Anda di halaman 1dari 21

LANDASAN KEPENDIDIKAN

Tema Landasan Filosofis Pendidikan


MAKALAH
Dosen Pengampuh:Dr. Tri Suminar, M.Pd

Disusun Oleh:
Intan Permana (0701515008)
Hendra Purwanto (0701515005)

PROGRAM PASCA SARJANA


PENDIDIKAN EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2015

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI.......................................................................................................- 2 BAB I..................................................................................................................- 3 PENDAHULUAN...............................................................................................- 3 1.1

LATAR BELAKANG...........................................................................- 3 -

1.2

RUMUSAN MASALAH......................................................................- 4 -

BAB II.................................................................................................................- 5 PEMBAHASAN.................................................................................................- 5 2.1

PENGERTIAN PENDIDIKAN DAN FILSAFAT...............................- 5 -

2.1.1

Pengertian Pendidikan...................................................................- 5 -

2.1.2

Pengertian Filsafat.........................................................................- 5 -

2.2

LANDASAN FILOSOFI DAN PENDIDIKAN..................................- 6 -

2.2.1
2.3

Struktur Landasan Filosofis Pendidikan........................................- 8 -

ALIRAN LANDASAN FILOSOFIS PENDIDIKAN..........................- 9 -

2.4
PANCASILA SEBAGAI LANDASAN FILOSOFI PENDIDIKAN
NASIONAL...................................................................................................- 18 2.4.1

Implikasi Terhadap Pendidikan...................................................- 18 -

BAB III..............................................................................................................- 21 KESIMPULAN.................................................................................................- 21 DAFTAR PUSTAKA........................................................................................- 22 -

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

LATAR BELAKANG
Landasan filosofis pendidikan perlu dikuasai oleh para pendidik,
adapun alasannya antara lain: Pertama, karena pendidikan bersifat normatif,
maka dalam rangka pendidikan diperlukan asumsi yang bersifat normatif
pula. Asumsi-asumsi pendidikan yang bersifat normatif itu antara lain dapat
bersumber dari filsafat. Landasan filosofis pendidikan yang bersifat
preskriptif dan normatif akan memberikan petunjuk tentang apa yang
seharusnya didalam pendidikan atau apa yang dicita-citakan dalam
pendidikan. Kedua, bahwa pendidikan tidak cukup dipahami hanya melalui
pendekatan ilmiah yang bersifat parsial dan deskriptif saja, melainkan perlu
dipandang pula secara holistik. Adapun kajian pendidikan secara holistik
dapat diwujudkan melalui pendekatan filosofis.
Di dalam khasanah teori pendidikan terdapat berbagai aliran filsafat
pendidikan, antaralain Idealisme, Realisme, Pragmatisme, dsb. Namun
demikian, bangsa Indonesia sesungguhnya memiliki filsafat pendidikan
nasional tersendiri, yaitu filsafat pendidikan yang berdasarkan Pancasila.
Sehubungan dengan hal ini berbagai aliran filsafat pendidikan perlu kita
pelajari, namun demikian bahwa pendidikan yang kita selenggarakan
hendaknya tetap berlandaskan Pancasila. Pemahaman atas berbagai aliran
filsafat pendidikan akan dapat membantu Anda untuk tidak terjerumus ke
dalam aliran filsafat lain. Disamping itu, sepanjang tidak bertentangan
dengan nilai-nilai Pancasila, kita pun dapat mengambil hikmah dari berbagai
aliran filsafat pendidikan lainnya, dalam rangka memperkokoh landasan
filosofis pendidikan kita. Dengan memahami landasan filosofis pendidikan
diharapkan tidak terjadi kesalahan konsep tentang pendidikan yang akan
mengakibatkan terjadinya kesalahan dalam praktek pendidikan.

