Anda di halaman 1dari 7

Cast:

Raden Ajeng Kartini


Ayah, Raden Mas Adipati Sastrodiningrat
Suami, Raden Adipati Joyodiningrat
Wanita desa 1, Inah
Wanita desa 2, Sumi
Teman ayah RA Kartini, Kusumo Hadiyanto
Ranny, Wanita Modern 1
Elisa, Wanita Modern 2

I
Sungai disalah satu kota kecil di Jawa Tengah, Jepara, mengalir dengan tenang.
Alirannya dimanfaatkan oleh wanita desa setempat untuk mencuci pakaian
mereka. Terlihat, disamping mencuci, mereka dengan asyik mengobrol satu
sama lain.

Inah : Sum, sebenernya aku iri deh.


Sumi : Lha, lapo iri tho, Nah? Iri ama siapa?
Inah : Sama noni-noni Londo itu, lihat mereka deh. Enak ya mereka ndak
harus ngumbah klambi kayak kita. Pakaiane bagus-bagus, rumah gede.
Belum lagi mereka juga ngerasain yang namanya sekolah. Koyok langit
karo bumi dibanding awake dewe.
Sumi : Lha, opo toh sekolah itu, Nah?
Inah : Aku yo ndak sepiro weruh. Katae Tini, sekolah itu tempat yang bikin kita
jadi pinter.
Sumi : Halah, kita lho ndak perlu pinter. Lha habis gini kita mbojo kok, pinter yo
wes ndak onok guna.e lagi.
Inah : Daripada bingung, habis gini yok kita kerumah si Tini. Tanya-tanya gitu.
Sumi : Ya wes.
II

Rumah besar bergaya joglo itu sepi. Hanya ada satu orang menyambut ketika
Inah dan Sumi bertandang..

Sumi

: Tini.. Tin? (mengetuk pintu)

Kartini

: Iya tunggu sebentar. (membuka pintu) Eh kalian, monggo,

masuk.
Inah

: Sepi banget rumahmu?

Kartini

: Iya, Romo sedang ke kantor Bupati. Tumben kesini. Enek

opo toh?
Inah

: Gini Tin, kita ini cuma ingin tau aja, sekolah itu yang kayak

gimana sih?
Kartini

: (tersenyum) Sekolah itu tempat untuk belajar,nambah ilmu.

Dengan belajar, kita gak bakal dibodohin sama orang-orang.


Sumi

: Ohh... Lha terus kenapa kamu sendiri mandek sekolah

sekarang?
Kartini

: (menghela napas, diam sesaat) Kamu tahu adat toh? Perempuan

ndak boleh sekolah lama-lama, cukup ngerti baca tulis, trus


dipingit, nunggu manten. Wis, segitu tok peran kita, kata romoku.
Inah

: Aku juga bakal dipingit sebentar lagi. (diam sesaat) Eh, Tin,

ajari kita ilmumu saat kowe masih sekolah. Iso ora?


Kartini

: Lha itu! (tersenyum lebar) Kita buat aja sekolah sendiri, diam-

diam. Yo opo?
Sumi

: Tempate ndek mana?

Kartini

: Kamu tahu gudang balai desa, ora? Disana kan kosong, pas buat

kita belajar nanti.


III
Mereka berkumpul di Balai Desa, dan dengan peralatan seadanya, Kartini
memulai sekolahnya tersebut.

Kartini

: Kita mulai pelajarannya hari ini dengan mengenal huruf.

Siapa tahu huruf ini? (menuding huruf A)


Inah dan Sumi

: (menggeleng)

Kartini

: Ini A. Ini apa? (mengulang)

Inah dan Sumi

: A. (bersamaan)

Kartini

: Pinter. Ini apa? (menunjuk huruf)

Inah dan Sumi

: (menggeleng)

Kartini

: (tersenyum) Ini huruf N. Ini apa? (mengulang)

Inah dan Sumi

: N.

Kartini

: Bagus. Yang ini huruf apa? (menunjuk huruf)

Inah dan Sumi

: (menggeleng)

Kartini

: Ini namanya I. Huruf apa?

Inah dan Sumi

: I.

Kartini

: Nah, semuanya A-N-I. Ani.

Inah dan Sumi

: Oh..Ani.

Kartini

: Iya, kalian pinter sekali. (tersenyum)

Sementara itu, dibalik jendela, terlihat sesosok laki-laki tengah mengintip


kedalam gudang Balai Desa. Wajahnya menyiratkan ketidaksukaan. Setelah
mengamati, laki-laki itupun pergi dengan cepat.
Kartini

: Pelajaran hari ini cukup sampai disini. Besok kita ketemu

lagi.
Inah dan Sumi

: Nggih, bu Guru.

Kartini

: Hus, apaan toh kalian ini. (tersenyum)

Ketiga sahabat tersebut berpisah menuju rumah masing-masing dan pulang


dalam keadaan bahagia.
IV
Laki-laki tersebut, yang diketahui bernama Kusumo Hadi berlari dengan kencang
menuju rumah Raden Mas Adipati Sastrodiningrat, Bapak dari Kartini, teman
masa kecil dulu. Sesampainya disana...
Kusumo

: (mengetuk pintu) Permisi..permisi.

Adipati

: Nggih, nggih. (membuka pintu) Oalah kowe to, Mo.

Monggo, mlebet.
Kusumo

: Ora usah. (tersengal-sengal) Aku cuma pengen

ngewarakke sesuatu hal.


Adipati

: Opo iku?

Kusumo

: Putrimu, aku lihat dia digudang Balai Desa.

Adipati

: (terkejut) Lha lapo cah iku ndek kono?

Kusumo

: Putrimu ngewulang temen-temene mbaca karo nulis.

