Anda di halaman 1dari 18

LESI ULSERASI DAN LESI VESIKOBULOSA

BLOK IDENTIFIKASI PENATALAKSANAAN PENDERITA I

LAPORAN DISKUSI KELOMPOK


SEMESTER V
TAHUN AKADEMIK 2014/2015

Kelompok 1
Kristanto Wangi
Tiffany Augusta Posuma
Ratna Putri
Raafiulita Rentana Kansha
Wees Tove
Wisnu Kuncoro
Shinta Nurmaraya Febrianti
Caroline Prajina Paramitha A
Gregorio Davin Lie
Asa Rina Thohiroh
Patricia B Wijaya
Safira Junieta Ananda

2012.07.0.0012
2012.07.0.0015
2012.07.0.0031
2012.07.0.0038
2012.07.0.0044
2012.07.0.0050
2012.07.0.0060
2012.07.0.0067
2012.07.0.0073
2012.07.0.0074
2012.07.0.0078
2012.07.0.0088

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS HANG TUAH
SURABAYA
2014

KATA PENGANTAR
Ucapan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah
menyertai serta membimbing penulis selama proses pembuatan makalah, sehingga
makalah yang berjudul Lesi Ulserasi dan Lesi Vesikobulosa dapat terselesaikan
dengan baik dan tepat pada waktunya. Makalah ini membahas mengenai identifikasi,
penetapan diagnosis dan penatalaksanaan yang berhubungan dengan lesi ulserasi dan
lesi vesikobulosa.
Berbagai pihak telah banyak membantu penulis dalam menyelesaikan makalah ini.
Oleh karena itu penulis mengucapkan terimakasih kepada:
1

Eddy H,drg. M.Kes, Sp.BM. selaku fasilitator.

2 Orangtua, teman-teman, serta berbagai pihak yang tidak dapat penulis


sebutkan, yang telah mendukung penulis dalam penyelesaian makalah ini.
Tanpa bantuan dari mereka penulis tidak mungkin dapat menyelesaikan karya tulis
ini dengan baik.
Penulis berharap makalah ini dapat berguna bagi semua orang pada umumnya,
dan bagi mahasiswa fakultas kedokteran gigi Universitas Hang Tuah pada khususnya.
Di samping itu, penulis sangat menghargai masukan serta kritik yang bersifat
membangun demi kebaikan penulisan selanjutnya.

Surabaya, September 2014

Penulis

DAFTAR ISI

Kata pengantar. ..2


Daftar Isi....... 3
Peta Konsep..4
BAB I

PENDAHULUAN ................................................................5

BAB II

PEMBAHASAN ..................................................................6

BAB III

PENUTUP .........................................................................17

Daftar Pustaka.18

Peta Konsep

Etiologi
Anamnesi
s

Batuk Kronis
Faktor Predisposisi

Pemeriksaan
Klinis

Ulser Mayor

(Perokok & OH
Jelek)

Diagnosis
Sementara &
Diagnosa Banding

Diagnosis
Akhir

Prognosis

Pemeriksaan
Penunjang
&
Surat Rujukan

Terapi Anti TB

BAB I
Pendahuluan
1.1.

Latar Belakang
Lesi ulserasi dan lesi vesikobulosa merupakan lesi yang sering sekali
dijumpai pada praktek kedokteran gigi. Berbagai macam klasifikasi dan cara
4

penatalaksanaannya sangat penting untuk dipelajari oleh mahasiswa kedokteran


gigi karena merupakan kasus yang banyak sekali dijumpai dan merupakan suatu
kondisi yang menganggu kesehatan oral pasien.
1.2.

