Anda di halaman 1dari 15

Pterygium Akibat Penyakit Yang Berhubungan Dengan Pekerjaan

**Norhidayu binti Mesman


102010393
Kelompok A6
luvs_ayu91@yahoo.com
**Alamat korespoden: Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana, Jalan Arjuna
Utara No 6, Jakarta Barat 11510.
Abstrak
Pterygium adalah pertumbuhan jaringan fibrovaskuler yang tumbuh dari arah konjunctiva
menuju kornea pada sayap konjunctiva bulbi. Pterygium tersebar di seluruh dunia, tetapi
lebih banyak di daerah iklim panas dan kering dan prevalensinya tinggi di daerah berdebu
dan kering. Etiologi pterygium tidak diketahui dengan jelas. Namun, faktor resiko yang
banyak mempengaruhi pterygium adalah lingkungan yakni radiasi ultraviolet sinar matahari,
iritasi kronik dan dari bahan tertentu di udara. Pekerjaan yang melibatkan sejumlah besar
pajanan debu setiap hari dapat meningkatkan resiko terkena pterygium dikenal sebagai
penyakit akibat kerja (PAK). PAK adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan, alat
kerja, bahan, proses maupun lingkungan kerja.
Skenario
Seorang perempuan, Ny. CT, 41 tahun, datang karena penglihatan mata kanan kabur.
Pendahuluan
Okupasi kesehatan merupakan suatu bidang yang penting untuk membantu mendiagnosis
penyakit akibat kerja (occupational diseases),

penyakit berhubungan pekerjaan (work

related diseases) dan penyakit yang diperberat oleh pajanan di tempat kerja. Bekerja dapat
berdampak buruk terhadap kesehatan tetapi dapat juga memberikan keuntungan bagi
kesehatan dan kesejahteraan. Kesehatan seorang pekerja penting agar dapat memberikan hasil
kerja yang lebih produktif. Pekerja dengan gangguan kesehatan dapat memberikan dampak
buruk terhadap diri sendiri maupun teman kerja dan masyarakat.
Pterygium adalah merupakan salah satu penyakit yang dapat berhubungan akibat pajanan di
tempat kerja. Keluhan yang biasanya ditemukan pada pasien pterygium adalah mata merah
dan keluhan gangguan penglihatan. Oleh itu, dalam makalah ini akan dibahas faktor-faktor

yang berhubungan antara penyakit ini dengan pajanan di tempat kerja dengan menggunakan 7
langkah ini yaitu diagnosis klinis, pajanan yang dialami, hubungan pajanan dan penyakit,
jumlah pajanan yang dialami, faktor individu, faktor-faktor lain di luar pekerjaan dan
diagnosis okupasi.
Mendiagnosa penyakit akibat kerja dengan tujuh langkah diagnosa okupasi
Untuk dapat mendiagnosis PAK pada individu perlu dilakukan suatu pendekatan
sistematis untuk mendapatkan informasi yang diperlukan dan menginterpretasinya secara
tepat. Pendekatan tersebut dapat disusun menjadi 7 langkah yang dapat digunakan sebagai
pedoman:
1. Tentukan diagnosis klinisnya.
Diagnosis klinis harus dapat ditegakkan terlebih dahulu, dengan anamnesis dan pemeriksaan
fisik dan juga harus memanfaatkan fasilitas-fasilitas penunjang yang ada, seperti umumnya
dilakukan untuk mendiagnosis suatu penyakit. Setelah diagnosis klinik ditegakkan baru dapat
dipikirkan lebih lanjut apakah penyakit tersebut berhubungan dengan pekerjaan atau tidak.
Beberapa komponen riwayat kesehatan yang dapat ditanyakan dalam anamnesis:

Identifikasi data
Mengidentifikasi data pasien seperti ditanyakan nama, usia, pekerjaan, status
menikah, dan alamat tempat tinggal. Sumber riwayat biasanya pasien, tetapi dapat
juga dari anggota keluarga seperti orang tua atau saudara sekandung, teman. Nama
pasien Ny. CT berusia 41 tahun dan bekerja sebagai pedagang mi ayam selama 15
tahun.

