Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNIK PENYIMPANAN DAN PENGEMASAN

IDENTIFIKASI KEMASAN PLASTIK

Oleh:
Lutfita Diaz A
NIM A1H013046

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2015
I.
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Industri kecil makanan dan minuman merupakan salah satu industri yang
sangat potensial dan memiliki prospek yang baik untuk ditumbuhkembangkan.
Perkembangan makanan dan minuman saat ini sangat pesat, dengan munculnya
berbagai macam jenis makanan dan minuman, baik untuk konsumsi langsung
maupun yang dapat bertahan lama atau yang dikemas untuk jangka waktu yang
lama sehingga diperlukan sistem pengemasan produk pangan. Salah satunya
pengemasan dengan menggunakan kemasan plastik. Penggunaan plastik sebagai
bahan pengemas mempunyai keunggulan dibanding bahan pengemas lain karena
sifatnya yang ringan, transparan, kuat, termoplastis dan selektif dalam
permeabilitasnya terhadap uap air, O2, dan CO2. Sifat permeabilitas plastik pada
uap air dan udara menyebabkan plastik mampu berperan memodifikasi ruang
kemas selama penyimpanan (Winarno, 1987).
Plastik juga harga yang relatif murah, ringan dan mudah dibentuk yang
dapat dipilih sesuai dengan keinginan dan produk pangan. Kemasan plastik
memiliki jenis yang paling beragam, dengan karakteristiknya yang sangat
beragam pula. Secara umum, penggunaan plastik saat ini mulai dikurangi, karena
sifatnya yang tidak bisa terdegradasi di alam. Namun beberapa jenis plastik masih
ada yang dapat didaur ulang dan aman digunakan untuk produk-produk pangan
dengan cara penggunaan yang tepat.
Regulasi berbagai peraturan yang berkaitan dengan pangan, tidak terlepas
dari perlindungan konsumen, agar dapat mengkonsumsi makanan dengan aman.
Adanya peraturan tersebut diantaranya tentang penggunaan label pada makanan.

Labeling ditunjukkan agar konsumen dapat memperoleh informasi tentang


komposisi bahan, kandungan zat, cara penggunaan atau pengolahan, masa simpan
dan cara penyimpanan dari suatu produk. Sampai pada tingkat distribusi, suatu
produk memerlukan tanda pengenal yang disebut dengan label. Label berfungsi
sebagai tanda pengenal suatu produk yang didalamnya memuat informasi
mengenai produk yang bersangkutan, antara lain seperti nama produk, berat atau
isi bersih, bahan yang digunakan, nama dan alamat produsen, tanggal kadaluarsa
dan harga. Label merupakan sumber informasi yang esensial bagi konsumen
sehingga konsumen memliki kontrol dan pilihan yang efektif terhadap apa yang
mereka konsumsi berhubungan dengan alasan-alasan kesehatan, keamanan, dan
kepercayaan yang diyakini konsumen (misalnya label halal). Oleh karena itu
keterangan atau informasi pada label harus jujur, benar, dan tidak menyesatkan.

B. Tujuan
1. Mahasiswa mampu membaca dan menganalisis fungsi-fungsi label yang tertera
pada produk.
2. Memperkenalkan berbagai bahan kemasan plastik yang sering digunakan
sebagai pelindung makanan atau produk pangan dan produk-produk pasca
panen.
3. Mengetahui karakteristik masing-masing kemasan plastik tersebut.
4. Mampu mengidentifikasi jenis kemasan plastik berdasarkan karakteristik
tersebut.
5. Membuat satu desain kemasan baru.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Kegiatan perdagangan merupakan kegiatan yang sangat kompleks, terus


menerus, dan berkesinambungan karena adanya kesaling tergantungan antara
produsen dan konsumen. Kegiatan dimulai dari produksi yang dilakukan untuk
memenuhi permintaan pasar. Dari produksi tersebut dihasilkan produk-produk

yang kemudian dapat dikonsumsi oleh masyarakat setelah sebelumnya melalui


rantai distribusi.
Pengemasan

adalah

suatu

proses

pembungkusan,

pewadahan

atau

pengepakan suatu produk dengan menggunakan bahan tertentu sehingga produk


yang ada didalamnya bisa tertampung dan terlindungi. Sedangkan kemasan
produk adalah bagian pembungkus dari suatu produk yang ada didalamnya.
Pengemasan ini merupakan salah satu cara untuk mengawetkan atau
memperpanjang umur dari produk-produk pangan atau makanan yang terdapat
didalamnya.
Teknologi pengemasan terus berkembang dari waktu ke waktu dari mulai
proses pengemasan yang sederhana atau tradisional dengan menggunakan bahanbahan alami seperti dedaunan atau anyaman bambu sampai teknologi modern
seperti saat ini. Dalam teknologi pengemasan modern misalnya jaman dulu orang
membuat tempe dibungkus dengan daun jati, membungkus gula aren dengan daun
kelapa atau daun pisang kering.
Teknologi pengemasan yang semakin maju dan modern telah hampir
meniadakan

penggunaan

bahan

pengemas

tradisional.

