Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH TEKNOLOGI BAHAN

KOROSI

Dosen Pembimbing :

PINIHAS,Ir

Disusun Oleh:

SAFRYAN EKO P
SUNARYO

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK MESIN


POLITEKNIK GUNAKARYA INDONESIA
2013/2014

Kampus A. Jl. Cut Mutia No. 99 Bekasi 17000. Telp. 021.8811250, 8822842 Kampus B. Jln Raya
Cibarusah Gedung Sentra Kuning No. 20-21. Cikarang Bekasi Telp. 021. 89901853

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL............................................................................................................... 1
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................................ 3
A. Latar Belakang Masalah....................................................................................................... 3
B. Rumusan Masalah............................................................................................................... 3
C. Tujuan Penelitian.................................................................................................................. 3
BAB II ISI.............................................................................................................................. 3
A. Pengertian KOROSI............................................................................................................. 3
B. Penyebab Korosi.................................................................................................................. 5
C. Faktor yang Mempengaruhi Korosi...................................................................................... 5
D. Bentuk Bentuk Korosi........................................................................................................ 6
E. Dampak Korosi..................................................................................................................... 7
F. Pencegahan Korosi.............................................................................................................. 8
BAB III PENUTUP................................................................................................................ 9
Kesimpulan........................................................................................................................... 9

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari, korosi dapat kita jumpai terjadi pada berbagai jenis logam.
Bangunan-bangunan maupun peralatan elektronik yang memakai komponen logam seperti seng,
tembaga, besi baja, dan sebagainya semuanya dapat terserang oleh korosi ini. Selain pada
perkakas logam ukuran besar, korosi ternyata juga mampu menyerang logam pada komponenkomponen renik peralatan elektronik, mulai dari jam digital hingga komputer serta peralatan
canggih lainnya yang digunakan dalam berbagai aktivitas umat manusia, baik dalam kegiatan
industri maupun di dalam rumah tangga.
Kerugian yang dapat ditimbulkan oleh korosi tidak hanya biaya langsung seperti
pergantian peralatan industri, perawatan jembatan, konstruksi dan sebagainya, tetapi juga biaya
tidak langsung seperti terganggunya proses produksi dalam industri serta kelancaran transportasi
yang umumnya lebih besar dibandingkan biaya langsung.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan di atas, maka kami merumuskan
permasalahan sebagai berikut :
1. Apa yang dimaksud dengan korosi dan faktor apa yang mempengaruhi korosi?
2. Bagaimana dampak korosi dan pencegahan korosi?
C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengidentifikasi pengertian korosi dan faktor apa saja yang mempengaruhinya.
2. Untuk mengetahui dampak dan pencegahan korosi dalam kehidupan sehari - hari.

BAB II
ISI
A. Pengertian KOROSI
Korosi adalah teroksidasinya suatu logam. Korosi adalah kerusakan atau degradasi logam
akibat reaksi dengan lingkungan yang korosif. Korosi dapat juga diartikan sebagai serangan yang
merusak logam karena logam bereaksi secara kimia atau elektrokimia dengan lingkungan. Dalam
kehidupan sehari - hari, besi yang teroksidasi disebut dengan karat dengan rumus Fe2O3xH2O.
Proses perkaratan termasuk proses elektrokimia, di mana logam Fe yang teroksidasi bertindak
sebagai anode dan oksigen yang terlarut dalam air yang ada pada permukaan besi bertindak sebagai
katode.
Reaksi perkaratan:
Anode : Fe Fe2+ + 2 e
Katode : O2 + 2H2O 4e + 4 OH
Fe2+ yang dihasilkan, berangsur-angsur akan dioksidasi membentuk Fe 3+. Sedangkan OH
akan bergabung dengan elektrolit yang ada di alam atau dengan ion H + dari terlarutnya oksida asam
(SO2, NO2) dari hasil perubahan dengan air hujan. Dari hasil reaksi di atas akan dihasilkan karat
dengan rumus senyawa Fe2O3xH2O. Karat ini bersifat katalis untuk proses perkaratan berikutnya
yang disebut autokatalis.
a. Kerugian

