Anda di halaman 1dari 13

IDENTIFIKASI DAN PENATALAKSANAAN PASIEN I

MODUL 1 LESI PUTIH DAN MERAH

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 2
Stephanie Marcelina

2012.07.0.0003

Ardin Christian

2012.07.0.0009

Luthvina Setiani Aziza

2012.07.0.0022

Melinda Tanadi

2012.07.0.0027

Tiaranita Ramadhani

2012.07.0.0041

Dyah Maulidarahman

2012.07.0.0045

Andrey Abraham Thoe

2012.07.0.0046

Agustinus Kenny Wijaya

2012.07.0.0055

Cindy Indah Permatasari

2012.07.0.0056

M Bagus Fadila

2012.07.0.0061

Anindya Putri Bella

2012.07.0.0070

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS HANG TUAH
SURABAYA
2014

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam melaksanakan praktek kedokteran gigi harus memperhatikan dan
mengikuti prosedur yang telah ada. Untuk mendapatkan informasi pertama antara
dokter dan pasien adalah dengan melakukan anamnesis. Yaitu memberikan
pertanyaan-pertanyaan secara subjektif dan objektif untuk memdapatkan
informasi tentang keluhan pasien. Pertanyaan seorang dokter terhadap pasien
dalam menganamnesis harus sesuai dengan keluhan pasien tersebut.
1.2 Batasan Topik
1.2.1 Pertanyaan pada pasien
1.2.2 Pemeriksaan klinis dan prosedur diagnosis
1.2.3 Diagnosis sementara beserta alasannya
1.2.4 DD secara klinis lesi pada pemicu
1.2.5 Teknik pemeriksaan penunjang beserta pembuatan surat rujukan
1.2.6 Interpretasi hasil PP
1.2.7 Diagnosis akhir
1.2.8 Faktor predisposisi dan penyebabnya
1.2.9 Gambaran klinis lesi beserta klasifikasinya
1.2.10 Patogenesis
1.2.11 Penatalaksanaan

1.3 Peta Konsep

Anamnesis
(Lidah kemerahan dan sangat nyeri)

Pemberian antibiotic jangka panjang

Candida Albicans

Eritematous

Pemeriksaan Klinis

DD: Thrush

Diagnosa sementara suspek sore mouth

Teknik dan sistem rujukan

Prognosis

Interpretasi hasil PP

Diagnosa akhir
(Acute Atropic Candidiasis)

Penatalaksanaan

Terapi

BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Pertanyaan Pada Pasien (Anamnesis)
Anamnesis yang baik harus mengacu pada pertanyaan yang sistematis, yaitu
dengan berpedoman pada empat pokok pikiran dan tujuh butir mutiara anamnesis.
Yang dimaksud dengan empat pokok pikiran, adalah melakukan anamnesis dengan
cara mencari data :
Sebelum melakukan anamnesis lebih lanjut, pertama yang harus ditanyakan
adalah identitas pasien, yaitu umur, jenis kelamin, ras, status pernikahan, agama dan
pekerjaan.
1. Riwayat Penyakit Sekarang, Hal ini meliputi keluhan utama dan anamnesis
lanjutan. Setelah keluhan utama, dilanjutkan anamnesis secara sistematis
dengan menggunakan tujuh butir mutiara anamnesis, yaitu :
a. Lokasi (dimana ? menyebar atau tidak ?)
b. Onset / awitan dan kronologis (kapan terjadinya? berapa lama?)
c. Kuantitas keluhan (ringan atau berat, seberapa sering terjadi ?)
d. Kualitas keluhan (rasa seperti apa ?)
e. Faktor-faktor yang memperberat keluhan.
f. Faktor-faktor yang meringankan keluhan.
g. Analisis sistem yang menyertai keluhan utama.
2. Riwayat Penyakit Dahulu.Ditanyakan adakah penderita pernah sakit serupa
sebelumnya, bila dan kapan terjadinya dan sudah berapa kali dan telah diberi
obat apa saja, serta mencari penyakit yang relevan dengan keadaan sekarang
dan penyakit kronik (hipertensi, diabetes mellitus, dll), perawatan lama,
rawat inap, imunisasi, riwayat pengobatan dan riwayat menstruasi (untuk
wanita).
3. Riwayat Penyakit Keluarga. Anamnesis ini digunakan untuk mencari ada
tidaknya penyakit keturunan dari pihak keluarga (diabetes mellitus,
hipertensi, tumor, dll) atau riwayat penyakit yang menular.
4. Riwayat sosial dan ekonomi. Hal ini untuk mengetahui status sosial pasien,
yang meliputi pendidikan, pekerjaan pernikahan, kebiasaan yang sering
dilakukan (pola tidur, minum alkohol atau merokok, obat-obatan, aktivitas
seksual, sumber keuangan, asuransi kesehatan dan kepercayaan).
Berikut merupakan daftar pertanyaan yang harus diketahui saat Anamnesis pada
kasus pemicu kali ini, antara lain :
a. Identitas pasien
b. Apakah ada rasa sakit ?