Beberapa

contoh

pengemasan modern diantaranya menggunakan bahan plastik, kaleng atau logam,


kertas komposit, dan lain sebagainya. Menurut Julianti dan Nurminah (2006),
kemasan dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa cara yaitu sebagai berikut:
1. Klasifikasi kemasan berdasarkan frekuensi pemakaian
2. Klasifikasi kemasan berdasarkan struktur sistem kemas (kontak produk dengan
kemasan)
3. Klasifikasi kemasan berdasarkan sifat kekauan bahan kemasan
4. Klasifikasi kemasan berdasarkan sifat perlindungan terhadap lingkungan

5. Klasifikasi kemasan berdasarkan tingkat kesiapan pakai (perakitan)


Plastik merupakan senyawa polimer tinggi yang dicetak dalam lembaranlembaran yang mempunyai ketebalan yang berbeda-beda. Bahan pertama pembuat
plastik adalah resin, baik alami maupun sintetik. Resin alami misalnya damar,
oleoresin, terpenting dan lain-lain. Saat ini dasar pembuat plastik banyak dari
resin sintetik seperti polietilena, polipropilena, poli vinilchlorida dan lain-lain. Di
dalam pembuatannya biasanya resin sintetik ditambah bahan lain untuk
memperbaiki sifat plastik yang diperoleh. Misalnya filler, plasticizer, lubricant,
antioksidan, zat warna dan sebagainya.
Penggunaan plastik dapat dalam bentuk film atau lembaran dan bentuk
wadah yang dapat dicetak, hal ini ada kaitannya dengan penggolongan kemasan
dimana plastik dapat dimasukkan sebagai kemasan tegar dan kemasan lentur
(flexible) karena sifatnya yang thermoplastis. Plastik mempunyai sifat tembus
pandang (clarity) yang baik, permeabel terhadap gas, ketahanan terhadap segala
bentuk benturan, gesekan, dapat dilengkungkan atau dibengkokan berhubungan
dengan sifat mengkerut dalam cetakan (warpage), ketahanan terhadap benturan
(impact strenght), ketahanan terhadap sobekan (tear strenght).
Label adalah suatu tanda baik berupa tulisan, gambar atau bentuk
pernyataan lain yang disertakan pada wadah atau pembungkus sebagai yang
memuat informasi tentang produk yang ada didalamnya sebagai keterangan atau
penjelasan dari produk yang dikemas. Label kemasan bisa dirancang atau didesain
baik secara manual menggunakan alat lukis atau yang lainnya maupun
menggunakan software komputer. Desain yang dibuat secara manual mungkin

akan mengalami sedikit kesulitan ketika mau digunakan atau diaplikasikan


sedangkan dengan menggunakan komputer tentunya akan lebih mudah. Hal-hal
yang harus diperhatikan dalam membuat label kemasan yaitu:
1. Label tidak boleh menyesatkan
Apa saja yang tercantum dalam sebuah label baik berupa kata-kata,
kalimat, nama, lambang, logo, gambar harus sesuai dengan produk yang ada
didalamnya.
2. Memuat informasi yang diperlukan
Label sebaiknya cukup besar (relatif terhadap kemasannya), sehingga
dapat memuat informasi atau keterangan tentang produknya.
3. Hal yang penting harus tercantum pada label kemasan
Label makanan adalah informasi identitas atau jati diri dari produk yang
menjadi hak milik perusahaan sebagai alat komunikasi tertulis pihak produsen
dengan pihak konsumen dalam melakukan pelayanan jaminan persyaratan mutu
produk dan kesehatan.
Informasi tentang produk, pada umumnya tertera pada apa yang disebut
sebagai label. Menurut definisinya label adalah tulisan, tag, gambar, atau deskripsi
lain yang tertulis, dicetak, distentil, diukir, dihias atau dicantumkan dengan jalan
apapun, pemberian pesan yang melekat pada suatu wadah atau pengemas. Ada
juga definisi lain yang menyatakan bahwa pemberian kesan yang melekat pada

atau termasuk di dalamnya menjadi bagiaan dari atau menemani setiap makanan
termasuk dalam kriteria sebagai label produk.
Tujuan pelabelan secara garis besar adalah sebagai berikut:
1. Memberi informasi tentang isi produk yang diberi label tanpa harus membuka
kemasan.
2. Berfungsi sebagai sarana komunikasi produsen kepada konsumen tentang halhal yang perlu diketahui oleh konsumen tentang produk tersebut, terutama halhal yang kasat mata atau tak diketahui secara fisik.
3. Memberi petunjuk yang tepat pada konsumen hingga diperoleh fungsi produk
yang optimum.
4. Sarana periklanan bagi produsen.
5. Memberi rasa aman bagi konsumen.
Label pangan yang jujur dan bertanggung jawab bukan semata-mata untuk
melindungi kepentingan masyarakat yang mengkonsumsi pangan namun juga
menjaga kepentingan produsen untuk menjaga bahkan memperluas pasar hasil
produksinya seperti tercantum di dalam Undang-Undang No. 8 tahun 1999
tentang Perlindungan konsumen (Anonim, 1999). Keterangan pada label
sekurang-kurangnya memuat nama produk, daftar bahan yang digunakan
(komposisi), berat bersih, nama dan alamat pihak yang memproduksi atau pelaku
usaha yang memasukkan ke dalam wilayah RI, kode produksi, tanggal, bulan,
tahun, kadaluwarsa.