Besi yang terkena korosi akan bersifat rapuh dan tidak ada kekuatan. Ini sangat
membahayakan kalau besi tersebut digunakan sebagai pondasi bangunan atau jembatan. Senyawa
karat juga membahayakan kesehatan, sehingga besi tidak bisa digunakan sebagai alat-alat masak,
alat-alat industri makanan/farmasi/kimia.

b. Pencegahan
Pencegahan besi dari perkaratan bisa dilakukan dengan cara berikut.
1) Proses pelapisan
Besi dilapisi dengan suatu zat yang sukar ditembus oksigen. Hal ini dilakukan dengan cara
dicat atau dilapisi dengan logam yang sukar teroksidasi. Logam yang digunakan adalah logam yang
terletak di sebelah kanan besi dalam deret volta (potensial reduksi lebih negatif dari besi). Contohnya:
logam perak, emas, platina, timah, dan nikel.
2) Proses katode pelindung (proteksi katodik)
Besi dilindungi dari korosi dengan menempatkan besi sebagai katode, bukan sebagai anode.
Dengan demikian besi dihubungkan dengan logam lain yang mudah teroksidasi, yaitu logam di
sebelah kiri besi dalam deret volta (logam dengan potensial reduksi lebih positif dari besi).
Hanya saja logam Al dan Zn tidak bisa digunakan karena kedua logam tersebut mudah
teroksidasi, tetapi oksida yang terbentuk (A1 2O3/ZnO) bertindak sebagai inhibitor dengan cara
menutup rapat logam yang di dalamnya, sehingga oksigen tidak mampu masuk dan tidak teroksidasi.
Logam-logam alkali, seperti Na, K juga tidak bisa digunakan karena akan bereaksi dengan adanya
air. Logam yang paling sesuai untuk proteksi katodik adalah logam magnesium (Mg). Logam Mg di
sini bertindak sebagai anode dan akan terserang karat sampai habis, sedang besi bertindak sebagai
katode tidak mengalami korosi.
Korosi adalah peristiwa rusaknya logam karena reaksi dengan lingkungannya (Roberge,
1999). Definisi lainnya adalah korosi merupakan rusaknya logam karena adanya zat penyebab korosi,
korosi adalah fenomena elektrokimia dan hanya menyerang logam (Gunaltun, 2003). Pada dasarnya
peristiwa korosi adalah reaksi elektrokimia. Secara alami pada permukaan logam dilapisi oleh suatu
lapisan film oksida (FeO.OH). Pasivitas dari lapisan film ini akan rusak karena adanya pengaruh dari
lingkungan, misalnya adanya penurunan pH atau alkalinitas dari lingkungan ataupun serangan dari
ion-ion klorida. Pada proses korosi terjadi reaksi antara ion-ion dan juga antar elektron. Anode adalah
bagian dari permukaan logam dimana metal akan larut.
Reaksinya :
Fe 2 Fe2+ + 4eDengan kata lain ion-ion besi Fe++ akan melarut dan elektron-elektron e- tetap tinggal pada
logam.
Katode adalah bagian permukaan logam dimana elektron-elektron 4e - yang
tertinggal akan menuju kesana (oleh logam) dan bereaksi dengan O2 dan H2O.
O2 + H2O + 4e- > 4 OHIon-ion 4 OH- di anode bergabung dengan ion 2 Fe2+ dan membentuk 2 Fe(OH)2. Oleh kehadiran
zat asam dan air maka terbentuk karat Fe2O3.
Reaksi perkaratan besi
a. Anoda: Fe(s) Fe2+ + 2e
Katoda: 2 H+ + 2 e- H2
2 H2O + O2 + 4e- 4OHb.

2H+ + 2H2O + O2 + 3Fe 3Fe2+ + 4OH- + H2


Fe(OH)2 oleh O2 di udara dioksidasi menjadi Fe2O3 . nH2O

Faktor yang berpengaruh


1. Kelembaban udara
2. Elektrolit
3. Zat terlarut pembentuk asam (CO2, SO2)
4. Adanya O2
5. Lapisan pada permukaan logam
6. Letak logam dalam deret potensial reduksi

B.