1.2

RUMUSAN MASALAH.
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai
berikut:
1. Pengertian Pendidikan
2. Pengertian Filsafat
3. Landasan Filosofis Pendidikan
4. Pancasila sebagai Landasan Filosofis Pendidikan Nasional.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 PENGERTIAN PENDIDIKAN DAN FILSAFAT
2.1.1 Pengertian Pendidikan
Pendidikan adalah usaha sadar dan sistematis untuk mencapai
taraf hidup atau kemajuan yang lebih baik.Secara etimologi atau asal usul
kata. Kata pendidikan dalam bahasa Inggris disebut education yang
berasal dari bahasa latin yaitu educatum Kata Education sering juga
dihubungkan

dengan

Edurece

(Latin)

yang

berarti

dorongan

(propulsion) dari dalam keluar. Artinya untuk memberikan pendidikan


melalui perubahan yang diusahakan melalui latihan.Artinya untuk
memberikan pendidikan melalui perubahan yang diusahakan melalui
latihan ataupun praktik.Oleh karena itu definisi pendidikan mengarahkan
untuk sesuatu perubahan terhadap seseorang untuk menjadi lebih baik.
Diartikan juga, pendidikan adalah proses yang dilakukan seumur
hidup (life-long) yang dimulai dari seseorang lahir hingga kematiannya,
yang membuat seseorang bersemangat dalam mewujudkan warga Negara
yang ideal dan mengajarkannya bagaimana cara memimpin dan
mematuhi yang benar. Pendidikan juga diartikan bahwa pendidikan tidak
hanya menyediakan ilmu pengetahuan dan kemampuan, akan tetapi nilai,
pelatihan insting, akan membina tingkah laku dan sikap yang benar.
Pendidikan yang sejati (true education), akan memiliki kecenderungan
terbesar dalam membentuk manusia yang beradab dan memanusiakan
manusia dalam hubungan mereka bermasyarakat dan mereka yang berada
dalam perlindungannya.
2.1.2

Pengertian Filsafat
Istilah dari filsafat berasal dari bahasa Yunani: philosophia yang
terdiri dari dua kata yaitu philein (cinta) dan Sophia (Kebijaksanaan). Jadi
secara etimologis filsafat adalah cinta kepada kebijaksanaan (Dagobert D.
Runes, 1981).Menurut Cicero mengatakan ibu dari semua seni (the
mother of all the arts juga didefinisikan bahwa filsafat sebagai art vitae

(seni kehidupan). Adapun secara operasional filsafat mengandung dua


pengertian, yakni sebagai proses (berfilsafat) dan sebagai hasil berfilsafat
(system teori dan pemikiran).di pihak lain jika ditinjau secara leksikal
filsafat berarti sikap hidup atau pandangan hidup. Hal ini sebagaimana
dinyatakan dalam Kamus Besar Berbahasa Inodensia (Balai Pustaka,
1995).
2.1.2.1 Sistematika/ Cabang-Cabang Filsafat
Secara garis besar cabang filsafat terdiri dar:
1) Metafisika adalah cabang filsafat yang mempelajari atau membahas
hakikat

realitas

(segal

asesuatu

yang

ada)

secara

menyeluruh

(komprehensif).
2) Epistemologi adalah cabang filsafat yang mempelajari atau membahas
tentang hakikat pengetahuan. Persoalan yang dibahas dalam epistemology
antara lain mengenai sumber-sumber pengetahuan, cara-cara memperoleh
pengetahuan, kriteria kebenaran pengetahuan, dsb.
3) Logika adalah cabang filsafat yang mempelajari atau membahas tentang
asas-asas, aturan-aturan, prosedur dan kriteria penalaran (berpikir) yang
benar. Logika antara lain membahas tentang bagaimana cara berpikir yang
tertib agar kesimpulan-kesimpulannya benar.
4) Aksiologi adalah cabang filsafat yang mempelajari atau membahas
tentang hakikat nilai. Aksiologi terdiri dari Etika adalah cabang filsafat
(bagian aksiologi) yang mempelajari atau membahas tentang hakikat
baik jahatnya perbuatan manusia; dan Estetika adalah cabang filsafat
(bagian aksiologi) yang mempelajari atau membahas tentang hakikat
seni(art) dan keindahan (beauty).
2.2 LANDASAN FILOSOFI DAN PENDIDIKAN
Landasan filosofis pendidikan adalah filsafat yang diaplikasikan di
bidang pendidikan untuk menelaah masalah-masalah pendidikan atau
seperangkat asumsi yang bersumber dari filsafat yang dijadikan titik tolak
dalam pendidikan. Filsafat pendidikan akan menjawab tiga pertanyaan
pokok sebagai berikut: (Ateng Sutisna, 1990)
1. Apakah pendidikan itu?

