Anda di halaman 1dari 25

LESI MERAH DAN PUTIH

BLOK IDENTIFIKASI PENATALAKSANAAN PENDERITA I

LAPORAN DISKUSI KELOMPOK


SEMESTER V
TAHUN AKADEMIK 2014/2015

Kelompok 1
Kristanto Wangi

2012.07.0.0012

Tiffany Augusta Posuma

2012.07.0.0015

Ratna Putri

2012.07.0.0031

Raafiulita Rentana Kansha

2012.07.0.0038

Wees Tove

2012.07.0.0044

Wisnu Kuncoro

2012.07.0.0050

Shinta Nurmaraya Febrianti

2012.07.0.0060

Caroline Prajina Paramitha A

2012.07.0.0067

Gregorio Davin Lie

2012.07.0.0073

Asa Rina Thohiroh

2012.07.0.0074

Patricia B Wijaya

2012.07.0.0078

Safira Junieta Ananda

2012.07.0.0088

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS HANG TUAH
SURABAYA
2014
1

KATA PENGANTAR
Ucapan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah menyertai serta
membimbing penulis selama proses pembuatan makalah, sehingga makalah yang berjudul Lesi
Merah dan Putih dapat terselesaikan dengan baik dan tepat pada waktunya. Makalah ini
membahas mengenai identifikasi, penetapan diagnosis dan penatalaksanaan yang berhubungan
dengan lesi merah dan putih.
Berbagai pihak telah banyak membantu penulis dalam menyelesaikan makalah ini. Oleh
karena itu penulis mengucapkan terimakasih kepada:
1.

Widyaningsih, drg., Sp. Pros. selaku fasilitator.

2. Orangtua, teman-teman, serta berbagai pihak yang tidak dapat penulis sebutkan, yang
telah mendukung penulis dalam penyelesaian makalah ini.
Tanpa bantuan dari mereka penulis tidak mungkin dapat menyelesaikan karya tulis ini
dengan baik.
Penulis berharap makalah ini dapat berguna bagi semua orang pada umumnya, dan bagi
mahasiswa fakultas kedokteran gigi Universitas Hang Tuah pada khususnya. Di samping itu,
penulis sangat menghargai masukan serta kritik yang bersifat membangun demi kebaikan
penulisan selanjutnya.

Surabaya, September 2014

Penulis

DAFTAR ISI

Kata pengantar. ..2


Daftar Isi.... 3
Peta Konsep4
BAB I

PENDAHULUAN ........................................................... .5

BAB II

PEMBAHASAN ............................................................. .6

BAB III

PENUTUP .................................................................... ..25

Daftar Pustaka..26

Peta Konsep
Anamnesis

Antibiotik Spektrum Luas Jangka


Panjang
Rongga Mulut (Candida
ALbicans)
Patogenesis

Erimatous

Erimatous

Pemeriksaan
Penunjang

Erosi pada Papila Lidah


(tamak licin, batas diffuse,
kemerahan)
Diagnosis
Sementara

Diagnosis akhir (Acute Athropic


Candidiasis

Terapi dan
Penatalaksanaan

Suspect Antibiotik
Sore Mouth

Prognosis

BAB I
Pendahuluan
1.1.

Latar Belakang
Lesi merah dan putih merupakan lesi yang sering sekali dijumpai pada praktek
kedokteran gigi. Berbagai macam klasifikasi dan cara penatalaksanaannya sangat penting
untuk dipelajari oleh mahasiswa kedokteran gigi karena merupakan kasus yang banyak
sekali dijumpai dan merupakan suatu kondisi yang menganggu kesehatan oral pasien.

1.2.

Batasan Topik
1.2.1 Pertanyaan Penting untuk Anamnesis
1.2.2 Prosedur Diagnosis dan Hasil Pemeriksaan
1.2.3 Diagnosis Klinis (Sementara) kasus tersebut beserta alasan
1.2.4 Diagnosis Banding secara klinis lesi
1.2.5 Berbagai Macam Pemeriksaan Penunjang untuk Menunjang Diagnosis Lesi
1.2.6 Pembuatan Surat Rujukan
1.2.7 Interpretasi hasil PP
1.2.8 Diagnosis Akhir
1.2.9 Faktor-Faktor Predisposisi Diagnosis Akhir
1.2.10 Gambaran Klinis Lesi Beserta Klasifikasinya
1.2.11 Patogenesis Terjadinya Antibiotik Sore Mouth
1.2.12 Penatalaksanaan

BAB II
PEMBAHASAN
2.1.