c. Sejak kapan timbulnya lesi ? Sejak kapan mulai dirasakan adanya rasa sakit ?
d. Apakah ada lesi serupa di bagian tubuh lain ?
e. Terapi apa saja yang telah dijalani ?
f. Riwayat keluarga
g. Berapa lama telah meminum obat ?

2.2 Pemeriksaan Klinis Dan Prosedur Diagnosis

Pemeriksaan klinis
Secara klinis permukaan mukosa terlihat merah dan licin, adanya rasa
sakit dan terbakar serta rasa kecap yang berkurang. Kandidiasis tipe ini
pd umumnya di temukan pada penderita yang mengkonsumsi antibiotic
jangka panjang.
Prosedur diagnosis
1. Deteksi dan pemeriksaan dari keadaan abnormal
Mendeteksi dan memeriksa lesi, nyeri atau ketidaknormalan. Kondisi yang
di kemukakan pasien sebagai keluhan adalah area yang harus menjadi
perhatian dokter.
2. Latar belakang dan pemeriksaan pasien
Merupakan sumber utama informasi meskipun latar belakang tidak
dikemukakan dalam kondisi ilmiah.
3. Pemeriksaan ulang
Merupakan langkah awal dari serangkaian proses analisis data dibentuk
dengan mengevaluasi semua informasi dan informasi baru yang diletakkan
dalam perspektif yang benar.
4. Klasifikasi dari keadaan tidak normal
Dibuat berdasarkan tampakan keadaan tidak normal.
5. List of possible diagnose
Tahapan yang bergantung dari pengetahuan dokter gigi dan hasilnya
adalah daftar acak dari diagnosis yang memungkinkan.
6. Menemukan perbedaan dari diagnose
List of possible diagnose disusun kembali dengan memperhatikan
beberapa criteria. Tahapan ini memungkinkan eliminasi beberapa
diagnosis.
7. Development of working diagnose
1 atau 2 dari kemungkinan diagnosis yang tersisa adalah working
diagnose, lalu setelah itu menetukan pilihan terapi yang tepat, pemeriksaan
penunjang dibutuhkan untuk lebih menentukan perbedaan antar diagnosis
yang memungkinkan.
8. Final diagnose
Dapat diperoleh melalui pemeriksaan laboraturium klinis untuk
mengeliminasi kemungkinan lain.

2.3 Diagnosis Sementara Beserta Alasannya


Diagnosis Sementara pada kasus : Suspect Acute Atropic Candidiasis.
Karena berdasarkan gambaran klinis yang tampak : terdapat bercak kemerahan dari
mukosa, kasar, atrofik, dan sakit. Pasien biasanya akan merasakan gejala mulut
terbakar, rasa tidak enak / sakit tenggorokan selama periode pemulihan dan
merupakan suatu dampak dari penggunaan antiobiotik spectrum luas dengan jangka
waktu yang cukup lama.

