Anda di halaman 1dari 4

Masih terdiam mendengar kalimat demi

kalimat yang meluncur baikdari bibir


Kapten Ismail maupun Daud. Matahari
semakin hangat
melelehkan selapis tipis salju di puncak
Carstensz Piramid. Aku menatap bola api
jingga yang tampak
lembut bersahabat dalam naungan
kabut dingin dan rintik salju.

Latar : Di puncak gunung


pada waktu pagi
hari.

Mang Sayur tersenyum. Ia memang


selalu tersenyum. Tidak pernah marah
meskipun anak-anak suka mengganggu.
Kami tinggal di asrama di Bandung,
terdiri dari 20 keluarga. Karena itu Mang
Sayur lama dikerumuni oleh ibu-ibu yang
malas
pergi ke pasar karena jauh.A n a k - a n a
k
a s r a m a suka mengganggu.
Mengambil tomat. Mengambil ikatan
kacang. Bukan untuk dimakan, hanya
untuk mengganggu Mang Sayur yang
baik
hati.

Watak tokoh Mang


Sayur adalah : sabar,
baik hati, dan
murah senyum

Pagar besi rumahnya melebihi tinggi


yang diizinkan oleh dinas perizinanan
tata kota. Pagar itu senantiasa terkunci.
Jika Raden Bagus pulang,
seorang pembantu wanita tua t e r g o p
o h g o p o h s e t e l a h
mendengarkan klakson mobil
mercedeznya hampir sepanjang sirine
kebakaran. Bunyi klakson itu tidak saja
menyentakkan
lamunan
pembantu
tuanya tetapi juga m e n g g a n g g u
k e t e n a n g a n tetangganya.

Watak Raden Bagus


adalah seorang yang
egois, tidak peduli
lingkungan sekitar.

Masih terdiam mendengar kalimat demi


kalimat yang meluncur baikdari bibir
Kapten Ismail maupun Daud. Matahari
semakin hangat
melelehkan selapis tipis salju di puncak
Carstensz Piramid. Aku menatap bola api
jingga yang tampak
lembut bersahabat dalam naungan
kabut dingin dan rintik salju.

Latar : Di puncak gunung


pada waktu pagi
hari.

Mang Sayur tersenyum. Ia memang


selalu tersenyum. Tidak pernah marah
meskipun anak-anak suka mengganggu.
Kami tinggal di asrama di Bandung,
terdiri dari 20 keluarga. Karena itu Mang
Sayur lama dikerumuni oleh ibu-ibu yang

Watak tokoh Mang


Sayur adalah : sabar,
baik hati, dan
murah senyum

malas
pergi ke pasar karena jauh.A n a k - a n a
k
a s r a m a suka mengganggu.
Mengambil tomat. Mengambil ikatan
kacang. Bukan untuk dimakan, hanya
untuk mengganggu Mang Sayur yang
baik
hati.
Pagar besi rumahnya melebihi tinggi
yang diizinkan oleh dinas perizinanan
tata kota. Pagar itu senantiasa terkunci.
Jika Raden Bagus pulang,
seorang pembantu wanita tua t e r g o p
o h g o p o h s e t e l a h
mendengarkan klakson mobil
mercedeznya hampir sepanjang sirine
kebakaran. Bunyi klakson itu tidak saja
menyentakkan
lamunan
pembantu
tuanya tetapi juga m e n g g a n g g u
k e t e n a n g a n tetangganya.

Watak Raden Bagus


adalah seorang yang
egois, tidak peduli
lingkungan sekitar.

Cerpen 1.