III.
METODOLOGI
A. Alat dan Bahan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Jangka sorong
Neraca digital
Lilin
Korek
Berbagai jenis plastik (HDPE, Polypropilene, Polietilen)
Lima jenis kemasan plastik
Alat tulis

B. Prosedur Kerja

A. Pengenalan berbagai jenis kemasan plastik


1. Tiap kelompok menyiapkan 5 macam kemasan produk (salah satu produk
impor) yang berbeda dengan kelompok lain.
2. Seluruh informasi yang tercantum pada label dicatat dengan format sebagai
berikut:
Tabel 1. Macam Informasi Berbagai Jenis Kemasan Plastik
No
Macam informasi
Informasi pada sampel label
1
Nama produk
2
Komposisi
3
Isi netto
4
Nama dan alamat pabrik/importir
5
Nomor pendaftaran
6
Kode produksi
7
Tanggal kedaluarsa
8
Petunjuk atau cara penggunaan
9
Petunjuk atau cara penyimpanan
10
Nilai gizi
11
Sertifikasi (Halal, ISO, HACCP
dll)
12
Tulisan atau pernyataan khusus
13
BPOM dan Depkes
B. Mengukur ketebalan berbagai jenis kemasan plastik
1. Setiap bahan diambil 10 contoh plastik
2. Ketebalannya diukur menggunakan jangka sorong sebanyak tiga kali
pengukuran kemudian hasil pengukuran dirata-rata.
Tabel 2. Pengukuran Ketebalan pada Berbagai Jenis Kemasan Plastik
No Jenis Plastik
Pengukuran Jangka Sorong (mm)
1
2
3

PE
PP
HDPE

C. Pengukuran berat berbagai jenis kemasan plastik


1. Bahan diambil 5 contoh plastik, yang diketahui panjang dan lebarnya.

2. Timbang masing-masing contoh. Dihitung berat masing-masing contoh.


3. Hasil perhitungan dicatat ke dalam tabel. Tabel dibuat sebanyak 3 tabel dari
masing-masing jenis plastik (PP, PE, HDPE)
Tabel 3. Pengukuran Berat Berbagai Jenis Kemasan Plastik
Pengukuran
Jenis plastik
g/cm3
g/m2
1
2
3
Rata-rata
D. Identifikasi jenis plastik dengan uji nyala (burning test)
1. Plastik yang akan diuji disediakan. Contoh plastik dibakar dalam nyala api
terbuka.
2. Diamati kemudahan menyala, kemampuan untuk padam, bau, warna nyala
api.
Tabel 4. Identifikasi Jenis Plastik dengan Uji Nyala (Burning test)
No
Sifat-sifat plastik dalam uji nyala
Bau
Warna nyala api
sampel Kemudahan Padam sendiri
menyala
PE
PP
HDPE

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil

Terlampir
B. Pembahasan

Pelabelan dicantumkan pada suatu produk dengan tujuan memberi informasi


mengenai produk tersebut baik tanggal kadaluarsa, kode produksi, informasi gizi,
sertifikasi dan lainnya yang penting untuk para konsumen. Keputusan produk
telah banyak menarik perhatian masyarakat. Ketika membuat keputusan seperti
itu, pemasar sebaiknya mempertimbangkan secara hati-hati masalah kebijakan
publik dan peraturan yang melibatkan perolehan atau pembuatan produk,
perlindungan hak paten, kualitas dan keamanan produk, dan jaminan atau garansi
produk. Keputusan produk meliputi beberapa tahap, yaitu tentang keputusan
mengenai atribut produk, pemberian merek, pengemasan, pelabelan, dan jasa
pendukung publik. Pelabelan adalah pencantuman atau pemasangan segala bentuk
tulisan, cetakan atau gambar atau kombinasinya yang ada pada label yang terdapat
pada kemasan produk yang dapat dicetak, ditempelkan atau dimasukan kedalam
kemasan yang digunakan untuk tujuan promosi penjualan.
Label adalah keterangan berbentuk gambar, tulisan, kombinasi keduanya,
yang disertakan pada pangan, dimasukkan kedalam, ditempelkan pada, dicetak
pada atau bagian kemasan pangan. Terdapat dua bagian pada label pangan yaitu
bagian utama yang terdiri dari nama produk, berat bersih, nama dan alamat
produsen dan yang kedua yaitu bagian informasi yang terdiri dari komposisi,
informasi nilai gizi, kode atau tanggal produksi, tanggal kadaluarsa, petunjuk
penyimpanan dan petunjuk penggunaan. Ada dua jenis kode produk yaitu Nomor
Pendaftaran dari BPOM RI (MD) untuk pangan produksi dalam negeri dan ML
untuk pangan produksi luar negeri.

Fungsi dari pelabelan yaitu untuk memberikan informasi dari produsen


kepada konsumen mengenai produk pangan yang dijualnya agar konsumen tidak
perlu membuka isi dari suatu kemasan dan memberikan kenyamanan serta
penjagaan untuk konsumen. Seorang konsumen akan mengetahui peraturanperaturan dari produk yang terdapat labelnya sehingga konsumen tidak salah
dalam penggunaan produk tersebut.
Plastik juga harga yang relatif murah, ringan dan mudah dibentuk yangdapat
dipilih sesuai dengan keinginan dan produk pangan. Kemasan plastik memiliki
jenis yang paling beragam, dengan karakteristiknya yang sangat beragam pula.
Secara umum, penggunaan plastik saat ini mulai dikurangi, karena sifatnya yang
tidak bisa terdegradasi di alam. Namun beberapa jenis plastik masih ada yang
dapat didaur ulang dan aman digunakan untuk produk-produk pangan dengan cara
penggunaan yang tepat. Jenis plastik padat diidentifikasi melalui kode angka
dalam panah berbentuk segitiga, yang dikembangkan oleh The American Society
of Plastic Industry.
1 = PET, Polyethylene terephthalate
2 = HDPE, High-density polyethylene
3 = V Vynil atau PVC - Polyvinyl chloride
4 = LDPE - Low density polyethylene
5 = PP Polypropylene
6 = PS- Polystyrene
7= Others

