Anda di halaman 1dari 3

TEKNIK PENGUKURAN BOBOT ISI TANAH GAMBUT DI LAPANGAN

DAN DI LABORATORIUM
Lili Muslihat1

ahan gambut di Indonesia khususnya di Sumatera dan


Kalimantan mempunyai potensi yang sangat besar
untuk pengembangan pertanian. Menurut Subagjo et al.
(2000), luas lahan gambut di Indonesia sekitar 13.203 juta ha.
Sejalan dengan makin berkurangnya ketersediaan lahan
subur, maka perluasan area pertanian diarahkan antara lain ke
tanah Podsolik merah kuning dan tanah gambut. Tanah-tanah
tersebut dikategorikan sebagai tanah bermasalah yang perlu
diteliti sifat-sifatnya. Tanah gambut terutama menempati
dataran rendah di bagian basah, kurus, dan masam (Muljadi
dan Soepraptohardjo, 1975).
Lahan gambut dinilai tidak saja marginal, tetapi juga
fragile. Tingkat kesuburannya ditentukan oleh sifat fisik,
kimia, dan kematangannya. Beberapa sifat dan perilaku tanah
gambut berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan tanaman (Soepraptohardjo dan Dreissen, 1976). Sifat fisik ini perlu
dipertimbangkan dalam pemanfaatan lahan gambut dan
perakitan teknologi yang akan diterapkan. Sifat fisik juga
sangat berkaitan dengan aspek teknik pembangunan rumah,
pembuatan dan pemeliharaan jalan, serta pembuatan saluran
drainase dan irigasi (Widjaja-Adhi, 1984).
Salah satu sifat fisik tanah gambut adalah bobot isi (bulk
density/BD). Selama ini penentuan bobot isi dilakukan berdasarkan penelitian yang banyak dikembangkan di daerah
temperate seperti Amerika, Eropa, dan Jepang. Di daerah
tersebut, gambut terbentuk dari bahan rumput sphagnum
yang sebarannya heterogen. Kondisi tanah gambut tersebut
sangat berbeda dengan di Indonesia.
Penelitian tentang pengukuran bobot isi tanah gambut
telah banyak dilakukan di laboratorium dengan menggunakan
ring sampel. Pendekatan ini masih perlu diperbaharui karena
ring sampel terlalu kecil untuk mewakili variasi sebaran
gambut di Indonesia, terutama pada gambut hemik atau fibrik
yang mempunyai sebaran gambut heterogen terutama di
bawah lapisan permukaan air.

sebaran gambut. Penetapan tersebut telah dilakukan di


beberapa lokasi di Kalimantan Tengah (Muslihat, 2003)
dengan tujuan untuk mendapatkan teknik pengukuran bobot
isi yang lebih sederhana dan mendekati kebenaran serta
mudah dilakukan di lapangan.

BAHAN DAN METODE


Bahan dan alat yang digunakan dalam pengukuran dan
penetapan bobot isi adalah 30 contoh ring sampel dengan
volume 182,82 cm 3 dan 30 contoh literan dengan volume
1.000 cm3, timbangan, kantong plastik, dan label. Lokasi kedalaman dan kematangan gambut yang diukur bobot isinya
disajikan pada Tabel 1. Metode penetapan bobot isi tanah
gambut dilakukan melalui pengukuran langsung menggunakan ring sampel pada kondisi kering oven 150C dengan
tekanan 33 kPa atau pada pF 2,54, sedangkan penetapan
literan dilakukan pada kondisi basah, lembap, dan kering.
Penetapan Menggunakan Literan
Penetapan bobot isi tanah dengan menggunakan literan
dapat dilakukan pada tanah gambut basah, lembap maupun
kering oven 150C.
a. Penetapan kondisi basah di lapangan:

Literan ditimbang (X g) kemudian dimasukkan ke dalam


tanah gambut pada kedalaman yang telah ditentukan
sebelumnya, setelah itu kedua ujungnya dibersihkan
dan diratakan. Selanjutnya literan ditimbang bersama
tanah (Y g).

