Anda di halaman 1dari 4

National member of :

Indonesia Solid Waste Newsletter


Indonesia Solid Waste
Association

Untuk Indonesia yang Lebih Bersih


Edisi 1, Desember 2012

9 Tahun InSWA
untuk Indonesia
ada 28 Oktober 2003 di Jakarta, beberapa orang
yang memiliki passion dan kesamaan visi untuk
mengatasi masalah persampahan di Indonesia mendirikan dan mendeklarasikan Indonesia Solid Waste
Association (InSWA). Di usianya yang ke-9 tahun 2012 ini,
InSWA telah berkembang menjadi sebuah organisasi yang
berbasis profesionalisme agar semakin mampu menghadapi
tantangan dan permasalahan persampahan yang semakin
berat dan multidimensi. Sebagai satu-satunya lembaga
independen di Indonesia yang konsisten berkontribusi pada
isu solid waste di tingkat nasional maupun daerah, maka
terhitung mulai Januari 2013, InSWA resmi diterima sebagai
National Member dari International Solid Waste Association
(ISWA), lembaga induk organisasi solid waste di seluruh
dunia yang bermarkas di Wina, Austria.
Organisasi asosiasi yang dipimpin oleh Sri Bebassari
sebagai Ketua Umum dan Mohammad Helmy sebagai Wakil
Ketua ini diperkuat oleh komposisi dewan pengurus yang
memiliki puluhan tahun pengalaman dan keahlian di bidang
solid waste, baik perkotaan maupun industri. Para Dewan
Pengurus InSWA merupakan ahli senior yang masih aktif
terlibat dalam penyusunan regulasi, kebijakan dan program
di bidang pengelolaan sampah baik di Indonesia maupun
regional. Peran aktif dewan pengurus didukung sepenuhnya
oleh sekretariat dan para periset muda yang tergabung
dalam tim Research Associate InSWA.
Untuk menjawab berbagai problema persampahan
di masyarakat, InSWA hadir dengan berbagai program dan
kegiatan. Cakupan program InSWA meliputi berbagai level,
mulai
dari
penyusunan
regulasi,
riset
aplikasi,
pengembangan kapasitas dan jaringan kemitraan, hingga
implementasi sistem. InSWA mengutamakan pendekatan
inovasi, sustainability, dan multi-stakeholder dalam
menjalankan program-programnya. Diharapkan, inisiasi
berbagai program strategis tersebut dapat melahirkan
entitas dan kader persampahan baru sebagai anggota
asosiasi yang semakin memperkuat InSWA.

Hingga saat ini, InSWA konsisten mengedepankan


integrasi multi aspek dalam pengelolaan sampah yaitu aspek
hukum, kelembagaan, pendanaan, sosial budaya, dan
teknologi. Fokus isu yang menjadi perhatian utama InSWA
diantaranya adalah pengurangan sampah di sumber melalui
upaya pengomposan yang sudah nyata-nyata dilakukan, baik
oleh InSWA maupun oleh banyak daerah, juga melalui
Extended Producer Responsibility (EPR), penataan sistem
operasional dan penangkapan gas di TPA, dan peningkatan
pola penanganan sampah oleh pemerintah daerah.
Disamping itu, InSWA juga aktif terlibat dalam perumusan
regulasi dan kebijakan sebagai perangkat pendukung
implementasi dan operasionalisasi UU No. 18 Tahun 2008
tentang Pengelolaan Sampah, baik di tingkat nasional
maupun di daerah.
Dalam menjalankan visi dan misinya, InSWA
senantiasa berkolaborasi dengan berbagai pihak, baik
pemerintah, swasta, LSM, maupun kelompok masyarakat.
Beberapa mitra utama InSWA diantaranya adalah
Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Pekerjaan
Umum, Dinas Kebersihan Provinsi DKI Jakarta, Badan
Pengelola Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta, Badan
Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Badan Pengelola
Lingkungan Hidup Provinsi Bali, Yayasan Kirai, Yayasan Perisai,
swasta retailer modern market, swasta manufaktur plastik
ramah lingkungan, dan swasta operator fasilitas pengolahan
sampah.
Di lingkup internasional, InSWA juga menjalin
kerjasama dengan International Solid Waste Association
(ISWA), Global Methane Initiative United State
Environmental Protection Agency (GMI-USEPA), German
International Cooperation Agency (GIZ), dan United Nation of
Environmental Program (UNEP). (Dini Trisyanti)

Hal .1

Rahasia Pengurangan Sampah di TPST Rawasari


Padahal, 65 persen dari komposisi sampah itu adalah
sampah yang mudah membusuk atau lebih dikenal
dengan sampah organik yang sebenarnya sangat
berpotensi untuk dikurangi melalui pengomposan. Jadi
yang bakal menuhin TPA cuma sampah-sampah yang
benar-benar tidak bisa di-treatment lagi, hanya sekitar 10
persen.