Gambar 1. Kode Jenis Plastik


Sifat sifat polimer plastik yang digunakan pada saat praktikum yaitu
polietilen, polypropilen, dan HDPE (High Density Polyethylene):
1. Polietilen atau Polyethylene Terephthalate
Jenis plastik ini merupakan bahan kemasan yang paling banyak
digunakan dalam industri pengemasan golongan fleksibel (lentur), tidak saja
dipakai untuk pembungkus bahan pangan, tetapi juga untuk kantung-kantung
pembungkus bahan berlemak, pakaian, dll. Polietilen adalah polimer etilen
yang diperoleh melalui dua proses yang berbeda dan menghasilkan polietilen
yang mempunyai berat jenis rendah dan tinggi. Polietilen dengan BJ rendah,
harganya relatif murah dan mempunyai kekakuan yang cukup dan tembus
cahaya, sedangkan polietilen dengan BJ tinggi mempunyai sifat pelindung
yang sangat baik terhadap uap air dan stabil terhadap panas. Secara umum
sifat-sifat polietilen adalah halus dan lentur (baik untuk pembungkus roti),
tahan terhadap pelarut organik, tahan asam dan alkali, dapat melalukan gas,

sehingga baik untuk mengemas sayuran dan buah-buahan segar, tidak berasa
dan tidak berbau.

Gambar 2. Polietilen atau Polyethylene Terephthalate


2. Polypropilen
Polipropilen mempunyai sifat sangat kaku berat jenis rendah; tahan
terhadap bahan kimia, asam, basa, tahan terhadap panas, dan tidak mudah
retak. Plastik polipropilen digunakan untuk membuat alat-alat rumah sakit,
komponen mesin cuci, komponen mobil, pembungkus tekstil, botol,
permadani, tali plastik, serta bahan pembuat karung. Tertera logo daur ulang
dengan angka 5 di tengahnya, serta tulisan PP-PP (polypropylene) adalah
pilihan terbaik untuk bahan plastik, terutama untuk yang berhubungan dengan
makanan dan minuman seperti tempat menyimpan makanan, botol minum dan
terpenting botol minum untuk bayi.
Karakteristik adalah biasa botol transparan yang tidak jernih atau
berawan. Polipropilen lebih kuat dan ringan dengan daya tembus uap yang
rendah, ketahanan yang baik terhadap lemak, stabil terhadap suhu tinggi dan

cukup mengkilap. Carilah dengan kode angka 5 bila membeli barang berbahan
plastik untuk menyimpan kemasan berbagai makanan dan minuman.

Gambar 3. Polypropilen
3. HDPE (High Density Polyethylene)
Umumnya, pada bagian bawah kemasan botol plastik, tertera logo daur
ulang dengan angka 2 di tengahnya, serta tulisan HDPE (high density
polyethylene) di bawah segitiga. Biasa dipakai untuk botol susu yang berwarna
putih susu, tupperware, galon air minum, kursi lipat, dan lain-lain. HDPE
merupakan salah satu bahan plastik yang aman untuk digunakan karena
kemampuan untuk mencegah reaksi kimia antara kemasan plastik berbahan
HDPE dengan makanan/minuman yang dikemasnya. HDPE memiliki sifat
bahan yang lebih kuat, keras, buram dan lebih tahan terhadap suhu tinggi.
Sama seperti PET, HDPE juga direkomendasikan hanya untuk sekali
pemakaian, karena pelepasan senyawa antimoni trioksida terus meningkat
seiring waktu.

Gambar 4. HDPE (High Density Polyethylene)

4. PVC (Polyvinyl Chloride)


Tertulis (terkadang berwarna merah) dengan angka 3 di tengahnya, serta
tulisan V. V itu berarti PVC (polyvinyl chloride), yaitu jenis plastik yang paling
sulit didaur ulang. Ini bisa ditemukan pada plastik pembungkus (cling wrap),
dan botol-botol. Reaksi yang terjadi antara PVC dengan makanan yang
dikemas dengan plastik ini berpotensi berbahaya untuk ginjal, hati dan berat
badan. Bahan ini mengandung klorin dan akan mengeluarkan racun jika
dibakar. PVC tidak boleh digunakan dalam menyiapkan makanan atau kemasan
makanan. Bahan ini juga dapat diolah kembali menjadi mudflaps, panel, tikar,
dan lain-lain.
5. LDPE
Logo daur ulang dengan angka 4 di tengahnya, serta tulisan LDPE. LDPE
(low density polyethylene) yaitu plastik tipe cokelat (thermoplastic/dibuat dari
minyak bumi), biasa dipakai untuk tempat makanan, plastik kemasan, botol-

botol yang lembek, pakaian, mebel, dll. Sifat mekanis jenis LDPE ini adalah
kuat, tembus pandang, Fleksibel dan permukaan agak berlemak, pada suhu 60
derajat sangat resisten terhadap reaksi kimia, daya proteksi terhadap uap air
tergolong baik, dapat didaur ulang serta baik untuk barang-barang yang
memerlukan fleksibelitas tapi kuat. Barang berbahan LDPE ini sulit
dihancurkan, tetapi tetap baik untuk tempat makanan karena sulit bereaksi
secara kimiawi dengan makanan yang dikemas dengan bahan ini. LDPE, dapat
didaur ulang dengan banyak cara, misalnya dilarutkan ke dalam kaleng,
keranjang kompos dan landscaping tiles.
6. PS (Polystyrene)

