Anda di halaman 1dari 4

BAB IV

PEMBAHASAN
Masalah Utama pada pasien ini adalah tidur terus dan sulit dibangunkan yang
menandakan pasien ini mengalami penurunan kesadaran dan berada dalam tingkat sopor. Pasien
juga mengalami kejang.
Anamnesis tambahan yang perlu ditanyakan pada pasien ini adalah mengenai
identitasnya, antara lain tempat tinggalnya, dan pekerjaan. Hal ini perlu ditanyakan untuk
memikirkan kemungkinan-kemungkinan penyakit apa saja yang dapat menyerang pasien di
lingkungan hidupnya. Kemudian ditanyakan mengenai riwayat penyakit pasien ini, antara lain
mengenai keluhan-keluhan awal pasien sebelum kesadarannya menurun dan mengalami kejang,
bagaimana karakteristik kejang yang dialami pasien, mengenai lamanya serangan, frekuensi
serangan kejang, dan dibagian tubuh mana yang mengalami kejang. Perlu juga ditanyakan
apakah pasien pernah mengalami trauma daerah kepala, apakah ada mual dan muntah, dan
apakah ada demam sebelumnya. Semua ini perlu ditanyakan untuk mengarahkan kita pada
etiologi penurunan kesadaran dan kejang yang dialami pasien, bahkan dapat ditegakkan
diagnosis kerja bila gejala lainnya cukup spesifik. Selain itu perlu juga ditanyakan apakah pasien
menderita penyakit kronik seperti diabetes mellitus, gagal ginjal, gangguan fungsi hati, dan
gangguan metabolik lainnya berikut pengobatannya karena gangguan kesadaran dan kejang
dapat timbul karena penyakit-penyakit lain yang mendasarinya atau karena obat-obatan yang
dikonsumsi pasien yang seringkali pasien tidak disiplin dalam pengobatannya ataupun overdosis
dalam meminum obat.
Pada anamnesis yang dilakukan kemudian didapat informasi bahwa pasien mengalami
demam sudah sejak 7 hari yang lalu, diseratai sakit kepala, kadang mual dan muntah. Empat hari
yang lalu pasien datang ke puskesmas lalu dilakukan pemeriksaan Hb dan trombosit, namun
hasilnya normal. Pasien diberi obat namun tidak membaik. Sejak 1 hari yang lalu, pagi hari
pasien kejang 2 kali seluruh tubuh 3-5 menit. Diketahui juga pasien adalah seorang pegawai
swasta dan 3 minggu yang lalu baru pulang dari papua. Dari anamnesis ini dapat disimpulkan
bahwa pasien kemungkinan menderita penyakit infeksi yang bermanifestasi di sistem neurologis
sehingga menyebabkan penurunan kesadaran dan kejang.

Pemeriksaan fisik
Kesadaran soporous Disebabkan karena terganggunya vaskularisasi darah ke otak
__________________________yang disebabkan karena terlalu banyaknya eritrosit yang
__________________________terinfeksi parasit malaria sehingga aliran darah menjadi tidak
__________________________lancar. Fungsi eritosit untuk mensuplai oksigen ke otak juga
__________________________berkurang.
TD

: 110/70 mmHg

?????????

Nadi

: 72x/menit

(N= 60-100x/menit) Normal

RR

: 24x/menit

(N= 16-20x/menit)

Hiperventilasi

Menunjukkan adanya keadaan asidosis. Hal ini dapat terjadi dalam keadaan
hipoksia, gangguan perfusi darah ke jaringan, gangguan fungsi hepar, maupun
karena adanya parasit dalam darah.
Suhu

: 39oC

(N= 36,5-37,2 oC)

Febris

Pasien mengalami demam yang merupakan tanda adanya infeksi.


Konjungtiva anemis Pasien mengalami anemia karena eritrosit banyak yang lisis
Sklera dan kulit Ikterik Disebabkan karena hemolisis sel darah merah intravascular
_____________________________oleh parasit malaria
Pemeriksaan jantung dan paru normal sehingga dapat disimpulkan bahwa gejala klinis
pada pasien ini bukan disebabkan karena kelainan pada jantung maupun paru.
Pemeriksaan abdomen teraba hepar dan lien. Hepar membesar karena sporozoit akan
menginfeksi parenkim hepar dan bereproduksi di hepar membentuk skizont yang apabila
pecah akan melepas merozoit ke pembuluh darah. Lien membesar karena lien sebagai
organ pertahahan tubuh sangat penting dalam menghasilkan respon imun seluler maupun
humoral terhadap infeksi parasit malaria.

