Anda di halaman 1dari 127

ASSALAMUALAIKUM,

SELAMAT PAGI, SALAM


SEJAHTERA BUAT KITA
SEMUA

PEMAHAMAN DASAR
SIFAT-SIFAT DAN BAHAN-BAHAN
BETON
Oleh:
A. SUBAGDJA

TEKNOLOGI BAHAN JALAN DAN JEMBATAN


MINGGU 1 - TM 1-2
HAND OUT TBJ-05/ A. SUBAGDJA

KEYPOINT
PENDAHULUAN
SIFAT-SIFAT BETON
PORTLAND CEMENT (PC)
AGREGAT
AIR
ADMIXTURE DAN ADDITIVE

LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL


POLBAN

PENDAHULUAN

LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL


POLBAN

BAHAN PEMBENTUK BETON


Semen dan air

Produk hidrasi

semen yg tidak
terhidrasi

Pasta
Semen

Rongga gelembung

Ronggahalus
kapiler
Agregat

mortar

Rongga udara
Beton
Agregat kasar

Baja
Tulangan
Beton

LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL


POLBAN

LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL


POLBAN

Komponen Pembentuk Beton


Agregat (kasar dan halus): 60%-75% total
campuran beton;
Pasta: 25%-40% total campuran beton,
Semen (bahan bersifat semen): 7%-15%;
Air: 14%-21%;
Udara: 4%-8%.
Admixtures.

Kualitas Beton ditentukan oleh kualitas dari:


agregat, pasta dan ikatan antar keduanya.

LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL


POLBAN

Beton
merupakan bahan yang banyak digunakan dalam industri
konstruksi, karena :

1. Mutu dapat direncanakan;


2. Mudah dibentuk;
3. Tahan terhadap lingkungan agresif dan suhu;
4. Dapat diproduksi di lapangan maupun
di pabrik;
5. Bahan baku mudah didapat.

LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL


POLBAN

LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL


POLBAN

LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK


SIPIL POLBAN

Random Transverse

Uniform Transverse

Random Skewed

Uniform Longitudinal

LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL


POLBAN

LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL


POLBAN

LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL


POLBAN

SIFAT-SIFAT UMUM
BETON

LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL


POLBAN

LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL


POLBAN

LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL


POLBAN

LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL


POLBAN

- Sifat-Sifat beton yang baik


Kuat
Workabilities

Homogen

Beton
Stabil

Awet

Hal-hal yang memepengaruhi Mutu


Beton
Mutu Bahan

Proporsi

Perawatan
Pemadatan

Beton

Penakaran

Pencampuran

Pengecoran
Pengangkutan

Langkah-langkah pembuatan beton


Pertama : Pemeriksaan mutu bahan yg akan digunakan
sesuai
dengan metode yg berlaku
Kedua : Perencanaan campuran beton untuk
mendapatkan
proporsi yg tepat dan ekonomis.
Ketiga : Metode pelaksanaan dan penggunaan alat yang
tepat
agar beton yg dihasilkan sesuai dgn rencana
Keempat : Pengendalian mutu beton, untuk mendapatkan
mutu pelaksanaan sesuai dgn persyaratan.

Mix Disain Beton (rancangan campuran


beton)
Ditujukan untuk memperoleh proporsi yang tepat
dan ekonomis:
Cara lama : proporsi ditetapkan, kekuatan dicari ?
?
Cara baru : Kekuatan ditetapkan, proporsi
dihitung.
Keuntungannya :
- Target kekuatan mendekati tepat
- Sifat bahan dapat diketahui
- Pengendalian relatif lebih mudah
- Harga beton dapat terkendali

Langkah perencanaa mix design


1. Penetapan target strength dan margin
2. Penetapan kelecakan beton (slump)
3. Penetapan W/C ratio
4. Penghitungan agregat combined
5. Penghitungan free water content
6. Penghitungan cement content
7. Penghitungan fine agregat content
8. Penghitungan coarse agregat content

LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL


POLBAN

I. PORTLAND CEMENT

I. SEMEN
Sebagai Bahan Pengikat;
FUNGSI

Sifat-sifat Adhesive dan cohesive


semen akan mampu mengikat
fragmen-fragmen mineral menjadi
suatu kesatuan yang kompak
Semen Portland (type I s/d V);

JENIS

Semen Portland Pozoland (SPP);


Semen Pozolan Kapur (SPK);
DLL

LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL


POLBAN

PRODUKSI PC

TYPE PC
Semen Portland SNI 15-2049-1994
Jenis I

: untuk konstruksi pada umumnya, dimana tidak dipersyaratkan


khusus seperti untuk jenis lainnya.