Penyebab Korosi
Faktor yang berpengaruh terhadap korosi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu yang berasal
dari bahan itu sendiri dan dari lingkungan. Faktor dari bahan meliputi kemurnian bahan, struktur
bahan, bentuk kristal, unsur-unsur kelumit yang ada dalam bahan, teknik pencampuran bahan dan
sebagainya. Faktor dari lingkungan meliputi tingkat pencemaran udara, suhu, kelembaban,
keberadaan zat-zat kimia yang bersifat korosif dan sebagainya. Bahan-bahan korosif (yang dapat
menyebabkan korosi) terdiri atas asam, basa serta garam, baik dalam bentuk senyawa an-organik
maupun organik.

C. Faktor yang mempengaruhi Korosi


Korosi pada permukaan suatu logam dapat dipercepat oleh beberapa faktor, antara lain:
1. Kontak Langsung logam dengan H2O dan O2
Korosi pada permukaan logam merupakan proses yang mengandung reaksi redoks. Reaksi
yang terjadi ini merupakan sel Volta mini. sebagai contoh, korosi besi terjadi apabila ada oksigen (O 2)
dan air (H2O). Logam besi tidaklah murni, melainkan mengandung campuran karbon yang menyebar
secara tidak merata dalam logam tersebut. Akibatnya menimbulkan perbedaan potensial listrik antara
atom logam dengan atom karbon (C). Atom logam besi (Fe) bertindak sebagai anode dan atom C
sebagai katode. Oksigen dari udara yang larut dalam air akan tereduksi, sedangkan air sendiri
berfungsi sebagai media tempat berlangsungnya reaksi redoks pada peristiwa korosi. Semakin
banyak jumlah O2 dan H2O yang mengalami kontak denan permukaan logam, maka semakin cepat
berlangsungnya korosi pada permukaan logam tersebut.
2. Keberadaan Zat Pengotor
Zat Pengotor di permukaan logam dapat menyebabkan terjadinya reaksi reduksi tambahan
sehingga lebih banyak atom logam yang teroksidasi. Sebagai contoh, adanya tumpukan debu karbon
dari hasil pembakaran BBM pada permukaan logam mampu mempercepat reaksi reduksi gas oksigen
pada permukaan logam. Dengan demikian peristiwa korosi semakin dipercepat.
pengotor yang mempercepat korosi pada permukaan logam.
3. Kontak dengan Elektrolit
Keberadaan elektrolit, seperti garam dalam air laut dapat mempercepat laju korosi dengan
menambah terjadinya reaksi tambahan. Sedangkan konsentrasi elektrolit yang besar dapat
melakukan laju aliran elektron sehingga korosi meningkat. Bangkai kapal di dasar laut yang telah
terkorosi oleh kandungan garam yang tinggi.
4. Temperatur
Temperatur mempengaruhi kecepatan reaksi redoks pada peristiwa korosi. Secara umum, semakin
tinggi temperatur maka semakin cepat terjadinya korosi. Hal ini disebabkan dengan meningkatnya
temperatur maka meningkat pula energi kinetik partikel sehingga kemungkinan terjadinya tumbukan
efektif pada reaksi redoks semakin besar. Dengan demikian laju korosi pada logam semakin

meningkat. Efek korosi yang disebabkan oleh pengaruh temperatur dapat dilihat pada perkakasperkakas atau mesin-mesin yang dalam pemakaiannya menimbulkan panas akibat gesekan
(seperti cutting tools ) atau dikenai panas secara langsung (seperti mesin kendaraan bermotor).
Knalpot kendaraan bermotor yang mudah terkorosi akibat temperatur tinggi.
5. pH
Peristiwa korosi pada kondisi asam, yakni pada kondisi pH < 7 semakin besar, karena adanya
reaksi reduksi tambahan yang berlangsung pada katode yaitu:
2H+(aq) + 2e- H2
Adanya reaksi reduksi tambahan pada katode menyebabkan lebih banyak atom logam yang
teroksidasi sehingga laju korosi pada permukaan logam semakin besar.

