Anda di halaman 1dari 17

FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA

(UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA)


Jl. Terusan Arjuna No.6 Kebon Jeruk Jakarta Barat
KEPANITERAAN KLINIK
UJIANILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA
RS MATA DR. YAP
Nama : Febryn Prisiliya Paliyama

Tanda tangan

Nim : 11-2013-206
............................................
Dr Pembimbing / Penguji :dr. Rinanto Prabowo, Sp.M, M.Sc

............................................
.

I.

II.

IDENTITAS PASIEN
Nama
Umur
Agama
Pekerjaan
Tanggal pemeriksaan
Pemeriksa
Moderator

: Tn. T
: 58 tahun
: Islam
: Petani
: 16 Maret 2015
: Febryn Paliyama
: dr. Rinanto Prabowo, Sp.M, M.Sc

PEMERIKSAAN SUBJEKTIF
Auto anamnesis tanggal : 16 Maret 2015 jam 13.00 WIB
Keluhan utama
Penglihatan sangat kabur pada mata kiri sejak 4 tahun yang lalu

Riwayat penyakit sekarang


Pasien datang RS Mata Dr.Yap dengan keluhan utama penglihatan sangat
menurun pada mata kiri, Keluhan ini semakin lama semakin memburuk. Selain itu
1 | Page

pasien juga mengeluhkan adanya bercak putih pada matanya kurang lebih sejak 4
tahun yang lalu. , sebelumnya kedua mata pasien sempat terkena ekor kerbau
sejak pasien berumur 8 tahun, dan sudah berobat di dr SPM diklaten. Mulai
tahun 2011 pasien merasa kedua penglihatan semakin menurun ,pasien merasa ada
yang mengganjal pada mata kanan dan kiri juga merasa perih dan terlihat warna
putih pada kedua mata , Pasien akhirnya operasi ( keratoplasty) pada tahun 2013.
Namun setelah operasi mata kiri pasien masih tetap buram dan akhirnya pasien
melakukan keratoplasty lagi pada bulan maret tahun 2015 Pasien tidak pernah
menggunakan lensa kontak, sebelumnya tidak memakai kaca mata, dan tidak
pernah mengalami sakit seperti ini sebelumnya.
Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien sudah pernah melakukan keratoplasty pada tahun 2013 , tidak ada
darah tinggi, kencing manis, asma, dan alergi.
Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada keluarga dan orang dekat yang sakit seperti ini. Riwayat keluarga
menderita penyakit darah tinggi dan kencing manis disangkal. Riwayat keluarga
menderita penyakit pada mata disangkal.

Riwayat Sosial Ekonomi


Pasien bekerja sebagai petani.
III.

PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis
Keadaan Umum
: Tampak sakit ringan
Tanda Vital
Tekanan darah
: 120/80 mmHg
Nadi
: 84x/menit
Respiration rate
: 24x/menit
Suhu
: 36,5oC
Kepala
: Normocepali, rambut hitam, distribusi merata
Telinga
: Normotia, serumen (-), secret (-)
Hidung
: Deviasi septum (-), secret (-)
Tenggorokkan
: Tonsil T1/T1, faring hiperemis (-)
Thoraks
Jantung
: BJ I-II regular, murni, gallop (-), murmur (-)
Paru
: Vesikuler (+/+), wheezing (-/-), ronki (-/-)
Abdomen
: Nyeri tekan (-), bising usus (+) normal, supel.
Ekstremitas
: Akral hangat, udem -/-, CRT<2s

2 | Page

STATUS OPHTHALMOLOGIS
KETERANGAN

(OD)

(OS)

1. VISUS
Tajam Penglihatan

1/~

Axis Visus

Tidak ada

Tidak ada

Koreksi

Tidak ada

Tidak ada

Addisi

Tidak ada

Tidak ada

Distansia Pupil

Tidak ada

Tidak ada

Kacamata lama

Tidak ada

Tidak ada

2. KEDUDUKAN BOLA MATA


Eksoftalmus

Tidak ada

Tidak ada

Enoftalmus

Tidak ada

Tidak ada

Deviasi

Tidak ada

Tidak ada

Gerakan Bola Mata

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

3. SUPERSILIA
Warna

Hitam, sikatrik (-)