Tertera logo daur ulang dengan angka 6 di tengahnya, serta tulisan PS.
Biasa dipakai sebagai bahan tempat makan styrofoam, tempat minum sekali
pakai, dan lain-lain. Polystyrene merupakan polimer aromatik yang dapat
mengeluarkan bahan styrene ke dalam makanan ketika makanan tersebut
bersentuhan. Selain tempat makanan, styrene juga bisa didapatkan dari asap
rokok, asap kendaraan dan bahan konstruksi gedung. Bahan ini harus dihindari,
karena selain berbahaya untuk kesehatan otak, mengganggu hormon estrogen
pada wanita yang berakibat pada masalah reproduksi, dan pertumbuhan dan
sistem syaraf, juga karena bahan ini sulit didaur ulang. Pun bila didaur ulang,
bahan ini memerlukan proses yang sangat panjang dan lama. Bahan ini dapat
dikenali dengan kode angka 6, namun bila tidak tertera kode angka tersebut
pada kemasan plastik, bahan ini dapat dikenali dengan cara dibakar (cara

terakhir dan sebaiknya dihindari). Ketika dibakar, bahan ini akan mengeluarkan
api berwarna kuning-jingga, dan meninggalkan jelaga. PS mengandung
benzene, suatu zat penyebab kanker dan tidak boleh dibakar. Bahan ini diolah
kembali menjadi isolasi, kemasan, pabrik tempat tidur, dan lain-lain.
Jenis kemasan yang baik digunakan adalah Jenis PP (polypropylene) ini
adalah pilihan bahan plastik terbaik, terutama untuk tempat makanan dan
minuman seperti tempat menyimpan makanan, botol minum dan terpenting
botol minum untuk bayi. Carilah dengan kode angka 5 bila membeli barang
berbahan plastik untuk menyimpan kemasan berbagai makanan dan minuman.
Selain jenis kemasan PP kemasan yang baik adalah LDPE kemasan ini sulit
dihancurkan, tetapi tetap baik untuk tempat makanan karena sulit bereaksi
secara kimiawi dengan makanan yang dikemas dengan bahan ini. LDPE, dapat
didaur ulang dengan banyak cara
Label adalah suatu tanda baik berupa tulisan, gambar atau bentuk
pernyataan lain yang disertakan pada wadah atau pembungkus sebagai yang
memuat informasi tentang produk yang ada didalamnya sebagai keterangan atau
penjelasan dari produk yang dikemas. Label kemasan bsa dirancang atau didesain
baik secara manual menggunakan alat lukis atau yang lainnya maupun
menggunakan software komputer. Desain yang dibuat secara manual mungkin
akan mengalami sedikit kesulitan ketika mau digunakan atau diaplikasikan
sedangkan dengan menggunakan komputer tentunya akan lebih mudah. Hal-hal
yang harus diperhatikan atau syarat-syarat dalam pelabelan kemasan yaitu:

1. Nama Produk
Nama produk tersebut harus menggunakan bahasa Indonesia bila
diperdagangkan di Indonesia. Bahasa asing dapat digunakan sepanjang tidak
bertentangan dengan keterangan dalam Bahasa Indonesia. Penggunaaan
bahasa, angka, dan huruf selain bahasa Indonesia, angka Arab dan huruf latin
diperbolehkan sepanjang tidak ada padanannya, atau dalam rangka
perdagangan keluar negeri. Pemberian nama produk tersebut harus memiliki
deskripsi yang jelas dan cocok terhadap produknya itu sendiri dan tidak
menyesatkan. Penggunaan nama harus yang mudah dimengerti oleh konsumen
dan menunjukkan sifat produk tersebut. Kemudian mengacu kepada Surat
Keputusan BP POM RI No. HK.00.05.52.4321 yang bertujuan untuk mencegah
terjadinya pelanggaran pelabelan produk pangan dan memudahkan pemahaman
pelabelan pangan, mensyaratkan: nama dagang tidak boleh menggunakan nama
generik dan kata-kata: alami, natural, murni dan suci.

Gambar 5. Contoh Nama Produk


2. Komposisi
Harus dicantumkan daftar lengkap Ingridien jumlah bahan utama
penyusunan makanan dan termasuk bahan tambahan yang digunakan dengan
urutan mulai dari bagian yang terbanyak. Prosentase berat bahan utama produk
tertentu juga harus dicantumkan. Untuk bahan tambahan makanan, Seperti
pewarna, dapat dicantumkan nama golongan disertai Nomor Indeks khusus
untuk pewarna tersebut. Daftar nama bahan yang digunakan dalam produk

secara terbuka dicantumkan. Istilah khusus yang digunakan untuk bahan


pangan tertentu yang unik diberi penjelasan dimana konsumen umum dapat
mengerti. Komposisi jumlah bahan yang menjadi rahasia perusahaan bisa tidak
dicantumkan.

Gambar 6. Contoh Komposisi Bahan Suatu Produk Pangan


3. Berat Bersih atau Isi Netto, berat benda yang ada di dalam kemasan

Gambar 7. Contoh Berat Isi Suatu Produk Pangan


4. Nama dan Alamat Pabrik, Alamat layanan konsumen dan alamat perusahaan
dicantumkan dengan jelas dan benar

Gambar 8. Contoh Nama Alamat dan Nama Pabrik


5. Nomor Registrasi Badan POM (MD,Makanan Dalam Negeri atau ML,
Makanan Luar Negeri)

Gambar 9. Contoh Nomor BPOM


6. Kode Produksi (Barkode), tanggal mulai diproduksikannya produk

Gambar 10. Contoh Kode Produksi


7. Tanggal Kadarluarsa, tanggal maksimum produk

Gambar 11. Contoh Tanggal Kadaluarsa


8. Petunjuk atau Cara Penggunaan, biasanya tertera dibelakang prodok

Gambar 12. Contoh Cara Penggunaan Produk Makanan


9. Petunjuk atau cara peyimpanan, petunjuk dalam penggunaan produk

Gambar 13. Contoh Cara Suhu Penyimpanan Produk


10. Informasi Nilai Gizi, nilai gizi yang dimiliki produk

Gambar 14. Contoh Informasi Nilai Gizi


11. Label halal (Pencantuman tulisan halal diatur oleh keputusan bersama
Menteri Kesehatan dan Menteri Agama (MUI), Makanan halal adalah semua

jenis makanan yang tidak mengandung unsur atau bahan yang terlarang atau
haram dan atau yang diolah menurut hukum-hukum agama Islam).

