Anda di halaman 1dari 17

DOKUMEN PERENCANAAN PRAKTIKUM

PEMERIKSAAN ASO/ASTO
(Anti-streptolysin O)
I. Tujuan
1. Tujuan Umum
a. Untuk mengetahui prosedur pemeriksaan ASO/ASTO secara kualitatif dan semi kuantitatif.
b. Untuk mengetahui titer ASO/ASTO dalam serum.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk dapat melakukan prosedur pemeriksaan ASO/ASTO secara kualitatif dan
semi kuantitatif.
b. Untuk dapat mengintepretasikan hasil pemeriksaan ASO/ASTO dalam serum.
II. Metode
Metode yang digunakan dalam praktikum ini adalah pemeriksaan dengan ASO Latex Test Kit
yang menggunakan metode rapid slide aglutination.
III. Prinsip
Lates polisteren yang diliputi oleh Streptolisin O bila direaksikan dengan serum yang
mengandung Anti Streptolisin O maka akan terbentuk flokulasi.
IV. Pre-Analitik
a. Persiapan Subjek Untuk Proses Sampling
Disiapkan darah pasien untuk pemeriksaan laboratorium, kita harus memperhitungkan
faktor-faktor sperti aktivitas fisik pasien, diet, intake obat, merokok dan postur tubuh
pasien
1. Pengisian Data Pasien
Nama
Laki-laki
Jenis Kelamin

Perempuan

Alamat
No. Hp/Telp.

Hp:

Telp.:

Ada :
Riwayat
Penyakit

Tidak ada

Ada :

Tidak ada

Penggunaan

Obat

Kadar glukosa
Diabetes
Urine

Pemeriksaan

Lemak total
Kolesterol
ASO

2. Persiapan Pasien
No

Nama

Jenis

BB
(kg)
57

Fransiskus

kelamin
Laki-laki

Roni
Amrullah

Laki-laki

Hidayat
Ayu

Perempuan

Usia

Konsumsi

Jenis tes

23

69

23

Tidak ada

Tes ASO

55

22

Tidak ada

Tes ASO

Wahyuni
3. Proses Pengambilan Sampel
Lokasi yang tidak diperbolehkan diambil darah adalah :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

TD

obat-obatan
Tidak ada

Lengan pada sisi mastectomy


Daerah edema
Hematoma
Daerah dimana darah sedang ditransfusikan
Daerah bekas luka
Daerah dengan cannula, fistula atau cangkokan vascular

Tes ASO

Ket.

7.

Daerah intra-vena lines Pengambilan darah di daerah ini dapat menyebabkan darah
menjadi lebih encer dan dapat meningkatkan atau menurunkan kadar zat tertentu.

a. Proses pengambilan sample


Tempat yang akan di ambil darah dibasahi dengan
alcohol 70% dan dibiarkan sampai kering
Jika memakai vena vasa cubbiti pasang ikatan
pembendung pada lengan atas dengan tujuan adanya
statis vena
Tegangkanlah kulit diatas vena dengan jari-jari supaya
vena tidak dapat bergerak
Pembendung direnggangkan atau dilepaskan dan
perlahan-lahan tarik pengisap spoit
Tarulah kapas kering diatas jarum dan tariklah spoit
hingga 5 cc
Mintalah kepada orang yang darahnya diambil supaya
tempat tusukkanya ditekan beberapa menit
Darah dialirkan kedalam wadah atau tabung yang
tersedia melalui dinding tabung

4. Jenis Sampel
Jenis sampel yang digunakan adalah serum dari plasma vena. Spesimen
diambil

hendaknya

disesuaikan

dengan

jenis pemeriksaan

yang

yang
akan

hendak

dilakukan.

Spesimen yang dipergunakan dalam pemeriksaan laboratorium banyak macamnya, yaitu :


darah utuh (whole blood), plasma, serum, urine (urine pagi hari, urine sewaktu, urine
tampung 24 jam), tinja (faeses), dahak (sputum), cairan otak, cairan ascites, cairan pleura,
cairan sendi, nanah (pus), usap (swab) luka, usap tenggorok, usap hidung, usap nasofaring,
sumsum tulang, dsb.
5. Penanganan Sampel
Masing-masing darah 5 cc pasien dimasukkan dalam
tabung dan diberi label/barcode
Darah dalam tabung dibiarkan membeku selama 15 menit, kemudian
disentrifugasi dengan kecepatan 3000 rotasi permenit selama 15 menit untuk
memperoleh serum serum yang dihasilkan dipisahkan dari bakuanya