Batasan Topik
1.2.1 Pertanyaan Apa Saja yang Harus Ditanyakan Saat Anamnesis Kasus Pada
Pemicu?
1.2.2 Bagaimanakah Prosedur Diagnosis dan Hasil Pemeriksaan Kasus Pada
Pemicu?
1.2.3 Apakah Diagnosis Sementara Kasus Tersebut Beserta Alasan & Diagnosa
Banding Kasus Pada Pemicu?
1.2.4 Apakah Pemeriksaan Penunjang Kasus Pada Pemicu?
1.2.5 Bagaimanakah Surat Rujukan & Interpretasi Hasil Kasus Pada Pemicu?
1.2.6 Apakah Diagnosis Akhir & Prognosis Kasus Pada Pemicu?
1.2.7 Bagaimanakah Etiopatogenesis Kasus Pada Pemicu?
1.2.8 Apakah Manifestasi Oral Kasus Pada Pemicu?
1.2.9 Apakah Faktor Predisposisi Kasus Pada Pemicu?
1.2.10 ApakahTanda & Gejala Klinis Kasus Pada Pemicu?
1.2.11 ApakahTerapi Awal dan Lanjutan Kasus Pada Pemicu?
1.2.12 BagaimanakahTindakan Prebentif Kasus Pada Pemicu?

BAB II
PEMBAHASAN
2.1.

Pertanyaan Apa Saja yang Harus Ditanyakan Saat Anamnesis Kasus Pada
Pemicu?
Pada dasarnya suatu anamnesis yang baik harus meliputi, antara lain :
data rutin / identitas pasien, keluhan utama, riwayat penyakit yang diderita,
riwayat penyakit gigi dan mulut di masa lalu, riwayat medik, riwayat keluarga,
serta riwayat sosial dan pekerjaan.1 (Hasibuan, 2005 dalam Harefa, 2006)
Berikut daftar pertanyaan yang harus ditanyakan saat anamnesis pada
kasus kali ini :
5

a. Identitas pasien yang meliputi : Nama, Jenis kelamin, Alamat, Nomor telepon,
Pekerjaan dan Umur.
b. Keluhan utama
Apa yang dapat saya bantu?
Apakah ada rasa sakit?
Kapan pertama kali keluhan dirasakan?
Apakah ada perubahan keluhan sejak saat itu?
Dibagian mana keluhan dirasakan?
c. Keluhan penyakit sekarang
Apakah rasa sakit atau keluhan disertai gejala lain?
d. Riwayat medis sebelumnya
Pernahkah anda menderita penyakit berat atau di rawat dirumah sakit?
Apakah anda saat ini sedang dalam perawatan seorang dokter?
Pernahkah anda menderita tuberkulosis?
e. Riwayat pemeliharaan geligi
Seberapa seringkah anda menyikat gigi dan berapa lama?
f. Riwayat keluarga
Apakah ada anggota keluarga anda yang pernah mengalami kejadian
serupa ?
Apakah dalam keluarga ada riwayat tuberkulosis?
g. Riwayat sosial dan pekerjaan
Apa pekerjaan yang dilakukan saat ini ?
6

Sering merokok? Berapa bungkus rokok yang dikonsumsi perhari?


(Bimbaum W & Stephen M, 2004)
2.2.

Bagaimanakah Prosedur Diagnosis dan Hasil Pemeriksaan Kasus Pada


Pemicu?

Prosedur diagnosis
1. Pengamatan umum :
a. Pernafasan
b. Tekanan darah
c. Denyut nadi
d. Keadaan umum
e. Suhu badan
f. Berat badan dan tinggi badan
Pengamatan umum pasien TBC

: Kurus, lesu, penurunan BB tanpa

sebab yang jelas, demam, rasa berkeringat mala hari, batuk kronik baik dengan
atau tanpa dahak, nafsu makan tidak.
2. Pemeriksaan EO :
a. Pipi kanan dan kiri
b. Bibir atas dan bawah
c. Sudut bibir
d. Kelenjar limfe
e. Kelenjar saliva
Pengamatan umum pasien TBC
3. Pemeriksaan IO
:
a. Bucal
b. Palatum
c. lingual
d. gingiva
e. dorsum mulut
Pengamatan umum pasien TBC

: TAK, cervical lymfadenopaty.

Bagian tengah dari ulser berwarna

abu abu, bagian perifer tidak halus dan dasar les ada nanah.
Hasil pemeriksaan klinis
Penampakan klasik dari TB secara intra oral yaitu nampak sebuah ulser pada
permukaan dorsal lidah, tapi lesi dapat mengenai palatum. Ulser tampak ireguler
dengan tepi menonjol dan dapat menyerupai infeksi fungi/jamur atau Kalrsinoma sel
skuamosa.
7

2.3.

