Anda di halaman 1dari 18

Rheologi

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Pada saat ini prinsip dari rheologi sangatlah penting bagi kehidupan manusia
khususnya dalam bidang farmasi, sebagaimana yang telah diketahui bahwa
rheologi adalah ilmu yang mempelajari tentang aliran.Adapun prinsip dari yang
rheologi yang dimaksud adalah meliputi pencampuran aliran dari bahan,
pemasukan ke dalam wadah, pemindahan sebelum digunakan, penuangan,
pengeluaran dari wadah, atau pelewatan dari jarum suntik. Prinsip dari rheology
sagatlah berkaitan dengan viskositas (kekentalan), viskositas merupakan suatu
pernyataan tahanan dari suatu cairan untuk mengalir, semakin tinggi viskositas,
semakin besar tahanannya untuk mengalir.
Penyelidikan viskositas dari cairan sejati, larutan, dan sistem koloid baik yang
encer maupun yang kental jauh lebih bersifat praktis daripada nilai teoretis. Jika
karakteristik fisika masing-masing ini dirancang dan dipelajari secara objektif
menurut metode analitis dari rheologi, dapat diperoleh informasi yang berharga
untuk digunakan dalam memformulasi produk-produk farmasi yang lebih baik.
Sehingga pengaplikasian rheologi dalam farmasi yaitu pada saat melakukan
formulasi pada sediaan yang berbentuk krim, suspensi, emulsi, losion, pasta,
penyalut tablet, dan lain-lain. Selain itu, prinsip rheologi digunakan juga untuk
karakterisasi produk sediaan farmasi (dosage form) sebagai penjaminan kualitas
yang sama untuk setiap batch.
Sifat-sifat rheologi dari sistem farmaseutika dapat mempengaruhi pemilihan
alat yang akan digunakan untuk memproses produk tersebut dalam pabriknya.
Lebih-lebih lagi tidak adanya perhatian terhadap pemilihan alat ini akan
berakibat diperolehnya hasil yang tidak diinginkan. Paling tidak dalam
karakteristik alirannya.
Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan sebelumnya, maka akan
dilakukan percobaan rheologi, percobaan ini dilakukan menggunakan beberapa
sampel eperti gliserin, sirup ABC, minyak kelapa, Aquadest, dan Na-CMC yang
Wiri Resky Amalia
15020140074

Astri Syamsuddin

Rheologi

akan diamati alirannya dan viiskositasnya menggunakan alat viscometer


Brookfield.
1.2 TUJUAN PENGAMATAN
Adapun tujuan dari praktikum ini, yaitu:
1. Menjelaskan tentang rheologi
2. Membedakan cairan newton dan non newton
3. Menentukan viskositas rheologi cairan newton dan non newton

Wiri Resky Amalia


15020140074

Astri Syamsuddin

Rheologi

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA


Rheologi adalah ilmu yang mempelajari tentang aliran cairan dan
deformasi. Ilmu ini digunakan oleh ahli fisiologi untuk menentukan sirkulasi
darah, dan untuk para dokter dipakai untuk menentukan aliran larutan injeksi,
sedangkan untuk ahli farmasi digunakan untuk menentukan aliran suatu sediaan
misalnya emulsi, suspensi, dan salep (Kosman, 2005).
Beberapa tahun terakhir ini prinsip dasar rheologi telah digunakan dalam
penyelidikan cat, tinta, berbagai adonan, bahan-bahan untuk pembuat jalan,
kosmetik, produk hasil peternakan, serta bahan-bahan lain. Penyelidikan
viskositas dari cairan sejati, larutan dan sistem koloid baik yang encer maupun
kental jauh lebih bersifat praktis dari pada bernilai teoris (Martin, 1993).
Reologi meliputi pencampuran dan aliran dari bahan, pemasukan ke
dalam wadah, pemindahan sebelum digunakan, apakah dicapai dengan
penuangan dari botol, pengeluaran dari tube, atau pelewatan dari suatu jarum
suntik. Reologi dari suatu produk tertentu yang dapat berkisar dalam konsistensi
dari bentuk cair ke semisolid sampai kepadatan, dapat mempengaruhi
penerimaan bagi si pasien, stabiltas fisika, dan bahkan afailabilitas biologis.jadi
viskositas telah terbuksti mempengaruhi laju absorbs obat dari saluran cerna
(Martin, 1993).
Sifat-sifat reologi dari system farmasetik dapat mempengaruhi
pemilihan alat yang akan digunakan untuk memproses produk tersebut dalam
pabriknya. Lebih-lebih lagi tidak adanya perhatian terhadap pemilihan alat ini
akan berakibat diperolehnya hasil yang tidak diinginkan, paling tidak dalam
karekteristik alirannya (Martin, 1993).
Sebagian besar produk farmaseutik cair bukan merupakan cairan
sederhana dan tidak mengikuti hokum aliran newton. Ssisstem ini dissebut
sisstem non newton. Sifat non newton pada umumnya ditunjukan oleh disspersi
heterogen cairan dan padatan seperti larutan koloid, emulsi, ssusspenssi cair,
Wiri Resky Amalia
15020140074