2.4 DD Secara Klinis Lesi Pada Pemicu


Eritroplakia, Glossitis, dan Benign Migratory.

2.5 Teknik Pemeriksaan Penunjang Beserta Pembuatan Surat Rujukan


Pemeriksaan penunjang untuk menunjang diagnosis lesi :
1. Oral swab pada lidah
Teknik modern eksfakasi rongga mulut memiliki akurasi lebih tinggi (90%)
karena dapat mengambil seluruh lapisan epitel termasuk lapisan basal sel.
Sedimen diambil dengan cara berputar 360%, kemudian sedimen yang ada pada
cytobrush diteruskan ke atas secara slide.
2. Lab mikrobiologi minat mikologi
Bekerja sama dengan lab untuk mendapatkan swab, botol specimen, formulir
permintaan periksaan lab, serta cara pengiriman dan perlindungan kemasan yang
dikirim specimen yang diambil sebelum pengambilan antimikrobal dilakukan.
Tes klinik lab untuk kandida dilakukan penghilangan plak kandida, smear atau
swab pada slide mikroskop dan direndam 20% potassium hidroksida atau dicat
dengan PAS kultur subaroud broth agar darah dan agar cornmeal. Hitung kandida
kuantitatif dapat dilakukan dengan memantau terapi yang diberikan. Pasien
demikian memberikan sampel salivanya atau berkumur-kumur dengan larutan
phosphat buffered saline selama 1 menit, sebelum dimasukkan kedalam wabah
steril.

Surat rujukan :

Surat rujukan dari Drg. Kepada Drg. Sp. P.M.


Surabaya, 8 September 2014
Kepada Yth.
TS. Poli Gigi dan Mulut
Rumah Sakit Angkatan Laut dr. Ramelan
Surabaya
Mohon konsul dan pemeriksaan lebih lanjut pada pasien :
Nama :
Usia :
Jenis Kelamin :
Alamat:
Dari pemeriksaan klinis didapat erosi papilla lidah, kemerahan, terasa nyeri. Diagnosis
sementara adalah Suspect Acute Athropic Candidiasis.
Mohon Pemeriksaan lebih lanjut dibidang sejawat dan mohon sedikit kabar.
BTK,
Wass. Coll.

Surat rujukan dari Drg. Ke Lab Patologi Anatomi minat HPA


Surabaya, 8 September 2014
Kepada Yth.
TS. Laboratorium Patologi Anatomi
Mintak HPA
Rumah Sakit Angkatan Laut dr. Ramelan
Surabaya
Bersama ini kami kirimkan spesimen hasil swab dari mukosa papilla lidah pasien :
Nama :
Usia :
Jenis Kelamin :
Alamat:
Berdasarkan pemeriksaan didapat erosi papilla lidah, terasa nyeri dengan diagnosis
sementara Suspect Acute Atropic Candidiasis. Mohon pemeriksaan lebih lanjut dan
sedikit kabar.
BTK,
Wass. Coll.

2.6 Interpretasi Hasil PP

Histopatologi Kandidiasis Atrofik Akut :


-

Tipis, atropi, epitel non-keratin dengan adanya beberapa hifa candida,

Infiltrasi sel inflamasi kronis terlihat dengan jelas, baik di epitelium maupun di
lamina propria,

Secara histologi, gambaran lesi ini menyerupai thrush tanpa pseudomembran.

2.7 Diagnosis Akhir


Acute Atrophic Candidiasis
Alasan : memiliki ciri khas berupa patch merah atropik, rasa nyeri dan sulit makan
akibat hilangnya rasa pengecapan. Hal ini disebabkan karena penggunaan antibiotik
spektrum luas dan continue. Bila terkena lidah dapat mengakibatkan hilangnya papila
filiphormis dari permukaan lidah.

