Anda di halaman 1dari 21

Remidi IPA Terapan

Nama : Sita Dwi Cahyani


Kelas : XI BB 2
1.Reaksi Redoks
Reaksi redoks adalah reaksi kimia yang disertai perubahan bilangan oksidasi atau reaksi yang di
dalamnya terdapat serah terima elektron anatar zat. Reaksi redoks sederhana dapat disetarakan dengan
mudah tanpa metode khusus, seperti yang telah dijelaskan di kelas X. akan tetapi untuk reaksi yang
cukup kompleks, ada dua metode yang dapat digunakan untuk meyetarakannnya, yaitu:
1. Metode bilangan oksidasi, yang digunakan untuk reaksi yang berlangsung tanpa atau dalam air, dan
memiliki persamaan reaksi lengkap (bukan ionik).
2. Metode setengah reaksi (metode ion elektron), yang digunakan untuk reaksi yang berlangsung dalam
air dan memiliki persamaan ionik.
Meyetarakan persamaan Reaksi Redoks
1. Metode bilangan oksidasi
Prinsip dasar metode ini adalah jumlah kenaikan bilangan oksidasi dari reduktor (zat yang teroksidasi)
sama dengan jumlah penurunan bilangan reduksi dari oksidator (zat yang tereduksi). Untuk
menyetarakan persamaan redoks dengan metode ini, harus ditempuh langkah-langkah sebagai berikut:
1. Tulislah bilangan oksidasi setiap unsur untuk mengetahui unsur mana yang mengalami perubahan
bilangan oksidasi.
2. Setarakan jumlah unsur yang mengalami perubahan bilangan oksidasi antara ruas kiri dengan ruas
kanan dengan menambah koefisien yang tepat.
3. Tentukan jumlah berkurang dan bertambahnya bilangan oksidasi.
4. Setarakan jumlah perubahan jumlah bertambah dan berkurangnya bilangan oksidasi tersebut dengan
memberi koefisien yang sesuai.
5. Setarakan unsur-unsur yang lainnya dalam urutan kation, anion, hidrogen, dan terakhir oksigen
(KAHO).
Untuk lebih jelasnya, perhatikanlah contoh berikut:
Setarakan reaksi berikut dengan metode bilangan oksidasi:
MnO(s) + PbO2 (s) + HNO3 (aq) HMnO4(aq) + Pb(NO3)2 (aq)+ H2O(l)
Jawab:
Langkah 1, tulislah bilangan oksidasi setiap unsur untuk mengetahui unsur mana yang mengalami
perubahan bilangan oksidasi.
+2 -2 +4 -2 +1 +5 -2 +1 +7 -2 +2 +5 -2 +1 -2
MnO(s) + PbO2 (s) + HNO3 (aq) HMnO4(aq) + Pb(NO3)2 (aq)+ H2O(l)
oksidasi
reduksi

Langkah 2, setarakan jumlah unsur yang mengalami perubahan bilangan oksidasi antara ruas kiri
dengan ruas kanan dengan menambah koefisien yang tepat.
Terdapat 1 atom Mn di ruas kanan dan kiri, sehingga tidak perlu disetarakan
Terdapat 1 atom Pb di ruas kanan dan kiri, sehingga tidak perlu disetarakan
Langkah 3, tentukan jumlah berkurang dan bertambahnya bilangan oksidasi.
Oksidasi: +2 +7
MnO HMnO4
jumlah kenaikan b.o = (jumlah atom Mn) x (kenaikan b.o per atom Mn)
= (1) x (5) = 5
Reduksi: +4 +2
PbO2 Pb(NO3)2
Jumlah penurunan b.o = (jumlah atom Pb) x (penurunan b.o per atom Pb)
= (1) x (2) = 2
Langkah 4, setarakan jumlah perubahan jumlah bertambah dan berkurangnya bilangan oksidasi tersebut
dengan memberi koefisien yang sesuai.
Untuk menyamakan perubahan bilangan oksidasi, maka dilakukan perkalian silang berikut:
Oksidasi: MnO HMnO4 (x 2) diperoleh 2MnO 2HMnO4
Reduksi: PbO2 Pb(NO3)2 (x 5) 5PbO2 5Pb(NO3)2
Persamaan reaksi menjadi:
2MnO + 5PbO2 + HNO3 2HMnO4 + 5Pb(NO3)2 + H2O
Langkah 5, setarakan unsur-unsur yang lainnya dalam urutan kation, anion, hidrogen, dan terakhir
oksigen (KAHO).
Kation, tidak ada
Anion NO3-, jumlah anion NO3- di ruas kiri = 1 dan di ruas kanan = 10. jadi setarakan NO3- dengan
mengubah koefisien HNO3 ruas kiri dari 1 menjadi 10.
2MnO + 5PbO2 + 10HNO3 2HMnO4 + 5Pb(NO3)2 + H2O
Hidrogen. Jumlah atom hidrogen di ruas kiri 10 dan di ruas kanan 4. jadi, setarakan H dengan
mengubah H2O di ruas kanan dari 4 menjadi 10.
2MnO + 5PbO2 + 10HNO3 2HMnO4 + 5Pb(NO3)2 + 4H2O
Oksigen. Jumlah atom oksigen di ruas kanan = 42 dan di ruas kiri =42. jadi sudah setara.
Jadi, persamaan yang diperoleh adalah
2MnO + 5PbO2 + 10HNO3 2HMnO4 + 5Pb(NO3)2 + 4H2O
2. Metode setengah reaksi atau metode ion elektron
Prinsip dasar metode setengah reaksi adalah pemisahan reaksi oksidasi dan reaksi reduksi dalam reaksi
redoks. Masing-masing reaksi tersebut dinamakan setengah reaksi oksidasi dan setengah reaksi reduksi.
Kedua reaksi ini kemudian disetarakan secara terpisah, sebelum digabungkan kembali untuk
memperoleh persamaan reaksi redoks yang sudah setara secara keseluruhan.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pada metode ini, yaitu:
Persamaan reaksi redoks merupakan penjumlahan dua setengah reaksi.
Jumlah elektron yang dilepaskan pada oksidasi sama dengan jumlah elektron yang ditangkap pada
reduksi.
Suasana berlangsungnya reaksi.
Metode setengah reaksi digunakan untuk reaksi redoks yang memiliki persamaan reaksi ionik dimana
serah terima elektron digambarkan dengan jelas. Pembahasan metode ini, dibagi menjadi dua kondisi,
yaitu untuk suasana asam dan suasana basa atau netral.
a. Reaksi redoks untuk larutan asam
Penyetaraan reaksi redoks untuk kondisi asam dilakukan dengan penambahan ion H+. Untuk