Astri Syamsuddin

Rheologi

dan salep. Jika bahan bahan non newton dianalississ dalam ssuatu visskometer
rotasi dan hasilnya diplot, ditmukan berbagai kurva konssistenssi yang
menggambarkan tiga kelas aliran, yakni : plastis, pseudoplastis, dan dilatan
(Sinko, 2011)
Berdasarkan hukum Newton tentang sifat aliran cairan, maka tipe aliran
dibedakan menjadi 2, yaitu cairan newton dan cairan non newton (Wiroatmojo,
1988):
1. Cairan Newton yaitu cairannya mengalir mengikuti aturan-aturan viskositas.
2. Cairan non Newton yaitu aturannya tidak mengikuti aturan viskositas.
Cairan biasanya memiliki ukuran molekul yang paling besar atau
mempunyai struktur tambahan, misalnya koloid. Untuk mengalirkan cairan
bukan cairan Newton sehingga diperlukan tambahan gaya atau jika perlu
memecah strukturnya.
Aliran Plastis
Pada kurva aliran plastis memperlihatkan ssuatu bahan yang menunjukan
aliran plastis; bahan demikian dikenal sebagai bahan badan Bigham (Bhigam
bodies) untuk menghormati pencetuss reologi modern dan juga peneliti pertama
yang mempelajari bahan plastis ssecara ssistematis (sinko,2011).
Kurva aliran plastis tidak melalui titik asal (0,0) tapi memotong sumbu
tegangan geser (atau akan memotong, jika bagian lurus dari kurva terssebut
dieksstrapolassikan ke sumbu ) pada suatu titik tertetu yang dikenal sebagai
yield value terlampui. Pada tegangan di bawah yield value, zat bertindak seperti
bahan elastiss. Ahli reologi menggolongkan badan bingham, yaitu zat zat
yang memperlihatkan yield value (sinko,2011).
Aliran Pseudoplastis
Banyak produk farmasi menunjukan aliran pseudoplastis, antara lain disepersi
cair dari gom alam dan sintesis (misalnya, tragakan, natrium alginate,
metilselulossa, dan natrium karboksimetilselulosa). Aliran pseudo plastis secara
Wiri Resky Amalia
15020140074

Astri Syamsuddin

Rheologi

khas diperlihatkan oleh polimer polimer dalam larutan; ini merupakan


kebalikan dari sistem plastis. (sinko,2011)
Visskossitas zat pseudoplastis berkurang dengan meningkatnya laju geser.
Viskositas nyata (apparent viscosity) dapat diperoleh pada setiap nilai laju
geser, yaitu dari kemiringan garis singgung ke kurva pada titik tertentu.
(sinko,2011)
Berdasarkan grafik sifat aliran (Rheogram) cairan Newton dibagi atas
2 kelompok, yaitu (Martin, 2008):
1. Cairan yang sifat alirnya tidak dipengaruhi oleh waktu, kelompok ini terbagi
atas tiga bagian yaitu:
a. Aliran plastik
Cairan yang mempunyai aliran plastik tidak akan mengalir
sebelum suatu gaya tertentu dilampauinya. Gaya tersebut adalah yield
value atau f. Pada tekanan di bawah yield value cairan tersebut
bertindak sebagai bahan elastik, sedangkan di atas harga ini aliran
mengikuti hukum Newton.

Rate of shear
f
Shearing stress

b. Aliran Pseudoplastik

Wiri Resky Amalia


15020140074

Astri Syamsuddin

Rheologi

Viskositas cairan psedoplastik akan berkurang dengan naiknya


kecepatan geser, berbeda dengan aliran plastik, di sini tidak ada yield
value, karena kurva tidak mempunyai bagian yang linier, maka cairan
akan mempunyai aliran pseudoplastik tidak mempunyai harga viskositas
yang absolut.