Pertanyaan Penting untuk Anamnesis

Anamnesis yang baik harus mengacu pada pertanyaan yang sistematis, yaitu dengan
berpedoman pada empat pokok pikiran dan tujuh butir mutiara anamnesis. Yang dimaksud
dengan empat pokok pikiran, adalah melakukan anamnesis dengan cara mencari data :
1. Riwayat Penyakit Sekarang (RPS)

2. Riwayat Penyakit Dahulu (RPD)

3. Riwayat Kesehatan Keluarga

4. Riwayat Sosial dan Ekonomi

Sebelum melakukan anamnesis lebih lanjut, pertama yang harus ditanyakan adalah
identitas pasien, yaitu umur, jenis kelamin, ras, status pernikahan, agama dan pekerjaan.
1. Riwayat Penyakit Sekarang, Hal ini meliputi keluhan utama dan anamnesis lanjutan.
Setelah keluhan utama, dilanjutkan anamnesis secara sistematis dengan menggunakan
tujuh butir mutiara anamnesis, yaitu :
a. Lokasi (dimana ? menyebar atau tidak ?)
b. Onset / awitan dan kronologis (kapan terjadinya? berapa lama?)
c. Kuantitas keluhan (ringan atau berat, seberapa sering terjadi ?)
d. Kualitas keluhan (rasa seperti apa ?)
e. Faktor-faktor yang memperberat keluhan.
f. Faktor-faktor yang meringankan keluhan.
g. Analisis sistem yang menyertai keluhan utama.
2. Riwayat Penyakit Dahulu.Ditanyakan adakah penderita pernah sakit serupa sebelumnya,
bila dan kapan terjadinya dan sudah berapa kali dan telah diberi obat apa saja, serta
mencari penyakit yang relevan dengan keadaan sekarang dan penyakit kronik
(hipertensi, diabetes mellitus, dll), perawatan lama, rawat inap, imunisasi, riwayat
pengobatan dan riwayat menstruasi (untuk wanita).
3. Riwayat Penyakit Keluarga. Anamnesis ini digunakan untuk mencari ada tidaknya
penyakit keturunan dari pihak keluarga (diabetes mellitus, hipertensi, tumor, dll) atau
riwayat penyakit yang menular.
6

4. Riwayat sosial dan ekonomi. Hal ini untuk mengetahui status sosial pasien, yang
meliputi pendidikan, pekerjaan pernikahan, kebiasaan yang sering dilakukan (pola tidur,
minum alkohol atau merokok, obat-obatan, aktivitas seksual, sumber keuangan, asuransi
kesehatan dan kepercayaan).
Berikut merupakan daftar pertanyaan yang harus diketahui saat Anamnesis pada kasus
pemicu kali ini, antara lain :
a. Identitas pasien
b. Apakah ada rasa sakit ?
c. Sejak kapan timbulnya lesi ? Sejak kapan mulai dirasakan adanya rasa sakit ?
d. Apakah ada lesi serupa di bagian tubuh lain ?
e. Terapi apa saja yang telah dijalani ?
f. Riwayat keluarga
g. Berapa lama telah meminum obat ?
(Dhani R, dkk, 2012)
2.2.

Prosedur Diagnosis dan Hasil Pemeriksaan

Prosedur Diagnosa
1. Deteksi dan Pemeriksaan dari Keadaan Abnormal
Mendeteksi dan memeriksa lesi, nyeri atau ketidaknormalan. Kondisi yang
dikemukakan pasien sebagai keluhan dan kondisi yang

dikemukakan oleh

dokter adalah area yang menajdi perhatian


2. Latar Belakang dan Pemeriksaan Pasien
Merupakan sumber utama informasi meskipun latar belakang tidak dikemukakan
dalam kondisi scientific.
3. Pemeriksaan Ulang
Merupakan langkah awal dari serangkaian proses analisis data. Analisis data
dibentuk dengan mengevaluasi semua informasi dan informasi baru yang
diletakkan dalam prospektif yang benar.
4. Klasifikasi dari Keadaan Tidak Normal
7

Dibuat berdasarkan tampakan keadaan tidak normal.