Hitam, sikatrik (-)

Simetris

Simetris, Distribusi normal Simetris, Distribusi normal

4. PALPEBRA SUPERIOR DAN INFERIOR


Edema

Tidak ada

Tidak ada

Nyeri tekan

Tidak ada

Tidak ada
3 | Page

Ektropion

Tidak ada

Tidak ada

Entropion

Tidak ada

Tidak ada

Blefarospasme

Tidak ada

Tidak ada

Trikiasis

Tidak ada

Tidak ada

Sikatriks

Tidak ada

Tidak ada

Punctum Lakrimal

Normal

Normal

Fisura palpebra

Normal

Normal

Ptosis

Tidak ada

Tidak ada

Hordeolum

Tidak ada

Tidak ada

Kalazion

Tidak ada

Tidak ada

5. KONJUNGTIVA TARSALIS SUPERIOR DAN INFERIOR


Hiperemis

Tidak ada

Tidak ada

Kista

Tidak ada

Tidak ada

Folikel/Papil

Tidak ada

Tidak ada

Sikatriks

Tidak ada

Tidak ada

Anemis

Tidak ada

Tidak ada

Kemosis

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

6. KONJUNGTIVA BULBI
Sekret
Injeksi konjungtiva
Injeksi siliar
Injeksi subkonjungtiva
Pterigium
Pinguekula
Nevus Pigmentosus
Kista Dermoid
7. SISTEM LAKRIMALIS
Punctum lakrimalis
Tes Anel

Normal
Tidak dilakukan

Normal
Tidak dilakukan

8. SKLERA
4 | Page

Warna
Ikterik
Nyeri tekan

Putih
Tidak ada
Tidak ada

Putih
Tidak ada
Tidak ada

9. KORNEA
Kejernihan
Permukaan
Ukuran
Sensibilitas
Infiltrat
Keratik Presipitat
Sikatriks
Ulkus
Perforasi
Arkus senilis
Edema
Tes Placido

Tidak jernih
Sulit dnilai
Sulit dinilai
Tidak dilakukan
Tidak ada
Tidak ada
ada
ada
ada
Sulit dinilai
Tidak ada
Tidak dilakukan

Tidak Jernih
Sulit dinilai
Sulit dinilai
Tidak dilakukan
Tidak ada
Tidak ada
Ada
Ada
Ada
Sulit dinilai
Ada
Tidak dilakukan

Dangkal
Sulit dinilai
Tidak ada
Tidak ada
Tidak dilakukan

Dangkal
Sulit dinilai
Tidak ada
Tidak ada
Tidak dilakukan

Coklat kehitaman
Sulit dinilai
Tidak ada

Coklat Kehitaman
Sulit dinilai
Tidak ada

10. BILIK MATA DEPAN


Kedalaman
Kejernihan
Hifema
Hipopion
Efek Tyndall
11. IRIS
Warna
Kripte
Sinekia
12. PUPIL
Letak
Bentuk
Ukuran
Reflek cahaya langsung
Reflek cahaya tak langsung

Di tengah
Bulat, regular
2mm
Positif
Positif

Di tengah
Bulat, regular
2mm
Positif
Positif

13. LENSA
Kejernihan
Letak
Shadow test

Keruh
Di tengah
Positif

Keruh
Di tengah
Positif

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

14. BADAN KACA


Kejernihan

5 | Page

15. FUNDUS OKULI


Batas
Warna
Ekskavasio
Rasio arteri : vena
C/D ratio
Makula lutea
Retina
Eksudat
Perdarahan
Sikatriks
Ablasio

Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan

Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan

16. PALPASI
Nyeri tekan
Massa tumor
Tensi okuli
Tonometri non kontak

Tidak ada
Tidak ada
Normal
Tidak dilakukan

Tidak ada
Tidak ada
Normal
Tidak dilakukan

17. KAMPUS VISI


Tes konfrontasi

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

IV.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tidak dilakukan

V.