Rate of shear

c. Aliran Dilatan

Shearing stress

Viskositas cairan akar naik dengan naiknya kecepatan geser


karena volumenya akan naik bila ia bergeser.

Rate of shear
Shearing stress

2. Cairan yang sifat alirannya dipengaruhi oleh waktu, kelompok ini terbagi
atas tiga aliran yaitu (Sinko, 2011)
1) Aliran Tiksotropi
R
a
t
e
O
f
s
h
e
r
e

Wiri Resky Amalia

Astri Syamsuddin
Shearing stress

15020140074

Rheologi

Tiksotropi bisa didefinisikan


sebagai

suatu

pemulihan

yang

isoterm

dan

lambat

pada

pendiaman suatu bahan yang kehilangan konsistensinya karena


shearing. Gejala tiksotropi sering dikenal dengan shear thinning sistem
(aksi plastis dan pseudoplastis). Kurva menurun seringkali diganti ke
sebelah kiri dan kurva yang menaik menunjukkan bahan tersebut
mempunyai konsistensi lebih rendah pada setiap harga rate of
shear pada kurva menurun dibandingkan dengan pada kurva menaik.
Ini menunjukkan adanya pemecahan struktur dan juga shear thinning
yang tidak terbentuk kembali dengan segera jika stress tersebut
dihilangkan atau dikurangi.
2) Aliran Rheopeksi
Rheopeksi adalah suatu gejala
dimana suatu sol membentuk suatu
gel lebih cepat jika diaduk perlahanlahan atau kalau di shear daripada
jika

dibiarkan

membentuk

gel

tersebut tanpa pengadukan. Dalam


suatu sistem reopektis, gel tersebut
adalah

bentuk

R
a
t
e
O
f
S
h
a
r
e

Shearing steess

keseimbangan.

Sedangkan dalam anti tiksotropi keadaan keseimbangan adalah sol.

Wiri Resky Amalia


15020140074

Astri Syamsuddin

Rheologi

3) Antitiksotropi
R
a
t
e
O
f
S
h
a
r
e
Shearing stress

Antithiksotropi yang menyatakan kenaikan bukan pengurangan


konsistensi pada kurva menurun. Kenaikan dalam hal kekentalan atau
hambatan (resisten) mengalir dengan bertambahnya waktu shear ini
telah di selidiki oleh Chong et. Al.
Alat untuk mengukur voskositas dan rheology suatu zat cair disebut
viscometer. Ada dua jenis viscometer yaitu:
1. Viskometer satu titik : Viskometer kapiler, viscometer bola jatuh,
penatrometer, palte plastometer.
2. Viskometer banyak titik : viscometer rotasi tipe stromer, brokfield,
3. Sotavisco dan lain-lain.
Hukum aliran dari Newton perbedaan kecepatan (dv) antara dua bidang
cairan dipisahkan oleh suatu jarak yang kecil sekali (dv) adalah perbedaan
kecepatan atau rate of shear, dv/dr. gaya persatuan luas F/A diperlukan untuk
menyebabkan aliran, ini disebut shearing stress. Newton adalah orang pertama
yang mempelajari sifat-sifat aliran dari cairan secara kuantitatif. Dia
menemukan bahwa makin besar viskositas suatu cairan. Akan makin besar pula
gaya persatuan luas (shearing stress) yang diperlukan untuk menghasilkan suatu
rate of shear tertentu. Oleh karena itu, rate of shear harus berbanding langsung
dengan shearing stress atau
Wiri Resky Amalia
15020140074

Astri Syamsuddin

Rheologi

F'
A

dv
dt

Dimana

adalah koefisien viskositas, biasanya dinyatakan sebagai

viskositas saja. Persamaan sering kali ditulis sebagai (Martin, 1993):

F
G

Dimana F = F/A dan G = dv/dr


Adanya zat terlarut mekromolekul akan menaikkan viskositas larutan.
Bahkan pada konsentrasi rendahpun, efeknya besar, karena molekul besar
mempengaruhi aliran fluida pada jarak jauh. Viskositas diukur dengan beberapa
cara. Dalam Viskometer Ostwald, waktu yang diperlukan oleh larutan untuk
melewati pipa kapiler dicatat dan dibandingkan dengan sampel standar. Metode

ini cocok untuk penentuan ( ), karena perbandingan viskositas larutan dan


pelarut murni, sebanding dengan waktu pengaliran t dan t setelah dikoreksi
untuk perbedaan antara rapatan dan (Atkins, 1997).