Adipati

: (marah) Dasar cah edan. Mau ngomong nang aku arep

ning omahe dulur.e,atek acara ngewulang barang


Keminter!
Kusumo

: Yowis. Aku cuma mau ngewarakke itu tok. Aku pamit,

Di. Permisi.
Adipati

: Nggih, suwun Mo.

V
Kartini pulang dengan perasaan gembira dihatinya karena telah memberikan
sedikit ilmunya terhadap wanita didesanya yang tak mengenyam pendidikan.
Sesampainya dirumah..

Adipati (ayah)

: Dari mana kamu, nduk. (menahan marah)

Kartini

: Dari rumah Lastri, Romo.

Adipati

: Berani-beraninya kamu bohongi Romo! Kamu tadi di

Balai Desa toh, di gudang, campur tikus itu? (suara


meninggi)
Kartini

: Ngapunten, Romo. (menunduk)

Adipati

: Mau jadi apa kamu, hah? Ngajar koyok isok-isoko.

Keminter! (membentak) Denger yo nduk, Romo ndak


seneng. Apalagi kamu arep tak jodohke karo Joyoningrat,

Bupati Rembang itu. Sudah sepantasnya kamu lebih mikir


pernikahanmu ketimbang hal lain!
Kartini

: (menunduk)

Adipati

: Masuk kamar! Jangan pernah keluar rumah lagi!

Seminggu lagi kamu arep manten karo Joyoningrat, jadi belajaro jadi ibu yang
baik, ndak usah belajar
mbaca utawa itung-itungan maneh! Ra faedah!
VI
Dikamar, Kartini menumpahkan kesedihannya dengan menangis. Setelah lelah
menangis, ia beranjak menuju meja belajarnya untuk menulis surat kepada
teman-temannya.
(Narasi isi pikiran Kartini ketika menulis surat untuk sahabat penanya)
Jepara, 4 Oktober 1901
Meneer Anton in Netherlands
Perempuan, di negeriku selalu sama. Memiliki kewajiban namun tak
memiliki satu pun hak untuk diri mereka sendiri. Bahkan terhadap pendidikan,
hal penting yang selalu digaung-gaungkan di negerimu.
Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak
wanita, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak wanita menjadi
saingan laki-laki dalam hidupnya.
Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum
wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya yang diserahkan alam
sendiri ke tangannya : menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama.
Maka berbahagialah mereka yang memiliki pendidikan yang layak dalam
hidupnya.
Dilipatnya surat tersebut dan dimasukkan kedalam kotak disisi meja belajarnya.

VII
Pernikahan Kartini dengan Bupati Rembang, Raden Adipati Joyodiningrat telah
usai. Mereka pun telah menjadi sepasang suami istri. Disuatu pagi yang cerah,
kala suaminya telah berangkat menuju kantor kabupaten, terdengar seseorang
mengetuk pintunya..
Kartini

: Siapa?

Inah

: Kami, Tin!

Kartini

: (membuka pintu, sumringah) Kalian, monggo, masuk

aja!
Sumi

: Piye kabarmu, Tin? Sehat?

Kartini

: Nggih, alhamdulillah. Kalian juga toh?

Inah dan Sumi

: (mengangguk)

Inah

: Oh ya, Tin, sekolahmu yang kamu amanatkan ke kita

sudah memiliki banyak murid. Ancen, awake dewe ga


sepinter kamu kalo ngajar! Maaf, Tin.
Kartini

: Kalian mau melanjutkan lho aku sudah seneng. Paling

ndak, mbagi ilmu dikit-dikit kan udah lumayan bikin mereka


ngerti. (tersenyum) Wis, diminum dulu tehnya.
Sumi

: Makasih, Tin.
VIII

Beberapa puluh tahun kemudian, Indonesia telah berubah, menjadi negara yang
makmur, sejahtera dan adil. Di perpustakaan sebuah universitas ternama,
duduklah Ranny dan Elisa, yang tengah membicarakan sesuatu..
Ranny

: (menutup sebuah buku) Luar biasa, membaca perjuangan Ibu

Kartini aku jadi terinspirasi menjadi segigih beliau.


Elisa

: Dia memang wanita yang menakjubkan, Ran. Tanpa jasa beliau,

pemikirannya, pemberontakannya, mungkin kita tak akan duduk


disini, disalah satu kampus ternama di Indonesia. (melihat
sekeliling dan tersenyum)
Ranny

: Mungkin kita sekarang masih di dapur, masak bubur buat anak

kita dan nikah di usia 15 tahun, deh. (tertawa kecil)


Elisa

: Atau lagi dikebun, menanam sayur buat dimakan. (tersenyum)

Ranny

: Seandainya beliau masih hidup, tentunya beliau bangga terhadap

kita, perempuan yang berpemikiran maju dan berprestasi. Usaha


beliau tak sia-sia. (menerawang jauh)
Elisa

: Ya, seandainya beliau tahu, betapa kita sungguh berterima kasih

atas jasa beliau, mensetarakan derajat kaum wanita sehingga


mampu berkiprah dibidang yang sama dengan laki-laki. (tersenyum)

EPILOG (Puisi dibacakan Secara Live)


Merdeka, bukanlah hanya berkutat di medan perang, yang penuh darah dan
ranjau.
Merdeka, bukan hanya menenteng senjata dan berjuang melawan Jepang atau
Belanda.
Merdeka, bukan pula hanya sekedar melawan dan mengusir penjajah dari bumi
Indonesia.
Tetapi merdeka yang sesungguhnya, ialah yang mampu membebaskan kaum,
dari belenggu kebodohan dan kemiskinan.
Merdeka, apakah kita, sudah merdeka?