Keluhan utama
Satu atau lebih gejala atau kekhawatiran pasien yang menyebabkan pasien mencari
perawatan atau rekam medis. Pada kasus ini, pasien mengadu penglihatan mata
kanannya kabur. Mata kanannya kabur sejak 3 bulan yang lalu.

Penyakit saat ini


Menanyakan keluhan utama, bagaimana perkembangan setiap gejala, waktu
terjadinya gejala (kapan mulai dirasakan, sudah berapa lama, seberapa sering gejala
muncul), kondisi saat gejala terjadi (meliputi faktor lingkungan, aktivitas individu,

2 | Page

reaksi emosi, atau keadaan lain yang berperan terhadap timbulnya gejala), faktor yang
meredakan atau memperburuk gejala tersebut.
Pasien mengadu penglihatan mata kanannya makin lama makin kabur, namun mata
kirinya baik-baik sahaja, mata kanan agak merah, gatal, menyangkal adanya
gangguan visus, ada seperti daging di mata kanan pasien.

Riwayat kesehatan masa lalu


Tanyakan riwayat kesehatan pasien selama ini, apakah ada menderita penyakitpenyakit kronis, ataupun penyakit-penyakit metabolik. Tanyakan juga apakah pasien
ada riwayat alergi obat atau debu.
Pasien menolak adanya penyakit kronis maupun penyakit metabolik, tidak ada
riwayat alergi yang diketahui, namun tempat bekerjanya sering terpapar debu-debu
jalanan.

Riwayat keluarga
Gambaran atau diagram usia dan keadaan kesehatan, usia dan penyebab morbiditas,

yang mungkin terjadi di kalangan ahli keluarga yang pernah terlibat dalam penyakit akibat
kerja. Dokumen yang menunjukan ada atau tidak adanya penyakit khusus dalam keluarga.
Apakah pasien mempunyai riwayat kesehatan (riwayat keluarga) yang mengakibatkan
penderita lebih rentan/lebih sensitif terhadap pajanan yang dialami karena menurut penelitian
ada keluarga yang memang berbakat untuk terjadinya pterygium.1

Pemeriksaan Fisik
1.

Pemeriksaan Umum

Keadaan Umum: Tampak sakit ringan, Kesadaran: Compos mentis. Dilihat ada seperti
daging berlebihan di mata kanan.
Tanda-tanda Vital; Nadi:72x/menit, RR:16x/menit, Tekanan darah: 120/mmHg, Suhu:
360C
Status gizi; Berat badan: 30kg, Tinggi badan: 150cm, IMT: 14,3
2. Pemeriksaan Khusus (Lokal)

3 | Page

Pemeriksaan khusus yang dapat dilakukan pada pasien ini adalah pemeriksaan di bagian
matanya; kiri dan kanan. Adakah kelainan yang terlihat jelas seperti proptosis, protrusi, mata
merah, asimetri, nistagmus atau ptosis. Dilihat konjungtiva, kornea, iris, pupil dan kelopak
mata.2
Tabel 1: Hasil Pemeriksaan Mata Kiri dan Kanan
Pemeriksaan
Visus
Inspeks Palpebra
Konjungtiv
i
a