menyetarakan persamaan redoks pada suasana asam, harus ditempuh langkah-langkah sebagai berikut:
1. Tulislah bilangan oksidasi setiap unsur untuk mengetahui unsur mana yang mengalami perubahan
bilangan oksidasi.
2. Tulislah kerangka setengah reaksi reduksi dan oksidasinya.
3. Setarakan jumlah unsur yang mengalami perubahan bilangan oksidasi antara ruas kiri dengan ruas
kanan dengan menambah koefisien yang tepat.
4. Setarakan oksigen (O) dengan menambahkan H2O ke ruas yang kekurangan O
5. Setarakan hidrogen (H) dengan menambahkan H+ ke ruas yang kekurangan atom H
6. Setarakan muatan dengan menambahakan elektron (e-) ke ruas yang meuatannya lebih positif
7. Samakan jumlah elektron pada reaksi reduksi dan oksidasi
Untuk lebih jelasnya, perhatikanlah contoh berikut:
Setarakan reaksi berikut dengan metode setengah reaksi:
Cu(s) + NO3-(aq) + H+(aq) Cu2+(aq) + NO2 (g) + H2O (l)
Jawab:
Langkah 1, tulislah bilangan oksidasi setiap unsur untuk mengetahui unsur mana yang mengalami
perubahan bilangan oksidasi.
0 +5 -2 +1 +2 +4 -2 +1 -2
Cu(s) + NO3-(aq) + H+(aq) Cu2+(aq) + NO2 (g) + H2O (l)
oksidasi
reduksi
Langkah 2, tulislah kerangka setengah reaksi reduksi dan oksidasinya.
Reduksi: NO3- NO2
Oksidasi: Cu Cu2+
Langkah 3, setarakan jumlah unsur yang mengalami perubahan bilangan oksidasi antara ruas kiri
dengan ruas kanan dengan menambah koefisien yang tepat.
Karena jumlah atom N dan Cu sudah setara, tidak ada yang perlu dilakukan
Reduksi: NO3- NO2
Oksidasi: Cu Cu2+
Langkah 4, setarakan oksigen (O) dengan menambahkan H2O ke ruas yang kekurangan O
Reduksi: NO3- NO2 + H2O
Oksidasi: Cu Cu2+
Langkah 5, setarakan hidrogen (H) dengan menambahkan H+ ke ruas yang kekurangan atom H
Reduksi: 2H+ + NO3- NO2 +H2O
Oksidasi: Cu Cu2+
Langkah 6, setarakan muatan dengan menambahkan elektron (e-) ke ruas yang muatannya lebih positif.
Pada reaksi reduksi, muatan ruas kiri = 1 x (muatan NO3-) = 1x (3-) =3Muatan ruas kanan = 2 x (muatan H+) = 2 x (1+) = 2+
Jadi, muatan ruas kiri (3-) dan ruas kanan (2+) dapat disetarakan dengan penambahan 1 e- di ruas
kanan.
Pada reaksi oksidasi, muatan ruas kiri = 0
Muatan ruas kanan = (muatan Cu2+) = 2Jadi, muatan ruas kiri (0) dan ruas kanan (2-) dapat disetarakan dengan penambahan 2 e- di ruas kiri.
Reduksi: H2O + NO3- NO2 +2H+ + eOksidasi: 2e- + Cu Cu2+

Langkah 7, Samakan jumlah elektron pada reaksi reduksi dan oksidasi dengan perkalian silang atau
jika jumlah elektron pada reaksi reduksi dan oksidasi adalah kelipatan, maka gunakan faktor terkecil.
Lalu, jumlahkan kedua setengah reaksi tersebut.
Reduksi: H2O + NO3- NO2 +2H+ + e- (x2) 2H2O + 2NO3- 2NO2 + 4H+ +2eOksidasi: 2e- + Cu Cu2+ (x1) 2e- + Cu Cu2+ + Redoks: 2H2O + 2NO3- + Cu 2NO2 + 4H+ +
Cu2+
Jadi, persamaan yang diperoleh adalah
2H2O + 2NO3- + Cu 2NO2 + 4H+ + Cu2+
b. Reaksi redoks untuk larutan basa atau netral
Penyetaraan reaksi redok untuk larutan basa atau meta sama dengan larutan asam. Langkah 1-7 untuk
larutan asam masih berlaku. Kita hanya perlu menambahkan langkah ke 8 dan 9,yaitu penambahan
OH- dan perolehan total reaksi redoks. Untuk menyetarakan persamaan redoks pada suasanabasa, harus
ditempuh langkah-langkah sebagai berikut:
1. Tulislah bilangan oksidasi setiap unsur untuk mengetahui unsur mana yang mengalami perubahan
bilangan oksidasi.
2. Tulislah kerangka setengah reaksi reduksi dan oksidasinya.
3. Setarakan jumlah unsur yang mengalami perubahan bilangan oksidasi antara ruas kiri dengan ruas
kanan dengan menambah koefisien yang tepat.
4. Setarakan oksigen (O) dengan menambahkan H2O ke ruas yang kekurangan O
5. Setarakan hidrogen (H) dengan menambahkan H+ ke ruas yang kekurangan atom H
6. Setarakan muatan dengan menambahakan elektron (e-) ke ruas yang meuatannya lebih positif
7. Samakan jumlah elektron pada reaksi reduksi dan oksidasi
8. Menambahkan OH- di ruas kiri dan kanan. Jumlah OH- harus sama dengan jumlah H+ yang ada.
OH- dan H+ membentuk H2O.
9. Periksa apakah ada spesi yang sama di ruas kiri dan kanan. Jika ada,kurangi jumlah spesi yang lebih
besar dengan yang lebih kecil.
Untuk lebih jelasnya, perhatikanlah contoh berikut:
Setarakan reaksi berikut dengan metode setengah reaksi:
Au (s) + CN-(aq) +O2(g) Au(CN)4- (aq) +OH- (aq)
Jawab:
Langkah 1, tulislah bilangan oksidasi setiap unsur untuk mengetahui unsur mana yang mengalami
perubahan bilangan oksidasi.
0 +4-3 0 +2 +4-3 -2 +1
Au (s) + CN- (aq) +O2(g) Au(CN)4- (aq) + OH- (aq)
reduksi
oksidasi
Langkah 2, tulislah kerangka setengah reaksi reduksi dan oksidasinya.
Reduksi: Au Au2+
Oksidasi: O2 OHLangkah 3, setarakan jumlah unsur yang mengalami perubahan bilangan oksidasi antara ruas kiri
dengan ruas kanan dengan menambah koefisien yang tepat.
Reduksi: Au Au2+
Oksidasi: O2 OH- (tidak ada)
Langkah 4, setarakan oksigen (O) dengan menambahkan H2O ke ruas yang kekurangan O