RESUME
Subjektif
Pasien datang RS Mata Dr.Yap dengan keluhan utama penglihatan sangat
menurun pada mata kiri, Keluhan ini semakin lama semakin memburuk. Selain itu
pasien juga mengeluhkan adanya bercak putih pada matanya kurang lebih sejak 4
tahun yang lalu. , sebelumnya kedua mata pasien sempat terkena ekor kerbau
sejak pasien berumur 8 tahun, dan sudah berobat di dr SPM diklaten. Mulai
tahun 2011 pasien merasa kedua penglihatan semakin menurun ,pasien merasa ada
yang mengganjal pada mata kanan dan kiri juga merasa perih dan terlihat warna
putih pada kedua mata , Pasien akhirnya operasi ( keratoplasty) pada tahun 2013.
Namun setelah operasi mata kiri pasien masih tetap buram dan akhirnya pasien
melakukan keratoplasty lagi pada bulan maret tahun 2015 Pasien tidak pernah
menggunakan lensa kontak, sebelumnya tidak memakai kaca mata, dan tidak
pernah mengalami sakit seperti ini sebelumnya.
6 | Page

Objektif
o Pemeriksaan fisik generalis dalam batas normal
o VOD: 0
VOS: 1/~
o Kornea: tampak putih dan tidak jernih , sikatrik (+), ulkus (+),
Perforasi (+)
VI.

DIAGNOSIS BANDING
OS Leukoma Adheren disingkirkan karena pada pemeriksaan tidak terdapat
sinekia anterior.
OS Makula kornea disingkirkan karena dari hasil pemeriksaan sikatriks
ukurannya besar, dan dapat dilihat meskipun tanpa alat bantu. Pada nebula perlu
bantuan senter untuk melihat bercak di kornea.
OS Nebula kornea, disingkirkan karena dari hasil pemeriksaan sikatriks
ukurannya cukup besar, dan dapat dilihat dari jarak 1meter sedangkan pada
nebula hanya dapat dilihat dengan menggunakan slit lamp.

VII.

DIAGNOSIS KERJA
OS leukoma kornea
Dasar Diagnosis:
Anamnesis:
o Riwayat trauma kornea
o Pasien mengeluh terasa mengganjal, buram dan kornea tampak putih
o Riwayat sakit mata sebelumnya
- Pemeriksaan objektif status ophtalmikus
OD
o VOD: 0
o VOS : 1/~
o Kornea: sikatrik (+), ulkus (+), Perforasi (+), kornea tampak putih

VIII. PENATALAKSANAAN
Medika Mentosa

IX.

Topikal: tetes mata Cendo lyters 3x1 gtt OS


Keratoplasti
Non Medika Mentosa
Memberi edukasi mengenai penanganan radang pada kornea :
o Mata tidak boleh dikucek-kucek
o Segera ke dokter untuk penanganan yang tepat

PROGNOSIS
OD

OS
7 | Page

Ad Functionam

Ad malam

dubia Ad malam

Ad Sanationam

Ad malam

dubia Ad malam

Ad Vitam

Ad Malam

dubia Ad malam

TINJAUAN PUSTAKA
Anatomi Kornea
Kornea (Latin, cornum = seperti tanduk) membentuk bagian anterior bola mata
merupakan jaringan transparan dan avaskular, mempunyai peranan dalam refraksi cahaya.
Indeks refraksi korna adalah 1,377 dan kekuatan refraksi sebesar 43 Dioptri, merupakan 70%
dari kekuatan refraksi mata. 1

Permukaan anterior kornea berbentuk agak elips dengan diameter horizontal ratarata 11,5-11,7 mm dan 10,5 - 10,6 mm pada diameter vertikal sedangkan permukaan posterior
berbentuk sirkuler dengan diameter 11,7 mm. Pada orang dewasa ketebalan kornea bervariasi
dengan rata-rata 0,65 1 mm di bagian perifer dan 0,55 mm di bagian tengah. Hal ini
disebabkan adanya perbedaan kurvatur antara permukaan anterior dan posterior kornea.
Radius kurvatur anterior kornea kira-kira 7,8 mm sedangkan radius kurvatur permukaan
8 | Page

posterior rata-rata 6,5 6,8 mm. Kornea menjadi lebih datar pada bagian perifer, namun
pendataran tersebut tidak simetris. Bagian nasal dan superior lebih datar dibanding bagian
temporal dan inferior. Luas permukaan luar kornea kira-kira 1,3 cm 2 atau 1/14 dari total area
bola mata 1
Histologi Kornea
Secara histologis kornea terdiri atas 5 lapisan, yaitu :
1.