Mata Kanan
6/9
Normal
Keruh sebagian dan tampak

Mata Kiri
6/6
Normal
Normal

jaringan fibrovaskular berbentuk


segitiga pada sisi nasal yang

Pupil
Kornea

ujungnya meluas ke pupil


Tidak dapat dinilai
Dari bagian nasal, konjungtiva

Positif (3-4mm), sentral


Normal

tertutup karena terdapat lipatan


Lensa
COA

segitiga dari arah konjungtiva bulbi


Normal
Normal
Jernih
Jernih

Pterygium dapat ditegakkan cukup dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan
penunjang biasanya tidak perlu dikerjakan.
2. Tentukan pajanan yang dialami oleh tenaga kerja selama ini.
Pengetahuan mengenai pajanan yang dialami oleh seorang tenaga kerjaadalah esensial
untuk dapat menghubungkan suatu penyakit dengan pekerjaannya. Untuk ini perlu dilakukan
anamnesis mengenai riwayat pekerjaannya secara cermat dan teliti, yang mencakup:
a) Penjelasan mengenai semua pekerjaan yang telah dilakukan oleh penderita secara
kronologis,
b) Lamanya melakukan masing-masing pekerjaan,
c) Bahan yang diproduksi,
d) Materi (bahan baku) yang digunakan,
e) Jumlah pajanannya,
f) Pemakaian alat perlindungan diri (misal: masker),
g) Pola waktu terjadinya gejala,
h) Informasi mengenai tenaga kerja lain(apakah ada yang mengalami gejala serupa),

4 | Page

i) Informasi tertulis yang ada mengenai bahan-bahan yang digunakan (MSDS, label,
dan sebagainya).
Ny. CT menyatakan pekerjaannya sebagai pedagang mi ayam dari jam 7 am hingga 5 pm.
Semasa bekerja tidak ada memakai masker, baru 3 bulan belakangan timbulnya seperti
daging di mata kanannya beserta penglihatannya makin kabur, tidak ada riwayat myopia atau
hypermetropia, tidak pernah berobat sebelumnya.
3. Tentukan apakah pajanan tersebut memang dapat menyebabkan penyakit tersebut
Apakah terdapat bukti-bukti ilmiah dalam kepustakaan yang mendukung pendapat
bahwa pajanan yang dialami menyebabkan penyakit yang diderita. Jika dalam kepustakaan
tidak ditemukan adanya dasar ilmiah yang menyatakan hal tersebut di atas, maka tidak dapat
ditegakkan diagnosa penyakit akibat kerja. Jika dalam kepustakaan ada yang mendukung,
perlu dipelajari lebih lanjut secara khusus mengenai pajanan sehingga dapat menyebabkan
penyakit yangdiderita (konsentrasi, jumlah, lama, dan sebagainya). Pajanan yang diterima
dapat dibagi kepada 5 kelompok yaitu, fisik, kimia, biologis, ergonomi dan psikologi. Debu
dan sinar ultraviolet dapat menyebabkan pterygium.

4. Tentukan apakah jumlah pajanan yang dialami cukup besar untuk dapat
mengakibatkan penyakit tersebut
Jika penyakit yang diderita hanya dapat terjadi pada keadaan pajanan tertentu, maka
pajanan yang dialami pasien di tempat kerja menjadi penting untuk diteliti lebih lanjut dan
membandingkannya dengan kepustakaan yang ada untuk dapat menentukan diagnosis
penyakit akibat kerja.
5. Tentukan apakah ada faktor-faktor lain yang mungkin dapat mempengaruhi
Apakah ada keterangan dari riwayat penyakit maupun riwayat pekerjaannya, yang
dapat mengubah keadaan pajanannya, misalnya penggunaan APD, riwayat adanya pajanan
serupa sebelumnya sehingga risikonya meningkat.
Pendekatan secara individual harus dilakukan agar dapat ditentukan apakah faktor individu
yang menyebabkan pterygium. Apakah ada keterangan dari riwayat penyakit seperti alergi,
atopi maupun riwayat pekerjaannya, yang dapat mengubah keadaan pajanannya, misalnya
penggunaan APD, riwayat adanya pajanan serupa sebelumnya sehingga risikonya meningkat.
5 | Page