Reduksi: Au Au2+
Oksidasi: O2 OH- + H2O
Langkah 5, setarakan hidrogen (H) dengan menambahkan H+ ke ruas yang kekurangan atom H
Reduksi: Au Au2+
Oksidasi: 3H++O2 OH- + H2O
Langkah 6, setarakan muatan dengan menambahkan elektron (e-) ke ruas yang muatannya lebih positif.
Pada reaksi reduksi, muatan ruas kiri = 0
Muatan ruas kanan = 1 x (muatan Au2+) =1 x (2+) = 2+
Jadi, muatan ruas kiri (0) dan ruas kanan (2+) dapat disetarakan dengan penambahan 2 e- di ruas kanan.
Pada reaksi oksidasi, muatan ruas kiri = 3 x (muatan H+) =3 x (1+) = 3+
Muatan ruas kanan = 1x (muatan OH-) = 1x (1-) = 1Jadi, muatan ruas kiri (3+) dan ruas kanan (1-) dapat disetarakan dengan penambahan 4 e- di ruas kiri.
Reduksi: Au Au2+ + 2eOksidasi: 4e- +3H++O2 OH- + H2O
Langkah 7, Samakan jumlah elektron pada reaksi reduksi dan oksidasi dengan perkalian silang atau
jika jumlah elektron pada reaksi reduksi dan oksidasi adalah kelipatan, maka gunakan faktor terkecil.
Lalu, jumlahkan kedua setengah reaksi tersebut.
Reduksi: Au Au2+ + 2e- (x2) 2Au 2Au2+ + 4eOksidasi: 4e- + 3H+ +O2 OH- + H2O (x1) 4e- + 3H+ +O2 OH- + H2O +
Reaksi redoks:2Au +3H+ +O2 2Au2+ +OH-+H2O
Langkah 8, Menambahkan OH- di ruas kiri dan kanan. Jumlah OH- harus sama dengan jumlah H+
yang ada. OH- dan H+ membentuk H2O.
Reaksi redoks: 3OH- + 2Au + 3H+ + O2 2Au2+ + OH-+ H2O + 3OHReaksi redoks: 3H2O + 2Au + O2 2Au2+ + H2O + 4OHLangkah 9, Periksa apakah ada spesi yang sama di ruas kiri dan kanan. Jika ada,kurangi jumlah spesi
yang lebih besar dengan yang lebih kecil.
Reaksi redoks: 3H2O + 2Au + O2 2Au2+ + H2O + 4OH- (tidak ada)
Jadi, persamaan yang diperoleh adalah
3H2O + 2Au + O2 2Au2+ + H2O + 4OHBeranda
Langganan: Entri (Atom)

3.Pengertian zat adiktif


Zat adiktif adalah zat-zat yang dapat membuat pemakainya kecanduan (adiksi). Kecanduan adalah
suatu keadaan fisik (jasmani) maupun nonfisik (psikologis) dari seseorang yang merasa tidak normal
jika tidak menggunakan zat tertentu. Biasanya si pecandu akan menuruti keinginannya dengan kembali
mengonsumsi zat tersebut.

Sejak zaman dahulu, manusia sudah mengenal zat yang tergolong adiktif, misalnya suku indian
merokok dan mengunyah tembakau disetiap upacara adat. Pada awalnya, semua bahan adiktif berasal
dari tumbuh-tumbuhan. Contoh tumbuh-tumbuhan itu adalah ganja (cannabis sativa), opium (papaver
somniverum), kokain (Erythroxylum coca), mariyuana (Cannabis indica). Akan tetapi seiring dengan
perkembangan ilmu pengetahuan alam, khususnya bidang kimia, saat ini manusia telah dapat membuat
bhan-bahan adiktif buatan (sintetis) yang berkemampuan sama dengan zat adiktif alami. Zat adiktif
sintetis ada berbagai macam jenis dan khasiatnya berbeda-beda.
Pada mulanya, zat adiktif digunakan untuk memenuhi kebutuhan medis. Para dokter yng melakukan
tindakan operasi terhadap pasien menggunakan bahan adiktif untuk menghilangkan rasa sakit pada
pasien. Pemakaian obat atau zat adiktif oleh para dokter tersebut menggunakan dosis yang sesuai
kebutuhan dan dalam pengawasan yanga baik.