Gambar 15. Contoh Logo Halal Pada Produk Makanan


12. Tulisan atau pernyataan (produk-produk tertentu) Ex...makanan yang
mengandung bahan yang berasal dari babi:mengandung babi.
Organisasi Internasional untuk Standardisasi ISO telah memainkan peran
penting dalam dispensasi ini. Banyak organisasi manufaktur bermunculan dari
waktu ke waktu dan ini panggilan untuk kebutuhan untuk mendapatkan kegiatan
mereka sanksi dan dipantau. ISO memiliki tujuan strategis dan ini berharga karena
melintasi daerah-daerah seperti layanan pelanggan produk terbaik dan kualitas
layanan peraturan referensi ke produk pengembangan desain dan produksi dan
teknologi-bijaksana akuisisi dan penggunaan keadaan teknologi seni . Tujuan
lainnya termasuk etika bisnis yang baik dengan perilaku bisnis yang tepat
pengembangan yang konsisten dalam hubungannya dengan semua bidang bisnis
dari organisasi pengobatan yang tepat dari tenaga kerja dan kepemimpinan yang
efektif dan efisien.
ISO sertifikasi untuk beberapa organisasi adalah limbah hanya sumber daya
dan waktu. Bahkan beberapa organisasi tidak melihat kebutuhan untuk
standardisasi setelah pelanggan terus merendahkan perusahaan dan uang terus
datang masuk Ini mungkin bukan keputusan yang baik bagi organisasi yang ingin

pergi jauh. Faktanya adalah bahwa pelanggan hari ini lebih standar-sadar dan
organisasi harus mengikuti perkembangan industri. Ada banyak manfaat yang
dapat berasal jika organisasi bersertifikat ISO :
1. ISO perusahaan bersertifikat bisa mengendalikannya sumber daya yang lebih
baik yaitu input transformasi dan sumber daya output.
2. Ini membantu untuk mengurangi kerugian yang dapat mengakibatkan akibat
memproduksi barang yang tidak bisa memenuhi spesifikasi pelanggan atau
yang berada di bawah industri atau standar internasional.
3. Ini membantu dalam membangun kepercayaan pelanggan dan kepercayaan
pada perusahaan dan produk-produknya.
4. Ini membantu untuk memastikan dan menjaga fokus organisasi dalam hal
standar dan kualitas. Hal ini dimungkinkan dalam proses sertifikasi. Organisasi
akan diberikan standar untuk bekerja dengan dan pelatihan atau pencerahan.
Organisasi adalah untuk terus mengikuti jika harus tetap dalam buku baik dari
ISO.
5. Ini menekankan pada desain produk yang tepat dan dokumentasi yang
prasyarat untuk membangun sebuah perusahaan yang kuat dalam hal kebijakan
dan strategi.
6. Ini memberikan pemahaman kepada proses th masukan-mengubah-output yang
pasti akan meningkatkan pemantauan organisasi dan strategi pengendalian
mengacu pada kualitas jaminan kualitas dan kontrol kualitas dan hal-hal
lainnya.
Perkembangan dunia pangan yang kian maju menuntut setiap negara untuk
melakukan kerjasama untuk memenuhi kebutuhannya. Proses perdagangan
internasional tidak selalu

mudah dilakukan dan lazimnya ketentuan yang

diterapkan oleh negara tujuan menjadi hal yang tidak dapat ditawar lagi. Regulasi

dan isu sensitif tentang pangan menjadi pertimbangan suatu negara untuk dapat
mengimpor pangan dan bahan pangan dari negara lain. Untuk mengatasi
permasalahan tersebut , industri makanan dan minuman yang berorientasi ekspor
harus memenuhi standar mutu internasional terkait sistem manajemen keamanan
pangan. Hal ini juga merupakan persyaratan yang harus dipenuhi oleh perusahaan
yang bergerak dalam rantai makanan. Standar Hazard Analysis and Critical
Control Points (HACCP) menjawab tuntutan keamanan pangan dan membantu
perdagangan produk pangan yang memenuhi kriteria keamanan pangan serta
tuntutan konsumen terhadap kesehatan dan kelestarian lingkungan.
Sertifikat HACCP merupakan bukti penerapan HACCP secara efektif yang
diterbitkan lembaga sertifikasi independen dan merupakan jaminan keamanan
pangan melalui sistem yang dirancang secara sistematis dan terintegrasi. Manfaat
dari sertifikasi ini adalah :
1. Meningkatkan kepercayaan pelanggan.
2. Meningkatkan citra dan kompetensi perusahaan/organisasi.
3. Meningkatkan kesempatan perusahaan/organisasi untuk memasuki pasar
global.
4. Meningkatkan wawasan dan pengetahuan terhadap produk.
5. Partisipasi dalam program keamanan pangan.
6. Pendukung sistem jaminan mutu.
Badan Pengawas Obat dan Makanan Badan Pengawas Obat dan Makanan
(BPOM) adalah lembaga pemerintah yang bertugas melakukan regulasi,
standardisasi, dan sertifikasi produk makanan dan obat yang mencakup
keseluruhan aspek pembuatan, penjualan, penggunaan, dan keamanan makanan,
obat-obatan, kosmetik, dan produk lainnya. Badan Pengawas Obat dan Makanan
atau disingkat Badan POM adalah sebuah lembaga di Indonesia yang bertugas