2. Apa yang hendak dicapai?


3. Bagaimana cara yang terbaik merealisasikan tujuan-tujuan itu?
Zanti Arbi (1988) menceritakan tentang maksud filsafat
pendidikan sebagai berikut:
1. Menginspirasi
Memberi inspirasi kepada pendidik untuk melaksanakan ide
tertentu dalam pendidikan. Melalui filsafat tentang pendidikan, filosof
memaparkan idenya bagaimnan pendidikan itu, kemana diarahkan
pendidikan itu, siapa saja yang patut menerima pendidikan, dan
bagaimana cara mendidik serta peran pendidik
2. Menganalisis
Memeriksa secara teliti bagian-bagian pendidikan agar dapat
diketahui secara jelas validitasnya. Hal ini perlu dilakukan agar dalam
menyusun konsep pendidikan secara utuh tidak terjadi kerancuan,
tumpang tindih, serta arah yang simpang siur. Dengan demikian ide-ide
yang kompleks bisa dijernihkan terlebih dahulu, tujuan pendidikan
yang jelas, dan alatalatnya juga dapat ditentukan yang tepat.
3. Mempreskiptifkan
Upaya menjelaskan atau memberi pengarahan kepada pendidik
melalui filsafat pendidikan. Yang dijelaskan adalah cara-cara
mengaplikasikan pendidikan yang mencakup: proses perkembangan itu
sendiri, batas-batas bantuan yang bisa diberikan kepada proses
perkembangan itu sendiri, batas-batas keterlibatan pendidk, arah
pendidikan yang jelas, target-target pendidikan bila diperlukan sesuai
dengan kemampuan, bakat, dan minat anak-anak.
4. Menginvestigasi
Memeriksa atau meneliti kebenaran suatu teori pendidikan.
Pendidik tidak dibenarkan mengambil begitu saja suatu konsep atau
teori pendidikan untuk dipraktikan di lapangan atau melalui penelitianpenelitian. Untuk sementara filsafat pendidikan bisa dipakai latar
pengetahuan saja, selanjutnya setelah pendidik berhasil menemukan
konsep, barulah filsafat pendidikan dimanfaatkan untuk mengevaluasi
atau sebagai pembanding, untuk kemungkinan sebagai bahan merevisi
agar konsep pendidikan itu menjadi lebih mantap.

2.2.1

Struktur Landasan Filosofis Pendidikan


Landasan filosofis pendidikan sesungguhnya merupakan suatu
sistem gagasan tentang pendidikan yang dideduksi atau dijabarkan dari
suatu sistem gagasan filsafat

umum (Metafisika, Epistemologi,

Aksiologi) yang dianjurkan oleh suatu aliran filsafat tertentu. Hal ini
dapat dipahami sebagaimana disajikan oleh Callahan and Clark (1983)
dalam karyanya Foundations of Education, dan sebagaimana disajikan
Edward J.Power (1982) dalam karyanya Philosophy of Education,
Studies in Philosophies, Schooling and Educational Policies.
Berdasarkan kedua sumber diatas dapat anda pahami bahwa
terdapat hubungan implikasi antara gagasan-gagasan dalam cabangcabang filsafat umum terhadap gagasan-gagasan pendidikan. Hubungan
implikasi antara gagasan-gagasan dalam cabang-cabang filsafat umum
terdapat gagasan pendidikan tersebut dapat divisualisasikan seperti
berikut ini:

2.3 ALIRAN LANDASAN FILOSOFIS PENDIDIKAN


Sebagaimana halnya di dalam filsafat umum, di dalam landasan
filsafat pendidikan juga terdapat berbagai aliran :
1. Filsafat pendidikan Idealisme
a.