Nilai bobot isi dihitung dengan rumus (Y - X)/volume


literan.
b. Penetapan kondisi lembap di laboratorium:

Contoh tanah gambut hasil pengukuran di lapang

Tulisan ini membahas teknik penetapan bobot isi tanah


gambut dengan cara lain, yaitu menggunakan literan (tabung
takar) sebagai alat alternatif yang dapat mewakili variasi

dikeringanginkan selama 1 minggu hingga bobotnya


tetap. Tanah lembap tersebut selanjutnya dimasukkan
ke dalam literan sampai penuh dan rata, kemudian
ditimbang (Z g).

Teknisi Litkayasa Pratama pada Pusat Penelitian dan Pengembangan


Tanah dan Agroklimat, Jln. Ir. H. Juanda No. 98, Bogor 16123, Telp.
(0251) 323012, Faks. (0251) 311256

Nilai bobot isi dihitung dengan rumus (Z - X)/volume

Buletin Teknik Pertanian Vol. 8. Nomor 2, 2003

literan.
69

Tabe 1. Lokasi pengambilan contoh tanah serta kedalaman


dan kematangan gambut
Lokasi sampel
Kabupaten Buntok
MP 1- I
-II
MP 2- I
-II
MP 3- I
-II
BTP 1 - I
-II
BTP 2 - I
-II
BTP 3 - I
-II

Kedalaman gambut
(cm)

Kematangan
gambut

0 - 400
100- 760
0 - 100
100- 780
0-75
7 5- 740
0-50
5 0- 450
0-50
5 0- 550
0 - 100
100- 650

Fibrik
Fibrik
Hemik
Hemik
Hemik
Hemik
Hemik
Hemik
Fibrik
Fibrik
Fibrik
Fibrik

Berat kering tanah = (C - B) - p (C - B)/100 = D g.


Nilai bobot isi = D g/volume tanah = W g/cc
(volume tanah = volume tabung ring = 182,80)

Eks Proyek Lahan Gambut 1 juta ha


TN 1 - I
0-25
-II
2 5- 700
PL 2 - I
0-30
-II
3 0- 650
DT 3 - I
0-50
-II
5 0- 1000

Hemik
Hemik
Hemik
Hemik
Saprik
Saprik

Kabupaten Katingan/Sebangau
TR 1 - I I
0-60
-II
8 0- 900
TR 2 - I
0-70
-II
7 0- 1100
AK 2 - I
0-50
-II
5 0- 500
AK 3 - I
0-75
-II
7 5- 600
MB 1- I
0-50
-II
5 0- 600
MB 2- I
0-40
-II
4 0- 900

Hemik
Hemik
Hemik
Hemik
Saprik
Saprik
Hemik
Hemik
Fibrik
Fibrik
Hemik
Hemik

c. Penetapan kondisi kering oven 150C di laboratorium:

Setelah contoh tanah gambut diukur dalam keadaan


lembap, kemudian dikeringkan dengan oven pada suhu
105C selama 3 hari hingga bobotnya tetap. Tanah
kering tersebut dimasukkan ke dalam literan sampai
penuh dan rata, kemudian literan dan tanah ditimbang
(A g).

Nilai bobot isi dihitung dengan rumus (A - X)/volume


literan.

Penetapan Menggunakan Ring Sampel

Contoh tanah gambut pada tabung ring ditimbang (B g),


begitu pula tabung ring (C g).
70

Berat tanah gambut (C - B g) ditetapkan kadar air tanah (p %).