mengawasi peredaran obat-obatan dan makanan di Indonesia. Fungsi dan tugas


badan ini menyerupai fungsi dan tugas Food and Drug Administration (FDA) di
Amerika Serikat. Fungsi Badan POM berfungsi antara lain:
1. Pengaturan, regulasi, dan standardisasi.
2. Lisensi dan sertifikasi industri di bidang farmasi berdasarkan Cara-cara
Produksi yang Baik.
3. Evaluasi produk sebelum diizinkan beredar.
4. Post marketing vigilance termasuk sampling dan pengujian laboratorium,
5.
6.
7.
8.

pemeriksaan sarana produksi dan distribusi, penyidikan dan penegakan hukum.


Pre-audit dan pasca-audit iklan dan promosi produk.
Riset terhadap pelaksanaan kebijakan pengawasan obat dan makanan.
Komunikasi, informasi dan edukasi publik termasuk peringatan publik.
Badan Pengawas Obat Makanan adalah lembaga non departemen yang
bertanggung jawab langsung pada Presiden RI dalam menjalankan tugas dan
fungsinya.
Nomor yang diterbitkan oleh Badan POM memiliki arti khusus,

diantaranya:
TR

: Obat tradisional produksi dalam negeri

TI

: Obat tradisional Import

SD

: Suplemen produksi dalam negeri

SI

: Suplemen Impor

MD

: Makanan produksi dalam negeri

ML

: Makanan impor

CD

: Kosmetik dalam negeri

CL

: Kosmetik impor

CA

: Kosmetik dengan tanda notifikasi


Ide saya untuk memperbaiki kemasan produk dari bahan kemasan,

penampilan, dan pelabelan, agar dapat menarik konsumen adalah memperbaikai


kemasan kotak atau botol pada jus, dengan penampilan yang biasa yaitu kotak
dengan di beri gambar buah pada kotak atau botol pada kemasan, kemasan
tersebut bagus, tapi menurut saya lebih menari konsumen terutama anak-anak
apabila kemasan kotak pada jus di buat bentuk seperti rasa pada jus tersebut, misal
jus rasa melon jadi bentuk kotak kemasannya berbentuk melon. Dengan kemasan
yang sedemikian rupa, konsumen akan lebih tertarik dengan kemasan yang lucu,
parktis, dan tempat pelabelan di tempatkan pada satu sisi kemasan kotak. Dengan
kemsanan seperti yang sudah di jeaskan konsumen juga dapat langsung mengenal
rasa jus pada kemasan tersebut karena konsumen langsung melihat bentuk
kemasan yang sama seperti rasanya, dan untuk konsumen anak-anak kemasan
tersebut juga bisa di buah untuk bahan mereka belajar mengenal macam-macam
bentuk buah karena kemasan yang di sedesain berbentuk buah
Praktikum yang telah dilakukan yaitu tentang idenstifikasi kemasan plastik.
Pada praktikum ini praktikan mengamati pelabelan pada lima produk makanan
atau minuman. Produk yang diamati oleh praktikan antara lain Miaow miow,
nabati cheese wafer, glico pocky matcha, happy tos, dan nestle milo. Pada produk

Miaow miow hanya mencantumkan nama produk, komposisi, isi netto, nama dan
alamat pabrik atau importir, kode produksi, tanggal kadaluwarsa, petunjuk cara
penyimpanan,nilai gizi, tulisan atau pernyataan khusus, BPOM RI, dan sertifikasi
Produk makanan yaitu nabati cheese wafer memberikan 13 informasi
penting yaitu nama produk, komposisi, isi netto, nama dan alamat pabrik atau
importir, tanggal kadaluwarsa, petunjuk penggunaan, cara penyimpanan, nilai
gizi, sertifikasi, pernyataan khusus serta BPOM dan DEPKES. Produk glico
pocky matcha mencantumkan informasi penting yaitu nama produk, komposisi, isi
netto, nama dan alamat pabrik atau importir, kode produksi, tanggal kadaluwarsa,
nilai gizi, serta BPOM dan DEPKES. Produk makanan happy tos,mencantumkan
informasi yaitu nama produk, komposisi, isi netto, nama dan alamat pabrik, kode
produksi, tanggal kadaluwarsa, nilai gizi, pernyataan khusus, sertifikasi serta
BPOM dan DEPKES.
Produk makanan nestle milo memberikan 12 informasi penting yaitu nama
produk, komposisi, isi netto, nama dan alamat pabrik, kode produksi, tanggal
kadaluwarsa, petunjuk penggunaan, cara penyimpanan, nilai gizi, sertifikasi, dan
pernyataan khusus, serta BPOM dan DEPKES. Dari kemasan yang diamati
kebanyakan kemasan tidak mencantumkan nama pendaftaran, cara penggunaan,
dan cara penyimpanan. Pada praktikum juga praktikan menghitung ketebalan
berbagai jenis kemasan plastik menggunakan jangka sorong, pengukuran berat
berbagai jenis kemasan plastik, dan identifikasi jenis plastik dengan uji nyala.
Hasil yang diperoleh dalam pengukuran ketebalan berbagai jenis kemasan
plastik menggunakan jangka sorong untuk kemasan plastik polietilen,