Pasien menolak adanya penyakit-penyakit sebelumnya, mengaku tidak memakai masker


ketika bekerja dan juga tidak ada riwayat memakai kaca mata.
6. Cari adanya kemungkinan lain yang dapat merupakan penyebab penyakit
Apakah ada faktor lain yang dapat merupakan penyebab penyakit? Apakah penderita
mengalami pajanan lain yang diketahui dapat merupakan penyebab penyakit. Faktor-faktor
lain di luar pekerjaan dapat berupa hobi, kebiasaan seperti merokok, pajanan di rumah atau
pekerjaan sambilan. Dipastikan adakah faktor-faktor ini akan memberi peran untuk
menyebabkan penyakit tersebut. Meskipun demikian, adanya penyebab lain tidak selalu dapat
digunakan untuk menyingkirkan penyebab di tempat kerja. Berdasarkan skenario, faktorfaktor lain diluar pekerjaan tidak ditemukan selain dari kebiasaan mengucek mata.
7. Buat keputusan apakah penyakit tersebut disebabkan oleh pekerjaannya
Sesudah menerapkan ke enam langkah di atas perlu dibuat suatu keputusan
berdasarkan informasi yang telah didapat yang memiliki dasar ilmiah. Seperti telah
disebutkan sebelumnya, tidak selalu pekerjaan merupakan penyebab langsung suatu penyakit,
kadang-kadang pekerjaan hanya memperberat suatu kondisi yang telah ada sebelumnya. Hal
ini perlu dibedakan pada waktu menegakkan diagnosis.1-2
Definisi penyakit akibat kerja (PAK)
PAK adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan, alat kerja, bahan, proses
maupun lingkungan kerja. Dengan demikian PAK merupakan penyakit yang artifisial atau
man-made disease. Dalam melakukan pekerjaan apapun, sebenarnya kita berisiko untuk
mendapatkan gangguan Kesehatan atau penyakit yang ditimbulkan oleh penyakit tersebut.
Oleh karena itu, PAK adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan, alat kerja, bahan,
proses maupun lingkungan kerja.
Menurut Cherry, 1999 An occupational disease may be defined simply as one that is caused,
or made worse, by exposure at work. Di sini menggambarkan bahwa secara sederhana
sesuatu yang disebabkan, atau diperburuk, oleh pajanan di tempat kerja. Atau, An
occupational disease is health problem caused by exposure to a workplace hazard
(Workplace Safety and Insurance Board, 2005), Sedangkan dari definisi kedua tersebut,
penyakit akibat kerja adalah suatu masalah kesehatan yang disebabkan oleh pajanan
berbahaya di tempat kerja.
6 | Page

Pada simposium internasional mengenai penyakit akibat hubungan pekerjaan yang


diselenggarakan oleh ILO (International Labour Organization) di Linz, Austria, dihasilkan
definisi menyangkut PAK sebagai berikut:
a. Penyakit Akibat Kerja Occupational Disease adalah penyakit yang mempunyai
penyebab yang spesifik atau asosiasi yang kuat dengan pekerjaan, yang pada
umumnya terdiri dari satu agen penyebab yang sudah diakui.
b. Penyakit yang Berhubungan dengan Pekerjaan Work Related Disease adalah
penyakit yang mempunyai beberapa agen penyebab, dimana faktor pekerjaan
memegang peranan bersama dengan faktor risiko lainnya dalam berkembangnya
penyakit yang mempunyai etiologi kompleks.
c. Penyakit yang Mengenai Populasi Kerja Disease of Fecting Working
Populations adalah penyakit yang terjadi pada populasi pekerja tanpa adanya agen
penyebab ditempat kerja, namun dapat diperberat oleh kondisi pekerjaan yang buruk
bagi kesehatan
Menurut Keputusan Presiden Nomor 22 tahun 1993 tertanggal 27 Februari 1993, penyakit
yang timbul akibat hubungan kerja adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan atau
lingkungan kerja (pasal 1). Keputusan Presiden tersebut melampirkan daftar penyakit yang
diantaranya