B. Jenis Zat Adiktif dan Dampaknya


Semua zat adiktif, baik yang berasal dari tumbuh-tumbuhan maupun bahan adiktif sintetis, disebut
narkoba atau napza. Aturan tentang pemanfaatan dan sanksi penyalahgunaan narkoba dituangkan dalam
UU RI nomor 22/1997 tentang narkotika.
1. Jenis zat adiktif
Narkoika digolongkan mejadi golongan I, golongan II, dan golongan III. Zat psikotropika digolongkan
menjadi psikotropika golongan I, golongan II, golongan III,, dan golongan IV.
Narkotika golongan I terdiri dari 26 macam, antara lain opium mentah, candu, kokain, ganja, THC, dan
heroin. Narkotika golongan II terdiri dari 87 macam, contohnya morfin dan opium. Narkotika golongan
III terdiri dari 14 macam, contohnya etil morfin dan kodein. Zat psikotropika golongan I terdiri dari 26
macam, golongan II terdiri dari 14 macam, golongan III terdiri dari 9 macam, dan golongan IV terdiri
dari 60 macam.
2. Dampak zat adiktif
Dampak yang ditimbulkan oleh zat adiktif dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu :
1. stimulasi adalah gejala yang terjadi pada saraf pusat untuk mempercepat proses-proses dalam
tubuh, seperti detak jantung, tekanan darah, dan pernapasan. Contohnya : kafein pada kopi,
nikotin pada rokok, kokain, dan amfetamin.

2. Depresi adalah gejala yang terjadi pada syaraf pusat untuk memperlambat proses pada tubuh.
Depresi menyebabkan turunnya kesadaran seseorang pada dunia sekelilingnya. Contoh zat-zat
yang tergolong depresan adalah alkohol. Obat penenang, dan sebagainya.
3. Halusinasi adalah gejala yang terjadi pada saraf manusia yang menyebabkan khayalan.
Hakusinasi menyebabkan penderita mendengar suara, melihat benda, merasakan berbagai hal
yang sebenarnya tidak ada sama sekali. Contoh zat yang termasuk zat halusinogen adalah LSD
(lisergic acid diethylamide)

C. Narkotika
Zat yang tergolong narkotika misalnya opium, ganja, kokain, heroin, morfin, dan kodein.
1.

Opium berasal dari getah tumbuhan papaver somniverum yang belum masak. Opium diolah menjadi
morfin dan kodein yang diperlukan dalam bidang kedokteran sebagai obat analgesik (penghilang rasa
sakit), selain dapat menghilangkan rasa nyeri, jenis opium tertentu juga dapat membuat orang tidur
nyenyak dan membuat orang gembira

(mersakan euforia) tanpa sebab. Saat ini, opium

telah dapat dibuat manusia, yaitu berupa opium semisintetis dan opium sintetis. Opium alami
contohnya dalah morfin, kodein dan tebain. Opium semisintetis terbuat dari opium alami yang
dicampur sedikit bahan kimia. Contoh opium semisentitetis adalah heroin dan hidroformon. Opium
murni contohnya meperidin dan propoksifen.

2.

Ganja berasal dari daun tumbuhan cannabis sativa yang mengandung zat psikoaktif, yaitu zat yang
dapat mempengaruhi mental dan tingkah laku orang. Pohon dan ranting tanaman ganja juga mengan
dung psiko aktif meski dalam kadar yang rendah. Kadar tertinggi terdapat pada pucuk tanaman ini,
yaitu 10 %. Zat psiko aktif hashish dapat dihasilkan dari getah tanaman ganja yang dikeringkan.

3.

Kokain adalah bubuk putih yang berasal dari daun koka (Erythroxylum). Kokain dahulu digunakan
dalam bidang medis sebagai anestesi (obat pembius) lokal. Akan tetapi, sekarang kokain tidak lagi
digunakan sebagai anestesi karena telah ditemukan bahan psikoaktif lain yang relatif lebih aman.

4.

Heroin adalah zat yang tergolong zat narkotika yang dapat memberikan rasa senang yang luar biasa
pada pemakainya sehingga lupa dengan semua masalah

5.

Morfin adalah zat yang tergolong dalam opioida alami yang berasal dari getah opium. Morfin berupa
kristal putih, menyerupai kokain, yang dapat menekan pusat pernapasan. Pada kasus overdosis morfin,
biasanya pemakai mengalami gangguan pernapasan yang fatal. Morfin juga dapat mengganggu siklus

menstruasi pada wanita pemakai, impotensi pada pria pemakai,sembelit, serta efek-efek samping yang

berbahaya lainnya.
7. Alkohol

Alkohol diperoleh melalui proses peragian (fermentasi) sejumlah bahan, seperti beras ketan, singkong,
dan perasan anggur. Alkohol ini sudah dikenal manusia cukup lama. Salah satu penggunaan alkohol
adalah untuk mensterilkan berbagai peralatan dalam bidang kedokteran.
Alkohol yang terkandung dalam minuman dapat berasal dari hasil fermentasi bahan minuman itu
sendiri (contohnya, alkohol yang terdapat dalam minuman hasil fermentasi sari buah anggur) atau
sengaja ditambahkan ke dalam suatu minuman olahan. Semua jenis minuman yang mengandung
alkohol (etanol). Berdasarkan kandungan alkoholnya, minuman keras dikelompokkan menjadi
golongan:
1) A, berkadar etanol 15 %;
2) B, berkadar etanol 520 %; dan
3) C, berkadar etanol 2050 %.
Tanda-tanda gejala pemakaian alkohol, yaitu gembira, pengendalian diri turun, dan muka kemerahan.
Jika sudah kecanduan meminum minuman keras, kemudian dihentikan maka akan timbul gejala
gemetar, muntah, kejang-kejang, sukar tidur, dan gangguan jiwa. Jika overdosis akan timbul gejala
perasaan gelisah, tingkah laku menjadi kacau, kendali turun, dan banyak bicara sendiri.

d. Sedativa dan Hipnotika (Penenang)

Beberapa macam obat dalam dunia kedokteran, seperti pil BK dan magadon digunakan sebagai zat
penenang (sedativa-hipnotika). Pemakaian sedativa-hipnotika dalam dosis kecil dapat menenangkan,
sedangkan dalam dosis besar dapat membuat orang yang memakannya tertidur.
Gejala akibat pemakaiannya adalah mula-mula gelisah, mengamuk lalu mengantuk, malas, daya pikir
menurun, bicara dan tindakan lambat. Jika sudah kecanduan, kemudian diputus pemakaiannya maka
akan menimbulkan gejala gelisah, sukar tidur, gemetar, muntah, berkeringat, denyut nadi cepat, tekanan
darah naik, dan kejang-kejang. Jika pemakaiannya overdosis maka akan timbul gejala gelisah, kendali
diri turun, banyak bicara, tetapi tidak jelas, sempoyongan, suka bertengkar, napas lambat, kesadaran
turun, pingsan, dan jika pemakaiannya melebihi dosis tertentu dapat menimbulkan kematian.
e. Nikotin