6. Mikroba
Adanya koloni mikroba pada permukaan logam dapat menyebabkan peningkatan korosi pada
logam. Hal ini disebabkan karena mikroba tersebut mampu mendegradasi logam melalui reaksi
redoks untuk memperoleh energi bagi keberlangsungan hidupnya. Mikroba yang mampu
menyebabkan korosi, antara lain: protozoa, bakteri besi mangan oksida, bakteri reduksi sulfat, dan
bakteri oksidasi sulfur-sulfida. Thiobacillus thiooxidans Thiobacillus ferroxidans. Koloni bakteri
Thiobacillus ferrooxidans pada permukaan logam besi yang terkorosi. Koloni bakteri Thiobacillus
thiooxidans yang dapat menyebabkan korosi pada logam.

D.

Bentuk - Bentuk Korosi


Bentuk-bentuk korosi dapat berupa korosi merata, korosi galvanik, korosi sumuran, korosi
celah, korosi retak tegang (stress corrosion cracking), korosi retak fatik (corrosion fatique cracking)
dan korosi akibat pengaruh hidogen (corrosion induced hydrogen), korosi intergranular, dan selective
leaching.

1)

Korosi merata adalah korosi yang terjadi secara serentak diseluruh permukaan logam, oleh karena
itu pada logam yang mengalami korosi merata akan terjadi pengurangan dimensi yang relatif besar
per satuan waktu. Kerugian langsung akibat korosi merata berupa kehilangan material konstruksi,
keselamatan kerja dan pencemaran lingkungan akibat produk korosi dalam bentuk senyawa yang
mencemarkan lingkungan. Sedangkan kerugian tidak langsung, antara lain berupa penurunan
kapasitas dan peningkatan biaya perawatan (preventive maintenance).

2)

Korosi galvanik terjadi apabila dua logam yang tidak sama dihubungkan dan berada di lingkungan
korosif. Salah satu dari logam tersebut akan mengalami korosi, sementara logam lainnya akan
terlindung dari serangan korosi. Logam yang mengalami korosi adalah logam yang memiliki potensial
yang lebih rendah dan logam yang tidak mengalami korosi adalah logam yang memiliki potensial lebih
tinggi.

3)

Korosi sumuran adalah korosi lokal yang terjadi pada permukaan yang terbuka akibat pecahnya
lapisan pasif. Terjadinya korosi sumuran ini diawali dengan pembentukan lapisan pasif
dipermukaannya, pada antarmuka lapisan pasif dan elektrolit terjadi penurunan pH, sehingga terjadi
pelarutan lapisan pasif secara perlahan-lahan dan menyebabkan lapisan pasif pecah sehingga terjadi
korosi sumuran. Korosi sumuran ini sangat berbahaya karena lokasi terjadinya sangat kecil tetapi
dalam, sehingga dapat menyebabkan peralatan atau struktur patah mendadak.

4)

Korosi celah adalah korosi lokal yang terjadi pada celah diantara dua komponen. Mekanisme
terjadinya korosi celah ini diawali dengan terjadi korosi merata diluar dan didalam celah, sehingga
terjadi oksidasi logam dan reduksi oksigen. Pada suatu saat oksigen (O2) di dalam celah habis,
sedangkan oksigen (O2) diluar celah masih banyak, akibatnya permukaan logam yang berhubungan

dengan bagian luar menjadi katoda dan permukaan logam yang didalam celah menjadi anoda
sehingga terbentuk celah yang terkorosi.

5)

Korosi retak tegang (stress corrosion cracking), korosi retak fatik (corrosion fatique cracking)
dan korosi akibat pengaruh hidogen (corrosion induced hydrogen) adalah bentuk korosi dimana
material mengalami keretakan akibat pengaruh lingkungannya. Korosi retak tegang terjadi pada
paduan logam yang mengalami tegangan tarik statis dilingkungan tertentu, seperti : baja tahan karat
sangat rentan terhadap lingkungan klorida panas, tembaga rentan dilarutan amonia dan baja karbon
rentan terhadap nitrat. Korosi retak fatk terjadi akibat tegangan berulang dilingkungan korosif.
Sedangkan korosi akibat pengaruh hidogen terjadi karena berlangsungnya difusi hidrogen kedalam
kisi paduan.