'
=

t
t'

'
x

Viskometer dalam bentuk silinder konsentris yang berotasi juga


digunakan untuk pengukuran viskositas. Tenaga putar pada silinder dalam
monitor di saat silinder luas dirotasikan. Viskometer drum Berotasi ini
mempunyai kelebihan dibandingkan dengan jenis Ostwald yaitu: Gradien geser

Wiri Resky Amalia


15020140074

Astri Syamsuddin

Rheologi

antara kedua silinder ini lebih sederhana daripada dalam pipa kapile (Atkins,
1997).
Karena viskositas berubah-ubah tergantung pada temperature, maka
penentuan temperatur jadi penting; umumnya viskositas cairan berkurang
dengan meningkatnya temperatur. Penentuan viskositas dalam istilah poise atau
centipoise menghasilkan perhitungan viskositas absolute. Kadang-kadang lebih
sesuai memakai skala kinetik. Dimana unit unit viskositas diukur dengan
Stokes dan centistokes). Viskositas kinematik di dapat dari viskositas absolute
dibagi bobot jenis cairan pada temperatur yang sama (Ansel,1989)
Viskositas Kinematik = viskositas absolut
Bobot jenis
Untuk larutan viskositasnya bergantung pada konsentrasi atau kecepatan
larutan. Umumnya larutan yang konsentrasinya tinggi. Viskositasnya juga
tinggi. Sebaliknya larutan yang konsentrasinya rendah viskositasnya juga akan
rendah. Adapun hubungan viskositas atau kekentalan dengan konsentrasi itu
penting karena dapat digunakan untuk mengetahui konsentrasi sel darah. Pada
darah normal, kekentalan terjadi dua kali dan bila konsentrasi darah meningkat
mencapai 70 kali di atas normal, maka kekentalan darah mencapai 20 kali air.
Dengan alas an demikian, aliran darah merah sangat rendah atau viskotasnya
turun. Sebaliknya pada penderita polyathemia (kadar sel darah merah
meningkat), aliran darah sangat lambat karena viskositasnya naik (Kosman,
2007).
Setiap fluida mempunyai viskositas yang berbeda-beda yang harganya
bergantung pada jenis cairan dan suhu. Cairan mempunyai viskositas lebih
besar daripada gas, karena memiliki gaya gesek untuk mengalir lebih besar.
Pada kebanyakan cairan viskositasnya turun dengan naiknya suhu. Menurut
teori lubang terdapat kekosongan dalam cairan dan molekul bergerak secara
Wiri Resky Amalia
15020140074

Astri Syamsuddin

Rheologi

kontinu ke dalam kekosongan ini. Sehingga kekosongan akan bergerak keliling.


Proses ini menyebabkan aliran, tetapi memerlukan energi karena ada energi
pengaktifan yang harus dipunyai suatu molekul agar dapat bergerak ke dalam
kekosongan energi pengaktifan lebih mungkin terdapat pada suhu yang lebih
tinggi dan dengan demikian cairan lebih mudah mengalir (Yasul, 2003).
Viskositas

mula-mulai

diselidiki

oleh

Newton,

yaitu

dengan

menggambarkan zat cair sebagai berikut (Martin, 2008):Balok zat cair terdiri
lapisan-lapisan molekul yang sejajar satu sama lain. Lapisan terbawah tetap
diam, sedangkan lapisan diatasnya bergerak dengan kecepatan konstan,
sehingga setiap lapisan akan bergerak dengan kecepatan yang berbanding
langsung dengan jaraknya terhadap lapisan terbawah yang tetap. Perbedaan
kecepatan dv antara dua lapisan yang dipisahkan dengan jarak dx disebut dv/dx
atau kecepatan geser (rate of shear). Sedangkan gaya per satuan luas F/A atau
tekanan geser (Shearing stress) (Martin, 2008).
Ahli farmasi kemungkinan besar lebih sering menghadapi cairan nonNewton dibanding dengan cairan biasa. Oleh karena itu mereka harus
mempunyai metode yang sesuai untuk mempelajari zat-zat kompleks. Ini. NonNewtonian bodies adalah zat-zat yang tidak mengikuti persamaan aliran
Newton, disperse heterogen cairan dan padatan seperti larutan koloid, emulsi,
suspensi cair, salep dan produk-produk serupa masuk dalam kelas ini. Jika
bahan-bahan Non-Newton dianalisis dalam suatu uskometer yang dan hasilnya
diplot, diperoleh berbagai kurva konsentrasi yang menggambarkan adanya tiga
kelas aliran yakni : plastis, pseudoplastis dan dilatan (Martin, 1993).