Jenis II

: untuk konstr pada umumnya, yang disyaratkan tahan thd sulfat


dan panas hidrasi

Jenis III

: untuk konstr yang menuntut persyaratan kekuatan awal yang


tinggi.

Jenis IV

: untuk konstr yang menuntut persyaratan hidrasi yang rendah

Jenis V

: utk konstr. yg menuntut persyaratan sangat tahan terhadap


sulfat.

PEMAKAIAN & SIFAT PC


TYPE
I

II

III
IV
V

PEMAKAIAN DAN SIFAT


Pembuatan beton biasa
Tidak tahan terhadap serangan sulfat
Panas hidrasi lebih rendah dari panas hidrasi
semen biasa
Tahan terhadap serangan sulfat kadar
sedang
Sifat pengerasan lebih cepat
Kekuatan awal tinggi
Panas hidrasi rendah
Kekuatan awal rendah
Tahan terhadap sulfat dalam konsentrasi
tinggi

LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL


POLBAN

Oxides

% Used

CaO
SiO2
Al2O3

59-64%
19-24%
3-6%

Fe2O3

1-4%

MgO

0.5-4%

LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL


POLBAN

COMPOUNDS OF CEMENT
SN Name of
Compound

Oxide composition

Abb.

Approx
%age

Tri calcium
Silicate

3CaO. SiO2

C 3S

39-50%

Di calcium
Silicate

2CaO.SiO2

C 2S

20-45%

Tri calcium
Aluminate

3CaO.Al2O3

C 3A

8-12%

Tetra calcium
Alumino
ferrite

4CaO.Al2O3Fe2
O3

C4AF

6-10%

LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL


POLBAN

Oxide
composition

Function

C 3S

Mainly responsible for early strength (1


to 7 days)

C 2S

Mainly responsible for later strength (7


days & beyond)

C 3A

C3A gives flash set in absence of gypsum

C4AF

It hydrates rapidly but its contribution to


strength is uncertain and generally very
low.

LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL


POLBAN

LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL


POLBAN

BEBERAPA SIFAT FISIK SEMEN PORTLAND


Menunjukkan perubahan beton dari
kondisi plastis menjadi kaku;

SETTING
(PENGIKAT
AN)

Setting disebabkan oleh proses


hidrasi semen;
Proses setting disertai oleh
perubahan suhu pasta semen;
INITIAL SETTING (pengikatan awal),
ditandai dengan kenaikan suhu
secara cepat;
FINAL SETTING (pengikatan akhir),
merupakan saat terjadinya suhu
puncak

BEBERAPA SIFAT FISIK SEMEN PORTLAND

Berpengaruh terhadap: laju hidrasi


dan perkembangan kekuatan.
FINENESS
(KEHALUSAN
)

Partikel yang lebih kasar akan


menghasilkan laju hidrasi dan
perkembangan kekuatan yang
lambat;
Semen yang lebih halus dapat
mengurangi BLEEDING campuran
beton;
Semen yang lebih halus
meningkatkan WORKABILITY

BEBERAPA SIFAT FISIK SEMEN PORTLAND

STRENGTH
(KEKUATAN)

Diketahui melalui
pemeriksaan mortar;
Dipengaruhi oleh sifat-sifat
adhesive dan cohesive
semen

TABEL 1.1. PEMAKAIAN TYPE PC DAN PPC


TYPE PC (SEMEN PORTLAND)
I

II

III

IV

PPC
(SPP)