Air dan Api

Apabila kupandang airmuka ayah, aku merasa senang.Mukanya bersih karena


berkali-kali dicuci apabila mengambil air sembahyang.Dahinya mengkilap karena
sering sujud pada tikar
sembahyang. Bahkan ... Aku kadang-kadang terheran-heran mengapa ayah
mengambil air sembahyang, meskipun tidak hendak sembahyang.Pernah
kutanyakan, tapi ayah hanya tersenyum.
Hingga satu kali .... Adikku Ismail menumpahkan tinta sehingga hampir semua
bukuku terkena.
Bukan main marahku. Seolah-olah hendak kubalikkan saja meja karena amarah.
Ibnu, ambillah air sembahyang ....
Aku memandang ayah tak mengerti.Masih lama waktu Isa, Pak .... Kerjakan saja
apa yang kusuruh .... Ismail, ambil lap.Sebelum itu kumpulkan buku-buku yang kena
tinta.Waktu itu aku menurut. Dengan hati yang mengkal aku menimba air dan
berwudhu. Air yang dingin itu sejuk menyirami tanganku, mukaku,
telingaku.Amarahku seolah-olah tersapu bersih dan dalam ketenangan aku merasa
terlanjur telah marah-marah.Aku iba hati melihat Ismail sendiri membenahi meja
yang porak poranda.
Pasti tak sengaja Ismail berbuat ceroboh, menumpahkan tinta.
Ketika aku sampai di ruangan belajar lagi, ayah berkata: Buku-bukumu yang
terkena tinta,
kuganti .... Ayah memberiku buku-buku tulis dari persediaannya.Nah, tak perlu
marah bukan? Marah tidak menyelesaikan persoalanmu. Ismail berbuat itu tidak
sengaja.
Ia sudah minta maaf tentunya. Mengapa kau harus marah dan bukan berusaha
menyelamatkan buku-bukumu dari kemungkinan terkena tinta?
Aku diam.Marah itu berasal dari setan, dan kau tahu setan itu berasal dari api ...
karena itu harus harus disiram air. Itulah mengapa kau kusuruh mengambil air
sembahyang ....
Aku tersenyum mengulurkan tangan kepada Ismail;Lain kali hati-hati, ya
Bung ....Ismail tersenyum pula.
Sumber: kumpulan cerpen Orang-Orang Tercinta karya
Sukanto S.A.

Cerpen 1.

Air dan Api

Apabila kupandang airmuka ayah, aku merasa senang.Mukanya bersih karena


berkali-kali dicuci apabila mengambil air sembahyang.Dahinya mengkilap karena
sering sujud pada tikar
sembahyang. Bahkan ... Aku kadang-kadang terheran-heran mengapa ayah
mengambil air sembahyang, meskipun tidak hendak sembahyang.Pernah
kutanyakan, tapi ayah hanya tersenyum.
Hingga satu kali .... Adikku Ismail menumpahkan tinta sehingga hampir semua
bukuku terkena.
Bukan main marahku. Seolah-olah hendak kubalikkan saja meja karena amarah.
Ibnu, ambillah air sembahyang ....
Aku memandang ayah tak mengerti.Masih lama waktu Isa, Pak .... Kerjakan saja
apa yang kusuruh .... Ismail, ambil lap.Sebelum itu kumpulkan buku-buku yang kena
tinta.Waktu itu aku menurut. Dengan hati yang mengkal aku menimba air dan
berwudhu. Air yang dingin itu sejuk menyirami tanganku, mukaku,
telingaku.Amarahku seolah-olah tersapu bersih dan dalam ketenangan aku merasa
terlanjur telah marah-marah.Aku iba hati melihat Ismail sendiri membenahi meja
yang porak poranda.
Pasti tak sengaja Ismail berbuat ceroboh, menumpahkan tinta.

Ketika aku sampai di ruangan belajar lagi, ayah berkata: Buku-bukumu yang
terkena tinta,
kuganti .... Ayah memberiku buku-buku tulis dari persediaannya.Nah, tak perlu
marah bukan? Marah tidak menyelesaikan persoalanmu. Ismail berbuat itu tidak
sengaja.
Ia sudah minta maaf tentunya. Mengapa kau harus marah dan bukan berusaha
menyelamatkan buku-bukumu dari kemungkinan terkena tinta?
Aku diam.Marah itu berasal dari setan, dan kau tahu setan itu berasal dari api ...
karena itu harus harus disiram air. Itulah mengapa kau kusuruh mengambil air
sembahyang ....
Aku tersenyum mengulurkan tangan kepada Ismail;Lain kali hati-hati, ya
Bung ....Ismail tersenyum pula.
Sumber: kumpulan cerpen Orang-Orang Tercinta karya
Sukanto S.A.