5. List of Possible Diagnose
Tahapan yang bergantung dari pengetahuan dokter gigi dan hasilnya adalah daftar
acak dari diagnosa yang memungkinkan.
6. Menemukan Perbedaan dari Diagnosa
List of possible diagnose disusun kembali dengan memperhatikan beberapa
kriteria. Tahapan ini memungkinkan eliminasi beberapa diagosa.
7. Development of Working Diagnose
1 atau 2 dari kemungkinan diagnose yang tersisa adalah working diagnose, lalu
sekarang pemilihan terapi yang sesuai, pemeriksaan penunjang dibutuhkan untuk
lebih menentukan perbedaan antar diagnose yang memungkinkan.
8. Final Diagnose
Dapat didapatkan melalui pemeriksaan lab klinis untuk mengeliminasi
kemungkinan lain.
(Bricker dkk, 2002)
Prosedur diagnosis dimulai dengan pemeriksaan subjektif yaitu anamnesis dimana
akan ditemukan riwayat penyakit sistemik pasien. Kemudian dilanjutkan dengan hasil
pemeriksaan objektif yang meliputi pemeriksaan klinis (Ekstra Oral dan Intra Oral) serta
pemeriksaan penunjang.
Pada Pemeriksaan objektif, pemeriksaan ektra oral yang dilakukan meliputi
pemeriksaan umum (TB/BB, tekanan darah, dll.), pemeriksaan kepala leher (ex. Radang),
pemeriksaan kelenjar limfe (akut, kronis, subakut), pemeriksaan bibir ( ex. Keilitis,
pembengkakan), dan lesi pada kulit. Pemeriksaan intra oral meliputi mukosa bibir ,
pemeriksaan lidah diamana pada kasus ditemukan erosi pada dorsum lidah kemerahan
yang berbentuk irregular dengan batas diffuse, serta terasa panas dan nyeri. Pemeriksaan
dasar mulut, mukosa bukal, palatum dan gingiva juga termasuk dalam pemeriksaan intra
oral.
Hasil Pemeriksaan Klinis Kasus:
Secara klinis permukaan mukosa terlilhat merah dan kasar, disertai gejala sakit/
rasa terbakar, rasa kecap berkurang. Kandidiasis tipe ini pada umumnya ditemukan pada
penderita anemia defisiensi zat besi.

(Greenberg, 2003 dalam Horawati, 2008)


2.3.

Diagnosis Klinis ( Sementara ) Kasus Beserta Alasan


Diagnosis sementara kasus adalah acute atropic candidiasis atau antibiotic sore mouth.

Antibiotic sore mouth harus dicurigai pada pasien dengan gejala mulut terbakar, rasa tidak enak
atau sakit selama periode pemulihan dari suatu penyakit yang telah dirawat dengan antibiotic
spectrum luas. Diagnosis sementara kasus diambil berdasarkan anamnesis yang didapat dimana
sakit terjadi sejak satu bulan yang lalu dan diberi obat antibiotic spectrum luas jangka panjang
yaitu selama 6 bulan. Pada pemeriksaan obyektif didapatkan keadaan umum yang sedang dan
tidak didapati lesi pada kulit.
2.4.

Diagnosa Banding Secara Klinis Lesi


Diagnosa banding lesi adalah Eritoplakia dan Benign Migratory Glositis

2.5.

Berbagai Macam Pemeriksaan Penunjang untuk Menunjang Diagnosis Lesi


Untuk menentukan diagnose candidiasis harus dilakukan pemeriksaan mikroskopis,

disamping pemeriksaan klinis dan mengetahui riwayat penyakit. Bahan pemeriksaan dapat
diambil dengan beberapa cara yaitu dengan usapan (swab) atau kerokan (scraping) lesi pada
mukosa atau kulit. Juga dapat digunakan darah, sputum atau urin.
Bahan diletakkan pada gelas objek dalam larutan potassium hidroksida (KOH) dan
hasilnya akan terlihat pseudohyphae yang tidak beraturan / blastospora. Dapat dilakukan kultur
dengan agar saboraud/eosin methylene blue pada suhu 37 derajat.
Pada acute atrophic candidiasis digunakan pemeriksaan penunjang scrab dan swab dari
lidah atau mukosa bukal untuk membantu diagnosis.
2.6.

Pembuatan Surat Rujukan


Surabaya, 10 September 2014

Kepada,
Yth.

Laboratorium Mikrobiologi minat Mikologi

Rumah Sakit Angkatan Laut


Surabaya
Bersama ini kami kirimkan spesimen hasil swab dari dorsum lidah pasien.