Perumahan

Bangunan Gedung

Bendungan

Irigasi Primer

Irigasi Sekunder

Jalan

Jembatan

Fly Over

Jalan Kereta api

Pelabuhan Laut

Pelabuhan Udara

Listrik Mikro Hidro

JENIS KONSTRUKSI

PENYIMPANAN SEMEN PORTLAND


Disimpan diruangan kering dan
tertutup rapat;
Ditumpuk maksimum 10 zak, dg
jarak minimum dari lantai 0,3 m;
PENYIMPANAN

Waktu penimbunan tidak terlalu


lama (maksimum 2 bulan);
Dipilah berdasrkan merk pabrik
dan disusun atasdasar waktu
pengiriman;
Apabila digunakan semen curah,
suhu harus kurang dari 700C

LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL


POLBAN

TESTING OF CEMENT

Field testing for quick


appreciation

Laboratory testing for


confirmed quality

LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL


POLBAN

Period of storage

Fresh
3 months
6months
12months
24 months

%age of 28-days
strength
100%
80%
70%
60%
50%

LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL


POLBAN

LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL


POLBAN

LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL


POLBAN

II. AGREGAT

II. AGREGAT
Sebagai Bahan Pengisi (65-75%
volume beton);
FUNGSI

JENIS

Karakter agregat sangat


menentukan kualitas akhir dari
beton yang dibuat
Asal (alam dan buatan);
Susunan Gradasi (kasar seragam,
halus seragam, celah, dan
continyu/ baik);
Susunan kumpulan butir (halus dan
kasar);
Beratnya (ringan, normal, dan

AGREGAT

JENIS
SESUAI
SPEK

Agregat Halus ---- 4,75 mm 0,075


mm
Agregat Kasar ---- > 4,75 mm

ADUKAN
BETON
KOMPAK
DAN
PADAT

Dibutuhkan suatu proporsi yang baik


(optimal) untuk bisa saling mengisi
antara Agregat Halus dengan
Agregat Kasar.

SIFAT-SIFAT AGREGAT
BENTUK BUTIR DAN KEADAAN
PERMUKAAN
KEKUATAN
BERAT JENIS DAN BERAT ISI
POROSITAS DAN DAYA SERAP
BAHAN PERUSAK DALAM BETON
KEKEKALAN
REAKSI ALKALI
SIFAT THERMAL

1. BENTUK BUTIR DAN


KEADAAN
PERMUKAAN
A.

BENTUK BUTIR
A. BULAT
Pasir dan kerikil sungai
B. TIDAK BERATURAN
Kerikil sungai & gunung
C. BERSUDUT
Batu pecah (split)
D. PIPIH
lebar > 3 tebal
E. MEMANJANG
panjang > 3 lebar
F. PIPIH & MEMANJANG

B. KEADAAN PERMUKAAN
A. SEPERTI GELAS
(MENGKILAP)
Flint dan obsidian
B. LICIN
kerikil, chert, batu marmer
C. BERBUTIR (BULAT MERATA)
Batuan pasir, oolite
D. KASAR BERKRISTAL
Basalt, felsite, batu kapur
E. BERKRISTAL
Granit, gabro,gneis
F. BERPORI DAN BERONGGA

2. BERAT JENIS DAN BERAT ISI


A.
1.

2.

BERAT JENIS
Berat jenis absolut
perbandingan antara berat
masa dengan berat air
Volume benda = volume
masif, tanpa pori.
Benda uji dibuat tepung
Berat jenis nyata
Volume benda termasuk
volume tidak tembus air &
tidak termasuk volume
kapiler yg dpt terisi air

3. Berat Jenis SSD


Perbandingan berat jenuh
masa dgn berat air pd
volume yg sama.
Volume benda tidak
termasuk volume pori yg
tdk tembus air tapi pori
kapiler jenuh air
4. Berat jenis kering
Perbandingan berat
kering oven dengan
volume jenuh