Epitel

2.

Membran Bowman

3.

Stroma

4.

Membran Descemet

5.

Endotelium

1. Epitel

9 | Page

Tebalnya 50 m , terdiri atas 5 lapis sel epitel tidak bertanduk yang saling tumpang
tindih; satu lapis sel basal, sel polygonal dan sel gepeng. Pada sel basal sering terlihat mitosis
sel dan sel muda ini terdorong kedepan menjadi lapis sel sayap dan semakin maju kedepan
menjadi sel gepeng, sel basal berikatan erat dengan sel basal disampingnya dan sel polygonal
didepannya melalui desmosom dan macula okluden; ikatan ini menghambat pengaliran air,
elektrolit dan glukosa yang merupakan barrier.
Terdapat dua fungsi utama epitel: (1) membentuk barier antara dunia luar dengan
stroma kornea dan (2) membentuk permukaan refraksi yang mulus pada kornea dalam
interaksinya dengan tear film. Barier dibentuk ketika sel-sel epitel bergerak dari lapisan basal
ke permukaan kornea, secara progresif berdiferensiasi hingga sel-sel superfisial membentuk
dua lapisan sel tipis yang melingkar yang dihubungkan oleh tight junction (zonula okluden),
merupakan membran yang bersifat semipermiabel dan resistensi tinggi. Barier ini mencegah
masuknya cairan dari tear film ke stroma dan juga melindungi struktur kornea dan intraokuler
dari infeksi oleh patogen. Mikrovili pada hampir seluruh permukaan superfisial sel-sel epitel
dilindungi oleh glikokaliks sehingga dapat berinteraksi dengan lapisan musin tear film agar
permukaan kornea tetap licin. Berbagai proses metabolik, biokemikal dan fisikal tampaknya
mempunyai tujuan primer mempertahankan keadaan lapisan sel epitel yang berfungsi sebagai
barier dan agar permukaan kornea tetap licin. Permukaan kornea yang licin berperan penting
dalam terbentuknya penglihatan yang jelas 1
2. Membrana Bowman
Membrana Bowman merupakan lapisan superfisial pada stroma, yang berfungsi
sebagai barier terhadap stroma. Kepadatan lapisan Bowman menghalangi penyebaran infeksi
ke dalam stroma yang lebih dalam. Lapisan ini tidak dapat beregenerasi sehingga bila terjadi
trauma akan diganti dengan jaringan parut 1
3. Stroma
Stroma tersusun atas matriks ekstraselular seperti kolagen dan proteoglikan. Matriks
ekstraselular ini memegang peranan penting dalam struktur dan fungsi kornea. Stroma terdiri
atas kolagen yang diproduksi oleh keratosit dan lamella kolagen. Karena ukuran dan
bentuknya seragam menghasilkan keteraturan yang membuat kornea menjadi transparan.
Serat-serat kolagen tersusun seperti lattice (kisi-kisi), pola ini berfungsi untuk mengurangi
hamburan cahaya (Edelhauser H. F, 2005; Liesegang T. J., 2008-2009).