6)

Korosi intergranular adalah bentuk korosi yang terjadi pada paduan logam akibat terjadinya reaksi
antar unsur logam tersebut di batas butirnya. Seperti yang terjadi pada baja tahan karat austenitik
apabila diberi perlakuan panas. Pada temperatur 425 815oC karbida krom (Cr23C6) akan
mengendap di batas butir. Dengan kandungan krom dibawah 10 %, didaerah pengendapan tersebut
akan mengalami korosi dan menurunkan kekuatan baja tahan karat tersebut.

7)

Selective leaching adalah korosi yang terjadi pada paduan logam karena pelarutan salah satu unsur
paduan yang lebih aktif, seperti yang biasa terjadi pada paduan tembaga-seng. Mekanisme terjadinya
korosi selective leaching diawali dengan terjadi pelarutan total terhadap semua unsur. Salah satu
unsur pemadu yang potensialnya lebih tinggi akan terdeposisi, sedangkan unsur yang potensialnya
lebih rendah akan larut ke elektrolit. Akibatnya terjadi keropos pada logam paduan tersebut. Contoh
lain selective leaching terjadi pada besi tuang kelabu yang digunakan sebagai pipa pembakaran.
Berkurangnya besi dalam paduan besi tuang akan menyebabkan paduan tersebut menjadi porous
dan lemah, sehingga dapat menyebabkan terjadinya pecah pada pipa.

E. Dampak Korosi
Korosi merupakan proses atau reaksi elektrokimia yang bersifat alamiah dan berlangsung
spontan, oleh karena itu korosi tidak dapat dicegah atau dihentikan sama sekali. Korosi hanya bisa
dikendalikan atau diperlambat lajunya sehingga memperlambat proses kerusakannya. Korosi pada
logam menimbulkan kerugian yang tidak sedikit. Hasil riset yang berlangsung tahun 2002 di Amerika
Serikat memperkirakan kerugian akibat korosi yang menyerag permesinan industri, infrastruktur,
samapai perangkat transportasi di negara adidaya tersebut mencapai 276 miliar dollar AS. Jembatan
yang runtuh akibat korosi yang terjadi pada tiang penahannya.
Dampak yang ditimbulkan korosi dapat berupa kerugian langsung dan kerugian tidak
langsung. Kerugian langsung berupa terjadinya kerusakan pada peralatan, permesinan atau struktur
bangunan. Sedangkan kerugian tidak langsung berupa terhentinya aktivitas produksi, karena
terjadinya pergantian peralatan yang rusak akibat korosi, bahkan kerugian tidak langsung dapat
berupa terjadinya kecelakaan yang menimbulkan korban jiwa, seperti kejadian runtuhnya jembatan
akibat korosi, terjadinya kebakaran akibat kebocoran pipa gas karena korosi, dan meledaknya
pembangkit tenaga nuklir akibat terjadinya korosi pada pipa uapnya. korosi yang menyebabkan
kebocoran pada pipa yang terbuat dari logam.