Nama

: Budi

Usia

: 35 tahun

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Alamat

: Jalan Arief Rahman Hakim 12

Dari Pemeriksaan didapat erosi pada dorsum lidah, kemerahan dengan batas yang
difus dan terasa sangat nyeri dengan diagnosis sementara Antibiotic Sore Mouth.
Mohon pemeriksaan lebih lanjut dibidang sejawat dan mohon sedikit kabar. Atas
perhatiannya terima kasih.

BTK,
Wass.col.

2.7.

Interpretasi Hasil PP

Histopatologi Kandidiasis Atrofik Akut :


-

Tipis, atropi, epitel non-keratin dengan adanya beberapa hifa kandida.

Infiltrasi sel inflamasi kronis terlihat dengan jelas, baik di epitelium maupun di lamina
propria.

2.8.

Secara histologi, gambaran lesi ini menyerupai thrush tanpa pseudomembran.


Diagnosis Akhir

Kandidiasis Eritematus Akut (Atropik)


Mukosa oral pada bentuk kandidiasis ini bersifat eritematus dan lesi pada kandidiasis ini
berwarna merah. Lesi ini dapat terjadi di bagian mukosa mulut yang mana saja, tetapi palatum
dan permukaan dorsal lidah adalah tempat-tempat yang sering dijumpai pada penderita dengan

10

pengobatan steroid secara inhalasi. Berbeda dengan bentuk-bentuk kandidiasis oral lainnya,
kandidiasis eritematus akut seringkali menimbulkan rasa sakit.
(Lewis dan Lamey ,1998)
2.9.

Faktor-Faktor Predisposisi Diagnosis Akhir


Faktor Lokal
Oral hygiene
Menurunnya sekresi saliva (xerostomia)
Menurunnya pH mulut
Iritasi akibat pemakaian gigi tiruan yang menyebabkan pH rendah dan suasana
anaerob
Trauma oklusi maserasi

2.10.

Faktor Sistemik
Diet tinggi karbohidrat
Pemakaian antibiotik spektrum luas dalam waktu yang lama
Pemakaian obat kortikosteroid dalam jangka waktu lama
Pasien imunodefisiensi (HIV/AIDS)
Penerima kemoterapi
Infeksi sistemik jangka panjang (ex. Diabetes)
Malnutrisi
(Simatupang, MM, 2009)

Gambaran Klinis Lesi Beserta Klasifikasinya

GAMBARAN KLINIS
Acute athropic candidiasis ditandai dengan berkembangnya kawasan merah pada oral
mukosa. Garis tengah langit-langit dan dorsum lidah juga sering terlihat. Tidak seperti bentuk
lain dari kandidiasis oral, acute athropic candidiasis seringkali menyakitkan. Untuk ini,
kandidiasis mungkin merupakan indikasi infeksi HIV yang mendasari. Pasien sering mengeluh
bahwa mulut mereka merasa seolah-olah itu telah tersiram air panas oleh minuman panas

Gambaran klinis berupa lesi putih

- acute pseudomembranous
Lesi putih kekuningan, lunak, tebal, bila dikerok terlepas dan meninggalkan mukosa yg erosi,
kadang-kadang terasa nyeri
11

Gambaran klinis berupa lesi merah

- acute atropic dan chronic athropic


Lesi berwarna merah karena mukosa atrofi
(Sasanti, H (http://staff.ui.ac.id/system/files/users/harum_sasanti/material/stomatitis.pdf), diakses
8 September 2014)
KLASIFIKASI
Secara umum, kandidiasis oral dapat diklasifikasikan atas tiga kelompok, yaitu:
1. Akut , dibedakan menjadi dua macam, yaitu :
a. Kandidiasis Pseudomembranosus Akut
Kandidiasis ini biasanya disebut juga sebagai thrush. Secara klinis, pseudomembranosus
kandidiasis terlihat sebagai plak mukosa yang putih atau kuning, seperti cheesy material yang
dapat dihilangkan dan meninggalkan permukaan yang berwarna merah. Candidiasis ini terdiri atas
sel epitel deskuamasi, fibrin, dan hifa jamur dan umumnya dijumpai pada mukosa labial, mukosa
bukal, palatum keras, palatum lunak, lidah, jaringan periodontal dan orofaring.Thrush dijumpai
sebesar 5% pada bayi bayu lahir dan 10% pada orang tua yang kondisi tubuhnya lemah.
Keberadaan kandidiasis pseudomembranosus ini sering dihubungkan dengan penggunaan
kortikosteroid, antibiotik, xerostomia, dan pada pasien dengan sistem imun rendah seperti
HIV/AIDS. Diagnosa banding dari kandidiasis pseudomembranosus ini meliputi flek dari susu
dan debris makanan yang tertinggal menempel pada mukosa mulut, khususnya pada bayi yang
masih menyusui atau pada pasien lanjut usia dengan kondisi tubuh yang lemah akibat penyakit.

