Anda di halaman 1dari 14

ANEURISMA AORTA & DISEKSI AORTA

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Aneurisma Aorta
Aneurisma: Kata aneurisma berasal dari bahasa yunani aneurysma berarti
pelebaran. Aneurisma adalah keadaan dimana pembuluh darah menjadi
membesar secara abnormal atau mengembang (over-inflated) seperti balon yang
menonjol keluar. Pelebaran yang terjadi adalah lokal dan lebih dari 50% diameter
pembuluh darah. Aneurisma sering terjadi pada arteri di basis otak (circulus
Willisi) dan di aorta. Aneurisma adalah keadaan yang berbahaya karena dapat
ruptur dan menyebabkan kematian kapan saja.
Lapisan arteri yang kontak langsung dengan darah adalah tunica intima, sering
disebut intima. Lapisan ini dibentuk terutama oleh sel endothelial. Berdekatan
dengan lapisan ini adalah tunica media, disebut juga lapisan media terutama
dibentuk oleh sel otot polos dan and jaringan elastik. Lapisan paling luar
disebut tunica adventitia atau adventitia, tersusun oleh jaringan ikat.
Aneurisma merupakan keadaan dimana dinding pembuluh darah melemah
akibat tergantinya dinding pembuluh (elastin dan ototnya diganti menjadi
jaringan ikat). Hal ini menyebabkan aneurisma tampak seperti pembuluh yang
terdilatasi, tetapi hanya pada sebagian kecil dari pembuluh darah. Ia dapat
pecah dengan tiba-tiba, baik pada orang sehat sekalipun. Hati-hati akan
aneurisma, terutama diotak (paling sering) karena paling rentang menyebabkan
kematian. Aneurisma ini bersifat congenital. Namun banyak orang yang dapat
meninggal mendadak karena pecahnya aneurisma tanpa didahuli gejala apapun.
Aneurisma itu sendiri tergantung pada tekanan dan keadaan dinding pembuluh
yang mengalami proses repair. Awalnya ia berasal dari luka pada jejas parenkim
yang akan digantikan dengan fibrosis saat akan disembuhkan. Jejas parenkim ini
selalu menyebabkan proliferasi parenkim yang diikuti dengan proliferasi jaringan
ikat sehingga pada jejas pembuluh darah, setiap jaringan otot akan diganti
dengan jaringan ikat.
B. Etiologi Aneurisma Aorta
Aneurisma dapat disebabkan oleh berbagai faktor.

Melemahnya struktur dinding pembuluh darah arteri. Merupakan kasus


yang paling sering terjadi. Kelemahan pada dinding pembuluh darah ini
menyebabkan bagian pembuluh yang tipis tidak mampu menahan tekanan darah
yang relatif tinggi sehingga akan menggelembung.

Hipertensi (tekanan darah tinggi)

Aterosklerosis (penumpukan lemak pada dinding pembuluh darah arteri)


dapat juga menyebabkan pertumbuhan dan pecahnya aneurisma.

Beberapa infeksi dalam darah

Bersifat genetik

Tidak dapat dijelaskan penyebabnya.