Urin berwarna hitam dapat terjadi karena hemolisis intravaskular yang disebabkan oleh
parasit yang merusak sel darah merah sehingga heme terdapat di urin menyebabkan urin
berwarna gelap.

Pemeriksaan Neurologis
GCS

: E2M5V2 GCS= 9

Pupil isokir

: Normal

Refleks Cahaya

: +/+

Kaku kuduk

: (-)

Laseq

: -/-

Kernig

: -/-

Brudzinski I &II

: (-)

Refleks Fisiologis

: +/+

Refleks Patologis

: -/-

Ektremitas kanan dan kiri bergerak saat dirangsang


Dapat disimpulkan pasien mengalami penurunan kesadaran, nervus II dan III normal,
tidak ada iritasi meningeal sehingga meningitis pada pasien ini dapat disingkirkan.
Dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan neurologis yang dilakukan dapat ditegakkan
diagnosis kerja pada pasien ini adalah ensefalopati e.c. malaria. Sedangkan diagnosis bandingnya
adalah leptospirosis dan ensefalitis viral. Gejala leptospirosis yang terdapat pada pasien ini
antara lain adalah demam, sakit kepala, mual, muntah, ikterus, hepatomegali, dan splenomegali
walaupun jarang terjadi. Namun biasanya leptospirosis disertai dengan adanya ruam kulit berupa
ptekie, makular, makulopapular, atau urtikaria dan disertai demam yang menggigil, sakit kepala
daerah frontal, myialgia hebat pada paha, betis, dan pinggang disertai nyeri tekan. Dimana

gejala-gejala ini tidak ditemukan pada pasien ini. Pada ensefalitis virus didapati gejala demam,
penurunan kesadaran, kejang, hemiparesis, kaku kuduk, dan sakit kepala. Namun gejala ikterik,
anemia, urin berwarna gelap, dan splenomegali jarang ditemukan.
Pemeriksaan penunjang yang penting dilakukan pada pasien ini adalah pemeriksaan apus
darah tepi untuk menemukan parasit malaria. Hasil negatif pada 1 kali pemeriksaan tidak dapat
mengenyampingkan diagnosis malaria. Pemeriksaan darah tepi 3 kali dan hasil negatif maka
diagnosis malaria dapat dikesampingkan. Pemeriksaan sebaiknya dilakukan saat demam karena
meningkatkan kemungkinan ditemukannya parasit malaria. Pada pasien ini juga perlu di ulangi
pemeriksaan darah lengkap untuk melihat perkembangan penyakit. Perlu juga dilakukan
pemeriksaan fungsi hati, antara lain pemeriksaan bilirubin, SGOT, dan SGPT karena sering
meningkat pada pasien malaria. Peningkatan SGOT dan SGPT yang lebih besar dari 3 kali
berkaitan dengan prognosis yang buruk pada pasien malaria. Peningkatan bilirubin >3 mg/dl
ditemukan pada 46 % penderita dengan angka mortalitas 33% pada suatu penelitian di minahasa.
Pemerikasaan Ureum kreatinin perlu dilakukan karena gagal ginjal akut sering terjadi pada
pasien malaria dewasa. Hal ini disebabkan karena gangguan perfusi ke ginjal oleh karena
adanya sumbatan kapiler oleh eritrosit yang mngandung parasit sehingga terjadi tubular nekrosis.
Oleh karena itu perlu juga dilakukan pemeriksaan elektrolit karena kerusakan ginjal akan
menyebabkan ketidakseimbangan elektrolit yang akan memperparah kondisi pasien sehingga hal
ini perlu diantisipasi. Pemeriksaan analisa gas darah perlu dilakukan karena pada pasien malaria
dapat terjadi asidosis karena terjadi glikolisis anaerob pada jaringan yang kekurangan oksigen
dan produksi laktat oleh parasit.