B. BERAT ISI
Perbandingan antara berat benda dan
isinya
dalam satuan kg/l atau kg/m3

1. Berat isi Padat


2. Berat isi Gembur
Berat agregat
Berat agregat
dipadatkan
tanpa adanya
dalam 3 lapis dan
perlakuan
tiap lapis ditusuk
pemadatan
25 X
(digetar)

2. KEKUATAN AGREGAT
Dinyatakan sebagai
kekuatan hancur,
menggunakan kubus 50
mm
atau silinder 25/ 50 mm
Uji kekuatan:
- Crushing value (BS)
- Ketahanan aus, mesin
Los Angeles
- Bejana tekan Rudelof
- Goresan tembaga

KEKERASAN BATUAN
Mineral batuan
Kekerasan
(Mohs)
Talk
1
Gips
2
Kalsit
3
Flourite
4
Apatite
5
Felspar
6
Kuarsa
7
Topas
8
Corundum
9
Intan
10

PENYERAPAN DAN KADAR AIR


AGREGAT
Penyerapan
adalah
kemampuan
agregat menyerap
air dari kondisi
kering oven
sampai kondisi
jenuh kering
permukaan (SSD)
% Penyerapan =

Kadar air adalah


jumlah air yang
terdapat di dalam
agregat.

KADAR AIR DALAM AGREGAT

BAHAN-BAHAN MERUGIKAN YANG TERDAPAT


PADA AGREGAT

ZAT ORGANIK
Zat ini berasal dari hasil
penghancuran tumbuhan dan
binatang.
Zat ini terdapat pada agregat
halus.
Pengaruhnya:
Memperlambat pengikatan
semen dan kekuatan beton
khususnya gula dan minyak
Metode Pengujian :
Cara kolorimetrik

TANAH LIAT & LUMPUR


Lumpur adalah hasil
pelapukan batuan yang
bersifat tidak kekal.
Ukuran butir lumpur < no.200
Pengaruhnya :
- bertambahnya air
pencampur
- berkurangnya ikatan pasta
&
turunnya kekuatan beton
- menambah penyusutan dan
creep

GARAM CHLORIDA & SULFAT

Garam-garam tersebut : Na,


Mg, Ca, NaCl, MgSO4
Garam dpt dihilangkan dgn
dicuci air bersih.
Pengaruhnya :
- Karatnya tulangan
- Membesarnya volume
beton
MgSO4
- Rendahnya ketahanan &
kekuatan beton adanya
kerang

PARTIKEL TIDAK KEKAL


Dapat berupa : arang, kayu,
mika dan tanah liat keras.
Pengaruhnya :
- Mengurangi kekuatan &
ketahanan beton
- Memperbesar kebutuhan air
- Pyrit berukuran 5 - 10 mm
menimbulkan bintik2, retak
dan pecahnya
permukaan
beton
Uji pyrit : masukkan agregat
ke dalam air kapur shg
endapan berwarna coklat.

SIFAT KEKAL AGREGAT


SIFAT KEKAL :
KEMAMPUAN AGREGAT
MENAHANPERUBAHANVOLUME
AKIBAT PENGARUH EKSTERNAL
PENGARUHNYA :
TIMBUL KERUTAN/RETAKAN
PADA PERMUKAAN BETON &
PECAH AGAK DALAM.
PENYEBAB :
CHERT POROUS, LEMPUNG,
TANAH LIAT

SIFAT THERMAL
ADA 3 SIFAT THERMAL:
1.
Koefisien pengembangan
linear
2.
Panas jenis
3.
Daya hantar panas
PENGARUHNYA :
Merusak ikatan semen dan
agregat, bila perbedaan
koefisien pengembangan
linear > 5,5. 10-6 per 0 C
khususnya untuk daerah yg
mengalami perubahan suhu
yg tinggi ( panas dan dingin)