Realitas
8

Filsafat idealisme memandang bahwa realitas akhir adalah roh,


bukan materi, bukan fisik.Parmenides, filosof dari Elea (Yunani
Purba) berkata, Apa yang tidak dapat dipikirkan adalah tidak nyata.
Plato, seorang filosof idealisme klasik (Yunani Purba) menyatakan
bahwa realitas terakhir adalah dunia cita. Dunia cita merupakan dunia
mutlak, tidak berubah, dan asli serta abadi. Realitas akhir tersebut
sebenarnya telah ada sejak semula pada jiwa manusia.
Hakikat manusia adalah jiwanya, rohaninya, yakni apa yang
disebut mind. Mind merupakan suatu wujud yang mampu
menyadari dunianya, bahkan sebagai pendorong dan penggerak semua
tingkah laku manusia. Jiwa (mind) merupakan faktor utama yang
menggerakkan semua aktivitas manusia, badan atau jasmani tanpa
jiwa tidak memiliki apa-apa.
Pandangan tentang anak, kaum idealis yakin bahwa anak
merupakan bagian dari alam spiritual yang memiliki pembawaan
spiritual sesuai dengan potensinya. Apabila anak mempelajari dunia
alamiah, maka ia akan melibatkan atau menganggapnya sebagai mesin
yang hebat dan besar, yang berfungsi tanpa isi dan tujuan.
b. Pengetahuan
Tentang

teori

pengetahuan,

idealisme

mengemukakan

pandangannya bahwa pengetahuan yang diperoleh melalui indera


tidak pasti dan tidak lengkap, karena dunia hanyalah merupakan tiruan
belaka, sifatnya maya, yang menyimpang dari kenyataan yang
sebenarnya.Pengetahuan yang benar hanya merupakan hasil akal
belaka, karena akal dapat membedakan bentuk spiritual murni dari
benda-benda di luar penjelmaan material.
c.

Nilai
Menurut pandangan idealisme, nilai itu absolut.Apa yang
dikatakan baik, benar, salah, cantik atau tidak cantik, secara
fundamental tidak berubah dari generasi ke generasi. Pada haikatnya

nilai itu tetap.Nilai tidak diciptakan manusia, melainkan merupakan


bagian dari alam semesta.
d. Pendidikan
Dalam hubungannya dengan pendidikan, idealisme memberi
sumbangan yang besar terhadap perkembangan teori pendidikan,
khususnya filsafat pendidikan. Tokoh idealisme merupakan orangorang yang memiliki nama besar. Sampai sekarang orang akan
mengakui kebesaran hasi pemikirannya, baik memberikan perstujuan
maupun memberikan kritik bahkan pemikiran.
Seorang

guru

yang

menganut

paham

idealism

harus

membimbing atau mendiskusikan bukan sebagai prinsip-prinsip


eksternal kepada siswa, melainkan sebagai kemungkinan (batin) yang
perlu dikembangkan. Guru idealis juga harus mewujudkan sedapat
mungkin watak yang terbaik. Socrates, Plato, dan Kant yakin bahwa
pengetahuan yang terbaik adalah pengetahuan yang dikeluarkan dalam
diri siswa, bukan dimasukkan atau dijejalkan ke dalam diri siswa.
Power (dalam uyoh,2011:102) mengemukakan implikasi filsafat
pendidikan idealisme sebagai berikut:
1) Tujuan pendidikan
Pendidikan formal dan informal bertujuan membentuk karakter, dan
mengembangkan bakat atau kemampuan dasar, serta kebaikan sosial
2) Kedudukan siswa
Bebas untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan dasarnya
atau bakatnya.
3) Peranan guru
Bekerjasama dengan alam dlam proses pengembanagn manusia,
terutama

bertangguing

jawab

dalam

menciptakan

lingkungan

pendidikan siswa.
4) Kurikulum
Pendidikan liberal untuk pengembangan kemampuan rasional, dan
pendidikan praktis untuk memperoleh pekerjaan

10

5) Metode
Diutamakan metode dialektika, tetapi metode lain yang efektif dapat
dimanfaatkan.
2. Filsafat pendidikan Realisme
Pada dasarnya realism merupakan filsafat yang memandang realitas
secara dualitis.realisme berbeda dengan materialisme dan idealisme yang
bersifat monistis. realisme berpendapat bahwa hakikat realitas ialah terdiri
atas dunia fisik dan dunia rohani. realisme membagi realitas menjadi dua
bagian, yaitu subjek yang menyadari dan mengetahui di satu pihak, dan
dipihak lainnya adlah adanya realita di luar manusia, yang dapat dijadikan
sebagai objek pengetahuan manusia.
Power (dalam uyoh,2011:112) mengemukakan implikasi filsafat
pendidikan Realisme sebagai berikut:
1) Tujuan pendidikan
Penyesuaian hidup dan tanggung jawab sosial
2) Kedudukan siswa
Dalam hal pelajaran, menguasai pengetahuan yang handal, dapat
dipercaya. Dalam hal disiplin, peraturan yang baik dalah esensial
untuk belajar. Disiplin mental dan moral dibutuhkan untuk
memperoleh hasil yang baik
3) Peranan guru
Menguasai pengetahuan, terampil dalam teknik mengajar dan dengan
keras menuntut prestasi dari siswa.
4) Kurikulum
Kurikulum komprehensif mencakup semua pengetahuan yang
berguna. Berisikan pengetahuan liberal dan pengetahuan praktis.
5) Metode
Belajar tergantung pada pengalaman, baik langsung atau tidak
langsung. Metode penyampaian harus logis dan psikologis. Metode