Nikotin dapat diisolasi atau dipisahkan dari tanaman tembakau. Namun, orang biasanya mengonsumsi
nikotin tidak dalam bentuk zat murninya, melainkan secara tidak langsung ketika mereka merokok.
Nikotin yang diisap pada saat merokok dapat menyebabkan meningkatnya denyut jantung dan tekanan

darah, bersifat karsinogenik sehingga dapat meningkatkan risiko terserang kanker paru-paru, kaki
rapuh, katarak, gelembung paru-paru melebar (emphysema), risiko terkena penyakit jantung koroner,
kemandulan, dan gangguan kehamilan.

3. Dampak / Efek yang Dapat Ditimbulkan Zat Adiktif


a. Efek/Dampak Penyalahgunaan Minuman AlkoholAlkohol dalam minuman keras dapat menyebabkan
gangguan jantung dan otot syaraf,mengganggu metabolisme tubuh, membuat janis menjadi cacat,
impoten serta gangguanseks lainnya.
b. Efek/Dampak Penyalahgunaan GanjaZat kandungan dalam ganja yang berbahaya dapat menyebabkan
daya tahan tubuh berkurang dan melemah sehingga mudah terserang penyakit dan infeksi
sertamemperburuk aliran darah koroner.
c. Efek/Dampak Penyalahgunaan HalusinogenHalusinogen dalam tubuh manusia dapat mengakibatkan
pendarahan otak.
d. Efek/Dampak Penyalahgunaan KokainZat adiktif kokain jika dikonsumsi dalam jangka panjang dapat
menyebabkan kekurangansel darah putih atau anemia sehingga dapat membuat badan kurus kering.
e.

Selain itukokain menimbulkan perforesi sekat hidung (ulkus) dan aritma pada jantung.
Efek/Dampak Penyalahgunaan Opiat / OpiodaZat opioda atau opiat yang masuk ke dalam badan
manusia dapat mengganggumenstruasi pada perempuan / wanita serta impotensi dan konstipasi

khronuk pada pria /laki-laki.


f. Efek/Dampak Penyalahgunaan InhalasiaInhalasia memiliki dampak buruk bagi kesehatan kita seperti
gangguan pada fungsi jantung, otak, dan lever.
g. Efek/Dampak Penyalahgunaan Non ObatDalam kehidupan sehari-hari sering kita temui benda-benda
yang disalahgunakan oleh banyak orang untuk mendapatkan efek tertentu yang dapat mengakibatkan
gangguankesehatan. Contoh barang yang dijadikan candu antara lain seperti bensin, thiner, racun
serangga, lem uhu, lem aica aibon. Efek dari penggunaan yang salah pada tubuh manusiaadalah dapat
menimbulkan infeksi emboli.
2.PENGOLAHAN DAN PENANGANAN LIMBAH

Penanganan limbah yang baik akan menjamin kenyamanan bagi semua orang. Dipandang dari sudut
sanitasi, penanganan limbah yang baik akan :
1. Menjamin tempat tinggal / tempat kerja yang bersih
2. Mencegah timbulnya pencemaran lingkungan

3. Mencegah berkembangbiaknya hama penyakit dan vektor penyakit


Usaha untuk mengurangi dan menanggulangi pencemaran lingkungan meliputi 2 cara pokok, yaitu :
1. Pengendalian non teknis, yaitu suatu usaha untuk mengurangi pencemaran lingkungan dengan
cara menciptakan peraturan perundang-undangan yang dapat merencanakan, mengatur,
mengawasi segala bentuk kegiatan industri dan bersifat mengikat sehingga dapat memberi
sanksi hukum pagi pelanggarnya.
2. Pengendalian teknis, yaitu suatu usaha untuk mengurangi pencemaran lingkungan dengan caracara yang berkaitan dengan proses produksi seperti perlu tidaknya mengganti proses, mengganti
sumber energi/bahan bakar, instalasi pengolah limbah atau menambah alat yang lebih modern
/canggih. Dalam hal ini yang perlu diperhatikan adalah :
1. Mengutamakan keselamatan manusia
2. Teknologinya harus sudah dikuasai dengan baik
3. Secara teknis dan ekonomis dapat dipertanggungjawabkan.

1. A. PENANGANAN LIMBAH PADAT


Limbah padat dapat dihasilkan dari industri, rumah tangga, rumah sakit, hotel, pusat
perdagangan/restoran maupun pertanian/peternakan. Penanganan limbah padat melalui beberapa
tahapan, yaitu :
1. Penampungan dalam bak sampah
2. Pengumpulan sampah
3. Pengangkutan
4. Pembuangan di TPA.
Sampah yang sudah berada di TPA akan mengalami berbagai macam perlakuan, seperti menjadi bahan
makanan bagi sapi / ternak yang digembala di TPA, di sortir oleh pemulung, atau diolah menjadi pupuk
kompos.

