih 35 % pada foto rontgen, perkusi pekak sampai
cranial, iga IV. Jumlah darah sampai lebih dari 800 ml

Gambar 2.3 Klasifikasi hemotoraks

Berdasarkan penyebab hemotoraks dapat dibagi menjadi :

A. Hemotoraks spontan, Oleh karena primer (ruptur blep, sekunder (infeksi


keganasan), neonatal.
B. Hematoraks yang didapat, Oleh karena iatrogenik, barotrauma, trauma.
Penyebab paling umum dari hemothorax adalah trauma dada. Trauma
misalnya :
Luka tembus paru-paru, jantung, pembuluh darah besar, atau dinding
dada
Trauma tumpul dada kadang-kadang dapat mengakibatkan lecet
hemothorax oleh pembuluh internal.
Diathesis perdarahan seperti penyakit hemoragik bayi baru lahir atau
purpura Henoch-Schnlein dapat menyebabkan spontan hemotoraks.
Adenomatoid malformasi kongenital kistik : malformasi ini kadangkadang mengalami komplikasi, seperti hemotoraks.

Gambar 2.4 Skema Patofisiologi Trauma Toraks


Perubahan hemodinamik bervariasi tergantung pada jumlah perdarahan dan
kecepatan kehilangan darah. Kehilangan darah hingga 750 mL pada seorang pria 70kg seharusnya tidak menyebabkan perubahan hemodinamik yang signifikan.
Hilangnya 750-1500 mL pada individu yang sama akan menyebabkan gejala awal
syok (yaitu, takikardia, takipnea, dan penurunan tekanan darah).
Tanda-tanda signifikan dari shock dengan tanda-tanda perfusi yang buruk
terjadi dengan hilangnya volume darah 30% atau lebih (1500-2000 mL). Karena
rongga pleura seorang pria 70-kg dapat menampung

4 atau lebih liter darah,

perdarahan exsanguinating dapat terjadi tanpa bukti eksternal dari kehilangan darah.
Efek pendesakan dari akumulasi besar darah dalam rongga pleura dapat
menghambat gerakan pernapasan normal. Dalam kasus trauma, kelainan ventilasi dan
oksigenasi bisa terjadi, terutama jika berhubungan dengan luka pada dinding dada.
Sebuah kumpulan yang cukup besar darah menyebabkan pasien mengalami dyspnea
dan dapat menghasilkan temuan klinis takipnea. Volume darah yang diperlukan untuk
memproduksi gejala pada individu tertentu bervariasi tergantung pada sejumlah
faktor, termasuk organ cedera, tingkat keparahan cedera, dan cadangan paru dan
jantung yang mendasari.
Dispnea adalah gejala yang umum dalam kasus-kasus di mana hemothorax
berkembang dengan cara yang membahayakan, seperti yang sekunder untuk penyakit
metastasis. Kehilangan darah dalam kasus tersebut tidak akut untuk menghasilkan
respon hemodinamik terlihat, dan dispnea sering menjadi keluhan utama.
Darah yang masuk ke rongga pleura terkena gerakan diafragma, paru-paru,
dan struktur intrathoracic lainnya. Hal ini menyebabkan beberapa derajat
defibrination darah sehingga pembekuan tidak lengkap terjadi. Dalam beberapa jam
penghentian perdarahan, lisis bekuan yang sudah ada dengan enzim pleura dimulai.

10

Lisis sel darah merah menghasilkan peningkatan konsentrasi protein cairan


pleura dan peningkatan tekanan osmotik dalam rongga pleura. Tekanan osmotik
tinggi intrapleural menghasilkan gradien osmotik antara ruang pleura dan jaringan
sekitarnya yang menyebabkan transudasi cairan ke dalam rongga pleura. Dengan cara
ini, sebuah hemothorax kecil dan tanpa gejala dapat berkembang menjadi besar dan
gejala efusi pleura berdarah.
Dua keadaan patologis yang berhubungan dengan tahap selanjutnya dari
hemothorax: empiema dan fibrothorax. Empiema hasil dari kontaminasi bakteri pada
hemothorax. Jika tidak terdeteksi atau tidak ditangani dengan benar, hal ini dapat
mengakibatkan syok bakteremia dan sepsis. Fibrothorax terjadi ketika deposisi fibrin
berkembang dalam hemothorax yang terorganisir dan melingkupi baik parietal dan
permukaan pleura viseral. Proses adhesive ini menyebkan paru-paru tetap pada
posisinya dan mencegah dari berkembang sepenuhnya.