HASIL DAN PEMBAHASAN


Tanah gambut di daerah tropika basah seperti Indonesia
berkembang dari vegetasi hutan tropis. Dalam kondisi alami,
lapisan tanah gambut terdiri atas bahan material berserat dan
tanaman yang terdekomposisi belum sempurna, sehingga
menghasilkan tanah gambut yang variasi dan sebarannya
heterogen. Menurut pengamatan di lapangan, material
berserat ini tidak terdistribusi secara merata dalam lapisan
tanah. Serat atau akar masih cukup banyak sehingga menjadi
kendala dalam melakukan pengambilan contoh dengan
menggunakan ring sampel. Dalam kondisi basah atau pada
kedalaman yang berair, biasanya gambut melumpur sehingga
ring sampel tidak sempurna dalam menampung tanah.
Pengambilan contoh tanah menggunakan literan masih
dapat dilakukan baik pada gambut fibrik, hemik maupun
saprik, sehingga tanah dapat dimasukkan ke dalam literan
dan menghasilkan angka-angka bobot isi tanah yang lebih
besar dibandingkan dengan menggunakan ring sampel yang
selama ini dilakukan. Menurut Widjaja-Adhi (1984), tanah
gambut dicirikan dengan nilai bobot isi < 0,60-0,l0 g/cm 3.
Angka ini sesuai dengan hasil pengukuran pada percobaan
ini (Tabel 2), kecuali pada kondisi basah yaitu antara 0,78-0,94
g/cm3. Pengukuran pada kondisi lembap menghasilkan nilai
bobot isi antara 0,49-0,52 g/cm3, dan pada kondisi kering
antara 0,27-0,35 g/cm 3. Namun, penggunaan ring sampel
akan menghasilkan angka antara 0,14-0,22 g/cm3.
Hasil pengukuran menggunakan literan pada tanah
gambut saprik, fibrik dan hemik menghasilkan angka-angka
lebih besar dibandingkan dengan menggunakan ring sampel,
baik pada kondisi basah dan lembap maupun pada kondisi
kering oven 150 o C. Perbedaan ini menunjukkan bahwa
penggunaan literan lebih mendekati kebenaran karena volume
literan lebih banyak mewakili variasi sebaran gambut
daripada menggunakan ring sampel. Di samping itu, literan
mempunyai volume lebih besar dibanding ring sampel
sehingga memudahkan dalam pengambilan sampel pada
tanah gambut yang tergenang serta tidak banyak memerlukan
pengulangan.
Penetapan bobot isi pada kondisi lembap, walaupun
sudah dikeringanginkan, masih menghasilkan tanah gambut
yang lembap dan mengandung air. Hal tersebut mencerminBuletin Teknik Pertanian Vol. 8. Nomor 2, 2003

Tabel 2. Hasil pengukuran bobot isi (BD) tanah gambut dengan


metode literan dan ring sampel pada kondisi basah, lembap,
dan kering
Asal/contoh
lokasi

Kedalaman
gambut
(m)
Basah

Kabupaten Buntok
MP-1
7,6
MP-2
7,8
MP-3
7,4
BTP 1
4,5
BTP 2
5,5
BTP 3
6,5
Rata-rata
6,6

0,91
0,87
0,86
0,79
0,83
0,81
0,85

Bobot isi (g/cc)


Ring
Jenis
s a m p e l gambut

Literan

Lembap Kering Kering


0,62
0,47
0,47
0,48
0,53
0,52
0,52

0,38
0,39
0,29
0,29
0,34
0,38
0,35

0,12
0,14
0,16
0,14
0,13
0,13
0,14

Fibrik
Hemik
Hemik
Hemik
Fibrik
Fibrik

Eks Proyek Lahan Gambut 1 juta ha


TN-1
7,0
0,77
0,60
PL-2
6,5
0,67
0,47
DT-3
110,0
0,90
0,54
Rata-rata
7,8
0,78
0,54

0,29
0,26
0,27
0,27

0,20
0,22
0,24
0,22

Hemik
Hemik
Saprik

Kabupaten Katingan/Sebangau
TR-1
9,0
0,85
TR-2
11,0
0,93
AK-2
5,0
0,96
AK-3
6,0
0,96
MB-1
6,0
0,98
MB-2
9,0
0,93
Rata-rata
7,7
0,94

0,3
0,28
0,38
0,40
0,24
0,37
0,33

0,23
0,22
0,20
0,23
0,11
0,17
0,19

Hemik
Hemik
Saprik
Hemik
Fibrik
Hemik

0,48
0,52
0,50
0,49
0,47
0,46
0,49

kan kondisi kelembapan yang sebenarnya di lapangan.