Gelembung semula kecil, dengan bertambahnya usia dan penurunan kekuatan


pembuluh, dapat menjadi semakin besar hingga akhirnya pecah.
Cedera kepala merupakan penyebab yang paling sering ditemukan pada
penderita perdarahan intrakranial yang berusia dibawah 50 tahun.
Penyebab lainnya adalah malformasi arteriovenosa, yaitu kelainan anatomis
didalam arteri atau vena di dalam atau di sekitar otak. Malformasi
arteriovenosamerupakan kelainan bawaan, tetapi baru diketahui keberadaannya
jika telahmenimbulkan gejala.
Perdarahan dari malformasi arteriovenosa bisa secara tiba-tiba
menyebabkan pingsan dan kematian, dan cenderung menyerang remaja dan
dewasa muda.Kadang dinding pembuluh darah menjadi lemah dan menonjol,
yang disebutdengan aneurisma. Dinding aneurisma yang tipis bisa pecah dan
menyebabkan perdarahan.
Aneurisma di dalam otak merupakan penyebab dari perdarahan intrakranial,
yang bisa menyebabkan stroke hemoragik (stroke karena perdarahan)
C. Tanda dan Gejala Aneurisma Aorta
Gejala khas yang ditimbulkan penyakit ini adalah rasa nyeri pada punggung
sebelah atas, batuk, dan mengi. Banyak diantaranya yang batuk sampai
mengeluarkan darah sebagai akibat tekanan atau erosi pada pipa udara maupun
saluran pernapasan sekitarnya. Penekanan kerongkongan membuat kesulitan
menelan. Sedangkan bila terjadi pada pita suara bisa menyebabkan serak.
D. Klasifikasi Aneurisma Aorta
Aneurisma dibagi menurut bentuk dan pengaruhnya, yaitu:
a. Aneurisma Torakalis
85% disebabkan aterosklerosis. Sekitar 1/ 3 pasien dengan aneurisma ini
meninggal karena rupture aneurisma. Aneurisma di dalam torak dapat terjadi
pada bagian desenden, asenden / tranfersum dari aorta. Orang hipertensi yang
berumur 50 tahun dan 70 tahun merupakan subyek dari panyakit ini. Aneurisma
pada aorta desenden bentuknya fisiformis dan dimulai tepat pada distal dari
arteria subklavia. Pasien yang menderita aneurisma jenis in biasanya
asimtomastis.
Gejala nyeri berhubungan dengan aneurisma pada aorta desenden. Jarang
terjadi aneurisma pada bagian transversum / arcus aorta. Gejala dari aneurisma
jenis ini berhubungan dengan terjadinya tekanan struktur yang ada di
seputarnya, seperti pulmonem dan laring.

b. Aneurisma Aorta Abdominalis


Prognosis pasoen dengan aneurisma aorta abdominalis tidak hanya tergantung
kepada besarnya arteri yagn terserang, tetapi yang lebih utama adalah
tergantung kepada penyakit artherosklerosis jantung. Kebanyakan terjadi di atas,
bipurcatio iliaka di bawah arteri renalis.
c.

Aneurisma Diseksi

Pada aorta yang mengalami penyakit arterosklerosis, dapat terjadi robekan pada
intima / media mengalami degenerasi akibatnya diseksi.
E. Penatalaksanaan Aneurisma Aorta
Farmako terapi :
1.
Antihipertensif untuk mempertahankan tekanan sistolik pada 120 mmHg
atau kurang.
2.
Propanolol (inderal ) untuk menurunkan kekuatan pulsasi dalam aorta
dengan menurunkan kontraktilitas miokard.
Pembedahan bila terapi obat gagal untuk mencegah pembesaran aneurisma
atau pasien menunjukan gejala-gejala distres akut. Pembedahan meliputi eksisi
dan pengangkatan aneurisma dan penggantian dengan graf sintetik untuk
memperbaiki kontinuitas vaskuler.
F.

Patofisiologi Aneurisma Aorta

Pada aneurisma ditemukan suatu kelainan pada lapisan pembuluh darahyang


terdiri dari tiga lapisan, yaitu lapisan tunika intima, media danadventitia. Pada
aneurisma terdapat penipisan tunika media dan tunikaintima menjadi lebih
elastis hal ini mengakibatkan kelemahan pada pembuluh darah di daerah
aneurisma sehingga pembuluh darahmembentuk tonjolan akibat tekanan
pembuluh darah.Aneurisme intrakranial diklasifikasikan atas sakular, fusiform
atau diseksi.Hampir 90 % adalah tipe sakular (Berry Aneurisma).Tempat yang
biasanya timbul aneurisma adalah pada daerah :
1.
Sirkulasi anterior : pembuluh darah arteri komunikans anterior danarteri
cerebri media
2.
Sirkulasi posterior : pembuluh darah arteri komunikans posterior
dan percabangan arteri basilaris (basilar tip aneurism)Aneurisma sakular
berkembang dari defek lapisan otot (tunika muskularis) pada arteri.
Perubahan elastisitas membran dalam (lamina elastika interna) pada arteri
cerebri dipercayai melemahkan dinding pembuluh darah danmengurangi
kerentanan mereka untuk berubah pada tekanan intraluminal. Perubahan ini
banyak terjadi pada pertemuan pembuluh darah, dimanaaliran darah turbulen
dan tahanan aliran darah pada dinding arteri paling besar. Aneurisma sakular
biasanya berbentuk first and second order arteries, berasal dari siklus arteri