6. Identitas Sampel
Pemberian identitas pasien atau spesimen adalah tahapan yang harus dilakukan karena
merupakan hal yang sangat penting. Pemberian identitas meliputi pengisian formulir
permintaan, pemeriksaan laboratorium dan pemberian label pada wadah spesimen. Keduanya
harus cocok/sama. Pemberian identitas ini setidaknya memuat nama pasien, nomor ID atau
nomor rekam medis serta tanggal pengambilan. Kesalahan pemberian identitas dapat
merugikan. Untuk spesimen berisiko tinggi (HIV, Hepatitis) sebaiknya disertai tanda khusus
pada label dan formulir permintaan laboratorium.
7. Kualitas Sampel
Plasma dan serum dalam kondisi normal nampak jernih dan berwarna kuning pucat.
Perubahan warna dapat menjadi

tanda bahwa sampel tidak layak untuk dilakukan

pemeriksaan. Sebagai contoh tampilan yang tidak normal antara lain :


Hemolisis
: Warna merah muda hingga merah, menunjukkan adanya
destruksi sel darah merah.
Ikterik

: Warna kuning gelap, menunjukkan peningkatan kadar


bilirubin.

Lipemik

: Tampilan warna seperti susu, menunjukkan adanya


peningkatan kadar lemak

a) Hemolisis
Hemolisis terjadi ketika sel darah merah rusak selama pengumpulan sampel yang
mengakibatkan hemoglobin dan komponen lain intraseluler keluar ke dalam serum atau
plasma. Spesimen dengan hemolisis juga bisa didapatkan pada pasien dengan anemia
hemolitik, penyakit hepar atau pada reaksi transfusi, tetapi sebagian besar sampel
dengan

hemolisis adalah

penanganan

spesimen.

hasil
Hemolisis

dari
dapat

kesalahan

dalam

menginterferensi

pengumpulan
beberapa

dan

pemeriksaan

laboratorium dengan peningkatan kadar ammonia, katekolamin, creatinin kinase dan


enzim lainnya, besi, magnesium, fosfat, dan natrium.

Gambar 1. Sampel serum normal, sampel serum dengan


hemolisis ringan, sampel serum dengan hemolisis.

b) Lipemia
Lipemia adalah kekeruhan serum atau plasma yang disebabkan oleh peningkatan
konsentrasi lipoprotein dan dapat terlihat dengan mata telanjang. Tempat penampungan
sampel yang transparan diperlukan untuk mendeteksi adanya

lipemia. Deteksi visual

lipemia juga ditentukan oleh jenis lipoprotein yang meningkat pada sampel. Koagulasi
setelah proses sentrifugasi sample serum pada pasien yang mendapatkan heparin juga
dapat mengakibatkan kekeruhan.
c) Ikterik
Bilirubin terdapat di dalam plasma sebagai molekul bebas dan berikatan dengan albumin.
Disamping itu bilirubin yang larut dalam air terdapat sebagai mono dan di glukoronidase.
Studi tentang interferensi bilirubin berdasarkan pada penelitian tentang bilirubin bebas
atau di- taurobilirubin larut air yang ditambahkan pada serum. Dalam kondisi tertentu
interferensi molekul bilirubin berbeda secara kualitas maupun kuantitas. Bilirubin
terkonjugasi akan tampak di urin ketika ditemukan
peningkatan bilirubin di dalam darah. Pada pasien dengan proteinuriabilrubin yang berikatan
dengan albumin juga dapat dideteksi di urin. Setelah perdarahan intra cerebral, bilirubin

bebas (tidak terkonjugasi) menyebabkan xantochromia pada cairan cerebrospinal. Pada


peningkatan permeabilitas dari blood brain barrier, bilirubin yang berikatan albumin
dapat terdeteksi di dalam cairan serebrospinal.
8. Persiapan reagen

9. Kelengkapan Alat dan Bahan


Alat :
a. Tabung reaksi
b. Pipet serologis 50l, 100 l
c. Stopwatch
d. Rotator table
Bahan :
a. Serum darah segar yang disimpan pada suhu 2-8C selama 48 jam sebelum digunakan
untuk uji. Untuk pemakaian jangka panjang serum harus dibekukan. Hematic, lipemic
atau serum terkontaminasi tidak boleh digunakan.
10. Syarat Kelengkapan Alat
Peralatan yang digunakan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

Bersih, kering
Tidak mengandung deterjen atau bahan kimia
Terbuat dari bahan yang tidak mengubah zat-zat dalam spesimen
Sekali pakai buang (disposable)
Steril (terutama untuk kultur kuman)
Tidak retak/pecah, mudah dibuka dan ditutup rapat, ukuran sesuai dengan volume
spesimen.