idak bau dan tidak kotor, demikian kesan pertama setiap kali tamu datang mengunjungi Tempat Pengolahan
Sampah Terpadu (TPST) Rawasari, Jakarta Pusat.
Tidak ada yang menutup hidungnya, bahkan makan dan minum
tiada canggung. Tidak sombong, hampir setiap hari TPST
Rawasari ini kedatangan tamu, tidak saja dari dalam negeri
namun tamu-tamu mancanegara pun hadir tak henti-hentinya
ingin melihat langsung keajaiban yang terjadi pada sampah
yang kita kenal bau dan busuk tersebut. Sebut saja tamu
mancanegara yang pernah diterima di TPST ini berasal dari Cina,
Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, Vietnam, Itali, Kolombia,
Jepang,, dan lainnya.
Letak TPST ini berada di lingkungan pemukiman warga
yang lumayan padat, tepatnya warga RW 01 dan RW 02
Kelurahan Cempaka Putih Timur. Berdampingan langsung
dengan kantor pemadam kebakaran, sekolah, Kantor Camat
Cempaka Putih, pasar, Kantor Suku Dinas Kebersihan Jakarta
pusat
Pusat, dan kantor-kantor lainnya. Jadi TPST ini
memang berlokasi di lingkungan yang ramai dan
hidup 24 jam. Tapi sampai saat belum ada
dampak sosial negatif yang ditimbulkan. Artinya,
TPST ini bisa diterima secara sosial di lingkungan
pemukiman, tidak ada unjuk rasa warga, tidak
ada keberatan sama-sekali dari berbagai elemen
masyarakat setempat.
Ini adalah kondisi ideal yang diharapkan
pada pengelolaan sampah domestik tidak saja di
Indonesia, namun di seluruh dunia. Pengurangan
di tingkat masyarakat dikenal juga dengan istilah
pengurangan dari sumbernya, merupakan citacita yang hendak dicapai oleh Indonesia dalam
mengatasi permasalahan sampah domestik.
Bayangkan, saat ini Indonesia menghasilkan
sampah domestik (sampah yang berasal dari
rumah tangga) sebesar 167 ribu ton per hari
(KLH, 2008).

TPST Percontohan
Untuk di Jakarta, TPST Rawasari merupakan
TPST percontohan untuk pengurangan sampah dari
sumbernya melalui kegiatan pengomposan, sekaligus bisa
diterapkan di kawasan padat penduduk. TPST ini
dibangun pada tahun 2000 dan awalnya dikelola oleh
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).
Namun,
sejak
tahun
2009
TPST
Rawasari
dpindahtangankan ke Dinas Kebersihan DKI Jakarta. TPST
Rawasari saat ini dibawah supervisi Indonesia Solid Waste
Association (InSWA).
Sejalan dengan amanat Undang-undang No 18
Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah dan peraturan
turunannya yakni PP No 81 Tahun 2012 tentang
Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sejenis Sampah
Rumah Tangga, TPST adalah tempat dilaksanakannya
kegiatan pengumpulan, pemilahan, maka itu TPST
Rawasari tidak saja melakukan upaya pengomposan
namun mengintegrasikan kegiatan 3R lainnya. Contohnya
saat ini TPST Rawasari juga sebagai dropping point (lokasi
titik pengumpulan) sampah polystyrene atau lebih dikenal
dengan sampah styrofoam. Kegiatan ini bekerjasama
dengan BPLHD DKI Jakarta. Dropbox (kotak
pengumpulan) akan ditempatkan di beberapa lokasi
seperti perkantoran dan pemukiman yang selanjutnya
dalam jangka waktu tertentu akan diangkut ke TPST dan
ke pabrik daur ulang styrofoam. (Rafianti)