serebral (siklus wllisi) pada dasar otak.Aneurisma multipel bekembang pada 30%
pasien.Aneurisma fusiformis berkembang dari arteri serebri yang ektatik
dan berliku-liku yang biasanya berasal dari sistem vertebra basiler dan
bisasampai beberapa sentimeter pada diameternya. Pasien aneurismefisiformis
berkarakter dengan gejala kompresi sel induk otak atau nervuskranialis tapi
gejala tidak selalu disertai dengan perdarahan subarakhnoid.Aneurisma yang
disebabkan oleh diseksi terjadi karena adanya nekrosiskista media atau trauma
pada arteri., seperti aneurisma diseksi pada bagiantubuh (contoh: aneurisma
diseksi aorta), berbentuk seperti gumpalan darahsepanjang lumen palsu,
sedangkan lumen sebenarnya kolaps secara otomatis.
G. Pemeriksaan Fisik Aneurisma Aorta
a.

Radiologi

Temuan radiografi menunjukkan pelebaran di aorta.


b.

Angiografi

Pemeriksaan dilaksanakan untuk mengetahui apakah terjadi kebocoran,


pelebaran / robekan. Aourtogram dilaksanakan dengan memasukkan kateter ke
dalam arteri femoral, brachial / axilaris. Pemicu akan merasakan panas yang
membakar bila dimasukkan zat kontras per injeksi. Setelah dimasukkan zat
kontras serangkaian radiogram dilaksanakan silih berganti untuk kepentingan
penelusuran studi.
c.

Sonografi

Ultrasonografi juga penting dalam menentukan bentuk dan lokasi aneurisma.


Salep konduktor dioleskan pada kulit agar memperkuat fibrasi denyut suara arus
dan hembusan sehingga dapat dideteksi, karene prosedur tidak infasif.
H. Askep Teori Aneurisma Aorta
1.
a.
1.

Pengkajian
Pemeriksaan fisik
Pola persepsi kesehatan

Kaji apakah klien mempunyai bakat atau bawaan lemahnya pembuluh darah.
Kaji apakah pasien mempunyai riwayat ateroklerosis
Kaji apakah pasien mempunyai riwayat pembuluh darah
2.

Pola nutrisi metabolik

Kaji apakah napsu makan klien berkurang


3.

Pola aktivitas dan latihan

Kaji apakah klien ada merasakan nyeri dan didaerah mana nyeri tersebut

Kaji apakah klien membutuhkan bantuan orang lain saat melakukan, aktivitas
sehari-hari
Detensi vena-vena subferfisial pada dada, leher, atau lengan (menunjukan
tekanan pada vena kavasuperior)
4.

Pola tidur dan istirahat

Kaji apakah klien mengalami insomia


Kaji apakah istirahat klien cukup
5.

Pola persepsi kognitif

Kaji mekanisme koping klien


Kaji apakah klien ada menggunakan alat bantu pendengaran, pengelihatan,
cek terakhir?
Pupil tak sama (menunjukan tekanan pada rantai simpatis servikal)
6.

Pola persepsi dan konsep diri

Kaji apakah klien merasa putus asa/frustasi


7.

Pola peran dan hubungan dengan sesama

Kaji bagaimana hubungan klien dengan sesama, keluarga


8.

Pola reproduksi seksualitas

Kaji apakah klien mengalami perubahan atau masalah yang berhubungan


dengan penyakit yang diderita klien
9.

Pola mekanisme koping dan toleransi terhadap stres

Kaji apakah gangguan penyesuaian diri terhadap lingkungan dan situasi baru
Kaji ketidakmampuan koping klien terhadap berbagai hal
10. Pola sistem kepercayaan
apakah klien menyalahkan tuhan atas penyakit yang ddiideritanya.
b.
Kaji pemahaman pasien tentang kondisi, pemeriksaan diagnostik, dan
rencana tindakan.
2.
a.

Daftar Diagnosa Keperawatan


Nyeri berhubungan dengan aneurisma aorta

b.
Resiko tinggi terhadap kompilkasi : ruptur berhubungan dengan aneurisma
aorta
3.

Perencanaan

a.

Nyeri berhubungan dengan aneurisma aorta

Hasil yang diharapkan :


-

Mendemonstrasikan hilangnya nyeri

Melaporkan penurunan intensitas nyeri

Ekspresi wajah rileks

Tak ada merintih

Rencanan tindakan :
1.
Berikan analgesik yang diresepkan dan evaluasi keefektifan seperlunya.
Namun gunakan analgesik narkotik secara hemat.
R/: analgesik memblok jaras nyeri. Dosis besar narkotik dapat menutupi gejalagejala.
2.