V. Analitik
a. Analitik Penentuan Aso
Prosedur
1. Biarkan tiap bahan dalam suhu ruangan

Pelaksana

2. Kocok perlahan reagen latex untuk mendispersikan


partikel
3. Pipet serum yang belum di encerkan ke dalam slide test
4. Pipet reagen latex disamping serum
5. Campurkan reagen dan sample serum keseluruh area
lingkaran test dengan mengguakan stirrer untuk
masing-masing sample.
6. ... slie test ke depan dan ke belakang setiap 2 detik
selama 2 menit. Kontrol positif dan negatif harus di
masukan dalam setiap interval.
7. Pada akhir test cuci slide test dengan air destilasi dan
keringkan
8. Dilihat apakah ada penggumpalan atau tidak

Dibiarkan tiap bahan dalam suhu ruangan

Paraf

Dikocok perlahan reagen latex untuk mendispersikan partikel

Dipipet serum yang belum di encerkan ke dalam slide test

Dipipet reagen latex disamping serum

Dicampurkan reagen dan sample serum keseluruh area lingkaran


test dengan mengguakan stirrer untuk masing-masing sample.

... slie test ke depan dan ke belakang setiap 2 detik selama 2


menit. Kontrol positif dan negatif harus di masukan dalam setiap
interval.
Pada akhir test cuci slide test dengan air destilasi dan keringkan

Dilihat apakah ada penggumpalan atau tidak

VI. Dasar Teori


a. ASO/ASTO
Pemeriksaan ASO (anti-streptolisin O) adalah suatu pemeriksaan laboratorium untuk
menentukan kadar Anti streptolisin O secara kualitatif/semi kuantitatif.

ASO (anti-

streptolisin O) merupakan antibodi yang paling dikenal dan paling sering digunakan untuk
indikator terdapatnya infeksi streptococcus. Lebih kurang 80% penderita demam
reumatik/penyakit jantung reumatik akut menunjukkan kenaikkan titer ASO ini, bila
dilakukan pemeriksaan atas 3 antibodi terhadap streptococcus, maka pada 95% kasus demam
reumatik/penyakit jantung reumatik didapatkan peninggian atau lebih antibodi terhadap
streptococcus.
Streptolisin O adalah suatu toksin yang terdiri protein dengan berat molekul 60.000 dalton
dan aktif dalam suasana aerob. Toksin ini dapat mempengaruhi banyak tipe sel seperti
neutrofil, trombosit, dsb. Yang dapat menyebabkan respon imun. Toksin ini menyebabkan
dibentuknya zat anti streptolisin O (ASO) dalam darah jika titer ASO diatas 166, maka dapat
berarti bahwa baru terjadi infeksi streptococcus yang telah lama dengan kadar yang tinggi.
Penetapan ASO umumnya hanya memberi petunjuk bahwa telah terjadi infeksi oleh
streptococcus. Streptolisin O bersifat sebagai hemolisin dan pemeriksaan ASO umumnya
berdasarkan sifat tersebut. Bakteri -hemolytic Streptococcus mengeluarkan enzim yang
disebut streptolysin-O yang mampu merusak/melisiskan eritrosit. Streptolysin-O ini bersifat
sebagai antigen dan merangsang tubuh untuk membentuk antibodi antistreptolysin-O (ASO).
Kadar ASO yang tinggi di dalam darah berarti terdapat infeksi dengan kuman Streptococcus
yang menghasilkan ASO seperti pada demam rematik, penyakit glomerulonephritis akut.
Peningkatan kadar ASO menandakan adanya infeksi akut 1 2 minggu sebelumnya dan
mencapai puncak 3 4 minggu dan dapat bertahan sampai berbulan-bulan.
b. Prinsip Pemeriksaan ASO/ASTO
Ada dua prinsip dasar penetuan ASO, yaitu:
1. Netralisasi/penghambat hemolisis
Streptolisin O dapat menyebabkan hemolisis dari sel darah merah, akan tetapi bila
Streptolisin O tersebut di campur lebih dahulu dengan serum penderita yang mengandung
cukup anti-Streptolisin O sebelum di tambahkan pada sel darah merah, maka Streptolisin O