11

Conditioning (SR) merupakan metode utama bagi realisme sebagai


pengikut behaviorisme.
3. Filsafat pendidikan Pragmatisme
Istilah pragmatism berasal dari perkataan pragma artinya praktik
atau aku berbuat. Maksudnya bahwa makna segala sesuatu tergantung dari
hubungannya dengan apa yang dilakukan.
Power (dalam uyoh,2011:133) mengemukakan implikasi filsafat
pendidikan Pragmatisme sebagai berikut:
1) Tujuan pendidikan
Memberi pengalaman untuk penemuan hal-hal baru dalam hidup
sosila dan pribadi.
2) Kedudukan siswa
Suatu organisme yang memiliki kemampuan yang luar biasa dan
kompleks untuk tumbuh
3) Peranan guru
Mengawasi dan membimbing pengalaman belajar siswa, tanpa
mengganggu minat dan kebutuhannya.
4) Kurikulum
Berisi pengalaman yang teruji yang dapat diubah.Minat dan
kebutuhan

siswa

yang

kurikulum.Menghilangkan

dibawa

kesekolah

perbedaan

antara

dapat

menentukan

pendidikan

liberal

dengan pendidikan praktis atau pendidikan jabatan.


5) Metode
Metode aktif, yaitu learning by doing (belajar sambil bekerja)
4. Filsafat pendidikan Eksistensialisme
Filsafat eksistensialisme itu unik yakni memfokuskan pada
pengalaman-pengalaman

individu.

Secara

umum,

eksistensialisme

menekankan pilihan kreatif, subyektivitas pengalaman manusia, dan

12

tindakan kongkret dari keberadaan manusia atas setiap skema rasional


untuk hakikat manusia atau realitas.
Power (dalam uyoh,2011:140) mengemukakan implikasi filsafat
pendidikan Eksistensialisme sebagai berikut:
1) Tujuan pendidikan
Memberi bekal pengalaman yang luas dan komprehensif dalam semua
bentuk kehidupan
2) Status siswa
Makhluk rasional dengan pilihan bebas dan tanggung jawab atas
pilihannya.Suatu komitmen terhadap pemenuhan tujuan pribadi.
3) Peranan guru
Melindungi dan memelihara kebebasan akademik, di mana mungkin
guru pada hari ini, besok lusa mungkin menjadi murid.
4) Kurikulum
Yang

diutamakan

adalah

kurikulum

liberal.Kurikulum

liberal

merupakan landasan bagi kebebasan manusia.Kebebasan memiliki


aturan-aturan.Oleh karena itu, di sekolah diajarkan pendidika sosial,
untuk mengajar respek (rasa hormat) terhadap kebebasan untuk
semua. Respek terhadap kebebasan bagi yang lain adalah esensial.
Kebebasan dapat menimbulkan konflik.
5) Metode
Belajar tergantung pada pengalaman, baik langsung atau tidak
langsung.Metode penyampaian harus logis dan psikologis.Metode
Conditioning (SR) merupakan metode utama bagi realisme sebagai
pengikut behaviorisme.
5. Filsafat pendidikan Progresivisme
Progresivisme bukan merupakan suatu bangunan filsafat atau lairan
filsafat yang berdiri sendiri, melainkan merupakan suatu gerakan dan
perkumpulan yang didirikan pada tahun 1918.