Beri tahu dokter bila nyeri menetap atau memburuk.

R/: ini dapat menandakan progresif aneurisma dan seperlunya intervensi


pembedahan segera.
3.
Kaji karakteristik nyeri meliputi : lokasi, durasi, intensitas nyeri dengan
menggunakan skala nyeri.
R/: untuk mengetahui tingkat rasa nyeri sehingga dapat menentukan jenis
tindakannya.
b.
Resiko tinggi terhadap komplikasi : Ruptur berhubungan dengan aneurisma
aorta
Hasil yang diharapkan :
-

Mendemonstrasikan tak adanya komplikasi

TD tetap anatar 90/60 120/80 mmHg

Tak adanya menisfestasi syok hipofoleksmik

Rencana tindakan :
1.
Pantau masukan dan halauran setiap jam bila halauran urin 8 jam kurang
dari 240 ml sebalikn ya setiap 8 jam.
R/: untuk mengevaluasi keefektifan terapi dan untuk deteksi dini komplikasi.
2.

Pantau TD, nadi dan pernapasan setiap jam bila di UPI, sebaliknya 2-4jam.

R/: untuk mengevaluasi keefektifan terapi dan untuk diteksi dini komplikasi
3.

Pantau kualitas nyeri setiap 1-2 jam

R/: untuk mengevaluasi keefektifan terapi dan untuk deteksi dini komplikasi.
4.

Pertahankan tirah baring pada posisi semifowlers

R/: tirah baring menurunkan penggunaan energi posisi tegak memperudahkan


pernapasan.
5.
Beri tahu dokter bila : nyeri dada hebat dan rasa tersobek, syok (kulit
dingin dan lembab, disertai dengan hipotensi, takikardia dan pucat)
R/: tindakan segera diperlukan untuk menyelamatkan hidup pasien.
I.

Pengertian Diseksi Aorta

Diseksi Aorta adalah suatu kondisi serius dimana luka berkembang didalam
lapisan aorta, pembuluh darah jantung. Darah keluar melalui luka tersebut
kedalam lapisan tengah aorta, menyebabkan lapisan dalam dan tengah terpisah.
Jika darah telah penuh hingga sampai dinding aorta luar, diseksi aorta sering
fatal. Diseksi aorta, juga disebut bedah aneurisma, relatif jarang terjadi.
Siapapun dapat mengembangkan kondisi ini, tetapi paling sering terjadi pada
pria antara 60-70 tahun. Gejala diseksi aorta mirip penyakit lain, yang sering
menimbulkan keterlambatan diagnosis. Namun ketika diseksi aorta terdeteksi
dinidan segera diobati, kesemptan untuk bertahan hidup masih tinggi.
J.

Etiologi Diseksi Aorta

Diseksi aorta terjadi karena dinding aorta melemah. Tekanan darah tinggi kronis
dapat menekankan jaringan aorta, sehingga lebih rentan untuk robek. Seorang
juga dapat lahir dengan kondisi yang berhubungan dengan aorta lemah dan
perbesaran aorta, seperti sindrom Merfan atau katup aorta bikuspid.
K. Tanda dan Gejala Diseksi Aorta
Tanda dan gejala yang dialami pada penderita penyakit diseksi aorta sebagai
berikut :
1.

Dada yang nyeri parah secara tiba-tiba atau nyeri punggung atas

2.

Kehilangan kesadaran (pingsan)

3.

Sesak napas

4.
Kesulitan berbicara, kehilangan pengelihatan, lemah atau kelumpuhan satu
sisi tubuh seperti memiliki stroke
5.

Berkeringat

6.

Lemah disutu lengan dibandingkan dengan yang lain.

L. Klasifikasi Diseksi Aorta


Klasifikasi diseksi aorta dibagi menjadi dua tipe, yaitu : Diseksi tipe A dan
Diseksi tipe B.