yang

berkaitan

dengan

pulmonologi

termasuk

pneumokoniosis

dan

silikotuberkulosis, penyakit paru dan saluran nafas akibat debu logam keras, penyakit paru
dan saluran nafas akibat debu kapas, vals, henep dan sisal (bissinosis), asma akibat kerja, dan
alveolitis alergika.
Pasal 2 Keputusan Presiden tersebut menyatakan bahwa mereka yang menderita penyakit
yang timbul karena hubungan kerja berhak memperoleh jaminan kecelakaan kerja.
Keputusan Presiden tersebut merujuk kepada Undang-Undang RI No 3 tahun 1992 tentang
Jaminan Sosial Tenaga Kerja, yang pasal 1 nya menyatakan bahwa kecelakaan kerja adalah
kecelakaan yang terjadi berhubung dengan hubungan kerja, termasuk penyakit yg timbul
karena hubungan kerja, demikian pula kecelakaan yang terjadi dalam perjalanan berangkat
dari rumah menuju tempat kerja, dan pulang kerumah melalui jalan yg biasa atau wajar
dilalui.

7 | Page

Dalam melakukan tugasnya di perusahaan seseorang atau sekelompok pekerja berisiko


mendapatkan kecelakaan atau penyakit akibat kerja.
Menurut WHO yang membedakan empat kategori PAK, yaitu:
1. Penyakit yang hanya disebabkan oleh pekerjaan, misalnya Pneumoconiosis.
2. Penyakit yang salah satu penyebabnya adalah pekerjaan, misalnya Karsinoma
Bronkogenik.
3. Penyakit dengan pekerjaan merupakan salah satu penyebab di antara faktorfaktor penyebab lainnya, misalnya Bronkhitis khronis.
4. Penyakit dimana pekerjaan memperberat suatu kondisi yang sudah ada
sebelumnya, misalnya asma.3
Pajanan-pajanan penyakit akibat kerja
Klasifikasi penyebab bahaya kerja dapat dilakukan dengan menetapkan dan mencatat adanya
bahaya secara fisik, kimia, biologi, ergonomi, dan juga psikososial. Bahaya fisik meliputi
pajanan pada suhu tinggi, pencahayaan yang kurang, bising, tekanan, getaran, sengatan listrik
dan radiasi. Bahaya kimia dapat berbentuk zat padat, cair, setengah padat atau gas. Bahaya
biologis pula dapat diklasifikasikan berdasarkan agens etiologinya seperti virus, bakteri jamur
dan sebagainya. Bahaya ergonomi dilihat pada posisi ketika bekerja dan bahaya psikosial
dapat berupa emosi seperti stress, kelelahan dan lain-lain lagi.1
Tabel 2: Pajanan yang dialami oleh Seorang Pedagang Mi Ayam
Urutan kegiatan

Bahaya Potensial

Fisik
Mendirikan dan
membongkar
tenda

Masak mi, buat


minum,
penyediaan bahan
8 | Page

Sinar
UV,
Panas,
Bising

Panas,
Sinar
UV

Kimia

Debu

Debu

Biologi

Ergonomi

Serangga
Bakteri
Posisi
Virus
Jamur
Serangga Posisi
Bakteri
Statis
Virus
(berdiri)

Gangguan
Kesehatan

Risiko
Kecelakaan
Kerja

Psikologi

Stress

Lelah

Mata, hidung,
tenggorokan,
saluran
pernafasan,
gangguan
muskuloskelet
al
Mata, hidung,
tenggorokan,
gangguan