2.8 Faktor Predisposisi Dan Penyebabnya

Faktor predisposisi :

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Fisiologi: Usia lanjut, bayi, wanita hamil, diabetes melitus


Trauma lokal: iritasi mukosa, protesa/ alat ortho yang buruk
Malnutrisi: diet tinggi karbohidrat, defisensi asam folat, Fe, vit B12
Gangguan Endokrin: Diabetes
Kelainan imun: HIV/ AIDS
Xerostomia : ( akibat radiasi, obat-obatan)
Keganasan, termasuk kelainan darah (leukimia akut, agranulositosis)
Antibiotik, terutama penggunaan antibiotik spektrum luas untuk jangka waktu
panjang
Etiologi :

Pada kasus disebabkan karena pemakaian antibiotik jangka panjang

2.9 Gambaran Klinis Lesi Beserta Klasifikasinya

Gambaran klinisnya terlihat berupa lesi putih atau bercak kemerahan difus
pada mukosa yang kasar, atropi, sakit sekali, serta menetap dalam jangka
waktu yang lama. Pasien akan merasakan gejala seperti terbakar dan
perubahan rasa kecap. Lesi ini dapat terlihat pada mukosa mana saja, tetapi
lebih sering dijumpai di sepanjang dorsum lidah dan palatum, sering dijumpai
pada pasien dengan pengobatan steroid secara inhalasi. Pada lidah, lesi akan
terlihat sebagai permukaan yang tidak berpapila dan tidak berkeratin
dibandingkan dengan permukaan lidah lain yang mempunyai lapisan tebal.

Klasifikasi dari oral kandidiasis dibagi menjadi lima yaitu kandidiasis


pseudomembranous akut (thrush), kandidiasis atrofik akut (antibiotic sore

mouth), kandidiasis atrofik kronik (denture sore mouth), kandidiasis


hiperplastik kronik (leukoplakia), dan kelitis angularis.
2.10 Patogenesis
Obat antibiotik mempunyai efek samping pada rongga mulut berupa
timbulnya kandidiasis oral. Mekanisme obat antibiotik dalam menimbulkan
kandidiasis oral adalah melalui aksi kerjanya.
2.11 Penatalaksanaan
Terapi polyene secara topikalharus diberikan selama 4 minggu. Terapi
antibiotic harus dihindari, penderita dengan terapi steroid secara inhalasi harus
dianjurkan untuk berkumur-kumur dengan air sesudah terapi inhalasi untuk
mengurangi jumlah steroid di dalam rongga mulut.
Terapi yang direkomendasikan:
1. Nystatin
2. Amfotericin B
3. Caspofungin

2.11.1 Nystatin
Mekanisme :
Nystatin memiliki aktivitas antifungi (anti jamur), yaitu dengan mengikat sterol
(terutama ergosterol) dalam membran sel fungi. Nystatin tidak aktif melawan
organisme (contohnya: bakteri) yang tidak mempunyai sterol pada membran selnya.
Hasil dari ikatan ini membuat membran tidak dapat berfungsi lagi sebagai rintangan
yang selektif (selective barrier), dan kalium serta komponen sel yang lainnya akan
hilang. Aksi utama nystatin adalah melawan Candida (Monilia) spp.
Farmakokinetik :

Nystatin tidak dapat diserap oleh saluran cerna, kulit dan vagina.
Pada penggunaan PO, nystatin dieliminasi dalam bentuk untuh melalui feses.

Efek Samping :

Nystatin dapat ditolerir oleh semua umur, termasuk untuk pemakian jangka
lama.

Pada pemakaian dosis besar jarang mengakibatkan diare, gangguan


gastrointestina, mual dan muntah.

Steven-Johnson syndrome jarang terjadi

Lebih toksis disbanding Amfotericin B sehingga tidak dapat diberikan secara


sistemik.