Wiri Resky Amalia


15020140074

Astri Syamsuddin

Rheologi

BAB 3 METODE KERJA


3.1 ALAT DAN BAHAN YANG DIGUNAKAN
3.1.1 Alat yang Digunakan
Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Batang pengaduk
Botol bening
Botol semprot
Erlenmeyer
Gelas kimia
Kertas grafik
Piknometer 25 ml
Viscometer Brookfield

3.1.2 Bahan yang Digunakan


Adapun bahan yang digunakan dala praktikum ini adalah
1. Aquadest
2. CMC
3. Gliserin
4. Minyak kelapa
5. Syrup ABC
6. Kertas saring
7. veegum
3.2 CARA KERJA
Lakukan pengukuran viskosotas:
1. Pada 50 rpm terhadap aquadest, gliserin, syrup ABC, dan minyak kelapa
2. Buat larutan CMC 2% dan larutan campuran (CMC 0,1 % dan veegum 2%)
masing masing 100 mL.
3. Pada 0,5; 2; 5; 10; 20; 50 dan 100 rpm larutan CMC 2%, dan campuranCMC
0,1% dengan veegum 2% kemudian buatlah rheogramnya.
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 HASIL
A. Penentuan viskositas bahan newton
Nama Bahan
Gliserin
Minyak Kelapa
Syrup ABC
Wiri Aquadest
Resky Amalia
CMC 2%
CMC15020140074
0,1% + veegum 2%

Viskositas (P)
5,83
0.636
0,126
0,078
39,1
0,12

Astri Syamsuddin

Rheologi

B. Penentuan Rheologi Bahan


Rpm
A1
93000
69900
76400
6180
5640
3910
2856

0,5
2
5
10
20
50
100

A2
2400
13800
8900
6900
5490
3880
2856

Vikositas
B1
420
230
60
30
18
12
11,7

B2
780
240
78
27
20
12,6
11,7

C1
43440
240
72
30
17
9
8,4

Keterangan :
A1 : larutan CMC 2% untuk kurva menaik
A2 : larutan CMC 2% untuk kurva menurun
B1 : larutan CMC 0,1% dan veegum 2% untuk kurva meaik
B2 : larutan CMC 0,1% dan veegum untuk kurva mennurun
C1 : aquadest untuk kurva menaik

Kecepatan
geser
30
120
300
600
1200
3000
6000

A1

A2

Tekanan Geser
B1

279000

7200
16560
26700
41400
65880
116400
171360

126
278
180
180
216
360
702

B2

C1

234
288
234
162
240
370
702

13,032
288
216
180
204
270
504

83880
229200
37080
67680
117300
117360
Keterangan :
A1 : larutan CMC 2% untuk kurva menaik
A2 : larutan CMC 2% untuk kurva menurun
B1 : larutan CMC 0,1% dan veegum 2% untuk kurva meaik
B2 : larutan CMC 0,1% dan veegum untuk kurva mennurun
C1 : aquadest untuk kurva menaik
C. Perhitungan Tekanan Geser

Kecepatan
Wiri Resky Amalia
15020140074

Viskositas (Cp)
Astri Syamsuddin

Rheologi

geser
30
120
300
600
1200
3000
6000

A1
9300

A2

240
138
89
69
54,9
38,8
28,56

B1
4,2

B2

C1

7,8
2,4
0,78
0,27
0,2
0,126
0,117

434,4
2,4
0,72
0,3
0,17
0,09
0,084

699
2,3
764
0,6
61,8
0,3
56,4
0,18
39,1
0,12
28,56
0,117
Keterangan :
A1 : larutan CMC 2% untuk kurva menaik
A2 : larutan CMC 2% untuk kurva menurun
B1 : larutan CMC 0,1% dan veegum 2% untuk kurva meaik
B2 : larutan CMC 0,1% dan veegum untuk kurva mennurun
C1 : aquadest untuk kurva menaik

4.2 PEMBAHASAN
Rheologi adalah ilmu yang mempelajari tentang aliran cairan dan deformasi.
Rheologi

erat

kaitannya

dengan

viskositas.