Ketimpa
tenda

Tersiram
air panas,
terpotong

masakan untuk
masak mi

muskuloskelet
al,
gangguan kulit

Jamur

jari

Hubungan penyebab dengan penyakit


a) Paparan sinar matahari
Paparan sinar matahari merupakan faktor yang penting dalam perkembangan terjadinya
pterygium. Kajian menunjukkan bahawa insidens pterygium meningkat pada individu yang
berada lebih 5 tahun di latitude kurang dari 30o dan individu yang menghabiskan banyak
waktu di lapangan. Hal ini dapat menjelaskan hubungan antara pajanan terhadap sinar
matahari atau UV-B dengan meningkatnya risiko untuk terjadinya pterygium. Indonesia
merupakan negara yang berada di garis khatulistiwa (Latitude 0 o - equator), jadi paparan
sinar matahari lebih tinggi berbanding di negara lain. 3
Tabel 3: Pajanan Sinar Matahari berhubungan Latitude dan Lingkungan Pekerjaan
Variables
Latitude
Tempoh menghabis masa di
lapangan (outdoor)
Lingkungan kerja

Range
>40 o
30-39 o
<40 o
<50o
>50 o

Relative risk (95% CI)


1.0
3.0
39.5
1.0
5.7

Indoor
Grassy
Konkrit, sungai, laut dll

1.0
4.3
10.8

Sumber: Pterygium
Terdapat studi lain yang menginvestigasi prevalensi pterygium yang menunjukkan mata
dominan (sering) terpajan oleh sinar matahari akan lebih cenderung untuk timbulnya
pterygium.3
Coroneo effect menunjukkan bahwa limbus (batas antara kornea dan sklera) yang
fokus terhadap sinar matahari temporal akan menyebabkan radiasi sinar UV ke limbus nasal
akan terjadi. Hal ini dapat menjelaskan kenapa pterygium sering terjadi dibagian nasal.

9 | Page

Nasal

Temporal

Gambar 1: Coroneo Effects

b) Iritasi kronik dari lingkungan pekerjaan (debu)


Debu adalah suatu kumpulan yang terditi dari berbagai macam partikel padat di udara yang
berukuran kasar dan tersebar, yang biasa disebut dengan koloid. Debu umumnya berasal dari
gabungan secara mekanik dari material yang berukuran kasar. Debu termasuk ke dalam
substansi yang bersifat toksik (racun).
Debu yang menyebabkan iritasi pada mata dapat terjadi jika terkena paparan secara terus
menerus dan dapat menjejaskan kesehatan mata. Gangguan iritasi pada membran mukosa
mata dan saluran pernafasan diantaranya memperlihatkan gejala seperti mata tampak menjadi
merah, bengkak, menjadi gatal, menangis, bersin dan batuk. Secara patologis, efek iritan
tidak banyak dapat dijelaskan.
Pengaruh iritan dari debu yang berbeda tidak spesifik, sehingga keadaan ini tidak dapat
secara langsung dihubungkan dengan pengaruh dari debu. Tetapi secara klinis atau dengan tes
fungsional ataupun pemeriksaan secara morfologis dapat memperlihatkan kasus di mana efek
yang timbul berasal dari debu. Pada kasus yang jarang terjadi, menunjukkan pengaruh yang
akut seperti contohnya penghirupan debu vanadium pentoksida. Lebih-lebih lagi bila paparan
bertahun-tahun, maka akan menimbulkan penyakit jantung non spesifik. Akan tetapi hal
tersebut tidak mutlak sebagai penyebab utama, karena penyakit jantung juga terkait dengan
faktor penyebab lain seperti merokok dan penggunaan tembakau.4,5

Faktor risiko pterygium


10 | P a g e

1. Usia
Prevalensi pterygium meningkat dengan pertambahan usia banyak ditemui pada usia dewasa
tetapi dapat juga ditemui pada usia anak-anak. Terdapat penelitian yang menunjukkan
pterygium terbanyak pada usia dekade dua dan tiga.
2. Pekerjaan
Pertumbuhan pterygium berhubungan dengan paparan yang sering dengan sinar UV. Oleh itu,
semua pekerjaan yang sering terpajan dengan sinar matahari berisiko untuk terkena mata
dengan pterygium.
3. Tempat tinggal
Gambaran yang paling mencolok dari pterygium adalah distribusi geografisnya. Distribusi ini
meliputi seluruh dunia tapi banyak survei yang dilakukan setengah abad terakhir
menunjukkan bahwa negara di khatulistiwa memiliki angka kejadian pterygium yang lebih
tinggi. Survei lain juga menyatakan orang yang menghabiskan 5 tahun pertama kehidupannya
pada latitude kurang dari 300 memiliki risiko penderita pterygium 36 kali lebih besar
dibandingkan daerah yang lebih selatan.
4. Herediter
Ada penelitian yang mengatakan bahwa pterygium dipengaruhi oleh faktor herediter yang
diturunkan secara autosomal dominan.