Apakah Diagnosis Sementara Kasus Beserta Alasan & Diagnosa Banding


Kasus Pada Pemicu?
Diagnosa sementara adalah Suspect Ulser TB. Karena, berdasarkan
anamnesa pasien mengalami batuk kronis dan berkeringat pada malam hari,
kurus, dan tidak segar serta ditemukan ulser mayor pada palatum yang memiliki
batas jelas, bentuk ireguler dengan dasar kekuningan.
Diagnosa Banding
1. Stomatitis Aptousa Rekuren
Persamaan: berupa ulser putih kekuningan; dapat menyerang mukosa bukal,
labial, lateral dan ventral lidah
Perbedaan : Tidak menular, tanpa ada tanda-tanda penyakit lain, tidak
disebabkan penyakit TBC
2. Traumatic Ulser
Persamaan: Nampak sebagail ulser single dengan tepi eritematus; dapat
terjadi pada lidah, bibir, bukal gingiva, mukosa labial dan dasar mulut
Perbedaan: Traumatic ulser disebabkan trauma mekanik ( makanan kasar,
tergigir, sikat gigi), trauma kimia (aspirin, perak nitrat 10%, H 2O2 3%, fenol),
trauma thermal (makanan atau minuman panas, CO 2 dingin), elektrik
(sengatan listrik)
3. Ulser Sifilis
Persamaan : ulser singel, dalam
Perbedaan : disebabkan penyakit sifilis
4. Squamous Cell Carcinoma
5. Limfoma

2.4.

Apakah Pemeriksaan Penunjang Kasus Pada Pemicu?


1. Pemeriksaan Bakteriologis
Dapat berasal dari dahak, cairan pleura, bilasan

bronkus,

liquor

serebrospinal, bilasan lambung, dan jaringan biopsi.


2. Pemeriksaan Radiologis
Pemeriksaan rutin dengan foto toraks PA, pemeriksaan indikasi dengan
apikolordotik, oblik, CT Scan. Gambaran radiologis yang ditemukan dapat
berupa:
- Bayangan lesi di lapangan atas paru atau segmen apical lobus bawah
- Bayangan berawan atau bercak
- Bayangan bercak milier
8

- Bayangan efusi pleura, umumnya unilateral


- Adanya kavitas tunggal atau ganda
- Destroyed lobe sampai destroyed lung
- Kalsifikasi
3. Pemeriksaan Khusus
- BACTEC : dengan metode radiometric, dimana CO 2 yang dihasilkan
dari metabolism asam lemak M.Tuberculosis di dereksi growth
2.5.

indexnya
Polymerase Chain Reaction (PCR) : mendeteksi DNA M.Tuberculosis
Pemeriksaan serologi: ELISA, ICT, mycodot

Bagaimanakah Surat Rujukan & Interpretasi Hasil Penunjang Kasus Pada


Pemicu?
Surabaya, 15 September 2014
Kepada Yth.
TS. dr., Sp., Pk
Jln Arief Rachman Hakim
Surabaya
Dengan hormat, mohon pemeriksaan lebih lanjut untuk pasien :
Nama
:
Usia
:
Alamat
:
Dari pemeriksaan klinis didapatkan pasien kurus, dan tidak segar serta pada
pemeriksaan intra oral ditemukan ulser mayor pada palatum yang memiliki batas
jelas, bentuk ireguler dengan dasar kekuningan dengan suspect ulser tuberculosis.
Mohon pemeriksaan lebih lanjut dibidang saudara dan mohon sedikit kabar. Atas
bantuan dan perhatiannya terimakasih.
BTK
Wass. Coll.

2.6.

Apakah Diagnosis Akhir & Prognosis Penunjang Kasus Pada Pemicu?


Diagnosa akhir : Ulser Tuberkulosis
drg.
Prognosis : Baik, dengan meminum obat anti TB secara teratur pasien dapat
sembuh. Namun banyak pasien yang tidak di terapi dengan baik dan tidak cukup
fasilitas pada negara berkembang.
(Tidy C,2011)

2.7.

Bagaimanakah Etiopatogenesis Kasus Pada Pemicu?