13

Gerakan progresif terkenal luas karena reaksinya terhadap


formalism dan sekolah tradisional yang membosankan, yang menekankan
disiplin keras, belajar pasif, dan banyak hal-hal kecil yang tidak
bermanfaat dalam pendidikan. Lebih jauh gerakan ini dikenal karena
dengan himbauannya kepada guru-guru: kami mengharapkan perubahan,
serta kemajuan yang lebih cepat setelah perang dunia pertama. Banyak
guru yang mendukungnya, sebab gerakan pendidikan progresivisme
merupakan semacam kendaraan mutakhir untuk digelarkan. Kritik
terhadap Progresivisme:
1) Siswa tidak mempelajari warisan sosial, mereka tidak mengetahui apa
yang seharusnya diketahui oleh orang terdidik.
2) Mengabaikan kurikulum yang telah ditentukan, yang menjadi tradisi
sekolah
3) Mengurangi bimbingan dan pebgaruh guru. Siswa memilih aktivitas
sendiri
4) Siswa menjadi orang yang mementingkan diri sendiri, ia menjadi
manusia yang tidak memiliki self discipline, dan tidak mau berkorban
demi kepentingan umum.
6. Filsafat pendidikan Perenialisme
Perenialisme merupakan suatu aliran dalam pendidikan yang lahir
pada abad kedua puluh. Perenialisme menentang pandangan progresivisme
yang menekankan perubahan dan sesuatu yang baru. Perenialisme
memandang situasi dunia dewasa ini penuh kekacauan, ketidakpastian, dan
ketidakaturan, terutama dalam kehidupan moral, intelektual, dan sosiokultural. Oleh karena itu, perlu ada usaha untuk mengamankan
ketidakberesan itu.
Beberapa prinsip pendidikan perenialisme secara umum, yaitu:
1) Walaupun perbedaan lingkungan, namun pada hakikatnya manusia di
mana pun dan kapan pun ia berada adalah sama. Tujuan pendidikan adalah
sama dengan tujuan hidup, yaitu untuk mencapai kebijakan dan kebajikan.

14

Pendidikan harus sama bagi semua orang, di mana pun dan kapan pun ia
berada, begitu pula tujuan pendidikan harus sama, yaitu memperbaiki
manusia sebagai manusia.
2) Rasio merupakan atribut manusia yang paling tinggi. Manusia harus
menggunakannya untuk mengarahkan sifat bawaannya, sesuai dengan
tujuan yang ditentukan. Manusia adalah bebas, namun mereka harus
belajar untuk memperluas pikiran dan mengontrol seleranya.
3) Tugas pendidikan adalah memberikan pengetahuan tentang kebenaran
yang pasti dan abadi. Kurikulum diorganusasi dan ditentukan terlebih
dahulu oleh orang dewasa, dan ditujukan untuk melatih aktivitas akal,
untuk mengembangkan akal.
4) Pendidikan bukan merupakan peniruan dari hidup. Melainkan
merupakan suatu persiapan untuk hidup.
5) Siswa seharusnya mempelajari karya-karya besar dalam literatur yang
menyangkut sejarah, filsafat, seni, begitu juga dalam literatur yang
berhubungan dengan kehidupan social, terutama politik dan ekonomi.
7. Filsafat pendidikan Esensialisme
Esensialisme suatu filsafat pendidikan konservatif yang pada
mulanya dirumuskan sebagai suatu kritik terhadap trend-trend progresif di
sekolah-sekolah.
Esensialisme,

yang

memiliki

beberapa

kesamaan

dengan

perenialisme, berpendapat bahwa kultur kita telah memiliki suatu inti


pengetahuan umum yang harus diberikan di sekolah-sekolah kepada para
siswa dalam suatu cara yang sistematik dan berdisiplin.
Power (dalam uyoh,2011:165) mengemukakan implikasi filsafat
pendidikan Esensialisme sebagai berikut:
1) Tujuan pendidikan
Transmisi kebudayaan untuk menentukan solidaritas social dan
kesejahteraan umum
2) Kedudukan siswa