Penetapan bobot isi pada kondisi kering oven 150C menghasilkan tanah gambut yang kering dan tidak mengadung air,
sehingga tidak mencerminkan kondisi tanah gambut di lapangan. Menurut Subagjo (2002), tanah gambut mempunyai
pori-pori dan kapiler yang tinggi, sehingga mempunyai daya
menahan air yang sangat besar. Dalam keadaan jenuh,
kandungan air tanah gambut dapat mencapai 4,50-30 kali
bobot keringnya. Meskipun pada musim kemarau, tanah
gambut masih tetap lembap dengan kadar air tinggi. Kondisi
tersebut merupakan kondisi yang optimal bagi petumbuhan
tanaman. Oleh karena itu, pengambilan sampel pada kondisi
lembap akan lebih mendekati keadaan di lapangan.
Menurut Lucas (1982), nilai bobot isi sangat tergantung
pada pemadatan, komposisi bahan botani penyusunnya,
tingkat dekomposisi, serta kandungan mineral dan kadar air
saat pengambilan sampel. Saprik merupakan tanah gambut
yang sudah terdekomposisi hampir sempurna, tingkat
pemadatannya tinggi, dan sebarannya homogen. Begitu juga
dengan tanah mineral, umumnya mempunyai tekstur butir
halus dan homogen baik secara vertikal mapun horisontal,
sehingga pengambilan sampel untuk kedua jenis tanah
tersebut menggunakan ring sampel masih relevan. Namun,
Buletin Teknik Pertanian Vol. 8. Nomor 2, 2003

pada gambut hemik dan fibrik, dekomposisi masih belum


sempurna dan pemadatan rendah serta sebaran gambutnya
sangat heterogen (masih banyak serat dan akar), sehingga
pengambilan sampel menggunakan ring sampel kurang
sesuai.
Perbedaan penetapan bobot isi akan berpengaruh
terhadap perhitungan kandungan karbon dalam tanah per
satuan luas dan jumlah pupuk yang harus diberikan. Hasil
perhitungan juga bermanfaat dalam teknik bangunan untuk
menghitung beban yang dapat disangga oleh lahan gambut.

KESIMPULAN
Hasil pengukuran bobot isi terhadap jenis gambut saprik,
hemik, dan fibrik dengan menggunakan literan menghasilkan
angka-angka yang lebih besar dibandingkan dengan menggunakan ring sampel. Penetapan bobot isi tanah gambut
pada kondisi lembap akan lebih mendekati kebenaran
dibandingkan dengan pada kondisi kering oven 150C.
Penetapan dengan ring sampel hanya cocok untuk jenis
gambut saprik atau tanah mineral yang mempunyai variasi
sebaran homogen.
DAFTAR PUSTAKA
Lucas, R.E. 1982. Organic soil (Histosols), formation, distribution,
physical and chemichal and management for crop production.
Farm Sci. p. 435.
Muljadi, D. dan Soepraptohardjo. 1975. Masalah Data Luas dan
Penyebaran Tanah-tanah Kritis. Kertas Kerja untuk Simposium
Tanah Kritis. Lembaga Penelitian Tanah, Bogor.
Muslihat, L., I.T. Wibisono, dan R. Santoso B.W. 2003. Karakteristik Tanah dan Hidrologi pada Lokasi-lokasi Percontohan
CCFPI di Kalimantan Tengah. CCFPI Technical Report
320.04. Wetlands International - Indonesia Programme,
Wildlie Habitat Canada, Bogor.
Soepraptohardjo, M. and P.M. Dreissen. 1976. The lowland and
peat of Indonesia, a challenge for the future. In Peat and
Podsolic Soils and Their Potential for Agriculture in Indonesia.
Bull. Soil Res. Inst., Bogor, 3: 11-19.
Subagjo, H., D. Suharta, dan A.B. Siswanto. 2000. Sumberdaya Lahan
Indonesia. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Bogor.
Subagjo, H. 2002. Penyebaran dan Potensi Tanah Gambut di
Indonesia untuk Pengembangan Pertanian. Technical Report
410.02. Wetlands International-Indonesia Programme, Wildlie
Habitat Canada, Bogor.
Widjaja-Adhi, I P.G. 1984. Masalah tanaman di tanah gambut.
Prosiding Pertemuan Teknis Penelitian Pola Usahatani Menunjang Transmigrasi. Badan Penelitian dan Pengembangan
Pertanian, Jakarta.

71