9

Tuberkulosis paru adalah penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh


Mycobacterium tuberculosis dan menular secara langsung. Mycobacterium
tuberculosis termasuk bakteri gram positif dan berbentuk batang. Umumnya
Mycobacterium tuberculosis menyerang paru dan sebagian kecil organ tubuh
lain. Kuman ini mempunyai sifat khusus, yakni tahan terhadap asam pada
pewarnaan, hal ini dipakai untuk identifikasi dahak secara mikroskopis sehingga
disebut sebagai basil tahan asam (BTA). Mycobacterium tuberculosis cepat mati
dengan matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup pada tempat yang gelap
dan lembab. Kuman dapat dormant atau tertidur sampai beberapa tahun dalam
jaringan tubuh.
Sumber penularan adalah penderita tuberkulosis BTA positif pada waktu
batuk atau bersin. Penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet
(percikan dahak). Droplet yang mengandung kuman dapat bertahan di udara
pada suhu kamar selama beberapa jam. Orang dapat terinfeksi kalau droplet
tersebut terhirup ke dalam saluran pernafasan. Setelah kuman tuberkulosis
masuk ke dalam tubuh manusia melalui pernafasan, kuman tuberkulosis tersebut
dapat menyebar dari paru kebagian tubuh lainnya melalui sistem peredaran
darah, saluran nafas, atau penyebaran langsung ke bagian-bagian tubuh lainnya.
Daya penularan dari seorang penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang
dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahak,
makin menular penderita tersebut. Bila hasil pemeriksaan dahak negatif (tidak
terlihat kuman), maka penderita tersebut dianggap tidak menular. Seseorang
terinfeksi tuberkulosisditentukan oleh konsentrasi droplet dalam udara dan
lamanya menghirup udara tersebut.
Secara klinis, tuberkulosis dapat terjadi melalui infeksi primer dan pasca
primer. Infeksi primer terjadi saat seseorang terkena kuman tuberkulosis untuk
pertama kalinya. Setelah terjadi infeksi melalui saluran pernafasan, di dalam
alveoli (gelembung paru) terjadi peradangan. Hal ini disebabkan oleh kuman
tuberkulosis yang berkembang biak dengan cara pembelahan diri di paru. Waktu
terjadinya infeksi hingga pembentukan komplek primer adalah sekitar 4-6
minggu. Kelanjutan infeksi primer tergantung dari banyaknya kuman yang masuk
dan respon daya tahan tubuh dapat menghentikan perkembangan kuman TB
10

dengan cara menyelubungi kuman dengan jaringan pengikat. Ada beberapa


kuman yang menetap sebagai persister atau dormant, sehingga daya tahan
tubuh tidak dapat menghentikan perkembangbiakan kuman, akibatnya yang
bersangkutan akan menjadi penderita tuberkulosis dalam beberapa bulan. Pada
infeksi primer ini biasanya menjadi abses (terselubung) dan berlangsung tanpa
gejala, hanya batuk dan nafas berbunyi. Tetapi pada orang-orang dengan sistem
imun lemah dapat timbul radang paru hebat, ciri-cirinya batuk kronik dan bersifat
sangat menular.
Infeksi pasca primer terjadi setelah beberapa bulan atau tahun setelah
infeksi primer. Ciri khas tuberkulosis pasca primer adalah kerusakan paru yang
luas dengan terjadinya efusi pleura.
Risiko terinfeksi tuberkulosis sebagian besar adalah faktor risiko
eksternal, terutama adalah faktor lingkungan seperti rumah tak sehat,
pemukiman padat dan kumuh. Sedangkan risiko menjadi sakit tuberkulosis,
sebagian besar adalah faktor internal dalam tubuh penderita sendiri yang
disebabkan oleh terganggunya sistemkekebalan dalam tubuh penderita seperti
kurang gizi, infeksi HIV/AIDS, dan pengobatan dengan immunosupresan.
Penderita tuberkulosis paru dengan kerusakan jaringan luas yang telah
sembuh (BTA negatif) masih bisa mengalami batuk darah. Keadaan ini seringkali
dikelirukan dengan kasus kambuh. Pada kasus seperti ini, pengobatan dengan
obat antituberkulosis (OAT) tidak diperlukan, tapi cukup diberikan pengobatan
simtomatis. Resistensi terhadap OAT terjadi umumnya karena penderita yang
menggunakan obat tidak sesuai atau patuh dengan jadwal atau dosisnya.
Resistensi ini menyebabkan jenis obat yang biasa dipakai sesuai pedoman
pengobatan tidak lagi dapat membunuh kuman.