JENIS BATUAN

GRANIT
DIORIT,ANDESIT
BASALT
BATU PASIR
DOLOMIT
BATU KAPUR
MARMER
CHERT

KOEFISIEN
PENGEMBANGAN
LINIER, X 10-6
PER 0 C
1,8 11,9
4,1 10,3
3,6 9,7
4,3 13,9
6,7 8,6
0,9 12,2
1,1 16,0
7,4 13,1

REAKSI ALKALI AGREGAT


REAKSI ALKALI AGREGAT TERJADI
APABILA MENGGUNAKAN AGREGAT YG
MENGANDUNG SILIKA AKTIF(BERSIFAT
SILIKA AMORPH).
JENIS AGREGAT :
OPAL AMORPH, CHALCEDONY &
TUFF
PENGARUHNYA :
TERJADI REAKSI ANTARA ALKALI
(Na2O & K2O ) DI DALAM SEMEN DGN
SILIKA AKTIF PADA AGREGAT.
SHG MEMBENTUK SILIKA ALKALI GEL,
YG MENUTUPI SELURUH PERMUKAAN
AGREGAT SENYAWA INI TIDAK KEKAL
(MUDAH MENGEMBANG) SHG DAPAT
MENIMBULKAN TEGANGAN
INTERNAL DALAM BETON
AKIBATNYA BETON MUDAH RETAK

SILIKA
ALKALI GEL

AGREGAT
AMORPH

TYPE GRADASI AGREGAT

Gradasi Kasar
Seragam

Gradasi Celah

Gradasi Halus
Seragam

Gradasi menerus/
kontinyu (gradasi
baik)

SUSUNAN BUTIR (GRADASI)


PENGARUH GRADASI
A. TERHADAP BETON SEGAR :

GRADASI ADALAH
DISTRIBUSI UKURAN BUTIR
AGREGAT
MENGGUNAKAN AYAKAN YG
DISUSUN BERURUTAN DARI
YG BESAR DILETAKKAN
DIATAS
KURVA GRADASI IDEAL
DISEBUT GRADASI FULLER :
PENENTUAN GRADASI
AGREGAT
Pt = (d/D)n
d = ukuran butir agregat
D = ukuran butir max
n = konstanta = 0,35 0,45

- Kelecakan (workability)
- Sifat kohesi
- Jumlah semen & air pencampur
- Pengecoran & pemadatan
- Kontrol segregasi & bleeding

B. TERHADAP BETON KERAS


- Kepadatan
- Kekuatan (Strength)
- Keawetan (durability)

DATA DARI HASIL UJI GRADASI


1.

KURVA GRADASI :
Kurva ini berbentuk grafik
hubungan antara ukuran
butir agregat dengan %
lolos komulatif .
2. BESAR BUTIR AGREGAT
A. Butir maksimum :
Ukuran butir agregat terbesar,
bila lolos komulatif sebesar
100%.
B. Butir Nominal maksimum
Ukuran butir agregat terbesar,
bila lolos komulatif sebesar
(90 -100)%.

3. PENENTUAN UKURAN BUTIR


MAKSIMUM :
- Jarak bersih antar tulangan
- 1/5 Jarak antar cetakan
- 1/3 Tebal struktur minimum
3. % LOLOS KOMULATIF :
% Lolos agregat pada setiap
ayakan yg dihitung berdasarkan
berat agregat keseluruhan.
4. MODULUS KEHALUSAN (FINENES
MODULUS):
Jumlah % tertahan komulatif
agregat dari masing-masing
ayakan yang memiliki kelipatan
2, yg dimulai dari ayakan 0,15
mm di bagi 100%.

KUALITAS AGREGAT
AGREGAT KASAR:
a. Kekuatan
b. Bentuk butir
c. Gradasi
Kegunaan Agregat
Kasar
Menentukan mutu
beton yang
dihasilkan

AGREGAT HALUS :
a.Keawetan
b.Bentuk bulat/kubikal
c.Bergradasi baik
Kegunaan Agregat Halus
- Mengisi ruang antar butir
agregat kasar
- Menambah mobilitas
(sebagai ball bearing)

PENGARUH KADAR AGREGAT


BILA KADAR AGREGAT KASAR
TERLALU BANYAK
(Undersanded) :
-

BILA KADAR AGREGAT KASAR


TERLALU SEDIKIT(Oversanded) :
-

Total luas permukaan agregat


bertambah besar

Kebutuhan air bertambah


untuk slump yg sama

Terjadi bleeding (keluarnya


air semen dalam beton)