10 | P a g e

Transparansi juga tergantung kandungan air pada stroma yaitu 70%. Proteoglikan
yang merupakan substansi dasar stroma, memberi sifat hidrofilik pada stroma. Hidrasi sangat
dikontrol oleh barier epitel dan endotel serta pompa endotel 2
4. Membrana Descemet
Merupakan membrana aselular dan merupakan batas belakang stroma kornea
dihasilkan sel endotel dan merupakan membrane basalnya. Membrana Descemet bersifat
elastis dan berkembang terus seumur hidup, mempunyai tebal 40 m. Membran ini lebih
resisten terhadap trauma dan penyakit, dari pada bagian lain dari kornea 2
5. Endotel
Lapisa in merupakan lapisan kornea yang paling dalam, tersusun dari epitel selapis
gepeng atau kuboid rendah. Berasal dari mesotelium, bentuk heksagonal, besar 20-40 m.
Endotel melekat pada membran descement melalui hemidosom dan zonula okluden. Sel-sel
ini mensintesa protein yang mungkin diperlukan untuk memelihara membran Descement.
Sel-sel ini mempunyai banyak vesikel dan dinding selnya mempunyai pompa Natrium yang
akan mengeluarkan kelebihan ion-ion natrium ke dalam kamera okuli anterior. Ion0ion
klorida dan air akan mengikuti secara pasif. Kelebihan cairan di stroma akan diserap oleh
endotel sehingga stroma dipertahankan dalam keadaan sedikit dehidrasi, suatu faktor yang
diperlukan untuk mempertahankan kualitas refraksi kornea.
Dua faktor yang berkontribusi dalam mencegah edema stroma dan mempertahankan
kandungan air tetap pada 70% adalah fungsi barier dan pompa endotel. Fungsi barier endotel
diperankan oleh adanya tight junction diantara sel-sel endotel 2
Pompa endotel
Stroma kornea memiliki konsentrasi Na+ 134 mEq/L sedangkan humor aquous 143
mEq/L. Perbedaan osmolaritas tersebut menyebabkan air berpindah dari stroma ke humor
aquous melalui osmosis. Mekanisme ini diatur oleh pompa metabolik aktif sel-sel endotel.
Pompa metabolik ini dikontrol oleh Na+ / K+ ATPase yang terletak di lateral membrane.
Dalam menjalankan fungsinya pompa endotel tergantung pada oksigen, glukosa, metabolisme
karbohidrat dan adenosine triphosphatase. Keseimbangan antara fungsi barier dan pompa
endotel akan mempertahankan keadaan deturgesensi kornea 3

11 | P a g e

Kornea dipersarafi oleh banyak saraf sensorik


terutama berasal dari saraf siliar longus, saraf nasosiliar, saraf ke V, saraf siliar longus
berjalan supra koroid, masuk ke dalam stroma kornea, menembus membran Bowman
melepaskan selubung Schwannya. Bulbus Krause untuk sensasi dingin ditemukan diantara.
Daya regenerasi saraf sesudah dipotong di daerah limbus terjadi dalam waktu 3 bulan
(Perhimpunan Dokter Spesislis Mata Indonesia, 2002).
Sumber nutrisi kornea adalah pembuluh-pembuluh darah limbus, humour aquous, dan
air mata. Kornea superfisial juga mendapat oksigen sebagian besar dari atmosfir.
Transparansi kornea dipertahankan oleh strukturnya seragam, avaskularitasnya dan
deturgensinya 3
Fisiologi Kornea
Kornea berfungsi sebagai membran pelindung dan jendela yang dilalui berkas cahaya
menuju retina. Sifat tembus cahayanya disebabkan strukturnya yang uniform, avaskuler dan
deturgenes. Deturgenes, atau keadaan dehidrasi relative jaringan kornea dipertahankan oleh
pompa bikarbonat aktif pada endotel dan oleh fungsi sawar epitel dan endotel. Endotel lebih
penting daripada epitel dalam mekanisme dehidrasi dan cidera kimiawi atau fisik pada
endotel jauh lebih berat daripada cedera pada epitel. Kerusakan sel-sel endotel menyebabkan
edema kornea dan hilangnya sifat transparan. Sebaliknya cedera pada epitel hanya
menyebabkan edema lokal stroma kornea sesaat yang akan menghilang bila sel-sel epitel itu
telah beregenerasi. Penguapan air dari film air mata prakornea akan mengkibatkan film air
mata akan menjadi hipertonik; proses itu dan penguapan langsung adalah faktor-faktor yang
menarik air dari stroma kornea superfisialis untuk mempertahankan keadaan dehidrasi 4
Sikatrik Kornea 5
Jenis-Jenis Sikatrik Kornea
Penyembuhan luka pada kornea berupa jaringan parut, baik akibat radang ,maupun trauma