2.8.

Apakah Manifestasi Oral Kasus Pada Pemicu?


1. Ulser
Ulser adalah suatu luka terbuka dari kulit atau jaringan mukosa yang
memperlihatkan disintegrasi dan nekrosis jaringan yang sedikit demi sedikit.Lesi
11

ulseratif di mukosa pada penderita TB berupa ulkus yang irregular, tepi yang
tidak teratur, dengan sedikit indurasi, dan sering disertai dasar lesi berwarna
kuning, disekeliling ulkus juga dijumpai satu atau beberapa nodul kecil. Lesi pada
TB primer sangat jarang ditemukan, terlihat pada penderita TB usia muda dan
berupa ulser tunggal yang sakit dengan pembesaran kelenjar limfa.Lesi pada TB
sekunder lebih sering ditemui terutama pada penderita TB paru lesi biasanya
berupa ulser tunggal kronis, irregular di kelilingi oleh eksudat dan sangat
menyakitkan. Lesi lebih sering dijumpai pada pasien usia menengah ke atas.
Tempat yang paling sering terjadi ulser adalah lidah selanjutnya bibir.Pada lidah,
ulkus TB paling sering terjadi pada bagian lateral, ujung, dan dorsum
lidah.Walaupun lidah merupakan tempat paling sering terjadinya lesi oral TB, lesi
oral dapat juga mengenai gingiva, dasar mulut, palatum, bibir dan mukosa
bukal.Pada gingiva juga dijumpai erosi mukosa yang bergranul, dan kadang
disertai dengan periodontitis marginal.
Ulser di rongga mulut yang disebabkan oleh kuman TB tidak dapat
dibedakan secara klinis dengan lesi oral yang bersifat malignan/ganas. Adanya
ulser kronis pada rongga mulut, dapat didiagnosa banding dengan suatu
keganasan, sarkoidosis, ulser sifilis, lesi ulser aftosa, infeksi jamur, traumatik
injury, karsinoma sel skuamosa, dan limfoma. Namun sering sekali, ulser TB ini
tidak diperhatikan oleh petugas medis.Oleh karena itu, biopsi diperlukan untuk
menegakkan diagnosis.Apusan saliva dapat menunjukkan adanya kuman
penyebab TB bila diwarnai dengan pewarnaan Ziehl-Neelsen.Kultur bakteri juga
diperlukan untuk memastikan diagnosis.
2. Osteomyelitis
Tuberkulosis pada tulang adalah salah satu bentuk dari osteomyelitis
kronis, dimana lebih sering ditemukan pada pasien muda dan pasien stadium
akhir.Karena oesteomyelitis TB jarang ditemui, penyakit ini jarang menimbulkan
kecurigaan dokter saat mendiagnosa, terutama bila tidak ada riwayat penyakit
sistemik dan terapi.Basil-basil tuberkuli dapat menginfeksi tulang rongga mulut
antara lain melalui :

12

Kontak langsung antara sputum atau susu sapi yang terinfeksi dengan gigi
karies pulpa terbuka, bekas luka pencabutan, margin gingiva dan perforasi

akibat erupsi gigi.


Perluasan regional dari lesi jaringan lunak yang melibatkan tulang

dibawahnya.
Melalui jalur peredaran darah.
Secara klinis osteomielitis TB dimulai dengan pembengkakan yang