Lesi proksimal yang lebih sering dan berbahaya yang mengenai aorta
asendens (Diseksi tipe A)

Lesi distal yang tidak mengenai pars asendens dan biasanya dimulai dari
bagian distal terhadap arteri subklavia (Diseksi tipe B)

M. Penatalaksanaan Diseksi Aorta


Diseksi aorta merupakan kegawatdaruratan medis dan harus diobati dengan
perioritas tertinggi. Pertimbangan segera yang harus diperhatikan pada tipe A
maupun tipe B adalah menurunkan tekanan darah sampai sistolik 100mmHg
untuk mencegah diseksi atau ruptur lebih lanjut, menggunakan analgesik dan
intravena. Pasien yang mengalami hipotensi akibat perdarahan harus diresusitasi
untuk mempertahankan TD dalam level cukup. Terapi spesifik tergantung pada
tempat asal flap.
Diseksi tipe A : resiko komplikasi yang berbahaya, khususnya ruptur
keperikardium, sangat tinggi, dengan rata-rata kematian perjam kurang lebih
2%, pasien harus dipindahkan dengan ambulance lampu biru atau udara kepusat
pelayanan kardio thoraks sesegera mungkin, pada waktu kapan pun.
Tipe B : pembedahan memiliki resiko tinggi pada keadaan ini tidak di indikasikan
sebagai terapi lini pertama. Tipe ini merupakan indikasi untuk kontrol TD agresif,
dengan target TD sistolik kurang 100mmHg. Pemdedahan hanya dilakukan bila
terjadi komplikasi yang mengancam jiwa, seperti ruptur yang berbahaya. Lumen
palsu bisa membeku dan menjadi stabil.
N. Patofisiologi Diseksi Aorta
Tekanan darah tinggi, regangan jaringan ikat dan adanya kelainan pada tunika
intima(aterosklerosis) menyebabkan robekan mendadak pada tunika intima.
Darah masuk kelapisan diantara tunika intima dan media, dan tekanan yang
tinggi menyebabkan darah mengalir kearah longitudinal sepanjang aorta, kearah
depan dan belakang dari titik masuk, membentuk lumen palsu. Darah dalam
lumen palsu bisa membeku, atau tetap cair dengan sedikit aliran. Diseksi dibagi
menjadi dua tipe, tergantung dari ada tidaknya keterlibatan aorta asendens.

Tipe A: titik robekan intima ada pada aorta asendens. Diseksi biasanya menjalar
kearah distal mengenai aorta desenden kemudian kearah proksimal merusak
aparatus katup aorta dan masuk kedalam perikardium .
Tipe B : titik robekan intima terdapat pada aorta desendens, biasanya tepat
dibawah ujung awal arteri subklavia sinistra robekan jarang menyebar kearah
proksimal.
O. Pemeriksaan Fisik Diseksi Aorta
1.
EKG : penting untuk menyingkirkan MI. Bisa menunjukan hipertrofi ventrikel
kiri (LV) akibat hipertensi yang berlangsung lama.
2.
Foto toraks : dapat memperlihatkan pelebaran mediastrinum akibat
hemomediastrinum, atau efusi pleura, dan disebabkan oleh ruptur aorta
kerongga pleura (biasanya yang kiri).
3.
CT scan : merupakan teknik pencitraan terpilih dibanyak rumah sakit.
Jangan pernah menunda pemeriksaan ini. Pencitraan aorta potongan melintang
menunjukan adanya flap. Lumen asli, dan lumen palsu bila diberi kontras.
4.
Ekokardiografi : jarang memperlihatkan flap diseksi, namun bisa nampak
adanya komplikasi seperti hemoperikardium dan regurgitasi aorta.
5.
Ekokardiografi transefagus(TEE) : sangat sensitif untuk pencitraan aorta
asendens maupun desendens. Suatu pendanda eko khusus dimasukan melalui
esofagus, dan ditempatkan dibelakang jantung, memungkinkan pencitaraan
pembuluh darah besar dan jantung, tanpa terhalang tulang-tulang atau paru.
Gambaran yang didaptakan berkualitas tinggi. Prosedur ini harus dilakukan oleh
operator yang sangat terampil dan merupakan teknik infasif, pasien
membutuhkan sedasi karena bisa menyebabkan kenaikan tekanan darah
sementara yang dapat memicu perluasan diseksi, oleh karena itu pemeriksaan
ini hanya dilakukan dipusat pelayanan kardio thoraks sebagai pendahuluan
sebelum dilakukan tindakan bedah segera.
P.