2.11.2 Amfoterisin B
Amfoterisin A dan B merupakan hasil fermentasi streptomyces nodosus.
Mekanisme kerja :
Amfoterisin B berikatan kuat dengan sterol yang terdapat pada membran sel jamur
sehingga
membran sel bocor dan kehilangan beberapa bahan intrasel dan
menyebabkan kerusakan yang tetap pada sel.
Salah satu penyebab efek toksik yang ditimbulkan disebabkan oleh pengikatan
kolesterol pada membran sel hewan dan manusia.
Resistensi terhadap amfoterisin B mungkin disebabkan oleh terjadinya perubahan
reseptor sterol pada membran sel.
Farmakokinetik :
Absorbsi : sedikit sekali diserap melalui saluran cerna.
Ekskresi : obat ini melalui ginjal berlangsung lambat sekali, hanya 3% dari jumlah
yang diberikan.
Efek samping :

Infus : kulit panas, keringatan, sakit kepala, demam, menggigil, lesu,


anoreksia, nyeri otot, flebitis, kejang dan penurunan faal ginjal.

50% penderita yang mendapat dosis awal secara IV akan mengalami demam
dan menggigil.

Asidosis tubuler ringan dan hipokalemia sering dijumpai.penanganan dg


pemberian kalium.

Efek toksik terhadap ginjal dapat ditekan bila amfoterisin B diberikan bersama
flusitosin.

2.11.3 Caspofungin
Caspofungin merupakan derivat semi sintetik dari pneumo-candin B yang merupakan
hasil fermentasi lipopeptid jamur Glarea lozoyensis.
Mekanisme Kerja :
Caspofungin menghambat sintesis protein (1,3)-D-glucan yang merupakan komponen
dinding sel jamur.
Farmakokinetik :

Dalam darah terikat protein,

Waktu paruh eliminasi : 9-11 jam,

Metabolisme lambat dengan cara hidrolisis dan asetilasi,

Ekskresi : melalui urin sedikit sekali.

Dosis :
Pada pasien aspergillosis dosis yang dianjurkan 70 mg pada hari pertama dan 50
mg/hari untuk hari selanjutnya. Setiap dosis harus di infuskan dalam periode 1 jam.
Efek samping
Efek samping yang sering dijumpai yaitu demam, adanya ruam pada kulit, dan mual.
Secara umum caspofungin dapat ditoleransi lebih baik disbanding amphotericin B.

BAB III

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan melalui anamnesis dan pemeriksaan klinis secara intra oral
dan ekstra oral, bahwa pasien di diagnosis mengalami Acute Atropic Candidiasis. Ini
disebabkan karena penggunaan antibiotic jangka panjang, sehingga pasien sebaiknya
menghentikan terapi antibiotic.

DAFTAR PUSTAKA

1. Anonymous, (online).
(http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/23362/3/Chapter%20II.pdf)
2. Brickel SL, Langbis RP dan Miller CS.2002.Oral Diagnose,Oral Medicine and
Treatment Planning, Second ed.. BCc Dekcker Lisn.,Hamilton London.
3. Greenberg, M; Glick, M; Burkets Oral Medicine Diagnosis & Treatment 10th;
BC Decker Inc; New jersey, 2003; p:547-550; 63-65
4. Herawati, Erna. 2008. Makalah: Kandidiasis Rongga Mulut Gambaran Klinis
dan Terapinya.(online)(available at : http://pustaka.unpad.ac.id/wpcontent/uploads/2009/05/kandidiasis_rongga_mulut_pdf).
5. Lewis MAO dan PJ Lamey.1998. Tinjauan Klinis Penyakit Mulut. Jakarta:
Widya Medika, hlm 41
6. Redhono Dhani, Wachid Putranto, Veronika Ika Budiastuti. 2012. Komunikasi
III : Hostory Taking Anamnesis. Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas
Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta / RSUD dr Moewardi
Surakarta, Bagian Biokimia Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret
Surakarta, (online) (available at :
http://fk.uns.ac.id/static/file/Manual_Semester_II-2012.pdf)
7. Setiabudy dan Bahry, 2007. Farmakologi dan terapi, Departemen Farmakologi
danTerapeutik. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta
8. Simatupang, M M. 2009. Candida Albicans. (online).
(http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1935/1/09E01452.pdf),
diakses 8 September 2014)