Kekuatan rendah

Kebutuhan semen bertambah

Banyak rongga dalam beton


Timbul segregasi (pemisahan
butir agregat halus dan kasar)

Adukan sulit dikerjakan

Mutu beton rendah

Pengambilan Sampel Uji dan


Pengujian Agregat
Dua hal yang perlu diperhatikan:
- Pengujian harus dilakukan dengan cara yang
sama, sehingga perbedaan hasil terjadi karena
perbedaan sifat sampel uji
- Sampel uji mewakili jumlah total agregat Sampel
uji beratnya hanya beberapa kilogram, yang
dianggap mewakili sejumlah besar agregat.
Sampel uji agregat biasanya diambil secara
acak,

IIA. AGREGAT HALUS


PENGERTIAN
Ukuran butir maksimum 5 mm (SK SNI S-04-1989 F)
Ukuran butir maksimum 4,75 mm (ASTM C.33)
PERSYARATAN (SK SNI S-04-1989 F)
a) Terdiri dari butir-butir yang tajam dan keras, dengan
indeks kekerasan 2,2;
b) Harus bersifat kekal, artinya tidak pecah atau hancur
oleh pengaruh cuaca, seperti terik matahari dan
hujan;
c) Sifat kekal, apabila diuji dengan garam sulfat sbb:
Digunakan Natrium Sulfat, yg hancur maks. 12%
Digunakan Magnesium Sulfat, yg hancur maks.
10%

IIA. AGREGAT HALUS (lanjutan)


PERSYARATAN (lanjutan)
d) Kandungan Lumpur Maksimum 5%:
Lumpur = Butir Lolos 0,06 mm (SK SNI S-04-1989 F)
Lumpur = Butir Lolos 0,075 mm (ASTM C.33)
e) Tidak boleh mengandung bahan organis terlalu
banyak:
Direndam larutan 35 NaOH, harus lebih muda
atau sama degan warna pembanding.
Minimum 95%, dibanding kuat tekan mortar
standar
f) Untuk beton dengan tingkat keawetan tinggi, reaksi
Agregat halus terhadap alkali harus negatif.
g) Pasir laut tidak boleh dipakai untuk semua mutu
beton, kecuali ada petunjuk dari lab. Yang diakui

IIA. AGREGAT HALUS (lanjutan)


PERSYARATAN (lanjutan)
h) Gradasi:
Modulus Kehalusan (Fineness Modulus/FM)
1,5 3,8 (SK SNI S-04-1989 F)
2,3 3,1 (ASTM C.33)
Harus terdiri dari butir-butir yang beraneka ragam
besarnya
Susunan butir, harus memenuhi salah satu zona:
1, 2, 3, atau 4 (SKBI/ BS.882), dan harus
memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
Sisa di atas ayakan 4,8 mm, maks. 2% berat;
Sisa di atas ayakan 1,2 mm, maks. 10% berat:
Sisa di atas ayakan 0,3 mm, maks. 15% berat

IIA. AGREGAT HALUS (lanjutan)


Tabel 2a.1

Persyaratan Susunan Butir BS.882 & ASTM C.33

IIA. AGREGAT HALUS (lanjutan)


Tabel 2a.2

Persyaratan Susunan Butir U.S. Bureau

IIA. AGREGAT HALUS


(lanjutan)
Tabel 2a.3 Opening Sieve
Sizes Standard

IIA. AGREGAT HALUS (lanjutan)


Tabel 2a.4

Contoh Perhitungan Analisa Ayak dan FM

IIB. AGREGAT KASAR (lanjutan)


PENGERTIAN
Ukuran butir 5 mm 40 mm (SK SNI S-04-1989 F)
Ukuran butir > 4,75 mm (ASTM C.33)
Maksimum butir tergantung dari pemakaian.
PERSYARATAN (SK SNI S-04-1989 F)
a) Terdiri dari butir-butir yang keras, kadar bagian
lemah jika digores batang tembaga, maks. 5% dan
jika diuji dengan metoda lain serti tabel 2b.1;
b) Jumlah butir pipih dan panjang, maksimum 20%;
c) Tidak boleh mengandung zat-zat yang merusak
beton, seperti zat reaktif alkali;
d) Tidak boleh mengadung lumpur (butir lolos 0,06 mm
atau 0,075 mm), maksimum 1%, jika lebih dicuci;