berkembang lambat, menyebabkan nekrosis tulang yang lambat dan dapat


melibatkan seluruh mandibula.Radiografi menunjukkan daerah radiolusen yang
irregular dan tulang trabekular yang mengabur, destruksi tulang dimulai dengan
erosi pada kortex dengan adanya kecenderungan perbaikan berkala dan
digantikan oleh jaringan granulasi.Jaringan granulasi kemudian berkembang
menjadi abses periosteal, membengkak dan tidak sakit.Abses dapat pecah di
intraoral maupun ekstraoral membentuk sinus, dapat pula menyebabkan fraktur
patologi dan sequestra.
Diagnosa dari kasus TB mandibula sulit dilakukan karena tidak ada tanda
spesifikdan hanya manifestasi berupa pembengkakan lokal dari rahang yang
dapat disalah diagnosa dengan abses piogenik dan bila terdapat sinus multiple
dapat diragukan sebagai aktinomikosis.Diagnosis harus dilakukan dengan
pemeriksaan histopatologis dan ditemukannya organisme pada lesi.
3. Gingival Enlargement (Pembesaran Gingiva)
Manifestasi oral Tuberkulosis pada gingiva dapat ditemukan berupa
gingival enlargement. Proses inflamasi bermula dari papil-papil interdental dan
meluas ke gingiva sampai ke jaringan periodontal. Gingival enlargement atau
pembesaran gusi ini tampak berupa petechiae dan bergranul serta mudah
berdarah. Pada umumnya, gingival enlargement pada penderita TB tidak sakit,
meluas secara progresif dan berkelanjutan dari margin gingiva ke daerah
vestibular yang rendah dan berhubungan dengan pembesaran kelenjar limfa.28
Manifestasi oral TB berupa gingival enlargement difus merupakan tanda dini dari
penyakit TB tanpa pembesaran kelenjar limfa dan tanpa penyakit sistemik TB,
13

dimana manifestasi TB pada gingiva umumnya hanya berupa ulser atau


granuloma.
Penyebab terjadinya gingival enlargement atau pembesaran gingiva pada
penyakit TB berhubungan dengan efek proteksi dari rongga mulut yaitu karena
adanya efek proteksi dari epitel sel skuamosa yang dapat melawan masuknya
basil bakteri secara langsung.Perlawanan ini mengakibatkan bertambah tebalnya
epitel mukosa oral dan bertambah besar dan tebalnya gingiva.Infeksi
Tuberkulosis pada gingiva sangat jarang ditemui.Lesi oral biasanya terjadi pada
penderita TB paru sekunder.Oleh karena itu untuk mengindentifikasi lesi oral
diperlukan pemeriksaan secara menyeluruh. Diagnosa yang tepat dan
perawatan secepatnya akan menunjukkan prognosis yang baik. TB gingiva harus
dibedakan dari gingival enlargement akibat pemakaian obat.
4. Glossitis tuberkulosa
Pada penyakit TB, glossitis disebabkan oleh infeksi bakteri TB yang
banyak

pada

menyebabkan

saliva

di

suatu

ronggamulut
peradangan

terutam
yang

apada
sering

sputum

sehingga

terlihat

sebagai

granuloma.Tuberkuloma atau granuloma tuberkulosa dapa tterjadi pada


penderita TB karena penumpukan basil TB pada lidah melalui proses yang
lambat yang mengenai lidah.
(TandianJF, 2011)
2.9.

Apakah Faktor Predisposisi Kasus Pada Pemicu?


1. Pendidikan : pendidikan yang tinggi akan meningkatkan perilaku hidup bersih
dan sehat sehingga kemungkinan individu terkena TB kecil.
2. Pekerjaan: berhubungan dengan lingkungan kerja yang dapat menyebabkan
gangguan saluran pernafasan
3. Kebiasaan merokok
4. Status gizi: status gizi yang rendah berpengaruh pada kekuatan daya tahan
tubuh dan respon imunologik.
5. Oral hygiene yang jelek
6. Ekstraksi gigi
7. Leukoplakia
14

2.10. Apakah Tanda & Gejala Klinis Kasus Pada Pemicu?


Gejala utama penyakit TB, adanya batuk berdahak selama tiga minggu
atau lebih, dan kadang dahaknya bercampur darah. Pasien yang mengalami
reaktivasi TB secara khas memperlihatkan gejala konstitusi yaitu kelelahan,
kehilangan berat badan,anoreksia,demam ringan dan berkeringat malam. Gejala
pulmonal meliputi batuk, yang mula- mula kering namun kemudian produktif
berupa sputum purulen dan sering disertai darah.
(Saffia A, 2010)
2.11. Apakah Terapi Awal & Akhir Kasus Pada Pemicu?
Pengobatan TB dilakukan dengan prinsip sebagai berikut :
-