Viskositas

merupakan

suatu pernyataan tahanan dari suatu cairan untuk mengalir; semakin tinggi
viskositas, semakin besar tahanannya untuk mengalir. Viskositas dinyatakan
dalam simbol .
Pada cairan Newton hubungan antara kecepatan geser dan tekanan geser
memiliki hubungan linear dengan suatu tetapan yang dikenal dengan viskositas
atau koefisien viskositas. Namun demikian, pada cairan Non Newton, kedua
besaran tersebut tidak memiliki hubungan linear dengan perkataan lain
viskositasnya akan berubah-ubah tergantung dari besarnya tekanan yang
diberikan.
Dalam percobaan ini, dilakukan pengukuran viskositas menggunakan
viskometer. Adapun sampel yang digunakan diantaranya, yaitu: gliserin, minyak
kelapa, sirup ABC aquadest, CMC 2%, dan CMC 0,1% + veegum 2%. Pada
viskometer brokfield, dilakukan dengan cara diukur pada 50 rpm terhadap
gliserin, minyak kelapa, sirup ABC aquadest, CMC 2%, dan CMC 0,1% +
veegum 2%. Kemudian Pada 0,5; 2; 5; 10; 20; 50 dan 100 rpm terhadap CMC
2%, dan CMC 0,1% + veegum 2%.
Wiri Resky Amalia
15020140074

Astri Syamsuddin

Rheologi

Dari pengukuran viskositas tersebut, diperoleh hasil, yaitu: untuk pengukuran


viskositas dengan menggunakan viskositas brokfield diperoleh hasil viskositas
gliserin adalah 5,83; minyak kelapa adalah 0,636; sirup ABC 0,126; aquadest
0,078; CMC 2% 39,1; CMC 0,1% + veegum 2% 0,12.

BAB 5 PENUTUP
5.1 KESIMPULAN
Berdasarkan hasil percobaan tersebut, dapat disimpulkan bahwa untuk
pengukuran viskositas dengan menggunakan viskositas brokfield diperoleh hasil
viskositas gliserin adalah 5,83; minyak kelapa adalah 0,636; sirup ABC 0,126;
aquadest 0,078; CMC 2% 39,1; CMC 0,1% + veegum 2% 0,12.
5.2 SARAN
Sebaiknya para praktikan mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan
dengan praktikum (alat, bahan, dan atribut) dengan baik dan tidak membuat
keributan saat berada di dalam laboratorium.

Wiri Resky Amalia


15020140074

Astri Syamsuddin

Rheologi

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2014. Penuntun Praktikum Farmasi Fisika. Universitas Muslim Indonesia,
Makassar
Anonim, 2014. Penuntun Praktikum Farmasi Fisika. Universitas Muslim Indonesia,
Makassar
Ansel. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. UI Press: Jakarta
Atkins. 1997. Kimia Fisika. Erlangga. UI Press: Jakarta
Kosman, R. 2012. Farmasi Fisika. Universitas Muslim Indonesia: Makassar
Martin, Alfred. 2008. Farmasi Fisika II. UI Press: Jakarta
Martin, Alfred, 1993. Farmasi Fisik. Universitas Indonesia Press: Jakarta
Yazid, Estien, 2004. Kimia Fisika untuk Paramedis. Penerbit Andi: Yogyakarta
Wiroatmojo. 1998. Farmasi Fisika: Bagian Larutan dan Sistem Dispersi. Jogjakarta:
Gajah Mada University Press

Wiri Resky Amalia


15020140074

Astri Syamsuddin

Rheologi

A1 = CMC 2%
100
90
80
70
60
50
40
30
20
10
0

A1

B1 = CMC 0,1% dan Veegum 2%


4.5
4
3.5
3

B1

2.5
2
1.5
1
0.5
0
1

Wiri Resky Amalia


15020140074

Astri Syamsuddin

Rheologi

C1 = Aquadesst
4.5
4
3.5
3

C1

2.5
2
1.5
1
0.5
0
1

Wiri Resky Amalia


15020140074

Astri Syamsuddin

Anda mungkin juga menyukai