tersebut akan di netralkan oleh ASO sehingga tidak dapat menimbulkan hemolisis lagi. Pada
tes ini serum penderita di encerkan secara serial dan di tambahkan sejumlah Streptolisin O
yang tetap (Streptolisin O di awetkan dengan sodium thioglycolate). Kemudian di tambahkan
suspensi sel darah merah 5%. Hemolisis akan terjadi pada pengenceran serum di mana
kadar/titer dari ASO tidak cukup untuk menghambat hemolisis tidak terjadi pada pengenceran
serum yang mengandung titer ASO yang tinggi.
2. Aglutinasi pasif
Streptolisin O merupakan antigen yang larut. Agar dapat menyebabkan aglutinasi dengan
ASO, maka Streptolisin O perlu disalutkan pada partikel- partikel tertentu. Partikel yang
sering dipakai yaitu partikel lateks. Sejumlah tertentu Streptolisin O (yang dapat mengikat
200 IU/ml ASO) di tambahkan pada serum penderita sehingga terjadi ikatan Streptolisin O
anti Strepolisin O (SO ASO).
Bila dalam serum penderita terdapat ASO lebih dari 200 IU/ml, maka sisa ASO yang tidak
terikat oleh Streptolisin O akan menyebabkan aglutinasi dari streptolisin O yang disalurkan
pada partikel partikel latex. Bila kadar ASO dalam serum penderita kurang dari 200 IU / ml,
maka tidak ada sisa ASO bebas yang dapat menyebabkan aglutinasi dengan streptolisin O
pada partikel partikel latex. Tes hambatan hemolisis mempunyai sensitivitas yang cukup
baik, sedangkan tes aglutinasi latex memiliki sensitivitas yang sedang. Tes aglutinasi latex
hanya dapat mendeteksi ASO dengan titer di atas 200 IU/ml

Apa itu jantung rematik /demam rematik( Asto Positif) ?


Diagnosa jantung rematik / demam rematik ( Asto Positif ):
Diagnosa demam rematik/ melewati beberapa fase dan manifestasi klinisnya kurang spesifik.
fase awal: Penderita biasanya mengalami keluhan yang tidak khas, seperti nyeri

kerongkongan, demam, kesulitan makan dan minum, lemas, sakit kepala, dan batuk. Pada
fase ini, kebanyakan penderita hanya didiagnosa mengalami penyakit flu atau amandel
(tonsilitis) dan biasanya diberikan obat-obat penurun panas dan penghilang rasa sakit.
Demam rematik mulai bisa diindikasikan jika penderita beberapa minggu kemudian
mengalami keluhan dengan keluhan yang lebih spesifik dan serius, terutama yang berkaitan
dengan sendi, jantung, dan saraf.
Pemeriksaan ASTO (anti-streptolysin O)
Tujuan
: Merupakan pemeriksaan yang dapat mendeteksi penyakit jaringan sendi,
misal demam rematik akut
Prinsip :
Terbentuknya aglutinasi sebagai hasil reaksi antara serum yang mengandung antibody ASTO
dengan suspensi latex yang mengandung partikel yang dilapis dengan streptolysin O yang
dimurnikan ddan distabilkan.
Metode

: slide aglutinasi

Sampel

: serum

Alat

Rotator

Slide

stick/ pengaduk
mikropipet 50 -200 ul, 200 1000 ul

Reagen
Cara Kerja
a.

: sesuai prosedur yang tertera dalam pedoman insert kit


:

Mempersiapkan alat- alat yang diperlukan

b. Mempersiapkan reagen yang diperlukan, sesuai prosedur yang tertera dalam pedoman
insert kit reagen.
c. biarkan kit reagen dan sampel pasien mencapai suhu ruang (20-250C) sebelum dikerjakan.
d.

Melakukan pemeriksaan :

1. ASTO kualitatif

Meneteskan diatas slide 50 ul serum ditambah 50 ul reagen latex yang sudah


dihomogenkan pada slide plastik

Mencampur dengan stick / pengaduk

tetapkan slide di atas rotator, goyang dan putar pada kecepatan 70 rpm secara berlahan
selama 2 menit dengan menggunakan tangan atau angular rotator.

Amati terjadinya aglutinasi tepat 2 menit dibawah cahaya lampu yang terang.