15

Sekolah bertanggung jawab atas pemberian pengajaran yang logis atau


dapat dipercaya. Sekolah berkuasa untuk menuntut hasil belajar siswa.
Siswa belajar ke sekolah untuk belajar, bukan untuk mengatur
pelajaran.
3) Peranan guru
Guru harus terdidik. Secara moral ia merupakan orang yang dapat
dipercaya, dan secara teknis harus memiliki kemahiran dalam
mengarahkan proses belajar.
4) Kurikulum
Di pendidikan dasar berupa membaca, menulis, berhitung.Keterampilan
berkomunikasi adalah esensial untuk mencapai prestasi skolastik dan
hidup sosial yang layak. Kurikulum sekolah berisikan apa yang harus
diajarkan.
5) Metode
Metode tradisional, menekankan pada inisiatif guru.
8. Filsafat pendidikan Rekonstruksionalisme
Rekonstruksionalisme

merupakan

kelanjutan

dari

gerakan

progresivisme.Gerakan ini lahir didasari atas suatu anggapan bahwa kaum


progresif hanya memikirkan dan melibatkan diri dengan masalah-masalah
masyarakat yang ada pada saat sekarang ini.
Power (dalam uyoh,2011:171) mengemukakan implikasi filsafat
pendidikan Rekonstruksionalisme sebagai berikut:
1) Tema
Pendidikan merupakan usaha sosial.Misi sekolah adalah untuk
meningkatkan rekonstruksi sosial.
2) Tujuan pendidikan
Pendidikan bertanggung jawab dalam menciptakan aturan sosial yang
ideal.Transmisi budaya adalah budaya esensial dalam masyarakat yang
majemuk. Transmisi budaya harus mengenal fakta budaya yang majemuk
tersebut

16

3) Kedudukan siswa
Nilai-nilai budaya siswa yang dibawa ke sekolah merupakan hal yang
berharga. Keluhuran pribadi dan tanggung jawab sosial ditingkatkan,
manakala rasa hormat diterima semua latar belakang budaya
4) Peranan guru
Guru harus menunjukkan rasa hormat yang sejati (ikhlas) terhadap semua
budaya, baik dalam memberi pelajaran maupun dalam hal lainnya. Pelajaran
sekolah harus mewakili budaya masyarakat.
5) Kurikulum
Kurikulum sekolah tidak boleh didominasi oleh budaya mayoritas maupun
oleh budaya yang ditentukan atau disukai.Semua budaya dan nilai-nilai yang
berhubungan berhak untuk mendapatkan tempat dalam kurikulum.

6) Metode
Sebagai kelanjutan dari pendidikan progresif, metode aktivitas dibenarkan
(learning by doing)

2.4 PANCASILA

SEBAGAI

LANDASAN

FILOSOFI

PENDIDIKAN

NASIONAL
Pancasila adalah dasar Negara Republik Indonesia. Pancasila yang
dimaksud adalah pancasila yang rumusannya termaktub dalam Pembukaan
UUD 1945. Karena Pancasila adalah dasar negara Indonesia, implikasinya
maka Pancasila juga adalah dasar pendidikan nasional. Hal ini sejalan dengan
pasal 2 UU RI No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang
menyatakan

bahwa:

Pendidikan

nasional

adalah

pendidikan

yang

berdasarkan Pancasila dan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945.


a. Epistimologi
Hakikat Pengetahuan : Segala pengetahuan hakikatnya bersumber
dari sumber pertama yaitu Tuhan YME. Manusia dapat memperoleh
pengetahuan

melalui

keimanan/kepercayaan,

empiris, penghayatan, dan intuisi.


b. Aksiologis

17

berpikir,

pengalaman

Hakikat Nilai : Sumber pertama segala nilai hakikatnya adalah


Tuhan YME. Karena manusia adalah makhluk Tuhan, Pribadi/individual
dan sekaligus insan sosial, maka hakikat nilai diturunkan dari Tuhan YME,
masyarakat dan individu.
2.4.1

Implikasi Terhadap Pendidikan


Pendidikan. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik
secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan
spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak
mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan
negara (Pasal 1 UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional).
Tujuan Pendidikan. Pandangan Pancasila tentang hakikat realitas,
manusia, pengetahun dan hakikat nilai mengimplikasikan bahwa
pendidikan seyogyanya bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta
didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan
YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan
menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Hal ini
ditergaskan dalam Pasal 3 UU RI No. 20 Tahun 2003.
Kurikulum Pendidikan. Kurikulum disusun sesuai dengan jenjang
pendidikan dalam kerangka NKRI dengan meperhatikan:
a. Peningkatan iman dan takwa
b. Peningkatan akhlak mulia
c. Peningkatan potensi, kecerdasan, dna minat peserta didik
d. Keragaman potensi daerah dan lingkungan
e. Tuntutan pembangunan daerah dan nasional
f. Tuntutan dunia kerja
g. Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni
h. Agama
i. Dinamika perkembangan global
j. Persatuan nasional dan nilai-nilai kebnagsaan.
Ketentuan mengenai pengembangan kurikulum sebagaimana
dimaksud di atas diatur lebih lanjut denga Peraturan Pemerintah (Pasal 36
UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional).
Metode Pendidikan. Pemilihan dan aplikasi metode pendidikan hendaknya
dilakukan dengan mempertimbangkan tujuan pendidikan yang hendak
18