OAT diberikan dalam bentuk kombinasi, dalam jumlah cukup dan dosis yang
tepat sesuai dengan kategori pengobatan. Pemakaian OAT kombinasi dosis
tepat (OAT-KDT) lebih menguntungkan dan sangat dianjurkan. Jangan gunakan

OAT tunggal (monoterapi)


Untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat, dilakukan pengawasan
langsung ( DOT= Directly Observed Treatment) oleh seorang pengawas menelan

obat
Pengobatan TB doberikan dalam 2 tahap. Tahap intensif dan lanjutan. Untuk
kasus, diberikan paduan OAT program nasional pengendalian TB di Indonesia
pada kategori I: (2HRZE/4H3R3)
Tahap intensif: Isoniozid (H), Rifampicin (R), Pirasinamid (Z) dan etambutol
(E) , setiap hari selama 2 bulan.
Tahap lanjutan: Isoniozid (H), Rifampicin (R), 3x dalam seminggu selama 4
bulan (4H3R3)

2.12. Apakah Tindakan Preventif Kasus Pada Pemicu?


Pasien yang terinfeksi Mycobacterium Tuberkulosis tanpa tanda penyakit
aktif, mempunyai organisme dalam jumlah kecil di tubuhnya. Isoniazid profilaksi
(300mg/hari untuk dewasa selama 12 bulan) pada pasien ini dapat menurunkan
15

insidensi reaktivasi TB sebanyak 93%. Terapi preventif isoniazid biasanya


diberikan selama 12 bulan, walaupun 6 bulan kelihatannya cukup efektif.
Pengobatan 12 bulan penuh diperlukan oleh pasien yang terinfeksi HIV. Orang
yang menjalani terapi preventif harus ditanyai tiap bulan mengenai gejala
hepatitis dan terapi dihentikan bila ditemukan bukti klinis hepatitis.Kegagalan
untuk menghentikan pengobatan dapat menyebabkan nekrosis hepar yang
progresif.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan:
Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan objektif baik ekstra oral dan intra oral,
dapat diambil diagnosis akhir bahwa pasien menderita ulser tuberkulosis. Diagnosis
akhir ini dapat diambil karena pasien mengalami batuk kronis dan berkeringat pada
malam hari, kurus, dan tidak segar serta ditemukan ulser mayor pada palatum yang
memiliki batas jelas, bentuk ireguler dengan dasar kekuningan dan tepi indurasi.
Penatalaksanaan yang dapat dilakukan adalah dengan mengkonsumsi anti TB kategori
1. Prognosis baik apabila pasien minum obat anti TB secara teratur.

16

DAFTAR PUSTAKA
1. Harefa EMN. 2006. Skripsi : Tuberkulosis dan Manifestasinya pada Rongga
Mulut. Medan: USU e-repository, (online), (available at :
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/8177/1/020600099.pdf accessed at
15 September 2014).
2. Bimbaum W dan Stephen M Dunne. 2004. Diagnosis Kelainan dalam Mulut
: Petunjuk Bagi Klinisi. Alih bahasa : Hartono Ruslijanto dan Enny M. Rasyad, Editor :
Lilian Juwono. Jakarta : EGC.
3. Amee Saffia.2010. Skripsi:Manifestasi Penyakit Tuberculosis di Rongga
Mulut Medan: USU e-repository,(online), (available at:
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/22932/3/Chapter%20II.pdf accesed
at 15 September 2014)
4. Febry, J.2011. Skripsi : Prevalensi Manifestasi Oral Penderita Tuberkulosis di
Rsup H Adam Malik, Rs. Pirngadi Dan RS. Bhayangkara Medan. Medan: USU e17

repository, (online), (available at:


http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/24010/4/Chapter%20II.pdf accesed at
16 September 2014)
5. Tidy, C.2011. Mycobacterial Skin Infections. (online), (available at:
http://www.patient.co.uk/doctor/Mycobacterial-Skin-Infections.htm accesed at 16
September 2014)

18