Jenis :

Nebula
12 | P a g e

Penyembuhan akibat
keratitis superfisialis

Kerusakan kornea pada m.B

owm

an sampai 1/3 stroma

Pada pemeriksaan, terlihat


kabut di kornea, hanya dapat dilihat di
kamar gelap dengan Slit-lamp dan
bantuan kaca pembesar

Makula

Penyembuhan akibat ulkus kornea

Kerusakan kornea pada 1/3 stroma sampai 2/3


ketebalan stroma

Pada pemeriksaan, putih di kornea, dapat dilihat


di kamar gelap dengan slit-lamp tanpa bantuan kaca
pembesar

Leukoma

Penyembuhan

akibat

ulkus

Kerusakan kornea lebih dari

kornea
2/3

ketebalan stroma

Kornea tampak putih, dari

jauh

sudah kelihatan
Apabila ulkus kornea sampai ke endotel

akan

mengakibatkan perforasi, dengan tanda :


o

Iris prolaps

COA dangkal

TIO menurun

kemudian sembuh menjadi leukoma adheren (leukoma disertai sinekia anterior)


Patogenesis Leukoma

13 | P a g e

Selama stadium awal, epitel dan stroma di area yang terinfeksi atau terkena trauma
akan membengkak dan nekrosis. Sel inflamasi akut (terutama neutrofil) akan mengelilingi
ulkus awal ini dan menyebabkan nekrosis lamella stroma. Pada beberapa inflamasi yang lebih
berat, ulkus yang dalam dan abses stroma yang lebih dalam dapat bergabung sehingga
menyebabkan kornea menipis dan mengelupaskan stroma yang terinfeksi. 6
Sejalan dengan mekanisme pertahanan tubuh terhadap infeksi, respon imun seluler
dan humoral digabung dengan terapi antibacterial maka akan terjadi hambatan replikasi
bakteri. Mengikuti proses ini akan terjadi fagositosis organism dan penyerapan debris tanpa
destruksi selanjutnya dari kolagen stroma. Selama stase ini, garis batas terlihat pada epitel
ulkus dan infiltrate stroma berkonsolidasi dan tepinya tumpul. Vaskularisasi kornea bisa
terjadi jika keratitis menjadi kronis. Pada stase penyembuhan, epithelium berganti mulai dari
area tengah ulserasi dan stroma yang nekrosis diganti dengan jaringan parut yang diproduksi
fibroblast. Fibroblast adalah bentuk lain dari histiosit dan keratosit. Daerah kornea yang
menipis diganti dengan jaringan fibrous. Pertumbuhan pembuluh darah baru langsung di area
ulserasi akan mendistribusikan komponen imun seluler dan humoral untuk penyembuhan
lebih lanjut. Lapisan Bowman tidak beregenerasi tetapi diganti dengan jaringan fibrous.
Epitel baru akan mengganti dasar yang ireguler dan vaskularisasi sedikit demi sedikit
menghilang.

Pada beberapa ulkus yang berat, keratolisis stroma dapat berkembang menjadi
perforasi kornea. Pembuluh darah uvea dapat berperan pada perforasi yang nantinya akan
menyebabkan sikatrik kornea. Sikatrik yang terjadi setelah keratitis sembuh dapat tipis atau
tebal. Sikatrik yang tipis sekali yang hanya dapat dilihat dengan slit lamp disebut nebula.
Sedangkan sikatrik yang agak tebal dan dapat kita lihat menggunakan senter disebut makula.
Sikatrik yang tebal sekali disebut leukoma. Nebula yang difuse, yang terdapat pada daerah
pupil lebih mengganggu daripada leukoma yang kecil yang tidak menutupi daerah pupil. Hal
ini disebabkan karena leukoma menghambat semua cahaya yang masuk, sedangkan nebula
membias secara ireguler, sehingga cahaya yang jatuh di retina juga terpencar dan gambaran
akan menjadi kabur sekali. 6