1. A. Berikut ini beberapa metode penanganan limbah organik padat :

1. 1. Composting, yaitu penanganan limbah organik menjadi kompos yang bisa dimanfaatkan
sebagai pupuk melalui proses fermentasi. Bahan baku untuk membuat kompos adalah sampah
kering maupun hijau dari sisa tanaman, sisa makanan, kotoran hewan, sisa bahan makanan dll.
Dalam proses pembuatan kompos ini bahan baku akan mengalami dekomposisi / penguraian
oleh mikroorganisme.
Proses sederhana pengomposan berlangsung secara anaerob yang sering menimbulkan gas. Sedangkan
proses pengomposan secara aerob membutuhkan oksigen yang cukup dan tidak menghasilkan gas.
Faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi proses pengomposan yaitu :
1. Ukuran bahan, semakin kecil ukuran bahan semakin cepat proses pengomposan
2. Kandungan air, tumpukan bahan yang kurang mengandung air akan berjamur sehingga proses
penguraiannya lambat dan tidak sempurna. Tetapi jika kelebihan air berubah menjadi anaerob
dan tidak menguntungkan bagi organisme pengurai.
3. Aerasi, aerasi yang baik akan mempercepat proses pengomposan sehingga perlu pembalikan
atau pengadukan kompos.
4. pH (derajat keasaman), supaya proses pengomposan berlangsung cepat, pH kompos jangan
terlalu asam maka perlu penambahan kapur atau abu dapur
5. suhu, suhu optimal pengomposan berlangsung pada 30 450 C
6. perbandingan C dan N, proses pengomposan dapat dihentikan bila komposisi C/N mendekati
perbandingan C/N tanah yaitu 10 12
7. kandungan bahan sampah seperti lignin, wax (malam) damar, selulosa yang tinggi akan
memperlambat proses pengomposan.
Cara pembuatan kompos, memalui cara :
1. menggunakan komposter
2. tumpukan terbuka (open windrow)
3. cascing (menggunakan cacing)
Di dalam kompos terdapat unsur-unsur hara yang dibutuhkan tanaman, sehingga digunakan sebagai
pupuk tanaman dan disebut pupuk organik. Dalam proses pengomposan, bahan baku kompos
mengalami perubahan kimiawi oleh mikroorganisme / bakteri yang membutuhkan nitrogen untuk
hidupnya. Tetapi tidak selalu bahan baku kompos mengandung nitrogen yang cukup untuk kebutuhan
bakteri pengurai tersebut sehingga diperlukan pemberian tambahan nitrogen, salah satunya adalah EM
4 (effective microorganism 4) yang berfungsi sebagai aktivator. Hal ini akan membantu bakteri hidup
berkembang dengan baik sehingga proses penguraian bahan baku kompos menjadi lebih cepat dan
proses pengomposan berlangsung lebih cepat pula. Jika aerasi kurang, maka yang terjadi adalah proses

pembusukan dan akan mengasilkan bau busuk akibat terbentuknya amoniak (NH3) dan asam sulfida
(H2S).
Kompos dari bahan baku organik memiliki beberapa kegunaan antara lain :
1. memperbaiki kualitas tanah
2. meningkatkan kemampuan tanah dalam melakukan pertukaran ion
3. membantu pengolahan sampah
4. mengurangi pencemaran lingkungan
5. membantu melestarikan sumber daya alam
6. membuka lapangan kerja baru
7. mengurangi biaya operasional bagi petani atau pecinta tanaman

1. Gas Bio, yaitu pengubahan sampah organik yang berasal dari tinja manusia maupun kotoran
hewan menjadi gas yang dapat berfungsi sebagai bahan bakar alternatif. Kandungan gas bio
antara lain metana ( CH4) dalam komposisi yang terbanyak, karbondioksida ( CO2 ), Nitrogen
( N2 ), Karbonmonoksida ( CO ), Oksigen (O2), dan hidrogen sulfida (H2S). Gas metana murni
adalah gas tidak berwarna, tidak berbau dan tidak berasa. Supaya efektif, proses pengubahan ini
harus pada tingkat kelembaban yang sesuai, suhu tetap dan pH netral.

1. Makanan ternak ( Hog Feeding ), adalah pengolahan sampah organik menjadi makanan
ternak. Agar sampah organik dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak harus dipilih dan
dibersihkan terlebih dulu agar tidak tercampur dengan sampah yang mengandung logam berat
atau bahan-bahan yang membahayakan kesehatan ternak.

1. B. Berikut ini beberapa metode penanganan limbah anorganik padat :

1. 1.

Empat R ( 4 R = replace, reduce, recycle dan reuse )

Replace yaitu usaha mengurangi pencemaran dengan menggunakan barang-barang yang ramah
lingkungan. Contohnya memanfaatkan daun daripada plastik sebagai pembungkus, menggunakan
MTBE daripada TEL untuk anti knocking pada mesin, tidak menggunakan CFC sebagai pendingin dan
lain-lain.

Reduce yaitu usaha mengurangi pencemaran lingkungan dengan meminimalkan produksi sampah.
Contohnya membawa tas belanja sendiri yang besar dari pada banyak kantong plastik, membeli
kemasan isi ulang rinso, pelembut pakaian, minyak goreng dan lain-lain daripada membeli botol setiap
kali habis, membeli bahan-bahan makanan atau keperluan lain dalam kemasan besar daripada yang
kecil-kecil.
Recycle yaitu usaha mengurangi pencemaran lingkungan dengan mendaur ulang sampah melalui
penanganan dan teknologi khusus. Proses daur ulang biasanya dilakukan oleh pabrik/industri untuk
dibuat menjadi produk lain yang bisa dimanfaatkan. Dalam hal ini pemulung berjasa sekaligus
mendapatkan keuntungan karena dengan memilah sampah yang bisa didaur ulang bisa mendapat
penghasilan.Misalnya plastik-plastik bekas bisa didaur ulang menjadi ember, gantungan baju, pot
tanaman dll.
Reuse yaitu usaha mengurangi pencemaran lingkungan dengan cara menggunakan dan memanfaatkan
kembali barang-barang yang seharusnya sudah dibuang. Misalnya memanfaatkan botol/kaleng bekas
sebagai wadah, memanfaatkan kain perca menjadi keset, memanfaatkan kemasan plastik menjadi
kantong belanja / tas dll
1. 2. Insenerator, adalah alat yang digunakan untuk membakar sampah secara terkendali pada
suhu tinggi. Insenerator efisien karena sanggup mengurangi volume sampah hingga 80 %.
Residunya berupa abu sekitar 5 10 % dari total volume sampah yang dibakar dan dapat
digunakan sebagai penimbun tanah. Kekurangan alat ini adalah mahal dan tidak bisa
memusnahkan sampah logam.