2. 7 Tanda dan gejala


Adapun tanda dan gejala adanya hemotoraks dapat bersifat simptomatik
namun dapat juga asimptomatik. Asimptomatik didapatkan pada pasien dengan
hemothoraks yang sangat minimal sedangkan kebanyakan pasien akan menunjukan
gejala, diantaranya :

Nyeri dada yang berkaitan dengan trauma dinding dada

Tanda-tanda shok seperti hipotensi, dan nadi cepat, pucat, akral dingin

Takikardi

Dispnea

Hipoksemia

Anxiety (gelisah)

11

Sianosis

Anemia

Deviasi trakea ke sisi yang tidak terkena

Gerak dan pengembangan rongga dada tidak sama (paradoxical)

Penurunan suara napas atau menghilang pada sisi yang terkena

Dullness pada perkusi

Adanya krepitasi saat palpasi.

2. 8 Diagnosis
Penegakkan diagnosis hemothoraks berdasarkan pada data yang diperoleh dari
anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Dari anamnesa didapatkan
penderita hemothoraks mengeluh nyeri dada dan sesak napas. Pada pemeriksaan fisik
dari inspeksi biasanya tidak tampak kelainan, mungkin didapatkan gerakan napas
tertinggal atau adanya pucat karena perdarahan kecuali hemothoraks akibat trauma.
Pada perkusi didapatkan pekak dengan batas tidak jelas, sedangkan pada auskultasi
didapatkan bunyi napas menurun atau bahkan menghilang.
2. 9 Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang untuk diagnostik, diantaranya :
a. Chest x-ray :
Adanya gambaran hipodense pada rongga pleura di sisi yang terkena
dan adanya mediastinum shift. Chest x-ray sebagi penegak diagnostik
yang paling utama dan lebih sensitif dibandingkan lainnya.

12

Gambar 2.5 Chest xray Hemotoraks Kanan


b. CT Scan
Di indikasikan untuk pasien dengan hemothoraks yang untuk evaluasi
lokasi clotting (bekuan darah) dan untuk menentukan kuantitas atau
jumlah bekuan darah di rongga pleura.

Gambar 2.6 CT-scan Hemotoraks.


c. USG
USG yang digunakan adalah jenis FAST dan diindikasikan untuk
pasien yang tidak stabil dengan hemothoraks minimal.

13

Gambar 2.7 USG toraks pada pasien Hemotoraks


d. Nilai BGA
Hipoksemia mungkin disertai hiperkarbia yang menyebabkan asidosis
respiratori. Saturasi O2 arterial mungkin menurun pada awalnya tetapi
biasanya kembali ke normal dalam waktu 24 jam.
e. Cek darah lengkap
Menurunnya Hb menunjukan jumlah darah yang hilang pada
hemothoraks.
2. 10 Penatalaksanaan
Langkah selanjutnya untuk penatalaksanaan pasien dengan hemothoraks
adalah mengeluarkan darah dari rongga pleura yang dapat dilakukan dengan cara :
1) Chest tube (Tube thoracostomy drainage)
Tube thoracostomy drainage merupakan terapi utama untuk pasien
dengan hemothoraks. Insersi chest tube melalui dinding dada untuk drainase
darah

dan

udara.

Pemasangannya

selama

beberapa

hari

untuk

mengembangkan paru ke ukuran normal. Indikasi untuk pemasangan thoraks


tube antara lain:
.

Adanya udara pada rongga dada (pneumothorax)

Perdarahan di rongga dada (hemothorax)

14

Post operasi atau trauma pada rongga dada (pneumothorax or


hemothorax)

abses paru atau pus di rongga dada (empyema).


Adapun

langkah-langkah

dalam

pemasangan

chest

tube

thoracostomy adalah sebagai berikut:


.