polypropilen, dan HDPE yaitu 0,04 mm, 0,075 mm, 0,025 mm. Hasil yang
diperoleh pada pengukuran berat berbagai jenis kemasan plastik polietilen,
polypropilen, dan HDPE yang dilakukan dengan tiga perlakuan dan sudah dirataratakan yaitu polietilen 0,0197 gr/cm2 dan 195,54 gr/m2, polypropilen yaitu 0,032
gr/cm2 dan 315,667 gr/m2, dan HDPE yaitu 9,74 gr/cm2 dan 97,35 gr/m2. Hasil
yang diperoleh pada pengukuran identifikasi jenis plastik dengan uji nyala pada
kemasan polietilen sifatnya mudah menyala, tidak mudah padam, baunya agak
menyengat, serta warna apinya orange. Jenis plastik dengan uji nyala pada
kemasan polypropilen sifatnya mudah menyala, tidak mudah padam, baunya
menyengat, serta warna apinya biru. Jenis plastik dengan uji nyala pada kemasan
HDPE sifatnya susah menyala, tidak mudah padam, baunya sangat menyengat,
serta warna apinya biru.
Perbedaan dari ketiga jenis plastik di atas dilihat berdasarkan ketebalan,
berat dan uji nyala. Berdasarkan data pengukuran ketebalan PP memiliki tebal
yang lebih besar dari PE dan HDPE dengan pengukuran menggunakan jangka
sorong. Sedangkan dalam pengukuran berat untuk ketiga jenis plastik yang
digunakan plastik PP memiliki berat yang lebih besar dari jenis plastik yang lain
yaitu sebesar 0,032 g/cm2 atau 315,667 g/m2. Untuk percobaan uji nyala atau
(burning test) jenis plastik PP dan PE sama-sama mudah menyala, sedangkan
pada HDPE susah menyala. Untuk kemampuan padam sendiri tidak dimiliki oleh
plastik PP dan PE, dan HDPE api tidak padam sendiri. Bau yang ditimbulkan
karena proses pembakaran untuk setiap jenis plasti berbeda-beda. Untuk plastik
PE baunya menyengat, plastik PP baunya agak menyengat, dan untuk plastik

HDPE baunya sangat menyengat. Untuk warna api yang ditimbulkan dari jenis
plastik PE dan HDPE berwarna biru, sedangkan untuk plastik jenis PP berwarna
orange. Dari hasil percobaan di atas dapat disimpulkan bahwa perbedaan
mencolok dari ketiga jenis plastik yang digunakan dilihat dari ketebalan. Urutan
plastik dari yang paling tebal adalah PP, PE dan terakhir HDPE. Sedangkan untuk
kemampuan memadamkan api sendiri tidak dimiliki oleh ketiga jenis plastik.

V.

KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan
1. Paada label produk pangan yang diamati terdapat identitas produk yang
meliputi nama produk, komposisi, isi netto, nama dan alamat pabrik atau
importir, nomor pendaftaran, kode produksi, tanggal kadaluwarsa, petunjuk
penggunaan, cara penyimpanan, nilai gizi, sertifikasi, pernyataan khusus serta
BPOM dan DEPKES.

2. Kemasan plastik yang digunakan pada praktikum kali ini adalah PP, PE dan
HDPE dimana ketiga jenis kemasan ini memiliki sifat yang berbeda.
Karakteristik dari ketiga jenis kemasan yang digunakan memiliki perbedaan
seperti yang telah disampaikan pada pembahasan.
3. Identifikasi kemasan plastik dilakukan dengan pengukuran tebal, berat dan
burning test. Desain kemasan dibuat dari bahan yang dapat melindungi bahan
yang dikemas dari kerusakan selama penyimpanan.
B. Saran
Sebaiknya alat yang digunakan pada saat praktikum di perbanyak lagi agar
praktikan tidak terlalu lama menunggu alat tersebut yang sedang digunakan oleh
praktikan lainnya. Sehingga praktikumpun dapat berjalan dengan lancar dan
kondusif.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2012. www.id.wikipedia.org. ISO 9000. Diakses tanggal 1 Desember


2015 pukul 17.20 Wib.
Anonim. 2012. www.sucofindo.co.id. Sertifikasi HACCP. Diakses tanggal 1
Desember 2015 pukul 17.30 Wib.
Andarwulan, N. dan P. Hariyadi. 2004. Perubahan mutu (fisik, kimia,
mikrobiologi) produk pangan selama pengolahan dan penyimpanan
produk pangan. Pelatihan Pendugaan Waktu Kedaluwarsa (Self Life):
Bogor.

Arpah. 2001. Penentuan Kedaluwarsa Produk Pangan. Program Studi Ilmu


Pangan: Institut Pertanian Bogor.
Abdul Mukhlis, Ediati Rifah dan Tim asisten. 2014. Modul Praktikum Teknik
Penyimpanan dan Pengemasan. Universitas Jenderal Soedirman:
Purwokerto.
Herudiyanto,M.S. 2008. Teknologi Pengemasan Pangan. Widya Padjajaran,
UNPAD: Bandung.
Julianti, E. dan M. Nurminah. 2006. Buku Ajar Teknologi Pengemasan.
Departemen Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera
Utara: Medan.
Syarief.R., S. Santausa dan Isyana. 1989. Teknologi Pengemasan Pangan. PAU
Pangan dan Gizi IPB: Bogor.
Winarno, F.G. 1987. Gizi dan Makanan bagi Bayi Pengadaan dan
Pengolahannya. Pustaka Sinar Harapan: Jakarta.