14 | P a g e

Agen
penyebab

Inflamasi

Cedera
kornea

Mulai dari
epitel

Sampai ke
lapisan
endotel

Nyeri

Kerusakan
kornea
(ulserasi)

Sikatrik
kornea

MANIFESTASI KLINIS 6
Gejala klinis secara umum dapat berupa :

Gejala Subjektif

Eritema pada kelopak mata dan konjungtiva

Sekret mukopurulen

Merasa ada benda asing di mata

Pandangan kabur

Mata berair

Bintik putih pada kornea, sesuai lokasi ulkus

Silau

Nyeri
Infiltat yang steril dapat menimbulkan sedikit nyeri, jika ulkus terdapat pada perifer
kornea dan tidak disertai dengan robekan lapisan epitel kornea.

Gejala Objektif

Injeksi siliar

Hilangnya sebagian jaringan kornea, dan adanya infiltrat

Hipopion
15 | P a g e

Penatalaksanaan
Indikasi keratoplasti terjadi jaringan parut yang mengganggu penglihatan, kekeruhan kornea
yang menyebabkan kemunduran tajam penglihatan, serta memenuhi beberapa kriteria yaitu :
1. Kemunduran visus yang cukup menggangu aktivitas penderita
2. Kelainan kornea yang mengganggu mental penderita.
3. Kelainan kornea yang tidak disertai ambliopia.

Pencegahan 7
Pencegahan dapat dilakukan dengan segera berkonsultasi kepada ahli mata setiap ada
keluhan pada mata. Sering kali luka yang tampak kecil pada kornea dapat mengawali
timbulnya ulkus dan mempunyai efek yang sangat buruk bagi mata.

Lindungi mata dari segala benda yang mungkin bisa masuk kedalam mata
Jika mata sering kering, atau pada keadaan kelopak mata tidak bisa menutup

sempurna, gunakan tetes mata agar mata selalu dalam keadaan basah
Jika memakai lensa kontak harus sangat diperhatikan cara memakai dan merawat
lensa tersebut.

KOMPLIKASI 7
Komplikasi yang paling sering timbul berupa:

Kebutaan parsial atau komplit dalam waktu sangat singkat

Kornea perforasi dapat berlanjut menjadi endoptalmitis dan panopthalmitis

Prolaps iris

Katarak

Glaukoma sekunder
16 | P a g e

PROGNOSIS 7
Prognosis tergantung pada tingkat keparahan dan cepat lambatnya mendapat
pertolongan, jenis mikroorganisme penyebabnya, dan ada tidaknya komplikasi yang timbul.
Leukoma memerlukan waktu penyembuhan yang lama, karena jaringan kornea bersifat
avaskular. Semakin tinggi tingkat keparahan dan lambatnya mendapat pertolongan serta
timbulnya komplikasi, maka prognosisnya menjadi lebih buruk.

DAFTAR PUSTAKA
1. Basic and Clinical Science Course. External Disease and Cornea, part 1, Section 8,
American Academy of Ophthalmology, USA 2008-2009 P.179-92
2. Boles, SF, MD. Lens Complication & Management QEI Winter 2009 Newsletter.
Citied on August 9 th, 2011
3. Eva PR, Biswell R. Cornea In Vaughn D, Asbury T, eds. General Ophtalmology 17th
ed. USA Appleton Lange; 2008. p. 126-49
4. Lange Gerhard K.Ophtalmology. 2000. New York: Thieme. P. 117-44
5. Mills TJ, Corneal Ulceration and Ulcerative Keratitis in Emergency Medicine.
Citied on August 9, 2011. Avaible from: http://www.emedicine.com/emerg/topic
115.htm
6. Wong, Tien Yin, The Cornea in The Ophthalmology Examination Review. Singapore,
World Scientific 2001 : 89 90
7. Vaughan, Daniel G, MD, Asbury, Taylor, MD, dan Riordan-Eva, Paul, FRCS,
FRCOphth. Editor; Diana Susanto. Oftalmologi Umum. EGC. Jakarta. 2009. hal; 12
dan 212-229.

17 | P a g e