5. Faktor risiko lainnya


Kelembaban yang rendah dan mikrotrauma karena partikel-partikel tertentu seperti asap
rokok, pasir merupakan salah satu faktor risiko terjadinya pterygium.3
Penatalaksanaan Pterygium
1.

Konservatif

Penanganan pterygium pada tahap awal adalah berupa tindakan konservatif seperti
penyuluhan pada pasien untuk mengurangi iritasi maupun paparan sinar ultraviolet dengan
menggunakan kacamata anti UV dan pemberian air mata buatan/topical lubricating drops.
2.

Operatif

11 | P a g e

Pada pterygium derajat 1-2 yang mengalami inflamasi, pasien dapat diberikan obat tetes mata
kombinasi antibiotik dan steroid 3 kali sehari selama 5-7 hari. Diperhatikan juga bahwa
penggunaan kortikosteroid tidak dibenarkan pada penderita dengan tekanan intraokular tinggi
atau mengalami kelainan pada kornea.
Derajat 1: Jika pterygium hanya terbatas pada limbus kornea
Derajat 2: Jika pterygium sudah melewati limbus kornea tetapi tidak lebih dari 2 mm
melewati kornea
Pada pterigium derajat 3-4 dilakukan tindakan bedah berupa avulsi pterigium. Sedapat
mungkin setelah avulsi pterygium maka bagian konjungtiva bekas pterigium tersebut ditutupi
dengan cangkok konjungtiva yang diambil dari konjunctiva bagian superior untuk
menurunkan angka kekambuhan. Tujuan utama pengangkatan pterigium yaitu memberikan
hasil yang baik secara kosmetik, mengupayakan komplikasi seminimal mngkin, angka
kekambuhan yang rendah. Penggunaan Mitomycin C (MMC) sebaiknya hanya pada kasus
pterigium yang rekuren, mengingat komplikasi dari pemakaian MMC juga cukup berat.
Derajat 3: Jika pterygium sudah melebihi derajat dua tetapi tidak melebihi pinggiran
pupil mata dalam keadaan cahaya normal (diameter pupil sekitar 34 mm)
Derajat 4: Jika pertumbuhan pterygium sudah melewati pupil sehingga menggang
gu penglihatan
Pasca operasi pasien diberikan obat tetes mata kombinasi antibiotik dan steroid sebanyak 3
kali sehari sampai tampak tenang, yaitu sekitar 21 hari.6
Pencegahan terhadap pajanan
Upaya pencegahan terhadap paparan debu dan sinar ultraviolet dari lingkungan di
mana kita berada dapat dibagi menjadi 2 macam yaitu melalui pengukuran secara teknis
dan pemeriksaan secara medis.
Pengukuran secara teknis terutamanya ditujukan untuk proteksi seseorang khususnya di
tempat kerja. Kondisi lingkungan perlu dikontrol dengan melakukan pengukuran kadar debu
12 | P a g e