Gambar 1. Kandidiasis Pesudomembraounosus Akut


12

b. Kandidiasis Atrofik Akut


Tipe kandidiasis ini kadang dinamakan sebagai antibiotic sore tongue atau juga
kandidiasis eritematus dan biasanya dijumpai pada mukosa bukal, palatum, dan bagian dorsal
lidah dengan permukaan tampak sebagai bercak kemerahan. Penggunaan antibiotik spektrum
luas maupun kortikosteroid sering dikaitkan dengan timbulnya kandidiasis atrofik akut. Pasien
yang menderita kandidiasis ini mengeluh adanya rasa sakit seperti terbakar.

Gambar 2. Kandidiasis Atrofik Akut

2. Kronik, dibedakan atas tiga jenis, yaitu :


a. Kandidiasis Atrofik Kronik
Kandidiasis atrofik kronik disebut juga denture sore mouth atau denture related
stomatitis, dan merupakan bentuk kandidiasis paling umum yang ditemukan pada 24-60%
pemakai gigi tiruan. Gambaran klinis denture related stomatitis ini berupa daerah eritema pada
mukosa yang berkontak dengan permukaan gigi tiruan. Gigi tiruan yang menutupi mukosa dari
saliva menyebabkan daerah tersebut mudah terinfeksi jamur.
Berdasarkan gambaran klinis yang terlihat pada mukosa yang terinflamasi di bawah gigi tiruan
13

rahang atas, denture stomatitis ini dapat diklasifikasikan atas tiga yaitu :
Tipe I : tahap awal dengan adanya pin point hiperemi yang terlokalisir
Tipe II : tampak eritema difus pada mukosa yang berkontak dengan gigi tiruan
Tipe III : tipe granular (inflammatory papillary hyperplasia) yang biasanya tampak pada bagian
tengah palatum keras.

Gambar 3. Denture Stomatitis tipe I

Gambar 4. Denture Stomatitis tipe II


14

Gambar 5. Denture Stomatitis tipe III


b. Kandidiasis Hiperplastik Kronik
Kandidiasis ini sering disebut juga sebagai Kandida leukoplakia yang terlihat seperti plak
putih pada bagian komisura mukosa bukal atau tepi lateral lidah yang tidak bisa hilang bila
dihapus. Kondisi ini dapat berkembang menjadi displasia berat atau keganasan. Kandida
leukoplakia ini dihubungkan dengan kebiasaan merokok.

Gambar 6. Kandidiasis Hiperplastik Kronik

15

c. Median Rhomboid Glositis


Median Rhomboid Glositis merupakan bentuk lain dari atrofik kandidiasis yang tampak
sebagai daerah atrofik pada bagian tengah permukaan dorsal lidah, dan cenderung dihubungkan
dengan perokok dan penggunaan obat steroid yang dihirup.

Gambar 7. Median Rhomboid Glositis


3. Keilitis Angularis
Keilitis Angularis atau disebut juga angular stomatitis atau perleche merupakan
infeksi campuran bakteri dan jamur Kandida yang umumnya dijumpai pada sudut mulut baik
unilateral maupun bilateral. Sudut mulut yang terinfeksi tampak merah dan sakit. Keilitis
angularis dapat terjadi pada penderita anemia defisiensi besi, defisiensi vitamin B12, dan pada
gigi tiruan dengan vertikal dimensi oklusi yang tidak tepat

16

Gambar 8. Keilitis Angularis


(http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/23362/3/Chapter%20II.pdf), diakses 8
September 2014)

2.11.