IIB. AGREGAT KASAR (lanjutan)


PERSYARATAN (SK SNI S-04-1989 F)
e) Sifat kekal, apabila diuji dengan garam sulfat sbb:
Digunakan Natrium Sulfat, yg hancur maks. 12%
Digunakan Magnesium Sulfat, yg hancur maks.
10%
Tabel 2b.1 Persyaratan Berbagai Kekuatan Agregat (SNI)

IIB. AGREGAT KASAR (lanjutan)


PERSYARATAN (lanjutan)
f) Gradasi:
Modulus Kehalusan (Fineness Modulus/FM)
6 7,1 (SK SNI S-04-1989 F)
Harus terdiri dari butir-butir yang beraneka ragam
besarnya
Susunan butir, harus memenuhi syarat-syarat
sebagai berikut:
Sisa di atas ayakan 38 mm, maks. 0% berat;
Sisa di atas ayakan 4,8 mm, 90%-98% berat:
Selisih antara sisa kumulatif, di atas dua
ayakan berurutan , maks. 60% dan minimum
10%.

IIB. AGREGAT KASAR (lanjutan)


PERSYARATAN (lanjutan)
g) Maksimum Butir:
Pemakaian agregat kasar dg ukuran maksimum
25 m, menunjukkan tingkat keberhasilan yang
baik dalam produksi beton.
Disamping itu, untuk keperluan praktis
pelaksanaan struktur beton bertulang, ukuran
maksimum agregat kasar masih perlu dibatasi
sehingga tidak melebihi:
jarak bersih minimum antar batang tulangan
atau berkas tulangan beton, atau
1/5 jarak terkecil antara bidang tepi dari
cetakan beton, atau
1/3 dari tebal pelat beton yang akan dibuat.

IIB. AGREGAT KASAR (lanjutan)


Tabel 2b.2

Maks. Butir Vs Kekuatan beton dg variasi semen

IIB. AGREGAT KASAR (lanjutan)


Tabel 2b.3

Persyaratan Susunan Butir Agg. Kasar BS.882

IIB. AGREGAT KASAR (lanjutan)


Tabel 2b.4

Persyaratan Susunan Butir Agg. Kasar ASTM C.33

IIB. AGREGAT KASAR (lanjutan)


Tabel 2b.5

Persyaratan Susunan Butir Agg. Kasar All in


BS.882

IIB. AGREGAT KASAR (lanjutan)


Tabel 2b.6

Persyaratan Susunan Butir Agg. Kasar All in


Road Note 4 untuk maksimum Butir 19 mm

IIC. BEBERAPA ALAT UJI MUTU AGREGAT

Pengambilan Sampel Uji dan


Pengujian Agregat
Dua hal yang perlu diperhatikan:
- Pengujian harus dilakukan dengan cara yang
sama, sehingga perbedaan hasil terjadi karena
perbedaan sifat sampel uji
- Sampel uji mewakili jumlah total agregat Sampel
uji beratnya hanya beberapa kilogram, yang
dianggap mewakili sejumlah besar agregat.
Sampel uji agregat biasanya diambil secara
acak,

SAMPLING AGREGAT

IIC. BEBERAPA ALAT UJI MUTU AGREGAT


AYAKAN UNTUK PEMERIKSAAN GRADASI

IIC. BEBERAPA ALAT UJI MUTU AGREGAT


ALAT UJI BERAT JENIS AGREGAT KASAR

IIC. BEBERAPA ALAT UJI MUTU AGREGAT


KEAUSAN AGREGAT

LOS ANGELES MACHINE

IIC. BEBERAPA ALAT UJI MUTU AGREGAT


PIPIH & MEMANJANG AGREGAT

90

LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL


POLBAN

Aggregates for Concrete


Developed
by ACI Committee E-701

LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK


SIPIL POLBAN

Properties of Agg

Influence on Conc. Properties

1 Sp. Gr
2 Porosity
3 Texture
4 Shape

Strength
Absorption
Bond Grip
Water Demand(Strength)