Askep Teori Diseksi Aorta

Proses keperawatan klien dengan kasus Diseksi aorta


1. PENGKAJIAN
a. Aktivitas/istirahat
Gejala: Kelemahan, kelelahan, pusing, rasa berdenyut, dispnea karena kerja,
palpitasi, gangguan tidur (ortopnea, dispnea paroksismal nokturnal, nokturia,
keringat malam hari).
Tanda: Takikardi, gangguan pada TD, pingsan karena kerja, takipnea, dispnea.
b. Sirkulasi

Gejala: Riwayat kondisi pencetus, contoh demam reumatik, endokarditis


bakterial subakut, infeksi streptokokal; hipertensi, kondisi kongenital (contoh
kerusakan atrial-septal, sindrom Marfan), trauma dada, hipertensi pulmonal,
riwayat murmur jantung, palpitasi, serak, hemoptisis, batuk dengan/tanpa
produksi sputum.
Tanda:

Sistolik TD menurun .

Tekanan nadi lambat

Nadi apikal kuat dan terletak di bawah dan ke kiri secara lateral kuat

Getaran cepat

Bunyi jantung keras

Kecepatan yaitu takikardia

Irama tak teratur

c.

Integritas ego

Gejala: Tanda kecemasan, contoh gelisah, pucat, berkeringat, fokus


menyempit,gemetar.
d.

Makanan/cairan

Gejala: Disfagia (IM kronis), perubahan berat badan, penggunaan diuretik.


Tanda: Edema umum atau dependen, hepatomegali dan
asites,hangat,kemerahan dan kulit lembab,pernapasan payah dan bising dengan
terdengar krekels dan mengi.
e. Neurosensori
Gejala: Episode pusing/pingsan berkenaan dengan beban kerja.
f. Nyeri/kenyamanan
Gejala: Nyeri dada, angina, nyeri dada non-angina/tidak khas
g. Pernapasan
Gejala: Dispnea (kerja, ortopnea, paroksismal, nokturnal). Batuk menetap atau
nokturnal (sputum mungkin/tidak produktif).Tanda: Takipnea, bunyi napas
adventisius (krekels dan mengi), sputum banyak dan berbercak darah (edema
pulmonal), gelisah/ketakutan (pada adanya edema pulmonal.
2. DIAGNOSIS KEPERAWATAN
a. Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan
dalampreload/peningkatan tekanan atrium dan kongesti vena.

b. Nyeri akut berhubungan dengan iskemia jaringan miokard.


c. Intoleran aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai
oksigen
dan kebutuhan.
3. INTERVENSI
a.
Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan
dalampreload/peningkatan tekanan atrium dan kongesti vena.
Tujuan : Menunjukkan penurunan episode dispnea, nyeri dada, dan disritmia.
Intervensi :
1. Pantau TD, nadi apikal, nadi perifer. R/ Indikator klinis dari keadekuatan
curah jantung. Pemantauan memungkinkan deteksi dini/tindakan terhadap
dekompensasi.
2. Bantu dengan aktivitas sesuai indikasi (misal: berjalan) bila pasien mampu
turun dari tempat tidur aatur posisi saat istirahat dengan posisi semi fowler . R/
Melakukan kembali aktivitas secara bertahap mencegah pemaksaan terhadap
cadangan jantung. Posisi semi fowler memudahkan oksigenasi.
3. Berikan oksigen suplemen dan obat-obatan sesuai indikasi. Pantau DGA/nadi
oksimetri. R/ Memberikan oksigen untuk ambilan miokard dalam upaya untuk
mengkompensasi peningkatan kebutuhan oksigen.
b.

Nyeri akut berhubungan dengan iskemia jaringan miokard.

Tujuan : Nyeri hilang/terkontrol.


Intervensi :
1. Selidiki laporan nyeri dada dan bandingkan dengan episode sebelumnya.
Gunakan skala nyeri (0-10) untuk rentang intensitas. Catat ekspresi verbal/non
verbal nyeri, respons otomatis terhadap nyeri (berkeringat, TD dan nadi
berubah, peningkatan atau penurunan frekuensi pernapasan). R/ Perbedaan
gejala perlu untuk mengidentifikasi penyebab nyeri. Perilaku dan perubahan
tanda vital membantu menentukan derajat/ adanya ketidaknyamanan pasien
khususnya bila pasien menolak adanya nyeri.