Hal . 2

Teknis Pengomposan di TPST Rawasari


iapa bilang bikin kompos itu susah dan repot. Di TPST Rawasari, sampah yang masuk setiap hari mencapai 2 ton
bisa kok tanpa bikin repot. Tidak pakai mesin, tidak pakai
materi tambahan atau zat aditif yang mahal, semuanya bisa
dikerjakan oleh manusia dimanapun berada, di kota modern
hingga di desa dan tempat terpencil sekalipun. Teknik
pengomposan TPST Rawasari ini memang didisain agar bisa
diaplikasikan di semua level masyarakat dan di semua kondisi
lingkungan. Jadilah mesin-masin penunjang pengomposan seperti
alat pencacah, mesin pemutar, dan penghalus menjadi hiasan di
gudang TPST Rawasari ini, karena alat-alat ini memang tidak
dipakai. Full, kompos di sini asli buatan manusia, ujar Sri
Bebassari, Ketua Umum InSWA, sang Ratu Sampah yang
merupakan julukannya.
Jadi, sampah dari RW 01 dan RW 02 Kelurahan Cempaka
Putih Timur itu langsung dipilah. Pemilahan saat masih segar inilah
yang menjadi rahasia hilangnya bau busuk sampah. Sampah yang
mudah busuk (istilah yang benar adalah sampah mudah busuk dan
tidak mudah busuk, bukan sampah organik dan anorganik)
ditumpuk menjadi satu dan siap untuk dicacah. Sementara itu,
sampah yang tidak mudah busuk dan bernilai ekonomis dipilah
kembali seperti, kertas, plastik, dan kaleng untuk selanjutnya
dijual. Dalam sehari, sampah eknomis ini bisa mencapai 80 Kg.
Sampah yang tersisa tidak bisa dimanfaatkan lagi- dikembalikan
ke tempat pengumpulan sementara yang letaknya di depan TPST
Rawasari. Sampah-sampah ini siap diangkut ke TPA Bantar Gebang.
Kembali ke sampah yang mudah busuk dan telah dicacah
tadi. Sampah-sampah ini kemudian ditumpuk dengan ketinggian
maksimum 1.5 meter dengan panjang tumpukan yang tidak
ditentukan. Metode pengomposan ini disebut metode open
windrow. Setiap hari, tumpukan-tumpukan ini disiram sehingga
kelembabannya terjaga. Setiap minggu tumpukan ini juga dibolakbalik hingga kompos mencapai kematangan pada minggu ke tujuh.
Setiap gundukan bisa menghasilkan maksimal 500-600 Kg kompos.
Setidaknya ada lebih kurang 28 tumpukan tertata di ruangan
terbuka yang luasnya 500 meter persegi. Selanjutnya, tumpukan
yang sudah matang tadi siap diayak dan dikemas dengan berat 2.5
Kg dan 30 Kg. Untuk kemasan 2.5 Kg dijual seharga Rp 5000,
sementara Rp 21 ribu untuk kemasan 30 Kg.
Sebagai gambaran, TPST.yang berlokasi di lahan 500
meter persegi ini memakan investasi Rp 100 500 juta/ton
dengan biaya operasional antara Rp 100.000 Rp 500.000/ton.
TPST saat ini mempekerjakan 10 orang untuk kegiatan operasional
sehari-hari seperti memilah, mencacah sampah yang mudah
busuk, menyiram dan membolak-balikkan sampah, mengayak, dan
mengemas kompos yang telah jadi. (Rafianti, Yanuar)