dicapai, hakikat manusia atau peserta didik, karakteristik isi/materi


pendidikan, dan fasilitas alat bantu pendidikan yang tersedia. Pengunaan
metode pendidikan diharapkan memperhatikan prinsip cara belajar siswa
aktif (CBSA) dan sebaiknya bersifat multi metode.
Peranan Pendidikan dan Peserta Didik. Peran pendidik dan peserta didik
tersurat dan tersirat dalam semboyan: ing ngarso sung tulodo artinya
pendidik harus memberikan atau menjadi teladan bagi peserta didiknya,
ing madya mangun kurso artinya pendidik harus mampu membangun
karsa pada diri peserta didiknya, dan tut wuri handayani artinya bahwa
sepanjang tidak berbahaya pendidik harus mampu memberi kebebasan
atau kesempatan kepada peserta didik untuk belajar mandiri.
Orientasi Pendidikan. Pendidikan memilki dua fungsi utama yaitu, fungsi
konservasi dan fungsi kreasi. Fungsi konservasi diandasi asumsi bahwa
terdapat nilai-nilai, pengetahuan, norma, kebiasaan-kebiasaan yang
dijunjung tinggi dan dipandang berharga untuk tetap dipertahankan.
Adapun fungsi kreasi dilandasi asumsi bahwa realitas tidaklah bersifat
(given) dan telah selesai sebagaimana diajarkan oleh sains modern,
melainkan semua anggota semesta ikut berpartisipasi dalam mewujudkan
realitas. Dalam konteks ini hakikat pendidikan seyogyanya diletakkan ada
upaya-upaya untuk menggali dan mengembangkan potensi para pelajar
agar mereak tidak saja mampu memahami perubahan tetapi mampu
berperan sebagai agen perubahan atau perajut realitas.

19

BAB III
KESIMPULAN
Landasan filosofis pendidikan adalah filsafat yang diaplikasikan di
bidang pendidikan untuk menelaah masalah-masalah pendidikan atau
seperangkat asumsi yang bersumber dari filsafat yang dijadikan titik tolak
dalam pendidikan. Filsafat pendidikan akan menjawab tiga pertanyaan
pokok yaitu, Apakah pendidikan itu? Apa yang hendak dicapai? Dan
Bagaimana cara yang terbaik merealisasikan tujuan-tujuan itu?.
Aliran-aliran filsafat pendidikan yang memiliki pengaruh terhadap
pengembangan pendidikan antara lain Idealisme, Realisme, Matrealisme,
Pragmatisme, Eksistensialisme, Progresivisme, perenialisme, Esensialisme,
dan Rekonstruksionalisme.
Landasan
keputusanserta

filsafat
perbuatan

pendidikan
pelaksanaan

tercermin

di

tugas-tugas

dalam
keguruan,

semua
baik

instrksional maupun non instruksional atau dengan pendekatan lain. Semua


keputusan serta perbuatan guru yang dimaksud bersifat pendidikan.
Pancasila adalah dasar negara Indonesia, maka Pancasila juga
merupakan dasar pendidikan nasional yang tercantum pada pasal 2 UU RI
No. 20 tahun 2003 bahwa: Pendidikan nasional adalah pendidikan yang
berdasarkan Pancasila dan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

20

DAFTAR PUSTAKA
Buku:
Rasyidin, Waini dkk. (2009). Landasan Pendidikan. Bandung: UPI.
Pidarta, Made. (2013). Landasan Kependidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Undang-Undang:
Undang-Undang No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Sumber Lain:
Purwandari, Elce. (2015). Aliran-aliran Filsafat Pendidikan. [Online]. Tersedia:
http://purwandarielce.blogspot.co.id [Agustus 2015]

21

Anda mungkin juga menyukai