2. Anjurkan pasien berespons tepat terhadap berhenti aktivitas, istirahat, dan


minum obat yang tepat). Berikan lingkungan istirahat dan batasi aktivitas sesuai
kebutuhan.R/ Aktivitas yang meningkatkan kebutuhan oksigen miokardia (contoh
kerja tiba-tiba, stres, makan banyak, terpajan dingin) dapat mencetuskan nyeri
dada.
3. Berikan vasodilator, contoh nitrogliserin, nifedipin (Procardia) sesuai indikasi.
R/ Obat diberikan untuk meningkatkan sirkulasi miokardia (vasodilator)
menurunkan angina sehubungan dengan iskemia miokardia.
c.
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara
suplai oksigen dan kebutuhan.
Tujuan : Menunjukkan peningkatan yang dapat diukur dalam toleransi aktivitas.
Intervensi :
1)

Kaji toleransi pasien terhadap aktivitas menggunakan parameter berikut:

frekuensi nadi 20/menit diatas frekuensi istirahat; catat peningkatan TD,


dispnea atau nyeri dada; kelelahan berat dan kelemahan; berkeringat; pusing;
atau pingsan. R/ Parameter menunjukkan respons fisiologis pasien terhadap
stres aktivitas dan indikator derajat pengaruh kelebihan kerja/jantung.2) Kaji
kesiapan untuk meningkatkan aktivitas contoh penurunan kelemahan/kelelahan,
TD stabil/frekuensi nadi, peningkatan perhatian pada aktivitas dan perawatan
diri. R/ Stabilitas fisiologis pada istirahat penting untuk memajukan tingkat
aktivitas individual.
2)
Dorong memajukan aktivitas/toleransi perawatan diri. R/ Konsumsi
oksigen
miokardia selama berbagai aktivitas dapat meningkatkan jumlah oksigen yang
ada. Kemajuan aktivitas bertahap mencegah peningkatan tiba-tiba pada kerja
jantung.
3)
Berikan bantuan sesuai kebutuhan dan anjurkan penggunaan kursi
mandi,
menyikat gigi/rambut dengan duduk dan sebagainya. R/ Teknik penghematan
energi menurunkan penggunaan energi sehingga membantu keseimbangan
suplai dan kebutuhan oksigen.
4)

Dorong pasien untuk berpartisipasi dalam memilih periode aktivitas.

R/ Seperti jadwal meningkatkan toleransi terhadap kemajuan aktivitas dan


mencegah kelemahan.

d.

Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.

Tujuan : Menunjukkan penurunan ansietas/terkontrol.


Intervensi :
1)
R/

Pantau respons fisik, contoh palpitasi, takikardi, gerakan berulang, gelisah.

Membantu menentukan derajat cemas sesuai status jantung. Penggunaan


evaluasi seirama dengan respons verbal dan non verbal.
2)
Berikan tindakan kenyamanan (contoh mandi, gosokan punggung,
perubahan
posisi). R/ Membantu perhatian mengarahkan kembali dan meningkatkan
relaksasi, meningkatkan kemampuan koping.
3)
dan

Dorong ventilasi perasaan tentang penyakit-efeknya terhadap pola hidup

status kesehatan akan datang. Anjurkan pasien melakukan teknik relaksasi,


contoh napas dalam, bimbingan imajinasi, relaksasi progresif. R/ Memberikan
arti penghilangan respons ansietas, menurunkan perhatian, meningkatkan
relaksasi dan meningkatkan kemampuan koping.
4)

Libatkan pasien/orang terdekat dalam rencana perawatan dan dorong

partisipasi maksimum pada rencana pengobatan. R/ Keterlibatan akan


membantu memfokuskan perhatian pasien dalam arti positif dan memberikan
rasa kontrol.
4. EVALUASI
1. Menunjukkan penurunan episode dispnea, nyeri dada, dan disritmia.
2. Menunjukkan keseimbangan masukan dan haluaran, berat badan stabil, tanda
vital
dalam rentang normal, dan tak ada edema.
3. Nyeri hilang/terkontrol.
4. Menunjukkan peningkatan yang dapat diukur dalam toleransi aktivitas.
5. Menunjukkan penurunan ansietas/terkontrol.

Angina Prinzmental (Angina Varian).

Sakit dada atau nyeri timbul pada waktu istirahat, seringkali


pagi hari. Nyeri disebabkan karena spasmus pembuluh
koroneraterosklerotik. EKG menunjukkan elevasi segmen ST.
Cenderung berkembang menjadi infaark miokard akutdan dapat
terjadi aritmia.