Pemilahan serta pencacahan


ranting/dahan

Proses penumpukan sampah


mudah membusuk

Proses penyiraman supaya


kelembabannya terjaga

Proses pembalikan

Kompos diayak sebelum di kemas dan siap digunakan

Hal . 3

Masa Depan Pengelolaan Sampah di Indonesia


Baru 1 Persen yang Baca Peraturan
ehadiran Undang-undang No 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah merupakan titik awal upaya perbaikan pengelolaan sampah di Indonesia.
Namun upaya perbaikan ini tidak semudah membalik telapak tangan. Proses
kelahiran undang-undang ini pun memakan waktu lebih kurang enam tahun. Setelah lahir
pun, undang-undang ini tidak bisa langsung dilaksanakan. Untuk melaksanakannya,
pemerintah harus menyusun peraturan baru lagi setidaknya 11 Peraturan Pemerintah, 3
Peraturan Menteri, NSPK Pengelolaan Sampah, dan Strategi dan Rencana Aksi Nasional
Pengelolaan
Sampah.
Perubahan total paradigma pengelolaan
sampah yang
diiamanatkan UU No 18/2008 ternyata sangat tidak mudah, terutama untuk
menyamakan persepsi di antara departemen dan instansi terkait. Pada undang-undang ini terjadi perubahan pendekatan
pengelolaan sampah yang sangat signifikan yang tadinya hanya kumpul, angkut, dan buang menjadi kegiatan pengurangan melalui
3R (Reduce, Reuse, dan Recyle) dan penanganan sampah yang meliputi pemilahan, pengumpulan, pengolahan dan pemrosesan
akhir. Baru empat tahun kemudian satu Peraturan Pemerintah dari undang-undang ini lahir yakni, PP NO 81 Tahun 2012 tentang
Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sejenis Sampah Rumah Tangga.
Keterlambatan pelaksanaan peraturan ini, menurut Ketua Umum Indonesia Solid Waste Association Sri Bebassari,
disebabkan karena sosialisasi yang sangat kurang. Bagaimana peraturan bisa dijalankan jika yang yang baca (peraturan
pengelolaan sampah, pen) kurang dari 1 persen, ujarnya. Diyakininya, yang membaca peraturan baru dinas atau instansi terkait
yang mengurusi lingkungan dan kebersihan. Sementara, pimpinan dinas/instansi lainnya kebanyakan belum membacanya. Ini
terbukti pada pertemuan yang ditaja Dirjend Tata Ruang Departemen PU beberapa waktu lalu, dari 80 kota perwakilan yang hadir,
hanya dua yang mengaku telah membaca peraturan pengelolaan sampah. Kita ini bisa bikin produk hukum, tapi tidak dibarengi
dengan sosialisasi yang baik, ujarnya Bu Nci, sapaan akrab Sri Bebassari, menyayangkan. Padahal Indonesia telah memiliki
perangkat hukum pengelolaan sampah yang sudah cukup membanggakan dengan kehadiran Undang-undang No 18 Tahun 2008,
ditambah dengan PP No 81 Tahun 2012 ini.
Namun begitu, syukurlah, di beberapa daerah, tanpa menunggu peraturan turunan Undang-undang seperti PP, Permen,
dan lainnya, mereka telah berinisiatif menyusun dan atau merevisi peraturan daerah yang berkenaan dengan pengelolaan sampah,
seperti yang dilakukan DKI Jakarta, Kabupaten Badung Provinsi Bali, Kabupaten Bantul, Kota Bandung dan lain lain. Kabupaten
Bantul, contohnya, telah memasukkan prinsip utama pengelolaan sampah domestik, yakni kegiatan pengurangan dan penanganan
sampah. Peraturan tersebut juga telah mengatur pemberian insentif dan disinsentif yang cukup jelas kepada lembaga dan
perseorangan.
Kota Bandung sendiri baru saja menerbitkan peraturan daerah yang lebih maju yakni, Perda No 17 Tahun 2012 tentang
Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik. Peraturan ini tidak saja mendorong setiap orang menjadi smart consumer dengan
lebih memilih plastik yang ramah lingkungan, tapi juga memicu inovasi produsen untuk melakukan perubahan pada produk dan
atau kemasannya yang berbahan plastik. Kementerian Lingkungan Hidup saat ini juga tengah menyusun peraturan menteri terkait
hal ini, disebut dengan Extended Producer Responsibility (EPR) dimana menjadi kewajiban produsen atas sampah yang telah
dihasilkannya pada post consumer.
Menurut Sri Bebassari, pengelolaan sampah saat
ini telah menjadi prioritas dalam perencanaan dan
pembangunan di beberapa kota di Indonesia yang dilakukan
pendekatan pada lima aspek ; hukum, kelembagaan,
finansial, sosial budaya dan teknologi. Jadi penekanannya
tidak saja pada teknologi, tapi sudah menyentuh empat
aspek lainnya, ujarnya.
Akhir
kata,
untuk
mencapai
tujuannya,
pengelolaan
sampah
nasional
memang
masih
membutuhkan jalan yang sangat panjang. Namun.
kehadiran Undang-undang No 18 Tahun 2008 dan PP No 81
Tahun 2012 sudah merupakan awal yang sangat
menjanjikan perubahan karena tidak saja Indonesia, negaranegara di dunia mengakui bahwa sampah telah menjadi
salah satu permasalahan lingkungan yang perlu ditangani
segera. (Rafianti)

National member of :

Newsletter ini diterbitkan secara periodik oleh


Indonesia Solid Waste Association (InSWA).
Penerbitan ini dimaksudkan sebagai media
komunikasi dan penyebaran informasi para pelaku
kegiatan pengelolaan sampah di Indonesia.
Indonesia Solid Waste Newsletter menerima karya
berupa naskah, artikel, dan foto sebagai bentuk
kontribusi dan peran aktif para pelaku pengelolaan
sampah untuk Indonesia yang lebih bersih. Panjang
1
naskah 1 /4 halaman A4 spasi tunggal.
Pengiriman naskah, artikel, dan foto dialamatkan ke:
Kantor InSWA Jl. Letjend Suprapto No 29 N Jakarta
Pusat. Telp (021) 426 7877. Fax (021) 426 7856. Atau
melalui email ke alamat: sekretariat@inswa.or.id

PERISAI
Pusat Pengembangan Riset Sampah
Indonesia

TIM REDAKSI. Ketua Pengarah: Ketua Umum InSWA Sri Bebassari, Anggota Pengarah: Mohammad Helmy, Pudji Nugroho, GLK Meng,
Tirtamarta Sudarman, Djoko Heru Martono, Guntur Sitorus, Nurina Aini Herminindian, Dini Trisyanti, Redaktur Pelaksana: Rafianti,
Staf Redaksi: Noverra Mardhatillah Nizardo, Agus Rosadi, Muhammad Yanuar, Imla Novia Rizka, Olly Tasya Syahrudin, Sekretariat Redaksi dan
Distribusi: Abdul Khamim, Anti Kusmahendrini, Destiani Afriana.