Patogenesis Terjadinya Antibiotik Sore Mouth


Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, obat antibiotik mempunyai efek samping pada

rongga mulut berupa timbulnya kandidiasis oral. Mekanisme obat antibiotik dalam menimbulkan
kandidiasis oral adalah melalui aksi kerjanya dalam mengobati penyakit yang disebabkan oleh
infeksi bakteri. Dalam rongga mulut manusia terdapat flora normal yaitu bakteri dan jamur
dimana jamur yang dominan ditemukan adalah jamur Kandida albikan. Pada keadaan normal,
Kandida albikan tidak berbahaya bagi kehidupan manusia dan hidup bersama dengan bakteri
dalam keadaan seimbang. Namun beberapa keadaan seperti penggunaan obat antibiotik dapat
menyebabkan ketidakseimbangan diantara flora normal tersebut. Obat antibiotik walaupun
sangat bermanfaat bagi pengobatan terhadap infeksi bakteri, namun cara kerja obat tersebut
penting untuk diperhatikan. Antibiotik bekerja dengan membunuh bakteri yang ada pada
seseorang, baik bakteri penyebab penyakit maupun bakteri normal yang berguna bagi manusia,
sementara jamur Kandida tidak dibunuh oleh obat antibiotik. Dengan tidak adanya lagi bakteri
yang secara normal hidup dalam keadaan seimbang dengan Kandida, maka Kandida dapat
tumbuh subur dan melakukan multiplikasi sehingga terjadilah pertumbuhan berlebihan dari
Kandida pada rongga mulut yang kita kenal dengan kandidiasis oral.

17

Adapun bakteri normal yang berguna bagi manusia seperti Lactobacillus acidophilus
berperan dalam menjaga pertumbuhan jamur Kandida agar tetap seimbang. Pada manusia,
Lactobacillus acidophilus ditemukan pada sistem pencernaan, mulut, dan vagina. Bakteri
Lactobacillus dapat mengurangi perlekatan Kandida albikan pada sel epitel inang. Lactobacillus
juga melepaskan hidrogen peroksida dan asam laktat yang dapat menghambat proliferasi dan
invasi jamur Kandida albikan. Substansi bakteriocin yang diproduksi Lactobacillus dapat
menekan pertumbuhan dan mengurangi jumlah jamur Kandida. Dengan adanya aksi obat
antibiotik dalam membunuh bakteri, maka Lactobacillus acidophilus juga akan ikut hilang. Hal
ini menyebabkan pertumbuhan jamur Kandida semakin meningkat karena keberadaan bakteri
yang hidup seimbang dengan Kandida dan dapat menekan pertumbuhan abnormal jamur
Kandida telah tereleminasi akibat pemakain obat antibiotik.
(Simatupang, MM, 2009)
2.12.

Penatalaksanaan
Terapi polyene secara topikalharus diberikan selama 4 minggu. Terapi antibiotic harus

dihindari, penderita dengan terapi steroid secara inhalasi harus dianjurkan untuk berkumurkumur dengan air sesudah terapi inhalasi untuk mengurangi jumlah steroid di dalam rongga
mulut. (Lewis & Lamey, 1998)
Pengobatan antifungi lainnya:
Chlorhexidin gluconat 0,2% fl
Asam mefenamat jika perlu
Bikomsi kaplet
Terapi yang direkomendasikan:
1.
2.
3.
4.

Nystatin
Chlotrimazole
Amfotericin B
Caspofungin

Sifat farmakologi:
Amfoterisin B
18

Amfoterisin A dan B merupakan hasil fermentasi streptomyces nodosus.


Mekanisme kerja
Amfoterisin B berikatan kuat dengan sterol yang terdapat pada membran sel jamur
sehingga membran sel bocor dan kehilangan beberapa bahan intrasel dan menyebabkan
kerusakan yang tetap pada sel.
Salah satu penyebab efek toksik yang ditimbulkan disebabkan oleh pengikatan kolesterol pada
membran sel hewan dan manusia.
Resistensi terhadap amfoterisin B mungkin disebabkan oleh terjadinya perubahan reseptor sterol
pada membran sel.
Farmakokinetik
Absorbsi : sedikit sekali diserap melalui saluran cerna.
Waktu paruh kira-kira 24-48 jam pada dosis awal yang diikuti oleh eliminasi fase kedua dengan
waktu paruh kira-kira 15 hari, sehingga kadar mantapnya akan tercapai setelah beberapa bulan
setelah pemberian.
Ekskresi : obat ini melalui ginjal berlangsung lambat sekali, hanya 3% dari jumlah yang
diberikan.
Efek samping

Infus : kulit panas, keringatan, sakit kepala, demam, menggigil, lesu, anoreksia, nyeri
otot, flebitis, kejang dan penurunan faal ginjal.

50% penderita yang mendapat dosis awal secara IV akan mengalami demam dan
menggigil.