F. Pencegahan Korosi
Berdasarkan proses terjadinya korosi, maka ada 2 cara yang dapat dilakukan untuk
mencegah korosi, yaitu perlindungan mekanis dan perlindungan elektrokimia.
a) Perlindungan Mekanis
Perlindungan mekanis ialah mencegah agar permukaan logam tidak bersentuhan langsung
dengan udara. Untuk jangka waktu yang pendek, cara ini dapat dilakukan dengan mengoleskan
lemak pada permukaan logam. Untuk jangka waktu yang agak lama, dapat dilakukan dengan
pengecatan. Salah satu cat pelindung yang baik ialah meni (Pb 3O4) karena selain melindungi secara
mekanis juga memberi perlindungan elektrokimia. Selain pengecatan, perlindungan mekanis dapat
pula dilakukan dengan logam lain, yaitu dengan cara penyepuhan.
b) Perlindungan Elektrokimia
Perlindungan Elektrokimia ialah mencegah terjadinya korosielektrolitik (reaksi elektrokimia yang
mengoksidasi logam). Perlindungan elektrokimia ini disebut juga perlindungan katode (proteksi
katodik) atau pengorbanan anode (anodaising).
Pencegahan korosi didasarkan pada dua prinsip berikut :
- Mencegah kontak dengan oksigen dan/atau air
Korosi besi memerlukan oksigen dan air. Bila salah satu tidak ada, maka peristiwa korosi tidak
dapat terjadi. Korosi dapat dicegah dengan melapisi besi dengan cat, oli, logam lain yang tahan
korosi (logam yang lebih aktif seperti seg dan krom). Penggunaan logam lain yang kurang aktif
(timah dan tembaga) sebagai pelapis pada kaleng bertujuan agar kaleng cepat hancur di tanah.
Timah atau tembaga bersifat mampercepat proses korosi.
- Perlindungan katoda (pengorbanan anoda)
Besi yang dilapisi atau dihubugkan dengan logam lain yang lebih aktif akan membentuk sel
elektrokimia dengan besi sebagai katoda. Di sini, besi berfungsi hanya sebagai tempat terjadinya
reduksi oksigen. Logam lain berperan sebagai anoda, dan mengalami reaksi oksidasi. Dalam hal ini
besi, sebagai katoda, terlindungi oleh logam lain (sebagai anoda, dikorbankan). Besi akan aman
terlindungi selama logam pelindungnya masih ada / belum habis. Untuk perlindungan katoda pada
sistem jaringan pipa bawah tanah lazim digunakan logam magnesium, Mg. Logam ini secara berkala
harus dikontrol dan diganti.
- Membuat alloy atau paduan logam yang bersifat tahan karat, misalnya besi dicampur dengan
logam Ni dan Cr menjadi baja stainless (72% Fe, 19%Cr, 9%Ni).
Pencegahan korosi juga dapat dilakukan dengan cara Dicat, Dilapisi logam yang lebih mulia,
Dilapisi logam yang lebih mudah teroksidasi, Menanam batang-batang logam yang lebih aktif dekat
logam besi dan dihubungkan, dan Dicampur dengan logam lain

BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan

Korosi adalah teroksidasinya suatu logam. Korosi adalah kerusakan atau degradasi logam
akibat reaksi dengan lingkungan yang korosif. Korosi dapat juga diartikan sebagai serangan
yang merusak logam karena logam bereaksi secara kimia atau elektrokimia dengan
lingkungan.
Korosi adalah peristiwa rusaknya logam karena reaksi dengan lingkungannya. Pada
dasarnya peristiwa korosi adalah reaksi elektrokimia. Secara alami pada permukaan logam
dilapisi oleh suatu lapisan film oksida (FeO.OH. Pada proses korosi terjadi reaksi antara ionion dan juga antar elektron. Anode adalah bagian dari permukaan logam dimana metal akan
larut.
Bentuk-bentuk korosi dapat berupa korosi merata, korosi galvanik, korosi sumuran, korosi
celah, korosi retak tegang (stress corrosion cracking), korosi retak fatik (corrosion fatique
cracking) dan korosi akibat pengaruh hidogen (corrosion induced hydrogen), korosi
intergranular, dan selective leaching.
Faktor yang mempengaruhi Korosi, yaitu : Kontak Langsung logam dengan H2O dan
O2, Keberadaan Zat Pengotor, Kontak dengan Elektrolit, temperatur, pH dan Mikroba
Dampak yang ditimbulkan korosi dapat berupa kerugian langsung dan kerugian tidak
langsung. Kerugian langsung berupa terjadinya kerusakan pada peralatan, permesinan atau
struktur bangunan. Sedangkan kerugian tidak langsung berupa terhentinya aktivitas
produksi, karena terjadinya pergantian peralatan yang rusak akibat korosi, bahkan kerugian
tidak langsung dapat berupa terjadinya kecelakaan yang menimbulkan korban jiwa.
Pencegahan Korosi Berdasarkan proses terjadinya ada 2 cara yang dapat dilakukan untuk
mencegah korosi, yaitu perlindungan mekanis dan perlindungan elektrokimia.