1. 3. Sanitary Landfill, adalah metode penanganan limbah padat dengan cara membuangnya
pada area tertentu.
Ada 3 metode sanitary landfill, yaitu :
1. Metode galian parit (trenc method), sampah dibuang ke dalam galian parit yang memanjang.
Tanah bekas galian digunakan untuk menutup parit. Sampah yang ditimbun dipadatkan dan
diratakan. Setelah parit penuh, dibuatlah parit baru di sebelah parit yang telah penuh tersebut.
2. Metode area, sampah dibuang di atas tanah yang rendah, rawa, atau lereng kemudian ditutupi
dengan tanah yang diperoleh ditempat itu.
3. Metode ramp, merupakan gabungan dari metode galian parit dan metode area. Pada area yang
rendah, tanah digali lalu sampah ditimbun tanah setiap hari dengan ketebalan 15 cm, setelah
stabil lokasi tesebut diratakan dan digunakan sebagai jalur hijau (pertamanan), lapangan olah
raga, tempat rekreasi dll.

1. 4. Penghancuran sampah (pulverisation), adalah proses pengolahan sampah anorganik


padat dengan cara menghancurkannya di dalam mobil sampah yang dilengkapi dengan alat

pelumat sampah sehingga sampah hancur menjadi potongan-potongan kecil yang dapat
dimanfaatkan untuk menimbun tanah yang cekung atau letaknya rendah.

1. 5. Pengepresan sampah ( reduction mode), yaitu proses pengolahan sampah dengan cara
mengepres sampah tesebut menjadi padat dan ringkas sehingga tidak memakan banyak tempat.

1. C. Penanganan Limbah cair


Sekitar 80% air yang digunakan manusia untuk aktivitasnya akan dibuang lagi dalam bentuk air yang
sudah tercemar, baik itu limbah industri maupun limbah rumah tangga. Untuk itu diperlukan
penanganan limbah dengan baik agar air buangan ini tidak menjadi polutan.
Tujuan pengaturan pengolahan limbah cair ini adalah :
1. Untuk mencegah pengotoran air permukaan (sungai, waduk, danau, rawa dll)
2. Untuk melindungi biota dalam tanah dan perairan
3. Untuk mencegah berkembangbiaknya bibit penyakit dan vektor penyakit seperti nyamuk,
kecoa, lalat dll.
4. Untuk menghindari pemandangan dan bau yang tidak sedap

Pengolahan limbah cair dapat dilakukan dengan cara-cara :


1. Cara Fisika, yaitu pengolahan limbah cair dengan beberapa tahap proses kegiatan yaitu :
1. Proses Penyaringan (screening), yaitu menyisihkan bahan tersuspensi yang berukuran
besar dan mudah mengendap.
2. Proses Flotasi, yaitu menyisishkan bahan yang mengapung seperti minyak dan lemak
agar tidak mengganggu proses berikutnya.
3. Proses Filtrasi, yaitu menyisihkan sebanyak mungkin partikel tersuspensi dari dalam
airatau menyumbat membran yang akan digunakan dalam proses osmosis.
4. Proses adsorbsi, yaitu menyisihkan senyawa anorganik dan senyawa organik terlarut
lainnya, terutama jika diinginkan untuk menggunakan kembali air buangan tersebut,
biasanya menggunakan karbon aktif.

5. Proses reverse osmosis (teknologi membran), yaitu proses yang dilakukan untuk
memanfaatkan kembali air limbah yang telah diolah sebelumnya dengan beberapa tahap
proses kegiatan. Biasanya teknologi ini diaplikasikan untuk unit pengolahan kecil dan
teknologi ini termasuk mahal.
6. Cara kimia, yaitu pengolahan air buangan yang dilakukan untuk menghilangkan
partikel-partikel yang tidak mudah mengendap (koloid), logam-logam berat, senyawa
fosfor dan zat organik beracun dengan menambahkan bahan kimia tertentu yang
diperlukan. Metode kimia dibedakan atas metode nondegradatif misalnya koagulasi dan
metode degradatif misalnya oksidasi polutan organik dengan pereaksi lemon, degradasi
polutan organik dengan sinar ultraviolet dll.
7. Cara biologi, yaitu pengolahan air limbah dengan memanfaatkan mikroorganisme alami
untuk menghilangkan polutan baik secara aerobik maupun anaerobik. Pengolahan ini
dianggap sebagai cara yang murah dan efisien.

Metode pengolahan limbah cair, meliputi beberapa cara :


1. 1. Dillution (pengenceran), air limbah dibuang ke sungai, danau, rawa atau laut agar
mengalami pengenceran dan konsentrasi polutannya menjadi rendah atau hilang. Cara ini dapat
mencemari lingkungan bila limbah tersebut mengandung bakteri patogen, larva, telur cacing
atau bibit penyakit yang lain. Cara ini boleh dilakukan dengan syarat bahwa air sungai, waduk
atau rawa tersebut tidak dimanfaatkan untuk keperluan lain, volume airnya banyak sehingga
pengenceran bisa 30 -40 kalinya, air tersebut harus mengalir.
2. 2. Sumur resapan, yaitu sumur yang digunakan untuk tempat penampungan air limbah yang
telah mengalami pengolahan dari sistem lain. Air tinggal mengalami peresapan ke dalam tanah,
dan sumur dibuat pada tanah porous, diameter 1 2,5 m dan kedalaman 2,5 m. Sumur ini bisa
dimanfaatkan 6 10 tahun.
3. 3. Septic tank, merupakan metode terbaik untuk mengelola air limbah walaupun biayanya
mahal, rumit dan memerlukan tanah yang luas. Septic tank memiliki 4 bagian ruang untuk
tahap-tahap pengolahan, yaitu :
1. a. Ruang pembusukan, air kotor akan bertahan 1-3 hari dan akan mengalami proses
pembusukan sehingga menghasilkan gas, cairan dan lumpur (sludge)
2. b. Ruang lumpur, merupakan ruang empat penampungan hasil proses pembusukan
yang berupa lumpur. Bila penuh lumpur dapat dipompa keluar
3. c. Dosing chamber, didalamnya terdapat siphon McDonald yang berfungsi sebagai
pengatur kecepatan air yang akan dialirkan ke bidang resapan agar merata

4. d. Bidang resapan, bidang yang menyerap cairan keluar dari dosing chamber serta
menyaring bakteri patogen maupun mikroorganisme yang lain. Panjang minimal resapan
ini adalah 10 m dibuat pada tanah porous.
5. 4. Riol (parit), menampung semua air kotor dari rumah, perusahaan maupun
lingkungan. Apabila riol inidigunakan juga untuk menampung air hujan disebut
combined system. Sedang bila penampung hujannya dipisahkan maka disebut separated
system. Air kotor pada riol mengalami proses pengolahan sebagai berikut :
1. a.