Memposisikan pasien pada posisi trandelenberg

Disinfeksi daerah yang akan dipasang chest tube dengan menggunakan


alkohol atau povidin iodine pada ICS VI atau ICS VII posterior
Axillary Line

Kemudian dilakukan anastesi local dengan menggunakn lidokain

Selanjutnya insisi sekitar 3-4cm pada Mid Axillary Line

Pasang curved hemostat diikuti pemasangan tube dan selanjutnya


dihubungkan dengan WSD (Water Sealed Drainage)

Lakukan jahitan pada tempat pemasangan tube

Gambar pemasangan chest tube


2) Thorakotomi

15

Thorakotomi merupakan prosedur pilihan untuk operasi eksplorasi rongga


dada ketika hemothoraks massif atau terjadi perdarahan persisten.
Thorakotomi juga dilakukan ketika hemothoraks parah dan chest tube sendiri
tidak dapat mengontrol perdarahan sehingga operasi (thorakotomi) diperlukan
untuk menghentikan perdarahan. Perdarahan persisten atau berkelanjutan
yang segera memerlukan tindakan operasi untuk menghentikan sumber
perdarahan di antaranya seperti ruptur aorta pada trauma berat. Operasi
(Thorakotomi) di indikasikan apabila:

1 liter atau lebih dievakuasi segera dengan chest tube

Perdarahan persisten, sebanyak 150-200cc/jam selama 2-4 jam

Diperlukan transfusi berulang untuk mempertahankan stabilitas


hemodinamik

Adanya sisa clot sebanyak 500cc atau lebih

Gambar prodsedur torakotomi


3) Trombolitik agen :
Trombolitik agen digunakan untuk memecahkan bekuan darah pada
chest tube atau ketika bekuan telah membentuk massa di rongga pleura,
tetapi hal ini sangat berisiko karena dapat memicu terjadinya perdarahan

16

dan perlu tindakan operasi segera. Kemungkinan komplikasi yang dapat


terjadi meliputi:
. Paru-paru kolaps sehingga terjadi gagal napas dan meninggal
. Fibrosis atau skar pada membrane pleura
. Ateletaksis
. Shok
. Pneumothorax
. Pneumonia
. Septisemia
Untuk lebih amannya dalam menghindari komplikasi, pencegahan dini
terjadinya hemothoraks dapat dicegah dengan segera pergi ke IGD atau
telepon ambulan apabila didapatkan cedera berat pada thoraks, adanya
nyeri dada ataupun sesak napas.
2. 11 Terapi
Tujuan utama

terapi

dari

hemothoraks

adalah

untuk menstabilkan

hemodinamik pasien, menghentikan perdarahan dan mengeluarkan darah serta udara


dari rongga pleura. Langkah pertama untuk menstabilkan hemodinamik adalah
dengan resusitasi seperti diberikan oksigenasi, cairan infus, transfusi darah,
dilanjutkan pemberian analgetik dan antibiotik.
2. 12 Prognosis
Prognosis berdasarkan pada penyebab dari hemothoraks dan seberapa cepat
penanganan diberikan. Apabila penanganan tidak dilakukan segera maka kondisi
pasien dapat bertambah buruk karena akan terjadi akumulasi darah di rongga thoraks
yang menyebabkan paru-paru kolaps dan mendorong mediastinum serta trakea ke sisi
yang sehat.

17

BAB III
PENUTUP
3.1

Kesimpulan
Hemotoraks merupakan kondisi adanya darah di dalam rongga pleura. Untuk

menegakkan diagnosis ini, dibutuhkan anamnesis, pemeriksaan

fisik, dan

pemeriksaan penunjang yang tepat. Terapi dapat diberikan jika diagnosis kerja telah
ditegakkan agar tidak terjadi komplikasi lain.

18

19

DAFTAR PUSTAKA
1. Guyton & Hall. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 11. EGC :
Jakarta.
2. Mansjoer, A. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Media Aesculapius
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.
3. Syamsu Hidayat,R Dan Wim De Jong, Buku Ajar Bedah, Edisi 3, Penerbit
Buku Kedokteran, EGC, Jakarta,tahun 2011
4. Snell R. S. (2012) Anatomi Klinik Untuk Mahasiswa Kedokteran. Edisi 6.
Penerbit buku kedokteran EGC. Jakarta.

20