Asidosis tubuler ringan dan hipokalemia sering dijumpai.penanganan dg pemberian


kalium.

Efek toksik terhadap ginjal dapat ditekan bila amfoterisin B diberikan bersama flusitosin.

Ketokonazol.

19

Mekanisme kerja

Seperti azole jenis yang lain, ketoconazole berinterferensi dengan biosintesis ergosterol,
sehingga menyebabkan perubahan sejumlah fungsi sel yang berhubungan dengan
membran.

Farmakokinetik

Absorbsi

: diserap baik melalui saluran cerna dan menghasilkan kadar plasma yang

cukup untuk menekan aktivitas berbagai jenis jamur. Penyerapan melalui saluran cerna
akan berkurang pada penderita dengan pH lambung yang tinggi,pada pemberian bersama
antasid.

Distribusi

: ketokonazol setelah diserap belum banyak diketahui.

Ekskresi

: Diduga ketokonazol diekskresikan bersama cairan empedu ke lumen

usus dan hanya sebagian kecil saja yang dikeluarkan bersama urin, semuanya dalam
bentuk metabolit yang tidak aktif.
Efek Samping

Efek toksik lebih ringan daripada Amfoterisin B.

Mual dan muntah merupakan ESO paling sering dijumpai

ESO jarang : sakit kepala, vertigo, nyeri epigastrik, fotofobia, parestesia, gusi berdarah,
erupsi kulit, dan trombositopenia.

Itrakonazol

Mekanisme kerja

Seperti halnya azole yang lain, itraconazole berinterferensi dengan enzim yang
dipengaruhi oleh cytochrome P-450, 14(-demethylase. Interferensi ini menyebabkan
akumulasi 14-methylsterol dan menguraikan ergosterol di dalam
sel-sel jamur dan kemudian mengganti sejumlah fungsi sel yang berhubungan dengan
membran.
20

Farmakokinetik

Itrakonazol akan diserap lebih sempurna melalui saluran cerna, bila diberikan bersama
dengan makanan. Dosis 100 mg/hari selama 15 hari akan menghasilkan kadar puncak
sebesar 0,5 g/ml.

Waktu paruh eliminasi obat ini 36 jam (setelah 15 hari pemakaian).

Sediaan dan dosis

Itrakonazol tersedia dalam kapsul 100 mg.

Untuk dermatofitosis diberikan dosis 1 x 100mg/hari selama 2-8 minggu

Kandidiasis vaginal diobati dengan dosis 1 x 200 mg/hari selama 3 hari.

Pitiriasis versikolor memerlukan dosis 1 x 200 mg/hari selama 5 hari.

Infeksi berat mungkin memerlukan dosis hingga 400 mg sehari.

Efek samping

Kemerahan,

pruritus,

lesu,

pusing,

edema,

parestesia

10-15% penderita mengeluh mual atau muntah tapi pengobatan tidak perlu dihentikan

Flukonazol
Mekanisme kerja

21

berinterferensi dengan biosintesis ergosterol, sehingga menyebabkan perubahan sejumlah fungsi


sel yang berhubungan dengan membran.
Farmakokinetik

Obat ini diserap sempurna melalui saluran cerna tanpa dipengaruhi adanya makanan
ataupun keasaman lambung.

Kadar puncak 4-8 g dicapai setelah beberapa kali pemberian 100 mg.

Waktu paruh eliminasi 25 jam sedangkan ekskresi melalui ginjal melebihi 90% bersihan
ginjal.

Efek samping

Gangguan saluran cerna merupakan ESO paling banyak

Reaksi alergi pada kulit, eosinofilia, sindrom stevens Johnson.

Nystatin (Nistatin)
Cara Kerja Obat:
Nystatin memiliki aktivitas antifungi (anti jamur), yaitu dengan mengikat sterol (terutama
ergosterol) dalam membran sel fungi. Nystatin tidak aktif melawan organisme (contohnya:
bakteri) yang tidak mempunyai sterol pada membran selnya. Hasil dari ikatan ini membuat
membran tidak dapat berfungsi lagi sebagai rintangan yang selektif (selective barrier), dan
kalium serta komponen sel yang lainnya akan hilang. Aksi utama nystatin adalah melawan
Candida (Monilia) spp.
Efek Samping:
Jarang:
-

Nystatin dapat ditolerir oleh semua umur, termasuk untuk pemakian jangka lama.