Jika hasil positif dilakukan pemeriksaan kuantitatif, jika hasil negative tidak perlu
pemeriksaan lebih lanjut.
2. ASTO semi kuantitatif

Melakukan pengenceran serum dengan NaCl 0,9% dari pengenceran yaitu , , 1/8,
1/16, 1/32, 1/64 dan seterusnya

cara pengenceran :

Contoh :
o 1:2 ambil 1 bagian serum + 1 bagian NaCl 0,9%
o 1:4 ambil 1 bagian serum + 3 bagian NaCl 0,9%
Ulangi langkah kerja 1 s/d 5 diatas untuk setiap pengenceran dan campur dengan
menggunakan mikropipet.

Ambil 50 ul serum pada masing masing pengenceran dalam slide.

Tambahkan reagen latex 50 ul

Lebarkan dengan menggunakan stick / pengaduk sampai bundaran slide hitam penuh.

Goyangkan, dan lakukan pengamatan aglutinasi di depan cahaya dalam waktu 2 menit
dengan menyalakan stopwatch.
Penilaian
1.

Kualitatif

a. ASTO (+) : terjadi aglutinasi (kadar 200 IU /ml)


b. ASTO (-) : tidak terjadi aglutinasi
2.

Semi kuantitatif

Titer

: pengenceran tertinggi yang masih menunjukkan aglutinasi

Pembahasan
Pemeriksaan ASTO adalah tata cara pemeriksaan laboratorium untuk menentukan
kadar Anti streptolisin O secara kualitatif / semi kuantitatif.
ASTO ( anti-streptolisin O) merupakan antibodi yang paling dikenal dan paling sering
digunakan untuk indikator terdapatnya infeksi streptococcus. Lebih kurang 80 % penderita
demam reumatik / penyakit jantung reumatik akut menunjukkan kenaikkan titer ASTO ini;
bila dilakukan pemeriksaan atas 3 antibodi terhadap streptococcus, maka pada 95 % kasus
demam reumatik / penyakit jantung reumatik didapatkan peninggian atau lebih antibodi
terhadap streptococcus.
Prinsip percobaan praktikum ini yaitu, terbentuknya aglutinasi sebagai hasil reaksi
antara serum yang mengandung antibody ASTO dengan suspensi latex yang mengandung
partikel yang dilapis dengan streptolysin O yang dimurnikan ddan distabilkan
Uji Laboratoriom berguna untuk diagnosa penyakit demam rematik (ASTO) perlu
dilakukan pemeriksaan laboratorium, di antaranya berupa pemeriksaan kadar LED (laju
endap darah), CRP (C reaktive protein), dan ASTO (anti-streptolysin titer O). Pemeriksaan
tambahan lain yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan sinar X, EKG, dan
echocardiography.
Demam tifoid (typoid fever) atau yang lebih terkenal dengan penyakit tifus ini
merupakan suatu penyakit pada saluran pencernaan yang sering menyeran anak-anak bahkan
orang dewasa. Penyabab penyakit tersebut adalah bakteri salmonella typhi. Penyakit demam
rematik diawali dengan infeksi bakteri Streptococcus beta-hemolyticus golongan A pada
kerongkongan. Infeksi ini menyebabkan penderita mengeluh nyeri kerongkongan dan
demam. Jika infeksi tidak segera diobati, bakteri Streptococcus yang ada akan melakukan
perlengketan yang kuat (adherence) di daerah sekitarnya dan merangsang pengeluaran
antibodi (Ig-G). Antibodi yang dihasilkan akan mengikat kuman Streptococcus dan
membentuk suatu kompleks imun dan akan menyebar ke seluruh tubuh, terutama ke jantung,
sendi, dan susunan saraf.

Gejalah-gejala yang kerap terjadi antara lain seperti nyeri pada perut, mual, muntah,
demam tinggi, sakit kepala dan diare kadang-kadang bercampur darah. Penularan penyakit
tifus ini, pada umumnya itu di sebabkan oleh karena melaui makanan ataupun minuman yang
sudah tercemar oleh agen penyakit tersebut. Biasa juga, karena penanganan yan kurang
begitu higenis ataupun juga disebabkan dari sumber air yang sering digunakan yang
digunakan untuk menggunakan untuk sehari-hari.
Salmonella merupakan kuman berbentuk batang gram negatif yang umumnya bererak
dengan flagel dan bersifat aerobic. Salmonella memiliki sedikitnya 5 macam anti gen, yaitu :
1.