Penyaringan (screening), menyaring benda-benda yan mengapung di air

2. b. Pengendapan (sedimentation), air limbah dialirkan ke dalam bak besar


secara perlahan supaya lumpur dan pasir mengendap.
3. c. Proses biologi (biologycal proccess), menggunakan mikroorganisme untuk
menguraikan senyawa organik
4. d.

Saringan pasir (sand filter)

5. e.

Desinfeksi (desinfection), menggunakan kaporit untuk membunuh kuman

6. f. Dillution (pengenceran), mengurangi konsentrasi polutan dengan


membuangnya di sungai / laut.

1. D. Penanganan Limbah Gas, Debu dan Partikel


Filter udara digunakan untuk menangkap debu / partikel yang keluar dari cerobong atau stack. Berikut
ini beberapa macam filter udara, meliputi :
1. Pengendapan siklon, adalah alat yang digunakan untuk mengendapkan debu atau abu yang ikut
dalam gas buangan atau udara dalam ruang pabrik yang berdebu.
Prinsip kerja pengendap siklon adalah pemanfaatan gaya sentrifugal dari udara atau gas buang yang
sengaja dihembuskan melalui tepi dinding tabung siklon, sehingga partikel yang relatif berat akan jatuh
ke bawah. Debu, abu atau partikel yang dapat diendapkan oleh siklon adalah berukuran antara 5 40
mikro. Makin besar ukuran debu, semakin cepat partikel diendapkan.
1. Filter basah, adalah alat yang digunakan untuk membersihkan udara kotor dengan cara
menyemprotkan air dari bagian atas alat, sedangkan udara kotor dari bagian bawah alat. Pada
saat udara kotor kontak dengan air, maka debu akan ikut semprotan air untuk turun ke bawah.
Bila ingin hasil yang lebih baik, dapat digabungkan pengendap siklon dengan filter basah.
Penggabungan kedua alat ini menghasilkan alat penangkap debu yang dinamakan pengendap
siklon filter basah.

2. Pengendap sistem Gravitasi, adalah alat yang digunakan untuk membersihkan udara kotor yang
ukuran partikelnya relatif cukup besar, sekitar 50 mikro atau lebih. Prinsip kerja alat ini adalah
dengan mengalirkan udara kotor ke alat, sehingga pada waktu terjadi perubahan kecepatan
secara tiba-tiba, debu akan jatur terkumpul ke bawah akibat gaya beratnya sendiri. Kecepatan
pengendapan tergantung pada dimensi alat yang digunakan.
3. 4. Pengendap elektrostatik, adalah alat yang digunakan untuk membersihkan udara kotor
dalam jumlah (volume) besar dan waktu yang singkat, sehingga udara yang keluar dari alat ini
relatif bersih. Alat ini berupa tabung silinder, dimana dindingnya diberi muatan positif,
sedangkan tengahnya ada sebuah kawat, yang merupakan pusat silinder, sejajar dinding tabung,
diberi muatan negatif. Adanya tegangan yang berbeda akan menimbulkan corona discharga di
daerah sekitar pusat silinder. Hal ini menyebabkan udara kotor seolah-olah mengalami ionisasi.
Kotoran menjadi ion negatif yang akan ditarik dinding tabung, sedangkan udara bersih akan
berada di tengah silinder kemudian terhembus keluar.

1. E. Penanganan Limbah Suara


Bising merupakan polusi pendengaran. Suara-suara yang sangat bising dapat mengganggu pendengaran
dan juga membuat orang tidak nyaman. Sumber kebisingan dapat dikurangi atau dihilangkan sama
sekali dengan :
1. Mematikan atau menghilangkan sumber suara / sumber kebisingan
2. Memasang alat peredam suara
3. Pengendalian pada jejak propagasi, mengganti bahan baku ruangan dengan bahan yang dapat
meredam suara
4. Pengendalian pada penerima suara, yaitu dengan melakukan upaya perlindungan pada
pendengaran manusia, seperti tutup / sumbat telinga.

1. F. Dampak Pengolahan Limbah Terhadap Lingkungan


Pengolahan limbah yang baik dapat memberi manfaat bagi masyarakat dan lingkungan, akan tetapi bila
tidak dikelola dengan baik dapat memberi dampak negatif bagi lingkungan.

1. a.

Dampak positif pengolahan limbah

Pengolahan limbah yang benar akan memberikan dampak positif, yaitu :


1. Limbah dapat digunakan untuk menimbun lahan / dataran rendah

2. Limbah dapat digunakan untuk pupuk


3. Limbah dapat digunakan sebagai pakan ternak , baik langsung maupun mengalami proses
pengolahan lebih dulu
4. Mengurangi tempat perkembangbiakan penyakit / vektor penyakit
5. Mengurangi kemungkinan terjadinya penyakit menular
6. Menghemat biaya pemeliharaan kesehatan karena masyarakat yang sehat

1. b.

Dampak negatif bila limbah tidak dikelola dengan baik

Pengolahan limbah yang kurang baik akan memberikan dampak negatif, seperti :
1. Menjadi tempat berkembangbiaknya kuman penyakit / vektor penyakit
2. Menyebabkan gangguan kesehatan seperti sesak nafas, insomnia maupun stress
3. Lingkungan menjadi kotor, bau, saluran air tersumbat, banjir
4. Lingkungan menjadi tidak indah dipandang
5. Menurunkan minat orang datang ketempat tersebut
6. Menaikkan angka kesakitan bagi masyarakat
7. Membutuhkan dana besar untuk membersihkan lingkungan
8. Menurunkan pemasukan pendapatan daerah karena kurangnya wisatawan yang berkunjung.