udara untuk jangka waktu tertentu dan dilakukan secara kontinu, khususnya di tempat-tempat
yang berpotensial menghasilkan debu udara sangat penting untuk mengetahui kadarnya
apakah berada di bawah atau di atas nilai ambang batas debu udara. Adapun negara yang
telah mempunyai nilai standard ambang batas debu udara adalah Turki, yaitu untuk nilai
ambang batas daerah pemumikan sebesar 350 mg/m2/hr dan untuk nilai ambang batas daerah
industri sebesar 450 mg/m2/hr.
Selanjutnya usaha supaya konsentrasi/kadar debu tidak melampaui nilai ambang batas, maka
dengan pemasangan alat penyedot udara akan sangat membantu untuk kontrol kadar debu
udara pada suatu ruangan. Untuk proteksi bagi pekerja dengan kondisi lingkungan yang
potensial menghasilkan debu yang banyak, diharuskan memakai alat pelindung diri, terutama
alat pelindung terhadap organ pernafasan sebagai jalan masuknya debu udara ke dalam tubuh.
Penggunaan masker merupakan salah satu alat untuk proteksi diri terhadap debu. Masker
yang digunakan hendaknya disesuaikan ukurannya dengan pekerja yang memakainya,
sehingga pemakaian masker tidak terasa mengganggu aktivitas dan kenyamanan
pemakainnya.
Untuk mengelakkan radiasi sinar matahari yang berlebihan, dapat dipakai sunblock, atau
pakaian yang menutupi kulit. Jangan keluar di waktu-waktu siang karena paparan matahari
pada saat ini adalah maksimum.
Proteksi secara medis dilakukan dengan pemeriksaan status kesehatan seseorang yang
terpapar secara teratur, dan biasanya dilakukan oleh dokter perusahaan. Upaya ini merupakan
suatu langkah untuk mengetahui dan monitor kondisi kesehatan pekerja serta sebagai suatu
deteksi awal terhadap problem kesehatan yang mungkin ditemui.
Pemeriksaan status kesehatan tersebut meliputi pemeriksaan secara fisik dan biologis (tes
laboratorium). Pemeriksaan kesehatan yang lengkap akan memberikan bukti yang akurat dari
pekerja yang terpapar sehingga dapat membantu dokter dalam menentukan diagnosa penyakit
yang mungkin timbul akibat kerja.3,7
Kesimpulan
Kesimpulannya, diagnosis okupasi ditegakkan dengan 7 langkah diagnosis penyakit akibat
okupasi. Pasien didiagnosa terkena penyakit pterygium akibat penyakit yang berkaitan
dengan pekerjaan beliau sebagai pedagang mi ayam. Pajanan yang dialami seperti sinar
ultraviolet dan debu diinvestigasi apakah berperan secara langsung atau tidak langsung
13 | P a g e

dengan kejadian pterygium. Walaubagaimana pun, diagnosa okupasi tidak boleh ditegakkan
dengan mudah tanpa adanya bukti-bukti pajanan yang kaitan antara pajanan dengan penyakit
yang dialami secara sahih.

Daftar pustaka
1. J. Jeyaratnam, Koh D. Buku ajar praktik kedokteran kerja. Penerbit buku kedokteran ecg,
Jakarta. 1996; hal.1-17.
2. Jonathan Gleadle. At a glance anamnesis dan pemeriksaan fisik. Penerbit erlangga. Jakarta.
2007; h.44-5
3. Suyono, Joko. Deteksi dini penyakit akibat kerja. Penerbit buku kedokteran ecg, Jakarta.
1993; hal. 56-70.
4. Tylor H. Pterygium. Spb academic publishing, The hague. 2000; hal. 15-30
5. Riyadina W. Efek biologis dari paparan debu. Media litbang kesehatan, depkes ri. Vol 1 No
01, 1996. Hal. 10-13.

14 | P a g e

6. Isselbacher, dkk. Harrison prinsip-prinsip ilmu penyakit dalam / gangguan pada


penglihatan dan gerakan bola mata. Edisi 13 (1). Penerbit buku kedokteran ecg. Jakarta.
2008. h. 116-27
7. Harrington M, Gill F. Buku saku kesehatan kerja. Edisi 3. Penerbit buku kedokteran ecg,
Jakarta. 1992;hal. 115-90

15 | P a g e