5 Gradation

Water Demand,Cohesion,
Bleeding,Segregation

6 Max Agg Size


7 Chemical Stability
8 Deleterious Materials

Water Demand(Strength)
Durability
Durability

LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL


POLBAN

LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL


POLBAN

LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL


POLBAN

LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL


POLBAN

LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL


POLBAN

LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL


POLBAN

LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL


POLBAN

LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL


POLBAN

LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL


POLBAN

LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL


POLBAN

MAXIMUM SIZE AND NOMINAL MAXIMUM


SIZE

LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL


POLBAN

LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL


POLBAN

LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL


POLBAN

LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL


POLBAN

III. AIR

I.

JENIS, dapat berasal dari:


Air Tanah/Sumur, PDAM, Sungai, dll

II. PARAMETER YANG DI UJI, antara lain:


a)
b)

Fisik (Perbandingan kekuatan tekan)


Kimia (Kandungan bahan pengotor al: lumpur, bahan yang
dapat larut spt. Asam & organik, khlorida)

III. PERSYARATAN, Menurut ACI 318:


a)
b)

c)

Air harus bersih.


% Cl thd. Berat semen: Beton Pratekan (0,06), Beton tdk
dilindungi dr. kelembaban (0,15), Beton dilindungi (1,0),
Beton Umum (0,30)
Air dari sumber yang sama, dengan perbandingan kekuatan
tekan tidak kurang dari 90%.

Air SKSNI 04-1989-F

Jernih, (pH antara 6-8), tidak mengandung

minyak, asam, garam-garam, bahan-bahan


organis dan bahan-bahan lainnya yang merusak
beton.

Tidak berbau dan tidak berasa.

LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL


POLBAN

LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL


POLBAN

STANDARDS FOR MIXING WATER IN


CONCRETE

ASTM C 1602/C 1602M-04 - Standard


Specification for Mixing Water Used in the
Production of Hydraulic Cement Concrete
ASTM C 1603/C 1603M-04 - Standard Test
Method for Measurement of Solids in Water

LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL


POLBAN

LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL


POLBAN

LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL


POLBAN

IV. ADMIXTURES
And
MINERAL ADM.
(ADDITIVE)

IV.

UMUM

JENIS

ADMIXTURE DAN ADDITIVE


Dalam teknologi beton modern, adanya
admixture dan additive sebagai bahan
tambahan campuran beton ternyata
telah berhasil meningkatkan kinerja
(performance) hampir disemua aspek.
Admixture Adalah bahan tambahan
campuran beton yang ditambahkan
pada saat pengadukan beton, dan
sering dicampurkan bersama dengan
air untuk mendapatkan sifat tertentu
dari betonnya.
Additive Adalah bahan tambahan
berupa butiran halus dan sebagian

IV.

ADMIXTURE DAN ADDITIVE


Abu Terbang (Fly Ash);

JENIS
ADDITIVE

Abu Slag Besi (Iron Blast Furnace


Slag);
Mikrosilika (Silicafume), dll
Type A (Water Reducer/
Superlasticizer);

JENIS
ADMIXTURE
ASTM c.494

Type B (Retarder);
Type C (Accelerator);
Type D (Water Reducer-Retarder);
Type E (Water Reducer-Accelerator);
Type F (HRWR);
Type G (HRWRR).

LABORATORIUM UJI BAHAN JURUSAN TEKNIK SIPIL


POLBAN

Normal slump concrete


with no superplasticiser

Concrete with superplasticis

FOR MUSLIM :
ALWAYS START ANY ACTIVITIES WITH SAYING BISMILLAH

FOR NON MUSLIM :


ALWAYS LOVE & APPRECIATE YOUR PARENTS

TERIMA KASIH
SELAMAT SIANG