Pada pemakaian dosis besar jarang mengakibatkan diare, gangguan gastrointestina, mual dan

muntah.
-

Steven-Johnson syndrome jarang terjadi

22

Caspofungin
Caspofungin merupakan derivat semi sintetik dari pneumo-candin B yang merupakan hasil
fermentasi lipopeptid jamur Glarea lozoyensis.
Mekanisme Kerja
Caspofungin menghambat sintesis protein (1,3)-D-glucan yang merupakan komponen dinding
sel jamur.
Aktifitas spektrum
Caspofungin mempunyai aktifitas spektrum yang terbatas. Caspofungin efektif terhadap
Aspergillus fumigatus, Aspergillus flavus dan Aspergillus terreus tetapi tidak efektif terhadap
dermatofit. Caspofungin mempunyai aktifitas yang berubah-ubah terhadap Coccidioides immitis,
Histoplasma capsulatum dan dematiaceous molds. Caspofungin juga efektif terhadap sebagian
besar Candida species dengan efek fungisidal yang tinggi, tetapi terhadap Candida parapsilosis
dan Candida krusei kurang efektif dan resisten terhadap Cryptococcus neoformans.
Farmakokinetik
Pemberian caspofungin secara parenteral setelah 1 jam dengan dosis 70 mg akan dicapai
konsentrasi serum sebanyak 10 mg/L. Kurang dari 10% dosis obat, akan menetap di dalam darah
setelah pemberian 36-48 jam dan lebih dari 96% akan berikatan dengan protein. Sebagian besar
obat akan di distribusikan ke dalam jaringan.
Dosis
Pada pasien aspergillosis dosis yang dianjurkan 70 mg pada hari pertama dan
50 mg/hari untuk hari selanjutnya. Setiap dosis harus di infuskan dalam periode 1 jam.
Efek samping
Efek samping yang sering dijumpai yaitu demam, adanya ruam pada kulit, mual dan muntah.
(Setiabudy & Bahry, 2007)

23

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan:
Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan objektif baik ekstra oral dan intra oral, dapat
diambil diagnosis akhir dari lesi pasien adalah acute athropic candidiasis. Diagnosis akhir ini
dapat diambil karena pasien telah merasakan sakit sejak 1 bulan yang lalu dan telah
mengkonsumsi obat antibiotic spectrum luas jangka panjang yaitu selama 6 bulan.
Penatalaksanaan yang dapat dilakukan sebagai dokter gigi adalah untuk menghentikan konsumsi
antibiotic spectrum luas serta merujuknya kepada dokter gigi spesialis penyakit mulut.
Pemberian resep obat kumur, analgesic, vitamin, dan pengobatan anti jamur dapat dilakukan pula
untuk menunjang kesembuhan pasien.

DAFTAR PUSTAKA
24

1. Bricker, S.L., Langlais, R.P., and Miller, C.S., 1994, Oral Diagnosis, Oral
Medicine, and Treatment Planning, 2nd ed., Waverly company, Pensylvania, pp. 556-7,
668-70, 676-704
2. Greenberg, M; Glick, M; Burkets Oral Medicine Diagnosis & Treatment 10th; BC
Decker Inc; New jersey, 2003; p:547-550; 63-65
3. Lewis MAO dan PJ Lamey.1998. Tinjauan Klinis Penyakit Mulut. Jakarta: Widya
Medika, hlm 41
4. Redhono Dhani, Wachid Putranto, Veronika Ika Budiastuti. 2012. Komunikasi III :
Hostory Taking Anamnesis. Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran
Universitas Sebelas Maret Surakarta / RSUD dr Moewardi Surakarta, Bagian Biokimia
Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta, (online) (available at :
http://fk.uns.ac.id/static/file/Manual_Semester_II-2012.pdf, diakses : 08 September
2014).
5. Sasanti, H. Stomatitis yang Sering Dijumpai di Klinik, (online).
(http://staff.ui.ac.id/system/files/users/harum_sasanti/material/stomatitis.pdf), diakses 8
September 2014)
6. Setiabudy dan Bahry, 2007. Farmakologi dan terapi, Departemen Farmakologi
danTerapeutik. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta
7. Scully, C.2008. Oral dan Maxillofacial Medicine. Second Edition. Philadelphia: Elsevier
8. Simatupang, M M. 2009. Candida Albicans. (online).
(http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1935/1/09E01452.pdf), diakses 8
September 2014)
9. Anonymous, (online). (http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/23362/3/Chapter
%20II.pdf), diakses 8 September 2014)

25