Antigen o (antigen somatik), yang terletak pada lapisan luar pada tubuh kuman. Bagian

ini tahan terhadap panas dan alcohol tetapi tidak terhadap formaldehid. Lipopolisakarida dari
antigen O terdiri dari 3 regio sebagai berikut :
1)

Region I, mengandung antigen O spesifik atau antigen dinding sel dan merupakan

polimer dari unit oligosakarida yang berulang-ulang. Antigen O ini berguna untuk
pengelompokan serologis.
2)
Region II, terikat pada antigen O dan terdiri dari core polysaccharide serta merupakan
sifat yan konstan dalam suatu genus Enterobacteriaceace tetapi berbeda antara genera.
3)
Region III, mengandung lipid yang terikat pada core polysaccharide yang merupakan
bagian yang toksik dari molekul. Lipid A menempelkan lipopolisakarida pada membran
permukaan sel.
2.

Antigen H (antigen flagela), yang terletak pada flagella, fimbrie atau pili dari kuman.

Antigen ini mempunyai struktur kimia suatu protein dan tahan terhadap formaldehid tetapi
tidak tahan terhadap panas dan alcohol.
3.

Antigen Vi, yang terletak pada kapsel (envelope) dari kuman yang dapat melindungi

kuman terhadap fagositosis. Ketiga macam antigen tersebut diatas, didalam tubuh penderita
akan menimbulkan pula pembentukan 3 macam antibody yang lazim tersebut agglutinin.
4.

Outer membrane protein (OMP), antige n OMP S.typhi merupakan bagian dari didin sel

yang terletak di luar membrane sitoplasma lapisan peptidoglikan yang membatasi sel
terhadap lingkungan sekitarnya. OMP berfungsi sebagai barier fisik yang mengendalikan
masuknya zat dan cairan kedalam membrane sitoplasma, dan berfungsi sebagai reseptor
untuk bakteriofag dan bakterisin.
5.

Heat hock protein (HSP) atau stress protein

Heat hock protein adalah protein yang memproduksi oleh jasad renik dalam lingkungan yang
terus berubah, terutama yang menimbulkan stress pada jasad renik tersebut dalam usahanya
mempertahankan hidupnya.
Pemeriksaan laboratorium meliputi pemeriksaan hematologi,urinalis, kimia klinik.
imunoserologi, dan biologi molekuler. Pemeriksaan m,enunjukan untuk membantu
menegakkan diagnosis (adalkalanya bahkan menjadi penentu diagnosis), menetapkan
prognosis, memantau perjalanan penyakit dan hasi pengobatan serta timbulnya penyulit.
Pada praktikum ini yang dilakukan hanya ASTO kualitatif. Tahapan pertama yaitu
meneteskan diatas slide 50 ul serum ditambah 50 ul reagen latex yang sudah dihomogenkan
pada slide plastik kemudian dicampur dengan stick / pengaduk. Di tetapkan slide di atas
rotator, goyang dan putar pada kecepatan 70 rpm secara berlahan selama 2 menit dengan
menggunakan tangan atau angular rotator. Di amati terjadinya aglutinasi tepat 2 menit
dibawah cahaya lampu yang terang. hasil positif ditandai dengan terbentuknya aglutinasi atau
penggumpalan, dan saat dibilas pada object glass terdapat penempelan bercak putih. Jika
hasil positif, dilakukan pemeriksaan kuantitatif, jika hasil negative tidak perlu pemeriksaan
lebih lanjut.
Dari hasil percobaan diperoleh hasil negatif pada setiap sampel dari 3 sampel yang ada.
Hal ini menunjukkan bahwa pasien dalam keadaan sistem imun nya normal. Dari hasil
pemeriksaan diperoleh hasil negative (-) atau tidak terjadi aglutinasi pada pemeriksaan yang
menunjukan bahwa pasien tidak mengalami demam typoid atau sama sekali belum pernah
mengalami demam typoid.
Apabila diperoleh pasien dngan hasil ASTO positif, penanganannya demam rematik meliputi
menghilangkan penyebabnya yaitu kuman streptokokus dengan menggunakan antibiotik,
penanganan kompikasi pada jantung, sendi dan saraf serta pemberian makanan yang bergizi
untuk membantu memulihkan tubuh. Untuk pengobatan pada anak sebaiknya berkonsultasi
dengan dokter spesialis jantung anak, dan pada orang dewasa dengan ahli penyakit dalam
atau ahli jantung. Secara herbal dapat yang bisa membantu penyakit ini, tapi sebaiknya di
konsultasi kan langsung.
Kesimpulan

Dari hasil pemeriksaan diperoleh hasil negative (-) atau tidak terjadi aglutinasi pada
pemeriksaan yang menunjukan bahwa pasien tidak mengalami demam typoid atau sama
sekali belum pernah mengalami demam typoid.